Jangan Lupa Makan Pecel Kalau Mampir di Stasiun-Stasiun Ini

Siapa sih yang tak kenal dengan makanan yang berbahan dasar sayuran dan bumbu kacang tapi bukan Gado-Gado atau Karedok ya. Penasaran apa? Ya makanan ini adalah pecel. Sebagian besar dari Anda pastinya pernah makan makanan khas ini.

Baca juga: Cari Pecel Pincuk? Yuk Ke Stasiun Garahan!

Selain harganya murah, pecel bisa ditemukan diberbagai daerah. Bahkan ketika melancong dengan menggunakan kereta api beberapa stasiun di Pulau Jawa banyak terdapat penjual pecel di luar stasiunnya.

Penasaran ada pecel apa saja dan apakah ada perbedaan pecel yang satu dengan lainnya? Yuk simak pembahasan dari KabarPenumpang.com. Ternyata setelah dirangkum dan dicari dari berbagai sumber, berikut ini stasiun-stasiun yang memiliki penjual pecel di sekitarannya.

1. Pecel Pincuk
Makanan asal Madiun, Jawa Timur ini disajikan dengan daun pisang yang dibuat pincuk. Isinya ada daun pepaya, sayuran rebus, serundeng kelapa dan kacang goreng. Pecel pincuk dilengkapi dengan lauk pauk seperti tempe goreng, telur asin dan lainnya. Pecel pincuk ini bisa ditemukan di Stasiun Garahan yang dijual sekitar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu.

2. Pecel gambrengan
Nasi pecel yang satu ini bisa ditemukan di Semarang dan sekitarnya atau tepanya di Stasiun Alas Tua, Bangetayu, Semarang, Jawa Tengah. Memiliki rasa pecel yang khas, pecel gambrengan sendiri dilengkapi dengan sayuran langka seperti bunga turi dan campuran daun pepaya serta tauge. Untuk tambahannya ada peyek iwak teri dan sayuran lainnya.

3. Nasi Pecel ala Stasiun Babat
Panganan yang satu ini, disajikan dengan nasi, campuran lontong-lontong kecil dan diberi sayuran seperti kecambah, kol, kangkung serta bayam. Untuk menambah kenikmatan, nasi akan disiram dengan bumbu kacang kental dan rempeyek sebagai pengganti kerupuk. Harganya pun relatif murah Rp6 ribu sampai Rp7 ribu dan bisa dinikmati pelancong kapan pun karena warungnya buka 24 jam.

4. Pecel Gambringan
Ini hampir sama dengan nasi pecel pada umumnya, berbahan dasar sayuran namun ditemani peyek kacang ukuran besar. Dulunya cara menjualnya hampir mirip dengan pecel pincuk yang di dalam stasiun. Namun kini hanya dijual di luar Stasiun Gambringan.

Baca juga: “Nopia.. Nopia..,” Oleh-oleh Khas Tak Terlupakan dari Stasiun Purwokerto

5. Pecel Combrang
Di Stasiun Kroya ada pecel yang dijual seharga Rp3 ribu sampai Rp5 ribu. Pecel ini menggunakan lontong, medoan dan bakwan untuk tambahannya. Selain sayuran, pecel ini ditambahkan dengan kembang turi dan bunga combrang atau kecombrang. Tak hanya di Kroya, di Stasiun Purwokerto juga ada pecel kecombrang ini.

Nah, jadi kalau mampir di stasiun-stasiun ini, Anda bisa langsung mencoba sendiri pecel sayuran dengan berbagai macam tambahan di masing-masing daerah ya.

Troli Virtual, Awak Kabin Tak Lagi Langsung Bersentuhan dengan Penumpang

Banyak cara untuk meminimalisir penyebaran virus corona dalam sebuah penerbangan selain memberi jarak pada kursi penumpang yang satu dengan lainnya. Kemudian maskapai juga menghilangkan majalah dan kartu menu fisik di dalam penerbangan serta penggunaan masker dan pelindung wajah.

Baca juga: Bandara Pudong Gunakan Glide Blanket untuk Loading Barang ke Kabin Pesawat Penumpang

Selain itu juga mengurangi interaksi awak kabin dengan penumpang yang melibatkan troli yang bergerak di lorong. Untuk hal ini, Bluebox penyedia perangkat keras hiburan dalam penerbangan nirkabel, bekerja sama dengan spesialis ritel onboar Retail inMontion (RIM) untuk menghilangkan titik kontak yang sangat literal dari pembelian onboard melalui pembayaran tanpa bersentuhan.

Dilansir KabarPenumpang.com dari runwaygirlnetwork.com (22/6/2020), keduanya bekerja sama agar penumpang melakukan pemesanan dan pembayaran melalui perangkat mereka dari aplikasi RiM yang diinstal pada kotak IFE (In-Flight Entertainment) nirkabel Bluebox Wow. Kemudian awak kabin yang tengah di dapur akan diberitahu untuk dropoff pesanan. Hadirnya cara ini memungkinkan jangkauan manfaat yang jauh lebih besar khususnya di sekitaran pengirmanan makanan terbatas di kabin.

“Ini adalah sesuatu yang baru-baru ini kami terima. Maskapai, sebagai bagian dari program pemulihan, menyadari ada masalah untuk keselamatan awak kabin dalam hal mencoba meminimalkan kontak antara penumpang dan awak kabin. Cukup jelas bahwa titik kontak utama adalah cara tradisional saat ini untuk membawa troli ke lorong, bertanya kepada orang-orang apakah mereka ingin membeli makanan atau minuman, terutama untuk angkutan murah. Ini merupakan penghasil pendapatan penting bagi mereka,” kata direktur pengembangan bisnis David Brown.

Khususnya, sistem baru ini juga sepenuhnya offline, di mana Wow adalah sistem offline, dan itu salah satu bagian yang sulit yakni memiliki kepatuhan PCI dalam mode offline.

“Kami sudah mencapainya dengan kotak Wow kami. Seluruh modul RiM dan perangkat lunaknya juga sesuai dengan PCI, sehingga arsitektur produk kedua perusahaan sangat cocok,” kata Brown.

Secara fungsional, Brown menjelaskan bahwa kotak nirkabel IFE Wow bersifat modular, menggunakan sistem wadah Docker yang ia simpulkan sebagai cara teknis terbaru dari berbagai elemen perangkat lunak yang dapat berkomunikasi dengan mudah satu sama lain. Dia mengatakan, mereka bekerja dengan standar yang sama, dan kotaknya menerima aplikasi pihak ketiga yang telah dilakukan dengan standar buruh pelabuhan, dan RiM telah melakukan perangkat lunak mereka dengan cara yang sesuai dengan standar arsitektur semacam itu. Agnostisitas perangkat lunak-perangkat keras ini, menurut Brown, adalah bagian dari saus khusus Bluebox.

“Kami selalu melihat Wow sebagai platform dengan perangkat lunak basis kami. Kami telah menyediakan kerangka kerja untuk, biasanya, sistem IFE. Ini lebih seperti ‘beli versus bangunan’. Kami sebagai perusahaan perangkat lunak tidak perlu melihat kebutuhan untuk membangun semuanya sendiri, dan cara kami mendesain perangkat lunak Wow secara khusus untuk dapat mengambil aplikasi pihak ketiga seperti game, misalnya,” tambah Brown.

Langkah ini didorong oleh dua pelanggan maskapai utama, pengumuman yang telah ditunda oleh krisis Covid-19 dan nama-nama yang Brown tidak dapat bagikan secara publik.

“Keduanya datang kepada kami dengan masalah yang sama, berkeliling pada waktu yang sama. Ini dikonfirmasi oleh maskapai penerbangan murah lainnya juga bahwa itu adalah sesuatu yang mereka semua lihat ketika mereka datang kembali ke layanan. Jelas sesuatu yang dinaikkan ketika melihat proses dan membuatnya aman Covid,” kata dia.

Maskapai penerbangan, tampaknya, mempercepat rencana mereka untuk menawarkan pembayaran tanpa sentuhan sebelum krisis Covid-19, Brown menyatakan bahwa perspektifnya adalah bahwa itu adalah “hal yang baik untuk dimiliki” atau pengembangan fase 2.

Baca juga: Jangan Lupa Cuci Tangan Selesai Bersihkan Ruang Pribadi di Kabin Pesawat

Kemitraan antara Bluebox dan RiM adalah non-eksklusif dan independen dari pengaturan lain dengan menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak berlabel berarti secara relatif mudah bagi pihak ketiga mana pun untuk menulis aplikasi untuk berinteraksi dengan sistem Bluebox memang, itu adalah sesuatu yang didorong oleh Bluebox sendiri.

Enanthem (Ruam di Mulut) Bisa Jadi Pertanda Adanya Virus Corona

Menikmati perjalanan dengan kondisi sakit memanglah tak disarankan saat pandemi virus corona atau Covid-19. Meskipun hanya ruam-ruam di tubuh atau pun di mulut karena akan mengganggu perjalanan dan bisa menjadi salah satu tanda adanya virus dalam tubuh.

Baca juga: Ruam Pada Jari Kaki Bisa Jadi Gejala Covid-19, Tapi Jangan Langsung Panik

Sebab sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa ruam, kulit yang tidak terdaftar dalam Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga merupakan tanda virus yang mematikan. Dilansir KabarPenumpang.com dari foxnews.com (21/7/2020), penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Dermatology mencatat bahwa enanthem atau luka mirip ruam kulit dalam mulut seseorang diamati pada beberapa pasien dengan Covid-19. Para pasien ini dari 21 orang yang berusia 40 hingga 69 tahun, enam diantaranya pasien Covid-19 dan empat diantaranya adalah perempuan.

“Pekerjaan ini menggambarkan pengamatan awal dan dibatasi oleh sejumlah kecil kasus dan tidak adanya kelompok kontrol. Terlepas dari meningkatnya laporan ruam kulit pada pasien dengan Covid-19, menegakkan diagnosis etiologis merupakan tantangan. Namun, kehadiran enanthem adalah petunjuk kuat yang menyarankan etiologi virus daripada reaksi obat, terutama ketika pola petekie diamati,” tulis peneliti dari Rumah Sakit Universitas Ramon y Cajal di Madrid.

Mereka menambahkan, banyak pasien yang diduga atau dikonfirmasi Covid-19 tidak diperiksa rongga mulutnya karena masalah keamanan. Apalagi fakta bahwa pasien menggunakan masker dan mungkin gejala ini ada pada mereka.

Untuk diketahui, ruam dibagi menjadi empat kategori berbeda dan para peneliti menyebutkannya yakni petechial, macular, macular dengan petechiae, atau erythematovesicular. Para peneliti menjelaskan bahwa enanthems sebelumnya diidentifikasi pada beberapa pasien Covid-19 di Italia.

Pada bulan Juni, CDC menambahkan hidung tersumbat atau pilek, mual, dan diare ke daftar gejala Covid-19 yang sedang berlangsung. Pada bulan April, sekelompok ilmuwan terpisah di Spanyol menemukan lesi pada kaki yang mereka katakan mungkin terkait dengan virus corona.

Baca juga: Lewat Mata, ‘Pintu’ Masuk Penyebaran Covid-19 Lebih Cepat

Seorang juru bicara CDC menunjuk ke daftar gejala yang terkait dengan Covid-19 dan tidak mengomentari penelitian ini. Hingga Senin pagi, lebih dari 14,5 juta kasus virus korona telah didiagnosis di seluruh dunia, lebih dari 3,7 juta di antaranya berada di AS, negara yang paling terkena dampak di planet ini.

Keren, Bandara di Amerika Punya Alat Scan Covid-19! Seperti Apa?

Seattle-Tacoma International Airport (SEA), belum lama ini dikabarkan telah memperkenalkan alat baru dalam memerangi pandemi Covid-19 di Amerika Serikat (AS). Pasalnya, pandemi dari virus yang diduga pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina, itu masih terus menghantui masyarakat AS. Hingga kini, sudah hampir menyentuh angka 4 juta kasus positif Covid-19, dengan 144 ribu di antaranya tewas.

Baca juga: Bersiap dari Awal Pandemi, Hong Kong Kembangkan Teknologi Buatan Sendiri untuk Hadapi Covid-19

Kiro7.com menulis, alat yang diproduksi oleh perusahaan teknologi asal New York, AS, PathSpot Technologies, itu merupakan alat scan khusus Covid-19. Sebagaimana namanya, alat mirip hand dryer yang banyak ditemukan di restoran itu, diklaim mampu mendeteksi ada tidaknya Covid-19 yang bersarang di tangan hanya dalam tempo beberapa detik saja.

Saat ini, Bandara Internasional Seattle-Tacoma dilaporkan tengah menguji efektivitas alat scan Covid-19 dari AS itu di beberapa restoran di bandara. Layaknya hand dryer, alat scan Covid-19 itu diletakkan tak jauh dari wastafel.

Mekanismenya, sebelum dan sesudah menyantap makanan atau setelah tiba dan sebelum meninggalkan restoran, seluruh pengunjung diarahkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Lepas itu, mereka menscan bagian tangan ke alat scan Covid-19.

Dengan mengeluarkan sinar berwarna kebiru-biruan, alat tersebut akan membuat pengunjung menunggu beberapa detik sebelum akhirnya tangan mereka divonis terdeteksi membawa bakteri atau virus (termasuk Covid-19) atau tidak.

Bila tidak, layar kecil yang ada di bagian atas alat itu akan menunjukkan centang hijau, pertanda mereka aman. Sebaliknya, bila terdeteksi adanya virus atau bakteri, maka hasil scan menunjukkan centang merah dan mereka diharuskan kembali mencuci tangan dengan baik dan benar.

“Perangkat ini bekerja lewat gelombang cahaya tertentu untuk mencari kontaminasi mikroskopis di tangan Anda. Se-kecil apapun kontaminasi itu bersembunyi di bawah kuku jarimu, di antara perhiasanmu, di sela-sela jari tangan,” kata Christine Schindler, CEO PathSpot.

“Ini memberikan respon yang sangat nyata. Jadi, hei, 98 persen saat seseorang gagal melakukan pemindaian tangan di lokasi restoran Anda, jari (yang mengandung bakteri) itu berada di jari kelingking kanan Anda, atau saat terburu-buru makan siang,” lanjut Schindler.

Baca juga: Khawatir Covid-19, Pria Ini dengan ‘PD-nya’ Gunakan Kostum Dinosaurus di Bandara Miami

Juru bicara Bandara Internasional Seattle-Tacoma, Perry Cooper, menyebut saat ini pihaknya tengah mempertimbangkan penggunaan alat scan Covid-19 itu di seluruh area bandara. Tentu, bahan pertimbangannya adalah hasil tes alat tersebut yang saat ini masih berlangsung di 11 restoran di bandara tersebut. Tidak diungkap dengan detail kapan pengujian tersebut akan berakhir.

“Ini adalah program percontohan. saat ini kami sedang mempertimbangkan apakah akan menggunakannya di seluruh terminal juga atau tidak. Pada titik ini, (proses pengujian) berjalan sangat baik, kami sangat senang dengan itu,” jelasnya.

Kenapa Pintu Kokpit Harus dalam Keadaan Terkunci dan Anti Peluru? Berikut Ulasannya

Suatu insiden telah mengubah segalanya. Sebelum peristiwa serangan 11 September 2001 atau lebih dikenal 9/11, produsen pesawat dunia telah berjuang membuat kokpit senyaman mungkin sebagai elemen pendukung kinerja kru. Namun, pasca serangan tersebut, perubahan drastis terjadi.

Baca juga: Kenapa Kokpit Pesawat Gelap? Ini Penjelasannya

Tak hanya harus dalam keadaan tertutup, pintu kokpit juga diwajibkan harus dalam keadaan terkunci. Hal itu sebagai salah satu cara untuk mencegah atau mungkin memperlambat tindak terorisme terhadap kru kokpit.

Selang beberapa bulan, komponen pintu kemudian diperkuat dengan tambahan logam. Logam dinilai mampu menahan pintu dari serangan. Namun, setahun setelahnya atau pada 2002, seorang penumpang masih bisa menembus pintu kokpit dan meneror kru, sebelum akhirnya ia tewas setelah kepalanya dikapak oleh pilot.

Sadar peluang tindak kejahatan masih mengintai kru kokpit, regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA) akhirnya mendorong penggunaan pintu kokpit anti peluru, sebagai pelengkap aturan kokpit harus selalu dalam keadaan terkunci.

Akan tetapi, Capt. Steve Luckey, ketua komite keamanan nasional Asosiasi Pilot Maskapai Penerbangan, menyebut aturan pintu kokpit harus dalam keadaan terkunci sulit diterapkan. Sebab, pilot mau tak mau harus membuka pintu, baik untuk mengecek keadaan sayap pesawat secara visual, ke toilet, atau bahkan berganti kru di udara saat dalam penerbangan jarak jauh (long range). “Itu penghalang saat ditutup, itu entri saat terbuka,” jelasnya, seperti dilaporkan cbsnews.com.

Dalam urusan safety terhadap kru kokpit, Israel bisa dibilang jawaranya. Maskapai nasional Negeri Yahudi, El Al, disebut memiliki dua pintu kokpit. Pilot diharuskan menutup satu pintu sebelum membuka pintu lainnya. Begitu kata Offer Einav, mantan direktur keamanan maskapai tersebut. Namun, tak dijelaskan dengan detail cara kerja pintu tersebut menahan tindak terorisme.

Hanya saja, pilot dan co-pilot flag carrier nasional Israel itu tidak sampai diizinkan memiliki pistol, seperti kru kokpit maskapai-maskapai Amerika Serikat (AS), sebagai elemen pengaman tambahan.

Tingkat keamanan pintu kokpit memang menjadi fokus utama penerbangan di AS. Bahkan, saking urgent-nya, kongres sampai mensubsidi maskapai dalam negeri sekitar $13 ribu dolar, meskipun biaya tersebut diklaim tak cukup untuk memenuhi kebutuhan standar baru pintu kokpit pesawat, sebagai syarat penerbangan. Maskapai asing juga diharuskan melengkapi kemampuan pintu kokpit pesawat mereka untuk bisa masuk ke AS.

Melihat langkah konkret AS, dunia pun mulai mengikuti pada beberapa bulan setelahnya. Melalui Organisasi Penerbangan Sipil Internasional dan badan penerbangan Perserikatan Bangsa-Bangsa, setiap pesawat di dunia diharuskan untuk memperbarui pintu kokpit mereka agar lebih kuat dan aman dari serangan sejak akhir tahun 2001. Seiring perkembangan, kokpit bahkan lebih ketat, bukan hanya untuk menghindari serangan, tapi juga kecelakaan, di bawah aturan sterile cokcpit rule.

Selama bertahun-tahun, kebijakan pintu kokpit harus dalam keadaan terkunci serta kemampuan yang ditingkatkan, seperti anti peluru dan mampu menahan serangan, diklaim berhasil menurunkan tindak terorisme atau pembajakan pesawat.

Namun, memasuki tahun 2015, kontroversi pintu kokpit harus selalu dalam keadaan terkunci serta berbahan anti peluru mulai muncul. Penyebabnya adalah kecelakaan tragis pesawat terbang yang menimpa maskapai Germanwings.

Disebut tragis, sebab, selain menewaskan seluruh kru dan penumpang, pesawat dengan nomor penerbangan 9525 yang jatuh di Pegunungan Alpen bukanlah murni kecelakaan, melainkan dengan sengaja ditabrakkan ke gunung oleh kopilotnya yang bernama Andreas Lubitz. Hal itu terkuak setelah penyelidik dari kejaksaan Marseille mempelajari posisi, arah, dan jatuhnya pesawat.

Baca juga: Kenapa Mikrofon Pilot Tidak Terdengar Jelas Dibanding Awak Kabin? Ini Dia Jawabannya

Berdasarkan rekaman percakapan yang diperoleh dari kotak hitam, Lubitz diketahui mengunci kokpit ketika kapten pilot meninggalkan ruang kemudi pesawat yang membawa 150 orang, termasuk kedua pilot.

Sang pilot sempat mengetok, menggedor, dan menghantam pintu kokpit dengan kapak saat Lubitz membawa pesawat menukik tajam ke arah pegunungan. Namun, usahanya sia-sia. Sebab, selain terkunci, pintu kokpit memang didesain tahan terhadap serangan, termasuk tipe serangan menggunakan senjata tajam seperti yang dilakukan pilot tersebut.
























Sistem ATMA, Bisa Cek Suhu Tubuh Hingga Periksa Tiket Penumpang di Stasiun

Berbagai operator transportasi umum saat ini mulai memikirkan cara baru untuk membuat penumpang merasa aman dan nyaman dari Covid-19. Mereka tak hanya membuat pengecekan suhu secara massal melalui kamera pemantau tetapi kini juga bisa memeriksa tiket demi mengurangi kontak fisik dengan penumpang.

Baca juga: Mirip di Bandara, Dua Stasiun Kereta di India Dilengkapi Sensor Thermal Canggih

Seperti Western Railway yang diharapkan memperkenalkan layar Automatic Checking and Managing Access (ATMA) di beberapa stasiun utama seperti Stasiun Mumbai Central, Bandra Terminus, dan Borivli dan akan digunakan selama lima tahun. Layar digital ATMA tersebut akan ditempatkan di pintu masuk stasiun kereta api dan melakukan pemeriksaan suhu tubuh dan tiket milik para penumpang.

KabarPenumpang.com melansir dari laman cntraveller.in (30/6/2020), seorang pejabat Western Railway mengatakan, kehadiran layar digital ini akan membantu membatasi kontak langsung dan pemantauan penumpang lebih mudah.

“Layar digital ATMA juga akan dapat memeriksa apakah penumpang mengenakan masker atau tidak. Setelah proses pemeriksaan, penumpang harus membersihkan tangan mereka dan dengan begitu baru diizinkan untuk naik ke kereta,” ujar pejabat tersebut.

ATMA ini akan bekerja ketika penumpang mendekati alat skrining dan akan memindai suhu tubuh mereka. Masker yang digunakan juga harus terlihat di layar. Kemudian penumpang harus menunjukkan tiket mereka di depan kamera HD yang dipasang. Nantinya petugas di belakang layar akan mulai memverifikasi dan mengarahkan penumpang untuk melanjutkannya dengan microphone dua arah.

Saat ini bahkan satu layar digital telah diperkenalkan di Stasiun Nagpur dan Central Railway berencana untuk memperkenalkan layar digital ini di Chhatrapati Shivaji Maharaj Terminus dan Lokmanya Tilak Terminus. Mereka menggunakan kamera termal FebriEye yang merupakan sistem pemantauan otomatis dan non-intrusif yang bisa melakukan penyaringan termal secara langsung dan bisa memastikan tidak ada penumpang yang memasuki stasiun dengan suhu di atas yang ditentukan.

“FebriEye menggunakan sensor panas yang dapat merekam panas yang dihasilkan oleh tubuh seseorang atau benda untuk membuat gambar 2D dengan tingkat suhu yang berbeda. Ketika penumpang lewat di depan kamera, siapa pun dengan suhu di atas kisaran yang ditetapkan akan ditampilkan dalam pola warna yang berbeda dari yang lain di layar komputer yang terhubung ke kamera,” kata Central Railway.

Sebelumnya, Central Railway juga menyiapkan sistem robot interaktif di luar Stasiun Pune untuk pengecekan suhu tubuh penumpang. Sistem ini dilengkapi dengan pembersih berbasis sensor dan dispenser masker. Jika sistem ini menemukan penumpang dengan suhu tinggi maka alarm akan berbunyi untuk memberitahu ke otoritas kereta api.

Baca juga: India Mulai Komersialkan Lokomotif Listrik Terkuat dengan Tenaga 12.000 HP

“Sistem robot akan membantu meminimalkan kontak manusia selama pemutaran termal. Kami ingin memperkenalkan sistem serupa pada stasiun kereta api di Mumbai, ”kata Shivaji Sutar, kepala petugas hubungan masyarakat, Central Railway.

Stasiun Walikunkun – Punya Pemanis Mitos dari Daerah Setempat

Berada di Daerah Operasional (Daop) 7 Madiun, Jawa Timur, Stasiun Walikunkun merupakan stasiun kereta api kelas II. Berada pada ketinggian +74 meter diatas permukaan laut, stasiun ini berada di Walikunkun, Widodaren, Ngawi dan letaknya paling barat di Daop 7 Madiun.

Baca juga: Serba Antik dan Terawat, Si Kecil Stasiun Bedono Punya Segudang Cerita

Bangunan lama stasiun dan gudangnya merupakan peninggalan Staatsspoorwegen. Namun saat ini telah dirobohkan karena terkena dampak pembangunan sepur badung pada jalur 4 sehingga digantikan dengan bangunan baru yang lebih besar.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, awalnya Stasiun Walikunkun dengan bangunan lama memiliki tiga jalur kereta api dengan jalur satu lama sebagai sepur lurus dan satu lagi sepur badug atau jalur buntu yang berada di sebelah timur bangunan stasiun. Setelah jalur ganda mulai beroperasi pada 30 November 2019 kemarin di ruas Geneng – Kedungbanteng, jalurnya menjadi empat.

Bahkan ketika pembangunan jalur ganda ini, ada perubahan diagram lintasan stasiun dengan membongkar jalur 2 lama dan menambahkan satu jalur belok di isi selatan bangunan lama sebagai jalur 1. Sehingga jalur 2 lama menjadi jalur 3 dan jalur 3 lama menjadi jalur 2.

Stasiun Walikunkun sendiri juga melakukan perubahan pada sistem sinyalnya yang awalnya sistem mekanik menjadi elektrik. Stasiun Walikunkun hadir setelah Staatsspoorwegen mulai membangun jaringan kereta api pertama mereka di Indonesia pada tahun 1875 silam tepatnya di wilayah timur.

Lintas awal yang berhasil diselesaikan adalah Surabaya – Pasuruan sepanjang 63 km dan dalam perkembangannya Staatsspoorwegen berhasil membangun jaringan kereta api di wilayah timur sampai ke Madiun. Bahkan Staatsspoorwegen melajukan pembangunannya sampai ke wilayah tengah yakni Solo.

Adapun stasiun yang dibuat oleh Staatsspoorwegen yakni Stasiun Walikunkun, Kedungganlar, Paron, Geneng dan Barat. Namun sebelum berubah sebutan menjadi stasiun ini semua merupakan sebuah halte yang berada di lintas Madiun – Solo.

Baca juga: Terkenal Karena Didi Kempot, Inilah Jejak Sejarah Stasiun Solo Balapan

Tak hanya pembuatan yang bersejarah oleh Staatsspoorwegen, beberapa mitos yakni Rondo Kuning dari daerah Walikunkun yang terletak di sebelah selatan rel kereta dan Rondo ireng dari sebelah barat pasar desa. Rondo kuning sendiri dalam bahasa Indonesia memiliki arti janda dan keduanya ternyata hanya mitos belaka. Bahkan kedua mitos ini tidak ada kaitan dengan Stasiun Walikunkun alias sebagai pemanis saja.

Perusahaan Inggris Luncurkan Pesawat Penumpang Hybrid Pertama Di Dunia, Boeing Airbus Lewat!

Perusahaan rekayasa dan pengembangan asal Inggris, Electric Aviation Group (EAG) meluncurkan desain baru untuk Pesawat Regional Listrik Hybrid (HERA), Senin lalu. Bila tak ada kendala berarti, pesawat penumpang bertenaga hybrid dengan kapasitas 70 seat pertama di dunia tiu akan mulai beroperasi pada 2028 mendatang.

Baca juga: Kejar Target Produksi Pesawat Tanpa Emisi di 2035, Airbus Pertimbangkan Penggunaan Hidrogen

Geliat penerbangan bertenaga listrik dan hybrid sudah sejak beberapa tahun lalu banyak diagendakan berbagai produsen pesawat dan teknologi kenamaan di dunia, baik yang sudah established maupun startup.

Dibandingkan teknologi lainnya, hybrid dan listrik dinilai sebagai salah satu alternatif bahan bakar berkelanjutan paling realistis untuk diwujudkan serta memiliki potensi besar untuk mengatasi masalah emisi CO2; meskipun belakangan hidrogen muncul sebagai alternatif paling memungkinkan lainnya dikalangan inovator.

“Investasi besar-besaran untuk mengembangkan pesawat sub-19 hybrid dan all-electric, kami yakini sebagai strategi yang salah. Pesawat kecil ini tidak dapat memenuhi tuntutan transportasi udara massal atau persyaratan dekarbonisasi,” ujar Kamran Iqbal, founder dan CEO EAG kepada Simple Flying.

“Desain kami adalah untuk sebuah pesawat yang pada awalnya akan menawarkan kisaran 800 mil laut saat diluncurkan pada 2028, dan yang akan dapat mengangkut lebih dari 70 orang,” lanjutnya.

Sebagai pesawat dengan teknologi ramah lingkungan, HERA tentu saja memiliki berbagai fitur “hijau” seperti mengurangi polusi udara, thermal management (teknologi yang mendistribusikan panas pada perangkat elektronik dengan baik), serta regenerasi baterai saat di udara yang memungkinkan pesawat lebih “bernapas” panjang.

Tak hanya itu, untuk efesiensi maksimum, pesawat hybrid pertama di dunia buatan EAG juga akan didukung Gear Assisted Take-Off Run (GATOR). Sebagai pesawat dengan kapasitas di bawah 100 seat, HERA by EAG juga akan dilengkapi dengan Short Take-Off-and-Landing (STOL) yang bertujuan agar maskapai dimungkinkan membuka rute baru dengan landasan pendek.

Menariknya, HERA memiliki tingkat fleksibilitas tinggi di kabin, sehingga operator dapat dengan mudah mengubah konfigurasi dari pesawat penumpang ke kargo, satu nilai tambah yang sangat mungkin dilirik maskapai.

Guna meminimalisir perkembangan teknologi yang begitu cepat, EAG juga merancang HERA agar mampu beradaptasi dengan perubahan, dalam hal ini sumber energi alternatif lainnya yang tersedia selain hybrid dan listrik. Tetapi, bila teknologi pendukung pesawat listrik, seperti baterai dengan kapasitas dan tingkat kepadatan tinggi, HERA sangat mungkin menjadi pesawat all-electric, dari semula pesawat hybrid pertama di dunia.

Saat ini, EAG mengaku belum bisa buka-bukaan soal jangkauan terbang, kecepatan, dan emisi CO2 yang mampu ditekan oleh HERA. Namun demikian, proses yang tengah ditempuh EAG sangat progresif, dengan sudah mengajukan 25 paten atas berbagai temuan baru dalam proses pengembangan.

Selain baik untuk lingkungan, proyek HERA oleh EAG juga diprediksi mampu menyerap sebanyak 25 ribu tenaga kerja di Inggris, utamanya Bristol, sebagai lokasi pabrik produksi pesawat.

“Kami berharap ini menjadi contoh yang bagus untuk desain, teknik, dan pembangunan Inggris. Tidak hanya pengembangan HERA akan membantu Departemen Transportasi mempercepat tujuan pengurangan emisi karbon ‘Jet Zero’, tetapi juga membantu menciptakan peluang kerja yang sangat dibutuhkan di industri kedirgantaraan, manufaktur, teknik dan jasa pasca-Brexit,” jelas Iqbal.

Baca juga: Zunum Aero Siap Operasikan Pesawat Komuter Bertenaga Hybrid

Dalam persaingan global memproduksi pesawat hybrid pertama di dunia, EAG tentu bukan yang satu-satunya. Pada Mei lalu, perusahaan penerbangan asal Perancis, VoltAero, memamerkan desain Cassio2, pesawat hybrid berkapasitas sembilan kursi dengan kecepatan jelajah 230 mph. Tahun sebelumnya, California Ampaire berhasil menerbangkan model hybrid mereka pada Cessna 337 Skymaster.

Airbus tentu tak mau ketinggalan. Tahun lalu, mereka mengumumkan akan memulai proyek penelitian pesawat hybrid dan listrik pada akhir tahun 2020 mendatang bersama SAS. Pabrikan Eropa tersebut bertekad untuk menjadikan A320neo-nya sebagai pesawat hybrid pertama di dunia.

Di Farnborough AirShow Virtual, Boeing Ungkap Keterlibatan Etihad Boeing 787-10 Sebagai ecoDemonstrator

Di sela-sela hari pertama pelaksanaan Farnborough AirShow 2020 virtual, Boeing mengumumkan program ecoDemonstrator terbarunya. Program ecoDemonstrator yang melibatkan pesawat Etihad 787-10 Dreamliner ini nantinya akan menjalankan serangkaian tes, mulai dari mengukur tingkat polusi udara, aliran udara, hingga teknologi Air Traffic Control baru.

Baca juga: Tingkatkan Pengalaman Penumpang, Boeing Siap Uji Coba Program EcoDemonstrator

Setelah proses pengujian selesai, armada tersebut akan diserahkan Boeing ke Etihad untuk bergabung dalam barisan armada Dreamliner. Adanya Etihad dalam proyek ecoDemonstrator tahun ini Boeing bukanlah hal baru, melainkan lanjutan dari program eco-partnership antara Etihad dan Boeing yang sudah dimulai sejak November 2019 silam.

Simple Flying melaporkan, proses pengujian akan dimulai pada Agustus mendatang. Selama kurang lebih empat minggu, pesawat akan diteliti dalam upaya mengurangi polusi suara dan mengadaptasi desain pesawat masa depan untuk penerbangan yang lebih nyaman. Menurut Flight Global, dalam proses pengujian, pesawat akan dilengkapi dengan 222 sensor tekanan dan lebih dari 1.000 mikrofon untuk memeriksa landing gear dan tingkat kebisingan.

Selain itu, sistem perangkat lunak baru juga akan diujicoba. Perangkat lunak tersebut notabene akan menghubungkan pilot ke Air Traffic Control dan Airline Operation Center untuk mengoptimalkan rute. Jika berhasil, kehadiran perangkat lunak tersebut diklaim dapat membantu meminimalisir kepadatan atau antrean di bandara, mengurangi beban kerja dan lalu lintas radio, serta meningkatkan efisiensi.

Teknologi ini juga akan membantu sistem pemetaan pesawat dengan lebih akurat dalam empat dimensi; lintang, bujur, ketinggian, dan waktu. Tak lupa, sebagai bagian dari upaya menjaga bumi agar tetap hijau atau biasa juga disebut blue sky, seluruh proses uji terbang akan menggunakan campuran bahan bakar penerbangan berkelanjutan untuk meminimalkan emisi karbon, sebagaimana pesawat Greenliner besutan Boeing-Etihad yang menggunakan campuran bio-fuel sebanyak 30 persen.

Langkah tersebut dinilai berhasil menurunkan emisi CO2 hingga 50 persen dari bahan bakar jet biasa. Hanya saja, untuk penerbangan ecoDemonstrator Agustus nanti, tidak disebutkan dengan jelas berapa persen campuran bio-fuel yang digunakan.

EcoDemonstrator sendiri sudah mulai dilakoni Boeing sejak 2012 lalu. Setiap tahun, program tersebut selalu dijalankan. Biasanya Boeing memilih pertengahan tahun sebagai waktu yang tepat.

Sebelumnya, Boeing berkolaborasi dengan FedEx untuk menguji 777 Freighter, Embraer untuk menguji E170, Stifel untuk menguji 757, dan American Airlines untuk menguji 737-800. Selain itu, Boeing juga telah menguji beberapa pesawatnya sendiri, termasuk 777-200 dan 787-8.

Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh!

Tahun lalu, program ecoDemonstrator Boeing dikabarkan menguji beberapa cara baru untuk berbagi informasi digital dengan menara kontol lalu lintas udara, kantor pusat operasional maskapai, dan teknologi baru yang menghubungkan berbagai bagian di dalam ruang kabin.

Tidak menutup kemungkinan juga jika Boeing akan turut menguji toilet pintar yang akan mampu untuk mendeteksi dan menyesuaikan suhu dan kelembapan ruangan. Juga keberadaan kamera yang akan memungkinkan penumpang untuk melihat lebih jauh dan lebih luas ke arah luar pesawat ketika mengudara.

Mobil Wisata Cirebon Mirip dengan Bandros di Bandung

Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa barat (Jabar) baru saja memberikan bantuan mobil wisata kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Cirebon. Sayangnya mobil wisata ini hanya ada satu unit dan membuat Pemkab Cirebon merubah rute operasional yang sebelumnya sudah mereka rencanakan.

Baca juga: Keliling Bandung Naik Bus Bandros Yuk!

Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kabupaten Cirebon, H Hartanto menjelaskan pada rute awal, pihaknya merencanakan ada dua yang akan dilalui mobil wisata ini. Namun karena baru hadir satu, maka pihaknya akan melintas di satu rute saja.

KabarPenumpang.com mengutip dari laman suaracirebon.com (21/7/2020), satu rute yang akan dijalankan yakni dari Banyu Panas Gempol menuju ke Trusmi Plered sampai ke Gunungjati dan sebaliknya. Hartono mengaku rute ini dipilih karena Pemkab Cirebon ingin lebih banyak mempromosikan wisata khususnya batik Trusmi.

“Saat ini mobil pariwisata yang ada belum diperuntukkan bagi masyarakat umum dan akan mengoperasikannya khusus untuk para pelajar yang ada di Kabupaten Cirebon,” kata Hartono.

Dia menjelaskan, meski belum untuk masyarakat umum dan terbatas pada City Tour Pelajar, kehadiran mobil wisata ini untuk mengedukasi. kadisbudparpora itu menambahkan, setelah berlalunya masa Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) dan dilaunching oleh Bupati Cirebon dan Forkopimda Kabupaten Cirbeon, mereka merencanakan pergantian siswa dari satu sekolah dengan sekolah lain untuk mengikuti edukasi dalam perjalanan City Tour Pelajar tersebut.

“Kita akan rencanakan untuk pergantian sekolah yang satu ke sekolah yang lain, yaitu SMP dulu, baru kemudian SMA,” ujarnya dia.

Hartono menambahkan, pada tahun 2021 mendatang dan kondisi sudah kembali normal, City Tour Pelajar akan menyasar siswa di jenjang pendidikan SD, TK dan PAUD. Untuk pengoperasiannya sendiri, mobil wisata akan berkeliling satu minggu sekali di akhir pekan.

Hal ini karena biaya operasional mobil wisata tersebut yang belum masuk perencanaan anggaran mereka. Hartono mengatakan, pihaknya akan mengajukan biaya operasional bus wisara pada anggaran perubahan 2020 pada September mendatang.

“Mudah-mudahan di anggaran perubahan nanti disetujui, jadi kita bisa langsung action,” ungkapnya.

Baca juga: Pownis, Mobil Kayu Berbahan Bakar Solar dan Bensin

Bus Bandros. Sumber: griyagawe.files.wordpress.com

Bila dilihat-lihat, bentuk mobil wisata di Kabupaten Cirebon ini serupa dengan Bandros yang diadaptasi dari bentuk double decker yang menjadi ikon kota London, bentuk Bandros senada dengan double decker jaman dulu ini. Meski begitu selain perbedaan Bandros adalah double decker dan mobil wisata single deck, warnanya pun berbeda yakni Bandros merah dan mobil wisata tersebut hijau.