Asyik, Naik Garuda Indonesia Dapat ‘Cashback’ Biaya Rapid Test Ratusan Ribu! Begini Caranya

Maskapai Garuda Indonesia belum lama ini meluncurkan promo cashback biaya rapid test sebesar Rp150 ribu. Penawaran spesial ini berlaku untuk pembelian tiket melalui website dan mobile application Garuda Indonesia pada 23 – 31 Juli 2020. Adapun periode perjalanan yang diatur mulai dari 23 Juli – 31 Agustus 2020.

Baca juga: Enak Banget, Penumpang Etihad Bisa Rapid Test dan PCR Test Covid-19 di Rumah! Begini Teknisnya

Dari situs resmi dan rilis yang diterima KabarPenumpang.com, tawaran cashback biaya rapid test sejumlah itu terjadi berkat kerjasama Garuda Indonesia dengan Himpunan Bank Milik Negara atau HIMBARA (BNI, BRI, BTN, serta Bank Mandiri).

Selain periode promo yang terbatas, jumlah calon penumpang yang berhak mendapatkan cashback biaya rapid test juga terbatas. Bila tak ada penambahan ataupun pengurangan, cashback ini bisa didapat oleh 800 calon penumpang.

“Garuda Indonesia beserta bank-bank HIMBARA bekerja sama untuk memberikan layanan lebih kepada 800 penumpang terpilih yaitu pengembalian biaya rapid test sebesar Rp150.000 per penumpang (sesuai dengan SE Menkes Nomor HK.02.02/I/2875/2020),” bunyi ketarangan di situs resmi Garuda Indonesia.

Lebih lanjut, dalam situs resmi perusahaan juga tertuang, bahwa penawaran tersebut hanya berlaku untuk minimum pembelian tiket sebesar Rp1 juta, baik untuk tiket dalam sekali jalan maupun perjalanan pulang-pergi (PP) domestik.

Bagi calon penumpang yang beruntung, Garuda Indonesia akan mengirimkan email konfirmasi kepada pelanggan hingga H+1 setelah transaksi. Pengembalian biaya rapid test senilai Rp150 ribu ini akan diproses setelah penumpang melakukan penerbangan (full trip) melalui kartu debit atau artu kredit bank HIMBARA yang digunakan pada pembelian tiket. Proses pengembalian dilakukan maksimal kurang lebih 14 hari kerja sejak periode perjalanan program ini berakhir (mulai 1 September 2020).

Perlu dicatat, tak semua jenis kartu bank partner yang bisa menikmati layanan cashback rapid test Garuda Indonesia. Untuk BNI, seluruh kartu kredit, kecuali kartu kredit Corporate dan Hasanah Card, serta kartu debit berlogo Mastercard, kecuali kartu debit syariah, bisa ikut layanan ini. Bank BRI juga demikian, seluruh pengguna kartu debit, e-Pay, an kartu kredit, kecuali Kartu Korporasi BRI, bisa ikut promo tersebut.

Bank BTN lebih luas lagi. Pengguna kartu debit berlogo Visa (BTN Reguler, Prioritas Gold, Prioritas Platinum, dan Syariah) bisa ikut layanan ini. Bank Mandiri baik debit maupun kredit, kecuali Mandiri Corporate Card bisa ikut layanan ini.

Garuda Indonesia sendiri, dalam kondisi normal, menyediakan layanan rapid test di klinik maupun rumah sakit yang ditunjuk, dengan harga di atas Surat Edaran yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, mulai dari Rp300 – Rp700 ribu per penumpang. Harga tersebut sebetulnya masih sangat relevan dengan kondisi yang ada, sekalipun masih tergolong lebih mahal dibanding layanan rapid test Lion Group yang hanya sebesar Rp95 ribu.

Menurut sumber KabarPenumpang.com, alat rapid test Covid-19 yang kebanyakan beredar di Indonesia berasal dari Cina. Lain dari itu, alat rapid test Covid-19 juga berasal dari banyak negara, mulai dari Eropa, Korea, hingga Amerika Serikat (AS). Meskipun berbeda-beda, namun, harganya berkisar Rp150 – 200 ribu. Di sejumlah marketplace, bahkan harganya jauh di atas itu.

Harga tersebut pun baru harga asli alat rapid test Covid-19nya saja, belum termasuk harga layanan, mengingat, petugas yang terlibat dalam layanan tersebut harus dibekali dengan Alat Pelindung Diri (APD), berupa hazmat, hand sanitizer, masker, face shield, dan sepatu boots.

Baca juga: Meski Beda Prosedur, Lufthansa dan Lion Air Hadirkan Layanan Rapid Test Covid-19

Face shield dan sepatu boots mungkin bisa saja dipakai berulang-ulang, namun tidak demikian dengan hazmat dan masker yang hanya bisa sekali pakai. Tentu, bila itu dimasukan ke dalam paket layanan, seharusnya harga layanan rapid test Covid-19 yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta tarifnya bisa lebih di atas harga alat rapid test itu sendiri.

 

Mengenang DC-10: Pelopor Penerbangan Jarak Jauh Modern Sekaligus Berlabel Jebakan Maut

“Miris” mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sepak terjang salah satu pesawat legendaris dari McDonnell Douglas, DC-10, di jagat penerbangan dunia. Betapa tidak, pesawat yang mengakhiri karirnya pada 2014 lalu itu dilabeli oleh pecinta penerbangan di dunia dengan dua hal yang sangat berlawanan, “pekerja keras” yang bernada positif dan “jebakan maut” yang bernada negatif.

Baca juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia

Uniknya, label tersebut (jebakan maut) seolah terkenang abadi setelah grup musik rock asal Inggris, The Clash, membuat lagu berjudul Spanish Bombs yang bercerita tentang sederet kecelakaan DC-10.

Dua label yang disematkan pesawat berkapasitas 250 hingga 380 penumpang itu memang sangat berdasar dan bukan semata karena kebencian pencinta Airbus maupun Boeing lovers.

Sejak pertama kali beroperasi pada 1971, riwayat pesawat trijet buatan Amerika Serikat (AS) ini bisa dibilang cukup mengerikan. Setidaknya, ada total 53 kecelakaan, dengan beberapa di antaranya tergolong fatal; memakan total korban jiwa hingga 841 jiwa.

Insiden terbesar pertama yang melibatkan DC-10 terjadi pada 1974. Kala itu, DC-10 Turkish Airlines jatuh akibat pintu kargo di bagian belakang pesawat meledak dan lepas hingga menyebabkan pesawat kehilangan kendali atau mengalami dekompresi eksplosif.

Pesawat akhirnya jatuh, sekitar 10 menit setelah lepas landas. Insiden tersebut pun menewaskan 346 orang atau seluru penumpang dan awak pesawat. Atas insiden tersebut, Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA), mewajibkan seluruh pintu kargo DC-10 dimodifikasi ulang.

Insiden berlanjut pada 25 Mei 1979, dimana 271 orang tewas saat DC-10 American Airlines jatuh tepat setelah tinggal landas di Chicago. Prosedur perawatan kilat yang merusak sistem hidrolik diidentifikasi sebagai penyebab utamanya. FAA kembali bereaksi. Enam hari kemudian, seluruh pesawat DC-10 digrounded.

Pabrikan, McDonnell Douglas, merespon dengan mengubah desain pesawat, tak disebutkan berapa persen perubahan yang dilakukan. Yang jelas, tak lama setelah mereka mengubah desain, DC-10 kembali diizinkan terbang.

Namun, DC-10 kembali terlibat kecelakaan. Pada tahun 1994, seorang karyawan FedEx berusaha membajak pesawat tersebut. Kemudian di tahun 1989, pesawat diledakkan oleh teroris di Gurun Sahara dan menewaskan 170 orang.

Meski demikian, beberapa pecinta penerbangan menyebut, sekalipun DC-10 terlibat banyak kecelakaan, hal itu tak serta merta membuat ia pantas dilabeli dengan kalimat bernada negatif. Gordon Stretch, pecinta penerbangan asal Solihull, Inggris, bahkan sampai membandingkan dengan pesawat supersonik Concorde untuk menunjukkan bahwa DC-10 tak seburuk yang dipikirkan.

Sejak awal terbang sampai pensiun, ditandai dengan penerbangan terakhir Biman Bangladesh Airlines pada 21 Februari 2014 lalu, pesawat berhasil diproduksi sebanyak 446 unit dan terlibat kecelakaan fatal sebanyak tiga kali. Sedangkan Concorde, dari 20 unit yang diproduksi, satu pesawat di antaranya terlibat kecelakaan. Dari secara rasio, DC-10 jauh lebih aman dibanding Concorde.

“Mereka hanya membangun 20 Concorde dan salah satunya jatuh. Saya tidak akan mengatakan DC-10 adalah pesawat yang tidak aman, ada masalah khusus dan prosedur perawatan pada saat itu tidak sesuai dengan kecepatan,” jelasnya, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari BBC International.

Baca juga: Di Ghana, DC-10 Eks Ghana Airways Beralih Fungsi Menjadi Restoran Bintang Lima

Dengan melihat sepak terjang DC-10 secara keseluruhan dan momentum kemunculannya saat itu, Gordon pun berharap DC-10 dapat dikenang sebagai pembuka jalan untuk penerbangan jarak jauh modern. “Ini sebuah pesawat terbang pelopor perjalanan jarak jauh,” ujarnya.

“Itu (DC-10) adalah salah satu jet besar yang pada dasarnya membuka pasar jangka panjang bagi masyarakat. Tanpa mereka, kurasa kita akan jauh lebih tertinggal dari yang ada sekarang,” tambahnya.

Tahan Gempa, Ini Kereta Berkecepatan Tinggi yang Baru di Jepang

Olimpiade Jepang 2020 harus tertunda karena pandemi Covid-19, meski begitu, Negeri Sakura ini tetap memperkenalkan kereta berkecepatan tinggi baru yang tadinya akan diluncurkan untuk pertandingan di Tokyo tersebut. Kereta terbaru ini bisa mencapai kecepatan 224 mil per jam atau 360 km per jam dan nantinya pada saat beroperasi hanya 177 mil per jam atau 284 km per jam.

Baca juga: Shinkansen N700S Mulai Melayani Penumpang dengan Fitur Terbaru

KabarPenumpang.com melansir laman popularmechanics.com (22/7/2020), pembuat kereta ini mengatakan, selain bisa melaju dikecepatan yang tinggi, kereta tersebut tahan gempa karena sumber daya dan modenya berbeda untuk menangani lintasan berbahaya. Kereta berkecepatan tinggi baru ini dilengkapi dengan rem yang lebih baik dan kontrol yang berjalan sehingga dapat melambat dan berhenti lebih cepat ketika dalam keadaan darurat.

Kereta seri N700S (Supreme) ini akan dioperasikan oleh Central Japan Railways yang akan melaju dengan panjang jalur 250 mil atau 402 km antara Tokyo dan Osaka. Meski kecepatan dan keamanannya menjadi hal yang besar, N700S ini dilengkapi dengan pembaruan untuk kenyamanan penumpangnya, kapasitas penyimpanan dan suspensi baru.

Ini yang kemudian membuat kereta lebih hemat bahan bakar dan lebih mudah berhenti dengan jumlah penumpang sama seperti di dalam pesawat. Pembuat kereta mengaku senang dengan sistem propulsi otonom pada kereta ini.

“Ini juga dilengkapi dengan sistem propulsi mandiri baterai lithium-ion yang pertama dari jenisnya di dunia. Sistem ini memungkinkan kereta berjalan dengan jarak pendek sendiri selama pemadaman listrik dan akan memungkinkannya untuk pindah ke lokasi yang lebih aman dengan kecepatan rendah jika terdampar di daerah berisiko tinggi di jembatan atau di terowongan , misalnya saat gempa bumi,” kata mereka.

Dalam kendaraan seperti ini, membuat sistem daya cadangan baterai adalah kombinasi elegan dari teknologi pembakaran tradisional, di mana alternator mengisi ulang baterai selama operasi dan jenis penyimpanan energi yang didorong di seluruh dunia oleh Elon Musk serta raksasa energi lainnya. Sistem propulsi ini juga digunakan karena kereta listrik rentan terhadap gempa bumi karena pembangkit listrik atau apa pun di sepanjang saluran transmisi akan rusak.

Jepang mengatakan, saat ini belum ada cedera penumpang pada sistem rel berkecepatan tinggi dalam sejak operasi setengah abad. Saat ini bahkan kereta yang sebelumnya dihentikan karena pemadaman listrik dapat terus bergerak keluar dari jalan yang berbahaya.

Baca juga: “Pokemon with You Train,” Kereta Tematik Pelipur Duka Anak-Anak Korban Gempa Jepang

Untuk diketahui, aktivitas seismik tingkat tinggi Jepang telah menyebabkan minat dalam penelitian gempa bumi yang dimulai sejak abad kesembilan. Para peneliti mengatakan, sepuluh persen dari gempa bumi dunia terjadi di Jepang. Ini karena posisi dan asal cerita rantai pulau yang membentuk Jepang dan merupakan bagian dari Cincin Api yang memiliki aktivitas vulkanik dan seismik intensif di sekitar Samudra Pasifik.

Boeing Akan Lengkapi Pesawat 777X dengan Airbag, Mirip Airbag di Mobil?

Boeing dilaporkan tengah menunggu tanggapan Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) atas rancangan desain baru 777X-9. Desain baru tersebut berkenaan dengan perubahan letak airbags yang sebelumnya berada di seatbelt dipindah ke struktur kabin pesawat.

Baca juga: Boeing 777X Didapuk Terbang Tahun Depan, Delapan Maskapai Dunia Sudah Tak Sabar

Situs paxex.aero melaporkan, airbags yang dipasang distruktur pesawat sebetulnya bisa dibilang mirip dengan inflatable lap belt atau sabuk pengaman dengan gelembung udara mirip airbag dalam melindungi kepala, yang juga dirancang untuk menahan seseorang ke arah depan dan terbentur saat terjadi pendaratan darurat. Tetapi, tentu efektivitas airbags dalam melindungi penumpang dari cedera tak bisa disandingkan dengan sabuk pengaman (seatbelt) atau inflatable lap belt sekalipun.

Airbags yang tengah didesan Boeing pada 777X-9 diklaim dapat menghindari penumpang dari cedera ringan dan serius, termasuk cedera di bagian kepala. Berbeda dengan desain sebelumnya yang berada di seatbelt, airbags Boeing 777X-9 terletak di seatback masing-masing pesawat atau di depan setiap penumpang, layaknya airbags pada mobil.

Cara kerjanya pun juga memiliki kesamaan, dimana airbags akan mengembang saat sensor mendeteksi terjadinya benturan dan dalam hitungan sepersekian detik bagian kepada dan separuh tubuh penumpang akan mendarat di airbags. Selain itu, untuk meningkatkan efektivitas agar tubuh bagian atas dan kepala penumpang mendarat di airbags, Boeing juga menyesuaikan posisi dan reaksi airbags terhadap lengkungan struktur kabin atau kursi di zona head-strike.

Seiring perkembangan industri penerbangan yang akan melibatkan 8,2 miliar penumpang di 2037, sebagaimana prediksi IATA, airbag tentu sangat diperlukan untuk membantu memastikan keselamatan penumpang saat terjadi kecelakaan.

Secara khusus, pesawat umumnya dirancang sedemikian rupa sehingga kepala penumpang membentur kursi di depannya dengan cukup cepat untuk mengurangi efek whiplash (otot-otot di leher tegang) ketika kecelakaan terjadi. Tentu, menghindari efek whiplash namun mengorbankan kepala untuk berbenturan dengan kursi yang berada di depan penumpang bukanlah sebuah pilihan.

Baca juga: 30 Tahun Airbag Hadir Untuk Keselamatan Dunia Otomotif

Oleh karenanya, airbags (yang terletak di struktur kabin atau di depan penumpang) akan melengkapi hal itu agar efek whiplash dan cedera akibat benturan dapat terelakkan. Selan itu, posisi airbag di depan penumpang (bukan di seatbelt) juga membuat penumpang lebih nyaman tanpa ada ganjalan apapun di kursi.

Di samping Boeing 777X, pesawat Boeing lainnya yang juga dilengkapi fitur serupa ialah kursi Super-Diamond di 787-9. Kursi rancangan B / E Aerospace (sekarang bagian dari Collins Aerospace) disebut cukup membuat penumpang aman dan pada akhirnya berbagai dorongan dari beberapa pihak pun menggerakkan Boeing untuk menyematkan kursi serupa (yang dilengkapi dengan airbag) ke 777X.

Pernah Dengar Pintu Belakang Boeing 727 Jadi Sebab Pembajakan? Simak di Sini Jika Belum

Boeing 727 bukan hanya masyhur dikenal dengan mesinnya yang berjumlah ganjil (trijet atau pesawat yang memiliki tiga mesin) melainkan juga dikenal karena memiliki airstairs. Fitur pengganti stair car atau mobil tangga itu nyatanya memang tak banyak disematkan pesawat-pesawat lainnya di dunia, wajar bila pesawat yang dilengkapi airstairs menjadi mudah dicirikan.

Baca juga: Minta Tebusan Rp20Juta dan Parasut, Inilah Kronologi Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia

Di zamannya (sejak sekitar tahun 1963), fitur airstairs Boeing 727 memang dinilai sangat memudahkan penumpang, juga maskapai dan operator bandara, ketika pesawat diharuskan mendarat di bandara yang tak memiliki skybridge (garbarata) ataupun mobil tangga.

Akan tetapi, polemik muncul saat memasuki tahun ke delapan fitur airstairs di Boeing 727. Kala itu, D. B. Cooper, seorang warga yang identitasnya masih misterius, dilaporkan berhasil membajak pesawat Boeing 727 saat dalam penerbangan Northwest Orient Airlines rute Portland, Oregon menuju Seattle, Washington, Amerika Serikat (AS) pada tanggal 24 November 1971.

Pembajak pesawat tersebut kemudian mendesak pilot untuk didaratkan guna mengambil imbalan uang sebesar US$200.000 (setara US$1,26 juta hari ini) beserta empat parasut. Setelah mendapatkan semua itu, ia memerintahkan pilot untuk membawa pesawat terbang ke Mexico City via Reno, Nevada, AS untuk mengisi bahan bakar.

Dalam perjalanan itulah pilot menyadari bahwa pintu belakang (rear door) pesawat terbuka dan pembajak diketahui melompat dari sana. Hingga kini, uang dan pembajak tersebut tak diketahui keberadaannya, hilang tanpa jejak bak hantu. Diperkirakan, ia tewas saat dalam proses penerjunan.

Simple Flying menyebut, pasca kejadian pembajakan oleh D. B. Cooper, Amerika Utara mendapat teror pembajakan pesawat sebanyak 31 kasus, dengan sembilan di antaranya menggunakan metode yang sama persis; membajak, meminta sejumlah uang dan parasut, serta melarikan diri di tengah perjalanan melalui pintu belakang Boeing 727 yang berada tepat di bawah ekor pesawat.

Boeing 727 Northwest Orient Airlines. Foto: Jon Proctor via Wikimedia

Di situlah letak kontroversi keberadaan pintu belakang. Bila sebelumnya pintu belakang di bawah ekor pesawat itu diklaim cukup membantu saat berfungsi sebagai airstairs, namun, setelah kejadian itu rear door justru malah membantu pembajak pesawat memuluskan aksinya.

Perlu diketahui, selain dibantu dengan keberadaan pintu belakang itu, pembajak juga bisa sukses melakukan aksinya karena belum adanya aturan mengunci pintu kokpit ataupun cara kerja pintu kokpit dalam menahan serangan belum se-sempurna teknologi pintu kokpit pesawat saat ini.

Lagi pula, bila pun pintu kokpit bisa dibuka paksa, skema pembajakan pesawat model seperti di atas, yang notabene berusaha melarikan diri dengan membuka pintu pesawat saat di udara, mustahil dilakukan. Sebab, tekanan kuat dari luar menjadikannya mustahil dibuka saat di udara.

Kembali ke masalah pintu belakang Boeing 727, setahun pasca D. B. Cooper sukses membajak pesawat dan menghilang tanpa jejak, Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA), sadar akan adanya sesuatu yang harus diubah. Mereka pun akhirnya memperkenalkan Cooper Vane, sebuah komponen mekanik baru di pintu kokpit agar tak bisa ditembus oleh pembajak saat dalam penerbangan.

Cara kerjanya, vane (baling-baling) cuaca kecil ditempel di spring-loaded paddle. Saat pesawat tak bergerak atau tengah berada di darat, airstairs atau pintu belakang pesawat bisa dibuka sebagaimana mestinya.

Baca juga: Pernah Gagalkan Pembajakan Singapore Airlines, Mantan Anggota Pasukan Khusus Kini Menjadi Biksu

Namun, ketika pesawat tinggal landas atau tengah berada di udara, paddle akan terdorong kembali oleh angin dan menutupi tangga. Otomatis, tangga tak bisa dibuka. Walupun cukup jadul, namun, cara tersebut cukup ampuh sekalipun teknologi tersebut kini sudah digantikan dengan yang lebih canggih.

Tak mau ketinggalan Boeing, kompetitor satu negara, McDonnell Douglas, akhirnya juga menyematkan alat serupa (Cooper Vane) di pesawat DC-9 yang notabene juga memiliki pintu belakang layaknya Boeing 727.

Penumpang Maskapai Ryanair ‘Ngamuk’ Gegara Pesawat Dipenuhi Kotoran Warna Kuning, Jijik

Seorang penumpang dilaporkan ‘mengamuk’ di media sosial terkait pengalaman terbangnya bersama maskapai berbiaya murah (LCC) asal Irlandia, Ryanair, belum lama ini. Ia mencak-mencak di media sosial lantaran pesawat yang ditumpanginya kotor.

Baca juga: Jijik! Ini Alasan Mengapa Penumpang Pesawat Harus Mengindari Makanan Langsung Di Atas Baki

Dari foto yang dibagikan, pesawat memang dipenuhi dengan kotoran berwarna kuning. Tapi tenang, kotoran berwarna kuning tesebut bukanlah kotoran manusia, melainkan remahan keripik yang juga berwarna kuning. Tak hanya di lantai pesawat, remahan kripik juga terdapat di kursi.

Dalam penerbangan dari Ibiza, Spanyol ke Manchester, Inggris, beberapa waktu lalu itu, tentu saja, beberapa penumpang menolak untuk duduk di kursi atau sekitar kursi tersebut. Alhasil, penerbangan sempat tertunda beberapa saat untuk menata ulang seat map penumpang.

“Orang-orang menolak untuk duduk di sana, rasanya seperti ini (kotoran berwarna kuning) di seluruh pesawat,” jelasnya, seperti dikutip dari Mirror.

“Itu kotor dan najis. Dapat dimengerti itu tidak akan menjadi yang paling bersih, namun Anda dapat mengatakan bahwa mereka belum berusaha membersihkannya sama sekali,” tambahnya.

Selain itu, penumpang yang tak diungkap identitasnya itu juga menyebut, terdapat ‘dosa’ lain yang dilakukan maskapai Ryanair. Disebutkan, staf maskapai yang berbasis di Bandara Dublin dan Bandara London Stansted itu juga gagal melakukan pengecekan sertifikat kesehatan Covid-19 secara menyeluruh. Tak hanya itu, staf juga dinilai gagal memastikan seluruh penumpang menerapkan kebijakan physical distancing dengan baik.

Melihat postingan tentang Ryanair, netizen lain pun turut membagikan kisah pahitnya bersama maskapai yang didirikan pada tahun 1984 itu. Pengguna media sosial anonim itu menyebut bahwa pesawat Ryanair dipenuhi dengan debu.

“Baru saja turun dari penerbangan Liverpool – Malta. Membuka meja nampan (meja lipat di pesawat) untuk menaruh beberapa makanan ringan. Itu (meja nampan) dipenuhi dengan debu. Tidak mungkin (meja nampan) dibersihkan,” jelasnya.

Kejadian ini tentu aneh. Sebab, sebelum dan sesudah terbang, pesawat dicek, dibersihkan, dan di tengah wabah Covid-19 seperti sekarang ini, pesawat didisinfeksi dengan menggunakan cairan khusus di seluruh sudut kabin. Otomatis, ketika hal itu dilakukan, kemungkinan petugas menemukan kotoran kuning dari sisa remahan keripik itu cukup besar.

Meski demikian, juru bicara Ryanair mengaku mereka telah menjalankan seluruh prosedur kebersihan, terlebih menyangkut protokol kesehatan untuk mencegah paparan Covid-19. Selain itu, mereka juga mengklaim konsisten untuk terus menjalankan protokol kesehatan.

“Ryanair memiliki serangkaian tindakan kesehatan baru untuk mencegah penyebaran Covid-19. Kami secara teratur menilai efektivitas langkah-langkah ini dan kami terus bekerja dengan orang-orang kami untuk memastikan pedoman kami dipatuhi,” katanya.

Baca juga: (Video) Kursi Pesawat Dekat Jendela Paling Kotor Diantara yang Lainnya

“Sejalan dengan standar industri, awak kabin kami melakukan pemeriksaan kabin dan toilet pada akhir setiap penerbangan, dan akhir di setiap hari terhadap semua pesawat Ryanair dibersihkan secara menyeluruh dengan disinfektan berstandar rumah sakit, yang efektif selama lebih dari 24 jam,” tambahnya.

“Sepanjang kru kabin penerbangan kami membuat sejumlah pengingat melalui the public address system untuk memastikan seluruh penumpang mematuhi kebijakan mengenakan masker. Ini sesuai dengan prosedur baru kami. Kami menindaklanjuti dengan kru kami sehubungan dengan penerbangan ini,” tutupnya.

Ada Gambar Logo Kanguru Qantas di Langit dalam Penerbangan Boeing 747-400 Terakhir

Setelah 50 tahun mengudara, Boeing 747-400 akhirnya resmi pensiun setelah diterbangkan Qantas dari Bandara Sydney ke kuburan pesawat di Boneyard, Gurun Mojave, Southern California, Amerika Serikat (AS), Rabu siang lalu, waktu setempat.

Baca juga: Dear Boeing Lovers, Qantas Lakukan Penerbangan Penumpang Terakhir Boeing 747-400 Sebelum Pensiun! Catat Tanggalnya

Uniknya, sebelum benar-benar berpisah, pilot pesawat menyempatkan diri mengajak jet jumbo ikonik Boeing itu keluar dari jalur (tentu dengan dipandu ATC) untuk membentuk gambar di langit (jika dilihat dari radar) berbentuk kanguru yang notabene merupakan logo Qantas.

“Pesawat ini jauh berada lebih unggul di zamannya dan sangat mampu. Para insinyur dan awak kabin senang bekerja dengan mereka (Boeing 747) dan pilot suka menerbangkannya. Begitu juga para penumpang. Mereka telah mengukir tempat yang sangat istimewa dalam sejarah penerbangan dan saya tahu mereka akan sangat dirindukan oleh banyak orang, termasuk saya,” kata CEO Qantas Group, Alan Joyce dalam sebuah pernyataan.

“(Boeing) 747 menempatkan perjalanan internasional dalam jangkauan rata-rata orang Australia dan orang-orang bisa bepergian dengan bebas pada kesempatan itu,” tambah Joyce, seperti dikutip dari CNN International.

Sebelum momen spesial dengan nomor penerbangan QF7474 dilangsungkan, orang-orang sudah banyak berkumpul di bandara tersebut untuk memberikan penghormatan terakhir ke pesawat. Dalam momen bersejarah itu, Qantas juga melengkapinya dengan mendelegasikan Kapten Sharelle Quinn, kapten pilot wanita pertama maskapai, sebagai penerbang Boeing 747-400 terakhir.

“Saya telah menerbangkan pesawat ini selama 36 tahun dan itu merupakan hak istimewa mutlak,” jelasnya.

“Itu (Boeing 747) telah menjadi bagian yang luar biasa dari sejarah kami, pesawat yang benar-benar luar biasa dan sementara kami sedih melihat pesawat terakhir kami pergi, sekarang saatnya untuk menyerahkan kepada generasi pesawat berikutnya yang jauh lebih efisien,” tambahnya.

Selain diterbangkan oleh kapten pilot pertama Qantas dan membentuk gambar kanguru (di langit) yang merupakan logo Qantas, sekaligus ikon utama Negeri Kanguru Australia sebagai negara asal maskapai, pesawat Boeing 747-400 Qantas itu juga dilaporkan mampir ke Sydney Harbour dan museum HARS Aviation untuk bersua (tos antar sayap masing-masing) dengan Boeing 747-400 pertama Qantas yang diabadaikan di sana.

Sebelum benar-benar melakukan penerbangan terakhir, fans fanatik Boeing, khususnya Boeing 747, sudah lebih dahulu terpuaskan dengan adanya farewell flight di tanggal, 13, 15, dan terakhir 17 Juli lalu.

Tiket penerbangan perpisahan Boeing 747-400 Qantas, untuk kelas bisnis, dijual dengan harga $747 atau sekitar Rp10,8 juta (kurs 14.720). Adapun kelas ekonomi dijual $400 atau Rp5,8 juta (kurs 14.720). Dengan begitu, menyerupai jenis dan seri pesawat, 747-400. Unik, bukan? Bukan hanya itu, tiket juga dijual terbatas sehingga penumpang dapat menikmati lebih banyak ruang di pesawat.

Baca juga: Sejarah Panjang, 50 Tahun Boeing 747 Bersama Qantas

Keuntungan dari tiga penerbangan perpisahan itu bukan untuk membiaya operasional Qantas -mengingat perusahaan tengah dalam kesulitan akibat wabah corona- melainkan akan disumbangkan ke museum HARS Aviation dekat Wollongong, New South Wales, dan Qantas Founders Museum di Longreach, Queensland, yang keduanya menyimpan pesawat berjuluk Queen of the Skies tersebut.

Pasca pensiun, tugas-tugas Boeing 747-400 Qantas selanjutnya akan digantikan dengan pesawat-pesawat kekinian lainnya, seperti Boeing 787 Dreamliner ataupun pesawat canggih Airbus A350 yang keduanya sama-sama menjanjikan efisiensi lebih dibanding jet jumbo ikonik Boeing 747.

Daerah Cagar Budaya di Sepanjang Jalur Fase 2, Jadi Tantangan Tersendiri Bagi MRT Jakarta

Di jalur pembangunan fase 2 Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta dari Thamrin menuju ke Ancol Barat banyak lokasi yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Hal ini membuat PT MRT Jakarta akan melakukan arkeologi pit tes untuk pengujian kandungan dan nilai tinggalan purbakala serta upaya penyelamatannya.

Baca juga: Bangun Fase 2, MRT Jakarta Buat Rekayasa Lalu Lintas dari Thamrin sampai Monas

Direktur utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, area cagar budaya ini menjadi satu kompleksitas tersendiri dalam pembangunan fase 2 tersebut. Dia menyebutkan saat ini tengah serius tangani cagar budaya di Monas.

“Kami akan tes pit materi cagar budaya. Pekerjaan ini akan dilakukan oleh ahli-ahli arkeologi, arsitektur, dokumentasi, penggambaran, pemetaan, analisis temuan, pemugaran dan konservasi yang kompeten di bidangnya,” jelas William dalam forum jurnalis, Rabu (22/7/2020).

Dia menyebutkan, di Monas dulunya ada bekas lapangan Koningsplien yang gunakan tahun 1930 di depan Museum Nasional atau yang biasa disebut Museum Gajah. Di sebelah kiri depan bekas bangunan Kantor Besar Polisi yang dibongkar tahun 1950-an.

“Lapangan ini tahun 1930-1932 sudah digunakan sebagai lokasi Pasar Malam Gambir,” jelas William.

Direktur konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim menambahkan, untuk di jalan Thamrin, ada Tugu Jam Thamrin yang dibangun sejak 1969. Dia menyebutkan ini adalah menara jam pertama yang dibangun oleh pemerintah DKI Jakarta.

“Kami akan merelokasi Tugu Jam Thamrin yang menjadi bangunan cagar budaya selama pembangunan MRT Jakarta fase 2 ini. Saat ini kami tengah lakukan scanning dan mengecek kondisi struktur,” ujar Silvia.

Dia menjelaskan Oktober akan mulai dipindahkan dan saat ini masih dalam pembahasan akan dipindah kemana. Silvia menyebutkan, ada kemungkinan Tugu Jam Thamrin akan dipindah ke Lapangan Banteng dan akan di pasang instalasinya atau di pindahkan ke museum yang nantinya akan dikembalikan setelah pembangunan fase 2 selesai.

Baca juga: Thermal Scanner di Stasiun MRT Jakarta, Selain Deteksi Suhu Tubuh Juga Bisa Kenali Rentang Usia Calon Penumpang

“Berdasarkan hasil pengamatan visual, struktur Tugu Jam Thamrin saat ini dalam kondisi kurang baik. Maka kita akan relokasi ke Lapangan Banteng atau Museum,” jelasnya.

Boeing 747-300SR, Pesawat Jumbo Langka untuk Penerbangan Jarak Pendek

Boeing 747 biasanya identik dengan perjalanan jauh berkisar belasan jam. Sebab, pesawat berjuluk “Queen Of The Skies” tersebut memang didesain untuk penerbangan lintas benua sejak pertama kali diluncurkan pada awal tahun 1969. Namun, di balik itu, mungkin sedikit yang menyadari bahwa pesawat komersial jumbo ikonik Boeing itu juga tersedia dalam versi SR atau Short Range, sekalipun dalam jumlah terbatas.

Baca juga: Tak Satupun Terbang, Airbus A380 Keok dari “Queen Of The Skies” Boeing 747

Menurut analisa Universitas McGill, Montreal, Kanada, Boeing 747SR memang memiliki kapasitas bahan bakar yang lebih kecil dibanding rekan sejawatnya (747 jenis lain). Namun, ia memiliki kemampuan mengangkut penumpang lebih banyak dibanding jenis lain.

Di versi awal, Boeing 747SR mampu mengangkut hingga 498 penumpang, yang kemudian meningkat jadi 550 penumpang. Bahkan, di situs boeing-747.com, 747SR disebut mampu mengangkut hingga 600 penumpang di rute Okinawa – Tokyo, Jepang.

Selain itu, struktur pesawat juga dimodifikasi untuk menyesuaikan penggunaan. Oleh karenanya, tak heran bila pesawat itu mampu mengangkut lebih banyak penumpang dan menahan beban ekstra saat lepas landas dan pendaratan; mengingat pesawat digunakan untuk jarak pendek.

Karena diproduksi terbatas, maskapai yang mengoperasikannya pun juga tak banyak. Salah satu yang terbesar adalah maskapai nasional Jepang, Japan Airlines (JAL). Simple Flying menyebut, varian pertama yang bergabung dengan maskapai ini adalah 747-100SR. Sejak kedatangan pertama pada September 1973, JAL terus menambah armada 747SR-nya hingga berjumlah tujuh unit pada April 1975.

Belum puas, JAL menambah lagi dua unit 747-100B pada tahun 1986. Berbeda dengan versi sebelumnya, versi tersebut memiliki dek atas (double decker) untuk mengokomodir maskapai mengangkut lebih banyak penumpang.

Menariknya, salah satu pesawat jenis itu, dengan nomor registrasi N911NA, kemudian bergabung dengan NASA sebagai Pesawat Pengangkut Antar Jemput. Pesawat itu mulai dioperasikan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (AS) pada tahun 1991.

Melihat prospek bagus bersama Boeing 747SR, JAL pun tertarik mengoperasikan versi terbarunya, yakni 747-300 SSR. Tercatat, hanya dalam kurun waktu tiga bulan (Desember 1987 dan Februari 1988), empat pesawat tersebut diterbangkan dari markas Boeing di Everett ke basis JAL di Osaka International Airport.

JAL kemudian mengoperasikan pesawat tersebut bukan hanya untuk tataran regional, sebagaimana 747SR sebelumnya, melainkan sudah menjangkau negara-negara tetangga di Asia. Penerbangan dan pesawat tersebut kemudian dilanjutkan oleh anak perusahaan mereka, JALways.

Setelah belasan tahun beroperasi, tahun 2007 silam, pesawat pertama JAL Boeing 747-300 SSR, dengan nomor registrasi nomor registrasi JA8179, akhirnya harus lepas ke pangkuan WFBN Wells Fargo Northwest Bank. Hanya bertahan sekitar lima tahun, Transaero Airlines kemudian mengambil alih pesawat pada Februari 2012. Selang beberapa waktu, pesawat akhirnya harus menemui ajal saat diparkir selama-lamanya di fasilitas penyimpanan pesawat.

Selain JAL, maskapai lainnya yang mengoperasikan Boeing 747-100BSR (versi SR yang ditingkatkan, khususnya kemampuan berat lepas landas maksimum) pada penerbangan jarak pendek adalah maskapai Jepang lainnya, All Nippon Airways (ANA). ANA tecatat mengoperasikan pesawat tersebut mulai Desember 1978 sampai November 1982.

Baca juga: Ledakkan Boeing 747 Asli untuk Film Tenet, Sutradara Christopher Nolan: Lebih Efisien

Berbeda dengan JAL yang bisa mengangkut hingga 600 penumpang, umumnya ANA hanya mengangkut sebanyak 455 penumpang di rute-rute domestik. Kondisi tersebut terus berjalan sebelum akhirnya terhenti karena pensiun pada Mei 2006.

Akan tetapi, baik JAL, JALways, maupun ANA, kehadiran pesawat Boeing lain, 777-300, pada akhirnya harus membuat mereka mau tak mau beralih ke pesawat yang dinilai lebih ekonomis dari 747SR itu untuk operasional jarak pendek.

Bangun Fase 2, MRT Jakarta Buat Rekayasa Lalu Lintas dari Thamrin sampai Monas

Fase 2 pembangunan Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta sudah mulai bergerak sejak 15 Juni 2020. Ini terlihat dari sudah adanya pagar-pagar yang buat untuk lokasi konstruksi di sekitaran CP201 dari Bundaran HI menuju ke Monas.

Baca juga: Di 2030, MRT Singapura Perpanjang Jaringan Hingga 360 Km, Bagaimana dengan MRT Jakarta?

Dikatakan direktur utama PT MRT Jakarta William Sabandar, bahwa dalam beberapa hari kedepan pihaknya akan lakukan satu kegiatan fisik. Dia menyebutkan kegiatan itu adalah rekayasa lalu lintas di sepanjang jalan Thamrin.

Dia mengatakan dalam pembangunan fase 2 ini banyak yang akan dilakukan pihaknya salah satunya adalah menyembunyikan ventilasi tower tidak seperti yang terlihat di fase 1 sebelumnya.

“Kalau ventilasi tower di fase sebelumnya terlihat di dekat entrance. Tapi d fase 2 ini akan kita tata lebih rapi dan letaknya tidak akan terlihat seperti fase 1 karena kita sekaligus jalankan TOD,” ujar William dalam forum jurnalis, Rabu (22/7/2020).

Selain itu dalam pengerjaan fase 2 disebutkan William, MRT Jakarta akan membangun tunnel dari Bundaran HI sampai ke Harmoni dengan panjang 1942 meter. Dalam pengerjaan ini akan ada dua stasiun yakni Thamrin dan Monas.

“Di mana Stasiun Thamrin kedepannya akan menjadi integrasi jalur timur-barat. Selain itu kami juga perhitungkan jumlah traffic pengguna stasiun ini,” tambahnya.

William menjelaskan, dalam pembangunan fase 2 lebih sulit dibandingkan fase 1 sebelumnya. Hal tersebut karena melintasi daerah cagar budaya dan komplikasi tanah lunak serta penurunan yang akan terjadi.

“Kami benar- benar memikirkan dan menangani stasiun dengan baik karena ingin memiliki masa bertahan sangat panjang sehingga ada inves serius di tanah-tanah lunak. Tanah di Thamrin ada yang cepat sekali turun dan stabil bahkan ada yang komplikasi, bisa dikatakan kesulitannya luar biasa,” kata William.

Selain itu direktur konstruksi MRT Jakarta Silvia Halim menambahkan, dalam pengerjaan fase 2 ini pihaknya membuat diaphragm wall lebih dalam sekitar 30 meter dibandingkan dengan tunnel yang hanya 17 meter. Dia menjelaskan dalam pengerjaan CP201 ini MRT Jakarta akan melakukan tiga tahap rekayasa lalu lintas.

“Tahap 1 kita mulai akhir Juli 2020 sampai Maret 2023 itu kita geser traffic ke kanan dan kiri karena area tengah kita gunakan untuk bekerja. Tahap 2 April 2023 sampai Desember 2023 area kerja bergeser ke kiri dan traffic bergeser ke area sisi barat. Sedangkan tahap 3 Januari 2024 sampai Maret 2025 area kerja pindah ke kanan dan traffic di kiri,” jelasnya.

Selain itu MRT Jakarta juga akan memindahkan halte TransJakarta yang ada di Bank Indonesia dengan halte sementara atau eksisting. Silvia menjelaskan, mdfek akan membangun satu di depan BI dan satu lagi di depan Bank Mandiri.

Baca juga: Thermal Scanner di Stasiun MRT Jakarta, Selain Deteksi Suhu Tubuh Juga Bisa Kenali Rentang Usia Calon Penumpang

“JPO akan kami mulai bongkar di Agustus 2020 tapi sebelum jadi halte sementaranya, penumpang masih bisa menggunakan zebra cross ke halte lama. Setelah halte sementara yang kita buat jadi, baru semuanya pindah ke halte itu, ini akan berlangsung selama pengerjaan fase 2,” kata Silvia.