Apakah Aerosol Bisa Sebabkan Infeksi? Lalu Apakah Buka Jendela Ruangan Bisa Hindari Virus?

Beberapa waktu lalu ada bukti yang berkembang bahwa partikel-partikel udara yang lebih kecil dan disebut aerosol juga dapat membawa dan menyebarkan virus. Di mana pada awal masa pandemi virus corona baru atau Covid-19 tetesan pernapasan yang lebih besar seperti ludah dan lendir menyebarkan virus ini.

Baca juga: Ilmuwan: Bukti Penularan Covid-19 di Udara Semakin Banyak

Karena partikel virus ini bisa menemukan jalan ke hidung, mulut atau mata yang menyebabkan infeksi karena memiliki ukuran lima sampai sepuluh mikron. Namun meski begitu, tetesan ini akan cepat jatuh ke tanah atau permukaan yang ada di dekatnya seperti ketika dua orang tengah berbicara.

Tetapi ketika seseorang tertawa, bernyanyi bahkan bernapas pun ternyata menghasilkan tetesan yang lebih kecil dan lebih ringan atau kurang dari lima mikron serta akan menguap sebelum jatuh ke tempat terdekat.

Maka pada awal pandemi partikel udara yang lebih kecil dan disebut aerosol ini para ahli tak yakin dapat mengandung cukup virus untuk menginfeksi siapa pun. Seseorang tidak akan terinfeksi dengan menghirup satu atau dua tetesan kecil, mereka harus terpapar pada konsentrasi tertentu sebelum menyentuh permukaan.

“Ini semacam proses eliminasi. Anda sampai pada titik di mana Anda berkata. Ini seperti transmisi aerosol,” “kata Lisa M. Brosseau, seorang konsultan penelitian di Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular Universitas Minnesota yang dikutip KabarPenumpang.com dari fivethirtyeight.com (20/7/2020).

Dia mengatakan, di tengah pandemi, itulah yang Anda miliki. Di mana Anda mengambil bukti apa yang dimiliki, amati, dan kemudian menarik kesimpulan dari itu. Ketika orang-orang berada di luar, transmisi aerosol kur .

Brosseau mengatakan, ini seperti menjatuhkan pewarna makanan ke sungai, tapi di dalam ruangan, terutama jika ventilasi buruk, aerosol lebih mudah menumpuk dan lebih seperti menjatuhkan pewarna makanan ke dalam birdbath. Namun, kadang-kadang, Anda tidak bisa menghindari berenang di air keruh itu.

“Berita baiknya adalah, ada cara untuk mencairkan dan membersihkan aerosol dari ruang dalam ruangan. Tetapi itu membutuhkan lebih banyak usaha,” tambah Brosseau.

Membuka jendela bisa membantu karena itu memaksa udara segar masuk, dan sebagian udara yang terkontaminasi akan keluar.

“Tidak ada keraguan bahwa, seiring waktu, rata-rata, konsentrasi aerosol akan turun jika Anda membuka jendela,” kata Rajat Mittal, seorang profesor teknik mesin yang mempelajari aerodinamika di Universitas Johns Hopkins.

“Anda dapat mencapai perubahan udara melalui salah satu dari dua cara,” kata David Krause, ahli kesehatan industri bersertifikat dan pemilik HealthCare Consulting and Contracting.

Baca juga: Pastikan Keamanan, Boeing dan Airbus Pelajari Risiko Sebaran Virus Corona di Pesawat

Dia menambahkan, yang pertama adalah melalui pergantian udara kotor, membawa udara luar dan udara mengeluarkan udara dari dalam ruangan, dan yang kedua Anda dapat mencapainya dengan menggunakan filter efisiensi tinggi yang secara efektif menghilangkan partikel yang mengandung virus dari udara.

Nah jadi di dalam pesawat atau kendaraan umum lainnya aman tidak ya? Karena aerosol pasti ada meskipun perputaran udara tetap berlangsung.

Amerika Serikat Telat, Baru Akan Mulai Rapid Test Covid-19

Semenjak pandemi Covid-19, untuk bepergian baik di dalam negeri sendiri maupun negara luar, setiap penumpang diwajibkan memiliki hasil tes negatif Covid-19. Hal ini untuk mencegah penyebar luasan virus tersebut ke daerah atau negara yang akan dikunjungi pelancong. Biasanya maskapai penerbangan akan meminta hasil dengan cara tes cepat atau rapid tes.

Baca juga: Enak Banget, Penumpang Etihad Bisa Rapid Test dan PCR Test Covid-19 di Rumah! Begini Teknisnya

Namun, ternyata Amerika Serikat mengalami keterlambatan besar dalam melakukan uji Covid-19 dengan cepat karena para dokter dan ilmuwan mengatakan jenis tes diagnostik lainnya dapat mengurangi tekanan pada laboratorium. Bahkan bisa dikatakan, tes cepat ini memberikan hasil dalam waktu beberapa menit, sedangkan alat berbasis laboratorium akan memakan waktu berhari-hari.

“Setiap hari mereka menunggu adalah hari lain mereka perlu karantina, atau jika tidak, itu hari lain mereka bisa menulari orang lain,” kata Dr. Keith Jerome dari Universitas Washington yang dikutip KabarPenumpang.com dari nbcnews.com (23/7/2020).

Dia mengatakan, jika hasil tes didapat dalam waktu 20 menit, Anda akan dapat mengambil tindakan segera. Pada Rabu (22/7/2020) kemarin, National Institutes of Health mengumumkan apa yang disebut upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk meningkatkan teknologi pengujian. Upaya ini didanai US$1,5 miliar sebagai stimulus federal, dan program ini akan fokus pada pembuatan tes cepat dan mendistribusikannya secara lebih luas.

Presiden Donald Trump juga menjanjikan pengujian yang lebih cepat selama pengarahannya. Dr Breet Giroir yang mengawasi pengujian Covid-19 nasional mengatakan, bahwa dirinya mengarapkan lima juta tes tambahan dengan sasaran 20 juta atau lebih di September mendatang.

Tes ini akan memberikan hasil cepat karena sample tidak dikirim ke laboratorium dan dimasukkan langsung ke mesin yang bertempat di ruang dokter atau rumah sakit. Nantinya mesin melakukan analisis, yang awalnya butuh berjam-jam kini hanya beberapa menit untuk mendapatkan hasil seperti pengecekan flu atau tes strep yang digunakan sebagian besar dokter.

Enam tes perawatan diotorisasi oleh Food and Drug Administration, termasuk dua tes antigen, yang mencari protein tertentu dalam virus daripada bahan genetik. Meskipun tes cepat tampaknya menjanjikan, masalah yang signifikan mencegah lebih banyak dokter untuk menggunakannya.

Sebab sebagian besar tidak seakurat tes berbasis laboratorium dan dalam beberapa kasus, mereka dapat memiliki tingkat negatif palsu yang sangat tinggi. Joseph Petrosino, direktur virologi molekuler dan mikrobiologi di Baylor College of Medicine bahkan membandingkannya dengan makan di restoran cepat saji.

“Jika Anda pergi ke restoran gourment, Anda tidak mengharapkan makanan Anda siap dalam lima menit. Tapi jika Anda sedang bepergian dan membutuhkan makanan cepat saji, kualitas makanan biasanya merupakan pengorbanan, dibandingkan dengan restoran gourmet. Itu hal yang sama di dunia pengujian,” kata dia.

Salah satu tes cepat yang lebih populer, tes point-of-care ID Abbott Labs, yang menjanjikan hasil hanya dalam lima menit dan pernah digembar-gemborkan oleh Gedung Putih, mendapat kecaman dalam beberapa pekan terakhir setelah sebuah penelitian kecil menemukan bahwa itu mengembalikan negatif palsu untuk hampir 50 persen sampel tertentu dibandingkan dengan tes saingan. Sementara penelitian lain menemukan hasil yang lebih akurat, itu sudah cukup bagi FDA untuk mengeluarkan peringatan pada bulan Mei, ini karena badan tersebut telah menerima 147 laporan kejadian buruk tentang tes tersebut.

Baca juga: Meski Beda Prosedur, Lufthansa dan Lion Air Hadirkan Layanan Rapid Test Covid-19

“Kenyataannya adalah mencoba melakukan ini dengan sangat cepat, kombinasi yang cepat dan sensitif ternyata benar-benar sebuah tantangan,” kata Dr. Christopher Polage, direktur laboratorium mikrobiologi klinis di Duke University Health System.

Polage mengatakan pengujian Covid-19 adalah proses yang panjang. Di laboratorium, para ilmuwan menggunakan reagen khusus yang memperkuat atau menyalin bahan genetik sampel untuk menguji virus.

McDonnell Douglas Dakota DC-3 – Si Tua-Tua Keladi Setelah 81 Mengudara

Seiring berjalannya waktu, umumnya, pesawat mau tak mau akan tergerus oleh zaman dan digantikan dengan pesawat lain yang lebih tangguh dan canggih, baik dari segi teknologi, kapasitas, maupun komponen pesawat.

Baca juga: Perang Dunia I Dorong Ilmuan Inggris Kembangkan Telepon Nirkabel di Kokpit

Namun, hal itu rasanya tak berlaku untuk McDonnell Douglas DC-3. Sejak pertama kali terbang pada 17 Desember 1935 dan diproduksi massal tak lama setelahnya, tercatat, sudah ada lebih dari 10 ribu pesawat DC-3 yang ‘dilahirkan’, baik dalam versi militer maupun sipil. Bahkan, sampai tahun 2017 lalu, masih ada sekitar 2.000an pesawat yang aktif melayani penerbangan komersial di seluruh dunia.

Padahal, produksi pesawat yang mempunyai sekitar 20 julukan tersebut -di antaranya Gooney Bird, The Flying Elephants, The Beast, Biscuit Bomber, Old Methuselah, dan banyak lagi- sudah dihentikan sejak tahun 1950an. Artinya, ribuan pesawat yang masih aktif melayani penerbangan komersial penumpang itu sudah melewati jam terbang atau tenggat operasional maksimum pesawat. Tentu mengacu pada standar umum umur pesawat.

Di Indonesia, misalnya, melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 7 Tahun 2016, operasional pesawat penumpang maksimum mencapai 30 tahun. Sedangkan untuk pesawat kargo, operasional pesawat maksimum mencapai 40 tahun.

Dilansir disciplesofflight.com, pesawat penumpang dengan panjang 19.7 meter dan tinggi 5.16 meter itu mampu mengangkut sekitar 14 penumpang dalam konfigurasi kelas bisnis (memungkin penumpang untuk tidur) atau 28-32 orang (atau setara 4.000 pon barang) dalam konfigurasi kelas ekonomi untuk penerbangan jarak pendek.

Douglas DC-3 pada awalnya ditenagai oleh dua mesin besar 1.200 tenaga kuda Wright Cyclone R-1820 dan didukung oleh tiga baling-baling steel Hamilton Standard. Model selanjutnya, termasuk versi militer, menggunakan mesin Twin Wasp Pratt & Whitney R-1830 (yang juga memiliki berat 1.250 pound, sama dengan versi sebelumnya).

Douglas DC-3 memiliki banyak keunggulan. Dari segi komponen, sebetulnya, pabrikan tak pernah membuat pesawat berbahan dasar logam dan DC-3 menjadi yang pertama. Tak heran, jika pesawat itu disebut sangat tangguh berkat bahan dasar logam itu. Bahkan, saking tangguhnya, proses perancangan pesawat disebut berlebihan, sebagai majas hiperbola, wujud dari apresiasi masyarakat terhadap kehebatan pesawat.

Bukti ketangguhan pesawat pengembangan dari DC-2 ini bukanlah kaleng-kaleng. DC-3 tercatat menjadi pesawat terbang pertama yang mampu mendarat di Kutub Selatan pada tahun 1956. Selain itu, DC-3 versi militer (C-47) pernah mengangkut jauh melebihi kapasitas, mulai dari 75 orang saat serangan bom di Tokyo di musim Perang Dunia II dan 93 orang (tiga kali kapasitas normal) saat banjir besar di Brasil.

Masih kurang? DC-3 versi militer juga pernah tercatat dalam pendaratan aneh. Disebut aneh, sebab, satu waktu, pesawat sudah kehabisan bahan bakar, kemudian seluruh penumpang terjun. Alih-alih jatuh sembarang, pesawat malah disaksikan oleh tim mendarat sempurna dengan mulus di padang rumput, beberapa mil dari posisi tim berada.

Dari segi efiseinsi, DC-3 memang tak lebih irit dibanding Boeing model 247. Namun hal itu wajar, mengingat berat pesawat Boeing masih setengah dari berat total DC-3. Sudah begitu, dari segi daya jangkau, Boeing hanya mampu menjangkau 745 mil dan mengangkut 273 galon kapasitas bahan bakar.

Sedangkan, DC-3 mampu terbang sejauh 1.500 mil dengan kapasitas bahan bakar maksimum mencapai 804 galon. Meski demikian, para ahli menyebut, tingkat efisiensi yang dicapai DC-3 sudah tergolong sangat baik di zamannya.

Dengan berbagai keunggulan tersebut, tak heran bila hanya dalam tempo tiga tahun pasca kemunculan, DC-3 didaulat sukses mengangkut 90 persen lebih penumpang dari seluruh maskapai di Amerika Serikat (AS), mulai dari American Airlines hingga United Airlines.

Baca juga: Ternyata, Jakarta Merupakan Destinasi Penerbangan Antar Benua Perdana KLM!

Di Indonesia sendiri, DC-3 tercatat sebagai pesawat pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Dakota DC-3 RI-001 Seulawah; ditenagai oleh dua mesin Pratt & Whitney berbobot 8.030 kilogram dengan kecepatan maksimum mencapai 346 km per jam. Pesawat ini juga menjadi cikal bakal berdirinya flag carrier nasional, Garuda Indonesia.

Tak lupa, DC-3 atau Dakota VT-CLA juga merupakan pesawat nahas Indonesia yang jatuh ditembak P-40 Kittyhawk Belanda saat agresi militer sekutu, pasca kemerdekaan Indonesia. Di antara orang Indonesia yang tewas, ada Komodor Udara Adisucipto, Komodor Udara Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, dan operator radio Adisumarmo Wiryokusumo, dimana saat ini nama ketiganya diabadikan menjadi bandara.

Elon Musk: Normal Baru, Kendaraan Listrik Mampu Menempuh Jarak Sejauh 500 Km

Di era normal baru, kendaraan listrik akan memiliki ekspektasi standar jaraknya sekitar 300 mil atau 500 km. Hal ini disebutkan pendiri dan CEO Tesla, Elon Musk saat mengumumkan hasil Q2 2020 terkait perusahaan. Ia mengatakan, perusahaan terus bekerja dengan para mitra mereka untuk membuat perbaikan pada sel baterai dan paketnya untuk menurunkan biaya serta meningkatkan jangkauan perjalanan kendaraan listrik yang berkembang.

Baca juga: Layani Kendaraan Listrik, Momentum Dynamics Rilis Halte Berdaya 200 Kilowatt Nirkabel

“Berkenaan dengan kendaraan penumpang, saya pikir normal baru untuk jangkauan akan menjadi sekitar 300 mil. Jadi saya pikir orang akan benar-benar datang untuk mengarapkannya seperti biasa,” ujar Musk yang dikutip KabarPenumpang.com dari thedriven.io (23/7/2020).

Dia menyebutkan ini merupakan harapan standar karena perlu memperhitungkan apakah di luar sangat panas atau dingin. Kemudian apakah pengguna akan menaiki gunung yang tinggi setelah muatan penuh. Musk mengatakan, orang tidak ingin sampai ketujuan mereka dengan jarak 10 mil atau 16 km.

Sehingga mereka ingin margin yang masuk akal dan berpikir mendekati 300 mil akan menjadi normal baru. Musk menjelaskan bahwa EV model 3 yang dibuat di Cina gigafactory Shanghai akan mencapai kisaran hampir 300 mil dengan paket baterai fosfat yang mempertimbangkan sejumlah besar powertrain dan efisiensi kendaraan lainnya.

“Apa yang kami lihat dengan kendaraan penumpang kami adalah efisiensi power train dan efisiensi ban, koefisien drag. Pada dasarnya efisiensi total kendaraan kami sudah cukup baik, dengan Model 3 misalnya, bahwa kami benar-benar merasa nyaman memiliki paket baterai besi fosfat di Model 3 di Cina yang akan menjadi produksi volume akhir tahun ini” kata dia.

Mereka kemudian berpikir bahwa mendapatkan jangkauan yang hampir 300 mil dengan paket fosfat. Di mana Tesla mempertimbangkan sejumlah tenaga listrik serta efiseinsi kendaraan lainnya. Ini kemudian membebaskan banyak kapasitas untuk hal-hal seperti Tesla Semi dan produk lainnya yang membutuhkan kepadatan jangkauan tinggi.

“Jadi kami berpikir bahwa mendapatkan jangkauan yang… hampir 300 mil dengan paket fosfat, dengan mempertimbangkan sejumlah tenaga listrik dan efisiensi kendaraan lainnya. Dan itu membebaskan banyak kapasitas untuk hal-hal seperti Tesla Semi dan produk lain yang membutuhkan kepadatan jangkauan tinggi,” ujar Musk.

Memproduksi sel baterai dengan fokus pada litium-besi fosfat atau teknologi berbasis nikel dan harga yang terjangkau ditunjukkan oleh Musk sebagai “batasan nyata” pada pertumbuhan berkelanjutan perusahaan, baik untuk divisi energinya dan untuk EV.

“Kami akan berbicara lebih banyak tentang hal ini pada Battery Day karena ada beberapa kendala penskalaan mendasar. Setiap bagian dari rantai pasokan itu, pada tingkat sel, akan menjadi faktor pembatas. Dari penambangan hingga pemurnian, pembentukan katoda dan anoda, pembentukan sel. Apa pun titik tersedaknya, itu akan menghambat laju pertumbuhan. Dan jadi kami berharap untuk memperluas bisnis kami dengan Panasonic, dengan CATL, dengan LG, mungkin dengan orang lain, dan Anda tahu ada banyak lagi yang bisa dikatakan pada hari baterai,” jelasnya.

Baca juga: Blue Bird Gunakan Mobil Listrik Tesla untuk Armada Taksi Terbaru

Dalam hal mencapai kisaran yang lebih tinggi dari kemasan baterai EV, Musk menyarankan bahwa masa depan terletak pada teknologi berbasis nikel dengan kepadatan lebih tinggi. Selain itu Musk bahkan membuat pitch untuk perusahaan sumber daya untuk datang ke pesta.

“Tolong tambang lebih banyak nikel. Tesla akan memberi Anda kontrak raksasa untuk jangka waktu yang lama jika Anda menambang nikel secara efisien dan dengan cara yang peka terhadap lingkungan,” tuturnya.

Pemotongan Gaji Bikin Staf Maskapai Terkena Dampak Psikologis

Ketika pemotongan gaji secara besar-besaran dan cuti wajib tanpa upah atau leave without pay (LWP) ternyata memiliki dampak psikologis yang berpotensi bencana pada beberapa staf maskapai penerbangan. Hal ini dikatakan oleh pilot paling senior dari Air India.

Baca juga: 200 Awak Kabin Air India Kena PHK dan 50 Pilot Ditolak Pengunduran Dirinya

“Kami ngeri memikirkan jenis tindakan putus asa dan ekstrem yang dapat dipicu karena situasi yang ada seperti yang telah berulang kali terbukti berkali-kali di masa lalu. (Pergerakan) menimbulkan ancaman yang sangat serius terhadap penerbangan dan keselamatan publik,” kata Asosiasi Eksekutif Pilot (EPA) AI yang menulis surat kepada menteri penerbangan H S Puri.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman timesofindia.indiatimes.com (23/7/2020), maskapai asal Negeri Bollywood ini telah mengeluarkan kebijakan untuk menirim staf nya di LWP hingga lima tahun. Pada Rabu (22/7/2020), AI telah memotong gaji pilot dan awak kabinnya dengan efek retrospektif mulai 1 April 2020.

Sedangkan manajemen maskapai menempatkan pengurangan sebesar 40 persen dan pilot mengatakan tunjangan terbang mereka yang merupakan mayoritas dari total pembayaran telah dipotong hampir 85 persen. Seorang pilot yang sudah sepuluh tahun menerbangkan pesawat berbadan lebar biasanya akan membawa pulang RS5,5 lakh tapi saat ini hanya R2,1 lakh.

“Seorang kopilot sekarang akan membawa pulang Rs30 ribu bukan Rs 1,4 lakh sebelumnya,” kata seorang pilot.

Dalam serangkaian tweet, Air India mengatakan, “… tidak seperti maskapai lain yang telah mem-PHK sejumlah besar karyawan mereka, tidak ada karyawan AI yang akan di-PHK. Tidak ada pengurangan gaji pokok, DA dan HRA untuk kategori karyawan apa pun. Rasionalisasi tunjangan harus dilaksanakan karena kondisi keuangan maskapai yang sulit yang diperburuk oleh Covid-19.”

“Awak terbang akan dibayar sesuai dengan jumlah jam aktual yang diterbangkan. Ketika operasi domestik dan internasional berkembang untuk mencapai tingkat pra-Covid dan posisi keuangan Air India meningkat, rasionalisasi tunjangan akan ditinjau,” tambahnya.

EPA telah menunjukkan bahwa lebih dari 60 pilot AI telah diuji positif Covid-19 ketika mendaftar untuk mengoperasikan penerbangan Misi Vande Bharat.

“… tidak seperti perang lainnya, musuh (virus corona) telah menemani para prajurit (anggota kru) pulang untuk mempengaruhi anggota keluarga mereka dengan efek yang menghancurkan. Setidaknya satu pilot kehilangan satu anggota keluarga karena Covid-19 dan yang lainnya terinfeksi,” kata surat itu.

Baca juga: Air India Hadirkan Makanan Khusus Rendah Lemak Bagi Pilot dan Pramugari

Pilot eksekutif, yang merupakan pilot paling senior, telah meminta agar risiko besar diambil oleh pilot AI dan keluarga mereka untuk menjaga agar maskapai ini bertahan diakui dan tindakan keputusasaan, penglihatan pendek dan diskriminatif seperti yang dilakukan, untuk melihat solusi jangka pendek untuk mengatasi situasi fiskal genting segera dibatalkan.

Efek Bird Strike: Pesawat Setara Tabrak Objek Seberat 32 Ton! Kok Bisa?

Burung besi (pesawat terbang) meskipun berukuran jauh lebih besar dan jauh lebih berat, kurang lebih berbobot 40.000 kg, kerap dibuat repot dengan kawanan burung berbobot hanya 2 kg. Salah satu pelopor penerbangan, Cal Rodgers, adalah orang pertama yang mati karena bird strike.

Baca juga: Lima Kecelakaan Penerbangan Akibat ‘Bird Strike’ Terburuk di Dunia

Pada tahun 1912, pesawatnya bertabrakan dengan burung camar di Long Beach, California yang menyebabkan masalah besar pada pesawatnya. Pesawat Rodgers jatuh dan ia pun tenggelam. Dalam catatan International Bird Strike Committee, sekitar $1,2 miliar setiap tahun digelontorkan maskapai untuk memperbaiki pesawat akibat bird strike.

Tabrakan dengan kawanan burung atau bird strike pada umumnya memang kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas. Begitu juga menjelang landing. Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter. Di Amerika, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara.

Selain itu, Administrasi Penerbangan Federal AS atau FAA juga memperkirakan bahwa penerbangan di AS mengalami kerusakan sekitar $400 juta atau Rp5,4 triliun setiap tahun akibat serangan burung dan lebih dari 200 korban tewas sejak 1988.

Meskipun kuantitas tabrakan burung dengan pesawat masih sangat debatable (ada yang mengkategorikan masih tergolong tak terlalu sering terjadi dan sebaliknya), namun faktanya, antara 1990 hingga 2015 ada 160.894 insiden tabrakan dengan burung di AS. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 0,25 persen yang mengakibatkan kecelakaan.

Dalam upaya menemukan formula yang tepat agar mesin tetap dalam keadaan prima saat terjadi bird strike, rangkaian tes ekstrem untuk memastikan pesawat aman pun dilakukan. Tak terhitung berapa banyak burung mati yang dilemparkan ke dalam mesin. Tak hanya itu, simulasi serangan bird strike dari arah depan juga dilakukan. Hal itu guna mengurangi potensi bahaya dengan kerusakan pada jendela pesawat akibat bird strike.

Dilansir skybrary.aero, di antara masalah yang dihasilkan saat terjadinya bird strike adalah speed of impact atau tingginya kecepatan sebelum terjadi benturan. Secara ilmiah, hal itu bisa digambarkan sebagai massa=kecepatan. Jadi, tingkat kerusakan bird strike sangat sebanding dengan kecepatan yang sedang ditempuh pesawat.

Berangkat dari asumsi tersebut, ilmuan pun berlomba untuk mendesain pesawat serta mesin agar lebih kokoh dalam mengantisipasi terjadinya bird strike. Selain itu, ilmuan juga menyematkan asumsi tambahan, yakni massa=berat. Dalam kegunaan sehari-hari biasanya disinonimkan dengan berat. Namun menurut pemahaman ilmiah modern, berat suatu objek diakibatkan oleh interaksi massa dengan medan gravitasi.

Asumsi tersebut sangat diperlukan mengingat kerusakan struktural yang diakibatkan bird strike juga sebanding dengan efek tabrakan (berat) yang dihasilkan.

Dengan menggabungkan asumsi massa=kecepatan dan massa=berat, maka, ilmuan dapat mengasumsikan, bila sebuah angsa seberat 6,8 kg yang ditabrak pesawat dengan kecepatan 518 km per jam, maka sama saja pesawat menabrak FOD (Foreign Object Damage) seberat 32 ton.

Baca juga: Kecelakaan Pesawat Terburuk Sepanjang Masa Lahirkan Warisan Penting di Dunia Penerbangan

Fakta tersebut tentu sangat mengerikan, mengingat tempat paling sering terjadinya bird strike adalah bandara, yakni saat pesawat turun maupun lepas landas. Sebab, di kedua momen itu, pesawat biasanya mengeluarkan tenaga maksimum untuk memuluskan proses landing dan take off.

Tergantung jenis pesawat, saat di kedua momen itu, khususnya saat lepas landas, pesawat bisa mencapai kecepatan hingga 950 km per jam. Jadi, kemungkinan pesawat menabrak beban seberat 32 ton bukan asumsi di angan-angan, melainkan ancaman nyata yang bisa menerjang sewaktu-waktu.

Berciuman Memakai Masker, Kelakuan Penumpang Pesawat di Masa Pandemi Semakin Aneh

Kelakuan aneh penumpang pesawat sepertinya tak habis-habisnya, bahkan di masa pandemi Covid-19 pun masih saja ada. Padahal penumpang yang menggunakan pesawat masih dibatasi jumlahnya. Seperti sepasang kekasih yang menunjukkan kasih sayang mereka di dalam pesawat dan tertangkap kamera penumpang lain tengah berciuman meski masih menggunakan masker sebagai protokol kesehatan.

Baca juga: Pakai StadiumPod di Kabin Pesawat, Pebisnis Ini Coba Cegah Tertular Virus Corona

Bila dari foto yang tersebar di Instagram Passenger Shamming sang pria menggunakan masker namun sang wanita tidak jelas menggunakan atau tidak. Gambar perilaku aneh penumpang ini diposting dalam feed Instagram dengan tagar #maskmakeout dan caption, “Saya bersiap-siap untuk akhir pekan bersama pria saya seperti …” . Kemudian warganet yang melihatnya langsung mengomentari foto tersebut.

“Cara paling aman untuk keluar,” ujar seorang warganet.

“Tolong katakan padaku, mereka hanya berpose untuk foto dan ini tidak nyata,” ujar warganet lainnya.

Dilansir KabarPenumpang.com dari nzherald.co.nz (23/7/2020), seorang penumpang wanita menggunakan pod ketika duduk di dalam pesawat dan tetap menggunakan masker. Foto yang di unggah di Instagram Passenger Shamming ini diberi caption, “Ya Tuhan, aku mencintainya! Suasana perjalanan yang menyenangkan. Tetap aman di sana, kawan!”

Dalam foto tersebut, wanita gemuk berkulit hitam itu memberikan pose seperti memberikan sebuah improvisasi tersendiri. Salah seorang warganet bahkan mengatakan, “Berimprovisasi. Menyesuaikan. Mengatasi.”

Selain itu ada lagi yang cukup terlihat aneh di mana seorang wanita menggunakan masker untuk menutupi wajahnya bukan dengan masker biasa melainkan menggunakan sebuah celana dalam. Wanita itu dalam penerbangan dengan Southwest Airlines.

Tak hanya itu, sebuah foto baru-baru ini menjadi viral menggambarkan seorang lelaki, tertidur lelap dalam topi MAGA yang menggunakan topeng bedah sebagai penutup mata.
Ketika pertama kali muncul di akun @lvnitup22, gambar tersebut menemukan ketenaran viral sebagai sindiran politik yang tidak disengaja.

Namun, situs web Penumpang yang mempermalukan dengan cepat menunjukkan bahwa jabatan itu tidak termotivasi secara politis dengan mengatakan bahwa, “ini hanya tentang seorang lelaki yang mengenakan topeng seperti badut.”

Baca juga: Khawatir Covid-19, Pria Ini dengan ‘PD-nya’ Gunakan Kostum Dinosaurus di Bandara Miami

Bulan lalu seorang pria di-boot dari pesawat American Airlines (dua kali) setelah menolak untuk memakai topengnya dengan benar, dengan alasan politik.

Emirates Jadi Maskapai Pertama Tawarkan Asuransi Covid-19 Gratis ke Penumpang! Simak Syaratnya

Emirates menjadi maskapai penerbangan pertama yang menawarkan penumpang asuransi Covid-19 gratis senilai hingga $174,000. Asuransi kesehatan Covid-19 gratis Emirates itu menjamin kesehatan penumpang bila mana mereka positif terpapar virus yang diduga bersumber dari Wuhan, Cina, itu setelah menyelesaikan perjalanan bersama maskapai asal Dubai, Uni Emirat Arab tersebut.

Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Test Corona ke Seluruh Penumpang

Selain itu, seluruh beban biaya yang ditimbulkan akibat penumpang positif terpapar corona setelah menikmati penerbangan Emirates juga akan ditanggung maskapai. Seperti wajib karantina, biaya perawatan, dan PCR test senilai $115 per hari selama 14 hari.

Pendiri merangkap CEO Emirates, Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum, menjelaskan, kebijakan tersebut bukan inisiatif perusahaan yang dipimpinnya, melainkan datang langsung dari Perdana Menteri, Wakil Presiden Uni Emirat Arab, sekaligus Emir dari Monarki Absolut atau Kerajaan Dubai, Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum.

“Langkah ini akan membantu meningkatkan kepercayaan penumpang di setiap perjalanan dan sekali lagi menempatkan Emirates dan Dubai sebagai pemimpin industri penerbangan,” jelas CEO yang juga presiden Otoritas Penerbangan Sipil Dubai, seperti dikutip dari paddleyourownkanoo.com.

Menariknya, jaminan asuransi Covid-19 gratis Emirates ini berlaku selama 31 hari setelah trip pertama mereka bersama salah satu maskapai terbesar di dunia ini. Bahkan, asuransi tersebut tetap berlaku sekalipun penumpang Emirates sudah wara-wiri ke seluruh penjuru dunia.

Apabila penumpang tersebut divonis positif corona, sekalipun patut diduga mereka tertular di tempat lain dan bukan saat atau beberapa hari pasca terbang bersama Emirates, selama masih di bawah 31 hari, biaya pengobatan dan perawatan penumpang positif Covid-19 akan tetap ditanggung maskapai. Luar biasa, bukan?

Layanan asuransi gratis Covid-19 Emirates ini berlaku untuk semua pemesanan tiket hingga Oktober 2020 mendatang. Tak peduli apapun kelas penerbangannya, baik ekonomi, bisnis, maupun first class, tetap akan mendapatkan nilai coverage dengan besaran yang sama.

Meski demikian, layanan tersebut harus disertai dengan bukti konkret berupa hasil tes negatif Covid-19 selama kurang lebih empat hari sebelum perjalanan, sebagaimana kebijakan yang telah dikeluarkan Otoritas Manajemen Krisis dan Darurat Nasional (NCEMA).

Selain mengeluarkan aturan di atas, NCEMA juga mewajibkan penumpang dari 12 negara ‘berisiko tinggi’ untuk melengkapi perjalanan mereka dengan hasil tes negatif Covid-19.

Baca juga: Enak Banget, Penumpang Etihad Bisa Rapid Test dan PCR Test Covid-19 di Rumah! Begini Teknisnya

Tak hanya itu, seluruh wisatawan yang hendak masuk ke Dubai juga diwajibkan memiliki sertifikat negatif Covid-19, baik membawanya dari negara asal maupun tes yang dilakukan di bandara Dubai; termasuk juga penumpang transit, tak peduli asal negara mereka, mulai 1 Agustus mendatang. Namun, peraturan tersebut dikecualikan untuk penumpang dengan kategori anak-anak di bawah usia 12 tahun dan penumpang penyandang disabilitas.

Langkah Emirates tentu membuat kebijakan rapid dan PCR test Covid-19 oleh kompetitor senegara mereka, Etihad Airways, menjadi terlihat usang. Namun, di sisi lain, dari kacamata persaingan usaha, layanan asuransi Covid-19 gratis ini tentu akan semakin mengobarkan persaingan seru maskapai satu negara antara Emirates vs Etihad.

Panas, Qatar Airways Tuntut Kompensasi US$5 Miliar ke Empat Negara Gegara Blokade!

Qatar Airways dilaporkan telah menuntut empat negara Teluk akibat aksi blokade. Empat negara itu, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir akan dituntut Qatar Airways lewat arbitrase internasional sebanyak US$5 miliar sebagai kompensasi atas kekacauan investasi dan operasional maskapai, baik di kawasan maupun global. Tak hanya itu, Qatar Airways juga menuntut mereka agar diadili.

Baca juga: Qatar di Blokade Negara-Negara Teluk, Bagaimana Nasib Qatar Airways?

Blokade yang sudah berlangsung sejak dua tahun lalu itu dinilai telah mengakibatkan maskapai menenggak kerugian langsung sebanyak ratusan juta dolar. Selain itu, embargo dari keempat negara itu juga telah memaksa perusahaan mengeluarkan dana berlebih untuk mengamankan operasional mereka di negara-negara sekitar.

“Keputusan keempat negara tersebut memblokade (mengembargo) Qatar Airways untuk beroperasi di negara dan terbang di atas wilayah udara mereka adalah pelanggaran yang sangat jelas terhadap konvensi penerbangan sipil (Chicago Convention on International Civil Aviation) dan beberapa perjanjian yang mengikat yang juga ditandatangani oleh mereka,” ungkap CEO Qatar Airways, Akbar Al Baker, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari Simple Flying.

Embargo keempat negara tersebut terhadap Qatar (termasuk Qatar Airways) memang sangat merugikan. Sebab, blokade atau embargo yang dijalankan empat negara teluk itu bukan saja terhadap seluruh maskapai Qatar, termasuk Qatar Airways, melainkan juga terhadap seluruh penerbangan internasional dari dan ke Qatar.

Mereka (penerbangan internasional dari dan ke Qatar) diharuskan meminta izin masuk terlebih dahulu dan hal itu tentu saja akan mematikan industri penerbangan Qatar. Terlebih, jika dilihat dari letak geografis, posisi Qatar diapit oleh Bahrain di sebelah Barat Laut, Barat dan Selatan oleh Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab di sebelah Timur.

Belum cukup sampai di situ, dari segi ruang udara, Qatar juga tertutup oleh ketiga ruang udara ketiga negara tersebut dan hanya menyisakan ruang udara kecil di sebelah Utara dan Timur Laut Qatar untuk maskapai yang ingin berhubungan dengan mereka tanpa melewati ruang udara ketiga negara.

Baca juga: Krisis Besar, Qatar Airways Tolak Pesawat Airbus dan Boeing Hingga 2022

Sampai saat ini, arbitrase internasional sendiri belum memberikan keputusan apapun terkait tuntutan Qatar Airways. Namun, belum lama ini, Pengadilan Internasional PBB yang berpusat di Den Haag terlihat seperti memihak ke Qatar, dengan meminta keempat negara teluk itu membuka blokade penerbangan sebagaimana yang telah diatur oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO).

Krisis diplomatik Qatar bermula pada 5 Juni 2017 ketika beberapa negara secara tiba-tiba memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Negara-negara tersebut adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, dan Maladewa. Pemutusan hubungan tersebut termasuk penarikan duta besar, memberlakukan larangan perdagangan dan perjalanan. Mereka menuding Qatar telah mendukung tindak terorisme dengan mendanai aksi terorisme di kawasan, khususnya Yaman.

Setelah SIKM, Kini Hadir Corona Likelihood Metric (CLM)

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini sudah meniadakan Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) bagi masyarakat yang ingin melakukan perjalanan masuk atau keluar Jakarta. Meski begitu, ada syarat baru yang harus dipenuhi oleh masyarakat yakni dengan mengisi formulir Corona Likelihood Metric atau CLM yang tersedia di aplikasi JAKI atau melalui https://jaki.jakarta.go.id/ atau situs https://rapidtest-corona.jakarta.go.id/.

Baca juga: PT KAI Minta Gubernur DKI Jakarta Hapus SIKM untuk KA Relasi dari Bandung

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, SIKM sendiri tujuannya untuk membatasi aktivitas masyarakat yang hendak keluar masuk Jakarta selama Pembatasan Sosial berskala Besar (PSBB). Sedangkan CLM dibuat untuk mengendalikan aktivitas masyarakat.

Bisa dikatakan, CLM seperti self-assessment di mana ketika pengisian formulirnya ada penilaian pribadi terkait kondisi yang terjadi saat itu. Sehingga saat mengisi formulir CLM tersebut, warga diharapkan jujur karena hasil isian akan dinilai oleh sistem dan kemudian diberi skor.

Indikasi tersebut berdasarkan nilai yang ditetapkan dan jika tidak sesuai maka Anda tidak akan diizinkan untuk melakukan perjalanan keluar rumah. Kemudian, hasil CLM akan menyarankan pengguna untuk melakukan tes pemeriksaan.

Jika terbukti positif maka akan ada treatment tertentu seperti karantina mandiri atau sesuai rekomendasi dokter saat dilakukan tes. Hasil self-assessment tersebut berlaku selama tujuh hari atau satu pekan.

Di mana nantinya pengguna diwajibkan untuk memperbarui dengan melakukan pengisian ulang. Sedangkan SIKM, warga harus menyertakan sembilan berkas yang harus diisi terlebih dahulu sebelum diunggah pemohon dalam format JPG, JPEG, PNG atau PDF dalam web corona.jakarta.go.id.

Sembilan berkas tersebut adalah scan KTP, foto berwarna, surat keterangan asal/domisili diketahui RT, surat pernyataan bersedia di karantina bermaterai Rp6 ribu (jika masuk DKI Jakarta). Kemudian ada surat pernyataan sehat dari yang bersangkutan bermaterai Rp6 ribu, surat tugas/undangan dari instansi/perusahaan, scan asli surat keterangan untuk warga yang berdomisili di luar Jabodetabek, scan asli surat keterangan untuk warga yang berdomisili di DKI Jakarta, terakhir surat pernyataan penjamin bermaterai Rp6 ribu.

Baca juga: Kata “Check Point” Kondang Setelah PSBB, Ternyata Sebelumnya Justru Terkenal di Jerman

Nantinya pemohon akan menunggu SIKM karena DPMPTSP akan terlebih dahulu meminta persetujuan dan validasi dari penanggung jawab yang telah diisi pemohon, untuk memverifikasi tujuan keluar-masuk Jakarta.