Gegara Covid-19, Korean Air Hapus Layanan First Class (Lagi) Hingga 2021

Sepinya minat penumpang bepergian menggunakan pesawat telah memaksa maskapai nasional Korea Selatan, Korean Air, menghapus layanan first class hingga 2021. Sebelumnya, pada pertengahan tahun lalu, maskapai yang berbasis di Seoul itu juga pernah menghilangkan layanan first class di 76 rute internasional dan menyisakan 27 rute saja (yang masih menjual tiket first class).

Baca juga: Ulang Tahun Ke-50, Korean Air Hadirkan Seragam Vintage Awak Kabin dari Masa ke Masa

Dilansir MSN, adanya keputusan tersebut, praktis, maskapai hanya menyisakan layanan first class di dua rute besar saja, yakni Seoul (ICN) – Los Angeles (LAX) dan Seoul (ICN) – New York (JFK). Kedua rute unggulan tersebut sejauh ini masih ditawarkan maskapai secara, terbang dengan Airbus A380 atau Boeing 747-8, bergantung pada jumlah penumpang. Adapun layanan first class yang dihapus Korean Air, di antaranya rute-rute ke Beijing, Osaka, Hong Kong, Taipei, Bangkok, Singapura, Manila, Hanoi, dan Jakarta.

Meskipun pihak perusahaan belum menjelaskan lebih lanjut, diduga kuat, keputusan Korean Air menghilangkan layanan first class hingga 2021 diakibatkan sepinya penerbangan penumpang belakangan ini. Penyebabnya, apalagi kalau bukan pandemi Covid-19.

Pasalnya, jika di tahun lalu saja, saat pandemi corona belum merebak di dunia, Korean Air telah menghilangkan layanan first class di 76 rute internasional karena kekurangan peminat, bagaimana dengan sekarang? Tentu kondisinya jauh lebih buruk.

Sebagai gantinya, maskapai akan memaksimalkan kursi bisnis yang masih tersedia untuk mengakomodir penumpang premium yang ingin mendapat layanan lebih. Lagi pula, selama ini, layanan first class yang diberikan Korean Air tidak memiliki perbedaan yang terlalu signifikan jika dibandingkan dengan kelas bisnis mereka. Sebab, kelas bisnis dan first class menggunakan bangku dan teknologi yang sama.

Di armada Boeing 787-9, misalnya, Korean Air menggunakan Apex Suite di kedua kelas tertinggi itu. Apex suite memiliki monitor televisi berukuran 23 inch dan kursi dengan lebar 21 inch. Begitu pula dengan armada Airbus A330 yang mereka gunakan, kualitas dan jenis bangku serta monitor pada kelas bisnis dan first class-nya juga sama.

Baca juga: Pertama Kalinya, Korean Air Minta Pramugari Cuti Tanpa Dibayar Hingga Setahun Mendatang

Perbedaannya adalah penumpang first class mendapatkan amenities DAVI, layanan makanan, check in, dan KAL Premium Care Service. Sedangkan untuk lounge dan akses naik pesawat, kedua kelas ini mendapatkan prioritas dibandingkan dengan ekonomi.

Dengan perbedaan layanan antara first class dan kelas bisnis yang tak begitu mencolok, tak heran bila banyak penumpang lebih memilih untuk memesan tiket kelas bisnis ketimbang first class. Selain itu, belakangan, kelas bisnis Korean Air juga cenderung mendekati first class, dengan menawarkan kursi private dan layanan lebih.

Stasiun Ngrombo, Sederhana dengan Dua Bangunan dan Dekat Stasiun Gambringan

Berada di daerah Grobogan, Jawa tengah, Stasiun Ngrombo terletak pada ketinggian +38 meter di atas permukaan laut. Stasiun ini masuk dalam Daerah Operasional (Daop) 4 Semarang dan merupakan stasiun kereta api kelas II. Nama stasiun ini sendiri diambil dari dusun tempatnya berada dan merupakan stasiun aktif terbesar dan teramai di Kabupaten Grobogan.

Baca juga: Stasiun Walikunkun – Punya Pemanis Mitos dari Daerah Setempat

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, jarak Stasiun Ngrombo hanya 1,7 km di sebelah barat Stasiun Gambringan. Dulunya stasiun ini memiliki perpotongan ke Purwodadi dan Gundih yang mana percabangannya ada di sebelah timur Stasiun Ngrombo. Meski tak lagi menjadi stasiun percabangan, warga Purwodadi yang hendak naik kereta api lebih memilih stasiun ini karena lebih dekat dengan jalan raya yang menguhubungkan Purwodadi dengan Solo bila dibandingkan dengan Stasiun Gambringan.

Wajah baru Staisun Ngrombo (Wikipedia)

Stasiun Ngrombo memiliki dua bangunan di kawasannya yang mana sisi timur adalah bangunan yang dulunya dibuat oleh Belanda dan salah satunya di bagian barat yang selesai dibangun pada 2013 bersamaan ketika stasiun ini juga selesai menjalani perbaikan dan penataan.

Perbaikan yang dilakukan adalah pembangunan kanopi, peninggian peron, pelebaran lahan parkir serta pembangunan mushola dan toilet baru di sisi barat stasiun. Bisa dikatakan, perbaikan dan penataan yang dilakukan pada Stasiun Ngrombo menjadi yang paling besar dan terlihat jelas dibanding dengan stasiun lain di lintas Jakarta – Surabaya.

Sehingga saat ini wujudnya sudah jauh berbeda dari bentuk asal dan fasilitas yang tersedia lebih baik dari sebelumnya. Stasiun Ngrombo sendiri memiliki tiga jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Kemudian setelah jalur ganda mulai dibangun stasiun ini hingga Stasiun Gubug resmi beroperasi di akhir November 2013, membuat jalur Stasiun Ngrombo bertambah menjadi empat dengan jalur 2 tetap sebagai sepur lurus namun untuk arah Semarang saja dan jalur 3 sebagai sepur lurus khusus untuk arah Surabaya.

Sedangkan jalur 4 ditambahkan di sisi selatan stasiun sebagai jalur belok baru. Kemudian peron stasiun ditinggikan serta diberi kanopi atau overcapping. Overcapping ini dibangun oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Dulunya stasiun ini menggunakan sistem persinyalan mekanik dengan sedikit modifikasi berupa perangkat sinyal muka yang berjenis elektrik. Namun saat ini semuanya sudah diganti dengan sistem persinyalan elektrik.

Baca juga: Jangan Lupa Makan Pecel Kalau Mampir di Stasiun-Stasiun Ini

Di stasiun ini beberapa kereta api seperti KA Harina dari Bandung menuju ke Surabaya Pasar Turi, KA Maharani dari Surabaya Pasar Turi menuju ke Semarang Poncol dan KA Blora Jaya dari Semarang Poncol ke Cepu berhenti di Stasiun ini. Kemudian 2014 lalu, KA Gumarang dari Surabaya Pasar Turi menuju Pasar Senen juga berhenti di Stasiun Ngrombo setelah PT KAI menyetujui usulan Bupati Grobogan waktu itu. Pada awal tahun 2020, peron stasiun ini pun diperpanjang sekaligus ditambah kanopi untuk mendukung pelayanan kereta api penumpang rangkaian panjang.

Elena Chukhnyuk, Eksis di Perang Dunia II, Inilah Masinis Wanita di Lokomotif Uap

Rusia salah satu negara yang memiliki jaringan kereta api terpanjang di dunia, ternyata mempekerjakan banyak wanita di jaringannya. Bahkan banyak di antara wanita ini bekerja sebagai masinis kereta listrik maupun uap dan sukses. Terkhusus menjadi masinis di lokomotif kereta uap terbilang berat dan sebenarnya tidak cocok untuk wanita.

Baca juga: Vanithashree, Kisah Masinis Wanita Sukses dari Mangaluru

Bahkan bukan hanya bagi wanita, ternyata bagi pria pun, bekerja di kereta api bisa menyebabkan masalah kesehatan. Selain tidak ada toilet di lokomotif kereta uap, mengangkat batu bara dan menghirup uapnya cukup untuk mengganggu kesehatan masinis. Namun nyatanya para wanita tangguh di Rusia mampu menaklukan pekerjaan sebagai masinis.

Elena Chukhnyuk (id.rbth.com)

Dulunya di Uni Soviet ada daftar pekerjaan yang tidak boleh dilakukan oleh wanita dan biasanya ini cukup berisiko, salah satunya adalah masinis. Namun ternyata pada 1938 silam, masinis dihapus dari daftar tersebut dan Uni Soviet akhirnya memiliki masinis wanita pertama. Dikutip KabarPenumpang.com dari id.rbth.com, Elena Chukhnyuk di tahun itu menjadi masinis yang mengoperasikan lokomotif berat.

Bahkan tiga tahun setelah dia bekerja, yakni pada 1941, Elena dianugerahi gelar Pekerja Kehormatan Kereta Api pada dirinya berumur 26 tahun. Bahkan selama Perang Dunia II, Elena mengoperasikan lokomotif dan menarik kereta yang membawa amunisi, peralatan militer dan batu bara ke garis depan dekat Stalingrad dan Kursk.

Kemudian di tahun 1939, Basharat Mirbabayeva menjadi masinis yang mengoperasikan lokomotif diesel pertama di Uzbekistan Soviet. Tak berhenti di situ, seorang masinis wanita lainnya bekerja di Metro Moskow selama Perang Patriotik Raya. Karena pada masa itu banyak pria yang pergi ke medan perang.

Bahkan saat itu, mengoperasikan kereta metro dianggap tidak lebih mudah dari lokomotif karena seluruh jam kerja mereka di bawah tanah. Pada 1955, Metro Leningrad (sekarang Metro Sankt Peterburg) membentuk satu-satunya tim yang terdiri dari empat masinis wanita. Salah satu dari mereka, pembalap kelas 1 Natalya Donskaya, bekerja di metro selama 32 tahun dan pensiun pada 1987.

Di masa itu, jadwal kereta sangat ketat dan ada banyak situasi yang menegangkan, bahkan masinis dituntut untuk sehat, bugar, bereaksi cepat, kuat secara emosional dan mental. Sebab selama bekerja para masinis tidak bisa beristirahat untuk menikmati teh, kopi ataupun mengobrol dengan orang lain.

Karena masalah kesehatan dan menuntut banyak hal, tahun 1980-an, negara ini kembali melarang wanita bekerja sebagai masinis. Namun manajemen Metro Moskow memutuskan untuk tidak memecat wanita dengan pengalaman kerja yang panjang dan terus bekerja bahkan setelah Uni Soviet runtuh.

Wanita terakhir yang mengoperasikan kereta di Metro Moskow adalah Natalya Korneyenko. Dia pernah mengatakan ada lebih banyak bahaya dan stres di jalan dibandingkan di bawah tanah. Natalya bekerja selama lebih dari 30 tahun dan mengemudikan kereta di jalur Sokolniki serta mengundurkan diri 2014 lalu.

Baca juga: 29 Siswa Wanita Berlatih Jadi Masinis Kereta Peluru di Cina

Hingga saat ini, wanita Rusia tak dilarang untuk mengikuti pelatihan masinis kereta api, Meski begitu banyak dari mereka hampir tidak mendapat pekerjaan itu dan satu-satunya wanita yang masih bekerja adalah Yulia Yurova seorang asisten masinis kereta bandara Aeroexpress.

2021 eSkootr Championship Dimulai!

Salah satu hal yang membuat balap motor jauh lebih menjadi pilihan untuk ditonton daripada balap mobil, karena penonton bisa melihat bahasa tubuh pengendara selama lomba berlangsung. Hal ini kemudian akan diterapkan teori yang sama pada kendaraan yang lebih kecil yang akan menunjukkan kemarahan, ketakutan, frustasi dan lainnya akan muncul pada layar ketika eSkootr Championship (eSC) dimulai.

Baca juga: Pakai GrabWheels Jangan Lupa Scan Kode QR Setelah Selesai Kalau Tak Mau Didenda Rp300 Ribu

Namun bagaimana bila seri balapan eSkoort Championship dengan kecepatan 100 km per jam atau 62 mph benar-benar terjadi? Bagaimana juga band weeny 15 inci akan berdecit di lintasan ketika bendera dinaikkan dan skuter listrik melaju di jalur lurus, melambat dan berbelok di tikungan? Ini akan menjadi gila.

Tim eSC mengatakan, ini semua tentang balap yang dapa diakses dan bagi mereka ini adil. Sebab para pembalap akan menggunakan satu set jaket kulit, helm, skuter balap dan ini jauh lebih murah daripada motor balap atau mobil. Hal tersebut karena skuter listrik lebih mudah diangkut dibandingkan mobil atau motor yang harus dilepas dan dipasang.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (9/7/2020), penyedia teknologi tinggi yang diakui ini telah mendaftar untuk mengeluarkan dan membangun skuter balap pertama dengan prototipe yang akan diungkap akhir tahun ini. Salah satu kandidatnya adalah Rion yang merupakan skuter Rion2 RE90 Racing Edition dan sudah dilengkapi dengan motor ganda, bodi sepenuhnya karbon, tiang dan stang.

Rion sendiri digadang-gadang mampu mencapai kecepatan 160 km per jam atau 100 mph dan terbatas hingga 130 km per jam atau 80 mph. Harga dari Rion ini sendiri sekitar US$6800. Selain Rion ada beberapa perusahaan lain yang cukup serius menjalankan bisnis eSC dengan pembalap Formula 1 Alex Wurz, pembalap Formula E Lucas Di Grassi dan pembalap A1GP Khalil Beschir dan pengusaha Hrag Sarkissian yang bertindak sebagai CEO.

“Racer dapat berasal dari semua tempat termasuk pembalap mobil dan motor, pengendara sepeda, skater, snowboarder dan e-pembalap. Ini akan menjadi olahrga yang sangat fisik, karena kita membayangkan posisi tubuh pembalap memainkan peran yang lebih besar dalam waktu putaran dibandingkan pembalap motor,” kata tim eSC.

Orang dapat membayangkan beberapa teknik menikung yang cukup ekstrim keluar dari ini. Tim eSkootr juga percaya bahwa seperti seri balapan yang bagus, sebagiannya tentang pengembangan teknologi. Pikiran Anda sulit untuk melihat di mana skuter tendangan bebas-kecepatan akan menemukan relevansi dalam campuran mikromobilitas.

Baca juga: Uber Hancurkan Ribuan Sepeda Listrik Jump dan Skuter

“Balapan akan dimulai pada tahun 2021, dan kami ingin melihat seperti apa tampilannya. Jika berjuang untuk menarik penonton, perubahan aturan sederhana yang memungkinkan pukulan kontak penuh, tendangan dan biaya bahu bisa menjadi tiket. Lihat video rendahan keju di bawah ini, untuk pergi dengan foto-foto rendahan keju ini,” kata tim eSC.

Gegara AS, Iran Air Batal Datangkan Airbus A380

Januari 2016 lalu mungkin jadi salah satu momen yang paling membahagiakan untuk industri penerbangan di Iran. Sebab, di waktu itulah pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi menghentikan embargo (sanksi ekonomi) berkepanjangan terhadap Iran yang putus-nyambung sejak November 1979.

Baca juga: Penerbangan Bersejarah di Iran, Seluruh Kru Kokpit Perempuan

Bak burung lepas dari sangkarnya, industri penerbangan di Negeri Syiah itu langsung tancap gas memanfaatkan kondisi tersebut untuk memperkuat pasokan bahan atau elemen pendukung bisnis mereka, khawatir sewaktu-waktu eskalasi politik antar kedua negara tersebut kembali meningkat. Tak terkecuali Iran Air.

Kala itu, tak lama setelah embargo dihentikan, maskapai nasional Iran itu memesan cukup banyak pesawat, mulai dari 12 unit Airbus A380, 46 unit A320, 38 unit A330 long range, dan 16 unit A350, dengan merogoh kocek sebesar $25 miliar.

Tak hanya itu, maskapai yang berbasis di Bandara Internasional Imam Khomeini dan Bandara Internasional Mehrabad ini juga memesan beberapa jenis pesawat Boeing, seperti 50 pesawat 737 MAX, 30 unit 777, 15 unit 777-300ER, dan 15 unit 777-9X dengan total belanja sebesar $17 miliar.

Dilihat dari berbagai pesawat yang dipesan Iran Air, cukup jelas bahwa maskapai yang berdiri pada 24 Februari 1962 itu ingin melakukan ekspansi besar-besaran, baik di tingkat regional atau kawasan (Timur Tengah), Eropa, Asia, hingga Amerika Utara. Berlandaskan hal itu, tentu, keputusan maskapai membeli pesawat-pesawat tersebut sangat tepat.

Airbus A380, misalnya, kuat diduga akan dimaksimalkan Iran Air untuk masuk di pangsa pasar penerbangan penumpang premium jarak jauh, sebagaimana tetangga mereka, Emirates, Etihad, dan Qatar Airways. Selain itu, dengan jumlah pesanan sebanyak 12 unit, Iran Air bukan hanya akan melawan The Three Mega Carrier Timur Tengah, melainkan juga akan melawan Qantas, yang setiap tahunnya (sebelum Covid-19) selalu menikmati pundi-pundi uang dari penerbangan premium A380 ke Eropa dan AS.

Akan tetapi, posisi Iran di industri penerbangan internasional pastinya tidak bisa disandingkan dengan Australia, Dubai, dan Qatar. Oleh karenanya, seperti dilansir Simple Flying, pembelian Airbus A380 Iran Air tentu sangat tidak tepat.

Selain itu, untuk pesawat yang direncanakan baru tiba pada 2019-2020 (seandainya kontrak tetap dilanjutkan), A380 tentu cukup usang dibanding pesawat-pesawat terbaru Airbus dan Boeing, seperti A350 dan 787 Dreamliner yang bisa terbang sama jauh namun konsumsi bahan bakar lebih efisien.

Baca juga: Mengharukan, Warga Iringi ‘Kepergian’ Airbus A380 Terakhir Saat Lewati Pedesaan Perancis

Lagi pula, Iran Air walau bagaimanapun tetap akan selalu berada dalam bayang-bayang sanksi ekonomi AS. Andai kata Iran Air tetap membeli A380 dan AS menerapkan kembali sanksi ekonomi, tentu pergerakan A380 dalam penerbangan jarak jauh akan terbatas.

Sudah begitu, pasokan suku cadang juga akan menipis. Sekalipun ada, besar kemungkinan rantai pasokan suku cadang A380 akan dikuasai oleh Emirates Airline yang diprediksi tak akan mau berbagi suku cadang dengan Iran. Jika sudah begini, tak ada alasan logis untuk dijadikan dasar Iran Air melanjutkan proses pemesanan A380. Pada akhirnya, ambisi udara Iran melalui perpanjangan tangan Iran Air akan sulit dicapai.

Australia Punya Jalur Lurus Kereta Api Terpanjang di Dunia

Seluruhnya negara bisa dibilang memiliki jaringan kereta api sebagai salah satu moda transportasi. Beberapa diantaranya bahkan menjadi jaringan kereta api terbesar di dunia karena memiliki bentang rel terpanjang. Namun tidak semuanya memiliki jalur lurus terpanjang di dunia, sebab biasanya panjang jalur ini dihitung dari keseluruhan rel yang terpasang di jaringan negara tersebut.

Baca juga: India Resmikan Terowongan Kereta Listrik Tepanjang, 6.700 Meter!

KabarPenumpang.com melansir dari laman kiwi.com (13/7/2020), ternyata dari sepuluh negara yang memiliki jaringan terpanjang di dunia, Australia punya bentang jalur lurus terpanjang di dunia. Negeri Kanguru ini memiliki jalur lurus terpanjang yang melintasi Dataran Nullarbor sejauh 478 km atau 297 mil.

Jalur ini sama sekali tidak ada yang menyimpang alias benar-benar tarikan garis lurus. Ketika dilihat dari luar angkasa, menurut mantan astronot, Andy Thomas, ini adalah garis yang sangat halus seperti seseorang telah menggambar garis pensil yang sangat halus melintasi padang pasir.

Pembangunan jalur lurus ini awalnya sebagai bagian dari program insentif untuk mendorong warga Perth yang jauh agar bergabung dengan pesemakmuran Australia yang baru terbentuk. Trans-Australia Railway adalah bagian dari jalur India-Pasifik sebuah layanan yang membentang antara Sydney dan Perth.

Untuk perjalanan satu arahnya sendiri memakan waktu antara 65 hingga 70 jam perjalanan. Waktu tempuh tergantung pada penjadwalan dan ini diterima secara luas sebagai salah satu perjalanan kereta api terbesar dunia. Meski begitu, pelancong yang menaiki kereta ini tidak akan kelaparan atau kehilangan momen indah perjalanan.

Sebab, selain mendapat pemandangan, perjalanan ini juga paketnya dilengkapi dengan semua makanan termasuk wine dan koktail berkualitas. Kamar tidur mewah dan berhenti di titik-titik strategis untuk melihat pemandangan paling menakjubkan di Australia. Untuk menikmati perjalanan panjang ini para pelancong harus mengocek kantong sedalam AUS$2599 atau Rp26,8 juta.

Meski memiliki pemandangan indah, di sepanjang rute ini tidak melewati jalur air tawar permanen melainkan lubang bor dan waduk yang ditetapkan pada interval waktu tertentu. Bahkan airnya sering payau dan tidak cocok untuk penggunaan lokomotif uap apalagi konsumsi manusia sehingga pesediaan air harus dibawa di kereta dari awal keberangkatan.

Baca juga: Beijing-Guangzhou High-Speed Line, Jaringan Kereta Cepat yang Dioperasikan Dua Operator

Bahkan pada masa lokomotif uap, sekitar setengah dari total muatan adalah air untuk mesin. Pada tahun-tahun berikutnya, pabrik kondensor dibangun di beberapa stasiun utama. Untuk diketahui, agar mencerminkan kepemilikan garis oleh Pemerintah Persemakmuran, delapan daerah diberi nama (atau diganti namanya) dengan nama-nama orang terkemuka lainnya juga dialokasikan, seperti yang ditunjukkan pada peta yang berdekatan.

Keren, Teknologi di Bandara Qatar Mungkinkan Penumpang Lewati X-Ray Tanpa Keluarkan Barang Elektronik

Bandara Internasional Hamad (HIA) belum lama ini dikabarkan telah menginstal teknologi pemeriksaan keamanan terbaru. Teknologi tersebut diklaim melibatkan algoritma canggih yang memungkinkan petugas untuk dengan mudah mendeteksi bahan peledak yang disembunyikan di koper atau benda apapun; bahkan dengan struktur yang sulit ditembus (dideteksi) sekalipun.

Baca juga: Sambut Piala Dunia 2022, Qatar Perluas Kapasitas Bandara Internasional Hamad

Tak hanya itu, dengan adanya teknologi ini, penumpang juga menjadi lebih dimudahkan. Sebab, mereka tak perlu mengeluarkan seluruh perlengkapan elektronik, seperti laptop, tablet, kamera digital, smartphone saat melewati pos pemeriksaan (mesin X-ray).

Tentu saja hal itu juga membuat penumpang lebih aman. Sebab, tak jarang, dalam proses tersebut, ketidakhati-hatian penumpang justru memberikan oknum tak bertanggungjawab mengambil kesempatan mencuri untuk barang-barang tersebut.

Teknologi C2, yang merupakan standar deteksi Konferensi Penerbangan Sipil Eropa (ECAC) ini, awalnya akan dipasang di semua pos pemeriksaan penumpang, khususnya penumpang transit, pasca kembali hidupnya industri penerbangan Qatar.

Di samping meningkatkan keamanan, teknologi itu juga mampu mempercepat proses pemeriksaan agar tak terjadi penumpukan. Tak hanya itu, penerapan teknologi tersebut juga mengukuhkan bandara HIA sebagai salah satu bandara yang mulai menerapkan standar sistem deteksi bahan peledak yang diakui secara internasional.

Berkenaan dengan wabah Covid-19, Standar Deteksi ECAC C2 ini juga merupakan alat yang brilian untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kontak antar penumpang saat proses pemeriksaan. Dengan begitu, selain cepat, teknologi ini juga menjadikan bandara lebih membuat penumpang aman dari paparan virus Cina.

“Proses keamanan di HIA terus meningkat melalui pengimplementasian teknologi terkini. Tujuan kami adalah membuat seluruh perjalanan lebih aman, mengingat pandemi Covid-19 saat ini. Selama masa-masa yang penuh tantangan ini, prioritas kami tetap untuk melindungi penumpang sambil menjaga keamanan,” kata Saeed Yousef Al-Sulaiti, VP Keamanan Bandara Internasional Hamad (HIA), seperti dilansir menafn.com.

“Melalui penerapan teknologi C2, kita dapat mencapai protokol yang lebih efisien yang mengatasi semua masalah penumpang. Ini akan memudahkan penumpang dan kami melanjutkan investasi kami ke arah itu sambil mengembangkan solusi yang sesuai dengan keinginan pelanggan,” tambahnya.

Bandara HIA memang sejak beberapa tahun lalu bertransformasi menjadi bandara kelas internasional yang patut diperhitungkan. Bandara terbaik ketiga di dunia ini, pada tahun 2019 lalu berhasil mencapai efisiensi yang luar biasa saat proses pengecekan. Dengan dukungan ruang besar yang mampu menampung sekitar 6 ribu penumpang per jam, proses pengecekan di Bandara HIA 95 persen di antaranya berhasil dilakukan di bawah lima menit.

Prestasi itu berhasil dicapai, salah satunya, berkat penggunaan teknologi biometrik yang juga sudah marak digunakan di bandara-bandara internasional terkemuka di dunia, seperti Bandara Heathrow, London, Bandara Canberra, dan bandara lainnya.

Teknologi ini memungkinkan penumpang untuk menggabungkan segala informasi penerbangan, paspor, dan biometrik wajah dalam ‘single travel token’ saat proses self check-in.

Baca juga: Vision-Box Hadirkan Teknologi Identitas Digital dengan Biometrik Canggih di Bandara

Dengan begitu, penumpang dapat melewati titik-titik pemeriksaan di bandara, seperti self-service bag-drop, pre-immigration, e-Gate, dan self-boarding gate, tanpa memakan waktu lama. Sebab, seluruh catatan identitas penumpang telah dikantongi petugas dan dicocokan secara real time dengan bantuan kamera yang tersebar di seluruh sudut bandara.

Selain itu, bandara ini juga berinvestasi banyak dalam teknologi robotika dan helm thermal screening dalam upaya mencegah penularan wabah corona di bandara. Robot yang dimaksud adalah robot otomatis yang memancarkan sinar UV-C untuk membunuh mikroorganisme sekaligus membunuh patogen berbahaya, Selain itu, ada juga terowongan desinfeksi ultraviolet untuk mendisinfeksi semua bagasi penumpang yang check-in (berangkat, tiba, dan transit).

Pertama di Dunia, Pramugari Wizz Air Bisa Gantikan Pilot Kemudikan Pesawat

Maskapai penerbangan asal Hungaria, Wizz Air belum lama ini dikabarkan telah meluncurkan program Cabin Crew to Captain. Program tersebut bertujuan untuk memungkinkan para awak kabin atau pramugari mewujudkan impian mereka menjadi pilot lewat program itu.

Baca juga: Maskapai Penerbangan Andalkan Erdorse Selebriti untuk Dongkrak Popularitas, Efektifkah?

Dilansir ukaviation.news, program ini merupakan yang pertama untuk industri penerbangan global. Nantinya, para pramugari yang berminat dan potensial terlebih dahulu dibekali pelatihan terbang secara intensif (selama 22 bulan berupa kursus darat ab-initio) disusul pelatihan terbang di Trener Flight School, di Nyíregyháza, Hungaria, selama 18 bulan.

Tak hanya itu, para taruna nantinya juga akan dibekali dengan bantuan sejenis insentif, uang transport dan akomodasi, serta menawarkan jadwal kerja lebih fleksibel, mengikuti jadwal pelatihan.

Jika kandidat berhasil lolos tes program Cabin Crew to Captain atau program peningkatan pramugari menjadi pilot, di samping memenuhi persyaratan umum maskapai, otomatis para taruna akan menjadi pilot trainee Wizz Air dan didaftarkan dalam pelatihan lebih lanjut perusahaan. Dari Pilot trainee kemudian akan menjadi First Officers setelah berhasil melewati uji penerbangan terakhir.

Head Of Flight Operations sekaligus Chief Pilot Wizz Air, Kapten Darwin Triggs, menyebut program tersebut didedikasikan oleh perusahaan untuk para pramugari yang memiliki minat tinggi menjadi pilot. Hal ini juga sekaligus sebagai salah satu langkah strategis maskapai dalam mempersiapkan diri memperluas ekspansi pasar.

Selain itu, program tersebut, lanjutnya, juga menunjukkan bentuk dukungan perusahaan terkait isu kesetaraan gender dalam penerbangan dan perkembangannya dalam industri ini di masa depan.

“Kami sangat senang meluncurkan program Cabin Crew to Captain yang terkemuka di industri penerbangan dan didedikasikan untuk pramugari Wizz, yang bercita-cita menjadi pilot,” jelasnya.

“Ini adalah peluang besar bagi mereka untuk mengembangkan karir dan terus berproses di perusahaan ini, seiring ekspansi maskapai dalam memperluas jaringan armada dan rute. Kami percaya bahwa program ini juga akan mendukung kesetaraan gender dalam penerbangan dan pertumbuhannya yang berkelanjutan,” tambahnya.

Baca juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot

Menariknya, selain program ini tidak terbatas untuk pramugari Wizz Air saja, melainkan juga terbuka untuk seluruh pramugari dari seluruh maskapai. Tentu, bila lolos ujian sampai tahap terakhir, mereka akan bergabung dengan Wizz Air, bukan kembali ke maskapai semula dan memulai karir baru sebagai pilot di sana.

Di industri penerbangan dunia, pramugari yang juga memiliki lisensi pilot bukanlah barang baru. Bahkan, pramugari pertama di dunia pada tahun 1930 silam, Ellen Church, tercatat juga sebagai pramugari pertama yang mempunyai lisensi pilot. Pramugari kelahiran 22 September 1904 itu awalnya memang bercita-cita menjadi pilot. Impian tersebut akhirnya harus kandas karena posisinya sebagai wanita dan kemudian banting setir menjadi pramugari pertama di dunia bersama Boeing Air Transport.

Sistem Input Prediktif Digunakan Tanpa Sentuhan Langsung pada Layar

Sebelum pandemi Covid-19, orang-orang cukup senang berbagai keypad dan menggunakan layar sentuh bersamaan. Namun setelah pandemi Covid-19, ketakutan menularkan virus dan bakteri melalui permukaan membuat orang menyentuh hal-hal yang telah disentuh orang lain sebelumnya.

Baca juga: OSG ScreeneX Hadirkan ‘Informasi’ pada Kaca Moda Transportasi Umum

Hal ini kemudian menghadirkan berbagai macam teknologi canggih saat ini dikembangkan untuk memudahkan banyak orang agar tidak saling bersentuhan atau menggunakan sesuatu yang digunakan bersamaan. Seperti Jaguar Land Rover dan Universitas of Cambridge yang sedang mengembangkan layar sentuh tanpa sentuhan untuk sistem hiburan di mobil.

Sistem ini memiliki keunikan dengan sentuhan prediktif yang mana menggunakan kecerdasan buatan dan sensor cangggih yang memungkinkan pengemudi untuk membuat pilihan tanpa benar-benar menyentuh layar tersebut. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (26/7/2020), dibuatnya sistem sentuhan prediktif tersebut karena saat ini semakin banyak orang sadar akan kuman dan banyak induatri menemukan cara untuk beradaptasi.

Ini termasuk menemukan cara bagi staf dan pelanggan untuk beroperasi tanpa sentuhan. Sistem sentuh prediktif Jaguar Land Rover dirancang untuk mencari tahu tindakan apa yang akan diambil oleh pengguna di awal tugas penunjukan. Untuk itu, sistem dilengkapi dengan kamera, sensor frekuensi radio dan pelacakan mata untuk memberikan data ke sistem kecerdasan buatan yang dikombinasikan dengan profil pengguna serta kondisi lingkungan untuk membuat prediksi sebelum jari pengguna mencapai layar.

Menurut Jaguar Land Rover, teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi penyakit, akan tetapi membuat pengemudi lebih aman serta mengurangi gangguan. Saat ini sistem tersebut di uji laboratorium dan jalanan untuk menunjukkan teknologi prediksi yang dapat mengurangi waktu interaksi hingga 50 persen. Bahkan, teknologi ini dapat memiliki aplikasi yang lebih luas di luar kabin mobil untuk mengurangi penyebaran kuman.

“Ketika negara-negara di seluruh dunia keluar dari penguncian, kami melihat berapa banyak transaksi konsumen sehari-hari dilakukan dengan menggunakan layar sentuh seperti membeli tiket kereta api atau bioskop, ATM, check in bandara dan check out swalayan, serta banyak aplikasi industri dan manufaktur,” kata Lee Skrypchuk, Spesialis Antarmuka Mesin Manusia di Jaguar Land Rover.

Baca juga: Pengamat Penerbangan: Kalau Sudah Pakai Masker Semua, Kenapa Harus Jaga Jarak?

Lee mengatakan, bahwa teknologi sentuh prediktif menghilangkan kebutuhan untuk menyentuh layar interaktif dan karenanya dapat mengurangi risiko penyebaran bakteri atau virus pada permukaan. Selain itu, teknologi ini juga menawarkan kesempatan pengguna untuk membuat kendaraan lebih aman dengan mengurangi beban kognitif pada pengemudi dan meningkatkan jumlah waktu yang dapat mereka habiskan ketika fokus pada jalan di depan.

Usai Raih 63.900 Jam, Airbus A330-300 Pertama di Dunia Pensiun

Airbus A330 pertama yang memasuki layanan secara komersial akhirnya resmi pensiun. Pesawat yang dioperasikan oleh Cathay Dragon (dahulu Dragonair) ini tercatat telah melahap total 63.900 jam dan 26.983 siklus layanan (rute) selama 24 tahun menemani anak perusahaan Cathay Pacific itu.

Baca juga: Kendala Teknis, Airbus A330-300 MAS ‘Ngerem’ Mendadak Dua Kali Ketika Hendak Take Off

Dilansir airwaysmag.com, jenis pesawat pertama yang dimaksud adalah Airbus A330-300. Pesawat tersebut diketahui selesai diproduksi pada Januari 1994 dan mulai bergabung dalam barisan armada Cathay Pacific dua tahun kemudian. Dalam prosesnya, maskapai asal Hong Kong itu kemudian menghibahkan pesawat tersebut ke anak perusahaannya pada Maret 2013 lalu.

Penerbangan komersial terakhir pesawat Airbus A330-300 ialah penerbangan kurang dari tiga jam, dari Shanghai ke Hong Kong, pada 6 Juli lalu. Pesawat kemudian dikandangkan untuk beberapa waktu sebelum akhirnya diputuskan pensiun dari layanan pada 17 Juli.

Selama masa baktinya kepada maskapai, Airbus A330-300 umumnya mengisi rute-rute jarak pendek dan menengah di kawasan Asia. Menariknya, walaupun bukan maskapai Eropa yang sudah seperti menjadi sebuah keharusan untuk mengoperasikan all-Airbus, Cathay Dragon tercatat sebagai salah satu maskapai di Asia (selain AirAsia) yang juga mengoperasikan all-Airbus, yakni keluarga Airbus A320 dan A330.

Airbus A330 sendiri sebetulnya cukup sanggup untuk menempuh rute-rute jauh. Namun, karena rute-rute jauh sudah diisi oleh pesawat lain yang lebih efisien, maskapai akhirnya membatasi pesawat hanya pada rute-rute regional saja.

Secara historis, pesawat ini dibuat pada waktu yang sama dengan Airbus A340, yang notabene dibekali dengan empat mesin atau quad jet. Setelah Airbus mengembangkan A350, beberapa pengamat mengungkap bahwa hal itu bertujuan untuk menggantikan posisi A330 yang sudah usang (kala itu, meskipun akhirnya Airbus juga mengembangkan A330neo dan lain-lain).

A330-300 secara umum mampu mengangkut sebanyak 295 penumpang dalam konfigurasi kabin tiga-kelas (335 dalam 2 kelas dan 440 dalam kelas tunggal) dengan jarak 10,500 km. Pesawat ini memiliki kapasitas kargo besar dan dapat disandingkan dengan Boeing 747 pertama. Beberapa maskapai melakukan penerbangan kargo tengah malam setelah penerbangan penumpang pada siang hari.

Baca juga: Mayday! Mayday! Airbus A330-300 Air China Terbakar di Beijing International Airport!

Selain bisa disandingkan dengan Boeing 747 versi awal, A330-300 juga dapat disamakan dengan Boeing 777-200 dan McDonnell Douglas MD-11 yang kini sudah tidak diproduksi lagi.

Pesawat ini menggunakan dua mesin General Electric CF6-80E, Pratt & Whitney PW4000 atau Rolls-Royce Trent 700. Kesemuanya diberi nilai ETOPS-180. US Airways, salah satu maskapai terbesar di Amerika Serikat (kini dimilliki oleh American Airlines Group) merupakan salah satu maskapai terbanyak di Amerika Serikat yang mengoperasikan jenis pesawat ini dengan total semibilan armada.