Hasil Rekonstruksi MH17: Penumpang Punya Cukup Waktu untuk Kenakan Masker Oksigen

Hasil rekonstruksi jatuhnya pesawat Malaysia Airlines MH17 menunjukkan penumpang sebetulnya punya cukup waktu untuk mengenakan masker oksigen sebelum pesawat menghantam daratan. Pasalnya, penyidik menemukan ada satu penumpang yang teridentifikasi mengenakan masker oksigen sekalipun sudah dalam keadaan sulit dikenali.

Baca juga: Sama-sama Jatuh Dirudal, Inilah Persamaan dan Perbedaan Insiden Malaysia Airlines MH17 dan Ukraine International PS752

Daily Mail melaporkan, penyidik, yang telah menyusun kembali sekitar 8 ribu kepingan pesawat Malaysia MH17 di sebuah hanggar di Belanda, percaya bahwa beberapa penumpang memiliki cukup waktu untuk memakai masker oksigen sekalipun dalam kondisi yang sangat menegangkan. Namun demikian, sekalipun penumpang menyempatkan diri memakai masker oksigen, tentu, fatality rate-nya tetap tinggi mengingat pesawat hancur berkeping-keping.

Sistem rudal BUK buatan Rusia diketahui tidak dengan tepat mengenai pesawat, melainkan meledak di udara dengan jarak sekitar tiga meter di atas pesawat. Namun, ledakan tersebut menyebarkan sekitar 800 kepingan peluru dan membuat sekitar 102 lubang di pesawat yang diawaki oleh Kapten Eugene Choo itu.

Lubang-lubang tersebut kemudian membuat pesawat kehilangan tekanan dan mengalami dekompresi eksplosif dengan kondisi angin berhembus di kecepatan 804 km per jam. Kondisi tersebut kemudian membuat kokpit terlepas dari bagian pesawat lainnya.

Hasil penyidikan juga mengungkap, sebelum jatuh tertembak rudal, pesawat nahas tersebut sempat memberikan koordinat ke flight controller Ukraina dengan menyebut, ‘ROMEO NOVEMBER DELTA, Malaysia satu tujuh’. Tak lama kemudian, pesawat dilaporkan jatuh dan menewaskan seluruh kru dan penumpang.

Menariknya, seperti dikutip dari The Star Online, meskipun dua hari sebelum kejadian dua pesawat militer Ukraina dilaporkan jatuh di tempat yang sama, yakni di dekat Desa Hrabove, Donetsk, Organisasi Internasional Penerbangan Sipil (ICAO) mengklaim rute yang dilalui pesawat MH17 adalah rute aman.

Begitu juga dengan Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) yang menyatakan, jalur penerbangan MH17 tidak termasuk daerah terlarang. Itu mengapa, di hari yang sama sebelum Malaysia MH17 jatuh dirudal, Dewan Investigasi untuk Keselamatan (DSB) mengkonfirmasi bahwa ada 160 pesawat telah melintas di wilayah tersebut.

Tanggapan ICAO dan IATA tentu keliru mengingat dua hari sebelum terjadinya kecelakaan, kabel diplomatik Jerman (pesan rahasia) yang dikirimkan dua hari sebelum kecelakaan mengatakan situasi di Ukraina sudah ‘sangat membahayakan’.

Parahnya lagi, pesan tersebut tak disebar dengan baik, bahkan terhadap maskapai dalam negeri Jerman sekalipun. Pasalnya, dalam laporan BBC Internasional, tiga pesawat Lufthansa diketahui melintas di wilayah sekitar jatuhnya pesawat MH17. Bahkan, salah satu di antaranya melintas 20 menit sebelum kejadian.

Setelah kejadian jatuhnya pesawat Boeing 777-200ER Malaysia Airlines yang menewaskan sebanyak 298 orang ini, dimana 80 di antaranya adalah anak-anak, sebanyak 350 penyidik dari enam negara turun tangan guna mengungkap detail kejadian selama enam tahun belakangan.

Belum lama ini, atas hasil laporan penyidik dan berbagai sumber lainnya, Pemerintah Belanda mengaku akan menuntut Rusia ke Pengadilan Hak Asasi Manusia (HAM) Eropa dengan tuduhan sebagai dalang jatuhnya pesawat pada 17 Juli 2014 lalu itu.

Baca juga: Sejak 1973, Iran, Rusia dan AS Ternyata Pernah Menghantam Pesawat Penumpang dengan Rudal

Menteri Luar Negeri Belanda, Stef Blok, mengatakan, “Mencapai keadilan bagi 298 korban jatuhnya penerbangan MH17 adalah dan akan tetap menjadi prioritas utama pemerintah. Dengan mengambil langkah ini hari ini kita bergerak lebih dekat ke tujuan.”

Sementara itu, Konstantin Kosachev, kepala komite urusan luar negeri di majelis tinggi parlemen Rusia, menyebut langkah Belanda sebagai upaya yang aneh. “Investigasi belum berakhir, belum ada putusan pengadilan di tingkat nasional dan, akhirnya, apa yang harus dilakukan Pengadilan HAM Eropa tanpa adanya putusan tingkat nasional?”

Tegur Penumpang yang Tak Pakai Masker dengan Benar, Pria Tua ini Justru Kena Gigitan di Dada

Di masa pandemi saat ini, semua orang wajib menggunakan masker setiap bepergian keluar rumah baik dalam kendaraan umum atau berbagai tempat lainnya. Mereka harus menggunakan masker demi mencegah tertular virus corona atau Covid-19. Meski begitu masih banyak orang yang mengabaikan penggunaan masker dengan benar dan justru marah ketika diingatkan oranglain bahkan sampai menyakiti orang tersebut.

Baca juga: Duel Berujung Gigit Hidung, Dua Penumpang Ryanair Diamankan Ketika Mendarat

Seperti yang terjadi pada seorang pria paruh baya asal Irlandia yang tinggal di Belgia dan mengaku dirinya digigit oleh penumpang bus yang marah. Saat itu pria berusia 56 tahun tersebut meminta penumpang lain untuk mengangkat maskernya dari dagu dan menggunakan dengan benar.

Robert Murphy, digigit dua kali di bagian dadanya oleh penumpang bus pria yang ditegurnya karena tidak menggunakan masker dengan benar. Saat itu sebelum pertengkaran terjadi awalnya sepasang suami istri naik bus dan duduk tepat di seberang Murphy dengan masker diposisikan di bawah dagu mereka.

“Saya hanya meminta pria itu untuk mengenakan masker dengan benar untuk menutup mulut dan hidungnya,” kata Murphy yang dikutip KabarPenumpang.com dari nypost.com (28/7/2020).

Sayangnya penumpang pria yang ditegur Murphy menolak dan perkelahian pun terjadi. Dia mengaku mencoba membebaskan diri, tetapi karena kekurangan fisiknya sehingga itu tidak mudah. Pria itu juga mengumpat kata kasar kepada Murphy.

“Kami bergumul sampai pria itu melemparkan dirinya ke dadaku dan menggigitku. Saya tidak mempercayainya dan dia seperti anjing gila,” ujar Murphy.

Murphy menambahkan, dirinya mendorong pria tersebut tetapi tidak melepasnya dan terus mencoba kembali menggigit. Karena hal tersebut, penumpang lain menolong Murphy dan menarik pria itu dan pasangan tersebut turun dari bus serta melarikan diri.

Insiden ini kemudian ditangani pihak kepolisian Belgia yang akhirnya melacak pria berusia 38 tahun tersebut bersama pasangnnya dan menangkap mereka. Murphy yang terluka kemudian pergi ke rumah sakit untuk perawatan bekas gigitan itu.

Baca juga: Diserang Pitbull di Bus, Pria Difabel Gugat Departemen Transportasi di New Mexico

“Anehnya, dokter tidak ingin melakukan tes Covid-19 karena saya tidak dapat menunjukkan bahwa orang lain, penggigit, terinfeksi virus. Semoga saja,” kata dia.

Wuih, Ada Robot Desinfektan Beroperasi di Stasiun Takanawa Gateway

Jepang menjadi salah satu negara yang sudah mulai mengembangkan robot di beberapa stasiunnya. Robot-rorbot ini digunakan untuk membantu penumpang. Seperti Stasiun Takanawa Gateway yang terkenal menggunakan enam jenis robot dan sudah beroperasi. Keenam robot ini memiliki tugas masing-masing dari menjaga keamanan, membantu penumpang prioritas hingga bertugas membersihkan stasiun dan toilet.

Baca juga: Enam Jenis Robot Beroperasi di Stasiun Gateway Takanawa

Bahkan, Senin, 27 Juli lalu, sebuah robot desinfektan mulai di uji di stasiun ini. Kehadiran robot desinfektan sendiri untuk membantu mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19 yang tengah menjadi pandemi di seluruh dunia. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman nhk.or.jp (27/7/2020), robot desinfektan tersebut diuji coba di Stasiun Takanawa Gateway yang berada di jalur Yamanote.

Stasiun yang dioperasikan oleh East Japan Railway Company atau JR East ini, menghadirkan tiga jenis robot yang akan menyemprotkan desinfektan pada pegangan tangan dan benda lain yang disentuh oleh manusia. Untuk memudahkan cara kerjanya robot desinfektan menggunakan beberapa sensor dalam menavigasi setiap lokasi di stasiun.

Selain itu beberapa robot yang sudah ada di Stasiun Takanawa Gateway ini juga memiliki fungsi pembersihan dan kemanan yang didasarkan pada kecerdasan buatan. Bahkan juga ada robot yang menggunakan lift untuk mengantarkan kopi es ke ruang rapat. JR East menguji robot otonom ini tujuannya untuk mengurangi kontak dengan manusia.

Kepala kantor pusat inovasi teknologi perusahaan, Sato Isao mengatakan desinfeksi dan pengiriman tanpa kontak menjadi sangat penting saat ini. Dia berharap robot yang sedang diuji coba di Stasiun Takanawa Gateway akan digunakan pada stasiun yang lain. JR East berharap untuk menempatkan robot dalam penggunaan praktis pada tahun fiskal 2024.

Baca juga: Takanawa Gateway Menjadi Stasiun Modern dengan Robot Pemandu Penumpang

Saat ini berbagai tes yang melibatkan teknologi canggih sedang dilakukan di Stasiun Takanawa Gateway karena memiliki konsep stasiun masa depan. Untuk diketahui, JR East telah menginvestasikan 19 miliar yen atau US$180 juta dalam mempersiapkan stasiun yang dibukan pada bulan Maret 2020 kemarin.

Dua Peristiwa Besar ini Ubah Industri Penerbangan Jadi Lebih Ketat, Apa Itu?

Wabah Covid-19 disebut sebagai salah satu peristiwa besar yang menyebabkan terjadinya perubahan drastis di industri penerbangan global.

Baca juga: Kecelakaan Pesawat Terburuk Sepanjang Masa Lahirkan Warisan Penting di Dunia Penerbangan

Masker, sarung tangan, face shield, disinfektan, contact less, layanan on board dan lounge terbatas, physical distancing di pesawat dan bandara, sekat partisi, rapid test, surat keterangan sehat, dan berbagai perubahan lainnya, adalah bukti nyata betapa virus tersebut mampu membawa perubahan.

Namun, Covid-19 bukan satu-satunya, serangan 11 September 2001 atau lebih dikenal 9/11 juga diterbukti menjadi peristiwa yang mampu mengubah tatanan penumpang dan layanan di industri penerbangan.

Setidaknya, ada empat perubahan penting di dunia penerbangan global sebagai respon atas serangan 9/11. Diwartawakan KabarPenumpang.com dari cntraveler.com, berikut empat perubahan di industri penerbangan.

1. Perubahan pada kokpit dan pintu kokpit
Tak hanya harus dalam keadaan tertutup, pintu kokpit juga diwajibkan harus dalam keadaan terkunci. Hal itu sebagai salah satu cara untuk mencegah atau mungkin memperlambat tindak terorisme terhadap kru kokpit.

Sadar hal itu belum cukup aman, regulator penerbangan sipil Amerika Serikat (FAA) akhirnya mendorong penggunaan pintu kokpit anti peluru, sebagai pelengkap aturan kokpit harus selalu dalam keadaan terkunci.

Selain itu, Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) juga mengerahkan lebih banyak petugas keamanan udara atau sky marshal sebagai agen anti-teroris di atas pesawat komersial untuk melawan pembajakan pesawat.

Tak lupa, jika pun semua itu gagal, TSA dan FAA masih mempunyai benteng terakhir dalam upaya melawan tindak terorisme pembajakan pesawat, yakni dengan aturan Federal Flight Deck Officer. Aturan tersebut memungkinkan pilot untuk membawa pistol, tentu didahului dengan pelatihan yang tepat.

2. Memisahkan penumpang mencurigakan
Proses pengecekan di bandara menjadi lebih ketat. Dengan melibatkan teknologi canggih, penumpang dengan gerak gerik mencurigakan akan terus dipantau. Termasuk bila petugas -lewat body scanner atau sejenisnya- belum sanggup membuktikan kecurigaan tersebut.

Dalam kondisi seperti itu, penumpang tersebut tetap akan masuk dalam radar pantauan serta akan dipisahkan dengan penumpang lainnya. Demikian juga dengan penumpang spesial, baik dari kalangan pejabat maupun public figure yang berpotensi menjadi target incaran teroris, khususnya saat dalam antrean pengecekan imigrasi dan bea cukai.

3. Melatih petugas Avsec jadi lebih profesional
Sebelum peristiwa 9/11 terjadi, ada sekitar 20 ribu petugas Aviation Security (Avsec). Namun, rata-rata dari mereka tak terlatih dengan baik dan dipekerjakan dengan upah cukup rendah. Pasca peristiwa itu, praktis, mereka dikambinghitamkan atas ketidakbecusan mereka mendeteksi teroris di bandara.

Baca juga: Pernah Dengar Pintu Belakang Boeing 727 Jadi Sebab Pembajakan? Simak di Sini Jika Belum

Oleh karenanya, TSA bertindak cepat dengan lebih memerhatikan petugas Avsec, baik dari segi upah maupun kemampuan. Sekitar tahun 2016 lalu, jumlah petugas Avsec terpantau sudah jauh berkembang menjadi lebih dari 42 ribu petugas dan sangat terlatih.

4. Memutahkirkan teknologi terbaru deteksi senjata dan bom
Sebelum peristiwa 11/9, sebagian besar barang bawaan, terutama pada penerbangan domestik, umumnya langsung dimuat ke pesawat tanpa melewati pemeriksaan bahan peledak. Kini, kondisi jauh berbeda, dimana alat-alat deteksi baru dikerahkan untuk mendeteksi keberadaan bahan peledak, baik cair maupun padat yang disembunyikan penumpang dikoper ataupun di bagian manapun di sebuah benda.

Melihat Perubahan di Langit Gegara Covid-19 Lewat FlightRadar24

Industri penerbangan berubah drastis sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan wabah Covid-19 sebagai pandemi global. Namun, di antara banyak cara untuk melihat perubahan tersebut, FlightRadar24 menjadi salah satu yang favorit.

Baca juga: Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi!

Perubahan di industri penerbangan akibat Covid-19 memang bisa terlihat jelas di situs yang dikunjungi oleh 2 juta user per hari itu. Dilansir skiesmag.com, pada bulan 29 Maret lalu, misalnya, FlightRadar24 mencatat ada sekitar 64.522 total penerbangan dalam sehari. Angka yang bahkan tak sampai setengahnya bila dibanding dengan periode yang sama tahun lalu sekitar total 175.350 penerbangan.

Beranjak ke bulan April, industri penerbangan justru makin terpuruk. Situs yang menjadi travel app nomor satu di AppStore di lebih dari 150 negara ini mencatat, 12 April lalu menjadi rekor penerbangan terburuk sepanjang masa, dengan mencatat total penerbangan terendah dalam sehari sejumlah 46.294 flight.

Bulan Mei, wabah Covid-19 di dunia memang masih mengganas, khususnya di negara-negara yang telat dihampiri virus yang pertama kali diduga berasal dari Wuhan, Cina itu, seperti negara-negara Amerika Selatan dan Rusia. Namun, di berbagai negara lainnya yang di bulan sebelumnya menjadi hotspot penyebaran virus corona, kondisinya sudah membaik.

Pantauan FlightRadar24 saat jumlah penerbangan harian mulai menggeliat di akhir Juli. Foto: FlightRadar24

Tak ayal bila di bulan ini, industri penerbangan sudah mulai menggeliat. FlightrRadar24 mencatat ada sekitar 110.361 penerbangan di tanggal 20 Mei. Capaian tersebut merupakan pertama kalinya sejak 22 Maret lalu dimana penerbangan per hari mencapai lebih dari 100 ribu flight. Meski demikian, tetap saja, persentasenya masih 48 persen di bawah persentase penerbangan di tanggal yang sama tahun lalu.

“Lalu lintas komersial mulai kembali perlahan. Kita berbicara tentang beberapa poin persentase di sana-sini. Tapi pertumbuhan sebenarnya adalah lalu lintas non-komersial di mana orang mengambil keuntungan dari kesempatan untuk kembali bepergian. Tapi mereka tidak bisa pergi kemana-mana,” kata Ian Petchenik, Direktur Komunikasi FlightRadar24.com.

Di bulan Juni, penerbangan komersial kondisinya relatif tak jauh berbeda. Namun, untuk penerbangan non-komersial, seperti penerbangan glider, jumlahnya mengalami peningkatan luar biasa.

Baca juga: Citra Satelit NASA Temukan Polusi di Cina Berkurang Drastis, Akibat Sepinya Penerbangan?

Di Eropa, misalnya, pilot-pilot glider mengaku baru kali ini mendapat kesempatan terbang dengan sangat bebas. Pada hari-hari awal di Bulan Juni tahun lalu, Flightradar24 mencatat hanya ada beberapa lusin penerbangan glider di Eropa. Namun, Pada 1 Juni 2020, glider yang meluncur bebas di udara jumlahnya mencapai 1.200.

Di akhir bulan Juli ini, penyedia jasa informasi penerbangan real time yang sudah diunduh lebih dari 40 juta lebih itu mencatat, industri penerbangan jauh lebih menggeliat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Namun, tetap saja, jumlahnya masih tak melebihi total penerbangan di periode yang sama tahun lalu. Tanggal 30 Juli tahun lalu, ada sekitar 18,269 pesawat yang beredar di udara. Masih 33 persen di atas jumlah peredaran pesawat tahun ini, yang hanya mencapai 12,086 pergerakan di tanggal 28 Juli lalu.

Tiada Lagi Menu Prasmanan, Inilah Empat Perubahan di Lounge Bandara Gegara Covid-19

Pandemi Covid-19 memang mengubah banyak hal di industri penerbangan, tak terkecuali lounge. Di antara berbagai layanan lebih yang ditawarkan bandara atau maskapai, lounge adalah salah satunya. Lounge bisa dibilang menjadi satu kesatuan utuh -tentu saja dengan didukung berbagai layanan on board- dalam upaya menarik pelanggan agar tetap setia dengan satu maskapai.

Baca juga: Lounge Kembali Buka, Qantas Hilangkan Prasmanan, Pemanggang Roti dan Pembuat Pancake

Dengan dasar itu, tak jarang, maskapai rela melakukan investasi besar-besaran di lounge yang menjadi hub mereka, baik internasional maupun nasional. Singapore Airlines, misalnya, pada tahun lalu, sampai rela merogoh kocek hampir setengah triliun rupiah hanya untuk merombak total Lounge SilverKris dan KrisFlyer Gold yang terletak di Terminal 3 Bandara Internasional Changi.

Maskapai lain tentu tak ingin ketinggalan. Tahun lalu, Qantas juga mulai menghadirkan lounge first class khusus dengan menawarkan desain dengan kualitas udara dan cahaya yang brilian serta terhubung langsung ke alam. Di tahun yang sama, Cathay Pacific juga berinovasi dengan menghadirkan fasilitas yoga dan meditasi di lounge Bandara Hong Kong.

Selain dihadirkan khusus oleh maskapai, pengelola bandara juga tentu berinovasi untuk menghadirkan lounge mewah nan memanjakan penumpang. Republik Dominika, misalnya, punya lounge mewah di Bandara Punta Cana dengan fasilitas tambahan berupa kolam renang yang langsung menghadap ke apron.

Bandara internasional Dubai (DBX) di Uni Emirat Arab juga menawarkan inovasi lebih lewat konsep The Sleep ‘n Fly Lounge. Lounge tersebut menawarkan 27 kabin private untuk para traveler yang ingin tidur sejenak.

Selain menawarkan berbagai view serta fasilitas ciamik, makanan dan minuman tentu juga tak luput dari perhatian pengelola bandara dan maskapai. Sayangnya, pandemi Covid-19 yang masih menghantui penumpang memaksa terjadinya kurang lebih empat perubahan di lounge, dimana dua di antaranya menyangkut makanan.

Dilansir Simple Flying, empat perubahan tersebut meliputi physical distancing, tak ada layanan prasmanan, makanan dan minuman yang disajikan oleh staf, hingga disinfeksi secara berkala.

Baca juga: Dongkrak Pengalaman Penumpang, Singapore Airlines Siap “Rombak” Lounge di Changi

Physical distancing yang diterapkan tentu akan berdampak pada berkurangnya daya tampung lounge sehingga mengurangi pelayanan. Begitu juga dengan hilangnya layanan prasmanan. Dengan memilih langsung makanan dan minuman yang diinginkan, penumpang tentu akan merasa lebih nyaman ketika menyantap. Lain halnya ketika penumpang sudah dibagikan makanan di dalam sebuah box tanpa bisa memilih sajian kesukaan mereka.

Bila pun ada prasmanan, penumpang juga tak akan bisa memilih hidangan dengan bebas. Sebab, sajian tetap akan dilayani oleh staf lounge untuk meminimalisir sentuhan berbagai partisi di lounge, sekalipun lounge sudah didisinfeksi secara berkala oleh petugas. Jika sudah begini, masihkan Anda ingin berlama-lama menikmati suasana lounge?

Masker LED Desain Chelsea Klukas Jadi Gaya di Masa Pandemi

Masker wajah menjadi salah satu hal terpenting di masa pandemi Covid-19 saat ini baik ketika di luar rumah maupun ketika menggunakan moda transportasi. Bahkan beberapa masker memiliki model dan corak yang beragam agar lebih gaya bila dibandingkan dengan masker wajah untuk medis. Hal ini kemudian membuat para desainer maupun mengusaha mode yang tadinya membuat pakaian beralih mendesain dan membuat masker wajah.

Baca juga: Berciuman Memakai Masker, Kelakuan Penumpang Pesawat di Masa Pandemi Semakin Aneh

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman theverge.com (26/7/2020), perancang busana Chelsea Klukas dari Lumen Counture awalnya membuat masker wajah dari kain standar untuk teman-temannya saat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit merekomendasikan untuk membuat sendiri demi mencegah penyebaran virus. Lumen Counture memiliki seluruh lini mode yang didukung teknologi yang tadinya membuat gaun, hoodies dan kostum menjadi beralih ke masker saat penjualan lainnya merosot.

Klukas memutuskan untuk menambahkan teknologi untuk membuat masker wajah sedikit lebih menyenangkan. Dia mengatakan memiliki komponen-komponen di sekitarnya dan menyusun tutorial YouTube DIY cepat untuk cara membuatnya.

“Itu benar-benar meledak, ke titik di mana orang-orang meminta saya untuk masker siap pakai,” kata Klukas.

Dia menambahkan bahwa tidak ingin terlihat mengambil untung dari pandemi, sehingga Lumen Couture menyumbangkan hasil dari penjualan masker sampai Juni sekitar $5 ribu untuk dikirimkan kepada dana bantuan Organisasi Kesehatan Dunia Covid-19. Pelanggan yang membeli masker buatannya lebih banyak laki-laki daripada yang diharapkan serta kebanyakan dari mereka tidak menggambarkan sebagai seorang fashionista.

Klukas menambahkan, dirinya berpikir memiliki masker yang bisa dipakai siapa saja dan membantunya menjadi bagian koleksi pakaian.

“Saya pikir kita melihat pengenalan masker sebagai bentuk ekspresi baru. Perancang busana lain juga memahami hal ini, saya pikir kita akan mulai melihat seperti masker versi Rolex,” ujar Klukas.

Masker Tampilan LED memiliki layar matriks LED yang tipis, dan pemakai dapat mengontrol apa yang ditampilkannya seperti gambar, teks khusus, dan bahkan input suara melalui aplikasi. Kain dapat bernapas di atas dan di bawah layar, dan komponen teknologi dapat dilepas sehingga masker dapat dicuci, atau dipakai sebagai masker biasa.

Aplikasi ini menawarkan input mikrofon, dan beberapa pemakai menggunakannya untuk menampilkan pesan jarak sosial seperti “mundur” atau “6 kaki” yang mungkin sulit untuk didengar seseorang berkata dengan mulut tertutup. Bagian tersulit dalam mendesain pakaian dengan komponen lampu LED adalah di mana dan bagaimana menyembunyikan baterai, kata Klukas.

“Ada beberapa trik di mana Anda bisa bersembunyi di gaun dengan rok berbulu, misalnya. Tetapi jika Anda ingin melakukan sesuatu yang ramping dan cepat, itu lebih merupakan tantangan,” tambahnya.

Baca juga: Pengamat Penerbangan: Kalau Sudah Pakai Masker Semua, Kenapa Harus Jaga Jarak?

Masker telah menjadi barang terlarisnya sejauh ini, tetapi Klukas mengatakan dia tidak sabar untuk kembali ke pertunjukan langsung, di mana orang dapat menyentuh dan merasakan pakaian yang disempurnakan dengan LED secara langsung. Terutama dengan beberapa bagian yang lebih berani, orang akan datang dekat untuk melihat keajaiban, dan sulit untuk menunjukkannya melalui videoa.

“Orang yang mengenakan mode adalah bagian dari cerita, dan itu tidak menyampaikan cerita juga di layar datar,” kata dia.

Teknologi Baru CVR dan FDR Sukses Disertifikasi! Kini “Kotak Hitam” Bisa Rekam Hingga 70 Jam

Belum lama ini, teknologi baru Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) dikabarkan lolos uji sertifikasi Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) dan Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA). Selain itu, teknologi CVR dan FDR baru atau seri SRVIVR25 buatan L3 Harris ini, juga mendapat sertifikasi dari regulator penerbangan sipil lainnya yang terafiliasi dengan FAA.

Baca juga: Apa Itu Kotak Hitam Atau Black Box?

“Recorder seri SRVIVR25 ini dapat meningkatkan operasional dan efisiensi dengan menyediakan data terbesar yang pernah ada bagi maskapai penerbangan untuk menganalisis dan bereaksi atas data yang disajikan,” kata Terry Flaishans, Presiden Avionics L3 Harris.

“Operator dapat dengan cepat mengunduh data kinerja kokpit, datalink, dan penerbangan yang memberi mereka kemampuan untuk meneliti dan memahami skenario standar, serta kejadian penerbangan yang merugikan,” tambahnya, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman resmi perusahaan.

Seri recorder SRVIVR25 CVDR ini terbukti dapat merekam suara di kokpit (CVR) selama 25 jam melalui empat saluran audio dan lebih dari 25 jam datalink recording. Tak hanya itu, teknologi ini juga memungkinkan FDR merekam data penerbangan selama 70 jam, sebagaimana mandat terbaru dari EASA -dalam menyambut era layanan baru- yang akan mulai berlaku pada Januari 2021 mendatang.

Padahal, seperti dikutip dari howstuffworks.com, baik CVR maupun FDR, yang notabene menggunakan sistem loop, sebelumnya memiliki kemampuan sangat terbatas. FDR saat ini hanya bisa merekam 25 jam data penerbangan dan CVR bisa merekam dua jam percakapan di kokpit, meningkat sedikit dari 30 menit.

Seluruh seri, model, dan varian dari CVR, cockpit voice and data recorders (CVDR), dan FDR dari L3 Harris ini diklaim sudah sesuai dengan standar ARINC 747, ARINC 757, dan OEM yang menjadi acuan standar komunikasi udara global.

Selain mampu menghadirkan basis data yang jauh lebih besar dibanding teknologi sebelumnya, seri SRVIVR25 ini juga diklaim mampu mendukung kelancaran industri penerbangan di masa depan dengan menyajikan data sesuai Global Aeronautical Distress and Safety System serta pencatatan data penerbangan yang akurat.

Baca juga: Mengenal ELT, Komponen Penting Pesawat yang Selalu Dicari Saat Kecelakaan

Meskipun L3 Harris adalah perusahaan teknologi Amerika Serikat, nyatanya, dalam waktu dekat hanya pesawat-pesawat Airbus, kompetitor utama produsen pesawat asal Negeri Paman Sam, Boeing, yang direncanakan segera mengadaptasi teknologi tersebut. A320, A320, A330, dan A350 keluaran terbaru disebut akan dilengkapi teknologi ini. Begitu juga dengan A220. Pesawat lama A330 dan A350 juga bisa diretrofit untuk kemudian dilengkapi dengan teknologi ini.

Qantas Kirim A380 Ke ‘Kuburan’ Pesawat di Gurun Amerika Serikat

Qantas dilaporkan sukses mengirim Airbus A380 ke Bandara Internasional Los Angeles (LAX). Pesawat dengan nomor registrasi VH-OQC dilaporkan mendarat dengan mulus pada 27 Juli lalu, pagi waktu setempat.

Baca juga: Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380

Pesawat tersebut adalah pesawat ke-10 yang tiba di LAX sebelum akhirnya dikirim ke fasilitas penyimpanan jangka panjang di Boneyard, Gurun Mojave, Southern California, Amerika Serikat (AS). Dari jumlah tersebut, satu per satu pesawat sudah mulai dikirim ke Gurun Mojave sejak awal bulan ini.

Dari data Flightradar24, pesawat tersebut cenderung jarang terbang. Pesawat berusia 11 tahun itu terakhir kali terbang pada April lalu. Itupun rute sangat pendek, yakni Melbourne-Sydney. Sebelumnya lagi, A380 itu terbang pada 21 Maret lalu dengan melahap rute Melbourne-Singapura PP. Padahal, A380 Qantas jadi andalan maskapai bersaing di rute-rute gemuk, seperti rute London, Singapura, Hong Kong, Los Angeles, dan Dallas ke Sydney serta beberapa kondisi juga terbang ke Melbourne.

Simple Flying melaporkan, dengan dikirimnya Airbus A380 ke-10, praktis, Qantas hanya menyisakan dua pesawat superjumbo lainnya. Namun, bukan berarti pesawat dipersiapkan untuk melayani penerbangan premium jarak jauh ataupun jarak dekat, melainkan pesawat tengah melakukan beberapa perbaikan interior atau retrofit di Dresden, Jerman.

Bila pada bulan Maret lalu, maskapai yang memiliki nama panjang Queensland and Northern Territory Aerial Services (Qantas) tersebut berencana menggrounded hingga enam bulan mendatang atau September 2020, kali ini, Qantas berpikir untuk menggrounded A380 selama tiga tahun ke depan, atau bahkan lebih lama dari itu.

Keputusan Qantas mengirim pesawat ke kuburan pesawat di Amerika Serikat tentu agak aneh, mengingat, Australia sebetulnya juga mempunyai salah satu ‘kuburan’ pesawat ternama di dunia, Bandara Alice Springs (ASP).

Alice Springs terletak persis di tengah benua Australia atau beberapa ratus kilometer jauhnya dari ibu Kota Sydney atau wilayah terkenal lainnya di Australia, seperti Melbourne, Adelaide, Brisbane, atau bahkan Perth.

Wilayah Alice Springs dikelilingi oleh pedalaman gurun yang luas. Praktis wilayah ini selalu kering dan sedikit hujan, tidak ada badai, angin Timur dengan kecepatan 13 km per jam, tingkat kelembaban relatif rendah, sekitar 25 persen. Kelembaban udara dinilai menjadi poin krusial mengapa ASP menjadi tempat ideal untuk menggrounded pesawat dibanding wilayah lainnya mengingat pesawat bisa saja menjadi korosi atau berkarat dibuatnya.

Baca juga: Ada Gambar Logo Kanguru Qantas di Langit dalam Penerbangan Boeing 747-400 Terakhir

Hanya saja, ASP saat ini dinilai tak cukup besar untuk menampung pesawat superjumbo A380. Sebab, saat ini, gurun yang memiliki suhu cenderung stabil di angka 30 °C itu telah dipenuhi oleh pesawat-pesawat dari maskapai lain semisal Singapore Airilines Group (SIA). Salah satu maskapai terbaik di dunia itu saat ini total telah mengirim 11 pesawat.

Dengan digroundednya semua pesawat A380, Qantas akan beralih ke A350 dan Boeing 787 Dreamliner dalam rute-rute jarak jauh. Lagi pula, dalam beberapa waktu ini, Qantas mungkin tak akan bisa memaksimalkan jaringan internasional mereka, mengingat Australia masih menutup diri dari dunia internasional akibat pandemi Covid-19 yang masih mengganas di Negeri Kanguru itu.

“Ferizy,” Mudahkan Penumpang Beli Tiket Kapal Ferry Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk

Tak hanya kereta api dan pesawat terbang saja yang membeli tiketnya melalui pemesanan online, tetapi moda laut seperti kapal ferry juga ikut ambil bagian. Di mana PT ASDP Indonesia Ferry menghadirkan aplikasi Ferizy untuk memudahkan layanan penyeberangan seperti pembelian tiket perjalanan dari pelabuhan keberangkatan hingga tiba di tujuan.

Baca juga: Update PSBB, ASDP Layani 688.836 Unit Truk Logistik di 7 Cabang Utama

Apalagi di masa pandemi Covid-19, pembelian tiket melalui online bisa membantu mengurangi tatap muka antar penumpang dan petugas yang berjaga di loket pembelian. Direktur utama PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi mengatakan pihaknya terus mengimbau kepada masyarakat agar mempersiapkan perjalanan ferry dengan lebih baik dengan melakukan reservasi dan membeli tiket secara online melalui www.ferizy.com atau aplikasi Ferizy.

cara pembatalan tiket kapal ferry secara online melalui aplikasi Ferizy (PT ASDP Indonesia Ferry)

Untuk melakukan pembelian tiket online ini, Ira mengatakan baru bisa dipesan oleh penumpang yang akan melintas dari Merak menuju Bakauheni atau sebaliknya dan Ketapang menuju Gilimanuk atau sebaliknya. Tiket yang dibeli melalui aplikasi H-60 hingga maksimal tiga jam sebelum keberangkatan.

Pembelian tiket online secara mandiri melalui website maupun aplikasi sangat mudah, dan pencatatan manifest terkait data asuransi yang menjadi hak pengguna jasa juga semakin akurat. Dengan pembelian melalui aplikasi, penumpang tidak perlu mengantri di pelabuhan karena hanya perlu menscan dengan barcode yang didapat ketika pembelian online.

Kemudian setelah itu, penumpang akan mendapat boarding pass untuk naik kapal. Bisa dikatakan, aplikasi Ferizy sendiri memiliki keunggulan yang sama karena yang sebelumnya hanya website. Pelanggan pun bisa mengunduh aplikasi Ferizy di ponsel Android di Play Store. Sedangkan untuk pengguna iOS saat ini masih dalam proses dan dalam waktu dekat diperkirakan sudah ada.

Aplikasi Ferizy sendiri merupakan besutan Telkom dan tren pembelian tiket secara online saat ini terus meningkat seiring gaya hidup masyarakat yang cenderung bertransaksi elektronik dalam kegiatan konsumsi. Kehadiran penjualan tiket online ini, membuat tidak adanya penjualan secara Go Show atau langsung beli di loket seperti dahulu.

Namun saat ini pihak ASDP masih memiliki penjualan tiket Go Show untuk sementara waktu sembari terus mengedukasi penumpang dengan pembelian tiket online melalui aplikasi Ferizy atau websitenya. Selain melalui website dan aplikasi, pengguna jasa kini dapat membeli tiket ferry di seluruh gerai Alfamart sebagai mitra resmi penjualan tiket ASDP dengan biaya admin mulai dari Rp1000 sampai dengan Rp5 ribu disesuaikan dengan jumlah nominal per transaksi.

Baca juga: Hentikan Sementara Penjualan Tiket Penumpang, ASDP Hanya Layani Logistik

Untuk diketahui, ketika penumpang yang memiliki tiket dan akan melakukan pembatalan bisa langsung melalui aplikasi ataupun website. Penumpang tinggal mengklik riwayat pemesanan dan ada menu refund. Uang pengembalian tiketnya akan ditransfer ke pelanggan rata-rata maksimal 30 hari setelah pembatalan.