Terinspirasi Sarung Tangan Baseball, Airbag Lansiran Honda ini Siap Diluncurkan di 2020

Produsen otomotif kenamaan asal Jepang, Honda, mengungkapkan bahwa mereka memiliki teknologi airbag terbaru yang masih dalam pengembangan. Dengan tujuan untuk menjamin keselamatan penumpang, fokus tambahan dari Honda sendiri adalah agar airbag ini bisa lebih ‘defensif’ melindungi penumpang dari tabrakan yang berasal dari sudut-sudut kendaraan – baik tabrakan antar kendaraan atau dengan benda lain.

Baca Juga: Bila Tak Cermat, Airbag Justru Bisa Membayakan Anda

Airbag ini sendiri merupakan bagian dari rangkaian proyek Honda yang akan dirilis di Amerika Serikat pada tahun 2020 mendatang dan ditujukan untuk mengurangi angka kematian di jalan akibat kecelakaan.

“Teknologi airbag baru ini merupakan upaya berkelanjutan Honda untuk meningkatkan keselamatan penumpang dalam berbagai skenario kecelakaan, dan membuktikan bahwa teknisi kami merefleksikan pola pikir yang inovatif untuk menekan angka cidera dan kematian akibat kecelakaan lalu lintas,” ungkap Jim Keller, Honda R&D Americas President, dikutip KabarPenumpang.com dari laman hotcars.com (25/8).

“Berpegang teguh pada prinsip ‘Safety for Everyone’, para teknisi kami di Honda sadar betul bahwa apa yang mereka kerjakan sekarang akan membawa dampak luas di luar sana dalam jangka waktu yang panjang,” tandas Jim.

Di sini, teknisi Honda berupaya untuk meminimalisir tekanan lateral yang mungkin dapat diterapkan pada bagian kepala pengemudi dan penumpang yang ada di bagian depan kendaraan. Selain itu, airbag juga didesain lebih besar yang bertujuan untuk memberikan ruang lebih kepada kepala penumpang atau pengemudi – seperti sebuah sarung tangan baseball.

Jika airbag pada umumnya menggunakan single inflatable section, maka itu akan berbeda dengan yang tengah dikembangkan oleh Honda ini, dimana akan ada empat komponen utama yang tersemat di dalamnya, tiga sisi airbag yang berfungsi untuk menampung kepala penumpang (satu di bagian muka, dan dua lainnya pada bagian pinggir), dan sailpanel yang berfungsi seperti sarung tangan baseball tadi.

Baca Juga: 30 Tahun Airbag Hadir Untuk Keselamatan Dunia Otomotif

Apabila sewaktu-waktu terjadi kecelakaan, seharusnya airbag kembangan Honda ini bisa dengan sempurna ‘menangkap’ kepala penumpang layaknya sarung tangan baseball. Jika skema ini terlaksana dengan sempurna, maka ada banyak ratusan nyawa di luar sana yang bisa selamat dari kecelakaan.

 

Dorong Antikorupsi, KPK dan MRT Jakarta Tempel Stiker “Berani Jujur Hebat” di Kereta Prioritas

PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta bekerja sama dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengkampanyekan nilai-nilai antikorupsi. Adanya kampanye ini disambut baik oleh Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar, bahkan dirinya berharap kampanye tersebut tidak hanya berdampak di MRT saja tetapi masyarakat daerah lain.

Baca juga: Rilis “Park and Ride South Quarter,” MRT Jakarta Kolaborasi dengan Intiland Development

“Hari ini MRT Jakarta dengan KPK kita mendapatkan dukungan ya untuk melaksanakan sebagian dari program mendorong antikorupsi di kawasan MRT Jakarta dan lewat proses kerja sama ini nantinya akan dilewatkan stiker atau iklan layanan masyarakat oleh seluruh pimpinan. Nanti bisa kita lihat di stasiun,” ujar William di Stasiun MRT Bundaran Hotel Indonesia (HI).

Stiker nilai-nilai antikorupsi di kereta MRT Jakarta (KabarPenumpang.com)

Tak hanya penempelan stiker ‘Berani Jujur Hebat’ di dalam kereta MRT, William mengatakan, kampanye antikorupsi ini juga akan ada di layar LED yang ada di stasiun MRT. Salah satunya yang KabarPenumpang.com pantau adalah di LED Stasiun Blok M yang diputar selama 15 detik.

“Di blok M itu nanti kita bisa melihat selain yang ditempel di tempat duduk, juga akan ada dalam tampilan LED. Saya juga mau lihat ini juga baru dipasang kemarin. Jadi, sekali lagi, terima kasih karena kita akan dukung sepenuhnya upaya melakukan kampanye,” ujar William.

Menurutnya, nilai-nilai antikorupsi ini bisa terlihat pada budaya antre yang baik. Selain itu karyawan MRT juga tidak diperkenankan meneripa tip sebagai bentuk kampanye antikorupsi.

William mengatakan, memberikan tip tidak diperkenankan dan sudah dipesankan kepada seluruh jajaran. Dia mengatakan, pihaknya hanya menerima yang diterima setiap bulan seperti gaji. Sebab ini adalah tanggung jawab.

Adanya kolaborasi ini, KPK yang dihadiri oleh Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif mengatakan, dilakukannya pemasangan stiker ini secara bersama karena berpikir, antikorupsi bukan hanya dibutuhkan KPK tetapi juga untuk MRT. Dia menyebutkan, mulai dari masalah planning hingga pemanfaatannya pun KPK selalu ingin bekerja sama dengan MRT.

Baca juga: Pelajari Keunggulan Seoul Metro, MRT Jakarta Kembangkan Kapasitas Operasi dan Sistem Pemeliharaan

“MRT itu menjadi simbol baru juga, menjadi simbol dunia usaha yang betul-betul memperhatikan nilai-nilai integritas dan antikorupsi sejak awal. Oleh karena itu, kami juga berharap agar para pengguna MRT itu juga adalah orang-orang baik,” kata Laode.

Ingatkan untuk Perbaiki Hijab Penumpang, Aplikasi Ride-Hailing Iran Malah Diboikot!

Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Peribahasa tersebut agaknya tepat untuk menggambarkan situasi yang sempat memanas di Iran belakangan ini, dimana sempat terjadi boikot besar-besaran terhadap pionir aplikasi ride-hailing di Iran, Snapp. Berawal dari perselisihan antara pengemudi dan penumpang, siapa sangka insiden ini bisa berbuntut panjang dan cukup masif.

Baca Juga: Sering Tertukar, Ini Dia Perbedaan Antara Ride-Sharing dan Ride-Hailing

Insiden ini bermula ketika seorang pengemudi Snapp bernama Saeed Abed berusaha untuk mengingatkan penumpang wanitanya untuk membetulkan hijab yang terlepas dari kepalanya. Di sini, Saeed hanya berupaya untuk menegakkan hukum yang berlaku di Iran, yang menyebutkan bahwa setiap wanita diwajibkan untuk menutup auratnya dengan mengenakan kerudung dan baju yang longgar.

Tidak terima diceramahi, wanita ini lalu beradu argumen dengan Saeed sebelum pada akhirnya turun dari mobil yang ditumpanginya tersebut. KabarPenumpang.com mengutip dari laman aljazeera.com, kejadian yang diperkirakan terjadi pada 6 Juni 2019 kemarin ini dengan cepat menjadi buah bibir warganet setelah penumpang terkait mengungkapkan apa yang baru ia alami di media sosial Twitter – disertakan dengan nama dan foto Saeed, sang pengemudi.

Singkat cerita, cuitan sang penumpang wanita yang tidak diterima ini telah dihapus karena alasan yang tidak disebutkan – namun screen capture dari cuitannya ini sudah kadung tersebar. Pro dan kontra mewarnai insiden yang (sebenarnya) berlandaskan dari suatu hal yang baik ini.

Banyak publik di luar sana yang menyanjung aksi dari Saeed yang mengindikasikan bahwa ia adalah seorang warga negara yang patuh dan selalu berusaha untuk menegakkan peraturan yang ada. Namun tidak sedikit juga dari warganet yang menilai aksi dari Saeed ini terlalu personal untuk dilontarkan kepada seorang penumpang.

Baca Juga: Seberapa Perlu Layanan Ride-Sharing Merata di Berbagai Daerah?

Saking viralnya, Saeed sampai-sampai dipuji sebagai Pahlawan dan diundang ke stasiun TV milik Pemerintah sebagai buah manis dari upayanya untuk menegakkan syariat Islam. Namun viralnya Saeed menjadi awalan dari aksi boikot terhadap aplikasi Snapp – tempat Saeed bekerja. Warganet yang kontra terhadap aksi heroik Saeed ini berbondong-bondong menghapus aplikasi Snapp dari ponsel pintar mereka.

Tagar #BoycottSnapp dan #WeDeleteSnapp yang menyerukan aksi boikot ini juga sempat menjadi trending di Iran untuk beberapa hari. Tidak diketahui pasti berapa angka tepat dari penurunan aplikasi terunduh dari Snapp ini, namun satu yang pasti, hal sepele bisa saja menjadi viral dengan sangat mudah.

 

 

 

 

 

Data Organisasi Perdagangan Inggris Tunjukkan Sektor Aviasi Global Tengah Melemah

Pasca jatuhnya dua pesawat Boeing berjenis 737 MAX 8 yang dioperasikan oleh Lion Air dan Ethiopian Airlines, industri penerbangan global ternyata mengalami pasang surut yang cukup fluktuatif. Selain pasar yang sempat didominasi oleh Airbus – rival abadi Boeing, ternyata pengiriman pesawat secara keseluruhan juga mengalami penurunan yang cukup signifikan. Wah, siapa sangka buntut dari dua kecelakaan yang hanya berselang lima bulan ini sampai panjang begini?

Baca Juga: Boeing 737 Sabet Predikat Sebagai Pesawat Terlaris Sepanjang Sejarah Aviasi Global

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman theguardian.com (26/8), organisasi perdagangan yang mewakili industri dirgantara, pertahanan, keamanan dan ruang angkasa asal Inggris, ADS menyebutkan bahwa hanya ada 88 unit pesawat yang dikirim pada periode Juli 2019. Angka tersebut menyusut sebesar 24 persen ketimbang bulan Juli tahun lalu. ADS menyebutkan bahwa penyusutan angka pengiriman pesawat ini diakibatkan oleh penurunan produksi dan grounded massal dari pesawat single-aisle, Boeing 737.

Sebanyak 716 pesawat telah dikirimkan sepanjang tahun 2019 ini, namun angka tersebut masih 11 persen lebih rendah ketimbang tahun 2018 kemarin. Munculnya fakta ini berbarengan dengan revisi prediksi jumlah pesawat yang dikirim pada tahun 2019 yang dirilis oleh ADS: dari 1.789 unit menjadi 1.489 unit.

Industri kedirgantaan global memang tengah lesu-lesunya belakangan ini – tepatnya setelah jatuhnya Boeing 737 MAX 8 milik Lion Air dengan nomor penerbangan JT-610 di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat pada 29 Oktober 2018 dan Boeing 737 MAX 8 yang dioperatori oleh Ethiopian Airlines (ET-302) yang jatuh di Bishoftu, Ethiopia pada 10 Maret 2019. Jika ditotal, jumlah korban meninggal dari dua insiden mematikan ini lebih dari 300 orang.

Terlepas dari dua insiden di atas, demonstrasi besar-besaran yang terjadi di Hong Kong beberapa waktu ke belakang juga turut menyumbang presentase yang cukup signifikan pada melemahnya permintaan perjalanan udara.

Tapi jika ditimbang dari fakta yang terpapar di atas, menurunnya angka pengiriman pesawat tersebut tidak lepas dari peranan vital Boeing yang selama ini menyumbangkan presentase angka yang cukup besar bagi sektor aviasi global. Bagaimana tidak, jagad kedirgantaraan global – terutama di kelas pesawat jet narrow-body dan wide body, di duopoli oleh Airbus dan Boeing.

Baca Juga: CRAIC CR929, Kolaborasi Rusia dan Cina di Pasar Pesawat Wide-Body

Kedigdayaan dua perusahaan beda benua ini memang sangat sulit untuk diruntuhkan. Saking sulitnya untuk diruntuhkan, Rusia dan Cina sampai bekerja sama di bawah satu payung China-Russia Commercial Aircraft International Corporation (CRAIC) dalam mengembangkan CR929, pesawat wide-body yang kabarnya siap untuk menggusur tahta dua perusahaan tersebut.

Kembali lagi, walaupun sudah terpuruk pasca jatuhnya uda unit 737 MAX 8, tapi Boeing merupakan ‘pemain lama’ yang sudah punya pasarnya sendiri, dan sulit untuk diruntuhkan begitu saja.

Diterjang Badai “RUU Ekstradisi,” Sampai Kapan Cathay Pacific dapat Bertahan?

Demo massa terkait RUU Ekstradisi yang terjadi di Hong Kong hingga kini masih mengalami pasang surut – kadang memanas, kadang landai. Namun satu yang pasti, demo ini sudah hampir berjalan lima bulan dan telah merugikan banyak pihak. Di sini, maskapai terbesar di Hong Kong, Cathay Pacific menjadi perusahaan yang cukup banyak menyumbang demonstran, sekaligus menjadi salah satu perusahaan yang tak luput dari protes massa yang mencapai ribuan personil tersebut. Namun siapa sangka bahwa demo ini bisa membawa Cathay ke ambang kehancuran?

Baca Juga: Mayoritas Pilot dan Awak Kabin Dukung Aksi Protes, Cathay Pacific Tujuan Cina Daratan Terancam Lumpuh

Confederation of Trade Unions (CTU) atau konfederasi serikat buruh sebelumnya telah menyuarakan protes mereka di hadapan markas besar Cathay. Protes ini berlangsung setelah pemberitaan tentang pemutusan hubungan kerja dari ketua Hong Kong Dragon Airlines Flight Attendants’ Association, Rebecca Sy. Lalu, mengapa pemberhentian hubungan kerja Rebecca ini bisa menjadi satu pemicu ampuh untuk meruntuhkan kejayaan Cathay Pacific?

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (26/8), aksi massa yang memprotes pemberhentian hubungan kerja Rebecca ini hanyalah segelintir dari variabel yang bisa menggiring Cathay Pacific ke ambang kehancuran. Bagaimana tidak, seperti yang sudah disinggung di atas, maskapai yang tergabung di dalam aliansi penerbangan Oneworld ini merupakan salah satu penyumbang massa terbesar dalam aksi protes terhadap RUU Ekstradisi ini – diperkirakan lebih dari 2.300 karyawan Cathay Pacific telah bergabung dalam aksi protes, diantaranya 1.200 orang merupakan pilot dan awak kabin.

Bukan tidak mungkin jika seorang penting seperti Rebecca ini akan turut ‘menyerap’ karyawan Cathay untuk tidak mengabdi lagi kepada pihak perusahaan.

Belum lagi putusan pihak maskapai untuk menangguhkan penjualan tiket penerbangan dari Hong Kong International Airport – markas dari Cathay Pacific yang terjadi pada kisaran minggu ketiga bulan Agustus kemarin.

Faktor lain yang juga bisa ‘menenggelamkan’ Cathay Pacific adalah fakta bahwa 24 destinasi domestik Cathay Pacific adalah menuju Cina daratan – seperlima dari semua penerbangan yang dilayani oleh Cathay. Mengutip dari laman South China Morning Post, jalur Cina dan Hong Kong menghasilkan lebih dari setengah pendapatan Cathay Pacific pada 2018 – yaitu HK$57 miliar dari total pendapatan keseluruhan Cathay Pacific yang mencapai HK$111 miliar.

Ditambah dengan ketakutan awak kabin untuk mengudara ke Cina daratan, dimana seorang diantaranya (yang ingin tetap anonim) mengungkapkan bahwa penggeledahan yang dilakukan oleh otoritas Cina daratan meninggalkan kesan buruk kepadanya.

Mengutip dari laman sumber lain, saham Cathay Pacific pun sudah jelas mengalami penurunan. Dibukukan pada 12 Agustus 2019 kemarin, saham Cathay terjun bebas lebih dari empat persen – dimana kondisi ini mendekati level terendah saham maskapai dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Baca Juga: Situasi Tak Kunjung Kondusif, Cathay Pacific Tangguhkan Penjualan Tiket di Hong Kong

Saham Cathay Pacific anjlok ke level 9,82 dollar Hong Kong pada sesi awal perdagangan. Ini merupakan level terendah sejak Oktober 2018 dan hampir mencapai level terburuk sejak krisis keuangan global pada 2009.

Para analis yang enggan acuh terhadap carut marut masalah RUU Ekstradisi ini mengatakan bahwa penurunan saham ini juga akan berpengaruh terhadap, “penerbangan ke Eropa, dan tidak menutup kemungkinan akan berpengaruh juga terhadap penerbangan maskapai ke Amerika, karena mereka terbang di wilayah udara Cina,” terang analis.

Kalau sudah seperti ini, berapa lama Cathay Pacific akan mampu bertahan menerpa badai bertubi RUU Ekstradisi?

 

 

Cek Sekarang! Singapore Airlines Larang MacBook Pro Jenis Tertentu Masuk Kabin

Bagi Anda yang kemarin sudah berjibaku untuk mendapatkan tiket penerbangan Singapore Airlines dengan harga miring di perhelatan SQ-BCA Travel Fair 2019, ada satu hal yang patut Anda perhatikan nih! Adalah regulasi terbaru yang dirilis oleh pihak maskapai yang menyebutkan bahwa ada beberapa jenis MacBook Pro yang dilarang untuk masuk ke dalam kabin termasuk kargo. Regulasi ini menyusul pernyataan dari pihak produsen laptop, Apple yang bakal menarik semua laptop keluaran lama tersebut.

Baca Juga: Masih dengan BCA, Singapore Airlines Gelar Travel Fair di Beberapa Kota!

Kebijakan ini diambil pihak maskapai guna mengikuti arahan dari European Union Aviation Safety Agency dan Federal Aviation Administration (FAA) yang melarang jenis laptop tersebut di dalam semua penerbangannya.

Melalui sebuah pengumuman yang diumumkan pihak maskapai melalui situs resminya pada Minggu (25/8/2019), maskapai berkode SIA ini mengatakan bahwa para penumpang diharapkan untuk tidak membawa model MacBook Pro yang dimaksud terlebih dahulu sampai laptop terkait sudah diverifikasi dan dinyatakan sebagai barang yang aman untuk di bawa ke dalam penerbangan.

“Dihimbau kepada penumpang untuk meninjau langsung situs resmi Apple guna mendapatkan informasi terkait program recall (penarikan kembali) ini ,” tulis pihak SIA terkait pengumuman tersebut.

Pukul mundur ke bulan Juni 2019 kemarin, dimana pihak Apple mulai melakukan penarikan jenis MacBook Pro 15-inch secara sukarela karena disinyalir dapat menimbulkan risiko keamanan. Menurutnya, unit laptop yang ditarik secara sukarela ini dijual pada rentang September 2015 hingga Februari 2017. Semua laptop yang dirilis pada rentang waktu tersebut dapat diidentifikasi melalui nomor serinya.

Baca Juga: Laptop Anda Diperiksa di Bandara? Jangan Keburu Panik!

Nah, jika MacBook Pro Anda termasuk ke dalam kelompok laptop yang di-banned oleh Singapore Airlines, Anda tidak perlu khawatir karena Apple membebas-biayakan pergantian baterai yang menjadi inti dari permasalahan ini.

Untuk mengetahui apakah MacBook Pro Anda perlu diganti baterai atau tidak, Anda bisa mengklik “About This Mac” pada menu Apple yang ada di sudut kiri atas layar laptop. Lalu masukkan nomor seri laptop pada laman tersebut untuk mengecek apakah laptop Anda perlu diganti baterai atau tidak.

 

Amtrak Hiawtha Punya Gerbong Kereta Baru dengan Fasilitas Modern di 2020

Pelancong yang akan menikmati keindahan antara Milwaukee dan Chicago sebentar lagi bisa menikmati gerbong kereta baru dari Amtrak Hiawtha. Ini didapatkan setelah Departemen Transportasi (DOT) Wisconsin dihibahkan US$25,7 juta dari Federal Railroad Administration.

Baca juga: Armada Masuk Masa Pensiun, Amtrak Keluarkan Proposal Peremajaan Lokomotif

Dana hibah ini merupakan bagian dari program perbaikan yang disponsori oleh pemerintah. Dengan dana tersebut, negara bagian itu akan membeli enam gerbong dan tiga lainnya dari dana anggaran.

Pembelian gerbong-gerbong kereta ini untuk menggantikan yang sudah mendekati masa akhir dan memiliki biaya perawatan yang mahal. Nantinya gerbong-gerbong baru ini akan dilengkapi dengan fasilitas baru dan canggih yang akan digunakan pada delapan rute Amtrak Midwest.

“Ini adalah berita bagus bagi penumpang kami. Kereta ini sendiri akan dirilis ke publik pada akhir tahun 2020. Kereta baru ini memiliki kapasitas tempat duduk yang lebih besar ketimbang yang sebelumnya,” kata Craig Thompson, Sekretaris-WisDOT designee yang dikutip KabarPenumpang.com dari journaltimes.com (25/8/2019).

Amtrak Hiawatha adalah kereta tersibuk di Midwest dan tersibuk kesembilan di negara ini, melayani hampir 860 ribu penumpang pada 2018, dan ridership telah tumbuh sebesar 6 persen pada semester pertama tahun 2019. Selain peningkatan kapasitas, gerbong-gerbong baru ini juga dikabarkan lebih hemat bahan bakar, memiliki biaya perbaikan yang lebih rendah, memiliki fasilitas yang lebih andal dan memiliki aksesibilitas bagi penumpang disabel.

“Peralatan kereta ini mendukung peningkatan frekuensi layanan yang direncanakan di koridor Milwaukee-Chicago yang tumbuh cepat dan secara substansial akan meningkatkan layanan kereta penumpang antarkota. Ini memajukan tujuan Amtrak untuk memperluas dan meningkatkan layanan koridor dan menetapkan lebih banyak catatan penumpang,” kata Direktur Senior Amtrak Ray Lang.

Baca juga: Liam Neeson Suguhkan Aksi Thriller Terbarunya di Kereta Amtrak

Layanan Hiawatha, didukung oleh Departemen Transportasi (DOT) Wisconsin dan Illinois, adalah bagian dari Amtrak Midwest, jaringan kereta api regional yang menghubungkan kota-kota di seluruh Midwest. Layanan Hiawatha dan kereta Amtrak Midwest menawarkan akomodasi premium dengan kursi malas dengan tempat duduk dua sisi yang luas, meja nampan, lampu baca, wi-fi gratis, toilet yang luas, dan outlet listrik, kata rilis itu.

Disuruh Melempar Anaknya dari Jendela, Penumpang Ini Menangis dan Turun dari Bus

Seorang ibu bersama anaknya yang tengah bepergian dengan menggunakan bus di Dublin terpaksa turun sembari menangis karena ulah salah seorang penumpang. Sang ibu, Gabrysia Perka bersama anaknya yang berusia satu tahun, Abel duduk di dek atas bus nomor 67. Keduanya tengah dalam perjalanan dari Celbridge di Co Kildare menuju ke pusat kota Dublin di Irlandia.

Baca juga: ‘Bangunkan’ Anak dengan Tusuk Gigi, Penumpang MRT Singapura Viral di Medsos

KabarPenumpang.com melansir dari laman thesun.co.uk (23/8/2019), Gabrysia membawa Abel naik ke dek atas, karena ada lebih banyak pemandangan yang bisa dilihat oleh anaknya tersebut. Ketika itu tiba-tiba seorang pria marah dan menyuruh Gabrysia melemparkan anaknya keluar.

Diketahui, Abel melempar telepon miliknya ke lantai saat mengamuk di dalam bus. Gabrysia mengatakan pria yang marah itu juga menamai Abel kecil sebagai “bocah”. Penumpang berteriak: “Lemparkan saja dia ke luar jendela. Itu akan menjadi hal terbaik baginya. ”

Dia kemudian membentak penumpang lain: “Yah, dia tidak akan melempar telepon, itu pasti.”

“Dia [Abel] suka duduk di lantai atas karena ada lebih banyak pemandangan untuk dilihat. Kemudian dia menjadi agak kesal, seperti yang dialami semua anak, tidak ada yang akan menenangkannya. Pria paruh baya ini naik dan putra saya melemparkan telepon saya ke lantai,” ujar Gabrysia.

Dia mengatakan, pria tersebut berbalik dan meneriaki ‘Anak nakal yang kamu miliki’. Setelah beberapa menit Gabrysia akhirnya memutuskan turun karena dirinya sadar kalau anaknya tidak tenang pria tersebut akan mengatakan sesuatu lagi.

“Dan saat aku berjalan dia berkata, ‘Kamu harus melemparnya ke luar jendela’,” ungkapnya.

Dirinya yang turun tersebut mengatakan pada pengemudi tentang hal yang menimpa dirinya ketika berada di dek atas. Kemudian pengemudi itu naik dan menghadapi penumpang pria tersebut. Penumpang itu mengeluh pada pengemudi bahwa anak tersebut melempar telepon dan berteriak diteliganya.

“Ini bayi kawan, Apa masalahnya? Itu anak-anak,” kata pengemudi.

Kemudian ketika penumpang tersebut meminta maaf kepada pengemudi, sang pengemudi menjawab, “Jangan minta maaf padaku, minta maaf padanya, dia di sana menangis”.

Baca juga: Bentak Bayi Menangis di Penerbangan, PNS Wanita Ini Terancam Kehilangan Pekerjaan!

Tetapi ternyata Gabrysia mengatakan, bahwa penumpang pria itu tidak minta maaf dan meninggalkan bus beberapa saat kemudian. Diketahui, insiden ini direkam oleh bibi anak itu dan di unggah Gabrysia ke media sosial miliknya.

Otoritas Rusia Terpaksa ‘Mutilasi’ A321 Ural Airlines yang Lakukan Hard Landing di Ladang Jagung

Anda masih ingat dengan Ural Airlines yang pada pertengahan Agustus kemarin terpaksa melakukan pendaratan darurat di ladang jagung pasca diterjang bird strike? Nah, kini pemberitaan terbaru terkait insiden tersebut mengatakan bahwa pesawat tersebut sudah berhasil dievakuasi dari ladang jagung yang terletak di daerah Moskow, Rusia. Namun, mungkin sebagian dari Anda bertanya-tanya, “bagaimana cara memindahkan sebuah pesawat yang terdampar di ladang jagung?”

Baca Juga: Mesin Dihantam Bird Strike, Airbus A321 Ural Airlines Hard Landing di Ladang Jagung

Tentu saja ini bukanlah pekerjaan yang mudah untuk dilakukan, mengingat untuk memindahkan mobil dari ladang jagung saja dibutuhkan effort yang besar. Untuk menjawab pertanyaan tadi, KabarPenumpang.com mengutip dari laman crimerussia.com (25/8/2019), dimana proses evakuasi pesawat berjenis Airbus A321 ini dilakukan dengan cara membelah pesawat menjadi beberapa bagian guna memudahkannya.

Menurut kantor berita kenamaan asal Negeri Beruang Merah, TASS, Airbus A321 Ural Airlines dengan nomor penerbangan U6178 ini sudah berhasil dievakuasi dan tidak dioperasikan kembali oleh pihak maskapai.

“Proses evakuasi sudah selesai yang ditandai dengan dikeluarkannya bagian kabin dari area ladang jagung tersebut,” ungkap pihak TASS.

“Kabin merupakan bagian terakhir dari U6178 yang dikeluarkan dari area ladang,” lanjutnya.

Kendati sudah tidak akan beroperasi kembali, namun puing-puing pesawat ini tidak akan dipajang di museum atau dijadikan cinderamata, mengingat status pesawat ini adalah pesawat sewaan, “dan berada di bawah kendali pabean,” terang salah satu teknisi dari Ural Airlines.

Sebelumnya, Airbus A321 milik maskapai Ural Airlines dengan nomor penerbangan U6178 sejatinya akan mengudara dari Moskow menuju Simferopol di Krimea pada Kamis (15/8/2019) lalu. Semuanya berjalan sesuai SOP sampai tak berselang lama setelah tinggal landas, pesawat yang tengah mengangkut 226 penumpang ini diterpa bird strike.

Baca Juga: Dihantam Bird Strike, Hidung Airbus A380 Singapore Airlines Berlumuran Darah

Sontak mesin mengalami kerusakan dan tidak mungkin untuk melanjutkan penerbangannya. Dengan cepat, pilot berupaya untuk melakukan pendaratan darurat – alih-alih pesawat mengalami kecelakaan dan menewaskan keseluruhan penumpang dan awak yang ada di dalam penerbangan tersebut.

Dilaporkan, ada 76 penumpang yang mengalami cidera pasca hard landing di ladang jagung. Kendati begitu, beruntung tidak ada korban jiwa dibalik insiden ini.

Pasca kejadian ini juga, sang pilot dianugerahi penghargaan “Heroes of Russia” karena telah secara profesional menyelamatkan nyawa ratusan penumpang.

 

 

Duh! Penyandang Tiga Medali Emas Paralympian Games Terjebak di Pintu Kereta

Penyandang disabilitas selalu dibedakan dengan orang normal lainnya. Hal ini membuat mereka selalu merasa terdiskriminasi. Apalagi ketika penyandang disabilitas menggunakan fasilitas dan menaiki kendaraan umum dan tidak ada petugas yang membantu mereka.

Baca juga: Raih Kemenangan Untuk Negara, Paralimpian Justru Dinistakan di Kereta

Baru-baru ini seorang Paralympian Sophie Christiansen yang pernah memenangkan tiga medali emas di Paralympic Games 2012 dan 2016 yang memiliki cerbral palsy pulang dan menangis. Dilansir KabarPenumpang.com dari bbc.com (22/8/2019), Shopie saat itu tengah bepergian dengan layanan South West Railway (SWR) dari London ke Godalming di Surrey.

Dirinya terjebak diantara pintu yang akan ditutup dan membuat penumpang lain membantu untuk membuka pintu dengan cara menahan agar dirinya bisa turun.

“Inilah yang terjadi ketika saya kembali semalam setelah @SW_Help mengatakan mereka mengatakan kepada penjaga saya di kereta. Saya pulang ke rumah dan menangis. Akhirnya saya sadar bahwa masyarakat tidak akan berubah untuk membuat layanan benar-benar dapat diakses. Saya harus menerima diskriminasi sepanjang hidup saya,” tulisnya di akun Twitter.

Bahkan dirinya merekam kejadian tersebut dan mengunggah di akun Twitter miliknya. Dalam rekaman dia berkata meminta operator kereta untuk mendapatkan sistem yang lebih baik bagi para penyandang disabilitas.

Setelah beberapa menit dibantu seorang penumpang yang menahan pintu, akhirnya seorang penjaga stasiun terlihat datang dengan jalan untuk membantu Sophie turun dari kereta. Seorang juru bicara SWR mengatakan, pihaknya sangat menyesal atas perasaan Nona Sophie setelah perjalanan hari Rabu.

“Meskipun kami berhasil membantu puluhan ribu pelanggan setiap tahun, bahkan satu perjalanan yang gagal terlalu banyak. Bantuan penumpang yang tidak dipesan adalah bidang yang menantang bagi industri kereta api secara keseluruhan dan SWR tidak berbeda. Kami bekerja keras dengan kolega industri dan RDG (Rail Delivery Group) dalam berinvestasi dalam teknologi dan proses untuk mencoba dan menghentikan ini terjadi,” kata juru bicara tersebut.

Pihaknya mengaku telah berbicara dengan Sophie untuk meminta maaf dan memastikan mempelajari semua yang mungkin terjadi untuk mencegah hal sama terulang. Ceri Smith menajer kebijakan dan kampanye di Cakupan amal kesetaraan mengatakan, terlalu banyak penyandang disabilitas harus menghadapi pengalaman yang menyedihkan dan menegangkan seperti ini.

“Ini sangat mengecewakan karena regulator kereta api telah memperkenalkan panduan untuk memastikan penumpang cacat dapat mengandalkan staf yang muncul saat mereka dibutuhkan. Perusahaan kereta perlu segera bertindak berdasarkan pedoman ini untuk menghentikan orang-orang cacat yang terdampar di kereta,” kata dia.

Dominic Lund-Conlon, kepala aksesibilitas dan inklusi RDG mengatakan, pihaknya ingin membuat kereta api lebih mudah diakses oleh lebih banyak orang dan tulus meminta maaf ketika penyandang disabilitas tidak dapat memperoleh layanan yang mereka harapkan saat bepergian dengan kereta api.

“Sangat penting bagi setiap orang yang bekerja di kereta api agar penumpang memiliki kepercayaan diri untuk melakukan perjalanan mereka dan kami bekerja bersama untuk mengubah dan meningkatkan sekarang dengan meningkatkan stasiun, membawa ribuan gerbong baru yang lebih mudah diakses di jalur dan mempercepat proses pemesanan penumpang bantuan,” kata Dominic.

Baca juga: Lantaran Tak Diberikan Kursi Roda, Penumpang Disabilitas Alami Patah Tulang Saat Ke Toilet

Diketahui ketika dirinya meninggalkan London, Sophie sempat menuliskan di Twitternya, “Terima kasih banyak untuk dua orang yang mengangkat kursi roda saya ke kereta ketika saya tidak dapat menemukan anggota staf @LondonWaterloo untuk mendapatkan jalan.”