Mengekor FAA, Qantas dan Virgin Australia Larang MacBook Pro 15-inch Masuk Kargo

Menyusul regulasi pelarangan membawa laptop MacBook Pro 15-inch yang telah terlebih dahulu dirilis oleh Singapore Airlines beberapa hari ke belakang, kini dua maskapai asal Negeri Kangguru, Qantas dan Virgin Australia juga dikabarkan telah menerapkan regulasi serupa. Sama halnya seperti Singapore Airlines, pihak Qantas dan Virgin Australia juga tidak merilis tenggat waktu pemberlakuan peraturan ini.

Baca Juga: Cek Sekarang! Singapore Airlines Larang MacBook Pro Jenis Tertentu Masuk Kabin

“Sampai pemberitahuan lebih lanjut, semua Apple MacBook Pro 15-inch harus dibawa serta oleh penumpang ke dalam kabin dalam kondisi mati selama penerbangan,” tulis pihak Qantas dalam keterangan tertulisnya, dikutip KabarPenumpang.com dari laman zdnet.com (28/8).

Pemberitahuan serupa juga dilayangkan pihak Virgin Australia, dengan dalih “tindak pencegahan. Keamanan dan keselamatan penumpang serta awak kabin merupakan prioritas kami,”

Menurut pihak Virgin Australia, peraturan ini mengikuti penarikan Apple Macbook 15-inch rilisan tahun 2015 yang berlaku di seluruh dunia. Keputusan kedua maskapai ini menyusul regulasi yang diberlakukan oleh Federal Aviation Administration (FAA) terhadap MacBook Pro 15-inch rilisan Apple di dalam setiap penerbangan.

“Karena ini merupakan laptop generasi lama, jadi dikhawatirkan kondisi baterai yang terlalu panas dapat memicu kebakaran di dalam penerbangan,” terang pihak Apple menanggapi ‘regulasi tambahan’yang mulai diberlakukan oleh sejumlah maskapai nomor wahid ini.

Selain Singapore Airlines, Qantas, dan Virgin Australia, satu maskapai lain yang juga telah menerapkan peraturan ini adalah Thai Airways.

Masih hangat dalam ingatan beberapa waktu lalu, sejumlah otoritas bandara dan maskapai melarang penumpang untuk mengoperasikan jenis ponsel pintar Samsung Galaxy Note 7 selama penerbangan. Produsen elektronik asal Korea Selatan ini pada akhir tahun 2016 silam mengatakan bahwa Samsung Galaxy Note 7 memiliki baterai yang cacat produksi sehingga mudah meledak dan terbakar.

Baca Juga: Laptop Anda Diperiksa di Bandara? Jangan Keburu Panik!

Sebelumnya, pihak Apple telah mulai melakukan penarikan jenis MacBook Pro 15-inch ini secara sukarela karena disinyalir dapat menimbulkan risiko keamanan. Menurutnya, unit laptop yang ditarik secara sukarela ini dijual pada rentang September 2015 hingga Februari 2017. Semua laptop yang dirilis pada rentang waktu tersebut dapat diidentifikasi melalui nomor serinya.

Untuk mengetahui apakah MacBook Pro Anda perlu diganti baterai atau tidak, Anda bisa mengklik “About This Mac” pada menu Apple yang ada di sudut kiri atas layar laptop. Lalu masukkan nomor seri laptop pada laman tersebut untuk mengecek apakah laptop Anda perlu diganti baterai atau tidak.

 

 

Pasca Kebakaran Airbus A330 di Bandara Beijing, Air China Terancam Denda Rp3,4 Triliun

Pesawat Airbus A330-300 milik Air China yang terbakar pada Selasa (27/8) sore kemarin mungkin tidak akan beroperasi kembali di waktu yang akan datang. Ini disebabkan oleh kerusakan yang cukup parah bada bagian depan pesawat – tempat dimana kepulan asap hitam pertama kali terlihat membumbung. Padahal, pesawat dengan nomor registrasi B-5958 ini usianya masih tergolong ‘muda’ – kurang dari lima tahun.

Baca Juga: Mayday! Mayday! Airbus A330-300 Air China Terbakar di Beijing International Airport!

Dikabarkan, sudah ada sekitar 100 penumpang yang masuk ke dalam kabin dan mereka kaget ketika melihat lampu pendeteksi api menyala merah sekitar pukul 17.30 waktu setempat. Sontak, mereka langsung dievakuasi keluar dari pesawat, dibantu oleh awak kabin. Beruntung, tidak ada korban jiwa atau luka akibat insiden ini, walaupun ancaman denda kepada pihak Air China sudah menanti di depannya.

Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman asiatimes.com (28/8), pihak Air China bisa saja dikenakan denda hingga 1,7 miliar yuan atau yang setara dengan Rp3,4 triliun hanya jika pihak maskapai terbukti telah mengkompromikan faktor keselamatan struktural pesawat. Dugaan sementara, api berasal dari baterai lithium yang tersimpan di kompartemen kargo – diduga milik salah satu dari penumpang pesawat dengan nomor penerbangan CA-183 tersebut.

Para peneliti percaya bahwa benda-benda penghantar listrik seperti baterai lithium dapat dengan sangat mudah terbakar dan diklasifikasikan sebagai benda berbahaya.

Insiden terbakarnya A330-300 milik Air China ini lalu dikorelasikan dengan jatuhnya pesawat Boeing 747-400 milik UPS Airlines Flight 6 pada September 2010 lalu, dimana kala itu, pesawat tengah mengangkut muatan baterai lithium dalam jumlah besar. Sebelum jatuh, saksi mata melihat pesawat ini sempat terbakar sebelum akhirnya crashed di dekat Dubai.

Baca Juga: Yang Menarik dari Air China – Terobsesi Gunakan Pesawat Produksi Dalam Negeri

Pasca kejadian jatuhnya UPS Airlinres Flight 6, Federal Aviation Administration (FAA) mengeluarkan regulasi yang melarang maskapai penerbangan penumpang untuk membawa baterai lithium dalam jumlah banyak.

Kembali ke persoalan Air China, pihak maskapai juga telah menghubungi Airbus terkait insiden ini, agar supaya pihak produsen pesawat bisa mengirim teknisi guna memeriksa lebih lanjut penyebab kebakaran ini.

Hadapi Anak dengan Keterbelakangan Mental, Penumpang dan Awak Kabin, Tunjukkan Kesabaran Tingkat Dewa!

Dibutuhkan kesabaran yang amat sangat ketika menghadapi anak yang mengidap keterbelakangan mental – terlebih ketika ia berkendara dengan menggunakan moda transportasi berbasis massal. Pada artikel sebelumnya, sudah pernah dibahas bahwa anak berkebutuhan khusus ini akan lebih terlihat diam ketika berkendara, karena mereka merasa takut dan cemas. Sama seperti yang dialami oleh penumpang United Airlines yang kebetulan tengah mengudara bersama anaknya yang mengidap keterbelakangan mental.

Baca Juga: Bawa Anak Autis Dalam Penerbangan? Ini Dia Tipsnya!

Seperti yang dapat Anda bayangkan, Braysen Gabriel – sang anak mengamuk sejadi-jadinya selama pesawat hendak melakukan proses take-off. Ketakutanlah yang menjadi penyebab anak berusia empat tahun ini mengamuk.

“Ia berteriak, memukul, menendang, dan menarik rambut saya,” tutur Lori Gabriel, Sang Ibu, dikutip KabarPenumpang.com dari laman metro.co.uk (27/8).

Lori yang pada awal bulan Agustus kemarin hendak pergi dari San Diego menuju Texas ini sempat merasa tidak enak hati, mengingat amukan Braysen dikhawatirkan akan mengganggu kenyamanan penumpang lain yang ada di penerbangan tersebut.

Lori Gabriel. Sumber: metro.co.uk

“Mungkin mereka akan menyesal telah membeli tiket penerbangan ini dan bertemu dengan kami,” ungkapnya.

Namun apa yang ada di benak Lori tidaklah benar – karena smeua penumpang dan awak kabin yang ada di penerbangan tersebut benar-benar sabar menghadapi Braysen.

“Penumpang yang tidak sengaja tertendang oleh Braysen tidak mempermasalahkannya, pun dengan awak kabin yang jalannya terhalang, mereka sangatlah sabar,” lanjut Lori.

Salah satu dari awak kabin United lalu menghampiri Lori untuk menawarkan bantuan dan membawa Braysen menuju First Class – tempat yang lebih nyaman ketimbang kelas yang diduduki oleh Lori.

Di First Class, amukan Braysen masih belum juga mereda. Ia kembali mengamuk dan tidak sengaja menendang penumpang lain. Namun hebatnya lagi, penumpang yang tertendang tersebut tidak malah memperkarakannya.

Baca Juga: Bagi Penderita Autis, Ternyata Naik Kereta Merupakan ‘Cobaan’ Berat 

“Penumpang itu berkata, anak ini bisa menendang bangku saya selama penerbangan, dan saya tidak ada masalah dengan itu,” tandas Lori sembari mengenang kesabaran penumpang yang ada di penerbangan tersebut.

Satu lagi momen yang tidak bisa dilupakan oleh Lori adalah ketika ia dan Braysen tiba di Texas, Lori mendapatkan sebuat surat dari penumpang wanita yang tidak sengaja tertendang oleh Braysen. Surat yang ternyata dibuat oleh awak kabin United yang sedang tidak bertugas itu sangatlah mengiris hati Lori.

“Anda sangat kuat dalam menghadapi anak Anda. Jangan jadikannya (Braysen) sebagai sesuatu yang mengganjal hati Anda. Anak ini adalah berkat dari Tuhan. Teruslah menjadi wanita kuat! Salam hangat, keluarga United.”

Terintegrasi Jak Lingko, Naik Bus TransJakarta Lebih Hemat

Pengguna transportasi umum seperti bus TransJakarta kini akan dimudahkan dengan adanya integrasi bernama Jak Lingko yang merupakan transformasi program Ok-Otrip. Adanya kemudahan integrasi yakni dimana penumpang yang naik mikrotrans dengan tarif Rp0 akan bisa terintegrasi dengan bus TransJakarta dan dikenakan tarif Rp5 ribu.

Baca juga: Hapus Mesin EDC untuk Pembayaran, TransJakarta Tambah Reader TOB di Bus Pengumpan

KabarPenumpang.com yang menghubungi pihak Humas TransJakarta dijelaskan, bahwa adanya tarif Rp5 ribu yang terintegrasi antara TransJakarta dengan mikrotrans merupakan skema tiga jam. Dimana dikatakan pihak humas TransJakarta, penumpang yang naik mikrotrans kemudian berpindah ke bus TransJakarta akan dikenakan tarif normal Rp3500, kemudian dalam tiga jam naik lagi maka hanya dikenakan Rp1500.

“Misal naik mikrotrans ini 0 rupiah, pindah ke Cililitan naik Transjakarta koridor 10, tap in di kartu Rp3500 terpotong. Sampai di PGC belanja dulu belum sampai tiga jam balik lagi pulang. Nah ketika tapping di halte hanya Rp1500 terpotongnya, jadi Rp5 ribu dalam tiga jam,” kata Kepala Divisi Sekretaris Korporasi dan Humas Transjakarta, Nadia Diposanjoyo.

Dia mengatakan saat ini ada 1231 armada mikrotrans yang sudah melayani 48 rute dan kedepannya target TransJakarta bisa mencapai 6360 armada hingga tahun 2020 mendatang. Nadia menambahkan, Jak Lingko sendiri adalah transformasi OK-Otrip yang merupakan sistem transportasi yang terintegrasi baik rute, manajemen hingga pembayaran.

Integrasi ini sendiri tidak hanya antar mikrotrans, bus kecil, bus medium hingga bus besar di TransJakarta, tetapi juga melibatkan transportasi berbasis rel yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seperti MRT dan LRT.

Dalam kesempatan itu, Nadia juga memaparkan kalau pihaknya terus melakukan sosialisasi intensif kepada masyarakat. Salah satunya dengan menggandeng Dinas Pendidikan Pemprov DKI Jakarta. Menurutnya transportasi publik yang terintegrasi memberikan rasa aman bagi anak-anak ketika pergi sekolah.

Baca juga: Skybridge MRT Jakarta Hubungkan Poins Square dan Halte TransJakarta

Pun dari sisi lingkungan, penggunaan kendaraan umum memungkinkan keselamatan anak Lebih baik sehubungan dengan tidak perlunya mereka membawa kendaraan ke sekolah. Nadia berharap, dengan adanya sistem integrasi ini kedepannya juga akan memudahkan masyarakat yang akan bepergian dan dengan tarif integrasi yang sudah disesuaikan.

[18+] Hampir Separuh Pramugari di Jerman Pernah Alami Pelecehan Seksual!

Siapa di antara Anda di sini yang pernah atau masih bercita-cita menjadi seorang pramugari? Bisa berkeliling dunia, memiliki pendapatan yang cukup besar, dan dapat bertemu dengan orang-orang baru merupakan segerintil keuntungan yang akan Anda dapatkan ketika menjadi seorang pramugari. Tapi tahukah Anda bahwa seorang pramugari merupakan salah satu pekerjaan yang ‘rawan’ akan pelecehan seksual?

Baca Juga: Pasca Pelecehan Pada Awak Kabin, EVA Air Siap ‘Banned’ Penumpang yang Berperilaku Tak Pantas

Di Jerman, hampir 50 persen pramugari pernah menjadi objek pelecehan seksual. Angka ini tentu saja menjadi ironi tersendiri mengingat betapa dieksploitasinya image seorang pramugari yang identik dengan baju serba ketat dan terkadang tidak seronok ini. Belum lagi sejumlah iklan yang dibuat oleh pihak maskapai yang menyertai awak kabin (pramugari) dan menambahkan bumbu vulgar pada iklan tersebut. Sampai sini saja, image pramugari sudah cukup untuk dijadikan fantasi oleh pria hidung belang.

KabarPenumpang.com mengutip dari laman paddleyourownkanoo.com, sebuah survei yang dilakukan oleh Independent Flight Attendant Organization (UFO) yang mewakili awak kabin di Lufthansa, Eurowings dan Condor menghasilkan angka 49,6 persen yang mengaku pernah menjadi objek pelecehan seksual ketika mereka bertugas.

Fakta lain yang lebih mengejutkan adalah setengah dari presentase tersebut dilakukan oleh onboard supervisors, sementara penumpang menyumbang seperempat dari presentase yang sama. Sebagian besar dari pelecehan seksual ini terjadi ketika pesawat berada di udara, dan 37 persennya terjadi ketika pramugari tengah layover.

Tidak hanya di Negeri Bavaria saja, pelecehan sekual di dunia aviasi juga marak terjadi di Negeri Paman Sam, dimana sebuah survei berbeda menujukkan bahwa dua pertiga awak kabin yang beroperasi di sana pernah mengalami pelecehan seksual sepanjang karir mereka.

Mengintip dari data yang dirilis tahun lalu saja, sebanyak 35 persen pramugari mengaku pernah mendapatkan pelecehan seksual verbal dari penumpang. Mirisnya, dua pertiga dari presentase tersebut tidak melihat suatu upaya yang serius dari pihak maskapai untuk mengentaskan masalah ini.

Baca Juga: Kerap Alami Pelecehan, Cathay Pacific Bakal Ganti Seragam Awak Kabin

Diperlukannya pengawasan lebih terhadap penyebaran iklan yang menayangkan pramugari dan setiap maskapai harus berupaya untuk menghapuskan citra seksualitas seorang wanita pada awak kabin. Setidaknya langkah ini dapat meminimalisir pelecehan seksual terhadap pramugari.

Selain kontrol dari pihak perusahaan, kontrol pribadi juga harus mulai diterapkan oleh setiap penumpang dan lapisan masyarakat lain yang berhubungan langsung dengan awak kabin. Niscaya, angka ini akan perlahan menurun dan lambat laun akan menghilang.

Umumkan Tender Pengadaan Media Buyer, PT TransJakarta Canangkan Pendapatan Iklan Rp100 Miliar Per Tahun

Meski usianya jauh lebih muda, namun PT MRT Jakarta sudah lebih dulu mendulang pemasukan dari iklan yang terpasang di kereta dan stasiun. Dan tak ingin ketinggalan, BUMD PT TransJakarta hari ini resmi mengumumkan dibukanya tender mitra media buyer untuk program implementasi iklan pada ribuan armada bus TransJakarta.

Baca juga: Hapus Mesin EDC untuk Pembayaran, TransJakarta Tambah Reader TOB di Bus Pengumpan

Dalam jumpa media hari ini (28/8), Direktur Utama PT TransJakarta Agung Wicaksono menyebutkan bahwa mulai tahun ini TransJakarta sudah mencanangkan untuk memperoleh pendapatan di luar tiket. Untuk menunjang misi memproleh pendapatan tersebut, PT TransJakarta mengundang mitra media buyer yang akan merencanakan dan mengatur kerja sama dengan pihak pengiklan.

Karena merupakan bentuk kerja sama yang strategis, PT TransJakarta memberikan pra syarat yang ketat untuk memilih media buyer. Diantara yang dikemukakan adalah media buyer sudah punya pengalaman minimal 3 tahun dalam program iklan di luar ruangan, matang dalam melakukan branding OOH (Out of Home), berkedudukan di Jabodetabek dan sanggup memberikan signing fee minimal Rp20 miliar bila telah dinyatakan sebagai pemenang.

“Pihak media buyer yang nantinya akan mencarikan pengiklan yang tepat sesuai pasar, namun perlu jadi catatan, pemasang iklan tidak diperkenankan memilih rute dan jadwal bus untuk placement iklan,” ujar Agung. Alasannya ternyata sederhana, beda dengan MRT Jakarta yang rutenya sudah ‘paten,’ setiap bus di TransJakarta dapat berganti-ganti wilayah penugasan rutenya, belum lagi untuk jadwal bus yang nantinya masuk dalam masa pemiliharaan. “Jadi penempatan iklan sepenuhnya adalah TransJakarta yang mengatur di 1.521 bus,” tambah Agung.

Saat ditanya tentang proyeksi pendapatan, Agung menyebut minimal Rp100 miliar dapat dihasilkan dalam satu tahun. Pola kerjasama yang ditawarkan kepada media buyer adalah profit sharing, dimana TransJakarta mensyaratkan minimal pendapatan kotor 70 persen.

Baca juga: TransJakarta Punya Rute Baru Setiap Bulan, Bagaimana Integrasi dengan Mikrolet?

Bagi media buyer yang berminat, dipersilahkan mengirim proposal ke nfb@transjakarta.co.id paling lambat sampai 3 September 2019. Rencananya pada 12 September akan diumumkan siapa pihak yang lolos kualifikasi dan dilanjutkan beauty contest yang digelar pada 27 September sampai 10 Oktober 2019. Bila semua proses lancar, maka pada 11 Oktober 2019 pemenang tender akan diumumkan. Untuk jangka waktu kerjasama ditetapkan selama periode 3 tahun.

Mayday! Mayday! Airbus A330-300 Air China Terbakar di Beijing International Airport!

Sebuah pesawat Airbus A330-300 milik Air China dilahap oleh si jago merah ketika tengah ‘bersandar’ di Beijing Capital International Airport pada Selasa (27/8) kemarin. Kepulan asap menandai terbakarnya pesawat yang hendak mengoperasikan rute penerbangan dari Beijing menuju Tokyo ini. Dikabarkan, kepulan asap mulai keluar ketika pesawat selesai mengoperasikan rute penerbangan Singapura – Beijing dengan nomor penerbangan CA976.

Baca Juga: Lima Poin Ini Jadi Kunci Keselamatan Saat Pesawat Alami Crash Landing

KabarPenumpang.com merangkum dari sejumlah laman sumber, melihat asap yang semakin membumbung tinggi dari dalam pesawat dengan nomor registrasi B-5958 ini, penumpang yang hendak boarding sontak langsung putar arah dan kembali menuju terminal. Beruntung, tidak ada korban jiwa maupun luka atas insiden ini.

Sejumlah petugas pemadam pun dengan sigap langsung berupaya untuk memadamkan api dan penerbangan menuju Tokyo Haneda tersebut terpaksa mengalami keterlambatan. Menurut penuturan sejumlah saksi, kepulan asap ini muncul dari dek kargo bagian depan pesawat.

Baca Juga: Berakibat Buruk Saat Penerbangan,14 Poin Ini Kerap Dianggap Sepele

Menanggapi hal ini, pihak maskapai mengatakan: “Asap disinyalir berasal dari ruang penyimpanan kargo dari CA183 yang akan mengoperasikan rute penerbangan Beijing – Tokyo. Ground crew dan petugas tanggap darurat berhasil memadamkan asap, sementara kami masih melakukan penyelidikan lebih lanjut terkait penyebab insiden ini. Kami meminta maaf atas ketidaknyamanan yang terjadi,” tulis pihak maskapai dalam sebuah pernyataan resmi.

Pihak maskapai juga menjelaskan bahwa ketika insiden ini berlangsung, tidak ada penumpang yang berada di dalam kabin, dan “Pihak bandara langsung mengaktifkan protokol tertentu untuk menangani situasi ini. Saat ini, bandara sudah mengoperasikan penerbangan sesuai jadwal,”

Dikabarkan, pesawat A330-300 milik Air China ini mengalami kerusakan yang cukup parah pasca insiden ini.

Penumpang yang berhasil mengabadikan momen menegangkan ini langsung mengunggahnya di berbagai laman media sosial dan menjadi topik hangat perbincangan. Pihak maskapai juga tidak memberikan keterangan lebih lanjut terkait penumpang yang mengalami penundaan penerbangan ini.

 

Demi Efisiensi, Garuda Indonesia Hapus Jatah Menginap Awak Kabin di Rute Sydney dan Melbourne

Tunduk pada regulasi merupakan hal wajar bagi setiap pekerja, tidak terkecuali awak kabin suatu maskapai. Namun apa jadinya jika regulasi tersebut malah terkesan merugikan dan terlalu memaksakan? Hal inilah yang tengah hangat diperbincangkan oleh segelintir orang di luar sana, menyikapi langkah yang ditempuh maskapai plat merah Garuda Indonesia yang kabarnya akan mengurangi fasilitas awak kabin yang terbang dari Jakarta menuju Sydney dan Melbourne.

Baca Juga: Inilah Penyebab Ketika Pilot Benar-Benar Kelelahan!

“Kami sedang menguji coba penjadwalan atau penugasan awak kabin rute Australia, yaitu rute Sydney dan Melbourne menjadi rute pulang pergi sehingga tidak perlu stay,” ujar VP Corporate Secretary Garuda Indonesia Ikhsan Rosan, dikutip KabarPenumpang.com dari laman kontan.co.id (27/8).

Tidak perlu stay di sini, yang dimaksud Ikhsan adalah awak kabin nantinya tidak akan mendapatkan lagi fasilitas menginap di hotel. Ia menjelaskan, Garuda Indonesia melakukan itu sebagai bagian dari proses kajian berkelanjutan atas semua aspek bisnis dan operasi perusahaan. Maksudnya, untuk menjadikan pergerakan awak pesawat dan operasional penerbangan semakin efektif dan efisien, demi menunjang operasional penerbangan yang semakin dinamis.

Baik penerbangan dari Jakarta menuju Sydney atau Melbourne sama-sama memakan waktu perjalanan kurang lebih 6 jam 30 menit hingga 7 jam. Di sini, seorang awak kabin Garuda Indonesia akan bekerja minimal 14 jam ditambah masa istirahat bila on duty di rute penerbangan seperti Jakarta – Sydney atau Melbourne pulang pergi.

Ikhsan sendiri mengatakan bahwa peraturan penerbangan internasional mengijinkan seorang awak bekerja sampai maksimal 18 jam dalam sehari.

“Jadi, ini bukan dalam kaitan efisiensi, ya. Tapi lebih pada efektivitas operasional penerbangan,” terang Ikhsan.

Kendati terdengar ‘sadis’ dan membuat awak kabin Garuda Indonesia (mungkin) akan ogah untuk bertugas di rute penerbangan tersebut, namun Ikhsan menjelaskan bahwa pihaknya selalu memperhatikan faktor kesiapan dan kenyamanan awak kabin dalam bertugas. Caranya, dengan mengatur jadwal penerbangan yang berkaitan dengan jam kerja awak kabin.

Baca Juga: 9 Kali Sehari, Garuda Indonesia Lakukan Codeshare dengan Singapore Airlines

Ketika mengkonfirmasi rencana Garuda Indonesia ini, pengamat kedirgantaraan Indra Setiawan mengatakan, “oke kalau semuanya serba on-time, tapi bagaimana jadinya jika ada delay yang ujung-ujungnya bakal melebihi jam kerja awak kabin? Itu juga harus diperhatikan,” ujarnya kepada KabarPenumpang.com.

Indra juga menambahkan, bukan tidak mungkin jika kebijakan seperti ini juga akan diterapkan pada rute penerbangan lain yang memiliki jam terbang tidak jauh berbeda seperti rute Jakarta – Sydney atau Melbourne.

“Kembali ke jam terbang awak kabin, selama tidak melebihi jam kerjanya, ya it’s okay. Mungkin nantinya (jika skema penerbangan ini sudah beroperasi) jam off-duty awak kabin akan ditambah,” tandas mantan Direktur Utama Garuda Indonesia ini.

Namun terlepas dari semua rencana ini, Garuda Indonesia sudah kadung membukukan kerugian sebesar US$175 juta atau yang setara dengan Rp2,45 triliun (kurs Rp 14.004/US$) di tahun 2018 silam. Apakah pengurangan fasilitas awak kabin ini merupakan salah satu langkah yang dilakukan oleh emiten penerbangan BUMN untuk melakukan penghematan?

 

Setimpalkah Hambatan Ekspor Biodiesel ke Eropa Diganjar dengan Penghentian Impor dari Airbus?

Apakah Anda masih ingat dengan pernyataan Menko Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan yang pada pertengahan tahun 2018 kemarin mengindikasikan bahwa Indonesia akan menghentikan impor pesawat Airbus dan beralih menggunakan Boeing? Ya, pernyataan ini merupakan reaksi pemerintah terhadap aksi sepihak yang dilakukan oleh Eropa yang menghambat ekspor biodiesel asal Indonesia. Namun dalam rentang waktu setahun, ada banyak kejadian terjadi dan belakangan ini, isu serupa kembali mencuat.

Baca Juga: Pilihan Pengadaan Pesawat, Mengapa Maskapai Pilih Airbus dan Boeing?

Adalah Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita yang kali ini menabuh genderang perang dengan Benua Biru. Masih bermuara pada akar permasalahan yang sama, kini opsi balas dendam pihak RI turut menyeret Bos Lion Air, Rusdi Kirana yang diketahui memiliki pesanan armada Airbus dalam jumlah yang cukup banyak.

Penerapan bea masuk untuk produk biodiesel asli Indonesia ke Benua Biru agaknya terlalu ‘mencekik’ dan hal ini membuat Menteri Enggertiasto menjadi geram. Diklaim, pihak Kementerian Perdagangan telah melayangkan surat keberatan ke World Trade Organization (WTO) terkait hal ini. Terlepas dari latar belakang ‘perang dingin’ ini, apakah sektor aviasi domestik mampu beroperasi tanpa armada berlabel Airbus?

KabarPenumpang.com mengutip dari laman simpleflying.com (25/8), total ada 219 pesanan unit Airbus dari tiga maskapai Tanah Air: 113 unit A320-200neo dan 65 unit A321-200neo milik Lion Air, dua unit A320neo dan 14 unit A330-900neo milik Garuda Indonesia, dan 25 unit A320neo milik Citilink.

Ketiga maskapai dalam negeri ini mempercayakan produksian Airbus untuk menyediakan pesawat narrow-body. Semisal benar skema serangan yang dilancarkan Pemerintah Indonesia ini akan berdampak pada penghentian impor produk Airbus, lalu jenis armada apa yang akan dioperasikan untuk mengakomodir pangsa pasar penerbangan narrow-body dalam negeri?

Pertanyaan ini semakin menguat pasca grounded massal dari Boeing 737 MAX yang dalam kasus ini menjadi rival apple-to-apple dari keempat varian pesawat Airbus di atas. Memang, pihak Boeing mengatakan bahwa varian 737 MAX akan kembali mengudara di tahun 2020. Tapi apa jadinya jika rencana tersebut meleset dan sialnya, Boeing 737 MAX tidak mendapat sertifikasi untuk kembali mengangkut penumpang?

Mungkin opsi lain jatuh pada penggunaan armada ‘black horse’ seperti Bombardier dan merk dagang ‘tier II’ lainnya. Namun agaknya hal tersebut terlalu berisiko mengingat kedigdayaan Boeing dan Airbus di sektor aviasi global sudah kadung mendarah daging dan sulit untuk diruntuhkan.

Belum lagi permasalahan teknis seperti suku cadang, biaya perawatan, hingga kecekatan teknisi lapangan dalam merawat dan memperbaiki armada selain Boeing dan Airbus. Sedikit banyaknya, ini juga menjadi pertimbangan yang harus dipikirkan matang-matang.

Bak Daud melawan Goliath, nampaknya dalam kasus ini pihak Indonesia sudah terlalu terburu-buru dalam mencetuskan pernyataan. Sebaliknya, mungkin efek penghentian impor dari Indonesia ini (mungkin) tidak membawa dampak yang signifikan terhadap perusahaan – mengingat masih banyak maskapai di luar sana yang antre untuk mendapatkan armada dari perusahaan asal Uni Eropa ini.

Baca Juga: Tarung Keluarga Boeing 737 vs Keluarga Airbus A320, Siapa yang Akan Menang?

Agaknya hal ini tidak akan menjadi masalah yang terlalu berarti jika Airbus dan Boeing masih berada dalam posisi yang sejajar (sama-sama masih bersaing untuk mendistribusikan pesawat). Namun jatuhnya dua unit Boeing 737 MAX 8 yang dioperasikan oleh Lion Air dan Ethiopian Airlines menjadi pertanda bahwa pamor Boeing ‘menukik’ jauh meninggalkan Airbus.

Menurut Anda, apakah aksi sepihak Uni Eropa ini pantas diganjar dengan ‘hukuman’ penghentian impor Airbus?

 

Remaja Putri dengan Layanan “Pengawasan” Justru Tertinggal di Bandara San Francisco

Seorang anak berusia 13 tahun menangis ketika ditemukan sendirian di Bandara San Francisco. Remaja putri tersebut ditemukan oleh seorang pria yang tak disebutkan namanya. Saat itu remaja tersebut sendirian dan tertekan sehingga sang pria mengizinkan untuk menggunakan ponselnya agar bisa menghubungi ortangtuanya.

Baca juga: Gadis Kecil Usia 5 Tahun Tertinggal di Bandara Setelah Keluarganya Pulang Berlibur

Dilansir Kabarpenumpang.com dari laman simpleflying.com (26/8/2019), sang orang tua setelah mendapat telepon dari anaknya karena sendirian dan tak tahu harus berbuat apa, lantas mereka meminta pria yang menolong putrinya tersebut ke bagian konter Alaska Airlines dan meminta maskapai menghubungi. Menurut orang tua remaja tersebut maskapai akhirnya mengakui bahwa mereka kehilangan anak selama masa singgah.

Hal ini menjadi kontradiksi langsung dengan kebijakan maskapai di situs web mereka dan menyatakan bahwa setelah menyerahkan anak Anda kepengasuhan Alaska Airlines akan tetap berada dibawah kepengawasan staf setiap saat.

“Kami memberikan setiap anak yang bepergian sendiri dengan potongan identitas unik yang harus mereka kenakan setiap saat selama berada dalam perawatan kami. Anak usia 13 tahun yang mendapat layanan monitor adalah opsional dan seorang anak dapat bepergian sendiri,” tulis maskapai tersebut di web.

Adanya insiden ini membuat Alaska Airlines memberikan tanggapan, dimana mereka melakukan investigasi yang mencakup catatan spesifik dengan melacak pergerakan penumpang.

“Sementara kami memperhatikan penumpang remaja kami sepanjang waktu untuk memahami bahwa dia mungkin merasa tidak diawasi di daerah yang ramai dan untuk itu kami sangat menyesal. Kami juga berpikir bisa melakukan pekerjaan yang lebih baik berkomunikasi dengannya,” kata Alaska Airlines.

Setelah mengeluarkan pernyataan ini, maskapai telah mengembalikan biaya kepada orang tua yang masih mengejar kompensasi tambahan. Diketahui, remaja putri ini bepergian sendirian dari Raleigh di North Carolina melalui San Francisco menuju ke Spokane di Washington awal pekan ini.

Baca juga: Bayi Tertinggal di Ruang Boarding, Ibu Panik dan Pesawat Terpaksa “Return to Base”

Orang tuanya telah membayar biaya tambahan $75 kepada pihak maskapai sebagai bagian dari layanan bagi penumpang remaja yang pergi tanpa pendampingan. Layanan ini mencakup penjagaan terhadap anak yang bepergian sendiri dari gerbang awal hingga ke tujuan dengan aman dan selamat