Sukses Uji Bus Otonom, Singapura Siap Operasionalkan di 3 Distrik Tahun Depan

Singapura menjadi negara kedua di belakang Amerika Serikat dalam kesiapan untuk menggunakan transportasi tanpa pengemudi (otonom) dalam skala besar. Bahkan rencanaya akan ada tiga distrik yang mulai menggunakan bus otonom tersebut pada 2020 mendatang.

Baca juga: Kolaborasi Volvo dan NTU, Singapura Sukses Uji Coba Bus ‘Besar’ Otonom Pertama di Dunia

KabarPenumpang.com melansir laman bangkokpost.com (28/8/2019), baru-baru ini Singapore Technologies Engineering (ST Engineering) mulai menguji empat kendaraan otonom mereka di distrik pantai Sentosa. Saat itu, penumpang yang ikut mencoba harus dihadapi oleh petugas bus yang memeriksa sabuk pengaman mereka.

Uji coba ini akan berlangsung hingga 15 November 2019 mendatang dan diawasi ketat oleh perusahaan teknologi serta pembuat mobil di seluruh dunia setelah adanya serangkaian kecelakaan. Kementerian Transportasi Singapura mengatakan dalam pernyataannya bersama ST Engineering bahwa keselamatan publik menjadi prioritas utama.

Tan Nai Kwan, kepala insinyur robotika di Sistem Tanah ST Engineering, mengatakan tes itu menegangkan, tetapi menekankan tindakan pencegahan keamanan yang diambil. Pada hari uji coba pertama, tepatnya Senin (26/8/2019), semak-semak di tepi jalan yang tertiup angin dan pelancong yang berkeliaran di pantai sudah cukup untuk memicu banyak sensor bus.

Ini bahkan membuat bus berhenti saat berjalan di sepanjang jalanan yang sepi. Tan mengatakan, binatang yang paling berbahaya yang ditemukan ketika uji coba adalah burung merak yang terbang tanpa diduga ke jalanan.

Tak hanya di jalanan saja, bus otonom ini pun diuji coba di sekitar kampus yang ada di Singapura. Tan mengatakan, dengan kemajuan teknologi, rencananya pengemudi pindah ke pusat kendali jarak jauh meski begitu, dirinya tidak menetapkan jangka waktu untuk hal itu.

Diketahui, tahun 2016 lalu sebuah mobil otonom yang tengah diuji coba di Singapura bertabrakan dengan sebuat truk ketika tengah berganti jalur. Meski tidak ada yang terluka kala itu, tetapi kecelakaan serupa di Amerika Serikat sudah berakibat fatal.

Namun, beberapa wisatawan pemberani yang berhasil menavigasi layanan berdasarkan permintaan pada hari pertama uji coba di Singapura tampaknya tidak terganggu oleh navigator robot mereka.

Baca juga: ComfortDelGro Uji Coba Bus Otonomnya di National University of Singapore

“Ini sangat keren tetapi pada saat yang sama rasanya mirip dengan bus normal. Kurasa itu hal yang baik, tidak terlalu mengejutkan. Mungkin lebih aman daripada berada di tangan beberapa manusia,” kata Stephen Byrne, seorang siswa berusia 20 tahun dari Irlandia.

Frontier Airlines, Maskapai LCC yang Halalkan Awak Kabin Terima Tip dari Penumpang

Bagi sebagian penumpang, nampaknya memesan minuman atau makanan di pesawat merupakan suatu ‘blunder’ yang sebisa mungkin tidak dilakukan – mengingat harganya yang begitu mencekik. Namun bagi mereka yang berkantong tebal dan kondisi yang memaksa, memesan penganan di pesawat bukanlah suatu hal yang berarti banyak – bahkan tidak sedikit dari mereka yang kadang menghadiahi tip bagi awak kabin yang melayaninya.

Baca Juga: Tipping Layakkah Diberikan Pada Awak Kabin?

Berbicara soal tipping, pada artikel sebelumnya sudah diberitakan bahwa awak kabin sudah mendapatkan bayaran yang cukup tinggi dari pihak maskapai – tidak seperti pegawai restoran atau kafe yang juga biasanya mendapatkan tip dari pengunjung. Namun kembali lagi, memberikan tip merupakan kebebasan dari setiap orang – selama tidak memaksa awak kabin yang bersangkutan untuk menerimanya.

Seorang pengamat perjalanan, Gary Leff mengatakan, “Cara lain untuk menunjukkan penghargaan Anda terhadap sebuah pekerjaan yang dilakukan dengan baik adalah meluangkan waktu untuk menulis surat kepada pihak maskapai mereka tentang layanan mereka, yang bisa jauh lebih banyak dilihat orang daripada uang US$10 sebagai tip,”

Jadi kesimpulan soal tipping ini adalah, bukan tidak boleh memberikan tip kepada awak kabin, melainkan ada cara lain yang bisa dilakukan untuk mengapresiasi kinerja mereka – tidak melulu dengan sejumlah uang.

Tapi, jangan kira tipping semacam ini selalu diberikan terlebih dahulu oleh penumpang. Di awal tahun 2019 kemarin, maskapai penerbangan berbiaya murah (LCC/Low Cost Carrier) asal Amerika Serikat, Frontier Airlines menerapkan regulasi baru pada mobile apps mereka, dimana ada fitur baru untuk memberikan tip kepada awak kabin yang bertugas.

Tertera pilihan tip yang dapat disisihkan penumpang – 15 persen, 20 persen, hingga 25 persen. Persenan tip tersebut akan dikalikan dengan total nilai belanja penumpang selama penerbangan. Ambil contoh, penumpang berbelanja di atas pesawat dengan nilai US$5. Berarti opsi besaran tip yang bisa diberikan kepada awak kabin mulai dari 15 persen, 20 persen, hingga 25 persen dari US$5 tadi.

Tapi, penumpang juga bisa memilih untuk tidak memberikan tip atau memberi lebih dari opsi yang tersedia tersebut.

Baca Juga: Jangan Ganggu Awak Kabin Bila Tak Ingin Dapatkan Reaksi Tak Mengenakkan

Menanggapi hal ini, pihak Frontier mengatakan, “regulasi ini mulai efektif per 1 Januari 2019, awak kabin berhak mendapatkan tip atas apa yang mereka jual,”

Wah, ternyata kasus ‘mengemis’ seperti ini bukanlah satu-satunya yang pernah terjadi di dunia transportasi. Anda mungkin masih ingat dengan tip yang juga bisa diberikan penumpang kepada driver GoJek melalui saldo GoPay yang Anda miliki.

Miskomunikasi, Seorang Ayah Hadiahkan Dua Unit Airbus A350-1000 untuk Ultah Anaknya!

Jika Anda tidak sengaja menjatuhkan barang pecah belah di sebuah toko dan Anda terpaksa harus membelinya, mungkin itu adalah suatu kasus yang lumrah dan kerap terjadi. Namun apa jadinya jika ada orang yang secara tidak sengaja membeli pesawat? Lebih gilanya lagi, bukan hanya satu unit, melainkan dua unit sekaligus! Wah, kok bisa ya kejadian seperti ini terjadi?

Baca Juga: Keren! Airbus A350 Bisa di “Restart” Guna Hindari Bug Pada Sistem Perangkat Lunak

Dikabarkan, seorang ayah yang berasal dari Arab Saudi hendak membelikan model pesawat Airbus A350-1000 untuk kado buah hati tercinta yang kebetulan hendak berulang tahun. Mengutip dari laman Thin Air Today (28/8), si anak tersebut memang mencintai sektor kedirgantaraan. Guna mendapatkan kado untuk anaknya, sang ayah lalu menghubungi raksasa aviasi global, Airbus, untuk mendiskusikan model. Namun sayang, kemampuan berbahasa Inggris yang terbatas membuat komunikasi antara dirinya dan pihak perusahaan tak terlalu lancar.

Singkat cerita, bill pembelian pun turun dan menunjukkan angka US$365 juta atau yang setara dengan Rp5,2 triliun – sebuah angka yang masih masuk ke hitungan budget sang ayah. Sampai sini, sang ayah masih belum mengetahui bahwa sudah terjadi miskomunikasi antara dirinya dengan pihak Airbus, dan pada akhirnya, kesalahpahaman ini terungkap beberapa bulan berselang.

Sumber: khaleejtimes.com

Di akhir cerita, sang ayah menggunakan salah satu pesawat untuk dioperasikan secara pribadi, dan satunya lagi diberikan kepada sepupunya dalam bentuk kado.

Dari sini, apakah Anda mengira ini merupakan kejadian nyata? Kalau iya, selamat! Karena Anda sudah termakan berita hoax. Ya, agaknya tidak mungkin jika ada orang yang dengan sangat enteng mengeluarkan Rp5,2 triliun untuk dua buah model pesawat – kecuali ia adalah anak sultan.

Keanehan kedua tampak dari proses pembelian pesawat yang terlihat sangat mudah dilakukan – padahal jika melihat proses aslinya, tidaklah semudah yang ada di cerita ini.

Baca Juga: Singapore AirShow 2018: Airbus Perkenalkan A350-1000 Untuk Pasar Trans-Pasifik

Lantaran cerita ini tersebar hanya dalam bentuk screenshot, tak banyak orang yang menyadari disklaimer di situs Thin Air Today. Di bagian bawah lamannya, situs tersebut menuliskan bahwa semua konten yang dituliskan merupakan semata cerita fiksi. Salah satu tulisan mereka yang juga menghebohkan adalah beberapa maskapai besar akan terbang terbalik di wilayah udara Australia.

Wah, ini tandanya Anda sebagai pembaca yang arif harus lebih berhati-hati lagi dalam mencerna berita yang diterima – dan tidak sembarangan menyebarkannya kepada rekan atau keluarga Anda.

 

Pintu Sydney Metro Menutup Kelewat Cepat, Banyak Bocah Terpisahkan dari Pendampingnya

Jangan pernah lepaskan dan biarkan anak-anak main sendirian ketika berada di peron kereta api. Himbauan ini cocok untuk orang tua yang bepergian dengan anak mereka saat naik kereta.

Baca juga: Meski Kondang, Pantai Bondi di Sydney Tidak Terkoneksi Jaringan Kereta, Inilah Sebabnya!

Pasalnya di Sydney Metro ada sepuluh insiden yang bisa dikaitkan dengan kata-kata himbauan di atas, terutama dalam tiga bulan pertama beroperasi. Ada suatu kasus dimana anak-anak bepergian terpisah dengan orang tua mereka di kereta tanpa pengemudi tersebut, dan ketika pintu otomatis tertutup, membuat para orang tua kebingungan di peron.

KabarPenumpang.com melansir 9news.com.au (29/8/2019), seorang bocah lelaki berusia dua tahun minggu lalu dibiarkan naik Sydney Metro tanpa pendampingan dari ibunya lebih dari sepuluh menit. Hal ini ternyata membuat Menteri Transportasi Andrew Constance prihatin tentang insiden itu dan ingin para orang tau lebih berhati-hati ketika melihat kereta tanpa pengemudi.

“Saya mengingatkan semua orang bahwa pintu-pintu di kereta metro otomatis dan orang-orang harus bergerak dengan cepat, dan orang tua dan wali harus menjaga anak-anak di dekat mereka, berpegangan tangan dan memperhatikan,” kata Andrew.

Andrew menambahkan, dirinya secara alami prihatin tentang anak-anak yang terpisah dari orang tua atau wali mereka. Dari catatan ternyata lebih dari 5,3 juta penumpang yang naik Sydney Metro sejak dibuka pada akhir Mei 2019 kemarin.

Adanya insiden anak-anak terpisah dari orang tua, staf Metro kemudian membantu untuk mempertemukan mereka dalam sepuluh insiden itu. Diketahui, pintu otomatis Sydney Metro akan terbuka selama 30 detik di setiap paltform. Ketika pintu mulai menutup, lampu akan berkedip, ada bunyi bip dan pengumuman terdengar.

Seorang juru bicara menteri mengatakan, pengumuman itu lebih keras daripada di tempat lain di jaringan kereta NSW. Setiap kereta metro memiliki 18 pintu masuk di enam gerbongnya dan ada staf di setiap platform tetapi tidak memantau semua pintu secara langsung.

Rail, Tram, dan Bus Union Sekretaris NSW (New South Wales) Alex Claassens mengatakan insiden itu sudah diperkirakan, mengingat tidak ada cukup staf untuk memastikan keselamatan penumpang.

“Inilah yang terjadi ketika Anda menjalankan sistem transportasi tanpa staf yang memadai akan keselamatan penumpang” kata Alex.

Baca juga: Australia, Jadi Satu-satunya Benua Tanpa Kereta Cepat!

Sydney Metro yang dibangun senilai $7,3 miliar telah mengalami masalah sejak mulai beroperasi dengan lebih dari 30 gangguan signifikan, termasuk kerusakan pintu kereta, perbaikan mekanis yang mendesak, dan pekerjaan jalur.

Bantu Cathay Pacific Lewati “Turbulensi,” Qatar Siap Tingkatkan Kepemilikan Saham

Ketika pemberitaan seputar Cathay Pacific selama ini hanya berkutat pada perusahaan yang terdampak demo besar-besaran yang terjadi di Hong Kong terkait RUU Ekstradisi, kini kabar lain menyebutkan bahwa saham maskapai plat merah Hong Kong ini rencananya bakal ditingkatkan oleh raksasa kedirgantaraan asal Timur Tengah, Qatar Airways. Ya, saham Cathay Pacific selama ini diketahui dikuasai oleh tiga maskapai: Swire Pacific, Qatar Airways dan Air China.

Baca Juga: Diterjang Badai “RUU Ekstradisi,” Sampai Kapan Cathay Pacific dapat Bertahan?

Mengingat harga saham Cathay Pacific yang tengah anjlok pasca demo RUU Ekstradisi, wajar agaknya jika Qatar selaku salah satu pemegang saham ingin meningkatkan kepemilikannya. Dikutip KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (29/8), bos Qatar, Akbar al Baker menyatakan kebanggaannya dapat berafiliasi dengan maskapai sekelas Cathay. Tidak hanya saham Cathay saja yang tengah terpuruk, pun dengan citra perusahaan. Tergabungnya ribuan pekerja Cathay ke dalam massa demonstrasi tersebut tentu mencoreng image flag carrier Hong Kong ini.

Kendati begitu, Ahmad al Baker justru tetap optimis dengan kondisi yang tengah menimpa Cathay.

“Cathay ada di sana (Hong Kong) untuk melayani perjalanan udara dan untuk menghubungkan warga Hong Kong dan Cina dengan dunia luar, karena faktanya adalah, Hong Kong merupakan bagian integral dari Cina daratan,” ujar Ahmad al Baker.

Saat ini, Qatar Airways dikabarkan memiliki 10 persen saham Cathay.

Namun upaya Qatar untuk mencaplok saham Cathay lebih besar ini terhambat oleh satu dan lain hal, dan satu yang paling tampak adalah Air China dan Swire Pacific yang terlihat tidak senang dengan ide tersebut. Walaupun begitu, upaya Qatar ini dilakukan semata-mata hanya untuk membantu menavigasi Cathay untuk keluar dari ‘turbulensi’ yang kini tengah mengerjang pihak perusahaan.

Baca Juga: Catat Laba Spektakuler di 2018, Cathay Pacific Berencana Akuisisi Hong Kong Express

Sebagaimana yang sudah diberitakan sebelumnya, dalam pembukuan 12 Agustus 2019 kemarin, saham Cathay terjun bebas lebih dari empat persen – dimana kondisi ini mendekati level terendah saham maskapai dalam kurun waktu 10 tahun terakhir.

Saham Cathay Pacific anjlok ke level 9,82 dollar Hong Kong pada sesi awal perdagangan. Ini merupakan level terendah sejak Oktober 2018 dan hampir mencapai level terburuk sejak krisis keuangan global pada 2009.

 

Garuda Indonesia Update Fitur Aplikasi “GIA Mobile,” Kini Ada Voice Command dan Virtual Assistant

Ada yang baru di aplikasi Garuda Indonesia “GIA Mobile,” persisnya pada aplikasi yang berjalan di OS Android ini dilengkapi fitur baru, yaitu berupa Voice Command dan Virtual Assistant. Dengan kedua fitur baru tersebut, para calon pemumpang dan pengguna aplikasi dapat memperoleh informasi dan reservasi layanan penerbangan Garuda Indonesia lewat perintah suara kepada virtual assistant.

Baca juga: Rambah Aplikasi E-Commerce dan Distribusi Logistik, Garuda Indonesia Gaet Go-Jek

Update fitur yang dirilis pada 29 Agustus lalu, juga memberikan keleluasan lebih dalam pengaturan storage handphone, mengingat aplikasi GIA Mobile ini hanya sebesar 28 MB lebih ringan dari versi sebelumnya.

Dalam pesan tertulis, Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara mengungkapkan,”Hadirnya pembaharuan fitur pada aplikasi GIA Mobile ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan perusahaan dalam menyediakan layanan digital experience yang lebih seamless kepada pengguna jasa dengan berbagai keunggulan dan kemudahan penggunaan, khususnya pada proses pemesanan tiket”.

“Fitur digital ini akan terus kami kembangkan kembali melalui berbagai penyempurnaan teknologi untuk menghasilkan layanan fitur virtual assistant dan voice command yang lebih baik lagi”, jelas Ari.

Lebih lanjut, melalui fitur baru virtual assistant dan voice command ini, Garuda Indonesia menghadirkan pengalaman pre journey yang berbeda berbekal adaptasi teknologi “Natural Language Processing (NLP)” serta “Text to Speech (TSS)” dalam mengoptimalkan layanan digital teranyar ini. Dimana pengguna bisa berbicara dengan GIA dalam bahasa formal maupun informal, menjadikan GIA sebagai personal asisten bagi pengguna setia Garuda Indonesia.

Baca juga: Akibat Temuan BPK Paksa Garuda Indonesia Group Hentikan Layanan WiFi Gratis

Saat ini fitur tersebut baru dapat dinikmati oleh pengguna mobile phone berbasis Android. Adapun pada platform iOS akan segera diimplementasikan dalam waktu dekat.

Pembaharuan pada aplikasi mobile apps turut memudahkan pengguna jasa dalam menerima Informasi terkait operasional penerbangan seperti nomor gate, informasi flight delay, juga informasi layanan seperti promosi dan juga GarudaMiles.

Ikuti Singapore Airlines, Garuda Indonesia Larang Penumpang Bawa MacBook Pro

Maskapai plat merah Garuda Indonesia akhirnya mengekor apa yang sudah terlebih dahulu dilakukan oleh Singapore Airlines, Qantas, Thai Airways, dan Virgin Australia, yaitu melarang penumpang membawa laptop rilisan Apple, MacBook Pro (Retina 15-inch). Adapun jenis laptop ini tidak boleh masuk baik ke dalam kabin maupun ke dalam bagai kargo setiap pesawat Garuda. Kebijakan ini diambil Garuda setelah pihak Apple melakukan penarikan kembali produk tersebut.

Baca Juga: Mengekor FAA, Qantas dan Virgin Australia Larang MacBook Pro 15-inch Masuk Kargo

Kebijakan ini ditempuh pihak maskapai sebagai bentuk antisipasi dan tatalaksana safety pada layanan penerbangan Garuda Indonesia. Kebijakan tersebut sejalan dengan aturan yang dikeluarkan oleh European Union Aviation Safety Agency (EASA) serta regulasi dari IATA Dangerous Goods Regulations (Special Provisions A154) terkait dengan larangan membawa MacBook Pro (Retina 15-Inch) yang telah diinformasikan oleh pihak Apple menyusul ditemukannya permasalahan pada baterai laptop tersebut yang berpotensi menimbulkan gangguan terhadap aspek keselamatan penerbangan.

Spesifikasi Standar
Laptop yang menggunakan layar Retina berukuran 15,4 inci (diagonal) ini juga dilengkapi dengan lampu latar LED dan teknologi IPS; resolusi 2880 x 1800 pada 220 piksel per inci dengan dukungan untuk jutaan warna.

MacBook Pro (Retina 15-inch) ini sendiri terbagi ke dalam dua kelompok, tergantung dari prosesor yang digunakan. Pertama, 2,2GHz yang menggunakan prosesor Intel Core i7 quad-core 2,2 GHz (Turbo Boost hingga 3,4 GHz) dengan kapasitas penyimpanan hingga 256GB berbasis PCIe. Satunya lagi 2,5 GHz yang menggunakan prosesor Intel Core i7 quad-core 2,5 GHz (Turbo Boost hingga 3,7 GHz) dengan kapasitas penyimpanan flash 512GB berbasis PCIe.

Laptop yang dirilis pada pertengahan tahun 2015 ini menggunakan baterai lithium-polymer bawaan 99,5-watt-jam – dimana baterai ini ditengarai sebagai penyebab dari ditariknya jenis laptop ini dari pasar.

Baca Juga: Cek Sekarang! Singapore Airlines Larang MacBook Pro Jenis Tertentu Masuk Kabin

Alasan Ditarik
Pada Juni 2019 kemarin, pihak Apple mulai melakukan penarikan terhadap laptop jenis ini karena baterai yang digunakan disinyalir dapat menimbulkan kebakaran. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Apple menyebutkan ada sejumlah unit perangkat yang terdampak. Perangkat-perangkat ini dijual antara September 2015 dan Februari 2017.

Jika memenuhi syarat, pihak Apple akan mengganti baterai MacBook Pro Retina Display 15 inci secara gratis.

Untuk memastikan apakah MacBook Pro (Retina 15-inch) Anda terdampak atau tidak, silakan klik tautan ini.

Tak Lagi Diperagakan Awak Kabin, Instruksi Keselamatan Japan Airlines Hadir Dalam Bentuk Video Lucu

Mengingat instruksi keselamatan yang selalu diperagakan awak kabin sesaat sebelum pesawat tinggal landas sudah kerap kali diabaikan oleh penumpang, maka dari itu maskapai asal Negeri Matahari Terbit, Japan Airlines (JAL) berinisiasi untuk meluncurkan video keselamatan baru yang akan diputar di layar entertainment. Sudah bukan menjadi rahasia umum, sikap acuh tak acuh penumpang membuatnya kebingungan ketika tengah dihadapkan pad situasi darurat – padahal poin tersebut sudah disinggung pada instruksi keselamatan.

Baca Juga: Japan Airlines Terjun Ke Segmen Low Cost Carrier

Seolah menggantikan peran dari peragaan yang dilakukan oleh awak kabin, video ini akan menampilkan sejumlah potensi masalah yang bakal muncul di dalam sebuah penerbangan dan bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut.

“Video keselamatan menampilkan potensi masalah yang ada di dalam kabin serta memberitahu penumpang tentang jalur evakuasi semisal ada suatu hal darurat terjadi,” tulis pihak maskapai dalam siaran pers.

“Video ini mencakup skenario realistis yang menggambarkan situasi potensial mungkin terjadi jika penumpang mengambil tindakan yang tidak tepat,” lanjutnya.

Video keselamatan ini sendiri menampilkan karakter seorang penumpang yang dikonversi ke dalam bentuk 3D – dan tentu saja mencantumkan bahasa Jepang dan Inggris sebagai subtitle-nya.

Jika dirangkum, beberapa poin penting yang ditayangkan pihak JAL dalam video ini mencakup:

1. Cara mengencangkan dan mengendurkan safety belt,
2. Larangan merokok selama penerbangan,
3. Panduan menggunakan gadget,
4. Cara menggunakan masker oksigen dalam keadaan darurat,
5. Lokasi pintu keluar darurat, dan
6. Cara menggunakan pelampung keselamatan.

Namun, di sini penumpang tidak akan bosan ketika melihat video keselamatan ini. Ya, di dalam video berdurasi kurang lebih tiga menit ini juga Anda dapat melihat efek jika Anda tidak mematuhi peraturan yang berlaku dengan menyisipkan unsur humor di dalamnya.

Baca Juga: 1 Agustus 1951, Japan Airlines Resmi Berdiri dengan Modal 100 Juta Yen

Sebut saja seperti orang yang tidak mengenakan sabuk pengaman akan terpental ketika pesawat mengalami turbulensi, atau barang-barang penumpang akan beterbangan ke sana ke mari ketika mereka tidak menyimpannya dengan benar.

Bagi Anda yang penasaran, berikut video keselamatan yang ada di dalam maskapai Japan Airlines.

https://www.youtube.com/watch?v=CAzUKWGUbOI

 

Bandara Changi Resmikan Layanan Automated Immigration Gate

Prosedur imigrasi yang ketat sudah menjadi kewajaran yang berlaku di setiap bandara internasional. Bahkan pada jam kedatangan yang padat, tak jarang antrean imigrasi bisa mengular panjang. Meski cek konter imigrasi telah dibuka beberapa, di bandara sekelas Hong Kong dan Changi, antrean bisa sangat panjang dan membuat pelancong mengalami keletihan.

Baca juga: Bandara Dubai Hadirkan Teknologi Baru Keimigrasian di Pekan Teknologi Gitex 2017

Nah melihat potret di atas, Otoritas Bandara Internasional Changi Singapura membuat terobosan. Mulai 28 Agustus 2019, pihak Singapore’s Immigration and Checkpoints Authority (ICA) meluncurkan layanan yang disebut automated immigration gate. Ya, sesuai namanya yang berlebel otomatis, pelancong saat memasuki gerbang imigrasi tak perlu bertatap muka dengan petugas yang judes dan kadang wawancara singkat. Tapi pelancong cukup melakukan scan paspor di gerbang, bila semua clear, proses imigrasi otomatis ini hanya butuh waktu yang sangat cepat. Alhasil tidak perlu antre yang panjang.

Dikutip dari KabarPenumpang.com dari channelnewsasia.com, sayangnya layanan imigrasi otomatis ini baru berlaku untuk pemegang paspor Jepang dan Korea Selatan. Sebenarnya layanan ini ditujukan untuk frequent traveler yang sering bolak balik ke Singapura.

Untuk mendapatkan fasilitas yang juga disebut Enhanced Immigration Automated Clearance System (eIACS) tidak diperlukan biaya tambahan. Hanya saja pelancong perlu mengajukan permohonan. Masih dari sumber yang sama, disebut konter pendaftaran ada di Pusat Pelayanan ICA yang berada di Terminal 3.

Baca juga: Agar Proses Imigrasi Lebih Cepat, Yuk Manfaatkan Autogate di Bandara Soekarno-Hatta

Mengingat tingginya frekuensi pebisnis dan wisatawan asal Indonesia yang bertandang ke Singapura, tentu idealnya pemegang paspor Indonesia juga layak mendapatkan fasilitas imigrasi otomatis ini.

KA Rajawali – Yang Telah Berhenti Beroperasi dan ‘Dilebur’ ke KA Harina

Ketika sebuah kereta api berhenti beroperasi tidak berarti mati begitu saja. Mungkin hanya berganti nama dan berganti relasi keberangkatan serta tujuan kereta itu saja. Tetapi beberapa yang mati bahkan tidak ada gantinya tetapi diteruskan oleh kereta api yang sudah ada, beroperasi dan berjalan bergandengan ketika si kereta tersebut masih beroperasi.

Baca juga: KA Cisadane – Timbul Tenggelam Hingga Akhirnya ‘Menghilang’

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, salah satu kereta yang sudah tak lagi beroperasi adalah Kereta Api (KA) Rajawali. Kereta ini melayani relasi Surabaya Pasar Turi menuju ke Semarang Tawang.

Pertama kali meluncur, KA Rajawali tanggal 21 Mei 2003 atau satu hari setelah peluncuran Kereta Api Harina. KA Rajawali kala itu adalah produk baru yang mengisi kekosongan layanan relasi Surabaya – Semarang.

Perjalanan dari Surabaya menuju Semarang ini sejauh 240 km dan ditempuh dengan waktu empat jam 20 menit. KA Rajawali sendiri hanya berhenti di Stasiun Surabaya Pasar Turi, Stasiun Bojonegoro, Stasiun Cepu, Stasiun Ngrombo dan Stasiun Semarang Tawang.

Kemudian pada 2 Agustus 2010, KA Rajawali kemudian menambahkan gerbong kelas bisnis dalam setiap perjalanannya. Pada 12 Februari 2011 PT Kereta Api Indonesia (KAI) meluncurkan KA Rajawali 2 yang disebut KA Rajawali Pagi.

Nama KA Rajawali sendiri diambil dari salah satu jenis burung untuk menggambarkan kecepatan perjalanan kereta. Sayangnya KA Rajawali 2 kemudian akhirnya dihapuskan dari karena tingkat okupansi yang rendah.

Tanggal 1 Maret 2013, KA Rajawali relasi Semarang Tawang – Surabaya Pasar Turi akhirnya berhenti operasinya. Namun meski berhenti beroperasi, tugas KA Rajawali digantikan oleh KA Harina yang memperpanjang relasinya dari Bandung ke Surabaya.

Perpanjangan relasi KA Harina ini juga untuk mengoptimalkan dan mengefisienkan pengoperasian sarana. Sehingga penumpang KA Rajawali tujuan Surabaya bisa beralih menggunakan KA Harina yang berangkat lebih pagi dari Stasiun Semarang Tawang.

Baca juga: KA Aji Saka – Tingkat Okupansi Rendah, Terpaksa Berhenti Mengular Pada Juli 2014

Harga tiket yang diberlakukan untuk KA Harina Semarang-Surabaya kelas eksekutif adalah Rp140 ribu pada rentang batas bawah dan Rp350 ribu pada batas atas. Sementara untuk kelas Bisnis, Rp105 ribu pada batas bawah dan Rp250 pada batas atas.