Keren! Boeing 777 Torehkan Pesanan Ke-2000

Jika pada artikel sebelumnya dikabarkan bahwa salah satu raksasa manufaktur pesawat, Airbus bisa saja menghentikan produksian superjumbo-jet A380 karena ‘loyo’ pemesanan, maka hal berbanding terbalik justru dialami oleh rival Airbus, Boeing yang diketahui baru saja melampaui angka 2.000 pesanan untuk pesawat wide body andalannya, Boeing 777. Baca Juga: Cathay Pacific Hibahkan Boeing 777-200 Perdana Ke Museum Dirgantara di Arizona Pada bulan desember lalu, Singapore Aircraft Leasing Enterprise atau yang kini telah berganti nama menjadi BOC Aviation dan dua pelanggan lainnya telah memesan 17 armada 777 yang menandakan pesanan ke-51 armada ini di tahun 2018. Sementara di sisi lain, pemesanan dari BOC Aviation dan dua pelanggan tadi juga sekaligus menandakan orderan ke 2.013 sejak Boeing memutuskan untuk memproduksi massal armada 777. Adapun jumlah keseluruhan pesanan tersebut mencakup model yang bervarian – mulai dari 777-300ER (Extended Range), 777 Freighter long-range, hingga 777X yang segera diluncurkan. Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman airwaysmag.com (7/1/2019), commercial sales and marketing senior vice president dari Boeing, Ihssane Mounir mengatakan bahwa pelanggan merasa puas dengan kinerja dari Boeing 777 dan itu berimplikasi pada pertumbuhan jumlah pesanan dari seluruh dunia. “Ini merupakan bukti nyata bahwa adanya permintaan untuk pesawat yang sangat kuat,” ujar Ihssane. “Kekuatan yang stabil dari 777 saat ini akan memberikan transisi yang baik untuk 777X kelak, yang selanjutnya akan memperluas kinerja dari armada itu sendiri, kemapanan ekonomi, dan daya jangkaunya,” imbuhnya. Baca Juga: Setelah Penebalan Landasan, Boeing 777-300ER Garuda Indonesia Kini Bisa Terbang Langsung Jakarta-London Dalam sebuah keterangan, tercatat bahwa region Asia Pasifik memesan total 620 armada 777, sedangkan untuk region Asia Tenggara mencantumkan 183 pesanan. Menurut perkiraan, jumlah pesanan 777 tersebut akan terus mengalami peningkatan seiring dengan bertumbuhnya permintaan perjalanan via udara seperti yang sudah digembar-gemborkan sejak beberapa waktu yang lalu. “Dengan hadirnya ‘gelombang’ pergantian menuju pesawat wide body yang semakin menjadi, Boeing 777 kini sudah berada di posisi yang sangat tepat untuk memimpin pasar untuk jangka panjang. Dengan kata lain, Boeing 777 akan mendukung konektivitas jaringan global lebih lanjut,” tutur Ihssane.  

Diskriminatif! Seorang Pilot Dipaksa Pindah Tempat Duduk Karena ‘Kekurangan Fisik’

Seorang pilot yang berdomisili di New South Wales akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian netizen lantaran perlakuan kurang pantas yang ia terima dari Low Cost Carrier asal Negeri Kangguru, Jetstar Airways. Adalah James Hall-Thompson, yang tengah ‘berperan’ sebagai penumpang dari New South Wales menuju Sydney terpaksa dipindahkan ke tempat duduknya yang baru karena kekurangan fisik yang diidapnya. Baca Juga: Tergelincir di Dalam Toilet, Seorang Penumpang Tuntut Rp2,2 Miliar ke Pihak Jetstar Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman foxnews.com (7/1/2019), James sendiri mengaku baru saja menyelesaikan sebuah turnamen tenis di Sydney. Tak lama setelah pesawat bertolak, James dihampiri oleh seorang awak kabin dan memintanya untuk pindah. “Awak kabin itu mengatakan bahwa manajernya telah memperhatikan lengan saya yang ‘kurang sempurna’ dan meminta saya untuk pindah tempat duduk,” tutur James. Kala itu, James mendapatkan tempat duduk di samping pintu darurat. Sebagai penumpang yang duduk di samping pintu darurat, sudah lumrah hukumnya jika Anda akan dimintai kesediaan untuk membuka pintu tersebut semisal ada situasi yang cukup darurat. Nah, mengingat tangan dari James sedikit berbeda dari orang normal, inilah yang mendasari manajer awak kabin tersebut untuk memindahkannya ke tempat duduk yang baru. Lengan kiri James diketahui tidak memiliki tulang radial yang membuatnya terlahir tanpa ibu jari, dan ibu jari tangan kanan James juga agak sedikit bengkok.
James Hall-Thompson. Sumber: istimewa
“Kendati saya tidak memiliki ibu jari kiri, tapi saya memegang lisensi pilot dan saya paham betul dengan standar keselamatan dalam dunia penerbangan,” terang James. “Jika seseorang tidak mampu mengoperasikan pintu keluar darurat, saya mengerti bahwa mereka tidak boleh duduk di sana. Sebagai seorang pilot, saya menguasai semua tentang keselamatan. Saya tidak akan pernah duduk di sana jika saya tidak bisa membuka pintu darurat,” lanjutnya. Kesal dengan perlakuan yang ia terima, James Hall-Thompson lalu mengajukan protes kepada pihak JetStar setibanya ia di rumah, tetapi James mengatakan bahwa perwakilan layanan pelanggan JetStar yang menerima teleponnya memintanya untuk setuju bahwa tindakan manajer kabin itu bukan diskriminasi. Alih-alih terbawa emosi akibat perlakuan pihak JetStar tersebut, James malah berharap agar LCC asal Australia ini lebih meningkatkan kualitas dari awak kabinnya. Baca Juga: Kasus Awak Kabin Jetstar: Tenaga Asing Dibayar Murah dengan Kerja Ekstra “Saya ingin awak kabin mereka dilatih untuk lebih memahami bahwa penampilan fisik bukanlah indikasi kemampuan mereka secara keseluruhan,” katanya. Sama seperti kasus-kasus lainnya, pihak JetStar hanya bisa meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan oleh James. “Kami secara tulus meminta maaf kepada James Hall-Thompson atas pengalaman buruk yang ia terima ketika mengudara bersama JetStar, dan kami telah menghubungi dia secara langsung,”  

Tingkatkan Keamanan Pra Olimpiade, Otoritas Jepang Akan ‘Geledah’ Hand-Luggage Penumpang

Sebagai salah satu tindakan preventif terorisme menjelang perhelatan Olimpiade Musim Panas, pemerintahan Jepang berencana untuk membuat sebuah eksperimen pemeriksaan barang bawaan penumpang untuk moda transportasi kereta api. Adapun stasiun yang nantinya akan dijadikan objek eksperimen ini adalah stasiun yang ada di kota Tokyo, bukan tanpa alasan, ini merupakan salah satu stasiun terbesar dan paling ramai yang ada di Negeri Sakura. Baca juga: Mulai 7 Januari, Jepang Kenakan “Pajak Keberangkatan” untuk Seluruh Penumpang Internasional Diwartakan KabarPenumpang.com dari laman scmp.com (6/1/2019), eksperimen ini sendiri rencananya akan mulai bergulir pada bulan Februari mendatang di Stasiun Metro Kasumigaseki. Selain diklaim sebagai salah satu stasiun paling sibuk, Stasiun Metro Kasumigaseki ini juga merupakan saksi bisu dari penyerangan yang dilakukan oleh kelompok radikal Aum Shinrikyo pada tahun 1995 silam. Konsentrasi peningkatan keamanan ini sengaja dilakukan di infrastruktur transportasi, mengingat beberapa kasus penyerangan dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang. Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan insiden bakar diri yang terjadi di kereta peluru Jepang pada tahun 2015 silam yang menewaskan seorang penumpang. Belum lagi insiden penusukan yang dilakukan oleh seorang tidak dikenal di kereta peluru Shinkansen yang menewaskan seorang penumpang dan melukai dua lainnya pada tahun 2018 silam. Baca Juga: 5 Stasiun Tersibuk di Dunia, Semua Ada Di Jepang! Pemerintah berharap, ekperimen ini dapat membantu pengidentifikasian potensi masalah dengan tindakan nyata dan lalu dipertimbangkan apakah itu masuk ke dalam kategori ancaman atau bukan. Ketika inspeksi hand-luggage para penumpang ini merupakan hal yang cukup lumrah di negara lain, namun lain cerita dengan Jepang. Mengingat perkeretaapian Jepang sangat menjunjung tinggi ketepatan waktu pemberangkatan, maka dari itu inspeksi semacam ini merupakan hal yang tidak berlaku di sana – pemeriksaan barang bawaan penumpang akan memakan waktu, sedangkan tenggat waktu transit penumpang di stasiun tidaklah lama. Selain itu, minimnya lahan untuk melakukan pemeriksaan ini juga menjadi alasan kedua mengapa Jepang tidak pernah melakukan hal semacam ini. Guna menunjang eksperimen ini, kementerian terkait juga telah meminta bantuan kepada perusahaan keamanan dan manufaktur penyedia peralatan keamanan untuk melancarkan eksperimen ini – pun dengan Japan Railway Group dan operator kereta api di Jepang.  

22 Januari 2019, Garuda Indonesia Terbang Langsung ‘One Way’ dari London ke Denpasar

Maskapai plat merah, Garuda Indonesia membuka penerbangan langsung dari Bandara Internasional London Heathrow menuju ke Bandar Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. Penerbangan langsung ini akan dimulai pada 22 Januari 2019 mendatang dan akan beroperasi tiga kali dalam sepekan yakni Selasa, Kamis dan Sabtu. Namun ada keanehan dalam rute tersebut meski direct flight. Baca juga: Mulai 13 Desember, Garuda Indonesia (Kembali) Buka Penerbangan Langsung Jakarta-London KabarPenumpang.com melansir dari laman simpleflying.com (6/1/2019), rute London-Bali ini sendiri akan terbang dengan memakan waktu tempuh 15 jam 20 menit. Dimana pesawat GA87 tersebut akan berangkat pukul 21.55 dari London dan tiba di Bali 21.15 (+1 hari). Pertanyaan besar kemudian muncul dengan kehadiran rute ini yang begitu cepat dengan penerbangan dari Bandara Heathrow.
(onemileatatime.com)
Ternyata rute ini hadir dengan biaya yang sama dengan keberangkatan dari London Heathrow menuju ke Jakarta. Ini terlihat aneh, dimana Garuda Indonesia seperti membatalkan adanya penerbangan dari London menuju Jakarta dan menggantinya dengan tujuan destinasi populer. Karena hal ini, seperti pertaruhan yang akan membuahkan hasil besar. Penerbangan London-Bali, Garuda akan menggunakan pesawat Boeing 777-300ER dengan dua kelas didalamnya yakni bisnis dan ekonomi. Tapi tunggu dulu, sebab penerbangan ini hanya satu arah dari London menuju Bali dan tidak ada sebaliknya. Lalu bagaimana dengan pelancong yang akan kembali ke London setelah menikmati liburan atau bisnis mereka di Bali? Inilah keanehannya, ternyata Garuda memiliki strategi lain yang mana pelancong bisa terbang langsung melalui Jakarta untuk sampai ke London.
(onemileatatime.com)
Penerbangan ini sendiri berangkat pada tengah hari waktu setempat atau Jakarta pukul 12.05 dan tiba 20.00 waktu London. Nah, pelancong akan terbang menggunakan Boeing 737 dari Bali menuju Jakarta dan kembali ke London dengan pesawat GA86 dengan Boeing 777. Baca juga: Tutup Rute Penerbangan Langsung Jakarta-London, Ada Apa dengan Garuda Indonesia? Sehingga bisa dikatakan, pelancong yang akan kembali tidak akan merasakan penerbangan langsung dari Bali melainkan transit di Jakarta dan terbang langsung menuju London. Hingga berita ini diturunkan, pihak garuda Indonesia belum memberikan informasi lebih lanjut. Sebelumnya, pada Oktober 2018 kemarin, Garuda Indonesia sempat menangguhkan rute Jakarta-London. Kemudian mengumumkan adanya penerbangan langsung Jakarta-London pada November 2018 dengan menggunakan pesawat Boeing 777.

Baterai Rokok Elektrik Terbakar, American Airlines Bakal Laporkan ke FAA

Maskapai asal negara Adikuasa, American Airlines kembali menuai sorotan publik. Alih-alih membuat awak kabinnya membuat onar, kabin dari maskapai ini dikabarkan terbakar tak lama setelah mendarat di Bandara Internasional O’Hare, Chicago, Jumat (4/1/2019). Beruntung, keseluruhan penumpang dan awak kabin dari maskapai dengan nomor penerbangan AA168 yang bertolak dari Las Vegas ini dikabarkan selamat tanpa ada satupun yang mengalami cidera. Baca Juga: Meski Membosankan, Demo Keselamatan Penerbangan Jangan Dilupakan! Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thepointsguy.com (6/1/2019), adapun penyebab dari kebakaran ringan di dalam kabin maskapai ini berasal dari baterai e-cigarette (rokok elektrik) milik salah seorang penumpang. Menurut salah satu juru bicara dari American Airlines, terbakarnya e-cigarette ini dilatarbelakangi oleh proses “thermal runway event”. Sederhananya, ‘thermal runway event” adalah kondisi dimana temperatur mengalami peningkatan. Ketika suhu meningkat, maka ini akan menyulut e-cigarette untuk meledak lalu terbakar. Seketika melihat ada percikan api, awak kabin dengan sigap langsung memadamkannya guna menghindari insiden tambahan dan penumpang yang mengalami cidera. Pesawatpun bisa tetap melakukan taxi menuju terminal tanpa terganggu insiden ringan ini – dan penumpang dapat turun tanpa masalah. Menanggapi insiden ini, juru bicara dari American Airlines memuji langkah cepat tanggap yang dilakukan oleh awak kabin tersebut. “Kami berterima kasih kepada awak kabin kami yang sudah mengaplikasikan respon cepat tanggap yang telah dipelajari sebelumnya untuk memastikan para penumpang tetap aman,” “Mereka (awak kabin) telah dilatih untuk menangani kebakaran ringan yang disebabkan oleh baterai berenergi tinggi. Sebagai bagian dari manajemen keselamatan dan mitigasi risiko, kami selalu mengevaluasi cara-cara tambahan untuk meningkatkan prosedur yang ada untuk memastikan keselamatan penumpang yang berada di dalam kabin,” tuturnya. Baca Juga: Berakibat Buruk Saat Penerbangan,14 Poin Ini Kerap Dianggap Sepele Sebagai tindak lanjut, pihak American Airlines akan melaporkan insiden ini kepada Federal Aviation Administration (FAA). Jika merujuk pada peraturan penerbangan di Amerika sendiri, membawa e-cigarette ke dalam kabin (hand luggage) sendiri bukanlah satu hal yang dilarang, namun tidak untuk digunakan dan e-cigarette harus berada dalam kondisi non-aktif. Sebenarnya, e-cigarette sudah dilarang untuk masuk ke dalam bagasi sejak tahun 2016 silam, pun dengan melakukan pengisian daya e-cigarette di dalam kabin. Larangan ini mulai diberlakukan sejak adanya beberapa insiden kebakaran kecil yang menganggu penerbangan.

So Sweet! Pramugari Emirates Dilamar di Udara

Sebagai seorang awak kabin, pramugari harus menjalakankan tugasnya dalam sebuah penerbangan untuk membantu penumpang dan berbagi pengetahuan tentang alat-alat keselamatan. Namun, apa jadinya jika saat menjalankan tugas, pramugari dilamar oleh sang kekasih di dalam penerbangan tepat saat ia bertugas? Baca juga: Dibalik Keanggunan, Ternyata 15 Pramugari Emirates Tergabung ke Dalam Tim Rugby Hal ini baru saja dirasakan oleh seorang pramugari maskapai Emirates. Vittoria mungkin tak pernah menyangka dirinya akan dilamar saat diudara ketika bertugas menjadi seorang awak kabin dalam penerbangan. KabarPenumpang.com melansir dari mirror.co.uk (5/1/2019), awalnya Vittoria mengira dirinya akan bekerja secara normal di tempat kerjanya dalam sebuah penerbangan maskapai Emirates. Sampai dirinya melihat foto sang kekasih dan menjadi sebuah kejutan untuk dirinya. Vittoria sama sekali tidak mengetahui bahwa sang kekasih ikut dalam penerbangan dimana dirinya bertugas. Pria itu muncul tanpa pemberitahuan dan hadir disitu untuk memberikan sebuah pertanyaan khusus yang akan ditanyakan pada sang kekasih yakni Vittoria. Sebelum bertemu sang kekasih, Vittoria yang tengah menjalankan tugasnya membuka tirai dan berjalan ke kabin. Namun bukan disambut dengan obrolan terkait minuman atau penggunaan toilet, Vittoria justru diberikan bunga mawah merah. Penumpang yang duduk di area dekat kabin dihiasi tanda hati berwarna merah dan putih kemudian mengangkat foto kekasihnya yang bernama Stefano. Setelah berjalan menyusuri kabin dan menerima mawar merah, Vittoria akhirnya bertemu Stefano di area staf yang kemudian langsung memeluknya. Stefano saat itu berlutut dan mengeluarkan sebuah kotak dengan cinci pertunangan yang berguaskan berlian. Vittoria mengaku, saat itu seisi kabin dipenuh dengan sorak-sorai dan tepuk tangan. “Kami mendapat sekilas tentang dia menempatkan cincin yang menakjubkan di tangannya yang terawat, sebelum video dipotong menjadi foto lucu pasangan dan kru kabin yang merayakan pertunangan,” ujar seorang penumpang. Baca juga: Mau Ketemu Pramugari Garuda Indonesia dengan Seragam Vintage? Simak Rute Penerbangannya Disini! Perayaan tersebut ternyata di videokan dan viral di halaman Instagram Emirates dan sudah ditonton lebih dari 500 ribu kali. Video tersebut diberi caption “Cinta ada di udara (pesawat). Lihat pelanggan kami Stefano mengejutkan pacarnya dan awak kabin Emirates, Vittoria, dengan lamaran dalam pesawat yang romantis, dengan bantuan dari awak kabin dan penumpang kami.” Nah, kalau Anda yang dilamar seperti itu bagaimana perasaannya?

KA Pangandaran, Kereta yang Tak Sampai Stasiun Pangandaran

Terkenal dengan pantainya, Pangandaran menjadi salah satu destinasi di Jawa Barat yang diminati pelancong domestik. Baru-baru ini, PT Kereta Api Indonesia (KAI) membuka jalur untuk mempercepat perjalanan dengan menhadirkan relasi Gambir-Banjar dengan KA yang diberi nama Pangandaran. Baca juga: KA Pangandaran Beroperasi, Kini Jakarta-Banjar Jadi Lebih Mudah Kehadiran KA Pangandaran ini mempercepat perjalanan dari Jakarta menuju Pangandaran yakni 9,5 jam dimana kereta Jakarta-Bajar memiliki waktu tempuh 7,5 jam. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, bahkan untuk mempermudah pelancong Bupati Pangandaran sendiri akan menyiapkan bus wisata demi memudahkan mobilisasi dari Stasiun Banjar menuju Pangandaran yang memiliki jarak 75 km. Dengan waktu tempuh 7,5 jam, KA Pangandaran sudah berhenti di beberapa stasiun yakni Bandung, Cibatu, Cipeundeuy dan Tasikmalaya. Perhentian terakhir ke Pangandaran hanya di Stasiun Banjar, sebab jalur yang melalui Stasiun Pangandaran hingga Cijulang sudah tak lagi aktif. Jalur KA dari Banjar-Pangandara-Cijulag eksisting sudah ada tetapi sayangnya kini tak lagi aktif dan ditutup pemerintah pada 1982 silam. Padahal jalur ini sempat pernah akan direaktivasi tetapi proyek tersebut hanya sampai di Stasiun Banjarsari. Kini kehadiran KA Pangandaran yang sudah mulai mengular di rel sejak 2 Januari 2019 kemarin, KAI mengharapkan masyarakat yang akan berwisata ke Pangandaran lebih dimudahkan. Tak hanya itu, bila dihitung dengan perjalanan darat dengan kendaraan pribadi bisa mencapai 13,5 jam dan bila terhitung dengan kereta api menghemat waktu hingga empat jam. Untuk diketahui, Stasiun Pangandaran sendiri dibangun pada tahun 1921 silam. Terletak di provinsi Jawa Barat, Kabupaten Pangandaran, Kecamatan Pangandaran, sayangnya sejak 1984 sudah dinonaktifkan. Kondisi bangunannya sendiri sebenarnya masih berdiri kokoh meski dikelilingi semak-semak belukar dan pepohonan. Tahun 1997 lalu, stasiun dan jalur kereta api ini sempat diaktifkan dan dilewati beberapa lokomotif seperti BB300 dan D301 namun akhirnya jalur Banjar-Cijulang ini benar-benar ditutup saat krisis ekonomi melanda seluruh Asia. Bentuk Stasiun Pangandaran sendiri memiliki ukuran 20,8 x 5,44 meter dengan pintu masuk di sisi selatan dan sejajar dengan pintu di sisi utara menuju kereta. Baca juga: Reaktivasi Jalur Kereta Jawa Barat, Pertanda Peningkatan Sektor Pariwisata di Tanah Pasundan? Bentuk atap nya model pelana dengan penutup genteng tanah liat serta ditopang oleh beberapa konsul di setiap sisi. Tampak selatan terdapat pintu selebar 253 cm yang diapit dua pilaster berupa susunan bolder ekspos yang berfungsi estetis serta bagian barat pintu berderet tiga jendela kayu.

Mulai 7 Januari, Jepang Kenakan “Pajak Keberangkatan” untuk Seluruh Penumpang Internasional

Ada kabar yang harus dicermati bagi Anda yang ingin bertandang ke Jepang, baik dengan latar kunjungan bisnis dan wisata, mulai 7 Januari 2019, bagi setiap penumpang internasional yang akan meninggalkan Jepang akan dikenakan biaya baru, yaitu pajak keberangkatan (departure tax) dengan nilai 1000 yen, atau setara US$9 per penumpang. Baca juga: Selundupkan Emas di Toilet Pesawat, Warga Jepang Berusaha Hindari Pajak Barang Mewah Dikutip dari mainichi.jp (7/1), disebutkan pajak keberangkatan tersebut dikenakan dengan tujuan untuk mendanai berbagai proyek dan program untuk menarik wisatawan asing menjelang Olimpiade Tokyo dan Paralimpiade 2020. Pajak baru ini dikenakan tidak hanya pada moda udara internasional, moda laut seperti yang akan keluar Jepang menggunakan kapal pesiar juga akan terkena pajak ini, tanpa pengecualian pada asal negara mereka. Meski begitu, otortitas Jepang tetap memberi pengecualian pada balita di bawah usia 2 tahun dan penumpang yang sedang transit di bandara sejak 24 jam dari kedatangan mereka. Nantinya penghasilan dari departure tax akan dialokasikan pada tiga fungsi, yaitu penyediaan layanan perjalanan yang lebih baik, akses informasi tentang lokasi wisata di penjuru Jepang, dan meningkatkan kepuasan kunjungan wisatawan dengan mempromosikan di sumber daya regional, seperti budaya dan fitur khas di masing-masing daerah. Pada tahun fiskal 2019, Pemerintah Jepang memperkirakan pendapatan dari pajak keberangkatan internasional mencapai 50 miliar yen. Sebagian dari pendapatan pajak juga akan dimanfaatkan untuk membangun gerbang pemeriksaan keamanan di bandara dengan teknologi facial recognition di bandara dan pelabuhan. Dalam beberapa tahun terakhir, Jepang telah mendapatkan berkah lonjakan wisatawan asing. Badan Pariwisata Jepang bahkan menyebut jumlah wisatawan asing yang berkunjung selama 2018 mencapai 30 juta orang. Peningkatan wisatawan internasional dipercaya merupakan berkah dari stabilitas yang terjadi di wilayah Asia, seperti Cina, Korea Selatan, Hong Kong, dan Taiwan. Di tahun 2020, Jepang mematok target 40 juta wisatawan internasional, khususnya upaya untuk menarik lebih banyak wisman asal Eropa. Meski bertujuan positif, namun beberapa penumpang yang hari ini berangkat dengan tujuan internasional menyatakan rasa skeptis atas penetapan tax departure. Takuma Asai (33 tahun) yang meniggalkan Bandara Kansai dengan tujuan Cina pada Senin ini menyebut bahwa dirinya tidak mengetahui kapan dimulainya penetapan pajak ini. “Ini seperti sebuah beban baru, setelah kenaikan pajak konsumsi yang dikenakan kepada warga pada Oktober 2018 lalu,” ujar Takuma. Baca juga: Jepang Tawarkan Paket Wisata dengan Kereta Mewah Yang Ramah Dompet Pengelola jasa tur juga khawatir tentang dampak tax departure, “Kebanyakan wisatawan selalu mencari paket yang lebih murah, jadi meskipun itu hanya 1000 yen, tentu akan menjadi beban besar bagi kami,” ujar petugas tur berusia 47 tahun di Osaka.

Kabin Airbus A320 Royal Brunei Dipenuhi Asap Tipis, Pihak Maskapai Sebut “Insiden Power Bank”

Jika maskapai American Airlines baru-baru ini dihebohkan dengan kebakaran yang terjadi di kabin akibat meledaknya e-cigarette milik seorang penumpang, maka lain halnya dengan Royal Brunei Airlines yang juga mengalami hal serupa – namun dilatarbelakangi oleh penyebab lain. Kabin pesawat Airbus A320 milik Royal Brunei Airlines dengan nomor penerbangan BI636 rute Hong Kong – Bandar Seri Begawan dikabarkan ditutupi oleh asap yang diakibatkan dari ledakan power bank milik salah satu penumpang. Baca Juga: Tentang Kasus Power Bank Meledak di Kabin, Inilah Regulasi dari IATA Yang Wajib Dipatuhi! Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (6/1/2019), kejadian yang menjadi viral setelah diunggah ke jejaring sosial Facebook ini sendiri terjadi pada Kamis (3/1/2019) kemarin. Beruntung, keseluruhan penumpang yang ada di maskapai tersebut tidak ada yang terluka. Dalam sebuah foto yang diunggah oleh salah seorang pengguna Facebook bernama Francis Ngu Hown Hua, tampak ruang kabin flag carrier Brunei Darussalam ditutupi oleh asap dan penumpang berusaha untuk menutupi hidung dan mulut mereka dengan menggunakan baju serta tangan mereka. Tidak lupa, Francis pun memuji aksi yang dilakukan oleh awak kabin Royal Brunei Airlines yang dengan sigap mendampingi dan mengevakuasi penumpang. Pesawat ini pun dapat mendarat di Bandar Seri Begawan tanpa mengalami kendala. Menanggapi hal ini, pihak Royal Brunei dalam sebuah pernyataan tertulis mengatakan bahwa, “Awak kabin kami sudah terlatih untuk mengaplikasikan prosedur operasi standar untuk mengatasi situasi semacam ini, dimana keselamatan penumpang merupakan poin utama yang tidak boleh dikesampingkan,” “Selain itu, kami juga menggunakan instrumen keselamatan yang sesuai dengan regulasi yang berlaku di setiap penerbangan,” tulis pihak Royal Brunei Airlines dalam sebuah pernyataan tertulis. Baca Juga: Dirjen Perhubungan Udara Keluarkan Edaran Terkait Powerbank dan Baterai Lithium Ion dalam Penerbangan Melalui insiden ini, pihak Royal Brunei Airlines menggarisbawahi poin penting tentang keselamatan penumpang – mengacu pada benda-benda yang boleh dan tidak boleh masuk ke dalam kabin. Menurut regulasi dari International Air Transport Association (IATA), power bank diperbolehkan untuk masuk ke dalam kabin, namun tidak untuk dimasukkan ke dalam bagasi. Kejadian ini sendiri seolah mengingatkan kepada para penumpang untuk senantiasa melakukan double-check tentang barang apa saja yang diperbolehkan masuk ke dalam kabin dan mana yang tidak. Hingga berita ini diturunkan, masih belum diketahui persis apakah ledakan ini dipicu oleh penumpang yang menggunakan power bank tersebut ketika mengudara atau bukan.  

China Railway Investasikan Dana Fantastis untuk Jalur Kereta Sepanjang 6.800 Km!

Operator kereta milik negara, China Railway Corp dikabarkan telah berencana untuk berinvestasi pada jalur kereta api baru sepanjang 6.800 km tahun ini. Ini merupakan bagian dari rencana pemerintah untuk meningkatkan investasi pada sektor infrastruktur. China Railway Corp juga mengatakan bahwa rencananya ini termasuk pemasangan setidaknya 3.200 km rel berkecepatan tinggi di negara Tiongkok. Baca Juga: Tarif Kereta Cepat Shenzhen – Guangzhou Akan Diturunkan 10 Persen! Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (3/1/2019), tahun 2018 lalu, China Railway Corp berinvestasi di jalur rel sepanjang 4.683 km, termasuk 4.100 km berkecepatan tinggi. Cina menginvestasikan CNY802.9 miliar atau yang setara dengan US$117,12 miliar pada infrastruktur tetap kereta api tahun 2018 silam, atau lebih tinggi daripada target sebelumnya senilai CNY732 miliar atau yang setara dengan US$106,75 miliar. Selama satu dekade terakhir, Cina telah banyak berinvestasi pada infrastruktur kereta api, termasuk kereta api berkecepatan tinggi. Sedangkan dalam beberapa tahun terakhir, jumlah investasi tersebut telah berkurang dalam upaya untuk mengatasi pembengkakan hutang pemerintah daerah. Target pendanaan China Railway Corp pada tahun lalu adalah yang terendah di negara itu terhitung sejak tahun 2013 silam. Pihak China Railway Corp sendiri masih enggan membocorkan berapa target investasi yang akan dikeluarkan pada tahun 2019 ini. Sebelumnya, National Development and Reform Commission (NDRC) telah menyetujui delapan proyek kereta api antar kota di sebelah timur provinsi Jiangsu dan Anhui, dimana delapan proyek ini melibatkan investasi gabungan dengan nilai sebesar US$33,82 miliar. Dalam sebuah pernyataan resmi, NDRC mengutarakan bahwa kedelapan proyek ini akan mencakup pembangunan jalur kereta sepanjang 1.063 km – termasuk jalur sepanjang 980km di Jiangsu. Baca Juga: Mau Bawa atau Beli Makan di Kereta Cina? Simak yang Ini Dulu! Pada akhir tahun 2018 kemarin, NDRC menyetujui proyek pembangunan jaringan kereta api perkotaan dengan nilai US$43,28 miliar di kota Shanghai. Proyek ini juga mencakup pembangunan enam jalur kereta bawah tanah (underground) dan tiga jalur kereta api antar kota. Dengan investasi besar-besaran di sektor perkeretaapiannya, muncul satu pertanyaan yang cukup menggelitik. Akankah perkeretaapian Cina mampu menyaingi atau bahkan melampaui kedigdayaan dari jaringan kereta api yang ada di Jepang?