Kabar Baik, Boeing Uji Lapisan Anti Covid-19 di Pesawat! Bisa Digunakan di Industri Lain
Raksasa dirgantara dunia, Boeing, dikabarkan tengah menguji lapisan permukaan antimikroba. Bila pengujian ini berhasil, di masa mendatang, seluruh permukaan di pesawat, utamanya yang banyak diakses penumpang, seperti gagang pintu, seatbelt, pegangan kursi, gagang kompartemen bagasi, armrests, kursi, baki, dan lain sebagainya bisa dipastikan bebas bakteri dan virus apapun, termasuk virus Corona atau Covid-19.
Baca juga: Keren, Boeing Sebar Virus Hidup di Pesawat untuk Uji Efektivitas Disinfeksi, Hasilnya Mencengangkan!
Diberitakan sebelumnya, virus Corona menyebar dengan cepat, tak kenal tempat dan waktu. Selain itu, menurut penelitian, virus Cina (menukil perkataan Presiden AS Donald Trump) ini disebut dapat bertahan di udara selama 3 jam, 4 jam di bahan tembaga, 24 jam di bahan kardus, 2-4 hari di permukaan plastik dan stainless, serta 9 hari di permukaan logam dan kaca.
Celakanya, permukaan-permukaan tersebut sangat sering dijumpai di kehidupan sehari-hari, mulai dari mata terbuka di pagi hari sampai kembali tertutup di malam hari. Tak terkecuali di dalam pesawat sekalipun.
Oleh karenanya, seperti dilansir aerospace-technology.com, pengujian yang terjalin berkat kerjasama dengan The University of Queensland, Australia, ini bertujuan untuk membasmi mikroba dan virus apapun -termasuk Covid-19- dan mencegah penularan di titik-titik banyak kontak, seperti disebutkan di atas.
Selain ampuh mencegah penyebaran segala virus dan mikroba di pesawat, lapisan antimikroba hasil kerjasama keduanya juga bisa diaplikasikan di industri lain, seperti industri telekomunikasi dalam hal ini digunakan untuk membuat casing ponsel anti Covid-19, industri otomotif dalam hal ini di seluruh pemukaan mobil dan motor, hingga industri luar angkasa.
Disebutkan, untuk merealisasikan itu, keduanya juga tengah melakukan uji coba di Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS).
Sebelumnya, di bawah strategi “Confident Travel Initiative” Boeing massif mengembangkan instrumen-instrumen keselamatan di pesawat, dalam hal ini terkait penularan virus Corona. Inisiatif, yang didesain untuk mendorong kesadaran penumpang terhadap berbagai perlindungan kesehatan yang sudah ada dan menekan risiko kesehatan di setiap perjalanan udara ini, menghasilkan output positif.
Pada September tahun lalu, Boeing akhirnya berhasil menemukan alat disinfeksi baru yang dinilai jauh lebih efektif dan efisien berupa tongkat sanitasi portabel ultraviolet (UV) setelah melakukan pengembangan selama enam bulan.
Baca juga: “Confident Travel Initiative” Jadi Strategi Boeing Pastikan Penumpang Terbang Tanpa Ragu Selama dan Pasca Corona
Alat yang sudah mendapat lisensi atau hak paten itu akan diproduksi secara massal oleh Boeing dengan menggandeng Healthe Inc , perusahaan pengembang produk sanitasi UV berteknologi tinggi, untuk penggunaan lebih luas di masyarakat, seperti sekolah, rumah sakit, gedung perkantoran, dan lain sebagainya.
Sebulan kemudian, Boeing dilaporkan menyebar virus ke sebuah pesawat Boeing 737 sungguhan. Hal itu dilakukan untuk menguji efektivitas disinfeksi yang selama ini dilakukan pabrikan itu, mulai dari cairan disinfektan, electrostatic sprayers (penyemprot elektrostatis), antimicrobial coatings (lapisan antimikroba), dan tongkat ultraviolet Boeing. Hasilnya, seluruh teknologi disinfeksi tersebut terbukti efektif membasmi virus, tak terkecuali virus Corona.
Motif Profit, Jadi Makna Perubahan PJKA Menjadi PT KAI
Dalam rangka HUT ke 54 Tahun Perpenka, masyarakat diajak untuk kembali mengingat bagaimana sejarah perjalanan panjang kereta api hingga saat ini menyongsong masa depan. Edie Haryoto, mantan direksi 3 zaman kereta api mengatakan, pada masa PJKA hingga berubah menjadi PT KAI sebelumnya ada perumka.
Baca juga: Ternyata Kereta Api Indonesia Sudah Berganti Logo 3 Kali
Perubahan ini sendiri mengandung tujuan sebab pada masa PJKA. Dikatakan Edie, saat itu PJKA hanya memberikan penyediaan jasa serta pelayanan bagi masyarakat. Sehingga tidak ada tujuan untuk keuntungan, karena tarif ditentukan oleh pemerintah sehingga di masa itu ada pengurangan pegawai yang tadinya 72 ribu menjadi 42 ribu.
“Di masa PJKA, pengelolaan dilakukan oleh direktur utama PJKA yang disebut dengan Kaperjanka dan diangkat langsung oleh Presiden,” ujar Edie dalam webinar, Kamis (18/2/2021).
Ini membedakan antara masa Perum dan Persero yang mana pengelolaan dilakukan oleh direksi yang diangkat oleh Menteri. Selain itu masa PJKA, hanya ada empat direktur. Edie menjelaskan, masa PJKA pengadaan sarana dan prasarana diadakah oleh pemerintah melalui APBN.
Sehingga meski mengalami kerugian tetapi PJKA tidak memiliki hutang sama sekali. Kemudian ada bantuan dari bank dunia untuk menyusun sistem akuntansi baru yang mulai mengarahkan PJKA ke rencana komersialisasi. Bahkan saat itu, diminta langsung menjadi sebuah persero tetapi pemerintah menolak.
“Pemerintah tidak mau langsung ke persero, sehingga ada Perumka dan saat inilah dibuat undang–undang kereta api,” jelas Edi.
Masa kejayaan Perumka, dikatakan Edie yakni pada saat adanya kereta kelas eksekutif. Sehingga bisa diktakan adanya perbaikan lauanan yang signifikan dan disukai oleh masyarakat. Kemudian, ketika perubahan menjadi PT KAI, kebiasaan yang dulu di Perumka pun masih dilakukan. Namun seiring berjalannya waktu, mantan direktur keuangan PJKA tersebut mengatakan, semuanya menjadi mudah ketika PT KAI melakukan perubahan tiketing hingga administrasi.
Baca juga: KRL BN-Holec Pernah Beroperasi Sebagai “Prameks,” Ternyata Sering Bermasalah
“Di masa sekarang, PT KAI juga ikut dalam berbagai proyek infrastruktur pemerintah seperti kereta cepat dan lainnya. Sehingga pendulum bergeser ke arah komersial atau bisnis di mana stasiun bisa menjadi tempat untuk menghasilkan pendapatan. Selain itu juga mengarah ke privatisasi seperti juga negara lain,” tutur Edie.
Dianggap Terlalu Cantik Jadi Pengemudi Bus, Wanita Asal Inggris Tetap Pada Pendiriannya
Pekerjaan mengemudi tidak hanya dilakukan oleh pria, tetapi seorang wanita pun bisa melakukannya. Bahkan wanita sudah lazim bekerja sebagai pengemudi bus kota, seperti di TransJakarta. Tapi bagaimana jika wanita ini lebih cocok sebagai seorang model dibandingkan menjadi seorang pengemudi bus?
Baca juga: Viral, Begini Kisah Pilot Cantik Berhijab Calon Pilot di Amerika! Pernah Bilang Jokowi Begini
Nyatanya si Inggris Timur, seorang wanita berusia 24 tahun menjadi pengemudi bus penumpang. Wanita cantik itu bernama Jodie Leigh Fox yang berasal dari Brentwood, Essex, Inggris yang terus-menerus diberitahu bahwa dia terlalu cantik sebagai seorang pengemudi.
Meski begitu Jodie bersikeras bahwa dirinya mencintai pekerjaannya saat ini. Dia mengaku bekerja sebagai pengemudi bus karena tertarik saat dirinya berdiri di depan dekat dengan pengemudi saat masih remaja. Kemudian setelah tiga tahun dirinya memulai karir sebagai pengemudi dan meninggalkan pekerjaan lama sebagai pengasuh, dia sering kali menjadi pusat perhatian para penumpangnya.
“Saya mendapat begitu banyak komentar dari penumpang kebanyakan pria. Ketika pria naik bus, saya selalu mendapatkan reaksi yang sama yang cenderung ‘kamu sangat cantik’ atau ‘Saya belum pernah melihat sopir bus secantik ini dalam hidup saya,” kata Jodie yang dikutip KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk (17/2/2021).
“Orang-orang mengatakan bahwa saya terlalu cantik untuk menjadi sopir bus, tetapi saya mendapat beberapa komentar baik dari wanita lain yang memuji saya dan kuku saya atau rambut dan riasan saya,” tambahnya.
Jodie mengaku penampilannya juga membuat sulit bergaul dengan sesama pengemudi. Dia juga mengatakan, bahwa usianya menjadi masalah, karena tidak ada pengemudi wanita yang seumuran dengan dirinya.
“Tidak ada perempuan yang sebaya denganku. Saya berteman dengan beberapa orang di garasi, tetapi biasanya saya hanya mendapatkan kartu tugas saya dan kemudian pergi untuk giliran kerja saya,” katanya.
Jodie mengatakan bahwa dia berharap dapat menantang citra stereotip tentang apa yang orang anggap sebagai sopir bus. Dia berencana untuk mengendarai bus hingga masa pensiunnya. Jodie menjelaskan, dirinya memenuhi syarat untuk mengemudikan bus, pelatih, dan bahkan limusin dan harus mengikuti ujian untuk tetap dalam performa terbaiknya.
“Ketika saya meninggalkan pekerjaan saya sebagai perawat, saya menyadari bahwa saya selalu tertarik untuk mengemudikan bus. Saya mencintai pekerjaan saya. Saya berharap untuk melakukan ini sampai saya pensiun! Saya selalu duduk di depan dekat pengemudi dan saya suka mengemudi, jadi saya mewujudkan impian itu,” jelasnya.
Baca juga: Bohong Liburan di Bali, YouTuber Cantik Ini Aslinya Hanya Ke Ikea
Jodie mengaku, dirinya menjalankan banyak tes untuk menjadi seorang pengemudi bus. Dia mengatakan hal tersebut tidak mudah seperti yang dibayangkan banyak orang, dirinya melakukan tes bahasa Inggris, matematika dan sekitar lima modul berbeda sebelum akhirnya mengerjakan teori. Saat ini pun Jodie telah berhasil membangun pengikut di TikTok saat dia berbagi realitas menjadi sopir bus.
Duh, Penumpang Pukul Pramugari dan Coba Buka Pintu Pesawat Saat di Udara! Memangnya Bisa?
Terjadi lagi dimana penumpang coba membuka pintu pesawat saat sedang terbang. Padahal, tindakan tersebut bukan hanya membahayakan dirinya, tetapi juga membahayakan penumpang lain dan pesawat itu sendiri.
Baca juga: Pernah Berpikir untuk Membuka Pintu Pesawat Saat di Udara? Mustahil!
Penumpang coba membuka pesawat dilaporkan terjadi pada penerbangan Delta Airlines belum lama ini. Seorang penumpang pria yang tak disebutkan dengan jelas identitasnya, disebut coba membuka pintu pesawat saat dalam perjalanan dari Atlanta ke Bandara Logan di Massachusetts pada Minggu (14/2).
Kesungguhannya dalam mencoba membuka pintu pesawat bukannya setengah-setengah, ia bahkan sampai memukul pramugari untuk memuluskan aksinya. “Saya melihat pramugari di kelas satu, sepertinya dia melompat mundur. Saya melihatnya telah dipukul,” kata seorang penumpang pesawat Delta Airlines, Mark French, seperti dikutip dari New York Post.
“Saya mengangkat kepala dan melepas headphone saya, dan dia berteriak,” Dia mencoba membuka pintu”.” tambahnya.
Setelah mendapat bantuan dari dua petugas lain, usaha penumpang yang beberapa kali berteriak “Biarkan aku keluar dari sini. Ini bukan rumahku” tersebut akhirnya berhasil diredam. Petugas menggunakan kain untuk mengikatnya di kursi.
Setelah pesawat mendarat, penumpang Delta Airlines itu pun dijemput kepolisian bagian Massachusetts untuk kemudian diserahkan ke FBI.
Tetapi, terlepas dari tindak pidana penumpang tersebut dengan memukul pramugari dan mencoba membuka penumpang, sebetulnya bisakah pintu pesawat dibuka dari dalam saat pesawat mengudara? Jawabannya, mustahil!
Dalam sebuah tulisan businessinsider.com, Kamis, (13/2/2020), sebuah pesawat saat mengudara, pada umumnya berada di ketinggian sekitar 3.600 – 10.000 meter di atas permukaan laut (mdpl).
Banyak faktor yang mendasari mengapa pesawat berada di ketinggian tersebut, seperti menghindari kawanan burung (jenis tertentu bisa terbang maksimal di ketinggian 4.500 meter) hingga mengejar efisiensi bahan bakar. Pasalnya, semakin tinggi pesawat, semakin rendah tekanan udara di luar sehingga pesawat tak memerlukan tenaga ekstra untuk meluncur di airways.
Baca juga: Berakibat Fatal, Pintu Pesawat Terbuka (Lepas) Saat Mengudara
Terkait konteks membuka pintu darurat atau pintu utama, pada ketinggian tersebut (3.600 – 10.000 mdpl), pesawat mendapatkan tekanan besar dari luar, sekitar 10,8 ton. Sebaliknya, bila seseorang ingin membuka pintu pesawat saat di udara, baik secara sengaja maupun tidak, orang tersebut harus mempunyai kemampuan untuk mengangkat beban setara 10,8 ton tadi, barulah kemungkinan pintu pesawat dibuka saat di udara menjadi lebih besar.
Dengan begitu, kalaupun penumpang Delta Airlines yang coba membuka pintu pesawat saat mengudara dibiarkan, secara ilmiah, penumpang itu mustahil bisa melakoninya. Tentu, itu tergantung pada di ketinggian berapa pesawat berada. Bila itu dilakukan beberapa detik setelah pesawat lepas landas, tekanan dari luar mungkin tak terlalu besar sehingga memungkinkan oknum penumpang membukanya.
Gegara Sriwijaya Air SJ-182, Boeing Tuntut Maskapai Pantau Pilot Agar Tak Lakukan Kesalahan
Seolah tak mau terus disalahkan, Boeing diberitakan telah mengirim Buletin Teknis Operasi Penerbangan tertanggal 15 Februari atau Senin lalu ke pelanggannya di seluruh dunia. Buletin itu mengingatkan para pilot tentang langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan mereka mempertahankan kendali atas pesawat.
Baca juga: Kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182, Mungkinkah Akibat Pilot Kena Serangan Jantung?
Dari sisi maskapai, panduan teknis operasi penerbangan itu bertujuan agar maskapai memastikan pilot aktif, khususnya yang menerbangkan pesawat-pesawat Boeing, untuk memantau airplane state and flight path management guna mencegah adanya gangguan pada pesawat.
Meskipun dalam panduan atau buletin tersebut Boeing tak secara khusus menyebut sebagai tindak lanjut atas kecelakaan Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ-182, tetap saja semua airlines menyadari hal itu. Bisa dibilang, ini merupakan peringatan keras yang ditujukan ke para pilot untuk mengidentifikasi masalah pada pesawat dengan benar agar bisa melakukan penanganan dengan tepat dan menghindari terjadinya kecelakaan, layaknya SJ-182 yang menewaskan 62 orang.
“Kehilangan kontrol dalam penerbangan tetap menjadi penyebab terbesar kecelakaan mematikan dalam penerbangan komersial,” kata dalam sebuah buletin tersebut, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Laporan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) -sekalipun belum berupa hasil akhir karena CVR belum ditemukan- ada indikasi engine thrust antara mesin kiri dan kanan yang tidak seimbang. Dari data black box Flight Data Recorder (FDR) beberapa detik sebelum kecelakaan, throttle mesin sebelah kiri beberapa kali berkurang sedangkan tuas sebelah kanan tetap.
Posisi seperti ini bisa membuat pesawat miring atau berbelok tanpa kendali. Hal itu bisa saja terjadi karena pilot fokus menghindari awan berbahaya di depan sehingga perhatian terhadap throttle menjadi berkurang. Singkatnya, sekitar 30 detik sebelum kecelakaan, pesawat lepas kendali dan pilot tidak bisa mengidentifikasi itu.
“Boeing secara teratur berkomunikasi dengan pelanggan tentang bagaimana mereka dapat mengoperasikan pesawat mereka dengan aman dan percaya diri,” kata Boeing dalam sebuah penyataan.
“Dalam koordinasi yang erat dengan otoritas investigasi dan regulator, komunikasi terbaru ini memperkuat pentingnya materi panduan dan pelatihan di seluruh industri dan Boeing tentang pencegahan dan pemulihan gangguan pesawat,” tambahnya.
Penyebab hilangnya kontrol pilot pada pesawat menurut Boeing ada dua, malfungsi dan tindakan yang salah oleh pilot. Agar tak salah, pilot harus cermat dalam mendeteksi dini berbagai kondisi yang menyebabkan pesawat terganggu. Sistem kontrol penerbangan yang serba otomatis pada pesawat memang mengurangi beban kerja pilot, namun di sisi lain menuntut pilot dan co-pilot untuk aktif memantau sistem yang kompleks di kokpit.
Baca juga: Mengenal Istilah Pilot Error, Gagalnya Keputusan Pilot yang Berujung Kecelakaan
Dalam kecelakaan Sriwijaya Air SJ-182, sebetulnya masalah relatif terlalu kecil berkenaan dengan automatic throttle control atau auto throttle. Namun, karena tindakan pilot keliru, alhasil masalah dapat menjadi besar dan berujung pada kecelakaan.
“Masalah kecil seperti overbanking saat berbelok atau terbang lambat saat approach dapat berkembang menjadi perbedaan yang lebih besar dari flight path yang dimaksudkan dan menyebabkan kondisi pesawat terganggu dan berpotensi kehilangan kontrol,” jelas Boeing.
Lego Hadirkan Replika Stasiun Kereta Disneyland dan Bisa Digerakkan
Stasiun kereta Disneyland pernah mendapatkan perawatan dari Lego. Ini karena Lego merilis satu set mainan baru yang akan membuat pecinta Disney tergila-gila. Di mana replika kereta yang mengelilingi Disney World dan Disneyland bisa menjadi milik pecinta Disney.
Baca juga: Anda Rindu Disneyland? Ikuti Perjalanan Virtual Melalui “It’s a Small World”
Dilansir KabarPenumpang.com dari attractionsmagazine.com, Lego merilis set replika 2.925 buah stasiun kereta dan lokomotif Disneyland. Set replika ini bukan hanya mainan yang dipajang, melainkan bisa digerakkan dengan motor di trek. Set ini selain menampilkan lokomotif bermesin uap dengan gerbong empuk, gerbong penumpang, gerbong ruang tamu yang mewah, trek oval, bangunan stasiun bergaya Disneyland yang ikonik juga dilengkapi dengan minifigures Mickey Mouse, Minnie Mouse, Chip, Dale dan Goofy.
Set replika tersebut juga dilengkapi fungsionalitas yang dikontrol aplikasi sehingga Anda dapat menggunakan ponsel pintar atau tablet untuk menggerakkan kereta maju, mundur hingga membuat efek suara yang realistis. Untuk merangkai set replika kereta Disneyland, Anda bisa lebih mudah berkat kopling magnetnya Lego dan panel di gerbong ruang tamu terbuka. Sehingga Anda bisa melihat detail interior dengan meja, kursi berlengan, teko dan cangkir.
Sedangkan di dalam gedung stasiun, akan ditemukan perabotan dan detail rumit dari batu bata termasuk jendela tertutup, jam dinding, lampu langit-langit dan ruang menara dengan kejutan Lego kecil yang menyenangkan. Untuk diketahui, set ini untuk usia 12+ dan menampilkan total 2.925 buah.
Dengan lima minifigures, 16 buah lengkung dan 4 buah track lurus, lokomotif, tender, mobil penumpang, mobil ruang tamu dan gedung stasiun. Miniatur lokomotif ini memiliki spatbor merah besar, roda merah dengan batang penghubung yang berfungsi, cerobong asap besar dan kabin pengemudi.
Tender berisi Lego Powered Up Hub dan Lego Powered Up Train Motor, untuk efek kereta dan suara dapat dikontrol melalui perangkat pintar yang cukup disambungkan melalui Bluetooth dari aplikasi Lego Powered Up. Untuk menjalankannya juga dibutuhkan baterai. Uniknya gerbong kereta penumpang memiliki tempat duduk untuk minifigures Lego Disney.
Baca juga: Jangan Salah Naik! VW T2 Camper Van Ini Karya Desainer Lego dengan Perbandingan 1:1
Mainan kereta Lego Disney berukuran tinggi lebih dari empat inci, panjang 30 inci dan lebar tiga inci. Bangunan stasiun kereta Lego Disney berukuran tinggi lebih dari 15 inci, lebar 14 inci, dan kedalaman enam inci. Sedangkan diameter jalur rel oval berukuran panjang 37 inci dan lebar 27 inci.
Jepang Uji Coba Bus dengan Teknologi 5G Antara Stasiun
Bus dengan teknologi 5G tanpa pengemudi mulai diuji coba di Jepang pada 15 Februari kemarin. Uji coba tersebut dilakukan oleh Pemerintah Kota Maebashi, Universitas Gunma dan organisasi lainnya. Bus ini akan melintasi rute sejauh satu kilometer antara Stasiun JR Maebashi dan Stasiun Cuo Maebashi Jomo Electric Railway.
Baca juga: Adopsi Vehicle-to-x, Bus Otonom Telkomsel 5G Ramaikan Asian Games 2018
Dilansir KabarPenumpang.com dari mainichi.jp (17/2/2021), bodi bus akan dilengkapi kamera, sensor laser untuk mendeteksi rintangan dan Global Positioning System (GPS) untuk mengontrol akselerator. Selain itu rem serta pengoperasian lainnya sesuai dengan lampu lalu lintas serta kondisi sekitar.
Sama seperti pendahulunya yang menggunakan teknologi 4G atau LTE, bus 5G ini juga hanya akan melaju dengan kecepatan maksimal 19 km per jam. Dengan jaringan 5G, digadang-gadang akan meningkatkan keamanan dengan adanya peningkatan pada resolusi gambar dari kamera yang dipasang di sekitar kendaraan dan jalanan yang dilintasinya.
Selain itu pada saat yang sama, verifikasi teknologi dari fungsi pengenalan wajah akan dilakukan untuk memungkinkan pembayaran tanpa uang tunai. Sehingga kedua teknologi ini akan ditagertkan penggunaannya ditahun fiskal 2022.
Untuk diketahui, dalam percobaan terbaru, dua kamera dan sensor laser baru ditambahkan ke sisi jalan sehingga memungkinkan bus untuk secara akurat memahami kondisi jalan di sekitar Stasiun Chuo Maebashi, yang merupakan titik buta bagi bus. Namun, karena mengemudi tanpa awak sama sekali tidak diizinkan secara hukum, kursi pengemudi akan ditempati oleh pengemudi dari Nippon Chuo Bus Co. yang berbasis di Maebashi, yang mengoperasikan bus.
Sehingga bila diperlukan maka pengemudi akan beralih ke mengemudi manual. Selain itu, ruang kendali jarak jauh yang didirikan di Pusat Penelitian Penerapan Sistem Transportasi NextGen Universitas Gunma akan memantau sistem dan menanggapi situasi di mana sulit untuk membuat keputusan berdasarkan mengemudi otomatis saja.
Baca juga: Jaringan 5G Dipercaya Mampu Mengubah Wajah Pariwisata
“5G akan memungkinkan transmisi data dengan kapasitas besar dan sedikit penundaan, yang akan meningkatkan keselamatan dan efisiensi bus. Kami akan melakukannya. suka melakukan berbagai verifikasi untuk penggunaan praktis,” ujar Associate Professor Takeki Ogitsu dari Gunma University.
Uji coba bus teknologi 5G akan berlanjut hingga 28 Februari 2021.
Airbus Ternyata Juga Punya Paten Folding Wingtip Andalan Boeing 777X
Pada 25 Januari 2020 silam, Boeing 777X sukses terbang perdana. Selain pamornya mentereng karena didapuk menjadi pesawat komersial terpajang di dunia dengan 76.73 m dan menggunakan mesin terkuat di dunia GE9X, itu juga karena Boeing 777X karena fitur folding wingtipnya yang berbeda dari yang lain.
Baca juga: Heboh Fitur Folding Wingtip di Boeing 777X, Apa Sih Bedanya Winglet dan Wingtip?
Kendati demikian, usut punya usut, ternyata fitur folding wingtip atau ujung sayap lipat yang diusung Boeing 777X bukanlah satu-satunya yang sudah mendapat paten, melainkan ada folding wingtip lain gagasan Airbus yang baru mendapat paten pada tahun 2014 lalu, jauh lebih anyar dibanding folding wingtip Boeing yang sudah mendapat paten sejak tahun 1990-an.
Dikutip dari Simple Flying, laporan aeroTELEGRAPH menyebut sejak pertama kali dipatenkan pada tahun tersebut, Boeing sebetulnya sudah ingin mengembangkan pesawat dengan fitur ujung sayap lipat. Namun, karena kurangnya minat, pengembangan pesawat itu terus tertunda sampai beberapa tahun belakangan dimana Boeing 777X sukses menjalankan first flight.
Sebagai kompetitor utama, Airbus juga tak mau ketinggalan sehingga muncullah ide membuat folding wingtip sampai mendapat paten pada tahun 2014. Kita sudah sama-sama tahu, bahwa teknologi yang dipatenkan adalah teknologi baru dan belum ada teknologi lain yang serupa dengannya. Termasuk fitur folding wingtip. Karena fitur folding wingtip dari Airbus dan Boeing sama-sama sudah mendapat hak paten, itu berarti keduanya terdapat perbedaan.
Perbedaan dari folding wingtip Airbus dan Boeing sendiri terletak pada lipatan di ujung sayapnya itu. Bila ujung sayap Boeing terlipat ke atas, folding wingtip Airbus terlipat ke bawah. Sesimpel itu, bukan?
Meskipun terkesan hanya sekedar tak mau kalah dengan kompetitornya, Airbus mengklaim folding wingtip miliknya -yang notabene terlipat ke bawah- punya sederet keunggulan. Pertama, folding wingtip yang terlipat ke bawah diklaim lebih aman. Itu karena gaya aerodinamis dapat menyebabkan ujung sayap dapat terlipat ke atas dalam penerbangan sehingga membahayakan sifat aerodinamis pesawat.
Kedua, teknologi folding wingtip ini akan menggunakan apa yang disebut sebagai locking mechanisms dan aktuator yang lebih ringan daripada ujung sayap lipat ke atas milik Boeing.
Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?
Sekalipun memiliki setidaknya dua keunggulan dibanding folding wingtip ke atas milik Boeing, Airbus belum mengembangkan teknologi tersebut lebih jauh. Itu karena, pada saat mendaftarkan paten tersebut, tren pesawat penumpang berkapasitas besar masih akan mendominasi. Namun, seperti yang kita lihat saat ini, fakta justru sebaliknya.
Pesawat superjombo buatan Airbus yang jadi pesawat komersial terbesar di dunia, A380, justru menjadi usang. Itu karena maskapai penerbangan di dunia tidak lagi menjalankan model jaringan hub-to-hub yang menuntut kapasitas besar melainkan sudah point-to-point yang menuntut kapasitas besar namun juga efisiensi tinggi dengan dua mesin.
Selain Sabet Rute Domestik Tersibuk, Ini Sederet Prestasi Penerbangan Indonesia di Februari 2021
Penerbangan internasional Indonesia memang masih belum bisa diharapkan, namun tidak demikian dengan rute domestik. Dalam survei terbaru lembaga analisis penerbangan global OAG yang berbasis di Inggris di bulan Februari 2021, dua rute domestik Indonesia berhasil menempati posisi tujuh dan kesembilan tersibuk di dunia.
Baca juga: 10 Maskapai dan Rute Narrowbody Jarak Jauh Terbesar di Dunia, Ada Maskapai Indonesia?
Selain itu, Indonesia juga mencatat dua prestasi lainnya di bulan ini. Dua itu ialah menempati posisi ketujuh pada kategori 20 bandara dengan kapasitas keberangkatan domestik berjadwal tersibuk di dunia dan 20 negara teratas di dunia dengan kapasitas penerbangan berjadwal.
Dilansir dari laman resminya, posisi pertama rute domestik tersibuk di dunia bulan Februari 2021 ditempati oleh rute dari Bandara Internasional Jeju menuju Bandara Gimpo Seoul di Korea Selatan. Diperingkat kedua sampai keempat berturut-turut diisi oleh rute-rute di Asia, yaitu rute dari Bandara Hanoi ke Ho Chi Minh di Vietnam, Bandara Chitose Sapporo ke Haneda Tokyo, dan Bandara Fukuoka ke Haneda Tokyo di Jepang.
Masuk lima besar rute tersibuk di dunia pada bulan Februari 2021 masih ditempati oleh rute Asia, sekalipun bukan Asia Pasifik, melainkan Asia Barat atau Timur Tengah, yaitu rute Jeddah-Riyadh. Rute lain di Korea Selatan juga kembali masuk ke jajaran rute domestik tersibuk, diwakili oleh rute dari Bandara Gimpo Seoul-Busan.
Tetangga Korea Selatan, Jepang, juga menempati wakil lain di posisi ke-10 dalam jajaran tersebut, yaitu rute Tokyo Haneda-Okinawa Naha. Satu-satunya rute di luar Asia dalam jajaran rute domestik tersibuk di dunia pada bulan Februari 2021 ini adalah rute dari Bandara Cancun-Mexico City, Meksiko, yang menempat posisi kedelapan.
Sedangkan dua rute tersibuk di dunia dari Indonesia menempati posisi ketujuh dan kesembilan. Posisi ketujuh ada rute Jakarta-Medan Kualanamu dengan 382.975 kursi dan di posisi kesembilan diisi oleh rute Jakarta-Makassar dengan 370.931 kursi, jauh tertinggal memang dibanding posisi pertama dan kedua yang berturut-turut mencapai hampir 1,2 juta kursi dan 1,1 juta kursi.
Baca juga: Inilah 6 Negara dengan Jumlah Bandara Terbanyak di Dunia, Nomor 6 dari Asia! Indonesia, kah?
Di samping masuk jajaran rute domestik tersibuk di bulan Februari 2021, Indonesia juga masuk ke jajaran 20 bandara dengan kapasitas keberangkatan domestik berjadwal tersibuk di dunia, dimana Bandara Soekarno-Hatta menempati posisi ketujuh dan 20 negara teratas di dunia dengan kapasitas penerbangan berjadwal, dimana Indonesia menempati posisi keempat, di bawah Amerika Serikat, Cina, dan India.
Kendati sederet prestasi ini hanya di bulan Februari, namun, bukan tak mungkin jika penanganan virus Corona jauh lebih baik dan perkembangan kasus aktifnya jauh menurun, industri penerbangan Indonesia akan lebih cerah dan mencetak sederet prestasi lainnya.
