Di Inggris Drone Dilarang Terbang dalam Radius 5 Km dari Bandara, Di Indonesia Dilarang Lebihi Ketinggian 150 Meter

Undang-undang memperluas zona larangan terbang bagi pesawat tanpa awak atau drone di sekitaran bandara Inggris menjadi lima kilometer dari landasan pacu akan disahkan Pemerintah Inggris pada Maret 2019. Pemerintah dan Otoritas Penerbangan Sipil (CAA) membuat undang-undang tersebut untuk menghindari terjadinya kembali pelanggaran keamanan yang baru-baru ini dilakukan drone ilegal yang terbang dekat Bandara Heathrow dan Gatwick.

Baca juga: Drone Muncul (Lagi) di Bandara Dubai, Operasional Penerbangan Dihentikan 30 Menit

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (21/2/2019), pemberlakuan jarak lima kilometer tersebut akan dimulai 13 Maret 2019 dan pelanggar akan dikenakan hukuman penjara hingga lima tahun. Operator drone atau pesawat tanpa awak sebelum menerbangkan juga harus mendapat izin dari pemerintah.

“Undang-undang jelas bahwa menerbangkan drone di dekat bandara adalah tindakan kriminal yang serius. Kami sekarang melangkah lebih jauh dan memperluas zona larangan terbang untuk membantu menjaga keamanan bandara kami dan langit kami. Kami juga berupaya meningkatkan kesadaran akan aturan yang berlaku. Siapa pun yang menerbangkan pesawat tanpa awak di sekitar bandara harus tahu bahwa mereka tidak hanya bertindak tidak bertanggung jawab, tetapi juga secara kriminal, dan dapat menghadapi hukuman penjara,” ujar Sekretaris Transportasi Inggris, Chris Grayling.

Menteri Dalam Negeri Sajid Javid mengatakan, akan memperpanjang pemberhentian dan pencarian untuk memasukkan drone dan membantu polisi mengatasi gangguan yang belum lama terjadi di bandara Inggris dan membawa pelaku ke ranah hukum.

“Polisi jelas bahwa mencari adalah salah satu alat paling ampuh yang mereka miliki untuk menargetkan dan mengganggu kejahatan dan saya tetap berkomitmen untuk memberi mereka semua dukungan yang mereka butuhkan untuk melindungi masyarakat,” ujar David.

Ini aturan Inggris, bagaimana dengan Indonesia mengatur regulasi terkait drone? Dirangkum dari berbagai laman sumber, Menteri Perhubungan mengeluarkan Peraturan Menteri No.90/2015 Tentang Pengendalian Pengoperasian Pesawat Udara Tanpa Awak Di Ruang Udara yang Dilayani Indonesia.

PM ini sendiri berlaku sejak 12 Mei 2015 lalu untuk menjaga keselamatan operasional penerbangan di ruang udara yang dilayani Indonesia dari kemungkinan bahaya (hazard) yang timbul karena pengoperasian drone. Dalam PM tersebut, drone tidak boleh dioperasikan di kawasan udara terlarang, kawasan terbatas dan keselamatan operasi penerbangan suatu bandara.

Pesawat tanpa awak ini juga tak boleh beroperasi pada ruang udar yang dilayani yaitu controlled airspace dan uncontrolled airspace pada ketinggian lebih dari 500 kaki atau 150 meter.

“Drone tidak boleh dioperasikan pada uncontrolled airspace pada ketingggian lebih dari 150 meter,” ungkap Direktur Navigasi Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Novie Riyanto.

Namun untuk kepentingan pemerintah seperti patroli batas wilayah negara, wilayah laut, pengamatan cuaca, aktivitas hewan dan tumbuhan di taman nasional, survei dan pemetaan maka drone boleh dioperasikan di ketinggian lebih dari 150 meter dengan izin dari Dirjen Perhubungan Udara. Aktivitas lainnya adalah pemotretan perfilman dengan izin dari institusi berwenang.

Izin khusus pengoperasian drone harus dilengkapi persyaratan spesifikasi teknis airborne system, spesifikasi teknis ground system, maksud dan tujuan pengoperasian, rencana pengoperasian (flight plan) dan prosedur emergency.

Baca juga: Bandara Gatwick dan Heathrow Hadirkan Teknologi Anti Drone

“Izin khusus diberikan oleh Ditjen Perhubungan Udara untuk kepentingan keselamatan penerbangan. Permohonan izin disampaikan paling lambat empat belas hari kerja sebelum pelaksanaan pengoperasian drone,” jelas Novie.

GrabPet Hadir Untuk Angkut Hewan Piaraan di Singapura

Meluncurkan berbagai layanan pada aplikasinya, bagi Grab bukanlah hal baru lagi. Sebab selain untuk menjawab tantangan, Grab juga membantu untuk mempermudah dalam layanan ride hailingnya. Seperti warga Singapura yang sebentar lagi akan dimudahkan untuk mengangkut hewan piaraan mereka menggunakan aplikasi Grab.

Baca juga: Siap ‘Bertarung’ di Jakarta, GrabBajay Kini Tengah Matangkan Uji Coba

Pasalnya Grab baru saja meluncurkan layanan dengan mode beta untuk pilihan GrabPet pada Rabu (20/2/2019) kemarin. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (20/2/2019), Grab menghadirkan layanan ini juga tidak begitu saja dimana, pengemudi diberikan pelatihan penanganan hewan peliharaan saat mereka menaiki kendaraan.

Daftar hewan piaraan yang bisa dibawa (channelnewsasia.com)

Tarif untuk pengangkutan hewan peliharaan ini dimulai S$14 atau Rp145 ribu. Hampir semua peliharaan berbulu yang disetujui Agri-Food dan Veterinari Authority di Singapura diizinkan dalam GrabPet. Namun ada pengecualian untuk burung, karena penyegar udara yang digunakan kendaraan bisa menimbulkan risiko bagi unggas.

Meski ada layanan GrabPet, pemilik atau pengasuh hewan piaraan tersebut tetap harus ikut dalam kendaraan alias hewan tidak bepergian sendiri. Untuk menggunakan layanan ini, Grab membatasi maksimal hanya dua hewan peliharaan satu berukuran sedang dan satu berukuran besar yang diizinkan dalam GrabPet.

Hewan-hewan ini pun harus masuk dalam kandang atau diikatkan tali pengaman di lehernya. Pihak Grab mengatakan, ada ratusan mitra pengemudi yang sudah dilatih dalam layanan terbaru mereka tersebut. Kendaraan akan dilengkapi dengan kit di dalam mobil termasuk penutup kursi belakang, handuk serat mikro dan penyegar udara.

Grab juga menyediakan perlindungan asuransi tambahan untuk hewan peliharaan, penumpang, dan mitra pengemudi di wahana GrabPet yang pertama untuk layanan transportasi hewan peliharaan di Singapura.

(channelnewsasia.com)

“Meskipun ada layanan transportasi hewan peliharaan yang ada di pasar, sebagian besar dari mereka biasanya memerlukan pemesanan atau pemesanan terlebih dahulu. Dengan GrabPet, pemilik hewan peliharaan dapat memesan tumpangan sesuai permintaan, 24 jam sehari dan tujuh hari seminggu, selama ada pengemudi yang tersedia di sekitarnya,” ujar pernyataaan dari Grab.

Pemilik hewan peliharaan sebelumnya dapat mengangkut hewan mereka dengan opsi naik Uber’s uberPET, yang diluncurkan pada Oktober 2017. Namun, layanan itu berhenti setelah operasi Asia Tenggara Uber dibeli oleh Grab tahun lalu. Ryde juga memiliki opsi carpool yang disebut RydePet, dengan tarif hingga 25 persen lebih tinggi daripada carpool normal.

Baca juga: Grab Gandeng HOOQ, Hadirkan Video di Dalam Aplikasi

Hewan yang diizinkan di RydePet termasuk anjing, kucing, kelinci, kura-kura, hamster, burung di kandang dan ikan di akuarium kecil atau kantong plastik. Untuk menandai peluncuran beta GrabPet di Singapura, Grab akan menyumbangkan S$3 atau Rp31 ribu dari setiap perjalanan GrabPet ke Masyarakat untuk Pencegahan Kekejaman terhadap Hewan (SPCA) di Singapura untuk bulan berikutnya.

Pemerintah Gothenburg Tunjuk Volvo 7900 Electric Bus Sebagai “Perpustakaan Keliling”

Perkembangan jaman ternyata tidak hanya menyasar peningkatan kenyamanan dan keamanan penumpang saja, melainkan juga tentang memudahkan keterjangkauan fungsi dari sebuah fasilitas umum. Seperti jalur yang ditempuh oleh pihak berwenang di Swedia, dimana salah satu kota besar yang ada di sana akan mulai memperkenalkan perpustakaan berjalan yang menggunakan armada bus listrik. Selain memudahkan keterjangkauan dari perpustakaan tersebut, penggunaan bus listrik di sini juga menjadi sorotan – turut berperan dalam meminimalisir polusi udara.

Baca Juga: Books On a Bus, Perpustakaan Mobile yang Sambangi Daerah Berpenghasilan Minim

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman electrive.com (12/2/2019), Perpustakaan Kota Gothenburg dikabarkan akan menggunakan dua buah armada Volvo e-bus yang akan berperan sebagai perpustakaan keliling. Menurut rencana, pihak perpustakaan akan mulai mengoperasikan perpustakaan keliling ini pada musim panas 2020 mendatang. Perusahaan asal Finlandia, Kiitikori dikabarkan akan merancang interior dari dua bus listrik Volvo 7900.

Perancangan itu sendiri tidak hanya sebatas interior, penyusunan rak buku, dan lain-lain, tapi juga Kiitikori akan merancang titik pertemuan antara orang tua dan anak-anak – dua dari sekian banyak target perpustakaan ini.

Saat ini, Perpustakaan Kota Gothenburg mengoperasikan sejumlah bus diesel yang berhenti di sekitar 70 perpustakaan keliling dan 110 preschool. Bus listrik Volvo ini dipercaya memiliki konsumsi energi sekitar 80 persen lebih rendah ketimbang bus diesel Euro 6 yang digunakan saat ini.

Bus listrik dari Volvo ini sendiri menggunakan baterai yang memiliki kapasitas 250 kWh dan menggunakan kabel CCS untuk mengisi ulang dayanya. Pihak Volvo sendiri mengaku akan menanggung perawatan dari bus Volvo 7900 Electric.

“Parkir di malam hari, pengisian ulang daya, hingga perawatan akan kami lakukan di Volvo Truck Centre yang baru di Mölndal,” ujar salah satu pihak Volvo.

Baca Juga: Nunggu Bus di Halte ini Bisa Bikin Tambah Pintar, Lho!

Mengenai pilihan kendaraan, Anette Eliasson dari Departemen Kebudayaan Kota Gothenburg mengatakan, “Kami memilih bus listrik untuk memastikan lifetime kendaraan bisa sejalan dengan rencana pengoperasiannya, yang tidak kurang dari 12 tahun,”

Bus listrik Volvo sendiri telah dijual ke beberapa kota di Swedia dan penjualan bus listrik Volvo di Eropa termasuk kota-kota di Denmark, Inggris, Luxemburg, Belanda, Norwegia, dan Polandia.

Boeing 737 Garuda Indonesia Dipasangi Livery Mitsubishi Xpander! Ada Apa?

Setelah beberapa waktu yang lalu maskapai plat merah Garuda Indonesia meluncurkan inflight meals yang bertajuk “Signature Dish of Indonesia”, kini Garuda dikabarkan baru saja menyematkan livery design decal branding Mitsubishi Xpander pada salah satu armadanya, Boeing 737-800NG. Sebelumnya, Mitsubishi dan Garuda Indonesia memang sudah menjalin kerja sama dalam hal penyediaan unit small MPV Xpander kendaraan operasional awak pesawat flag carrier Indonesia ini.

Baca juga: Garuda Indonesia Pilih Mitsubishi Xpander untuk Kendaraan Awak Kabin

KabarPenumpang.com merangkum dari sejumlah laman sumber, livery branding yang tersemat di pesawat Garuda Indonesia dengan nomor registrasi PK-GNU ini resmi diluncurkan pada Rabu (20/2/2019) kemarin. Pesawat tersebut langsung beroperasi mengantarkan rombongan manajemen PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), MMC, dan dealer kendaraan penumpang Mitsubishi dari Jakarta menuju Denpasar untuk agenda tahunan konvensi dealer di Pulau Dewata.

“Sinergi yang terjalin baik antara Mitsubishi Motors dan Garuda Indonesia semakin menunjukkan kesamaan karakteristik antar kedua perusahaan yang tidak hanya terletak pada ciri dan karakteristik brand, namun juga persepsi dan sikap dalam menyuguhkan layanan terbaik dan memberikan kepuasan tertinggi terhadap pelanggan,” ujar Presiden Direktur PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI), Naoya Nakamura.

Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa kedua perusahaan beda negara ini memang menjadi top of mind pilihan transportasi idaman yang menawarkan kemewahan, kenyamanan, fitur, layanan terbaik, prestise, hingga harga yang cukup kompetitif untuk konsumen.

Mengutip dari laman tempo.co, saat ini Mitsubishi Motors dan Garuda Indonesia terus melakukan studi akan kemungkinan kerjasama yang akan dilakukan untuk mendukung proses bisnis dan perkembangan ekonomi di Indonesia.

Tidak hanya armada Boeing 737-800NG milik Garuda Indonesia saja yang menggunakan livery branding dari Mitsubishi. Sebelumnya, sebanyak 401 unit Mitsubishi Xpander varian GLS MT dengan decal branding telah digunakan sebagai kendaraan operasional dan unit shuttle transportasi resmi untuk awak kabin Garuda Indonesia.

Menanggapi kerja sama ini, Direktur Utama Garuda Indonesia Ari Askhara mengungkapkan bahwa ini merupakan kerja sama livery pertama yang melibatkan sebuah produk otomotif, dalam hal ini Mitsubishi Motors melalui sub brand Mitsubishi Xpander.

Baca juga: Siap-Siap! Juni 2019 Garuda Indonesia Buka Rute Penerbangan Langsung Makassar – Jepang

“Melalui kerjasama ini, tentunya kami harapkan dapat menghadirkan nuansa penerbangan yang berbeda kepada penumpang, khususnya melalui kehadiran livery design Mitsubishi Xpander di badan pesawat Garuda Indonesia,” ujar Ari.

“Kerjasama sinergi antar Garuda Indonesia dan Mitsubishi Motors ini tentunya menjadi konsep kolaborasi branding yang memiliki added value tersendiri bagi kedua perusahaan. Dengan brand Garuda Indonesia yang kuat sebagai “National Flag Carrier” serta karakteristik prestige dan exclusive dari hadirnya brand Mitsubishi Xpander di pesawat, tentunya menjadi nilai tambah tersendiri dari aspek brand engagement kedua perusahaan.” tutupnya.

 

Tunjang Keselamatan Pengemudi, Vietnam Legalkan Pemasangan Sekat Pelindung di Taksi

Maraknya beragam kasus yang mengancam keselamatan dan keamanan penumpang maupun pengemudi ketika menggunakan layanan ride-hailing, ride-sharing, atau bahkan taksi sekalipun, membuat sejumlah pelaku usaha yang memiliki korelasi dengan bisnis ini memikirkan bagaimana caranya untuk bisa meminimalisir kasus dan semakin menjamin keselamatan para penumpang dan pengemudinya. Berbagai cara coba dilakukan oleh para penyedia jasa, salah satunya di Vietnam dimana mereka menggunakan sekat pelindung berbahan plastik yang memisahkan antara pengemudi dan penumpang.

Baca Juga: DriveHER, Ride Sharing dengan Pengemudi Wanita dan Khusus Bagi Penumpang Wanita

Namun apakah hal tersebut tidak melanggar regulasi yang berlaku? Berdasarkan lansiran KabarPenumpang.com dari laman vietnamnews.vn (20/2/2019), ternyata opsi semacam ini tidaklah ilegal di sana. Namun tidak bisa sembarangan plastik bisa digunakan untuk membatasi penumpang dan pengemudi ini, melainkan haris diperksa terlebih dahulu untuk memastikan kenyamanan baik dari segi penumpang dan pengemudi.

Pernyataan itu dibuat setelah muncul kekhawatiran tentang pemasangan sekat pelindung di kursi pengemudi, yang dapat menyebabkan perubahan struktural pada kabin pengemudi, dan hal ini juga akan memengaruhi pandangan dan kemampuan pengemudi untuk mengendalikan kendaraannya.

Sekat Pelindung. Sumber: istimewa

Mundur ke tanggal 29 Januari kemarin, dimana seorang pengemudi taksi tewas dibunuh oleh penumpang yang duduk di bangku belakang, tidak terlalu jauh dari Mỹ Đình Stadium di Kota Hanoi. Pasca kejadian ini, dilaporkan ada banyak pengemudi taksi di Vietnam yang mulai memasang sekat pelindung guna memastikan keamanan si pengemudi sendiri maupun sebaliknya.

Pernyataan tentang legalnya pemasangan sekat pelindung ini sendiri dilontarkan oleh Vietnam Register, Badan Negara nirlaba yang memiliki fungsi dan yurisdiksi pada organisasi dan kinerja pengawasan teknis. Vietnam Register mengatakan bahwa merujuk pada Pasal 85 Kementerian Transportasi Vietnam yang dirilis pada Oktober 2014, setiap kendaraan yang telah melewati fase modifikasi harus terlebih dahulu duji kelaikannya sebelum bisa beroperasi di jalanan.

Baca Juga: Sering Tertukar, Ini Dia Perbedaan Antara Ride-Sharing dan Ride-Hailing

Vietnam Register juga mengusulkan kepada pihak kementerian terkait untuk menyederhanakan prosedur pengujian sekat pelindung bagi pengemudi yang hendak menggunakannya. Namun jika dilihat dari segi teknis, pemasangan sekat pelindung ini bisa jadi ‘bumerang’ bagi pengemudi dan penumpang di kala keadaan darurat.

Di Ketinggian 35.000 Kaki, Boeing 787-900 Virgin Atlantic Berhasil Tembus Kecepatan Mach 1

Pesawat twin jet Boeing 787-900 berbalutkan livery Virgin Atlantic yang mengudara dari Los Angeles menuju London dikabarkan mampu merengkuh kecepatan 801 mph atau yang setara dengan 1.289 km per jam di ketinggian sekira 35.000 kaki (10.668 meter) ketika pesawat melintasi Pennsylvania. Sebagaimana yang telah diketahui bersama, pesawat yang bertenagakan jet, yang dikombinasikan dengan tingkat ketinggian jelajah yang optimal akan membuat pesawat mampu menembus kecepatan yang fantastis.

Baca Juga: Virgin Atlantic Sukses Terbangkan Boeing 747 dengan Bahan Bakar Ramah Lingkungan

KabarPenumpang.com melansir dari laman seattletimes.com (20/2/2019), pada hari Senin (18/2/2019) kemarin, pesawat jet milik Virgin Atlantic VS8 dengan rute penerbangan Los Angeles menuju London Heathrow berhasil menembus top speed jelajah di angka 1.289 km per jam. Namun kecepatan tersebut tidaklah bertahan lama. Ketika pesawat mulai mengudara di atas Samudera Atlantik, kecepatannya turun ke angka 710 mph atau yang berkisar 1.142 km per jam.

Dengan kecepatan yang mencapai 1.289 km per jam, maka Boeing 787-900 Virgin Atlantic berhasil mencapai level kecepatan supersonic, yaitu di Mach 1, dimana Mach 1 setara dengan 1.234 km per jam.

Sumber: dailymail.co.uk

Tentu saja, kendati hanya sementara, namun kecepatan jelajah tersebut telah membawa dampak yang cukup signifikan terhadap penerbangan antar benua itu. Menurut data yang diperoleh dari Bandara Internasional Heathrow, Virgin Atlantic VS8 mendarat 48 menit lebih awal daripada yang telah dijadwalkan sebelumnya. Estimasi gate-to-gate flight yang dijadwalkan sebelumnya membutuhkan waktu sembilan jam 34 menit. Namun Virgin Atlantic VS8 berhasil mendarat di Terminal 3 Bandara Heathrow pada Selasa (19/2/2019) pukul 08.22 waktu setempat.

Kendati ramai digembar-gemborkan, Boeing tidak dapat mengkonfirmasi lebih lanjut apakah kecepatan yang dicapai oleh pesawat Virgin Atlantic VS8 ini merupakan rekor untuk jet mesin ganda karena tidak melacak kecepatan pesawat. Menurut raksasa manufaktur asal Amerika ini, biasanya kecepatan jelajah dari Boeing 787 Dreamliner berada di level 561 mph atau yang sekira 902 km per jam.

Baca Juga: Serba-Serbi Soal Virgin Atlantic, Merek Dagang Milik Sir Richard Branson yang Mendunia!

“Penerbangan Virgin Atlantic dari Los Angeles menuju London mencapai kecepatan 801mph berkat aliran jet yang mendorong pesawat di atas kecepatan normal sekitar 550 mph. Sekali lagi ini adalah ground speed dan bukan kecepatan udara, tapi masih sangat mengesankan,” ujar seorang ahli meteorologi, Kevin Lighty.

Namun, penerbangan antar benua ini masih belum bisa mengalahkan rekor yang sebelumnya dicatat oleh British Airways. Pada tahun 1996, dengan menggunakan armada supersonik Concorde, British Airways berhasil mengantarkan penumpang dari New York menuju London dengan catatan waktu dua jam 52 menit dan 59 detik.

Di Awal Kemunculan, Boeing 747 Sempat Dituding Mengambil Alih Pasar Penerbangan

Memang, pamor ‘Queen of the Skies’, Boeing 747 belumlah bisa tergantikan – kendati A380 yang menyandang predikat sebagai jet penumpang komersial terbesar di dunia sekalipun, belum bisa menyaingi pamor dari pesawat yang terkenal dengan ‘benjolan’ pada bagian depannya ini. Mulai dari bentuknya yang berbeda dengan kebanyakan pesawat, hingga julukannya yang seolah melambangkan keagungannya di sektor aviasi global.

Baca Juga: 9 Februari 1969, Memperingati 50 Tahun Penerbangan Perdana Boeing 747

Tapi, tahukah Anda bahwa ada segelintir ‘rahasia’ yang mungkin belum diketahui oleh banyak orang tentang armada yang pertama kali mengudara dalam sebuah uji coba pada 9 Februari 1969 ini. Penasaran? Berikut KabarPenumpang.com beberkan rahasia tersebut, mengutip dari laman forbes.com.

Membangun Pabrik Khusus Untuk Merakit Boeing 747
Mengingat Boeing 747 kala itu merupakan pesawat jet komersial terbesar yang pernah ada, maka Boeing sempat kebingungan untuk menyediakan lokasi guna merakit “Sang Ratu”. Hingga suatu saat mereka menunjuk Paine Field, bekas pangkalan udara Perang Dunia II sekitar 30 mil sebelah utara Seattle, sebagai lokasi pabrik perakitan Boeing 747. Sampai pada akhirnya di tahun 1966, Boeing membangun pabrik seluas 200juta kaki kubik – dan hingga kini masih digunakan (setelah mengalami perluasan) untuk perakitan 767, 777, dan 787.

Dituding Menyalip Concorde
Di akhir tahun 1960-an, Boeing dituding oleh sebagian oknum telah mengambil alih pasar penerbangan global, terutama penerbangan supersonik yang kala itu tengah dikembangkan oleh perusahaan Anglo/Perancis, Concorde. Jelas tudingan ini tidak jelas pangkalnya, karena di awal peluncurannya, Boeing menargetkan 747 sebagai pesawat kargo, dan Boeing telah menguji coba 747 terlebih dahulu sebelum Concorde menguji coba armada kebanggaannya.

Tudingan ini semakin santer terdengar manakala Boeing dengan 747-nya berhasil mencuri perhatian kebanyakan pengunjung di acara Paris AirShow yang diadakan pada tahun 1969.

Desain Awal yang Tidak Sama
Di awal ide pembangunan 747, Boeing menargetkan armada ini akan menjadi ‘burung besi’ double-deck dengan single aisle. Berbeda dengan desain yang selama ini kita lihat, dimana double-deck yang ada di Boeing 747 tidaklah penuh seperti yang diterapkan pada Airbus A380.

Baca Juga: Inilah Fakta di Balik Berhentinya Produksi Boeing 747-8 Intercontinental

Berhasil Menghadapi Gangguan Udara Dengan Sangat Baik
Ya, pernyataan ini dilontarkan langsung oleh pilot yang menerbangkan Boeing 747 untuk pertama kalinya, Brien Wygle.

“Kami menyadari bahwa pesawat itu (Boeing 747) sangat responsif dan berkinerja sangat sukses,” ujar Brien.

“Tampaknya, Boeing 747 dapat mengatasi turbulensi yang kami hadapi di udara dengan sangat baik,” tandasnya sembari bernostalgia.

Bukan Bahan Masakan, “Kemiri” Adalah Nama Stasiun Peninggalan Belanda

Ingat kemiri jadi ingat bumbu masakan yang biasa minyaknya digunakan untuk mempertebal rambut. Tapi, kemiri yang satu ini bukan bumbu masakan melainkan sebuah stasiun kereta api yang berada di Jawa Tengah.

Baca juga: Sempat Jadi Tempat Persusulan Kereta, Stasiun Wojo Direaktivasi Untuk Transit Kereta Bandara

Stasiun Kemiri merupakan stasiun kereta api kelas III atau kecil yang letaknya di Desa Kemiri, Kecamatan Kebakkramat, Kabupaten Karanganyar. Masuk dalam Daerah Operasional (Daop) VI Yogyakarta, Stasiun Kemiri berada di ketinggian +98 mdpl dan letaknya agak masuk dari Jalan Raya Tasikmadu-Kebakkramat.

Dulunya Stasiun Kemiri lebih dikenal dengan nama Halte Kemiri. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, Stasiun ini memiliki tiga jalur dengan jalur 1 sebagai sepur lurus menuju ke Stasiun Palur ke arah selatan dan Stasiun Masaran ke arah utara.

Jalur 2 digunakan sebagai tempat perhentian kereta jika adanya persusulan dan jalur 3 pun di gunakan sebagai persusulan. Dulunya jalur 3 Stasiun Kemiri ini terhubung dengan jalur lori atau decauville menuju ke Pabrik Gula Tasikmadu untuk sarana angkutan tetes tebu dan gamping sebagai salah satu bahan pendukung industri gula.

Sebagai salah satu peninggalan Hindia Belanda, pada saat pembangunannya pun diperkirakan bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api dari Madiun-Paron-Sragen-Solobalapan. Pengerjaan stasiun ini sendiri dilakukan oleh Staatsspoorwegen (SS) diperkirakan dari tahun 1883 hingga 1884. Jalur sepanjang 97 kilometer ini, pengerjaannya dimulai dari Madiun di sebelah timur menuju ke Solobalapan di sebelah barat.

Kini nasib Stasiun Kemiri hanya sebagai stasiun persilangan serta persusulan kereta api saja bukan lagi untuk menaik turunkan penumpang. Menurut data grafik perjalanan kereta api atau Gapeka 2017 yang direvisi Desember 2018, persilangan dan persusulan kereta api di Stasiun Kemiri adalah KA Logawa, KA Pasundan, KA Singasari, KA Matarmaja dan KA Sancaka.

Baca juga: Sempat Vakum 2 Tahun, Stasiun Kertosono Kembali Beroperasi Sejak 2015

Saat ini sedang dibangun jalur ganda dari Solobalapan hingga Kertosono yang dalam perkembangan selanjutnya akan sampai di Surabaya. Terkait adanya pembangunan jalur ganda lintas selatan jawa, Stasiun Kemiri ikut juga dalam renovasi besar-besaran. Meski begitu stasiun tersebut tetap menjadi persusulan dan nantinya bangunan lama akan dirobohkan digantikan dengan bangunan baru.

Penumpang Keluhkan Ada ‘Kamera Tersembunyi’ di Layar Hiburan Singapore Airlines

Jika Anda merupakan tipe orang yang selalu menutupi kamera di komputer atau laptop dengan menggunakan selotip – seperti yang dilakukan Mark Zuckerberg, maka Anda mungkin tidak akan terlalu senang jika Anda menemukan sebuah kamera ‘tersembunyi’ di layar yang terletak di belakang bangku penumpang di sebuah penerbangan. Sudah barang tentu perasaan seperti dimata-matai akan senantiasa mendampingi perjalanan Anda hingga sampai di terminal bandara yang Anda tuju.

Baca Juga: Terima Airbus A350-900ULR, Singapore Airlines Siap Terbang ke New Jersey Non-Stop

Ya, gambaran peristiwa di atas ternyata dialami oleh maskapai asal negeri tetangga, Singapore Airlines, dimana flag carrier Singapura tersebut mendapat keluhan dari sejumlah penumpang terkait kehadiran kamera pada layar di belakang bangku penumpang ini. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman digitaltrends.com (19/2/2019), pihak Singapore Airlines menjelaskan bahwa kamera tersebut terhubung dengan sejumlah perangkat perekaman atau pengambilan gambar apapun.

Penjelasan Singapore Airlines tersebut dilontarkan setelah seorang penumpang layanan tersebut mengunggah cuitan – lengkap dengan beberapa foto dan mengunggahnya ke jejaring sosial Twitter. Adalah Vitaly Kamluk, seorang pengguna Twitter yang mengunggah cuitan tersebut, dan tidak lupa ia juga me-mention akun Twitter resmi Singapore Airlines, @SingaporeAir dalam cuitannya tersebut.

“Saya baru saja menemukan sebuah sensor yang seolah menatap saya dari bagian belakang bangku yang berada di depan saya. Adakah penjelasan lebih lanjut mengenai benda yang menyerupai sebuah kamera ini? Apakah @SingaporeAir bisa memberikan klarifikasi terkait hal ini?” tulis Vitaly Kamluk di Twitter pada Minggu (17/2/2019).

Menanggapi cuitan dari Vitaly tersebut, pihak Singapore Airlines menegaskan bahwa pihaknya tidak pernah menggunakan kamera tersebut dan tidak memiliki rencana untuk mengaktifkannya. Anggota dari aliansi penerbangan Star Alliance ini juga menjelaskan bahwa kamera tersebut sudah ada sejak pertama kali pesawat terkait datang, alias tidak ada permintaan khusus dari Singapore Airlines untuk menambahkan fitur tersebut.

Sementara itu menurut situs berita Singapura, The Strait Times, sistem hiburan dalam penerbangan yang dimaksud dibuat hasil kerja sama Panasonic dan perusahaan transportasi dan teknologi Thales, dan telah dipasang pada pesawat Airbus A350/A380, Boeing 777-300ER, dan Boeing 787-10, dimana totalnya ada 84 unit pesawat yang memiliki kamera tidak aktif tersebut.

Baca Juga: Jaga Kesehatan Penumpang di Penerbangan Jarak Jauh, Singapore Airlines Gandeng Canyon Ranch

Dampak dari kejadian ini adalah penumpang banyak yang khawatir karena mungkin saja data visual mereka ‘diambil’ oleh pihak maskapai selama mereka mengudara.

Kendati pihak Singapore Airlines telah menegaskan bahwa kamera tersebut tidaklah aktif, namun satu langkah preventif yang bisa Anda lakukan jika kebetulan Anda hendak mengudara menggunakan Singapore Airlines dalam waktu dekat ini adalah, siapkan selotip untuk menutup kamera tersebut.

Mulai Juni 2019, AirAsia Layani Penerbangan Langsung Perth-Lombok

Lombok di Nusa Tenggara Barat menjadi salah satu destinasi incaran para pelancong baik domestik maupun mancanegara kini akan menghadirkan penerbangan langsungnya menuju ke Australia. Kehadiran penerbangan langsung ini akan dioperasikan oleh maskapai berbiaya hemat AirAsia. Rute baru dari Perth menuju Lombok tersebut akan mulai pada Juni 2019 mendatang.

Baca juga: Lombok Akan Jadi Hub Ke-5 AirAsia di Indonesia

“AirAsia rute Perth-Lombok akan terbang perdana pada 9 Juni 2019. Penjualan tiket akan dijual pada awal Maret nanti akan kita launching bersama AirAsia,” ujar Kepala Dinas Pariwisata NTB Mohammad Faozal yang dikutip Kabarpenumpang.com dari republika.co.id, Kamis (21/2/2019).

Dia mengatakan bahwa Kemenpar akan memfasilitasi para pelaku industri wisata di Lombok untuk menjual paket perjalanan wisata mereka kepada pelancong Australia pada Maret 2019 mendatang.

“Ini mimpi besar kita, sekarang sudah hampir di depan kita. Kami juga memastikan Lombok yang akan menjadi salah satu hub terbesar AirAsia setelah Jakarta, Surabaya, Medan dan Bali,” kata dia.

Sebagai salah satu hub, AirAsia sendiri menempatkan dua pesawat Airbus A320 dengan kapasitas 180 penumpang di Lombok. Tak hanya itu, salah satu pesawat ditambahkan livery yang bertuliskan Lombok.

“Nanti di salah satu pesawat Air Asia ada tulisan Lombok-nya, dan itu gratis. Kalau bayar mungkin APBD kita juga tidak sanggup,” kata Faozal.

Sebelumnya rute internasional dengan penerbangan langsung yang dilakukan oleh AirAsia sendiri dari Lombok menuju Kuala Lumpur dan Singapura. Kasubdit Area IA Regional IV Kemnpar, Arya Galih Anindita mengatakan, pihaknya akan membantu memasarkan promosi pariwisata Lombok ke pasar Australia.

“Selain secara offline, Kemenpar juga akan masifkan promosi lewat online agar semakin banyak wisatawan Australia yang datang ke Lombok,” ujar Arya.

Baca juga: Dengan Santan, AirAsia Tawarkan ‘Restoran’ Cepat Saji dalam Penerbangan

Station Manager AirAsia Lombok Didit Indra mengatakan pengoperasian rute Perth-Lombok tidak lepas dari kerja sama seluruh pihak, mulai dari pemerintah pusat dalam hal ini Kemenpar, pemerintah daerah, dan juga para pelaku industri wisata.

“Kami berharap rute ini bisa memberikan kontribusi bagi perkembangan pariwisata Lombok ke depan,” kata Didit.