Budi Karya: Lion Air dan Wings Air Harus Sosialisasikan Perubahan Sebelum Terapkan Tarif Bagasi

Sebagai maskapai berbiaya hemat (LCC) maskapai Lion Air dan Wings Air menerapkan pembayaran pada bagasinya. Hal ini dikatakan Lion Air melalui pengumuman dan siaran pers dan seharusnya dimulai pada 8 Januari 2019 kemarin. Namun Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi mengatakan, pemberlakuan tarif bagasi bagi penumpang Lion Air dan Wings Air tidak jadi mulai 8 Januari 2019 melainkan 22 Januari 2019.

Baca juga: Bagasi Cuma-cuma Hilang dari Penerbangan Domestik Lion Air, Bagaimana Reaksi Penumpang?

Adanya keputusan tersebut dikarenakan belum adanya sosialisasi yang dilakukan oleh pihak Lion Air Group. Sehingga saat ini penumpang masih bisa merasakan bagasi gratis tersebut dan pengenaan biayanya sendiri setelah sosialisasi yang dilakukan selama dua minggu dari tanggal 8 Januari 2019 hingga 22 Januari 2019 menadatang.

“Jadi saya beri policy, boleh tanggal 8 Januari tapi grace periode dua minggu. Jadi tetap sambil sosialisasi. Dua minggu setelah tanggal 8 Januari baru berlaku efektif. Dari grace period, nggak bayar. Saya minta selama dua minggu ini masa sosialisasi nggak bayar,” ujar Budi Karya yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber.

Budi mengatakan, adanya kebijakan yang diterapkan Lion Air dan Wings Air memberikan dampak positif terhadap on time performance (OTP) maskpai. Direktur Jenderal Perhub Udara Polana B Pramesti mengatakan, kedua maskapai tersebut sebenarnya dapat mengenakan biayan untuk bagasi.

Pasalnya Lion Air dan Wings Air masuk dalam kategori kelompok pelayanan standar minimun (no frills) atau kelompok layanan berbasis rendah. Ini sesuai dengan Pasal 22 Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 185/2015 tentang standar pelayanan penumpang kelas ekonomi angkutan udara niaga berjadwal dalam negeri.

“Kelompok no frills dapat dikenakan biaya. Sebagaimana diatur dalam pasal 3, PM 185 Tahun 2015, terdapat tiga kelompok pelayanan yang diterapkan oleh masing-masing Badan Usaha Angkutan Udara Niaga Berjadwal yakni pelayanan dengan standar maksimum (full services), pelayanan dengan standar menengah (medium services) dan pelayanan dengan standar minimum (no frills). Untuk ketiga kelompok pelayanan ini, diberlakukan standar pelayanan yang tidak sama,” ujar Polana yang dikutip dari detik.com (8/1/2019).

Ketersediaan bagasi tercatat dalam seluruh kelompok pelayanan diberikan oleh maskapai penerbangan dengan ketentuan bagi kelompok full service, paling banyak 20 kg tanpa dikenakan biaya. Bagi kelompok medium service, paling banyak 15 kg tanpa dikenakan biaya, dan kelompok no frills, dapat dikenakan biaya.

Diberlakukannya tarif pada penggunaan bagasi, maskapai sendiri harus memastikan kesiapan sumber daya manusia (SDM), personil dan peralatan yang menunjang perubahan ketentuan penggunaan bagasi. Hal ini agar tidak menimbulkan adanya antrean di area check in counter, di area kasir pembayaran bagasi tercatat serta kemungkinan gangguan operasional dan ketertiban bandara lainnya yang dapat menimbulkan keterlambatan penerbangan.

Baca juga: Regulasi Perusahaan Jadi ‘Separator’ Layanan LCC di Seluruh Dunia

Berikut kisaran harga bagasi yang bisa dibeli penumpang Lion Air ataupun Wings Air:
1. Berat 5 kg dengan harga Rp180 ribu
2. Berat 10 kg dengan harga Rp360 ribu
3. Berat 15 kg dengan harga Rp450 ribu
4. Berat 20 kg dengan harga Rp720 ribu

Bandara Gatwick dan Heathrow Hadirkan Teknologi Anti Drone

Sebentar lagi Bandara Heathrow dan Gatwick di London akan menerapkan peralatan anti drone dengan standar militer. Kehadiran teknologi anti drone tersebut untuk menangani munculnya penerbangan drone ilegal di dekat lapangan udara yang bisa mengganggu lalu lintas penerbangan di dua bandara internasional tersebut.

Baca juga: Dua Drone Misterius Hantui Bandara Gatwick London, Ratusan Penerbangan Terpaksa Dibatalkan

“Keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas utama kami. Bekerja sama dengan pihak berwenang terkait termasuk polisi Metro, kami terus mencari teknologi terbaik yang membantu menghilangkan ancaman drone,” ujar juru bicara Bandara Heathrow yang dikutip KabarPenumpang.com dari airport-technology.com (7/1/2019).

Teknologi anti drone tersebut nantinya akan mampu mendeteksi sistem udara tak berawak setelah angkatan bersenjata baru-baru ini menarik sistem pendeteksian mereka di Bandara Heathrow. Sekretaris Transportasi Inggris, Chris Grayling yang bertemu dengan kepala polisi untuk membicarakan terkait penerangan dan pertahanan serta strategi masa depan untuk menghindari drone asing di dekat bandara.

Saat ini, Pemerintah Inggris telah membatasi drone untuk terbang dalam radius satu kilometer dari bandara. Diketahui, sebanyak 140 ribu penumpang dan seribu penerbangan mengalami batal berangkat pada liburan Natal 2018 kemarin. Hal tersebut dikarenakan penampakan drone misterius yang terjadi pada Rabu (19/12/2018) pukul 21.00 waktu setempat.

Awalnya dua drone terlihat terbang di dekat landasan dan penerbangan mau tak mau harus ditangguhkan. Kemudian pihak bandara mulai berusaha membuka kembali secara singkat sekitar jam 03.00 pagi tetapi kembali tutup karena 45 menit kemudian ada drone yang mendekati bandara. Pada Kamis tengah hari, setelah ditemukan drone kembali, bandara akhirnya tutup.

Diketahui dari seorang wartawan yang berada di lokasi mengatakan, drone selalu muncul setiap otoritas bandara mencoba untuk membuka kembali penerbangan. Bahkan kekacauan ini berlanjut hingga esok hari dan pihak bandara mengatakan kepada penumpang untuk tidak datang. Akibat drone misterius, pihak militer Inggris dipanggil untuk membantu dan mengerahkan peralatan khusus dalam menangani situasi tersebut.

Baca juga: Diduga Menabrak Drone, Hidung Boeing 737-800 Aeromexico Penyok Parah!

Ini membuat mimpi buruk perjalanan puluhan ribu penumpang yang terbang dari Bandara Gatwick untuk berlibur. Ini adalah jenis kekacauan yang serius dan telah isu ini telah diperingatkan para pakar keamanan selama bertahun-tahun. Fakta bahwa hanya satu atau dua pesawat tak berawak yang mampu sepenuhnya menutup bandara terbesar kedua di Inggris mungkin tampak memukau bagi kebanyakan orang, tetapi situasi yang tepat yang diingatkan oleh pakar keamanan dapat terjadi selama bertahun-tahun.

Damri JA Connection Buka Rute Pondok Cabe – Bandara Soekarno-Hatta

Mudahkan warga Tangerang Selatan (Tangsel), Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) meresmikan layanan transportasi bus menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta dari Terminal Pondol Cabe. Terminal ini sendiri baru saja diresmikan oleh BPTJ pada Senin (31/12/2018) kemarin sekaligus meresmikan operasional bus Damri.

Baca juga: Redbus dan PO Sinar Jaya Berkolaborasi di Layanan Jakarta Airport Connexion

Terminal Pondok Cabe sendiri merupakan Tipe A dan sebanyak 33 Perusahaan Otobus (PO) Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) tersedia diterminal ini. Terminal tersebut memiliki keseluruhan sekitar 25.995 m2 dengan bangunan utama seluas 2.550 m2. Kepala BPTJ Bambang Prihartono mengatakan, masyarakat Tangsel kini tak perlu lagi menggunakan kendaraan pribadi jika ingin bepergian ke Bandara Soetta.

Sebab kini sudah ada delapan armada bus Jakarta Airport (JA) Connexion. Tak hanya itu, BPTJ juga meluncurkan bus Transjabodetabek untuk memudahkan masyarakat Tangsel bepergian ke beberapa wilayah di Jakarta. Bus Transjabodetabek ini memiliki rute yang dilayani baik reguler maupun premium. Pertama, Pondok Cabe – Senen dan Pondok Cabe – Tanah Abang.

Untuk layanan premium, jumlah armada yang melayani rute perjalanan tersebut lima unit. Sementara itu untuk layanan reguler untuk rute Pondok Cabe-Senen sebanyak 10 armada. Kedua, rute Pondok Cabe-Kampung Rambutan dengan jumlah armada sebanyak 15 unit. Ketiga, rute Pondok Cabe – Tosari/ Bundaran Hotel Indonesia dengan jumlah armada 10.

“Untuk Transjabodetabek reguler dengan operator Mayasari Bakti yang akan melayani Pondok Cabe menuju Bekasi, Ciawi, dan Cikarang masing-masing lima armada,” ujar Bambang yang dikutip KabarPenumpang.com dari cnn.com.

Bambang mengatakan nantinya armada bus itu bakal menggunakan sistem pembayaran dengan tiket elektronik (e-ticketing). Masyarakat, hanya perlu menempelkan uang elektronik mereka ke mesin pemindai yang berada di dalam masing-masing armada bus tersebut. Melalui single e-ticketing, melalui peningkatan layanan yang disiapkan diharapkan dapat bermuara pada tumbuhnya minat masyarakat menggunakan angkutan umum massal di Jabodetabek.

Kehadiran bus Damri dan JA Connexion memang memudahkan tetapi bagaimana dengan jalan raya Pondok Cabe yang setiap hari macet dengan kehadiran transportasi baru ini? Dikutip dari berbagai lama sumber Indonesia Traffic Watch (ITW) memprediksi kondisi lalu lintas dan angkutan jalan pada 2019 belum lebih baik dari 2018.

Bahkan ITW mengatakan kemacetan di kota-kota besar khususnya Jakarta akan lebih parah dan lalu lintas memiliki peran sangat penting dalam hal tersebut. Ketua Presidium ITW Edison Siahaan mengatakan, kemacetan sendiri masih menjadi menu sehari-hari dan nyaris terjadi diseluruh ruas jalan ibu kota termasuk pinggiran seperti POndok Cabe.

Baca juga: Damri JA Connection Buka Rute Baru, Epicentrum Walk-Bandara Soetta

Sementara upaya pembangunan ruas tol yang masif justru jadi beban masyarakat, karena harus membayar tol meskipun tidak ada jaminan bebas dari kemacetan. Upaya pembatasan gerak kendaraan dengan kebijakan ganjil-genap serta rekayasa lalin tak memberikan dampak yang signifikan untuk mengurai kemacetan.

Hyundai Kembangkan Sensor Finger Print untuk Sante Fe SUV

Dewasa ini, teknologi finger print sudah merambah dunia gadget yang memungkinkan Anda untuk membuka ponsel Anda tanpa harus memasukkan kode atau menggambar pola terlebih dahulu. Ya, tidak bisa dipungkiri bahwa inovasi semacam ini membawa kemudahan tersendiri bagi para penggunanya. Nah, apa jadinya jika teknologi finger print tersebut diaplikasikan pada kendaraan Anda? Dapatkah Anda membayangkannya?

Baca Juga: Peduli Polusi, Hyundai Hadirkan Bus Listrik Untuk Tekan Pencemaran Lingkungan

Produsen otomotif asal Korea Selatan, Hyundai diketahui baru saja menyematkan teknologi finger print ini di salah satu mahakaryanya, Santa Fe SUV. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (31/12/2018), Hyundai akan menjadi manufaktur otomotif pertama yang menyematkan teknologi finger print semacam ini. Adapun teknologi finger print ini dapat digunakan para pengguna untuk membuka central lock dan menghidupkan mesin mobil.

Sumber: newatlas.com

Sensor finger print sendiri akan ada di dua titik di Hyundai Santa Fe SUV – di handle pintu pengemudi dan di samping stir untuk menyalakan mesin. Anda juga dapat mengatur tempat duduk, hingga mengatur kaca spionhanya dengan menyentuh salah satu dari sensor finger print ini. Ke depannya, Hyundai mengatakan akan menambahkan fungsi dari finger print ini, seperti mengatur suhu di dalam mobil hingga penyesuaian pengemudi lainnya.

Sistem ini sendiri, menurut pihak Hyundai, menggunakan sensor kapasitif dan menyajikan peluang 1 berbanding 50.000 untuk kesalahan membaca sidik jari. Kesalahan sederhana pada sensor finger print di ponsel (tidak bisa membaca sidik jari ketika tangan dalam kondisi basah) masih sering terjadi. Maka dari itu, pihak Hyundai mengatakan akan terus mengembangkan dan membenahi sistem finger print ini agar tetap dapat beroperasi kendati cuaca sedang hujan – dikhawatirkan finger print tidak dapat membaca sidik jari dalam kondisi basah terkena air hujan.

Baca Juga: Teknologi yang Terpasang di Bus ini Mampu Lacak Keberadaan Siswa, Lho!

Dibutuhkan konsep yang sangat matang untuk menghadirkan suatu inovasi yang akan mengubah cara berkendara di masa yang akan datang. Terlebih, ini merupakan inovasi yang berkaitan dengan salah satu komponen utama dalam kendaraan, yaitu kunci. Beragam rencana cadangan pun tengah dimatangkan oleh pihak Hyundai guna mencegah kejadian-kejadian di luar prediksi – kendati tidak tertera di dalam pernyataan tertulis dari pihak Hyundai.

Keren! Boeing 777 Torehkan Pesanan Ke-2000

Jika pada artikel sebelumnya dikabarkan bahwa salah satu raksasa manufaktur pesawat, Airbus bisa saja menghentikan produksian superjumbo-jet A380 karena ‘loyo’ pemesanan, maka hal berbanding terbalik justru dialami oleh rival Airbus, Boeing yang diketahui baru saja melampaui angka 2.000 pesanan untuk pesawat wide body andalannya, Boeing 777.

Baca Juga: Cathay Pacific Hibahkan Boeing 777-200 Perdana Ke Museum Dirgantara di Arizona

Pada bulan desember lalu, Singapore Aircraft Leasing Enterprise atau yang kini telah berganti nama menjadi BOC Aviation dan dua pelanggan lainnya telah memesan 17 armada 777 yang menandakan pesanan ke-51 armada ini di tahun 2018. Sementara di sisi lain, pemesanan dari BOC Aviation dan dua pelanggan tadi juga sekaligus menandakan orderan ke 2.013 sejak Boeing memutuskan untuk memproduksi massal armada 777.

Adapun jumlah keseluruhan pesanan tersebut mencakup model yang bervarian – mulai dari 777-300ER (Extended Range), 777 Freighter long-range, hingga 777X yang segera diluncurkan. Seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman airwaysmag.com (7/1/2019), commercial sales and marketing senior vice president dari Boeing, Ihssane Mounir mengatakan bahwa pelanggan merasa puas dengan kinerja dari Boeing 777 dan itu berimplikasi pada pertumbuhan jumlah pesanan dari seluruh dunia.

“Ini merupakan bukti nyata bahwa adanya permintaan untuk pesawat yang sangat kuat,” ujar Ihssane.

“Kekuatan yang stabil dari 777 saat ini akan memberikan transisi yang baik untuk 777X kelak, yang selanjutnya akan memperluas kinerja dari armada itu sendiri, kemapanan ekonomi, dan daya jangkaunya,” imbuhnya.

Baca Juga: Setelah Penebalan Landasan, Boeing 777-300ER Garuda Indonesia Kini Bisa Terbang Langsung Jakarta-London

Dalam sebuah keterangan, tercatat bahwa region Asia Pasifik memesan total 620 armada 777, sedangkan untuk region Asia Tenggara mencantumkan 183 pesanan. Menurut perkiraan, jumlah pesanan 777 tersebut akan terus mengalami peningkatan seiring dengan bertumbuhnya permintaan perjalanan via udara seperti yang sudah digembar-gemborkan sejak beberapa waktu yang lalu.

“Dengan hadirnya ‘gelombang’ pergantian menuju pesawat wide body yang semakin menjadi, Boeing 777 kini sudah berada di posisi yang sangat tepat untuk memimpin pasar untuk jangka panjang. Dengan kata lain, Boeing 777 akan mendukung konektivitas jaringan global lebih lanjut,” tutur Ihssane.

 

Diskriminatif! Seorang Pilot Dipaksa Pindah Tempat Duduk Karena ‘Kekurangan Fisik’

Seorang pilot yang berdomisili di New South Wales akhir-akhir ini menjadi pusat perhatian netizen lantaran perlakuan kurang pantas yang ia terima dari Low Cost Carrier asal Negeri Kangguru, Jetstar Airways. Adalah James Hall-Thompson, yang tengah ‘berperan’ sebagai penumpang dari New South Wales menuju Sydney terpaksa dipindahkan ke tempat duduknya yang baru karena kekurangan fisik yang diidapnya.

Baca Juga: Tergelincir di Dalam Toilet, Seorang Penumpang Tuntut Rp2,2 Miliar ke Pihak Jetstar

Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman foxnews.com (7/1/2019), James sendiri mengaku baru saja menyelesaikan sebuah turnamen tenis di Sydney. Tak lama setelah pesawat bertolak, James dihampiri oleh seorang awak kabin dan memintanya untuk pindah.

“Awak kabin itu mengatakan bahwa manajernya telah memperhatikan lengan saya yang ‘kurang sempurna’ dan meminta saya untuk pindah tempat duduk,” tutur James.

Kala itu, James mendapatkan tempat duduk di samping pintu darurat. Sebagai penumpang yang duduk di samping pintu darurat, sudah lumrah hukumnya jika Anda akan dimintai kesediaan untuk membuka pintu tersebut semisal ada situasi yang cukup darurat. Nah, mengingat tangan dari James sedikit berbeda dari orang normal, inilah yang mendasari manajer awak kabin tersebut untuk memindahkannya ke tempat duduk yang baru.

Lengan kiri James diketahui tidak memiliki tulang radial yang membuatnya terlahir tanpa ibu jari, dan ibu jari tangan kanan James juga agak sedikit bengkok.

James Hall-Thompson. Sumber: istimewa

“Kendati saya tidak memiliki ibu jari kiri, tapi saya memegang lisensi pilot dan saya paham betul dengan standar keselamatan dalam dunia penerbangan,” terang James.

“Jika seseorang tidak mampu mengoperasikan pintu keluar darurat, saya mengerti bahwa mereka tidak boleh duduk di sana. Sebagai seorang pilot, saya menguasai semua tentang keselamatan. Saya tidak akan pernah duduk di sana jika saya tidak bisa membuka pintu darurat,” lanjutnya.

Kesal dengan perlakuan yang ia terima, James Hall-Thompson lalu mengajukan protes kepada pihak JetStar setibanya ia di rumah, tetapi James mengatakan bahwa perwakilan layanan pelanggan JetStar yang menerima teleponnya memintanya untuk setuju bahwa tindakan manajer kabin itu bukan diskriminasi.

Alih-alih terbawa emosi akibat perlakuan pihak JetStar tersebut, James malah berharap agar LCC asal Australia ini lebih meningkatkan kualitas dari awak kabinnya.

Baca Juga: Kasus Awak Kabin Jetstar: Tenaga Asing Dibayar Murah dengan Kerja Ekstra

“Saya ingin awak kabin mereka dilatih untuk lebih memahami bahwa penampilan fisik bukanlah indikasi kemampuan mereka secara keseluruhan,” katanya.

Sama seperti kasus-kasus lainnya, pihak JetStar hanya bisa meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dirasakan oleh James.

“Kami secara tulus meminta maaf kepada James Hall-Thompson atas pengalaman buruk yang ia terima ketika mengudara bersama JetStar, dan kami telah menghubungi dia secara langsung,”

 

Tingkatkan Keamanan Pra Olimpiade, Otoritas Jepang Akan ‘Geledah’ Hand-Luggage Penumpang

Sebagai salah satu tindakan preventif terorisme menjelang perhelatan Olimpiade Musim Panas, pemerintahan Jepang berencana untuk membuat sebuah eksperimen pemeriksaan barang bawaan penumpang untuk moda transportasi kereta api. Adapun stasiun yang nantinya akan dijadikan objek eksperimen ini adalah stasiun yang ada di kota Tokyo, bukan tanpa alasan, ini merupakan salah satu stasiun terbesar dan paling ramai yang ada di Negeri Sakura.

Baca juga: Mulai 7 Januari, Jepang Kenakan “Pajak Keberangkatan” untuk Seluruh Penumpang Internasional

Diwartakan KabarPenumpang.com dari laman scmp.com (6/1/2019), eksperimen ini sendiri rencananya akan mulai bergulir pada bulan Februari mendatang di Stasiun Metro Kasumigaseki. Selain diklaim sebagai salah satu stasiun paling sibuk, Stasiun Metro Kasumigaseki ini juga merupakan saksi bisu dari penyerangan yang dilakukan oleh kelompok radikal Aum Shinrikyo pada tahun 1995 silam.

Konsentrasi peningkatan keamanan ini sengaja dilakukan di infrastruktur transportasi, mengingat beberapa kasus penyerangan dalam kurun waktu beberapa tahun ke belakang. Mungkin beberapa dari Anda masih ingat dengan insiden bakar diri yang terjadi di kereta peluru Jepang pada tahun 2015 silam yang menewaskan seorang penumpang. Belum lagi insiden penusukan yang dilakukan oleh seorang tidak dikenal di kereta peluru Shinkansen yang menewaskan seorang penumpang dan melukai dua lainnya pada tahun 2018 silam.

Baca Juga: 5 Stasiun Tersibuk di Dunia, Semua Ada Di Jepang!

Pemerintah berharap, ekperimen ini dapat membantu pengidentifikasian potensi masalah dengan tindakan nyata dan lalu dipertimbangkan apakah itu masuk ke dalam kategori ancaman atau bukan. Ketika inspeksi hand-luggage para penumpang ini merupakan hal yang cukup lumrah di negara lain, namun lain cerita dengan Jepang.

Mengingat perkeretaapian Jepang sangat menjunjung tinggi ketepatan waktu pemberangkatan, maka dari itu inspeksi semacam ini merupakan hal yang tidak berlaku di sana – pemeriksaan barang bawaan penumpang akan memakan waktu, sedangkan tenggat waktu transit penumpang di stasiun tidaklah lama. Selain itu, minimnya lahan untuk melakukan pemeriksaan ini juga menjadi alasan kedua mengapa Jepang tidak pernah melakukan hal semacam ini.

Guna menunjang eksperimen ini, kementerian terkait juga telah meminta bantuan kepada perusahaan keamanan dan manufaktur penyedia peralatan keamanan untuk melancarkan eksperimen ini – pun dengan Japan Railway Group dan operator kereta api di Jepang.

 

22 Januari 2019, Garuda Indonesia Terbang Langsung ‘One Way’ dari London ke Denpasar

Maskapai plat merah, Garuda Indonesia membuka penerbangan langsung dari Bandara Internasional London Heathrow menuju ke Bandar Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali. Penerbangan langsung ini akan dimulai pada 22 Januari 2019 mendatang dan akan beroperasi tiga kali dalam sepekan yakni Selasa, Kamis dan Sabtu. Namun ada keanehan dalam rute tersebut meski direct flight.

Baca juga: Mulai 13 Desember, Garuda Indonesia (Kembali) Buka Penerbangan Langsung Jakarta-London

KabarPenumpang.com melansir dari laman simpleflying.com (6/1/2019), rute London-Bali ini sendiri akan terbang dengan memakan waktu tempuh 15 jam 20 menit. Dimana pesawat GA87 tersebut akan berangkat pukul 21.55 dari London dan tiba di Bali 21.15 (+1 hari). Pertanyaan besar kemudian muncul dengan kehadiran rute ini yang begitu cepat dengan penerbangan dari Bandara Heathrow.

(onemileatatime.com)

Ternyata rute ini hadir dengan biaya yang sama dengan keberangkatan dari London Heathrow menuju ke Jakarta. Ini terlihat aneh, dimana Garuda Indonesia seperti membatalkan adanya penerbangan dari London menuju Jakarta dan menggantinya dengan tujuan destinasi populer. Karena hal ini, seperti pertaruhan yang akan membuahkan hasil besar.

Penerbangan London-Bali, Garuda akan menggunakan pesawat Boeing 777-300ER dengan dua kelas didalamnya yakni bisnis dan ekonomi. Tapi tunggu dulu, sebab penerbangan ini hanya satu arah dari London menuju Bali dan tidak ada sebaliknya.

Lalu bagaimana dengan pelancong yang akan kembali ke London setelah menikmati liburan atau bisnis mereka di Bali? Inilah keanehannya, ternyata Garuda memiliki strategi lain yang mana pelancong bisa terbang langsung melalui Jakarta untuk sampai ke London.

(onemileatatime.com)

Penerbangan ini sendiri berangkat pada tengah hari waktu setempat atau Jakarta pukul 12.05 dan tiba 20.00 waktu London. Nah, pelancong akan terbang menggunakan Boeing 737 dari Bali menuju Jakarta dan kembali ke London dengan pesawat GA86 dengan Boeing 777.

Baca juga: Tutup Rute Penerbangan Langsung Jakarta-London, Ada Apa dengan Garuda Indonesia?

Sehingga bisa dikatakan, pelancong yang akan kembali tidak akan merasakan penerbangan langsung dari Bali melainkan transit di Jakarta dan terbang langsung menuju London. Hingga berita ini diturunkan, pihak garuda Indonesia belum memberikan informasi lebih lanjut.

Sebelumnya, pada Oktober 2018 kemarin, Garuda Indonesia sempat menangguhkan rute Jakarta-London. Kemudian mengumumkan adanya penerbangan langsung Jakarta-London pada November 2018 dengan menggunakan pesawat Boeing 777.

Baterai Rokok Elektrik Terbakar, American Airlines Bakal Laporkan ke FAA

Maskapai asal negara Adikuasa, American Airlines kembali menuai sorotan publik. Alih-alih membuat awak kabinnya membuat onar, kabin dari maskapai ini dikabarkan terbakar tak lama setelah mendarat di Bandara Internasional O’Hare, Chicago, Jumat (4/1/2019). Beruntung, keseluruhan penumpang dan awak kabin dari maskapai dengan nomor penerbangan AA168 yang bertolak dari Las Vegas ini dikabarkan selamat tanpa ada satupun yang mengalami cidera.

Baca Juga: Meski Membosankan, Demo Keselamatan Penerbangan Jangan Dilupakan!

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman thepointsguy.com (6/1/2019), adapun penyebab dari kebakaran ringan di dalam kabin maskapai ini berasal dari baterai e-cigarette (rokok elektrik) milik salah seorang penumpang. Menurut salah satu juru bicara dari American Airlines, terbakarnya e-cigarette ini dilatarbelakangi oleh proses “thermal runway event”. Sederhananya, ‘thermal runway event” adalah kondisi dimana temperatur mengalami peningkatan. Ketika suhu meningkat, maka ini akan menyulut e-cigarette untuk meledak lalu terbakar.

Seketika melihat ada percikan api, awak kabin dengan sigap langsung memadamkannya guna menghindari insiden tambahan dan penumpang yang mengalami cidera. Pesawatpun bisa tetap melakukan taxi menuju terminal tanpa terganggu insiden ringan ini – dan penumpang dapat turun tanpa masalah.

Menanggapi insiden ini, juru bicara dari American Airlines memuji langkah cepat tanggap yang dilakukan oleh awak kabin tersebut. “Kami berterima kasih kepada awak kabin kami yang sudah mengaplikasikan respon cepat tanggap yang telah dipelajari sebelumnya untuk memastikan para penumpang tetap aman,”

“Mereka (awak kabin) telah dilatih untuk menangani kebakaran ringan yang disebabkan oleh baterai berenergi tinggi. Sebagai bagian dari manajemen keselamatan dan mitigasi risiko, kami selalu mengevaluasi cara-cara tambahan untuk meningkatkan prosedur yang ada untuk memastikan keselamatan penumpang yang berada di dalam kabin,” tuturnya.

Baca Juga: Berakibat Buruk Saat Penerbangan,14 Poin Ini Kerap Dianggap Sepele

Sebagai tindak lanjut, pihak American Airlines akan melaporkan insiden ini kepada Federal Aviation Administration (FAA). Jika merujuk pada peraturan penerbangan di Amerika sendiri, membawa e-cigarette ke dalam kabin (hand luggage) sendiri bukanlah satu hal yang dilarang, namun tidak untuk digunakan dan e-cigarette harus berada dalam kondisi non-aktif.

Sebenarnya, e-cigarette sudah dilarang untuk masuk ke dalam bagasi sejak tahun 2016 silam, pun dengan melakukan pengisian daya e-cigarette di dalam kabin. Larangan ini mulai diberlakukan sejak adanya beberapa insiden kebakaran kecil yang menganggu penerbangan.

So Sweet! Pramugari Emirates Dilamar di Udara

Sebagai seorang awak kabin, pramugari harus menjalakankan tugasnya dalam sebuah penerbangan untuk membantu penumpang dan berbagi pengetahuan tentang alat-alat keselamatan. Namun, apa jadinya jika saat menjalankan tugas, pramugari dilamar oleh sang kekasih di dalam penerbangan tepat saat ia bertugas?

Baca juga: Dibalik Keanggunan, Ternyata 15 Pramugari Emirates Tergabung ke Dalam Tim Rugby

Hal ini baru saja dirasakan oleh seorang pramugari maskapai Emirates. Vittoria mungkin tak pernah menyangka dirinya akan dilamar saat diudara ketika bertugas menjadi seorang awak kabin dalam penerbangan. KabarPenumpang.com melansir dari mirror.co.uk (5/1/2019), awalnya Vittoria mengira dirinya akan bekerja secara normal di tempat kerjanya dalam sebuah penerbangan maskapai Emirates.

Sampai dirinya melihat foto sang kekasih dan menjadi sebuah kejutan untuk dirinya. Vittoria sama sekali tidak mengetahui bahwa sang kekasih ikut dalam penerbangan dimana dirinya bertugas. Pria itu muncul tanpa pemberitahuan dan hadir disitu untuk memberikan sebuah pertanyaan khusus yang akan ditanyakan pada sang kekasih yakni Vittoria.

Sebelum bertemu sang kekasih, Vittoria yang tengah menjalankan tugasnya membuka tirai dan berjalan ke kabin. Namun bukan disambut dengan obrolan terkait minuman atau penggunaan toilet, Vittoria justru diberikan bunga mawah merah. Penumpang yang duduk di area dekat kabin dihiasi tanda hati berwarna merah dan putih kemudian mengangkat foto kekasihnya yang bernama Stefano.

Setelah berjalan menyusuri kabin dan menerima mawar merah, Vittoria akhirnya bertemu Stefano di area staf yang kemudian langsung memeluknya. Stefano saat itu berlutut dan mengeluarkan sebuah kotak dengan cinci pertunangan yang berguaskan berlian. Vittoria mengaku, saat itu seisi kabin dipenuh dengan sorak-sorai dan tepuk tangan.

“Kami mendapat sekilas tentang dia menempatkan cincin yang menakjubkan di tangannya yang terawat, sebelum video dipotong menjadi foto lucu pasangan dan kru kabin yang merayakan pertunangan,” ujar seorang penumpang.

Baca juga: Mau Ketemu Pramugari Garuda Indonesia dengan Seragam Vintage? Simak Rute Penerbangannya Disini!

Perayaan tersebut ternyata di videokan dan viral di halaman Instagram Emirates dan sudah ditonton lebih dari 500 ribu kali. Video tersebut diberi caption “Cinta ada di udara (pesawat). Lihat pelanggan kami Stefano mengejutkan pacarnya dan awak kabin Emirates, Vittoria, dengan lamaran dalam pesawat yang romantis, dengan bantuan dari awak kabin dan penumpang kami.”

Nah, kalau Anda yang dilamar seperti itu bagaimana perasaannya?