Berapa Berat Mesin Pesawat? Ini Jawabannya

Selain mahal, pesawat juga memiliki bobot yang cukup berat. Rata-rata berat pesawat mencapai 150-220 ton. Itu baru berat pesawatnya saja. Setelah diisi bahan bakar dalam kondisi penuh, penumpang, dan kargo, beratnya bisa mencapai 400 ton lebih. Dari total berat pesawat, salah satu penyumbang berat terbesar datang dari mesin. Lantas, berapa berat mesin pesawat, dalam hal ini mesin jet?

Baca juga: Mengenal GE9X Boeing 777X, Mesin Pesawat Terkuat di Dunia

Mesin jet, pada umumnya menggunakan turbin sehingga disebut mesin jet turbin atau turbojet atau dikenal juga sebagai turbofan dan turboshaft.

Sedangkan mesin turbin adalah perangkat putar yang digerakkan oleh fluida. Singkatnya, mesin jet biasanya mesin turbin, tetapi mesin turbin umumnya bukan mesin jet. Jadi ada perbedaan mencolok di antara keduanya. Hal ini penting dicatat mengingat seringkali dilabeli sama, padahal keduanya berbeda.

Dilansir highskyflying.com, seperti karburator motor, cara kerja mesin jet pesawat terbang juga tentu menggunakan udara. Bedanya dengan mesin non-jet ada proses pengompresan, mulai dari menghisap udara, menekan, ledakan, dan menghembuskan. Proses ini yang membuat mesin jet lebih besar dibanding mesin di masa lalu.

Langkah pertama adalah menghisap. Kipas di bagian depan mesin jet akan menghisap udara dan 80 persen dari udara akan melewati mesin dan meniupkan udara keluar dari belakang.

Itulah yang memberikan sebagian besar dorongan, yang mendorong pesawat ke depan dan itu pula yang menjadi salah satu alasan kenapa mesin pesawat semakin besar. Itu karena di awal mesin jet muncul sampai beberapa dekade setelahnya, mesin turbojet beroperasi tanpa ada kipas.

Udara langsung masuk ke ruang bakar dan ditembakkan dari bagian belakang mesin untuk menghasilkan tenaga yang sangat besar. Tapi konsekuensinya adalah boros bahan bakar.

Karenanya, pada mesin jet modern yang saat ini ada menggunakan kipas dan teknologi pembakaran yang lebih panjang. Udara yang dihisap kipas (fan) di bagian depan mesin tidak langsung masuk ke ruang bakar, melainkan mengalir ke sekitar ruang bakar dan sebagiannya masuk ke ruang bakar.

Sebelumnya, terlebih dahulu udara disaring kompresor bertekanan rendah dan tinggi, shaft bertekanan rendah dan tinggi, dan turbin bertekanan rendah dan tinggi. Prinsipnya adalah semakin lambat udara yang masuk ke mesin semakin bagus dan lebih efisien.

Intinya, mesin saat ini berdiameter lebih besar dibanding diameter mesin pesawat di masa lalu. Ini memang berhasil membuat mesin jadi lebih hemat bahan bakar. Tetapi, bobotnya otomatis bertambah dan jauh lebih berat dibanding mesin di masa lalu.

Saat ini, mesin jet memiliki bobot beragam, tergantung penggunannya. Mesin CFM56-3 yang digunakan pesawat narrowbody seperti Boeing 737 dan Airbus A320, misalnya, memiliki bobot 2.000 kg atau 2 ton lebih. Mesin CFM LEAP yang menggerakkan Boeing 737 MAX dan keluarga Airbus A320neo memiliki berat 3.200-4.000 kg.

Mesin General Electric CF6-80 yang menggerakkan Boeing 747 (kecuali 747-8) berbobot antara 4.300–4.500 kg. Mesin ini digunakan oleh pesawat Airbus A330ceo, Boeing 767, Boeing VC-25 (pesawat untuk Presiden Amerika Serikat), dan Lockheed Martin C5-M Super Galaxy.

Baca juga: Dua Fungsi Tanda Spiral di Spinner Mesin Pesawat, Apa Saja?

Mesin GEnx yang menggerakkan seri Boeing 787 Dreamliner dan Boeing 747-8 memiliki berat sekitar 6.400 kg. Mesin Rolls-Royce Trent XWB yang menggerakkan pesawat Airbus A350 memiliki berat sekitar 7.500 kg.

Mesin GE90 yang menggerakkan pesawat Boeing 777 memiliki berat sekitar 8.700 kg. Mesin GE9X, yang notabene dinobatkan sebagai mesin terkuat dan terbesar di dunia, yang menggerakkan Boeing 777X memiliki berat 9.600 kg.

Apa Arti ‘ER’ Pada Pesawat dan Apa yang Membuatnya Menjadi Pesawat ‘ER’? Ini Jawabannya

Seiring waktu, varian pesawat menjadi lebih beragam. Ada pesawat Airbus A320neo (new engine option), Boeing 777-200LR (Long Range), Airbus A321XLR (Extra Long Range), Airbus A350-900ULR (Ultra Long Range), Boeing 777-300ER, dan lainnya. Khusus untuk varian ‘ER’ atau Extended Range, sebetulnya apa yang membuat sebuah pesawat berlabel ER dan apa artinya?

Baca juga: Inilah Alasan Airbus Bikin Pesawat Varian NEO “New Engine Option”

Varian pesawat ER pertama kali muncul setelah berhasil dikembangkan Boeing pada tahun 1980an. Varian ER pertama dari keluarga pesawat Boeing adalah 767, pesawat twinjet widebody menengah hingga jarak jauh.

Model aslinya adalah Boeing 767-200. Pesawat ini mulai beroperasi secara komersial pada tahun 1982 bersama maskapai Amerika Serikat (AS), United Airlines. Tak lama setelahnya atau pada tahun 1984, varian Boeing 767-200ER muncul bersama maskapai Israel El Al.

Di tahun-tahun selanjutnya, Boeing terus membuat varian ER pada tipe pesawat pengembangan dari Boeing 767, seperti Boeing 767-300ER, Boeing 767-400ER, Boeing 747-400ER, Boeing 777-200ER, sampai Boeing Boeing 777-300ER.

Selain widebody, Boeing juga membuat varian ER pada pesawat narrowbody. Varian ER pertama pada pesawat narrowbody Boeing adalah 737-900ER. Boeing mengembangkan varian ini untuk memberi maskapai penerbangan pilihan mengoperasikan pesawat narrowbody dengan jangkauan dan kapasitas yang serupa Boeing 757.

Boeing juga mengembangkan dan meluncurkan 737-700ER pada pertengahan tahun 2000-an. Pesawat ini memiliki spesifikasi yang mirip dengan Airbus A319LR.

Pada pesawat jet regional, varian ER juga melengkapi pilihan operator. Di antaranya Embraer ERJ135 ER dan LR, 140 ER dan LR, dan 145 ER dan LR.

Dari sekian varian ER di atas, diketahui mereka bukanlah pesawat tipe baru melainkan memakai model lama namun terdapat beberapa pengembangan hingga berlabel ER.

Pengembangan tersebut berupa tangki bahan bakar tambahan dan beberapa bagian yang diperkuat agar mencapai Maximum Permissable Take Off Weight (MTOW) yang lebih tinggi dengan aman.

Baca juga: Varian Pesawat Sipil Mana yang Paling Aman di Dunia? Ini Jawabannya 

Dilansir Simple Flying, sekalipun hanya menambah tangki bahan bakar saja, turunan dari itu bisa mempengaruhi pesawat secara keseluruhan. Boeing 767-200ER, misalnya, memanfaatkan ruang kosong di bagian tengah pesawat untuk meletakkan tangki bahan bakar tambahan. Jangkauan pesawat pun meningkat menjadi 12.200 km dari sebelumnya hanya 7.200 km.

Menambah tangki bahan bakar tambahan, otomatis bobot pesawat bertambah. Terlebih dalam kondisi bahan bakar penuh (fuel tank). Karenanya, pabrikan harus memperkuat berbagai hal, seperti sayap, landing gear, badan pesawat, roda pesawat yang lebih besar, sampai wingtip dan winglet yang diperpanjang.

Vietjet Persiapkan Penerbangan Langsung Ho Chi Minh City – Brisbane, 2 Kali Seminggu

Vietjet, maskapai berbiaya murah asal Vietnam, telah mengumumkan akan meluncurkan penerbangan langsung perdana antara Vietnam dan Queensland pada bulan Juni tahun ini. Hal tersebut menyusul pengumuman dibukanya dua rute penerbangan antara Ho Chi Minh City dan Melbourne/Sydney dalam waktu satu bulan.

Baca juga: Perluas Jaringan, Vietjet Buka Rute Ho Chi Minh – Haneda Tokyo Mulai 26 April

Vietjet akan mengoperasikan layanan penerbangan antara Bandara Ho Chi Minh City (SGN) dan Brisbane (BNE) sebanyak dua kali seminggu setiap hari Senin dan Jumat mulai 16 Juni 2023. Penerbangan dari Ho Chi Minh City akan berangkat pada pukul 10.05 (waktu setempat) dan tiba di Brisbane pada pukul 21.10 (waktu setempat), sementara penerbangan kembali akan berangkat pada pukul 23.10 (waktu setempat) dan tiba pada pukul 04.50 keesokan harinya (waktu setempat).

Untuk menyambut peluncuran rute baru ini, mulai saat ini hingga 22 Maret 2023, seluruh tiket Eco Vietjet untuk penerbangan antara Vietnam dan Australia (Brisbane, Melbourne, dan Sydney) akan tersedia dengan harga mulai dari US$0 melalui situs vietjetair.com dan aplikasi Vietjet Air.

Selain itu, wisatawan yang terbang menggunakan Vietjet dari seluruh Vietnam menuju dan dari Australia dapat menikmati penerbangan transfer domestik menuju dan dari Ho Chi Minh City secara bebas biaya. Program diskon 50% untuk kelas tiket SkyBoss Business dan SkyBoss di semua rute ini akan berlangsung hingga 8 Juni.

Dengan jaringan penerbangan yang mencakup sekitar 450 penerbangan setiap harinya di 160 rute di seluruh Vietnam dan menghubungkan Vietnam dengan berbagai destinasi di Asia Pasifik, Vietjet berencana mengoperasikan armada pesawat Airbus A330-300 pada seluruh rute baru menuju Sydney, Melbourne, dan Brisbane dengan konfigurasi 12 kursi SkyBoss Business, serta 365 kursi di kelas SkyBoss, Deluxe, dan Eco.

Baca juga: Sepanjang 2022, Vietjet Bukukan Laba Hampir US$38,7 Juta, LCC Sukses Pasca Pandemi

Vietjet juga baru-baru ini membuka penjualan tiket untuk dua penerbangan langsung dari Ho Chi Minh City ke Melbourne dan Sydney (sebanyak tiga penerbangan per minggu). Penerbangan antara Ho Chi Minh City dan Bandara Tullamarine Melbourne direncanakan beroperasi mulai 8 April 2023, sementara penerbangan antara Ho Chi Minh City dan Sydney pada 12 April 2023.

Sebagai informasi, Vietjet mengoperasikan dua penerbangan di Indonesia untuk rute pulang-pergi harian antara Bali dan Ho Chi Minh City dan satu penerbangan pulang-pergi harian antara Bali dan Hanoi.

Pasokan Busi ‘Tersendat’, Armada Sukhoi Superjet 100 Terancam di-Grounded

Armada pesawat penumpang Sukhoi Superjet 100 dilaporkan berisiko di-grounded karena kurangnya pasokan busi buatan AS untuk mesin SaM146 buatan Perancis-Rusia. Informasi tersebut dilaporkan oleh saluran Telegram Aviatorshchina, saluran Telegram Rusia yang secara teratur menerbitkan cerita orang dalam dari industri penerbangan.

Baca juga: Rusia “Hengkang” dari Program Sukhoi Superjet 100, Peluang Pemasaran Terbuka untuk Pasar UEA dan India

“Selama 11 bulan terakhir, busi telah dipasok oleh PJSC UEC- Saturn dari cadangannya, tetapi saat ini PJSC UEC- Saturn mengalami kesulitan dalam menyediakan layanan ini,” bunyi pemberitahuan yang dibagikan oleh saluran tersebut. Situasi saat ini berisiko menghentikan sebagian RRJ95 maskapai (nama lain SSJ100) armada pesawat dalam waktu dekat dan penghentian total penerbangan secara bertahap dari seluruh armada pesawat RRJ-95, yang membahayakan implementasi program penerbangan untuk pengangkutan penumpang.

Saturn, anak perusahaan dari perusahaan negara Rusia United Engine Corporation, adalah salah satu dari dua perusahaan yang membentuk PowerJet, perusahaan patungan yang bertugas memproduksi dan mendukung SaM146, satu-satunya mesin yang menggerakkan pesawat Sukhoi Superjet 100. Perusahaan lain yang terlibat dalam usaha patungan itu adalah pabrikan mesin Prancis, Safran.

Sebelum sanksi diterapkan terhadap penerbangan Rusia setelah invasi Ukraina, busi mesin untuk mesin SaM-146 diproduksi oleh perusahaan Unison Industries yang berbasis di AS.

Pada akhir Maret 2022, PowerJet, pabrikan mesin SaM146 Rusia-Perancis, mengatakan akan menangguhkan layanan perawatan dan perbaikan mesinnya. Sebulan kemudian, beberapa maskapai penerbangan Rusia yang mengoperasikan Sukhoi Superjet 100 memperingatkan bahwa mereka mungkin harus segera mengandangkan pesawat tersebut.

Baca juga: Gantikan Michelin, Sukhoi Superjet 100 Bersiap Gunakan Ban Pesawat Produksi Dalam Negeri

Rusia berharap untuk mengganti mesin SaM146 dengan desain buatannya sendiri, Aviadvigatel PD-8. Pada Mei 2022, Gabugan perusahaan Rusia dalam Rostec mengatakan telah menyelesaikan program pengujian statis mesin turbofan domestik.

Menurut data ch-aviation, 140 unit SSJ100 saat ini aktif, sementara 73 lainnya disimpan atau dalam pemeliharaan.

Kembangkan Layanan Kereta Cepat, Taiwan High Speed Rail Gandeng Hitachi dan Toshiba

Guna mengembangkan layanan kereta cepat di Taiwan, maka Taiwan High Speed Rail (THSR) berencana untuk membeli kereta baru dari Jepang. Dewan dan Pimpinan THSR memutuskan pada hari Rabu lalu, yakni untuk membeli kereta api cepat dari aliansi perusahaan Jepang, Hitachi dan Toshiba.

Baca juga: Taiwan Terima Rangkaian Perdana EMU3000, Kereta Listrik Antar Kota Produksi Hitachi

Dikutip dari nhk.or.jp (16/3/2023), kedua belah pihak diharapkan untuk menandatangani kontrak resmi dalam waktu dekat. Taiwan High Speed Rail akan menghabiskan sekitar US$930 juta untuk pesanan 12 kereta cepat yang memiliki total 144 gerbong. Kereta cepat di Taiwan akan dibuat berdasarkan kereta peluru Shinkansen Jepang. Bila kontrak telah berjalan, maka kereta pertama baru akan dioperasikan paling cepat tahun 2027.

Layanan kereta api berkecepatan tinggi Taiwan yang menghubungkan Taipei dan Kaohsiung dibuka pada tahun 2007, dan menghubungkan kota-kota utama di Taiwan, termasuk Taipei, Taoyuan, Hsinchu, Taichung, dan Tainan. Taiwan adalah penggunaan teknologi Shinkansen Jepang pertama di luar negeri. Semua kereta berkecepatan tinggi yang beroperasi di sana dibuat oleh pabrikan Jepang.

Pada bulan Desember, operator Taiwan memberikan hak negosiasi preferensial kepada aliansi Hitachi-Toshiba dalam memperkenalkan kereta api baru untuk meningkatkan kapasitas transportasi.

Sebelumnya, dua putaran pertama penawaran telah berakhir dengan kegagalan karena perbedaan harga. Di babak ketiga, perusahaan Taiwan telah mengindikasikan bahwa mereka tidak akan selalu berpegang pada pengadaan dari Jepang.

Jepang mementingkan proyek tersebut sebagai simbol hubungan persahabatannya dengan Taiwan. Anggota parlemen Jepang membicarakannya saat mengunjungi Taiwan tahun lalu dalam pertemuan dengan Presiden Tsai Ing-wen. Pemerintah mengirim seorang pejabat senior kementerian transportasi ke Taiwan sehubungan dengan proyek tersebut.

THSR menggunakan teknologi Shinkansen dari Jepang dan dapat mencapai kecepatan maksimum 300 kilometer per jam. Ada dua kelas layanan yang tersedia: kelas standar dan kelas bisnis.

Baca juga: Lagu “Visit Taiwan in 2035” dengan Perjalanan Kereta Cepat Beijing-Taipei, Bikin Heboh Netizen Taiwan

Selain THSR, Taiwan juga memiliki sistem kereta api konvensional yang menghubungkan kota-kota di seluruh pulau. Namun, kereta api konvensional ini tidak secepat THSR dan mungkin memakan waktu lebih lama untuk mencapai tujuan.

Huawei Tampilkan Smart Railway Perimeter Detection Solution untuk Operasi Kereta Berkecepatan Tinggi

Huawei, vendor telekomunikasi global yang bermarkas di Shenzhen, Cina, belum lama ini memperkenalkan solusi terbaru yang dapat mendukung sistem operasional kereta berkecepatan tinggi. Pada ajang International Union of Railways (UIC) World Congress ke-11 yang dihelat di Marrakech, Maroko, 14 Maret 2023, Huawei secara resmi menampillkan apa yang disebut sebagai Smart Railway Perimeter Detection Solution.

Baca juga: Integrasikan Big Data dan Cloud, Huawei Rilis 5G LTE-R untuk Sistem Komunikasi Kereta

Dari laman Huawei.com, vendor telekomunikasi yang di black list oleh Amerika Serikat ini menyebut bahwa Smart Railway Perimeter Detection Solution akan terkait langsung dengan Future Railway Mobile Communication System (FRMCS), yang mengandalkan jaringan komunikasi data dan jaringan komunikasi optik.

Huawei menyebut solusinya dibangun agar layanan perkeretaapian dapat terhubung sepenuhnya, memungkinkan pengembangan industri yang cepat, aman, dan cerdas, serta memfasilitasi transformasi digital.

Li Junfeng, Vice President of Huawei and CEO of the Aviation & Rail BU menyampaikan bahwa pengembangan kereta api berkecepatan tinggi di masa depan bergantung pada sistem komunikasi nirkabel dengan bandwidth yang lebih tinggi untuk memastikan operasi kereta api yang aman.

Platform terpusat dan konektivitas yang andal akan mewujudkan industri digital dan hijau. Solusi FRMCS berbasis 4G LTE (Long Term Evolution) Huawei dapat membawa lebih banyak layanan baru hanya dengan meningkatkan kemampuan perangkat lunak. Ini tidak hanya memangkas biaya proyek perkeretaapian, tetapi juga memenuhi persyaratan pengembangan perkeretaapian digital.

Dalam hal keamanan, Huawei mengintegrasikan teknologi baru ke dalam skenario layanan. Smart Railway Perimeter Detection Solution akan melindungi keselamatan di sisi rel sepanjang waktu, dalam cuaca apa pun.

Smart Railway Perimeter Detection Solution Huawei berorientasi ke pasar di luar Cina. Solusi dibangun di atas arsitektur konvergensi penglihatan optik, yang memungkinkan deteksi getaran serat bersama analisis video untuk melindungi perimeter kereta api dengan kesadaran multi-dimensi dan presisi tinggi.

Solusi ini mengatasi masalah akurasi rendah yang dihadapi oleh solusi deteksi perimeter kereta api konvensional, mencegah alarm yang terlewatkan, dan memberikan sedikit alarm palsu, memastikan pengoperasian kereta api yang lebih aman dan efisien.

Huawei menyebut bila dunia sedang membangun lebih banyak kereta api berkecepatan tinggi dan mengalami transformasi digital dan cerdas. Dengan demikian, industri perkeretaapian membutuhkan komunikasi jaringan dengan bandwidth yang lebih tinggi dan latensi yang lebih rendah untuk membawa layanan baru.

“Solusi FRMCS berdasarkan teknologi LTE yang sesuai dengan standar 3GPP terpadu, serta memiliki ekosistem yang matang dan teknologi broadband yang dapat memungkinkan layanan yang lebih cerdas. Huawei membangun jaringan berorientasi FRMCS berkinerja tinggi untuk pelanggan, sehingga mendukung digitalisasi perkeretaapian,” kata Li Junfeng.

Baca juga: Inggris Kembangkan Teknologi Kecerdasan Buatan untuk Memprediksi ‘Timbunan’ Daun di Atas Rel Kereta

Pada acara tersebut, Huawei memperkenalkan Solusi FRMCS yang menggunakan teknologi IPv6+ inovatif untuk membangun kapabilitas pembawa terkonvergensi dengan keandalan tinggi, penerapan mudah, O&M cerdas, dan evolusi mulus. Solusi ini secara aman dan andal menghadirkan berbagai layanan, seperti suara, persinyalan, dan video, sambil memastikan operasi perkeretaapian yang aman dan stabil.

Menilik Lebih Jauh “Direct Cost,” Komponen Pembentuk Biaya Operasi dalam Penerbangan

Sudah bukan menjadi sebuah rahasia lagi jika harga tiket penerbangan di akhir tahun atau yang kondang disebut peak season akan melejit seiring dengan meningkatnya jumlah permintaan penerbangan. Namun jika ditelaah lebih jauh, peningkatan harga tiket penerbangan ini bisa dibilang cukup masuk akal menimbang biaya pengoperasian suatu rute juga tidaklah murah. Nah, kira-kira, bagaimana perhitungan biaya pengoperasian sebuah penerbangan? Berikut ulasannya.

Baca Juga: Ikutan Menjerit Karena Harga Tiket Pesawat Mahal? Cek Dulu Penyebabnya!

Sejatinya, ada empat komponen pembentuk biaya pengoperasian sebuah penerbangan yang masing-masing diantaranya memiliki peran dan presentase yang berbeda – Direct Cost, Indirect Cost, Fleet Cost, dan Overhead Cost. Mengingat masing-masing dari variabel tersebut memiliki peruntukkan dan jumlah presentasenya tersendiri, maka pada pembahasan kali ini KabarPenumpang.com akan membahas tentang Direct Cost terlebih dahulu.

Direct Cost merupakan komponen yang paling banyak berperan dalam pembentukan biaya pengoperasian suatu penerbangan. Mengutip data rataan tahun 2017 milik salah satu maskapai kenamaan yang ada di Indonesia, presentase Direct Cost menyentuh angka 57,78 persen , disusul oleh Fleet Cost di angka 28,81 persen, lalu ada Overhead Cost dengan presentase 9,77 persen, dan 3,64 persen sisanya adalah Indirect Cost.

Dan bila dijabarkan lebih dalam, Direct Cost memiliki faktor-faktor pembentuknya – tentu saja dengan presentase yang berbeda satu sama lain. Berikut adalah rinciannya:

Fuel: 28,39 persen
Variable Maintenance: 7,13 persen
Catering: 4,13 persen
Handling: 4,03 persen
Pax Commission: 2,75 persen
Cabin Crew Travel: 2,39 persen
Cockpit Crew Travel: 2,19 persen
Air Traffic Control: 2,19 persen 
Reservation: 1,86 persen
Landing: 1,67 persen
On-Board Service: 0,41 persen
Freight Commission: 0,33 persen
Credit Card Commission: 0,31 persen

Namun jangan anggap ini adalah angka yang mutlak, mengingat hampir semua angka yang ada di jagad penerbangan komersial adalah hal yang fluktuatif. Andaikan ada perubahan, lazimnya tidak akan terlalu signifikan dan sangat kecil kemungkinannya untuk bisa menggeser posisi bahan bakar (fuel) yang ada di posisi pertama.

Sebagai catatan tambahan, presentase fuel yang terpampang di atas merupakan presentase terbesar pertama dari semua total biaya operasi – disusul oleh biaya sewa pesawat (lease) yang ada di level 26,25 persen pada data yang sama.

Baca Juga: Nah Ini! Trik Unik Buat Cari Tiket Pesawat Murah

Sebagai ilustrasi, total cost yang dikeluarkan maskapai tersebut pada tahun 2017 lalu adalah US$3,1 miliar. Jika pada tahun tersebut Direct Cost berkontribusi sebesar 57,78 persen, maka total yang dikeluarkan pihak maskapai adalah US$1,8 miliar.

Jadi, sedikit banyaknya Anda sudah mendapatkan gambaran tentang betapa rumitnya sektor kedirgantaraan komersial. Contoh di atas hanyalah segerintil kecil dari kompleksitas faktor yang mempengaruhi dunia penerbangan, kebayangkan betapa rumitnya permainan angka di dalamnya?

Kenapa Sinyal GPS di Ponsel Hilang Setelah Pesawat Lepas Landas?

Penumpang diharuskan mengaktifkan flight mode atau mode pesawat di ponsel selama penerbangan, khususnya sebelum pesawat lepas landas dan sebelum mendarat. Terkadang, penumpang lupa melakukan itu dan yang terjadi adalah sinyal GPS di ponsel hilang tak lama setelah pesawat landas. Kenapa demikian?

Baca juga: Disinyalir Rindu Keluarga, Mahasiswa Paruh Waktu ini Coba Curi Pesawat!

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, sudah umum diketahui bahwa Global Positioning System (GPS) adalah sistem navigasi berbasis satelit yang terdiri dari setidaknya 24 satelit.

Dihimpun dari berbagai sumber, GPS berfungsi dalam segala kondisi cuaca, di mana pun di dunia, 24 jam sehari, tanpa biaya berlangganan atau biaya penyiapan. Departemen Pertahanan AS (USDOD) awalnya menempatkan satelit ke orbit untuk penggunaan militer, tetapi mereka dibuat tersedia untuk digunakan sipil pada 1980-an.

Satelit GPS mengelilingi Bumi dua kali sehari dalam orbit yang tepat. Cara kerjanya, setiap satelit mengirimkan sinyal unik dan parameter orbital yang memungkinkan perangkat GPS untuk memecahkan kode dan menghitung lokasi tepat dari satelit. Penerima GPS menggunakan informasi dan trilaterasi ini untuk menghitung lokasi pasti pengguna.

Pada dasarnya, penerima GPS mengukur jarak ke masing-masing satelit dengan jumlah waktu yang diperlukan untuk menerima sinyal yang dikirimkan.

Dengan pengukuran jarak dari beberapa satelit lagi, penerima dapat menentukan posisi pengguna dan menampilkannya secara elektronik untuk mengukur rute berolahraga, jarak dari kota A ke kota B, menemukan jalan pulang, dan lainnya.

Guna menghitung posisi 2-D pengguna (garis lintang dan garis bujur) dan gerakan lintasan, penerima GPS harus dikunci pada sinyal minimal 3 satelit. Dengan 4 atau lebih satelit dalam pandangan, penerima dapat menentukan posisi 3-D Anda (garis lintang, garis bujur dan ketinggian).

Umumnya, penerima GPS akan melacak delapan atau lebih satelit, tetapi itu tergantung pada waktu dan dimana pengguna berada di bumi. Setelah posisi pengguna ditentukan, unit GPS dapat menghitung informasi lain, seperti kecepatan arah, jalur, jarak perjalanan, jarak ke tujuan, matahari terbit dan terbenam, dan banyak lagi.

Satelit GPS mengirimkan setidaknya dua sinyal radio berdaya rendah. Itu sebab sinyal rata-rata tidak bisa atau kesulitan menembus dinding tebal atau material tertentu, salah satunya tabung alumunium (red: badan pesawat).

Menurut pengguna Quora, Craig Wilcox, alumunium sebetulnya tidak memblokade sinyal GPS. Masalahnya, ‘tabung alumunium’ yang menjadi penghalang sinyal tidak berhenti melainkan bergerak dengan kecepatan tinggi.

Baca juga: Sebelum Era GPS, Inilah Teknik Terbang Aman Saat Pesawat Melintasi Samudera

Disebutkan, pesawat melesat di kecepatan beberapa ratus kaki per detik terus menambah kecepatan sampai 965 km per jam atau 10 mil per menit. Di kecepatan tersebut, antena GPS kecil di ponsel tidak akan bisa menangkap sinyal radio yang cukup stabil, juga prosesor tidak dikonfigurasi untuk kecepatan seperti itu.

Pesawat tentu saja memiliki antitesa atau jawaban atas permasalahan itu semata agar pilot-kopilot bisa mendapatkan posisi pesawat dengan jelas dan paten. Caranya dengan memperkuat sistem antena dan penguat sinyal serta prosesor sinyal yang lebih besar.

Dilarang Merokok di Pesawat tapi Disediakan Asbak, Kenapa Demikian?

Terlepas dari kecanggihan teknologinya, pesawat memiliki beberapa hal yang membingungkan. Seperti misalnya dilengkapi klakson yang nyaris tidak pernah dipakai sampai asbak di toilet meski merokok di dalam pesawat sangat dilarang karena berpotensi menggangu keamanan dan keselamatan penerbangan. Jika begitu, kenapa merokok dilarang tapi maskapai menyediakan asbak?

Baca juga: Inilah Smokers Express Airlines, Maskapai Khusus Bagi Para Perokok

Dahulu, merokok di pesawat adalah sebuah tawaran yang menguntungkan maskapai. Sambil minum sampanye, menikmati hidangan istimewa yang disajikan di atas piring keramik, penumpang diperkenankan merokok tanpa batasan.

Itu terus berlangsung sampai awal tahun 1980-an. Ketika itu, Administrasi Penerbangan Federal Amerika Serikat (FAA) mengeluarkan larangan merokok di dalam pesawat secara parsial dan mulai berlaku di seluruh penerbangan pada tahun 1987.

Perubahan drastis pun terjadi. Merokok di pesawat bukan lagi hak masing-masing warna negara, melainkan sebuah pelanggaran yang bisa berujung pada kasus hukum bila dilanggar.

Tentu saja, sifat addict pada rokok telah membuat seseorang tidak tahan untuk segera melakukannya (merokok), bahkan ketika di dalam pesawat yang tengah mengudara sekalipun, yang jelas-jelas dilarang.

Terbukti, setelah merokok resmi dilarang FAA dan segera diadopsi oleh regulator penerbangan sipil dunia, banyak laporan bahwa ada saja penumpang yang merokok di dalam pesawat, tepatnya di toilet.

Mengingat bahaya yang mengintai dan daripada abu rokok serta bara api (puntung) rokok dibuang sembarang dan tak terorganisir hingga berpotensi menimbulkan bahaya yang lebih besar, FAA mengatur agar maskapai tetap menyediakan asbak untuk para perokok nakal yang mencuri-curi kesempatan.

Dalam peraturan FAA, asbak wajib ada di setiap toilet pesawat di dekat pintu. Asbak harus berada di tempat yang mudah terlihat penumpang dan mencolok. Karena harus ada di setiap toilet, maka jumlah asbak mengikuti jumlah toilet. Asbak di dalam toilet juga menjadi syarat sertifikasi maskapai untuk dapat terbang ke AS, yang pada akhirnya, sekali lagi, itu diadopsi oleh regulator penerbangan sipil negara lain.

Pernah suatu hari dalam penerbangan British Airways ke Meksiko, pesawat sampai harus digrounded lantaran asbak tidak mencukupi.

Baca juga: Inilah 11 Perbedaan Maskapai Penerbangan Era 70-an dengan Sekarang

Dilansir Quora, sebetulnya maskapai manapun bisa saja mengajukan sertifikasi tambahan atau STC (supplemental type certificate) untuk meniadakan asbak di pesawat.

Akan tetapi, prosesnya cukup panjang, mahal, dan melelahkan. Disebutkan, maskapai yang menginginkan hal itu harus mengajukan satu sertifikasi per pesawat. Bila ada 100 armada, maka, maskapai harus mengajukan 100 STC sebelum dinyatakan lolos sertifikasi FAA.

Byee Airbus, Arab Saudi Pesan 121 Pesawat Boeing 787 Dreamliner untuk Saudia dan Riyadh Air

Terjawab sudah teka-teki armada pesawat maskapai baru Arab Saudi, Riyadh Air. Negara kaya minyak pimpinan Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman (MBS) itu dikabarkan sepakat membeli 121 pesawat Boeing 787 Dreamliner untuk dua maskapai nasionalnya, Riyadh Air dan Saudi Arabian Airlines (Saudia).

Baca juga: Pangeran Arab Saudi Dirikan Maskapai Baru Riyadh Air, Siap Saingi Emirates Sampai Qatar Airways

Sebelumnya, Airbus dikabarkan berada di atas angin dengan total pesanan mencapai 40 jet Airbus A350 Airbus. Namun, Selasa lalu, laporan menyebutkan Arab Saudi dan Amerika Serikat (AS) sepakat atas pembelian 121 pesawat Boeing 787 Dreamliner dengan nilai transaksi mencapai US$37 miliar.

Pembelian besar-besaran dari Arab Saudi tersebut tak sekadar memperkuat barisan armada maskapai nasionalnya saja dalam merealisasikan Visi 2030, tetapi juga menjadi sinyal kedekatan hubungan Riyadh dan Washington.

Dalam sebuah pernyataan yang dikutip NHK World, pemerintah AS menyambut baik kesepakatan tersebut. Lebih lanjut, kesepakatan tersebut disebutnya dalam membuka 1 juta lapangan pekerjaan bagi warga AS. Washington menyebut akan terus menjalin kerja sama dengan Riyadh.

“(Kesepakatan itu) mendukung lebih dari satu juta pekerjaan Amerika,” tulisnya. “AS akan terus mendukung Timur Tengah, “yang pada akhirnya menguntungkan rakyat Amerika,” tambahnya.

Sebelumnya, Putra Mahkota Arab Saudi Panegran MBS akhir pekan lalu mengumumkan berdirinya maskapai baru bernama Riyadh Air. Maskapai ini adalah wujud dari realisasi rencana besar pangeran MBS dalam Visi 2030 yang hendak mendatangkan 100 juta wisatawan. Ini sekaligus mengubah orientasi pendapatan Arab Saudi dari mengandalkan minyak menjadi pariwisata.

Pangeran MBS menunjuk Tony Douglas yang sudah malang-melintang di industri dirgantara sebagai CEO. Tony dan Riyadh Air ditargetkan dapat melayani lebih dari 100 destinasi di seluruh dunia tahun 2030, bahu membahu bersama maskapai nasional Arab Saudi lainnya, Saudi Arabia Airlines (Saudia).

Target tersebut akan memanfaatkan lokasi strategis Arab Saudi yang berada di antara Asia, Afrika, dan Eropa, menjadikannya salah satu pilihan hub terbaik di dunia, demikian dilansir CNBC International.

Baca juga: Kasihan, Boeing 747-8 VIP Bekas Kerajaan Arab Saudi ‘Dimutilasi’: Baru Mencatat 50 Jam Terbang

Riyadh Air diharapkan dapat menyumbang US$20 miliar untuk pertumbuhan PDB non-minyak Arab Saudi. Maskapai juga ditarget dapat menciptakan lebih dari 200 ribu lapangan pekerjaan baik secara langsung maupun tak langsung.

Arab Saudi menggelontorkan miliaran dollar AS untuk mewujudkan Visi 2030. ‘Visi 2030’ sendiri ialah sebuah rencana pembangunan jangka panjang Arab Saudi yang menekankan pada diversifikasi ekonomi agar tak hanya mengandalkan minyak bumi yang harganya terus turun dan cenderung tidak stabil.