Inilah Lima Runway Terjauh dari Terminal, Paling Jauh 5 Km!

Bandara kecil dan bandara besar tentu saja memiliki keunggulan masing-masing. Di bandara besar dengan banyak runway, kecil kemungkinan pesawat antre saat hendak ingin mendarat. Bandara kecil justru sebaliknya.

Baca juga: Jangan Kaget, Ini Bandara dengan Jumlah Runway Terbanyak di Dunia

Tetapi, di bandara kecil, sekalipun fasilitasnya, seperti garbarata, shuttle bus, dan lainnya, tak tersedia, namun, runway dan terminalnya hampir pasti berdekatan. Sebaliknya, di bandara-bandara besar, itu justru saling berjauhan.

Efeknya, sudah pasti penumpang harus meluangkan waktu dan tenaga menuju ujung terminal (garbarata) sesudah ataupun sebelum take off dan landing. Lantas, runway di bandara mana saja di dunia yang paling jauh dari terminal? Dilansir Simple Flying, berikut selengkapnya.

1. Runway Bandara Schiphol

Runway Polderbaan 18R-36L Bandara Schiphol adalah runway terpanjang, terbaru, dan paling terisolir di bandara yang terletak di Amsterdam tersebut. Tak hanya itu, runway yang selesai dibangun pada tahun 2003 ini juga memiliki panjang 3.800 meter.

Yang paling spesial tentu jarak runway ke terminal, yaitu sejauh lima kilometer. Ini bukan hanya membuat taxiing lebih lama, sekitar 15 menit lebih, tetapi juga didapuk menjadi runway dengan jarak paling jauh di dunia.

2. Runway 8 Bandara Denver

Bandara Internasional Denver diketahui memiliki enam landasan pacu, yaitu 7/25, 8/26, 16L/34R, 16R/34L, 17L/35R, dan 17R/35L. Lima di antaranya memiliki panjang 12.000 kaki (3.658 meter), dan satu sisanya, runway 16R/34L, membentang sepanjang 16.000 kaki (4.877 meter).

Adapun yang terjauh jaraknya dari terminal adalah runway 8, berjarak 3,53 kilometer. Runway lainnya, yaitu runway 7/25 juga tergolong jauh, mencapai tiga kilometer dari terminal Denver.

Akibatnya, tentu saja waktu taxiing agak lebih lama dibanding di bandara lain, mencapai rata-rata 15,4 menit untuk keberangkatan, dan 8,2 menit untuk landing dan mencapai apron.

3. Runway 07L/25R Bandara Frankfurt

Bergeser ke Eropa, runway 07L/25R Bandara Frankfurt masuk dalam daftar runway dengan jarak terjauh dari terminal. Disebutkan, jarak antar keduanya mencapai 3,1 kilometer.

Baca juga: Bandara Hong Kong Rampungkan Runway Ketiga di Tanah Reklamasi

4. Reef Runway Bandara Honolulu, Hawaii

Di posisi ketiga bandara dengan terminal terjauh dari runway adalah Bandara Honolulu, Hawaii. Landasan pacu lepas pantai 8W/26W atau biasa juga disebut reef runway dengan panjang 3.658 meter ini diketahui berjarak 2,93 kilometer dari terminal terdekat.

5. Runway Bandara Atlanta Hartsfield-Jackson

Runway Bandara Atlanta Hartsfield-Jackson paling sibuk di dunia tersebut hanya menempati posisi kelima dalam daftar ini. Runway kelima atau 10/28 disebut berjarak 2,19 kilometer dari terminal.

Maskapai ANA Lelang Jendela dan Kursi First Class Pesawat Boeing 777, Berminat?

Maskapai All Nippon Airways (ANA) resmi menjual suku cadang atau komponen pesawat Boeing 777-300ER-nya berupa mockup kursi first class dan jendela. Penjualannya sendiri dilakukan secara online melalui Yahoo.

Baca juga: Boeing Jual Furniture dari Suku Cadang Asli Pesawat 747 hingga F-4 Phantom! Segini Harganya

Sebelumnya, ANA sudah dahulu menjual komponen atau suku cadang pesawat yang sudah purna tugas melalui frequent flyer resminya, ANA Shopping A-Style. Sejauh ini, ada dua barang yang ditawarkan ke penggemarnya; gantungan kunci yang terbuat dari jendela pesawat dan troli dalam penerbangan.

Ketika itu, animo masyarakat dalam menyambut barang-barang aneh yang dijual ANA cukup tinggi. Itu sebab, ANA melanjutkan tren positif penjualan komponen atau suku cadang pesawat dan meluncurkan penjualan mockup kursi first class serta jendela pesawat Boeing 777-300ER.

Sebagaimana perusahaan lain dalam menjual komponen dan suku cadang pesawat, ANA juga mengaku menjualnya untuk mengurangi dampak lingkungan.

Selain itu, penjualan ini tentu saja ditujukan untuk pemasukan tambahan, memaksimalkan pendapat terhadap pesawat yang sudah pensiun, sampai berkontribusi pada kegiatan sosial, dimana sebagian penjualan barang-barang tersebut didonasikan ke Save the Children atau Japanese Red Cross Society.

ANA tentu bukan yang pertama menjual komponen atau suku cadang pesawat. Pada Juli lalu, perusahaan Jepang yang berbasis di Prefektur Chiba terang-terangan menjual kursi kelas bisnis A380 Singapore Airlines untuk pertama kalinya di luar Singapura.

Sayangnya, tak disebutkan dengan jelas berapa harga, termasuk ongkos kirimnya untuk bisa sampai ke rumah. Sudah begitu, stok yang tersedia juga tak diketahui berapa banyak. Kendati demikian, Airbus lovers di seluruh dunia dipercaya sudah mengambil ancang-ancang untuk mendapatkan dan membawanya pulang, untuk ditempatkan di rumah.

Pada Agustus tahun lalu, Lufthansa diketahui menjual produk yang terbuat dari suku cadang pesawat Airbus A320 D-AIPA, seperti gantungan kunci meja yang terbuat dari wingtip, freestanding bar yang terbuat dari pintu pesawat, hingga penyimpanan bir di dinding yang terbuat dari jendela pesawat, serta banyak lagi produk-produk lainnya.

Baca juga: Percaya atau Tidak? Airbus A320 Lufthansa Dijual Rp429 Ribu!

Berbagai produk hasil konversi dari A320 D-AIPA itu dilepas bersamaan dengan pameran Upcycling Collection 2.0 Lufthansa. 2.0 menandakan bahwa gelaran tersebut merupakan tahun kedua, setelah sebelumnya pameran yang sama juga dilakukan tahun lalu. Namun, tahun ini, Lufthansa banyak membuat perbedaan, termasuk menjual seluruh bagian suku cadang pesawat.

Hal yang sama juga pernah dilakukan Boeing saat menjual produk furniture yang dimodifikasi dari suku cadang pesawat Boeing 747 dan F-4 Phantom, Etihad saat menjual pintu pesawat, dan perusahaan lainnya.

Bukan Hanya WNI, Kura-kura Juga Mendapatkan Program Repatriasi

Di masa pendemi, bukan hanya warga negara yang mendapatkan program repatriasi (pemulangan dari luar negeri), melainkan kura-kura pun ikut mendapatkan kesempatan repatriasi, kembali ke habitat aslinya di Indonesia. Persisnya 13 kura-kura jenis leher ular Rote (Chelodina mccordi) dipulangkan dari Singapura menuju Kupang melalui Jakarta.

Baca juga: ‘Misteri’ Batik Air PK-BDF, Misi Penerbangan Repatriasi WNI dari Kabul

Satwa yang tergolong ikonik-endemik dari Pulau Rote, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) ini diangkut dari Singapura menuju Kupang melalui Jakarta menggunakan penerbangan ekstra kargo pada Rabu (22/9), kemudian dilanjutkan dengan penerbangan reguler ke Kupang pada Kamis (23/9). Maskapai penyelenggara kegiatan repatriasi kura-kura ini adalah Garuda Indonesia.

Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam pesan tertulis menjelaskan, “Merupakan kebanggaan tersendiri bagi Garuda Indonesia sebagai national flag carrier dapat mendukung komitmen berkelanjutan Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI terkait upaya pelestarian satwa yang dilindungi di Indonesia melalui penyediaan layanan transportasi udara untuk mengembalikan satwa endemik tersebut ke habitatnya.”.

Proses repatriasi ini memiliki arti penting tidak hanya dalam kaitan upaya konservasi Kura Kura Leher Ular yang merupakan spesies satwa dilindungi dan terancam punah, namun menjadi representasi dari kolaborasi berkelanjutan ekosistem konservasi lingkungan hidup.

Proses repatriasi kura-kura leher ular yang terdiri atas 6 kura-kura jantan dan 7 kura-kura betina itu diberangkatkan dari Singapura pada Rabu (22/9) pukul 22.45 waktu setempat menggunakan Airbus A330-300 (GA 8374) dan tiba di Jakarta pada pukul 23.40 WIB , untuk selanjutnya diberangkatkan menuju Kupang pada Kamis (23/9) menggunakan Boeing 737-800NG (GA 448) pada pukul 07.30 WIB dan tiba pada pukul 13.05 WITA.

Dalam pelaksanaannya, koordinasi intensif telah dilakukan Garuda Indonesia bersama dengan KLHK terkait dengan kesiapan seluruh dokumen persyaratan maupun prosedur pengangkutan, yang mengacu kepada regulasi internasional yakni International Air Transport Association (IATA) beserta peraturan karantina dan kepabeanan di Indonesia.

Baca juga: Gegara Seekor Merpati di Kabin, Penerbangan Aeroflot Tertunda di Moskow

Garuda Indonesia telah mempersiapkan infrastruktur penunjang seperti live animal room untuk satwa tersebut selama transit di Jakarta beserta prosedur pengecekan dan perawatan kesehatan yang dilaksanakan oleh petugas karantina dan kesehatan satwa sebelum berangkat menuju ke kota tujuan yakni Kupang. Dimana selanjutnya kura-kura Rote akan menjalani proses adaptasi selama beberapa waktu ke depan sebelum dilepasliarkan di habitat aslinya.

MRT Jakarta Uji Coba Bike Trolley Non Lipat di Stasiun Bundaran HI

Kini bukan hanya sepeda lipat yang bisa masuk dalam kereta MRT Jakarta, melainkan sepeda biasa atau non lipat. Karena hal tersebut, PT MRT Jakarta menghadirkan troli sepeda atau bike trolley. Namun, bike trolley tersebut masih dilakukan uji coba untuk sepeda non lipat.

Baca juga: Demand Meningkat, MRT Jakarta Tambah Fasilitas untuk Pesepeda Non Lipat

Bike trolley ini akan di uji coba mulai 27 September hingga 1 Oktober 2021 di Stasiun MRT Bundaran HI. Plt Kepala Divisi Corporate Secretary MRT Jakarta Ahmad Pratomo mengatakan, ada dua buah bike trolley yang tersedia di Stasiun MRT Bundaran HI.

“Kita akan uji coba kepada publik selama periode 27 September-1 Oktober 2021,” ujar Tomo. Ia menambahkan, uji coba bike trolley ini akan dilakukan secara terbatas yakni dari Ground Level depan lift Entrance B Stasiun MRT Bundaran HI hingga ke area platform stasiun.

“Karena baru mulai uji coba, maka bike trolley ini baru ada di Stasiun MRT Bundaran HI. Disediakannya fasilitas bike trolley sepeda untuk memudahkan pengguna sepeda non lipat yang akan melakukan mobilisasi menggunakan MRT,” jelas Tomo.

Nantinya setelah uji coba, MRT Jakarta akan melakukan evaluasi kehadiran fasilitas ini sebelum resmi digunakan oleh pelanggan. Para pengguna MRT Jakarta dapat turut serta mengikuti tahap uji coba troli sepeda dengan cara mendaftar pada tautan https://bit.ly/BikeTrolleyMRT.

“Kami megajak kepada masyarakat untuk mengikuti uji coba ini, periode pendaftaran yaitu mulai tanggal 21 September hingga 25 September 2021,” ujar Tomo.

Baca juga: Ridership Meningkat, MRT Jakarta Hadirkan Kereta Khusus Pesepeda Non Lipat

Melalui hasil uji coba terbatas yang dilakukan, MRT Jakarta akan menyediakan fasilitas bike trolley di sejumlah stasiun lainnya yaitu di Stasiun MRT Lebak Bulus Grab dan Stasiun MRT Blok M BCA.

Tujuh BUMN Bakal Dibubarkan Erick Thohir, Salah Satunya Merpati Nusantara Airlines

Menteri BUMN Erick Thohir diwartakan akan membubarkan tujuh perusahaan negara karena sudah tidak beroperasi lagi, namun tercatat masih memiliki pekerja. Pekerja ini tidak mendapatkan kebijakan yang jelas, sehingga pemerintah akan memberikan kepastian melalui pembubaran BUMN. Dan di sektor transportasi, terdapat nama PT Merpati Nusantara Airlines (Persero).

Baca juga: Xian MA60, Pesawat Cina Jiplakan Antonov An-24 yang Bikin Merpati Airlines Bangkrut

Dikutip dari cnnindonesia.com (24/9/2021), selain PT Merpati Nusantara Airlines (MNA), disebutkan perusahaan negara lain yang akan dibubarkan Erick Thohir adalah PT Industri Gelas (Persero), PT Istaka Karya (Persero), PT Industri Sandang Nusantara (Persero), PT Pembiayaan Armada Niaga Nasional (Persero) dan PT Kertas Leces (Persero).

Khusus untuk PT MNA, maskapai ini diketahui sudah tidak terbang sejak 1 Februari 2014, masalah finansial dan beban utang serta hadirnya maskapai-maskapai baru menjadi alasan yang memperberat langkah MNA. Meski tidak lagi mengudara, MNA masih menjalankan bisnis lain, yaitu Maintenance Repair and Overhaul (MRO), Training Center dan kargo. Dengan rencana pembubaran PT MNA, belum diketahui bagaimana nasib unit bisnis PT MNA yang saat ini masih eksis.

Kilas balik sejarah PT MNA, maskapai ini berdiri pada tahun 1962, Merpati memiliki pusat operasi di Jakarta. Selain melayani penerbangan domestik, dahulu Merpati juga pernah melayani penerbangan internasional ke Honolulu, Los Angeles, Jeddah, Manila, Dili dan Darwin.

Sebagai maskapai yang lumayan besar pada masanya, Merpati Nusantara Airlines pernah diperkuat pesawat turboprop Vickers Vanguard, Vickers Viscount, Casa 212, CN 235, Twin Otter, sampai pesawat angkut versi sipil Hercules L 100 L382G. Seiring era jet, Merpati Nusantara Airlines kemudian menggunakan Boeing 707, Boeing 727, Fokker F-28, Fokker 100, Boeing 737 dan Airbus A310.

Kejayaan Merpati Nusantara Airlines mulai meredup setelah Indonesia dilanda krisis moneter 1997 yang berujung tumbangnya Orde Baru di tahun 1998. Dampaknya, Merpati Nusantara Airlines memangkas sejumlah rute dan mengurangi armada mereka. Kemudian nama Merpati Nusantara Airlines ikut redup bersama dengan Sempati Air, Bouraq, Jatayu Airlines, Adam Air, Indonesia Airlines dan Batavia Air.

Baca juga: Merpati Airlines Bakal Kembali Terbang Pakai Airbus A320/A321Neo, Tak Jadi Pakai MC-21?

Pada April 2020, sempat ada kabar bahwa Merpati Nusantara Airlines akan beroperasi kembali, saat itu disebutkan maskapai plat merah ini akan mendatangkan 10 unit Airbus A320neo dan 8 unit Airbus A321neo secara bertahap mulai Agustus 2020. Namun lagi-lagi, badai pandemi Covid-19 ikut menggulung rencana tersebut.






















Lima Kecanggihan Pesawat Kepresidenan Air India One, Nomor Dua Tak Ada di Indonesia One

Kemarin, PM Narendra Modi bertolak ke Amerika Serikat (AS) menggunakan pesawat kepresidenan India yang berbasis Boeing 777 VVIP, Air India One. Di AS, Modi diagendakan bertemu Presiden Joe Biden, Wakil Presiden Kamala Harris, yang juga keturunan India, Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Perdana Menteri Jepang Yoshihide Suga, dan sejumlah petinggi negara lainnya.

Baca juga: Intip Kecanggihan Pesawat Dinas Presiden Erdogan, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal

Sebagai negara terluas keempat di dunia, negara dengan penduduk terbanyak kedua di dunia setelah Cina, negara dengan perekonomian terkuat keempat di dunia setelah AS, Cina, dan Jepang, serta negara dengan PDB tertinggi ketiga di dunia setelah Cina dan AS, pemimpin India rawan sabotase dari para musuh. Karena itu, dibutuhkan berbagai fitur canggih di pesawat Boeing 777 VVIP Air India One.

Dilansir zeenews.india.com, setidaknya, ada lima fitur canggih dalam memastikan keamanan dan kenyamanan di pesawat yang melayani Presiden, Wakil Presiden, dan Perdana Menteri India itu. Apa saja?

1. Sistem keamanan anti hacker dan anti rudal

Air India One memiliki sederet fitur canggih dalam menangkal serangan siber. Pesawat ini juga memiliki sistem pertahanan anti rudal Large Aircraft Infrared Countermeasures (LAIRCM).

Ini tentu bukan fitur keamanan langka mengingat pesawat VVIP negara lain seperti Air Force One, Air Force One Rusia, dan lain sebagainya, termasuk pesawat kepresidenan Indonesia -Indonesia One- yaitu CAMS (Civilian Aircraft Missile Protection System)

2. Self-Protection Suits (SPS)

Pesawat VVIP Air India One juga dilengkapi dengan fitur keamanan lain berupa Self-Protection Suits (SPS). Sistem pertahanan ini berfungsi mengganggu sinyal radar musuh dan mengelabui rudal yang mengarah ke pesawat.

3. Sistem komunikasi canggih

Dilengkapi dengan sistem komunikasi canggih yang memungkinkan penggunaan fungsi komunikasi audio dan video di udara terenkripsi tanpa bisa diretas.

4. Dilengkapi ruang konferensi dan pusat kesehatan

Urusan Presiden, Wakil Presiden, dan Perdana Menteri India terkait negara tentu tak bisa ditunda, termasuk jika terjadi keadaan darurat terhadap kesehatannya.

Baca juga: Intip Ilyushin Il-96 Air Force One Rusia, Punya Sistem Pertahanan Anti Rudal dan Kursi Lontar

Karena itu, pesawat kepresidenan India juga dilengkapi dengan ruang konferensi dan pusat kesehatan. Andai dalam perjalanan lintas benua dengan jarak tempuh belasan jam, pertolongan pertama dan komunikasi terhadap pejabat terkait bisa tetap dilakukan.

5. Jangakaun terbang hingga 17 jam, diawaki oleh pilot militer khusus

Pesawat kepresidenan Air India One mampu terbang dari India ke AS tanpa perlu transit untuk mengisi bahan bakar. Pesawat setidaknya mampu terbang selama 17 jam dalam keadaan bahan bakar penuh. Selain itu, Air India One juga diawaki oleh pilot yang dilatih khusus dari Angkatan Udara India.

Bandara Tribhuvan Kathmandu, Salah Satu Bandara Terburuk di Dunia

Plesiran ke luar negeri seyogyanya akan menjadi satu pengalaman berharga yang sulit untuk dilupakan. Selain dapat menemukan berbagai kebudayaan baru, pengalaman mengunjungi negara lain pun akan serta merta bertambah. Nampaknya Anda tidak akan menemukan masalah yang berarti ketika Anda menyambangi negara yang memiliki bandara berpredikat baik, seperti Singapura dengan Bandara Internasional Changi-nya, atau negara lain. Namun apa jadinya jika Anda dihadapkan pada sebuah negara dengan predikat salah satu bandara terburuk di dunia?

Baca Juga: Bosan Antri Lama di Bandara, Begini Cara Cepat Ambil Barang di Klaim Bagasi

Nepal, negara yang terkenal dengan Pegunungan Himalaya-nya ini disebut-sebut memiliki bandara yang ‘kurang bersahabat’ – bahkan namanya masuk ke dalam salah satu daftar bandara terburuk di dunia. Nah, semisal Anda berkesempatan untuk mengunjungi Nepal via jalur udara, berikut KabarPenumpang.com himpun beberapa tips dari laman roadsandkingdoms.com yang akan ‘menyelamatkan’ diri Anda dari Tribhuvan International Airport, bandara utama di Nepal.

Pemandangan Pegunungan Himalaya
Beruntung bagi Anda yang dijadwalkan landing saat matahari masih bersinar, itu berarti kesempatan Anda untuk melihat salah satu nilai jual dari Nepal terbuka lebar. Tapi, selain syarat mengudara di pagi, siang, atau sore hari, ada satu syarat lain yang harus Anda penuhi untuk melihat Pegunungan Himalaya ini.

Semisal pesawat Anda bertolak dari arah Timur, upayakan untuk duduk di sebelah kanan kabin, pun sebaliknya. Semisal pesawat Anda datang dari sebelah Barat, duduklah di sebelah kiri. Percayalah, pemandangan tersebut akan menjernihkan otak Anda sebelum menghadapi kekacauan sesungguhnya di bandara.

Antrean Baggage Claim
Setibanya di Tribhuvan International Airport, tentu Anda harus mengambil barang bawaan yang disimpan di kargo, bukan? Nah, ada baiknya Anda mempersiapkan diri terlebih dahulu sebelum berkutat dengan antrean di bagian baggage claim, karena usut punya usut, antrean di sini bisa memakan waktu hingga berjam-jam lho!

Belum lagi fasilitas pendukung bandara yang kurang terawat seperti banyaknya troli koper yang rusak, dan sistem keamanan bandara yang terkenal ribet. Duh!

Mobil Jemputan
Layaknya bandara-bandara lain yang ada di dunia, puluhan pengemudi taksi siap menyambut kedatangan Anda di Nepal. Beruntung bagi Anda yang sudah disediakan layanan antar-jemput dari pihak hotel yang Anda pesan. Namun jika tidak, Anda harus lebih cermat dalam memilih taksi.

Memang, harga yang ditawarkan untuk sampai ke pusat kota Kathmandu tidaklah terlalu mahal, berkisar antara 400 hingga 600 rupee (Rp58.000 hingga Rp87.000). Namun, jika Anda jeli, Anda akan menemukan Sajha Yatayat, layanan bus yang siap mengantarkan Anda menuju pusat kota hanya dengan harga 20 rupee atau yang setara dengan Rp8.500. Lumayan jauh kan selisihnya!

Baca Juga: Tips – Sebelum Masuk ke Kargo Pesawat, Pastikan Koper Anda Cukup Kuat

Bersiap Meninggalkan Kathmandu
Setelah menghabiskan waktu di Nepal, saatnya untuk pulang. Namun Anda akan kembali dihadapkan dengan semerawutnya Tribhuvan International Airport. Keberangkatan yang sering delay, dipadukan dengan fasilitas penunjang bandara yang tidak terawat nampaknya cukup untuk membuat Anda menarik napas dalam-dalam.

Sebut saja fasilitas toilet yang kurang terjaga – ada baiknya Anda membawa tissue dan hand sanitizer sendiri, hingga restoran yang ‘sangat banyak’ di dalam bandara itu sendiri. Untuk masalah perut, ada baiknya Anda membawa cemilan atau makanan sendiri sebelum bertolak dari Tribhuvan International Airport.






















Hari Ini, 169 Tahun Lalu, Kapal Udara Bertenaga Pertama di Dunia Sukses Terbang Perdana

Hari ini, 169 tahun yang lalu, bertepatan dengan 24 September 1852, kapal udara bertenaga pertama di dunia sukses terbang perdana.

Baca juga: Bukan Zeppelin, Kapal Udara Pertama di Dunia Adalah Star System Airship

Kapal udara non-rigid bermesin uap yang menggerakkan baling-baling tiga bilah ini berhasil terbang dari Paris ke Elancourt, barat Kota Paris, sejauh 27 km sekitar tiga jam perjalanan, langsung dipimpin oleh sang kreator sekaligus insinyur Perancis, Jules Henri Giffard.

Penerbangan perdana kapal udara bertenaga pertama di dunia tersebut bisa dibilang berjalan mulus. Namun, tidak terlalu mulus juga. Saat lepas landas dari arena pacuan kuda Paris, kapal udara berbentuk cerutu dengan panjang 44 meter ini awalnya berhasil terbang tanpa kendala.

Tetapi, dalam perjalanan, hembusan angin kencang membuat kapal udara Giffard berjalan lambat lantaran mesin uap berbobot 113 kilogram plus ketel 45 kilogram ini tak bisa memacu putaran rotor. Alhasil, selain lambat, penerbangan juga agak sedikit liar.

Kendati begitu, Jules Henri Giffard berhasil membuktikan bahwa dalam kondisi normal, penerbangan terkendali pada kapal udara bisa terwujud.

Buktinya, sekalipun tak begitu mulus, penerbangan perdana kapal udara bertenaga pertama, 51 tahun lebih cepat dibanding penerbangan pesawat bermesin pertama oleh Wirght bersaudara, berhasil mendarat mendarat dengan selamat di Elancourt, Perancis.

Usai era penerbangan kapal udara bertenaga pertama oleh Jules Henri Giffard dan hegemoni turunannya berakhir, itu kemudian dilanjutkan oleh Charles Renard dan Arthur C. Krebs, inovator dan perwira militer di Korps Insinyur Angkatan Darat Perancis, membuat kapal udara memanjang bernama La France.

La France ini memang lebih panjang dibanding kapal udara bertenaga pertama buatan Jules Henri Giffard, 50,3 meter. Bila Giffard mengandalkan mesin uap, duo Perancis penerusnya ini lebih mengandalkan motor listrik bertenaga sebagai penggerak baling-baling kayu berdiameter tujuh meter dengan empat bilah.

Tak hanya itu, kapal udara ini juga memiliki sejumlah fitur kontrol, seperti rudder and elevator, ballonnets, a sliding weight untuk mengimbangi setiap pergeseran di pusat gravitasi, dan heavy guide rope untuk membantu pendaratan.

Penerbangan perdana kapal udara La France sukses dihelat pada 9 Agustus 1884. Kapal udara yang diterbangkan oleh Renard dan Krebs ini berhasil menempuh jarak sejauh delapan kilometer selama 23 menit.

Baca juga: Hari Ini, 91 Tahun Lalu, Kapal Udara R101 Buatan Inggris Pesaing Zeppelin Terbang Perdana

Dikutip Space.com, selama tahun 1884 dan 1885, La France tercatat melakukan tujuh penerbangan. Meskipun baterai membatasi jangkauan terbangnya, kapal udara itu menunjukkan bahwa penerbangan terkontrol dimungkinkan jika memiliki motor ringan yang cukup kuat.

Sebagaimana ruh dari sebuah penelitian atau inovasi yang biasanya terinspirasi atau meneruskan inovasi atau penelitian sebelumnya, inovasi Renard dan Krebs lewat kapal udara La France tersebut kemudian menginspirasi inovator lain menciptakan kapal udara lainnya yang lebih kuat dan canggih, sampai akhirnya era pesawat lahir lewat Wirght bersaudara.

NASA Restui Xeric Buat Jam Tangan Special Edition Terbuat dari Meteorit dan Komponen Apollo 15

Sekali lagi, NASA menyetujui pembuatan jam tangan edisi terbatas bertema Apollo 15 oleh Xeric. Perusahaan asal California, Amerika Serikat (AS) ini sebelumnya sukses mendapat restu NASA membuat jam tangan limited edition bertema Apollo 11 dan laris manis di pasaran.

Baca juga: Dear Goweser, Jajal Nih Ban ‘Mati’ Canggih Anti Bocor dan Sekuat Baja Buatan NASA

Meski tak seindah dan fiturnya tak selengkap jam tangan digital, tetapi, jam tangan analog yang dibuat Xeric dengan menggandeng NASA, memang sangat ditunggu berbagai kalangan, dari mulai fasinoista sampai penggila Badan Antarika Nasional AS itu sendiri.

Di tahun 2019 silam, perusahaan tersebut merilis jam tangan spesial memperingati 50 tahun pendaratan Apollo 11 di bulan 1969 sekaligus memperingati 50 tahun perusahaan berdiri dan bergelut di bidang produksi jam tangan berkelas.

Ketika itu, proyek yang juga manggandeng Kickstarter, platform crowdfunding terbesar di dunia, tersebut berhasil laku keras di pasaran dan berhasil menjadi campaign jam tangan paling sukses sepanjang situs sejenis kitabisa.com itu ada.

Penasaran mengulangi sukses di tahun 2019, Xeric belakang hadir merilis jam tangan bertema luar angkasa (NASA) lainnya melalui juga melalui platform Kickstarter, yaitu mengenang penggunaan wahana rover pertama NASA ke bulan pada tahun 1971.

Berbeda dengan jam tangan bertema Apollo 11 NASA, jam tangan Apollo 15 ini ditawarkan dengan dua versi putaran jam. Satu jam tangan disebut sebagai American Moonphase Model yang dilengkapi dengan baterai.

Sedangkan versi satunya American Automatic Model yang menggunakan baterai, didukung oleh apa yang disebut self-winding mechanism yang memungkinkan jam tangan tetap berputar hingga 40 jam setelah jam tangan dilepas saat tidur di malam hari.

Baik American Moonphase Model maupun American Automatic Model, keduanya mengusung Super-LumiNova Planetary sebagai penunjuk jam dan menit serta bintang sebagai detik.

Sementara itu, dilihat dari jeninsnya, cukup banyak sekali. Ada yang berupa materi gelap di langit, ban rover yang dibawa Apollo 15, ribbed space glove straps, emblem misi Apollo 15, space window hour grille untuk wanita dan laki-laki, lunar module, lunar rover, quasar, interstellar, helix nebula, deep space purple, cosmic nebula, black hole, blue supernova, brown cosmos, red dwarf, blue moon, meteorite, black hole meteorite, sampai moon dust meteorite.

Semua itu jenis atau desain itu tersedia dalam dua versi atau model; American Automatic Model dan American Moonphase Model.

Kemudian, dari semua jenis di atas, bagian casing belakangnya tersedia dalam dua model; satu berwarna silver atau mirip-mirip warna bulan dan lainnya berwarna emas kemerah-merahan. Keduanya memiliki tema yang sama, yaitu bertuliskan 50 Tahun Apollo 15 dan gambar lunar rover, dan terbuat dari komponen Apollo 15.

Jam tangan Xeric edisi terbatas bertema luar angkasa juga terbuat dari meteorite yang dibawa pulang rover dan wahana Apollo 15 ke bumi. Tetapi, tidak semua model mengandung meteorit melainkan hanya tiga saja; blue moon, meteorite, black hole meteorite, sampai moon dust meteorite.

Baca juga: Pilah Pilih Jam Tangan Pilot, Pertimbangkan Hal ini Sebelum Membeli

Melengkapi berbagai keistimewaan di atas, kaca jam tangan ini disebut anti pantulan cahaya dan di malam hari temanya sangat erat dengan nuansa luar angkasa.

Bagi yang berminat, jam tangan Xeric bertema Apollo 15 NASA ini masih indent sampai sekitar pertengahan 2022. Sedangkan harganya rata-rata dibanderol paling mahal mencapai Rp13 juta lebih atau US$950.

 

Thailand Siapkan Stasiun Nong Khai untuk Jaringan Kereta Menuju Laos-Cina

Daerah Nong Khai yang merupakan provinsi paling utara di Thailand telah dipersiapkan oleh Departemen Transportasi Kereta Api untuk koneksi kereta api dengan Laos. Di mana Thailand tengah bersiap untuk lebih banyak membuka perdangangan dengan Cina di sepanjang jalur yang menghubungkan ketiga negara itu.

Baca juga: Thailand Canangkan Kereta Peluru Trans-ASEAN, Hubungkan Cina, Laos, Malaysia dan Singapura

Untuk itu sebuah situs 80-rai di Stasiun Nong Khai akan dikembangkan sebagai depo untuk menangani perdagangan internasional. Direktur Jenderal Departemen Kereta Api, Kittiphan Panchan mengatakan, sebuah halaman transshipment juga akan dibangun untuk menangani barang-barang yang dibawa dengan kereta api Thailand maupun Cina.

KabarPenumpang.com melansir bangkokpost.com (17/9/2021), negara ini juga merencanakan jembatan baru di atas Sungai Mekong untuk kereta api, sekitar 30 meter dari Jembatan Persahabatan Thailand-Laos saat ini. Sebab, jembatan yang berada di antara Stasiun Nong Khai dengan Thanaleng di Laos harus berbagi dengan kendaraan bermotor yang melintas keduanya.

Departemen ini tidak memberikan tenggat waktu untuk proyek-proyek tersebut, tetapi ada urgensi baru karena jalur kereta api Laos-Cina sepanjang 471 kilometer hampir selesai. Kereta pertama dari Cina ke Vientiane dijadwalkan tiba pada 2 Desember untuk merayakan Hari Nasional Laos.

Hal ini karena bagian trek akan diperpanjang dari Vientiane ke perbatasan Thailand. Kereta api Laos-Cina adalah bagian dari jaringan Trans Asia di bawah Belt dan Road Initiative yang dipelopori Cina untuk menghubungkan sistem kereta apinya dengan Asia Tenggara.

Alasan itulah yang membuat pihak berwenang Thailand membayangkan jalur yang ditingkatkan untuk memindahkan barang antara Cina dan pelabuhan laut dalam Laem Chabang di Pesisir Timur. Tetapi sayangnya, pekerjaan di Thailand terlambat bertahun-tahun dari jadwal.

Thailand sekarang berharap dapat terhubung dengan Laos dan Cina pada tahun 2028 ketika jalur kereta cepat pertama dari Bangkok ke Nong Khai selesai. Bagian pertama dari jalur berkecepatan tinggi sedang dibangun dari Bangkok ke Nakhon Ratchasima, dan dapat beroperasi pada tahun 2026.

Kereta berkecepatan tinggi di Thailand akan dapat berlari dengan kecepatan maksimum 250 km per jam, sedangkan kereta api di Laos akan mencapai kecepatan 160 km per jam. Pemerintah mengharapkan koneksi kereta api untuk mempromosikan lebih banyak perdagangan dan pariwisata antara Thailand dan Cina.

Baca juga: Desember 2021, Laos dan Cina Akan Terhubung dengan Jalur Kereta Api

Kereta cepat akan memungkinkan produk Thailand mencapai Cina selatan dalam waktu tidak lebih dari satu setengah hari, dibandingkan dengan dua atau tiga hari di darat dan hingga seminggu di laut.