Pelancong Pengguna iPhone Tak Perlu Bawa ID di Beberapa Negara Bagian AS

Perjalanan tanpa harus membawa identitas bisa saja terjadi dan ini memudahkan agar tidak hilang sewaktu bepergian. Tapi itu hanya berlaku bagi pengguna iPhone di beberapa negara alias belum di seluruh dunia. Sehingga pelancong tidak serta merta meninggalkan identitas mereka sepenuhnya di rumah.

Baca juga: Paspor Perjalanan Digital, Cara Pastikan Data Penumpang Tetap Aman

KabarPenumpang.com melansir dari laman wrcbtv.com (1/9/2021), Apple mendaftarkan delapan negara bagian dalam sebuah program yang memungkinkan orang agar menikmati perjalan mulus dan aman dengan menambahkan SIM atau kartu identitas negara bagian mereka ke Apple Wallet untuk ditunjukkan di pos pemeriksaan bandara. Dalam program ini, Apple memasukkan Arizona dan Georgia sebagai negara pertama.

Kemudian Connecticut, Iowa, Kentucky, Maryland, Oklahoma dan Utah akan segera menyusul. Apple mengatakan, inisiatif ini adalah cara yang mudah, cepat dan lebih aman bagi pelancong yang menunjukkan kartu identitas mereka di iPhone atau Apple Watch pada petugas Administrasi Keamanan Transportasi.

Apple tidak mengatakan kapan program TSA yang pertama kali diumumkan Juni lalu diluncurkan secara resmi di negara-negara bagian tersebut. Untuk memastikan itu resmi, pengguna harus mengambil selfie setelah mengunggah gambar SIM atau KTP mereka.

Mereka juga akan diminta untuk menyelesaikan gerakan wajah dan kepala, mirip dengan cara ID Wajah diaktifkan. Unggahan akan “diberikan dengan aman” ke negara bagian untuk verifikasi. Setelah diaktifkan dan disetujui, pengguna dapat mengetuk iPhone atau Apple Watch mereka di pembaca identitas di pos pemeriksaan keamanan dan agen akan melihat informasi yang diperlukan untuk terbang.

Cara kerjanya mirip dengan cara orang menggunakan Wallet untuk melakukan pembelian di pembaca kartu. Meski begitu pelancong diharapkan tidak meninggalkan kartu identitas mereka. Ini karena bila Anda memerlukan untuk terbang ke negara bagian lainnya yang belum masuk dalam program Apple.

Untuk keamanan, Apple mengatakan informasi pada ID “dienkripsi dan dilindungi dari gangguan dan pencurian.” Otentikasi biometrik juga digunakan untuk memastikan orang yang tepat menggunakan ponsel atau jam tangan. Masalah privasi dan keamanan telah mengganggu Apple baru-baru ini.

Baca juga: Vision-Box Hadirkan Teknologi Identitas Digital dengan Biometrik Canggih di Bandara

Perusahaan memicu protes bulan lalu ketika meluncurkan alat iOS baru yang memindai perangkatpengguna untuk gambar pelecehan anak. Kritikus mengatakan teknologi tersebut dapat digunakan di luar tujuan yang dinyatakan, misalnya dieksploitasi oleh penegak hukum atau entitas pemerintah.

Seberapa Jauh Pesawat Modern Terbang dengan Satu Mesin? Simak Jawabannya

Bisakah pesawat penumpang ataupun kargo terbang dengan satu mesin? Pertanyaan itu mungkin tak mudah dijawab, tetapi tidak pula terlalu sulit sehingga tidak dijawab. Pastinya, menurut tulisan di flightdeckfriend.com, pesawat twinjet atau dua mesin bisa terbang dengan hanya satu mesin.

Baca juga: Bisakah Airbus A380 Terbang dengan Satu Mesin? Ini Jawabannya

Jangankan satu mesin, seluruh mesin dalam keadaan mati saja pesawat masih bisa terbang di udara. Masalahnya adalah, seberapa jauh pesawat bisa terbang dengan satu mesin?

Dalam artikel sebelumnya, redaksi KabarPenumpang.com sudah pernah membahas pesawat bisa terbang atau tidak dengan satu mesin. Tetapi, dalam artikel itu contoh kasusnya terjadi pada pesawat komersial terbesar di dunia, Airbus A380, yang notabene mempunyai empat mesin.

Meski begitu, esensinya tetap sama. Pesawat twin engine tetap bisa mengudara selama beberapa menit. Perkara ini juga bukan hal tabu dan sudah menjadi sebuah keharusan dalam proses sertifikasi Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS) untuk mengukur seberapa jauh pesawat twinjet terbang dengan satu mesin.

Sertifikasi ETOPS ini wajib dilewati pesawat sebelum mulai beroperasi dan terbang membawa penumpang.

Baca juga: Seberapa Jauh Pesawat Bisa Terbang Saat Mesin Rusak-Kehabisan Bahan Bakar di Udara?

Pada Februari tahun 2019, Airbus A330-900 berhasil meraih sertifikasi ETOPS 285min dari European Aviation Safety Agency (EASA).

Sertifikasi ETOPS 285min dari EASA menandakan bahwa armada A330-900 sanggup mengudara selama empat jam 45 menit (285 menit) hanya dengan menggunakan satu mesin saja. Ini merupakan skema tanggap darurat semisal A330-900 mengalami kerusakan mesin.

ETOPS sendiri memiliki beberapa kelas, mulai dari ETOPS 75, 90, 120/138, 180/207, hingga 370. Angka yang tertera di akhir merupakan durasi yang diizinkan untuk pesawat mengudara hanya dengan satu mesin.

Kemampuan pesawat terbang dengan satu mesin juga linier dengan prosedur keselamatan dan keamanan penerbangan.

Baca juga: Berapa Banyak Bahan Bakar yang Dibutuhkan Pesawat untuk Sekali Terbang?

Seperti yang sudah redaksi tulis sebelumnya, sebelum memulai penerbangan, pilot dan kopilot biasanya akan bertemu untuk membahas berbagai hal, seperti rute yang dilalui, bahan bakar minimum (bergantung pada jumlah awak, penumpang, kargo, cuaca, dan kemungkinan rintangan selama penerbangan).

Selain itu, pilot dan kopilot juga membahas informasi cuaca, dan informasi bandara tujuan serta bandara yang dilalui sepanjang perjalanan. Semua ini menjadi kewajiban pilot sebelum memulai penerbangan dan memegang peran vital terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan.

Terkait bandara yang dilalui sepanjang perjalanan ke bandara tujuan, ini penting, mengingat andai terjadi kesalahan mekanis maupun teknis, pesawat bisa mendarat darurat di sana. Selain itu, setiap pesawat juga diwajibkan untuk terbang berjarak satu jam dengan bandara terdekat, sebagai langkah antisipatif bilamana terjadi kerusakan pada mesin maupun pesawat secara keseluruhan.

Baca juga: Terbang 4 Jam 45 Menit Hanya dengan Satu Mesin, Airbus A330-900 Raih Sertifikasi ETOPS

Dengan begitu, andai pesawat twinjet mengalami kerusakan di salah satu mesinnya, pesawat tetap bisa mendarat darurat di bandara terdekat yang hanya berjarak 60 menit, masih di bawah kemampuan pesawat modern yang minimal bisa terbang 75 menit dengan satu mesin.

Lebih buruk dari itupun, dimana kedua mesin pesawat twinjet mati atau rusak saat di ketinggian, pesawat tetap bisa terbang sejauh sekitar 112 kilometer sebelum sampai ke permukaan tanah dengan asumsi pesawat terbang di ketinggian 36 ribu kaki atau sekitar 10 kilometer.

 

Taksi Udara EHang 216 Tiba di Jakarta, Taksi Udara Seaplane Hong Kong Nyusul?

Taksi udara (drone) EHang 216 sukses mendarat di Jakarta. Taksi udara atau taksi terbang pertama di dunia ini didatangkan oleh Prestige Image Motorcars. Tak hanya EHang 216, taksi terbang lainnya juga berencana masuk ke Indonesia. Mereka adalah taksi terbang Seaplane, start up asal Hong Kong.

Baca juga: Pertama di Dunia, Taksi Udara EHang 216 Mulai Layani Kargo Udara

Usai tiba di Jakarta, belum jelas apakah taksi udara atau taksi terbang EHang 216 ini akan segera mengudara dan melayani penumpang atau tidak. Tetapi, biasanya, sebelum mulai beroperasi secara komersial, terlebih dahulu taksi terbang EHang 216 ini akan menjalani penerbangan perdana dan sertifikasi dari Kemenhub.

Sejauh ini, Prestige Image Motorcars belum berbicara banyak kapan taksi terbang EHang 216 akan benar-benar mengudara dan menjadi angkutan mobilitas udara perkotaan (UAM) di Jakarta.

Sebelum tiba dan nantinya beroperasi di Jakarta, EHang 216 sudah lebih dahulu beroperasi di beberapa kota di Cina, negeri asal pembuat taksi terbang tersebut.

Pada akhir Mei tahun lalu, EHang 216 muncul Taizhou, Provinsi Zhejiang Cina, untuk menjalani uji coba logistik udara untuk pertama kalinya di dunia, mengangkut kargo dengan muatan sedang hingga berat serta jarak dan medan yang beravariasi, antara permukaan tanah dan lokasi di puncak bukit, serta antara pantai dan pulau.

Baca juga: Taksi Drone Otonom EHang 216 Bakal Manjakan Pengunjung Kota Wisata Terpopuler di Guangdong

Sampai di sini, belum ada yang mengoperasikan taksi terbang EHang 216 sebagai UAM dan baru berupa layanan kargo drone saja.

Barulah pada bulan Juli di tahun yang sama, taksi udara EHang 216 menggebrak jagat persaingan passenger drone atau taksi udara otonom penumpang. Taksi terbang EHang 216 sukses mengujicoba ketangguhan taksi udara otonom atau tanpa pilot pertama di dunia buatan Cina ini dengan melibatkan empat orang penumpang.

Ketika itu, taksi udara EHang 216 membawa satu per satu penumpang keliling Kota Yantai, pesisir Cina Timur, menyusuliri langit Fisherman’s Wharf, dan kembali lagi ke daratan.

Keberhasilan uji coba dengan melibatkan penumpang ini tentu semakin mengukuhkan posisi EHang sebagai produsen taksi udara paling menjanjikan di dunia dan paling siap untuk penggunaan di masa depan sebagai drone penumpang perusahaan-perusahaan.

Baca juga: Taksi Drone EHang Masuki Tahun Layanan Pertama dengan Konsep Passenger Drone Hotel

Pada awal tahun ini, taksi udara EHang 216 juga muncul Kota Yeuhu, Zhaoqing, sebuah kota tujuan wisata paling populer di Guangdong.

Taksi udara otonom EHang 216 juga bakal menghibur masyarakat yang berkunjung dengan atraksi aerial media show, sejenis atraksi akrobatik nan menawan dari deretan drone EHang, seperti membentuk sebuah kata, benda, bendera, bangunan, dan berbagai bentuk lainnya, seperti video di bawah ini.

Taksi drone otonom EHang 216, sejak awal kemunculannya, memang begitu menarik perhatian publik. Drone tersebut dinilai lebih efektif dan efisien dibanding helikopter, sekalipun EHang 216 memiliki rotor yang lebih banyak, yakni 16.

Taksi drone otonom EHang 216 beroperasi secara otonom atau otomatis tanpa pilot. Taksi terbang ini mampu memuat dua penumpang dengan muatan maksimum 220kg dan terbang selama 21 menit sejauh 35 km di kecepatan mencapai 130 km per jam serta ketinggian terbang maksimum mencapai 3.000 meter.

Baca juga: Keren, Taksi Drone Otonom EHang 216 Sukses Ajak Penumpang Terbang Keliling Langit Cina

Taksi terbang EHang 216 ini dapat diisi hingga 220v atau 380v dalam 1,5 jam waktu pengisian. Perangkat pengisi daya terhubung secara real time ke sistem manajemen baterai pesawat.

Selain taksi terbang EHang 216, taksi terbang Seaplane Hong Kong juga berencana ekspansi ke Indonesia, Vietnam, dan Filipina, setelah sukses melayani penerbangan charter serta joyflight (tamasya udara di beberapa kota di Hong Kong serta Greater Bay Area (wilayah teluk meliputi Guangdong-Hong Kong-Makau).

Sebelum Pandemi Lima Maskapai ini Punya Chef Onboard, Salah Satunya dari Indonesia

Pada umumnya, seluruh sajian makanan dalam penerbangan maskapai global dibuat di darat. Tetapi, agar lebih terkesan mewah dan berbeda, beberapa maskapai menghadirkan chef onboard atau koki dalam penerbangan.

Baca juga: Era 40 dan 50-an, Jadi Masa Keemasan Sajian Makanan di Kabin Pesawat

Dari ratusan bahkan mungkin ribuan maskapai penerbangan di dunia, setidaknya ada lima maskapai yang sebelum pandemi menyediakan layanan chef onboard. Tetapi, apakah mereka benar-benar memasak layaknya koki di darat?

Agar lebih jelas, seperti dikutip dari One Mile At a Time, berikut daftar lima maskapai yang sediakan layanan chef onboard, sekaligus menjawab apakah in-flight chef memasak di pesawat atau tidak.

1. Austrian Airlines

Maskapai nasional Austria ini disebut menyediakan inflight chef di setiap penerbangan, khususnya rute-rute gemuk. Tetapi, tidak semua penumpang bisa menikmati sajian dari chef ini, melainkan hanya penumpang first class saja.

2. Etihad Airways

Maskapai nasional Uni Emrirat Arab yang berbasis di Abu Dhabi ini terkenal dengan layanan first classnya. Etihad Airways juga menambah kesan premium penumpang first class dengan menghadirkan langsung chef onboard.

Baca juga: Meski Dianggap Tak Sehat, Tapi Inilah 5 Maskapai yang Punya Makanan Terbaik di Seluruh Dunia

Meski begitu, dalam video promosinya, inflight chef Etihad Airways tidak betul-betul memasak di pesawat dengan api besar, asap, dan lain sebagainya. Tetapi, koki tersebut memasaknya di darat dan menatanya di piring, menjadikannya jauh lebih mewah dibanding penumpang kelas ekonomi yang hanya mendapat sajian katering maskapai.

3. Turkish Airlines

Maskapai nasional Turki ini juga tak ketinggalan menghadirkan flying chef dalam penerbangan. Dalam video yang diunggah Just Planes, tak cukup satu, Turkish Airlines menghadirkan langsung dua koki sekaligus untuk melayani penumpang first class mereka. Dalam video tersebut, penerbangan menggunakan Boeing 777. Di penerbangan lain mungkin kondisinya bisa berbeda.

Sama halnya dengan koki di Etihad Airways dan koki dalam penerbangan lainnya, mereka tidak memasak di pesawat, melainkan hanya menatanya saja agar terlihat mewah.

4. Garuda Indonesia

Maskapai nasional Indonesia menjadi salah satu maskapai yang menyediakan chef onboard. Dalam video resmi maskapai, setidaknya ada tiga koki yang melayani penumpang first class. Tetapi, besar kemungkinan ketiganya tidak bekerja di satu penerbangan yang sama.

Baca juga: Inilah 11 Perbedaan Maskapai Penerbangan Era 70-an dengan Sekarang

Berbeda dengan tiga maskapai sebelumnya, chef onboard Garuda Indonesia memasak di pesawat dalam penerbangan. Namun tidak benar-benar memasak menu yang rumit dengan api besar, melainkan hanya memasak telur di oven.

Sisanya, sama saja. Makanan yang sudah di masak di darat dihangatkan, dicampur, diaduk, dan ditata di piring untuk disajikan ke penumpang first class atau mungkin juga business class.

5. SAS Airlines

Scandinavian Airlines System atau disebut juga SAS Airlines juga menyediakan layanan chef dalam penerbangan. Tetapi, sayangnya tak ada official video yang menampilkan langsung hal itu.

Baca juga: Begini Proses ‘Memasak’ Makanan di Pesawat Sampai Dihidangkan ke Penumpang

Sebagai catatan, maskapai lain memang tidak menghadirkan koki onboard. Tetapi, biasanya mereka telah melatih pramugari untuk menjadi koki dalam penerbangan. Pramugari yang ditugaskan menjadi koki juga hanya bekerja di dapur dan menyiapkan makanan untuk penumpang, sama sekali tidak ke kabin.

Selain itu, maskapai besar dan terkenal dengan investasi besar serta mewah di penerbangan seperti Qatar Airways dan Emirates, memang tidak memiliki chef onboard. Tetapi, mereka memiliki katering dan meja makan di pesawat -untuk penumpang first class- yang mengesankan.

Etihad Rail Buka Terowongan Kereta Terpanjang di Uni Emirat Arab

Etihad Rail membuka jalur dari Dubai ke Fujairah di Uni Emirat Arab dengan menggali terowongan sepanjang 1,8 km yang belum lama ini telah selesai. Hal tersebut dikatakan oleh China Civil Engineering Constraction Coporation selaku pihak pelaksana proyek.

Baca juga: Kontraktor Cina Rampungkan Pembangunan Terowongan Kereta Terpanjang di Afrika Timur

China Civil Engineering menyelesaikan pekerjaan pembuatan terowongan di jalur T1 sepanjang 1,8 km di Pegunungan Hajar untuk seksi D tahap 2 proyek itu. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman thenationalnews.com (25/7/2021), untuk menggali terowongan itu harus diledakkan dan menggunakan daya ledak lebih lembut karena medannya cukup riskan.

Untuk diketahui, pada Desember 2019 lalu, Etihad Rail memberikan kontrak Dh4,6 miliar kepada perusahaan patungan Cina untuk mengerjakan 145 km jalur di sepanjang perbatasan Sharjah, Fujairah dan Dubai. Ini kemudian mencakup pembangunan 15 terowongan melalui Pegunungan Hajar dengan total panjang 16 km yang mencakup pembangunan 35 jembatan dan 32 underpass.

Dalam pembangunan itu, rel milik Etihad dibangun dalam tiga fase. Dimana fase pertama dibangun tahun 2009 dengan jalur yang membentang 264 km antara Al Ruwais dan ladang gas Shah dan Habshan. Setiap harinya ada dua kereta yang melintas di seluruh negeri dan mampu mengangkut hingga 22 ton belerang dan setiap kereta bisa menarik hingga 110 gerbong. Ketika ini semua selesai, maka jaringan kereta api akan menghubungkan populasi utama dan pusat industri di Uni Emirat Arab.

Bahkan ini bisa menjadi bagian penting dari jaringan yang direncanakan di seluruh wilayah. Pada tahap kedua proyek itu, ada lebih dari 600 km jalur yang akan dibangun dari Ghuweifat di perbatasan Arab Saudi hingga Fujairah di pantai timur.

Baca juga: Seikan, Terowongan Kereta Terpanjang dan Terdalam di Dunia

Kontrak untuk proyek tahap dua diberikan dalam bentuk paket A, B, C dan D kepada SK Engineering and Construction, sebuah perusahaan Korea Selatan, dan China State Construction Engineering Corporation, untuk teknik sipil, pekerjaan lintasan, perancangan dan pembangunan proyek. Tracklaying untuk dua paket Tahap 2 dari proyek Etihad Rail sedang berlangsung.






















Inilah Alasan Ada Toilet Melingkar di Kabin Pesawat Lockheed L-1011 TriStar

Lockheed L-1011 TriStar di zamannya terkenal sangat canggih dari berbagai sisi. Di bagian kabin pun, pesawat wide body ini juga mendapat banyak inovasi menarik, seperti lorong lega, dilengapi lift, jendela anti silau, kilau di langit-langit pesawat, sampai toilet melingkar di bagian belakang.

Baca juga: Inilah Lockheed L-1011 TriStar, Pesawat yang Tak Laku Karena Terlalu Canggih

Terkait toilet, desainnya yang melingkar amat jarang ditemui. Tetapi, mengapa Lockheed tergerak untuk membuat gebrakan toilet melingkar seperti itu?

Nyaris 50 tahun sudah pesawat Lockheed L-1011 TriStar masuk ke layanan komersial bersama Eastern Airlines, April 1972. Meski bukanlah pesawat trijet pertama, tetapi pesawat tersebut merupakan pesawat trijet tercanggih di zamannya.

Namun sayang, terlalu canggih justru membuatnya tak laku bahkan membuat Lockheed nyaris bangkrut, karena biaya pengembangan tak sebanding dengan pendapatan, sebelum akhirnya diselamatkan pemerintah Amerika Serikat (AS).

Pengembangan Lockheed L-1011 TriStar tak terlepas dari peran American Airlines. Ketika itu, pada dekade akhir 60-an, maskapai membutuhkan pesawat yang mampu membawa penumpang melintasi Atlantik dan Amerika Selatan dengan cepat, aman, dan nyaman.

American Airlines kemudian berbicara ke Boeing, Douglas, dan Lockheed. Boeing saat itu sedang sibuk dalam pengembangan pesawat 737 dan 747. Douglas saat itu baru menikmati keberhasilan pengembangan DC-10 yang berbasis DC-8.

Toilet melingkar di pesawat Lockheed L-1011 TriStar. Foto: Facebook Airline Secrets Exposed

Tinggallah Lockheed yang pada akhirnya menyetujui proposal tersebut hingga akhirnya lahirlah Lockheed L-1011 TriStar. Tentu juga didasari kebutuhan dari maskapai lain.

Lockheed L-1011 TriStar pertama kali terbang perdana pada 16 November 1970. Pesawat dengan kecepatan maksimal mencapai 973 km per jam dan jarak tempuh sejauh 7.410 km ini bisa mengangkut lebih banyak penumpang, sekitar 400 penumpang (20 lebih banyak dari DC-10), namun jauh lebih efisien dari pesaing utamanya itu. Hal itu berkat fitur S-duct yang menyuplai udara lebih banyak ke mesin Rolls-Royce RB211.

Kecanggihan pesawat juga dipuji setinggi langit oleh maskapai penggunanya. Eastern Airlines menyebut Lockheed L-1011 TriStar dijuluki sebagai Whisperliner berkat kemampuan lepas landas yang tenang dan sedikitnya kebisingan di kabin penumpang. Trans World Airlines memuji pesawat sebagai salah satu yang teraman di dunia.

Selain itu, beberapa pesawat seperti Delta Airlines juga dengan bangga mengumumkan kehadiran toilet melengkung di pesawat.

Dari postingan Facebook Airline Secrets Exposed, seperti dikutip dari Simple Flying, jelas terlihat lima toilet pesawat ini berbaris melengkung seperti membentuk setengah lingkaran yang tak sempurna. Toilet ini berada tepat di bawah intake ke mesin nomor dua pesawat. Karenanya, sudah pasti, di sini sangat bising.

Baca juga: Kisah Lockheed L-1049 Super Constellation, Pesawat Pembuka Jalan Penerbangan Nyaman

Alasan Lockheed membentuk toilet melingkar sendiri tidak diungkap secara jelas. Tetapi, disebutkan, besar kemungkinan itu untuk memaksimalkan ruang. Terbukti, dari biasanya toilet pesawat lain hanya berjumlah empat, pesawat ini menyediakan lima toilet sekaligus.

Meski unik, ternyata, toilet melingkar Lockheed L-1011 TriStar bukan yang pertama. Sebelumnya, DC-8 juga sudah mengadopsi toilet melingkar yang oleh karyawan Lockheed dijuluki Cannery Row tersebut.

Magenta Drone 5G Rekam Gambar dengan Kualitas HD untuk Pertandingan Olahraga

Belakangan ini, penggunaan drone untuk merekam sebuah acara olahraga atau hal lainnya terus meningkat. Namun rekaman video masih terlihat kasar dan glitchy dari kamera onboard drone sehingga masih menyisakan sesuatu yang diinginkan salah satunya gambar yang lebih baik.

Baca juga: Pastikan Keamanan Penumpang, Drone 5G Patroli di Jalur Kereta Cepat Beijing-Shanghai

Nah, untuk mengatasi masalah itu, T-Mobile dan The Drone Racing League (DRL) menghadirkan sebuah drone 5G baru dan memiliki warna mencolok yakni magenta. KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (10/8/2021), Magenta Drone ini merupakan quadcopter kompak yang menghasilkan daya dorong lebih dari 2,4 kg.

Bahkan, memiliki waktu penerbangan lima menit per pengisian baterai lithium-polimernya, yang dilaporkan cukup untuk terbang melalui jalur sepanjang satu mil dengan kecepatan lebih dari 60 mph (96,5 km per jam). Quadcopter ini dilengkapi modul 5G serta kamera FPV dan HD.

Sehingga video real time dari yang terakhir terekam akan disalurkan ke penyiar melalui jaringan nirkabel 5G T-Mobile, untuk dimasukkan dalam liputan langsung balapan drone selama musim DRL 2021-2022. Selain itu, drone Magenta 5G juga bisa digunakan untuk olahraga lainnya.

Penerbangan publik pertama drone ini berlangsung pada 12 Agustus 2021 di kota Dyersville, Iowa, Amerika Serikat. Dalam penerbangan perdana tersebut digunakan dalam liputan televisi dari pertandingan bisbol liga utama “MLB at Field of Dreams” yang disponsori T-Mobile.

Alih-alih memotret gameplay yang sebenarnya, drone malah akan memberi pemirsa pandangan langsung dari ladang jagung di sekitarnya, terbang ke rumah dan lapangan bola yang digunakan dalam film Field of Dreams, lalu akhirnya tiba di lapangan bola MLB yang sebenarnya. Setelah teknologi drone Magenta dikembangkan lebih lanjut, itu juga dapat digunakan untuk menyediakan video FPV berkualitas lebih baik kepada pilot balap drone.

Baca juga: Inggris Mulai Uji Coba Drone Kargo ke Kepulauan Terpencil, Indonesia Kapan?

Saat ini, untuk menjaga latensi seminimal mungkin, pilot menerbangkan drone mereka menggunakan video berkualitas rendah yang ditransmisikan ke kacamata mereka melalui sinyal radio analog. Dalam berita terkait, produsen drone Prancis Parrot baru-baru ini mengumumkan quadcopter ANAFI Ai, yang secara otomatis beralih ke data seluler 4G ketika koneksi Wi-Fi terganggu.

Jadi Ikon Evakuasi Warga di Afghanistan, Boeing C-17 Globemaster Dijuluki ‘Rusa Besar’! Ini Alasannya

Selama kudeta Taliban di Afghanistan, setidaknya ada dua sejarah besar terjadi. Pertama, saat pesawat angkut militer Amerika Serikat (AS), Boeing C-17 Globemaster, membawa 800 penumpang sekaligus dalam satu penerbangan. Biasanya, pesawat hanya memuat 102 pasukan payung atau 150 pasukan reguler dengan konfigurasi palet dan sidewall seats atau kursi samping menempel di dinding pesawat.

Baca juga: Inilah Mayjen Chris Donahue, Tentara AS Terakhir yang Tinggalkan Bandara Kabul Afghanistan

Adapun sejarah kedua, terjadi saat rombongan tentara AS terakhir di Bandara Kabul Afghanistan yang menumpangi pesawat Boeing C-17 Globemaster meninggalkan negara tersebut. Dari kedua sejarah tersebut, tak berlebihan bila pesawat angkut militer itu adalah aktor utamanya.

Pesawat itu juga diketahui dikerahkan oleh militer negara lain untuk mengevakuasi warga negaranya. Jadi, betul-betul sering dijumpai di Bandara Kabul selama proses evakuasi, khususnya oleh tentara AS.

Terkait pesawat Boeing C-17 Globemaster, selain peran krusialnya mengevakuasi warga dari Bandara Kabul Afghanistan, pesawat ini ternyata punya sebutan yang cukup unik, yaitu Rusa Besar atau Moose, yang juga kebetulan mempunyai bentuk tanduk unik.

Dikutip dari taskandpurpose.com, setiap pesawat angkatan udara sebuah negara memiliki sebutan atau panggilan yang unik. Pesawat serang A-10 Thunderbolt II, misalnya, disebut sebagai Warthog karena penampilannya yang aneh dan garang.

Jet tempur F-16 Fighting Falcon disebut Viper karena menyerupai pesawat ruang angkasa eponymous di Battlestar Galactica, sebuah film sains fiksi di AS.

Terakhir, pesawat pengebom strategis jarak jauh B-52 Stratofortress disebut sebagai BUFF (big ugly fat Fokker) karena dinilai mirip dengan pesawat asal Belanda tersebut.

Dari ketiga sebutan pesawat di atas, pendekatan yang digunakan seluruhnya sama. Sama-sama berdasarkan persamaan fisik, berbeda dengan alasan mengapa Boeing C-17 Globemaster disebut Moose atau Rusa Besar.

Pesawat kargo berusia 30 tahun, yang mampu mengangkut penerjun payung sampai Tank Tempur M1 Abrams seberat 69 ton itu, disebut Moose (jenis rusa terbesar di dunia) karena suara mesinnya yang menyerupai suara rusa betina yang sedang kawin.

Sepintas, banyak orang yang mungkin menduga bahwa sebutan atau panggilan Moose terhadap Boeing C-17 Globemaster didasari oleh bentuknya yang besar, kuat, dan lambat. Mirip dengan rusa besar (kadang kala juga disebut sebagai sapi).

Menurut Departemen Lingkungan dan Sumber Daya Alam Wilayah Barat Laut Kanada, saat musim kawin, rusa besar betina biasanya mengeluarkan raungan seperti tangisan. Sementara rusa besar jantan merespon dengan suara keras seperti dengkuran yang bisa terdengar hingga setengah kilometer jauhnya.

Baca juga: Jepang Dihujat Gegara Pesawat C-130 Hercules Hanya Evakuasi Satu Orang, Ekspektasinya 500 Orang

Sebutan Moose terhadap Boeing C-17 Globemaster yang didasari oleh suara jenis rusa terbesar itu diamini oleh Darrell Lewis, sejarawan 437th Airlift Wing.

“Para pilot dengan tulus menjuluki C-17 sebagai ‘The Moose’ karena suaranya yang khas selama pengisian bahan bakar. Saat mengisi bahan bakar, ventilasi pelepas tekanan di pesawat mengeluarkan suara seperti saat moose meraung,” tambahnya.

India Rancang Bio Toilet Portabel untuk Polsuska Wanita

Seorang pria, untuk buang air kecil mungkin bisa di mana saja dan tak perlu sulit seperti wanita. Atas alasan tersebut Railway Protection Force (RPF) India – semacam Polisi Khusus KA (Polsuska) di PT KAI –  merancang bio toilet yang dapat dipindahkan serta bisa dirakit dan dibongkar dalam beberapa menit.

Baca juga: Stasiun Gandhinagar Jaipur, Gunakan Seluruhnya Petugas Wanita!

Ini dilakukan oleh Polsuska India demi memberikan privasi kepada petugas wanita selama program pelatihan di luar gedung kantor. KabarPenumpang.com melansir dari laman thehindu.com (8/8/2021), bio toilet yang dirakit ini menggunakan bahan daur ulang sehingga lebih hemat biaya dan mudah ditemukan untuk membuatnya.

“Kami menggunakan sisa-sisa rel kereta api untuk membuat toilet ini. Mereka seperti meja kecil dan bisa dibawa kemana-mana,” kata S. Louis Amuthan, wakil kepala petugas keamanan.

Amuthan menjelaskan, kebutuhan toilet portabel setelah perkeretaapian banyak merekrut perempuan untuk tenaga keamanan. “Ketika kami mengadakan kelas jarak jauh di kawasan hutan dan parade di luar, laki-laki mungkin bisa menyesuaikan. Tapi perjalanan seperti itu selalu menjadi masalah bagi wanita,” kata Amuthan yang mendesain toilet.

Polsuska India telah memanfaatkan toilet dan bahan lainnya dari gerbong tua untuk merancang toilet yang dapat dipindahkan. Pertama, mereka mencoba kayu untuk merakit unit sebelum beralih ke logam dan rexine karena kayu sangat berat. Kelebihan toilet ini adalah sehari setelah digunakan, airnya bisa dikuras untuk menyiram tanaman. Bakteri inokulum di ruang bio-toilet mengubah sampah menjadi bahan yang bermanfaat.

Baca juga: Manakah yang Bakal Jadi Solusi Toilet di Stasiun Kereta India: Bio-Toilet Atau Toilet Hibrida?

RPF telah merancang 18 toilet semacam itu dan mendistribusikan masing-masing dua ke divisi kereta. Ini bisa sangat berguna bagi para wanita di kepolisian reguler.






















Inilah Mayjen Chris Donahue, Tentara AS Terakhir yang Tinggalkan Bandara Kabul Afghanistan

Pentagon memastikan penerbangan terakhir telah berangkat pada Senin malam lalu sebelum berganti hari. Dengan demikain, semua personel militer Amerika Serikat (AS) berada di luar Afghanistan. Penerbangan terakhir pesawat militer tersebut juga sebagai penanda berakhirnya proses evakuasi AS terhadap warga dan loyalisnya dari kelompok Taliban.

Baca juga: Amerika Serikat Pergi dari Afghanistan, Taliban Minta Turki Operasikan Bandara Kabul

Di balik kepergian tentara Amerika Serikat terakhir di Kabul Afghanistan, tak banyak yang tahu, bahwa Mayor Jenderal (Mayjen) Chris Donahue adalah orang terakhir yang naik ke pesawat dan meninggalkan negara tersebut. Itu bukan hanya proses evakuasi biasa, melainkan juga rekor bagi sang Mayjen.

Dilansir First Post, informasi terkait Mayjen Chris Donahue sebagai tentara AS terakhir (atau mungkin juga orang AS terakhir) yang naik ke penerbangan terakhir dan meninggalkan Afghanistan melalui Bandara Kabul, tersiar melalui laman Twitter resmi Pentagon.

Sambil membawa senapan di tangan kanannya, dalam foto komandan Divisi Lintas Udara ke-82 yang diambil menggunakan perangkat night vision itu, ia terlihat melangkah dengan tegas menuju pesawat angkut militer Boeing C-17 Globemaster.

Sebagai komandan divisi, Mayjen Chris Donahue wajar menjadi orang terakhir yang naik ke pesawat di penerbangan terakhir militer AS dari Afghanistan. Selain untuk memastikan prajuritnya tidak ada yang tertinggial, ia juga disebut menyempatkan diri bertemu dengan komandan Taliban.

Pertemuannya itu untuk memberitahu bahwa ia dan tim akan segera pergi. Penerbangan terakhir militer AS dipastikan terjadi persis terjadi pada Senin malam sebelum berganti ke hari Selasa, seperti yang sudah dijanjikan Presiden Joe Biden.

“Jenderal Donahue, salah satu hal terakhir yang dia lakukan sebelum pergi adalah berbicara dengan komandan Taliban yang telah dia koordinasikan tentang waktu kami pergi. Hanya untuk memberi tahu mereka bahwa kita akan pergi,” kata Jenderal Frank McKenzie, komandan Komando Pusat AS.

Sebelum pesawat lepas landas dari Bandara Kabul, Mayjen Chris Donahue juga tak lupa untuk memberikan apresiasi kepada seluruh prajuritnya melalui mIRC chat. “Kerja bagus, saya bangga dengan kalian semua.”

Mayjen Chris Donahue komandan Divisi Lintas Udara ke-82 yang berada di bawah Korps Lintas Udara ke-18 Angkatan Darat AS yang berbasis di Fort Bragg, Carolina Utara.

Lulus dari Akademi Militer Amerika Serikat, Donahue langsung ditugaskan sebagai letnan dua di Cabang Infanteri pada tahun 1992.

Ia kemudian dikirim ke Afghanistan pada Agustus lalu untuk membantu mengamankan Bandara Kabul saat AS mendekati batas waktu evakuasi pada Selasa, 31 Agustus 2021.

Baca juga: Jepang Dihujat Gegara Pesawat C-130 Hercules Hanya Evakuasi Satu Orang, Ekspektasinya 500 Orang

Sebelum ini, Donahue telah menjadi asisten khusus untuk Kepala Staf Gabungan di Pentagon dan juga menjabat sebagai komandan satuan tugas gabungan operasi khusus-Afghanistan untuk mendukung Operation Freedom’s Sentinel.

Total, Mayjen Donahue telah dikerahkan 17 kali untuk penugasan operasi di Afghanistan, Irak, Suriah, Afrika utara, dan Eropa timur.