Boeing 747 Ternyata Sempat Dibuat Konsep Trijet! Batal Gegara Hal Ini

Boeing 747 bisa dibilang jadi salah satu pesawat paling suskes di dunia. Pesawat yang sudah merayakan 50 tahun sejak penerbangan pertama pada Februari 2019 ini, menurut catatan Planespotters.net, sudah terjual sekitar 1.561.747 unit di seluruh dunia, tertinggi di kelasnya.

Baca juga: Parade Pesawat Trijet yang Pernah Beroperasi di Indonesia, Anda Pernah Coba?

Sejak terbang perdana pada 9 Februari 1969, Boeing 747 selalu mengusung empat mesin jet. Namun, sepanjang sejarah pengoperasiannya, Boeing 747 tercatat pernah terbang dengan lima mesin.

Pada awal Januari tahun 2016, Boeing 747 milik Qantas sempat menjadi perbincangan hangat karena membawa lima mesin sekaligus di sayap. Penumpang sempat dibuat khawatir karenanya.

Mereka takut tiga mesin di sayap kiri dan dua mesin di sayap kanan membuat pesawat menjadi tidak seimbang dan pada akhirnya dikhawatirkan bakal berdampak fatal.

Namun, kekhawatiran itu langsung dibantah Qantas. Flag carrier Australia tersebut memastikan, pesawat Qantas rute Sydney-Johanesburg bernomor penerbangan QF63 tetap aman sekalipun terdapat perbedaan jumlah mesin di kedua sayap pesawat.

Baca juga: Lebih dari 1.500 Unit Diproduksi, Inilah Seri Boeing 747 yang Terpopuler dan Sebaliknya

Mesin tersebut pada hakikatnya hanya sebagai sebuah ‘tempelan’ saja untuk digunakan oleh pesawat Qantas lainnya yang mengalami gangguan mesin di Johannesburg, Afrika Selatan. Jadi, mesin yang beroperasi tetap hanya empat.

Akan tetapi, di dekade 1960-an dan 1970-an, Boeing pernah mempertimbangkan konsep trijet di pesawat 747. Mockup Boeing 747 trijet juga sudah dibuat. Di tahun tersebut, pesawat trijet sedang menjadi primadona, dimana McDonnell Douglas DC-10 dan Boeing 727 jadi yang paling laris serta Lockheed L1011 TriStar digadang menjadi pesawat trijet tercanggih.

Sebagaimana pesawat trijet lainnya, Boeing 747 trijet juga menempatkan dua mesin di sayap dan satu lainnya di bagian ekor.

Tetapi, Boeing 747 tri-jet ini jauh lebih pendek dibanding Boieng 747 saat ini, yang salah satu variannya, Boeing 747-8, bahkan menjadi pesawat terpanjang di dunia, mengalahkan Airbus A340-600; sekalipun saat ini gelar pesawat terpanjang di dunia saat ini dipegang oleh Boeing 777X.

Baca juga: Maskapai Mana yang Paling Lama Operasikan Boeing 747?

Dilansir Simple Flying, proyek pengembangan Boeing 747 trijet pun akhirnya batal. Setidaknya ada dua faktor penyebab.

Pertama, mengingat sayap sudah ada didesian untuk masing-masing dua mesin, tentu, apabila ingin diubah menjadi satu mesin, Boeing harus melakukan riset dan pengembangan ulang dan itu butuh waktu, tenaga, dan biaya yang tak sedikit.

Kedua, terkait sertifikasi atau pelatihan pilot. Semakin identik dengan Boeing 747 yang sudah ada, maskapai pengguna tidak perlu memerlukan sertifikasi ulang. Tetapi, bila Boeing 747 trijet jadi dibuat, tentu maskapai pengguna Boeing 747 harus melatih ulang para pilotnya bilamana ingin mengoperasikan Boeing 747 trijet.

Baca juga: 9 Februari 1969, Memperingati 50 Tahun Penerbangan Perdana Boeing 747

Meski begitu, konsep Boeing 747 trijet tidak benar-benar ditinggalkan. Hanya, dikemas menjadi konsep Boeing 747SP atau Special Performance.

Boeing 747SP tetap mengusung empat mesin dan pertama kali memasuki tahun layanan pada 1976 bersama Pan Am. Catatan Planespotters, Boeing memproduksi total 45 unit 747SP, dimana enam di antaranya masih beroperasi sampai saat ini.

 

Yara Birkeland, Inilah Kapal Kargo Tanpa Awak dan Bebas Emisi Pertama di Dunia

Ketika kendaraan di darat mulai meluncur tanpa awak, kini giliran kapal di laut yang memulainya. Yang mana ini akan dimulai oleh perusahaan Norwegia yang menciptakan kapal kargo otonom tanpa emisi pertama di dunia. Nantinya jika sesuai rencana, kapal ini akan melakukan perjalanan pertamanya di dua kota Norwegia sebelum akhir tahun.

Baca juga: Rolls-Royce dan Finferries Hadirkan Falco, Kapal Ferry dengan Kendali Otonom

Di mana dalam perjalanannya awak akan dikurangi untuk menguji keandalan sistem otonom dengan semua pergerakan dipantau dari tiga pusat kendali data di darat. KabarPenumpang.com merangkum cnn.com (27/8/2021), meski bukan kapal otonom pertama, tetapi perusahaan pembuat mengatakan ini adalah kapal kontainer listrik pertama. Dikembangkan oleh perusahaan kimia Yara International, Yara Birkeland dirancang untuk mengurangi emisi nitrogen oksida, yang merupakan polutan beracun dan gas rumah kaca, dan karbon dioksida, serta memindahkan barang dari jalan raya ke laut.

Menurut Organisasi Maritim Internasional, industri perkapalan saat ini menyumbang antara 2,5 persen hingga tiga persen dari emisi gas rumah kaca global. Hampir semua listrik Norwegia dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga air, yang umumnya dianggap memiliki emisi karbon yang jauh lebih rendah daripada pembakaran bahan bakar fosil, meskipun masih menghasilkan gas rumah kaca.

“Pertama kali dikonsep pada tahun 2017, kapal tersebut dibuat dalam kemitraan dengan perusahaan teknologi Kongsberg Maritime dan pembuat kapal Vard. Mampu membawa 103 kontainer dan dengan kecepatan tertinggi 13 knot, akan menggunakan baterai tujuh MWh, dengan sekitar seribu kali kapasitas satu mobil listrik,” menurut Jon Sletten, manajer pabrik untuk pabrik Yara di Porsgrunn, Norwegia.

Dia mengatakan itu akan dikenakan biaya di dermaga “sebelum berlayar ke pelabuhan kontainer di sepanjang pantai dan kemudian kembali lagi, menggantikan 40 ribu perjalanan truk setahun.” Selain memberikan pilihan yang lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan kapal kargo konvensional, Sletten mengatakan tanpa awak berarti akan lebih hemat biaya untuk beroperasi.

Awalnya, bongkar muat kapal akan membutuhkan manusia, tetapi menurut Sletten, semua operasi bongkar muat, dan tambat, termasuk berlabuh dan membongkar kapal, pada akhirnya juga akan beroperasi menggunakan teknologi otonom. Itu akan melibatkan pengembangan derek otonom dan pengangkut straddle kendaraan yang menempatkan kontainer ke kapal.

Baca juga: Malaga, Kota Pertama di Eropa yang Operasikan Bus Listrik Otonom di Jalan Raya

Yara Birkeland awalnya dijadwalkan untuk berlayar tahun lalu, tetapi pandemi Covid-19 ditambah dengan tantangan logistik menunda peluncurannya. Setelah mengalihkan proyek dari jalur cepat ke pendekatan langkah demi langkah, Sletten berharap kapal akan mengangkut kontainer pertamanya dari kota Herøya ke Brevik tahun ini. Proyek ini juga membutuhkan peraturan untuk dikembangkan bersama dengan otoritas maritim Norwegia untuk memungkinkan kapal otonom untuk menavigasi perairan negara itu untuk pertama kalinya.

Hadir Lebih dari 50 Tahun, Blok Tenji Digunakan Seluruh Dunia Guna Mudahkan Tunanetra

Paving taktil hadir di Jepang lebih dari 50 tahun yang lalu untuk membantu mereka yang mengalami gangguan penglihatan. Taktil ini biasanya ditemukan di peron stasiun kereta api, trotoar dan di depan gedung publik serta biasanya berwarna kuning.

Baca juga: Kombinasi Teknologi Ponsel Pintar dan Kode QR Bantu Penyandang Tunanetra di Stasiun

Taktil ini hadir dua jenis kotak atau blok yakni dengan garis paralel panjang timbul untuk memudahkan pejalan tunanetra berjalan dengan aman dan terus mengikuti jalan itu. Kemudian blok dengan bentuk bulat timbul di sekelilingnya dan ini biasanya berada di pintu masuk, tepi platform, tangga dan dekat lampu lalu lintas.

“Berjalan di sepanjang paving taktil meyakinkan saya bahwa aman untuk berjalan di sana,” kata Toyoharu Yoshiizumi, anggota eksekutif Federasi Jepang untuk Tunanetra yang dikutip KabarPenumpang.com melansir scmp.com (1/9/2021).

Yoshiizumi, yang kehilangan penglihatannya pada usia 12, bepergian sekitar 40 menit setiap hari, dipandu oleh blok-blok tenji yang dinamai menurut kata Jepang untuk Braille.

“Jalan tidak pernah lurus dan sering melengkung atau memutar, dan berkat blok pemandu, saya merasa aman karena saya tahu saya berjalan di sepanjang jalan,” tambahnya.

Blok yang sekarang ada di mana-mana adalah gagasan penemu lokal Seiichi Miyake dari Okayama Jepang barat. Setelah menyaksikan orang buta dengan tongkat hampir tertabrak mobil di persimpangan, Miyake memutuskan untuk mengabdikan dirinya untuk menciptakan sesuatu untuk menjaga pejalan kaki tunanetra tetap aman.

Pada tahun 1967, blok-blok tenji pertama di Jepang disumbangkan untuk penyeberangan dekat sekolah tunanetra di Okayama. Kakak Miyake membantunya mengembangkan blok tenji dan kemudian mengatakan bahwa dia “tidak akan pernah melupakan momen emosional” ketika ubin pertama kali diuji oleh pejalan kaki.

Perlu tiga tahun lagi bagi ubin untuk mencapai distrik pertama di Tokyo, dan seiring waktu mereka tersebar secara global serta menjadi sangat terkenal sehingga ditampilkan sebagai Google Doodle animasi pada tahun 2019. Bahkan inovasi tersebut masih terus ada hingga hari ini.

Meskipun blok membantu menjaga pejalan kaki tetap aman dan berada di jalurnya, blok tersebut tidak memberikan lebih banyak informasi, termasuk arah yang dituju seseorang. Tetapi sebuah aplikasi yang diluncurkan tahun ini bertujuan untuk mengatasinya, dengan kode QR yang ditempelkan ke blok di beberapa stasiun Tokyo, yang dapat dipindai pejalan kaki untuk informasi lisan termasuk arah dan jarak ke tujuan mereka.

“Banyak informasi berasal dari penglihatan tetapi orang dengan gangguan penglihatan tidak memiliki akses ke sana. Kami ingin melakukan sesuatu dengan teknologi,” kata Yuichi Konishi, ketua LiNKX.

Dengan aplikasi ini, pengguna dapat memilih tujuan seperti pintu keluar tertentu, toilet dan gerbong kereta. Sejauh ini kode QR tersedia di sembilan stasiun metro Tokyo dan perusahaan berharap untuk melihat proyek ini berkembang. Namun ternyata blok Tenji saja tidak selalu cukup untuk membuat orang tetap aman.

Baca juga: Kereta di Jepang Gunakan Kecerdasan Buatan Guna Bantu Penumpang Disabilitas

Tahun lalu, seorang pria tunanetra jatuh ke rel kereta api di Stasiun Tokyo dan ditabrak kereta meskipun ada blok di peron. Tak hanya itu peron di stasiun juga dilengkapi pintu dan terbuka ketika kereta tiba. Langkah keamanan lainnya, di Tokyo termasuk suara penyeberangan pejalan kaki yang memberi tahu orang-orang kapan harus menyeberang, dan rekaman yang mengumumkan awal atau akhir eskalator. Yoshiizumi mengatakan mereka yang tunanetra membutuhkan infrastruktur tetapi juga dukungan dari orang lain.

Ubah Smoking Room Jadi Zoom Meeting Room, JR Central Tawarkan Meeting di Kereta Peluru Shinkansen

Ketika pandemi membuat semuanya berubah, perjalanan moda transportasi pun mengubah beragam fasilitas dan kegunan ruang baik di dalam moda transportasi maupun di halte atau stasiun. Seperti kereta peluru Shinkansen di Jepang yang mengubah ruang merokok menjadi ruang untuk meeting menggunakan Zoom.

Baca juga: Cabin Fever, Film yang Dibuat Melalui Aplikasi Zoom dan WhatsApp

KabarPenumpang.com melansir dari laman theregister.com (27/8/2021), Central Japan Railway Company akan mengganti ruang merokok di beberapa kereta cepat shinkansen dengan mobil Zooming. Sebelum menghadirkan ruang Zoom ini, JR Central sudah menghadirkan WiFi gratis di kereta dan mengaku bahwa pandemi sekarang membuat konferensi melalui video menjadi lebih populer.

Sehingga JR Central telah menyiapkan kendaraan S-Work dan melengkapinya dengan WiFi yang menawarkan kecepatan dua kali lipat dari layanan konvensionalnya. Selain itu juga ada penambahan tenaga di kursi. Kehadiran ruang Zoom ini sepertinya bisa merepotkan penumpang yang bukan pebisnis atau pekerja bila harus semuanya dibuat seperti itu.

Tak hanya itu, JR Central pun sudah melengkapi kereta shinkansen dengan peminjaman mouse, layar privasi untuk laptop mereka dan bantal untuk meletakkannya. Beberapa bahkan akan menampilkan stand Zoom di ruang yang sebelumnya ditempati oleh ruang merokok penumpang.

Untuk diketahui, merokok sendiri dilarang di kereta Jepang sejak tahun 2020. Hal ini membuat ruangan untuk merokok itu kosong dan tak lagi digunakan oleh para penumpang. Meski begitu, layanan kereta shinkansen yang menawarkan ruang Zoom tidaklah semua rute.

Salah satunya adalah kereta Shinkansen jenis N700S. Jadi bisa dikatakan, penumpang akan melakukan meeting Zoom dengan kecepatan 300 km per jam dari rute Tokaido atau Sanyo dan ini sungguh mencengangkan.

Baca juga: Melepas Lelah, Para Pekerja Bisa Nikmati Shinkansen Sambil Merendam Kaki

JR Central sendiri telah membuka situs promosi untuk layanan tersebut. Tak hanya itu, dalam promosi juga dilengkapi dengan beberapa ilustrasi gaya manga yang bagus tentang manfaatnya seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.

Bisa Masuk di Antara Sumbu Roda, Motorhome ini Angkut Supercar Sporty

Di masa lalu, banyak yang melihat Volkner mengungguli beberapa pesaingnya untuk penghargaan “motorhome paling mahal dari Düsseldorf Caravan Salon” dengan rumah mewah dengan harga US$1,7 juta. Tahun ini, ia meninggalkan persaingan dalam debu, mengeluarkan semua paket motorhome paling mahal dan paling mahal di lantai pertunjukan.

Baca juga: Dembell Motorhome, Desain ‘Kapal Pesiar’ dengan Sasis Mercedes Tiga Gandar

Bahkan ini menggeser c1.480-hp di atas rumah motor Performance S senilai US$ 2,4 juta dan memperlakukan pemilik pengalaman kendaraan ultra-mewah/hypercar yang rumit ke tempat tinggal yang ditunjuk secara mewah lengkap dengan sistem audio Burmester khusus yang disesuaikan dengan hati-hati untuk ruang bergerak. Tak hanya itu, sellama lebih dari satu dekade, Volkner telah memukau orang banyak di Düsseldorf dengan roadster sporty dan supercar yang berhasil dijepit di antara as roda motorhome-nya yang besar.

Bugatti Chiron 1.480-hp di garasi pada dasarnya menggandakan harga Volkner Performance S. Foto: Messe Düsseldorf, Constanze Tillman

Sehingga Volkner tahun ini, itu benar-benar meningkatkan permainannya sendiri. Bugatti Chiron seharga $3 juta sebenarnya lebih mahal daripada motorhome Performance S itu sendiri dan mengemas lebih dari tiga kali lipat tenaga kuda dari 430-hp 18-ton 39-footer Volkner. Namun beberapa lebih suka Porsche 911 GT2 Volkner yang dibawa ke Caravan Salon 2018.

KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (30/8/2021), meski tidak setahun penuh setelah rekor mobil Nürburgring, tetapi tidak dapat disangkal bahwa tim Chiron dan Performance S adalah paket yang benar-benar menakjubkan, pasangan ekstrim, over-the-top teknik bermotor seperti beberapa yang pernah terlihat. Sementara sesuatu seperti Porsche atau Bugatti terlihat paling mengesankan di garasi pusat slide-out Volkner, perusahaan menekankan bahwa garasi juga dapat digunakan untuk alternatif yang lebih sehari-hari, seperti jet ski, sepeda motor, ATV atau ebike.

Di kamp, ​​platform geser berfungsi ganda sebagai teras depan yang dilindungi oleh tenda di atas. Chiron mungkin merupakan perhiasan paling kuat dan mahal pada Performance S tahun ini, tetapi interiornya tetap yang paling penting, karena tidak ada gunanya mengangkut hypercar tujuh digit Anda dengan motorhome tujuh digit jika tidak benar-benar luas, nyaman dan mewah.

Finishing interior “BrilliantDark” Volkner yang sangat mengkilap bukanlah favorit, tetapi tampilan multi-nada gelap dari veneer kayu Makasar yang diletakkan dengan tangan berpadu cukup baik dengan cat dan pelapis berwarna krem. Itu juga membuat casing kayu alami untuk speaker besar sistem audio premium Volkner dan Burmester yang dioptimalkan untuk kabin Performance S.

Volkner menyematkan biaya sistem suara itu saja pada €300 ribu (sekitar $354 ribu), yang menambah intrik model tampilan yang mahal dan berlebihan. Selain itu, di sini lain dengan bodohnya berpikir bahwa motorhome Dembell baru mungkin yang paling mahal di pameran. Dengan audio Chiron, Burmester, dan sejumlah peningkatan lainnya, Performance S yang menarik perhatian banyak orang ke stan Volkner 2021 melonjak dari €2.035.000 ($2,4 juta) yang keren menjadi total paket €6,5 juta ($7,7 juta) euro.
Itu menjadikannya mendapat gelar motorhome paling mahal di acara itu, seperti yang diidentifikasi oleh tim media Caravan Salon.

Sebenarnya, pembuat selera di Volkner mungkin menertawakan diri sendiri saat pendatang baru Dembell mengiklankan Ferrari California sebagai kendaraan yang kompatibel dengan garasi terbesar di kelas tiga gandar ultra-premium Kelas A.

Baca juga: Rongsokan Pesawat Disulap Jadi Mobil RV Seharga Rp400 Jutaan, Modifikasi Butuh 36 Tahun

Volkner telah meningkatkan permainan mobil pengangkut supercar ke tingkat yang lebih tinggi tahun ini, tetapi itu bukan satu-satunya merek yang menunjukkan betapa sempurnanya supercar modern dan rumah motor ultra-mewah yang sangat besar. Di bawah, Morelo menunjukkan produknya di samping Maserati MC20 baru.

Taildragger vs Tricycle Landing Gear: Ini Perbedaan-Persamaan dan Keunggulan-Kekurangannya

Landing gear atau roda pendaratan menjadi salah satu komponen paling penting pada pesawat terbang, baik saat di darat maupun di udara, sebelum lepas landas, ketika lepas landas dan turun landas, sampai mendarat dengan sempurna di runway dan parkir di apron.

Baca juga: Desain Pesawat Sayap Tinggi vs Sayap Rendah: Ini Perbedaan-Persamaan dan Untung-Ruginya

Meski pada umumnya saat ini landing gear jenisnya berupa tricycle atau dua roda pendaratan di belakang dan satu di depan, tetapi, setidaknya ada dua jenis landing gear lain di dunia.

Dua itu, tandem landing gear (biasanya dua main gear dan tail gear sejajar seperti pada pesawat B-52 Stratofortress, disebut juga sebagai quadricycle) dan satu lainnya yakni conventional atau taildragger atau biasa juga disebut tailwheel-type landing gear.

Dari tiga jenis landing gear di atas, tandem landing gear atau quadricycle jarang ditemui. Karenanya, dalam tulisan ini redaksi akan fokus head to head antara roda pendaratan taildragger vs roda pendaratan tricycle, baik itu persamaan-perbedaan serta kelebihan dan kekurangannya.

Dilansir monroeaerospace.com, perbedaan antara kedua jenis landing gear itu ada pada penempatan rodanya. Pada tricycle landing gear, main gear hanya ada satu roda dan tail gear di belakang punya dua roda pendaratan. Bisa dibilang, pada tricycle landing gear, main landing gearnya di berada di belakang.

Sedangkan taildragger justru sebaliknya, main gear memiliki dua roda dan tail gear di belakang hanya satu roda pesawat.

Perbedaan lainnya yaitu, pada tricycle landing gear, navigasi pesawat (belok kanan-kiri) berada di depan. Sedangkan pada taildragger navigasinya berada di tail gear atau roda pendaratan di belakang.

Didasari pada penggunaannya, taildragger bisa dibilang hanya digunakan oleh pesawat kecil atau perintis dan pesawat lawas, seperti pesawat Perang Dunia II. Sedangkan roda pendaratan tricycle digunakan oleh hampir seluruh jenis pesawat saat ini, mulai dari pesawat komersial, kargo maupun penumpang, militer, pesawat kecil, pesawat besar, sampai lain sebagainya.

Meski lebih mudah ditemui di pesawat-pesawat komersial maupun militer pada saat ini, rupanya, di kalangan pilot, taildragger landing gear lebih populer atau mungkin bisa dibilang lebih favorit.

Disebutkan, banyak pesawat yang ada saat ini -terutama pesawat komersial- bobotnya cukup berat. Mereka berisi penumpang dan kargo yang menggeser pusat gravitasi pesawat ke arah belakang. Dalam kondisi ini, taildragger landing gear disebut dapat menopang pesawat lebih baik berkat tail gear atau roda sekunder di belakang.

Selain itu, dari segi keunggulan pesawat dengan roda pendarat taildragger biasanya lebih mudah ditangani daripada pesawat dengan roda pendarat roda tiga. Landing gear, tentu saja, tidak memengaruhi cara pesawat ditangani selama penerbangan. Ini hanya mempengaruhi kinerja pesawat saat lepas landas dan mendarat.

Baca juga: Jadi Salah Satu Bagian Terpenting Pesawat, Begini Cara Kerja Landing Gear

Meskipun demikian, roda pendarat taildragger disebut memungkinkan pilot untuk mengontrol pesawat lebih mudah saat lepas landas dan mendarat karena penempatan tail gearnya. Sedangkan tricycle landing gear sebaliknya.

Tetapi, tricycle landing gear memiliki kelebihan berupa lebih rigid dan stabil digunakan untuk pesawat-pesawat besar dibanding roda pendarat taildragger.

Susul AS dan Cina, Malaysia Izinkan Boeing 737 MAX Kembali Terbang

Setelah dua tahun di-grounded, Otoritas Penerbangan Sipil Malaysia (CAAM) akhirnya mencabut larangan terbang Boeing 737 MAX. Atas keputusan ini, Malaysia bergabung dengan negara lain yang sudah lebih dahulu mengizinkan 737 MAX kembali terbang, seperti Amerika Serikat (AS), Eropa, India, dan Cina.

Baca juga: Wow, Boeing 737 MAX Sudah Cetak 2.700 Penerbangan Pasca Diizinkan Kembali Terbang

Dilansir Reuters, CAAM mengaku sudah sejak lama memantau kembalinya 737 MAX ke udara serta berbagai perbaikan yang dilakukan Boeing dan Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA). Atas dasar itu, mereka akhirnya mengizinkan Boeing 737 MAX, baik maskapai dalam negeri maupun asing, kembali terbang.

Ini tentu berbeda dengan regulator negara lain. Cina, misalnya, saat AS, Eropa, serta beberapa negara lainnya, sudah mengizinkan Boeing 737 MAX kembali terbang, mereka memilih untuk menunggu dan melakukan inspeksi sendiri, tidak bergantung pada hasil perbaikan dan inspeksi dari FAA dan Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA).

Diizinkannya Boeing 737 MAX terbang kembali di Malaysia tentu menjadi berkah tersendiri bagi maskapai nasional Negeri Jiran, Malaysia Airlines.

Disebutkan, saat maskapai dan lessor di seluruh dunia umumnya membatalkan atau setidaknya mengurangi pesanan pesawat Boeing 737 MAX, Malaysia Airlines justru tetap pada pendiriannya, memesan 25 jet tersebut.

Selambat-lambatnya, pengiriman pesawat Boeing 737 MAX pertama Malaysia Airlines akan dilakukan pada 2024 mendatang.

Berjarak sepekan sebelum Malaysia, India dilaporkan lebih dahulu mengizinkan maskapai untuk mengoperasikan Boeing 737 MAX.

Baca juga: Demi 737 MAX Kembali Terbang, Boeing Kirim Pilot Khusus ke Maskapai

Pada awal Agustus lalu, varian terkecil dari Boeing 737 MAX, 737 MAX-7, terpantau Flightradar24 melakukan uji terbang perdana usai grounded berkepanjangan, dari Bandara Internasional Pudong Shanghai pada pukul 09:24 waktu setempat.

Pesawat kemudian mendarat di Bandara Zhoushan Putuoshan, sekitar 150 km ke selatan Shanghai, setelah dirasa cukup mendapat data pengujian.

Kembalinya Boeing 737 MAX tentu bukan tanpa alasan. Sebelumnya, pada hari Minggu (8/7), pejabat Regulator Penerbangan Sipil Cina (CAAC) secara tiba-tiba mengizinkan Boeing 737 MAX terbang.

Ketika itu, Boeing langsung merespon, mengirim tim yang terdiri dari 35 pilot dan insinyur, dan membuat beberapa kesepakatan. Adapun penerbangan perdana MAX awal Agustus lalu adalah buah dari keputusan CAAC.

Jauh ke belakang, pada Desember lalu, EASA akhirnya mencabut larangan terbang Boeing 737 MAX. Padahal, pada akhir November, regulator Eropa itu menyebut akan melakukan sertifikasi sendiri dan berlepas diri dari keputusan FAA yang sudah mengizinkan kembalinya MAX.

Baca juga: Cina Akhirnya ‘Tunduk’ ke AS, Boeing 737 MAX Diizinkan Terbang Kembali

FAA sendiri resmi mencabut larangan terbang Boeing 737 MAX pada 18 November 2020 lalu. Usai keputusan itu, berbagai maskapai dunia ramai-ramai mulai mengatur jadwal penerbangan perdana Boeing 737 MAX.

Pada awal Februari lalu, Boeing 737 MAX bahkan sudah berhasil mencatat 2.700 penerbangan penumpang dan 5.500 jam terbang bersama berbagai maskapai di setidaknya lima negara, meliputi Amerika Serikat (AS), Kanada, Brazil, Panama, Meksiko.

Unik, Stasiun Bhawani Mandi Terletak di Dua Negara Bagian India

Menjadi jaringan kereta api ketiga terbesar di dunia, India bukan hanya melayani penumpang di kota besar tetapi di kota kecil dan Indian Railways menjadi operatornya. Bahkan banyak hal menarik serta unik dari stasiun di India, dari yang tidak memiliki nama hingga berada di antara dua negara bagian.

Baca juga: Di India Ada Stasiun Kereta Tanpa Nama

Seperti stasiun kereta api di Bhawani Mandi yang berada di distrik Jhalawar Rajasthan. Stasiun ini memiliki hal uniknya tersendiri, yaitu salah satu ujungnya berada di Negara Bagian Rajasthan sedangkan yang lainnya di Negara Bagian Madhya Pradesh.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman news18.com (4/8/2021), stasiun yang berada di rute Delhi menuju Mumbai itu memfasilitasi banyak kereta api yang melintas di antara dua negara bagian itu. Keistimewaan lainnya dari Stasiun Bhawani Mandi yakni memiliki loket dan petugas penjual tiket yang beradadi Madhya Pradesh, sedangkan penumpang membeli tiketnya di luar loket yang berada di Rajasthan.

Hal menarik lainnya adalah salah satu ujung stasiun kereta memiliki papan Rajasthan dan ujung lainnya Madhya Pradesh. Yang mana ujung selatan bagian dari Rajasthan dan utara milik Madhya Pradesh.

Stasiun ini setiap harinya melayani delapan hingga sepuluh ribu penumpang dan menghubungkan sebanyak 375 stasiun lainnya secara langsung dan hampir 50 kereta melewati peronnya. Para pelancong juga mendapatkan pengalaman unik karena kedua negara bagian hanya berjarak beberapa meter di stasiun.

Bukan hanya stasiun kereta api yang membentang ke kedua negara bagian, beberapa rumah yang dibangun di daerah perbatasan distrik Jhalawar juga jatuh di Rajasthan dan Madhya Pradesh. Beberapa rumah bahkan memiliki pintu masuk depan yang terbuka ke Bhensoda Mandi di Madhya Pradesh, sedangkan pintu belakang jatuh di Bhawani Mandi di Rajasthan.

Kedekatan juga menyebabkan orang-orang Madhya Pradesh menjadi tergantung pada Bhawani Mandi untuk bisnis, transportasi, kesehatan, pendidikan dan hal-hal penting lainnya. Meski begitu, Stasiun Bhawani Mandi bukanlah satu-satunya stasiun kereta api di India yang jatuh di dua negara bagian.

Baca juga: India Bangun Hotel Bintang Lima Pertama di Atas Stasiun

Sebab Stasiun Navapur pun berada di perbatasan Maharashtra dan Gujarat dan dibagi rata antar keduanya. Sama seperti Bhawani Mandi, kereta api yang berhenti di sana berhenti di perbatasan dua negara bagian dan menawarkan pelat stasiun dari kedua negara bagian secara berdampingan.

Inilah Pesawat Pertama yang Mendarat di Bandara Kabul Usai Kepergian AS

Amerika Serikat (AS) resmi pergi dari Afghanistan setelah Mayor Jenderal (Mayjen) Chris Donahue, warga negara AS sekaligus tentara terakhir yang berada di Bandara Kabul, meninggalkan Afghanistan menggunakan pesawat Boeing C-17 Globemaster, Senin malam jelang dini hari. Setelah sehari sunyi, Bandara Kabul akhirnya kedatangan pesawat dari jenis yang sama.

Baca juga: Amerika Serikat Pergi dari Afghanistan, Taliban Minta Turki Operasikan Bandara Kabul

Dari tayangan video yang dibagikan wartawan Middle East Eye melalui laman Twitternya, Boeing C-17 Globemaster yang mendarat di Bandara Kabul Rabu, 1 September 2021 kemarin, bukan datang dari AS, melainkan dari Qatar Airways.

Sejatinya, pesawat tersebut bukanlah pesawat milik maskapai Qatar Airways. Tetapi, milik Angkatan Udara Qatar yang karena berbagai hal menggunakan livery maskapai nasional Qatar tersebut.

Dikutip dari topwar.ru, sejak tentara AS pergi meninggalkan Afghanistan, Taliban memang menggandeng sejumlah negara, seperti Qatar, Turki, dan Cina, untuk membangun kembali negara yang disebut kaya cadangan mineral itu.

Karenanya, tidak heran bila pesawat Boeing C-17 Globemaster livery Qatar Airway milik Angkatan Udara Qatar itu bisa mendarat di sana. Lebih lanjut, berbagai ahli seperti konstruksi, sipil, dan kebandarudaraan dari Qatar sudah tiba di Afghanistan dengan menumpangi pesawat itu.

Baca juga: Ternyata Ini Alasan C-17 Globemaster Angkatan Udara Qatar Pakai Livery Qatar Airways

Mereka ditugaskan untuk membangun kembali Bandara Internasional Hamid Karzai tersebut, yang notabene menjadi gerbang keluar masuknya orang dan barang dari Afghanistan.

Selama bertugas, tenaga ahli dari Qatar akan dijaga ketat oleh pasukan khusus Taliban “Badri 313”. Pasukan khusus yang memiliki persenjataan lengkap tersebut, saat ini, menjadi pemegang otoritas Bandara Kabul untuk sementara, menjaga seluruh pos pemeriksaan dan skrining bandara.

Sebelum diambil alih oleh pasukan khusus Badri 313, Taliban disebut sempat meminta Turki untuk mengoperasikan bandara, termasuk keamanannya. Hal itu dikonfirmasi langsung oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, Jumat pekan lalu.

“Taliban meminta agar kami mengoperasikan Bandara Kabul. Kami belum membuat keputusan tentang masalah ini,” ujarnya seperti dilaporkan kantor berita Anadolu.

Baca juga: Jadi Ikon Evakuasi Warga di Afghanistan, Boeing C-17 Globemaster Dijuluki ‘Rusa Besar’! Ini Alasannya

Meski Taliban sudah berkuasa penuh dan AS sudah pergi, tetapi, media-media barat menyebut situasi keamanan di Afghanistan masih rawan teror. Apalagi di wilayah bandara.

Sumber-sumber lain juga menyebut, di saat tentara AS dan sekutu pergi, tentara Inggris masih bertahan di sana. Tujuannya, untuk membalas serangan bom bunuh diri beberapa hari lalu yang menewaskan pasukan elite Inggris, SAS.

Pernah Uji Coba Angkut Penumpang, Kini Apa Kabar Virgin Hyperloop?

Pada 8 November 2020, Virgin Hyperloop membawa penumpang manusia pertamanya untuk naik dan merasakan sensasinya. CEO Virgin Hyperloop Josh Giegel mengatakan, gagasan ini adalah sebuah konsep dan merupakan satu dari beberapa pengalaman luar biasa dalam dirinya. Bahkan Virgin Hyperloop tersebut pada pengujian pertama berhasil melaju sejauh 400 meter pada uji cobanya.

Baca juga: Untuk Pertama Kalinya, Virgin Hyperloop One Uji Coba Pod Berpenumpang

Meski dalam ruang terbatas, Anda juga harus memperlambat dan berhenti di kecepatan tinggi 173 km per jam. Dengan kecepatan itu pun bisa membuat orang berdebar apa lagi bagi mereka yang pernah merasakan peluncuran di drag strip. Dirangkum KabarPenumpang.com dari autoweek.com (31/8/2021), di mana penumpang duduk di dalam pod yang digantung dari trek di atas tabung baja panjang dan digantung oleh medan magnet di trek di bagian atas tabung.

Untuk lebih mengurangi resistensi, 99,9 persen udara disedot keluar dari tabung. Akibatnya, setelah elektromagnet diisi, pod bergerak ke bawah tabung. Setelah tabung yang lebih panjang dibangun, karena banyak dari mereka akan menjadi satu hari antara kota dan lintas negara, Hyperloop dapat melakukan perjalanan dengan kecepatan 1.078 km per jam, tanpa suara dan lancar.

“Sistem kami dapat mendorong pod penumpang atau kargo dengan kecepatan lebih dari 1000 km per jam. Itu tiga kali lebih cepat dari rel berkecepatan tinggi dan lebih dari sepuluh kali lebih cepat dari kereta rel konvensional,” kata Virgin Hyperloop.

Pod Virgin Hyperloop pertama kemungkinan akan muncul di India dan Timur Tengah, yang terakhir antara Dubai dan Abu Dahbi. Tapi saat ini, yang tersedia adalah pod dengan penjang lintasan 500 meter di padang pasir oleh Las Vegas, bersama dengan pod uji lain yang dibangun oleh Elon Musk di sebelah pabrik roketnya di Hawthorne, California.

Dia mengatakan, dalam pod Virgin Hyperloop, tidak ada getaran mekanis yang nyata, kebisingan, getaran dan kekerasan di mana semuanya normal.

Virgin Hyperloop merancang pod independen yang dapat diprogram untuk meluncur dari jalur utama ke tabung tambahan dan menjangkau kota-kota kecil. Fleksibilitas yang lebih besar diperhitungkan saat merencanakan rute. Hyperloop akan dapat menyertakan gravitasi positif dan negatif dalam rutenya, semuanya tetap dalam batas yang ditentukan untuk kenyamanan g-force manusia.

Baca juga: Virgin Hyperloop One Bangun Pusat Penelitian di Andalusia

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa tiket Virgin Hyperloop rute Kansas – St. Louis yang berjarak 250 mile akan berharga sama dengan setengah tangki bensin, atau antara US$30 – US$40.