Mengapa Banyak Merger dan Akuisisi Maskapai di AS dalam 20 Tahun Terakhir? Ini Jawabannya

Merger dan akuisisi tentu lumrah dalam bisnis, tak terkecuali bisnis penerbangan. Merger dan akuisisi di dunia penerbangan tercatat pertama kali terjadi sejak tahun 1928, dimana dua maskapai AS, Pan Am merger dengan Aviation Corporation of the Americas atau biasa juga disebut American International Airways.

Baca juga: Sejarah Merger Boeing dengan McDonnell Douglas, Sempat Ditentang Eropa sampai Presiden AS Turun Tangan

Maskapai-maskapai AS memang terkenal akrab dengan merger dan akuisisi. Bahkan, merger dan akuisisi maskapai terbanyak juga datang dari AS, yaitu Delta Airlines, dengan total 15 kali. Sampai saat ini, merger dan akuisisi juga seolah masih melekat.

Tengok saja sejak tahun 2000 silam, setidaknya sudah ada tujuh kali merger antar maskapai AS. Tahun 2001, maskapai legendaris AS, Trans World Airlines, diakuisisi oleh American Airlines. 12 tahun kemudian, American Airlines lanjut mengakuisisi US Airways.

Pada tahun 2008, Delta Airlines mengakuisisi Northwest Airlines di bawah perjanjian multi-miliar dolar. Lewat perjanjian ini, logo dan brand Northwest Airlines menghilang sementara brand Delta Airlines tetap eksis. Pada tahun yang sama, Southwest Airlines tercatat mengakuisisi maskapai yang berbasis di Indianapolis, ATA Airlines.

Tak ingin tertinggal dari tiga kompetitor utama, United Airlines kemudian merger dengan Continental Airlines dua tahun berselang. Ini menjadi salah satu merger yang cukup populer di AS.

Pada tahun 2016, budaya merger dan akuisisi maskapai AS berlanjut ke Alaska Airlines, dimana maskapai tersebut mengakuisisi Virgin America. Di tahun yang sama, Frontier Airlines merger dengan Midwest Airlines. Ini menjadi merger dan akuisisi terakhir selama 20 tahun dengan total tujuh aksi korporasi. Pertanyaannya, mengapa bisa sebanyak itu?

Dilansir Simple Flying, ada begitu banyak alasan di balik semua ini. Tetapi, semuanya bermuara pada kekuatan maskapai layaknya hukum rimba, dimana maskapai kuat mencaplok maskapai lemah. Bagi maskapai lemah, terus bertahan dan bersaing di industri yang cukup ketat dan cepat berubah tentu akan sangat merugikan bila tidak didukung dana besar.

Sebaliknya, bagi maskapai besar, membangun kekuatan tambahan dari jaringan, infrastruktur, dan pasar penerbangan yang sudah ada akan lebih efisien ketimbang membangun entitas baru dari awal ataupun membangun jaringan baru secara mandiri tanpa bantuan dari maskapai lain sekalipun bisnisnya lebih kecil.

Dengan begitu, tak mengherankan bila pada akhir tahun 2020 lalu, maskapai American Airlines tercatat mengoperasikan sebanyak 855 pesawat, menjadikannya sebagai maskapai terbesar di dunia dari segi armada.

Demikian juga dengan United Airlines dan Delta Airlines yang masing-masing mengoperasikan 819 dan 775 pesawat, menjadikan keduanya sebagai maskapai kedua dan ketiga terbesar di dunia dari segi armada. Di posisi keempat dalam daftar itu juga bertengger maskapai AS lainnya, Southwest Airlines dengan jumlah armada sebanyak 753.

Dari segi jumlah penumpang per tahun, keempat maskapai AS itu juga menempati urutan teratas daftar maskapai terbesar di dunia, dimana posisi puncak ditempati oleh American Airlines dan diikuti oleh Delta Airlines, Southwest Airlines, dan United Airlines.

Baca juga: Hari Ini, 37 Tahun Lalu, Pertama Kali Dalam Sejarah Dua Maskapai Barter Pesawat

Dari segi pendapatan juga demikian, tiga maskapai AS masih memuncaki empat besar, dimana Delta Airlines di posisi pertama serta American Airlines dan United Airlines di posisi kedua dan keempat. Terselip di antara keduanya, ada maskapai asal Jerman, Lufthansa Group.

Dengan terbukti berhasilnya program merger dan akuisisi oleh maskapai AS, akankah aksi korporasi itu terus terjadi di AS sampai tahun-tahun mendatang? Menarik ditunggu.

Ikut IIMS Hybrid 2021, Mazda Hadirkan Produk Baru

Di masa pandemi hampir semua pameran dan berbagai hal dilakukam secara online ataupun virtual. Salah satunya adalah Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) 2021. Nah Bagaimana kabar IIMS 2021 sejak pameran dimulai beberapa hari lalu? Ternyata banyak merek mobil dan motor yang ikut ambil bagian memberikan berbagai promo.

Baca juga: IIMS Hybrid 2021, Agen Pemegang Merek Otomotif Jualan Secara Virtual

Para Agen Pemegang Merek juga menghadirkan kendaraan atau perlengkapan otomotif terbaru mereka di ajang pameran IIMS virtual. Salah satu yang ikut dalam pameran virtual IIMS 2021 adalah Mazda.

Dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com (24/2/2021), Mazda mengatakan akan meluncurkan produk baru mereka pada IIMS kali ini. Hal tersebut langsung dikatakan oleh Head of Department Public Relations and Media Communications PT Eurokars Motor Indonesia Fedy Dwi Parileksono.

Dia mengatakan pada 25 Februari, Mazda akan melakukan penyegaran pada salah satu produk sedannya. Selain itu, di bulan Maret juga akan ada line up produk baru. Sayangnya, Fedy tidak mengatakan produk apa yang akan diluncurkan bulan depan itu.

“Untuk produknya apa? Ditunggu saja,” ucap Fedy.

Hingga saat ini mobil pabrikan Jepang tersebut masih mengandalkan series CX sebagai tonggak penjualan mereka. Di mana series ini ada CX-3, CX-5, CX-8 dan CX-9.

“Kita masih mengandalkan CX series sebagai backbone, yakni CX-3, CX-5, CX-8, CX-9, itu adalah line up kita. Dan yang paling terbaru itu ada CX-30, di mana sudah mengadopsi teknologi terbaru seven G dari Mazda,” kata Fedy.

Baca juga: IIMS Hybrid 2021 Resmi Dibuka, Gairahkan Kembali Dunia Otomotif Nasional

Dari kabar yang beredar, Mazda akan menghadirkan series CX-3 terbaru yang akan mengusung jantung pacu baru. Untuk diketahui, IIMS 2021 melakukan kerja sama dengan Shopee dan akan berlangsung hingga 28 Februari mendatang.

Angkasa Pura I Dukung Rencana Penerapan GeNose di Bandara

PT Kereta Api Indonesia (KAI) sukses menerapkan penggunaan GeNose sebagai alat pendeteksi Covid-19 bagi penumpang kereta. Ini kemudian membuka jalan pada moda transportasi lainnya untuk menjadikan GeNose sebagai pilihan lain alat pendeteksi Covid-19 agar memudahkan penumpang ketika bepergian.

Baca juga: GeNose, Alat Cek Covid-19 Buatan UGM Siap Diproduksi Massal, Termasuk Akan Digunakan PT KAI

Salah satunya adalah di bandara, sehingga penumpang pesawat bisa melakukan tes yang lebih murah dibandingkan harus mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk PCR Swab atau Rapid Antigen. Tak hanya itu, kehadiran GeNose sepertinya lebih tenang bagi penumpang karena hidung ataupun tenggorokan mereka tidak perlu di colok untuk mendapat hasil negatif atau positif Covid-19.

Bahkan PT Angkasa Pura I (AP I) menyambut baik rencana penggunaan GeNose tersebut pada 1 April 2021 mendatang. Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, AP I mengatakan, kehadiran GeNose menumbuhkan optimisme di sektor penerbangan di mana dengan adanya layanan tes Covid-19 dengan harga terjangkai berpotensi meningkatkan trafik penumpang pesawat.

Saat ini, Angkasa Pura I tengah melakukan persiapan uji coba penggunaan GeNose C-19 sesuai Surat Direktur Keamanan Penerbangan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara nomor AU.201/4/12/DJPU.DKP-2021 perihal persiapan dan percobaan penggunaan peralatan GeNose C-19. Pada tahap uji coba ini Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo akan dijadikan bandara percobaan pelaksanaan uji coba penggunaan GeNose C-19.

“Angkasa Pura I sangat menyambut baik rencana penggunaan alat tes Covid-19 GeNose C-19 di bandara pada 1 April mendatang. Hal ini merupakan sentimen positif bagi sektor aviasi di mana layanan tes Covid-19 dengan harga terjangkau berpotensi meningkatkan trafik penumpang pesawat udara,” ujar Direktur Utama AP I Faik Fahmi.

Pada fase persiapan ini, Angkasa Pura I akan berkoordinasi dengan pihak penyedia alat GeNose C-19 untuk meyediakan 40 alat GeNose C-19, menyiapkan area lokasi layanan GeNose C-19 di YIA, menyiapkan prosedur alur pemeriksaan Covid-19 menggunakan GeNose C-19, dan kemudian melakukan simulasi pemeriksaan Covid-19 menggunakan  GeNose C-19 pada minggu ketiga Maret 2021.

Pada tahap awal, layanan tes Covid-19 menggunakan GeNose C-19 akan diimplementasikan pada YIA dan secara bertahap akan diterapkan di seluruh bandara Angkasa Pura I. Layanan GeNose C-19 di bandara Angkasa Pura I dikhususkan bagi masyarakat yang sudah memiliki tiket penerbangan. Untuk harga layanan GeNose C-19 di bandara Angkasa Pura I akan diinformasikan kemudian menjelang penerapan GeNose C-19 di bandara pada 1 April 2021 mendatang.

Baca juga: Biar Nggak Bingung, Ini Bedanya Rapid Tes Antibodi, Rapid Tes Antigen dan Swab PCR

“Dengan adanya layanan GeNose C-19 nanti  di bandara, akan menambah pilihan layanan tes Covid-19 selain swab antigen dan PCR. Hal ini akan semakin memudahkan pengguna jasa bandara yang ingin melakukan perjalanan udara,” tambah Faik Fahmi.

Sukhoi Modifikasi SJ100 Jadi Jet Pribadi, Gegara Tak Laku?

Sukhoi dikabarkan akan mulai menggarap pelanggan VIP dan korporat. Pabrikan asal Rusia itu berencana masuk ke pasar jet pribadi melalui pesawat Superjet 100 atau SJ100 yang dimodifikasi. Langkah ini digadang imbas dari tidak lakunya pesawat yang terbang perdana pada 19 Mei 2008 di pasar pesawat penumpang.

Baca juga: Hari Ini! 7 Tahun Lalu Sukhoi SJ100 Jatuh di Gunung Salak

Dilansir Simple Flying, modifikasi pesawat yang cukup familiar di Indonesia lantaran pernah terlibat kecelakaan fatal akibat menabrak lereng Gunung Salak, Kabupaten Bogor, pada 9 Mei 2012 silam tersebut, akan mencakup beberapa hal.

Di sisi sayap, Sukhoi akan menambahkan wingtip berupa sharklets. Dari segi jangkauan, versi VIP dari SSJ100 ini akan lebih jauh dari kemampuan saat ini yang hanya mencapai 4.500 km. Selain itu, tangki bahan bakar juga akan ditingkatkan, ditambah kapasitas penumpang yang lebih sedikit.

Meskipun belum ada keterangan harga yang pasti untuk satu unit SSJ-VIP, tetapi para pejabat Rusia memastikan bahwa harganya akan lebih terjangkau dari pesawat-pesawat kompetitor. Namun, banyak spekulasi bahwa, harga Sukhoi SJ100 versi VIP mungkin akan sama atau lebih rendah sedikit dari harga Sukhoi SJ100 versi standar, yaitu US$50 juta.

Harga segitu sebetulnya bisa dibilang mahal bila dibanding jet pribadi lainnya, seperti Embraer Praetor 500 atau Legacy 500, yang hanya dibanderol sebesar US$ 16-18 juta. Sekalipun kapasitas penumpang jauh lebih sedikit, tetapi, jangkauannya mencapai 6.000 km. Tetapi, bila disandingkan dengan jet pribadi Airbus A220ACJ, tentu Sukhoi SJ100 versi VIP masih lebih murah.

Menteri Perdagangan dan Industri Rusia, Denis Manturov, mengungkapkan, SSJ-VIP saat ini sudah dilirik oleh perusahaan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Namun, pembicaraan lebih jauh baru dilaksanakan beberapa hari mendatang.

Modifikasi Sukhoi SJ100 menjadi SSJ-VIP tentu mengejutkan banyak pihak. Sebab, pesawat penumpang produksi pertama yang diproduksi di Rusia sejak runtuhnya Uni Soviet itu sudah kadung dikenal sebagai pesawat regional. Banyak pihak menduga bahwa Sukhoi terpaksa memasuki pasar bisnis jet pribadi lantaran pasar jet penumpang melempem. Tahun lalu, Sukhoi bahkan tak mendapat satu pun pesanan pesawat SJ100.

Sebetulnya, Sukhoi Superjet 100 memiliki pesanan jangka panjang dari maskapai penerbangan nasional dan terbesar di Rusia, Aeroflot. Maskapai itu diketahui telah menandatangani kontrak kerjasama pada tahun 2018 lalu untuk menyewa sekitar 100 Sukhoi Superjet 100 antara tahun 2019-2026.

Selain itu, maskapai yang didirikan pada tanggal 9 Februari 1923 atau sejak era Uni Soviet, itu seharusnya akan mendapat tambahan 17 pesawat Sukhoi Superjet 100 tahun ini, melengkapi barisan armada Sukhoi Superjet 100 yang sudah terlebih dahulu bergabung sebanyak 54 pesawat.

Baca juga: Antara Merpati Air, Kim Johanes Mulia dan Sukhoi SJ100

Sayangnya, entah apa yang terjadi, Reuters menyebut Sukhoi Superjet 100 tak memiliki satupun pesanan pesawat selama 2020. Mirisnya, maskapai penerbangan swasta terbesar di Rusia, S7, Utair, dan Ural Airlines mengaku juga tak berminat membeli pesawat buatan Sukhoi. Rumitnya perawatan serta keterlambatan pengadaan suku cadang jadi beberapa penyebab sepinya peminat.

Akan tetapi, Sukhoi menegaskan, masuknya perusahaan ke pasar pesawat jet pribadi lebih didasarkan pada tingginya permintaan di pasar tersebut. Sebab, di masa pandemi virus Corona seperti sekarang ini, miliarder dan triliuner di seluruh dunia memillih untuk terbang lebih aman menggunakan jet pribadi ketimbang terbang bersama maskapai paling mewah di kelas yang paling mewah.

Insinyur NASA: Helikopter Akan Gantikan Manusia Jelajahi Planet Mars

Rover robotika milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Perseverance, berhasil tiba di Planet Mars Jumat (19/2) waktu Indonesia. Tak hanya itu, NASA juga membawa helikopter mini bernama Ingenuity untuk melakukan penelitian.

Baca juga: Usai Kirim Foto Pertama dari Mars, Robot NASA Bakal Cetak Rekor Ini

Ingenuity nantinya akan mencatatkan rekor sebagai kendaraan dengan baling-baling pertama di dunia yang mengudara di planet lain.

Lebih penting dari sekedar rekor, Dr. Adams, insinyur sistem pesawat ruang angkasa untuk misi Dragonfly NASA ke Titan, bulan Planet Saturnus, berpandangan bahwa ke depan akan lebih banyak helikopter yang digunakan untuk penelitian di Mars, terlepas dari berhasil tidaknya helikopter Ingenuity melakukan penerbangan di Mars selama dua tahun ke depan.

Dilansir csmonitor.com, sebelum benar-benar bisa terbang dan resmi mencetak rekor, helikopter seberat 1,8 kg, tinggi 48 cm, dan bentang rotor mencapai 1,2 meter yang disembunyikan dalam ‘perut’ Perseverance ini, harus melewati sejumlah rintangan.

Mars diketahui memiliki atmosfer sekitar satu persen volume Bumi. Artinya, segala apapun yang ada di Mars mengalami tekanan yang jauh lebih sedikit daripada di Bumi. Gravitasi di Mars juga kira-kira sepertiga dari yang ada di Bumi.

Menyikapi tantangan tersebut, tim robotik Ingenuity telah menguji desain helikopter di Bumi ruang bertekanan khusus yang disimulasikan mirip lingkungan di Mars. Terkait masalah gravitasi, Ingenuity sudah dilengkapi tambatan ke bagian atas helikopter untuk mengurangi bobotnya. Selain itu, helikopter ini juga dibuat dengan bahan-bahan ringan serta rotor yang lebih panjang, rigid, dan berputar lebih cepat dari yang biasa dilakukan di bumi.

Ketika beroperasi, helikopter Ingenuity mengandalkan sistem navigasi optik. Kita tahu, Planet Mars belum memiliki jaringan satelit yang mengorbit sehingga mustahil untuk menghubungkan jaringan GPS Ingenuity.

Sistem navigasi optik berarti Ingenuity mengandalkan kamera canggih untuk mengambil gambar di sekeliling, mendeteksi, dan mengidentifikasi gambar-gambar tersebut sebagai sebuah data untuk mencapai tujuan programnya.

Tantangan lain adalah seberapa kuat helikopter Ingenuity bertahan di udara. Helikopter ini memang bisa menyerap tenaga dari sinar matahari atau dibekali dengan panel surya. Tetapi, berbeda dengan rover Perseverance, yang berada di daratan Mars, Ingenuity berada di udara dan butuh kekuatan lebih agar tetap bisa bertahan.

Saat ini, helikopter Ingenuity tengah bersiap untuk melakukan lima tes atau pengujian, dimana tiga di antaranya berkaitan dengan kemampuan penerbangan dan navigasi dasar. Adapun sisanya mendorong Ingenuity mencapai batas maksimalnya di Planet Mars untuk kepentingan pengembangan helikopter lainnya di masa mendatang.

Dr. Adams menyebut, berhasil atau tidaknya helikopter Ingenuity terbang serta dalam misi membantu rover Perseverance dalam mengumpulkan data dan mencari tanda-tanda kehidupan kuno di kawah Jezero Crater, yang dulu merupakan sebuah danau pada 3,9 miliar tahun silam, itu tidak akan jadi masalah.

Menurutnya, di masa mendatang, penelitian di Mars akan lebih banyak dihiasi oleh helikopter. Bahkan, bila teknologi yang ada masih cukup sulit untuk mengirim manusia pertama ke Mars, helikopter bisa menjadi pengganti manusia untuk mempelajari Planet Merah itu lebih jauh.

Baca juga: NASA Andalkan Roket Nuklir Kirim Manusia ke Mars di 2035

Pola akan hal itu sudah pernah terjadi di masa lalu. Pada tahun 1997, rover Sojourner milik NASA di bawah misi Mars Pathfinder berhasil menjelajah planet itu untuk pertama kalinya dalam sejarah. Ketika itu, rover Sojourner sebetulnya tidak terlalu bersinar. Sebab, Sojourner hanya melakukan perjalanan sekitar 100 meter.

Meski demikian, itu berhasil memantik penelitian lain untuk menjelajah Mars lebih jauh, melebihi capaian rover Sojourner, sampai detik ini.

Inilah Grand Central Terminal, Stasiun Kereta Terbesar di Dunia, Punya 67 Line!

Anak kereta (Anker) relasi Jakarta-Bogor, Bogor-Tanah Abang, ataupun relasi lainnya pasti kereta yang ditumpangi seringkali tertahan sinyal masuk Stasiun Manggarai. Begitu juga dengan sinyal masuk Stasiun Jakarta Kota.

Baca juga: Miniatur “Grand Central Station” Dirusak, Rod Stewart Berikan Donasi 10 Ribu Poundsterling

Padahal keduanya sekilas tampak memiliki cukup banyak platform, line, atau jalur dimana Stasiun Manggarai memiliki sembilan dan tengah dikembangkan menjadi 14 jalur serta Jakarta Kota memiliki 12 jalur.

Akan tetapi, keduanya tentu belum seberapa bila dibanding stasiun tersibuk di dunia, Stasiun Shinjuku, Tokyo, Jepang, yang melayani 3,6 juta orang melewati stasiun setiap hari, ataupun dibanding dengan Stasiun Gare du Nord, Paris, Perancis, yang melayani sekitar 214 juta penumpang pertahun. Dengan jumlah penumpang sebanyak itu, dua stasiun tersebut memiliki masing-masing 35 dan 36 platform. Cukup banyak, bukan?

Ilustrasi kesibukan di peron Stasiun Terbesar di Dunia, Grand Central Terminal. Foto: Getty Images

Hanya saja, dari segi jumlah platform terbanyak, salah satu dari keduanya tidak menempati urutan pertama. Justru Stasiun Grand Central Terminal-lah juaranya. Stasiun yang berada di Midtown Manhattan, New York City, Amerika Serikat (AS), diketahui memiliki total platform sebanyak 67, dimana 41 platform berada di tingkat atas dan sisanya 26 platform di tingkat bawah. Seluruhnya berada di bawah tanah.

Jumlah tersebut pun diakui oleh Guinness Book of World Records sebagai stasiun terbesar di dunia berdasarkan total platform.

Dilansir guinnessworldrecords.com, Stasiun Grand Central Terminal dibangun sejak tahun 1879. Setelah itu, pada 2 Februari 1913, Grand Central Terminal di New York dibuka untuk pertama kalinya dibuka setelah direnovasi selama hampir 10 tahun dari 1903.

Stasiun Grand Central Terminal juga memiliki jam Tifany terbesar di dunia. Foto: Shutterstock

Sejak dibuka kembali pada 1913, stasiun ini resmi berganti nama menjadi Grand Central Terminal dari sebelumnya Grand Central Station. Alasannya, dahulu Grand Central Station adalah nama sebuah kantor pos di dekat stasiun. Di samping itu, nama itu juga identik dengan operasional kereta api.

Dikarenakan kereta api sudah digantikan dengan kereta listrik, dan sang insinyur stasiun tersebut, Cornelius Vanderbilt, ingin menjadikan Grand Central sebagai landmark, menyaingi Penn Station sebagai pintu gerbang megang ke jantung negara yang berkembang pesat saat dunia sekitarnya semakin saling terhubung, akhirnya nama stasiun pun diubah untuk membawa semangat baru.

Dengan menghabiskan dana sekitar US$ 4 miliar, sangat besar untuk ukuran kala itu, cita-cita Vanderbilt untuk menjadikan Stasiun Grand Central Terminal sebagai landmark Kota New York pun terwujud.

Selain karena kemegahan dan keindahan arsitekturnya (bahkan disandingkan dengan Stasiun Antwerpen-Centraal di Belgia sebagai salah satu stasiun terindah di dunia), stasiun ini tentu saja dicintai karena statusnya sebagai stasiun terbesar di dunia berdasarkan jumlah platform serta memiliki jam Tiffany terbesar di dunia.

Grand Central Terminal. Foto: Shutterstock

Tak cukup sampai di situ, stasiun ini juga sangat dicintai warga Kota New York dan warga AS pada umumnya juga karena bersejarah.

Baca juga: Inilah Stasiun Jeongdongjin, Stasiun Kereta Paling Dekat dengan Laut di Dunia

Disebutkan, stasiun yang berdiri di lahan seluas 19 hektar ini memiliki platform rahasia di bawah hotel Waldorf Astoria, di sebelah Stasiun Grand Central Terminal. Tak disebutkan dengan jelas berapa jumlah platform rahasia itu. Tetapi, platform rahasia itu diyakini dibuat khusus untuk Presiden Franklin D. Roosevelt untuk meninggalkan hotel (setelah memberikan pidato) tanpa diketahui publik.

Meskipun saat ini platform tersebut tidak lagi aktif digunakan secara reguler, tetapi, pihak pengelola stasiun tetap merawatnya, selain dijadikan sebagai gudang serta loading barang oleh pihak pengelola hotel.

NTSB Sebut Metal Fatigue Jadi Penyebab Mesin Boeing 777 United Airlines Terbakar

Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) menyebut penyebab kerusakan berujung mesin pesawat Boeing 777 United Airlines terbakar dan meledak saat di udara adalah metal fatigue. Setidaknya itulah laporan awal KNKT-nya Negeri Paman Sam itu.

Baca juga: Berkaca dari Insiden Boeing 777 United Airlines, Inilah Perbedaan Kegagalan Mesin Terkendali dan Tidak?

Pesawat jet Boeing 777 United Airlines yang diusung mesin seri Pratt & Whitney PE4000 mengalami kerusakan mesin dan menyebabkan mesin terbakar dan meledak di udara, tak lama setelah lepas landas dari Denver menuju Honolulu Sabtu kemarin. Seorang penumpang merekam saat mesin tersebut mengobarkan api.

Video detik-detik mesin pesawat tersebut terbakar dan puing-puingnya beterbangan pun viral. Puing-puing pelindung mesin diketahui berjatuhan di pemukiman warga dekat Denver.

Meskipun nampak seperti akibat dari kegagalan mesin, namun, laporan awal NTSB baru-baru ini menyebut bahwa kebakaran mesin Boeing 777 United Airlines lebih disebabkan oleh metal fatigue atau kelelahan (kehausan) logam.

Kesimpulan awal ini berdasarkan investigasi pada black box flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR) pesawat tersebut.

“Ada kerusakan ringan pada badan pesawat tetapi tidak ada kerusakan struktural,” kata ketua NTSB, Robert Sumwalt, seperti dilaporkan Reuters. Menariknya, sumber agency media kenamaan yang sudah berusia 170 tahun itu menyebut, kendati mesinnya dibuat oleh Pratt & Whitney, namun, casingnya dibuat oleh Boeing. Ini menjadi salah satu temuan penting NTSB dalam penyelidikan ini.

“NTSB akan melihat mengapa penutup mesin terpisah dari pesawat serta mengapa ada kebakaran meski ada indikasi bahan bakar ke mesin telah dimatikan,” jelas Sumwalt.

Hanya saja, ia belum bisa memastikan apakah metal fatigue PW4000 yang terbakar dan meledak pada Sabtu memiliki kesamaan dengan kasus serupa yang juga dialami United Airlines pada 2018 silam.

“Yang penting kita benar-benar memahami fakta, keadaan, dan kondisi di sekitar peristiwa khusus ini sebelum kita dapat membandingkannya dengan peristiwa lain,” tambahnya.

Selain fokus pada data-data black box dan casing mesin yang dibuat oleh Boeing, bukan oleh Pratt & Whitney selaku produsen mesin, NTSB juga akan memfokuskan penyelidikan pada bilah mesin pesawat. Hal itu berkaca pada insiden tahun lalu.

Sebelumnya, pesawat Boeing 777 milik Japan Airlines (JAL) yang juga menggunakan mesin PW4000 mengalami kerusakan pada Desember 2020. Badan Keselamatan Transportasi Jepang melaporkan dua bilah kipas rusak, salah satunya retak akibat kelelahan logam atau metal fatigue.

Baca juga: Apa Saja yang Bisa Bikin Mesin Pesawat Mati? Simak Jawabannya di Sini!

Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) mengatakan pihaknya akan mempelajari laporan kerusakan bilah kipas Boeing 777 yang terjadi di Jepang sebagai pembanding.

Meski terkesan mengalami kerusakan parah sampai mesin terbakar, meledak, dan puing-puingnya berjatuhan ke pemukiman warga, namun, NTSB menyebut bahwa insiden itu masih tergolong pada kerusakan mesin terkendali.

Berkaca dari Insiden Boeing 777 United Airlines, Inilah Perbedaan Kegagalan Mesin Terkendali dan Tidak?

Mesin pesawat Boeing 777-200 United Airlines terbakar dan meledak saat di udara. Tak hanya itu, puing-puing mesin tersebut juga jatuh ke pemukiman warga. Beruntung tak sampai ada korban jiwa dalam insiden ini, entah itu akibat kecelakaan pesawat sebagai buntut dari kerusakan mesin maupun akibat puing-puing itu sendiri.

Baca juga: Inilah Perbedaan Airlines dan Airways di Dunia Penerbangan

Sebelum mulai beroperasi dan mengangkut penumpang, pesawat terlebih dahulu harus melalui serangkaian tes rumit untuk mendapatkan sertifikasi laik terbang. Di antaranya ialah sertifikasi Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS).

Di sini, pesawat disimulasikan dalam keadaan darurat, dimana salah satu dari dua mesinnya rusak. Dalam keadaan seperti itu, pesawat dituntut untuk tetap bisa terbang. Adapun durasi terbangnya cukup beragam, bergantung pada kemampuan pesawat itu sendiri.

Pada Februari dua tahun lalu, misalnya, pesawat A330-900 berhasil lulus tes sertifikasi ETOPS 285 menit oleh European Aviation Safety Agency (EASA). Itu berarti, pesawat sudah teruji mampu terbang selama empat jam 45 menit (285 menit) hanya dengan menggunakan satu mesin saja. Dengan begitu, pesawat bisa mencari bandara terdekat untuk melakukan pendaratan.

Dikarenakan pesawat Boeing 777-200 United Airlines -yang belum lama ini mesin sebelah kanannya terbakar- juga pernah melewati uji sertifikasi ETOPS, tentu pesawat ini masih dimungkinkan untuk mendarat dengan selamat. Itulah jawaban mengapa insiden yang kemarin terjadi tidak berujung pada hilangnya 231 penumpang dan 10 awak yang menumpangi pesawat tersebut.

Dilihat dari jenisnya, kebakaran mesin atau biasa juga disebut kegagalan mesin (engine failure) ada dua; terkendali dan tidak terkendali.

Dikutip dari Simple Flying, menurut Skybrary, kegagalan mesin terkendali bisa dibilang tidak sampai menyebabkan komponen-komponen mesin lepas dan puing-puingnya jatuh tanpa terkendali sehingga membahayakan orang-orang di darat.

Terbayang bukan, bila puing-puing mesin membentur badan atau bagian lain pesawat, yang notabene kabinnya bertekanan, bisa saja membuat lubang, terjadi dekompresi eksplosif, serta membuat pesawat kehilangan ketinggian.

Poinnya, kegalalan mesin terkendali tidak membahayakan penerbangan dan orang-orang yang berada di darat karena komponen mesin tidak lepas secara sporadis.

Berbeda dengan kegagalan mesin terkendali, kegagalan mesin tidak terkendali kondisinya jauh lebih rumit. Komponen-komponen mesin lepas dan jatuh ke daratan. Selain itu, komponen yang lepas secara sporadis juga masih dimungkinkan untuk membentur badan pesawat sehingga membayakan penerbangan.

Baca juga: 7 Persamaan dan Perbedaan First Class dengan Business Class

Pada kegagalan mesin tidak terkendali, biasanya disebabkan oleh banyak komponen sehingga kondisinya tidak terkendali.

“Kegagalan mesin yang tidak terkendali kemungkinan besar akan menjadi berbahaya, dan bisa jauh lebih serius karena puing-puing mesin bertebaran dengan kecepatan tinggi ke arah lain, menimbulkan potensi bahaya pada struktur pesawat bertekanan, mesin yang berdekatan, sistem kontrol, dan mungkin (menimbulkan bahaya) langsung ke penumpang pesawat,” tulis Skybrary.

Inilah Bandara Yakutsk, Bandara dengan Suhu Terdingin di Bumi

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa wilayah atau kota terdingin di bumi adalah kota-kota di Alaska, Greenland, Kanada (Arktik), ataupun Antartika. Meski masih terdapat banyak perdebatan, namun, banyak sumber menyebut bahwa kota dengan suhu paling dingin di bumi adalah Yakutsk, ibu kota dari Sakha Republik, Rusia.

Baca juga: Unik! Qamdo Bangda Airport Punya Runway Terpanjang di Dunia dengan Cuaca Ekstrem Hampir Sepanjang Tahun

Kota ini termasuk salah satu dari tiga kota di Rusia yang ada pada zona permafrost, atau area paling dingin di dunia atau di muka bumi, bersama Norilsk dan Krasnoyarsk.

Sebetulnya, Yakutsk, secara geografi, masih bisa dikalahkan oleh wilayah-wilayah paling utara atau yang berada di cilce kutub Utara atau Arktik. Sebab, kota ini terletak kurang lebih 280 mil dari Arctic Circle. Namun, faktanya, Yakutsk memiliki suhu musim dingin paling buruk -64 derajat Celsius sepanjang musim. Karena itu, kota Yakutsk dimanfaatkan pemerintah sebagai destinasi unik di Rusia untuk orang-orang yang ingin menikmati bagaimana rasanya hidup di zaman es.

Gambaran Bandara Yakutsk saat di musim dingin. Foto: AskYakutsk.com



Saking dinginnya, kota ini bukan hanya terkenal sebagai kota es, namun di kalangan ilmuan, dalam hal ini ilmuan penerbangan di Boeing, juga terkenal sebagai kota yang menantang untuk menguji kekuatan pesawat dan mesin pesawat dalam melawan simulasi terbang, mendarat, dan lepas landas di tengah cuaca dingin ekstrem.

Di kalangan traveler, Permafrost Kingdom Ice Museum mungkin sangat dikenal di Yakutsk, namun, tetap saja, sebelum sampai ke sana, traveler harus berkenalan terlebih dahulu dengan Bandara International Yakutsk.

Dilansir Routes Online, bandara ini pertama kali dibangun pada tahun 1931 dan terminal yang saat ini ada dibangun pada tahun 1996. Seiring tingginya minat wisatawan mancanegara dalam mencicipi suhu ekstrem dan terdingin di muka bumi, bandara yang merupakan hub sembilan maskapai, di antaranya Aeroflot, S7, Yakutia, Polar Airlines, dan Alrosa ini harus menambah terminal baru. Namun tidak demikian dengan runway-nya yang masih hanya satu.

Jarak pandang sangat minim kala musim dingin. Foto: AskYakutsk.com



Meski demikian, bandara ini tergolong cukup luas dengan ketersediaan parking stand di apron bandara mencapai 38 pesawat plus empat helikopter. Di samping itu, dengan berbekal runway kelas satu yaitu 3400 x 60m, Bandara International Yakutsk juga bisa didarati pesawat widebody tanpa batasan berat lepas landas ataupun penerbangan malam karena pencahayaan yang bagus dan berstandar interasional.

Baca juga: Bandara Tribhuvan Kathmandu, Salah Satu Bandara Terburuk di Dunia

Meski terletak jauhTimur Jauh Rusia, bandara ini memiliki konektivitas tinggi, dimana ada 35 rute direct flight atau rute langsung dari bandara ini ke kota-kota besar di Rusia, termasuk Moskow.

Selain itu, bandara yang juga menangani penerbangan penumpang, kargo, dan pos udara ini juga melayani penerbangan direct flight internasional dari beberapa negara federasi Rusia. Menariknya, sekalipun sangat berisiko tinggi untuk pesawat mendarat dan lepas landas di sini, belum pernah terjadi satupun kecelakaan fatal yang menimbulkan korban jiwa.

Harga Minyak Dunia Naik, Avtur Ikut Naik, Maskapai Penerbangan Makin Tercekik!

Industri penerbangan sangat terpukul akibat pandemi virus Corona yang tak kunjung usai. Bak jatuh tertimpa tangga, belum lama ini, harga minyak dunia terkoreksi naik satu persen dan diperkirakan akan terus naik mengingat produksi terhambat lantaran diterjang gelombang dingin ekstrem di Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Campur Biofuel dan Avtur, United Airlines Sukses Layani Penerbangan Trans-Atlantik Terlama!

Kenaikan itu tentu saja menyeret Avtur untuk juga ikut naik dan mencapai harga tertinggi sejak 13 bulan terakhir. Muara dari itu, sudah pasti, industri penerbangan, dalam hal ini maskapai penerbangan, akan dibuat pusing.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pada tahun 2018 silam pernah memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037. Sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.

Diperkirakan, paling cepat, jumlah penumpang akan kembali ke titik itu pada 2024 mendatang, dimana penerbangan domestik akan lebih dahulu kembali normal dibanding penerbangan internasional.

Kondisi tersebut tentu saja memukul kinerja keuangan maskapai. Andai tak ada langkah strategis dari pemerintah di seluruh dunia, bukan tak mungkin akan ada banyak maskapai bangkrut.

Sampai akhir Desember 2020 lalu, laporan allplane.tv, sudah ada 30 maskapai bangkrut. Laporan CNBC International bahkan lebih besar, dimana 40 maskapai di seluruh dunia dinyatakan bangkrut. Angka itu pasti akan bertambah seiring ketidakjelasan masa depan penerbangan global.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sendiri akhir Desember lalu memprediksi maskapai penerbangan global bakal merugi hingga US$157 miliar atau sekitar Rp2.219 triliun lebih (kurs Rp14.135) sepanjang 2020 dan 2021. Parahnya lagi, perkiraan itu ialah hitungan kasar dan bisa jadi jauh lebih buruk.

Kendati traffic penumpang sudah mulai meningkat seiring vaksinasi massal di seluruh dunia, tetapi, angkanya masih belum cukup untuk membuat keuangan maskapai kembali sehat. Hanya saja, belum juga bernapas lega karena traffic penumpang berangsur pulih, maskapai harus menelan kenyataan pahit, yaitu harga minyak dunia naik.

Dilansir oilprice.com, harga aviation turbine fuel (Avtur) bahkan mencapai yang tertinggi sejak 13 bulan belakangan pada pekan lalu imbas dari kenaikan harga minyak dunia.

Baca juga: Bukan Cuma Corona, Krisis Minyak Tahun 1973 Juga Bikin Industri Penerbangan Global Rugi Besar

Disebutkan, kendati permintaan Avtur turun lantaran pergerakan pesawat menurun, lantas bukan berarti harga Avtur ikut turun mengikuti supply and demand. Harga Avtur tetap mengikuti harga minyak dunia. Itulah mengapa bahan bakar pesawat ini ikut naik ketika minyak dunia merangkak naik.

Minyak dunia merangkak naik diketahui akibat serangan gelombang dingin Arktik yang melanda sebagian wilayah agak hangat di AS. Gelombang dingin ini pun menyebabkan gangguan dalam skala besar dalam proses produksi dan penyulingan karena terjadi instalasi dan minyak membeku. Pemadaman listrik pun melengkapinya menjadi sebuah bencana besar bagi maskapai penerbangan dan tentu saja industri lain.