Flying Cloud 30FB Gantikan Trailer Jadi Tempat Kerja Baru Selama Pandemi

Pandemi membuat banyak perubahan bagi para pekerja yang dulunya bekerja di dalam ruangan kantor kini berubah jadi di rumah. Namun, ternyata hal ini pun membuat bosan dan banyak yang bekerja di luar seperti hotel, villa atau berbagai tempat lainnya tanpa adanya kerumumnan.

Baca juga: “Workcation,” Pilihan Para Pekerja di Jepang Selama Pandemi

Bukan hanya hotel atau villa, perusahaan trailer kemping Airstream juga mengambil kesempatan. Di mana Airstream menghadirkan kemping aluminium mengkilapnya atau aluminium peluru perak. Trailer kemping ini bernama Airstream Flying Cloud 30FB baru menawarkan kantor sudut literal.

Bagian dalam Trailer Airstream Flying Cloud 30FB (newatlas.com)

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber newatlas.com (4/2/2021), untuk memudahkan seseorang yang menggunakan trailer kemping ini, Airstream menghilangkan area tidur di belakang Flying Cloud di samping toilet dan mengubahnya menjadi ruang kerja kantor dengan meja kecil seperti yang terlihat di asrama. Kursi kantor yang dirancang agar pas dengan alur tersembunyi di meja dan kemudian diamankan dengan tali.

Selain itu ada meja tarik untuk lebih banyak ruang kerja dan gelap. Ada juga laci geser dan kumpulan kubus untuk penyimpanan serta mejadi dengan dua grommet untuk mengamankan kabel atau memasang monitor. Lebih banyak penyimpanan dapat ditemukan di lemari di atas kepala yang dilengkapi papan penghapus kerin dan lampu LED yang dipasang di bawah.

Di meja juga dilengkapi dengan stopkontak USB atau AC pop-up yang dialiri oleh inverter daya 1.000 W kendaraan. Kantor juga dapat menghubungkan ke outlet TV satelit / HDMI dari pemutar DVD Blu-ray onboard. Untuk konferensi video, tiga jendela besar memiliki layar gelap dan kantor memiliki pembagi privasi peredam suara.

Saat tidak digunakan, ruangan dapat diubah menjadi area tidur satu orang. Selain itu trailer ini juga mampu menampung enam orang penumpang di Flying Cloud 30FB dengan tempat tidur queen, bangku dan meja makan yang dapat diubah. Fasilitas lainnya termasuk Airstream Connected untuk memperluas jangkauan Wi-Fi lokal, dan pilihan termasuk Airstream Power Plus dengan baterai lithium-ion, dan paket tenaga surya.

“Kami tahu bahwa lanskap kerja akan selamanya berubah oleh pandemi. Penawaran baru ini mencerminkan komitmen kami untuk gesit dan bereaksi terhadap kebutuhan pelanggan saat ini dan di masa depan. Kami belajar banyak – tidak hanya tentang perlunya konektivitas dan opsi untuk peningkatan daya, tetapi tentang kegembiraan saat menutup laptop Anda dan melangkah keluar. Mereka menemukan transisi yang mulus antara bekerja dan bermain dan bepergian, dan kami ingin menemukan cara untuk menghadirkan kebebasan unik dari pekerjaan ini dari mana pun gaya hidup ke komunitas, serta ke pemirsa baru,” kata Bob Wheeler, Presiden dan CEO Airstream.

Baca juga: Bosen WFH, Cobain Nih Caravan NV350, Konsep Kantor ‘Berjalan’ Ala Nissan

Trailer perjalanan memiliki berat sekitar 6.800 pound dan harganya $ 107.500. Mungkin perlu beberapa saat untuk mendapatkannya. Penjualan kendaraan rekreasi dan trailer perjalanan meroket selama pandemi karena para pelancong menghindari perjalanan udara dan hotel. Situs web Airstream menampilkan peringatan yang menonjol bahwa “Karena permintaan yang tinggi, waktu tunggu untuk produk baru lebih lama dari biasanya.”

Dikira ‘Fake Taxi’ untuk Film Porno, Seorang TikToker Buat Video Penjelasan

TikTok saat ini menjadi salah satu media sosial yang banyak membagikan video penggunanya. Media sosial ini kemudian digunakan oleh seorang TikToker yang tengah berjalan-jalan dan temannya melihat sebuah taksi hitam dari kejauhan dengan tulisan Taksi Palsu atau Fake Taxi DIY di bodi mobil tersebut.

Baca Juga: Mobil Masuk Rel Kereta Demi TikTok, Pejabat Kereta: Pelaku Pembuat Video Harus Dibawa ke Pengadilan

Josh Mollison (@joshuamollison) kemudian merekam video perjalanannya yang tidak biasa dan mengunggahnya secara online. Video unggahannya tersebut dilihat lebih dari 2,3 juta kali. KabarPenumpang.com melansir dari laman ladbible.com (4/2/2021), karena viralnya video Fake Taxi tersebut, ternyata dia dihubungi oleh pemilik taksi.

Josh mengatakan, ini mungkin tidak mengejutkan dan ternyata yang menghubunginya bukan Big John melainkan seorang pria bernama Dave.

“Saya dan teman saya sedang berjalan-jalan, dan dia melihat ‘Fake Taxi’. Kemudian kami benar-benar merekamnya dan memukulnya di TikTok, dan terus berjalan dan tidak memikirkannya. Setelah beberapa jam, itu mulai menjadi viral dan saya mendapat pesan dari wanita ini yang mengatakan bahwa itu adalah taksi pasangannya,” kata Josh.

Josh mengatakan, pemiliknya menjelaskan padanya bahwa ia baru saja membeli taksi beberapa tahun yang lalu dan itu bukan Fake Taxi, hanya saja taksi yang karena alasan tertentu dibeli kakeknya dengan merek di atasnya.

“Dia membelinya karena hampir tertawa, aku tidak tahu kenapa. Dan jelas dia baru saja memarkirnya di sana. Dia sebenarnya mencoba menjualnya dengan cukup lucu, mencoba menyingkirkannya,” ujar Josh lagi.

Setelah dirinya dihubungi oleh pemilik taksi melalui media sosial, mereka bertanya pada Josh apakah ingin datang melihat taksi tersebut untuk merekam bagian kedua dan diunggah ke TikToknya.

Setelah pemiliknya menghubungi melalui media sosial, mereka bertanya apakah Josh ingin datang untuk melihat taksi buatan penggemar untuk merekam bagian kedua kisah Fake Taxi itu ke TikTok. Sayangnya video asli yang pertama benar-benar dihapus, tetapi setelah mengajukan banding untuk dihapus, Josh berhasil mendapatkan klip itu kembali online.

Sementara klip pertama offline, beberapa orang hanya melihat screengrabs dari video di internet, tidak menyadari bahwa itu bukanlah Fake Taxi yang sebenarnya dan beberapa orang bahkan secara keliru mengira Josh secara tidak sengaja menemukan syuting film porno.

Namun dalam video TikTok keduanya, Josh menjelaskan bagaimana mobil itu sebenarnya milik seorang pria bernama Dave, mengajak pengikutnya berkeliling di sekitar taksi.

Baca juga: Pramugari ini Bikin Video TikTok Tentang ‘Kotornya’ Air Panas di Dalam Kabin

“Kami bertemu kemarin dan saya memasang bagian kedua, dan pada dasarnya saya menekan ketidakpercayaan bahwa itu adalah Fake Taxi yang asli dengan mengatakan bahwa itu bukan kakek Big John, hanya orang bernama Dave yang membeli taksi. Saya menunjukkan orang-orang di sekitar taksi. Dan hanya itu,” ungkap Josh.

Teknologi Low-Floor Mudahkan Penumpang Difabel Naik Bus

Sebagai salah satu sarana transportasi umum, bus harus memberikan pelayanan yang optimal kepada para penumpangnya, tentu saja tanpa memandang umur, suku bangsa, maupun kondisi fisik. Dulu, penyandang cacat dan orang tua agak kesulitan untuk menaiki bus ini karena pijakan dari trotoar ke badan bus terlalu tinggi, namun seiring berjalannya waktu, sudah banyak perusahaan bus yang menawarkan kemudahan untuk para penumpangnya.

Baca juga: Dilema Penyandang Disabilitas di Transportasi Publik

Hadirnya Low-Floor Bus di beberapa Negara tentu membawa dampak positif bagi masyarakatnya. Sesuai dengan namanya, Low-Floor Bus berbentuk layaknya bus pada umumnya, namun memiliki badan bus yang rendah atau “ceper” sehingga memudahkan penumpang untuk masuk ke dalam. Walaupun badan bus tetap lebih tinggi dari trotoar, tapi pijakannya tidak setinggi bus normal. Keberadaan bus ini tentunya lebih memudahkan untuk kaum penyandang cacat maupun orang tua untuk naik.

Bagian dalam bus di desain sedemikian rupa sehingga penggunaan deck yang rendah tidak mengganggu kinerja mesin yang tersimpan di bagian bawah bus. Di bagian dalam bus ini juga agak sedikit berbeda, karena ada kursi yang bisa dilipat apabila ada yang menggunakan kursi roda.

Sumber: orientalmodelbuses.com
Sumber: orientalmodelbuses.com

Secara teknis, bus ceper ini terbagi menjadi 2 jenis, fully low-floor bus dan low-entry bus. Fully Low-Floor Bus yang populer di Eropa memiliki lantai yang ceper pada seluruh bagian bus, sedangkan Low-Entry Bus memiliki bagian ceper pada bagian tengah sampai depan bus, sedangkan dari bagian tengah ke belakang posisinya lebih tinggi dari bagian depannya. Tapi secara keseluruhan, masyarakat awam menyebutnya dengan Low-Floor Bus karena tidak memiliki pijakan yang tinggi pada pintu masuknya.

Adapun alasan mengapa Low-Entry Bus lebih unggul daripada Fully Low-Floor Bus karena ada bagian yang bisa digunakan untuk menyimpan powertrain dan perlengkapan penunjang lainnya, yaitu pada bagian belakang yang sedikit lebih tinggi dari bagian depan.

Kebanyakan produsen bus merancang bus ini menggunakan sistem rear-engined rear-wheel dengan suspensi tunggal di bagian depan. Beberapa Low-Floor Bus juga memiliki poros roda belakang yang diturunkan, namun tidak pada Low-Entry Bus. Kekurangan dari bus ceper ini adalah bagian roda yang menonjol ke bagian dalam bus, karena dengan adanya bagian ini, maka ruang kosong dimana roda menonjol tersebut sebenarnya bisa dijadikan kursi.

sumber: prenticeofhaddington.info
sumber: prenticeofhaddington.info

Ada beberapa Negara di dunia yang menggunakan bus ini sebagai salah satu sarana transportasinya, contohnya Inggris, Dennis Dart Super Low-Floor (SLF) pertama kali dikenalkan pada tahun 1995 dan berkembang pesat karena sering hilir mudik di jalur-jalur sibuk di Inggris. Selain itu ada juga Optare Solo yang pertama kali beroperasi pada tahun 1998 dan memiliki bentuk lebih kecil dari Dennis Dart SLF. Lalu muncullah Dennis Trident 2 dan Volvo B7TL yang merupakan bus tingkat versi ceper.

Baca juga: Tekan Emisi Karbon, di Perth Dibangun Halte Bus Dengan Motion Sensor

Selain di Inggris, India juga mengaplikasikan bus ceper sebagai salah satu sarana transportasinya. Beberapa kota seperti Bengaluru, New Delhi, Kolkata, dan Jaipur tercatat menggunakan bus ceper ini. Di Bengaluru menggunakan mesin jenis Volvo 8400 LE Low-Floor Bus dan beberapa fitur-fitur pelengkap lainnya, seperti AC, jembatan kursi roda, dan menggunakan transisi otomatis. Bus ini juga dilengkapi dengan LED yang menunjukkan informasi mengenai halte selanjutnya.

Hampir serupa dengan di Bengaluru, di New Delhi bus ceper ini juga dilengkapi dengan AC dan rencananya bus ceper di sini akan dilengkapi dengan GPS agar penumpang yang sedang menunggu di halte dapat mengetahui posisi dari bus tersebut. Pada tahun 2010, pemerintah Delhi mendatangkan 6.600 Low-Floor Bus guna menunjang sarana untuk Commonwealth Games 2010.

Sedangkan di Australia, pengoperasian bus normal dan bus ceper hampir berimbang, namun penggunaan Low-Floor Bus lebih diperuntukan pada orang-orang yang menggunakan kursi roda. Bus ceper di Negeri Kangguru ini dikendalikan oleh Metrobus Sydney.

Ketika Rekor Balon Udara Keliling Dunia Harus Pupus Gegara Cina Tak Izinkan Melintasi Negaranya

Pada hari ini, 23 tahun lalu, bertepatan dengan Jumat, 6 Februari 1998, upaya Bertrand Piccard, pilot dan navigator Belgia Wim Verstraeten dan insinyur penerbangan Inggris Andrew Elson, untuk mencetak rekor keliling dunia menggunakan balon udara harus pupus. Bukan karena masalah teknis pada balon udara Breitling Orbiter II yang ditumpanginya, melainkan tim tidak diizinkan melintasi ruang udara Cina.

Baca juga: Hari Ini, 237 Tahun Lalu, Paris Jadi Saksi Manusia Pertama yang Berhasil Terbang dengan Balon Udara

Dikutip dari bertrandpiccard.com, upaya pertama untuk memecahkan rekor dunia keliling dengan balon udara dimulai pada 12 Januari 1997. Saat itu, penerbangan ditargetkan mencapai 15 hari menggunakan balon udara Breitling Orbiter I. Sayang, akibat kebocoran bahan bakar membuat tim terpaksa mendarat darurat di Mediterania.

Setelah balon udara Breitling Orbiter II selesai dibuat oleh Cameron Balloons, dari Bristol, Inggris, tim, yang terdiri dari Bertrand Piccard, pilot dan navigator Belgia Wim Verstraeten, dan insinyur penerbangan Inggris Andrew Elson, kembali berangkat pada 6 Februari 1998.

Hanya saja, ketiganya memulai penerbangan balon udara dengan agak risau. Sebab, saat perjalanan memecahkan rekor keliling dunia menggunakan balon udara pertama dan terlama di dunia dimulai dari Swiss, otoritas Cina, yang negaranya masuk dalam rute Breitling Orbiter II, belum mengizinkan penerbangan tersebut. Padahal, negara-negara Eropa, khususnya Swiss, Inggris, dan Belgia sudah mendesak Negeri Panda untuk mengizinkannya.

Sambil menunggu pemerintah Cina berubah pikiran, balon udara terus melaju melewati Italia, Perancis, Monako, Spanyol, Maroko, Mauritania, Mali, Aljazair, Sudan, Arab Saudi, Yaman, Oman, India, Bangladesh, dan Myanmar di ketinggian rata-rata sekitar 11 ribu meter.

Balon udara Breitling Orbiter III usai berhasil mencetak tujuh rekor dunia, disimpan di Smithsonian National Museum of Natural History, AS. Foto: National Air and Space Museum | – Smithsonian Institution

Saat di Myanmar, tim belum juga mendapat izin dari pemerintah Cina. Laporan Associated Press, Cina berdalih bahwa mereka tidak ingin mengambil risiko. Sebab, wilayah yang akan dilewati Breitling Orbiter II tidak terpantau mutlak Beijing. Alhasil, bila terjadi apa-apa, mereka tidak bisa memberikan pertolongan.

“Seluruh wilayah barat daya adalah dataran tinggi, hampir tak berpenghuni. Tidak terjangkau oleh sistem radar kami. Dan jika kami mengeluarkan izin, itu adalah kewajiban kami untuk memastikan keselamatan mereka dan kami tidak dapat memberikan bantuan jika mereka jatuh di daerah tersebut, jadi pada dasarnya kami tidak dapat menawarkan jaminan apa pun,” kata Asosiasi Balon Udara Cina, mengutip keterangan Beijing.

Sebetulnya, ada opsi memutar, entah itu via Selatan atau Utara. Namun, Bertrand Piccard, Wim Verstraeten, dan Andrew Elson sepakat tidak melanjutkan perjalanan dan mendaratkan balon udara hidrogen itu di Myanmar. Target keliling dunia 14 hari menggunakan balon udara pun pupus dan hanya ditutup dengan penerbangan sejauh 437 kilometer melintasi Eropa, Timur Tengah, dan Asia selama sembilan hari dan 17 jam atau 233 jam dan 55 menit.

Akan tetapi, Itu tetap mengantarkan ketiganya dan Breitling Orbiter II mencetak rekor penerbangan non-stop terlama dan kendaraan yang terbang tanpa mengisi bahan bakar terlama.

Pada 1 Maret 1999, Bertrand Piccard, yang terobsesi dari kakeknya (Auguste Piccard, orang pertama yang berhasil mencapai stratosfer dengan balon udara) dan ayahnya (Jacques, orang pertama yang berhasil mencapai palung mariana), kembali menerbangkan Breitling Orbiter III bersama Brian Jones, asal Inggris.

Baca juga: Wow, Naik Balon Udara Sekarang Bisa Sampai Luar Angkasa, Tarifnya Cuma Rp1,7 Miliar

Keduanya pun berhasil mengukir tujuh rekor dunia, salah satunya penerbangan balon udara keliling dunia terlama mencapai total 19 hari, 21 jam, 47 menit (477 jam 47 menit), melintasi Swiss, Italia, Perancis, Monako, Spanyol, Maroko, Mauritania, Mali, Aljazair, Sudan, Arab Saudi, Yaman, Oman, India, Bangladesh, Myanmar, Cina, Taiwan, Jepang, Meksiko, Guatemala, Belize, Honduras, Jamaika, Haiti, Republik Dominika, Puerto Rico, Mauritania, Mali, Aljazair, Libia, dan mendarat di Dakhla, Mesir pada 21 Maret 1999.

Selama di dalam balon udara, baik itu Breitling Orbiter I, II, dan III, tim tetap bisa tidur, makan dan minum serta buang air kecil dan besar. Balon udara itu nyatanya menyediakan toilet canggih berukuran mini.

Korean Air Batalkan Program Flight to Nowhere, Gegara Covid-19?

Korean Air akhirnya membatalkan program flight to nowhere. Tak diketahui secara pasti alasan dibalik itu. Namun, kuat diduga pembatalan dilakukan karena wabah Covid-19 yang tak kunjung mereda di Negeri Ginseng.

Baca juga: Korean Air Kembali Terbangkan A380, Pertanda Industri Penerbangan Mulai Sehat?

Sejatinya, Korean Air sudah menjadwalkan penerbangan flight to nowhere pada 27 Februari mendatang setelah mendapat izin dari Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, dan Transportasi. Meskipun belum ada detail pasti, rencananya flight to nowhere Korean Air akan mencakup penerbangan internasional ke Jepang, selain keliling Korea Selatan.

Baik flight to nowhere ataupun rutenya, Korean Air mengklaim bahwa itu datang dari industri pariwisata. Dengan demikian, penerbangan tak kemana-mana atau take off dan mendarat di bandara yang sama ini akan diliputi kesuksesan meraup untung besar, sebagaimana penerbangan flight to nowhere oleh maskapai lain.

“Kami telah mendapatkan beberapa permintaan dari industri pariwisata. Kami sedang mempersiapkan pengoperasian penerbangan tamasya, dan mendiskusikan periode penjualan dengan pihak terkait seperti agensi,” kata juru bicara Korean Air, seperti dikutip dari Simple Flying.

Korean Air tentu bukanlah yang pertama meluncurkan flight to nowhere di Korea Selatan. Sebelumnya, Asiana Airlines dan Air Seoul jadi dua yang terdepan menggaungkan flight to nowhere. Tetapi, hanya Asiana Airlines yang berhasil menjalankan flight to nowhere pada 12 Desember lalu. Adapun anak perusahaannya, Air Seoul, membatalkan rencana tersebut. Keduanya disinyalir bakal memulai kembali flight to nowhere dalam waktu dekat.

Sedangkan di internasional, flight to nowhere sudah lebih dahulu dijalani oleh berbagai maskapai dunia. Qantas tercatat pernah menjalankan flight to nowhere selama 8,5 jam pada 10 Oktober 2020. Sebelum Qantas, maskapai EVA Air, China Airlines, All Nippon Airways (ANA), Singapore Airlines, dan Royal Brunei Airlines telah lebih dahulu meluncurkan “flights to nowhere” atau terbang tanpa tujuan.

Hanya saja, konsep yang ditawarkan berbeda. EVA Air menawarkan “flight to nowhere” dengan tetap memiliki negara tujuan, yakni ke Jepang (serupa dengan konsep flight to nowhere Korean Air). Hanya saja, maskapai tersebut tidak mendarat di Negeri Sakura dan kembali ke Taiwan untuk mendarat di bandara semula.

Berbeda dengan EVA Air, maskapai Taiwan lainnya, China Airlines lebih ke ranah wisata edukasi. Konsep “flight to nowhere” salah satu maskapai terbesar di Taiwan itu mengajak penumpang masuk ke kabin pesawat tanpa terbang ke suatu destinasi. Di sini penumpang dapat mengenang pelayanan pramugari dan rasanya duduk di kursi pesawat. Selain itu, maskapai ini juga menawarkan pelajaran menjadi pramugari untuk anak-anak.

Baca juga: Flight To Nowhere Ala Thai Airways, Terbang Sambil Ziarah ke 99 Tempat Suci Umat Buddha

Selain dapat belajar menjadi pramugari, melalui kegiatan ini para penumpang juga berakting seolah mereka akan liburan ke negara lain. Setiap penumpang tetap harus melakukan check-in, melakukan pemeriksaan paspor, dan bahkan ada petugas keamanan yang siap mengarahkan penumpang menuju pesawat.

Kembali ke Korean Air, tidak ada keterangan apapun apakah maskapai nasional Korea Selatan ini akan memulainya di kemudian hari atau mengubur itu selamanya. Bila melihat dari kinerja keuangan, dimana maskapai justru mencetak keuntungan sebesar US$219 juta sepanjang tahun 2020 di saat maskapai lain rugi besar bahkan bangkrut, Korean Air besar kemungkinan tidak akan menjajaki flight to nowhere.

Mudahkan Pengguna, “The Next Level of TransJakarta” Menjadi Pembaruan di Aplikasi Tije

Sepertinya, dimasa pandemi ini semua terlihat serba praktis baik dari pembelian hingga pembayaran yang tanpa uang tunai. Bahkan yang tadinya menggunakan kartu pun beralih menggunakan QR Code yang didapat dari aplikasi.

Baca juga: Ini Dia Empat Fitur Baru di Aplikasi “Tijeku” TransJakarta

Hal ini pun terjadi di moda transportasi yang ada di Jakarta yakni salah satunya bus rapid transit (BRT) milik PT Transportasi Jakarta (TransJakarta). Di mana TransJakarta, hari ini, Jumat (5/2/2021), meluncurkan pembaruan serta pengembangan pada aplikasi Tije yakni The Next Level of TransJakarta.

Direktur Utama PT TransJakarta Sardjono Jhony Tjitrokusumo mengatakan, kehadiran pembaruan pada aplikasi Tije untuk melengkapi kebutuhan digital saat ini. Sehingga pada saatnya nanti pengguna tak perlu lagi menebak kedatangan bus atau mencari rute serta halte terdekat.

Direktur Eksekutif Transformasi Digital Tekonologi Informasi Transjakarta Gidionton Saritua mengatakan, kehadiran The Next Level of Tije ini karena pelanggan memiliki ekspektasi yang tinggi.

“Yang jelas dalam pembaruan ini kita aktifkan pencarian rute dari rumah untuk bus TJ yang akan digunakan. Mencari rute dan halte yang tidak beroperasi. Selain itu akan ada update secara realtime dan ini user friendly,“ ujar Gidi pada webinar.

Dia menambahkan, pihaknya juga tengah mengembangkan teknologi untuk penyandang disabilitas. Nantinya para penyandang disabilitas bisa melakukan pembayaran dengan suara untuk kode khusus.

“Kami masih meriview untuk penyandang disabilitas. Akan ada audio untuk memudahkan mereka dan tidak hanya notif tetap ada suara yang bisa didengar bagi mereka yang membutuhkan,“ tambahnya.

Untuk diketahui ada enam fitur canggih di aplikasi Tije yang baru yakni Homepage dengan tampilan simpel dan menarik. Ketika pengguna masuk ke aplikasi, akan ada salam yang menyebutkan nama pengguna aplikasi dan ini Anda akan seperti disapa oleh Tije.

Tjari Rute, ini adalah rencana perjalanan bersama TransJakarta yang mana penumpang bisa mengetahui posisi halte terdekat, pilihan rute yang dapat digunakan serta estimasi waktu perjalanan. Tjari Bus adalah fitur yang memudahkan pengguna mengetahui posisi bus serta detail armada seperti nomor bodi dan jenis bus.

Baca juga: TransJakarta Lengkapi Seluruh Halte di 13 Koridornya dengan WiFi Tanpa Bayar dan Batas Kuota

Informasi Rute merupakan fitur untuk mengetahui informasi rute secara up to date dan real time. Informasi Halte bisa digunakan pengguna untuk mengetahui informasi halte-halte baik yang beroperasi maupun yang sedang dalam proses renovasi dan sebagainya. Loyalti-je, ini adalah fitur keuntungan lebih banyak bagi pelanggan yang mendownload aplikasi TIJE dan melakukan pembayaran menggunakan QR tiket, di mana akan mendapat poin yang bisa ditukarkan dengan hadiah menarik.

Wow, Boeing 737 MAX Sudah Cetak 2.700 Penerbangan Pasca Diizinkan Kembali Terbang

Sejak diizinkan terbang (mendapat sertifikasi) kembali oleh Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) pada 18 November 2020 lalu, berbagai maskapai dunia ramai-ramai mulai mengatur jadwal penerbangan perdana Boeing 737 MAX. Sejauh ini, 737 MAX bahkan sudah berhasil mencatat 2.700 penerbangan penumpang dan 5.500 jam terbang bersama berbagai maskapai di setidaknya lima negara, meliputi Amerika Serikat (AS), Kanada, Brazil, Panama, Meksiko.

Baca juga: Duh, Boeing 737 MAX Masalah Lagi! Kali Ini Terkait Sealant Bahan Bakar

Di AS, dua maskapai besar, seperti American Airlines dan Southwest Airlines, jadi yang terdahulu mengoperasikan 737 MAX. Bersama keduanya, MAX sudah mencetak ratusan penerbangan, dimana 600 penerbangan di antaranya dicetak bersama American Airlines. Keduanya berjanji akan terus menerbangkan 737 MAX serta memperbanyak penerbangan MAX di kota-kota lain di AS.

Maskapai-maskapai lainnya, seperti United Airlines dan Alaska Airlines bertekad akan menerbangkan 737 MAX dalam waktu dekat. Dilansir sacbee.com, United Airlines menjadwalkan penerbangan 737 MAX pada 11 Februari nanti. Adapun Alaska Airlines menyusul pada 1 Maret mendatang.

Di dunia, maskapai pertama yang menerbangkan 737 MAX pasca mendapat izin dari FAA, Gol Linhas Aéreas, masih akan terus mengoperasikan pesawat ini. Begitu juga dengan maskapai kedua yang menerbangkan MAX pada 21 Desmeber lalu, Aeromexico. Kedua maskapai itu juga bakal menghadirkan penerbangan MAX di lebih banyak kota.

Hampir seluruh maskapai di atas memberitahu penumpang detail informasi pesawat yang akan digunakan, tak terkecuali pada penerbangan transit. Penumpang dibebaskan untuk tetap ikut penerbangan bersama 737 MAX atau menolak dan meminta diterbangkan pakai pesawat lain.

Sekalipun ada satu-dua penumpang yang menolak terbang menggunakan 737 MAX, namun, pada umumnya, penumpang sudah yakin terhadap pesawat itu.

CEO Boeing, Dave Calhoun, mengungkapkan pihaknya sudah bekerja amat keras untuk memastikan retrofit 737 MAX aman. Business Insider melaporkan, Boeing telah melalui proses perbaikan selama 400 ribu jam, 1.400 tes dan pengecekan, serta lebih dari 3.000 jam terbang pesawat 737 MAX. Hasilnya, Boeing mengklaim permasalahan software flight control -yang menjadi penyebab dua kecelakaan MAX- telah diselesaikan dengan baik. Buah dari itu pun, FAA memberikan lampu hijau untuk terbang.

Baca juga: EASA Akhirnya Izinkan Boeing 737 MAX Terbang di Eropa, Gegara Didesak AS?

Di 2021 ini, sekalipun penerbangan masih lesu imbas wabah Covid-19, Calhoun meyakini seluruh maskapai di dunia yang masih belum menerbangkan MAX, seperti maskapai-maskapai di Timur Tengah, Asia Pasifik, Asia Tenggara, Eropa, dan Australia akan segera menerbangkannya.

Tanda-tanda itu pun juga sudah begitu terang. Belum lama ini, Uni Eropa dan Inggris (Britania Raya) juga sudah mengeluarkan green light atau kembali mengizinkan 737 MAX terbang. Ini menjadi langkah konkret keduanya setelah akhir tahun lalu sudah memberikan sinyal diizinkannya MAX kembali terbang di seluruh daratan Uni Eropa dan Inggris.

Singapore Airlines Jual Sate 48 Tusuk dengan Harga Rp1 Juta

Sate merupakan makanan yang terkenal di Asia Tenggara seperti Indonesia, Malaysia, Singapura, Filipina dan Thailand. Bahkan Negeri Kincir Angin yakni Belanda, sate juga sangat populer. Sehingga bisa dikatakan sate merupakan makanan yang bisa dikonsumsi oleh semua orang dari kalangan mana pun.

Baca juga: Penumpang Sadar Gaya Hidup Sehat, Singapore Airlines Tawarkan Makanan Sehat dalam Penerbangan

Pada Oktober 2020, Singapore Airlines meluncurkan berbagai rangkaian pengalaman yang dikurasi khusus untuk pelanggan di Singapura. Ini termasuk dua pengalaman bersantap Restoran A380 @Changi dan SIA @Home.

Dalam dua pengalaman ini, pelanggan akan mendapatkan kesamaan makanan yang akan disantap yakni sate khas Singapore Airlines. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber mothership.sg (3/2/2021), sate yang disajikan ada tiga set yakni sebagai hidangan pembuka di kedua pengalaman itu.

Jika dalam pengalaman tersebut sate yang didapat hanya sedikit per porsinya, baru-baru ini, Singapore Airlines memberikan kabar baik. Kabar tersebut adalah pelanggan bisa memesan lebih banyak karena SIA menjual sate ayam dalam satu kemasan berisi 48 tusuk dengan harga S$98 atau sekitar Rp1 juta.

Harga ini bila dihitung satuan yakni sekitar S$2,04 atau Rp21 ribu per tusuknya. Bahkan Singapore Airlines memudahkan pelanggannya untuk mendapatkan 48 tusuk sate bisa menukarkan miles sebanyak 12.250.

Setiap set juga dilengkapi dengan saus kacang seberat 1,2 kg yang dikemas dalam empat paket yang lebih kecil. Menurut keterangan di KrisShop, sate tersebut akan dikirim secara beku dalam wadah foil dan vacuum pack.

Sate dan sausnya dapat disimpan dalam freezer hingga enam bulan sejak tanggal produksi. Karena dalam keadaan beku, ketika sate dan saus sudah dicairkan harus dikonsumsi sehari setelah dicairkan.

Sayangnya sate khas Singapore Airlines ini dijual dalam jumlah terbatas yang akan dikirim setiap harinya. Perwakilan Singapore Airlines menyampaikan bahwa produk tersebut tergantung pada ketersediaan stok.

Baca juga: Singapore Airlines Pertimbangkan Sajian Makanan ‘On Demand’ di Kelas Bisnis

“Pelanggan mungkin juga ingin memperhatikan bahwa karena tingginya volume pesanan, pesanan sate yang dibuat mulai hari ini dan seterusnya mungkin tidak tersedia untuk pengiriman sebelum tahun baru lunar,” ujar perwakilan tersebut.

Viral! Cerita Pramugari Tangani Penumpang Meninggal di Pesawat, Bikin Ngeri

Pramugari umumnya bertugas melayani segala kebutuhan penumpang, baik sebelum maupun sesudah penerbangan. Tetapi, di luar itu, pramugari harus siap untuk melakukan tugas-tugas lainnya di luar keadaan normal, seperti membuka pintu darurat, membantu penumpang memakai masker oksigen, atau bahkan melakukan penanganan dini terhadap penumpang sakit dan meninggal saat pesawat di udara.

Baca juga: Pramugari ini Bikin Video TikTok Tentang ‘Kotornya’ Air Panas di Dalam Kabin

Terkait cara pramugari menangani penumpang meninggal di pesawat, belum lama ini, pengguna TikTok @Sheenie_weenie punya cerita menarik, sekaligus mengerikan.

Diktuip dari mirror.co.uk, Sheenie, yang juga pramugari, melalui sebuah postingan viral yang telah ditonton 2,8 juta pengguna, mengungkapkan ketika penumpang dipastikan meninggal -dengan tidak adanya denyut nadi dan jantung- pada umumnya ia akan tetap berada di tempat.

Akan tetapi, seseorang dalam kondisi pucat, dingin, dan tidak responsif belum tentu meninggal. Lagi pula, hanya dokter bersertifikatlah yang bisa menyatakan seseorang meninggal atau tidak. Karenanya, awak kabin, ketika melihat sesuatu kejadian yang janggal pada penumpang, akan terlebih dahulu bertanya kepada semua penumpang barangkali ada dokter untuk memeriksa keadaan penumpang tersebut. Bila dokter tersebut kemudian merasakan tidak ada lagi tanda-tanda kehidupan barulah penumpang dinyatakan meninggal.

Sebetulnya ada opsi untuk mendarat di bandara terdekat, namun hal itu bisa dibilang sama sekali tidak berjalan. Alhasil, penumpang yang berada di sebelahnya mau tak mau harus menerima kenyataan pahit, terbang sebangku dengan mayat. Begitu juga dengan penumpang lain yang berada di sekitar atau di kabin utama, mereka secara sadar terbang dengan mayat.

Dalam kondisi ini, kadang kala penumpang tetap diam dan menerima kenyataan, sambil berharap pesawat cepat sampai di bandara tujuan. Tetapi, kadang kala, penumpang takut dan meminta pramugari melakukan sesuatu, entah itu memindahkan penumpang meninggal ke kursi kosong di belakang atau di bagian lainnya dan menggunakan media kain atau apapun untuk menutupi jasad mayat tersebut.

Singkatnya, Sheenie, yang juga menjadi salah satu pramugari di salah satu maskapai Inggris, menyebut saat ada penumpang meninggal di pesawat, penerbangan akan menjadi horor.

Baca juga: Viral di TikTok Pramugari Umbar Fakta Penghasilan

Sekuat apapun seluruh penumpang dan awak pesawat mengatur mindset seolah tak ada mayat, tetap saja, begitu melewati, melihat, atau mengingat jasad penumpang meninggal tersebut nyali akan ciut dan membuat ketakutan berlebih, terutama pada penumpang wanita.

Setelah pesawat mendarat, petugas medis, yang sebelumnya sudah diberita tahu kabar meninggalnya penumpang di pesawat, langsung menjemputnya dan membawa ke rumah sakit. Pramugari kemudian menghubungi pihak keluarga untuk memberi tahu kabar duka ini.

Airnav Sebut Ada Keterlibatan Garuda Indonesia Sebelum Pesawat Sriwijaya Air SJ-182 Dipastikan Jatuh

Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (AirNav Indonesia) membeberkan kronologi lengkap, detik-detik mulai dari pesawat lepas landas sampai hilang kontak. Di antara fakta-fakta yang diungkap AirNav, ternyata ada keterlibatan penerbangan Garuda Indonesia sebelum pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ-182 dipastikan jatuh di perairan Kepulauan Seribu, Jakarta.

Baca juga: Tiga Fakta Kejadian Aneh Berbalut Mistis Dibalik Kecelakaan Pesawat Sriwijaya Air SJ-182

Di sekitar hilangnya kontak, penerbangan Garuda Indonesia menjadi salah satu yang terdekat. ATC pun meminta bantuan penerbangan itu dengan menghubungi pilot pesawat guna memastikan keberadaan SJ-182. Namun, nihil jawaban. Begitu juga dari segi visual, tak ada tanda-tanda adanya pesawat SJ-182.

Senada dengan gagalnya penerbangan Garuda Indonesia dalam menghubungi SJ-182, AirNav mengaku juga sudah 11 kali menghubungi pesawat namun tidak ada respons.

Dalam rapat dengar pendapat di Komisi V DPR RI, di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu lalu, Direktur Utama AirNav Indonesia, Pramintohadi Sukarno, mengungkapkan kronologi hilangnya Sriwijaya Air SJ-182 dimulai saat take off dari runway25 pada pukul 14.36 WIB dan sempat mengontak ATC pada ketinggian 1.700 kaki.

“Pada pukul 14.36 WIB Sriwijaya SJ-182 take off dari runway25. Kemudian, setelah melewati ketinggian 1.700 kaki menghubungi Jakarta approach di frekuensi 179 Mhz dan diinstruksikan controller untuk naik ke ketinggian 29 ribu kaki mengikuti prosedur SID atau standar alur keberangkatan,” jelasnya.

Sekitar pukul 14.38 WIB, pesawat meminta arah 0,75 derajat atau ke arah kanan pada ATC karena alasan cuaca. ATC pun mengizinkan sekaligus memberi instruksi baru berupa menaikkan ke ketinggian 11 ribu kaki. Sebab, di ketinggian 7.900 kaki akan ada pesawat Air Asia yang juga tujuan Pontianak.

Pukul 14.39 WIB, pesawat meminta izin untuk naik ke ketinggian 13 ribu kaki saat sudah mencapai ketinggian sekitar 10.600 kaki. Di sinilah titik krusial detik-detik hilangnya Sriwijaya Air SJ-182 terjadi. Sebab, tak lama setelah meminta izin ke ketinggian tersebut, pesawat tiba-tiba berbelok ke kiri, dari seharusnya ke arah kanan di posisi 0,75 derajat hingga akhirnya hilang dari radar.

Hal ini tentu mengejutkan petugas mengingat selama komunikasi sejak awal berangkat, pesawat rute Jakarta-Pontianak ini tidak mengaku atau terindikasi adanya kerusakaan atau keadaan tidak normal.

Baca juga: Jauh Sebelum Musibah Sriwijaya Air SJ-182, Boeing Sudah Ingatkan Maskapai Soal Karat pada 737 Series

“Selama proses dari pukul 14.36 WIB sampai 14.39 WIB tidak ada laporan pesawat dalam kondisi tidak normal. Jadi ini semua berlangsung dengan normal,” ungkap Pramintohadi.

Petugas Jakarta controller pun di menit-menit berikutnya coba mengkonfirmasi arah dan keberadaan pesawat. Namun tak ada respon. Begitu juga saat Garuda Indonesia coba menghubungi pesawat, hasilnya nihil. Beberapa saat kemudian, dikonfirmasi bahwa pesawat Boeing 737-500 Sriwijaya Air SJ-182 jatuh di perairan antara Pulau Laki dan Pulau Lancang, Kepulauan Seribu, Jakarta, 4 menit setelah lepas landas.