Korban Tewas 23 Orang, 35 Tahun Lalu Terjadi Kecelakaan Kereta Terburuk di Kanada

Sebanyak 23 orang tewas dan 71 luka-luka dalam tabrakan kereta 35 tahun lalu atau pada 8 Februari 1986 yang terjadi antara Kanada Nation Rail kereta barang dengan Via Rail kereta penumpang yang disebut Super Kontinnental. Tabrakan ini terjadi di hamparan jalur utama lintas benua di barat Edmonton dekat kota Hinto, Alberta.

Baca juga: Kereta Barang Tergelincir di Kongo, Sepuluh Penumpang Gelap Tewas

Awalanya kereta barang meninggalkan Edson dan sempat dihentikan di pinggir jalan di luar Medicine Lounge sekitar 38 km agar dua kereta menuju timur bisa melintas. Kemudian kereta barang itu kembali melaju dan setelah menempuh lima kilometer kereta tiba di Hargwen di bagian jalur ganda.

Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, petugas operator kereta di Edmonton mengatur sakelar kendali ganda sehingga kereta barang mengambil jalur utara. Pada waktu yang hampir bersamaan Super Kontinental dihentikan di Hinton.

Kemudian ketika Super Koninental mendekati jalur ganda, operator CTC memeasang tombol kendali ganda di Dalehurst ke jalur selatan. Sebelum sinyal “berhenti” di titik kontrol Dalehurst, sinyal ini menunjukkan warna kuning yang berarti awak kereta perlu mengurangi kecepatan kereta menjadi 48 km per jam.

Namun saat kereta barang melewati sinyal peringatan ini, investigasi kecelakaan menemukan bahwa kereta tersebut melaju dengan kecepatan 95 km per jam atau sekitar 14 km per jam lebih cepat dari batas untuk melintasi bentang rel itu. Sayangnya tidak ada upaya yang dilakukan oleh awak kereta barang untuk memperlambat sebelum atau sesudah melewati sinyal tersebut.

Karena kereta barang tidak melambat, lokomotifnya kemudian bertabrakan dengan Super Kontinental yang melaju. Dua lokomotif utama hancur dan mewasakan awaknya, gerbong depan dan gerbong barang tergelincir yang menyebabkan bahan bakar diesel dari lokomotif menyulut api dan membuat gerbong penumpang terbakar dan 18 dari 36 penumpang meninggal.

Akibatnya selain korban tewas dan luka, gerbong-gerbong di kereta barang saling menumpuk sehingga menimbulkan tumpukan puing yang besar. Di kereta penumpang, satu gerbong ditabrak oleh gerbong barang setelah terlempar ke udara karena kekuatan tabrakan, menewaskan salah satu penumpangnya.

Setelah bagian belakang kereta barang berhenti, Conductor Smith di dalam gerbong kereta, berusaha menghubungi bagian depan kereta sebelum menghubungi layanan darurat setelah melihat kebakaran. Karena insiden ini, pemerintah Kanada membentuk komisi penyelidikan yang dipimpin Hakim René P. Foisy dari Court of Queen’s Bench of Alberta.

Baca juga: Akibat Petugas Sinyal Tak Sabar, 189 Nyawa Melayang Pada Kecelakaan Kereta 81 Tahun Lalu di Jalur Sakurajima

Penyelidikan yang berlangsung selama 56 hari audiensi publik dan menerima bukti dari 150 pihak. Penyelidikan itu menyimpulkan bahwa tidak ada satu orang pun yang harus disalahkan, melainkan mengutuk apa yang digambarkan Foisy sebagai budaya pekerja kereta api yang menghargai kesetiaan dan produktivitas dengan mengorbankan keselamatan.

Aneh, Ternyata Japan Airlines Pernah Operasikan Tu-114 Saat Puncak Perang Dingin

Di era perang dingin, Jepang dan Uni Soviet berada di blok berlawanan. Bisa dibilang, keduanya sangat berbeda haluan, baik ideologi maupun politik. Namun, siapa nyana, saat perang dingin tengah memuncak, maskapai dari kedua negara, Japan Airlines dan Aeroflot, justru melakukan joint operation untuk rute Moskow-Tokyo.

Baca juga: Perang Dunia 3 Nyaris Pecah! Begini Kesaksian Pilot Jet Tempur Uni Soviet Pada Tragedi KAL 007

Dilansir travelupdate.com, sebetulnya pembahasan joint operation Japan Airlines dan Aeroflot sudah dimulai sejak tahun 1956. Tetapi, pembahasan menemui jalan buntu dan harus diperpanjang selama beberapa tahun. Kesepakatan akhirnya terjadi berujung pada penandatanganan perjanjian antar kedua maskapai di bulan Januari tahun 1966.

Hanya saja, negara tempat kedua maskapai bernaung masih berada di barisan yang berbeda. Pada akhirnya, ini membuat pelaksanaan joint operation Japan Airlines-Aeroflot justru diwarnai sikap saling curiga.

Uni Soviet curiga dan takut kerjasama ini malah disusupi misi lain karena rute tersebut melewati wilayah militer yang sensitif, dimulai dari Sheremetyevo, Nerli, Vologda, Kotlas, Syktyvkar, Khanty-Mansiysk, Podkamennaya, Vichim, Ekimchan, Troitskoye, Edinka, Skund, Kodofishi, Niigata, Daigo, Sakura, dan berakhir di Tokyo.

Sebaliknya, Jepang khawatir kalau kerjasama ini jadi ancaman nasional dikarenakan Bandara Haneda berada 9 km dari pusat kota Tokyo. Pilot dan co-pilot, yang dalam perjanjian seluruhnya disediakan oleh Aeroflot, bukan tidak mungkin mengarahkan pesawat ke pusat kota dan menjatuhkannya di sana. Tetapi, di sisi lain, Jepang butuh kerjasama ini karena rute terbaik ke Jepang dari Eropa adalah melintasi langit Uni Soviet (Rusia). Alhasil, sekalipun diliputi rasa saling curiga, joint operation ini bisa berjalan.

Joint operation Japan Airlines-Aeroflot menggunakan pesawat penumpang terbesar di dunia, Tupolev Tu-114. Setidaknya dua pesawat dengan nomor registrasi CCCP-76464 dan CCCP-76470 disiapkan untuk melancarkan operasi ini. Pesawat juga telah dikonfigurasi ulang menjadi 116 kursi, terbagi menjadi tiga kelas, state room, first class, dan kelas ekonomi.

Layanan pertama dimulai pada 17 April 1967, dimana saat itu penerbangan memakan waktu 10 jam 35 menit dari Moskow ke Tokyo sejauh 8.015 km dengan dipiloti oleh kru dari Aeroflot. Pada penerbangan balik ke Moskow, waktu tempuh bertambah menjadi 11 jam 25 menit.

Meskipun cukup lama, penumpang saat itu dilaporkan amat menikmati layanan dari masing-masing lima pramugari Japan Airlines dan Aeroflot. Hanya saja, mesin piston serta baling-baling contra-rotating yang diusung pesawat membuat kabin terlalu bising, apalagi bagi penumpang kelas ekonomi yang dekat sekali dengan mesin.

Seiring waktu berjalan, Uni Soviet mulai membuka ruang udara mereka untuk beberapa maskapai, seperti BOAC, Air France, dan Lufthansa; termasuk Japan Airlines. Tak disebutkan dengan jelas kapan joint operation ini berakhir. Terlepas dari hal itu, banyak yang menyebut bahwa langkah kedua maskapai ini menjadi awal cairnya hubungan Uni Soviet dan Barat.

Sekalias tentang Tupolev Tu-114, yang oleh NATO dijuluki Cleat, adalah pesawat turboprop jarak jauh yang dirancang oleh biro desain Tupolev dan dibangun di Uni Soviet mulai Mei 1955. Tu-114 Rossiya merupakan pesawat penumpang terbesar dan tercepat di dunia pada waktu itu. Pesawat memiliki jangkauan terpanjang yakni 10.900 km dan telah memegang gelar resmi pesawat baling-baling tercepat sejak 1960.

Baca juga: Pro Kesetaraan Gender, Japan Airlines Tak Lagi Sebut “Bapak-Ibu”

Didukung empat baling-baling serta mesin Kuznetsov NK-12 buatan produsen dalam negeri, Tu-114 mampu melakukan perjalanan dengan kecepatan khas pesawat jet modern, 880 km per jam. Meskipun mampu menampung 224 penumpang, ketika dioperasikan oleh Aeroflot, lebih umum menyediakan 170 flatbed dan ruang makan.

Dalam 14 tahun berkarir di kancah penerbangan sipil, Tu-114 dilaporkan memiliki tingkat keamanan dan keandalan yang tinggi. Tu-114 mengangkut lebih dari enam juta penumpang sebelum digantikan oleh Ilyushin Il-62 bertenaga jet. Sebanyak 32 pesawat dibangun di pabrik penerbangan Kuibyshev pada awal 1960an.

Butuh Ruang Besar untuk Baterai, Bus AKAP dan Pariwisata Belum Bisa Gunakan Energi Listrik

Efisiensi dalam biaya operasional adalah sesuatu yang menjadi dambaan bagi tiap operator bus. Ketika uji coba bus listrik mulai dijalankan PT TransJakarta, maka muncul gagasan, dimana bus antar kota dan bus pariwisata dapat mengadopsi teknologi listrik. Ketika kemampuan dan kapasitas baterai pada bus listrik semakin baik, layakkah konsep ini dijabarkan pada bus antar kota antar provinsi (AKAP)?

Baca juga: PT INKA Punya Bus Listrik dan Kini Diuji Coba di Jakarta oleh PT TransJakarta

KabarPenumpang.com mengutip dari laman kompas.com (4/2/2021), Ketua Umum Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Kurnia Lesani Adnan mengatakan, bus AKAP ataupun pariwisata sekarang masih belum memungkinkan untuk menggunakan armada berbahan bakar listrik.

Hal ini dikarenakan, bus AKAP dan pariwisata memiliki jarak tempuh yang tidak tertentu. Kurnia mengatakan, ini akan repot dengan titik pengisian listrik sebagai pasokan energi yang digunakan. Selain itu, bus listrik yang ada saat ini dan sudah diuji coba memiliki jarak tempuh yang relatif pendek.

Selain pasokan energi listrik, kendala lainnya ada pada bagasi. Di mana para penumpang yang menggunakan bus AKAP atau pariwisata akan meletakkan tas atau barang bawaan mereka di bagasi. Namun bus listrik membutuhkan ruang untuk menyimpan baterai dan ini membuat bagasi menjadi tidak seluas bus biasanya.

“Bus AKAP dan pariwisata butuh space untuk bagasi, sedangkan bus listrik space-nya kurang karena terisi baterai,” kata Kurnia.

Dia mengatakan, satu bus AKAP atau pariwisata biasanya berisi sekitar 40 penumpang dan membawa satu tas atau koper. Namun ketika mampir ke pusat oleh-oleh, ada kemungkinan barang bawaan penumpang bertambah dan ini membutuhkan bagasi yang luas.

Meski begitu, Kurnia mengatakan, tidak menutup kemungkinan bila bus AKAP dan pariwisata menggunakan bahan bakar listrik. Apalagi ini beriringan dengan perkembangan teknologi Electric Vehicle (EV) yang pastinya semakin mengakomodir kebutuhan operasional.

Baca juga: Harapan untuk Transportasi Jakarta, Ada Bus Listrik dengan Teknologi Pantograf

Untuk diketahui, saat ini sudah ada tiga industri yang siap memproduksi bus listrik di Indonesia. Perusahaan tersebut yakni PT Mobil Anak Bangsa atau sering dikenal MAB, PT Industri Kereta Api (INKA) dan PT Kendaraan Listrik Indonesia.

Cina Kirim Vaksin ke Eropa Gunakan Sepuluh Lokomotif yang Menarik 278 Gerbong

Vaksin untuk Covid-19 sudah mulai tersebar dan disuntikkan untuk masyarakat hampir diseluruh dunia. Banyak cara untuk melakukan pengiriman vaksin-vaksin ini salah satunya dengan pengantaran kereta barang. Belum lama ini kereta barang Cina-Eropa mengirimkan pasokan vaksi Covid-19.

Baca juga: Dari London, Kereta Kargo East Wind Sampai di Yiwu Setelah 19 Hari!

Kereta X8026 meninggalkan Yiwu, provinsi Zhejiang menuju ke Malaszewicze di Polandia pada hari Senin (25/1/2021) dan diperkirakan akan tiba dalam waktu sekitar 13 hari. KabarPenumpang.com mendapatkan video yang beredar bahwa, kereta yang mengangkut vaksin ini ditarik sepuluh gerbong di mana lima berada di bagian depan, tiga dibagian tengah dan dua dibagian belakang.

Ada sekitar 278 gerbong yang ditarik sepuluh lokomotif yang mengangkut seratus kontainer diantaranya berisi vaksin dan lainnya mengangkut kargo kebutuhan sehari-hari, termasuk masker, pakaian pelindung, jarum suntik, perangkat keras dan suku cadang mobil. Nantinya sebagian dari kargo ini akan dipindah ke kereta lain untuk dkirim ke Hamburg, Jerman.

Batch bahan vaksi yang dikirim ke Polandia dibeli oleh Perusahaan Zarys Pomaga Polandia di bawah komisi pemerintah Polandia. Tahun lalu kereta barang Cina-Eropa mengirimkan 76 ribu metrik ton bahan anti-epidemi tahun lalu ke berbagai tujuan termasuk Italia, Jerman, Spanyol, Republik Ceko, Polandia, Hongaria, Belanda dan Lithuania.

Bisa dikatakan kerja sama Belt and Road di mana kereta kargo yang menghubungkan Cina dengan Eropa tersebut selalu mendapat keuntungan dimasa pandemi. Pasalnya dari layanan itu banyak kota dibenua Eurasia yang mendapat manfaatnya. Bahkan Yiwu akan meluncurkan lebih dari 1.500 kereta barang tujuan Eropa tahun ini.

Rute kargo yang menghubungkan Yiwu dengan Eropa melalui Xinjiang di barat laut Cina dikatakan Du Jianbo, direktur Jinhua Cargo Center China Railway Shanghai Group menangani 1.399 kereta barang Cina-Eropa pada tahun 2020, melonjak 165 persen dari tahun ke tahun. Provinsi Zhejiang merupakan sumber dari 28 layanan kereta barang Cina-Eropa yang mengangkut barang ke 59 negara di kawasan Eurasia.

Baca juga: Nippon Express Canangkan Pengiriman Barang dengan Kereta dari Cina Menuju Eropa

Komoditas yang diangkut dengan kereta api meliputi perangkat keras, tekstil dan pakaian, suku cadang mobil, kebutuhan sehari-hari, dan peralatan teknik. Uni Eropa dan Cina adalah dua pedagang terbesar di dunia. Untuk diketahui, Cina sekarang adalah mitra dagang terbesar kedua UE, di belakang Amerika Serikat. UE adalah mitra dagang terbesar Tiongkok.

Cirium Lihat Industri Penerbangan Indonesia Kembali Bergairah, IATA Pesimis

Menurut Cirium, sebuah perusahaan riset terkait industri di dunia penerbangan, industri penerbangan Indonesia mulai kembali bergairah. Data perusahaan itu menunjukkan, sepanjang 2020 jumlah penerbangan harian sudah mencapai 50 persen dari tahun sebelumnya. Meski demikian, Asosiasi Transportasi Udara Internasional atau IATA, secara tidak langsung, tetap pesimis bahwa industri penerbangan Indoensia dan dunia akan kembali pulih dalam waktu dekat.

Baca juga: Kabar Baik dari Hasil Kajian Boeing: Industri Penerbangan Butuh 763.000 Pilot

Dalam sebuah rilis yang diterima redaksi, selain industri penerbangan Indonesia mulai kembali bergairah, Cirium juga menyebut kemungkinan adanya kecenderungan baru perjalanan penumpang. Hanya saja, tak disebutkan dengan lebih rinci kecenderungan perjalanan apa yang dimaksud.

“Meskipun akan ada peluang pertumbuhan, dampak Covid-19 berarti lanskap perjalanan yang berbeda kemungkinan akan muncul,” kata Rahul Oberai, Managing Director Asia-Pacific of Cirium.

Sejalan dengan data dari Cirium, Perum Lembaga Penyelenggara Pelayanan Navigasi Penerbangan Indonesia (LPPNPI) atau biasa disebut AirNav Indonesia juga mencatat peningkatan pergerakan pesawat pasca mencapai titik terdalam saat pengetatan perjalanan udara dilakukan pada April-Mei lalu.

Dikutip dari laman resmi perusahaan, AirNav mencatat ada total 1.202.749 pergerakan pesawat sepanjang tahun 2020, atau minus 43 persen dari angka tahun sebelumnya mencapai nyaris 2,1 juta pergerakan.

Disebutkan, sejak Januari sampai bulan Mei 2020, tren pergerakan pesawat terus menurun hingga ke titik terdalam di bulan Mei, yakni minus 84 persen dari bulan yang sama di tahun lalu. Barulah, pasca berlalunya bulan itu, sekalipun sempat stagnan pada bulan September-Oktober, pergerakan pesawat terus meningkat. Puncaknya, pada bulan Desember, pergerakan pesawat berada di posisi minus 34 persen dibanding bulan yang sama tahun 2019.

Bila dirinci, seperti banyak dugaan pengamat, perjalanan domestik akan tumbuh lebih cepat dibanding perjalanan internasional. Secara year to year (yoy) 2020 dibandingkan dengan 2019, perjalanan domestik turun 40 persen, sedangkan internasional penurunannya mencapai 67 persen.

Walau masih berada di level minus 43 persen dibanding total pergerakan tahun 2019, namun, Indonesia rupanya masih lebih baik ketimbang negeri tetangga, seperti Singapura yang mencatat minus 67 persen menjadi hanya sekitar 125 ribu pergerakan pesawat dan Thailand yang mencatat minus 57 persen menjadi hanya hampir 400 ribu pergerakan pesawat sepanjang 2020.

Baca juga: Jangan Kaget, Inilah Jumlah Pesawat yang Di-grounded di Seluruh Dunia

Ditataran regional, Asia Pasifik juga mencatat total pergerakan lebih baik ketimbang Amerika Latin dan Eropa. Dari data yang dihimpun AirNav, secara akumulasi, regional Asia Pasifik mengalami penurunan yoy sebesar minus 47 persen. Sedangkan di regional Amerika Latin sebesar minus 55 persen dan di regional Eropa bahkan mencapai minus 56 persen.

Kendati demikian, baik itu peningkatan pergerakan pesawat di Indonesia dari sejak bulan Mei ataupun peningkatan pergerakan pesawat di seluruh dunia, tetap saja, jumlah totalnya masih jauh dari harapan atau belum cukup mendekati persentase di 2019. Tak ayal, pada November lalu, IATA bisa dibilang pesimis dan melihat paling cepat jumlah penumpang akan kembali ke titik seperti di 2019 pada 2024 mendatang.

FAA Resmi Pensiunkan Nomor Registrasi Pesawat Amelia Earhart, Pilot Wanita Pertama di Dunia

Pada hari ini, 33 tahun lalu, bertepatan dengan 8 Februari 1988, Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (AS) FAA resmi mempensiunkan sebuah nomor registrasi pesawat untuk pertama kalinya di AS. Nomor registrasi yang dipensiunkan itu dahulu digunakan oleh pesawat yang ditumpangi Amelia Earhart, pilot wanita pertama di dunia yang hilang misterius di di Samudera Pasifik.

Baca juga: Bukan Amerika, Inggris, atau Cina, Inilah Negara yang Jadi Tempat Registrasi Pesawat Terbanyak

Laporan The Oklahoman, keputusan itu diambil untuk menghormati Amelia Earhart atas desakan dari berbagai pihak, salah satunya keluarga sang pilot legendaris itu, Muriel Earhart Morrissey.

Dalam sebuah surat pada 10 Januari, ia mendesak administrator FAA, T. Allan McArtor, agar nomor pesawat saudara perempuannya dipensiunkan.

“N16020 adalah nomor yang sangat berharga,” tulisnya. “Agaknya paling tepat jika nomor ini secara resmi dikeluarkan (dipensiunkan) dari daftar registrasi pesawat FAA,” tambahnya.

“Dan itu akan menjadi penghormatan yang besar untuk Amelia dan seluruh kenanangan yang melekat pada pesiunnya (nomor registrasi) N16020 dan dipertahankan sampai waktu yang tak terbatas atas namanya,” jelasnya.

Usai dipensiunkan, manager penerbang dan registrasi pesawat FAA, Earl F. Mahoney, memastikan nomor registrasi tersebut tidak akan pernah lagi digunakan di pesawat lain selama tidak ada proses politik untuk membuat nomor registrasi tersebut kembali ‘hidup’.

Catatan FAA menunjukkan Lockheed Aircraft Corporation telah memberi nomor registrasi N16020 untuk pesawat Electra 10-E yang digunakan Amelia Earhart pada tahun 1936. Pasca hilangnya pilot tersebut pada 2 Juli 1937, dalam sebuah catatan, nomor registrasi itu sempat ditarik pada Juli 1938.

Disebutkan, nomor registrasi tersebut dihapus dari daftar nomor registrasi aktif untuk jangka waktu tertentu atas perintah seorang pejabat, “Tidak untuk ditugaskan ke pesawat mana pun (bertanda tangan) FJB.” Tak disebutkan dengan jelas siapa itu FJB.

Akan tetapi, pada tahun 1957, pejabat yang sama membatalkan perintah lamanya dengan mengeluarkan perintah baru berbunyi, “N16020 dapat kembali digunakan.”

Baca juga: Aeroflot Registrasi Pesawat Airbus A350 Baru di Bermuda, Gegara Lari dari Pajak?

Setelah itu, nomor registrasi kramat tersebut sempat jatuh ke tangan Continental Airlines. Namun, atas permintaan dari keluarga Earhart, nomor registrasi tersebut diserahkan kepadanya. Sampai di sini, nomor registrasi tersebut masih aktif dan kapanpun bisa saja digunakan di pesawat lain hingga pada akhirnya desakan dari keluarga Earhart ke FAA pun disambut positif dan diproses untuk mendapat kepastian hukum.

Hanya saja, saat ini mungkin FAA masih terus mempensiunkan nomor registrasi peninggalan Amelia Earhart, tetapi, tidak menutup kemungkinan pejabat yang berkepentingan di masa mendatang akan mengaktifkan nomor ini kembali. Hal itulah setidaknya yang tidak dapat dijanjikan oleh Earl F. Mahoney selaku pejabat FAA ketika mempensiunkan nomor registrasi pesawat Amelia Earhart.

Hari Ini, Steve Fossett Sang Pemilik 116 Rekor Dunia Memulai Penerbangan Menantang Maut Demi Rekor

Pada hari ini, 15 tahun lalu, bertepatan dengan 8 Februari 2006, Steve Fossett memulai penerbangan menantang maut untuk melakukan penerbangan keliling dunia non-stop tanpa mengisi bahan bakar.

Baca juga: Inilah Rutan Model 76 Voyager, Pesawat Pertama yang Keliling Dunia Tanpa Mengisi Bahan Bakar

Setelah 76 jam 45 menit, pesawat rancangan Burt Rutan melalui perusahaan The Scaled Composites, Virgin Atlantic GlobalFlyer Model 311, akhirnya berhasil mendarat di Inggris dan mengunci rekor kategori penerbangan non-stop terpanjang di dunia sejauh 26.389 mil atau 42.468 km dengan pesawat apapun, melampaui rekor dunia milik Rutan Model 76 Voyager pada tahun 1986 sejauh 42.212 km, yang notabene adalah pesawat yang juga dirancang oleh Burt Rutan.

Dikutip dari guinnessworldrecords.com, Steve Fossett, yang seorang pengusaha sukses di Chicago, Amerika Serikat (AS), memulai perjalanan mengukir rekor tersebut dari Kennedy Space Center di Cape Canaveral, Florida, AS.

Tak banyak informasi detail rute Fossett dan Virgin Atlantic GlobalFlyer mengudara. Namun yang pasti keduanya mengarah ke Bandara Internasional Kent di Manston, Inggris, via India. Sebab, pesawat Virgin Atlantic GlobalFlyer dilaporkan nyaris hancur saat mendapat turbulensi hebat di atas langit Bhopal, India.

Sepanjang perjalanan, pesawat diterpa cuaca ekstrem berupa angin kencang dan cuaca dingin. Saking dinginnya, bahkan es sampai menumpuk di sekeliling pesawat hingga menutup pandangan Steve Fossett. CNN International melaporkan, pada kondisi ini, ia benar-benar mengandalkan radar serta komunikasi dengan ATC untuk memandunya ke arah yang tepat.

Suhu dingin esktrem tersebut pada akhirnya benar-benar membawa Steve Fossett ke jurang maut setelah generator listrik pesawat rusak total. Padahal, saat itu, dunia baru saja mencatat rekor dunia baru untuknya ketika melintas di atas langit Shannon, Irlandia. Pesawat yang membawa 8,2 ton bahan bakar ini menyisakan waktu 15 menit untuk mengudara.

ATC pun memberikan pilihan kepadanya untuk mendarat di tiga bandara, Cardiff, Wales, dan Bournemouth. Fossett pun memilih bandara yang terakhir karena merasa sudah akrab dengan bandara tersebut. Perayaan mewah yang sebelumnya sudah dipersiapkan di Bandara Internasional Kent, mendadak bubar dan pindah ke Bandara Bournemouth.

Virgin Atlantic GlobalFlyer Model 311 akhirnya bisa mendarat dengan selamat di bandara tersebut dalam kondisi pesawat rusak parah dan dua ban pecah. Meski demikian, ia berhasil mengunci rekor yang tercatat di Guinness Book World of Records di kategori penerbangan non-stop terpanjang dengan pesawat apapun di dunia sejauh 26.389 mil atau 42.468 km.

Usai mendarat, Fossett disambut langsung oleh Richard Branson, pemilik Virgin Group yang notabene menjadi sponsor penjalanan mengukir rekor ini, bersama dengan ratusan avgeek dari berbagai negara.

Baca juga: Begini Kisah Pilot dalam Penerbangan 9 Hari Keliling Dunia Non Stop! Sempat Mau Mati Gegara Dehidrasi

Sekilas tentang pesawat Virgin Atlantic GlobalFlyer, secara khusus pesawat memang dirancang untuk melakukan perjalanan keliling dunia tanpa mengisi bahan bakar dengan pilot tunggal di kokpit, dilengkapi dengan hanya satu mesin jet di bagian atas belakang kokpit, sangat jarang ditemui di dunia pesawat sipil modern. Pesawat dengan penempatan mesin seperti ini dahulu pernah ditemukan di Heinkel He 162 dan Cirrus Vision SF50.

Secara fisik, GlobalFlyer memiliki boom ekor ganda yang dipasang di luar nacelle badan pesawat sentral yang lebih pendek. Kokpit bertekanan terletak di bagian depan badan pesawat dan menyediakan ruang seluas 2,1 m untuk tempat pilot duduk. Pesawat ini memiliki panjang 13 meter lebih, bentang sayap mencapai hampir 35 meter, tinggi 4 meter, berat total mencapai 10 ton, dimana 8 ton berisi bahan bakar dan sisanya berat kosong pesawat.

Pintu Kupu-kupu (Lipat) Ditinggalkan Bus/Angkot dan Kereta Api, Inilah Alasannya

Kemajuan moda transportasi berkembang dengan cepat dari masa ke masa,  meski ada perubahan yang signifikan antar moda darat, namun ada sesuatu yang menyatukan, khususnya antara kereta api, bus kota dan angkutan kota (angkot/mikrolet). Yang dimaksud disini adalah penggunaan pintu kupu-kupu (pintu lipat) sebagai jalur keluar masuknya penumpang.

Baca juga: Hapus Angkot Keluaran Karoseri, Organda DKI Gunakan Angkot Keluaran ATPM

Sepertinya era wahana transportasi dengan menggunakan pintu lipat akan mulai hilang. Baik kereta api maupun mikrolet, sekarang mulai berpindah menggunakan satu daun pintu.

Nah, yang menjadi pertanyaan adalah, mengapa model pintu lipat digantikan? Bukankan model pintu lipat menjanjikan efisiensi ruangan yang lebih pada kompartemen. KabarPenumpang.com coba mencari alasan pasti penggantian model pintu ini. Pada angkutan kota atau biasa disebut angkot, ternyata alasan penggantian pintu ini karena model barunya memiliki bangku yang menghadap ke depan.

kereta api dan angkot

Organisasi Angkutan darat atau Organda DKI Jakarta mengatakan, pihak Toyota, Wuiling, Daihatsu dan Suzuki menawarkan untuk menyediakan angkot dengan pendingin udara atau AC. Sehingga angkot model lama akan secara bertahap  ditinggalkan.

Bahkan untuk memperpanjang izin trayek, Organda menyebutkan, para pengusaha harus mengikuti konsep baru dengan mengganti model baru. Ini dilakukan untuk kenyamanan penumpang dan aturan angkot harus memiliki AC adalah untuk memenuhi standar pelayanan minimum (SPM) yang tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 29/2015.

Meski begitu, saat ini MikroTrans yang dikelola oleh PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) juga mulai mengubah model pintu meski masih ada juga yang menggunakan pintu kupu-kupu atau lipat. Meski sudah berganti pintu dan jenis kendaraan yang digunakan, penumpang yang naik MikroTrans masih tetap duduk berhadap-hadapan.

Di Kereta Api
Nah bagaimana dengan kereta yang digunakan oleh PT Kereta Api Indonesia (KAI)? Saat ini pun KAI juga tak lagi menggunakan pintu dengan dua daun pintu yang terlihat seperti kupu-kupu. Dulunya dengan pintu ini, sebenarnya memudahkan penumpang untuk naik dan turun.

Bila dengan model pintu yang ada saat ini sedikit membuat penumpang sulit naik atau turun. Bahkan ketika di peron pun masih ada tangga tambahan untuk memudahkan penumpang naik turun. Penggantian pintu ini pun bisa dikatakan lebih membuat fleksibel karena hanya satu pintu tak seperti dulu yang dua daun pitnu.

Pihak PT Industri Kereta Api (INKA) mengatakan, mereka membuat pintu kereta api sesuai dengan pemesan. Bila memesan hanya satu pintu mereka akan merancangnya seperti saat ini dan bila ada yang memesan dengan dua daun pintu mereka juga tetap menerimanya.

“Kami buat kereta dengan pintu sesuai dengan yang permintaan pelanggan. Intinya mau satu daun pintu atau dua daun pintu kita tetap buat,” ujar PR PT INKA Muhammad Advin yang dihubungi KabarPenumpang.com (3/2/2021).

Baca juga: Dilarang Bersandar di Pintu Kereta? Ini Dia Penjelasannya!

Dia mengatakan, PT INKA terakhir membuat kereta dengan dua daun pintu untuk KAI tahun 2014 untuk gerbong ekonomi (K3).

Tak Terlihat Seperti Kapal Pesiar, “Guntu” Lebih Mirip Rumah Perahu

Ryokan tradisional hadir pada sebuah kapal pesiar mewah Guntu. Ini adalah penginapan atau hotel terapung bintang lima yang menawarkan kesempatan untuk bersantai di tengah lanskap Laut Pedalaman Seto yang selalu berubah, yang mana ini adalah salah satu daya pikat Setouchi, Jepang.

Baca juga: Usai Pandemi, Rencanakan Berlibur di Flotel Yuk

Guntu atau yang dibaca Gan-tsu bukanlah kapal pesiar biasa. Sebab tidak terlihat seperti kapal pesiar tetapi lebih terlihat seperti rumah perahu yang dibuat dengan indah. Guntu dilengkapi dengan atap pelana dan eksterior abu-abu perak reflektif yang menyatu dengan pemandangan sekitarnya.

Meski memiliki tiga lantai, Guntu hanya punya kamar untuk 38 tamu di mana 19 kabin berpemandangan laut dengan akomodasi bergaya penginapan Jepang. Interiornya menampilkan panel kayu halus dan interior bebas kekacauan, keajaiban arsitektur ini menyampaikan rasa ketenangan dan keterpisahan dari kehidupan perkotaan.

“Banyak orang mengatakan bahwa ini seperti rumah, bukan kapal,” kata direktur penjualan, pemasaran & PR, Taoko Shimizu yang dikutip KabarPenumpang.com dari cnaluxury.channelnewsasia.com.

Orang di belakang Guntu adalah arsitek pemenang penghargaan, Yasushi Horibe, seorang profesor arsitektur di Sekolah Pascasarjana Universitas Seni dan Desain Kyoto, dan penerima Penghargaan Institut Arsitektur Jepang 2016 (Divisi Desain Arsitektur) untuk desainnya Charnel House di Chikurin-ji. Dikenal karena penggunaan bahan alami dan garis yang bersih, Horibe menggabungkan berbagai kayu di sejumlah tempat di kapal, karena dia yakin warna tersebut membawa kehangatan tertentu pada warna kulit orang, dan memberi mereka rasa tenang dan relaksasi. Dia mengatakan, bahwa menggunakan kayu untuk kapal penumpang adalah tugas yang sangat sulit.

“Anda akan melihat banyak kayu di mana-mana yang sangat tidak biasa dan sangat sulit dirawat. Sungguh mukjizat bahwa ini dilakukan,” ujar Horibe.

Setiap kabin memiliki balkon pribadi agar Anda dapat menikmati pemandangan luar yang selalu berubah, sementara jendela dari lantai ke langit-langit yang megah membanjiri kamar dengan cahaya alami. Faktor kemewahan hadir dalam detail yang lebih kecil seperti kimono katun segar yang terlipat rapi di lemari dan jus jahe dingin di lemari es mini.

Ada empat jenis suite, beberapa menawarkan pemandian terbuka, di mana Guntu Suite adalah yang terbesar. Terletak di atas haluan, tempat tinggal seluas 90 meter persegi ini adalah satu-satunya kamar yang menawarkan pemandangan laut menghadap ke depan dan samping. Menginap di suite paling premium akan membuat Anda membayar US$9.000 untuk dua malam per orang.

Semua kamar lainnya mulai dari US$3.000 per malam untuk dua tamu. Berangkat dari kota Onomichi, timur Hiroshima, Guntu menawarkan perjalanan dua hingga tiga malam yang mengangkut penumpang di sepanjang rute berbeda di Laut Pedalaman Seto, rumah bagi ribuan pulau kecil, termasuk beberapa tujuan terkenal seperti pulau seni Naoshima.

Bergantung pada kondisi cuaca, para tamu dapat turun dan melakukan perjalanan darat ke pulau-pulau tertentu dan ikut serta dalam kegiatan seperti mencicipi kecap di tempat pembuatan bir lokal, mendaki berpemandu, bersepeda, atau mengunjungi reruntuhan kuil kuno atau desa nelayan.

“Kami sangat ingin para tamu menikmati dan merangkul budaya daerah Setouchi. Beberapa pulau ini sangat indah, tetapi banyak orang yang belum pernah mendengarnya. Guntu adalah satu-satunya perahu yang bisa membawa Anda ke sana,” kata Shimizu.

Saat kapal berlabuh di malam hari, para tamu dapat menikmati berbagai fasilitas di kapal Guntu seperti spa, sauna, gym, ruang minum teh dan lounge dalam ruangan yang menyajikan penganan Jepang yang baru dibuat. Inti dari hotel ini adalah ruang makan utama tempat kreasi kuliner Barat dan Jepang dibuat menggunakan makanan laut yang baru ditangkap.

Koki ahli Kenzo Sato dari Shigeyoshi, dan Nobuo Sakamoto dari Nobu, meminjamkan keahlian mereka pada menu wagashi (manisan tradisional Jepang) dan sushi yang dikurasi dengan baik. Untuk sepenuhnya membenamkan diri di rumah-jauh-dari-rumah yang dipenuhi zen ini, dan merasa seperti menyatu dengan elemen, pergilah ke teras engawa (beranda bergaya Jepang) atau dek observasi atap, di mana Anda tidak akan melihat apa-apa selain langit biru. memantulkan air biru langit.

Baca juga: Singapura Jadi Negara Pertama Tawarkan Kapal Pesiar Berlayar Tanpa Tujuan

“Jika Anda duduk di engawa, saya yakin Anda bisa merasakan perasaan seolah-olah gulungan gambar bergerak perlahan,” kata Horibe.

“Biasanya para tamu kami sering mengunjungi banyak tempat terkenal seperti Tokyo, Osaka dan Kyoto. Tapi di sini sangat, sangat sepi. Anda tidak akan melihat banyak orang. Kami ingin orang-orang santai dan mengingat waktu mereka di sini ketika mereka tidak melakukan apa-apa,” tambah Shimizu.

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, Nyata dan Bukan Hanya Karangan Buya Hamka

Siapa yang tak kenal dengan Kapal Van der Wijck? Bila Anda sudah menonton filmnya pasti tahu dan tenggelamnya kapal ini bukan hanya sekedar karangan Buya Hamka. Tetapi ini adalah cerita nyata dan pernah mengarungi laut di Indonesia yang kala itu masih disebut Hindia Belanda.

Baca juga: Hari ini, 9 Tahun Lalu, Kapal MV Rabaul Queen Tenggelam di Papua Nugini, Ratusan Penumpang Tewas

Penasaran dengan kisahnya? KabarPenumpang.com mencoba menghimpun dari berbagai laman sumber dan menemukan berbagai hal tentang keberadaan Kapal Van der Wijck secara nyata. Kapal ini merupakan kapal angkutan penumpang dan barang bertenaga uap yang dimiliki oleh maskapai pelayaran Belanda, Koninklijke Paketvaart Maatschappij (KPM) yang nantinya menjadi cikal bakal PELNI.

Tugu peringatan tenggelamnya Kapal Van der Wijck

Kapal Van der Wijck dibangun tahun 1921 silam oleh Maatschappij Fijenoord N.V sebuah pabrik galangan kapal di Fyenoord, Rotterdam, Belanda. Kapal ini memiliki spesifikasi 97,5 meter x 13,4 meter x 8,5 meter dengan berat kotor 2.633 ton. Terbagi dalam beberapa kelas yakni kelas pertama atau VVIP bisa digunakan oleh 60 penumpang, kelas dua atau VIP muat 34 penumpang dan geladak alias kelas ekonomi mampu menampung 999 orang.

Nama kapal ini diambil dari nama seorang Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jonkheer Carel Herman Aart Ven der Wijck. Uniknya kapal ini memiliki nama panggilan yakni “de meeuw” atau “The Seagull” dan merupakan salah satu kapal besar serta megah di era Hindia Belanda.

Bahkan kapal milik Belanda ini memiliki kaitan dengan pergerakan nasional bangsa Indonesia yang mana pernah mengangkut Mohammad Hatta dan Sutan Sjahrir dalam pembuangan mereka Boven Digoel. Van der Wijck mengarungi lautan dalam pelayaran terakhirnya pada 20 Oktober 1936 yang kala itu berlayar dari Makassar – Tanjung Perak (Surabaya) – Tanjung Mas (Semarang) – Tanjung Priok (Jakarta) – Palembang.

Pelayaran terakhir ini karena pada saat Van der Wijck bertolak dari Makassar dan menyinggahi Buleleng, kapal melepas sauh dari Pelabuhan Tanjung Perak menuju ke Pelabuhan Tanjung Priok. Namun kapal ini miring saat sudah berada 64 km barat daya Surabaya dan hanya butuh enam menit hingga seluruh badan kapal lenyap tenggelam di Laut Jawa tepatnya di kawasan Westgat yakni Selat di antara Pulau Mauda dan Surabaya.

Saat insiden itu, kapal mengangkut minyak, 300 penumpang lokal dan 30 orang Eropa. Tenggelamnya Kapal Van der Wijck kemudian tim penyelamat langsung melakukan evakuasi dengan menggunakan delapan pesawat udara berjenis dornier, kapal dan perahu nelayan.

Ada sekitar 20 penumpang yang berhasil dievakuasi dengan pesawat dan dibawa ke Surabaya. Sedangkan perahu nelayan menyelamatkan puluhan penumpang baik pribumi maupun bangsa Eropa. Dari ratusan penumpang selamat, 70 lainnya baik penumpang maupun awak kapal dilaporkan hilang.

Tenggelamnya Kapal Van der Wijck kemudian dilakukan penyelidikan dan Dewan Pelayaran (Raad van Scheepvaart) yang mengurusi perhubungan laut bersidang di Betawi yang saat ini menjadi Jakarta pada 21 April 1937. Pada sidang itu, seorang petugas komunikasi kapal dipuji karena kesigapan dan pengorbanannya.

Ternyata kapten kapal yakni Akkerman menjadi orang terakhir keluar dari kapal ketika Van der Wijck terbalik dan tenggelam. Saat itu dia menyelamatkan seorang perempuan Belanda dan seorang anak serta menjaha mereka dengan bertahan dari tumpahan minyak kapal.

Baca juga: Tragedi Kapal Ferry Nankai Maru, Tenggelam Tanpa Sebab Pasti dan Tewaskan 167 Orang

Peristiwa tenggelamnya kapal ini kemudian diperingati di Lamongan dengan pendirian sebuah tugu di Pelabuhan Brondong. Adapun tulisan yakni, “Tanda Peringatan Kepada Penoeloeng-Penoeloeng Waktu Tenggelamnya Kapal Van der Wijck”. Selain itu peristiwa ini pun diangkat menjadi dalam film layar lebar yang diangkat dari novel karya Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau dikenal dengan Buya Hamka terbitan tahun 1938.