Inilah Marshaller, Tukang Parkir Pesawat Bergaji Rp1 Miliar

Di antara kata-kata bijak, “Segala sesuatu ada ilmunya” menjadi salah satunya. Dalam dunia kerja, itu bisa diartikan apapun profesinya pasti ada kemampuan khusus yang dimiliki oleh pekerja yang bersangkutan; termasuk juru parkir pesawat. Meskipun terdengar remeh dan rendahan, nyatanya, juru parkir pesawat membutuhkan keahlian khusus dan karena keahlian itulah jerih payahnya dihargai gaji mahal sampai Rp1 miliar per tahun.

Baca juga: Ini Dia, Para Pekerja Ground Support System di Bandara

Marshaller sendiri, mengutip dari Angkasa Pura Airports, merupakan salah satu Ground Support System yang bertugas untuk memberikan komando atau memandu pilot dengan memberikan aba-aba atau sinyal visual kepada pilot ketika hendak memarkirkan pesawatnya di hangar atau parking stand di apron sebuah bandara.

Marshaller akan memandu pilot dan berkomunikasi menggunakan aba-aba visual berupa gerakan tertentu. Marshaller harus memberikan arahan yang cepat dan tepat agar pesawat bisa parkir atau berhenti di tempat yang telah ditentukan serta tanpa kesalahan sedikitpun. Sebab, salah sedikit, bukan tak mungkin kerugian yang ditimbulkan akan jauh lebih besar dari gaji ia sendiri.

Gaji Marshall sendiri, dari berbagai sumber, di luar negeri, bisa mencapai Rp500 juta sampai Rp1 miliar per tahun. Jumlah itu bergantung pada maskapai yang memperkerjakan dan pengalaman yang dimiliki.

Dalam melaksanakan tugasnya, seorang marshaller dilengkapi dengan berbagai perlengkapan seperti marshalling bats dan flash light yang memudahkan pilot melihat instruksi marshaller, ear muff atau biasa juga disebut headphone untuk menghindari suara bising mesin jet, fluorescent jacket atau rompi yang biasanya berwarna hijau atau oranye agar mudah terlihat, dan safety shoes untuk melindungi kaki dari benda keras dan tajam.

Dikutip dari laman Finavia, marshaller biasanya akan langsung mendekat ke arah pesawat yang baru tiba di taxiway (jalan penghubung bagi pesawat). Mereka terkadang juga menggunakan kendaraan khusus atau yang biasa disebut dengan follow me car. Jadi, pesawat tinggal mengikuti kendaraan tersebut menuju tempat yang ditentukan.

Begitu pesawat memasuki area ramp, marshaller akan keluar dari kendaraan lalu memandu pilot dan mengarahkannya sambil memberikan isyarat tangan. Semua harus dilakukan dengan tepat, sampai pesawat tiba di pemberhentian terakhir.

Baca juga: Covid-19 Bikin Pilot Banyak Nganggur! Masihkah Jadi Profesi Idaman?

Kendati hanya sekedar juru parkir, namun untuk bisa menjadi profesi yang biasa juga disebut ground marshall ini seseorang harus melalui serangkaian tes fisik dan tes tertulis terlebih dahulu.

Selain itu, calon marshaller juga harus mendapatkan aircraft marshalling license atau lisensi dan rating yang diterbitkan oleh regulator penerbangan sipil Indonesia, dalam hal ini Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan. Lisensi yang diperoleh berlaku selama dua tahun saja dan wajib diperpanjang ketika masa aktifnya sudah habis.

Viral Video Anjing Pintar di India, Tunggu Kereta Hingga Berhenti Baru Turun

Banyak yang mengatakan, anjing adalah hewan cerdas, setia dan mengerti ucapan hingga perilaku manusia. Salah satunya seperti Hachiko di Jepang, anjing yang menunggu majikannya pulang di stasiun dan tidak tahu bahwa majikannya tersebut sudah meninggal dunia.

Baca juga: Bandara Helsinki Gunakan Anjing untuk Deteksi Penumpang Terinfeksi Covid-19

Nah, selain Hachiko, ternyata ada lagi anjing pintar yang mengerti waktu kapan dia harus turun dari kereta yang tengah bergerak. Penasaran dengan perilaku hewan ini? Belum lama ini seekor anjing viral karena divideokan oleh seorang penumpang kereta di India.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Viral Bhayani (@viralbhayani)


KabarPenumpang.com melansir dari laman indiatoday.in (29/1/2021), dalam video tersebut, anjing itu dengan sabar menunggu turun dari kereta di salah satu stasiun perhentian. Video tersebut dibagikan di Instagram baru-baru ini dengan caption “2021 tahun kecerdasan (sic).”

Dalam video itu menunjukkan anjing berdiri dengan sabar di dekat pintu kereta hingga tiba di stasiun tujuannya. Dari pengumuman yang terdengar pada video, warganet bisa mendengar bahwa kereta tiba di Stasiun Kalva yang terletak di jalur pusat rel kereta pinggiran kota Mumbai, India.

Video dimulai dengan anjing yang sabar menunggu dan melihat keluar dari pintu kereta. Setelah beberapa detik, kereta mulai melambat ketika masuk ke Stasiun Kalva. Sebelum benar-benar berhenti, anjing itu terlihat tenang di pinggir pintu hingga kereta berhenti dengan sempurna.

Kemudian saat kereta berhenti, anjing melompat dari kereta dan kemudian pergi untuk ke tujuannya. Kepintaran dan kesabaran anjing ini berhasil memukau para warganet yang melihat vidoenya.

Setelah empat hari ditayangkan dalam akun Instagram viralbhayani, video ini sudah dilihat lebih dari satu juta kali. Lebih dari sembilan ratus komentar pun diberikan oleh para warganet tentang kesabaran dan kepintaran anjing tersebut.

Gauahar Khan berkomentar, “Oh, bayi yang sangat lucu.”

Sonal Chauhan menulis, “Adorable (sic).”

Seorang warganet lain berkomentar, ‘Aww. Manis sayang ‘, sementara yang lain berkomentar,’ Mereka lebih bijaksana daripada yang diperkirakan manusia …’

Baca juga: Mirip Hachiko, Seekor Anjing di India Menunggu di Peron Setiap Jam 11 Malam

Sedangkan warganet lainnya berkomentar dengan menggunakan emotikon senyum, love, peluk dan ada pula yang mengomentari kaget melihat perilaku anjing itu.

Multi Lane Free Flow di Jalan Tol Diharapkan Bisa Diterapkan Tahun 2022

Sejak tahun 2017 lalu, Bank Indonesia dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) sudah melakukan kerja sama untuk mengembangkan elektronikfikasi di seluruh jalan tol. Di mana saat itu mulai dilakukan tahap integrasi sistem ruas jalan tol serta pembentukan Konsorsium Electronic Toll Collection atau ECT.

Baca juga: Saat MRT Jakarta Beroperasi, Pemprov DKI Akan Operasikan Electronic Road Pricing

Yang mana pada 2019 targetnya adalah Multi Lane Free Flow (MLFF) dapat diberlakukan di semua ruas tol. Nyatanya hal tersebut belumlah bisa diberlakukan pada 2019 lalu dan pengguna jalan tol masih menggunakan pembayaran dengan kartu uang elektronik.

Namun, belum lama ini perusahaan asal Hongaria, Roatex Ltd ditetapkan sebagai pemenang tender untuk proyek penerapan sistem transaksi tol non tunai nirsentuh MFLL. KabarPenumpang.com mengutip dari detik.com (30/1/2021), Kepala Badan Pengatur Jalan Tol, Danang Parikesit menjelaskan bahwa ada beberapa keuntungan yang didapatkan masyarakat saat MLFF diterapkan.

“Solusi ini telah sukses diterapkan di Hongaria selama lebih dari tujuh tahun terakhir, yang dikelola oleh Hungarian Toll Services Company (NUZs). Pengalaman di Hongaria, solusi ini selain memudahkan pengguna jalan karena melalui jalan tol tanpa hambatan, juga dapat meningkatkan efisiensi dan pendapatan tol, serta mengurangi tingkat kemacetan pada jam-jam padat,” kata Danang.

Dikatakan Danang, ketika MLFF mulai diterapkan, pengemudi kendaraan bisa menggunakan aplikasi untuk melintas di jalan tol. Nantinya setiap pengendara atau pengguna jalan tol akan diperkenalkan dengan perangkat e-Obu di aplikasi ponsel pintar atau OnBoard Unit yang merupakan tiket perjalanan (road ticket) bagi yang hanya sekali jalan.

Aplikasi ini tidak akan membebani pengguna dan dapat diunduh dari pinsel pintar. Danang menjelaskan, MLFF akan terbagi menjadi tiga jenis teknologi di antaranya Radio Frequency Identification (RFID), DSRC (dedicated short-range communication) dan Global Navigation Satellite System (GNSS).

Roatex sendirir akan menggunakan teknologi yang berjenis GNSS, yang mana nantinya akan digunakan untuk menggantikan mesin pembaca uang elektronik. GNSS adalah sistem pembayaran dengan alat yang dipasang di mobil dan dibaca melalui satelit.

Hal ini mengartikan penggunaan teknologi GNSS yang tidak memerlukan infrastruktur seperti gerbang tol. Sehingga nantinya akan ada alat yang dipasang di mobil dan menerima sinyal GNSS dari satelit secara berkala untuk jadi bahan perhitungan posisinya dan disimpan sebagai Charges Data Recorder (CDR).

Kemudian data akan dikirimkan ke perangkat TSP (Toll Service Provider) melalui jaringan wireless (GPRS, umts, dsb) untuk memverifikasi jalur tol yang digunakan dan menghitung tarif yang akan dibebankan ke pengguna. Dalam kerja sama penerapan MLFF itu, Roatex memegang konsesi atas proyek tersebut selama sepuluh tahun.

Tahun pertama adalah pelaksanaan konstruksi. Targetnya, penerapan sistem MLFF ini bisa dimulai pada tahun 2022 di sebagian besar ruas jalan tol, terutama Pulau Jawa dan Bali.

“Tol mana yang menjadi prioritas? Jabodetabek, tapi masih dalam pembahasan. Kalau sesuai dengan FS di tahun 2022 (akan terealisasi),” ujar Danang.

Baca juga: Frankfurt Autobahn A5, Jalan Tol Pertama dengan Kabel Listrik Aliran Atas

Multi Lane Free Flow atau MLFF adalah solusi yang ditawarkan Otoritas pengelola Tol di Indonesia untuk mempermudah dan memperlancar penggunan jalur tol terutama mengurangi penumpukan di pintu tol. MLFF menggunakan banyak atau hampir semua jalur dengan metode tersebut.

Fenomena Aneh Pramugari Pakistan, Manfaatkan ‘Layover’ untuk Kabur dan Minta Suaka di Negara Maju

Dalam beberapa tahun, telah terjadi fenomena aneh di internal maskapai Pakistan International Airlines (PIA). Betapa tidak, alih-alih kembali bertugas usai menjalani layover saat penerbangan internasional, pramugari maskapai itu justru kabur dan tak kunjung kembali. Usut punya usut, pramugari tersebut memang sudah berencana untuk mencari suaka di negara-negara maju.

Baca juga: Memo Internal Tersebar, Emirates Peringatkan Awak Kabin yang ‘Layover’ untuk Bersikap Sopan

Pakistan memang bukan tempat yang aman dan nyaman untuk dijadikan tempat bermukim. Dalam sebuah survei oleh The Legatum Institute, lembaga penelitian yang berbasis di London, Inggris, Pakistan menjadi salah satu negara paling tidak aman di dunia.

Maka dari itu, tak heran bila pramugari -yang notabene masih bisa hidup lebih layak dibanding jutaan penduduk Pakistan lainnya- rela berjuang untuk mendapatkan suaka di negara maju ketimbang bertahan sebagai pramugari. Apalagi, secara finansial, PIA sudah digadang-gadang tak lagi mampu bertahan alias bangkrut.

Dilansir Simple Flying, fenomena aneh pramugari PIA kabur saat layover di negara maju setidaknya sudah berlangsung selama empat tahun belakangan. Pada tahun 2018, seorang pramugari PIA secara mengejutkan mengklaim suaka di Kanada. Tak ada laporan lebih jauh bagaimana kelanjutan permohonan suaka itu. Yang jelas, pramugari itu tak pernah kembali ke Pakistan.

Setahun berikutnya, pramugari PIA juga dilaporkan hilang saat layover di Paris, Perancis. Tidak disebutkan dengan jelas apakah pramugari ini sengaja menghilang untuk mendapatkan suaka atau tidak. Dua tahun yang lalu, kejadian serupa juga terulang. Kali ini pramugari hilang terjadi di Kanada dan anehnya, tahun ini, pramugari kembali dilaporkan hilang saat layover di Negeri Pecahan Es itu sejak 29 Januari lalu.

Tak ingin kejadian serupa terus berulang, pihak PIA pun menggandeng otoritas imigrasi Kanada. Keduanya berkolaborasi setidaknya dalam dua hal, mencegah agar pramugari tak pernah diizinkan mendapat suaka serta mencegah mereka kabur dengan menyita paspor dan identitas sampai waktu check-in penerbangan pulang.

Selain itu, seluruh kru pesawat, bukan hanya pramugari, juga akan dipantau secara ketat dan dilarang untuk keluar dari hotel selama layover.

Baca juga: Kasus Belum Usai, Maskapai Pakistan “PIA” Cek Lisensi 141 Pilot, 29 Pilot Tak Layak Terbang dan Dipecat

Di masa krisis akibat virus Corona, kinerja keuangan PIA memang jauh dari harapan. Bahkan, seorang analis Bloomberg menyebut maskapai PIA kemungkinan besar akan bangkrut imbas krisis virus Corona. Hal itu berdasarkan analisi menggunakan metode Z-score yang dikembangkan oleh Edward Altman pada 1960-an untuk memprediksi kebangkrutan, dengan mengacu pada data finansial perusahaan.

Metode Z-score sendiri menggunakan lima variabel yang mengukur likuiditas, solvabilitas, profitabilitas, leverage, dan kinerja keuangan terkini. Dari variabel tersebut kemudian akan muncul skor. Skor di bawah 1,8 menunjukkan bahaya kebangkrutan dalam dua tahun, sementara angka yang mendekati 3 menunjukkan bahwa perusahaan berada pada posisi yang kuat secara finansial.

Perjalanan Haji Tahun 1888, 20 Hari Keliling Pulau Jawa Sebelum Menuju Mekkah!

Ibadah ke Tanah Suci Mekkah memang bukan perkara mudah. Perlu kekuatan harta dan tenaga agar dapat sampai ke sana. Sebelum era pesawat terbang datang, jamaah haji tempo dulu berangkat menggunakan kapal laut.

Baca juga: Sejarah Pulau Onrust, Tempat Karantina Jemaah Haji hingga Bendung Semangat Nasionalisme

Di beberapa literatur dan cerita turun-temurun, durasi jamaah haji tempo dulu mulai dari berangkat sampai pulang kembali ke rumah cukup bervariasi, mulai dari sebulan, empat bulan, enam bulan, hingga total 10 bulan. Luar biasa bukan? Bahkan, di banyak kasus, keluarga sama sekali tidak mengetahui dimana jenazah anggota keluarganya.

Sebab, baik saat perjalanan ataupun pulang, jamaah haji yang meninggal di lautan memang dilarung ke laut, tidak menunggu sampai ke daratan. Itulah mengapa, calon jamaah haji tempo doeloe (dulu), sebelum berangkat, rata-rata sudah memberikan wasiat ke keluarga seolah mereka tak akan pernah kembali pulang.

Selain lama perjalanan dan jenazah jamaah haji tempo dulu yang dilarung ke laut, jalur atau rute kapal dalam menjemput calon jamaah haji di seluruh tanah nusantara (Hindia-Belanda) sebelum menuju Mekkah, dalam hal ini jalur haji nusantara pada tahun 1888, tak kalah menarik untuk dibahas.

Seperti yang umum diketahui, jamaah haji tempo dulu pemberangkatan atau embarkasinya tidak seperti sekarang -dimana masing-masing embarkasi berangkat menggunakan pesawat yang telah ditentukan- melainkan berangkat menggunakan satu kapal laut. Karena keterbatas akses transportasi massal untuk mendukung pemberangkatan haji tempo dulu agar terpusat di satu tempat, jadilah penyelenggara haji tempo dulu menjemput terlebih dahulu jamaah haji ke embarkasi masing-masing di seluruh Pulau Jawa dan Sumatera.

Dari sebuah foto yang tak diketahui sumbernya, disebutkan pada tahun 1888, bertepatan dengan 1305 hijriah, keberangkatan kapal laut yang mengangkut ibadah haji terjadi pada tanggal 4 April, bertepatan dengan 22 Rajab. Saat itu, perjalanan haji tempo dulu dimulai dari Cilacap (Tjilatjap), Jawa Tengah, berlanjut ke Banyuwangi, Besuki (Bezoeki, saat ini adalah nama sebuah kecamatan di Situbondo, Jawa Timur), Probolinggo, Surabaya, Semarang, dan Pekalongan.

Dari Pekalongan, kapal laut masih harus menjemput jamaah haji tempo dulu lainnya di Pekalongan, Tegal, Cirebon, Indramayu, dan mengakhiri perjalanan mengelilingi Pulau Jawa di Betawi (Jakarta) pada tanggal 24 April. Itu berarti, untuk menjemput jamaah haji saja perjalanannya sudah menghabiskan waktu total 20 hari.

Dari Betawi di utara Pulau Jawa, jalur perjalanan haji nusantara pada tahun 1888 -yang saat itu menggunakan kapal laut buatan Italia, Voorwaarts- kemudian berlanjut ke pesisir barat Pulau Sumatera, menjemput jamaah haji di Padang, tiga hari setelah tanggal tiba di Betawi, sebelum akhirnya melakukan perjalanan panjang mengarungi Samudera Hindia-Laut Arab-Laut Merah untuk sampai ke Mekkah, Arab Saudi pada tanggal 18 Mei 1888, bertepatan dengan 7 Ramadan 1305, atau total 44 hari perjalanan.

Baca juga: Tak Hanya Kasus ABK WNI, Larung Jenazah Sudah Dilakukan Sejak Perjalanan Haji di Masa Lalu

Sedikit informasi, ibadah haji saat ini paten dan tidak bisa diubah dilakukan di luar bulan Dzulqa’dah dan Dzulhijjah. Tetapi, di masa lalu, boleh dilaksanakan di luar kedua bulan itu. Pada umumnya dilaksanakan mulai di bulan Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Dzulhijah. Jadi, jangan heran kalau pada tanggal 7 Ramadan, jamaah haji pada tahun 1888 sudah tiba di Mekkah.

Selama dalam perjalanan mulai dari Cilacap sampai ke Mekkah, jamaah haji disuguhi makanan dan minuman setidaknya dua hari sekali.

Hari ini, 9 Tahun Lalu, Kapal MV Rabaul Queen Tenggelam di Papua Nugini, Ratusan Penumpang Tewas

Tepat hari ini, sembilan tahun lalu, telah terjadi mubibah besar dalam jagad kapal ferry dunia, yaitu MV Rabaul Queen bermuatan 500-an penumpang tenggelam di Papua Nugini. Dari insiden itu lebih dari 200 penumpang selamat dan korban lainnya tewas. Kapal ini sebelum tenggelam berangkat dari Kimbe di Pulau New Britania ke Pulau Lae.

Baca juga: Tragedi Kapal Ferry Nankai Maru, Tenggelam Tanpa Sebab Pasti dan Tewaskan 167 Orang

Namun pada dini hari 2 Februari 2012 kapal terbalik karena kondisi Laut Salomon yang tak bersahabat. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, saat itu kapal dihantam oleh tiga gelombang besar dan sekitar empat jam kemudian atau pukul 06.00 waktu setempat MV Rabaul Queen tenggelam 16 km dari Finschhafen.

Korban selamat dari kecelakaan tenggelamnya kapal ferry MV Rabaul Queen di Papua Nugini (istimewa)

Tak lama MV Rabaul Queen tenggelam, Papua Nugini dan Australia membentuk tim penyelamatan bersama. Dari penyelamatan ini banyak korban yang diselamatkan oleh enam kapal dagang yang diberitahukan oleh Otoritas Keselamatan Maritim Australia (AMSA) bahwa kapal ferry Rabaul menghilang dari sistem pelacakan satelit.

Tak hanya itu, tujuh pesawat patroli Angkatan Udara Australia, tiga helikopter dan tujuh kapal terlibat dalam pencarian korban. Saat itu karena gelombang laut tengah tak bersahabat dan angin kencang mempersulit operasi pencarian dan penyelamatan.

Dari pencarian tersebut ditemukan 246 orang selamat dan pada tiga hari setelahnya atau 5 Februari 2012 sebanyak enam jasad korban ditemukan dan lebih dari seratus orang hilang. Dari kabar yang beredar ada 27 orang selamat berada di pulau tak berpenghuni, satu orang selamat lainnya langsung menghubungi keluarga dengan ponsel meski AMSA mengklaim pada 5 Februari setiap penumpang yang selamat pasti ditemukan.

Pada 10 Februari 2012, Radio Selandia Baru melaporkan bahwa jumlah orang yang diselamatkan telah dihitung ulang menjadi 237, dan jumlah orang yang hilang berdasarkan informasi baru dari kerabat mereka yang berada di dalam pesawat adalah 321.

Ini menunjukkan bahwa ada sekitar 558 orang berada di dalam kapal tersebut padahal izin angkut hanya 310. Sayangnya sampai pencarian dihentikan, daftar pasti manifestasi penumpang tidak jelas karena pencatatan yang buruk.

Sebuah Komisi Penyelidikan didirikan pada 10 Februari 2012, di bawah kepemimpinan Hakim Warwick Andrew. Komisi menghabiskan beberapa bulan untuk mendengarkan bukti dari para penyintas, penyelamat, ahli cuaca dan saksi lainnya. MV Rabaul Queen telah lulus survei tahunannya dan dianggap layak laut untuk operasi normal.

Namun, awak kapal ditemukan tidak bersertifikat dan tidak memenuhi syarat, termasuk petugas navigasi dan teknisi kapal, dan pemeriksaan latar belakang yang tidak memadai telah dilakukan sebelum perekrutan. Pemahaman kapten tentang stabilitas kapal “tidak benar” dan tidak cukup untuk menjadi komando sebuah kapal.

Baca juga: Kisruh Deportasi Yahudi dari Tanah Palestina, Kapal SS Patria di Bom dan Tenggelam di Pelabuhan Haifa

Dalam penyelidikan kapal ini, ketika insiden terjadi ditemukan kelebihan beban. Untuk diketahui, MV Rabaul Queen dibangun di Jepang pada tahun 1983, beroperasi dalam jarak pendek di negara itu. Kapal ferry tersebut dibawa ke Papua Nugini pada tahun 1998 dan melayani rute mingguan reguler antara Kimbe ibu kota West New Britain dan Lae, ibu kota dari provinsi daratan utama Morobe.

Mengenal Electronic Flight Bag, Fitur Canggih di Airbus A330-900NEO Terbaru Lion Air

Lion Air baru saja kedatangan pesawat Airbus 330-900NEO kelima dengan nomor registrasi PK-LEQ dan akan menyambut pesawat keenam dalam waktu dekat. Di antara sederet fitur canggih, Electronic Flight Bag atau EFB menjadi salah satu yang menarik dibahas.

Baca juga: Mengapa Airbus A330 Sangat Diminati di Asia-Pasifik? Inilah Alasannya

Dikutip dari Aviation Today, EFB adalah alat bantu tambahan berupa serperangkat komputer untuk memudahkan dan meringankan pekerjaan rutin pilot dan tidak lagi menggunakan kertas atau paper less. EFB biasanya terdapat di sebelah kanan dan kiri pilot co-pilot.

EFB sendiri mengandung banyak informasi seperti chart bandara, airways, aplikasi penghitung performa pesawat dalam setiap fase penerbangan, weight and balance, serta dokumentasi pesawat. Selain itu, EFB juga mengandung dokumen-dokumen penting dalam format digital, seperti Flight Crew Operating Manual (FCOM), Airplane Flight Manual (AFM), atau Master Minimum Equipment List (MMEL) dan sebagainya.

EFB terdiri dari beberapa kelas dan masing-masing kelas memiliki keunggulan tersendiri. EFB Kelas 1, yang salah satunya digunakan oleh maskapai asal Indonesia, Citilink, tidak terhubung ke sistem avionik, mencakup komunikasi, navigasi, display and management of multiple systems, dan ratusan sistem lainnya; EFB Kelas 2 dapat terhubung ke sistem avionik tetapi dapat dibongkar-pasang dari kokpit; dan EFB Kelas 3 adalah fixed system yang dapat menjalankan aplikasi penting penerbangan.

Sekalipun EFB di awal kemunculannya ialah sebuah kemewahan, seiring bumi berputar, menurut sebuah studi yang dilakukan oleh konsultan penerbangan komersial, AirInsight, beberapa tahun silam, lebih dari 80 persen dari 57 maskapai penerbangan yang disurvei telah menggunakan EFB sebagai sebuah kebutuhan, dengan tingkat kepuasan berkisar antara 86 hingga 94 persen.

Umumnya, mereka menggunakan EFB lantaran perangkat tablet tersebut sangat membantu meningkatkan kesadaran situasional dan keamanan pilot dan co-pilot. Selain itu, ada pula yang merasa EFB sangat membantu dalam menemukan rute yang tepat dan menghemat waktu, serta rekomendasi weight and balance pesawat, seperti a/c configuration, flap setting, dan thrust setting, yang membuat penerbangan lebih efisien dan efektif.

Berkat berbagai fitur unggulan di atas, sebuah studi menunjukkan, EFB bahkan berhasil menghemat hingga 400 ribu galon bahan bakar senilai US$1,2 juta per tahun.

Seiring perkembangan teknologi, lambat laun, maskapai di seluruh dunia mulai menyadari pentingnya bukan sekedar menggunakan EFB, melainkan hardware EFB atau EFB Kelas 3. Sebab, dengan menggunakan EFB kelas 3, jangkauan akses terhadap airport map, performace, terminal chart, video, dan dokumen menjadi lebih maksimal.

Baca juga: AirAsia X Vs Scoot Vs Jetstar, Siapa yang Terbaik?

Di dunia, ada banyak sekali pengembang EFB dengan berbagai keunggulannya masing-masing, seperti Astronautics Corporation of America, UTC Aerospace, Esterline CMC Electronics, dan Thales, yang digadang menjadi jawara di sektor pengembangan dan penjualan EFB.

Tambahan, EFB bukanlah bawaan dari pabrikan pesawat, melainkan pengembangan dari pihak kedua. Oleh karenanya, seluruh pesawat yang ada, entah itu pesawat baru maupun lama, bisa dipasangkan sistem EFB. Singkatnya, selain ada di pesawat-pesawat Airbus, tentu EFB juga bisa ditemukan di pesawat-pesawat Boeing, Embraer, ATR, Bombardier, Sukhoi, dan berbagai pesawat lainnya.

Triggo EV – Sepeda Listrik dengan Empat Roda, Bisa Ditarik Bila Parkir

Sepeda roda empat listrik Triggo terlihat seperti anggota keluarga Twizy. Namun Triggo EV berasal yang dari Polandia ini memiliki beberapa trik rapi yang tidak dimiliki oleh city roller Renault. Mobil ini memiliki bentuk yang condong ke sudut pada bagian depannya.

Baca juga: Roadster, Prototipe Archimoto dengan Tiga Roda dan Tanpa Penutup Atas

Triggo EV juga memiliki baterai yang dapat dilepas serta diganti dan bisa dikatakan hal tersebut tidak umum untuk jenis kendaraan seperti ini. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (22/1/2021), dengan bodi kendaraan yang seperti ini secara stabilitas ketika menikung, roda akan menekuk untuk memperlunak lintasan.

Sedangkan pada jalanan lurus cepat, roda depan quadricycle, listrik didistribusikan secara berbeda untuk meningkatkan efek aspal. Namun, ini belum lah semua, di mana ketika parkir, roda Triggo EV dapat ditarik dengan solusi yang berada di tengah antara roda pendaratan pesawat dan penyangga Piaggio Ciao.

Uniknya Triggo EV memiliki panggilan kuda poni. Yang mana ini dikembangkan untuk berbagi mobil dan pengiriman paket serta memiliki kecepatan melaju tertinggi 90 km per jam. Dalam mode kemudi jelajah atau standar, Triggo EV berukuran lebar 148 cm (58 inci), tetapi dengan kecepatan hingga 35 km per jam (21,7 mph) mekanisme menarik roda depan ke arah sasis dengan lebar 86 cm (34 cm dan radius putar 3,5 m (11,5 kaki) yang bagus untuk parkir atau manuver.

Secara keseluruhan, kendaraan roda empat elektrik yang lucu ini memiliki berat 530 kg (1.168,5 lb), dan memiliki total massa yang diizinkan sebesar 750 kg (1.653,5 lb). Mode lebar atau sempit diaktifkan dari kontrol kemudi datar berbentuk U, yang diapit oleh layar yang menampilkan pemandangan dari sisi kiri dan kanan kamera, dan terdapat kluster instrumen digital di atasnya. Konsol kontrol fisik berada di sebelah kanan untuk mengaktifkan fungsi mengemudi lainnya.

Kendaraan roda empat asal Polandia ini juga dilengkapi mekanisme miring yang memiringkan runabout kota yang serba listrik ke sudut hingga 20 derajat untuk kesan seperti sepeda motor, disemen oleh penumpang yang duduk di belakang pengemudi dalam formasi pembonceng. Pengemudi dan penumpang naik melalui satu pintu yang muncul dan meluncur kembali dengan menekan sebuah tombol.

Kendaraan ini didukung oleh dua motor DC tanpa sikat di bagian belakang, sedangkan konfigurasi baterai saat ini terdiri dari empat baterai skuter 3,5 kWh untuk jangkauan per pengisian daya hingga 140 km (87 mil), dan dapat dilepas dalam lima menit. Kemudi drive-by-wire-nya menggunakan sistem servo yang dikontrol oleh komputer dan dilaporkan membuat Triggo siap untuk mengemudi secara otonom.

Baca juga: Kotak Pengiriman Bisa Atur Suhu Makanan dan Diletakkan di Sepeda Motor Listrik Ösa

Triggo bulan ini meluncurkan prototipe baru dalam seri pra-produksinya, yang akan diuji di jalan umum. Perusahaan ingin membuat kendaraan tersedia untuk operator armada, bisnis ride-hailing dan car-sharing mulai tahun 2022, diikuti oleh layanan taksi otonom tahun berikutnya dan pengujian pengoperasian jarak jauh kendaraan telah dimulai, dalam perjalanan hingga penuh. Pasar sasaran utama termasuk Cina, India dan Rusia.

Begini Proses Sertifikasi Pesawat Baru, Panjang dan Mahal

Sebelum dioperasikan oleh maskapai di seluruh dunia, pesawat harus melewati sertifikasi terlebih dahulu. Mengingat tahapan ini amatlah penting dan menentukan kelaikan sebuah pesawat, prosesnya sangat panjang dan mahal.

Baca juga: Inilah Lima Rangkaian Tes Ekstrem untuk Pastikan Pesawat Aman

Menengok ke belakang, sertifikasi pesawat pertama kali dilakukan di Inggris pada tahun 1919. Saat itu, aturan sertifikasi pesawat dikeluarkan oleh Sekretaris Negara Bagian Udara, Winston Churchill, dengan sebutan Air Navigation Regulations.

Secara umum, proses sertifikasi pesawat dimulai dari segi desain dan struktur badan pesawat terlebih dahulu. Keduanya diuji di simulator untuk alasan efisiensi. Bila lolos, tim akan mengujinya langsung di udara. Di antara serangkaian proses atau tahapan sertifikasi pesawat baru, inilah yang termahal dan memakan waktu terpanjang. Sebab, desain dan struktur badan pesawat biasanya memakan biaya pengembangan yang juga sangat mahal dan menentukan kesuksesan pesawat baru.

Pada proses sertifikasi, produsen biasanya akan menyediakan prototipe pesawat lebih dari satu. Sebagai contoh, saat proses sertifikasi pesawat A380 dan A350 oleh Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA) dan Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA), Airbus setidaknya menyediakan lima prototipe pesawat, dimana masing-masing prototipe mempunyai perbedaan di beberapa bagian. Baik A380 dan A350, keduanya menjalani proses sertifikasi selama kurang lebih 14 bulan dan melewati hingga 2.600 jam terbang.

Dilansir Simple Flying, pasca diuji di simulator dan sebelum diuji di udara, struktur badan pesawat dites dengan beragam cara, seperti uji tekanan dengan alat khusus ke badan pesawat dan sayap untuk melihat tingkat ketahanan keduanya, tes wing loading, deflection, serta fungsi aileron dan spoiler selama tes wing loading, uji fatigue, dan simulasi siklus penerbangan.

Pada tahap simulasi siklus penerbangan, pesawat akan disimulasikan terbang menggunakan alat khusus dengan muatan penuh hingga dua kali lipat dari kemampuannya atau dari jumlah penerbangan yang mungkin akan dijajaki pesawat. Pada sertifikasi A380, misalnya, pesawat komersial terbesar di dunia ini telah dilakukan 47.500 siklus penerbangan atau 2,5 kali lipat jumlah penerbangan total pesawat itu selama 25 tahun.

Setelah serangkaian proses tes sturuktur badan pesawat dan berbagai tes lainnya di darat tuntas, pesawat mulai melakukan rangkaian tes panjang di udara. Pada tahap ini, pesawat akan dilihat general handling dan kinerja serta kemampuannya saat diuji dalam kondisi ekstrem, seperti cuaca dingin, panas, ketinggian, serta angin kencang.

Tempat yang digunakan pun sudah langganan. Untuk tes cuaca dingin, wilayah di Kanada Utara menjadi andalan. Begitupun juga dengan Timur Tengah, La Paz (Bolivia), dan Islandia, yang menjadi lokasi andalan tes penerbangan untuk kondisi cuaca panas, tes di dataran tinggi, dan angin kencang.

Baca juga: Bagaimana Perawatan Mesin Pesawat Dilakukan? Ini Jawabannya

Di masing-masing wilayah itu, berbagai sistem akan coba dioperasikan, seperti autopilot, tes ketahanan air untuk menguji bahwa air tidak masuk ke dalam pesawat, tes flutter untuk mengukur getaran agar tidak terjadi kerusakan struktural, lepas landas dengan kecepatan rendah, uji pengereman dengan pembatalan take off, serta uji jejak karbon pesawat atau tes kadar karbon pesawat.

Andai pun pesawat mampu melalui semua tes di atas dengan hasil sangat memuaskan, pesawat memang akan diizinkan melayani penerbangan komersial, namun, performanya tetap akan dipantau penuh untuk melakukan peninjauan kembali kelaikan pesawat. Selain itu, jika ada perubahan struktural atau komponen avionik, pesawat juga mesti disertifikasi ulang untuk memastikan semuanya aman.

Pilot Tak Sabar, 35 Orang Tewas Akibat Tabrakan Pesawat USAir Flight 1493 dan SkyWest Flight 5569

Pada hari ini, 30 tahun lalu, bertepatan dengan Jumat, 1 Februari 1991, pesawat Boeing 737-300 USAir dengan nomor penerbangan 1493 dan pesawat Fairchild Metro III SkyWest Airlines dengan nomor penerbangan 5569, bertabrakan di Bandara Internasional Los Angeles (LAX), Amerika Serikat (AS), akibat pilot tak taat panduan petugas menara kontrol (ATC).

Baca juga: Hari Ini, 28 Tahun Lalu, Kecelakaan Terburuk di Nepal PIA Flight 268 Terjadi Gegara Pilot Lalai Ikuti Prosedur

Dikutip dari tailstrike.com, insiden kecelakaan pesawat yang juga dikenal sebagai Los Angeles runway disaster ini bermula saat pesawat USAir bertolak dari Bandara Internasional Syracuse Hancock, New York, menuju LAX. Sebelum ke Bandara Los Angeles, Boeing 737 USAir transit terlebih dahulu di Washington dan Colombus, Ohio, dengan membawa total 83 penumpang.

Usai beberapa jam perjalanan, USAir flight 1493 melakukan final approach di Bandara Los Angeles sekitar pukul 6 sore waktu setempat. Di lain tempat, pesawat Fairchild Metro III SkyWest Airlines sedang mempersiapkan penerbangan komuter ke Palmdale, California, AS. Pesawat yang mengangkut 10 penumpang dan dua awak ini kemudian diizinkan ATC melakukan taxiing untuk kemudian lepas landas.

Saat itu, SkyWest Airlines dipandu ATC memakai landasan pacu atau runway 24L dan masuk di persimpangan taxiway 45, sekitar 670 meter dari runway threshold. Tetapi, jangan dulu ke runway 24L karena akan ada pesawat USAir flight 1493 yang sebelumnya sudah melakukan final approach dan sudah mendapat clearance. Namun, siapa nyana, ketika Boeing 737 USAir mendekati runway threshold, pesawat Fairchild Metro III SkyWest Airlines muncul dan tabrakan pun tak terhindarkan.

https://www.youtube.com/watch?app=desktop&v=e_WkXrZeAIw

Keduanya kemudian tergellincir di runway, sebelum akhirnya terhenti pasca menabrak sebuah bangunan kosong dan terbakar.

Dalam rekaman Cockpit Voice Recorder (CVR) kedua pesawat, terbukti bahwa petugas ATC sudah memberikan panduan yang jelas.

Sebelumnya, sebagaimana umum diketahui, sistem menara ATC terbagi ke dalam tiga bagian: Aerodrome Control Service (biasanya berpartner dengan petugas darat untuk memberikan isyarat kepada pesawat untuk take-off atau landing), Approach Control Service (mengatur ketinggian pesawat), dan Area Control Sevice (memberikan clearance kepada pesawat yang sedang menjelajah).

Baca juga: Mengenal Istilah Pilot Error, Gagalnya Keputusan Pilot yang Berujung Kecelakaan

Terkait insiden tabrakan pesawat USAir flight 1493 dan SkyWest flight 5569 ini, petugas Aerodrome Control Service sudah memandu pilot SkyWest 569 untuk taxiing ke taxiway 45 dan tahan landasan 24L karena ada pesawat yang akan menyeberang. Sampai di sini, pilot SkyWest sebetulnya sudah mengiyakan instruksi tersebut.

Beberapa menit berselang, petugas Area Control Sevice memberikan clearance untuk mendarat di runway 24L ke USAir flight 1493 dan tak lama kemudian kecelakaan dilaporkan terjadi. Setelah dicek, kecelakaan ternyata melibatkan pesawat SkyWest 569 yang seharusnya tidak berada di runway 24L karena sudah diminta untuk tahan dan memberikan kesempatan USAir flight 1493 lewat terlebih dahulu.