FedEx Terima ATR 72 Khusus Kargo Pertama

Perusahaan eksedisi ekspres terbesar di dunia, FedEx Express belum lama ini mengumumkan kedatangan ATR 72-600F, ATR khusus kargo pertama. Meskipun sempat diragukan, anak perusahaan FedEx Corp ini memastikan ATR khusus kargo pertama ini akan sangat membantu perusahaan dalam mengembangkan sayap bisnisnya.

Baca juga: Akankah Regional Aircraft Kembangan Airbus Mampu Goyang Pasar ATR-72?

Pesawat tersebut merupakan ATR-72600F pertama FedEx dari 30 pesanan, ditambah 20 pesanan tambahan jika dibutuhkan. ATR mengirim pesawat tersebut ke Bandara Shannon di Irlandia, untuk kemudian dioperasikan oleh ASL Airlines Ireland sebagai bagian dari FedEX Express Feeder Fleet.

Dilansir Simple Flying, ATR dan FedEx diketahui menandatangani perjanjian pembelian 30 pesawat ATR khusus kargo pada November 2017. Karena satu dan lain hal, ATR baru bisa mengirimkan pesawat baru-baru ini.

Setelah pengiriman pertama, pesawat akan dikirim sebanyak enam unit per tahun selama lima tahun ke depan.

Sebetulnya, ATR bukanlah pesawat baru dibarisan armada FedEx. Disebutkan, perusahaan memiliki 44 pesawat buatan Italia itu. Selain itu, perusahaan kargo ini juga memiliki 66 A300, 10 Boeing 737, 119 Boeing 757, 95 Boeing 767, 45 Boeing 777, 18 McDonnell Douglas DC-10, dan 59 McDonnell Douglas MD-11.

Hanya saja, kesemua ATR tersebut tidak dioperasikan sendiri oleh perusahaan, melainkan disewakan ke maskapai lain atau dioperasikan oleh pihak ketiga, dalam hal ini sebagai pengumpan atau hub kargo FedEx.

Saat ini FedEx menyebar sekitar 364 pesawat pengumpan yang beroperasi di 56 negara. Sebagian besar armada pengumpan atau feeder fleet dimiliki oleh FedEx, tetapi menyewakannya kepada maskapai pihak ketiga yang terbang di bawah sertifikat operasi mereka sendiri. Itulah mengapa ASL Airlines Ireland akan menggunakan ATR 72-600F.

ATR 72-600F atau ATR pertama khusus kargo ini memiliki berat lepas landas maksimum di bawah 60 ribu pound, memungkinkan perusahaan mengoperasikan pesawat di wilayah-wilayah terpencil untuk mendukung perpindahan barang dengan cepat ke seluruh dunia.

“Freighters (pesawat kargo) memainkan peran besar dalam menyediakan konektivitas penting antara ekonomi di seluruh dunia, dan aspek unik dari kargo modern kami yang dibuat khusus berarti hal itu akan memberikan manfaat operasional bagi perusahaan yang mengintegrasikannya ke dalam armada mereka,” kata CEO ATR, Stefano Bortoli.

Baca juga: Citilink Gunakan ATR 72-600 untuk Rute Bandung dan Lampung

Sementara itu, Scot Struminger, CEO Aviation FedEx Express, mengungkapkan, “ATR 72-600F dibuat dengan masukan dari teknisi FedEx di setiap langkahnya, jadi kami bangga dan bersemangat akhirnya memiliki pesawat yang mengesankan ini.”

Sebagai pesawat khusus kargo pertama, ATR-72-600F dibekali dengan kapasitas sebesar 75m3. Itu berarti, pesawat dapat membawa hingga sembilan ton muatan, baik dalam kargo eceran atau menggunakan hingga tujuh kontainer LD3.

Pertama di Dunia, Pesawat Sel Bahan Bakar Hidrogen Hy4 Sukses Mengudara

Generasi terbaru pesawat pertama di dunia yang ditenagai oleh sel bahan bakar hidrogen, Hy4, dengan kapasitas empat penumpang, sukses meluncur di Stuttgart, Jerman. Meski berhasil mencatat prestasi membanggakan, pesawat ini merupakan awal dari grand design untuk menciptakan pesawat sejenis berkapasitas 40 penumpang dengan jangkauan terbang sampai 2.000 km 10 tahun mendatang.

Baca juga: Avions Mauboussin Luncurkan Pesawat STOL Hibrida-Hidrogen Pertama di Dunia

Sejak berhasil menerbangankan pesawat hidrogen Hy4 Pipistrel pada 2016 lalu, para insinyur di University of Ulm dan German Aerospace Center (DLR) terus mendorong pengembangan sistem penggerak baru sampai akhirnya generasi keenam Hy4, pesawat sel bahan bakar hidrogen pertama di dunia berhasil terbang mulus.

Secara sederhana, pesawat sebetulnya ditenagai oleh listrik melalui alat elektrokimia sejenis baterai yang diproduksi dari bahan bakar hidrogen dan oksigen dari luar. Tenaga listrik itu kemudian disalurkan ke satu baling-baling yang berada di tengah. Bisa dibilang, Hy4 merupakan pesawat listrik yang didukung sel bahan bakar hidrogen.

“Sistem ini mencakup konsep redundansi untuk tangki hidrogen, sel bahan bakar, distribusi energi, dan penggerak listrik,” kata Profesor Josef Kallo, Direktur Institute for Energy Conversion and Storage University of Ulm, Jerman, seperti dikutip dari electrive.com.

https://www.youtube.com/watch?v=_7B9w-eto6Y

Sebelum sukses terbang perdana, proyek garapan bersama berbagai lembaga dan perusahaan seluruh dunia ini, seperti Airbus, Siemens, Pipistrel, Universitas Ulm, DLR, H2FLY GmbH, Diehl Aerospace, institutions Politecnica, TU Delft, University of Maribor, dan Cummins Canada, diuji di masing-masing laboratorium.

Komponen motor listrik dan unit distribusi energi pesawat sel bahan bakar Hy4, misalnya, dikembangkan dan diuji di laboratorium Institute for Energy Conversion and Storage University of Ulm. Disebutkan, motor listrik itu memiliki output 120 kW dan memungkinkan Hy4 melesat sampai 200 km per jam.

Desain keseluruhan sistem yang terdiri dari tangki hidrogen, sel bahan bakar, dan penggerak listrik, serta integrasinya di dalam pesawat, diuji dan menjadi tanggung jawab H2FLY GmbH. Begitu juga dengan data communications and control hardware, avionik, AI, pendanaan, kelistrikan, flight control, kokpit, landing gear, dan berbagai komponen lainnya, menjadi tanggung jawab berbagai lembaga dan perusahaan di atas.

Hingga kini, proyek pesawat bebas emisi atau bebas karbon dioksida yang didanai oleh NOW GmbH, Kementerian Federal Jerman untuk Urusan Ekonomi dan Energi, serta Kementerian Transportasi dan Infrastruktur Digital; termasuk kucuran dana dari DLR, Bandara Stuttgart, dan Komisi Eropa ini telah melakukan 30 kali lepas landas untuk mencetak penerbangan selama 2 jam menggunakan sistem propulsi baru.

Baca juga: Inilah Tiga Konsep Pesawat Bertenaga Hidrogen Airbus, Beroperasi Penuh Mulai 2035

Meski demikian, sampai sekarang, belum ada kepastian kapan pesawat sel bahan bakar hidrogen dengan panjang 14,97 m ini bisa memenuhi target produksi sebanyak 19 unit. Yang pasti, pesawat nol emisi ini nantinya didapuk untuk tataran regional saja, bukan untuk jarak jauh.

Teknologi energi sel bahan bakar (fuel cell) berbahan bakar hidrogen atau sel bahan bakar hidrogen belakangan jadi salah satu alternatif energi terbarukan di transportasi udara. Hanya saja, berbagai kendala seperti teknologi di tangki bahan bakar dan sistem propulsi menjadi tantangan tersendiri untuk menjadikannya massif digunakan oleh pesawat komersial di seluruh dunia.

Xpressair Terbang Kembali 16 Desember, Maskapai Kelas Dua Sukses Hadapi Pandemi Corona?

Pandemi virus Corona membuat industri penerbangan kalang kabut. Jangankan kecil, maskapai besar dengan modal segunung saja, seperti Garuda Indonesia dan Lion Group, sampai kewalahan untuk mempertahankan kinjerja keuangan. Bila maskapai besar saja kewalahan, bagaimana dengan maskapai perintis (jika tak ingin disebut maskapai kelas dua)?

Baca juga: Tuntas Mengabdi di Timur Indonesia, Xpressair Fokus Hubungkan Jawa-Sumatera dan Kalimantan

September lalu, maskapai TransNusa dikabarkan stop operasi mulai awal September lalu. Meskipun sempat menyebut bakal terbang kembali pada akhir September, nyatanya sampai saat ini, maskapai yang melayani daerah Indonesia timur serta memiliki basis di Bandara El Tari, Kupang itu masih belum menerbangkan pesawat.

Dirunut ke belakang, sebetulnya bukan hanya TransNusa yang stop operasi secara temporer. Berbagai maskapai kecil lainnya, seperti Susi Air, Trigana Air, dan Xpressair juga sempat bernasib serupa di awal pandemi pada Maret-Mei lalu. Bahkan, salah satunya sempat terancam bangkrut bila tak ada perubahan signifikan.

“Dua sampai enam bulan, tergantung kita lihat situasi belakangan. Tapi, dengan catatan enggak bayar kewajiban, bisa bertahan sampai sana,” ujar Susi Pudjiastuti, pendiri maskapai Susi Air, dalam sebuah wawancara eksklusif di Indonesia Lawyers Club (ILC) Tv One besutan Karni Ilyas, sekitar akhir April lalu.

“Karyawan sebagian ada yang kita rumahkan, kita kurangi salary. Tutup beberapa cabang. Ada (PHK), harus, mau tidak mau,” tambahnya.

Demikian juga dengan Trigana Air. Sekalipun tak ada laporan maskapai kesulitan keuangan, namun, pandemi Covid-19 sempat membuat bisnis mereka suram. Kondisi serupa juga dialami oleh Xpress Air. Maksud hati ingin menghiasi langit Indonesia pada akhir Maret lalu, namum, siapa nyana, di saat yang nyaris bersamaan virus Corona dipastikan sudah masuk ke Indonesia. Akibatnya, langkah-langkah pengetatan pun dilakukan di seantero negeri dan comeback maskapai tersebut pun sempat tersendat.

Akan tetapi, seiring berjalannya waktu, bisnis ketiganya berangsung pulih. Susi Air perlahan tapi pasti mulai mengisi rute-rute kecil di Sumatera, seperti penerbangan dari dan ke Bandara Atung Bungsu, Kota Pagaralam, ditambah penerbangan charter ke seluruh Indonesia. Demikian laporan media lokal.

Xpressair, seperti dilansir Banjarmasin Post, juga mulai menggeliat. Setelah sebelumnya Semarang-Sampit pada Juli lalu, maskapai yang mulai beroperasi secara komersial pada 23 Juni 2003 ini pun kembali membuka rute baru Banjarmasin-Pangkalanbun. Rute tersebut akan dimulai pada 16 Desember 2020 mendatang.

Baca juga: Xpressair Gebrak Rute Semarang-Sampit Lewat Program “Murah Meriah Untung Melimpah”

“Pada 16 Desember nanti penerbangan dijadwalkan pukul 11.50 – 11.55 Wita. Adanya penambahan rute diharapkan mampu menumbuhkan kembali perekonomian yang lesu imbas pandemi,” jelas Irwan Rosyidi.

Selain itu, Xpressair, yang sebelumnya mengaku kepada KabarPenumpang.com banyak mendapat pesanan tiket secara offline, saat ini, mengaku lebih memanfaatkan paltform online sebagai andalan. “Karena sekarang era digital kami juga ingin fokus pemasaran selain koran ke platform digital bersama Banjarmasin Post, misalnya melalui digital activity dan berita website,” kata Irwan.

Jembatan Sungai Yalu – Jembatan Kereta Penghubung Cina dan Korea Utara

Bagi Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un, melakukan lawatan keluar negeri terasa lebih aman bila dilakukan lewat jalur kereta api. Maklum, diktator muda ini termasuk orang yang paling banyak musuhnya di dunia. Dan ketika akan ke luar negeri dengan kereta, maka kereta dari Korea Utara harus melalui wilayah Cina, dan itu bisa dilakukan dengan cara kereta menyeberangi sebuah jembatan yang menjadi perbatasan antara kedua negara.

Baca juga: Ternyata, Kereta Kenegaraan Kim Jong Un Tidak Lepas dari Peran dan Dukungan Cina

Yang dimaksud adalah Jembatan Persahabatan Sino-Korea yang juga disebut Jembatan Persahabatan Cina-Korea Utara letaknya tepat berada di atas Sungai Amnok atau Yalu. Jembatan ini menghubungkan kota Dandong di Cina dengan Sinuiju di Korea Utara. Jembatan tersebut memiliki dua fungsi jalan yakni kereta api dan jalan raya.

Namun para pejalan kaki tidak diizinkan melintasi jembatan dan hanya diperbolehkan jika menggunakan kendaraan. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, jembatan ini memiliki fungsi yang salah satunya adalah untuk masuk dan keluar dari Korea Utara menuju Cina atau sebaliknya.

Jalur kereta dan jalan raya serta jembatan yang dibom Amerika Serikat (wikipedia)

Jembatan yang saat ini dibangun oleh Tentara Kekaisaran Jepang (IJA) mulai April 1937 hingga Mei 1943 selama pendudukannya di Korea dan negara boneka Manchukuo (sekarang timur laut Cina). Sebelum adanya jembatan ini, awalnya sekitar 100 meter di hilir jembatan ada sisa-sisa jembatan yang lebih tua dan kini dikenal sebagai Jembatan Patah Sungai Yalu (Jembatan Yalu River Broken).

Jembatan tersebut dibuka untuk lalu lintas antara Cina dan Korea pada Oktober 1911 silam. Kemudian Jembatan Patah Sungai Yalu tersebut melengkapi jembatan yang lebih modern setelahnya. Sayangnya kedua jembatan tersebut pada tahun 1950-1951 berulang kali diserang bom oleh pesawat militer Amerika.

Serangan berulang ini menyerang dan menghancurkan jembatan dalam upaya untuk memutus aliran pasokan dan pasukan yang dikirim ke Korea Utara dari Cina. Karena penyerangan tersebut, kedua jembatan berulang kali diperbaiki selama periode Perang Korea Ini.

Hingga akhirnya satu serangan militer Amerika Serikat mengebom jembatan tua di titik potong Cina dan Korea Utara atau tepat di bagian tengah sungai. Ini yang akhirnya membuat jembatan tua tidak pernah diperbaiki sehingga dinamai Jembatan Patah Sungai Yalu .

Tetapi 1953, perbaikan terakhir dilakukan untuk Jembatan Sungai Yalu Baru dan kemudian dibuka kembali. Nama Jembatan Sungai Yalu Baru menggantikan nama sebelumnya yakni Jembatan Persahabatan Sino-Korea pada 1990. Pada Oktober 2010 lalu, Jembatan Sungai Yalu Baru kembali direkonstruksi.

Baca juga: Stasiun Pyongyang, Titik Awal Perjalanan Kim Jong Un Saat Melawat ke Luar Negeri

Jembatan Persahabatan Sino-Korea dan Broken Bridge diapit di sisi Cina oleh taman serta promenade yang membentuk Area Pemandangan Sungai Yalu (Amnok). Ini adalah daya tarik wisata utama di Cina dan dinilai AAAA dalam skala wisata nasional Cina. Kapal wisata berangkat dari sisi jembatan, memungkinkan pengunjung untuk melihat jembatan dan tepi sungai Dandong, dan lewat di dekat pantai Korea Utara.

Bus Double Decker di London Jadi ‘Solusi’ Hidup Sejahtera Bagi Tunawisma

Tunawisma di Inggris pada Desember 2019 ada sekitar 280 ribu orang dan jumlah ini meningkat 23 ribu sejak 2016. Bahkan para ahli percaya bahwa jumlah tunawisma di Inggris jauh lebih tinggi dari pada data resemi yang disebutkan. Sebab para tunawisma tidak memiliki dokumen.

Baca juga: Snap Uji Coba Bus Wisata Double Decker Tak Beratap untuk Transportasi Pekerja London

Karena hal ini, organisasi non pemerintahan, yakni Buses 4 Homeless menggunakan bus tingkat untuk mengatasi para tunawisma ini. Buses 4 Homeless menggunakan bus double decker yang menjadi ikonik kota London. Mereka mengubahnya menjadi solusi holistik untuk tunawisma di London.

Banyak bus Double Decker yang tidak memenuhi syarat emisi dan tidak lagi beroperasi di jalanan, yang kemudian diambil/dibeli oleh Buses 4 Homeless dan diubah menjadi ‘ruang’ untuk hidup, makan, belajar dan aktivitas kebugaran.

Dilansir KabarPenumpang.com dari borgenmagazine.com (29/11/2020), dalam kurun waktu tiga bulan, program yang bertujuan untuk membantu para tamu, memahami akar penyebab tunawisma mereka dan mempersiapkan untuk masa depan yang lebih sejahtera. Tak hanya itu, program tersebut memiliki penekanan kuat pada pengajaran keterampilan kepada peserta yang dapat membantu mendapatkan pekerjaan dan menjadi terintegrasi kembali dengan komunitas mereka.

Untuk diketahui, Buses 4 Homeless memiliki empat bus berbeda yang melayani berbagai keperluan terkait misinya. The Buses 4 Shelter memiliki 16 tempat tidur yang aman bagi para tunawisma. Buses 4 Dining adalah ruang tempat peserta menyiapkan dan menikmati makanan bersama. Organisasi tersebut menggambarkan bus makan sebagai tempat di mana pengunjung dapat menjalin persahabatan dan tempat di mana mereka dapat berbagi aspirasi satu sama lain.

Bus 4 Learning memiliki komputer dan printer untuk membantu peserta mempelajari keterampilan kejuruan. Di bus-bus tersebut, para pengunjung didukung oleh staf dan satu sama lain sambil mempelajari keterampilan penting. Keterampilan yang dipelajari orang di bus tingkat ini adalah yang dapat mengarah pada pekerjaan potensial.

Organisasi tersebut berharap pengunjung menjadi lebih percaya diri dengan keterampilan mereka dan akan meninggalkan program dengan harga diri yang lebih tinggi sebagai hasilnya. Sedangkan di Buses 4 Wellness, peserta dapat berpartisipasi dalam aktivitas yang berkaitan dengan kesejahteraan mereka secara keseluruhan.

Beberapa layanan yang ditawarkan antara lain yoga, relaksasi dan kebugaran serta ada juga layanan kesehatan mental yang ditawarkan kepada pengunjung yang membutuhkannya. Konselor dan terapis tersedia untuk membantu mereka yang menggunakan layanan tersebut mengidentifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap tunawisma mereka dan langkah apa yang dapat mereka ambil untuk mengatasinya.

Baca juga: Agar Tak Bikin Kecewa Penumpang, Bus Tingkat di London Hadirkan Monitor Sisa Kursi di Dek Atas

Nantinya, setelah peserta menyelesaikan program intensif selama tiga bulan, Bus 4 Homeless berharap mereka tidak hanya akan terus mendapatkan pekerjaan dan memulai usaha sendiri, tetapi juga menjadi mentor bagi peserta program di masa depan. Pada 26 Mei, perusahaan mengumumkan bahwa enam mantan penghuninya telah bekerja penuh waktu.

 

 

Meski Tanpa Rapid Test, ASDP Perketat Protokol Kesehatan di Dalam Kapal Ferry

Maskapai Penerbangan dan PT Kereta Api Indonesia (KAI) sampai hari ini masih mewajibkan penumpangnya untuk menunjukkan hasil rapid tes atau PCR yang berlaku selama 14 hari. Selain itu juga masih terus menerapkan protokol kesehatan baik di stasiun maupun di dalam keretanya.

Baca juga: Pandemi Belum berakhir, Damri Jalin Sinergi dengan ASDP dan Dukung Angkutan Haji/Umrah di Arab Saudi

Bahkan PT KAI memberikan face shield untuk para penumpang kereta jarak jauh mereka. Namun sebagai moda angkutan massal, kapal ferry yang dioperasikan oleh PT ASDP Indonesia Ferry saat ini tidak lagi mewajibkan penumpang menunjukkan hasil rapid tes mereka.

Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry, Ira Puspadewi mengatakan akan tetap memberlakukan protokol kesehatan secara ketat di dalam kapal ferry. Ira mengatakan bila tidak ada rapid tes, pihaknya juga melakukan pengecekan suhu dan pengetatan pemakaian masker.

“Nah, ini sesuatu yang kalau saya bilang never-ending job,” ujar Ira.

Dia mengatakan, kesadaran masyarakat pada protokol kesehatan di tempat umum saat ini sudah tinggi dan dirinya yakin meski dalam perjalanan, mereka akan proaktif membantu petugas mengawasi protokol kesehatan penumpang lain. Ira menyebutkan, dibandingkan bulan April lalu, perilaku pengguna jasa di kapal sudah lebih baik yang mana tak ada lagi keributan antar petugas dan penumpang ketika mengingatkan menggunakan masker dengan benar.

Untuk angkutan Natal dan Tahun Baru, pihak ASDP dikatakan Ira masih menunggu arahan dari satuan tugas Covid-19 terkait ketentuan rapid tes. Terlebih, jumlah penumpang harian diprediksi bakal naik sekitar 12 persen pada masa-masa tersebut.

“Terkait liburan ini nanti terutama yang dari Jakarta dan Bali ada persyaratan khusus, nanti saya kira teman-teman media cari dalam waktu sangat dekat akan ada ada pengumuman dari tugas-tugas,” tuturnya.

Baca juga: Hentikan Sementara Penjualan Tiket Penumpang, ASDP Hanya Layani Logistik

Meski ada pengetatan protokol kesehatan, Humas PT ASDP Indonesia Ferry, Ellen Pirri yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (15/12/2020), mengatakan pihaknya tidak memberikan face shield kepada penumpang yang dilakukan secara berkala. Dia mengatakan, ASDP melakukan pembagian masker dan handsanitizer dengan waktu insidentalnya serta tetap menyediakan wastafel untuk penumpang mencuci tangan mereka.

Dengan Dalih Kurangi Makanan Terbuang, JAL Tawarkan Penumpang untuk ‘Skip Meals’

Sebagai maskapai yang menyediakan layanan penuh (full service), maka pemberian fasilitas makanan dan minuman (in-flight meals) sudah menjadi standar yang lumrah diberikan. Namun, ada yang berbeda dari Japan Airlines (JAL), maskapai plat merah asal Negeri Sakura ini memberikan pilihan yang unik, yaitu “Pilihan Etis.”

Baca juga: Ini Kisah Pramugari Tentang Masak Makanan di Pesawat yang Sedang Mengudara

Dalam upaya untuk mengurangi jumlah makanan yang terbuang dalam setiap penerbangan, JAL memungkinkan penumpang melewatkan makan dalam penerbangan mereka. Maskapai milik Negeri Sakura tersebut menjelaskan bahwa opsi baru tersebut sebagai dorongan untuk mengurangi limbah makanan dan tidak mengurangi harga tiket.

Dilansir KabarPenumpang.com dari cnn.com (14/12/2020), “Pilihan Etis” ini dikatakan oleh perwakilan JAL, saat ini hanya tersedia pada penerbangan malam tertentu di Asia. Hal ini karena banyak penumpang memilih untuk tidur sepanjang penerbangan daripada bangun untuk layanan makan.

Adanya program ini terinspirasi dari Sustainable Development Goals atau SDGs PBB, salah satunya adalah mengurangi limbah makanan di seluruh dunia. Di Jepang, perusahaan menjadi kompetitif dalam pendekatan mereka untuk memenuhi SDGs ini.

JAL mengatakan, ini pertama kali diterapkan sebagai uji coba pada penerbangan antara Bangkok, Thailand dan Bandara Haneda Tokyo pada bulan November.

Karena pandemi saat ini, orang yang bepergian dengan penerbangan masih sedikit jumlahnya, sehingga memberi maskapai kesempatan untuk peluncuran program tersebut secara bertahap. Untuk diketahui, penumpang dapat memilih untuk membatalkan layanan makan mereka sebelumnya dengan membuka situs web milik JAL atau menghubungi maskapai setelah melakukan konfirmasi reservasi penerbangan mereka.

Bisa dikatakan cara ini mirip ketika mereka meminta makanan vegetarian atau halal seperti sebelumnya. Pendekatan JAL ini akan membuat tidak adanya makanan tambahan yang disiapkan dan dibuang. Bahkan ini berbeda dari maskapai penerbangan yang menawarkan kesempatan untuk mengatakan “tidak, terima kasih” untuk layanan makanan selama penerbangan dan membuat makanan terbuang begitu saja.

Selain opsi melewatkan makan, JAL ternyata mendaur ulang seragam teknisi perawatan menjadi serat kapas penyekat suara dan meminta pramugari menggunakan iPad dalam penerbangan untuk mengurangi menu kertas cetak. Bahkan ini bukan satu-satunya inisiatif baru JAL di tahun 2020.

Baca juga: Virus Demam Babi Afrika Mewabah di Indonesia, Peternak Dilarang Beri Makan Babi dari Sisa Makanan Penerbangan

Pada bulan September, maskapai penerbangan menjatuhkan “ladies and gentlemen” dan beralih ke sapaan yang lebih inklusif dan netral gender seperti “perhatian semua penumpang”.

Selain Biak, Wilayah Ini Juga Potensial untuk Luncurkan Roket SpaceX di Indonesia

Roket SpaceX digadang-gadang bakal meluncur dari Indonesia, tepatnya di Biak. Kabar tersebut berhembus usai Presiden Joko Widodo menawarkan wilayah di utara Pulau Papua itu ke CEO SpaceX, Elon Musk, belum lama ini.

Baca juga: Eks Instruktur Pilot Asal Jepang Jadi Penumpang Internasional Pertama SpaceX

Dirunut ke belakang, sebetulnya, rencana menjadikan Biak sebagai bandar antariksa atau lokasi peluncuran roket pembawa satelit sudah menggaung sejak tahun lalu. Dikutip dari The Conversation, Kepala Lapan, Thomas Djamaluddin, mengungkap, alasan menjadikan Biak sebagai lokasi peluncuran tentu bukan tanpa pertimbangan.

Disebutkan, Biak merupakan satu dari beberapa wilayah di dunia yang berada atau di dekat garis khatulistiwa (ekuator).

Selama ini, hanya ada dua bandar antariksa (spaceport) di dunia yang terletak dekat dengan khatulistiwa, yakni Pusat Antariksa Guyana Eropa di Guyana Perancis, berada sekitar 5 derajat di atas ekuator, dan Pusat Antariksa Alcantara Brasil sekitar 2 derajat di bawahnya. Keduanya berada di Amerika Selatan dan di bawah militer.

Karenanya, bila Biak benar-benar bisa menjadi bandar antariksa pada 2024 mendatang, hal itu akan menjadikannya sebagai lokasi peluncuran satelit non-militer pertama dan satu-satunya di Pasifik dan satu-satunya yang paling dekat dengan ekuator di kisaran 1 derajat di bawahnya. Selain itu, bila rencana itu terwujud, baik dengan dukungan SpaceX maupun investor lainnya, Biak akan jadi bandar antariksa pertama di Indonesia.

Akan tetapi, Biak rupanya bukan satu-satunya calon lokasi bandar antariksa di Indonesia. Di luar itu, ada dua wilayah lain yang juga cukup potensial, yakni Pulau Morotai di Maluku Utara dan Pulau Enggano di Bengkulu, provinsi di barat daya Sumatera. Hanya saja, Biak merupakan yang paling dekat dengan ekuator.

Peluncuran satelit orbit rendah dari ekuator diketahui masih cukup jarang terjadi. Padahal, peluncuran dari ekuator diklaim bakal lebih murah dibanding peluncuran dari lokasi di luar wilayah yang dekat dengan ekuator. Sebab, bila diluncurkan jauh dari ekuator, roket membutuhkan manuver lebih untuk bisa menyesuaikan kemiringan orbit dari ekuator sesaat setelah memasuki ruang angkasa.

Meski demikian, tak semua satelit ideal untuk diluncurkan dari bandar antariksa yang dekat dengan khatulistiwa (red: Biak). Hanya satelit orbit rendah (sekitar 2.000 km atau kurang dari itu) saja cocok untuk diluncurkan dari sini. Satelit ini (orbit rendah) bagus untuk transmisi data karena memiliki latensi yang lebih rendah. Mereka juga dapat digunakan untuk komunikasi dan penelitian cuaca.

“Untuk satelit ekuator orbit rendah seperti untuk komunikasi dan meteorologi, akan jauh lebih murah untuk meluncurkannya dari ekuator,” jelas Thomas.

“Peluncuran dari ekuator masih sangat jarang, hanya ada di Guyana dan Alcantara, tapi sejauh ini belum ada di kawasan Pasifik. Ini peluang pelabuhan antariksa Biak,” tambahnya.

Baca juga: Satelit GPS III Generasi Ke-4 Buatan Lockheed Martin Resmi Meluncur, Ini Deretan Manfaatnya

Terlepas dari kehadiran SpaceX atau roket-roket internasional lainnya dalam peluncuran roket di Biak, Papua, di masa yang akan datang, sebetulnya, di tataran internal, Indonesia memang akan sangat diuntungkan dengan kehadiran bandar antariksa skala besar.

Selama ini, Indonesia selalu meluncurkan satelir di luar negeri. Pada tahun 1976, satelit komunikasi pertama Indonesia, Palapa, diluncurkan dari Pusat Antariksa Kennedy di AS. Setelahnya, tiga satelit mikro terakhir LAPAN juga diluncurkan di luar negeri, tepatnya dari Pusat Antariksa Satish Dhawan India pada 2007, 2015, dan 2016.

Panel Elektronik dengan Kecerdasan Buatan Mudahkan Penumpang Mencari Informasi di Stasiun Kereta

Teknologi semakin merajai di Jepang dan hal ini terbukti dari banyaknya para pekerja yang digantikan robot atau berbagai kepintaran buatan lainnya. Seperti salah satunya terlihat di stasiun kereta api komuter yang dilengkapi panel elektronik dengan kecerdasan buatan.

Baca juga: Wuih, Ada Robot Desinfektan Beroperasi di Stasiun Takanawa Gateway

Panel elektronik tersebut memulai debutnya pada Selasa (1/12/2020) di stasiun kereta utama di Tokyo. Panel ini hadir untuk memberikan informasi bagi pelancong maupun penumpang transfer dan ini masih dalam uji coba.

Operator kereta api menghadirkan panel elektronik tersebut untuk menutupi kekurangan tenaga kerja di masa depan. East Japan Railway Company, sebagai operator kereta sudah menyiapkan 30 panel di enam stasiunnya yang ada di Tokyo dan prefektur Chiba.

KabarPenumpang.com melansir dari laman japantimes.co.jp (1/12/2020), sebagai tindakan melawan virus corona, pengguna tidak perlu menyentuh panel secara langsung untuk mengoperasikannya dan panel mampu dapat mengukur suhu penumpang secara otomatis. Panel ini tersedia dalam bahasa Jepang, Inggris, Cina dan Korea.

Panel dapat menjawab pertanyaan suara dan gerakan jari. Mereka dipasang di stasiun Shinjuku, Shinagawa, Ikebukuro dan Takanawa Gateway di Tokyo serta di dua lokasi di Chiba, Kaihinmakuhari dan stasiun Terminal 2 Bandara di Bandara Narita.

Fumiko Nakajima, penumpang berusia 78 tahun, mencari informasi tentang restoran menggunakan panel. “Orang tua seperti saya juga bisa mengoperasikannya. Saya lega karena tidak perlu menyentuh layar,” ujarnya.

Mengantisipasi kekurangan tenaga kerja di masa depan, JR East telah mempromosikan upaya penghematan tenaga kerja dengan menugaskan tugas rutin pekerja stasiun ke robot yang dilengkapi kecerdasan buatan. Di Stasiun Takanawa Gateway, yang dibuka pada bulan Maret sebagai perhentian baru pertama di jalur lingkar Yamanote Tokyo yang sibuk dalam hampir 50 tahun, operator kereta api akan memasang tampilan AI (artificial intelligence) di gerbang tiketnya sebagai uji coba mulai pertengahan Desember ini.

Baca juga:Toko Tanpa Pegawai di Stasiun Gateway Takanawa Dilengkapi Teknologi Kecerdasan Buatan

“Kami berharap dapat mengembangkan (teknologi) AI yang dapat digunakan banyak orang termasuk anak-anak dan orang asing,” kata Isao Sato, seorang pejabat senior JR East.

Pengemudi Bus Rela Memutar Arah Demi Penumpang yang Akan Bertemu Ibunya di Panti Jompo Setelah Pembatasan Covid-19

Seorang penumpang bus ketakutan tak bisa melihat ibunya yang berada di panti jompo karena waktu kunjungannya mepet. Apalagi saat itu, penumpang wanita tersebut salah naik bus. Karena hal tersebut, pengemudi bus bernama Alex Bailey yang biasa dipanggil Alec mengambil rute lain untuk menurunkan Jacqueline Mason di dekat panti jompo.

Baca juga: Pengemudi Bus di Jamaika Maafkan Penumpang yang Tularkan Covid-19

Jacqueline diketahui memesan kunjungan selama 30 menit di rumah perawatan Bradley Manor di Belfast, Irlandia, tempat ibunya tinggal pukul 15.30. Namun pukul 15.10 dirinya menyadari bahwa telah salah naik bus dan mulai menangis karena melewatkan slotnya.

Karena menyadari kesusahan penumpangnya, pengemudi bus Translink tersebut memutuskan untuk mengambil jalan memutar dan menurunkannya di dekat panti jompo. KabarPenumpang.com melansir dari laman thesun.co.uk (12/12/2020), Alec memberitahu penumpang lainnya bahwa di dalam bus ada seorang wanita yang sudah lama tak bertemu dengan ibunya dan membutuhkan bantuan.

Untungnya penumpang lain menyetujuinya dan kemudian Alec menurunkan Jacqueline di rumah perawatan tepat pada waktunya untuk kunjungan. Namun, setelah mengantar penumpang tersebut, Alec tidak mengetahui apakah dia datang tepat waktu bertemu dengan ibunya sampai sebuah video menunjukkan wanita itu menjelaskan apa yang terjadi padanya sebelum dia bisa bertemu sang ibu.

“Saya mulai menangis. Saya tidak tahu sisi kota ini sama sekali dan dia bertanya kepada orang-orang di bus apakah mereka keberatan jika dia mengambil jalan memutar pendek dan dia membawa saya ke bundaran tepat di atas sini dan maka saya bisa sampai di sini tepat waktu untuk melihat mami. Saya ingin mengucapkan terima kasih banyak Alec, Anda telah membuat hari saya menyenangkan,” ujarnya dalam video.

Setelah video itu menjadi viral, kampanye diluncurkan untuk menemukan pengemudi bus yang telah membuat keputusan bijak.

Baca juga: Frank Hachem, Inilah Pengemudi Bus Tingkat Terpendek di Dunia

Untuk diketahui, para penghuni panti jompo di Irlandia telah berjuang melawan Covid-19 awal tahun ini dan menghabiskan waktu selama dua minggu untuk mendapatkan oksigen tambahan. Ibu Jacqueline yakni Eileen McGrugan bahkan mengalami serangan jantung dan selamat setelah mendapat perawatan. Tak hanya itu, Eileen akan menjadi penghuni pertama yang di Irlandia Utara yang menerima vaksin Pfizer atau BioNtech.