Apa yang anda lakukan ketika menunggu jadwal penerbangan? Berbincang, bermain gadget, atau bahkan bersandar di bangku boarding room hingga tertidur sejenak? Apapun itu, yang jelas, menunggu terlalu lama di bandara terkadang bisa membuat seseorang frustasi, tak terkecuali dengan seorang pria di Amerika Serikat ini.
Menurut The Associated Press (AP), sebagaimana dilansir travelpulse.com, baru-baru ini, seorang pelancong di Bandara Internasional Portland, Oregon, AS, berhasil bikin geger otoritas bandara saat menunggu jadwal penerbangannya. Saat itu, pria yang tak disebutkan namanya ini menggunakan layar yang semestinya digunakan sebagai peta, tetapi justru disambungkan ke konsol PS (Play Station) 4 milknya.
Mellihat kejadian itu, tentu saja petugas bandara langsung menghampiri dan memintanya untuk menghentikan kegiatan tersebut. Alih-alih langsung menghentikannya, pria tersebut justru coba bernegosiasi.
Pria berkulit hitam tersebut meminta belaskasih petugas untuk mengizinkannya bermain hingga akhir ronde games tersebut. Tentu saja petugas dengan tegas menolak dan tetap meminta pria berbusana kemeja pink mencolok tersebut untuk segera menghentikan aktivitasnya. Pada akhirnya, pria tersebut sangat menghormati petugas dan kejadian tersebut berhasil terselesaikan dengan damai.
“Rupanya, itu adalah interaksi yang sangat sopan dan ramah,” kata juru bicara bandara, Kara Simonds, kepada AP. Insiden itu, lanjutnya, juga dinilai sebagai refleksi untuk mengingatkan kepada semuanya (penumpang lain) tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh penumpang.
Di tempat terpisah, pekan lalu, insiden yang menggegerkan juga terjadi di Bandara Florida. Saat itu, wanita yang tak bisa menahan rasa stresnya saat di udara berbuat onar dan mengganggu kenyaman penumpang lainnya. Tidak begitu jelas apa yang dilakukan wanita malang tersebut. Tanpa menunggu lama, wanita tersebut akhirnya dapat dilumpuhkan oleh petugas.
Belum selesai urusan Boeing, dunia penerbangan kembali dirundung masalah. Kali ini menimpa Airbus. Baru-baru ini, beredar video yang menunjukan sebuah pesawat dengan kode penerbangan VQ-BGR milik maskapai penerbangan terbesar di Rusia, S7 Airlines, terbakar di Bandara Tolmachevo, di kota Novosibirsk, tepat sebelum lepas landas.
Dikutip KabarPenumpang.com dari kantor berita dailymail.co.uk, Selasa (21/1), pesawat yang memuat total 208 penumpang, termasuk 27 anak-anak tersebut, tiba-tiba terbakar pada bagian mesin jet sebelah kanan pesawat.
Berbagai kesaksian pun dituturkan oleh para penumpang. Mulai dari pesawat terdengar seperti mobil yang tidak mau dihidupkan, adanya kobaran api dengan didahului suara letupan hebat, hingga awak kabin yang tidak memberikan pengumuman apapun, lima menit setelah salah seorang penumpang melihat kobaran api.
Beruntung, pesawat Airbus A321 yang terbakar sekitar pukul 1 dini hari tersebut tak sampai terbakar hebat hingga mencederai para penumpang. Saat salah satu penumpang mengatakan dirinya melihat api di mesin sebelah kanan pesawat, awak kabin dengan segera mengaktifkan fitur sistem anti api pada pesawat tersebut.
Usai kejadian tersebut, pihak maskapai kemudian tetap memberangkat para penumpang ke Cam Ranh di Vietnam, dengan pesawat pengganti.
Peristiwa terbakarnya pesawat Airbus tersebut sedikit mengingatkan kita pada insiden pesawat terbakar lainnya. Salah satunya yang menimpa Boeing 737-800 milik maskapai SkyUp Airlines saat hendak parkir di apron Bandara Sharm el Sheikh, Mesir, September tahun lalu.
Kala itu, meskipun api cepat berkobar, tak lama setelah pesawat terparkir, petugas langsung berusaha untuk memadamkan api secepat mungkin – dengan kekhawatiran api akan menjalar ke sayap, mesin, tubuh pesawat, hingga tangki bahan bakar.
Atas insiden itu, Kementerian Penerbangan Sipil Mesir pun angkat suara. Dengan tegas, mereka memuji aksi cepat tanggap yang dilakukan oleh semua pihak yang terlibat sehingga api tidak menjalar ke bagian lain dari pesawat.
Seorang penumpang pria di Inggris menderita luka bakar di bagian pahanya ketika berada dalam bus Stagecoach. Pria yang tak disebutkan namanya itu mengalami luka bakar ketika baterai vape yang dapat diisi ulang tersebut meledak ketika berada di dalam saku.
Untungnya selain luka bakar, tak ada lagi luka serius yang terjadi pada diri pria itu. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman shieldsgazette.com (17/1/2020), insiden mengejutkan ini terjadi ketika penumpang pria tersebut berada di bus Stagecoach nomor 18 di Dame Flora Robson Avenue, South Shield pada Rabu (15/1/2020).
Saat meledak, dalam bus tersebut juga ada anak-anak yang tengah dalam perjalanan ke sekolah. Untungnya ledakan tersebut hanya melukai dirinya sendiri dan tidak ke penumpang lain. Karena hal ini, bus dievakuasi dan kendaraan lain pengganti disediakan.
Dari foto-foto yang beredar, pria tersebut menunjukkan kerusakan yang disebabkannya itu kepada orang lain sebagai peringatan. Foto tersebut sudah disebar ke media sosial dan menunjukkan kerusakan yang disebabkan oleh baterai yang meledak.
Ledakan itu menyebabkan jaket dan celananya rusak serta luka bakar di paha. Salah seorang penumpang bus mengatakan, bahwa hanya pria itu yang terkena luka bakar dan berharap anak-anak sekolah yang melihat insiden itu tidak terlalu takut dengan apa yang terjadi.
“Pada pukul 08.45 pagi waktu setempat pada 15 Januari 2020, Service 18 untuk sementara ditunda di Dame Flora Robson Avenue karena ada vape yang tidak berfungsi milik penumpang. Tidak ada penumpang yang terluka, tetapi sebagai tindakan pencegahan bus dievakuasi dan kendaraan pengganti disediakan,” kata seorang juru bicara dari Stagecoach North East.
Awal tahun lalu, tepatnya 4 Januari 2019, sebuah rokok elektrik milik penumpang American Airlines terbakar didalam kabin ketika baru mendarat di Bandara Internasional O’Hare Chicago. Untungnya ketika kabin terbakar tidak mengganggu taxi pesawat menuju terminal dan semua penumpang serta kru kabin tidak ada yang terluka atas insiden ini.
Ketika terbakar pun, awak kabin langsung melakukan pemadaman agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Diketahui, penyebab rokok elektrik bisa terbakar karena adanya proses thermal runway event yang mana kondisi temperatur meningkat dan menyulut rokok elektrik meledak kemudian terbakar.
Coronavirus dikabarkan telah menyebar ke beberapa negara, seperti Thailand, Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, Vietnam, dan Singapura. Menyiasati hal itu, baru-baru ini, beredar sebuah video di Twitter yang memperlihatkan adanya aktivitas pemindain oleh bebarapa petugas yang mengenakan Hazmat Suit.
Dalam video yang dilihat KabarPenumpang.com, pemeriksaan bermula saat maskapai Air China dengan nomor penerbangan CA119 rute Wuhan Tianhe (WUH) – Macau (MFM) berhasil mendarat pada tanggal 12 Januari 2020, pukul 15.08 waktu setempat. Alih-alih turun, penumpang justru dikagetkan dengan datangnya tiga orang yang mengenakan pakaian Hazardous Material atau biasa disebut Hazmat.
Hazmat Suit sendiri adalah pakaian yang terbuat dari bahan yang tahan terhadap temperatur tinggi dan impermeabel alias tidak meloloskan gas/udara dan zat cair, serta dilengkapi dengan peralatan pernafasan untuk mensuplai oksigen.
Biasanya pakaian tersebut digunakan saat menghadapi suatu zat, baik padat, cair, ataupun gas berbahaya. Termasuk di dalamnya virus. Tak terkecuali coronavirus. Durasi penggunaannya dibatasi hanya dua jam saja. Bahkan pada kasus yang berat, ada yang cuma dibatasi sampai 15 – 20 menit saja untuk mempertimbangkan suplai oksigen.
Selanjutnya, dalam video yang beredar tersebut, tampak petugas yang mengenakan hazmat suit berwarna krem dan biru muda, dari depan ke belakang, memindai satu per satu penumpang dengan alat kecil berwarna hitam di tangan kananya. Adapun bagian yang dipindai dari penumpang adalah bagian kening.
Seorang Fotografer bernama Cheng, seseorang yang merekam video tersebut, seperti dikutip dari businessinsider.sg, Selasa (21/1), mengatakan bahwa petugas medis memindai suhu penumpang selama lebih dari 10 menit. Selama proses pemindaian, seluruh penumpang tidak diizinkan untuk turun sampai proses pemindaian selesai.
Selain karena disebabkan oleh penyebaran virus yang sudah mencapai lintas negara, menurut kabar yang beredar, salah satu penumpang yang berada dalam penerbangan tersebut mengalami demam tinggi. Hal itu pun membuat otoritas bandara setempat khawatir, mengingat, penerbangan tersebut berasal dari Wuhan, yang merupakan wilayah endemik penyebaran coronavirus.
Hingga kini, kantor berita Xinhuanet melaporkan, pada Senin malam jumlah total infeksi coronavirus di China telah meningkat menjadi 217, termasuk 198 di Wuhan, 14 di Guangdong, dan 5 di Beijing. Tak lama setelah laporan itu dirilis, Komisi Kesehatan Nasional China mengkonfirmasi kasus pertama di Shanghai.
Indonesia sendiri sejak sepekan yang lalu telah melakukan beberapa langkah pencegahan standar dan pencegahan khusus. Pencegahan-pencegahan tersebut dilakukan di Bandara Internasiona Soekarno Hatta yang notabene menjadi gerbang masuk terbesar wisatawan dari luar negeri.
Warga Tanah Pasundan yang akan ke kota Pempek Palembang kini tak lagi perlu naik pesawat dari Jakarta. Pasalnya maskapai Wings Air per tanggal 20 Januari 2020 kemarin mulai meresmikan rute baru dengan penerbangan langsung atau non-stop dari Bandung ke Palembang.
Penerbangan ini berjadwal dan menjadi satu-satunya maskapai yang melayani penerbangan langsung dari Bandung ke Palembang pergi pulang (PP). Penerbangan berjadwal ini mengangkut penumpang satu kali sehari baik dari Bandung ke Palembang maupun Palembang ke Bandung.
Penerbangan Wings Air ini menggunakan nomor IW-1748 yang berangkat pukul 13.20 WIB dari Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung dan tiba ke Bandara Internasional Sultan Mahmud Badarudiin II Palembang pukul 15.05 WIB. Corporate Communications Strategic Lion Air Group Danang Mandala Prihantoro mengatakan, penerbangan di hari yang sama Wings Air dari Palembang berangkat pukul 5.30 WIB dan tiba di Bandung pukul 17.15 WIB menggunakan pesawat dengan nomor penerbangan IW-1749.
“Palembang ini tujuan baru wings Air di Pulau Sumatera dari Bandung. Penerbangan ini setelah kesuksesan ekspansi sebelumnya yakni Jambi, Bengkulu, Tanjung Karang (Lampung), Pangkal Pinang dan Tanjung Pandan,” kata Danang yang dihubungi KabarPenumpang.com, Selasa (21/1/2020).
Dia menambahkan, rute baru Bandung – Palembang – Bandung ini memberikan pilihan baru bepergian dengan nilai efektif dan efisien sekaligus melengkapi layanan yang sebelumnya berjalan dengan transit terlebih dahulu di Tanjung Karang atau kota lain. Penerbangan di rute ini menempuh waktu selama satu jam dengan menggunakan pesawat baling-baling ATR 72-500 atau 600 dengan konfigurasi kursi 2-2.
Untuk penerbangan langsung ini tiket dari Bandung ke Palembang berkisar Rp785 ribu dan Palembang ke Bandung sekitar Rp775 ribu. Danang mengatakan, tarif ini sendiri mengikuti pasar. Diketahui, penerbangan dari Bandung terkoneksi melalui Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II yang mana penumpang dapat meneruskan pilihan kota Pangkalpinang, Tanjung Pandan, Lubuk Linggau, Pagar Alam, Bengkulu, Jambi, Pekanbaru, Padang, Medan, Batam, Banda Aceh dan lainnya menggunkan pesawat Lion, Malindo atau Batik Air.
Meski begitu beberapa maskapai lain seperti Nam Air dan Citilink ternyata juga punya rute penerbangan dari Bandung ke Palembang tetapi bukanlah penerbangan langsung melainkan penerbangan transit. Padahal maskapai-maskapai ini harusnya menerbangkan rute mereka dari Bandara Kertajati.
Lama tak terdengar, eks vokalis Iron Maiden kini didapuk menjadi kapten Angkatan Udara Inggris atau Royal Air Force (RAF). Legenda heavy metal berusia 61 tahun tersebut kemudian tergabung ke dalam Skuadron 601 yang berbasis di London, pekan ini, sebagai hadiah atas dedikasi tingginya kepada RAF.
Menurut Mirror, seperti dikutip dari theaviationgeekclub.com, karir pria bernama lengkap Paul Bruce Dickinson tersebut selangkah lebih dekat dengan RAF ketika ia mengambil alih armada 747 milik Departemen Pertahanan dan membawa pulang pilot dari Afghanistan ke pangkalan Angkatan Udara di Cambridgeshire, Inggris.
Jalannya untuk mendapatkan posisinya sekarang di RAF pun semakin dekat ketika ia berhasil melakukan pendaratan darurat di RAF Halton, Bucks, pada Agustus 2015. Ketika itu, WW 1 Fokker triplane-nya hampir kehabisan bahan bakar hingga akhirnya terpaksa melakukan pendaratan darurat.
Jauh sebelum bergabung, ia terlebih dahulu sudah menunjukkan kecintaannya terhadap RAF lewat lagu-lagu yang diciptakan dan dinyanyikannya di seluruh dunia bersama band legendaris yang membesarkan namanya, Iron Maiden. Lewat salah satu lagunya yang berjudul “Empire of the Clouds”, ia menulis, “Pelaut dari langit, ras yang tegar, setia kepada raja, dan kecintaan pada pesawat.”
Selain “Empire of the Clouds”, Iron Maiden yang dikomandoinya juga memiliki sejumlah lagu yang terinspirasi oleh militer Inggris. Single mereka yang berjudul “Aces High” dibuat khusus untuk memberikan penghormatan terakhir kepada empat pilot RAF dan armada Angkatan Laut Inggris yang gugur saat berjuang mempertahankan Inggris dari serangan Jerman pada 1940 silam.
Tak hanya itu, pria kelahiran Nottinghamshire, Inggris, ini, selain memiliki bakat sebagai penyanyi, musisi, penyiar, pebisnis, penulis, dan pilot tersebut, ia juga memiliki bakat sebagai pemain anggar. Bakatnya di dunia anggar bukan kaleng-kaleng, ia pernah berada di peringkat ke-7 di Inggris – dan saat ini telah memenuhi syarat untuk mewakili RAF di kompetisi resmi.
Kecintaan, dedikasi, dan perjuangannya tersebut pun menuai banyak pujian dari berbagai kalangan, tak terkecuali dari salah satu sumber RAF yang tak ingin disebutkan namanya.
“Sangat luar biasa bahwa Bruce telah diangkat menjadi kapten grup kehormatan. Dia seorang penerbang yang tajam dan mencintai RAF. Dia pria kelas satu. Dua minat besarnya di luar musik adalah terbang dan anggar,” katanya.
Sebagai informasi, skuadron 601 sendiri bukanlah skadron kacangan. Meskipun skuadron tersebut adalah skadron cadangan RAF, skuadron ini adalah salah satu yang paling dihormati karena jasa-jasanya, termasuk dalam pertempuran dengan Jerman pada 1940. Selain itu, orang Amerika pertama yang terbang dalam Perang Dunia Kedua adalah anggota skuadron ini.
Skadron ini mulai diaktifkan kembali pada tahun 2017. Skadron ini adalah skuadron spesialis yang memanfaatkan bakat para pemimpin dari industri, akademisi, dan penelitian untuk memberi saran, membentuk, dan membangun RAF.
Apakah sesama kru kabin boleh mencintai, memiliki hubungan dan menikah? Sepertinya hal tersebut diperbolehkan dan tidak ada larangan sama sekali. Bahkan mungkin dengan hubungan seperti itu pekerjaan lebih menyenangkan dan mudah.
Karena memiliki pasangan yang sama-sama bekerja di udara akan berbeda rasanya dengan hanya salah satu pasangan yang bekerja di penerbangan. Dari sebuah media sosial baru-baru ini, seorang pramugari yang tak disebutkan namanya berbagi kisah asmara dengan pilot dan menikah.
KabarPenumpang.com melansir laman express.co.uk (19/1/2020), pramugari tersebut mengungkapkan bahwa dirinya bertemu dengan sang suami ketika keduanya bekerja di maskapai yang sama. “Aku benar-benar menikahi seorang pilot! Kami mulai pada hari yang sama di tempat kerja,” tulis pramugari tersebut di Reddit.
Dia mengungkapkan bahwa pilot tersebut adalah cinta pada pandangan pertama yang awalanya tidak merasakan apa-apa. Bahkan sang pramugari pada awal pertama bertemu hanya menganggapnya teman kerja. Namun kemudian mulai sering nongkrong sebagai teman selama beberapa bulan.
“Hari berikutnya saya baru menyadari bahwa saya tidak bisa menjalani hidup saya tanpa dia. Dia datang ke dalam hidup saya secara tak terduga, tidak pernah terlintas dalam pikiran saya untuk berkencan dengan seseorang dari pekerjaan tetapi saya jatuh sangat keras dan dalam beberapa bulan kami akan menikah,” katanya.
Pramugari yang tak disebutkan namanya itu menambahkan, dirinya sangat senang bersama dengan seseorang yang memahami jadwal pekerjaannya. Sebab mereka tidak bekerja seperti orang kantoran yang masuk jam 09.00 pagi dan pulang pukul 17.00.
“Ini bisa 15 jam lebih di tempat kerja. Bahkan bisa mulai bekerja jam 01.00 atau jam 02.00 pagi. Dia mengerti bahwa akan ada waktu di mana kita akan saling menjauh atau mungkin mendapat panggilan di menit terakhir untuk mengoperasikan penerbangan,” jelas pramugari tersebut.
Dia menambahkan, bahwa mereka berdua saling mendukung dan sering mengantar atau menjemput ketika tugas sebagai pramugari tengah terburu-buru atau pekerjaan yang dua kali lipat dari biasanya.
“Dia akan membuatkanku makan siang. Aku beruntung menemukannya,” tambahnya.
Tak hanya itu, cerita lainnya datang dari seorang awak kabin wanita yang menjalin hubungan dengan awak kabin pria. Dalam hubungan tersebut, keduanya menyoroti kesulitan gaya hidup mereka.
“Saya telah bersama pacar saya yang juga pramugari untuk sementara waktu. Itu sulit karena kita berdua menjalani gaya hidup yang bisa mengisolasi diri dan kita bisa saling menjauh selama berminggu-minggu,” katanya.
Harga tiket semestinya $16 menjadi harus dirogoh $25 ribu untuk naik kereta Amtrak dari Chicago ke Bloomington di Illinois? Pastinya Anda akan kaget sebagai penumpang dan mencari tahu kenapa dikenakan biaya sebesar itu. Hal tersebut belum lama dirasakan oleh penyandang disabilitas Adam Ballard yang kaget karena harus membayar $25 ribu karena dirinya dan seorang lain menggunakan kursi roda.
“Saya pikir itu kesalahan. Itul adalah sebuah mobil baru. Bagaimana itu bisa terjadi? Aku yakin itu kesalahan. Tapi aku sudah melihatnya secara tertulis. Jadi aku tahu itu tidak salah,” kata Adam.
Adam Ballard (npr.org)
Adam diketahui bekerja untuk pusat layanan dan advokasi disabilitas di Chicago bernama Access Living. Dia adalah analis kebijakan perumahan dan transportasi. Saat itu dia dan kelompoknya akan bepergian ke Bloomington untuk sebuah pekerjaan.
Dua dari sepuluh yang berangkat menggunakan kursi roda termasuk Adam. Kereta yang mereka naiki memiliki tiga gerbong dengan setiap gerbongnya memiliki satu ruang untuk kursi roda, sehingga mereka berdua bisa masuk dalam tiga gerbong berbeda.
Di masa lalu, ketika Access Living memberi pemberitahuan sebelumnya bahwa mereka mengirim grup besar, Amtrak melepas lebih banyak kursi untuk memuat lebih banyak ruang bagi kursi roda. Suatu kali, ia mengeluarkan kursi di gerbong makan dan dikenakan beberapa ratus dolar ekstra.
“Saya menggunakan kursi roda listrik. Itu ukuran standar untuk kursi listrik, tapi ini lebih besar daripada kebanyakan kursi manual. Jadi saya mengambil sedikit ruang ekstra. Tapi di masa lalu, tidak peduli macam-macam orang dan perangkat yang kita miliki bersama untuk kelompok kita, tidak pernah ada masalah untuk membuat semua orang ikut bergabung,” ujarnya.
Namun dia mengatakan, untuk saat ini berbeda, pada 30 Desember 2019 lalu, seorang agen Amtrak untuk penjualan grup di Philadelphia menuliskan surat elektronik terkait biaya pemindahan kursi dikenakan $25 ribu dan apakah pengguna ingin melanjutkan permintaan? Kemudian seorang dari kelompok Adam menjawab apakah hal tersebut benar?
Balasan dari pihak agen pada 2 Januari 2020 mengatakan, biaya tepat dan mengutip kebijakan baru untuk mengambil kursi tersebut karena untuk mengeluarkan kursi sangat mahal.
“Dengan melepas kursi, itu bisa sangat mahal. Pada tahun-tahun sebelumnya, penghapusan kursi dari gerbong kereta mengeluarkan biaya yang diserap Amtrak … Kami memahami dan menghargai kesetiaan Anda dengan Amtrak. Ke depan, kami tidak dapat terus menyerap biaya ini. Kebijakan ini telah berubah secara nasional pada 2019,” tulis agen tersebut.
Bridget Hayman, direktur komunikasi untuk Access Living mengatakan, pihaknya menghubungi pejabat senior Amtrak untuk meminta kembali ke pengaturan sebelumnya. Dia mengatakan, pejabat tersebut setuju untuk menyampaikan situasi itu pada manajemen tingkat atas dan akan memberi jawaban pada 13 Januari 2020.
KabarPenumpang.com merangkum npr.org (17/1/2020), sayangnya hingga tanggal yang ditentukan, tidak ada komunikasi, bahkan saat pejabat Access Living mencoba untuk menindaklanjuti. Jonathan Mook seorang pengacara yang memberi nasihat kepada perusahaan tentang kewajiban mereka di bawah Undang-Undang Orang Amerika dengan Disabilitas terkejut dengan angka $25 ribu.
Dia mengatakan, undang-undang 30 tahun lalu, hukum hak-hak sipil melarang diskriminasi terhadap orang-orang penyandang disabilitas dalam pekerjaan, sekolah, tempat umum dan transportasi termasuk kereta api. Ini mengharuskan perusahaan seperti Amtrak untuk membuat “akomodasi yang masuk akal” sehingga para penyandang disabilitas memiliki akses transportasi yang sebanding seperti halnya orang-orang tnormal lainnya.
Dengan harga $25 ribu, mereka bisa membeli lebih dari 1500 tiket. Karena hal ini, Amtrak kemudian merilis sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa tuduhan tersebut adalah bagian dari kebijakan perusahaan untuk membebani penumpang dengan biaya tambahan ketika kelompok mana pun memerlukan konfigurasi ulang kereta mereka.
“Kami akan menghubungi Access Living dan menyarankan biaya dapat dihindari dengan menggunakan dua kereta terpisah pada rute ini, dengan setiap kereta dipisahkan sekitar tiga jam dan memiliki tiga ruang untuk kursi roda tanpa konfigurasi ulang.
Setelah hampir dua tahun, berita seekor kelinci berwarna abu-abu dilayani kelas VIP dalam sebuah penerbangan baru terumbar di media masa. Kelinci milik Takako Ogawa tersebut bernama Coco yang berusia delapan tahun.
Coco bisa menikmati layanan VIP ketika Ogawa saat itu naik pesawat United Airlines dari San Francisco ke Jepang pada 2018 lalu. Pria berusia 32 tahun tersebut membawa Coco sebagai hewan pendukung emosional terdaftar.
Coco ketika duduk di kelas bisnis (sfgate.com)
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sfgate.com (19/1/2020), Ogawa membayar $100 atau Rp1,3 juta (kurs saat ini) untuk membawa kandang portabel berisi Coco ke kabin sebagai barang bawaan pribadi. Ogawa yang naik kelas bisnis tersebut seperti ditakdirkan untuk membawa Coco dalam kabin.
Hal ini dikarenakan kursi kelas bisnis disebelahnya kosong dan kelinci dengan perilaku baik tersebut mendapatkannya sebagai tempat duduk pribadi. Kelinci abu-abu tersebut menikmati kelas bisnis dengan gaya di mana dipasangkan dasi kupu-kupu.
Saat duduk, Coco diberi serbet untuk menghindari tumpahan remah-remah yang akan jatuh ke tubuhnya ketika makan dari mangkuk berisi kacang. Lucunya lagi, disebelah mangkuk ada segelas champagne yang menemani.
Dari foto-foto yang beredar, kelinci tersebut mendapatkan bantal pribadi dalam perjalanan itu. Karena foto Coco viral, pemiliknya yakni Ogawa kemudian diwawancarai beberapa media massa yang menanyakan tentang hal tersebut.
Ogawa mengatakan, saat penerbangan itu, dirinya jtengah memesan es krim dan pramugari yang melayaninya tersebut bertanya apakah kelinci itu membutuhkan sesuatu. Kemudian pramugari datang membawa semangkuk almond dan segela champagne. Ogawa menambahkan ini bukanlah pertama kali Coco melintasi langit.
Saat itu tahun 2015 lalu, Ogawa membawa Coco dalam penerbangannya ke San Francisco tetapi tidak dibawa ke kabin melainkan masuk ke dalam kargo. Ini tidaklah semewah ketika dia kembali ke Jepang tahun 2018.
Ternyata tak hanya menikmati kelas bisnis, Coco juga pernah mengunjungi kantor Google tempat Ogawa bekerja dan tampil di beberapa acara. Setelah viralnya foto Coco, Ogawa mengatakan, kelincinya mungkin tidak akan terbang lagi karena usia.
“Karena usia Coco tidak akan lagi terbang. Jadi sepertinya kita semua hanya akan bermimpi menemukan kelinci yang mengenakan topi pada Muni lagi suatu hari nanti,” ujar Ogawa.
Cerita antara pengemudi taksi online dan penumpangnya seolah tak pernah habis. Beberapa waktu lalu, di Singapura, kisah seorang penumpang mendadak viral setelah di bagikan di media sosial Facebook. Bahkan, kisah dari pria bernama Kohji Toh itu hingga kini telah dibagikan hampir 2.000 kali serta mendapatkan hingga mendekati 1.000 likes.
Kisah viral tersebut bermula saat Kohji Toh dan istrinya memesan taksi online (Grab car), sore waktu setempat. Setelah masuk ke dalam mobil, Kohji Toh mulai merasakan beberapa keanehan. Ia menilai bahwa pengemudi tersebut terlalu banyak permintaan, yang salah satunya ialah permintaan untuk memakai sabuk pengaman. Dengan sabar, Kohji dan istri pun menurutinya.
Tak berselang lama, istrinya kemudian mulai merasa tidak enak badan. Ia kemudian meminta Kohji untuk merangkulnya sambil membiarkan sang istri berbaring di bahunya. Alih-alih istirahat dengan lelap di bahu Kohji, sang istri (dan Kohji) tiba-tiba dikagetkan dengan teguran dari pengemudi.
Menurut pengemudi, Kohji dan istrinya melakukan hal-hal yang terlalu intim di dalam mobilnya. Kemudian, ia meminta mereka berdua untuk saling berjauhan atau paling tidak istrinya bisa bersandar ke sisi lainnya agar tidak bersandar di bahu Kohji.
Mendengar permintaan aneh tersebut Kohji pun dengan tegas menjawab bahwa wanita di sebelahnya tersebut adalah istrinya dan mereka sah secara hukum.
“Saya mengatakan kepadanya bahwa ini adalah istri saya, dan kami menikah secara resmi, jadi apa salahnya memeluk tangan saya dan tidur di pundak saya,” tulis Kohji Toh dalam akun Facebooknya.
“Dia masih memiliki nyali untuk mengatakan kepada saya ini melawan hukum dan bahwa dia dapat menghubungi polisi karena ini,” lanjutnya.
Seperti dilansir mothership.sg, setelah perdebatan sengit, pengemudi akhirnya memutuskan untuk menelepon polisi. Kohji yang yakin tak bersalah tentu saja mempersilahkan pengemudi untuk melakukannya. Mereka bertiga pun mangkir dari tujuan sebelumnya. Sesampainya di kantor kepolisian setempat, dengan tegas polisi menyebut bahwa Kohji tidak bersalah.
Atas insiden tersebut, Kohji yang merasa dirugikan justru akan menggugat balik pengemudi, baik ke pihak Grab selaku pengelola maupun ke kepolisian untuk diproses secara hukum.
Sebagai informasi, Peraturan Perundang-undangan di Singapura memang terdapat undang-undang tentang Ketertiban Umum, salah satunya telanjang di tempat-tempat umum. Bila melanggar, pelanggar akan didenda sebesar 2.000 dolar singapura atau penjara hingga tiga bulan. Namun, tindakan lain seperti berciuman atau berpelukan tidak termasuk yang dilarang.