Belum Lewati ‘Masa Kritis,’ Akankah Sriwijaya Air Menyusul Merpati dan Adam Air?

Selain pemberitaan tentang Thomas Cook Group yang terpaksa gulung tikar setelah lebih dari satu abad melayani para pelancong yang hendak traveling, sebelumnya mungkin isu serupa sempat menyeruak dari dalam negeri, dimana salah satu maskapai swasta yang sempat ‘berkolaborasi’ dengan Garuda Indonesia, Swiwijaya Air juga dirundung isu bangkrut. Namun, apa yang sebenarnya terjadi pada maskapai yang didirikan oleh Hendry Lie, Chandra Lie, Johannes Bundjamin, dan Andy Halim ini?

Baca Juga: Digoyang Isu Stop Beroperasi, Sriwijaya Air Group Keluarkan Bantahan

Sebelum membahas tentang kisruh yang terjadi di tubuh Sriwijaya, ada baiknya untuk menyimak terlebih dahulu kilas sejarah dari maskapai ini. Didirikan pada tahun 2003, adapun penerbangan perdana Sriwijaya Air ini bertepatan dengan Hari Pahlawan – 10 November 2003. Kala itu, Sriwijaya Air langsung mengoperasikan empat penerbangan sekaligus, Jakarta-Pangkalpinang PP, Jakarta-Palembang PP, Jakarta-Jambi PP, dan Jakarta-Pontianak PP.

Diawal perjalanannya, maskapai ini hanya mengoperasikan satu unit Boeing 737-200 saja, namun seiring berkembangnya bisnis perusahaan, pada Maret 2016 tercatat Sriwijaya Air menggunakan 36 unit pesawat yang terdiri dari Boeing 737-300, Boeing 737-500, Boeing 737-800, Boeing 737-900ER, Boeing 737 MAX 8, dan Boeing 777-300ER.

Polemik
Singkat cerita, induk perusahaan dari NAM Air ini mulai mengalami masalah finansial. Mengutip dari laman moneysmart.id (16/11/2018), Sriwijaya Air memiliki total hutang senilai Rp355 miliar kepada Garuda Indonesia. Mengingat bisnis di sektor transportasi udara diharuskan memiliki sokongan dana yang super kuat, maka Kerja Sama Operasional (KSO) di bidang marketing dan manajemen perusahaan pun dihelat antara Sriwijaya Air dan Citilink Indonesia – anak perusahaan dari Garuda Indonesia Group pada akhir tahun 2018 kemarin. Kendati begitu, banyak pihak di luar sana yang menganggap bahwa Sriwijaya Air diakuisisi oleh Garuda Indonesia Group.

Ternyata beragam penghargaan bergengsi yang berhasil disabet oleh Sriwijaya Air seperti Boeing International Award for Safety and Maintenance of Aircraft pada 2007 hingga sertifikasi Basic Aviation Risk Standard (BARS) yang didapat dari Flight Safety Foundation pada tahun 2015 silam tidak melulu memuluskan langkah bisnis dari maskapai ini.

Polemik Berkelanjutan
Seiring waktu berjalan, lagi-lagi langkah Sriwijaya harus terseok-seok manakala Direktur Quality, Safety, dan Security PT Sriwijaya Air Toto Soebandoro merekomendasikan agar maskapai ini stop operasi karena dipengaruhi oleh beragam faktor – mulai dari Sriwijaya Air hanya mengerjakan line maintenance sendiri, dengan metode Engineer On Board (EOB) dengan jumlah engineer 50 orang, dengan komposisi 20 orang certifying staff, 25 orang RII dan certifying staff, 5 orang management and control, dan personnel tersebut dibagi dalam 4 grup.

Mengutip dari cnbcindonesia.com (30/9), Sriwijaya Air juga memiliki minimum stock consumable part dan rotable part di beberapa bandara yakni CGK (Cengkareng), SUB (Surabaya), KNO (Medan) dan DPS (Denpasar), sebagai penunjang operasi penerbangan. Ditambah soal kendala di sektor operasional yang membobol kas perusahan senilai Rp3,2 miliar dalam kurun waktu satu bulan.

Belum lagi pemberitaan tentang pihak maskapai yang tidak bisa memenuhi kewajiban pembayaran jasa dari kesepakatan kedua belah pihak (Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia Group). Kerja sama dilakukan dalam rangka penyelesaian utang kepada sejumlah perusahaan, seperti PT GMF AeroAsia Tbk, PT Bank Negara Indonesia, dan PT Pertamina.

Baca Juga: Buntut Pencabutan Logo “Garuda Indonesia,” Sriwijaya Air Group Rombak Susunan Direksi dan Komisaris

Peliknya masalah yang menggelayuti tubuh perusahaan sampai-sampai menyeret Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno guna menjadi mediator untuk mencari jalan keluar terbaik bagi semua pihak.

Terakhir, dikabarkan bahwa dua direksi dari Sriwijaya Air, Direktur Operasi Captain Fadjar Semiarto dan Direktur Teknik Romdani Ardali Adang mengundurkan diri dari perusahaan. Tidak lain dan tidak bukan, pengunduran diri ini merupakan buntut dari pertikaian bisnis antara Sriwijaya Air dan Garuda Indonesia Group.

“Saya terus terang, sejak putus (hubungan dengan) GMF sampai hari ini saya khawatir sekali. Ada tunggakan Rp 800 miliar, operasional penerbangan berisiko,” kata Direktur Operasi Captain Fadjar Semiarto, dikutip dari laman cnbcindonesia.com (30/9).

Akhir kata, akankah Sriwijaya Air menyusul Merpati, Adam Air, dan Bouraq yang sudah terlebih dahulu pensiun dini akibat polemik finansial perusahaan?

Serbu Kokpit, Wanita Muda ini Tak Boleh Terbang dengan Jet2.com Seumur Hidup

Chloe Haines harus duduk di kursi pesakitan dalam pengadilan akhir bulan Oktober ini dengan tuduhan menyebabkan kepanikan dalam sebuah penerbangan. Tak hanya itu penerbangan tersebut terpaksa kembali ke tempat awal berangkat (return to base), bahkan sempat dikawal oleh dua jet tempur Typhoon dari AU Kerajaan Inggris.

Baca juga: Tak Bisa Duduk Disamping Sang Pacar, Penumpang ini Siram Air Panas ke Pramugari AirAsia

Dilansir KabarPenumpang.com dari thesun.co.uk (1/10/2019), Haines yang saat itu berada dalam penerbangan Airbus A321 Jet2.com mencoba membuka pintu pesawat dan menyerbu kokpit pada penerbangan 22 Juni 2019 dari London Stansted ke Dalaman di Turki. Menurut saksi mata, wanita berusia 26 tahun tersebut berteriak bahwa dirinya akan membunuh semua orang.

Salah seorang penumpang bernama Steve Brown mengatakan, Haines berlari ke bagian pesawat dan mendorong seorang pramugari dari sisi lorong yang satu ke sisi lainnya dalam penerbangan. Steve mengklaim, wanita asal Maidenhead tersebut meninju, menendang dan berteriak pada awak kabin.

“Dia memiliki badan yang mungil tetapi memiliki kekuatan bak seorang pria dewasa,” ujarnya.

Atas tindakan tersebut, Steve bersama penumpang lain dan awak kabin mengamankan Haines dan membantu menurunkannya sampai pesawat mendarat di Stansted. Insiden ini diketahui terjadi setelah 25 menit pesawat lepas landas tepatnya pukul 16.00 setelah berangkat dari Stansted dan terpaksa kembali ke tempat semula pukul 17.15 dan tiba 17.49 di situ.

Steve Heapy, selaku CEO Jet2.com mengatakan, perilaku Haines adalah salah satu kasus paling serius dari perilaku penumpang lainnya yang pernah dirasakan maskapai tersebut. Dia sekarang harus menghadapi konsekuensi dari tindakannya, dan maskapai akan memintai biaya ganti rugi untuk memulihkan biaya yang dikeluarkan sebagai akibat dari pengalihan penerbangan pada saat kejadian.

“Sebagai maskapai yang ramah keluarga, kami mengambil pendekatan nol toleransi terhadap perilaku yang mengganggu, dan kami berharap bahwa insiden serius ini, dengan konsekuensi yang sangat serius, memberikan peringatan yang jelas kepada orang lain yang berpikir bahwa mereka dapat berperilaku dengan cara ini. Haines menunjukkan perilaku agresif, kasar dan berbahaya,” kata maskapai Jet2.com melalui sebuah pernyataan.

Baca juga: Ejek Penumpang ‘Jelek’ dengan Potongan Kertas, Petugas Keamanan Bandara Dipecat

Selain harus merasakan duduk di kursi pesakitan, Haines juga di denda 85 ribu poundsterling dan dilarang terbang dengan maskapai Jet2.com seumur hidup. Karena hal ini, Airbus A321 tersebut harus menunda perjalanan menuju Dalaman dan penumpang kembali ke bandara besok harinya.

Boeing Digoyang Masalah (Lagi), Kini Ditemukan Retakan pada Seri 737 NG

Sudah jatuh masih tertimpa segudang masalah, mungkin inilah analogi yang menggambarkan kondisi Boeing, khususnya di lini pesawat narrow body keluarga 737. Belum kelar masalah yang menimpa seri 737 MAX, kini diwartakan ditemukan masalah lain pada seri 737 NG (Next Generation). Padahal, jika boleh dikata, armada seri 737 NG adalah ‘jantungnya’ banyak maskapai global, termasuk di Indonesia seri 737 NG dioperasikan oleh Garuda Indonesia dan Lion Air Group.

Kali ini masalah yang ditemukan pada 737 NG terletak berasal dari ditemukan retakan (crack) pada bagian dekat sambungan sayap dan body pesawat, atau yang akrab disebut Pickles Fork.

Baca Juga: Ditemukan Keretakan Pada Sayap, Airbus A380 Harus ‘Keliling Dunia’ untuk Reparasi

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman businessinsider.com, pada umumnya, Pickles Fork memiliki ‘umur’ yang terbilang cukup panjang – sekitar 90.000 kali take off dan landing. Namun pada temuan kasus Pickles Fork kali ini, pesawat yang ‘mengidap’ keretakan ini padahal baru saja mencatat sekitar 35.000 take off dan landing. Guna menindaklanjuti kasus ini, pihak Boeing kabarnya telah melimpahkan berkas kepada Federal Aviation Administration (FAA).

Menurut berita yang tersiar, retakan ini ditemukan pada saat pihak Boeing melakukan perawatan terhadap pesawat yang sudah sering digunakan. Alih-alih hanya ditemukan pada satu pesawat, ternyata beberapa pesawat jenis serupa juga ikut terdampak. Menanggapi pemberitaan ini, pihak FAA langsung memerintahkan jajarannya untuk melakukan pengecekan lebih lanjut di lapangan.

“Kami juga sudah langsung memberitahu pihak maskapai yang menggunakan varian tersebut (737 NG) terkait temua keretakan ini,” ujar salah satu juru bicara Boeing.

Dikhawatirkan, jika pesawat terdampak masih terus beroperasi, maka kegagalan fungsi pesawat akan terjadi dan menyebabkan kecelakaan. Kendati ada saja setiap peluang kecelakaan yang terjadi, pihak Boeing mengklaim bahwa, “Tidak ada masalah terkait pelayanan (pemeriksaan) yang terjadi,”

Baca Juga: Kenapa Mayoritas Badan Pesawat Berwarna Putih? Ini Dia Alasan Ilmiahnya!

Melansir dari laman resmi Boeing, ada sekitar 100 maskapai yang menggunakan pesawat jenis 737 NG – mulai dari American Airlines, Delta Airlines, EgyptAir, RyanAir, dan Southwest Airlines. Adapun model pesawat yang masuk ke dalam jenis 737 NG adalah 737-700, 737-800, dan 737-900.

“Retak pada Pickles Fork ini tidak ditemukan pada varian 737 MAX,” ujar perusahaan.

Mudahkan Pelancong Asing, Jepang Hadirkan Gerbang Pemindai Otomatis di Bandara Narita

Menjadi incaran pelancong mancanegara, Jepang memudahkan dengan menghadirkan perangkat teknologi pengenalan wajah dan layanan bea cukai elektronik untuk pergi dan datang ke negara Sakura tersebut. Teknologi ini ada di Bandara Narita, Tokyo yang akan memudahkan pelacong asing untuk menikmati pengalaman yang lebih lancar dan waktu tunggu yang singkat.

Baca juga: Senyum Anda Tak Dibutuhkan Saat Pemindaian Wajah di Bandara

Dilansir KabarPenumpang.com dari news.get.com (18/9/2019), sebelumnya penggunaan teknologi pengenalan wajah ini hanya diperuntukkan bagi warga negara Jepang saja. Kemudian program tersebut diperluas untuk pelancong asing yang mengunjungi Negeri Sakura itu.

Penumpang yang akan menggunakan pilihan baru itu harus memiliki paspor dengan chip elektronik yang akan dipindai oleh perangkat khusus di gerbang. Perangkat khusus inantinya akan secara otomatis mencocokkan foto dalam dokumen perjalanan.

Bila penumpang asing tertarik maka harus mengunduh Aplikasi Pemberitahuan Pabean dan menuelesaikan prosedur pernyataan pabean pada ponsel pintar. Kemudian penumpang bisa melewati gerbang setelah kode QR dibuat di aplikasi dan paspor dipindai oleh pembaca.

Kehadiran layanan tersebut diharapkan pemerintah Jepang agar pelancong bisa menikmati Bandara Narita yang sibuk. Selain itu juga menghilangkan beberapa tekanan yang terjadi ketika menyelesaikan penerbangan jarak jauh dari dan ke Jepang.

“Kami melakukan yang terbaik untuk menjadikan Jepang sebagai tujuan wisata utama dengan merampingkan proses keberangkatan dan mewujudkan penyaringan masuk yang halus dan ketat,” kata Yoichi Ishii, kepala kantor imigrasi.

Hadirnya teknologi baru ini bukan sebuah kebetulan yang ditujukan untuk memudahkan beban pelancong menjelang Olimpiade Musim Panas 2020 di Jepang. Sebab Bandara Narita sendiri sudah memiliki gerbang elektronik pertama mereka untuk pemrosesan bea cukai pada April 2019 kemarin.

Tetapi gerbang elektronik tersebut baru tersedia di Terminal 3 Bandara Narita saat ini. Namun, Bandara Narita memiliki rencana untuk menambahkan gerbang elektronik ini di Terminal 1 dan 2 pada musim semi mendatang. Selain itu teknologi ini juga dijadwalkan akan tiba di bandara Jepang lainnya pada musim semi.

Baca juga: Menjadi yang Pertama di Australia, Bandara Melbourne Hadirkan eGate dan Smart Security

“Saya berharap penumpang akan melewati bea cukai dengan tekanan sesedikit mungkin setelah perjalanan yang lama,” kata Takaaki Kanrei, kepala Bea Cukai Cabang Narita di Tokyo.

Thomas Cook, Travel Agent Tertua di Dunia yang Kini ‘Tutup Usia’

Unit travel agent tertua di dunia, Thomas Cook dilanda kebangkrutan. Namun dibalik bangkrutnya maskapai perjalanan wisata ini, unit lain yang turut terdampak adalah belasan hotel yang ada di Pulau Dewata. Pasalnya, sekira 16 hotel yang ada di salah satu destinasi wisata terfavorit di Indonesia ini bekerja sama dengan Thomas Cook. Tidak hanya itu, sekira 600.000 pelancong asa luar negeri juga turut terlantar akibat gulung tikarnya perusahaan ini.

Baca Juga: Delay Luar Biasa, 6 Maskapai Ini Pecahkan Rekor!

“Belum ada laporan, yang jelas handling agennya pasti susah. Mereka hanya pakai 16 hotel di Bali,” ujar Ketua Bali Tourism Board Ida Bagus Agung Partha Adnyana, dikutip KabarPenumpang.com dari laman detik.com (25/9). 

Agung mengatakan biro perjalanan Thomas Cook merupakan salah satu pembawa turis asal Eropa terbesar ketiga di Pulau Dewata. Dia mengatakan biro perjalanan itu biasa bekerja sama dengan hotel bintang 3 hingga bintang 5 yang berlokasi di tepi pantai.

Menilik kepada sejarah perusahaannya sendiri, sebenarnya ini merupakan perusahaan yang bergerak di bidang travel yang didirikan pada tahun 1841 dengan nama Thomas Cook and Son. Ini menjadikan Thomas Cook sebagai perusahaan travel tertua di dunia. Tidak berhenti sampai di situ, pada 19 Juni 2007, Thomas Cook yang sudah semakin berkembang, memutuskan untuk bekerja sama dengan MyTravel Group dan di situlah Thomas Cook Group terbentuk. Selain bergerak di bidang wisata, Thomas Cook juga memiliki bisnis penerbangan charter, Thomas Cook Airlines yang bermarkas di Manchester, Inggris. 

Sebelum dilebur, maskapai ini menggunakan nama Trans-European Airways yang ditemukan pada kisaran tahun 1986. Thomas Cook Airlines sendiri melayani 82 destinasi penerbangan di seluruh dunia, termasuk Bali. Guna melancarkan operasionalnya, Thomas Cook menggunakan 34 unit pesaaat yang terdiri dari 27 unit Airbus A321-200 dan tujuh unit sisanya merupakan varian Airbus A330-200. 

Sebelumnya, Thomas Cook juga pernah mengoperasikan Airbus A320-200, Boeing 757-200, Boeing 757-300, dan Boeing 767-300ER.

Baca Juga: Mau Jadi Awak Kabin? Standar Tinggi Badan Masih Jadi Syarat Utama!

Sama seperti kebanyakan maskapai di luar sana, Thomas Cook juga membagi dua konfigurasi kelas di penerbangan jarak jauh (Premium Economy dan Economy), dan satu kelas ekonomi di penerbangan jarak pendek-menengah. 

Jelas, dengan bangkrutnya Thomas Cook ini sedikit banyaknya akan membawa dampak pada perjalanan wisata dunia, dimana grup ini mencatatkan pencapaian menerbangkan 16 juta pelancong per tahun.

NTSB Rekomendasikan Latihan Khusus Pilot Sebelum Menerbangkan Boeing 737 MAX

Pasca rencana kehadiran regulator Federal Aviation Administration (FAA) ke Seattle guna meninjau langsung upgrade sistem navigasi pada varian pesawat terlaris sekaligus paling kontroversial milik Boeing, 737 MAX, kini hadir ‘pemain baru’ dalam polemik salah satu manufaktur pesawat terbesar di dunia ini. Adalah National Transportation Safety Board (NTSB) alias Badan Keselamatan Transportasi AS yang turut ‘menyerang’ Boeing dengan rekomendasi yang dikeluarkannya. Tidak hanya rekomendasi, NTSB juga menganggap Boeing terlalu menyama-ratakan kemampuan pilot dalam urusan menerbangkan pesawat.

Baca Juga: Ketua FAA: “Jika Ingin Sertifikasi Turun, Saya Harus Terbangkan 737 MAX”

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnbc.com (26/9), adapun rekomendasi yang dirilis oleh NTSB ini berkaitan dengan keselamatan penerbangan kelak, dimana mereka menghimbau untuk menghadirkan pelatihan khusus kepada para pilot sebelum mereka (pilot) ditugaskan utnuk menerbangkan varian 737 MAX ini kelak. Ya, pihak NTSB mengkhawatirkan kejadian seperti yang dialami oleh Lion Air JT610 dan Ethiopian Airlines ET302 terulang kembali di masa yang akan datang.

“Kami melihat dua kecelakaan ini sama-sama karena awak penerbang tidak bisa bereaksi menangaapi error yang terjadi di dalam pesawat dan seperti apa yang sudah direkomendasikan oleh Boeing dan FAA sebelumnya,” ujar ketua NTSB, Robert Sumwalt.

“Kendati kabarnya sudah di upgrade, namun nantinya pilot akan tetap dihadapkan dengan beberapa sistem alarm peringatan yang sama dengan sebelumnya,” sambungnya.

Menanggapi rekomendasi yang dilontarkan oleh NTSB ini, pihak Boeing mengatakan bahwa mereka hanya akan memfokuskan pada keselamatan penerbangan dan telah berupaya keras agar kejadian serupa tidak terulang.

“Keselamatan adalah nilai inti bagi semua orang di Boeing dan keselamatan pesawat kami, penumpang dan kru pelanggan kami selalu menjadi prioritas utama kami,” ujar Boeing dalam sebuah pernyataan.

Baca Juga: Uji Sertifikasi 737 MAX Jatuh Pada September Ini, FAA dan Boeing Masih Rahasiakan Tanggal, Ada Apa?

“Kami menghargai peran NTSB dalam mempromosikan keselamatan penerbangan. Kami berkomitmen untuk bekerja dengan FAA dalam meninjau rekomendasi NTSB,” sambungnya.

Lain halnya dengan pihak FAA yang mengatakan, “Kami akan berhati-hati dalam meninjau rekomendasi dari NTSB dan rekomendasi lain yang kami terima agar Boeing 737 MAX ini bisa mengudara kembali,”

Singapore Airlines Pertimbangkan Sajian Makanan ‘On Demand’ di Kelas Bisnis

Menjadi maskapai terbaik dunia, Singapore Airlines tengah mempertimbangkan untuk memperkenalkan sajian makanan berbasis permintaan (on demand) di kelas bisnis dan eksekutif yang akan diuji pada awal 2020. Uji coba layanan makan on demand  ini memberikan kesempatan penumpang untuk memilih apa saja dari menu selama penerbangan di samping layanan Book The Cook yang populer.

Baca juga: Mulai 1 Oktober, Singapore Airlines Tawarkan Ramen untuk Penumpang Kelas Satu dan Bisnis

Dilansir KabarPenumpang.com dari onemileatatime.com (26/9/2019), Direktur F&B Singapore Airlines Antony McNeil mengatakan, Singapore Airlines selalu mencari untuk mengembangkan layanan makanan dalam penerbangan baik itu pendekatakan makanan yang fleksibel atau yang penuh.

“Dengan pendekatan ini, penumpang akan memberitahu kami bahwa ini mungkin sesuatu yang harus kami upayakan,” kata dia.

Antony mengatakan, pihaknya perlu memastikan bahwa bisa mencapai semua tempat yang tepat terlebih dahulu. Ia juga memasikan bahwa awak kabin yang ditugaskan bisa menyampaikan konsep makan malam sesuai permintaan dan berharap mereka dapat mendukung peningkatan aktivitas tanpa mengurangi tingkat layanan penumpang yang tinggi.

“Kami (akan) mengambilnya dengan tim wawasan pelanggan kami, dengan awak kabin untuk memastikan bahwa kami memiliki pendekatan yang tepat. Kami ingin memastikan bahwa para kru merasa nyaman dalam setiap proses ini, bahwa kami menerima dukungan mereka, dan tentunya penumpang menerima tingkat pelayanan yang tepat,” kata Antony.

Untuk layanan makan on demand ini tak banyak maskapai yang menawarkannya di kelas bisnis. Tetapi Qatar Airways dianggap sebagai tolok ukur untuk pendekatan makanan apa yang Anda inginkan ketika mau dengan menu a la carte yang luas.

Pelancong bisnis umumnya lebih menyukai pendekatan yang lebih fleksibel untuk bersantap, karena mereka makan sesuai jadwal sendiri daripada jadwal yang ditentukan maskapai. Ini membuka kemampuan untuk menyesuaikan lebih banyak perjalanan dengan kebutuhan mereka sendiri daripada menyesuaikan waktu tidur, kerja dan relaksasi di sekitar layanan makanan.

Antony juga menyatakan bahwa penyegaran layanan Book The Cook, yang diluncurkan Singapore Airlines pada 1998, dapat melihat Lobster Thermidor menjadi yang ikonik dan memberi jalan bagi versi ‘modern’ sesuai dengan perubahan selera.

Baca juga: Penumpang Sadar Gaya Hidup Sehat, Singapore Airlines Tawarkan Makanan Sehat dalam Penerbangan

“Seperti semuanya, program Book The Cook berkembang. Lobster thermidor adalah favorit abadi, tetapi kami mencari peluang untuk memodernisasi itu, apakah itu jenis hidangan termidor lobster atau sesuatu yang serupa dan bertema lobster yang sedikit lebih modern, mungkin sedikit lebih sehat.

Orang-orang menyukai lobster, tapi kami pindah ke lingkungan di mana orang menjadi lebih sadar kesehatan sehingga mungkin hidangan krim lobster bukan yang tepat atau mungkin lobster panggang yang indah dengan asparagus atau sayuran segar mungkin menjadi alternatif lain,” kata dia.

Dibanderol Rp19 Jutaan, KAIS RailOne Kini Jadi “KA Istimewa,” Layanan Kereta Khas Bintang Lima

Kereta Api Istimewa baru saja diluncurkan PT Kereta Api Indonesia (KAI) tepat di hari ulang tahun yang ke-74. Kereta Api Istimewa ini merupakan kereta rel diesel (KRD) yang terdiri dua gerbong dalam satu rangkaiannya.

Baca juga: KAIS RailOne, Mengenal Vooridjer Kereta Kepresidenan RI

KA Istimewa diluncurkan di jalur kereta api depan Pusdiklat IR H Djuanda Bandung yang akan dikomersialkan dengan tarif sekitar Rp19 juta. Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, KA Istimewa yang menggunakan rangkaian KRD tersebut berkapasitas 40 orang yang bisa digunakan untuk kegiatan rapat kerja, kumpul keluarga hingga reuni.

(medcom.id)

“Kereta ini penggunaannya disesuaikan dengan keinginan pelanggan karena tidak dirangkaikan dengan perjalanan KA reguler,” ujar Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro.

Salah satu gerbong KA Istimewa tersebut dilengkapi dengan fasilitas yang menunjang berbagai acara ketika kereta ini disewa seperti meja panjang untuk rapat, kursi empuk dengan sentuhan klasik yang elegan. Tak hanya itu ada layar lebar dan proyektor yang juga disediakan untuk presentasi untuk rapat atau menonton film. Sedangkan gerbong lainnya ada sofa duduk layaknya ruang tamu, meja-meja kecil, lounge, mini bar, karaoke, televisi, mushola dan toilet.

Edi mengatakan KA Istimewa akan melayani beberapa rute jarak menengah seperti Jakarta-Cirebon, Jakarta-Bandung dan Jakarta-Semarang. Perjalanan KA Istimewa juga tidak dikelola langsung oleh PT KAI tetapi akan dikelola oleh anak usahanya yakni PT KA Pariwisata.

KA Istimewa sendiri bukanlah kereta baru melainkan KA Kedung Sepur yang dialihfungsikan menjadi KA Inspeksi ke-2 pada 2 Agustus 2019. Tetapi kemudian interior KA ini dirombak oleh PT KAI dengan konsep yang membuktikan bahwa ini akan mampu meningkatkan nilai lebih layanan kereta api.

Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi berharap dengan inovasi yang dilakukan, PT KAI ke depan bisa menjadi semakin mandiri dan mencari terobosan baru dalam menciptakan peluang pembiayaan guna menjaga keberlangsungan usaha mereka.

Baca juga: Berpendingin Es Balok, Inilah Kereta Kepresidenan Soekarno

“Inovasi seperti ini akan sangat membantu pemerintah dalam mengalokasikan dana APBN untuk pembangunan daerah lain yang lebih membutuhkan,” katanya.

Layani Umrah 2019, Airbus A330-900NEO Lion Air Lakukan Penerbangan Perdana ke Arab Saudi

Setelah tiba di Indonesia pada 20 Juli 2019, kini Airbus 330-900NEO milik Lion Air resmi memulai debut perdananya untuk melayani penerbangan umrah 1441 Hijriah dari Indonesia ke Madinah – Bandar Udara Internasional Pangeran Mohammad bin Abdul Aziz, Arab Saudi (MED) dan Jeddah – Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz, Arab Saudi (JED).

Baca juga: Airbus A330-900NEO Pesanan Perdana Lion Air Tuntaskan Test Flight

Dikutip dari keterangan resmi Lion Air, penerbangan umrah 2019 ditandai pengoperasian Airbus A330-900NEO, sebagai pesawat terbaru berbadan lebar (wide body) dan operator pertama di Asia Pasifik yang menggunakan armada ini. Pengoperasian Airbus 330-900NEO menjadi bagian dari langkah strategis Lion Air guna memperkuat pengembangan bisnis penerbangan jarak jauh (long haul) yang memerlukan waktu tempuh lebih dari 13 jam perjalanan tanpa henti (nonstop).

A330-900NEO bertata letak lorong ganda (double aisle) berkapasitas 433 kursi penumpang yang nyaman, menyediakan kabin paling senyap di kelasnya, menambah fitur utama dari kabin airspace, desain baru kompartemen bagasi kabin (overhead bin) yang memungkinkan lebih mudah mengatur dan menyimpan barang bawaan di kabin.

Pesawat ini memiliki keunggulan dalam upaya meningkatkan kinerja operasional, telah dibekali perangkat modern serta tingkat keandalan sehingga memberikan nilai lebih bagi maskapai dan penumpang. Di antaranya, menurunkan biaya operasi didukung teknologi generasi baru A350 XWB terlihat dari lekukan ujung sayap (sharklets) rentang hingga 64 meter, 25% lebih efisien rasio penggunaan bahan bakar perkursi, aerodinamis, mesin generasi terbaru, sistem baru – teknologi kokpit WiFi Tablet EFB – layar head-up ganda dalam pencegahan runway overrun serta common type rating (lisensi pilot yang sama).

Dalam penerbangan umrah 2019, Lion Air mengoperasikan tiga Airbus 330-300 (440 kursi) dan dua Airbus 330-900NEO (433 kursi). Rata-rata pesawat berusia muda. Seluruh pesawat telah menjalani perawatan intensif, dalam kondisi terbaik dan laik terbang (airworthy for flight).

Baca juga: Tawarkan Paket Menarik, Scoot Layani Penerbangan Umrah dengan Boeing 787 Dreamliner

Pada layanan umrah 2019, Lion Air menargetkan tingkat kinerja ketepatan waktu (on time performance/ OTP) lebih dari 85%. Keseriusan ini seiring bentuk memberikan layanan terbaik kepada jamaah umrah berdasarkan sistem terstruktur dan komprehensif antara perawatan pesawat, operasional di bandar udara serta keputusan cepat dan tepat guna meminimalisir dampak keterlambatan penerbangan.

Kembangkan Moda Otonom, Scania Masih Gunakan Bahan Bakar Nabati Terbarukan

Sudah lebih dari 100 tahun yang lalu, mobil muncul di tengah-tengah masyarakat sebagai moda pengangkut penumpang dan barang. Perkembangan jaman berjalanan beriringan dengan waktu tak pelak menghadirkan evolusi pada kendaraan beroda empat ini. Beragam inovasi hasil buah pemikiran orang-orang jenius di luar sana juga sudah dapat Anda temukan di mobil-mobil modern, mulai dari safety belt, air bag, AC, hingga sistem hiburan yang serba komplit.

Baca Juga: Antara Fakta dan Mitos Pada Penerapan Mobil Otonom

Roda waktu pun tidak bisa dihentikan, dan perkembangan menuju moda transportasi yang lebih kompatibel di masa yang akan datang kini mulai digalakkan oleh beberapa industri. Moda otonomlah yang agaknya akan mengambil porsi besar di ranah transportasi masa depan, dimana seperti yang sudah diketahui bersama, sejumlah manufaktur terkemuka seakan berlomba-lomba untuk menciptakan kendaraan yang dapat beroperasi mandiri ini.

Kabar mengenai moda tanpa kabin kemudi ini kini datang dari manufaktur otomotif asal Swedia, Scania – dimana pihak perusahaan memulai debut truk otonom perdananya yang bertajuk Scania AXL. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cnet.com, debut truk otonom Scania AXL ini berlangsung pada Selasa (24/9) kemarin, dimana truk menjajal aspal tanpa membawa penumpang.

Pasca sukses melakukan debutnya ini, pihak Scania agaknya enggan untuk mengumbar apa manfaat dari moda ini jika kelak sudah memasuki masa layanan, namun saatu yang pasti, Scania mengatakan bahwa Scania AXL ini mudah untuk bermanuver – baik di jalan maupun di lokasi konstruksi.

“Situs konstruksi memang menjadi lokasi yang tepat untuk menguji kendaraan otonom karena jauh dari ruang publik dan relatif lebih aman,” tutur salah satu pihak Scania.

Pihak Scania menggambarkan, moda semacam ini diperkirakan tidak hanya memudahkan pekerjaan konstruksi saja, melainkan juga sektor transportasi.

Namun, ada satu kelemahan di balik moda yang didominasi oleh warna oranye dan berbadan kekar ini, yaitu Scania AXL masih menggunakan pembakaran internal – tidak seperti moda otonom lain yang hampir semuanya sudah bertenaga listrik.

Baca Juga: Kendati Futuristik, Namun Masih Banyak yang Meragukan Pod Otonom

“Bahan bakar nabati terbarukan yang digunakan oleh Scania AXL akan memperkuat kendaraan konstruksi otonom,” tukasnya.

Namun tidak menutup kemungkinan jika Scania akan menggunakan tenaga listrik guna menggerakkan Scania AXL di kemudian hari, mengingat moda ini masih menyandang status sebagai moda kembangan.