Salah satu unicorn asal Indonesia, GoJek dikabarkan kembali mendapat suntikan dana segar. Setelah pada kesempatan sebelumnya Nadiem Makarim cs. mendapatkan kucuran dana dari Mitsubishi, kini giliran perusahaan asal Amerika, Visa yang berinvestasi di perusahaan yang didirikan pada tahun 2010 silam tersebut. Dikabarkan, suntikan dana dari Visa ini merupakan bagian dari pendanaan seri F GoJek yang tengah berlangsung saat ini.
Baca Juga: (Lagi) GoJek Dapat Kucuran Dana Segar dari Dua Raksasa Otomotif Asal Jepang!
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, investasi tersebut bertujuan untuk kerja sama dalam upaya menyediakan lebih banyak alternatif untuk pembayaran non-tunai (cashless) bagi konsumen yang berada di region Indonesia dan juga Asia Tenggara. Sama seperti Mitsubishi, Visa pun enggan membeberkan angka presisi yang dituangkannya dalam investasi ini.
“GoPay dan Visa berbagi visi bersama untuk memberikan transaksi yang nyaman dan cepat bagi konsumen,” jelas Aldi Haryopratomo, Chief Executive GoPay, dikutip dari laman South China Morning Post.
“Kami senang kerjasama dengan Visa untuk memperluas solusi kami di seluruh Asia Tenggara,” imbuhnya.
Di sisi lain, pihak Visa pun mengaku bahwa mereka senang dapat menjalin kerja sama dengan GoJek dalam visinya untuk memudahkan kehidupan masyarakat.
“Kami (GoJek dan Visa) ingin membuat kehidupan sehari-hari menjadi lebih nyaman, apakah itu dari cara orang berkeliling kota atau memudahkan dari segi transaksi yang terjadi,” ujar Regional President Asia Pacific dari Visa, Chris Clark, dikutip dari laman sumber terpisah.
Berkat suntikan dana dari Visa ini, maka GoJek secara resmi menyandang predikat sebagai startup decacorn, dimana valuasinya sudah mencapai angka di atas US$10 miliar.
Baca Juga: Setelah Rp16 Triliun dari Google, GoJek Kembali Dapat Kucuran Rp2 Triliun dari PT Astra Internasional
Sementara itu, rival terbesar GoJek, Grab dikabarkan telah menjalin kerja sama dengan Mastercard untuk meluncurkan kartu prabayar ke seluruh pengguna di Asia Tenggara. Sehingga pengguna Grab bisa menggunakan kartu virtual atau kartu fisik Mastercard untuk membayar lewat aplikasi Grab di seluruh Asia Tenggara.
Diharapkan dengan adanya kerja sama ini, pengguna layanan Grab bisa membayar produk dan layanan online pada merchant yang bisa membayar pakai Mastercard. Layanan ini diharapkan bakal meluncur pertengahan tahun ini.
Kadung buruk, itulah yang citra yang kini tersematkan pada manufaktur pesawat asal Amerika, Boeing, dimana pihak perusahaan harus bertubi menelan pil pahit pasca kecelakaan dua maskapai beda benua, Lion Air dan Ethiopian Airlines. Tidak terima produk dalam negerinya dicerca habis-habisan dari berbagai penjuru dan kalangan, Presiden Donald Trump pun sempat tampil bak penengah dan memberikan isyarat kepada Boeing untuk melakukan rebranding terhadap jenis pesawat maut yang digunakan oleh dua maskapai di atas – Boeing 737 MAX.
Baca Juga: Berikan Dukungan Pada Boeing, Donald Trump Usulkan Rebrand 737 MAX
Walaupun tidak memberikan kepastian tentang usul rebranding yang dilontarkan oleh orang nomor satu di Negeri Paman Sam tersebut, namun pihak Boeing nampaknya enggan mempublikasikan terkait perubahan nama dari jenis pesawat tersebut. Seolah hilang tenggelam begitu saja oleh pemberitaan lain, ternyata seorang pengguna Twitter, Woodys Aeroimages (@AeroimagesChris) baru-baru ini menjadi bahan perbincangan warganet.
— Woodys Aeroimages (@AeroimagesChris) July 15, 2019
Bukan karena ia mengunggah foto menu di kelas bisnis yang ditulis tangan, melainkan mengunggah pesawat dari Ryanair yang bertuliskan “737-8200” pada Senin (15/7) kemarin. Padahal, pada varian yang sama yang sudah terlebih dahulu dioperasikan, pihak Boeing menuliskan “737 MAX” pada bagian sisi depannya. Apakah ini merupakan pertanda dari Boeing yang sudah melakukan rebranding terhadap varian 737 MAX-nya?
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari berbagai laman theguardian.com (15/7), baik pihak Ryanair maupun pihak Boeing belum ada yang mau berkomentar atau mengkonfirmasi terkait perubahan nama dari 737 MAX menjadi 737-8200. Satu yang pasti, foto ini diambil di Renton, Washington, Amerika Serikat.
Baca Juga: Upaya Kembalikan Kepercayaan Publik, Boeing Pertimbangkan Rebranding 737 MAX
Namun jika menilik kembali ke belakang, agaknya sedikit tidak mungkin masih ada varian Boeing 737 MAX yang beroperasi dalam waktu dekat ini, mengingat varian ini (kemungkinan besar) baru diijinkan kembali mengudara pada tahun 2020 mendatang. Hal ini menyusul perbaikan dan pengecekan yang dilakukan Boeing secara menyeluruh terhadap semua varian 737 MAX.
Satu hal lain yang harus dipahami adalah apapun yang tertera di tubuh pesawat Ryanair tersebut merupakan tanggung jawab pihak maskapai – bukan produsen, dimana dalam kasus ini adalah Boeing.
Agaknya pemberitaan soal tata krama dan perilaku penumpang ketika mengudara sudah kerap di bahas – baik oleh KabarPenumpang.com maupun oleh portal berita lain. Namun, masih saja ada penumpang yang berlaku seenaknya bak seorang raja. Kali ini ada seorang penumpang yang tidak diketahui informasi pribadinya menggemparkan jagad media sosial Twitter karena perilakunya.
Baca Juga: Anda Tak Nyaman dengan Penumpang di Kursi Sebelah? Ini Solusinya
Dalam sebuah postingan Twitter yang diunggah oleh salah satu penulis novel kriminal terkenal asal Negeri Paman Sam, Alafair Burke, tampak ada seorang penumpang yang mengoperasikan layar hiburan dengan menggunakan kaki! Tentu saja, unggahan Alafair ini mengundang kemarahan warganet yang melihatnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman foxnews.com (16/7), Alafair Burke menunggah video berdurasi tujuh detik yang berisikan seorang penumpang tengah mengganti channel di layar hiburan dengan menggunakan kaki.
Tidak diketahui pasti mengenai informasi lebih lanjut tentang maskapai apa, dari dan menuju kemana penerbangan tersebut, dan kapan kejadian itu terjadi. Namun satu yang pasti, penumpang yang berada di dalam video Alafair tersebut sudah benar-benar kelewatan.
My friend who doesn’t have twitter sent this from her flight. It belongs on Twitter. pic.twitter.com/qG6d54V5Dd
“Temanku yang tidak memiliki akun Twitter mengirimkanku video ini dari penerbangannya. Ini patut dimasukkan ke dalam Twitter,” tulis Alafair dalam kolom caption guna melengkapi unggahan videonya tersebut.
Adapun Alafair mengunggah ini pada Selasa (17/6) kemarin, dan sukses menorehkan lebih dari 32 ribu retweets dan 152 ribu likes.
Hampir semua komentar yang masuk ke notifikasi Twitter Alafair isinya tidak ada yang mendukung tindakan dari penumpang yang ada di dalam video tersebut – semuanya mencela dan bahkan ada yang sampai hendak berinisiatif untuk melaporkan kejadian ini kepada polisi.
Dalam video tersebut, tampak penumpang tidak bertanggung jawab ini mengoperasikan layar hiburan dengan menggunakan ujung jempolnya – atau dengan kata lain dia sudah melepaskan alas kakinya.
Lalu sebagian dari warganet berkomentar mengenai kebersihan pesawat yang selama ini tidak terlalu diperdulikan oleh penumpang.
Baca Juga: Tak Pandang Bulu, Langgar Tata Cara Berpakaian Bisa Depak Penumpang dari Penerbangan
“Itulah mengapa saya selalu membersihkan semuanya ketika berada di dalam pesawat,” tulis pengguna akun @KelleeFreeman.
Kiranya video ini dapat memberikan pelajaran kepada Anda semua tentang bagaimana seharusnya Anda bersikap di dalam pesawat dengan kapasitas sebagai penumpang. Selain itu, membersihkan tempat duduk sebelum pesawat mengudara juga bisa mulai Anda praktikan mulai dari sekarang, mana tahu penumpang sebelum Anda melakukan hal lain yang lebih menjijikkan. Hiiii!
Salah satu momok menakutkan yang dapat menimbulkan bencana di sektor aviasi global, bird strike kembali menyerang salah satu maskapai terbaik di dunia versi Skytrax, Singapore Airlines. Dikabarkan, maskapai ini terkena serangan dari burung-burung ketika melakoni perjalanan menuju Paris pada Kamis (11/7) lalu. Beruntung, semua penumpang dan awak pesawat yang berada di dalamnya selamat – namun tidak bagi burung-burung malang tersebut.
Baca Juga: Bird Strike Paksa AirAsia QZ104 ‘Return to Base’ di Bandara Kualanamu
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (15/7), Singapore Airines dengan nomor penerbangan SQ336 awalnya beroperasi secara normal, mulai dari proses boarding, taxi, take-off, hingga mengudara. Namun ketika hendak mendarat di Bandara Charles de Gaulle, Paris, pesawat Airbus A380 yang dioperasikan oleh maskapai berkode SIA ini menabrak sejumlah burung.
Kala itu, Singapore Airlines tengah membawa 311 penumpang dan tidak ada yang mengalami cidera terkait kejadian ini. Sempat beredar kabar bahwa kejadian ini terjadi pada Sabtu (13/7), namun pihak Singapore Airlines menyatakan bahwa kejadian ini terjadi pada Kamis (11/7).
Tak lama berselang setelah kejadian yang dapat menimbulkan bencana kepada pesawat ini, sejumlah foto beredar di media sosial Facebook. Di salah satu foto, tampak bagian moncong pesawat yang dilapisi oleh cat warna putih, dipenuhi oleh bercak-bercak darah dari burung-burung tersebut. Jika dilihat dari jumlah bercaknya, diperkirakan ada lebih dari 10 burung yang menjadi ‘korban’ dari kejadian ini.
“Menyusul hasil inspeksi yang dilakukan di darat dan pembersihan, pesawat A380 dengan nomor penerbangan SQ336 dinyatakan dapat digunakan kembali dalam penerbangan menuju Singapura dengan menggunakan nomor penerbangan SQ335,” ujar salah satu juru bicara dari Singapore Airlines.
“Hanya saja ada keterlambatan sekira 45 menit yang disebabkan oleh proses inspeksi dan pembersihan,” tandasnya.
Baca Juga: Mesin Alami Kendala Sebelum Lawan Uruguay, Pesawat Timnas Arab Saudi Diterjang Bird Strike
Sebelumnya, kejadian serupa sudah sering menghiasi sektor aviasi global. Sebut saja pesawat timnnas sepak bola Arab Saudi yang juga pernah mengalami hal serupa sebelum bertandang untuk melawan Uruguay pada 20 Juni 2018 silam. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini.
Mundur lagi ke tahun 2017, dimana maskapai berbiaya murah asal Malaysia, AirAsia dengan nomor penerbangan QZ104 tujuan Penang terkena bird strike yang mengakibatkan kegagalan operasi mesin. Hal ini membuat pesawat tersebut terpaksa return to base menuju Bandara Kualanamu, Sumatera Utara.
Baru-baru ini ramai berita Garuda Indonesia di media sosial karena menu kelas bisnis yang ditulis tangan dan melaporkan seorang Youtuber Rius Vernandes karena hal itu ke pihak kepolisian hingga mengeluarkan aturan dilarang berfoto di kabin. Hal ini kemudian membuat beberapa perusahaan transportasi ikut ambil bagian baik itu maskapai lain atau transportasi online.
Baca juga: Geger Video Menu dengan Tulisan Tangan, Garuda Indonesia Keluarkan Surat Larangan Ambil Gambar di Kabin!
Seperti Grab yang membuat peraturan berbalik dari Garuda dimana penumpang boleh berfoto selfie saat naik GrabCar. Tetapi tidak disarankan ketika naik GrabBike apalagi sampai bikin video TikTok dengan pengemudi.
Nah, ternyata bukan hanya Grab, AirAsia berbanding terbalik dengan Garuda Indoneisa yang melarang penumpang berfoto. Sebab maskapai berbiaya hemat (LCC) ini tidak melarang penumpangnya berfoto atau merekam video di dalam kabin pesawat.
Dendy Kurniawan, CEO AirAsia Indonesia mengatakan, pihaknya membebaskan penumpang mengambil foto dan video dalam kabin pesawat selama tetap menjaga tata tertib yang berlaku
“Bebas (berfoto di dalam pesawat), selama memang untuk sesuatu yang baik dan tidak mengganggu privasi awak kabin maupun penumpang lainnya,” jelasnya.
Dikutip KabarPenumpang.com dari akun Facebook dan Instagramnya, maskapai asal Malaysia tersebut bahkan menggelar kontes foto di dalam pesawat dengan hadiah tiket gratis ke Lombok ataupun Labuan Bajo. Dendy membenarkan adanya lomba foto tersebut. Menurutnya, program ini adalah salah satu bentuk promosi dari pihak manajemen.
“Iya bagian dari promosi rute-rute baru,” kata Dendy yang dikutip dari tempo.co (18/7/2019).
Adapun kontes tersebut yang diberitakan melalui media sosial AirAsia memberikan syarat seperti penumpang wajib mengikuti akun Instagram AirAsia yakni @airasia_bhsindonesia atau Facebook di @airasia.
Kemudian penumpang mengunggah foto momen bahagia saat terbang bersama AirAsia di Facebook atau Instagram dan mencantumkan caption perjalanan bahagia versi kamu. Tak lupa gunakan hastag #BahagiaBersamaAirAsia dan mention Facebook atau Instagram AirAsia dan tag tiga orang teman.
Baca juga: Jadi Viral, Menu Kelas Bisnis Ditulis Tangan, Garuda Indonesia Minta Maaf Pada Vloger
Terpenting adalah jangan private akun Facebook atau Instagram dan kontes berlangsung sejak 17-22 Juli 2019 pukul 23.59 WIB. Nantinya dua orang pemenang bisa memilih hadiah tiket penerbangan antara Jakarta – Lombok atau Bali – Labuan Bajo. Pengumuman pemenang pada 24 Juli 2019, jangan lupa syarat dan ketetntuan berlaku bisa di cek di https://air.asia/1KNWr.
Larangan makan di moda transportasi massal kerap kali diabaikan oleh penumpang meskipun tanda larangan sudah tertempel dengan jelas di kaca atau pintu. Di Jakarta sendiri saat naik bus TransJakarta, MRT maupun CommuterLine atau kereta listrik (KRL) tanda dilarang makan dan minun terlihat jelas.
Baca juga: Makan Burrito di Dalam Kereta, Penumpang Dimarahi Seorang Pria
Bahkan terkadang sudah ditegur petugas pun banyak penumpang yang mengelak dan tidak memperdulikan peringatan tersebut serta melanjutkan makanan. Tetapi penumpang yang taat aturan saat tidak diperbolehkan minum pun mereka langsung memasukkan botol ke dalam tas dan tidak ada perbedaan larangan dengan pelancong asing.
Tetapi, baru-baru ini para warganet di Cina marah karena ada pelancong asing yang makan di dalam kereta bawah tanah tetapi tidak dikenakan denda sama sekali. Warganet marah dikarenakan pelancong asing ini seperti mendapat hak istimewa di negara mereka karena kasus hukuman yang tidak sama di Metro Nanjing.
Dilansir dari laman shanghai.ist (16/7/2019) oleh KabarPenumpang.com, diketahui pada 10 Juli 2019 seorang warganet menyampaikan kabar secara online ketika staf kereta bawah tanah melakukan inspeksi di satu kereta komuter. Staf kereta tersebut mendenda seorang penumpang asal negeri mereka (Cina) karena makan di dalam kereta api.
Namun, di saat yang sama seorang pelancong asing yang juga naik dalam kereta tersebut kedapatan melahap sandwich yang dibawanya dan hanya diberi peringatan oleh petugas tersebut. Adanya hal ini kemudian yang memicu kemarahan warganet terkait aturan makan dan hukuman yang dikenakan.
Kemudian Metro Nanjing menanggapi hal tersebut dan mengatakan bahwa pelancong asing itu hanya diperingatkan. Menurut mereka, ini karena pelancong asing terkendala bahasa dan Metro Nanjing mengaku memberikan hukuman yang tidak adil serta berjanji memperkuat manajemen di masa depan.
Untuk diketahui, makan di dalam Metro Nanjing sendiri sudah dilarang selama bertahun-tahun. Bila penumpang ketahuan makan, mereka akan di denda antara 20-100 Yuan atau sekitar Rp41 ribu hingga Rp195 ribu.
Baca juga:Makan Es Krim di Dalam Bus Berujung Adu Jotos
Bila ditelusuri, ini adalah insiden ketiga yang terjadi dalam sepekan terakhir dan membuat viral serta di tanggapi warganet yang mengeluhkan hak istimewa orang asing di Cina.
Bandara Internasional Dubai bekerja sama dengan Etihad Energy Services Company (Etihad ESCO) dikabarkan telah memasang sistem energi surya yang terdiri dari 15.000 panel fotovoltaik di Terminal 2 bandara berkode DXB tersebut. Sebagai informasi, Etihad ESCO merupakan anak perusahaan yang sepenuhnya dimiliki oleh Dubai Electricity and Water Authority (DEWA).
Baca Juga: Drone Muncul (Lagi) di Bandara Dubai, Operasional Penerbangan Dihentikan 30 Menit
Proyek pemasangan sistem energi surya ini memiliki kapasitas 5MWp dan dapat menghasilkan lebih dari 7,48 juta kilowatt-jam energi setiap tahun untuk Dubai International Airport. Diharapkan, pemasangan sistem energi surya ini dapat menghasilkan penghematan senilai AED3.3 juta atau yang berkisar Rp12,6 miliar (kurs sekarang). Dengan sistem energi surya yang baru, muatan Terminal 2 yang ada di Dubai International Airport akan berkurang sekitar 29%. Sistem ini juga akan mengurangi emisi CO2 sebesar 3.243mt per tahun.
Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman airport-technology.com (16/6), Wakil Presiden Eksekutif Infrastruktur dan Teknologi Bisnis Dubai International Airport, Michael Ibbitson mengatakan, “Dubai International Airport telah melakukan berbagai inisiatif hijau selama beberapa tahun terakhir untuk membatasi emisi karbon dan mendukung tujuan Dubai untuk pengurangan 30% dalam konsumsi energi kota pada tahun 2030,”
“Selain memungkinkan kami untuk membatasi emisi karbon sembari memotong biaya, inisiatif ini juga mendukung visi jangka panjang kami untuk masa depan yang bebas emisi karbon sesuai dengan target industri penerbangan,” lanjut Michael.
Proyek terbaru ini merupakan bagian dari inisiatif cerdas pertama DEWA yang dikenal sebagai Shams Dubai yang bertujuan untuk mempromosikan penggunaan sumber energi bersih nan terbarukan. Sebagai bagian dari program ini, panel surya akan dipasang di atap bandara untuk menghasilkan listrik dari tenaga surya dan akan dihubungkan ke jaringan DEWA untuk ditransfer menjadi pembangkit listrik.
Etihad ESCO bertanggung jawab untuk menyediakan layanan pemeliharaan untuk Dubai International Airport selama tujuh tahun masa kontrak.
Baca Juga: Memukau, ‘Sosok’ Airbus A380 Emirates Jadi Ladang Bunga Terbesar di Dubai
“Kemitraan kami dengan Dubai International Airport untuk pemasangan panel surya fotovoltaik memberi kami kesempatan untuk berperan aktif dalam visi bandara untuk efisiensi energi dan pengembangan,” tutur CEO Etihad ESCO, Ali Al Jassim.
“Selain itu, (kerja sama) ini juga menandai perpanjangan kemitraan yang terjalin antara Dubai International Airport dan Etihad ESCO, dimana pada Oktober 2017 yang lalu, kami menandatangani perjanjian untuk perkuatan terminal DXB 1, 2 dan 3 untuk meningkatkan efisiensi energi dan mengurangi air dan konsumsi listrik sebesar 20%.” tutupnya.
Ada kabar dari Garuda Indonesia, mulai hari Selasa (16/07) ini secara resmi melayani penerbangan London melalui dua kota besar di Indonesia yaitu Denpasar dan Medan setelah sebelumnya – sejak Januari 2019 – Garuda Indonesia melayani penerbangan ke London melalui Denpasar.
Baca juga: Liburan ke London Saat Musim Panas? Jangan Lupa Naik Cool Cab
Penerbangan Denpasar-Medan – London tersebut dilayani dengan armada Airbus A330-200 berkapasitas 222 penumpang dengan konfigurasi kursi 36 kelas bisnis dan 186 kelas ekonomi sebanyak 3 (tiga) kali dalam seminggu yaitu setiap hari Selasa, Kamis dan Sabtu.
Direktur Niaga Garuda Indonesia, Pikri Ilham Kurniansyah dalam pesan tertulis menyebutkan mengatakan bahwa dengan dioperasikannya rute ini, Garuda Indonesia menjadi maskapai pertama yang menghubungkan London dengan dua kota besar di Indonesia.
Pikri menambahkan, selain merupakan komitmen berkelanjutan perusahaan dalam memperkuat jaringan penerbangan internasional, khususnya dengan menyediakan akses konektivitas langsung dari hub penerbangan terpadat di Indonesia yaitu Bali dan Medan ke Bandara Internasional London Heathrow (LHR).
“Dihubungkannya Medan dengan destinasi London juga kami harapkan dapat semakin memperkenalkan keunggulan potensi wisata prioritas Indonesia di Medan dan sekitarnya seperti keindahan alam wisata Danau Toba”, jelas Pikri. “Penerbangan Denpasar – Medan – London ini kami layani dengan menggunakan armada A330-200 -menggantikan B777-300 ER yang sebelumnya digunakan untuk melayani rute London – Denpasar,” Jjelas Pikri.
Penerbangan Denpasar – Medan – London dilayani dengan GA 086 berangkat dari bandara internasional Ngurah Rai pada pukul 08.10 WITA dan akan tiba pukul 11.10 WIB di bandara Kualanamu, Medan dan kemudian akan diberangkatkan menuju London pada pukul 12.40 WIB dan tiba di bandara Internasional Heathrow pada pukul 20.00 LT.
Baca juga: 22 Januari 2019, Garuda Indonesia Terbang Langsung ‘One Way’ dari London ke Denpasar
Sementara itu penerbangan dari London akan dilayani dengan GA 087 berangkat dari bandara Internasional Heathrow pada pukul 21.45 LT dan akan tiba di bandara Internasional Kualanamu, Medan pada pukul 16.25 WIB kemudian akan berangkat kembali ke Denpasar pada pukul 17.55 WIB dan akan tiba di bandara Internasional Ngurah Rai pada pukul 22.20 WITA.
Biasanya pelancong akan membawa tas mereka sendiri baik itu melewati keamanan maupun ke gate. Namun apa jadinya jika robot otonom yang membawa barang Anda di bandara saat melewati keamanan? Ya, ketika pelancong berangkat dari Bandara Internasional Dallas-Forth Worth (DFW), pelancong akan menikmati kemudahan tesebut.
Baca juga:Ssstt..! Ada Robot Polisi Lalu Lintas di Bandara Changi
Sebab, bandara ini menghadirkan robot penanganan bagasi dan menjadi bagian dari program yang disebut FLEET. Cara kerja robot ini cukup sederhana dimana penumpang meletakkan barang bawaan mereka dan memasukkan informasi penerbangan melalui layar sentuh interaktif.
Jika semuanya selesai, koper akan dijatuhkan ke robot yang memiliki roda empat kecil dan mengirimnya ke sabuk bagasi yang tepat. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman businesstraveller.com (14/7/2019), nantinya setiap robot hanya akan membawa satu tas dengan GPS untuk menentukan rute optimal.
Robot FLEET dilengkapi sensor dan kamera internal yang bisa menghindari halangan saat berjalan mengantar tas. Robot dan tas bisa dilacak secara real time untuk memastikan barang itu tiba sesuai tempatnya.
“Aplikasi khusus ini menarik sekaligus menantang bagi kami, karena FLEET akan bekerja di area penumpang. Kami percaya FLEET sejalan dengan visi bandara, karena mereka memiliki komitmen yang kuat untuk meningkatkan pengalaman penumpang, serta menampilkan inovasi terbaru,” kata Andrew Manship, Executive Vice President Airports Vanderlande.
Robot FLEET dikembangkan oleh perusahaan Belanda Verlande dan memulai debut pertamanya tahun 2018 di Bandara Den Haag di Rotterdam. Robot tersebut mampu mengangkut sekitar 450 tas per jamnya.
FLEET diketahui merupakan robot ramah lingkungan yang mengonsumsi energi hingga 50 persen lebih sedikit dibandingkan dengan perngaturan biasa. Robot tersebut bahkan bisa didaur ulang saat mencapai masa akhir tugasnya.
Robot ini berada di Terminal D Bandara DFW dan tengah diuji coba pada penumpang transit yang tiba dari penerbangan internasional. Dalam uji coba ini, akan ada petugas yang berada dekat dengan robot untuk membantu ketika penumpang bingung atau ada masalah dalam menggunakannya.
Uji coba di DFW sendiri tidak dikatakan dengan jelas hingga kapan. Namun bila robot FLEET tersebut meningkatkan efisiensi maka akan diteruskan sebelum robot bagasi lain muncul di bandara di seluruh dunia.
Baca juga: “Kempa,” Robot Humanoid Khas India Hadir di Bandara Bengaluru
“Saat kami menjalani program percontohan, DFW akan mengevaluasi teknologi baru ini dan menilai potensi aplikasi robot dan kendaraan otonom di berbagai titik di bandara,” kata Khaled Naja, wakil presiden eksekutif DFW Airport untuk infrastruktur dan pengembangan.
Jika dilontarkan pertanyaan, “sudah berapa lama lokomotif kereta api mengalami perkembangan?” bisakah Anda menjawabnya? Bagi Anda yang menjawab 100 tahun, jawabannya kurang tepat, karena lokomotif kereta sudah mengalami ‘evolusi’ sekira sejak dua abad yang lalu. Ya, membutuhkan waktu kurang lebih selama dua abad untuk bisa mengembangkan teknologi di lokomotif kereta api sehingga bisa dinikmati seperti yang Anda tumpangi saat ini.
Baca Juga: Bon Bon, Mengenal Legenda Lokomotif Listrik Indonesia
Dua abad bukanlah waktu yang sebentar untuk melakukan sebuah evolusi, dimana salah satu momen perdana lokomotif kereta api muncul di hadapan publik adalah ketika insinyur Richard Trevitchick memamerkan temuannya di kota pertambangan Welsh, Merthyt Tydfil – dan siapa sangka bahwa temuan ini memberikan dampak yang sangat besar terhadap perkembangan transportasi di era yang sekarang.
Era Lokomotif Uap
Seperti yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com, di tahun 1802, Richard pertama kali memamerkan teknologi lokomotif dengan menggunakan tenaga uap. Namun sebuah bencana menimpa Richard, dimana ‘Penydarren’ – nama lokomotif yang ia ciptakan ini meledak di Greenwich dan menewaskan empat orang. Musibah ini lalu dijadikan senjata oleh rival Richard untuk menyerang dengan mengatakan bahwa lokomotif bertenaga uap tidaklah aman untuk dioperasikan. Kendati begitu, Penydarren sudah kadung menorehkan sejarah dalam perkembangan teknologi lokomotif – pasalnya, Penydarren kala itu menjadi kereta api dengan menggunakan lokomotif uap skala penuh pertama yang beroperasi.
Penydarren. Sumber: istimewa
Inovasi pun terus berlanjut, dimana pada tahun 1812, seorang insinyur bernama Matthew Murray membuktikan kelayakan komersial dari lokomotif bertenaga uap dengan inovasinya yang dinamakan Salamanca.
Pertama kali mengular di Middleton Railway, Salamanca merupakan lokomotif uap pertama yang menggabungkan dua silinder dan menjadi lokomotif pertama yang menggunakan aktuator linier rack and pinion untuk mengubah gerak rotasi menjadi momentum ke depan.
Salamanca. Sumber: wikipedia
Di saat yang hampir bersamaan, seorang insinyur yang bernama George Stephenson mengembangkan kurang lebih 16 lokomotif eksperimental di rentang tahun 1814 sampai 1826. Adapun lokomotif kembangan George Stephenson ini akan bertugas di sekitaran Killingworth Colliery, Inggris.
Lokomotif Uap Kembangan George Stephenson. Sumber: wikipedia
Melalui inovasinya ini juga, George Stephenson juga sempat berencana untuk membangun jalur lokomotif uap antara Liverpool dan Manchester – dan rencana ini benar-benar berjalan pada tahun 1830-an. Ya, revolusi lookomotif uap benar-benar terjadi sampai tahun 1830-an.
1879: Elektrifikasi Lokomotif
Tidak mau kalah dengan Inggris, Jerman juga mulai mengembangkan lokomotif yang jauh lebih canggih ketimbang yang menggunakan tenaga uap. Adalah Werner von Siemens, penemu dan pendiri perusahaan teknik multinasional Siemens AG, yang mulai mengelektrifikasi lokomotif di tahun 1879. Selama rentang empat bulan uji coba, lokomotif listrik kembangan Siemens ini berhasil mengangkut sekira 90.000 penumpang.
Wikipedia
Merasa sukses dengan lokomotif listriknya ini, Siemens melanjutkan membangun jalur trem listrik pertama di dunia di pinggiran kota Berlin Lichterfelde pada tahun 1881. Kebutuhan untuk mengurangi polusi kereta api di bawah tanah dan terowongan mendorong pengadopsian lokomotif listrik pada dekade-dekade berikutnya. Merasa sependapat dengan Siemens, negara-negara lain mulai mengadopsi inovasi serupa, seperti Perancis dan Jepang.
Baca Juga: GE CC200, Lokomotif Diesel Elektrik Perdana di Indonesia, Ikut Sukseskan KTT Asia Afrika 19551892 – 1945: Proses Dieselisasi
Paten pada mesin pengapian kompresi (atau mesin diesel) terjadi di tahun 1892 yang dirilis oleh Dr Rudolf Diesel. Inovasi ini dengan cepat memicu spekulasi tentang bagaimana metode pembakaran internal baru ini dapat diterapkan pada tenaga penggerak kereta api. Pengembangan berkelanjutan dari mesin diesel yang semakin efisien dengan peningkatan rasio daya terhadap bobot pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 – banyak di antaranya berasal dari Swiss perusahaan teknik Sulzer, tempat Rudolf Diesel bekerja selama beberapa tahun.
Kereta baja Kim Jong Il saat akan berkunjung ke rusia
Pengembangan lokomotif diesel pada era ini semakin menjamur mengingat lokomotif uap yang sudah semakin tergerus oleh jaman. Lalu sejak tahun 1945 sampai saat ini, perkembangan teknologi di sektor moda transportasi jalur rel mulai merambah tenaga campuran antara diesel dan listrik – tepatnya teknologi ini dikembangkan terhitung sejak surutnya Perang Dunia Kedua.