Berkiblat ke Eropa dan Jepang, Ridwan Kamil Usulkan Pembuatan Gerbong Khusus Sepeda

Selain mengaktifkan empat jalur kereta mati di Jawa Barat dan membuatnya seperti di Eropa, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga berencana membuat gerbong khusus sepeda. Hal ini pun ternyata ingin dilakukan PT kereta Api Indonesia (KAI), agar penumpang bisa berwisata menggunakan kereta. Namun usulan Kang Emil panggilan akrab mantan Wali Kota Bandung tersebut dan rencana PT KAI masih dipertimbangkan. Baca juga: Sepeda Kini Tanpa Dilipat Bisa Masuk Ke Gerbong Kereta Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro mengatakan, rencana dan usulan Ridwan Kamil tersebut tengah dikaji pihaknya. Ia mengungkapkan bila ini jadi, maka akan ada satu gerbong khusus untuk sepeda. Sehingga penumpang yang membawa sepeda bisa menikmati pemandangan alam. Sebab selama ini, sepeda yang bisa masuk dalam gerbong kereta jarak jauh maupun KRL adalah sepeda lipat. Sehingga sepede besar seperti sepeda gunung harus dikirimkan melalui Kalog atau pengiriman ekspedisi lain. “Mungkin satu kereta atau gerbong beri sepeda untuk memudahkan saat dia sudah tiba di destinasi. Dia sampai di Bandung tinggal turunkan sepeda,” kata Edi yang dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com. Karena Kang Emil mengatakan akan membuat Jabar sperti Eropa, sebenarnya sebelum usulannya terkait sepeda dalam gerbong kereta api, layanan kereta Eropa seperti di Inggris sudah menyediakan gerbong khusus membawa sepeda yang notabene sepeda besar alias bukan sepeda lipat seperti yang biasanya. Namun sepeda ukuran besar ini bisa masuk ke gerbong kereta ketika bukan jam sibuk dan akhir pekan. Tetapi pengguna kereta yang membawa sepeda di Eropa juga mau tak mau harus mengalah dengan yang lain, bahkan menari-cari gerbong kosong khusus sepeda. Hal ini dikarenakan gerbong tersebut terkadang sudah diisi dengan berbagai barang penumpang lain seperti kursi roda dan tas. Ternyata tak hanya Eropa, Jepang pada Desember 2017 lalu juga meluncurkan gerbong kereta yang dikhususkan untuk pengguna sepeda. Kehadirannya ini hanya ada di setiap akhir pekan yag menghubungkan Ryogoku di Tokyo ke berbagai kota pesisi di Semenanjung Boso. Baca juga: Semakin Sulit Bawa Sepeda di Kereta, Inilah Curhat Pesepeda di London Nantinya jika gerbong kereta khusus sepeda tersebut bisa terealisasikan, pengguna kereta api yang juga pengguna sepeda baik itu perorangan maupun komunitas bisa menikmati kemudahan ini tanpa harus terbebani meninggalkan sepeda mereka di rumah atau mengirimkannya melalui ekspedisi.

Per 7 Januari, Emirates Resmi Pindah Pelayanan ke Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

Raksasa aviasi asal Timur Tengah, Emirates baru saja memindahkan operasinya dari Teminal 2 ke Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Langkah ini secara resmi ditandai dengan kedatangan penerbangan Emirates dengan nomor penerbangan EK356 di Gate 9 pada 7 Januari 2019 sekira pukul 15.45 WIB. Pada penerbangan ‘perdananya’ ke Terminal 3, Emirates mendapatkan sambutan dari sejumlah elit. Baca Juga: Ternyata, Emirates Hanya Menggunakan Dua Jenis Pesawat! Adapun kedatangan penerbangan Emirates tersebut ke Terminal 3 disambut langsung oleh CEO PT Jasa Angkasa Semesta (PT JAS) Adji Gunawan; General Manager PT JAS Abdi Lukman; Country Manager Emirates Indonesia Rashid Al Ardha; Airport Service Manager Emirates Ferdinand Sitepu; dan Commercial Support Manager Emirates Indonesia Saeed Mubarak. “Sebagai maskapai global, kami selalu mencari cara untuk secara konsisten meningkatkan standar dalam hal pengalaman pelanggan, baik di dalam pesawat, di darat, dan sebelum, selama, dan setelah penerbangan bersama kami,” ujar Rashid Al Arhda, seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman TribunNews.com (11/1/2019). “Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada PT Angkasa Pura II atas dukungan yang diberikan dalam memungkinkan hal ini. Ini adalah tonggak penting bagi operasi Emirates di Jakarta dan perpindahan ini akan membantu kami mencapai kesuksesan yang lebih besar di Indonesia,” tandasnya. Penumpang yang akan check-in akan diarahkan untuk mengunjungi konter Emirates di baris B 07—20. Setelah menyerahkan bagasi, penumpang kelas premium dipersilakan untuk mengunjungi lounge di depan Gate 9/10 sebelum boarding. Dalam kondisi tertentu yang mengharuskan penumpang untuk mengubah rincian penerbangannya, mereka dapat mengunjungi kantor Emirates di Airline Management Building no. 6, yang terletak di gedung parkir di lantai 4. Baca Juga: Layanan First Class Emirates Undang Decak Kagum Youtuber! Sementara itu, Executive General Manager Bandara Internasional Soekarno-Hatta, M Suriawan Wakan, mengingatkan agar setiap penumpang yang hendak pergi dengan menggunakan maskapai Emirates dari atau menuju Jakarta untuk lebih memperhatikan kembali tiket mereka. “Kami berharap pelanggan maskapai Emirates untuk mengetahui perkembangan yang disampaikan secara resmi oleh Emirates dan memperhatikan tiket, sehingga tidak salah terminal. Sebab, sejak tanggal 7 Januari 2019, operasional Emirates pindah dari Terminal 2 ke Terminal 3,” ujar M Suriawan, dikutip dari laman sumber terpisah.

Budi Karya: Bulan Depan Ojol dan Opang Resmi Jadi Angkutan Umum

Setelah sekian lama diperdebatkan lantaran statusnya yang belum terdaftar sebagai angkutan umum, kini para pengemudi ojek online (ojol) dan para perusahaan yang menaunginya sudah bisa bernafas lega. Pasalnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menargetkan penerbitan dasar hukum untuk moda transportasi roda dua akan rampung bulan Februari mendatang. Dengan begitu, Pemerintah akan secara resmi mengakui ojol sebagai angkutan umum. Baca Juga: Populasi Ojek Online Meroket, Apakah ini Pertanda Bagus Untuk Ibu Kota? Dengan adanya payung hukum ini, maka eksistensi dari ojek konvensional atau yang sering disebut ojeg pangkalan (opang) juga akan diakui keberadaannya oleh Pemerintah. Selama ini, motor bukanlah menjadi bagian dari angkutan umum sebab tidak termasuk dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnnindonesia.com (11/1/2019), Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan menjadikan motor resmi sebagai angkutan umum menggunakan kewenangan diskresi yang diatur pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintah. “Insya Allah awal bulan depan aturan itu selesai,” tutur Menteri Budi. Dijelaskan, regulasi ini akan mendasari ojol untuk setidaknya fokus pada tarif, keselamatan, pembekuan, hingga kemitraan. Menteri Budi juga menekankan banyak juga aspek keselamatan dalam peraturan yang akan diberlakukan kepada mereka. Khusus pada sepeda motor, Menteri Budi mengatakan bahwa moda ini merupakan yang paling sering mengalami kecelakaan di jalanan. Terlebih dengan fakta yang tersaji di lapangan, dimana masih banyak sekali oknum pengemudi nakal yang masih saja mengoperasikan ponsel mereka ketika tengah berkendara. Wajar saja jika Menteri Budi terus menekankan agar para pengemudi ojol ini lebih memperhatikan keselamatan dirinya dan penumpang. Tidak bisa dipungkiri, ojol merupakan moda yang paling laris digunakan, baik di kota-kota besar maupun kecil sekalipun. Terlebih jika dilihat dari fleksibilitasnya, maka tidak heran jika banyak orang diluar sana yang mengandalkannya sebagai moda first dan last mile. Baca Juga: Ini Dia Alasan Ojek Online Belum “Naik Kelas” Senada dengan Menteri Budi, Pengamat Keselamatan dari Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Palubuhu menegaskan tentang pentingnya aspek keselamatan selama berkendara, terutama ketika menggunakan sepeda motor. “Harus bijak dalam menyikapi ini. Mau tidak mau unsur safety harus dipertimbangkan. Saya yakin (peraturan) pasti dilegalisir, tapi bukan berarti bebas,” ujar Jusri, dikutip dari laman sumber yang sama. “Misalnya penggunaan helm, ini tidak boleh yang penting pakai helm. Tapi juga harus klik,” tandasnya sembari mejelaskan contoh sederhana untuk meningkatkan keselamatan dalam menggunakan sepeda motor. Jusri juga tidak heran jika keberadaan ojol dewasa ini yang kian menjamur akhirnya disetujui oleh Pemerintah sebagai angkutan umum. “Toh selama ini ojol jadi moda transportasi terlaris, terutama di kota-kota besar,” ujarnya singkat.  

Marak Penipuan ‘Bagi-Bagi’ Tiket Gratis, Singapore Airlines Himbau Pelanggan Lebih Waspada

Siapa bilang penipuan yang membawa-bawa perusahaan besar hanya ada di Indonesia saja? Ternyata negara tetangga juga pernah mengalami hal yang hampir serupa. Ya, diberitakan bahwa ada penipuan yang mengatasnamakan flag carrier Singapore Airlines beberapa waktu yang lalu. Menanggapi hal ini, pihak maskapai memperingatkan para pelanggan agar lebih berhati-hati dan tidak menjadi korban penipuan yang mengiming-imingi tiket pesawat gratis ini. Baca Juga: Jaga Kesehatan Penumpang di Penerbangan Jarak Jauh, Singapore Airlines Gandeng Canyon Ranch Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (13/1/2019), pihak maskapai berkode SIA ini mengumumkan dalam laman media sosial Facebook resminya bahwa mereka telah menindaklanjuti aksi penipuan yang mengatasnamakan perusahaan ini. “Kami telah melaporkan situs tersebut dan memintanya untuk dihapus. Kami juga menyarankan kepada setiap pelanggan Singapore Airlines untuk lebih berhati-hati ketika memberikan identitas pribadi kepada sumber yang tidak terverivikasi,” tulisnya. Untuk diketahui, penipuan berkedok pembagian tiket gratis via situs web ini meminta para pesertanya untuk melampirkan data pribadi mereka sebagai syarat. “Setiap situs web, email, atau panggilan yang masuk ke nomor anda harus diverivikasi terlebih dahulu jika Anda ragu. Silakan laporkan detail tindak penipuan yang mengatasnamakan Singapore Airlines di platform media sosial kami atau melalui tautan ini http://singaporeair.com/en_UK/feedback-enquiry/,” imbuh perusahaan. Selain itu, maskapai yang merupakan anggota dari aliansi penerbangan Star Alliance ini juga mengingatkan kepada seluruh pengguna media sosial dan situs web phishing (aktivitas menipu pemegang akun online dari informasi keuangan dengan menyamar sebagai perusahaan yang sah) yang memiliki kesamaan dengan laman resmi dari Singapore Airlines. Baca Juga: Tambah Rute Penerbangan Berjadwal, Singapore Airlines Resmi Terbangkan A350-900 Ke Jakarta Jika dirunut ke belakang, penipuan yang mengatasnamakan Singapore Airlines dan sama-sama meminta data pribadi pelanggan bukanlah kali pertama yang terjadi. Pada tahun 2017 silam, penipuan hampir serupa juga pernah menimpa maskapai yang merupakan anak perusahaan dari Tamasek Holdings ini – meskipun medianya berbeda.
Penipuan via Whatsapp yang mengatasnamakan Singapore Airlines. Sumber: channelneasia.com
Kala itu, beredar pesan berantai di WhatsApp yang mengatakan bahwa Singapore Airlines membagikan sejumlah tiket First Class secara cuma-cuma. Menurut sang penipu, pembagian tiket gratis ini dilatarbelakangi oleh perusahaan yang baru saja berulang tahun yang ke-70. Adapun modus yang digunakan oleh penipu ini adalah mereka berpura-pura menjadi karyawan Singapore Airlines dan menelepon hingga mengirim email kepada para korban agar mereka informasi pribadinya.    

Setelah MPV Everest Gagal, Justru KRI Spica 934 Berhasil Temukan CVR Lion Air JT-610

Setelah menanti hampir 2,5 bulan sejak jatuhnya pesawat Boeing 737 Max 8 Lion Air JT-610 PK-LQP di Perairan Karawang pada 29 Oktober 2018, maka berbagai upaya keras dilakukan guna menemukan salah satu bagian black box – CVR (Cockpit Voice Recorder), dan akhirnya pada pagi hari ini (14/1), perangkat elektronik yang paling dicari ini berhasil ditemukan dan telah diangkat ke permukaan oleh Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Dinas Penyelam Bawah Air (Dislambair) I pada pukul 09.10 WIB. Baca juga: Sedih! Pencarian CVR Lion Air JT-610 oleh MPV Everest Tak Membuahkan Hasil Serangkaian upaya sistematis di lapangan telah diupayakan oleh berbagai pihak untuk menemukan CVR, seperti pihak Lion Air yang telah menggelontorkan dana Rp38 miliar untuk menyewa kapal riset dan evakuasi bawah laut, MPV Everest. Selama 10 hari berturut-turut, kapal berbendera Belanda tersebut melakukan pencairan dengan peralatan canggih, namun pada 29 Desember 2018, pencarian berbiaya tinggi tersebut dihentikan, dan tidak ada hasil yang diperoleh. Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sebagai lembaga yang diberi kewengan untuk melakukan investigasi kecelakaan JT-610 nyatanya tak menyerah atas hasil nihil MPV Everest. Dengan deadline 29 Januari 2019, dimana merupakan tanggal terakhir beam CVR akan memancar, lantas diupayakan untuk meminta bantuan dari pihak Dinas Hidro Oseanografi (Disihidros) TNI AL, dengan mengerahkan kapal riset bawah air yang tergolong canggih, KRI Spica 934. Dikutip dari tribunnews.com (14/1), Kepala Dinas Penerangan Komando Armada (Koarmada) I Letkol Laut (P) Agung Nugroho membenarkan adanya penemuan CVR tersebut. Penemuan CVR selama ini mengalami kesulitan, lantaran CVR yang ditemukan ternyata terbenam 8 meter di bawah dasar laut. “Jadi 8 meter di dalam lumpur. Kedalaman laut itu 30 meter ditambah lumpur 8 meter, jadi 38 meter,” jelas Agung. Dilansir dari Indomiliter.com, KRI Spica 934 merupakan kapal survei dan pemetaan yang canggih karena dilengkapi dengan peralatan survei hidro-oseanografi terbaru, yang dapat digunakan untuk pengumpulan data sampai dengan laut dalam (deep water). Kapal ini dibangun oleh galangan OCEA di Perancis. Resminya golongan kapal dengan kemampuan seperti ini disebut OSV (Oceanographic Offshore Support Vessel). Kapal dengan awak 40 personel ini dilengkapi dengan ROV (Remotely Operated Vehicle), yaitu robot bawah air yang dilengkapi kamera bawah air, sehingga dapat memberikan informasi visual kondisi di dalam laut, serta mampu mengambil contoh material dasar laut sebagai bahan penelitian, dengan kemampuan sampai dengan kedalaman 1000 meter. Baca juga: Lanjutkan Pencarian Korban dan CVR JT-610, Lion Air Kucurkan Rp38 Miliar untuk Sewa MPV Everest Dalam melaksanakan manuver kapal ini dilengkapi dengan Dynamic Position, Auto Pilot 70 dan stabilitas kapal menggunakan Anti Rolling Tank. Selain KRI Spica 934, TNI AL juga memiliki kapal sejenis dengan nama KRI Rigel 933. Kapal dengan panjang 60 meter dan bobot 515 ton ini dapat berlayar terus-menerus selama 20 hari.

Pesawat Kepresidenan RI Bercat Biru Langit, Inilah Alasannya

Tidak setiap negara lho mempunyai pesawat kepresidenan, dan Indonesia beruntung menjadi salah satu negara yang sudah mempunyai pesawat kepresidenan. Nah, pesawat kepresidenan Indonesia sendiri menggunakan pesawat jenis Boeing 737-800NG yang sudah mulai dirakit dan dimodifikasi sejak tahun 2011 lalu. Pesawat kepresidenan RI ini dibuat dari varian Boeing Business Jet 2. Baca Juga: [Foto] Intip Mewahnya ‘Istana Terbang’ Presiden Rusia, Vladimir Putin Sebagaimana yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, pesawat ini sendiri rampung pada tahun 2014 dan pertama kali mendarat di Lanud Halim Perdanakusuma pada 10 April 2014. Pesawat dengan tanda panggil Indonesia One dan berkode registrasi RI-001 ini dimiliki oleh Sekretariat Negara Republik Indonesia. Nah, mungkin sebagian dari Anda bingung, “Mengapa pesawat kepresidenan RI didominasi oleh warna biru langit? Mengapa tidak warna merah putih seperti bendera Indonesia?” Jawabannya adalah terkait masalah keamanan penerbangan. Mantan Menteri Sekretaris Negara Sudi Silalahi mengungkapkan warna biru sebagai bentuk penyamaran dari ancaman. Karena alasan keamanan, lanjutnya, maka pesawat itu diberikan warna biru, yang tidak dimiliki pesawat penerbangan komersial lain. Ditambah fakta lain, pesawat kepresidenan RI ini dioperasikan oleh TNI Angkatan Udara, dan untuk masalah perawatan, pesawat kepresidenan ini sendiri diserahkan kepada Garuda Maintenance Facility (GMF). Pada awalnya, pesawat kepresidenan Indonesia ini menggunakan pesawat Ilyushin Il-18 yang merupakan pemberian dari Pemerintah Uni Soviet pada jaman kepemimpinan Presiden Ir. Soekarno. Kala itu, pesawat berjuluk Dolok Martimbang ini ditempatkan di Skuadron Udara 17 TNI Angkatan Udara. Selain Il-18, adapun pesawat kepresidenan lain pada masa kepemimpinan “Putra Sang Fajar” ini ada Lockheed JetStar, dan sejumlah helikopter seperti Hiller 360, Sikorsky S-61, Sikorsky S-58, dan Mil Mi-4. Selepas era kepemimpinan Presiden Ir. Soekarno, sejumlah nama-nama besar juga pernah mengantarkan Presiden untuk kunjungannya, seperti DC-10, MD-11, Boeing 737 Classic, dan Airbus A300 pada era Presiden Soeharto. Kebanyakan, pesawat kepresidenan RI ini memiliki dua jenis, satu yang digunakan untuk penerbangan dalam negeri, sedangkan satunya lagi untuk penerbangan ke luar negeri. Lalu untuk harga pesawat kepresidenan yang sekarang, dibanderol dengan harga Rp820 miliar. Pesawat Boeing 737-800 ini sendiri mampu mengangkut hingga maksimal 67 staf kepresidenan dan bisa mengudara hingga 12 jam lamanya. Layaknya di negara lain, pesawat kepresidenan RI ini dilengkapi dengan ruang rapat VVIP berkapasitas 4 orang, kamar kenegaraan (State Room) VVIP berisikan ruang tidur mewah yang dapat menampung 2 orang, 12 kursi eksekutif, dan 44 kursi staf. Baca Juga: Jejak Boeing 707 di Indonesia: Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan Pesawat yang menggunakan jenis mesin CFM56-7 ini mampu menembus kecepatan jelajah maksimum hingga Mach 0,785, dengan jangkauan jelajah maksimum mencapai 4.620 Nm atau yang setara dengan 8.556km. Jika menilik segi keamanannya, pesawat kepresidenan RI dilengkapi dengan perangkat anti serangan rudal dan sensor pendeteksi panas. Jika suatu saat ada rudal yang mengarah ke si pesawat, maka pesawat ini bisa langsung mendeteksinya dan lalu menghindar.

Demand Kembali Normal Pasca Peak Season, Garuda Indonesia Turunkan Tarif di Rute-Rute Ini

Ada kabar terbaru dari maskapai plat merah, Garuda Indonesia, persisnya pasca peak season Natal dan Tahun Baru 2019, Garuda Indonesia telah menyesuaikan harga tiketnya sesuai supply & demand. Baca juga: 2019 – Garuda Indonesia ‘Kerahkan’ Seluruh Karyawan Jadi Agen Penjualan Tiket Dikutip dari siaran pers (12/1), pada jam tertentu pada rute rute tertentu dengan demand yang sudah mulai normal, Garuda Indonesia sudah menerapkan subclass harga moderat atau lebih rendah sesuai supply dan demand pasar. Beberapa rute penerbangan yang sudah mulai menunjukkan demand normal tersebut antara lain rute ke Denpasar, Jogjakarta, dan Surabaya serta beberapa rute lainnya, dimana pada jam jam tertentu telah memberlakukan harga moderat atau lebih rendah setelah sebelumnya dominan menawarkan harga batas atas. Masyarakat dapat mengunjungi web resmi Garuda Indonesia Group atau web online travel agent (OTA) atau melalui travel agent untuk melakukan transaksi untuk mendapatkan harga terbaik tersebut. Harga tiket penerbangan pada jam tertentu pada rute – rute tersebut variatif dari harga terendah hingga tertinggi. Penerapan harga sesuai suply dan demand tersebut perlu dilakukan oleh maskapai untuk memaksimalkan tingkat isian pesawat dan memaksimalkan revenue ditengah cost penerbangan yang semakin meningkat. Selain itu, Garuda Indonesia memiliki program pemberian potongan harga khusus kepada veteran, manula dan pelajar. Garuda Indonesia memberlakukan potongan harga hingga 25 persen bagi penumpang manula, veteran dan pelajar tersebut.

CRAIC CR929, Kolaborasi Rusia dan Cina di Pasar Pesawat Wide-Body

Pada akhir tahun 2018 kemarin, pihak Cina dan Rusia meluncurkan sebuah sebuah model pesawat baru yang mereka kembangkan berdua di dalam sebuah joint venture bernama China-Russia Commercial Aircraft International Corporation (CRAIC). Adapun pesawat wide-body long-haul jet ini sengaja dihadirkan untuk merebut ceruk pasar yang selama ini didominasi oleh manufaktur raksasa asal Negeri Paman Sam, Boeing dan Airbus dari Konsorsium Eropa Barat. Kendati masih berbentuk mockup, namun kehadiran pesawat ini cukup memberikan ‘teror’ terhadap pihak Amerika Serikat yang selama ini diketahui terlibat perang dagang dengan Cina. Baca Juga: Low Cost Carrier, Ubah Peta Pasar Penerbangan Dunia Dalam perhelatan Zhuhai AirShow 2018, CRAIC memamerkan pesawat penumpang CR929 yang rencananya akan terbang perdana (prototipe) pada tahun 2013. “Saat ini sedang dalam tahap desain awal dan kami juga dalam tahap pemilihan pemasok dan peralatan, yang diperkirakan akan selesai pada akhir 2019,” tutur Presiden dari United Aircraft Corporation (UAC), Yury Slyusar. Patut diketahui, CRAIC merupakan perusahaan gabungan antara Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) dan UAC yang berasal dari Rusia. Secara keseluruhan, CR929 ini, “Ini lebih mirip Airbus ketimbang Boeing,” kata seorang eksekutif senior Western aerospace. Sebenarnya, UAC dan COMAC telah mengumumkan niatan kedua negara ini untuk mengembangkan pesawat jet wide-body pada tahun 2014 silam, dan mereka baru memulai pengembangan program ini dalam skala penuh tiga tahun berselang dengan membentuk perusahaan patungan (joint venture) bernama China-Russia Commercial Aircraft International Corporation (CRAIC). Hingga November 2018 kemarin, CRAIC mengatakan bahwa mereka masih membuat proposal untuk pengadaan mesin pesawat dan instrumen pendaratan. Kepala desainer COMAC untuk program CR929, Chen Yingchun mengatakan bahwa perusahaan masih akan menyebarkan proposal untuk menyempurnakan program pengembangan pesawat ini kepada pemasok di seluruh dunia. Namun, sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman kfgo.com, dirinya masih enggan berkomentar apakah perang dagang yang terjadi antara Cina dan AS akan mempengaruhi pilihan perusahaan. Sementara pada bulan Desember 2018 kemarin, Direktur Kerjasama Internasional di Otoritas Penerbangan Sipil Perancis, Bertrand de Lacombe, menuturkan bahwa beberapa firma asal Perancis akan turut ambil andil dalam pengembangan CR929. “Perancis tertarik untuk berpartisipasi dalam proyek (pengembangan pesawat CR929) bersama dengan Rusia dan China,” ujar Bertrand. Baca Juga: Yang Menarik dari Air China – Terobsesi Gunakan Pesawat Produksi Dalam Negeri Lebih lanjut, Bertrand mengatakan bahwa sejumlah perusahaan asal Perancis yang terkait dengan pengembangan ini siap untuk mengikuti tender yang tengah dibuka oleh CRAIC. Kendati tidak secara rinci menyebutkan kontribusi apa yang akan diberika oleh pihak Perancis, namun Bertrand menekankan bahwa mereka dapat memberikan berbagai peluang, termasuk memproduksi mesin dan suku cadang utama lainnya.  

Toyota Mobility Unlimited Challenge, Wadah Para Kreator Ciptakan Perangkat Bagi Kaum Difabel

Diluncurkan pada tahun 2017, Toyota Mobility Unlimited Challenge adalah kompetisi global yang dirancang untuk menginspirasi teknologi baru yang mengubah kehidupan para penyandang disabilitas yang ekistensinya kerap kali tersisihkan – terutama di sarana publik. Pada perhelatan Consumer Electronics Show (CES) 2019 yang diadakan di Las Vegas, muncul lima finalis yang akan berkompetisi untuk memperebutkan hadiah utama senilai US$1 juta atau yang setara dengan Rp14,02 miliar. Baca Juga: Berhati Malaikat, Anak ini Dampingi Penyandang Disabilitas Lewati Penerbangannya Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (9/1/2019), para insinyur, penemu, dan perancang dari seluruh berlomba-lomba untuk mengajukan konsep Mobility Unlimited Challenge – guna memberikan taraf kemandirian yang lebih besar kepada para penyandang disabilitas. Selain mengembangkan inovasi baru, para kontestan juga tidak boleh melupakan kenyamanan dan kemudahan jika inovasinya ini kelak digunakan.
Evowalk. Sumber: newatlas
Sebut saja tim Evolution Devices dari Amerika Serikat yang meluncurkan Evowalk, sebuah selongsong kaki yang cerdas dan tidak mengganggu para penggunanya. Evowalk sendiri dikemas dengan sensor yang memantau gerakan di kaki dan memprediksi gerakan pengguna berjalan, kemudian merangsang otot-otot kaki tertentu pada waktu yang tepat untuk membantu mereka dalam perjalanan.
Quix. Sumber: newatlas
Ada lagi Quix, yang dirancang oleh IHMC & MYOLYN, yang merupakan kerangka luar (exoskeleton) yang dirancang khusus untuk memungkinkan para pengguna kursi roda berdiri tegak.
Qolo. Sumber: newatlas
Lalu ada lagi Qolo, yang dirancang oleh tim asal Jepang yang juga merupakan kerangka luar, tetapi Qolo lebih menggabungkan roda untuk mobilitas ekstra dan memungkinkan para penggunanya untuk duduk atau beridiri dengan lebih mudah.
Moby. Sumber: newatlas
Berbeda dengan Moby, mahakarya dari Italdesign asal Italia yang terlihat paling rumit diantara para kompetitornya, dimana ada sebuah moda yang berukuran cukup besar dan dapat menjadi ‘tumpangan’ bagi para pengguna kursi roda. Uniknya, Moby ini akan mengubah perjalanan para penyandang disabilitas ini menjadi bertenaga listrik. Moby sendiri rencananya akan tersedia di seluruh kota sebagai bagian dari skema ride-sharing berbasis aplikasi.
Phoenix AI Ultralight Wheelchair. Sumber: newatlas
Dan yang terakhir ada Phoenix AI Ultralight Wheelchair, hasil rancangan desainer Inggris yang akan menghilangkan getaran kecil dan putaran yang tidak diinginkan melalui kursi roda pintar yang mengubah pusat gravitasinya dengan cepat sehingga hanya menyisakan sedikit berat pada roda depan, membuatnya lebih mudah untuk berputar dan dan dikemudikan. Baca Juga: Mudahkan Penyandang Disabilitas, Tahun 2025 Semua Bus di Seoul Adopsi Low Deck “Lima finalis ini telah menunjukkan inovasi nyata yang didorong oleh desain yang berpusat pada kreatifitas manusia,” ujar Ryan Klem, Direktur Program untuk Toyota Mobility Foundation. “Kami berpikir bahwa teknologi yang tergabung dalam perangkat ini dapat mengubah kehidupan sejumlah besar orang di seluruh dunia, terutama bagi mereka yang memiliki kebutuhan mobilitas yang lebih luas,” tandasnya.  

Lanjutkan Tren Positif Pelayanan, British Airways Ganti Boeing 767 dengan 787 Dreamliners

Setelah hampir tiga dekade berada di dalam line up armada British Airways, kini Boeing 767 tidak lagi ‘mengabdi’ kepada maskapai kebanggaan Inggris tersebut. Terakhir kali, armada Boeing 767 milik British Airways melayani penerbangan terakhirnya pada Minggu, 25 November 2018 dengan rute penerbangan London Heathrow – Larnaca, Siprus PP. Sebagai kilas balik, British Airways pertama kali memasukkan nama Boeing 767 ke dalam list armadanya pada Februari 1990 guna melakoni jadwal penerbangan jarak pendek London – Paris. Baca Juga: Boeing 767 “Reborn,” Berpeluang Isi Segmen New Mid-market Aircraft Seperti yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman usatoday.com (27/11/2018), terhitung sejak penerbangan perdananya tersebut, Boeing 767 yang berada di bawah naungan British Airways telah menyelesaikan lebih dari 425.000 penerbangan komersial. Dari ke semua penerbangan tersebut, kota Frankfurt di Jerman merupakan destinasi yang paling sering dikunjungi oleh Boeing 767 ber-livery British Airways ini. Kurang lebih sekitar 15.000 penerbangan dari dan ke Jerman dengan menggunakan armada ini. “Kendati awalnya digunakan untuk penerbangan jarak jauh, namun dalam beberapa tahun terakhir 767 telah dikonfigurasi ulang untuk melakoni penerbangan jarak sedang, termasuk ke Athena dan Larnaca, dan juga beberapa rute domestik,” tutur pihak British Airways dalam sebuah pernyataan. Adapun beberapa rute jarak jauh yang dilayani oleh Boeing 767 ini adalah Amerika Utara dan Timur Tengah. Pada penerbangannya yang terakhir, Boeing 767 menggunakan konfigurasi penerbangan jarak pendek yang hanya memuat 244 seats saja. Sebagian besar dari armada 767 ini diganti dengan seri 787 Dreamliners baru. Baca Juga: Fakta Unik! Penerbangan Perdana British Airways Ternyata Hanya Membawa Satu Penumpang “Boeing 767 telah menjadi menorehkan tinta emas dalam perjalanannya bersama British Airways, armada ini telah membantu kami untuk menerbangkan penumpang menuju berbagai destinasi paling populer dan telah melayani para pelanggan kami dengan sangat baik pada masa jayanya,” ucap direktur operasi penerbangan British Airways, Kapten Al Bridger. “Untuk melanjutkan tren yang sudah ada, langkah yang sangat tepat bagi kami untuk mengganti armada Boeing 767 dengan 787 Dreamliners yang juga menawarkan pengalaman luar biasa bagi para penumpang ketika tengah membelah angkasa,” tandasnya.