PT KAI Hadirkan Livery 38 Tahun Lalu Pada Lokomotif Seri CC201
Mimo C1 Gabungkan Fungsi Skuter dan Troli

Hari ini, 22 Tahun Lalu, Tabrakan Maut Terburuk Abad Ke-21 di Inggris Tewaskan Puluhan Orang
Perangi Karbon Dioksida, ANA Pensiunkan Majalah Cetak di Pesawat
Mulai April 2021, All Nippon Airways (ANA) akan meniadakan majalah cetak di pesawat. Langkah ini diambil untuk mengurangi karbon dioksida CO2 dan mendukung gerakan keberlanjutan (sustainability goals) di dunia penerbangan.
Baca juga: Gunakan Kotoran Kelinci, ANA Siap Gunakan Bahan Bakar Ramah Lingkungan Pada 2021
Sebagai gantinya, maskapai yang berbasis di Tokyo itu akan menawarkan majalah digital di situs resmi perusahaan dan di aplikasi resmi ANA di Play Store dan Apple Store.
Meniadakan majalan cetak -seperti majalah TSUBASA GLOBAL WINGS- di setiap pesawat diklaim bakal mengurangi sekitar 1.540 ton emisi kertas setiap tahun.
Selain itu, migrasi dari majalah cetak ke majalah digital juga membawa sederet keuntungan terhadap ANA, mulai dari kenyamanan dan pengalaman baru bagi penumpang, lebih leluasa mengubah desain majalah dan pilihan bahasa selain Jepang, Inggris, dan Cina, serta kemudahan mengakses majalah tersebut bukan hanya ketika di pesawat, melainkan 24 jam sebelum keberangkatan, seperti ketika check-in, menunggu di lounge, dan bahkan ketika di rumah.
Lebih penting dari itu, meniadakan majalah di pesawat, yang notabene banyak disentuh penumpang, berarti menghilangkan satu kemungkinan tempat penularan virus Corona di pesawat. Tak lupa, meniadakan majalah cetak di pesawat, kabin akan menjadi lebih bersih.
“ANA selalu fokus untuk merangkul teknologi terbaru dan transisi ke format digital ini akan meningkatkan fleksibilitas bagi penumpang dan semakin mendukung komitmen kami terhadap keberlanjutan,” kata Hideki Kunugi, EVP customer experience ANA, kepada Simple Flying.
“Ini benar-benar menguntungkan bagi penumpang karena perpindahan ke digital memungkinkan kami meningkatkan pilihan media secara signifikan sambil meningkatkan kebersihan di ruang tunggu dan di dalam pesawat,” tambahnya.
Reputasi ANA terkait kebersihan di pesawat memang tidak perlu diragukan. Tahun 2019 lalu, maskapai beraliansi dengan Star Alliance ini keluar sebagai ‘peraih medali emas’ dalam kategori maskapai dengan kabin paling bersih di dunia.
Baca juga: Punya Budaya Kebersihan yang Kuat, ANA Sabet Predikat Maskapai dengan Kabin Terbersih
ANA berhasil mengalahkan 29 maskapai lain yang juga masuk sebagai kandidat di dalam kategori ini. Di sini, ANA patut berbangga hati karena mereka telah berhasil mengalahkan sejumlah nama-nama besar di sektor aviasi global, seperti Singapore Airlines, Qatar Airways, KLM, Garuda Indonesia, hingga raksasa aviasi asal Timur Tengah Emirates.
Pada survei yang dilakukan sejak tahun 2018 silam, Skytrax telah meminta kepada setiap penumpang pesawat untuk memberikan penilaian terhadap meja lipat di belakang bangku penumpang, karpet di dalam kabin, panel kabin, hingga toilet yang ada di dalam pesawat. Adapun survei yang dilakukan Skytrax ini sudah dilakukan secara online terhitung sejak Mei 2017 hingga Agustus 2018 kemarin.
IIMS Hybrid 2021 Antisipasi Disrupsi yang Terjadi Pada Industri di Masa Pandemi
Kisah Perjuangan Pramugari, Dulu Dorong Troli Koper, Sekarang Dorong Troli Tabung Gas
Ratusan Maskapai Bakal Hadirkan Games Favorit Tahun 80-90an di Layar IFE, Apa Itu?
In-flight entertainment (IFE) dinilai memegang peranan penting untuk menghibur penumpang di setiap penerbangan. Umumnya IFE menawarkan tiga hal, musik, film, dan games, selain juga berbagai informasi terkait penerbangan.
Baca juga: Ada “Investigator Ridge” di Layar IFE Etihad, Apakah Itu?
Terkait games, IFE saat ini umumnya menyediakan beberapa games andalan, seperti Solitaire, Bejeweled, dan Sudoku. Meski diandalkan maskapai, namun, belum tentu penumpang menyukainya.
Melihat peluang itu, Panasonic Avionics, salah satu penyedia layanan IFE di pesawat, menggandeng raksasa game ikonik Jepang BANDAI NAMCO Entertainment untuk menghadirkan game terbaik abad ke-20 ke layar IFE penumpang.
Games-games terbaik yang akan dihadirkan masih dalam proses pembahasan. Tetapi, dalam proposal penawaran BANDAI NAMCO Entertainment, dipastikan ada games ikonik tahun 80-90an, seperti Pac-Man dan Dig Dug.
Selain itu, Panasonic Avionics juga membocorkan bahwa games lainnya juga turut dimasukkan BANDAI ke dalam proposal, seperti Donkey Kong, Galaga, dan Legend of Zelda.
Managing Director BANDAI NAMCO Entertainment, Naoki Katashima, mengaku optimis bahwa games terbaik buatan mereka mampu menghibur penumpang saat tren perjalanan kembali seperti sediakala.
“Pandemi Covid-19 yang melanda dunia sangat mempengaruhi dan mengubah cara hidup kita. Saat dunia bersatu dalam mengatasi pandemi, BANDAI NAMCO Entertainment telah bermitra dengan Panasonic Avionics untuk menyediakan konten game kami yang diakui secara universal untuk dinikmati dalam penerbangan, dengan harapan akan datang masa dimana para traveler bebas untuk terbang kembali,” jelasnya.
Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Panasonic Avionics Corporation, Ken Sain, mengungkapkan di tengah pandemi Covid-19, industri games justru tumbuh dan jadi hiburan tersendiri bagi penikmatnya.
“Industri game adalah salah satu dari sedikit yang telah melihat pertumbuhan signifikan di tengah pandemi Covid-19. Hal ini menunjukkan nilai yang diberikan konsumen global pada game dan kemampuan unik mereka untuk membawa pemain dalam petualangan digital dan menyediakan koneksi ke komunitas yang berbeda,” katanya, seperti dikutip dari Simple Flying.
Baca juga: Cegah Corona, Panasonic Avionics Luncurkan In-Flight Entertainment Tanpa Sentuhan
Panasonic Avionics sendiri belum membeberkan maskapai mana saja yang akan menyediakan games favorit dan ikonik tahun 80-90an itu di layar IFE penumpang.
Hanya saja, saat ini, perusahaan tersebut tengah bermitra dengan 300an maskapai di seluruh dunia untuk solusi IFE pesawat, di antaranya Singapore Airlines, Turkish Airlines, Cathay Pacific, dan Delta Airlines. Lantas, apakah keempatnya akan menghadirkan games tersebut di layar IFE pesawat masing-masing? Menarik ditunggu.
Halau Rusa dan Hewan Liar Masuk ke Rel, JR East Pasang Shika Sonic
Parah, Pilot dan Pramugari Cathay Pacific Kerja 5 Pekan Tanpa Libur!
Pilot dan pramugari Cathay Pacific harus kerja keras. Betapa tidak, mulai 20 Februari 2021 lalu, mereka dihadapi dengan jadwal baru yaitu kerja selama lima pekan tanpa libur. Tidak hanya itu, sepulang bekerja, mereka tidak diperbolehkan kembali ke rumah masing-masing melainkan harus bermalam di Hotel Headland milik Cathay Pacific dan kembali bekerja esok hari.
Baca juga: Tingkatkan ‘Ketenangan’ pada Penumpang, Cathay Pacific Tawarkan Asuransi Gratis untuk Diagnosis Covid-19
Selama pandemi virus Corona, Hong Kong memang lama dikenal sebagai salah satu negara yang sangat ketat melakukan langkah-langkah pencegahan. Bahkan, setelah virus itu telah mewabah selama setahun lebih, Hong Kong masih belum akan mengendurkan upaya pencegahan, justru malah akan memperketat.
Mulai 20 Februari 2021, otoritas Hong Kong telah menerapkan kebijakan karantina mandiri selama 14 hari untuk awak pesawat, baik itu pramugari maupun pilot. Saat memasuki hari ke-15, mereka tetap akan mendapat pengawasan penuh petugas selama tujuh hari.
Kebijakan tersebut jauh berbeda dari kebijakan sebelumnya dimana awak pesawat hanya diwajibkan mengikuti tes PCR Covid-19 dan dibebaskan dari kewajiban karantina mandiri selama 14 hari usai melakoni penerbangan internasional.
Dengan diterapkannya kebijakan karantina mandiri baru, Cathay Pacific mau tak mau harus memutar otak mengatur agar jadwal penerbangan tak terganggu.
Dilansir onemileatatime.com, selama kebijakan karantina ini berlaku, pilot dan pramugari akan bekerja selama 21 hari berturut-turut. Setiap selesai bekerja, mereka diwajibkan untuk ‘mendekam’ di Headland Hotel milik perusahaan.
Setelahnya, mereka akan menjalani karantina mandiri selama 14 hari di hotel lain yang ditetapkan otoritas Hong Kong. Barulah setelah itu selesai, mereka akan diberi libur selama 14 hari, dimana tujuh hari pertama mereka akan diawasi secara penuh oleh petugas medis. Tak disebutkan dengan jelas bagaimana cara petugas medis itu memantau mereka.
Namun, bila melihat ke belakang, sejak April tahun lalu, otoritas Hong Kong telah membekali wisawatan dan warga yang menjalankan karantina mandiri dengan gelang elektronik canggih yang akan mendata kemana mereka pergi.
Meski ketat, tak semua awak pesawat wajib dikarantina sepulang dari luar negeri. Untuk rute-rute tertentu, mereka bisa langsung pulang ke hotel. Rute-rute tersebut ialah penerbangan ke dan dari Cina daratan, Taiwan, dan Makau, penerbangan dengan transit di Anchorage (yang merupakan pusat kargo besar untuk Cathay Pacific), serta direct turnaround flight (penerbangan pulang-pergi).
Lagi pula, Cathay Pacific juga tak memaksa pilot dan pramugari untuk ikut jadwal baru maskapai, terlebih bagi yang sudah berkeluarga.
Baca juga: IATA Usul Dunia Jangan Karantina Wisatawan! Ini Alasannya
Akan tetapi, bagi mereka yang secara sukarela bergabung dalam jadwal baru ini, akan ada tambahan gaji. Tak disebutkan dengan rinci berapa tambahannya. Tetapi, Cathay Pacific telah memperkirakan akan mengeluarkan uang sebanyak US$52 juta per bulan selama schedule baru ini berjalan.
Pandemi virus Corona memang memukul traffic penumpang maskapai nasional Hong Kong itu. Pada Januari lalu, maskapai ini hanya mengangkut 30.410 penumpang atau rata-rata di bawah 1.000 penumpang per hari. Angka tersebut adalah rekor break even load factor terendah dalam sejarah perusahaan yang hanya mencapai 13,3 persen.
