Dear Bunda, Singapore Airlines Jual Seragam Pramugari Buat Anak-anak, Loh! Segini Harganya

Sebagai wujud pengenalan berbagai profesi di dunia kerja, biasanya ketika di taman kanak-kanak ataupun di sekolah dasar, anak-anak akan diminta mengenakan pakaian profesi idaman masing-masing. Biasanya, mereka mengenakan profesi yang akrab dengan kehidupannya, seperti dokter, polisi, tentara, pilot, sampai pramugari.

Baca juga: 10 Seragam Pramugari Paling Ikonik di Dunia

Di antara kelima itu, profesi pramugari mungkin agak sulit untuk dicarikan seragam yang pas buat si kecil. Bilapun ada, desainnya sedikit kabur dan tak menggambarkan profesi pramugari secara utuh. Namun, kini, bunda tak perlu khawatir lagi.

Dilansir asiaone.com, Singapore Airlines dikabarkan mulai menjual seragam kebesaran pramugari mereka untuk anak-anak. Sebagaimana seragam aslinya, seragam pramugari yang dijual untuk anak-anak memiliki dua potong, atasan dan bawahan, dengan motif warna-warni biru, coklat, merah dan hijau, menyerupai batik Indonesia.

Atasan atau kebaya pramugari ini hadir dengan pilihan ukuran yang cukup beragam, mulai dari XS, S, M, L, dan XL. Sedangkan untuk roknya bisa dibilang all size, dilengkapi dengan karet di bagian pinggang. Satu set seragam pramugari Singappore Airlines untuk anak-anak ini dijual seharga US$75 atau sekitar Rp1 juta lebih sedikit (kurs 14.010) di KrisShop.

Bagi royal customer Singapore Airlines, mereka tak perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Cukup tukarkan 9.375 miles KrisFlyer untuk mendapatkannya.

Sebetulnya, seragam pramugari Singapore Airlines ada empat, dimana warna biru dipakai oleh pramugari junior, hijau untuk pramugari senior, merah untuk chief pramugari, dan ungu untuk supervisor pramugari.

Seragam pramugari Singapore Airlines memang cukup ikonik. Sebab, itu tidak pernah berubah lebih dari 40 tahun. Banyak pengamat busana menilai, seragam ini menjadi sangat ikonik dengan tampilan tradisional yakni batik untuk atasan dan bawahannya.

Bawahan atau rok pramugari berbentuk kain sarung dengan belahan depan tinggi dan seragam ini sudah mendunia. Seragam milik pramugari Airlines dirancang oleh desainer Perancis Pierre Balmain tahun 1968 silam.

Baca juga: Viral! Cerita Pramugari Tangani Penumpang Meninggal di Pesawat, Bikin Ngeri

Seragam ikonik juga diikuti oleh kompetensi para pramugarinya melalui serangkaian seleksi ekstra ketat dengan standar tinggi. Beberapa standar tinggi yang diterapkan oleh maskapai Singapore Airlines terhadap para parmaugari ini mencakup keseluruhan aspek, mulai dari penampilan hingga keterampilan mereka dalam melayani penumpang.

Khusus untuk penampilan, para awak kabin ini harus memperhatikan berat badan hingga gaya rambut mereka agar bisa fit-in ke dalam seragam mereka yang dibanderol dengan harga £10.000 (Rp183,3 juta).

Apa Jadinya Kalau Semua Mesin Mati Saat Pesawat di Udara?

Sertifikasi Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS) memungkinkan pesawat twin jet tetap terbang meski hanya menggunakan satu mesin. Tetapi, bagaimana ketika seluruh mesin mati, apakah pesawat, baik twinjet, trijet, ataupun quadjet, apakah pesawat langsung terjun bebas?

Baca juga: Landing atau Divert? Inilah Delapan Cara Pilot Terbang dengan Aman

Dilansir Simple Flying, ketika seluruh mesin pesawat mati, pilot biasanya akan meminta co-pilot untuk memulihkan Auxiliary Power Unit (APU). APU berfungsi sebagai sumber energi pesawat seperti listrik dan pendingin ruangan. Dalam kondisi tertentu seperti saat seluruh mesin pesawat mati, APU juga berfungsi sebagai supporting engine untuk menghidupkan atau start ulang mesin utama.

Andaipun tak berhasil, pilot akan menginfokan keadaan darurat atau mayday ke ATC. Bila posisi pesawat berada di sekitar bandara atau masih sanggup mencapai bandara, maka ATC akan memberikan clearance ke pesawat untuk mendarat di bandara tersebut sekaligus membersihkan jalur pesawat itu sendiri. Bila tidak, tentu pilot akan mencari tempat pendaratan yang menurutnya paling aman.

Dalam kondisi seluruh mesin mati, bisa dibilang pesawat meluncur layaknya mobil menuruni sebuah turunan dalam keadaan mati mesin dan tanpa rem tangan. Hanya saja, sejauh mana pesawat meluncur bergantung banyak faktor.

Setiap pesawat tentu memiliki rasio terbang yang berbeda, artinya mereka akan kehilangan ketinggiannya dalam tingkat yang berbeda-beda. Hal ini mempengaruhi seberapa jauh pesawat bisa terbang tanpa dorongan mesin.

Contohnya, jika sebuah pesawat memiliki rasio angkat dan tarikan 10:1, maka untuk setiap 10 mil (16 kilometer) pesawat kehilangan ketinggian satu mil (1,6 kilometer).

Pesawat biasanya terbang di ketinggian 36 ribu kaki atau sekitar 10 kilometer, jadi pesawat yang kehilangan kedua mesinnya masih bisa terbang sejauh sekitar 112 kilometer sebelum sampai ke permukaan tanah.


Kendati begitu, insiden seluruh mesin pesawat mati sangat jarang terjadi; kecuali tertentu saja, seperti kehabisan bahan bakar, abu vulkanik, dan bird strike. Di antara ketiga itu, abu vulkanik pernah menyebabkan insiden seluruh mesin pesawat mati di Indonesia.

Disebutkan, setelah “tertidur” selama kurang lebih 63 tahun, Gunung di Tasikmalaya, Jawa Barat, itu mulai meletus kembali pada 5 Mei 1982. Letusan berupa dentuman, pijaran api, dan kilatan halilintar. Berlangsung selama 9 bulan dan berakhir pada 8 Januari 1983.

Kala itu, pilot Eric Moody yang tengah membawa 263 penumpang tidak mengetahui bahwa Gunung Galunggung baru saja meletus.

Laporan CNN International, Eric sontak kaget ketika mengetahui bahwa empat mesin pesawat yang tengah ia kendalikan tersebut tidak berfungsi, tepatnya ketika pesawat berada di atas Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Ketika mengetahui insiden tersebut, pesawat tengah berada di ketinggian 36.000 kaki atau setara dengan 11.000 meter dan memutuskan untuk mendarat di Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

Baca juga: Apa Saja yang Bisa Bikin Mesin Pesawat Mati? Simak Jawabannya di Sini!

Untungnya, ketika pesawat British Airways flight 9 dengan nomor registrasi G-BDXH tersebut menyentuh ketinggian 13.000 kaki, tiga dari empat mesin kembali menyala, sehingga pesawat tersebut bisa melakukan pendaratan darurat di Jakarta, karena Eric mengaku, kota terdekat dari posisi pesawat adalah Jakarta.

Insiden seluruh mesin pesawat mati yang paling terkenal tentu “Miracle on the Hudson” pada Januari 2009. Kala itu, Kapten Chesley “Sully” Sullenberger mendaratkan Airbus A320 secara darurat di Sungai Hudson, New York, setelah kedua mesinnya mati akibat bird strike.

Meledak dan Terjun Bebas dari Ketinggian 300 Meter, Kecelakaan Balon Udara di Luxor Menjadi yang Paling Mematikan

Balon udara saat ini lebih banyak digunakan untuk kebutuhan wisata di beberapa negara seperti Turki dan Mesir. Namun sebuah kejadian naas terjadi di Mesir pada 26 Februari 2013 yang lalu dan menewaskan 19 orang tewas. Insiden ini terjadi di kota Luxor, Mesir yang disebabkan meledaknya bahan bakar gas di dalam balon. Baca juga: Ketika Rekor Balon Udara Keliling Dunia Harus Pupus Gegara Cina Tak Izinkan Melintasi Negaranya Sehingga balon udara terjun bebas dari ketinggian 300 meter. Saat itu balon udara tersebut tengah mengangkut 21 orang di mana 18 orang meninggal di tempat kejadian dan satu lainnya di rumah sakit sejam setelah insiden. Dua orang selamat lainnya menderita luka dan dilarikan ke rumah sakit untuk menerima perawatan di mana salah satu korban selamat adalah pilot yang mengemudikan balon udara tersebut. KabarPenumpang.com menghimpun berbagai laman sumber, korban tewas ketika ledakan merupakan pelancong asal Hong Kong, Jepang, Inggris, Perancis, Hungaria dan Mesir. Mereka tengah menikmati pemandangan Sungai Nil, kuil-kuil kuno Karnak dan Hatshepsut di udara. Bisa dikatakan, kecelakaan balon udara delapan tahun lalu menjadi yang paling mematikan dalam sejarah. Balon udara ini milik operator Sky Cruise, satu dari delapan operator balon udara terdaftar untuk kawasan wisata kota kuno Luxor. Kecelakaan balon udara terakhir terjadi juga di Luxor pada 2009, yang mengakibatkan 16 wisatawan asing terluka, setelah balon udara yang mereka tumpangi menghantam menara transmisi telepon seluler. Insiden ini membuat pihak berwenang di Luxor meminta semua operator meningkatkan standar keselamatan. Setelah insiden itu juga dibatasi hanya delapan balon yang diperbolehkan terbang bersamaan. Bahkan pilot yang mengemudikan balon udara pun dilatih dan penumpangnya maksimal hanya 32 orang. Kecelakaan balon udara juga terjadi di tempat lain, pada Januari 2012, balon udara terbakar di Wellington, Selandia Baru, 11 turis tewas. Pada Maret 2012, pilot balon udara tewas di Fitzgerald, Georgia, AS setelah balon udaranya jatuh dari ketinggian 400 meter akibat cuaca buruk. Tujuh Penumpangnya adalah para skydiver yang sudah membawa parasut dan mereka semua selamat karena melompat. Selain itu pada 1989, 13 orang tewas ketika dua balon udara bertabrakan di Australia. Baca juga: Zeppelin, Riwayat Balon Udara dengan Bahan Bakar Hidrogen Untuk diketahui, balon terbang atau sering disebut balon udara merupakan sejenis pesawat terbang, sebuah balon yang dipompa dengan udara. Balon terbang dapat mengambang di udara karena daya apungnya. Awalnya, udara yang dipompakan itu adalah hidrogen. Karena risiko ledakan, sekarang gas mulia helium digunakan sebagai alat penggerak.

Jalankan Program Langit Biru, Damri Hadirkan Bagasi untuk Penumpang dengan Sepeda

Hidup sehat dengan menggendarai sepeda di masa pandemi semakin banyak dilakukan oleh masyarakat. Untuk memudahkan hal ini Perum Damri kemudian menyediakan layanan bus sehat bagi penumpangnya yang membawa sepeda. Damri menyediakan layanan tersebut selain memperkuat jaringan transportasi juga sejalan dengan program Langit Biru. Baca juga: Pandemi Belum berakhir, Damri Jalin Sinergi dengan ASDP dan Dukung Angkutan Haji/Umrah di Arab Saudi Di mana program ini adalah milik pemerintah Indonesia dengan tujuan mengendalikan dan mencegah penyebaran udara serta mewujudkan perilaku sadar lingkungan baik dari sumber tidak bergerak seperti industri maupun sumber bergerak yakni kendaraan bermotor. “Bus sehat yang disediakan Damri memberi pelayanan terbaik yang tidak hanya aman, namun juga nyaman. Untuk area Kota Bandung, Damri menyediakan ruang khusus di kabin bus yang diperuntukkan bagi pelanggan yang hendak menuju kantor menggunakan sepeda maupun berolahraga,” ujar Kepala Divisi Sekretariat Perusahaan Damri Sidik Pramono yang dikutip KabarPenumpang.com dari bisnis.com. Ada beberapa rute layanan yang dilewati Damri bagi penumpang yang membawa sepeda mereka di Bandung yakni dari Leuwi Panjang ke Ledeng PP dengan tarif Rp5.000, Cicaheum-Cibeureum PP dengan tarif sebesar Rp4.000, Jatinangor Elang PP dengan tarif sebesar Rp4.000, Leuwi Panjang-Cicaheum PP dengan tarif sebesar Rp5.000. Kemudian, Kebon Kalapa-Cibiru PP dengan tarif sebesar Rp6.000, Leuwi Panjang Dipatiukur PP dengan tarif sebesar Rp5.000. Rute Jatinangor-Elang via Tol Moh.Toha PP dengan tarif sebesar Rp10 ribu, Alun-alun Kota Bandung-Ciburuy PP dengan tarif sebesar Rp10 ribu, Kebon Kelapa-Tanjung Sari PP dengan tarif sebesar Rp10 ribu. Kota Bandung Parahyangan-Alun-alun kota Bandung PP dengan tarif sebesar Rp10 ribu, Jatinangor-Dipatiukur, via Tol Moh. Toha PP dengan tarif sebesar Rp10 ribu. “Layanan tersebut bisa dinikmati mulai pukul 06.00 WIB hingga 17.00 WIB,” kata Sidik. Sedangkan layanan jenis ini untuk Jabodetabek Residence Connexion (JRC), Damri menyediakan bagasi khusus untuk pelanggan di daerah Jabodetabek dengan rute layanan yakni Botani, Bogor–Senayan dengan waktu keberangkatan dari Botani pukul 05.30 WIB, sedangkan dari Senayan pukul 17.00 WIB. Tarif yang dikenakan sebesar Rp50 ribu. Layanan rute Kemang Pratama–Stasiun Gambir dengan waktu keberangkatan dari Kemang Pratama jam 05.30 WIB, sedangkan dari Stasiun Gambir pukul 17.00 WIB. Tarif yang dikenakan sebesar Rp15 ribu serta Grand Wisata, Bekasi–Epicentrum Walk Kuningan dengan waktu keberangkatan dari Grand Wisata jam 05.30 WIB, sedangkan dari Epicentrum jam 17.00 WIB. Tarif yang dikenakan sebesar Rp25 ribu. Baca juga: Tak Lagi Repot ke Loket, Beli Tiket Bus Damri Bisa Pakai Damri Apps Seluruh operasional Damri dijalankan sesuai dengan Surat Edaran Kementerian Perhubungan Nomor 17 Tahun 2021 tanggal 9 Februari 2021 tentang Perpanjangan Perlakuan Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang Dengan Transportasi Darat Pada Masa Pandemi Covid-19. Beberapa ketentuan tersebut di antaranya adalah memperhatikan secara ketat pelanggan dan petugas Damri untuk selalu menerapkan 3 M, yaitu memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan, serta mencuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer. Pelanggan wajib menunjukkan surat keterangan hasil negatif RT-PCR atau negatif Rapid Test Antigen yang diambil dalam kurun waktu maksimal 3×24 jam sebelum keberangkatan.

Ngeri, UFO Ngebut 650 Kilometer Per Jam Nyaris Tabrak Pesawat American Airlines

Unidentified flying object (UFO) kembali muncul di Amerika Serikat (AS). Bukan hanya sekedar muncul, UFO yang digambarkan sebagai benda silinder menyerupai rudal itu juga bergerak sangat cepat mencapai 406 mil atau 650 km per jam dan nyaris menabrak pesawat Airbus A320 American Airlines.

Baca juga: Ngeri! Pesawat Singapore Airlines Nyaris Tabrakan dengan UFO

Kemunculan UFO tersebut memang agak berbeda dengan temuan sebelum-sebelumnya, dimana bukti kemunculannya hanya berupa rekaman audio, bukan video. Namun, tetap saja ini menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Dilansir thesun.co.uk, UFO disebut muncul di ketinggian 36.000 kaki di atas langit New Mexico, AS. Saat itu, pesawat Airbus A320 American Airlines dengan nomor penerbangan 2292 tengah melintas tak jauh dari lokasi tersebut saat menempuh perjalanan dari Cincinnati ke Phoenix, AS, pada tanggal 21 Februari lalu.

Dari rekaman suara di kokpit yang diintersep oleh ahli radio interceptor, Steve Douglass, pilot tampak seperti melihat benda misterius bergerak cepat di atas pesawat dan memberitahukan hal itu ke petugas ATC.

“Aku benci mengatakan ini, tapi itu tampak seperti benda silinder panjang yang hampir tampak seperti sejenis rudal jelajah bergerak sangat cepat tepat di atas kita,” ujar pilot.

Douglass mengklaim, saat itu, tidak ada pesawat militer manapun yang melintas di daerah tersebut. Pun demikian, tidak ada laporan terkait uji coba rudal dari otoritas setempat. Bila pun ada, pasti Notice To Airmen atau NOTAM sudah dikeluarkan agar tak ada pesawat komersial yang melintas.

Hanya saja, insiden kemunculan UFO kali ini sangat dekat dengan jangkauan White Sands Missile, sebuah area pengujian militer yang dibangun pada tahun 1945. Meski demikian, sekali lagi, saat itu tak ada informasi terkiat uji coba rudal atau aktivitas militer lainnya. Beruntung, UFO tersebut tidak sampai menabrak pesawat hingga berhasil mendarat dengan selamat di Phoenix, AS.

Juru bicara American Airlines sendiri tak ambil pusing. Ia mengaku bahwa pihaknya tidak memiliki rekamanan seperti itu pada penerbangan tersebut.

UFO memang kerap muncul di AS. Pada September lalu, sebuah objek asing berhasil terekam jelas melesat dengan cepat di siang bolong. Objek asing berwarna biru metalik berbentuk piring terbang itu direkam oleh seorang penumpang pesawat udara di atas langit Philadelphia, Amerika Serikat (AS). Rekaman tersebut pun viral usai diunggah di Channel YouTube The Hidden Underbelly 2.0 pada awal bulan ini.

Pada tahun 2015, DailyMail pernah mewartakan peristiwa penumpang pesawat melihat UFO yang juga sempat menggemparkan publik. Saat itu, seorang penumpang maskapai American Airlines dari San Jose, California menuju Houston, Texas, dilaporkan tak sengaja memotret sebuah foto.

Baca juga: Ada Jejak UFO di Bali, Sempat Bikin Penerbangan Dilarang Lewat Gegara Takut Turbulensi

Kala itu, ia mengaku sedang memotret pemandangan saat sedang bosan. Namun ia tak sadar bahwa ternyata pesawat yang ditumpanginya tersebut berada di sebuah wilayah perbatasan dekat pangkalan militer rahasia, Area 51.

Yang paling menggemparkan tentu April lalu, dimana Pentagon (kantor utama angkatan bersenjata Amerika Serikat) merilis tiga video rahasia Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) yang diduga banyak pihak merupakan penampakan pesawat alien (UFO/unidentified flying object). Video yang direkam melalui kamera infrared tersebut terlihat menampilkan UFO yang terbang secara cepat. Angkatan Laut sebelumnya mengakui kebenaran video itu pada September 2019.

Hindari Mabuk, Volvo Kembangkan Teknologi “Soundtrack” Agar Penumpang Mobil Otonom Nyaman

Volvo baru-baru ini membuat sebuah proyek bersama mitra mereka dan menyimpulkan bahwa kendaraan otonom mungkin membutuhkan soundtrack untuk menenangkan penumpang dalam perjalanannya. Di mana mereka membuat penumpang membangun kepercayaan pada sistem otonom serta cara menggunakan suara untuk menghindari mabuk perjalanan. Baca juga: Volvo Siap Rilis Mobil Otonom Super Mewah Tanpa Bangku Baris Depan Dilansir KabarPenumpang.com dari slashgear.com (10/2/2021), dari proyek dua tahun ini menghasilkan resep untuk jiwa sonik yang dapat membuat transportasi di masa depan berbeda dari yang sekarang. Dengan tambahan yang lebih baru adalah peredaman kebisingan aktif yang diandalkan beberapa kendaraan untuk membantu mengusir kebisingan jalan dan angin. Yang paling kontroversial adalah peningkatan kebisingan yang terkadang disalurkan ke kabin untuk menekankan suara mesin, dengan asumsi bahwa karena itu kami akan menganggap mobil itu lebih sporty. Kendaraan yang sepenuhnya otonom (AV), bagaimanapun, memiliki tingkat interaksi yang berbeda dengan penumpangnya. Sebagian besar upaya teknis yang dilakukan pada kendaraan otonom adalah tentang bagaimana mereka memandang jalan dan pengguna jalan lainnya, menavigasi daerah perkotaan dan jalan raya dengan aman dan efisien. Pada tahun 2018 Volvo menghadirkan 360c, visi mengemudi otonom yang ditawarkannya sebagai alternatif penerbangan lintas negara. Daripada naik pesawat, Anda akan memanggil pod 360c yang dapat mengemudi sendiri, masuk ke kursi santai atau tempat tidurnya yang dapat diubah sementara AV mengantar Anda semalaman ke tujuan. Proyek terbaru Volvo bekerja sama dengan lembaga penelitian RISE dan spesialis produksi audio Pole Position Production mengeksplorasi suara dalam AV. SIIC, atau Sound Interaction in Intelligent Cars, berfokus pada bagaimana audio dapat digunakan, baik untuk membangun kepercayaan penumpang dan membantu menghindari mabuk saat  berkendara. “Ide utama di balik kerangka SIIC adalah serangkaian tipe suara atau lapisan suara. Kami menggunakan istilah lapisan alih-alih jenis suara karena suara yang kami rekomendasikan untuk digunakan dalam mobil tanpa pengemudi bukanlah jenis lonceng suara tradisional yang Anda temukan di ponsel cerdas Anda, tetapi harus lebih halus dan lebih kontinu. Selain itu, beberapa lapisan suara dapat aktif pada saat yang sama karena itu dinamai lapisan nama,” ujar para peneliti. Dr. Pontus Larsson, Desainer Suara Interaktif di Volvo Cars mengatakan, Di mobil saat ini, ini lebih seperti suara reaktif, peringatan tabrakan. “Pendekatan kami menjadi lebih proaktif, menginformasikan sebelumnya dengan cara yang lebih halus, sehingga Anda tidak merasa bahwa saya perlu melakukan sesuatu,” kata dia. SIIC membayangkan serangkaian suara yang dapat secara sadar atau tidak membentuk pengalaman penumpang tentang kendaraan otonom. Suara emosional, misalnya, mungkin yang diputar saat Anda memasuki AV atau menyalakannya, dirancang untuk menunjukkan bahwa ia mengenali dan memahami Anda. Baca juga: Kursi Belakang Volvo S60 Bisa Muat Kursi Anak dan Bayi yang Diletakkan Jenis penumpang yang berbeda mungkin memiliki tingkat kebutuhan yang berbeda dalam hal informasi. Volvo membawa kendaraan uji ke lintasan untuk melihat apakah itu benar, menemukan bahwa bahkan dengan satu speaker dan suara dasar, hal itu sebenarnya dapat mengurangi laporan mabuk kendaraan. Kemudian, mereka menambahkannya dengan memfaktorkan secara bergiliran.

Mengapa Banyak Merger dan Akuisisi Maskapai di AS dalam 20 Tahun Terakhir? Ini Jawabannya

Merger dan akuisisi tentu lumrah dalam bisnis, tak terkecuali bisnis penerbangan. Merger dan akuisisi di dunia penerbangan tercatat pertama kali terjadi sejak tahun 1928, dimana dua maskapai AS, Pan Am merger dengan Aviation Corporation of the Americas atau biasa juga disebut American International Airways.

Baca juga: Sejarah Merger Boeing dengan McDonnell Douglas, Sempat Ditentang Eropa sampai Presiden AS Turun Tangan

Maskapai-maskapai AS memang terkenal akrab dengan merger dan akuisisi. Bahkan, merger dan akuisisi maskapai terbanyak juga datang dari AS, yaitu Delta Airlines, dengan total 15 kali. Sampai saat ini, merger dan akuisisi juga seolah masih melekat.

Tengok saja sejak tahun 2000 silam, setidaknya sudah ada tujuh kali merger antar maskapai AS. Tahun 2001, maskapai legendaris AS, Trans World Airlines, diakuisisi oleh American Airlines. 12 tahun kemudian, American Airlines lanjut mengakuisisi US Airways.

Pada tahun 2008, Delta Airlines mengakuisisi Northwest Airlines di bawah perjanjian multi-miliar dolar. Lewat perjanjian ini, logo dan brand Northwest Airlines menghilang sementara brand Delta Airlines tetap eksis. Pada tahun yang sama, Southwest Airlines tercatat mengakuisisi maskapai yang berbasis di Indianapolis, ATA Airlines.

Tak ingin tertinggal dari tiga kompetitor utama, United Airlines kemudian merger dengan Continental Airlines dua tahun berselang. Ini menjadi salah satu merger yang cukup populer di AS.

Pada tahun 2016, budaya merger dan akuisisi maskapai AS berlanjut ke Alaska Airlines, dimana maskapai tersebut mengakuisisi Virgin America. Di tahun yang sama, Frontier Airlines merger dengan Midwest Airlines. Ini menjadi merger dan akuisisi terakhir selama 20 tahun dengan total tujuh aksi korporasi. Pertanyaannya, mengapa bisa sebanyak itu?

Dilansir Simple Flying, ada begitu banyak alasan di balik semua ini. Tetapi, semuanya bermuara pada kekuatan maskapai layaknya hukum rimba, dimana maskapai kuat mencaplok maskapai lemah. Bagi maskapai lemah, terus bertahan dan bersaing di industri yang cukup ketat dan cepat berubah tentu akan sangat merugikan bila tidak didukung dana besar.

Sebaliknya, bagi maskapai besar, membangun kekuatan tambahan dari jaringan, infrastruktur, dan pasar penerbangan yang sudah ada akan lebih efisien ketimbang membangun entitas baru dari awal ataupun membangun jaringan baru secara mandiri tanpa bantuan dari maskapai lain sekalipun bisnisnya lebih kecil.

Dengan begitu, tak mengherankan bila pada akhir tahun 2020 lalu, maskapai American Airlines tercatat mengoperasikan sebanyak 855 pesawat, menjadikannya sebagai maskapai terbesar di dunia dari segi armada.

Demikian juga dengan United Airlines dan Delta Airlines yang masing-masing mengoperasikan 819 dan 775 pesawat, menjadikan keduanya sebagai maskapai kedua dan ketiga terbesar di dunia dari segi armada. Di posisi keempat dalam daftar itu juga bertengger maskapai AS lainnya, Southwest Airlines dengan jumlah armada sebanyak 753.

Dari segi jumlah penumpang per tahun, keempat maskapai AS itu juga menempati urutan teratas daftar maskapai terbesar di dunia, dimana posisi puncak ditempati oleh American Airlines dan diikuti oleh Delta Airlines, Southwest Airlines, dan United Airlines.

Baca juga: Hari Ini, 37 Tahun Lalu, Pertama Kali Dalam Sejarah Dua Maskapai Barter Pesawat

Dari segi pendapatan juga demikian, tiga maskapai AS masih memuncaki empat besar, dimana Delta Airlines di posisi pertama serta American Airlines dan United Airlines di posisi kedua dan keempat. Terselip di antara keduanya, ada maskapai asal Jerman, Lufthansa Group.

Dengan terbukti berhasilnya program merger dan akuisisi oleh maskapai AS, akankah aksi korporasi itu terus terjadi di AS sampai tahun-tahun mendatang? Menarik ditunggu.

Ikut IIMS Hybrid 2021, Mazda Hadirkan Produk Baru

Di masa pandemi hampir semua pameran dan berbagai hal dilakukam secara online ataupun virtual. Salah satunya adalah Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) 2021. Nah Bagaimana kabar IIMS 2021 sejak pameran dimulai beberapa hari lalu? Ternyata banyak merek mobil dan motor yang ikut ambil bagian memberikan berbagai promo. Baca juga: IIMS Hybrid 2021, Agen Pemegang Merek Otomotif Jualan Secara Virtual Para Agen Pemegang Merek juga menghadirkan kendaraan atau perlengkapan otomotif terbaru mereka di ajang pameran IIMS virtual. Salah satu yang ikut dalam pameran virtual IIMS 2021 adalah Mazda. Dikutip KabarPenumpang.com dari kompas.com (24/2/2021), Mazda mengatakan akan meluncurkan produk baru mereka pada IIMS kali ini. Hal tersebut langsung dikatakan oleh Head of Department Public Relations and Media Communications PT Eurokars Motor Indonesia Fedy Dwi Parileksono. Dia mengatakan pada 25 Februari, Mazda akan melakukan penyegaran pada salah satu produk sedannya. Selain itu, di bulan Maret juga akan ada line up produk baru. Sayangnya, Fedy tidak mengatakan produk apa yang akan diluncurkan bulan depan itu. “Untuk produknya apa? Ditunggu saja,” ucap Fedy. Hingga saat ini mobil pabrikan Jepang tersebut masih mengandalkan series CX sebagai tonggak penjualan mereka. Di mana series ini ada CX-3, CX-5, CX-8 dan CX-9. “Kita masih mengandalkan CX series sebagai backbone, yakni CX-3, CX-5, CX-8, CX-9, itu adalah line up kita. Dan yang paling terbaru itu ada CX-30, di mana sudah mengadopsi teknologi terbaru seven G dari Mazda,” kata Fedy. Baca juga: IIMS Hybrid 2021 Resmi Dibuka, Gairahkan Kembali Dunia Otomotif Nasional Dari kabar yang beredar, Mazda akan menghadirkan series CX-3 terbaru yang akan mengusung jantung pacu baru. Untuk diketahui, IIMS 2021 melakukan kerja sama dengan Shopee dan akan berlangsung hingga 28 Februari mendatang.

Angkasa Pura I Dukung Rencana Penerapan GeNose di Bandara

PT Kereta Api Indonesia (KAI) sukses menerapkan penggunaan GeNose sebagai alat pendeteksi Covid-19 bagi penumpang kereta. Ini kemudian membuka jalan pada moda transportasi lainnya untuk menjadikan GeNose sebagai pilihan lain alat pendeteksi Covid-19 agar memudahkan penumpang ketika bepergian. Baca juga: GeNose, Alat Cek Covid-19 Buatan UGM Siap Diproduksi Massal, Termasuk Akan Digunakan PT KAI Salah satunya adalah di bandara, sehingga penumpang pesawat bisa melakukan tes yang lebih murah dibandingkan harus mengeluarkan uang yang cukup banyak untuk PCR Swab atau Rapid Antigen. Tak hanya itu, kehadiran GeNose sepertinya lebih tenang bagi penumpang karena hidung ataupun tenggorokan mereka tidak perlu di colok untuk mendapat hasil negatif atau positif Covid-19. Bahkan PT Angkasa Pura I (AP I) menyambut baik rencana penggunaan GeNose tersebut pada 1 April 2021 mendatang. Dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, AP I mengatakan, kehadiran GeNose menumbuhkan optimisme di sektor penerbangan di mana dengan adanya layanan tes Covid-19 dengan harga terjangkai berpotensi meningkatkan trafik penumpang pesawat. Saat ini, Angkasa Pura I tengah melakukan persiapan uji coba penggunaan GeNose C-19 sesuai Surat Direktur Keamanan Penerbangan Direktorat Jenderal Perhubungan Udara nomor AU.201/4/12/DJPU.DKP-2021 perihal persiapan dan percobaan penggunaan peralatan GeNose C-19. Pada tahap uji coba ini Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo akan dijadikan bandara percobaan pelaksanaan uji coba penggunaan GeNose C-19. “Angkasa Pura I sangat menyambut baik rencana penggunaan alat tes Covid-19 GeNose C-19 di bandara pada 1 April mendatang. Hal ini merupakan sentimen positif bagi sektor aviasi di mana layanan tes Covid-19 dengan harga terjangkau berpotensi meningkatkan trafik penumpang pesawat udara,” ujar Direktur Utama AP I Faik Fahmi. Pada fase persiapan ini, Angkasa Pura I akan berkoordinasi dengan pihak penyedia alat GeNose C-19 untuk meyediakan 40 alat GeNose C-19, menyiapkan area lokasi layanan GeNose C-19 di YIA, menyiapkan prosedur alur pemeriksaan Covid-19 menggunakan GeNose C-19, dan kemudian melakukan simulasi pemeriksaan Covid-19 menggunakan  GeNose C-19 pada minggu ketiga Maret 2021. Pada tahap awal, layanan tes Covid-19 menggunakan GeNose C-19 akan diimplementasikan pada YIA dan secara bertahap akan diterapkan di seluruh bandara Angkasa Pura I. Layanan GeNose C-19 di bandara Angkasa Pura I dikhususkan bagi masyarakat yang sudah memiliki tiket penerbangan. Untuk harga layanan GeNose C-19 di bandara Angkasa Pura I akan diinformasikan kemudian menjelang penerapan GeNose C-19 di bandara pada 1 April 2021 mendatang. Baca juga: Biar Nggak Bingung, Ini Bedanya Rapid Tes Antibodi, Rapid Tes Antigen dan Swab PCR “Dengan adanya layanan GeNose C-19 nanti  di bandara, akan menambah pilihan layanan tes Covid-19 selain swab antigen dan PCR. Hal ini akan semakin memudahkan pengguna jasa bandara yang ingin melakukan perjalanan udara,” tambah Faik Fahmi.

Sukhoi Modifikasi SJ100 Jadi Jet Pribadi, Gegara Tak Laku?

Sukhoi dikabarkan akan mulai menggarap pelanggan VIP dan korporat. Pabrikan asal Rusia itu berencana masuk ke pasar jet pribadi melalui pesawat Superjet 100 atau SJ100 yang dimodifikasi. Langkah ini digadang imbas dari tidak lakunya pesawat yang terbang perdana pada 19 Mei 2008 di pasar pesawat penumpang.

Baca juga: Hari Ini! 7 Tahun Lalu Sukhoi SJ100 Jatuh di Gunung Salak

Dilansir Simple Flying, modifikasi pesawat yang cukup familiar di Indonesia lantaran pernah terlibat kecelakaan fatal akibat menabrak lereng Gunung Salak, Kabupaten Bogor, pada 9 Mei 2012 silam tersebut, akan mencakup beberapa hal.

Di sisi sayap, Sukhoi akan menambahkan wingtip berupa sharklets. Dari segi jangkauan, versi VIP dari SSJ100 ini akan lebih jauh dari kemampuan saat ini yang hanya mencapai 4.500 km. Selain itu, tangki bahan bakar juga akan ditingkatkan, ditambah kapasitas penumpang yang lebih sedikit.

Meskipun belum ada keterangan harga yang pasti untuk satu unit SSJ-VIP, tetapi para pejabat Rusia memastikan bahwa harganya akan lebih terjangkau dari pesawat-pesawat kompetitor. Namun, banyak spekulasi bahwa, harga Sukhoi SJ100 versi VIP mungkin akan sama atau lebih rendah sedikit dari harga Sukhoi SJ100 versi standar, yaitu US$50 juta.

Harga segitu sebetulnya bisa dibilang mahal bila dibanding jet pribadi lainnya, seperti Embraer Praetor 500 atau Legacy 500, yang hanya dibanderol sebesar US$ 16-18 juta. Sekalipun kapasitas penumpang jauh lebih sedikit, tetapi, jangkauannya mencapai 6.000 km. Tetapi, bila disandingkan dengan jet pribadi Airbus A220ACJ, tentu Sukhoi SJ100 versi VIP masih lebih murah.

Menteri Perdagangan dan Industri Rusia, Denis Manturov, mengungkapkan, SSJ-VIP saat ini sudah dilirik oleh perusahaan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Namun, pembicaraan lebih jauh baru dilaksanakan beberapa hari mendatang.

Modifikasi Sukhoi SJ100 menjadi SSJ-VIP tentu mengejutkan banyak pihak. Sebab, pesawat penumpang produksi pertama yang diproduksi di Rusia sejak runtuhnya Uni Soviet itu sudah kadung dikenal sebagai pesawat regional. Banyak pihak menduga bahwa Sukhoi terpaksa memasuki pasar bisnis jet pribadi lantaran pasar jet penumpang melempem. Tahun lalu, Sukhoi bahkan tak mendapat satu pun pesanan pesawat SJ100.

Sebetulnya, Sukhoi Superjet 100 memiliki pesanan jangka panjang dari maskapai penerbangan nasional dan terbesar di Rusia, Aeroflot. Maskapai itu diketahui telah menandatangani kontrak kerjasama pada tahun 2018 lalu untuk menyewa sekitar 100 Sukhoi Superjet 100 antara tahun 2019-2026.

Selain itu, maskapai yang didirikan pada tanggal 9 Februari 1923 atau sejak era Uni Soviet, itu seharusnya akan mendapat tambahan 17 pesawat Sukhoi Superjet 100 tahun ini, melengkapi barisan armada Sukhoi Superjet 100 yang sudah terlebih dahulu bergabung sebanyak 54 pesawat.

Baca juga: Antara Merpati Air, Kim Johanes Mulia dan Sukhoi SJ100

Sayangnya, entah apa yang terjadi, Reuters menyebut Sukhoi Superjet 100 tak memiliki satupun pesanan pesawat selama 2020. Mirisnya, maskapai penerbangan swasta terbesar di Rusia, S7, Utair, dan Ural Airlines mengaku juga tak berminat membeli pesawat buatan Sukhoi. Rumitnya perawatan serta keterlambatan pengadaan suku cadang jadi beberapa penyebab sepinya peminat.

Akan tetapi, Sukhoi menegaskan, masuknya perusahaan ke pasar pesawat jet pribadi lebih didasarkan pada tingginya permintaan di pasar tersebut. Sebab, di masa pandemi virus Corona seperti sekarang ini, miliarder dan triliuner di seluruh dunia memillih untuk terbang lebih aman menggunakan jet pribadi ketimbang terbang bersama maskapai paling mewah di kelas yang paling mewah.