Insinyur NASA: Helikopter Akan Gantikan Manusia Jelajahi Planet Mars

Rover robotika milik Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (NASA), Perseverance, berhasil tiba di Planet Mars Jumat (19/2) waktu Indonesia. Tak hanya itu, NASA juga membawa helikopter mini bernama Ingenuity untuk melakukan penelitian.

Baca juga: Usai Kirim Foto Pertama dari Mars, Robot NASA Bakal Cetak Rekor Ini

Ingenuity nantinya akan mencatatkan rekor sebagai kendaraan dengan baling-baling pertama di dunia yang mengudara di planet lain.

Lebih penting dari sekedar rekor, Dr. Adams, insinyur sistem pesawat ruang angkasa untuk misi Dragonfly NASA ke Titan, bulan Planet Saturnus, berpandangan bahwa ke depan akan lebih banyak helikopter yang digunakan untuk penelitian di Mars, terlepas dari berhasil tidaknya helikopter Ingenuity melakukan penerbangan di Mars selama dua tahun ke depan.

Dilansir csmonitor.com, sebelum benar-benar bisa terbang dan resmi mencetak rekor, helikopter seberat 1,8 kg, tinggi 48 cm, dan bentang rotor mencapai 1,2 meter yang disembunyikan dalam ‘perut’ Perseverance ini, harus melewati sejumlah rintangan.

Mars diketahui memiliki atmosfer sekitar satu persen volume Bumi. Artinya, segala apapun yang ada di Mars mengalami tekanan yang jauh lebih sedikit daripada di Bumi. Gravitasi di Mars juga kira-kira sepertiga dari yang ada di Bumi.

Menyikapi tantangan tersebut, tim robotik Ingenuity telah menguji desain helikopter di Bumi ruang bertekanan khusus yang disimulasikan mirip lingkungan di Mars. Terkait masalah gravitasi, Ingenuity sudah dilengkapi tambatan ke bagian atas helikopter untuk mengurangi bobotnya. Selain itu, helikopter ini juga dibuat dengan bahan-bahan ringan serta rotor yang lebih panjang, rigid, dan berputar lebih cepat dari yang biasa dilakukan di bumi.

Ketika beroperasi, helikopter Ingenuity mengandalkan sistem navigasi optik. Kita tahu, Planet Mars belum memiliki jaringan satelit yang mengorbit sehingga mustahil untuk menghubungkan jaringan GPS Ingenuity.

Sistem navigasi optik berarti Ingenuity mengandalkan kamera canggih untuk mengambil gambar di sekeliling, mendeteksi, dan mengidentifikasi gambar-gambar tersebut sebagai sebuah data untuk mencapai tujuan programnya.

Tantangan lain adalah seberapa kuat helikopter Ingenuity bertahan di udara. Helikopter ini memang bisa menyerap tenaga dari sinar matahari atau dibekali dengan panel surya. Tetapi, berbeda dengan rover Perseverance, yang berada di daratan Mars, Ingenuity berada di udara dan butuh kekuatan lebih agar tetap bisa bertahan.

Saat ini, helikopter Ingenuity tengah bersiap untuk melakukan lima tes atau pengujian, dimana tiga di antaranya berkaitan dengan kemampuan penerbangan dan navigasi dasar. Adapun sisanya mendorong Ingenuity mencapai batas maksimalnya di Planet Mars untuk kepentingan pengembangan helikopter lainnya di masa mendatang.

Dr. Adams menyebut, berhasil atau tidaknya helikopter Ingenuity terbang serta dalam misi membantu rover Perseverance dalam mengumpulkan data dan mencari tanda-tanda kehidupan kuno di kawah Jezero Crater, yang dulu merupakan sebuah danau pada 3,9 miliar tahun silam, itu tidak akan jadi masalah.

Menurutnya, di masa mendatang, penelitian di Mars akan lebih banyak dihiasi oleh helikopter. Bahkan, bila teknologi yang ada masih cukup sulit untuk mengirim manusia pertama ke Mars, helikopter bisa menjadi pengganti manusia untuk mempelajari Planet Merah itu lebih jauh.

Baca juga: NASA Andalkan Roket Nuklir Kirim Manusia ke Mars di 2035

Pola akan hal itu sudah pernah terjadi di masa lalu. Pada tahun 1997, rover Sojourner milik NASA di bawah misi Mars Pathfinder berhasil menjelajah planet itu untuk pertama kalinya dalam sejarah. Ketika itu, rover Sojourner sebetulnya tidak terlalu bersinar. Sebab, Sojourner hanya melakukan perjalanan sekitar 100 meter.

Meski demikian, itu berhasil memantik penelitian lain untuk menjelajah Mars lebih jauh, melebihi capaian rover Sojourner, sampai detik ini.

Inilah Grand Central Terminal, Stasiun Kereta Terbesar di Dunia, Punya 67 Line!

Anak kereta (Anker) relasi Jakarta-Bogor, Bogor-Tanah Abang, ataupun relasi lainnya pasti kereta yang ditumpangi seringkali tertahan sinyal masuk Stasiun Manggarai. Begitu juga dengan sinyal masuk Stasiun Jakarta Kota.

Baca juga: Miniatur “Grand Central Station” Dirusak, Rod Stewart Berikan Donasi 10 Ribu Poundsterling

Padahal keduanya sekilas tampak memiliki cukup banyak platform, line, atau jalur dimana Stasiun Manggarai memiliki sembilan dan tengah dikembangkan menjadi 14 jalur serta Jakarta Kota memiliki 12 jalur.

Akan tetapi, keduanya tentu belum seberapa bila dibanding stasiun tersibuk di dunia, Stasiun Shinjuku, Tokyo, Jepang, yang melayani 3,6 juta orang melewati stasiun setiap hari, ataupun dibanding dengan Stasiun Gare du Nord, Paris, Perancis, yang melayani sekitar 214 juta penumpang pertahun. Dengan jumlah penumpang sebanyak itu, dua stasiun tersebut memiliki masing-masing 35 dan 36 platform. Cukup banyak, bukan?

Ilustrasi kesibukan di peron Stasiun Terbesar di Dunia, Grand Central Terminal. Foto: Getty Images

Hanya saja, dari segi jumlah platform terbanyak, salah satu dari keduanya tidak menempati urutan pertama. Justru Stasiun Grand Central Terminal-lah juaranya. Stasiun yang berada di Midtown Manhattan, New York City, Amerika Serikat (AS), diketahui memiliki total platform sebanyak 67, dimana 41 platform berada di tingkat atas dan sisanya 26 platform di tingkat bawah. Seluruhnya berada di bawah tanah.

Jumlah tersebut pun diakui oleh Guinness Book of World Records sebagai stasiun terbesar di dunia berdasarkan total platform.

Dilansir guinnessworldrecords.com, Stasiun Grand Central Terminal dibangun sejak tahun 1879. Setelah itu, pada 2 Februari 1913, Grand Central Terminal di New York dibuka untuk pertama kalinya dibuka setelah direnovasi selama hampir 10 tahun dari 1903.

Stasiun Grand Central Terminal juga memiliki jam Tifany terbesar di dunia. Foto: Shutterstock

Sejak dibuka kembali pada 1913, stasiun ini resmi berganti nama menjadi Grand Central Terminal dari sebelumnya Grand Central Station. Alasannya, dahulu Grand Central Station adalah nama sebuah kantor pos di dekat stasiun. Di samping itu, nama itu juga identik dengan operasional kereta api.

Dikarenakan kereta api sudah digantikan dengan kereta listrik, dan sang insinyur stasiun tersebut, Cornelius Vanderbilt, ingin menjadikan Grand Central sebagai landmark, menyaingi Penn Station sebagai pintu gerbang megang ke jantung negara yang berkembang pesat saat dunia sekitarnya semakin saling terhubung, akhirnya nama stasiun pun diubah untuk membawa semangat baru.

Dengan menghabiskan dana sekitar US$ 4 miliar, sangat besar untuk ukuran kala itu, cita-cita Vanderbilt untuk menjadikan Stasiun Grand Central Terminal sebagai landmark Kota New York pun terwujud.

Selain karena kemegahan dan keindahan arsitekturnya (bahkan disandingkan dengan Stasiun Antwerpen-Centraal di Belgia sebagai salah satu stasiun terindah di dunia), stasiun ini tentu saja dicintai karena statusnya sebagai stasiun terbesar di dunia berdasarkan jumlah platform serta memiliki jam Tiffany terbesar di dunia.

Grand Central Terminal. Foto: Shutterstock

Tak cukup sampai di situ, stasiun ini juga sangat dicintai warga Kota New York dan warga AS pada umumnya juga karena bersejarah.

Baca juga: Inilah Stasiun Jeongdongjin, Stasiun Kereta Paling Dekat dengan Laut di Dunia

Disebutkan, stasiun yang berdiri di lahan seluas 19 hektar ini memiliki platform rahasia di bawah hotel Waldorf Astoria, di sebelah Stasiun Grand Central Terminal. Tak disebutkan dengan jelas berapa jumlah platform rahasia itu. Tetapi, platform rahasia itu diyakini dibuat khusus untuk Presiden Franklin D. Roosevelt untuk meninggalkan hotel (setelah memberikan pidato) tanpa diketahui publik.

Meskipun saat ini platform tersebut tidak lagi aktif digunakan secara reguler, tetapi, pihak pengelola stasiun tetap merawatnya, selain dijadikan sebagai gudang serta loading barang oleh pihak pengelola hotel.

NTSB Sebut Metal Fatigue Jadi Penyebab Mesin Boeing 777 United Airlines Terbakar

Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) menyebut penyebab kerusakan berujung mesin pesawat Boeing 777 United Airlines terbakar dan meledak saat di udara adalah metal fatigue. Setidaknya itulah laporan awal KNKT-nya Negeri Paman Sam itu.

Baca juga: Berkaca dari Insiden Boeing 777 United Airlines, Inilah Perbedaan Kegagalan Mesin Terkendali dan Tidak?

Pesawat jet Boeing 777 United Airlines yang diusung mesin seri Pratt & Whitney PE4000 mengalami kerusakan mesin dan menyebabkan mesin terbakar dan meledak di udara, tak lama setelah lepas landas dari Denver menuju Honolulu Sabtu kemarin. Seorang penumpang merekam saat mesin tersebut mengobarkan api.

Video detik-detik mesin pesawat tersebut terbakar dan puing-puingnya beterbangan pun viral. Puing-puing pelindung mesin diketahui berjatuhan di pemukiman warga dekat Denver.

Meskipun nampak seperti akibat dari kegagalan mesin, namun, laporan awal NTSB baru-baru ini menyebut bahwa kebakaran mesin Boeing 777 United Airlines lebih disebabkan oleh metal fatigue atau kelelahan (kehausan) logam.

Kesimpulan awal ini berdasarkan investigasi pada black box flight data recorder (FDR) dan cockpit voice recorder (CVR) pesawat tersebut.

“Ada kerusakan ringan pada badan pesawat tetapi tidak ada kerusakan struktural,” kata ketua NTSB, Robert Sumwalt, seperti dilaporkan Reuters. Menariknya, sumber agency media kenamaan yang sudah berusia 170 tahun itu menyebut, kendati mesinnya dibuat oleh Pratt & Whitney, namun, casingnya dibuat oleh Boeing. Ini menjadi salah satu temuan penting NTSB dalam penyelidikan ini.

“NTSB akan melihat mengapa penutup mesin terpisah dari pesawat serta mengapa ada kebakaran meski ada indikasi bahan bakar ke mesin telah dimatikan,” jelas Sumwalt.

Hanya saja, ia belum bisa memastikan apakah metal fatigue PW4000 yang terbakar dan meledak pada Sabtu memiliki kesamaan dengan kasus serupa yang juga dialami United Airlines pada 2018 silam.

“Yang penting kita benar-benar memahami fakta, keadaan, dan kondisi di sekitar peristiwa khusus ini sebelum kita dapat membandingkannya dengan peristiwa lain,” tambahnya.

Selain fokus pada data-data black box dan casing mesin yang dibuat oleh Boeing, bukan oleh Pratt & Whitney selaku produsen mesin, NTSB juga akan memfokuskan penyelidikan pada bilah mesin pesawat. Hal itu berkaca pada insiden tahun lalu.

Sebelumnya, pesawat Boeing 777 milik Japan Airlines (JAL) yang juga menggunakan mesin PW4000 mengalami kerusakan pada Desember 2020. Badan Keselamatan Transportasi Jepang melaporkan dua bilah kipas rusak, salah satunya retak akibat kelelahan logam atau metal fatigue.

Baca juga: Apa Saja yang Bisa Bikin Mesin Pesawat Mati? Simak Jawabannya di Sini!

Administrasi Penerbangan Federal AS (FAA) mengatakan pihaknya akan mempelajari laporan kerusakan bilah kipas Boeing 777 yang terjadi di Jepang sebagai pembanding.

Meski terkesan mengalami kerusakan parah sampai mesin terbakar, meledak, dan puing-puingnya berjatuhan ke pemukiman warga, namun, NTSB menyebut bahwa insiden itu masih tergolong pada kerusakan mesin terkendali.

Berkaca dari Insiden Boeing 777 United Airlines, Inilah Perbedaan Kegagalan Mesin Terkendali dan Tidak?

Mesin pesawat Boeing 777-200 United Airlines terbakar dan meledak saat di udara. Tak hanya itu, puing-puing mesin tersebut juga jatuh ke pemukiman warga. Beruntung tak sampai ada korban jiwa dalam insiden ini, entah itu akibat kecelakaan pesawat sebagai buntut dari kerusakan mesin maupun akibat puing-puing itu sendiri.

Baca juga: Inilah Perbedaan Airlines dan Airways di Dunia Penerbangan

Sebelum mulai beroperasi dan mengangkut penumpang, pesawat terlebih dahulu harus melalui serangkaian tes rumit untuk mendapatkan sertifikasi laik terbang. Di antaranya ialah sertifikasi Extended-range Twin-engine Operational Performance Standards (ETOPS).

Di sini, pesawat disimulasikan dalam keadaan darurat, dimana salah satu dari dua mesinnya rusak. Dalam keadaan seperti itu, pesawat dituntut untuk tetap bisa terbang. Adapun durasi terbangnya cukup beragam, bergantung pada kemampuan pesawat itu sendiri.

Pada Februari dua tahun lalu, misalnya, pesawat A330-900 berhasil lulus tes sertifikasi ETOPS 285 menit oleh European Aviation Safety Agency (EASA). Itu berarti, pesawat sudah teruji mampu terbang selama empat jam 45 menit (285 menit) hanya dengan menggunakan satu mesin saja. Dengan begitu, pesawat bisa mencari bandara terdekat untuk melakukan pendaratan.

Dikarenakan pesawat Boeing 777-200 United Airlines -yang belum lama ini mesin sebelah kanannya terbakar- juga pernah melewati uji sertifikasi ETOPS, tentu pesawat ini masih dimungkinkan untuk mendarat dengan selamat. Itulah jawaban mengapa insiden yang kemarin terjadi tidak berujung pada hilangnya 231 penumpang dan 10 awak yang menumpangi pesawat tersebut.

Dilihat dari jenisnya, kebakaran mesin atau biasa juga disebut kegagalan mesin (engine failure) ada dua; terkendali dan tidak terkendali.

Dikutip dari Simple Flying, menurut Skybrary, kegagalan mesin terkendali bisa dibilang tidak sampai menyebabkan komponen-komponen mesin lepas dan puing-puingnya jatuh tanpa terkendali sehingga membahayakan orang-orang di darat.

Terbayang bukan, bila puing-puing mesin membentur badan atau bagian lain pesawat, yang notabene kabinnya bertekanan, bisa saja membuat lubang, terjadi dekompresi eksplosif, serta membuat pesawat kehilangan ketinggian.

Poinnya, kegalalan mesin terkendali tidak membahayakan penerbangan dan orang-orang yang berada di darat karena komponen mesin tidak lepas secara sporadis.

Berbeda dengan kegagalan mesin terkendali, kegagalan mesin tidak terkendali kondisinya jauh lebih rumit. Komponen-komponen mesin lepas dan jatuh ke daratan. Selain itu, komponen yang lepas secara sporadis juga masih dimungkinkan untuk membentur badan pesawat sehingga membayakan penerbangan.

Baca juga: 7 Persamaan dan Perbedaan First Class dengan Business Class

Pada kegagalan mesin tidak terkendali, biasanya disebabkan oleh banyak komponen sehingga kondisinya tidak terkendali.

“Kegagalan mesin yang tidak terkendali kemungkinan besar akan menjadi berbahaya, dan bisa jauh lebih serius karena puing-puing mesin bertebaran dengan kecepatan tinggi ke arah lain, menimbulkan potensi bahaya pada struktur pesawat bertekanan, mesin yang berdekatan, sistem kontrol, dan mungkin (menimbulkan bahaya) langsung ke penumpang pesawat,” tulis Skybrary.

Inilah Bandara Yakutsk, Bandara dengan Suhu Terdingin di Bumi

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa wilayah atau kota terdingin di bumi adalah kota-kota di Alaska, Greenland, Kanada (Arktik), ataupun Antartika. Meski masih terdapat banyak perdebatan, namun, banyak sumber menyebut bahwa kota dengan suhu paling dingin di bumi adalah Yakutsk, ibu kota dari Sakha Republik, Rusia.

Baca juga: Unik! Qamdo Bangda Airport Punya Runway Terpanjang di Dunia dengan Cuaca Ekstrem Hampir Sepanjang Tahun

Kota ini termasuk salah satu dari tiga kota di Rusia yang ada pada zona permafrost, atau area paling dingin di dunia atau di muka bumi, bersama Norilsk dan Krasnoyarsk.

Sebetulnya, Yakutsk, secara geografi, masih bisa dikalahkan oleh wilayah-wilayah paling utara atau yang berada di cilce kutub Utara atau Arktik. Sebab, kota ini terletak kurang lebih 280 mil dari Arctic Circle. Namun, faktanya, Yakutsk memiliki suhu musim dingin paling buruk -64 derajat Celsius sepanjang musim. Karena itu, kota Yakutsk dimanfaatkan pemerintah sebagai destinasi unik di Rusia untuk orang-orang yang ingin menikmati bagaimana rasanya hidup di zaman es.

Gambaran Bandara Yakutsk saat di musim dingin. Foto: AskYakutsk.com



Saking dinginnya, kota ini bukan hanya terkenal sebagai kota es, namun di kalangan ilmuan, dalam hal ini ilmuan penerbangan di Boeing, juga terkenal sebagai kota yang menantang untuk menguji kekuatan pesawat dan mesin pesawat dalam melawan simulasi terbang, mendarat, dan lepas landas di tengah cuaca dingin ekstrem.

Di kalangan traveler, Permafrost Kingdom Ice Museum mungkin sangat dikenal di Yakutsk, namun, tetap saja, sebelum sampai ke sana, traveler harus berkenalan terlebih dahulu dengan Bandara International Yakutsk.

Dilansir Routes Online, bandara ini pertama kali dibangun pada tahun 1931 dan terminal yang saat ini ada dibangun pada tahun 1996. Seiring tingginya minat wisatawan mancanegara dalam mencicipi suhu ekstrem dan terdingin di muka bumi, bandara yang merupakan hub sembilan maskapai, di antaranya Aeroflot, S7, Yakutia, Polar Airlines, dan Alrosa ini harus menambah terminal baru. Namun tidak demikian dengan runway-nya yang masih hanya satu.

Jarak pandang sangat minim kala musim dingin. Foto: AskYakutsk.com



Meski demikian, bandara ini tergolong cukup luas dengan ketersediaan parking stand di apron bandara mencapai 38 pesawat plus empat helikopter. Di samping itu, dengan berbekal runway kelas satu yaitu 3400 x 60m, Bandara International Yakutsk juga bisa didarati pesawat widebody tanpa batasan berat lepas landas ataupun penerbangan malam karena pencahayaan yang bagus dan berstandar interasional.

Baca juga: Bandara Tribhuvan Kathmandu, Salah Satu Bandara Terburuk di Dunia

Meski terletak jauhTimur Jauh Rusia, bandara ini memiliki konektivitas tinggi, dimana ada 35 rute direct flight atau rute langsung dari bandara ini ke kota-kota besar di Rusia, termasuk Moskow.

Selain itu, bandara yang juga menangani penerbangan penumpang, kargo, dan pos udara ini juga melayani penerbangan direct flight internasional dari beberapa negara federasi Rusia. Menariknya, sekalipun sangat berisiko tinggi untuk pesawat mendarat dan lepas landas di sini, belum pernah terjadi satupun kecelakaan fatal yang menimbulkan korban jiwa.

Harga Minyak Dunia Naik, Avtur Ikut Naik, Maskapai Penerbangan Makin Tercekik!

Industri penerbangan sangat terpukul akibat pandemi virus Corona yang tak kunjung usai. Bak jatuh tertimpa tangga, belum lama ini, harga minyak dunia terkoreksi naik satu persen dan diperkirakan akan terus naik mengingat produksi terhambat lantaran diterjang gelombang dingin ekstrem di Amerika Serikat (AS).

Baca juga: Campur Biofuel dan Avtur, United Airlines Sukses Layani Penerbangan Trans-Atlantik Terlama!

Kenaikan itu tentu saja menyeret Avtur untuk juga ikut naik dan mencapai harga tertinggi sejak 13 bulan terakhir. Muara dari itu, sudah pasti, industri penerbangan, dalam hal ini maskapai penerbangan, akan dibuat pusing.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pada tahun 2018 silam pernah memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037. Sebelum Covid-19 mewabah, 40,3 juta penerbangan dijadwalkan lepas landas di seluruh dunia pada tahun 2020, meskipun pada akhirnya harus turun menjadi sekitar 23,1 juta dan diperkirakan akan tetap rendah di 2021.

Diperkirakan, paling cepat, jumlah penumpang akan kembali ke titik itu pada 2024 mendatang, dimana penerbangan domestik akan lebih dahulu kembali normal dibanding penerbangan internasional.

Kondisi tersebut tentu saja memukul kinerja keuangan maskapai. Andai tak ada langkah strategis dari pemerintah di seluruh dunia, bukan tak mungkin akan ada banyak maskapai bangkrut.

Sampai akhir Desember 2020 lalu, laporan allplane.tv, sudah ada 30 maskapai bangkrut. Laporan CNBC International bahkan lebih besar, dimana 40 maskapai di seluruh dunia dinyatakan bangkrut. Angka itu pasti akan bertambah seiring ketidakjelasan masa depan penerbangan global.

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sendiri akhir Desember lalu memprediksi maskapai penerbangan global bakal merugi hingga US$157 miliar atau sekitar Rp2.219 triliun lebih (kurs Rp14.135) sepanjang 2020 dan 2021. Parahnya lagi, perkiraan itu ialah hitungan kasar dan bisa jadi jauh lebih buruk.

Kendati traffic penumpang sudah mulai meningkat seiring vaksinasi massal di seluruh dunia, tetapi, angkanya masih belum cukup untuk membuat keuangan maskapai kembali sehat. Hanya saja, belum juga bernapas lega karena traffic penumpang berangsur pulih, maskapai harus menelan kenyataan pahit, yaitu harga minyak dunia naik.

Dilansir oilprice.com, harga aviation turbine fuel (Avtur) bahkan mencapai yang tertinggi sejak 13 bulan belakangan pada pekan lalu imbas dari kenaikan harga minyak dunia.

Baca juga: Bukan Cuma Corona, Krisis Minyak Tahun 1973 Juga Bikin Industri Penerbangan Global Rugi Besar

Disebutkan, kendati permintaan Avtur turun lantaran pergerakan pesawat menurun, lantas bukan berarti harga Avtur ikut turun mengikuti supply and demand. Harga Avtur tetap mengikuti harga minyak dunia. Itulah mengapa bahan bakar pesawat ini ikut naik ketika minyak dunia merangkak naik.

Minyak dunia merangkak naik diketahui akibat serangan gelombang dingin Arktik yang melanda sebagian wilayah agak hangat di AS. Gelombang dingin ini pun menyebabkan gangguan dalam skala besar dalam proses produksi dan penyulingan karena terjadi instalasi dan minyak membeku. Pemadaman listrik pun melengkapinya menjadi sebuah bencana besar bagi maskapai penerbangan dan tentu saja industri lain.

Mau Ikut Pameran Virtual? Cek Tips di Bawah Ini Yuk

Saat sebuah pameran terjadi secara nyata, pengunjungnya hanya akan datang dari kota tempat diadakannya acara. Sedangkan di masa pandemi, meski acara tetap berlangsung di satu tempat, tetapi pengunjung yang datang langsung dibatasi sedangkan bila mengikuti secara virtual tidak dibatasi sehingga bisa diikuti pengunjung dari kota maupun negara manapun mereka berada. Baca juga: Singapura Hadirkan Tur Virtual Untuk Mudahkan Pelancong Seperti Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) Hybrid 2021 yang diselenggarakan oleh professional Exhibition & Event Organizer Dyandra Promosindo pada 18-28 Februari 2021. IIMS 2021 diadakan saat ini memberikan peluang bagi pengunjung di Indonesia maupun negara lainnya karena selain pameran langsung, Dyandra menyelenggarakannya juga secara virtual yang bisa diakses melalui website. Nah ada beberapa tips yang bisa digunakan pengunjung untuk menikmati pameran secara virtual. Berikut KabarPenumpang.com merangkum tips dari beberapa laman sumber. 1. Daftar pameran Sebelum menikmati pameran secara online terkhususnya IIMS 2021, Dyandra mengajak pengunjung mendaftar pada website mereka yakni www.indonesianmotorshow.com. Kemudian setelah akun terdaftar, pengunjung bisa mengunjunginya. 2. Cek media sosial penyelenggara Bila pengunjung tidak sempat mengikuti melalui website, bisa juga menengok Instagram atau YouTube, di mana penyelenggara melangsungkannya secara virtual. 3. Tentukan pameran yang akan diikuti Jika Anda ingin melihat pameran otomotif dan melihat hal baru, IIMS 2021 bisa menjadi salah satu pilihan. 4. Promo menarik Selain pameran virtual, bila ini adalah pameran penjualan barang, biasanya akan ada promo menarik dengan barang yang dipamerkan. Promo barang yang dijual dalam pameran biasanya penyelenggara bekerja sama dengan ecommers. Seperti IIMS 2021 yang bekerja sama dengan Shopee dalam penjualan barang milik agen pemegang merek ataupun Perkumpulan Pengusaha Aksesoris Mobil Indonesia. Baca juga: National Railway Museum di Inggris Buka Studio Virtual 5. Lebih mudah Pameran virtual membuat pengunjung tidak lagi perlu menghabiskan tenaga. Sebab, pengunjung bisa menontonnya melalui ponsel pintar atau hanya duduk di depan layar monitor sembari menyusuri pameran virtual tersebut.

Hari Ini, Bocah SD Berusia 9 Tahun Jadi Pilot Termuda dalam Sejarah yang Terbang Solo

Pada hari ini, 38 tahun lalu, bertepatan dengan 24 Februari 1983, bocah sembilan tahun 316 hari atau nyaris berusia 10 tahun, Cody A. Locke, berhasil terbang solo menggunakan pesawat Cessna 150. Atas keberhasilannya itu, ia pun berhasil mencatatkan diri di Guinness Book of World Records sebagai pilot termuda yang terbang solo dalam sejarah penerbangan dunia.

Baca juga: Begini Kisah Pilot dalam Penerbangan 9 Hari Keliling Dunia Non Stop! Sempat Mau Mati Gegara Dehidrasi

Dilansir Los Angeles Times, informasi terkait tahapan awal sampai pesawat mendarat dan Cody resmi berhasil mencatatkan rekor sangat terbatas. Bahkan, di situs Guinness Book of World Records sendiri, catatan rekor Cody A. Locke juga tidak ada, kecuali hanya sedikit saja, dimana bocah sembilan tahun itu melakukan penerbangan solo tersebut pada tahun 1983 di Mexicali, Meksiko.

Selebihnya, seperti berapa lama durasi terbang, bagaimana persiapan awal, ketika dalam penerbangan solo, jarak dan titik yang dituju, sampai akhirnya mendarat dengan selamat, tidak ada informasi terkait hal itu.

Informasi lengkap terkait pilot termuda yang berhasil terbang solo justru cukup banyak atas nama Tony Aliengena. Bocah yang duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar ini diketahui mencatat rekor tersebut pada usia 9 tahun 295 hari, berjarak sekitar 21 hari dari Cody A. Locke, pada 14 Maret 1988.

Disebutkan, sekalipun hanya terbang 3 menit 25 detik, namun Don Taylor, pejabat dari National Aeronautics, yang hadir dalam penerbangan di Bandara Kota Oceanside, Pesisir Selatan California, Amerika Serikat (AS) menggunakan pesawat ultralight Eipper Quicksilver GT, tetap mencatat itu sebagai rekor dan secara resmi mengeser Cody A. Locke dari gelar sebagai pilot termuda di dunia yang terbang solo.

Dalam misi mencetak rekor, sebetulnya Tony sudah mengajukan untuk terbang menggunakan pesawat yang sama dengan Cody A. Locke, yaitu Cessna 150. Namun, karena terbentur peraturan Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA), dimana ia harus mempunyai lisensi solo serta harus berusia minimal 16 tahun, penerbangan tersebut pun akhirnya menggunakan pesawat ultralight.

Menurut sang ibu, Susan, sejak kecil, Tony memang menonjol di sekolah dalam bidang atletik. Saat ia mendengar ada bocah lain berusia 11 tahun, John Kevin Hill, berhasil mencatat rekor penerbangan melintasi AS, ia pun bersikukuh untuk mencetak rekor juga sebagaimana bocah tersebut. Padahal, ketika itu, ia sama sekali belum pernah menerbangkan pesawat, sekalipun sang ayah bisa menerbangkan pesawat dan mempunyai pesawat Cessna Model 210 Centurion.

Baca juga: Mengenal Yvonne Pope Sintes, Mantan Pramugari yang Jadi Pilot Maskapai Wanita Pertama Inggris

“Kami tidak ingin memaksanya untuk melakukan itu, tetapi kamu tahu bagaimana anak-anak bisa menjadi (memaksa) ketika mereka menginginkan sesuatu darimu dan menginginkan sesuatu (hal lain),” katanya.

Setelah mencatat rekor tersebut, Tony rupanya belum berpuas diri. Pada tanggal 22 Juli 1989 atau ketika berusia 11 tahun, Tony Aliengena berhasil mecatatkan diri sebagai pilot termuda yang berhasil terbang keliling dunia, setelah pesawat milik ayahnya, Cessna 210 Centurion, yang ditumpanginya berhasil kembali ke Bandara John Wayne di Orange County, California, AS, menempuh jarak sejauh 21.567 mil atau 34.708 km selama tujuh hari.

Intip Keseruan di Airbus A330 Bekas Thai Airways yang Disulap Jadi Kedai Kopi Perang

Thai Airways belakangan banyak dibicarakan karena tengah berjuang menghindari kebangkrutan melalui prosedur ‘anti bangkrut’ di Pengadilan Kepailitan Pusat Thailand. Meski begitu, perusahaan tetap berjalan dengan menerbangkan penerbangan flight to nowhere, membuka restoran, jasa penyewaan flight simulator, sampai pelatihan menjadi pramugari.

Baca juga: Usai Bangkrut, Thai Airways Kini Bisnis Restoran Khas Hidangan Pesawat! Pelayannya ‘Pramugari’

Akan tetapi, di luar itu, Thai Airways rupanya juga banyak dibicarakan oleh publik Thailand setelah kemunculan Coffee War atau Kedai Kopi Perang. Alih-alih membuka ruko seperti pada umumnya, 331 Station Coffee War ini menjadi perbincangan hangat di masyarakat karena berada di dalam pesawat Airbus A330 bekas Thai Airways.

Selain kursi, jendela, dan kompartemen bagasi, pengelola Kedai Kopi Perang tidak mempertahankan keaslian pesawat, seperti mesin, sayap, landing gear, dan kokpit. Foto: Getty Images

Dilansir Simple Flying, kedai kopi yang terletak sekitar 160 kilometer tenggara pusat kota Bangkok, Thailand, ini bahkan pernah ditutup. Bukan karena tidak laku, tetapi karena diserbu masyarakat dan menciptakan kerumunan di masa pandemi Covid-19 setelah viral di media sosial.

Kedai kopi milik Damri Sangtang, mantan perwira Angkatan Laut Kerajaan Thailand, ini memang cukup unik karena berada di dalam pesawat Airbus A330 bekas Thai Airways. Meski bekas, pesawat ini tergolong masih cukup bagus sekalipun dibeli dengan harga sangat murah, yaitu US$333.000 atau sekitar Rp4,6 miliar (kurs 14.088). Padahal, harga pesawat baru A330-300 berada dikisaran US$240 juta atau sekitar Rp3,3 triliun (kurs 14.088). Cukup jauh bukan?

Tak disebutkan dengan jelas kapan pembelian itu terjadi. Demikian juga dengan 331 Station Coffee War itu sendiri, tak jelas kapan pertama kali dibuka.

Kedai Kopi Perang ini diketahui, saking begitu happeningnya, bisa melayani sampai ribuan pengunjung dalam sehari. Selain karena daya tarik konsep kedai kopi di pesawatnya yang bikin masyarakat penasaran, harganya juga tergolong murah, mulai dari sekitar 60 baht atau sekitar Rp25 ribuan.

Kursi bekas first class dan kelas bisnis jadi favorit pengunjung Kedai Kopi Perang. Foto: Getty Images

Dengan harga segitu, pengunjung kedai kopi perang ini bisa bebas memilih tempat duduk dimanapun. Pengunjung yang datang lebih dahulu tentu akan sangat beruntung mengingat mereka bisa memilih tempat duduk, entah itu di kursi kelas ekonomi dengan konfigurasi 3×3 dekat jendela, kursi kelas bisnis di pinggir untuk pasangan dan di tengah untuk empat orang, kursi kayu untuk pasangan, serta kursi custom untuk keluarga.

Tentu, kebanyakan dari mereka tentu lebih memilih duduk di bekas kursi kelas bisnis. Dengan harga yang sama, namun sensasi yang didapat berbeda.

Spot ini menjadi salah satu spot favorit pengunjung Coffee War. Foto: Getty Images

Normalnya, pesawat A330 mampu menampung 250-290 penumpang. Namun, di kedai kopi ini, karena pengelola tidak memaksimalkan kapasitas melainkan kenyamanan, hanya bisa menampung sebanyak 60 orang.

Baca juga: Dear ‘FA Wannabe,’ Thai Airways Bantu Wujudkan Mimpi Jadi Pramugari dengan Mahar Rp1,3 Jutaan

Selain furniture asli pesawat, pengelola Kedai Kopi Perang juga menghadirkan furniture lain. Foto: Getty Images

Menariknya, saking membludaknya jumlah pengunjung, masing-masing dibatasi hanya selama 40 menit. Waktu tersebut sudah termasuk berfoto-foto. Jadi, jika tidak sedang memesan meja di dalam kedai kopi ini, pengunjung tidak boleh berfoto di dalam ataupun di area tangga.

Karena masih di masa pandemi Covid-19, pengunjung tetap diwajibkan menggunakan masker ketika sedang tidak menyantap hidangan makanan dan minuman, mencuci tangan, dan dicek suhu. Selain itu, pengelola juga rutin mendisinfeksi Kedai Kopi Perang di pesawat A330 bekas Thai Airways ini.

Helm Tail-Light-Packin Didukung dan Diaktifkan oleh Cahaya Sekitar

Makin hari hal baru bukan hanya ada pada transportasi umum, tetapi di kendaraan pribadi seperti sepeda. Salah satu yang paling mencolok dan mulai terus dikembangkan adalah helm untuk melindungi kepada pengendara. Nah apa saja sih yang dikembangkan di helm? Baca juga: TorchONE – Helm Sepeda dengan Lampu LED yang Bisa Dipasang dan Dilepas Saat ini yang paling umum teknologi yang dikembangkan pada helm adalah lampu dan meski umum kebanyakan masih disambungkan ke pengisi daya. Tak hanya itu, pengguna masih harus menghidup dan mematikannya secara manual sesuai kebutuhan. KabarPenumpang.com melansir laman newatlas.com (16/2/2021), Omne Eternal baru saja mengumumkan helm dengan cahaya untuk semua hal yang bisa membantu pengendara. Omne Eternal ini diproduksi oleh perusahaan Swedia POC. Helm Omne Eternal memiliki fitur built-in tail light, motion sensor, ambient light sensor, battery dan lapisan atas dari material photovoltaic yang dikenal sebagai Powerfoyle serta yang terakhir adalah produk tipis dan fleksibel yang dibuat oleh perusahaan teknologi Swedia Exeger. Ini adalah jenis unik sel surya yang peka pewarna. Bahkan diklaim sangat efisien dalam mengubah semua jenis cahaya baik di dalam atau di luar ruangan untuk menjadi listrik. Di antara bahan aktif, ada lapisan atas nanopartikel titanium dioksia yang dilapisi dengan pewarna penyerap cahaya dan lapisan bawah terbuat dari bahan konduktif berpemiliki dengan nama Electrofly. Sehingga saat helm Omne Eternal terkena cahaya, Powerfoyle akan mengisi daya baterai onboard, yang pada gilirannya memberikan tenaga ke lampu belakang dan sensor. Sensor cahaya sekitar secara otomatis menyalakan lampu belakang saat di luar gelap, dan mematikannya dalam kondisi terang. Sedangkan sensor gerak, sementara itu mematikan semuanya setelah helm tidak bergerak beberapa saat. “Saat digunakan di luar ruangan, pada hari-hari biasa dengan awan bercampur, baterai helm akan memperoleh sekitar dua kali energi yang digunakan untuk menyalakan lampu,” kata Damian Phillips dari POC. Dia mengatakan, cara lain untuk mencontohkannya adalah bahwa energi yang dikonsumsi saat bersepeda selama satu jam untuk bekerja di pagi yang gelap dapat dengan mudah dipulihkan dengan meninggalkan helm selama satu jam di jendela yang terang. Phillips menambahkan bahwa tidak ada pilihan untuk mengisi baterai helm secara manual melalui kabel listrik, karena paparan cahaya sudah cukup. Baca juga: Pengemudi Ojek Sepeda di Kigali Wajib Pakai Helm Sebagai bagian dari upaya POC untuk menjaga kesederhanaan, juga tidak ada tombol on atau off. Rencananya, Omne Eternal akan tersedia secara komersial di Eropa mulai Juni, dan di Amerika Utara pada akhir tahun dengan harga yang dibanderol €250 atau sekitar US$303.