Ahli Sebut Kabin Pesawat Tak Aman Cegah Corona! Video Ini Jadi Salah Satu Buktinya

Sebuah video simulasi terbaru menunjukkan bagaimana percikan dari seseorang yang batuk di dalam pesawat terbukti dapat menyebar ke seluruh kabin. Simulasi yang dibuat oleh Purdue University’s School of Mechanical Engineering, Amerika Serikat (AS) tersebut dilakukan di dalam pesawat 767 dengan konfigurasi 2-3-2. Baca juga: Seorang Penumpang Pesawat Dinyatakan Positif Virus Corona Saat di Udara Seperti dikutip KabarPenumpang.com dari businessinsider.sg, video berdasarkan sebuah penelitian tahun 2014 antara para peneliti universitas dan insinyur Boeing ini, kala itu dilakukan untuk menentukan apakah mengubah sistem ventilasi pesawat akan mempengaruhi risiko tertular SARS atau tidak. Meskipun saat itu penelitian terfokus pada tipe penyebaran SARS dan tidak dilakukan secara khusus untuk menetukan penyebaran Covid-19 di dalam kabin, namun, para ahli meyakini masih ada resiko besar penumpang bakal terpapar corona di dalam kabin pesawat; bahkan dengan sistem filter di dalam kabin canggih dan (sistem tersebut) berjalan dengan maksimal sekalipun. Qingyan Chen, seorang profesor teknik Universitas Purdue yang berkontribusi besar dalam penelitian itu menyebut, sejatinya kabin pesawat memang tak dirancang untuk mencegah penyakit menular. “Sejujurnya, pesawat terbang tidak dirancang untuk mencegah penularan penyakit menular. Mereka tidak dirancang untuk melakukan pekerjaan itu,” ujarnya.
Sebagaimana diberitakan sebelumnya, di dalam kabin pesawat, terdapat teknologi High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) dinilai mampu menyerap dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 2,5 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh serta diklaim mampu membunuh 99 persen bakteriologis, tak terkecuali dengan virus Cina. Dari hasil penelitian yang dilakukan, jika seseorang yang duduk di tengah dalam (konfigurasi 2-3-3) batuk, setidaknya ada sekitar 10 orang yang terpapar corona, yakni enam orang di baris yang sama dan masing-masing dua orang di sisi jendela di baris pertama di belakangnya. Kemudian, bila dilihat dari sebaran aerosol di keseluruhan kabin, tampak hanya baris terdepan dan dua kursi paling belakang sebelah kanan di dekat jendela saja yang kemungkinan besar selamat dari paparan corona. Saat ini, model penyebaran virus corona mungkin belum ada kepastian dari para ahli apakah mirip dengan SARS atau tidak. Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga sudah menegaskan bahwa virus Cina tidak menyebar di udara dalam bentuk aerosol dan tidak pula ditemukan (sebarannya) pada orang-orang dengan jarak dua meter. Baca juga: Mau Naik Pesawat Saat PSBB? Kudu Siap Mati-matian Lakukan Hal Ini Namun, beberapa penelitian justru menemukan hal sebaliknya, bahwa percikan dari orang bersin atau batuk mungkin bisa lebih dari sekedar dua meter dan dapat bertahan atau mengambang di udara dalam bentuk aerosol. Sebuah studi yang diterbitkan awal bulan ini di Emerging Infectious Diseases Journal menemukan bahwa unit pendingin udara (AC) justru telah membantu menginfeksi virus corona ke sembilan orang di sebuah restoran tanpa jendela di Guangzhou, Cina, Januari lalu.

Sambil Gowes, Iwind Bikin Pesepeda Mampu Menghirup Udara Murni

Para pesepeda di lingkungan kota besar banyak yang menggunakan masker untuk menyaring debu dan polusi udara. Pesepeda melakukan hal tersebut agar sebisa mungkin bisa menikmati olahraga sembari menghirup udara dengan kualitas yang lebih baik. Baca juga: Scania Kenalkan Sistem BSW dan VRUCW untuk Kurangi Kecelakaan Pada Pejalan Kaki dan Pesepeda Namun, bagaimana bila ada alat yang bisa mengubah udara kotor menjadi udara bersih dan membuat pesepeda tak lagi perlu mengenakan masker ketika menggoes sepeda mereka? Baru-baru ini Iwind telah meluncurkan alat yang bisa digunakan pesepeda di mana ini bisa memberikan udara murni ke wajah pengguna. KabarPenumpang.com melansir laman newatlas.com (13/5/2020), Iwind ini memiliki dua bagian utama yang dihubungkan dengan selang artikulasi fleksibel. Di mana selang terpasang secara magnetis di bagian belakang helm pengendara sepeda yang merupakan modul filtrasi. Modul ini menampung tidak hanya filter yang dapat diganti sendiri melainkan juga kipas dan baterai lithium yang bisa diisi ulang. Komponen-komponen ini bergabung untuk menarik udara disekitar pengguna dan dilaporkan bisa memblokir partikel sekecil 0,4 mikron. Selain itu juga bisa membunuh bakteri melalui lapisan antimikroba perak pada filter. Kemudian, udara setelah tertarik dan diolah, maka udara murni akan di pompa dari unit tersebut melalui selang ke penutup seperti cangkir yang langsung menghadap ke depan hidung dan mulut pengguna. Sayang sampai saat ini pun masih sulit untuk mengatakan seberapa efektif pengaturan ini, sebab udara bersih jelas akan bercampur dengan sedikit udara kotor di sekitarnya sebelum dihirup. Sebagai bonus tambahan, modul filtrasi juga dilengkapi pemanas keramik yang dapat digunakan untuk menghangatkan udara di hari yang dingin. Iwind juga memiliki lampu belakang 150-lumen, untuk keamanan tambahan saat bersepeda di malam hari. Umur baterai berada pada klaim sembilan jam per tiga jam USB pengisian dalam penggunaan normal, atau 6,5 jam ketika pemanas dinyalakan. Seiring dengan fitur pemanasan itu, beberapa keunggulan Iwind dibandingkan masker tradisional termasuk fakta bahwa itu tidak menyebabkan kacamata berkabut, tidak menyentuh wajah, tidak meredam suara pemakainya, dan tidak perlu dikeringkan setelah digunakan. Tapi jelas, itu akan lebih berat. Baca juga: Pandemi Menyerang, Warga AS Pilih Naik Sepeda Ketimbang Angkutan Umum Iwind saat ini menjadi subjek kampanye Kickstarter. Dengan asumsi itu mencapai produksi, Anda bisa mendapatkan satu dengan harga US$66, yang merupakan 33 persen dari harga eceran yang direncanakan

Bandara Itami Buka Toilet Eksklusif Untuk Anjing

Anjing punya toilet khusus di bandara? Ya ini sudah ada di salah satu bandar di Finlandia tepatnya di Bandara Internasional Helsinki-Vantaa. Ternyata toilet anjing ini juga menjadi inspirasi salah satu bandara Jepang untuk membuatnya. Baca juga: Bandara Helsinki Hadirkan Toilet Khusus Hewan Peliharaan Penumpang Bisa dikatakan Bandara Itami saat ini menjadi yang pertama di Jepang yang menawarkan toilet untuk anjing. KabarPenumpang.com melansir laman japantimes.co.jp (11/2/2020), bandara regional yang juga dikenal sebagai Bandara Internasional Osaka tapi berada di prefektur Osaka dan Hyogo baru-baru ini memutuskan untuk memperkenalkan fasilitas untuk anjing atau hewan peliharaan. Toilet khusus dan eksklusif tersebut ada setelah Bandara Itami menerima permintaan tidak hanya dari penumpang dengan hewan peliharaan saja, tetapi dari pejabat maskapai penerbangan yang mengeluhkan kecelakaan buang air di pesawat mereka. Bandara dijadwalkan untuk membuka kamar mandi anjing luar ruangan untuk penggunaan sehari-hari dari pukul 05.30 hingga 22.00 waktu setempat. “Kami berharap (perkenalan) akan mengarah pada pengurangan stres dengan mengizinkan anjing, bersama dengan pemiliknya, untuk pergi ke toilet sebelum naik,” kata Kansai Airports, yang juga mengelola Bandara Internasional Kansai dan Bandara Kobe. Diketahui, sebagai yang pertama memiliki toilet untuk anjing, Bandara Internasional Helsinki-Vantaa memiliki alasan khusus. Di mana menurut data, dari bandara ini lebih dari sepuluh ribu anjing bepergian dengan pemilik mereka setiap tahunnya. “Toilet hewan peliharaan menjadi lebih umum di seluruh dunia. Kami ingin berada di garis depan di area ini,” kata Hanna Hämäläinen, direktur layanan perjalanan Finavia. Menurut Hanna, kehadiran toilet khusus hewan peliharaan ini membuat para pejabat tertarik untuk memastikan bahwa fasilitas hewan peliharaan tetap higienis setiap saat. Toilet dilengkapi dengan pegangan bidet sehingga pemilik bisa membasuh urin hewan peliharaan mereka. Tak hanya itu, wadah terpisah juga disediakan untuk membuang feses. Toilet hewan di Bandara Helsinki salah satunya terletak di area penerbangan yang menuju ke luar wilayah Schengen Eropa di bagian terbaru bandara. Sedangkan toilet lainnya berada di luar area keberangkatan di Terminal 2. Baca juga: Mewahnya Airbus A380, Sampai Pilot Miliki Kamar Pribadi dan Toilet Privat di dalam Kokpit “Kami ingin mengembangkan layanan untuk memastikan bahwa perjalanan berlangsung senyaman mungkin. Ketika hewan peliharaan dapat melakukan hal yang diperlukan, pemiliknya juga akan merasa santai,” jelasnya.

Kompetisi Industri Dirgantara Inggris vs AS, Jadi Latar Belakang Lahirnya Boeing 707

Beberapa tahun pasca Perang Dunia II, pesawat militer Boeing diakui memang tidak ada duanya. Sayangnya, hal serupa tak mampu dilakukan Boeing pada pangsa pasar pesawat sipil. Kala itu, ceruk pasar tersebut (untuk perusahaan aerospace Amerika Serikat) lebih dominan dikuasai McDonnell Douglas (lewat DC-3) dan Lockheed. Baca juga: Inilah Alasan, Mengapa Boeing Menggunakan Angka 7 di Produk Jet Komersialnya Boeing sebetulnya bukan tanpa perlawanan. Setelah perang dunia II usai, Boeing tancap gas dengan mengembangkan C-97 Stratofreighter, turunan militer B-29 Superfortress yang digunakan untuk mengangkut tentara. Penerbangan pertama pesawat legendaris Stratocruiser terjadi pada 70 tahun lalu, tepatnya tanggal 8 Juli 1947. Adapaun secara komersial, penerbangan perdana terjadi dua tahun berikutnya bersama maskapai legendaris, Pan Am, yang kala itu mengoperasikan antara San Francisco dan Honolulu Amerika Serikat. Hanya saja, sekalipun didaulat menjadi pesawat dengan kabin bertekanan pertama di dunia, Boeing 377 Stratocruiser rupanya belum cukup menarik perhatian maskapai. Terbukti, pesawat tersebut hanya laku sebanyak 46 pesawat dan Boeing pun mencatat kerugian sebesar US$13,5 juta (sekitar $144 juta pada tahun 2020). Kala itu, kedigdayaan 377 Stratocruiser harus runtuh setelah hadirnya de Havilland Comet, sebuah pesawat jet komersial pertama di dunia keluaran Britania (Inggris) pada Juli 1949. Selain itu, saingan juga datang dari rekan senegara mereka, Douglas Aircraft Company atau McDonnell Douglas Aircraft, yang pada ‎30 Mei 1958 setelah berhasil menerbangkan Douglas DC-8. Kehadiran keduanya pun berhasil menarik perhatian maskapai global dan pada akhirnya benar-benar meninggalkan Boeing 377 Stratocruiser. Akan tetapi, dikutip dari Simple Flying, Boeing tak lantas diam dan hanya menjadi penonton dalam persaingan menjadi yang terbaik di ceruk pasar pesawat sipil. Terlebih momentumnya juga tepat, yakni dengan serangkaian kecelakaan yang menimpa de Havilland Comet pada tahun 1954 dan membuatnya perlahan tersingkir dari peta persaingan. Setelah itu saingan asal Inggris itu musnah, pada tahun 1955 Boeing mulai memperkenalkan produk terbarunya berupa Dash 80 atau Boeing 707. Dua tahun berselang atau Desember 1957, Boeing 707 pun resmi terbang perdana. Baca juga: Jejak Boeing 707 di Indonesia: Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan Di awal kehadirannya, Boeing 707 rupanya masih belum menarik perhatian maskapai. Padahal, dengan kemampuan kecepatan maksimum hingga 550 mph saat di udara, Boeing 707 jelas tak bisa disaingi oleh pesawat sipil manapun. Namun, karena dimensi yang masih lebih kecil dibanding kompetitor senengaranya, Douglas DC-8, 707 akhirnya masih hanya gigit jari saja. Barulah setelah Presiden Boeing Bill Allen menginstruksikan Tex Johnston, kepala uji coba Boeing, agar mengkonfigurasi ulang Boeing 707 menjadi beberapa lebih inci lebar dari DC-8, Boeing 707 mulai melejit. American Airlines yang berbasis di Texas kala itu dilaporkan langsung memesan 50 jet. Begitu juga maskapi lainnya. Pada akhirnya, setelah penjualan mulai melonjak drastis, bisa ditebak siapa pemenang sejatinya.

“Confident Travel Initiative” Jadi Strategi Boeing Pastikan Penumpang Terbang Tanpa Ragu Selama dan Pasca Corona

Asosiasi Pengangkutan Udara Internasional (IATA) menyebut industri penerbangan mungkin akan perlahan bangkit setelah kuartal II atau Juli mendatang. Bersiap dengan kemungkinan tersebut, Boeing dilaporkan akan mendorong penumpang untuk kembali bepergian menggunakan pesawat dengan strategi “Confident Travel Initiative”. Baca juga: Canggih! Airbus Kembangkan Sensor ‘Ubur-ubur’ untuk Deteksi Virus Corona dan Bahan Peledak Inisiatif yang dipimpin langsung oleh wakil presiden Boeing untuk Trnaspormasi Digital, Mike Delaney, nantinya akan menawarkan solusi baru untuk membantu meminimalkan risiko kesehatan di setiap perjalanan udara selama wabah Covid-19. Tak hanya itu, strategi tersebut juga akan mendorong kesadaran penumpang terhadap berbagai perlindungan kesehatan yang sudah ada. “Ketika perjalanan udara perlahan mulai kembali dan pembatasan (perjalanan) mereda di seluruh dunia, kesehatan dan keselamatan tetap menjadi prioritas utama kami, mulai dari bagian tim yang merancang, memproduksi, dan melayani (pembelian) pesawat terbang serta semua yang menerbangkannya,” kata Presiden sekaligus CEO Boeing, David Calhoun, sebagaimana dikutip dari foxbusiness.com. “Keahlian teknis mendalam Mike, keterampilan kepemimpinan, pengetahuan industri, dan hasrat besar bagi pelanggan kami membuatnya memiliki kualifikasi unik untuk memimpin upaya ini,” tambahnya. Guna memuluskan strategi tersebut, tim “Confident Travel Initiative” nantinya tidak akan bekerja sendiri, melainkan juga akan menggandeng berbagai pihak terkait, mulai dari maskapai penerbangan, regulator global, pemangku kebijakan industri dunia penerbangan, penumpang, pakar penyakit menular, dan spesialis perilaku atau kebiasaan penumpang untuk membuat rekomendasi aturan-aturan keselamatan di seluruh industri agar memastikan penumpang dan kru maskapai dapat kembali bepergian dengan pesawat tanpa ada keraguan sedikitpun. Di samping itu, mereka (tim “Confident Travel Initiative”) juga akan bekerja dengan operator penerbangan untuk memberi tahu penumpang dan kru tentang bagaimana pesawat dibersihkan dengan rutin dan secara menyeluruh menggunakan bahan-bahan atau cairan disinfektan yang telah terverifikasi kualitasnya, dalam hal ini teruji untuk membunuh virus corona. Selain itu, tim juga akan mengadvokasi penggunaan masker, pemeriksaan suhu, serta berbagai prosedur lainnya yang ditingkatkan di seluruh pesawat Boeing; termasuk di dalamnya, Boeing juga akan mempromosikan teknologi High Efficiency Particulate Arresting (HEPA) dinilai mampu menyerap dan mengubah udara kotor (bahkan ukuran lebih kecil dari dari 2,5 mikrometer sekalipun) menjadi udara yang bisa diterima dengan baik oleh tubuh serta diklaim mampu membunuh 99 persen bakteriologis, tak terkecuali dengan virus Cina. “Komitmen kami untuk memastikan kesehatan penumpang dan kru maskapai tidak tergoyahkan. Kami bekerja dengan berbagai pihak untuk meningkatkan prosedur kebersihan pesawat dan mengidentifikasi area lain untuk mengurangi risiko penularan penyakit melalui udara (airborne),” ujar Mike Delaney. Baca juga: Tragis! Boeing 737 Southwest Airlines Tabrak Orang Hingga Tewas Saat Mendarat Senada dengan CEO Air Canada, Calin Rovinescu, terkait proses recovery untuk sampai kembali ke titik sebelum adanyan pandemi corona, CEO Boeing, David Calhoun, memperkirakan setidaknya dibutuhkan waktu tiga tahun. “Jika saya mensurvei semua pelanggan kami dan saya mulai dari sini (survei tersebut) di AS, dan tentu saja kami lakukan, sebagian besar berusaha menghubungi dengan pengembalian sekitar 30 persen hingga 50 persen pada akhir tahun ini. Banyak yang akan tergantung pada bagaimana publik merespons keamanan kabin maskapai, dan lain sebaginya,” tutup Calhoun.

Pengguna GoJek Kini Bisa Cek Suhu Tubuh Pengemudi Lewat Aplikasi

Sepertinya aplikasi ride hailing besutan ank bangsa ini tak kehilangan ide untuk memberi kenyamanan pelanggannya. Ya, GoJek Indonesia baru-baru ini menghadirkan inovasi fitur informasi status suhu tubuh mitra driver dan kebersihan kendaraan mereka. Hal ini dilakukan GoJek untuk terus memastikan keamanan konsumen dan mitra pengemudi di tengah Covid-19. Baca juga: Pasca Pandemi Corona, Haruskah Seluruh Bandara Tetap Lakukan Pemeriksaan Suhu Tubuh? Mulai minggu ini jutaan pengguna GoJek dapat melihat fitur tersebut saat memesan layanan mereka di aplikasi seperti GoRide, GoCar, GoFood dan lainnya. Bisa dikatakan aplikasi ride hailing ini menjadi pertama di Indonesia yang meluncurkan fitur informasi suhu tubuh mitra pengemudi. “Kepercayaan masyarakat terhadap layanan GoJek merupakan tanggung jawab yang senantiasa di jaga dengan baik. Oleh karena itu, pihaknya berkomitmen untuk terus menghadirkan berbagai inovasi dan inisiatif yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat baik sebelum maupun selama pandemi Covid-19 in,” ujar Chief Operations Officer Gojek Hans Patuwo yang dikutip KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber. Dia mengatakan, tim operasional dan engineering GoJek bekerja keras dalam menghadirkan inovasi-inovasi yang dibutuhkan masyarakat maupun mitra pengemudi. Hans menjelaskan saat memesan layanan GoJek, pengguna akan mengetahui status pengecekan tubuh mitra pengemudi dan status desinfeksi kendaraan. “Fitur ini merupakan wujud keseriusan kami dalam memastikan semakin meningkatnya standar operasional layanan yang aman di tengah pandemi Covid-19,” tambahnya. Hans menambahkan, secara bertahap, fitur status suhu pengemudi dan kebersihan kendaraan akan diimplementasikan pada layanan belanja, pengantaran barang dan logistik. Adapun informasi ini merupakan rekaman dari aktivitas pelayanan terhadap mitra pengemudi di 130 titik posko aman GoJek yang tersebar di 16 kota besar di Indonesia. Di posko tersebut, pihak GoJek melakukan pengecekan suhu tubuh driver dan melakukan disinfeksi terhadap kendaraan yang digunakan mitra pengemudi. Informasi itulah yang kemudian akan diunggah ke dalam database dan kemudian ditampilkan di aplikasi pengguna. GoJek mengklaim ada ratusan ribu driver alias mitra pengemudi yang memanfaatkan fasilitas dan prosedur kesehatan di posko-posko tersebut. Inisiatif ini merupakan langkah preventif untuk menjaga mitra driver berada pada kondisi sehat saat memberikan layanan kepada pelanggan. Setiap mitra yang aktif didorong untuk rutin mengunjungi Posko Aman Bersama GoJek. Diketahui, sebelumnya, GoJek juga telah menyiapkan jutaan item masker, hand sanitizer dan dalam bentuk paket kesehatan yang dibagikan kepada ratusan ribu mitra driver di lebih dari 90 kota. Distribusi paket kesehatan terutama 5 juta masker yang diimpor GoJek akan terus dilakukan secara bertahap kepada mitra di seluruh Indonesia. Tak hanya itu, GoJek juga berusaha memastikan keamanan dan kesehatan pengguna yang tetap harus beraktivitas selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diberlakukan di beberapa kota. GoJek juga sudah meluncurkan layanan pengantaran tanpa kontak langsung pada layanan GoFood, GoShop, GoSend dan GoMart. Baca juga: Suhu Tubuh Tinggi Saat Dicek Masuk Stasiun? PT KAI Siap Kembalikan Tiket Anda “Lewat inovasi dan teknologi, kami berupaya membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya di tengah pandemi tanpa rasa khawatir. Di situasi penuh tantangan seperti saat ini, GoJek terpacu untuk terus mempertegas dampak sosial yang bisa diberikan kepada masyarakat,” kata Hans.

Sambut 25 Mei, PT KAI Siapkan Protokol The New Normal

Indonesia akan memasuki kehidupan normal yang baru atau disebut dengan new normal. Maka dari itu, PT Kereta Api Indonesia (KAI) saat ini bersiap untuk menyambut skenario tersebut di lingkungan mereka sebagai tindak lanjut arahan Menteri BUMN Erick Thohir yang menerbitkan surat dengan No.336/MBU/05/2020 pada 15 Mei 2020 terkait antisipasi skenario The New Normal BUMN. Baca juga: PT KAI Operasikan “Kereta Luar Biasa,” Ini Dia Aturannya Direktur Utama PT KAI Didiek Hartantyo mengatakan, pihaknya saat ini sedang mempersiapkan protokol untuk antisipasi skenario penerapan The New Normal di KAI. Dia menjelaskan, protokol tersebut akan mengatur langkah-langkah serta tahapan yang akan diterapkan oleh KAI dalam menyambut The New Normal yang dimulai pada 25 Mei 2020. Selain protokol untuk pelayanan pelanggan, protokol juga mengatur pekerja berusia 45 tahun untuk masuk kantor seperti biasa namun tetap memperhatikan aturan Pembatasan Sosisal berskala Besara (PSBB) di masing-masing wilayah kerja. “Meskipun sebagian karyawan yg berusia di atas 45 tahun masih WFH, termasuk pembagian WFO secara bergantian dan disiplin phisycal distancing, namun kami tetap berkomitmen untuk menjaga produktifitas seluruh pekerja KAI,” kata Didiek yang dikutip KabarPenumpang.com dari kai.id (17/5/2020). Didiek mengatakan, sampai saat ini KAI fokus pada layanan Kereta Api Luar Biasa (KLB) di Jawa, KA Lokal, KRL, dan KA Angkutan Barang. Hal tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab KAI utk turut serta menangani pencegahan Covid-19. Dalam pengoperasiannya, KAI tetap menjalankan protokol pencegahan Covid-19 yang diawasi oleh Satgas Covid-19 KAI yang telah terbentuk sejak Maret 2020. Khusus untuk layanan KA Penumpang, KAI akan tetap mengikuti perkembangan sesuai dengan aturan yang diterbitkan Kementerian Perhubungan selaku regulator perkeretaapian. Untuk terus bisa mendapatkan info terbaru pelayanan kereta api, masyarakat dapat menghubungi Contact Center KAI melalui telepon di 021-121, email di cs@kai.id, dan sosial media KAI 121. “Dalam masa pandemi seperti ini, KAI berkomitmen bahwa BUMN sebagai salah satu penggerak perekonomian bangsa harus tetap berjalan dengan tetap menjalankan protokol pencegahan Covid-19,” tutup Didiek. Baca juga: Anies: KRL Berpotensi Jadi Tempat Kontaminasi Virus Corona, Ini Kata KCI Terkait dengan skenario penerapan the New Normal, KabarPenumpang.com juga bertanya kepada PT Kereta Commuter Indonesia (KCI). Namun KCI yang diwakilkan oleh VP Corcomm KCI Anne Purba mengatakan belum ada skenario baru. “Kalau ada skenario baru akan kami update,” ujarnya yang dihubungi, Selasa (19/5/2020).

Anjing Kini Dilatih untuk Mengendus Gejala Covid-19

Bagaimana jika anjing digunakan untuk mendeteksi gejala virus corona? Baru-baru ini North East University di Boston, AS, terlibat dalam uji coba “anjing Covid” yang dapat mendeteksi gejala virus corona. Uji coba ini juga melibatkan Durham University di Inggris dan akan membentuk bagian dari penelitian terkait metode deteksi dini yang berpotensi non-invasif. Baca juga: Singapura Ubah Changi Exhibition Centre Jadi RS Darurat Corona dengan Segudang Fasilitas Top KabarPenumpang.com melansir dari laman northumberlandgazette.co.uk (16/5/2020), anjing-anjing yang dilatih ini biasa mengendus penyakit kanker, malaria dan parkinson yang nantinya akan dilatih secara intensif untuk menemukan Covid-19 sebelum gejala muncul. Fase pertama uji coba akan dilakukan oleh para peneliti di London School of Hygiene & Tropical Medicine (LSHTM), bekerja sama dengan amal Anjing Deteksi Medis (MDD) dan Universitas Durham. Ini akan menentukan apakah enam anjing, campuran labradors dan cocker spaniel, mampu mendeteksi coronavirus pada manusia dari sampel bau. Mereka akan dilatih menggunakan sampel dari orang yang terinfeksi virus corona dan mereka yang tidak terinfeksi, karena beberapa penyakit pernapasan diketahui mengubah bau badan. “Kami benar-benar senang mendapatkan dana ini sehingga kami dapat memulai penelitian penting ini. Jika kita dapat menunjukkan bahwa anjing terlatih kita dapat mengidentifikasi orang yang membawa virus, tetapi siapa yang tidak sakit, itu akan menjadi pengubah permainan. Kami kemudian akan dapat meningkatkan penggunaan anjing di pelabuhan masuk untuk mengidentifikasi pelancong yang memasuki negara itu dengan virus. Ini penting untuk mencegah gelombang kedua epidemi,” kata Profesor Steve Lindsay, dari Departemen Biosains di Durham University. Menteri Inovasi, Lord Bethell mengatakan, anjing-anjing bio-deteksi sudah mendeteksi kanker spesifik dan kami percaya inovasi ini mungkin memberikan hasil yang cepat sebagai bagian dari strategi pengujian kami yang lebih luas. “Akurasi sangat penting sehingga percobaan ini akan memberi tahu kita apakah ‘Covid dogs’ dapat mendeteksi virus dengan andal dan menghentikan penyebarannya,” kata Bethell. Penelitian yang dikumpulkan oleh MDD telah menunjukkan bahwa anjing dapat dilatih untuk mendeteksi bau penyakit pada pengenceran setara dengan satu sendok teh gula di dua kolam air berukuran Olimpiade. Badan amal memperkirakan bahwa setiap hewan dapat menyaring hingga 250 orang per jam setelah dilatih. Profesor James Logan, kepala departemen pengendalian penyakit di LSHTM, mengatakan ia “berharap” ini akan berhasil. “Pekerjaan kami sebelumnya telah menunjukkan bahwa malaria memiliki bau yang khas, dan dengan Anjing Deteksi Medis, kami berhasil melatih anjing untuk mendeteksi malaria secara akurat. Ini, dikombinasikan dengan pengetahuan bahwa penyakit pernafasan dapat mengubah bau badan, membuat kami berharap bahwa anjing juga dapat mendeteksi Covid-19. Jika berhasil, pendekatan ini dapat merevolusi cara kami mendeteksi virus, dengan potensi untuk menyaring jumlah orang yang tinggi,” kata Logan. Dr Claire Guest, salah satu pendiri dan kepala eksekutif Medical Detection Dogs, mengatakan, pihaknya senang bahwa Pemerintah telah memberi kami kesempatan untuk menunjukkan bahwa anjing dapat memainkan peran dalam perang melawan Covid-19. Dia menyebutkan bahwa anjing-anjing memiliki potensi untuk membantu dengan menyaring orang dengan cepat. Bahkan ini bisa menjadi vital di masa depan. Claire yakin anjing mereka akan dapat menemukan bau Covid-19 dan mereka kemudian akan pindah ke tahap kedua untuk mengujinya dalam situasi langsung, setelah itu pihaknya berharap dapat bekerja dengan agensi lain untuk melatih lebih banyak anjing untuk ditempatkan. “Anjing sekali lagi dapat menyelamatkan banyak nyawa. Kami telah menunjukkan keahlian kami dalam mendeteksi penyakit anjing dengan berhasil melatih anjing untuk mendeteksi penyakit seperti kanker, Parkinson dan malaria, dan kami menerapkan ilmu yang sama untuk melatih Anjing Siaga Bantuan Medis yang menyelamatkan jiwa untuk mendeteksi perubahan bau pada individu yang disebabkan oleh kondisi kesehatan mereka,” kata dia. Baca juga: Gegara Virus Corona, Puluhan Ribu Hewan Peliharaan Terancam Mati Kelaparan di Wuhan “Kami yakin anjing kami mampu menemukan ‘bau’ COVID-19 dan selanjutnya kami akan pindah ke tahap kedua untuk menguji mereka dalam uji langsung di lapangan, setelah itu kami berharap dapat bekerja dengan lembaga lain untuk melatih lebih banyak anjing untuk penugasan,” tambahnya.

Kuwait Hadirkan Fasilitas Pengujian Drive-Through Covid-19 di Bandara

Sejak 13 Maret 2020 lalu, Kuwait menangguhkan semua penerbangan komersial. Bahkan pemerintah juga menutup toko, mall dan tempat pangkas rambut dalam upaya mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19. Tak hanya itu, pemerintah Kuwait juga memberlakukan jam malam penuh di negara tersebut. Baca juga: Bandara Gerald R Ford Tingkatkan Pembersihan Anti Corona dengan Elektrostatik Meski sudah banyak aturan yang diterapkan negara tersebut selama pandemi Covid-19, baru-baru ini tepatnya pada hari Minggu (17/5/2020), Kuwait meluncurkan pusat pengujian virus corona drive-through di Bandara Internasional Kuwait. Pusat pengujian ini merupakan yang pertama di Kuwait dan dibuat untuk meningkatkan kemampuan pengujian Covid-19 di negara itu.
Para petugas tes virus corona (Xinhua)
KabarPenumpang.com melansir dari laman outlookindia.com (17/5/2020). Menteri Kesehatan Bassel Al-Sabah mengatakan akan membantu meningkatkan jumlah tes untuk menemukan kasus infeksi yang tidak dilaporkan. Pusat pengujian virus corona drive-through di bandara ini akan memilh secara acak sebanyak 180 warga dan penduduk untuk pengujian per harinya. “Pusat pengujian drive-through tersebut bisa menerima mobil sebanyak 15 unit sekaligus,” kata Al-Sabah. Dalam hal ini, kementerian kesehatan juga akan bekerja sama dengan otoritas publik untuk informasi sipil supaya mengirim pesan teks kepada invidu yang dipilih dengan perincian lengkap agar bisa melakukan pengujian. Saat ini diketahui Kuwait melaporkan ada 13.802 kasus Covid-19 dengan 107 orang meninggal. Diketahui, pusat pengujian virus corona drive-through ini menggunakan fasilitas parkir yang diubah oleh Jazeera Airways. Mereka mengkonversi fasilitas Park & ​​Fly dalam waktu singkat untuk digunakan secara gratis oleh Departemen Kesehatan untuk melakukan tes dan pengujian Covid-19. Tim desain dan teknik Jazeera Airways mengkonfigurasi ulang fasilitas untuk mematuhi persyaratan ketat dari otoritas kesehatan setempat. “Fasilitas Park & ​​Fly kami adalah lokasi dan skala yang ideal untuk membangun pusat pengujian dan melengkapinya dengan kebutuhan Kementerian Kesehatan. Kami sangat berterima kasih untuk dapat berkontribusi dalam segala cara untuk upaya luar biasa yang dilakukan oleh Negara Kuwait untuk memerangi virus. Aset dan sumber daya manusia kami siap membantu Kuwait,” ujar Jazeera Airways, Marwan Boodai. Baca juga: Virus Corona Justru Bikin Bandara Terpencil Ini Jadi yang Tersibuk di Dunia Fasilitas pengujian drive-through kedua sedang dibangun juga oleh tim Jazeera Airways di stadion nasional Jaber Al-Ahmad untuk dioperasikan oleh Kementerian Kesehatan.

90 Tahun Lalu, Pramugari Pertama AS Bekerja Nyambi Jadi ‘Perawat’ di Pesawat

Sebelum 15 Mei 1930, profesi pramugari mungkin tak pernah sepopuler saat ini, dengan sederet glomouritas yang dipertontonkan oleh para pramugari itu sendiri di seluruh dunia. Padahal saat itu, ditelaah dari kebutuhan, profesi pramugari atau awak kabin, dibayangan beberapa pihak, harusnya sudah dibutuhkan untuk menemani penerbangan. Baca juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot Akan tetapi, di awal kemunculannya dahulu, pramugari tidak pada tupoksi yang kita kenal saat ini, melayani penumpang dengan berbagai suguhan dan memberikan informasi seputar keselamatan terbang. Ellen Church, pramugari pertama di Amerika Serikat (AS) atau airline stewardess (sebutan familiar kala itu sebelum muncul istilah flight attendant sebagai gantinya) mungkin tahu betul betapa berat tugas yang dipikul pramugari kala itu. Dikutip dari thepointsguy.com, dengan teknologi yang terbatas atau belum secanggih saat ini, penerbangan jarak dekat pun bisa dilahap oleh pesawat dengan waktu tempuh yang cukup lama dan membutuhkan beberapa kali pemberhentian untuk mengisi bahan bakar. Kemudian, saat di awal-awal penerbangan komersial dan sebelum munculnya profesi awak kabin, pesawat yang digunakan adalah pesawat dengan kabin tidak bertekanan dan terbang di ketinggian terbatas. Praktis, pesawat akan menghadapi lebih banyak turbulensi dan membuat penerbangan menjadi lebih mengerikan dari saat ini. Selain kedua alasan itu, menurut Thomas Petzinger Jr dalam bukunya “Hard Landing”, saat itu sebagian besar para penumpang dinilai masih cenderung takut terbang. https://www.facebook.com/afacwa/photos/a.398664403519/10157636429823520/?type=3 Dalam tiga kondisi di atas, masih menurut Thomas Petzinger Jr dalam bukunya, mengatakan bahwa ide untuk menghadirkan wanita cantik serta memiliki pengetahuan dan terlatih di bidang kesehatan atau penanganan medis pun muncul. Ellen Church, yang kala itu masih menjadi pilot di Boeing Air Transport (yang kini dikenal sebagai United Airlines, salah satu maskapai ternama di AS) mengajukan diri untuk melakoni tantangan tersebut. Lagi pula, ia memang pada awalnya adalah seorang perawat yang kemudian menjadi pilot. Jadi, sangat sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan, wanita cantik dan terlatih secara medis. Meskipun sempat diragukan, Boeing Air Transport akhirnya mengizinkannya (yang kala itu masih berumur 25 tahun) untuk menjadi pramugari pertama di AS dan memulai penerbangan pertamanya pada 15 Mei 1930 atau 90 tahun lalu. “Ellen Church menciptakan profesi kami (pramugari) dengan diawali sebagai seorang pilot dan perawat berlisensi. Setelah dia diberitahu bahwa wanita terlalu emosional untuk berada di kokpit, dia meyakinkan Boeing bahwa wanita diperlukan di kabin untuk merawat penumpang pria yang mungkin mengalami kesulitan dengan kerasnya penerbangan (akibat turbulensi),” kata Sara Nelson, Presiden Asosiasi Pramugari (AFA), dalam sebuah pernyataan. “Kami melanjutkan pekerjaan yang Ellen mulai dengan memerangi kebijakan diskriminatif termasuk meninggalkan usia kerja pada usia 32 tahun, tetap lajang, dan berpegang teguh pada batasan ketat mengenai berat badan dan penampilan. Kami mengubah pekerjaan menjadi karier dan bahkan memperjuangkan laki-laki untuk memiliki hak yang sama dengan perempuan dalam pekerjaan. Kami juga telah memperjuangkan keselamatan dan keamanan untuk awak dan penumpang,” tambahnya. Baca juga: Inilah 20 Syarat ‘Tak Resmi’ untuk Jadi Pramugari, Nomor Dua Agak Aneh Penerbangan pertama Ellen Church sebagai perawat di dalam kabin bukanlah perjalanan singkat. Kala itu, ia langsung dihadapi dengan perjalanan 20 jam yang melelahkan dari Oakland ke Chicago dengan 13 pemberhentian selama perjalanan. Pramugari saat ini mungkin tak akan pernah mengalami apa yang Ellen Church rasakan di awal-awal penerbangan komersial. Sebaliknya, Ellen Church mungkin tidak akan pernah merasakan apa yang dialami pramugari saat ini, dengan persaingan ketat dan standar tinggi.