“Hanoi Train Track Cafe” Jadi Spot Tunggu Kereta yang Melintas di Old Quarter

Spot foto di jantung kota Old Quarter Hanoi kini menjadi incaran pelancong karena di anggap Instagramabel. Selain karena memiliki jalur kereta yang berada di antara rumah penduduk disini juga ada kedai, kafe ataupun butik pakaian. Baca juga: Hanoi Punya Jalur Kereta Aktif yang Instagramable Bagi Pelancong Nah, kali ini setelah spot fotonya, KabarPenumpang.com akan mulai membahas kafe serta kopi Vietnam yang disajikan di Old Quarter Hanoi ini. Biasanya pelancong yang datang ke sini, bukan hanya untuk berfoto tetapi juga menikmati pemandangan kereta yang melintas dari dalam kafe dekat stasiun.
(tripadvisor.co.za)
Salah satunya adalah Hanoi Train Track Cafe, letaknya berada di sisi jalur kereta. Menjadi tujuan utama selain rel kereta bagi pelancong untuk berkumpul minum dan menikmati makanan ringan sembari menanti kereta lewat untuk mengabadikannya dalam sebuah foto atau video. Mungkin tak terlihat seperti kafe, karena tempatnya yang tidak terlalu luas meski memiliki dua lantai. Tetapi banyak pelancong yang rela untuk mampir ke sini bahkan duduk di teras dengan kursi plastik atau di seberang kafe demi mendapat spot saat mengabadikan kereta yang melintas. Selain tempatnya yang nyaman, para pegawai kafe sangatlah ramah dan juga Hanoi Train Track Cafe dilengkapi dengan WiFi sehingga memudahkan pelancong untuk mengunggah foto dan video ke media sosial mereka. Bahkan harga minuman dan makanan ringan yang ditawarkan pun terjangkau sehingga tak perlu merogoh kocek dalam untuk menikmati minuman disertai pemandangan kereta melintas.
(tripadvisor.co.za)
Biasanya pelancong yang menantikan kereta melintas memilih untuk minum bir, es kelapa atau secangkir kopi Vietnam yang disajikan dengan makanan ringan. Uniknya lagi dinding Hanoi Train Track Cafe terdapat coretan tangan dari para pelancong yang menuliskan nama mereka dan asal negara serta ucapan terimakasih singkat. Mengingat Old Quarter berada di Vietnam, Hanoi Train Track Cafe juga menyediakan kopi Vietnam atau disebut Cà phê sữa đá. Ini adalah kopi dingin yang berasal dari Vietnam dan dibuat dengan cara menyeduh kopi lalu dicampurkan es batu serta susu kental manis. Proses tersebut menggunakan lebih banyak biji kopi yang telah digiling dan karenanya membutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan sebagian besar proses penyeduhan kopi. Untuk membuat kopi Vietnam dibutuhkan sebuah alat penyeduh kopi yang terbuat dari baja tahan karat dan berbentuk seperti topi. Baca juga: Tekan Angka Polusi, Hanoi Larang Sepeda Motor di Tahun 2030 Pada alat tersebut terdapat bagian pinggir yang dapat ditumpu oleh cangkir kopi. Bagian tengahnya berbentuk silinder dan memiliki lubang-lubang kecil. Apabila kopi Vietnam diminum hangat tanpa menggunakan es batu maka dinamakan sebagai Cà phê sữa nong.

Asaad Namroud, Saksi Sejarah Bahwa Jaringan Kereta di Lebanon Pernah Besar dan Eksis

Jika ditanya, apa sektor transportasi yang paling berkesan bagi orang Lebanon? Mungkin warga Lebanon akan sepakat menjawab kereta api. Lalu, kenapa kereta api bisa begitu membekas bagi warga Lebanon? Sejatinya, jaringan perkeretaapian di Lebanon sudah didirikan sejak tahun 1895 silam dan digunakan untuk mengangkut penumpang dan barang ke seluruh wilayah. Sempat ‘timpang’ akibat Perang Saudara yang terjadi sejak 1975 hingga 1990, jaringan perkeretaapian di negara ini lalu betul-betul berhenti beroperasi pada tahun 1992. Baca Juga: Kenapa Kesehatan Mata Masinis Sangat Penting? Ini Dia Jawabannya! Mengingat perannya yang cukup vital kala itu, wajar jika warga Lebanon kehilangan salah satu moda transportasi berbasis massal ini. Kendati sudah lebih dari seperempat abad menghentikan operasinya, tahukah Anda bahwa masih ada satu saksi hidup dari jaringan perkeretaapian di salah satu negara di Timur Tengah ini? Adalah Asaad Namroud, 91 tahun, merupakan salah satu train driver atau masinis yang mulai mengabdi pada jaringan perkeretaapian Lebanon sejak 17 Oktober 1946. “Aku masih ingat semuanya,” tutur Asaad penuh semangat, dikutip KabarPenumpang.com dari laman albawaba.com. Asaad mengatakan bahwa jaringan perkeretaapian yang ada di Lebanon hadir untuk orang miskin dan para pekerja, “Jaringan perkeretaapian kala itu terbukti sangat membantu dan memberikan kebaikan bagi warga Lebanon,” Tentu saja, Asaad tidak serta merta diangkat menjadi masinis kala itu, melainkan dia sempat belajar perdagangan di jalur Beirut-Aleppo, melakukan pekerjaan backbreaking membersihkan trek setelah badai atau hujan salju lebat. Setelah para petinggi kereta api puas dengan apa yang sudah dikerjakan oleh Asaad, ia pun lalu mendapatkan promosi. “Saya ditugaskan untuk mengangkut fosfat kembali ke Riyaq, dan kemudian ke pelabuhan Beirut, di mana muatan itu nantinya akan didistribusikan ke kapal yang sudah menunggu di sana,” tuturnya. Singkat cerita, Asaad juga menceritakan kenangan buruk ketika ia mengoperasikan di ular besi. “Jadi dulu ada sebuah terowongan (yang sekarang sudah tidak beroperasi) di Dahr al-Baidar, dimana terowongan tersebut memiliki atap yang rendah, sehingga kami mau tidak mau harus menghirup asap lokomotif selama melintasinya – dibutuhkan 20 menit untuk melintasi terowongan tersebut,” kenangnya. Baca Juga: Jevi Santoso, Masinis Ganteng yang Jadi Idola Penumpang KRL Jabodetabek “Di ujung terowongan (Riyaq), biasanya sudah ada tim medis yang siap untuk mengecek kesehatan kami. Teman saya sampai pernah batuk darah setelah melewati terowongan itu,” imbuh Asaad. Begitulah kenang Asaad, eks masinis jaringan perkeretaapian Lebanon yang saat ini hanya meninggalkan memori saja di setiap warganya yang pernah mengandalkannya.  

Teikiken, Tiket Komuter Hemat untuk Pekerja dan Pelajar di Jepang

Kartu uang elektronik (KUE) kini mulai digunakan pada semua moda transportasi di Indonesia. Bahkan beberapa di antaranya sudah mulai terintegrasi satu dengan yang lainnya. Seperti kartu yang dikeluarkan oleh bank, ini bisa di gunakan baik CommuterLine (KRL), TransJakarta, bus pengumpang TrnasJakarta hingga MRT yang baru saja menjadi bagian transportasi ibukota. Baca juga: Ada Tujuh Tiket di Jaringan Perkeretaapian Jepang, Jangan Salah Pilih Ya! Selain memudahkan kartu ini juga membuat penumpang tidak perlu mengantre saat membeli tiket. Nah, salah satu negara yang sudah menerapkan KUE adalah Jepang, bahkan menghadirkan Commuter Pass atau Teikiken untuk para pekerja dan pelajar. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sakura-house.com, Commuter Pass sendiri adalah sejenis paket biaya kereta api yang memiliki tujuan utama menghemat biaya perjalanan untuk rute yang sering digunakan orang dalam keseharian. Untuk mendapatkannya, pengguna hanya harus membeli kartu Suica atau Pasmo. Kemudian menentukan stasiun keberangkatan dan kedatangan penumpang dan bisa menikmati perjalanan tanpa batas antar kedua stasiun. Kemudian tentukan validitas program kapan akan dimulai dan berapa lama valid. Pengguna bisa memilih periode kadaluarsa dari satu, tiga atau enam bulan. Bila semakin lama valid, maka semakin banyak reduksi yang bisa di dapatkan. Penggunaan Commuter Pass ini juga bisa digunakan jika penumpang harus mentransfer dari Japan Railway ke kereta Metro di tengah jalan. Selain itu pun bila di total biaya, untuk berlaku selama sebuan bisa menghemat 33 persen dan bisa dikatakan semakin menghemat kantong penggunanya. Tidak hanya rute harian yang akan mendapat manfaat dari Commuter Pass, ini dapat membantu Anda menghemat uang ketika Anda pergi pada rute lain juga. Saat Anda pergi ke stasiun lain, Commuter Pass akan mencoba menemukan bagian yang tumpang tindih antara rute itu dan rute yang ditentukan dalam kampanye. Kemudian, itu akan menerapkan biaya hanya untuk stasiun yang diperluas. Misalnya, katakan Anda menerapkan Commuter Pass dengan Akabane sebagai titik awal dan Shibuya sebagai titik akhir. Bolak-balik di antara stasiun-stasiun ini dicakup oleh kampanye. Jika Anda memutuskan untuk turun di Ebisu yang berjarak satu stasiun dari Shibuya, Anda hanya perlu membayar biaya dari Shibuya ke Ebisu. Dengan Commuter Pass yang sama, Anda ingin berangkat dari Akabane dan pergi ke Akihabara. Anda dapat melakukannya menggunakan garis Keihin Tohoku walaupun garis itu tidak tumpang tindih dengan garis Saikyo. Commuter Pass akan mencoba menemukan stasiun terjauh di sepanjang jalur Saikyo yang bisa Anda turunkan dan transfer ke kereta lain yang bisa mencapai Akihabara. Dalam hal ini, itu akan mencakup stasiun Akabane ke stasiun Ikebukuro, dan akan mengurangi biaya yang sama dengan biaya dari stasiun Ikebukuro ke stasiun Akihabara (berdasarkan rute pada jalur Yamanote) dan ini sangat mengesankan. Sayangnya, Commuter Pass tidak banyak informasi dalam bahasa Inggris dan tidak ditujukan untuk pelancong. Baca juga: Pindai Kartu EZ-Link, Anda Bisa Dapatkan Peta Virtual MRT Singapura Jika Anda akan tinggal di Jepang dan menggunakan rute yang sama untuk periode bulan, Commuter Pass adalah salah satu kampanye kereta terbaik yang harus Anda pertimbangkan. Bahkan beberapa perusahaan di Jepang akan membayar Commuter Pass yang Anda gunakan.

Kenapa Demonstran Hong Kong Geruduk Bandara? Ini Dia Alasannya!

Protes berbulan-bulan yang dilayangkan oleh demonstran di Hong Kong telah merugikan banyak pihak. Ketegangan yang terjadi akibat rencana pengesahan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi ini sampai-sampai berimbas pada aktivitas yang ada di bandara dan sejumlah maskapai yang memiliki rute penerbangan menuju Hong Kong. Tentu saja ini menarik untuk dibahas, dimana para demonstran bergerak menuju bandara, padahal yang mereka protes adalah RUU Ekstradisi. Apakah korelasinya? Baca Juga: Dampak Kerusuhan RUU Ekstradisi, Bandara Hong Kong Batalkan Lebih dari 200 Penerbangan Sebelum melangkah lebih jauh, patut diinformasikan kembali bahwasanya Hong Kong merupakan bagian dari Cina daratan yang memegang erat prinsip “Satu Negara, Dua Sistem”. Di bawah perjanjian ini, Cina mengakui kemampuan Hong Kong untuk mengelola pemerintahannya sendiri, sistem hukum, ekonomi dan keuangan, sementara kedua belah pihak sepakat bahwa Hong Kong tetaplah bagian dari Cina. Protes ini sendiri dimulai dengan hadirnya usulan pemerintah Hong Kong yang didukung Beijing tentang undang-undang ekstradisi yang akan memungkinkan deportasi orang-orang dari Hong Kong – baik penduduk maupun orang asing – ke yurisdiksi di seluruh dunia di mana wilayah tersebut belum memiliki perjanjian formal apa pun, termasuk Cina. Ketakutan utama dari para demonstran ini adalah bahwa Beijing dapat menggunakan undang-undang tersebut untuk menangkap orang-orang di Hong Kong dan kemudian memindahkan mereka ke Cina daratan, di mana mereka akan dikenakan sistem hukum yang jauh dari kewajaran. Nah, lalu mengapa demonstran ini menyasar bandara sebagai salah satu titik mereka menggaungkan suaranya? Jawabannya adalah untuk menarik perhatian dunia. Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman cbsnews.com (15/8), pada tahun 2018 lalu, Hong Kong International Airport menyabet predikat sebagai bandara tersibuk ketiga di Asia, dan bandara tersibuk ke-8 di dunia berdasarkan jumlah penumpang. Dalam upayanya untuk memperlambat koneksi satu-satunya Hong Kong ke dunia yang tidak melibatkan perjalanan melalui Cina daratan, pengunjuk rasa berharap dunia akan melirik aksi yang melibatkan lebih dari dua juta orang ini. Baca Juga: Garuda Indonesia: Penerbangan dari dan ke Hong Kong Kembali Dibuka, Penumpang Diminta Update Kepastian Jadwal Terbang Ternyata aksi pengunjuk rasa ini dilirik dunia, sampai-sampai otoritas bandara harus membatalkan ratusan penerbangan mrereka selama tanggal 12 dan 13 Agustus kemarin. Namun perhatian dunia ini tertuju pada aksi perusakan yang dilakukan oleh sejumlah oknum demonstran penyekapan dua warga Cina daratan yang dianggap sebagai aksi spionase yang dilakukan oleh Beijing. Jadi, sekarang sudah jelas kan mengapa para demonstran ini menyasar bandara sebagai tempat untuk menyuarakan aksinya?    

Ternyata, Sandaran Kursi Mobil Sudah Ada Sejak 1930-an

Lelah dan ingin beristirahat sejenak ketika mengendarai mobil? Ini hal yang sangat diwajarkan dan biasanya pengemudi akan menurunkan sandaran kursi mereka untuk merebahkan diri sesaat. Baca juga: Di Zaman Koboy, Kursi Depan Penumpang Disebut “Shotgun” Sebenarnya sejak kapan ada sandaran kursi di mobil dan apakah gunanya hanya untuk bersandar atau hal lainnya? KabarPenumpang.com melansir dari laman theglobeandmail.com, kursi mobil dengan sandaran ternyata bukan sebuah penemuan yang modern. Pasalnya kursi dengan sandaran pertama kali muncul pada 1930-an dimana diperkenalkan bagi pengemudi mobil untuk tidur. Sedangkan tahun 1950-an dan 1960-an, kursi mobil dibuat sangat lapang sehingga bisa digunakan untuk tidur tanpa perlu sandaran. Sedangkan sandaran yang melengkapi kursi saat ini tidak seperti masa lalu yang bisa dengan lapang untuk tidur selonjoran. Sebab dibatasi karena ada kursi belakang yang menghalangi. Insinyur kenyamanan kursi Ford, Mike Kolich mengatakan, sandaran kursi sebagaian besar tidak dirancang untuk berfungsi ganda atau tempat tidur yang pas seperti untuk berkemah. Sandaran kursi ini juga tidak diuji secara resmi untuk kenyamanan tidur siang pengemudi. “Itu biasanya bukan tes yang kita lakukan. Saya memang ditanya apakah kursi bisa begitu nyaman sehingga pengemudi mungkin tertidur saat mengemudi, tapi itu bukan masalah,” kata Kolich. Dia menambahkan, bahwa tidak pernah memiliki pelanggan yang mengakui bahwa mereka menggunakan sandaran kursi untuk bermain-main atau meminta desain yang mungkin membuat sedikit nyaman. “Kami membaca ribuan komentar dan saya belum pernah mendapatkannya. Mungkin mereka terlalu malu untuk menulis hal seperti itu dalam catatan,” kata dia. Kolich menjelaskan, tujuan kehadiran sandaran kursi sendiri bukanlah untuk tidur siang atau malas-malasan. Dia mengatakan, percaya atau tidak ini juga terkait keselamatan dan juga untuk mendapatkan posisi yang nyaman saat mobil beroperasi. “Mobil itu tidak selalu beroperasi, terutama hari ini. Orang menggunakannya untuk kantor bergerak. Orang-orang menginginkan keserbagunaan,” ujarnya. Baca juga: Sabuk Pengaman Ternyata Sudah Ada Sejak 1800-an Selain itu, sandaran kursi juga bisa digunakan pengemudi ketika menunggu di mall, stasiun atau terminal ketika menunggu atau menjemput seseorang. Juru bicara GM Canada George Saratlic mengatakan, pengemudi bisa merebahkan kursi, menyalakan radio dan bersantai sembari menunggu.

Citilink Rute Domestik Mulai Beroperasi Sementara di Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta

Maskapai berbiaya hemat (LCC) Citilink Indonesia mulai Kamis, 15 Agustus 2019, resmi memindahkan seluruh operasional penerbangan rute domestiknya untuk sementara waktu di Bandara Soekarno-Hatta ke Terminal 2 Domestik dari sebelumnya di Terminal 1C. Baca juga: “Dining Experiences” dari Citilink Bantu Penumpang Kreasikan Set Hidangan dalam Penerbangan “Perpindahan ini dilakukan menyusul revitalisasi Terminal 1C yang dilakukan oleh Angkasa Pura II (Persero) selaku pengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan sebagai upaya perusahaan untuk meningkatkan kenyamanan penumpang,” kata VP Corporate Secretary & CSR Citilink Indonesia Resty Kusandarina yang dikutip KabarPenumpang.com dari siaran pers, Kamis (15/8/2019). Citilink Indonesia telah melakukan persiapan secara intensif dan berkoordinasi dengan stakeholders untuk memastikan operasional berjalan dengan aman dan lancar dan penerbangan on time sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Resty menambahkan bahwa dengan dengan fasilitas dan infrastruktur memadai di terminal 2 Domestik, maka diharapkan mampu meningkatkan pre- maupun post-flight experience penumpang Citilink Indonesia yang melakukan perjalanan dari dan menuju Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Adapun penumpang yang akan melakukan perjalanan dalam negeri dengan Citilink Indonesia dapat menuju ke Terminal 2 Domestik Bandara Internasional Soekarno-Hatta dan masuk ke Check In Counter melalui gate 3. Jadwal penerbangan Citilink Indonesia tidak mengalami perubahan. Namun demikian, penumpang diimbau untuk tiba di bandara tiga jam lebih awal sebelum jadwal keberangkatan serta melakukan check in melalui aplikasi ataupun web untuk mengantisipasi padatnya flow penumpang selama masa transisi. Citilink Indonesia telah melakukan sosialisasi perpindahan terminal di Bandara Soekarno-Hatta ini baik melalui website, SMS, Call Center, ataupun media sosial sehingga calon penumpang terinformasikan dengan baik. Selain itu, sosialisasi di bandara juga dilakukan dengan memasang videotron ataupun digital sign yang dipasang di kawasan Bandara Soekarno-Hatta. Selama masa transisi, Citilink Indonesia bekerjasama dengan stakeholders juga menyediakan fasilitas shuttle gratis untuk penumpang dari Terminal 1C ke Terminal 2 Domestik serta menyiagakan sejumlah petugas untuk mengantisipasi apabila ada penumpang yang salah terminal. Baca juga: Mulai 15 Agustus, Ada Revitalisasi di Bandara Soekarno-Hatta, Citilink Rute Domestik Pindah Ke Terminal 2 Selain itu, selain di Terminal 2 Domestik selama masa transisi penumpang juga masih dapat melakukan check in mandiri (self check in) di Terminal 1C menggunakan mesin yang tersedia disana.

Mesin Mendadak Mati, Lufthansa LH732 Tujuan Shanghai Terpaksa Putar Arah ke Frankfurt

Queen of the Skies yang dioperasikan oleh maskapai asal Negeri Bavaria, Lufthansa dikabarkan terpaksa menghujani sebuah pedesaan dengan avtur setelah salah satu mesin mengalami masalah dan pilot memutuskan untuk return to base. Mesini ketiga dari Boeing 747 ini mengalami macet dan membuat pilot ragu untuk melanjutkan penerbangan dari Frankfurt menuju Shanghai pada Minggu (11/8) kemarin. Beruntung, insiden ini tidak memakan korban sama sekali. Baca Juga: Panel Sayap Lepas, Boeing 777-300ER China Eastern Terpaksa Return to Base Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman simpleflying.com (13/8), Lufthansa LH732 merupakan layanan penerbangan terjadwal yang dijadwalkan berangkat dari Frankfurt pada pukul 22.05 waktu setempat dan tiba di Shanghai pada pukul 14.50 waktu setempat keesokan harinya. Namun ada yang berbeda dari penerbangan pada tanggal 11 Agustus tersebut, dimana pesawat mengalami keterlambatan selama hampir satu jam. Ketika jam menunjukkan pukul 22.54 waktu setempat, LH732 baru tinggal landas dan prosesi masih berjalan normal sampai saat itu. Tak lama berselang, pilot mendeteksi mesin inboard sebelah kanan mati. Seketika itu juga, pilot langsung berusaha menaikkan ketinggian jelajah ke level 18.000 kaki untuk membuang bahan bakar karena pilot memutuskan untuk return to base dan melakukan pendaratan darurat.
Sumber: flightradar24
Sebenarnya LH732 bisa saja membuang bahan bakar di daerah Eshwege, namun kala itu tengah ada festival musik Open Flair yang dihadiri oleh lebih dari 20.000 orang – tidak mungkin untuk membuang bahan bakar di daerah sana. Mana sang pilot memutuskan untuk membuang bahan bakar di daerah pedesaan Hesse, Jerman. Sekira 90 menit pesawat meninggalkan landas pacu di Frankfurt, LH732 kembali ke landas pacu yang sama dan sejumlah petugas darurat seperti mobil pemadam dan ambulans sudah berjaga-jaga di lokasi alih-alih ada situasi yang membutuhkan penanganan cepat. Baca Juga: Enam Jam ‘Terombang-Ambing’ di Udara, KLM Flight 591 Akhirnya Return to Base ke Amsterdam Menanggapi kejadian ini, pihak Lufthansa mengatakan, “Sebagai tindakan pencegahan, petugas pemadam kebakaran bandara juga tiba mengawal pendaratan darurat, yang merupakan prosedur standar dalam kasus-kasus seperti itu,” “Keselamatan adalah prioritas utama Lufthansa setiap saat. Lufthansa menyesalkan ketidaknyamanan yang ditimbulkan pada penumpang dan menyediakan pesawat pengganti keesokan paginya untuk mengangkut penumpang ke Shanghai,” ujar pihak Lufthansa dalam sebuah pernyataan resmi.  

Peringati ASEAN Day, AirAsia Tampilkan Livery Spesial yang Sarat Makna

Sebagai salah satu bentuk penyegaran terhadap livery yang terpampang di armadanya dan dalam rangka memperingati ASEAN Day yang jatuh pada tanggal 8 Agustus kemarin, maskapai berbiaya rendah asal Malaysia, AirAsia meluncurkan varian Airbus A320 dengan livery yang bertuliskan “Sustainable ASEAN”. Peluncuran livery spesial ini sendiri terjadi di Bangkok pekan lalu dan dihadiri langsung oleh CEO dari AirAsia, Tony Fernandes. Baca Juga: Ekspansi Bisnis Besar-Besaran, AirAsia Berencana untuk Ganti Slogan! Seperti yang disarikan KabarPenumpang.com dari bebagai laman sumber, tidak hanya logo dari ASEAN Chairmanship saja ayng terpampang pada body Airbus A320 ini, melainkan juga ikon pariwisata terbaik yang ada di wilayah Asia Tenggara, dimana pemasangan gambar ini ditujukan untuk mempromosikan sektor pariwisata yang ada ke mata dunia – dan labih lanjut, negara-negara di Asia Tenggara ini dapat diakui secara global. Tidak hanya sektor pariwisata saja yang akan disasar oleh AirAsia di balik pemasangan livery ini, melainkan juga dari sektor ekonomi juga senantiasa akan terangkat derajatnya. Acara peluncuran ini sendiri dihadiri oleh wakil sekretaris jenderal ASEAN AKP Mochtan, Menteri Pariwisata dan Olahraga Thailand Chote Trachu dan Kementerian Transportasi Thailand, Chaiwat Thongkamkoon, bersama dengan ketua eksekutif AirAsia Group Datuk Kamarudin Meranun dan tentu saja Tony Fernandes selaku CEO dari AirAsia Group. “Sebagai maskapai yang benar-benar ‘ASEAN’, kami senang dapat menunjukkan apa yang membuat rumah kami terlihat lebih istimewa di salah satu pesawat kami dan untuk menegaskan kembali komitmen berkelanjutan kami untuk sesuatu yang lebih keberlanjutan,” ujar Tony Fernandes. Di balik pernyataan Tony tadi, adapun poin berkelanjutan yang tengah diupayakan AirAsia adalah sektor pendidikan tamu, reduksi karbon selama penerbangan, hingga pengelolaan limbah yang dilakukan oleh AirAsia Foundation. Baca Juga: Dengan Santan, AirAsia Tawarkan ‘Restoran’ Cepat Saji dalam Penerbangan Pesawat Airbus A320 dengan nomor registrasi 9M-AJW akan berbasis di Malaysia, di mana ia akan terbang ke lebih dari 50 tujuan di semua 10 negara anggota ASEAN dari Kuala Lumpur. AirAsia juga akan meluncurkan livery pada Airbus A320 yang berbasis di Bangkok akhir tahun ini.

Ini Dia Maskapai Asing yang Sabet Predikat Terburuk dalam Tanggapi Keluhan Penumpang

Ada yang mondar-mandir tidak jelas, ada yang duduk tenang sembari mendengarkan tembang favorit dari gadget masing-masing, hingga ada yang rela meninggalkan ruang tunggu keberangkatan hanya untuk membakar tembakau demi menenangkan diri. Ya, itulah kira-kira skema yang dapat Anda lihat ketika pesawat Anda mengalami keterlambatan pemberangkatan. Tidak puas dengan pelayanan pihak maskapai? Tentu pertanyaan ini tidak bisa digeneralisasi mengingat treatment yang berbeda dari masing-masing maskapai dalam menangani keterlambatan pemberangkatan. Baca Juga: Terkendala Masalah Komputer, Ratusan Penerbangan British Airways Dibatalkan Menilik pada fenomena yang ada di Indonesia, mungkin nama maskapai swasta Lion Air menjadi yang paling depan muncul ketika membicarakan soal keterlambatan. Dari sekian banyak kasus keterlambatan yang dilakukan oleh Lion Air, tidak banyak kompensasi yang diberikan oleh pihak maskapai kepada penumpang – apakah itu berupa pemberian makanan dan minuman, akomodasi penumpang (diberi voucher menginap apabila yang tertunda adalah penerbangan tengah malam), atau bahkan refund tiket penumpang. Mungkin Anda masih ingat dengan kasus mati listrik pada pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT556 tujuan Jakarta – Yogyakarta. Kasus yang terjadi pada tanggal 15 November 2018 lalu ini mengakibatkan penumpang mengalami keterlambatan pemberangkatan hingga kurang lebih tiga jam lamanya dan pihak maskapai hanya memberikan kompensasi berupa nasi bungkus dengan isi yang bisa dibilang seadanya. Namun bagaimana dengan maskapai yang ada di luar sana? Apakah mereka berlaku sama dengan apa yang dilakukan oleh Lion Air di Indonesia? Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman mirror.co.uk (26/7), ternyata salah satu maskapai asing di luar sana yang terkenal memiliki citra buruk dalam menangani keterlambatan pemberangkatan adalah British Airways. Dalam sebuah survei, satu dari tujuh penumpang maskapai dari Tanah Britania ini puas dengan keluhan keterlambatan penerbangan yang mereka lontarkan. “Penumpang bukan hanya kecewa terhadap pelayanan pihak maskapai yang buruk – bahkan British Airways gagal dalam menangani keluhan penumpang ketika ada penerbangan ditunda atau dibatalkan,” ujar seorang pelancong, Naomi Leach. Berbanding terbalik dengan maskapai kontoversial asal Irlandia, Ryanair, dimana sekitar 58 persen dari keseluruhan penumpang mengaku puas dengan pelayanan yang diberikan oleh pihak maskapai – terlebih ketika penerbangan mereka mengalami penundaan atau pembatalan. Tidak usah menanyakan tentang maskapai kelas wahid lainnya dalam urusan menangani penumpang. Presentase kepuasan penumpang dari beberapa contoh maskapai wahid adalah: Emirates 74 persen, Jet2 dan Virgin Atlantic dengan angka 73 persen. Baca Juga: Dua Hari Tanpa Akomodasi dan Makanan, 200 Penumpang British Airways Terlantar di Bandara Aksi serampangan yang dilakukan oleh pihak British Airways ini agaknya sudah bukan menjadi sebuah rahasia lagi. Pukul mundur ke 1 November 2018 silam, dimana kurang lebih 200 penumpang British Airways Flight 2036 ini terlantar di John F. Kennedy International Airport di New York selama dua hari setelah sebelumnya penerbangan yang menghubungkan Orlando dengan Gatwick International Airport mengalami kendala mesin dan memaksa pilot untuk melakukan pendaratan darurat di New York. Menurut penuturan salah satu penumpang, pihak maskapai terkesan lepas tangan terkait insiden tersebut – tidak ada koompensasi berupa makanan, minuman, atau bahkan akomodasi penumpang. Walhasil, penumpang British Airways Flight 2036 ‘dipaksa’ beristirahat di sekitaran bandara dengan fasilitas seadanya.

Australia, Jadi Satu-satunya Benua Tanpa Kereta Cepat!

Mantan Direktur Pelaksana Hitachi Consultin, Gary Fisher pernah berkata suatu waktu, “Australia adalah satu-satunya benua di planet ini, selain Antartika, yang tidak memiliki kereta berkecepatan tinggi,” Baca Juga: Meski Diidamkan, Hadirnya Kereta Cepat di Australia Belum Dipandang Ideal Hadirnya jaringan kereta berkecepatan tinggi seolah sudah menjadi penanda kedigdayaan suatu negara atau benua. Daya angkut yang relatif banyak dan dikombinasikan dengan kecepatan yang melebihi kereta konvensional membuat kereta cepat seolah menjelma menjadi primadona baru di sektor transportasi darat. Akademisi dari University of Wollongong, Philip Laird pernah menghitung bahwa ada kurang lebih US$125 juta atau yang setara dengan Rp1,8 triliun yang telah dihabiskan untuk studi pengadaan kereta api berkecepatan tinggi, tetapi tidak ada satu kilometer pun koridor yang tersedia hingga saat ini. “Jaringan kereta api berkecepatan tinggi kerap kali masuk ke dalam wacana, namun hingga saat ini hanyalah sekedar wacana saja,” tutur Philip. Tidak adanya tindakan yang benar-benar serius untuk mengadakan jaringan kereta api berkecepatan tinggi menjadi salah satu batu sandungan terbesar bagi Australia – kendati kondisi belakangan ini sudah semakin mendesak otoritas setempat untuk menghadirkan moda transportasi baru ini. Kemacetan yang semakin parah, yang berjalan seiring dengan meningkatnya polusi udara di sana menjadi faktor pendorong pengadaan kereta cepat di garda paling depan. Pun dengan jalur lalu lintas udara yang belakangan ini mencetuskan satu fakta mencengangkan baru – penerbangan dari Sydney menuju Melbourne menjadi rute udara domestik tersibuk kedua di dunia, dengan 54.519 penerbangan dalam setahun. Mau tidak mau, otoritas harus sesegera mungkin untuk menaruh fokus lebih di pengadaan jaringan kereta cepat. Beragam polemik yang menyelimuti pengadaan jaringan kereta cepat ini agaknya terlalu panjang untuk dirunut dari awal – mulai dari peranan pihak swasta, hingga hibah sejumlah dana yang hingga kini tidak jelas juntrungannya. Baca Juga: PM Australia Canangkan Hyperloop untuk Rute Sydney-Melbourne Jika Negara Kangguru ini masih enggan untuk serius dalam pengadaan jaringan kereta berkecepatan tinggi, setidaknya ada upaya lain yang masih bisa mereka dalihkan sebagai pengganti – peningkatan kualitas secara keseluruhan pada jaringan kereta konvensional. Philip mengatakan, bisa saja Australia mengikuti jejak negara lain yang juga tidak memiliki jaringan kereta api berkecepatan tinggi, “dan perlahan meningkatkan kualitasnya satu per satu,” Kualitas yang dimaksudkan di sini adalah dari segi kecepatan moda, kenyamanan dan daya angkut penumpang, hingga kereta baru yang dapat mengular di jaringan yang sebelumnya sudah tersedia.