Duh, Pintu Boeing 777 British Airways Copot Usai Turunkan Penumpang, Ini Penyebabnya

Pintu depan sebelah kiri pesawat Boeing 777 British Airways copot. Beruntung, ini tidak terjadi saat pesawat berada di ketinggian hingga menyebabkan dekompresi eksplosif, melainkan saat di bandara usai menurunkan penumpang. Lantas, bagaimana bisa pintu pesawat copot begitu saja bila bukan tanpa sebab?

Baca juga: [Video] Ngeri! Pintu Kargo Boeing 737-200 Aerosucre Terbuka Saat di Udara

Dilansir onemileatatime.com, pesawat Boeing 777-200ER British Airways mendarat mulus di Bandara Cape Town, Afrika Selatan, usai melahap penerbangan vertikal dari London. Pesawat berusia 21 tahun dengan kode registrasi G-YMMH terbang dari London pada Selasa malam dan mendarat di Cape Town pada Rabu dini hari.

Usai mendarat, seperti biasa, pilot mengarahkan pesawat ke apron dan petugas ground handling menyambungkan garbarata atau jetbridge dengan pintu pesawat untuk memudahkan penumpang turun. Sampai di sini, prosesnya lancar tanpa kendala atau insiden apapun. Pintu pesawat juga masih berada di tempatnya dengan gagah.

Namun, setelah seluruh penumpang turun, kargo di lambung pesawat selesai diangkut, dan kru kabin telah melakukan re-check khawatir ada penumpang atau barang yang tertinggal, seharusnya petugas melepas jetbridge atau garbarata dengan pesawat terlebih dahulu.

Entah apa yang ada dibenak petugas aircraft tractor atau pushback tractor ketika itu. Alih-alih menunggu garbarata selesai dilepas dari pesawat, ia malah mendorong atau mem-pushback pesawat. Alhasil, pintu depan sebelah kiri pesawat Boeing 777 British Airways pun lepas alias copot.

Insiden copotnya pintu pesawat Boeing 777 British Airways memang tidak mengganggu lalu lintas penerbangan di Bandara Internasional Cape Town. Usai mendarat, Boeing 777 British Airways biasanya parkir di bandara selama 12 jam dan melakoni penerbangan balik ke London. Setelah kejadian itu, praktis penerbangan balik ke London fligth BA42 pada pukul 20:50 waktu setempat dibatalkan.

Sebab, British Airways tidak mempunyai pesawat cadangan di bandara itu. Sedangkan maskapai sulit untuk mengirim pesawat pengganti dari dari homebase mereka di London, melahap penerbangan 11-12 jam ke Cape Town. Itu terlalu lama dan tidak akan keburu.

Baca juga: Pernah Berpikir untuk Membuka Pintu Pesawat Saat di Udara? Mustahil!

“Kami telah meminta maaf kepada pelanggan kami atas sedikit keterlambatan keberangkatan mereka dari Cape Town karena masalah dengan pesawat aslinya. Pelanggan kami melanjutkan perjalanan mereka dengan aman ke London dengan layanan alternatif,” kata juru bicara British Airways.

Penumpang rute Cape Town ke London British Airways fligth BA42 yang dibatalkan, akhirnya bisa diterbangkan dengan pesawat lain dengan flight BA 58 di hari berikutnya di jam yang sama, yaitu pukul 20:50 waktu setempat. Flight ini sebetulnya dijadwalkan pukul 18:55 waktu setempat. Namun, itu ditunda jadi pukul 20:50 waktu setempat agar penumpang yang batal diberangkatkan kemarin bisa diangkut.

Kaca Depan Retak Saat di Udara, Pesawat Air New Zealand Mendarat Darurat di Hong Kong

Pesawat Boeing 787-9 Air New Zealand dilaporkan mendarat darurat di Hong Kong akibat kaca depan pesawat retak saat di tengah penerbangan dari Christchurch ke Guangzhou. Ketika pilot menyadari kaca depan retak, pesawat tengah di ketinggian 41 ribu kaki dan cepat-cepat menurunkan ketinggian ke 37 ribu kaki, 22 ribu kaki, terus turun sampai mendarat di Hong Kong.

Baca juga: Pernah Dengar Seberapa Tebal Kaca Pesawat? Simak Di Sini Jika Belum

Laporan The Standard, pilot mulai menyadari kaca depan pesawat dengan nomor registrasi ZK-NZH itu retak saat melintasi Laut China Selatan, sebelah barat Filipina.

Kita tahu, kaca depan pesawat atau biasa juga disebut flight deck windshields umumnya memiliki tiga lapis. Beberapa pesawat ada yang empat lapis, termasuk pesawat Boeing 787-9 Air New Zealand.

Lapis pertama, kaca depan pesawat terbuat dari campuran kaca dan akrilik. Keduanya disatukan dengan teknik glass frit bonding, juga disebut sebagai solder kaca atau seal glass bonding. Jadi, pada intinya, teknik ini memadukan lapisan luar kaca dengan akrilik yang direnggangkan.

Lapis kedua, kaca depan pesawat terbuat dari urethane, termasuk jenis dari polimer yang lumrah dijadikan sebagai bahan dasar pembuatan plastik. Sedangkan dilapis terakhir, atau di bagian dalam, kaca depan pesawat terbuat dari akrilik, dengan ketebalan 1-3 inchi.

Meskipun terdengar tak lebih kuat dibanding jenis kaca tempered, yang notabene menempati puncak piramida klasifikasi kaca, namun, komposisi akrilik dan polimer rupanya memiliki andil besar, bukan hanya dalam menahan tekanan besar dari luar setara berat sekitar 10,8 ton (ketinggian 3.600 – 10.000 meter di atas permukaan laut), melainkan juga menahan benturan keras yang terjadi oleh objek tak dikenal, seperti misalnya bird strike.

Baca juga: Kaca Depan Kokpit Retak, Pilot Boeing 737 Hainan Airlines Terpaksa Return to Base

Dengan andil lapisan akrilik dan polimer dan tentu saja gabungan dari keduanya, kaca depan pesawat mampu menahan benturan seberat empat ton saat pesawat mencapai di kecepatan 370 mph. Ketika benturan terjadi, kaca depan pesawat tak langsung pecah berkeping-keping layaknya piring pecah, tetapi semacam ada penahannya melalui serat-serat polimer. Inilah yang terjadi pada pesawat Boeing 787-9 Air New Zealand.

Meski dilaporkan retak saat di ketinggian 41 ribu, pesawat masih mampu menahan tekanan besar dan keretakannya itu tidak langsung menyebar atau bahkan pecah seketika. Itu berkat komposisi kaca pesawat yang memang didesain mampu menahan tekanan besar dan tidak pecah begitu saja.

“Kemarin, salah satu penerbangan kargo kami menuju Guangzhou dialihkan ke Hong Kong setelah kaca depan retak. Sementara kaca depan yang retak terdengar luar biasa, sebenarnya ada empat lapisan pada kaca depan pesawat sehingga tidak ada risiko bagi pesawat atau siapa pun di dalamnya,” kata maskapai dalam sebuah pernyataan.

Air New Zealand sudah lebih dari setahun ini mengoperasikan penerbangan kargo reguler ke Guangzhou dengan rute Auckland – Christchurch – Guangzhou – Auckland. Penerbangan ke Guangzhou biasanya diberi nomor penerbangan NZ1082 dan beroperasi empat kali seminggu. Adapun penerbangan pulang ke Auckland biasanya dijalankan dengan flight number NZ1085.

Ini adalah insiden pertama pesawat Boeing 787-9 ZK-NZH Air New Zealand yang baru berusia enam tahun, sekalgus menjadi salah satu yang termuda dari 14 Dreamliner Air New Zealand.

Baca juga: Kaca di Kokpit Mendadak Pecah, Kopilot Sichuan Airlines Nyaris Terkena Dekompresi

Air New Zealand pada tahun 2021 lalu mendapat penghargaan sebagai maskapai teraman di dunia. Peringkat itu didasarkan pada jumlah kecelakaan selama lima tahun dan insiden serius yang tercatat selama dua tahun; termasuk audit dari badan pemerintahan dan industri, audit pemerintah, industry-leading safety initiatives, usia armada, dan protokol keselamatan Covid-19.

Sepanjang sejarah, Air New Zealand hanya sekali mengalami kecelakaan fatal. Itu pun sudah lama sekali. Pada tahun 1979, pesawat charteran Air New Zealand, McDonnell Douglas DC-10, menabrak sisi Gunung Erebus, Pulau Ross, Antartika, dan menewaskan 257 orang di dalamnya saat mengoperasikan joy flight atau penerbangan wisata.

Air India Kini Dimiliki Tata Group, Pembenahan Postur Awak Kabin Jadi Prioritas

Air India berusaha menemukan dirinya kembali sebagai hasil dari investasi baru oleh pemegang tender, yakni Tata Group. Memiliki bos baru, Air India benar-benar membenahi diri untuk menjadi lebih baik lagi. Perubahan yang dilakukan ini juga termasuk pembenahan pada awak kabin yakni dengan melakukan pemeriksaan Indeks Massa Tubuh (BMI/Body Mass Index) dan mengubah seragam mereka.

Baca juga: Ternyata Air India Jadi Maskapai Asia Pertama yang Operasikan Pesawat Jet Boeing 707

“Awak kabin yang berpakaian dan berpenampilan rapi sesuai standar serta peraturan seragam menghadirkan citra positif dan profesional maskapai. Oleh karena itu ditekankan bahwa semua awak kabin mematuhi peraturan seragam,” kataVasudha Chandna, direktur eksekutif Air India.

Namun Air India tidak menjelaskan secara gamblang terkait bagaimana pemeriksaan BMI tersebut. Bahkan belum jelas juga tidakan lebih lanjut kepada awak kabin yang memiliki BMI lebih dari yang diharuskan. Seperti yang ditunjukkan AICCA, awak kabin adalah profesional keselamatan penerbangan dan terlatih dalam pertolongan pertama.

Maka dari itu, sebagian besar BMI awak kabin tidak relevan dengan kemampuan mereka dalam melakukan pekerjaan. KabarPenumpang.com melansir laman simpleflying.com (24/1/2022), selain pada awak kabin dan seragam, pesawat pun akan berubah yakni dengan kabin yang diperbaharui.

Tata Group sebagai pemilik baru Air India sebenarnya tidak melakukan banyak perubahan. Hal ini terlihat dari penutupan neraca yang ditetapkan pada 20 Januari kemarin yang memberikan waktu bagi Tata Group untuk mneliti dan menyetujui keuangan. Yang mana kemudian neraca itu akan diserahkan kepada Tata pada 24 Januari kemarin. Sehingga pada 27 Januari 2022 kemarin Tata yang adalah perusahaan swasta menjadi pemilik resmi dari Air India yang notabene adalah maskapai Nasional Negeri Bollywood tersebut.

Baca juga: Lima Kecanggihan Pesawat Kepresidenan Air India One, Nomor Dua Tak Ada di Indonesia One

Untuk diketahui, sebenarnya Air India akan diserahkan kepada Tata sejak akhir Desember 2021 kemarin, tetapi karena berbagai persetujuan menjadikannya lebih lama sehingga diperpanjang hingga Januari 2022.

Smartwings Sukses Daratkan Pesawat Boeing 737 MAX Pertama di Antartika

Maskapai asal Ceko, Smartwings, sukses mendaratkan Boeing 737 MAX pertama di Antartika pada 26 Januari lalu. Pesawat yang dicharter oleh Aircontact itu mendarat di Troll Airfield atau di tepi Benua Antartika, wilayah yang paling dekat dengan Afrika bagian Selatan, membawa peneliti Norwegian Polar Institute menuju basis penelitian mereka di Antartika.

Baca juga: Hi Fly Sukses Daratkan Pesawat Airbus A340 Pertama di Benua Antartika, Bawa Misi Sekali Seumur Hidup

Troll Airfield atau Lapangan Terbang Troll dioperasikan oleh Norwegian Polar Institute. Landasan pacu di lapangan terbang ini sepanjang 3.000 m yang terletak di gletser di ketinggian 1.232 m.

Sebagai informasi, Benua Antartika cukup besar, mencapai 14,2 juta km persegi, jauh lebih luas dari Benua Australia sebesar 8,6 juta km persegi. Benuar Antartika adalah satu-satunya tempat di Bumi yang tidak dimiliki siapapun atau negara manapun. Juga, tidak pernah memiliki sejarah dimiliki penduduk asli.

Berdasarkan perjanjian Antartika, tanah dan sumber daya yang ada hanya boleh digunakan untuk tujuan perdamaian dan ilmiah. Terdapat lebih 60 pusat sains di Antartika yang didirikan 27 negara. Salah satunya Norwegia.

Norwegia adalah salah satu negara yang mengoperasikan lapangan terbang di Antartika. Negara Nordik itu juga diketahui mengoperasikan glacial blue ice runway di Queen Maud Land, Antartika.

Selain lapangan terbang yang dioperasikan oleh Norwegia, ada beberapa lapangan terbang lainnya di Antartika, untuk memudahkan para peneliti mencapai titik yang ingin dituju, salah satunya Pangkalan Udara Novolazarevskaya (Novo) yang dioperasikan oleh Rusia.

Dilansir Flight Global, pendaratan Boeing 737 MAX pertama di Antartika dicapai dengan dua kali transit. Mula-mula, pesawat terbang dari Oslo, Norwegia, dan berhenti transit di kota N’Djamena, Chad, lanjut ke Cape Town, Afrika Selatan, sebelum melanjutkan penerbangan sekitar lima jam ke Troll Airfield.

Seperti pesawat-pesawat sebelumnya yang mendarat di Bandara atau Lapangan Terbang Antartika, sebelum landing, sebuah mobil survei terlebih dahulu mengecek kondisi runway semata untuk memberi informasi kondisi tentang apapun yang dibutuhkan pilot untuk mensukseskan pendaratan.

“Permukaan (landasan pacu) secara khusus disiapkan, dan saat pengereman diukur oleh Norwegian Polar Institute sebelum operasi,” kata kapten dan direktur penerbangan Smartwings, Tomas Nevole.

Maskapai tersebut mengungkapkan, pendaratan di Troll Airfield, Antartika, tidaklah mudah. Karenanya, kokpit Boeing 737 MAX Smartwings diisi oleh tiga kapten pilot berpengalaman, untuk memuluskan pendaratan dengan tetap berkomunikasi terkait cuaca melalui datalink dan komunikasi telepon satelit.

Selain itu, tak seperti pendaratan di bandara atau pendaratan di gurun sekalipun, pendaratan di landasan pacu es di Antartika membutuhkan persiapan cukup lama, termasuk harus mendapatkan persetujuan dari otoritas penerbangan Ceko.

Baca juga: Antartika Punya Penerbangan Domestik, Siapa Penumpangnya?

“Persiapannya memakan waktu berbulan-bulan, dan (beruntung) penerbangan serta pendaratan berjalan lancar,” jelas Nevole.

Usai mendarat, pesawat sempat parkir selama dua jam di apron Troll Airfield sebelum lepas landas untuk penerbangan pulang.

Bagaimana Cara Kerja Retractable Landing Gear? Berikut Ulasannya

Landing gear atau roda pendaratan menjadi salah satu komponen paling penting pada pesawat terbang, baik saat di darat maupun di udara, sebelum lepas landas, ketika lepas landas dan turun landas, sampai mendarat dengan sempurna di runway.

Baca juga: Mengenang Insiden Garuda Indonesia GA981, Berhasil Mendarat Mulus Meski Landing Gear ‘Pincang’

Akan tetapi, ada landing gear tidak akan berguna bagi pesawat dan justru malah menghambatnya, andai itu tidak retractable atau tersimpan ke dalam lambung pesawat. Jadi, terlepas dari landing gear itu sendiri, proses retractable landing gear memegang pernan penting. Lantas bagaiamana retractable landing gear bekerja?

Secara definitif, roda pendaratan berfungsi untuk menyerap tenaga pendaratan serta mencegah badan pesawat menghantam tanah. Fungsi tersebut dijalankan setidaknya oleh dua cara, pertama penyangga roda pendaratan utama yang memiliki sistem peredam kejut (shock struts). Kedua, landing force yang menyebar ke seluruh roda.

Di masa lalu, sistem landing gear belum menggunakan peredam kejut. Masih sangat sederhana sekali menggunakan rigid struts suspensi rendah teknologi yang membuat pendaratan jadi kasar dan keras. Seiring berjalannya waktu, landing gear pesawat mulai menggunakan spring steel struts, berlanjut ke bungee cords, dan barulah menggunakan shock struts.

Dengan menggunakan nitrogen dan cairan hidrolik, sistem pegas yang ‘tersaji’ pada shock struts akan mampu meminimalisir daya kejut ketika pesawat mendarat secara signifikan – setidaknya jauh lebih halus dari tiga varian di atas.

Daya kejut yang dihasilkan ketika pesawat touchdown akan senantiasa tereduksi dengan hadirnya dua silinder yang akan meminimalisir efek kejut.

Pada pesawat kecil, tentu landing gear hanya menggunakan tiga roda. Pada pesawat narrowbody dengan konfigurasi 2-2, biasanya empat roda di setiap sisi dan satu di depan. Sedangkan pada pesawat widebody, seperti Boeing 777 menggunakan masing-masing tiga roda pendaratan.

Adapun pada pesawat yang lebih besar seperti A340, A380, Boeing 747, menggunakan total lima roda pendaratan. Terbanyak tentu dipegang oleh Antonov An-225 dengan total tujuh roda pendaratan atau total 28 roda di sisi kanan dan kiri pesawat.

Momen paling krusial landing gear tentu saat lepas landas dan mendarat. Ketika lepas landas gesekan kuat membuat tekanan pada landing gear begitu kuat. Roda pendaratan kemudian menggantung selama cruising dan melipat atau retractable ke dalam kompartemen di lambung pesawat.

Dilansir AOPA, cara kerja retractable landing gear agar tak menghambar kecepatan pesawat saat cruise cukup sederhana. Retractable landing gear digerakkan secara hidraulik oleh reversible pump controlled bertenaga listrik melalui gear selector switch pada panel, di sebelah throttle. Ketika tombol retractable landing gear, itu membutuhkan waktu tujuh detik untuk masuk atau keluar dari lambung pesawat.

Di bawah tombol retractable landing gear, terdapat beberapa indikator lampu. Bila terdapat tiga warna lampu hijau, itu berarati landing gear berhasil keluar dan ter-lock dengan sempurna.

Baca juga: Taildragger vs Tricycle Landing Gear: Ini Perbedaan-Persamaan dan Keunggulan-Kekurangannya

Tiga warna merah yang berada di atas tombol retractable landing gear, itu berarti landing gear berapa pada posisi tidak aman saat di udara. Semua lampu mati berarti landing gear tersimpan dengan aman di lambung pesawat.

Berbeda dengan main landing gear yang cenderung melepas tekanan hidraulik yang menahannya, nose wheel atau landing gear depan cenderung mendapat dorongan untuk melawan aliran udara.

Sleeper Train yang Dijuluki “Hotel Bergerak” Mulai Beroperasi di Shenzhen

Kereta tidur atau sleeper train memberikan kenyamanan bagi para penumpangnya. Sehingga selama perjalanan, penumpang bisa tidur atau rebahan sembari menikmati pemandangan yang dilintasi kereta tersebut. Bahkan banyak negara memiliki kereta dengan gerbong tidur ini.

Baca juga: Shanghai Railways Punya Kereta Berkecepatan Tinggi dengan Tempat Tidur

Namun bagaimana jika kereta tidur ini hadir pada kereta berkecepatan tinggi? Mungkin tidak banyak, tetapi ini sudah ada. Salah satunya ada di Shenzhen, Cina yang baru saja mengoperasikan kereta tidur berkecepatan tinggi mereka.

Kereta tidur berkecepatan tinggi yang dijuluki dengan “hotel bergerak” dari Shenzen ini mulai beroperasi pada Sabtu (21/1/2022) kemarin. Uniknya lagi, kereta ini memiliki desain tempat tidur bersusun dan mirip dengan kelas bisnis pada penerbangan.

Sebagai mana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman chinadaily.com.cn (24/1/2022), tempat tidur yang ada di dalam gerbong semuanya menghadap ke arah perjalanan kereta api. Tak hanya itu, untuk memudahkan penumpang menggunakan elektronik mereka, setiap ruang dilengkapi dengan soket USB.

Lampu langit-langit di atas tempat tidur dapat dikontrol secara mandiri oleh setiap penumpang. Kereta tidur berkecepatan tinggi ini juga dilengkapi dengan kantin makan yang menjual makanan baik makanan berat ataupun ringan. Kantin ini juga menjual barang-barang lainnya.

Baca juga: Belmond Andean Explorer, Kereta Tidur Pelintas Pegunungan Andes

Kereta yang dijuluki hotel bergerak tersebut membawa penumpang dari Shenzhen menuju ke Beijing. Desainnya pun terlihat menarik dengan tempat tidur dua tingkat di sisi kiri kanan bagian dalam gerbong dan menyisakan lorong di bagian tengahnya.






















Eks Pejabat Boeing Kembangkan Pesawat Luar Angkasa Masa Depan, Bisa Lepas Landas dari Bandara Komersial

Perusahaan teknologi asal Amerika Serikat (AS), Radian Aerospace, mengaku sedang mengembangkan pesawat ulang-alik atau pesawat luar angkasa masa depan. Pesawat ini disebut bisa lepas landas di bandara komersial, terbang sampai ke luar angkasa, kembali ke bumi, dan mendarat di bandara. Ini tentu sebuah gebrakan besar yang idenya sudah dimulai sejak 1950-an.

Baca juga: Ngeri, Teknologi Terbaru Bisa Bikin Pesawat Ngebut 21 Ribu Km Per Jam!

Inovasi Radian Aerospace dalam mengembangkan pesawat luar angkasa masa depan yang bisa lepas landas dan mendarat di bandara komersial, tak lepas dari tangan dingin eks pejabat Boeing, Livingston Holder, yang saat ini tercatat sebagai chief technology officer Radian Aerospace.

Di bawah kepemimpinannya, pesawat luar angkasa masa depan Radian Aerospace disebut sangat menarik. Sebab, belum ada teknologi serupa yang sedang dikembangkan.

Pada abad ke-20, tepatnya pada dekade 80-an, NASA berhasil meluncurkan pesawat ulang-alik Columbia, menjadikannya wahana antariksa pertama yang dirancang agar dapat dipakai kembali, pada 14 April 1981.

Kala itu, pesawat ulang-alik yang juga dikenal sebagai NASA’s Space Shuttle atau Space Shuttle itu mampu mengangkut sekitar 24 ton muatan, membawa tujuh astronot, dan mengorbit selama 15-17 hari.

Beberapa tahun kemudian atau pada 15 November 1988, pesawat ulang-alik Buran milik Uni Soviet berhasil melakukan penerbangan orbital atau penerbangan ke luar angkasa pertama tanpa awak. Baik pesawat luar ankasa Columbia dan pesawat luar angkasa Buran, keduanya didesain untuk dapat digunakan kembali.

Akan tetapi, perkembangannya berjalan tidak mulus. Banyak retakan di sana sini setelah selesai digunakan. Pesawat ulang-alik harus mendapat perbaikan besar sebelum bisa digunakan kembali.

Saat ini, pesawat luar angkasa sudah lebih baik, efisien, dan murah. Pesawat luar angkasa SpaceX adalah salah satunya. Namun, pesawat ini masih merepotkan, dimana lepas landasnya harus membutuhkan roket peluncur, lokasi khusus, dan kembali ke bumi tanpa bisa diarahkan dengan tepat dan mendarat di tempat yang diinginkan.

Begitu juga dengan pesawat luar angkasa Virgin Galactic. Pesawat luar angkasa Unity 22 memang bisa terbang dan lepas landas di bandara komersial, namun, pesawat ini menggunakan roket untuk terbang ke luar angkasa.

Pesawat luar angkasa masa depan Radian Aerospace yang digawangi eks petinggi teknologi Boeing tidak seperti itu.

Pesawat luar angkasa masa depan buatan Radian Aerospace bakal selangkah lebih maju dari pesawat luar angkasa buatan manapun, termasuk buatan SpaceX.

Dalam pernyataannya kepada UPI.com, pesawat luar angkasa masa depan sejati bernama X-33 yang dikembangkan Radian Aerospace, tidak menggunakan roket untuk sampai ke luar angkasa. Itu menggunakan mesin yang memiliki daya dorong eksplosif dan sampai ke luar angkasa hanya dalam tempo 40 menit.

Holder mengakui, apa yang mereka kembangkan, beberapa teknologi di antaranya, memang belum pernah ada di masa kini. Namun, perkembangan teknologi menuju ke sana sudah ada dan itu dimanfaatkan timnya untuk mengembangkan teknologi baru.

“Industri secara umum telah mematangkan sejumlah teknologi yang kami manfaatkan ke titik dimana pesawat luar angkasa tidak lagi menjadi impian,” katanya.

Baca juga: Beroperasi Tahun 2040, Jepang Rencanakan Buat Pesawat Luar Angkasa Antarbenua

Saat ini, Radian Aerospace sudah mengumpulkan dana sebesar US$32 juta. Itu masih jauh dari angka yang dibutuhkan sekitar US$500 juta.

Selain Radian Aerospace, Erik Seedhouse, asisten profesor kedirgantaraan Embry-Riddle Aeronautical University, Florida, mengungkapkan, perusahaan Inggris, Reaction Engines, juga tengah mengembangkan konsep serupa dengan nama pesawat luar angkasa masa depan Skylon. Ini telah dikembangkan sejak lama dan akan melakukan uji terbang perdana pada tahun 2022.

Gantung Rambut di Pegangan Kereta, Aksi Pemain Sirkus Rusia Bikin Geger Shanghai Metro

Naik kereta dan tidak dapat duduk, biasanya penumpang akan memegang pegangan di tiang agar tidak terjatuh. Tetapi beda dengan seorang perempuan yang terlihat menggantungkan rambutnya di pegangan kereta komuter. Dalam sebuah rekaman video, penumpang wanita yang adalah seorang pemain akrobat asal Rusia itu menggaitkan rambutnya di pegangan tangan saat naik kereta api di Shanghai pada 21 Januari kemarin.

Baca juga: Wow.. Pramugari Lakukan Akrobatik Tutup Pintu Bagasi Kabin Gunakan Sepatu Hak Tinggi

Darina nama pemain akrobat itu terlihat memainkan ponsel dan kaki diangkat seperti duduk bersila. Dia adalah bagian dari Shanghai Circus dan mengaku berlatih akrobatnya selama waktu senggang. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman dailymail.co.uk (24/1/2022), karena sembari berlatih akrobat, Darina justru mendapat telepon dari manajer Shanghai Metro yang bingung apa yang dirinya lakukan dengan menggantung rambut.

“Saya telah berlatih gerakan ini selama setengah tahun. Saya ingin mengingatkan semua orang bahwa itu adalah trik yang berbahaya dan tidak boleh dicoba jika tidak terlatih,” ujar Darina.

Karena ulahnya yang sembari berlatih akrobat, membuat banyak orang di dalam kereta kebingungan atas aksinya tersebut. Mereka khawatir Darina melukai diri sendiri atau kulit kepalanya. Video itu kemudian dia bagikan di Douyin yang adalah TikTok versi Cina.

Video itu dibagikan juga di feed baru-baru ini tentang rambut yang digantung dan tidak menyangka rekaman tersebut akan mendapatkan begitu banyak perhatian. Untuk diketahui, Darina telah menjadi pemain sirkus sejak 2013 dan mengundang orang untuk menonton pertunjukannya.

Gantung rambut adalah aksi sirkus udara di mana para pemain digantung oleh rambut mereka. Beberapa orang percaya tindakan itu berasal dari Amerika Selataa, sementara yang lain percaya itu dimulai di Cina. Mereka melakukan pose akrobatik sementara rambut mereka diikat menjadi cincin gantung rambut dan beban berat orang tersebut didistribusikan secara merata ke seluruh kulit kepala.

Baca juga: Unik! Penumpang ini Lakukan Yoga Erotis Saat Mengudara dengan United Airlines

Setiap rambut mampu menahan berat hingga 3.5oz (100 gram) dan harus diatur dengan benar untuk mencegah kecelakaan atau cidera. Pemain akrobat sering mengkondisikan rambut mereka hingga lima kali sehari dan menggunakan vitamin rambut dalam upaya untuk melindunginya dan membuatnya tetap kuat.

Melongok Peralatan Tempur di Kabin KRL, Penasaran?

Naik Kereta Rel Listrik (KRL) Commuter Line sudah menjadi keseharian warga Jabodetabek untuk melakukan perjalanan. Selain harganya terjangkau, naik KRL jug sangat praktis dan juga bisa menghemat waktu. Di setiap jam – jam sibuk KRL sangat dibutuhkan bagi para pencari nafkah, begitu juga pada saat hari libur KRL paling favorit digunakan hanya sekadar berwisata bahkan untuk menikmati perjalanan yang nyaman.

Baca juga: Mencoba Masuk ke Kabin Lokomotif, Kira-kira Ada Apa Aja Sih?

Tapi tahukah kalian dibalik perjalanan itu semua ada yang mengatur perjalanan KRL. Siapa lagi kalau bukan masinis. Masinis bertugas menjalankan lokomotif/KRL yang berada di bagian depan atau biasa disebut kabin. Agak sulit memang jika masuk ke ruang kabin untuk masinis KRL. Apalagi ruangan tersebut khusus untuk masinis saja, tidak boleh sembarang orang yang memasukinya, kecuali jika kalian para wanita yang hanya bisa melongok kabin masinis dari jendela kabin. Karena kereta paling depan dan belakang dikhususkan untuk penumpang wanita.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by KabarPenumpang.com (@kabar.penumpang)

Nah, kali ini kita akan melihat peralatan apa saja sih yang ada di kabin KRL. Bagi yang mengetahui di kabin KRL hanyalah beberapa tuas untuk menjalankan KRL untuk maju, mundur dan pengereman. Namun, masih banyak lagi lho peralatan tempur yang harus digunakan masinis KRL untuk menjalankan keretanya agar aman dan lancar.
Kabin KRL eks Japan Railway (JR) East ini memiliki luas sekitar 3 meter persegi dengan kelengkapan peralatan yang disediakan untuk menjalankan KRL. Beberapa tuas seperti:

– Tuas tenaga (throtle) untuk menjalankan kereta
– Tuas maju – mundur
– Tuas untuk pengereman (Handle Break)
– Tuas untuk membuka dan menutup pintu
– Tombol lampu dan AC (Air Condisioner), jika seri KRL 205 berada di kotak samping kanan kabin
– Manometer yang berfungsi untuk mengukur tekanan udara dalam ruangan tertutup. Pastikan manometer berfungsi baik dan menunjukkan jarum angka 8 – 9
– Speedometer yang berfungsi untuk menunjukkan kecepatan kereta. Pada kabin KRL biasanya menggunakan dua speedometer. Ada yang menggunakan jarum dan versi angka digital
– Meteran dalam jenis Volt berfungsi untuk menunjukkan tegangan listrik aliran atas dengan tegangan listrik 1.500 Volt
– Radio Kabin berfungsi untuk berkomunikasi antara masini dengan petugas lainnya salah satunya komunikasi dengan PPK (Petugas Pelayan Kereta) yang ada dipaling belakang kereta
– Deadman Pedal yang mengharuskan masinis menginjak dan diangkat secara bergantian oleh masinis. Jika proses injak-angkat tak dilakukan karena masinis mengantuk atau tertidur, alarm akan berbunyi dan KRL akan berhenti otomatis.
– Klakson KRL dengan cara diijak.

Baca juga: Mirip Kasus di Indonesia, Masinis Pakistan Hentikan Lokomotif untuk Beli Cemilan

Dari semua komponen KRL yang disebutkan, masinis harus menguasai seluruhnya yang ada di kabin. Tak menutup kemungkinan sebelum KRL dijalankan, masinis juga melihat kelengkapan yang ada di kabin KRL. Jika sudah lengkap masinis langsung menjalankan KRL nya dan mengantar penumpang dengan selamat sampai tujuan. (PRAS – Cinta Kereta Api)






















Bakal Jadi Feeder Kereta Cepat Jakarta Bandung, KRDE Akhirnya Uji Coba Lintas

Rangkaian KRDE (Kereta Rel Diesel Elektrik) yang akan dijadikan sebagai KA Feeder KCJB (Kereta Cepat Jakarta Bandung) akhirnya diuji coba lintas Yogyakarta – Kutoarjo, Selasa (25/1). Uji coba ini merupakan kali pertama untuk lintas jarak pendek. Rangakian KRDE dengan formasi 5 kereta ini berjalan dengan kecepatan 70 – 90 kilometer per jam. Walaupun kecepatan selama uji coba yang diijinkan adalah 50 – 100 kilometer per jam.

Baca juga: Ini Dia Wajah KA Feeder Bakal Calon KCJB (Kereta Cepat Jakarta Bandung)

Dengan livery warna merah dan putih ini masih tahap uji coba pertama. Sebelumnya KRDE ini melakukan uji coba di area Balai Yasa Yogyakarta. KRDE bernomor seri K3 2 12 06 – K3 2 12 10 ini merupakan eks rangkaian KRDE Prameks livery batik yang melayani rute Kutoarjo – Yogyakarta – Solo Balapan pp. Karena suku cadang mulai berkurang dan perjalanan KRD Prameks menggantikan sarana KRL, beberapa diantaranya hanya digunakan untuk perjalanan rute Yogyakarta – Kutoarjo pp.

Uji coba Feeder KCIC rencananya akan dilakukan beberapa hari kedepan guna melancarkan sistem bekerja mesin pada kereta bertenaga diesel ini. Kecepatan dan ketepatan pengereman pada KRDE ini tentu saja dilakukan. Meski jalur yang ditempuh tidak pada medan yang ekstrim, namun rangkaian ini tetap dilakukan dalam kecepatan yang maksimum. Perjalanan uji cobaKA Feeder ini berangkat dari Stasiun Lempuyangan 10.35 WIB tiba di Kutoarjo 11.27 WIB dan kembali dari Kutoarjo pukul 12.05 WIB tiba di Lempuyangan pukul 13.01 WIB.

Sebelumnya diketahui bahwa rangkaian KA Feeder KCIJB ini akan melayani penumpang yang hendak menggunakan rangkaian KCJB dari Bandung ke Jakarta maupun sebaliknya. KA Feeder diberangkatakan dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Rancaekek pulang – pergi.

Baca juga: Kereta Cepat Jakarta-Bandung Penuh Masalah, Indonesia Balik Rangkul Jepang! Ahli: Sulit Integrasikan Cina-Jepang

Saat ini Stasiun Rancaekek juga tengah dilakukan renovasi untuk melayani penumpang yang hendak menuju stasiun KCJB yang berada di petak Rancaekek – Cimekar. Bangunan baru bagian selatan Stasiun Rancarkek juga nantinya akan dilengkapi fasilitas penunjang untuk memanjakan calon penumpang yang hendak naik KA Cepat Jakarta – Bandung. (PRAS – Cinta Kereta Api)