Bali Buka Penerbangan Internasional Mulai 14 Oktober, Hanya Turis Lima Negara yang Bisa Masuk

Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, siap menerima kedatangan turis internasional mulai 14 Oktober 2021mendatang. Tetapi, belum semua turis mancanegara yang diperbolehkan masuk, melainkan hanya lima negara saja; Korea Selatan, Tiongkok, Jepang, Uni Emirat Arab, dan Selandia Baru.

Baca juga: Mulai 27 Maret 2022, Maskapai Virgin Australia “Come Back to Bali”

Guna memuluskan rencana ini, sejumlah persiapan sudah dilakukan, mencakup passenger journey sejak turun pesawat hingga penumpang dijemput kendaraan menuju hotel karantina.

Proses kedatangan turis mancanegara di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali pun juga sudah diatur sedemikian rupa mulai dari preflight sampai pickup zone menuju hotel tempat karantina mandiri selama minimal delapan hari.

Sebagaimana prosedur ketangan turis asing di negara lainnya, kedatangan turis asing di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, juga diikuti oleh protokol kesehatan yang ketat, seperti tes PCR Covid-19 3×24 jam, mengisi health alert card (HAC), memiliki dokumen pemesanan hotel karantina, mengisi e-PCR, memastikan dokumen keimigrasian, mengisi electronic customs declaration (e-CD), suhu tubuh di bawah 38 derajat celcius, dan test PCR Covid-19 saat tiba di bandara dan selama karantina mandiri.

Dengan begitu, diharapkan seluruh turis internasional yang datang ke Bali diharapkan steril dari virus Corona.

“Angkasa Pura I sangat antusias menyambut keputusan Pemerintah terkait pembukaan kembali penerbangan internasional bagi turis mancanegara menuju Bali. Antusiasme itu kami wujudkan dalam bentuk kesiapan Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali dalam mengimplementasikan syarat-syarat perjalanan bagi turis mancanegara,” kata Direktur Utama PT Angkasa Pura I (Persero) Faik Fahmi.

“Kami harap masa uji coba pembukaan kembali Bali bagi turis mancanegara dapat berjalan lancar dan dapat benar-benar menunjukkan kesiapan seluruh stakeholder pariwisata di Bali sehingga pembukaan pintu internasional ke Bali nantinya dapat lebih luas lagi dengan penambahan jumlah negara asal,” tambahnya.

“Pembukaan pintu Bali bagi turis mancanegara sangat berarti bagi stakeholder pariwisata Bali dan bagi masyarakat Bali pada umumnya mengingat perekonomian Bali cukup bergantung pada sektor pariwisata,” lanjutnya.

Selain Bali, Bandara Soekarno-Hatta juga sudah mulai menerima kedatangan turis internasional. Sebelumnya, Kementerian Perhubungan menghapus ketentuan pembatasan kapasitas penumpang penerbangan internasional yang masuk melalui Bandar Udara Soekarno Hatta, yang pada ketentuan sebelumnya diberlakukan pembatasan 90 orang per penerbangan.

Dengan peningkatan kapasitas pemeriksaan PCR di Bandar Udara Soekarno Hatta, potensi terjadinya penumpukan penumpang dan pelanggaran protokol kesehatan dapat dihindari. Oleh karena itu pembatasan kedatangan penumpang tidak dibutuhkan lagi, dengan tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat dan pelaksanaan karantina selama 8 (delapan) hari sesuai ketentuan yang berlaku.

Baca juga: Survei: Mayoritas Penumpang Pesawat di Asia-Pasifik Siap Bepergian Akhir Tahun Ini

“Kementerian Perhubungan melakukan berbagai upaya untuk menekan potensi penyebaran virus Covid-19 termasuk masuknya varian baru melalui jalur transportasi udara. Pembatasan penumpang internasional adalah salah satu upaya untuk itu, mengingat keterbatasan tes PCR yang dapat dilakukan di bandara,” ujar Novie Riyanto Direktur Jenderal Perhubungan Udara.

“Dengan adanya peningkatan kapasitas PCR yang ada sekarang, kami menilai pembatasan sudah tidak diperlukan. Namun demikian kami meminta kepada semua stakeholders untuk berkomitmen melaksanakan semua ketentuan dengan baik dan melakukan pengawasan yang optimal,” tutupnya.

Pulau Shakalin di Rusia Akan Dilayani Kereta Hidrogen

Pemerintah Rusia Sakhalin Oblast, Rosatom, Russian Railways and Transmashholding (TMH) pada 3 September lalu menandatangani protokol mengenai proyek untuk mengatur layanan kereta api menggunakan kereta sel bahan bakar hidrogen di Pulau Sakhalin, yaitu Pulau terbesar milik Rusia yang perairannya berbatasan dengan Jepang.

Baca juga: Digunakan Pada Jalur Non Listrik, Kereta Hidrogen Meluncur di Swedia

“Waktunya telah tiba untuk merancang dan memproduksi batch percontohan tujuh kereta. Kami harus membuat fasilitas produksi hidrogen dengan tonase rendah dan jaringan kompleks pengisian bahan bakar langsung di Sakhalin, membentuk lokasi uji coba dan meluncurkan layanan kereta penumpang reguler,” kata Gubernur Wilayah Sakhalin Valery Limarenko yang dikutip KabarPenumpang.com dari neimagazine.com (7/9/2021).

Dia mengatakan pusat kompetisi akan dibuat di universitas pulau untuk melatih personel yang diperlukan. Wilayah Sakhalin nantinya akan menjadi pemimpin baru bagi Rusia dan bisa meningkatkan ekonomi yang sangat menjanjikan yakni dengan produksi dan penggunaan hidrogen.

Bagi wilayah dan penduduknya, ini berarti peningkatan pendapatan pajak, pelestarian lingkungan, dan penciptaan lapangan kerja teknologi tinggi tambahan. Bahkan, untuk penduduk Sakhalin dan Kuril, ini adalah kesempatan untuk menjadi spesialis yang dibutuhkan dan berharga dalam industri baru yang menjanjikan, dalam profesi baru.

Ia menambahkan bahwa Rosatom bekerja sama dengan pemerintah Oblast Sakhalin pada langkah-langkah komprehensif untuk mendukung proyek tersebut, termasuk yang terkait dengan pengorganisasian kompleks produksi hidrogen di pulau itu, di mana hidrogen dapat diproduksi untuk kebutuhan sektor transportasi. Dalam kerangka proyek, Rosatom bertanggung jawab atas produksi dan pasokan bahan bakar hidrogen, organisasi dan pengoperasian infrastruktur pengisian bahan bakar.

Mengingat program skala besar Rosatom untuk pengembangan teknologi hidrogen, kami mempertimbangkan prospek penggunaan teknologi domestik untuk menyediakan kereta api masa depan dengan bahan bakar hidrogen,” kata Deputi Pertama Direktur Jenderal Pengembangan dan Bisnis Internasional di Rosatom Kirill Komarov.

Yang mana kereta hidrogen bukan lagi fantasi tetapi menjadi masa depan dan memungkinkan untuk mengurangi emisi berbahaya ke atmosfer menjadi nol. Direktur Jenderal TMH Kirill Lipa mengatakan, pihaknya menginvestasikan sumber daya yang signifikan dalam proyek itu.

“Anggota teknik dan desain terbaik dari holding telah terlibat dalam memecahkan masalah ini, penampilan teknis dari rolling stock masa depan telah ditentukan. Kami percaya bahwa keberhasilan proyek ini dan skalanya dapat secara signifikan mempengaruhi tidak hanya komponen lingkungan dari transportasi kereta api, tetapi juga memberikan dorongan untuk pengembangan teknologi secara umum. Kami mengandalkan posisi aktif negara, yang secara serius dapat mempercepat implementasi proyek pengenalan propulsi hidrogen dan, di masa depan, mengarah pada perluasan cakupan penerapannya yang nyata,” ujar Lipa.

Pengembangan energi hidrogen merupakan salah satu prioritas Strategi Energi Federasi Rusia pada tahun 2035. Pemerintah Sakhalin bertujuan untuk mencapai netralitas karbon pada tahun 2025 dan tertarik pada penerapan teknologi hidrogen di berbagai sektor ekonomi, penciptaan produksi ekspor hidrogen yang besar, pembentukan spesialisasi unik dan kompetensi kawasan di pasar hidrogen global dan nasional.

Baca juga: Inggris Mulai Debut Perdana Kereta Berbahan Bakar Hidrogen

Pada 2 September, Anton Moskvin, wakil presiden Rusatom Overseas, mengatakan pabrik produksi hidrogen di Sakhalin direncanakan akan dibangun pada 2024 dan memulai pengiriman ekspor pertama bahan bakar jenis ini pada 2025. Dia menyebutkan, pihaknya berencana menyelesaikan studi kelayakan proyek pada akhir tahun ini dan mengembangkan lebih lanjut.

KAI Percepat Perjalanan Kereta dari Gambir ke Yogyakarta Jadi 6 Jam

Mulai 24 September 2021,PT Kereta Api Indonesia (KAI) menghadirkan berbagai inovasi pada layanan KA penumpang. Inovasi tersebut berupa percepatan waktu tempuh, penyediaan layanan WiFi gratis, dan penyediaan layanan Live Cooking di atas KA.

Baca juga: Penumpang Kereta Jakarta-Bandung Kian Padat, KAI Tambah Jadwal Perjalanan

Untuk percepatan waktu sendiri kereta dari Stasiun Gambir menuju ke Yogyakarta pun yang tadinya menempuh waktu sekitar delapan jam perjalanan menjadi hanya enam jam. Hal ini pun membuat penumpang tiba di tujuan dua jam lebih cepat dari waktu sebelumnya.

Namun bagaimana perjalanan ini bisa lebih cepat satu hingga dua jam dari sebelumnya? Ternyata, PT KAI melakukan peningkatan kemampuan prasarana sehingga kereta mampu melaju lebih cepat namun tetap mengutamakan keselamatan dalam perjalanan.

VP Humas PT KAI, Joni Martinus mengatakan, seperti Gambir – Yogyakarta pp perjalanannya kini lebih singkat menjadi hanya sekitar enam jam saja dari sebelumnya sekitar tujuh jam dengan menggunakan KA Argo Lawu dan Argo Dwipangga. Perjalanan dengan kereta Taksaka pun hampir sama dengan dua kereta tujuan Solo dari Gambir tersebut yang mampir di Yogyakarta.

Joni menjelaskan, percepatan ini dengan meningkatkan kecepatan sarana yakni dari lintas Jatinegara – Cikampek semula 110 kpj menjadi 115 kpj. Kemudian di lintas Cikampek – Cilegeh semula 105 kpj menjadi 115 kpj.

“Lintas Cilegeh – Cirebon semula 100 kpj menjadi 105 kpj. Lintas Cirebon – Tegal semula 110 kpj menjadi 120 kpj,“ terang Joni.

Kemudian di lintas Cirebon – Prupuk semula 105 kpj menjadi 120 kpj. Lintas Bumiayu – Purwokerto semula 65 kpj menjadi 70 kpj. Untuk lintas Purwokerto – Notog yang awalnya 80 kpj menjadi 85 kpj. Kemudian ketika melintas antara Kebasen dengan Kroya yang tadinya melaju di kecepatan 100 kpj menjadi 120 kpj.

“Lintas Kroya – Kutoarjo semula 105 kpj menjadi 120 kpj. Lintas Kutoarjo – Yogyakarta semula 105 kpj menjadi 120 kpj,“ tuturnya.

Baca juga: Meski Ada Perubahan Jadwal, Kereta Jarak Jauh Harus Tetap ‘Berhenti’ dan Isi Air ke Gerbong

Dia menambahkan, percepatan ini, untuk menyambut HUT ke-76 KAI yang jatuh pada 28 September 2021 lalu. Di mana PT KAI mengusung tema Melayani Lebih Cepat dan Lebih Baik. KAI ingin bergerak lebih cepat dalam melayani masyarakat dengan kualitas yang lebih baik.






















Honda Kembangkan eVTOL dan Robot Telepresence untuk Transportasi Masa Depan

Ibarat ingin meraih masa depan saat ini, Honda tengah mempersiapkan teknologi baru dengan basis electric vertical take-off and landing (eVTOL) untuk transportasi antar kota.

Baca juga: Ada Sentuhan Mobil Mewah Honda, Ini Sederet Fitur Baru All-New HondaJet Elite S

Dengan HondaJet, perusahaan raksasa asal Jepang ini ingin memperluas teknologi eVTOL yang sedang berkembang. Namun tidak seperti sejumlah eVTOL lain, Honda dalam pengembangannya berfokus pada perjalanan jarak pendek dalam kota karena keterbatasan powertrain bertenaga baterai, penawaran Honda akan mengemas unit tenaga hibrida turbin gas untuk meningkatkan jangkauan dan memungkinkan perjalanan antar kota.

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (30/9/2021), Honda mengatakan wahananya akan mencapai tingkat keamanan yang setara dengan pesawat penumpang komersial berkat struktur sederhana dan sistem propulsi terdesentralisasi. Kebisingan juga akan ditekan melalui penggunaan rotor dengan diameter yang relatif kecil, sehingga memungkinkan pesawat lepas landas dan mendarat di pusat kota dengan gangguan minimal.

Perusahaan juga mengatakan eVTOL-nya akan berfungsi sebagai inti dari “ekosistem mobilitas” baru yang akan memungkinkan koordinasi dengan kontrol lalu lintas udara dan sistem reservasi, integrasi dengan transportasi darat, termasuk mobil, sepeda serta kendaraan tanpa pengemudi.

Sebelumnya, pada 2018 lalu, Honda mengumumkan akan menghentikan pengembangan ASIMO, salah satu robot humanoid paling terkenal di dunia, untuk fokus pada aplikasi praktis untuk teknologi yang telah dikembangkannya. ASIMO adalah Robot Avatar Honda, yang akan dikendalikan oleh pengguna untuk melakukan tugas dari jarak jauh dan mengalami berbagai hal secara virtual.

Untuk tujuan ini, robot telepresence akan menampilkan tangan multi-jari untuk memanipulasi alat yang dirancang untuk tangan manusia. Untuk memudahkan pengguna melakukan tugas kompleks dengan cepat dan akurat menggunakan robot. Sistem kontrolnya akan menampilkan iterasi masa depan dari teknologi fungsi kendali jarak jauh yang didukung kecerdasan buatan, yang akan memungkinkan robot dipandu pengguna menangkap objek dalam satu gerakan halus.

Honda mengatakan saat ini sedang berupaya meningkatkan dan memperkecil teknologi gerakan tangan dan berharap untuk melakukan demonstrasi Robot Avatar pada awal 2024, dengan maksud untuk rilis pada 2030-an. Sebagai bagian dari upaya penelitian bersama dengan Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), Honda ingin membangun sistem energi terbarukan untuk digunakan di Bulan.

Dengan memanfaatkan teknologi elektrolisis air tekanan diferensial tinggi Honda, sistem akan menguraikan air untuk memproduksi dan menyimpan hidrogen dan oksigen menggunakan listrik dari tenaga surya. Kemudian, dengan memanfaatkan teknologi sel bahan bakarnya, hidrogen dan oksigen dapat digunakan untuk memasok listrik, sementara oksigen juga dapat digunakan untuk orang-orang yang tinggal di permukaan bulan atau sebagai bahan bakar untuk roket.

Honda juga akan berusaha menerapkan tangan robot multi-jari Avatar Robot yang disebutkan di atas dan sistem kendali jarak jauh yang didukung AI untuk mitigasi tabrakan robot yang dikendalikan dari jarak jauh di permukaan bulan. Teknologi telepresence robot juga akan digunakan untuk mengurangi risiko astronot di Bulan dan membuat orang merasakan berada di permukaan bulan dari Bumi.

Baca juga: Ubah Konsep, Honda Siap Produksi Massal ElectricVehicle di Akhir 2019

Akhirnya, didorong oleh para insinyur Honda yang ingin memanfaatkan teknologi pembakaran dan kontrol serta panduan perusahaan yang dikumpulkan melalui pengembangan teknologi penggerak otomatis untuk membuat roket kecil, Honda berencana untuk masuk ke bisnis peluncuran satelit. Roket kecil akan dirancang untuk bertindak sebagai kendaraan peluncuran untuk satelit orbit Bumi yang kecil dan rendah, pasar yang menurut Honda saat ini kurang terlayani.






















Serupa tapi Tak Sama, Inilah Perbedaan Fokker F-27 Troopship TNI AU dengan Fokker F-27 Friendship Garuda Indonesia

Sepanjang sejarah berdirinya Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) sejak 9 April 1946, ada banyak varian pesawat yang melengkapi barisan armadanya. Salah satu yang familiar adalah Fokker F-27 Troopship. 

Baca juga: Kisah Pesawat Buatan Putra Blitar yang Sempat Jadi Andalan TNI AU, Fokker F-27 dan F-28

Seperti diketahui, selain digunakan TNI AU, Fokker F-27 juga digunakan maskapai penerbangan nasional Garuda Indonesia. Tetapi, jika TNI AU menggunakan Fokker F-27 Troopship, maka flag carrier nasional itu menggunakan Fokker F-27 Friendship. Lantas, apa bedanya?

Fokker F-27 M400 Troopship sendiri pesawat angkut sedang yang selama penugasannya dioperasikan Skadron Udara 2 dan bermarkas di Lanud Halim Perdanakusuma. Sekilas pandang, Fokker F-27 mulai diterima oleh TNI-AU dari Belanda antara tahun 1975 dan 1976.

Adapun Garuda Indonesia sudah menggunakannya lebih dahulu. Di bawah komando Direktur Utama Wiweko Soepono, Garuda Indonesia mulai menggunakan F-27 Friendship pada tahun 1969, beberapa tahun lebih cepat dibanding kedatangan Fokker F-27 Troopship TNI AU.

Dikutip dari Indomiliter.com, letak perbedaan paling mendasar antara Fokker F-27 Troopship dengan Fokker F-27 Friendship terdapat pada konfigurasi kabin, perlengkapan avionik, dan perbedaan pintu belakang. Pada F-27 Troopship, pintu dirancang lebih besar untuk memudahkan penerjunan pasukan para.

Pesawat ini berfungsi untuk OMP (Operasi Militer Perang) dan OMSP (Operasi Militer Selain Perang) dalam mengangkut personel, barang, membantu bencana alam bahkan sebagai “jembatan udara” antar pulau di wilayah Indonesia.

Konfigurasi kabin sendiri, pada versi sipil, pesawat mampu menampung 48-56 penumpang. Sedangkan di versi militer, kapasitas kursi penumpangnya, yang pada umumnya menempel di dinding atau berkonsep side wall seat untuk kebutuha penerjun payung, tentu lebih sedikit. Tetapi, kapasitas angkut totalnya bisa mencapai 60 pasukan, sedikit lebih banyak dibanding versi sipil.

Dari segi avionik, tentu versi militer dilengkapi dengan avionik tambahan untuk kebutuhan militer, tergantung pada penggunannya.

Dari segi dapur pacu, baik versi militer maupun penumpang, keduanya sama-sama menggunakan mesin 2x Rolls-Royce Dart Mk.532-7 dengan kecepatan jelajah 460 km per jam dan jarak tempuh mencapai 2.600 km.

Baca juga: Selain Mandala Airlines dan Hercules TNI AU, Inilah Daftar Kecelakaan yang Terkait Bandara Polonia Medan

Selain versi komersial dan militer, F-27 juga dikembangkan sampai saat ini dan telah digunakan oleh banyak negara. Salah satunya Singapura yang mengoperasikan F-27 versi intai maritim.

Bahkan F-27 dikembangkan untuk bisa dilengkapi persenjataan, yakni Fokker F-27 Enforcer yang bisa menggotong beragam rudal seperti AM39 Exocet, Harpoon, Sea Skua dan Maverick. Enforcer juga dilengkapi radar intai permukaan yang canggih. Enforcer saat ini telah digunakan oleh Belanda, Irlandia, Finlandia, Singapura, Filipina, Spanyol dan Thailand.

Meski Ada Perubahan Jadwal, Kereta Jarak Jauh Harus Tetap ‘Berhenti’ dan Isi Air ke Gerbong

Kereta api membutuhkan air dan salah satunya untuk mengisi persediaan di toilet di setiap gerbongnya. Hal ini yang kemudian membuat perjalanan kereta api harus berhenti dalam waktu tertentu untuk melakukan pengisian air sebelum kembali melaju di rel.

Baca juga: Sepur Kluthuk Jaladara, Kereta Uap Kuno Yang Lintasi Jalur Kota Solo

Namun bagaimana dengan pengisiannya saat perubahan jadwal kereta api mulai berlaku pada 1 Juni lalu? Karena harus memperhatikan ketersediaan air di gerbong, kereta api akan tetap berhenti di stasiun yang ditentukan untuk mengisi air di setiap gerbong.

Kepada Daerah Operasional (Daop) 4 Semarang PT KAI Wawan Ariyanto mengatakan, dalam Gapeka 2014, beberapa kereta api diprogramkan untuk berhenti di stasiun tertentu untuk pengisian air. Waktu yang digunakan adalah selama 15 menit. Hal ini karena satu gerbong kereta api rata-rata membutuhkan 60 liter air untuk dua tandon.

Wawan menjelaskan, bahwa satu rangkaian kereta api rata-rata memiliki delapan gerbong. Air tersebut biasanya digunakan untuk air toilet di setiap gerbong kereta api jarak jauh.

“Kalau dulu, begitu air habis, petugas bilang baru diisikan,” kata Asdo Atriviyanto selaku Manager Operasional PT KAI Daop 4 Semarang yang dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com.

Tempat pengisian air kereta di Daop 4 Semarang berada di Stasiun Semarang Tawang untuk KA Gumarang, KA Harina dan KA Majapahit. Kemudian di Stasiun Poncol untuk KA Brantas dan KA Matarmaja. Sedangkan stasiun Tegal untuk mengisi air KA Menoreh dan KA Kertajaya.

Baca juga: Ini Alasan Anak 12 Tahun Tak Diizinkan Naik Kereta Api Jarak Jauh

Selain pengisian air, pemasangan CCTV juga dilakukan untuk kenyamanan penumpang agar merasa aman. Meski demikian saat ini aplikasi CCTV masih diberlakukan di KA Argo Sindoro.

“Baru Argo Sindoro satu set CCTV. Bertahap, nanti KA eksekutif akan dipasangi semua, tahun ini,” ujarnya Wawan.






















Kisah Pesawat Buatan Putra Blitar yang Sempat Jadi Andalan TNI AU, Fokker F-27 dan F-28

Hari ini, 5 Oktober, Tentara Nasional Indonesia (TNI) merayakan hari jadinya yang ke-76 dengan mengambil tagline Bersatu, Berjuang, Kita Pasti Menang. Spesial Dirgahayu TNI, redaksi KabarPenumpang.com coba mengulas kembali salah satu pesawat buatan putra Blitar, Anthony Fokker, yang dahulu sempat menjadi andalan TNI Angkatan Udara (TNI AU); pesawat turboprop Fokker F-27 Fellowship atau Fokker F-27 Troopship dalam versi militer dan pesawat jet F-28 Fellowship.

Baca juga: Fokker F-27 Friendship, Pesawat Transisi Garuda Indonesia Menuju Era Jet Domestik

Sejarah kehadiran pesawat Anthony Fokker cah Blitar di Indonesia, dalam hal ini Fokker F-27 dan F-28 tak terlepas dari keputusan salah satu Direktur Utama Garuda Indonesia terbaik sepanjang sejarah, Wiweko Soepono. Ketika itu, Wiweko, yang juga dikenal sebagai bapak ‘Two-Men Cockpit’ dan berhasil mengubah wajah industri dirgantara global ini, mulai menggunakan pesawat F-27 pada tahun 1969.

Oleh Wiweko, F-27 dimaksimalkan sebagai mesin uang yang keuntungannya digunakan untuk pengadaan armada baru.

Pengabdian F-27 di Garuda Indonesia berakhir pada tahun 1977, dan sejak itu Garuda Indonesia fokus menggunakan armada pesawat jet untuk penerbangan domestik, selain mengandalkan Fokker F-28, untuk misi penerbangan domestik dan regional BUMN tersebut mempercayakan pelayanan pada pesawat jenis Douglas DC-9.

Sebetulnya, sebelum digunakan Garuda Indonesia sebagai pesawat penumpang, Fokker F-27 sudah lebih dahulu hadir di Indonesia melalui PT Pertamina pada tahun 1966.

Selama dioperasikan Pertamina, F-27 diplot sebagai pesawat transport. Tujuan yang paling sering ditempuh yaitu ke Medan, Palembang, dan Sorong. Termasuk ketika Pepera (Pengumpulan Pendapat Rakyat) di Irian Barat tahun 1969. Namun, eksklusivitas pesawat tersebut bersama Pertamina membuat tak banyak yang mengetahui ketangguhan pesawat ini.

Baca juga: Lockheed L-100-30, Hibah Merpati Nusantara Airlines yang Kini Jadi Andalan TNI AU

Barulah setelah Garuda Indonesia menggunakannya sebagai pesawat penumpang, Fokker F-27 mulai dikenal masyarakat; termasuk KSAU saat itu Marsekal Saleh Basarah.

Hanya saja, hal yang paling menentukan dalam sejarah pengoperasian pesawat Fokker F-27 di TNI AU terjadi saat ia diundang ke pabrik Fokker di Belanda. Alhasil, TNI AU pun resmi mengoperasikan Fokker F-27 Troopship, dengan penekanan pada kemampuan penerjunan pasukan lintas udara, sejak 8 Agustus 1976. Total delapan pesawat dibeli TNI AU dan bergabung dengan Skadron Udara 2 Wing Udara 1.

Sebelum kedatangan pesawat yang oleh TNI AU dijuluki ‘Flying Horses’ atau Kuda Terbang tersebut, armada Skadron ini diisi oleh pesawat tua besutan Uni Soviet, yaitu Ilyushin Il-14 ‘Crate’ dan Ilyushin Il-14 Avia-14 (lisensi Cekoslovakia); dan C-47 Dakota, pabrikan Amerika Serikat (AS).

Ketiga pesawat tersebut sudah digunakan Skadron Udara 2 sejak masa pasca-kemerdekaan (1955) hingga tahun 1970-an.

Pasca bergabungnya pesawat ini, Marsekal Saleh Basarah pun sering melakukan perjalanan dinas menggunakan F-27 VIP. Tentu ini bergantung pada medan dan rute yang ditempuh.

Sejak saat itu, pesawat dengan mesin 2x Rolls-Royce Dart Mk.532-7 dengan kecepatan jelajah 460 km per jam dan jarak tempuh mencapai 2.600 km ini terus menjadi andalan TNI AU selam puluhan tahun, didukung dengan saudaranya, Fokker F-28.

Baca juga: Fokker F-28, Pernah Menjadi Tulang Punggung Armada Garuda Indonesia

Berbeda dengan F-27 Troopship yang memang dibeli baru oleh TNI AU, Fokker F-28 Friendship adalah pesawat hibah dari Pelita Air, Merpati Nusantara Airlines, dan Garuda Indonesia dalam kurun waktu 1983-2013.

Total ada empat unit pesawat yang dihibahkan ke TNI AU dan masuk dalam inventori Skadron Udara 17/VVIP dengan tail number A-2801, A-2802, A-2803, dan A-2804. Jenderal Wiranto mungkin lekat betul ingatannya dengan pesawat satu ini. Ketika itu, di tahun 98, ia pernah menjadikan F-28 sebagai pesawat komando udara, saat harus terbang dari Malang ke Jakarta.

Survei: Mayoritas Penumpang Pesawat di Asia-Pasifik Siap Bepergian Akhir Tahun Ini

Hasil survei Asia-Pasifik (APAC) Passenger Confidence Tracker 2021 oleh Inmarsat menunjukkan, penumpang pesawat di Asia-Pasifik siap terbang akhir tahun ini. Selain itu, hasil survei juga menunjukkan penumpang pesawat di APAC mengaku merasa aman dengan syarat wajib vaksin bagi penumpang pesawat.

Baca juga: Penumpang Internasional Masih Loyo di Asia-Pasifik, Lambannya Vaksinasi Jadi Penyebab

Survei ini tentu berbanding terbalik dengan data dari Association of Asia-Pacific Airlines (AAPA). AAPA Juni lalu merilis, jumlah penumpang internasional masih sebesar 3,6 persen dibanding periode yang sama tahun 2019. Terpaut sangat jauh.

Sebetulnya, penumpang internasional pada April 2021 sudah jauh meningkat dibanding April 2020. Catatan AAPA, sepanjang April 2021, ada sekitar 1.126.000 penumpang internasional yang diangkut maskapai se-Asia-Pasifik. Jauh berbanding terbalik dari kondisi pada April 2020 yang hanya sebesar 367.000 penumpang internasional.

Kendati demikian, angka di kedua tahun tersebut masih jauh dibanding April 2019, di mana angkanya mencapai 31.185.000 penumpang.

Direktur Jenderal AAPA, Subhas Menon, mengungkapkan, ada beberapa faktor penyebab masih rendahnya jumlah penumpang internasional. Salah satunya ialah lambannya vaksinasi di negara-negara Asia-Pasifik.

“Munculnya varian (Covid-19) baru dengan tingkat penularan yang lebih tinggi telah menghalangi ekonomi Asia untuk membuka kembali perbatasan mereka, dengan persyaratan karantina yang ketat semakin menekan permintaan perjalanan internasional,” jelasnya.

“Di Asia, kecepatan vaksinasi yang relatif lambat terus merusak pemulihan ekonomi kawasan, khususnya, sektor perjalanan dan pariwisata yang sangat terpukul,” tambahnya.

Namun, situasi tersebut diyakini bakal berubah. Apalagi survei membuktikan hal itu. Dari 100 persen, 85 persen penumpang atau responden APAC mengaku terdampak pandemi Covid-19. Itu artinya kemampuan mereka bepergian terganggu.

Akan tetapi, 51 persen dari mereka menyebut akan tetap mengupayakan terbang di akhir tahun ini. Bahkan, 20 persen dari Australia mengaku akan terbang atau bepergian mulai bulan depan.

Keinginan penumpang pesawat di APAC kembali terbang juga dibarengi dengan faktor lainnya. Disebutkan, 32 responden di APAC mengaku percaya pesawat lebih aman dibanding moda transportasi lainnya. Selain itu, mayoritas dari mereka juga percaya pandemi virus Corona akan berlalu dan berbagai pembatasan serta karantina di seluruh dunia berakhir.

Meski begitu, mayoritas penumpang mengaku hanya akan terbang bersama maskapai tertentu. Utamanya, maskapai yang ketat menerapkan protokol kesehatan dan terus menghadirkan teknologi terkini dalam kaitannya dengan kebutuhan penumpang di tengah pandemi.

Baca juga: Maskapai Internasional Mulai Ramai Tawarkan Asuransi Covid-19 untuk Penumpang

“Sejak awal pandemi, industri penerbangan telah menghadapi tantangan demi tantangan. Namun, maskapai sekali lagi menunjukkan ketahanan mereka dan melangkah ke tantangan tersebut. Passenger Confidence Tracker terbaru kami mengungkapkan bahwa pelancong di Asia Pasifik adalah yang paling percaya diri terhadap langkah pragmatis untuk perjalanan dan memiliki sikap positif untuk kembali ke angkasa,” kata David Coiley, wakil presiden regional Inmarsat Aviation Asia-Pasifik.

“Dengan keselamatan dan reputasi yang semakin penting bagi penerbang saat ini, ada kebutuhan mendesak bagi maskapai penerbangan untuk merangkul peluang baru dan membedakan diri mereka untuk mendorong penumpang kembali ke penerbangan mereka saat perjalanan terus dilanjutkan,” tutupnya, seperti dikutip dari Asian Aviation.

Bus Tingkat Ternyata Awalnya di Paris Bukan London

Siapa yang tak kenal dengan bus tingkat? Bus ini bahkan sudah menjadi ikon industri pariwisata dan yang paling terkenal adalah bus tingkat berwarna merah di London, Inggris. Tapi sebenarnya bagaimana sejarah bus tingkat atau yang sering disebut double decker ini?

Baca juga: Si Jangkung Merah dari Inggris Pernah Jadi Primadona Transportasi Jakarta

Ternyata bus tingkat ini pertama kali hadir tahun 1828 di jalanan Paris, Perancis. Di mana ini awalnya adalah kereta kuda dua tingkat yang dipelopori oleh seorang pria bernama Stanislas Baudry. Karena terinspirasi dari ide Baudry tersebut membuat George Shillibeer membawa omnibus ke London, Inggris.

KabarPenumpang.com dari vancouver.com, tarif awal omnibus ini adalah satu shiling dan bus mampu menampung 22 penumpang. Kemudian tahun 1920-an, versi pertama bus tingkat bertenaga mesin memulai debutnya untuk penduduk London.

Pertumbuhan populasi yang pesat akhirnya mendesak kebutuhan transportasi dan membuat lebih banyak bus. Hal ini bahkan memicu persaingan diantara banyak perusahaan di kota. Pada pertengahan 1920-an, bahkan ada sekitar 20 perusahaan berbeda dengan bus yang meluncur di seluruh kota.

Pemilik terbesar dari bisnis tersebut adalah The London General Omnibus Company (LGOC) yang membedakan identitas bus tingkat mereka dengan warna merah cerah. Saat itu pemilik LGOC mengaku ragu ada orang yang bisa memprediksi makna historis dari pemilihan satu warna tersebut.

Hingga 1930-an, banyak perusahaan lain bergabung menjadi bagian dari Dewan Transportasi Penumpang London yang kolektif. Permintaan bus kemudian terus meningkat hingga 1950-an saat model double decker yang paling dikenal muncul.

Routemaster adalah bus tingkat yang pertama kali dibangun tahun 1956 dan memiliki pintu masuk belakang yang terbuka. Namun pintu ini kemudian dihilangkan karena orang mengira mereka dapat melompat dan turun saat bus bergerak.

Baca juga: Mau Naik Bus Tingkat, Sebaiknya Pilih Duduk di Atas atau di Bawah?

Populernya double decker ini karena bus satu tingkat tidak dapat menampung banyak orang dan versi akordeon yang lebih panjang tidak dapat menangani jalan-jalan sempit di London. Selain itu juga orang-orang juga menyukai atap terbuka. Selain d London, kota lain seperti Hong Kong, Roma, Paris dan lainnya juga memiliki bus tingkat serta menjadi yang terfavorit untuk menikmati kota.

Intip Gaya Anjing Ini Nikmati Kursi Kelas Bisnis Singapore Airlines dari Sydney-Italia

Anjing biasanya turut dalam sebuah penerbangan di dalam sebuah kennel atau kandang. Tetapi, berhubung kabin penumpang dalam perjalanan dari Sydney ke Italia Singapore Airlines kosong, mengingat pembatasan ketat pemerintah Australia, anjing tersebut diperbolehkan berada di luar kennel dan ‘duduk’ di kursi kelas bisnis.

Baca juga: [Video] “Robot Anjing” Unjuk Gigi Tarik Pesawat!

Lewis, begitulah sapaan akrab anjing beruntung yang diizinkan duduk di kursi kelas bisnis ini. Eks anjing balap ini diketahui baru selesai mengenyam ‘pendidikan’ di Greyt Grays Rescue yang berbasis di Melbourne, sebuah organisasi nirlaba yang didedikasikan untuk menyelamatkan, mengadopsi, dan membina anjing greyhound bekas balap dengan kehidupan baru yang jauh lebih baik.

Setelah mendapat pendidikan khusus untuk mengubur masa kelamnya sebagai anjing balap, Lewis akhirnya dibawa ke Italia oleh sang empunya. Sayangnya, tak disebutkan siapa sang pemilik anjing tersebut.

Gaya anjing ini dalam penerbangan Singapore Airlines rute Sydney-Italia. Foto: Executive Traveller

Yang pasti, laporan Executive Traveller, Lewis tampak sangat menikmati penerbangannya di kursi kelas bisnis Singapore Airlines dalam perjalanan ke Italia.

Dengan ditemani beberapa boneka yang turut menjadi bagian darinya dalam menata ulang kehidupan, Lewis, Lewis melakukan berbagai aktivitas selama dalam penerbangan, seperti tidur, menikmati pemandangan luar jendela, sampai menikmati sajian khusus untuknya yang berbeda dengan penumpang kelas bisnis Singapore Airlines pada umumnya.

Menariknya, anjing langka yang diberi kesempatan duduk di kursi kelas bisnis ini ternyata terbang bertepatan dengan hari lahirnya. Tak menyia-nyiakan momen tersebut, kru maskapai merayakan hari jadinya itu dengan menyiapkan tiga pastry, lengkap dengan tulisan happy birthday.

Foto: Executive Traveller

Entah karena merasa diberikan layanan sangat hangat oleh kru atau memang sangat berkesan dengan pengalamannya duduk di kursi kelas binsi Singapore Airlines, yang jelas Lewis diakui oleh kru sebagai anjing yang paling kalem di penerbangan.

Greyt Grays Rescue membeberkan, kru maskapai mengatakan “Ia adalah anjing terbaik yang pernah mereka miliki, termasuk anjing pelayan yang terlatih penuh.”

Anjing bekas balapan ini merayakan ulang tahunnya saat dalam penerbangan tersebut. Foto: Executive Traveller

Kebijakan adanya hewan di dalam kabin penumpang tentu berbeda-beda tiap maskapai. Singapore Airlines memang terkenal ketat dan jadi salah satu maskapai yang tidak membolehkan adanya hewan di dalam kabin, semata demi kenyamanan bersama.

Baca juga: Lagi Enak Makan Cemilan, Tiba-Tiba Seekor Anjing ‘Nimbrung’ di Celah Kursi Pesawat

Hanya saja, saat hewan berada di kargo dan terpisah dari sang pemilik, keduanya kerap terpisah karena satu dan lain hal.

Maret 2018 lalu, United Airlines pernah membawa kargo berupa anjing German Shepherd. Namun, alih-alih membawanya ke Wichita, Kansas, Amerika Serikat dan bertemu dengan sang pemilik, maskapai justru membawanya ke Jepang.