Dikejar Target 100 Juta Wisatawan oleh Kerajaan Arab Saudi, Saudia Putar Otak

Arab Saudi ingin bertransformasi, dari semula mengandalkan minyak sebagai sumber pendapatan negara menjadi pariwisata. Transformasi besar-besaran itu, oleh Pangeran Mohammed bin Salman bin Abdulaziz atau Kerajaan Arab Saudi, disebut sebagai Visi 2030.

Baca juga: Keren, Bandara Internasional Laut Merah, Fasilitasi ‘Sultan’ Parkir Mobil di Dekat Pesawat

‘Visi 2030’ sendiri ialah sebuah rencana pembangunan jangka panjang Arab Saudi yang menekankan pada diversifikasi ekonomi agar tak hanya mengandalkan minyak bumi yang harganya terus turun.

Dana untuk proyek ini mencapai US$4 miliar (Rp53,33 triliun), yang diperkirakan bisa meningkatkan ekonomi Saudi dan menciptakan 35.000 lapangan pekerjaan baru. Harapan Arab Saudi adalah dapat menarik 100 juta pengunjung sepanjang tahun 2030.

Atas proyek ambisius 100 juta turis pada 2030 tersebut, semua lembaga dan perusahaan BUMN Kerajaan Arab Saudi mulai berpikir keras semata merealisasikan itu. Salah satu BUMN yang berada di garda terdepan dan berperan besar dalam terwujudnya target tersebut tentu adalah maskapai penerbangan nasional, yaitu Saudi Arabian Airlines.

Sebelum Visi 2030 tercetus pada 2016 silam, Saudi Arabian Airlines atau Saudia bukan merupakan maskapai yang kuat di penerbangan internasional. Dalam persaingan di Timur Tengah, Saudia sudah jauh tertinggal dibanding The Three Mega Carrier, Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways; baik dari segi rute, konsep hub and spoke, fasilitas, harga, armada, dan lain sebagainya.

Dari segi rute, Saudia saat ini memiliki 50 rute internasional. Itupun bukan untuk tujuan bisnis maupun pariwisata andalan secara umum, melainkan untuk tujuan wisata religi dari seluruh dunia ke Mekkah-Madinah. Jauh di bawah ketiga kompetitornya yang mencapai ratusan rute internasional.

Begitu juga dengan positioning sebagai hub di Timur Tengah, fasilitas, harga, dan armada, Saudia jelas tertinggal dibanding para kompetitor Timur Tengahnya.

Oleh karena itu, agar bisa melampaui ketiga kompetitor terberatnya, Saudia harus berpikir keras. Hal itu diungkapkan langsung oleh CEO Saudia, Capt. Ibrahim Koshy, dalam sebuah wawancara di FTE Apex Virtual Expo 2021, belum lama ini.

“Ketika kita berbicara tentang visi 2030, kita berbicara tentang menarik 100 juta wisatawan yang sebelumnya tidak datang ke Arab Saudi. Saudia memiliki peran, ketika Anda melihat apa yang terjadi selama lima tahun ke depan dan bahkan setelahnya dari sini hingga 2030,” jelasnya.

“Kami memiliki peran yang harus disiapkan untuk benar-benar membawa orang-orang itu ke dan dari sini. 100 juta turis itu sebenarnya setara dengan 330 juta pengguna bandara,” tambahnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Aroma positif menuju 100 juta wisatawan pada 2030 sebetulnya sudah merebak dari tubuh Saudia. Mei lalu, maskapai itu didapuk sebagai maskapai terbaik di Timur Tengah selama periode musim panas tahun ini.

Baca juga: Arab Saudi Pamer Desain Bandara Baru Mirip Fatamorgana di Tengah Padang Pasir

Maskapai nasional Arab Saudi itu berhasil mengungguli tiga maskapai top Timur Tengah yang terkenal sebagai The Three Mega Carrier, yaitu Emirates, Qatar Airways, dan Etihad Airways, yang masing-masing menempati urutan kedua keempat.

Kendati itu masih di tataran domestik, namun, capaian ini tak bisa dipandang sebelah mata. Di masa mendatang, Saudia sangat berpotensi untuk menjadikan hub terbesar di Timur Tengah dan mendukung Kerajaan Saudi Arabia di bawah program Visi 2030 untuk mendatangkan 100 juta wisatawan.

HMSHost International Menang Tender Sebagai Mitra Tenant F&B di Bandara Ngurah Rai

Di tengah lesunya bisnis di sektor dirgantara, ada kabar dari PT Angkasa Pura I (Persero) yang mengumumkan HMSHost International sebagai pemenang tender kerja sama mitra tenant food and beverages (F&B) di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali untuk 5 tahun ke depan dengan nilai kontrak sebesar €59 Juta.

Baca juga: Kemasukan Tikus, Airbus A340 Menteri Keuangan Jerman Pernah “Grounded” di Ngurah Rai 

Manajemen Angkasa Pura I mengapresiasi komitmen HMSHost International untuk mempertahankan minatnya menjalankan bisnis di Bandara I Gusti Ngurah Bali di tengah menurunnya trafik penumpang akibat pandemi Covid-19.

Dimenangkannya tender kerja sama ini memperpanjang posisi HMSHost International sebagai mitra operator F&B utama di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali yang sudah terjalin sejak 2013. Pada periode kerja sama baru ini, HMSHost International akan membawa beberapa merek resto dan kafe ternama, baik merek lokal maupun merek kafe global milik HMSHost International.

Adapun beberapa merek resto dan kafe yang akan dibuka di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali yaitu Sisterfields, Espreso Bar, FRESH, Two Dragons, dan Little Eats.

Sisterfields – Dikenal dengan resto makanan kekinian khas Australia untuk brunch dan keseharian, desain makanan yang menarik, dan sebagai salah satu ikon kuliner yang wajib dikunjungi turis internasional di Seminyak, Sisterfields sekarang tersedia di dekat Anda. Sisterfields adalah restoran kekinian untuk seluruh keluarga.

FRESH – FRESH adalah interpretasi lokal dari merek HMSHost sendiri yang sukses secara global, VIT. FRESH, sesuai dengan namanya, menjanjikan kesegaran di setiap makanan dan minuman yang disajikan. Mulai dari jus sehat, smoothie hingga makanan super, semua menu dibuat SEGAR untuk Anda.

Espresso Bar – Espresso Bar adalah kios kopi khusus cepat saji, cocok untuk setiap saat sepanjang hari seperti makanan jenis burger dan sandwich, salad bit yang sehat, dan makanan ringan lainnya untuk dibawa pergi.

Two Dragons – Dapur Asia oriental yang menampilkan berbagai masakan yang ditemukan dari seluruh Asia dalam suasana santai dengan layanan meja makan. Nikmati cita rasa segar lumpia Vietnam atau makanan rumahan sepanjang masa seperti Pad Thai, Bibimbap Korea, dan Ayam Mentega India.

Little Eats – pasar makanan yang dinamis untuk makanan ekspres sepanjang hari yang menyajikan berbagai kelezatan lokal dan internasional dalam makanan kemasan cepat seperti kue kering, salad, kotak bento, dan sandwich.

Pengiriman Melalui Laut Alami Penundaan, Kereta Barang Cina-Eropa Jadi Pilihan di Asia Tenggara

Dalam masa pandemi bukan hanya perjalanan penumpang yang terganggu untuk bepergian. Nyatanya perjalanan barang menggunakan kapal laut pun terjadi penundaan yang cukup besar sejak tahun lalu. Karena masalah ini, pengangkutan kereta api Cina ke Eropa yang terus mendapatkan keuntungan dari pasar pengiriman peti kemas menjadi kewalahan.

Baca juga: Bantu E-Commerce, Kereta Api Cina Kembangkan Jaringan Kargo Berkecepatan Tinggi

KabarPenumpang.com melansir laman theloadstar.com (25/05/2021), kini muncul permintaan untuk pengiriman ke Asia Tenggara. Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Cina, perjalanan kereta Silk Road meningkat 24 persen dari tahun ke tahun di bulan April menjadi 1.218 dan ada peningkatan volume sebesar 33 persen menjadi 117 teu. Direktur pengembangan bisnis APAC yang berbasi di Shanghai di Crane Worldwide Logistic, Marco Reichel mengatakan bahwa perusahaan mengalami permintaan besar untuk pengiriman menggunakan kereta api.

“Jumlah kereta yang berangkat dari China terus bertambah. Terminal laut telah mengalami kemacetan parah sejak tahun lalu, dan kami masih melihat penundaan besar untuk pengiriman laut. Ada juga lebih banyak pelayaran kosong, dengan beberapa diumumkan bulan ini dari THE Alliance, misalnya, jadi kami melihat lonjakan permintaan rel yang tinggi,” ujarnya.

Marco mengatakan, permintaan juga menyebar ke asal rel yang kurang tradisional seperti Crane memindahkan kargo melalui kereta api dari Jepang, Korea dan Vietnam. Dia menyebutkan, pihaknya juga mendapat cukup banyak permintaan untuk menghubungkan Thailand dan negara lainnya di Asia Tenggara.

“Ini akan berpindah melalui laut pendek atau dengan truk, ke Cina, tergantung pada lokasi asal. Pada titik ini saya akan mengatakan semua orang melihat ke segala arah bahkan Australia menjadi menarik,” tambahnya.

Rute kereta api baru lainnya yang populer adalah jalur laut melalui Pelabuhan Vladivostok di Rusia, di mana kereta dapat melakukan perjalanan langsung ke Eropa tanpa perlu penyeberangan perbatasan tambahan. Marco menegaskan, saat ini di Negeri Tirai Bambu masih tidak diizinkan memindahkan barang berbahaya melalui kereta api.

Sehingga Vladivostok adalah pilihan yang baik untuk melayani kargo seperti baterai. Keuntungan lain dari Vladivostok adalah untuk menghindari kemacetan barang yang meningkat di Cina.

“Sayangnya, kami melihat jadwal kereta api yang tidak dapat diandalkan karena China Railway telah mengumumkan pembatasan keberangkatan, dengan beberapa terminal dibatasi hingga 120 gerbong kereta api per hari. Alasan utamanya adalah kemacetan yang tinggi di penyeberangan perbatasan. Kami melihat kemacetan selama tujuh hingga sepuluh hari saat ini, jadi mereka membatasi arus untuk mencegah kemacetan yang semakin parah dan tekanan pada titik bea cukai,” katanya.

Selain itu, permintaan yang tinggi untuk angkutan kereta api berarti ada lebih sedikit pilihan peralatan, karena kontainer 20 kaki tidak lagi menjadi pilihan praktis.

Baca juga: Dari London, Kereta Kargo East Wind Sampai di Yiwu Setelah 19 Hari!

“Kereta api utama hanya membawa kubus setinggi 40 kaki, karena gerbong rel memiliki dimensi yang tepat untuk mengangkut satu kontainer berukuran 40 kaki. Dulu Anda bisa memindahkan kontainer 20 kaki, tetapi sekarang ini semua orang ingin menggunakan gerbong kereta sebanyak mungkin. Jadi kontainer 20 kaki akan diturunkan di terminal menunggu yang kedua datang. Dan bahkan memindahkan dua kontainer 20 kaki secara berpasangan telah dihentikan, terutama karena kemacetan dan pekerjaan tambahan bagi terminal untuk memuat ulang kontainer,” katanya.

Ada Sentuhan Mobil Mewah Honda, Ini Sederet Fitur Baru All-New HondaJet Elite S

Setelah sukses dengan pesawat jet bisnis HondaJet Elite pada 2018 silam, perusahaan otomotif Jepang, Honda, meluncurkan pesawat jet bisnis terbarunya, All-New HondaJet Elite S. Saat ini pesawat tersebut masih dalam proses sertifikasi laik terbang oleh otoritas setempat. Bila tak aral melintang, akhir tahun 2022 atau awal tahun 2023, pesawat tersebut sudah bisa dinikmati oleh sultan-crazy rich dunia.

Baca juga: Mitsubishi Uji Coba Regional Jet, Inikah Momen Kebangkitan Industri Dirgantara Jepang?

Dilansir New Atlas, pesawat jet bisnis itu menggabungkan kemewahan mobil Honda kelas atas saat melayang tinggi di angkasa. Banyak yang menyebut HondaJet Elite S merupakan versi udara dari Honda Accord.

Presiden dan CEO Honda Aircraft Company Michimasa Fujino sendiri mengatakan, sejak diperkenalkan pada 2018, pesawat HondaJet Elite telah mencapai kinerja terbaik di kelasnya sekaligus menjadi yang paling efisien. Kendati demikian, itu memang butuh riset tersendiri dari lembaga independen.

Terlepas dari hal itu, All-New HondaJet Elite S tentu saja menampilkan banyak hal baru dari saudara kembarnya HondaJet Elite.

Disebutkan, berat lepas landas maksimum All-New HondaJet Elite S meningkat sekitar 90 kilogram sehingga memungkinkan penumpang tambahan atau jarak terbang yang ditingkatkan, menjadi sekitar 225 km. Penggunaan Over-The-Wing Engine Mount (OTWEM) diklaim membuat pesawat memiliki bobot lepas landas yang lebih baik, didukung mesin GE Honda Aero Engines HF120.

Fitur spesial yang paling membedakan dengan HondaJet Elite tentu terletak di sistem avionik. All-New HondaJet Elite S disebut memiliki rangkaian avionik Garmin G3000 yang disesuaikan, termasuk FAA DataComm dan Aircraft Communications serta Addressing and Reporting System (ACARS), yang menggantikan komunikasi suara dengan pesan teks pendek melalui tautan data digital untuk kejelasan yang lebih baik.

Pesan-pesan ini termasuk perintah lalu lintas udara, informasi terminal, cuaca terminal, dan izin keberangkatan, unggahan rencana penerbangan, messaging, cuaca secara umum, transmisi otomatis saat position reporting, dan Out/Off/On/In status. Jika diinginkan, sistem COM3 dapat menonaktifkan Mode Datalink dan mengalihkan ACARS ke radio suara VHF ketiga. Sangat memudahkan pilot.

Selain itu, fitur Advanced Steering Augmentation System (ASAS) juga akan membatu pilot saat penerbangan jarak jauh. Sistem tersebut mengotomatiskan pengoperasian pesawat, seperti AutoPilot di pesawat konvensional, untuk membantu pilot beristirahat.

Cat baru pun ditambahkan yakni Gunmetal, Luxe Gold, dan Deep Sea Blue. Logo “Elite S” tersemat sebagai tampilan eksterior.

Pesawat Honda dirancang sebagai kelas bisnis yang mewah. Skema warna krem dipadukan dengan kursi empuk dan meja lounge yang dapat disesuaikan, pencahayaan fokus terarah, dan jendela besar bernuansa membantu pesawat menawarkan suasana yang cukup tenang.

Baca juga: Inilah Airbus ACJ319neo, Jet Pribadi Crazy Rich yang Terinspirasi Mobil Sport

Interiornya memang mirip dengan kabin beberapa mobil mewah Honda, dengan kapasitas enam penumpang, lengkap dengan dapur, toilet pribadi, dan sound system Bongiovi. Honda Aircraft Company yakin bahwa pesawat model terbaru ini akan menjadi pilihan yang disukai banyak pelanggan yang mencari pengalaman terbang pribadi.

Pesawat ini memiliki kecepatan tertinggi 422 knots atau 781 km per jam di ketinggian 30.000 kaki. Sedangkan jarak tempuhnya mencapai 1.437 nautical miles plus jangkauan ekstra 120 nm. Pesawat ini dapat terbang 17 persen lebih jauh dari generasi sebelumnya dengan penambahan jarak sejauh 396 km. All-New HondaJet Elite S memiliki jelajah maksimum ketinggian hingga 43.000 kaki.

Alert! Lima Citra Satelit Ini Tunjukkan Betapa Cepat Planet Bumi Berubah

Sebagian dari kita mungkin merasakan perbedaan keadaan planet bumi dari tahun ke tahun. Namun, hanya sebatas merasakan saja; seperti panas matahari makin terasa menyengat, cuaca makin tak menentu, wilayah yang biasanya tak banjir menjadi banjir, banjir yang semakin parah akibat penurunan tanah dan sebaliknya muka air laut meningkat, dan lain sebagainya.

Baca juga: Seberapa Amankah Bandara yang Terletak di Pesisir Laut dari Ancaman Bencana Alam?

Akan tetapi, bila merujuk pada data dari satelit observasi Bumi milik berbagai lembaga di dunia, rasanya perubahan yang dirasa oleh banyak negara dan masyarakat di seluruh dunia itu benar adanya.

Dari sekian banyak bukti terkait hal itu, sebagaimana dikutip dari theconversation.com, berikut lima foto-video (citra satelit) yang menunjukkan betapa cepatnya planet bumi tempat kita berpijak berubah.

1. Permukaan air laut terus naik di seluruh dunia

Permukaan air laut meningkat sangat cepat. Foto: ESA/CLS/LEGOS

Kenaikan permukaan laut diperkirakan menjadi salah satu konsekuensi paling serius dari pemanasan global. Bila tak ada tindakan serius dan strategis, wilayah pesisir di seluruh dunia bisa tenggelam beberapa tahun mendatang.

Dari gambar di atas, selama 13 tahun terakhir dari tahun 1993-2015, rata-rata kenaikan permukaan air laut di dunia mencapai 3,2 mm per tahun. Namun, itu tiga sampai empat kali lebih cepat di beberapa wilayah, seperti Pasifik barat daya hingga timur Indonesia dan Selandia Baru, di mana terdapat banyak pulau kecil dan atol yang sudah sangat rentan terhadap kenaikan permukaan laut.

2. Permafrost terus mencair

Permafrost di kutub utara. Foto: ESA

Permafrost adalah tanah yang membeku secara permanen dan sebagian besar terletak di Kutub Utara. Selaa ini, ia menyimpan sejumlah besar karbon di planet bumi, mencapai sekitar 1.500 miliar ton karbon -dua kali lebih banyak daripada di seluruh atmosfer- dan sangat penting agar karbon tetap berada di dalam tanah.

Tetapi ketika mencair, karbon tersebut dilepaskan sebagai CO₂ dan bahkan gas rumah kaca yang lebih kuat seperti metana. Citra satelit di atas menunjukkan betapa mengerikannya fenomena mencairnya permafrost.

3. Lockdown bikin langit Eropa lebih bersih

Citra satelit polusi di Eropa berukurang drastis akibat lockdown. Foto: ESA

Nitrogen dioksida adalah polutan atmosfer yang dapat berdampak serius bagi kesehatan, terutama bagi penderita asma atau fungsi paru-paru yang melemah, dan dapat meningkatkan keasaman curah hujan dengan efek merusak pada ekosistem yang sensitif dan kesehatan tanaman. Sumber utama polutan tersebut berasal dari mobil dan kendaraan lainnya.

4. Deforestasi di Amazon

Hutan tropis selama ini menempati posisi penting sebagai paru-paru dunia atau planet, menghirup CO₂ dan menyimpannya dalam biomassa kayu sambil menghembuskan oksigen.

Deforestasi di wilayah Amazon selama beberapa dekade belakangan diperparah dengan kebijakan legalisasi pembukaan hutan oleh pemerintah Brasil. Video dari satelit ESA/USGS di atas menunjukkan betapa cepatnya hutan hujan Amazon di negara bagian Rondonia, Brasil barat antara 1986 dan 2010.

Baca juga: Citra Satelit NASA Temukan Polusi di Cina Berkurang Drastis, Akibat Sepinya Penerbangan?

5. Gunung es sebesar dua kali lipat Jakarta

Gunung es di Antartika pecah dan membuat gunung es baru sebesar dua kali lipat Jakarta. Foto: ESA

Lapisan es di Antartika mengandung cukup banyak air untuk menaikkan permukaan laut global hingga 58 meter jika semuanya mencair. Sedang kenaikan beberapa milimeter saja sudah mengancam wilayah pesisir di seluruh dunia, apalagi sampai puluhan meter.

Belum lama ini, sebuah gunung es pecah dan membentuk sekitar gunung es baru yang lebih kecil dari gunung es secara keseluruhan namun amat besar ukurannya secara individu, mencapai 1.270 km² atau dua kali lipat luas ibu kota Indonesia, Jakarta. Video pecahnya gunung es dan membentuk gunung es baru bernama A-74 itu tertangkap secara dramatis oleh satelit ESA.

Jangan Salah, Boeing Juga Andalkan Kereta untuk Kirim Badan Pesawat ke Fasilitas Perakitan Akhir

Untuk pengiriman logistik lintas negara bahkan benua, produsen pesawat terbang macam Airbus dan Boeing sudah pasti mengandalkan jalur udara dan laut. Namun, bagaimana dengan pengiriman logistik lintas kota? Bergantung pada situasi dan kondisi, Boeing-Airbus memiliki pendekatan tersendiri.

Baca juga: Meski Jaya di Udara, Rupanya Airbus Andalkan Jalur Laut dalam Proses Perakitan Pesawat

Kita tahu, Airbus pada pertengahan tahun lalu untuk terakhir kalinya melakukan pengiriman badan pesawat A380 ke fasilitas perakitan akhir di pinggiran Toulouse, Perancis, dari pabrik Saint-Nazaire (berjarak sekitar 700 km) melalui jalur darat. Ketika itu, Airbus mengerahkan tiga truk. Sampai di sini, poinnya adalah Airbus memilih menggunakan truk untuk pengiriman jalur darat.

Lain Airbus, lain Boeing. Produsen pesawat terbesar di dunia itu diketahui sudah sejak lama mengandalkan kereta api untuk mengirim logistik, dalam hal ini badan pesawat. Badan pesawat tersebut diproduksi oleh Spirit AeroSystems di Wichita, Kansas, sedangkan fasilitas jalur perakitan akhir Boeing berada di Renton, Washington.

Tak seperti pada kasus pengiriman badan pesawat Airbus A380 yang hanya menempuh jarak sekitar 700 km, pengiriman fuselage Boeing 737 ke Renton berjarak sekitar 2.900 km. Cukup jauh untuk ditempuh menggunakan truk. Pun sebaliknya, terlalu singkat untuk mengerahkan pesawat kargo Boeing.

Karenanya, sejak 1960, menurut informasi Railway Age yang dikutip Simple Flying, Boeing sudah mulai mengirimkan logistik ke jalur perakitan akhir menggunakan kereta api. Bukan hanya badan pesawat 737, itu juga mencakup seluruh badan dan komponen pesawat Boeing lainnya.

Selain itu, pengiriman logistik berbasis kereta api juga dilakukan Boeing dari fasilitas produksi di Texas menuju Renton dan ada pula yang dikirim ke pabrik Boeing di Everett, Washington.

Pengiriman berbasis kereta oleh Boeing pertama kali dimulai dari rantai produksi pesawat 707, disusul Boeing 777, dan semakin diramaikan oleh komponen Boeing 737. Pada Februari 2018 silam, tercatat, badan pesawat ke 10.000 sukses dikirim ke fasilitas perakitan akhir di Renton menggunakan kereta api.

Kendati dianggap lebih efisien dan efektif dibanding pengiriman via udara ataupun menggunakan truk, pengiriman menggunakan kereta api juga rentan kecelakaan. Sejak pertama kali memulainya, kereta api yang dioperasikan oleh Montana Rail Link itu sudah beberapa kali mengalami kecelakaan.

Terakhir, kecelakaan kereta api yang mengangkut badan pesawat Boeing terjadi pada 2014 lalu. Ketika itu, kereta api anjlok dan menyebabkan 19 dari 90 gerbong keluar rel.

Baca juga: Airbus Pensiunkan Beluga Pertama di Dunia, Pertanda Apa?

Tiga dari gerbong tersebut diketahui membawa badan pesawat Boeing 737 dan terperosok ke Sungai Clark Fork di lembah sebuah gunung di AS. Beruntung, tidak ada korban luka maupun jiwa dalam insiden ini.

Meski demikian, ketiga badan pesawat yang tercebur ke sungai itu mengalami kerusakan dan harus dikirim ke pabrik untuk perbaikan. Satu dari ketiganya bahkan sampai terbelah dua.

Uready, Skuter Roda Tiga yang Bisa Dibelokkan

Sebuah perusahaan yang berbasis di Jerman yakni Oguzhan Abayrak baru-baru ini bertekad membuat skuter e-trike atau skuter roda tiga yang lebih baik dari sebelumnya. E-trike tersebut saat ini baru berupa sebuah prototipe yang sudah berfungsi dengan nama Uready.

Baca juga: Skuter Listrik Tiup Poimo Kini Hadir dalam Versi Custom-Fit, Skuter Bisa Menyesuaikan Badan

Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (21/4/2021), Uready sudah dilengkapi dengan bingkai aluminium yang memungkinkan pengendara bersabda ke belokan. Dilengkapi dengan motor hub depan 500 Watt dan rem cakram dibagian depan serta belakang.

Untuk mengendarainya, pengguna bisa memanfaatkan sakelar throttle ibu jari. Uready ini mampu melaju dengan kecepatan tertinggi 112 mph atau 20 km per jam.

E-trike buatan Jerman tersebut dilengkapi dengan baterai lithium yang pengisiannya terintegrasi dengan rangka yang kabarnya dapat dilepas. Dengan baterai yang digunakan, Uready akan mampu melaju hingga jarak sejauh 22 mil atau sekitar 35 km dan bisa digandakan dengan menambahkan baterai opsional kedua.

Untuk mengemudikannya, pengguna berdiri di atas beberapa pijakan kaki lipat. Ketika memarkirkan e-trike, pengguna dapat mengunci rangka agar tetap berdiri tegak.

Tak hanya itu, untuk menambah keamanan, pengguna bisa menggunakan rem parkir untuk mencegah Uready tergelincir atau melaju sendiri. Terlebih lagi, Abayrak mengatakan tim tengah mengerjakan pembuatan kendaraan yang dapat dilipat.

Dalam rencana awal ada 45 skuter roda tiga yang akan diproduksi dan ada kemungkinan produksi dalam skala lebih besar. Hiungan kalkulasi Kickstarter Uready senilai €3900 atau sekitar Rp67,7 juta yang diperuntukkan skuter roda tiga dengan satu baterai tersebut.

Baca juga: Mercedes-Benz Luncurkan Skuter Listrik dengan Bandrol Rp19,8 Juta

Pengiriman akan dilakukan September 2021 jika berjalan sesuai rencana. Selain Uready, e-trike lainnya yang bisa dibelokkan adalah Tris Bike. Di mana Tris Bike ini menempatkan kedua roda di depan dan menggunakan motornya untuk menambah tenaga pengendara dan gagal mencapai tujuan Kickstarter ya.

Gerbang Suar Jakarta Jadi Tema TOD Lebak Bulus

Berbagai fasilitas kini tengah dikembangkan di transit oriented development atau TOD Lebak Bulus oleh PT MRT Jakarta. TOD di Lebak Bulus ini akan dibangun di lahan seluas 78,5 ha dan memiliki tema Gerbang Suar Jakarta.

Baca juga: Garap TOD di Stasiun Layang, MRT Jakarta Siap Bangun Transit Plaza di Lebak Bulus

Plt. Corporate Secretary Division Head PT MRT Jakarta Ahmad Pratomo mengatakan, TOD Lebak Bulus memiliki visi untuk mewujudkan pergerakan ketersediaan ruang publik untuk memperkuat sistem penghubung antar lahan di dalam kawasan yang terintegrasi pada lahan-lahan pengembangan baru dengan berbagai fasilitas transit di Selatan Jakarta.

“Saat ini sudah terbangun infrastruktur yang berupa pedestrian di sekitar Stasiun MRT Lebak Bulus dan park & ride yang dapat digunakan untuk menitipkan kendaraan pribadi,” ujar Tomo dalam keterangan tertulis Kamis (20/05/2021).

Dia menambahkan, MRT Jakarta juga tengah membangun infrastruktur lainnya seperti Transit Plaza dan interkoneksi antara Stasiun MRT Lebak Bulus dengan Poin Square. Pengembangan TOD akan memiliki beragam potensi seperti kehadiran sekitar 1,5 ha taman dan ruang terbuka, enam titik kiss and ride yang dapat digunakan penguna kendaraan untuk melakukan drop off 8,2 km jalur pedestrian serta transit intermoda MRT Jakarta, TransJakarta dan bus.

Tomon menyebutkan, dalam pengembangan dan pengelolaan kawasan berorientasi trasit Lebak Bulus, dilakukan berbagai strategi pengembangan kawasan yakni untuk mengintegrasikan sistem transportasi publik dengan keseluruhan Lahan Perencanaan untuk mendukung kegiatan transit dan perpindahan antar moda yang mudah dan nyaman.

Kemudian meningkatkan kualitas ruang publik untuk mendorong pergerakan orang serta memberikan pengalaman ruang yang menarik menuju titik transit. Mengintegrasikan konsep pedestrian spine dengan konsep tata massa bangunan dan konsep tata guna lahan mikro di sepanjang koridor sumbu Transit Plaza (depan Poin Square) Interkoneksi Stasiun MRT Lebak Bulus-Poin Square.

Mengembangkan kawasan yang ramah pejalan kaki dan mengoptimalkan pedestrian linkage yang memungkinkan orang untuk berjalan dengan nyaman dan aman. Untuk mengembangkan konsep pemanfaatan dan pengendalian ruang publik di sepanjang jalur pergerakan transit agar sesuai dengan karakter kawasan dan sesuai dengan rencana kota.

“Pengembangan kawasan berorientasi transit Lebak Bulus diharapkan dapat menjadi magnet bagi masyarakat penglaju dari daerah penyangga seperti Tangerang Selatan yang banyak beraktivitas di Jakarta. Selain TOD Lebak Bulus, PT MRT Jakarta saat ini sedang mengembangkan kawasan transit terpadu lainnya di Stasiun Fatmawati, kawasan Istora Senayan, kawasan Blok M, dan Stasiun Dukuh Atas,” jelas Tomo.

Baca juga: Bangun TOD di Lebak Bulus, MRT Jakarta Lalukan Studi Pengembangan dengan Wijaya Karya

Pemerintah DKI Jakarta pun telah memberikan mandat kepada PT MRT Jakarta untuk menjadi operator utama pengelola kawasan TOD di kawasan stasiun sesuai dengan Pergub DKI Jakarta No.15/2019. Beleid ini tentang Penugasan Perseroan Terbatas Mass Rapid Transit Jakarta Sebagai Pengelola Kawasan Berorientasi Transit Koridor Utara-Selatan. Selain itu juga ada Pergub PRK No.67/2019 tentang Penyelenggaraan Kawasan Berorientasi Transit.

Gegara Tsunami Covid di India, Boeing 777 Emirates dari Mumbai ke Dubai Hanya Bawa Satu Penumpang

Lantaran tsunami Covid-19 yang meroket di India, banyak negara yang kini tak menerima kedatangan warga negara India, atau orang yang transit via India. Akibatnya, penerbangan yang keluar dari Negeri Anak Benua tersebut cenderung kosong akan penumpang. Seperti kejadian baru-baru ini, Boeing 777-300ER milik Emirates tujuan Mumbai – Dubai, hanya membawa satu penumpang saja.

Baca juga: Menjadi Penumpang Tunggal Dalam Penerbangan? Wanita Filipina Baru Merasakannya

Dilansir KabarPenumpang.com dari onemileatatime.com (26/5/2021), penerbangan dengan penumpang satu-satunya terjadi pada tanggal 19 Mei 2021. Penumpang itu mengatakan dirinya belum pernah merekam video selama penerbangan dan ini dilakukan karena merasa istimewa dalam penerbangan dari Mumbai menuju Dubai tersebut.


Dalam video pendek sekitar dua menit itu, penumpang terlihat dikawal dari setelah loket check in hingga masuk ke dalam kabin. Ketika tiba di kabin pun, penumpang disambut dengan antusias oleh beberapa anggota kru yang bertepuk tangan untuknya.

Tak hanya itu, kapten penerbangan juga keluar dari kokpit dan berkata, “Biasanya kami melakukan PA besar-besaran untuk mengumumkan detail penerbangan, tapi karena itu satu-satunya penerbangan di sini, saya akan memberikannya kepada Anda.”

Penumpang bernama Bhavesh Javeri bahkan bercanda dengan kapten bahwa terakhir kali dia menyewa mobil, itu adalah 50 kursi. Awak kemudian membawanya tur ke tiga kelas berbeda di dalam kabin, yang memiliki total 354 kursi. Namun dalam video itu tidak jelas di mana penumpang memesan kursinya dan duduk selama penerbangan.

“Meskipun saya menyadari biasanya ada aturan ketat seputar peningkatan gratis, saya merasa ini adalah salah satu contoh di mana akan lebih tepat untuk menabraknya ke kabin premium, jika dia belum berada di kabin,” ujar penumpang yang memiliki akun Twitter bernama @Ashoke_Raj.

Pesawat Emirates EK-501 tersebut dioperasikan dari bandara di Mumbai tujuan Dubai dengan satu penumpang dan lepas landas pukul 04.30 waktu setempat. Penumpang yang diangkut dari India pun hanya untuk beberapa kategori yang diizinkan masuk ke Dubai yakni, anggota misi diplomatik, pemegang visa emas Uni Emirat Arab (UEA), warga UEA dan penumpang yang dibebaskan atau diberi izin untuk memasuki UEA oleh otoritas yang sesuai.

Selain itu juga penumpang yang bepergian dengan penerbangan bisnis dan memiliki sertifikat uji PCR Covid19 yang valid. Untuk diketahui, UEA telah memberlakukan pembatasan ketat pada perjalanan. Pada 25 April 2021, UEA memberlakukan pembatasan pada orang yang datang ke negara itu dari India. Pada 24 Mei, UEA mengumumkan bahwa mereka memperpanjang larangan India hingga setidaknya 14 Juni 2021.

Baca juga: Jadi Penumpang Tunggal di Penerbangan Garuda Indonesia, Sosok Pengusaha Asal Palu Menjadi Viral

“Emirates telah menangguhkan penerbangan penumpang dari India mulai 24 April 2021 hingga 14 Juni 2021. Selain itu, penumpang yang telah transit melalui India dalam 14 hari terakhir tidak akan diterima untuk melakukan perjalanan dari titik lain ke UEA,” tulis Emirates dalam laman webnya.

Tak Benar Akan Dioperasikan PT LRT Jakarta, Skytrain Bandara Soetta Stop Beroperasi Karena Alasan Penghematan Biaya

Kabar burung tersiar dari akun Twitter @indoflyer yang mengatakan, PT LRT Jakarta akan mengoperasikan kereta layang atau Skytrain di Bandara Internasional Soekarno–Hatta. Di mana isi cuitan tersebut mengatakan bahwa Skytrain di Bandara Soetta tidak diperasikan oleh PT Angkasa Pura II atau AP II.

Baca juga: Layani Akses Terminal 2 dan 3, Skytrain di Soetta Resmi Diuji Coba

Cuitan itu mengatakan, bila AP II tidak memiliki izin mengoperasikan kereta tersebut dan Skytrain dioperasikan oleh PT LEN Railways System yang merupakan anak dari perusahaan LEN Industri. “Kabar terakhir [Kalayang] akan dialihkan ke PT LRT Jakarta,” bunyi cuitan akun @indoflyer tersebut.

Menanggapi hal ini, Corporate Communication LRT Jakarta Ati Kurniati menjelaskan terkait dengan operasi Skytrain Kalayang menjadi wewenang dari operator Bandara Soetta yakni AP II. Dia menegaskan sampai saat ini belum ada wacana jika LRT Jakarta akan mengoperasikan Kalayang tersebut.

“Sehubungan dengan operasional Kalayang Angkasa Pura II adalah sebagai pihak yang lebih berkompeten. Namun pada prinsipnya LRT Jakarta siap memberikan dukungan dan bantuan kepada semua operator transportasi termasuk AP II,” ujarnya.

PT Angkasa Pura II (persero) mengkonfirmasi tak beroperasinya kereta Kalayang di Bandara Soetta semata karena alasan cost leadership atau penghematan biaya. Yado mengatakan, saat ini untuk melayani perpindahan penumpang antara Terminal 2 ke Terminal 3, perseroan mengoptimalkan penggunaan shuttle bus.

Bahkan Yado membantah kabar burung yang beredar Skytrain tak beroperasi karena AP II tidak memiliki izin. Ini juga termasuk dengan adanya kabar kereta yang dioperasikan oleh PT LRT Jakarta.

Baca juga: Angkasa Pura II: Skytrain Akan Jadi Hadiah di HUT RI Ke-72

“Untuk ini memang Kalayang tidak dioperasikan sebagai salah satu kebijakan costleadership operasi. Bukan karena yang disampaikan di posting twitter @indoflyer itu kabar tidak benar. Saat ini pun masih dengan LEN,” ungkap Yado.