Kapal Ferry Berbahan Aluminium Berkecepatan Tinggi Buatan Filipina Tiba di Norwegia

Belum lama ini, Hull 419 telah berhasil dikirimkan oleh Austal Filipina ke Fjord Line of Norway. Ini adalah kapal ferry katamaran berkecepatan tinggi dengan panjang 109 meter dan memiliki dua dek untuk kendaraan.

Baca juga: Sungai Chao Phraya di Bangkok Kini Dilayani Kapal Ferry Bertenaga Listrik

Ferry katamaran tersebut dinamakan FSTR karena ini merupakan sebuah kapal aluminium terbesar yang pernah dibuat di Filipina. Bahkan ini juga menjadi kapal ferry terbesar berdasarkan volume yang akan dibangun oleh Autsal di salah satu galangan kapalnya di seluruh dunia.

KabarPenumpang.com melansir dari laman marinelog.com (2/3/2021), kapal ferry ini nantinya bisa mengangkut penumpang sekitar 1.200 orang dengan kecepatan hingga 40 knot. Selain itu dengan panjang 109 meter dan lebar 30,5 meter FSTR mampu mengangkut sekitar 404 mobil untuk dibawa pada dua dek kapal tersebut.

Uniknya, kapal ini memiliki beberapa inovasi desain utama yang mampu meningkatkan kinerja operasi dan kenyamanan penumpang. Salah satunya adalah bentuk lambung baru yang dioptimalkan akan meminimalkan konsumsi bahan bakar dan wake wash saat beroperasi di Laut Skagerrak antara Hirtshals di Denmark dan Kristiansand di Norwegia.

Pada penyerahan kapal yang diadakan di galangan kapal Balamban Cebu, Presiden Austal Filipina Wayne Murray mengatakan pengiriman FSTR hanyalah yang pertama dari tiga ferry berkecepatan tinggi besar yang akan dibangun di galangan kapal perusahaan yang baru diperluas.

“Dengan pengiriman FSTR, kami sekarang mempersiapkan peluncuran Hull 395, Bañaderos Express; sebuah kapal ferry trimaran 118 meter sedang dibangun untuk Fred. Olsen Express dari Kepulauan Canary. Mengikuti dari belakang itu, kami memiliki 115 meter Express 5 yang sedang dibangun untuk Molslinjen dari Denmark,” kata Murray.

Baca juga: Francisco, Kapal Ferry Wisata dengan Kecepatan 51,8 Knot!

“Kami baru saja mengirimkan ferry berkecepatan tinggi terbesar yang pernah dibuat di Filipina dan sebenarnya, ferry berkecepatan tinggi terbesar yang dibangun oleh galangan kapal Austal mana pun, di mana pun di dunia. Dan segera, kami akan melakukannya lagi, saat kami menyelesaikan Express 5 untuk Molslinjen. Kami memang pembuat rekor dan pemecah rekor galangan kapal,” tambahnya.

Tiga Alasan Mengapa India Tidak Cocok Bagi Maskapai Full Service

Dari tiga jenis maskapai penerbangan, yaitu full service, medium service, dan no frills atau low cost carrier (LCC), maskapai-maskapai full service diakui banyak pihak cenderung sulit bersaing di pasar India. Sebaliknya, maskapai LCC dan regional terus berjaya selama bertahun-tahun.

Baca juga: Tingkat Pelecehan Seksual di Udara Meningkat, Dua Maskapai India Perkenalkan “Pink Rows”

Data pada Desember 2019, sebelum pandemi virus Corona menghancurkan industri penerbangan, misalnya, menunjukkan maskapai LCC SpiceJet berhasil membukukan load factor tertinggi di Negeri Zamrud Khatulistiwa, sebesar 92,7 persen dan maskapai LCC lainnya IndiGo berada di posisi kedua, merengkuh load factor 91,5 persen. Bisa dibilang, hampir sepanjang tahun penerbangan selalu disesaki penumpang.

Bandingkan dengan dua maskapai full service di India, Vistara dan Air India. Vistara tercatat hanya membukukan load factor sebesar 81,1 persen dan maskapai nasional India, Air India sebesar 80,8 persen. Masih cukup tinggi memang, namun trennya terus menurun.

Dilansir Simple Flying, setidaknya ada tiga faktor yang mendorong terjadinya hal ini. Agar lebih lebih lengkap, berikut tiga alasan mengapa India tak cocok bagi maskapai full service.

1. Sensitif dengan harga

Layakanya di Indonesia, masyarakat di India juga sensitif dengan harga dibanding layanan. Singkatnya, masyarakat di sana menginginkan layanan bagus tapi murah. Bila tak dapat keduanya, harga murah lebih penting ketimbang layanan bagus. Perbedaan harga sekecil apapun pasti akan mempengaruhi pilihan penumpang terhadap maskapai.

Melengkapi hal itu, para penumpang pesawat di India juga disebut tak terlalu royal dengan satu maskapai. Selama maskapai tersebut terus menawarkan harga murah, ia akan selalu diburu, bahkan ketika maskapai murah tersebut memberikan layanan yang tak terlalu memuaskan.

Saat itu terjadi (layanan tak memuaskan), mungkin, sesaat maskapai akan ditinggalkan penumpang. Setelah itu, penumpang akan kembali dan menikmati harga murah ketimbang layanan memuaskan.

2. Regulasi tak mendukung

Regulasi menjadi syarat mutlak untuk maskapai penerbangan bertahan di industri yang cukup dinamis ini. Sayangnya, regulasi industri penerbangan di India tidak terlalu mendukung.

Dari segi perpajakan, pajak tinggi terhadap suku cadang dan lain sebagainya menjadikan maskapai terus tertekan. Pajak tinggi juga dilengkapi dengan tingginya harga avtur. Menurut The Economic, avtur dan pajak tinggi di India menyumbang sepertiga harga tiket atau dua kali lipat lebih tinggi dari standar global yang hanya sebesar 12-16 persen.

Baca juga: Heboh Maskapai Indonesia Diminta Tutup Fasilitas Toilet di Pesawat, Ternyata di India Sudah Duluan

Selain itu, kebijakan India’s open skies agreement yang tidak dibarengi dengan langkah penyelamatan maskapai dalam negeri juga membuat maskapai full service sulit. Kebijakan itu mengizinkan maskapai asing dari Timur Tengah untuk melayani lebih banyak penerbangan dari dan ke India.

3. Persaingan ketat

Perang tarif di India membuat maskapai saling berusaha menawarkan harga tiket termurah. Saat itu terjadi, kenaikan harga tiket sekecil apapun pasti akan ditinggal penumpang. Pun demikian dengan maskapai yang sejak awal memasang harga tinggi, sudah pasti akan ditinggalkan, kecuali oleh para pebisnis untuk rute-rute internasional jarak jauh, yang tak bisa dijangkau oleh maskapai LCC yang rute internasionalnya hanya sampai ke Timur Tengah dan Asia Timur.

Gegara Bayi Tak Gunakan Masker, Semua Penumpang Maskapai ini Batal Berangkat

Sebuah kekacauan terjadi di Bandara Internasional Miami karena Frontier Airlines membatalkan penerbangannya menuju Bandara LaGuardia pukul 19.00 waktu setempat. Pembatalan tersebut terjadi setelah sekelompok besar penumpang menolak untuk menggunakan masker.

Baca juga: Akibat Anak Tak Gunakan Masker, Satu Keluarga dan Penumpang Disebelah Dipaksa Keluar Pesawat

Tetapi saksi mata mengatakan bahwa satu keluarga yang menggunakan masker dan bayi berusia 18 tanpa masker untuk meninggalkan pesawat. Keributan awalnya terjadi di dalam kabin pesawat Frontier Airlines F92878 dengan tujuan LaGuardia dari Miami.

KabarPenumpang.com melansir nypost.com (1/3/2021), keributan tersebut kemudian memaksa semua penumpang untuk turun dari pesawat dan menjadwal ulang penerbangan mereka keesokan harinya.

“Beberapa orang, termasuk beberapa orang dewasa, diminta berulang kali untuk memakai masker mereka dan menolak untuk melakukannya. Berdasarkan penolakan terus menerus untuk mematuhi mandat topeng federal, penolakan untuk turun dari pesawat dan agresi terhadap awak pesawat, penegakan hukum setempat dilibatkan,” kata maskapai itu dalam sebuah pernyataan.

Namun seorang penumpang bernama Hershey Greenbaum mengatakan, bahwa bayi 18 bulan tersebut menjadi alasan pemindahan keluarga itu.

“Kami semua berada di pesawat ketika mereka [pramugari] datang dan melihat bayi berusia 18 bulan tanpa masker,” kata Greenbaum.

Dalam rekaman video kejadian tersebut, sang ayah terlihat menjelaskan bahwa anak tersebut berusia di bawah dua tahun. Greenbaum mengatakan penumpang lain datang untuk membela keluarga dan menjadi “gaduh” saat mereka di-boot. Orang tua bayi itu memberi tahu petugas bahwa mereka akan mencoba memasang penutup pada bayi, menurut Greenbaum, tetapi itu tidak menghentikan mereka untuk mengambil tindakan.

“Semua orang di pesawat menjadi sangat marah dan gaduh karena, apa yang akan kamu lakukan? Itu adalah bayi berusia 18 bulan. Kebanyakan dari mereka mengatakan ‘Jangan biarkan mereka melakukan ini padamu. Sebagian besar orang menentangnya, Yahudi atau bukan Yahudi, mengapa Anda memilih anak berusia 18 bulan?,” kata Greenbaum.

Frontier Airlines mengatakan untuk masalah ini tidak berasal dari seorang anak di bawah usia dua tahun. Meski begitu seorang penumpang yang merekam kejadian tersebut membagikannya di Twitter.

“Apa yang kamu capai?” kata satu orang.

“Anda akan membayar konsekuensinya,” terdengar penumpang lain berkata.

Baca juga: Pakai Masker Bisa Jadi Masalah Bagi Penderita Asma Kronis, Namun Awak Maskapai ini Tak Paham

“Ini Nazi Jerman,” teriak orang ketiga.

Greenbaum mengatakan sekitar 15 petugas polisi menanggapi insiden tersebut. Penumpang dilaporkan melanjutkan perjalanan mereka dengan maskapai alternatif.

Gegara Banyak Penumpang Batuk Mendadak Jelang Pesawat Lepas Landas, Penerbangan Ditunda

Wabah virus Corona telah menjangkiti lebih dari 115 juta warga dunia, dimana 2,5 juta di antaranya meninggal. Setelah setahun lebih mengancam nyawa miliaran orang di seantero bumi, Covid-19 belum juga mereda. Malah makin mengganas.

Baca juga: Ahli Virologi Ini Yakin Tertular Corona Lewat Mata dalam Penerbangan yang Penuh Sesak

Tak ayal, banyak orang masih sangat khawatir kapanpun dan dimanapun; tak terkecuali di pesawat. Terlebih, ketika secara tiba-tiba penumpang pesawat batuk-batuk dan mengalami sesak napas yang dikhawatirkan disebabkan akibat virus Corona. Seperti yang terjadi baru-baru ini.

Dilansir radio.com, sebuah penerbangan United Airlines dari Fort Myers, Florida ke Newark, New Jersey belum lama ini terpaksa ditunda lantaran penumpang tiba-tiba mengalami batuk-batuk jelang pesawat lepas landas. Tak hanya itu, beberapa dari mereka juga mengaku sesak napas, mirip gejala pasien positif Covid-19.

Tak ayal, melihat kejadian itu, pramugari pun mengabarkan ke pilot hingga akhirnya diputuskan untuk kembali ke apron dan seluruh penumpang diturunkan.

Beruntung, alih-alih penumpang serempak mendadak batuk-batuk dikarenakan virus Corona, ternyata itu terjadi akibat pepper spray atau semprotan merica yang secara tak sengaja disemprot oleh salah satu penumpang.

Peristiwa bermula saat penumpang tersebut duduk manis di bangku depan tak jauh dari pintu keluar. Saat pesawat taxiing, entah apa yang dilakukan, ia tanpa sengaja menyemprotkan pepper spray ke udara. “Oh, saya tidak sengaja menekan semprotan ini di gantungan kunci saya,” kata penumpang tersebut.

Sejurus kemudian, banyak penumpang dalam pesawat dengan nomor penerbangan 1061 tersebut batuk-batuk dan merasa tenggorokannya panas. Tak sedikit dari mereka yang mengidap asma juga merasa sesak napas.

Atas kejadian ini, Administrasi Keselamatan Transportasi (TSA) mengaku kecolongan membiarkan masuk semprotan merica ke dalam pesawat. Setelah ini, agensi itu mengaku akan menggembleng petugas untuk lebih selektif memeriksa barang-barang terlarang yang tidak disembunyikan ataupun disembunyikan penumpang.

Sementara itu, pihak United Airlines mengaku, penumpang yang mengalami batuk-batuk, tenggorakan panas, dan sesak napas, diberi pilihan untuk tetap ikut penerbangan 1061 atau beralih ke penerbangan selanjutnya dengan konsekuensi harus menunggu beberapa waktu.

Adapun penerbangan 1061, disebutkan, tak lama setelah penumpang turun dan diberi pilihan, pesawat berhasil diberangkatkan.

Baca juga:Pilu! Inilah Curhatan Savannah Phillips, Penumpang Pesawat yang di Bully Karena Tubuhnya

Semprotan merica atau pepper spray sendiri termasuk ke dalam jenis gas air mata atau lachrymatory agent. Senyawa kimia yang terkandung pada lachrymatory agent dapat menyebabkan air mata keluar dan rasa sakit pada mata.

Selain itu, semprotan yang diciptakan pada akhir tahun 1970-an oleh kepolisian Amerika itu juga mengandung capsaicin, yang secara alami ditemukan pada cabai dan bertanggung jawab atas rasa pedas khas yang timbul ketika kita memakan cabai. Itulah mengapa, ketika pepper spray disemprot ke udara, butir-butir halus yang tersebar membuat mata perih seperti medidih, sesak napas, tenggorokan pedas, batuk-batuk, dan lain sebagainya.

Cina Punya Rel Kereta Menembus Apartemen, Jepang Ternyata Punya Jalan Tol Menembus Gedung

Cina memiliki jalur kereta api yang melintas dan menembus apartemen. Tapi bagaimana bila jalan tol yang menembus gedung? Apakah Ada? Ya jalan tol ini bisa dilihat di Jepang, di mana negara ini selalu memiliki inovasi dalam banyak hal salah satunya adalah infrastruktur.

Baca juga: Wow, Ada Kereta Melintas di ‘Dalam’ Pusat Grosir Surabaya!

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bangunan yang ditembusi jalan tol adalah Gate Tower Builing yang mana ini sebuah gedung perkantoran berlantai 16 di Fukushima-ku, Osaka, Jepang. Bahkan gedung tersebut juga dijuluki sarang lebah karena tampilannya sebagai sebuah tempat sibuk.

Gate Tower Building ini dilalui oleh Hanshin Expressway yang melintas di antara lantai kelima hingga ketujuh. Sehingga bisa dikatakan Hansin Expresway merupakan penyewa dari lantai di Gate Tower Buliding. Bahkan lift pun dari lantai empat lanjut terus ke lantai delapan tanpa berhenti di tiga lantai tersebut.

Uniknya jalan tol tersebut tidak menyentuh fisik bangunan, tetapi ditopang oleh jembatan yang terpasang pada Gate Tower Building. Jalan tersebut dikelilingi sejenis struktur supaya bangunan yang ditembus tidak ikut bising dan bergetar.

Ternyata ada kisah dibalik pembangunan jalan tol yang menembus gedung tersebut. Usut punya usut, tahun 1983 lalu, pemerintah Osaka memutuskan untuk melakukan pembangunan kembali wilayah tersebut. Sayangnya tidak semua orang merelakan tanahnya.

Hal ini juga dilakukan oleh pemilik gedung yang merupakan seorang pengusaha batu bara dan kayu. Di mana mereka sudah memegang hak properti atas lahan tersebut sejak awal periode Meiji, tetapi pengalihan ke sumber bahan bakar lain mengakibatkan terabaikannya bangunan milik perusahaan.

Bahkan saat itu pemerintah menolak untuk memberikan izin mendirikan bangunan disitu karena sebuah jalan bebas hambatan akan dibangun ditempat yang sama. Pemegang hak properti menolak menyerah dan bernegosiasi dengan Hanshin Expressway Corporation agar memberi waktu lima tahun untuk mencari solusinya.

Hingga akhirnya sebuah kesepakatan terjadi dan sebuah peraturan baru dibuat tahun 1989 untuk mengizinkan sistem jalan multilevel yang memungkinkan integrasi pembangunan jalan dan bangunan di lahan yang sama. Sistem ini awalnya dirancang untuk memfasilitasi pembangunan jalan lingkar kedua di dekat Toranomon, Minato-ku, Tokyo, tetapi pada akhirnya tidak diterapkan di sana.

Baca juga: Permudah Transportasi Urban, Tiongkok Bangun Rel Kereta di Apartemen

Sistem ini malah diterapkan pada pembangunan Gate Tower Building dan menjadi gedung pertama di Jepang yang ditembus jalan bebas hambatan. Normalnya, jalan bisa dibangun di bawah tanah gedung dan menembus gedung seperti ini jarang dilakukan.

Hari Ini, Bandung Jadi Saksi Pesawat DC-3 KNILM ‘Senilai’ Rp212 Miliar Ditembak Jatuh Jepang

Pada hari ini, 79 tahun yang lalu, bertepatan dengan 3 Maret 1942 atau tiga hari sebelum Jepang menguasai Bandung, pesawat Dakota DC-3 PK-AFV “Pelikaan” milik maskapai pertama di Hindia-Belanda, Koninklijke Nederlandsch-Indische Luchtvaart Maatschappij (KNILM), ditembak jatuh tentara Jepang di Carnot Bay, 80 km (50 mil) utara Broome, Australia Barat.

Baca juga: PK-KKH, Sang Pendahulu N250 yang Lebih Awal Pamer Pesawat Indonesia di Eropa

Pesawat ini sebetulnya sama seperti pesawat DC-3 pada umumnya. Tetapi, Pangkalan Udara Andir yang pada 17 Agustus 1952 diubah namanya menjadi Lanud Husein Sastranegara dan sekarang berubah lagi menjadi Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung, menjadi saksi bahwa PK-AFV Pelikaan KNILM merupakan pesawat sangat mahal, mungkin termahal di zamannya, karena muatan misterius setara 10 juta dolar Australia atau sekitar Rp212 miliar lebih (kurs 11.155).

Dikutip dari ozatwar.com, kemunculan Jepang sebagai salah satu kekuatan mematikan di masa Perang Dunia II membuat Belanda dan sekutu ciut. Tak sedikit dari mereka yang bermukim di Hindia Belanda mencoba melarikan diri; termasuk para staf KNILM serta tentara NEI-AF beserta keluarganya yang menumpangi Dakota DC-3 PK-AFV.

Saat itu, pesawat ini dikemudikan oleh kapten pilot Ivan “Turc” Smirnoff, kopilot Johan “Neef” Hoffman, dan operator radio John “Jo” Muller, membawa sembilan penumpang, lima di antaranya pilot Angkatan Darat dan Angkatan Laut Hindia Belanda, empat sipil, dan satu bayi.

Sebelum berangkat sekitar pukul 1.15 malam waktu Bandung, Mr. Wisse, manajer Pangkalan Udara Andir, menitipkan kotak cerutu tanpa memberitahu isinya, ke pilot. Ketika itu, ia hanya menyebut bahwa kotak cerutu ini nanti akan dijemput pihak Australian Bank saat tiba di Broome.

Pesawat lepas landas dengan mulus dari Bandung menuju ke arah tenggara, tepatnya ke Broome, Australia Barat. Namun sayang, saat memasuki garis pantai Carnot Bay, 80 km (50 mil) utara Broome, Jepang baru saja selesai menggempur habis pangkalan militer di sana. Nahasnya lagi, tiga pesawat temput Jepang masih wara-wiri di sekitaran lokasi dan menemukan Pelikaan.

Walau sempat memberi kode bahwa DC-3 PK-AFV Pelikaan membawa penumpang sipil, namun Jepang tak menggubris dan memberondong tembakan ke pesawat. Meski sempat menghindar, sayap dan mesin pesawat terkena tembakan, termasuk sang pilot naturalisasi dari Rusia. Beruntung, pesawat berhasil mendarat dararut di pantai Carnot Bay.

Usai mendarat darurat Jepang masih memberondong dengan tembakan dari langit. Penumpang dan awak pesawat yang sedang berusaha melarikan diri, khususnya sang pilot yang diamanahkan kotak cerutu berharga, coba berlindung di dalam air.

Baca juga: Bandara Pondok Cabe, Ternyata Pernah Jadi Basis Pertahanan Penting Sekutu di Era Perang Dunia II

Percobaan itu berhasil dan Jepang pun pergi. Sayangnya, kotak cerutu itu terhempas ombak dan tak ditemukan sampai waktu yang lama. Setelah insiden itu, barulah diketahui bahwa kotak cerutu itu berisi berlian yang jika diasumsikan dengan kurs saat ini bernilai 10 juta dolar Australia atau sekitar Rp212 miliar.

Berlian itu kemudian ditemukan di beberapa tempat. Tetapi, hanya sebagian kecil berlian yang ditemukan dan sisanya masih belum ditemukan sampai saat ini dan menjadi salah satu misteri harta karun terbesar nan berharga.

Gegara Batu di Runway, Body Pesawat Boeing 747 Singapore Airlines Berlubang

Pasca mendarat di Bandara Internasional Brussels, pesawat Boeing 747 Singapore Airlines ditemukan berlubang atau rusak di bagian bawah pesawat dekat landing gear. Meski belum ada kepastian penyebab rusaknya bagian bawah pesawat, namun, hasil penyelidikan awal menemukan, insiden itu besar kemungkinan disebabkan oleh bebatuan yang berada di runway.

Baca juga: Dihantam Bird Strike, Hidung Airbus A380 Singapore Airlines Berlumuran Darah

Pada 26 Februari, pesawat kargo Singapore Airlines Boeing 747-400F lepas landas dari runway 36R Bandara Internasional Dallas-Fort, Amerika Serikat (AS) menuju Brussel, Belgia. Pesawat dengan nomor penerbangan SQ7951 itu dilaporkan menjalani penerbangan sembilan jam dengan mulus tanpa adanya gangguan apapun, seperti turbulensi, dan lain sebagainya.

Di hari yang sama, tepatnya pukul 16.20 waktu Belgia, pesawat berhasil mendarat juga dengan mulus di runway 25R tanpa adanya gangguan apapun. Setelah mendarat, pesawat melewati taxiway A6 dengan kecepatan tinggi sebelum meluncur ke apron. Sampai di sini, semuanya tampak biasa-biasa saja.

Akan tetapi, ketika diinspeksi oleh petugas, ditemukan sekitar empat lubang dengan diameter beragam. Lubang terbesar diperkirakan berdiameter 50 cm. Seluruhnya berada di bagian kanan belakang landing gear.

Setelah dilakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), kesimpulan awal dilaporkan, besar kemungkinan lubang tersebut akibat bebatuan yang ada di runway. Bebatuan tersebut diketahui terjatuh tanpa disengaja dari truk para pekerja konstruksi. Bebatuan ini kemudian menempel di roda saat pesawat mendarat dalam kecepatan tinggi dan terhempas ke segala arah serta membuat bagian bawah pesawat hancur berlubang.

Laporan Aviation Herald yang dikutip Simple Flying, menurut data ADS-B pesawat, tidak ada masalah di runway dan taxiway Bandara Internasional Dallas-Fort dan Bandara Internasional Brussels. Pun demikian dengan NOTAM (notice to airmen) taxiway A6 serta runway 07L dan 25R. Atas dasar itulah, kemudian penyelidikan mengarah ke bebatuan dari truk pekerja konstruksi yang melewati runway.

Meskipun pesawat diketahui sudah berusia lebih dari 16 tahun serta baru saja melakoni penerbangan keliling dunia, dimulai dari Bandara Changi, Singapura, pada 21 Februari, berlanjut ke Bandara Internasional Hong Kong, Bandara Internasional Ted Stevens Anchorage di Alaska, Bandara Internasional Los Angeles di AS, Bandara Internasional Dallas-Fort, dan mengakhiri perjalanan di Bandara Internasional Brussels, tetapi, itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan lubang di pesawat.

Baca juga: Pesawat Rusak Sebelum Take-Off, Penumpang Diminta Patungan Untuk Tutupi Bea Reparasi

Setelah ditemukan lubang tersebut, data menunjukkan, pesawat tertahan hampir dua hari untuk perbaikan sebelum kembali ke langit.

Singapore Airlines sendiri memang cukup mengandalkan Queen of the Skies di pasar kargo. Data dari Planespotters.net menunjukkan bahwa maskapai nasional Singapura ini memiliki tujuh 747-400 kargo. Secara kolektif, pesawat memiliki usia rata-rata 17,3 tahun, dengan usia termuda 15 tahun dan tertua 20,5 tahun.

SAIC Maxus Life Home V90 Villa Edition, Sensasi Campervan Dua Tingkat

Kemping dengan camper van banyak digunakan untuk keluarga yang tidak mau repot dengan menggunakan tenda. Biasanya campervan ini dilengkapi dengan tempat tidur, toilet dan dapur mini. Namun bagaimana jika campervan memiliki dua lantai? Salah satu camper van dengan dua lantai dihadirkan oleh SAIC Maxus Life Home V90 Villa Edition.

Baca juga: Habiskan Rp10 Juta, Pria Asal Malaysia Ubah Daihatsu Hijet S85 Jadi Campervan

Sehingga camper van ini lebih besar dari yang biasanya karena memiliki slide-outs yang bisa memperlebar lantai pertama dan kedua. Di mana dua lantai ini terbungkus kaca tinggi penuh yang dilengkapi dengan teknologi cerdas, bersih, estetika tajam, dan membua gaya yang nyaman seperti rumah sendiri.

Life Home V90 Villa Edition hadir pada acara perdana Oktober lalu untuk menunjukkan kemungkinan program penyesuaiannya. Motorhome Kelas C yang besar dan canggih berfungsi sebagai salah satu unggulan aspiratif dari keluarga RV-nya. KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (22/2/2021), edisi Villa awalnya menarik perhatian dengan rumah kaca pop-upnya yang besar, belum lagi balkon kecil di atas kabin pengemudi.

Kaca itu sendiri dapat menyesuaikan antara bening dan buram, memungkinkan pemilik untuk menyesuaikan antara privasi yang lebih besar dan pemandangan yang sejernih kristal. Ruang lantai atas multiguna mengutamakan kesehatan dan kesejahteraan.

Di dinding di seberang jendela, TV transparan besar memasang sistem hiburan yang juga mencakup audio lengkap dan sistem proyeksi multi-unit yang dipasang di langit-langit. Sistem pintar Maxus X-Connect RV mengontrol peralatan elektronik dan fasilitas yang sepenuhnya terhubung di sekitar ruang tamu dan kokpit kendaraan.

Penghuni dapat mengakses sistem menggunakan layar sentuh yang terpasang di dinding, perangkat seluler, atau perangkat yang dapat dikenakan yang kompatibel. Kontrol aplikasi, suara, dan gerakan melengkapi lingkungan rumah pintar canggih yang dioptimalkan untuk perjalanan darat.

Dinding di belakang dapur ditempati oleh kamar mandi dan sorotan Edisi Villa lainnya yakni lift untuk satu orang yang ringkas yang menyediakan cara yang lebih modern untuk naik ke lantai dua, menghilangkan ketergantungan pada tangga biasa atau tangga mini. Elektrik jendela dengan pemandangan terbaik bermandikan sinar matahari dan berpose, dan ruangan itu juga dilengkapi untuk berfungsi sebagai ruang makan, ruang minum teh, dan ruang belajar.

Pada dasarnya tempat untuk sepenuhnya melarikan diri dan menikmati pemandangan alam, tanpa meninggalkan kehangatan dan kenyamanan di dalam ruangan. Dek depan kecil yang diterangi memberikan pilihan terdekat untuk menghirup udara segar. Lantai atas berukuran 12,4 meter persegi (133 kaki persegi), tetapi lantai bawah memiliki ruang lantai seluas 20 meter persegi berkat perluasan dinding samping ganda.

Area ini sebagian besar didedikasikan untuk lounge dan dapur lapang yang dipisahkan oleh meja bar, menawarkan tampilan dan nuansa kondominium atau apartemen. Dapurnya dilengkapi dengan kompor, oven dan wastafel, dan lemari es berada tepat di seberang lorong di lemari di sebelah pintu masuk.

Baca juga: Canggih, Mercedes Benz Marco Polo Campervan Dilengkapi Voice Recognition! 

Saat malam tiba, tempat tidur utama dapat ditemukan di ceruk di atas kabin pengemudi. Sofa di lantai bawah dan bangku di lantai atas dapat dengan mudah menyediakan ruang untuk anggota keluarga lainnya, dengan asumsi tempat tidur tersebut diubah menjadi tempat tidur.

 

 

Kerangka Dibuat dari Kayu Jati, Bangunan Stasiun Lobener Masih Bertahan Hingga Kini

Halte Lobener atau dikenal dengan Stasiun Lobener saat ini statusnya nonaktif dan terletak di Jalan Raya Jatibarang, Indramayu, Jawa Barat. Stasiun tersebut masuk dalam wilayah aset III Cirbeon. Kehadirannya sendiri bersamaan dengan jalur kereta api Jatibarang–Indramayu yang dibangun oleh perusahaan pemerintah kolonial Belanda Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1912.

Baca juga: Empat Dekade Tak Beroperasi, Stasiun Garut Akhirnya Direaktivasi

Namun bagaimana keadaannya saat ini? Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, ternyata tak banyak masyarakat Indramayu yang tahu tentang stasiun ini. Padahal Stasiun Lobener menjadi saksi bisu perkembangan perkeretaapian di kabupaten Indramayu.

Disebut halte, karena Stasiun Lobener merupakan stasiun kecil yang menjadi tempat perhentian kereta. Tujuan utamanya saat itu adalah untuk pengangkutan hasil bumi maupun penumpang. Jalur ini sendiri diresmikan pada 15 September 1912, tetapi sudah dibuka dan beroperasi sejak 8 Juni 1912.

Saat masih beroperasi, Stasiun Lobener terletak di antara petak Halte Kali Krasak dan Karangsembung yang mana keduanya sudah lenyap tak berbekas. Stasiun Lobener saat masih beroperasi juga melayani perjalanan penumpang untuk kelas 1, 2 maupun 3. Dulu emplasemen atau peron serta relnya berada di depan stasiun karena jalur tersebut menyatu dengan jalan raya Jatibarang-Indramayu.

Uniknya, Stasiun Lobener memiliki kerangka bangunan yang terbuat dari kayu jati bukan besi. Yang mana kayu-kayu tersebut mampu menahan dinding stasiun yang terbuat dari tumpukan batu bata merah dan masih bertahan hingga sekarang. Meski begitu, kondisi bangunannya sudah sangat memprihatinkan.

Bangunan Stasiun Lobener sendiri bentuknya mirip dengan Stasiun Paoman ataupun Stasiun Indramayu. Bahkan bentuknya pun mirip dengan Stasiun Pauh Kambar, Kurai Taji dan bangunan lama Stasiun Naras di Sumatera Barat. Stasiun Lobener sendiri mulai ditutup pada 21 Juli 1973, bersamaan dengan ditutupnya jalur Jatibarang-Indramayu.

Baca juga: Tak Lagi Beroperasi, Stasiun Lama di Yogya Berubah Jadi Bengkel Hingga Warung Makan

Alasannya karena saat itu banyaknya penumpang tak bertiket dan okupansi yang minim, serta akses menuju Stasiun Jatibarang yang semakin mudah dengan kendaraan lain, tanpa perlu kereta api lagi. Saat ini bekas Stasiun Lobener berubah menjadi garasi angkot, dan kini kondisi bangunan tersebut rusak tak terawat meski utuh. Bekas relnya pun sudah tidak ada lagi.

Maksimalkan Jaga Jarak, Emirates Tawarkan Penumpang Blokir Kursi, Segini Harganya

Duduk di pesawat bersama orang lain mungkin biasa-biasa saja bagi penumpang pada umumnya. Tetapi, bagi penumpang tertentu, duduk bersama orang asing, terlebih duduk di tengah pada formasi kursi tiga baris dan di tengah wabah virus Corona, bisa jadi membuat tak nyaman. Peluang itulah yang kemudian ditangkap maskapai raksasa Timur Tengah, Emirates.

Baca juga: Analis Penerbangan Sebut Kosongkan Kursi Tengah di Pesawat Tak Masuk Akal!

Dilansir Simpel Flying, belum lama ini, Emirates dikabarkan mulai menawarkan produk baru guna meningkatkan kenyamanan bagi penumpang kelas ekonomi, dengan mengizinkan penumpang memblokir kursi sebelah. Harganya juga cukup terjangkau, dimulai dari US$55 atau sekitar Rp787 ribu (kurs 14.250) untuk satu kursi dan US$165 atau sekitar Rp2,3 juta (kurs 14.250) untuk tiga kursi ditambah pajak.

Hanya saja, layanan ini tidak tersedia secara daring melainkan harus langsung di check-in konter menjelang penerbangan. Emirates menegaskan, penumpang yang sudah membooking dan membayar kursi tidak akan bisa dipindah hanya untuk mengakomodir penumpang di sebelahnya untuk memblokir kursi. Bisa dibilang, hanya kursi kosong sajalah yang diizinkan untuk diblok penumpang.

Emirates optimis, layanan blok kursi ini akan disambut baik oleh penumpang. Sebab, di tengah wabah virus Corona yang tak kunjung usai, mengeluarkan uang lebih untuk kenyamanan dan keamanan ekstra (physical distancing atau jaga jarak) tentu tidak ada harganya. Apalagi, selama ini, mengosongkan kursi tengah untuk memaksimalkan pencegahan penularan Covid-19 dinilai semu.

Analis penerbangan yang sudah 20 tahun lebih bersama Northwest dan Republic Airlines, Jay Ratliff, sebagaimana dilansir The Hill, menyebut kebijakan mengosongkan kursi tengah tak masuk akal. Ia memang tak mempermasalahkan temuan tidak adanya droplet antara dua orang yang berjarak dua meter.

http://https://www.youtube.com/watch?v=QMuVsWgD5Q0&t=63s

Tetapi, yang ia permasalahkan justru ketidakefektifan physical distancing di pesawat. Dalam pengamatannya, mengosongkan kursi tengah sebagai pengaplikasian physical distancing di pesawat hanya membuat airlines terus-menerus berada dalam keadaan terseok-seok sambil tetap tak menjalankan physical distancing dengan baik, dengan jarak tak lebih dari 80cm.

Bila benar-benar ingin menjalankan dengan maksimal, dalam satu row, seharusnya maskapai hanya diperbolehkan untuk mengisi dua orang atau sama saja mengosongkan empat kursi tengah dan pinggir dengan hanya menyisakan masing-masing satu kursi di dekat jendela.

Formasi tersebut sangat mungkin untuk menciptakan physical distancing sejauh dua meter sebagaimana rekomendasi Organisasi Kesahatan Dunia (WHO). Tetapi harga mahal di balik itu adalah pesawat kapasitas semakin menciut.

Emirates sendiri bukanlah yang pertama menyediakan layanan tersebut. Tercatat, dua maskapai sudah lebih dahulu menjalankan layanan blokir kursi, Air New Zealand serta Kenya Airways di bawah program Economy MAX.

Baca juga: Pengamat Penerbangan: Kalau Sudah Pakai Masker Semua, Kenapa Harus Jaga Jarak?

Di Indonesia sendiri, mayoritas maskapai secara natural sudah memberikan layanan bloking kursi secara cuma-cuma tanpa perlu mengeluarkan uang sepeserpun. Sebab, load factor maskapai, seperti Garuda Indonesia dan Citilink, kemungkinan besar tidak sampai 50, 70, apalagi 100 persen.

Alhasil, penumpang tidak perlu memblokir kursi sebelah, kecuali penumpang maskapai Lion Air, yang kerap kali kedapatan menerbangkan kursi 100 persen sekalipun masih di bawah kebijakan 70 persen kursi maksimal di kabin penumpang.