Bandara Eindhoven Belanda Uji Coba Teknologi Check-in Bagasi Mandiri

Masa pandemi semua hal seperti dibuat praktis dan mudah bahkan tak perlu berinteraksi langsung dengan banyak orang. Seperti halnya di bandara yang memberikan kemudahan bagi penumpang dengan memperkenalkan berbagai teknologi untuk memudahkan dalam berbagai proses.

Baca juga: Keren, Teknologi di Bandara Qatar Mungkinkan Penumpang Lewati X-Ray Tanpa Keluarkan Barang Elektronik

Salah satunya memperkenalkan teknologi pengenalan gambar di mana penumpang akan dapat melakukan check in bagasi di Bandara Internasional Eindhoven, Belanda dengan lebih lancar. Dilansir KabarPenumpang.com dari internationalairportreview.com (13/8/2020), Bandara Eindhoven mengumumkan bahwa ini akan menjadi tempat pengujian untuk pengembangan solusi canggih yang akan membuat bandara lebih berkelanjutan dan cerdas.

Pihak bandara mengatakan, dengan menyediakan fasilitasnya, hal ini akan memungkinkan penerapan teknologi mutakhir yang dikembangkan oleh Vanderlande. Selain itu juga menjalankan pengujian di lingkungan hidup untuk berinovasi, mengoptimalkan dan menyederhanakan sejumlah proses di bandara.

Bandara Eindhoven dan Vanderlande berbasis di wilayah Brainport yang inovatif di Belanda akan berkolaborasi dengan lembaga teknologi, desain dan pengetahuan selama beberapa bulan sebagai uji coba untuk mempercepat prosesnya. Sebagai bagian dari pengaturan, Bandara Eindhoven, Vanderlande dan spesialis identifikasi bagasi BagsID akan menerapkan pembelajaran komputer dan teknologi pengenalan gambar.

Ini akan memungkinkan penumpang untuk mendaftarkan barang bawaan hanya dengan peralatan kamera mengambil fotonya. Pada awal 2021, Bandara Eindhoven juga bermaksud untuk mulai menguji kendaraan swakemudi di apron, yang dapat mentransfer bagasi secara mandiri ke dan dari pesawat.

“Industri penerbangan menghadapi banyak tantangan dan, melalui inovasi, kami mencari cara untuk mengubahnya menjadi peluang. Kami telah bekerja sama dengan Vanderlande selama bertahun-tahun, yang, seperti kami, ingin menjadi pelopor dalam penerapan teknik baru untuk meningkatkan proses bandara. Strategi masa depan kami didasarkan pada keyakinan bahwa inovasi dalam penerbangan dapat dipraktikkan lebih cepat jika berbagai disiplin ilmu bekerja sama dengan mulus,” kata COO Bandara Eindhoven, Mirjam van den Bogaard.

Baca juga: Angkut Bagasi Penumpang, Bandara Internasional Dallas-Forth Worth Gunakan Robot FLEET

Direktur Pasar Vanderlande-Bandara, Mark Lakerveld, menambahkan, inovasi sangat penting dalam lebih mengoptimalkan proses bandara dan meningkatkan pengalaman penumpang. Teknologi baru, robotika, dan digitalisasi akan membantu membentuk bandara masa depan.

Seakan Mati Suri, Akankah Era Perjalanan Backpacker Berakhir Karena Pandemi?

Rasanya seperti tersambar petir bagi industri pariwisata dan transportasi ketika Covid-19 tiba-tiba menjadi pandemi di seluruh dunia dan menghentikan semua perjalanan. Dan itu juga dirasakan oleh hampir semua backpacker di seluru dunia. Di mana yang biasanya mereka bisa bepergian, kini hanya menggantungkan ransel entah sampai kapan.

Baca juga: Bandara Hong Kong dan Heathrow, Dua Bandara Besar yang Terpuruk Pandemi

Bahkan juga beberapa diantaranya sudah banyak yang gatal untuk bepergian dan menikmati liburan secara normal seperti sebelum pandemi. KabarPenumpang.com merangkum cnn.com (31/12/2020), liburan keliling dunia sudah ada berabad-abad yang lalu, dan baru pada tahun 1950-an dan 60-an backpaking benar-benar dimulai.

Saat itu, rute Eropa dan Asia Tenggara dikenal dengan jalur hippie yang terbukti populer dikalangan anak muda dengan anggaran terbatas dan ingin memperluas wawasan mereka. Meski sudah berkembang selama bertahun-tahun, backpacking cenderung berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, tinggal di hostel mengambil pekerjaan di sana sini serta terikat dengan sesama pelancong lannya.

Yang menarik dari backpacking, karena jenis perjalanan ini terjangkau. Para backpacker bisa tidur di asrama dengan harga yang murah dari hotel dan pertumbuhan maskapai penerbangan berbiaya hemat pun membuka banyak hal bagi mereka yang sebelumnya menganggap perjalanan tidak terjangkau secara finansial.

Tapi sayangnya ini semua harus berhenti sesaat seperti mati suri karena pandemi Covid-19 dan membuat maskapai penerbangan mengalami kerugian gabungan sebesar US$157 miliar pada tahun 2020 dan 2021. Menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional, penerbangan murah yang diandalkan oleh para backpacker ini bisa menjadi bagian dari masa lalu.

Pasalnya, meski sudah ada vaksin, tetapi di sejumlah negara seperti Amerika Serikat dan Inggris dan mungkin negara lainnya di dunia tetap meminta bukti tes PCR negatif saat keberangkatan atau kedatangan pelancong. Persyaratan ini pun bisa menjadi agak mahal bagi mereka yang berencana mengunjungi banyak tujuan di mana tes tidak disediakan secara gratis.

Nyatanya, pandemi ini membuat banyak backpacker benar-benar menahan diri. Apalagi pendapatan yang menurun dan tak kunjung jelas membuat mereka memilih di rumah dibandingkan untuk menghabiskan uang di jalanan.

KabarPenumpang.com menghubungi salah satu anggota backpacker di Indonesia. Ia mengaku akan bertahan beberapa tahun kedepan untuk tidak bepergian keluar negeri dan lebih memilih mengeksplore Indonesia.

Adiarta Pratama, backpacker asal Bali ini mengungkapkan, dirinya ada niatan untuk kembali berlibur dengan hemat. Namun kini berpikir kembali karena meski tiket murah, tetapi biaya PCR yang tinggi mengurungkan niatnya.

“Tiket sekarang murah, karena maskapai menurunkan harga. Tapi yang mahal itu biaya PCR nya. Kalau tiket cuma Rp90 ribu tapi biaya PCR ratusan sampai jutaan rupiah mending di rumah saja dan uangnya digunakan untuk kebutuhan hidup sehari-hari,” kata pria yang akrab di panggil Tama ini.

Meski begitu, banyak negara yang menganggap tak adanya backpacker menguntungkan karena mereka dianggap merusak dan berperilaku buruk. Bahkan Stuart Nash, menteri pariwisata Selandia Baru menyarankan negara itu hanya membuka wisatawan dengan penghasilan tinggi.

Baca juga: Singapura Hadirkan Tur Virtual Untuk Mudahkan Pelancong

Ucapannya kemudian dianggap sebagai penghinaan langsung bagi para backpacker. Jenni Powell, ketua Backpacker Youth and Adventure Tourism Association, menekankan bahwa backpacker berkontribusi ke Selandia Baru dengan banyak cara yang berbeda dan positif.

 

 

Mengenal Yvonne Pope Sintes, Mantan Pramugari yang Jadi Pilot Maskapai Wanita Pertama Inggris

Pada hari ini, 58 tahun lalu, bertepatan dengan Rabu, 16 Januari 1963, Yvonne Pope Sintes resmi menyandang sebagai pilot maskapai wanita pertama di Inggris. Tak hanya itu, wanita keturunan Inggris-Afrika Selatan ini juga tercatat sebagai pengawas lalu lintas udara wanita pertama di Bandara Gatwick, Inggris.

Baca juga: Kwon Ki-ok, Pilot Wanita Pertama Korea dan Cina Sekaligus Pejuang Kemerdekaan

Dilansir buckinghamcovers.com, lahir pada tahun 1930, Yvonne mulai jatuh cinta dengan pesawat pada usia delapan tahun. Sejak saat itu, ia sudah bertekad untuk mampu menerbangkannya suatu hari nanti.

Guna mewujudkan mimpinya, ia coba bergabung dengan Royal Air Force, tetapi, saat itu, tepatnya pada tahun 1948, RAF sedang tidak menerima wanita sebagai calon penerbang. Alhasil, ia banting setir menjadi pramugari di Scottish Airlines, bergabung dengan British Overseas Airways, dan kemudian bergabung di sekolah penerbangan Airways Aero Club milik British Overseas Airways serta berhasil mendapat lisensi Private Pilots License (PPL) di sana.

https://twitter.com/BBCArchive/status/1138060744518451201?s=20

Usai menyandang lisensi PPL, ia berkesempatan mewujudkan mimpinya dimulai dari RAF Volunteer Reserve. Di sini, ia mendapatkan banyak momen untuk meningkatkan jam terbangnya dan mencapai rating instruktur. Namun, ia harus melepas masa-masa indahnya menjadi seorang pilot ketika terjadi perubahan peraturan, dan memutuskan menjadi petugas ATC wanita pertama di Bandara Gatwick.

Di bandara tersebut, ia bertugas menjaga approach and radar, sebelum akhirnya dimutasi menjadi petugas ATC di Bandara Stornoway di Skotlandia. Di sela-sela itu, Yvonne Pope Sintes melanjutkan sekolah penerbangannya di Air Traffic School atas rekomendasi dari Doves Ministry, sebuha organisasi keagamaan.

Dengan sisa semangat untuk mewujudkan impiannya menjadi seorang pilot pesawat, dalam hal ini pilot pesawat komersial, ia terus mencari celah dan kesempatan hingga akhirnya resmi menyandang status tersebut saat menerbangkan pesawat Douglas C-47 Skytrain Morton Air Services pada tahun 1965. Di sini, sebetulnya ada perbedaan pendapat, dimana, sumber lain menyebut Yvonne Pope Sintes menjadi pilot komersial wanita pertama di Inggris pada tahun 1963.

Selain menerbangkan Dakota, ia juga menerbangkan de Havilland Heron dan de Havilland Dove mengelilingi Inggris dan sekitaran Eropa.

Pada tahun 1969, Yvonne pindah ke maskapai Dan Air, sekaligus memulai petualangan barunya sebagai ketua Asosiasi Pilot Maskapai Inggris (British Airline Pilots Association/BALPA). Di sini, ia menerbangkan banyak pesawat yang belum pernah dikemudikannya, seperti Airspeed Ambassador, Hawker Siddley HS 748, BAC 1-11, dan De Havilland Comet, menjadikannya sebagai pilot wanita pertama yang menerbangkan pesawat jet komersial pertama dunia itu.

Karirnya semakin melonjak setelah pada tahun 1975 ia resmi menjadi kapten jet maskapai wanita pertama di Inggris. Dia terbang ke seluruh Eropa, Kepulauan Canary, dan Timur Dekat sampai pensiun pada tahun 1980.

Baca juga: Viral, Begini Kisah Pilot Cantik Berhijab Calon Pilot di Amerika! Pernah Bilang Jokowi Begini

Semasa menjadi pilot, Yvonne Pope Sintes mendapat sederet penghargaan, seperti Lord Brabazon of Tara Award di kategori flying instructing, European Air Traffic Controller oleh International Owner and Pilot Association, penghargaan dari Sir Alan Cobham, serta Amelia Earhart (pilot wanita pertama di dunia) Scholarship for career advancement.

Pada tahun 1974 ia juga dianugerahi Whitney Straight Award untuk pencapaiannya dalam penerbangan oleh HRH Princess Anne dan saat pensiun mendapat British Airline Pilots Silver Medal for work towards air safety.

Japan Rail Cafe di Singapura Kolaborasi Menu Makanan dengan Japan Airlines

Makanan maskapai merambah restoran? Sepertinya bukan hal baru, karena beberapa waktu lalu, AirAsia juga membuka restoran di Malaysia dan menjual makanan yang mereka jual di dalam kabin. Kali ini Japan Airlines (JAL) menghadirkan makanan dalam penerbangan mereka di sebuah cafe di Singapura.

Baca juga: AirAsia Buka Restoran Darat di Mall Kuala Lumpur dengan Menu di Penerbangan

Ya, tepatnya pada 29 Desember 2020, Japan Rail Cafe di Singapura mengumumkan kolaborasinya dengan JAL. Di mana makanan dalam penerbangan dipilih untuk dijual di kafe. Kafe yang juga memiliki gerai di Taipei dan Tokyo ini dikenal sebagai kafe bertema perjalanan di dunia.

JAL kolaborasi dengan Japan Rail Cafe Singapura (mothership.sg)

Kafe ini dibuat tidak seperti kabin pesawat tetapi dihiasi dengan stiker dan papan nama yang mengingatkan pada rel kereta api Jepang. Makanannya pun fokus pada makan Jepang dan minumannya ada sake hingga matcha latte.

Nah untuk bulan Januari, restoran ini akan menyajikan sesuatu untuk avgeeks mulai 2-31 Januari 2021 karena kolaborai kafe ini dengan JAL. Di mana makanan akan disiapkan oleh SATS yang merupakan perusahaan katering dalam penerbangan JAL di Singapura.

KabarPenumpang.com melansir mothership.sg (5/8/2020), akan ada 600 makanan yang akan tersedia sepanjang bulan dan bila dirata-rata sekitar 20 makanan per hari. Penasaran menu seperti apa saja? Menu yang akan disajikan seperti Chicken Takiawase Tamago (S$23) atau Salmon Miso Yaki (S$25).

Setiap protein disajikan dengan jamur shiitake, kacang hijau, paprika merah dan tamago parut di atas nasi Jepang. Selain itu ada Zaru Udon yang merupakan hidangan udon dingin, disajikan dengan wasabi dan saus celup soba, sangat enak, bahkan untuk seseorang yang tidak biasa mengonsumsi wasabi.

Adapula Kobachi yang secara harfiah diterjemahkan menjadi “mangkuk kecil”, dan mengacu pada lauk bayam, jagung dan jamur shimeji dalam kaldu gurih. Itu adalah iringan yang menyenangkan. Biasanya semua ini datang dengan pendamping, makanan penutup dan kopi atau teh.

Tidak hanya makanan dalam pesawat Japan Airlines, tetapi Anda juga dapat membeli beberapa suvenir Japan Airlines, termasuk pemegang sumpit Japan Airlines. Pada akhir pekan bahkan akan ada pramugari Japan Airlines yang berbasis di Singapura memperagakan pembungkus kado furoshiki dan seni origami.

Baca juga: TajSat, Katering Penerbangan Terbesar India Layani Pemesanan Makanan Antar ke Rumah

Intinya pada bulan Januari Japan Airlines akan bekerja sama dengan Japan Rail Cafe Singapura untuk menyajikan makanan dalam pesawat, menjual memorabilia maskapai dan meminta pramugari untuk berinteraksi dengan para tamu.

Lagi, Penumpang Disengat Kalajengking di Dalam Penerbangan

Seorang penumpang pesawat disengat kalajengking saat berada dalam penerbangan dari Campinas ke Fortaleza. Penumpang tersebut berada dalam penerbangan 9185 milik maskapai Brasil GOL. Insiden tersebut berawal ketika penumpang merasakan ada yang jatuh di bahunya.

Baca juga: Duh! Penumpang Air Transat Tersengat Kalajengking Ketika Mengudara

Karena merasa risih, dia akan menepis menggunakan tangan tanpa berpikir apapun. Namun, penumpang yang tak disebutkan namanya itu merasakan sengatan di jari tangan kirinya dan ketika menunduk dia menemukan seekor kalajengking.

Dilansir KabarPenumpang.com dari independent.co.uk (14/8/2020), karena hal ini kemudian dirinya dirawat oleh awak kabin sebelum ditangani oleh tim medis saat pesawat mendarat di tujuan. “Penumpang tersebut dirawat oleh tim medis setelah mendarat di bandara di Fortaleza dan dibebaskan tanpa menunjukkan gejala,” kata juru bicara GOL.

Adanya insiden tersebut, maskapai mengatakan, bahwa pesawat tersebut telah difumigasi secara menyeluruh dan penumpang disarankan tidak membuka tempat sampah sampai pesawat mendarat. Maskapai tersebut juga menunjukkan bahwa pihaknya telah melakukan penguatan fumigasi pesawat dan memiliki prosedur yang ketat untuk pembersihan dan sanitasi pesawatnya.

“GOL Linhas Aereas menyesali apa yang terjadi dan menginformasikan bahwa klien telah menghubungi untuk menawarkan semua dukungan yang diperlukan,” ujar juru bicara.

Nyatanya masalah ini bukanlah yang pertama kalinya. Pada 2017 lalu, seorang penumpang dalam penerbangan menuju ke Chicago tersengat kalajengking. Insiden ini terjadi dalam pesawat AeroMexico dengan nomor penerbangan 628 dari Mexico City menuju ke Chicago.

Penumpang berusia 32 tahun tersebut tersengat di tepat di siku sebelah kanan dan awak pesawat menghubungi bandar Chicago untuk penanganan darurat tersebut. Untuk diketahui penumpang itu tersengat kalajengking selama dua jam sebelum pesawat tiba di Chicago.

Selain itu ada pula hewan merayap yang menyeramkan menyebabkan masalah dalam penerbangan. Pada Februari 2019, seorang penumpang dalam penerbangan menuju Mumbai dari Bhopal menemukan kecoa besar saat sarapan. Rohit Raj Singh Chauhan mengatakan dia menemukan penyusup di sambhar, sup sayur berbahan lentil, selama penerbangan AI-634 pada 2 Februari.

“Saya memberi tahu awak Air India, tetapi mereka mengabaikan saya. Karena anggota kru tidak mendengarkan, saya mengembalikannya kepada mereka. Saya bahkan keberatan dengan makanan mereka yang disajikan kepada orang lain, tetapi tidak berhasil,” katanya.

Terlepas dari tanggapan awal dari awak, maskapai tersebut telah meminta maaf atas insiden tersebut, mengeluarkan pernyataan di media sosial.

“Kami dengan tulus meminta maaf atas insiden di mana penumpang kami yang berharga mengalami pengalaman yang mengecewakan dengan makanan yang disajikan di dalam pesawat Bhopal-Mumbai kami,” katanya.

Baca juga: Tersengat Kalajengking Dua Jam, Penumpang Ini Dalam Kondisi Stabil

“Air India selalu berupaya untuk memastikan penumpang kami menikmati layanan kami. Kami telah mencatat kejadian tersebut dengan serius dan segera mengeluarkan pemberitahuan yang kuat kepada katering terkait.”

Koper Bekas Badan Pesawat Boeing 747 Dijual Rp38 Juta! Berminat? Cuma Ada 150 di Dunia

Koper, sudah pasti jadi salah satu hal yang sudah pasti dibutuhkan penumpang pesawat. Sebagaimana tas, sepatu, dan berbagai perlengkapan lainnya, koper juga dibuat sedemikian rupa hingga tampak mewah dan tentu saja, mahal; seperti koper yang satu ini, BOAC Speedbird.

Baca juga: Tertabrak Koper dan Meninggal, Dua Minggu Kemudian Keluarga di Cina Tuntut 620 Ribu Yuan

Koper paling mahal hasil kolaborasi British Airways dan Globe-Trotter ini memang bukan sembarang koper, melainkan terbuat dari lencana Gold Speedbird yang dilukis dengan tangan serta bagian dari salah satu pesawat paling legendaris di dunia, Boeing 747 peninggalan BOAC yang kini dikenal sebagaiBritish Airways.

Tak cukup sampai di situ, koper ini juga dijual terbatas dan hanya ada 150 di dunia. Tak ayal, koper tersebut dibanderol dengan harga awal yang sangat fantastis, mencapai £2.000 atau sekitar Rp38 juta (kurs 19.254).

Dari 150 koper yang dibuat, dua di antaranya akan dilelang dalam sebuah acara amal Flying Start, besutan British Airways dan Comic Relief, untuk membantu anak muda di Inggris yang hidupnya kurang beruntung. Lelang ini juga dimaksudkan sebagai ajang peluncuran resmi koper mewah besutan kedua perusahaan.

Kemawahan dua koper mewah yang bakal dilelang itu juga dilengkapi dengan statusnya sebagai satu-satunya penumpang Boeing 747 British Airways yang menjalani penerbangan terakhir pada 11 Desember 2020 lalu.

Tampak dalam koper BOAC Speedbird, koper seharga Rp38 juta. Foto: British Airways

Untuk dua koper yang dilelang, harganya juga dibuka mulai dari Rp38 juta. Bila harga awalnya saja segitu, besar kemungkinan koper ini akan sampai ke tangan para pembeli dengan harga selangit dan tidak menutup kemungkinan bakal menjadi koper termahal di dunia.

Sebagai informasi, rekor koper termahal di dunia saat ini dipegang oleh koper buatan Globe-Trotter saat meluncurkan koper edisi terbatas sebagai salah satu ajang promosi peluncuran film Skyfall. Koper yang digunakan karakter James Bond agen intelijen 007 Inggris dalam film rilisan tahun 2012 itu dijual seharga US$12.800 atau sekitar Rp180 jutaan (kurs 14.042).

Hamish McVey, Kepala Merek dan Pemasaran British Airways, mengatakan, “Kami sangat senang bisa bekerja sama dengan Globe-Trotter untuk menciptakan produk yang sangat istimewa ini, dan melalui lelang unik ini mengumpulkan uang untuk proyek-proyek penting Comic Relief di Inggris dan luar negeri,” dikutip dari tatler.com.

BOAC Speedbird, koper seharga Rp38 juta. Foto: British Airways

“Meski ini adalah waktu yang tepat untuk mengucapkan selamat tinggal pada ‘Queen of the Skies’ kita, peluncuran koper jinjing yang terinspirasi BOAC memberikan kesempatan sempurna bagi seseorang untuk merayakan era perjalanan udara global yang telah berlalu dan memiliki sebagian dari sejarah kita,” ungkapnya.

Baca juga: Luggage Wrapping di Bandara, Seberapa Besarkah Perannya Untuk Melindungi Koper Anda?

British Airways menghentikan operasional pesawat Boeing 747 yang “haus bahan bakar” lebih awal dari yang direncanakan karena pandemi Covid-19. Ada 31 pesawat Boeing 747 di armada British Airways, yang semuanya menerbangkan layanan komersial terakhir mereka selama musim panas.

Pesawat terakhir meninggalkan armada awal tahun ini, meski ada rencana salah satu pesawat akan dibuka untuk umum pada musim semi tahun depan, sementara pesawat lain akan semata dipamerkan dalam eksibisi.

Inilah Ling-Temco-Vought (LTV) XC-142, Pesawat dengan Kemampuan Terbang Transisi Pertama di Dunia

11 Januari 2021 lalu menandakan 56 tahun penerbangan transisi pertama di dunia oleh Ling-Temco-Vought (LTV) XC-142. Tak tanggung-tanggung, penerbangan transisi pertama ini melibatkan tiga mode terbang, dimana pesawat lepas landas secara Vertical Take Off and Landing (VTOL), kemudian meluncur maju secara horizontal, dan kembali mendarat secara VTOL.

Baca juga: Anti Macet! Ambulans Terbang VTOL Bertenaga Hidrogen Hadir di Amerika Serikat

Dilansir Britannica, Ling-Temco-Vought XC-142 sendiri adalah pesawat eksperimental tiltwing tri-service yang dirancang untuk menyelidiki kesesuaian operasional VTOL ataupun short takeoff and landing (STOL).

Merunut ke belakang, program XC-142 Tilt-Wing V/STOL dimulai pada 1959 atas rekomendasi tim penasehat Presiden Amerika Serikat (AS). Dalam rekomendasinya, disebutkan bahwa AS memerlukan pesawat angkut khusus untuk Angkatan Laut dan Angkatan Darat. Di samping itu, pesawat juga nantinya bisa digunakan untuk keperluan sipil.

Setelah pesawat rancangan Ling-Temco-Vought (LTV) XC-142 disetujui, prototipe pertama pun melakukan penerbangan perdana sekalipun penuh dengan kontroversi pada 29 September 1964 dan berhasil mencapai penerbangan transisi pertama pada 11 Januari 1965.

XC-142A pertama dikirim ke tim penguji Angkatan Udara pada Juli 1965. Selama program XC-142A berlangsung, total sudah 420 jam dicatat dalam 488 penerbangan uji coba. Penerbangan lima XC-142A dilakoni oleh 39 pilot militer dan sipil. Uji coba termasuk penerbangan angkut, simulasi penyelamatan, penerjunan penerjun payung, dan ekstraksi kargo tingkat rendah.

Selama pengujian, driveshaft cross-linked pesawat yang ditenagai mesin General Electric T64 -GE-1 turboprops ini terbukti menjadi titik lemah. Shaft tersebut menghasilkan getaran dan kebisingan berlebih, yang mengakibatkan beban kerja pilot menjadi tinggi. Selain itu, pesawat terbukti rentan terhadap masalah karena wing flexing. Masalah Shaft, dengan digabung dengan kesalahan pada pilot, mengakibatkan sejumlah hard landing yang menyebabkan kerusakan.

Satu kecelakaan bahkan terjadi sebagai akibat dari kegagalan poros penggerak ke rotor ekor dan menyebabkan tiga korban jiwa.

Masalah lain yang ditemukan di pesawat adalah ketidakstabilan antara sudut sayap 35 dan 80 derajat, yang ditemui pada ketinggian yang sangat rendah. Ada juga gaya samping yang tinggi yang dihasilkan yaw and weak propeller blade pitch angle controls. Baling-baling “2FF” baru juga terbukti menghasilkan daya dorong yang kurang dari perkiraan semula.

Atas berbagai masalah tersebut, lima prototipe pesawat Ling-Temco-Vought (LTV) XC-142 tidak dapat dilanjutkan ke tahap produksi massal. Karenanya, penerbangan uji coba terus dilakukan hingga tahun 1966. Namun, sampai tenggat waktu yang telah ditentukan, tim dari LTV tak juga mampu menyediakan pesawat V/STOL aman.

Baca juga: Avions Mauboussin Luncurkan Pesawat STOL Hibrida-Hidrogen Pertama di Dunia

Akhirnya, lima prototipe tersebut diserahkan ke NASA untuk dilakukan penelitian pada Mei 1966 hingga Mei 1970. Dari jumlah tersebut, hanya satu pesawat dengan kapasitas dua kru, 32 penumpang, panjang 17,70 m, bentang sayap 20,57 m, dan tinggi 7,95 m yang tersisa.

Pesawat dengan kecepatan maksimum mencapai 694 km, jarak tempuh 370–760 km, ketinggian maksimum 7.600 m, empat baling-baling, dan kemampuan climbing mencapai 35 m per menit ini disimpan di Museum Nasional Angkatan Udara Amerika Serikat.

Mengenal Throttle, Kontrol Pesawat yang Diduga Jadi Penyebab Kecelakaan Sriwijaya SJ-182

Pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 dipastikan jatuh di antara Pulau Laki dan Pulau Lancang Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Pesawat itu hilang kontak dan dipastikan jatuh pada posisi 11 nautical mile di sebelah utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Baca juga: Kisah Pilot Selamat dari Maut Setelah 22 Menit Berjuang Melawan Ganasnya Dekompresi

Pesawat yang dipiloti Capt. Afwan tersebut semula dijadwalkan takeoff atau lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 13.25 WIB dan tiba di Bandara Supadio, Pontianak pada 15.00 WIB. Tetapi, karena cuaca buruk, pesawat diketahui sempat delay selama 30 menit.

Di antara berbagai dugaan penyebab jatuhnya pesawat yang sudah berusia hampir 27 tahun itu, salah satu kontrol dasar penerbangan, autothrottle, disebut-sebut jadi penyebab terkuat.

Sekalipun Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) belum memiliki detail informasi terkait dugaan autothrottle jadi penyebab kecelakaan Sriwijaya Air SJ182, namun, secara singkat, Ketua KNKT, Soerjanto Tjahjono mengungkapkan bilapun autothrottle jadi masalah, seharusnya hal itu bisa ditangani dengan kembali ke mode manual.

Terlepas dari perdebatan autothrottle jadi penyebab kecelakaan pesawat Boeing 757-500 Sriwijaya Air atau bukan, sebetulnya, apa itu throttle atau autothrottle?

Dikutip dari skybrary.aero, throttle atau kadang kala disebut thrust lever atau power lever merupakan kontrol dasar penerbangan yang mengatur tingkat daya yang diinginkan. Throttle mengontrol laju aliran massa udara (dalam mesin bahan bakar injeksi) atau udara atau campuran bahan bakar (di mesin carburetted) dikirim ke silinder. Adapun autothrottle ialah throttle yang dijalankan secara otomatis.

Biasanya, di masing-masing pesawat, terdapat satu tuas throttle untuk setiap mesin dan, tergantung pada konfigurasi dek penerbangan atau kokpit, mereka dapat dipasang di konsol tengah, konsol samping, di papan dasbor atau dipasang di langit-langit pesawat.

Di kokpit dengan dua pilot, setiap area kerja pilot memiliki tuas throttle sendiri. Di beberapa pesawat yang lebih tua, dimana masih memegang prinsip tiga orang di kokpit atau three-man cockpit, pilot dan co-pilot harus berbagi throttle dan adapun throttle lainnya dipasang di area kerja flight engineer.

Dalam kedua kasus ini, tuas saling terhubung dan menggerakkan masing-masing tuas, mirip ketika yoke ataupun joy stick saat dioperasikan oleh pilot, dimana kontrol serupa pada stasiun co-pilot juga ikut bergerak menyerupai yoke ataupun joy stick pada pilot.

Baca juga: Yoke Boeing Vs Side Stick Airbus, Mana Sistem Kemudi yang Lebih Unggul?

Bergantung pada pemasangannya, tuas throttle memberikan pilihan ke pilot untuk reverse thrust atau daya dorong mundur, fuel cut-off position atau memiliki beberapa cara untuk mencegah pemilihan jarak beta (darat) saat pesawat dalam penerbangan.

Pada pesawat kecil atau pesawat latih, throttle dilengkapi dengan kontrol mixture. Mixture sendiri merupakan kontrol yang mengatur jumlah bahan bakar yang ditambahkan ke aliran udara intake. Pada ketinggian yang lebih tinggi, tekanan udara (dan merupakan tingkat oksigen) menurun sehingga volume bahan bakar juga harus dikurangi untuk memberikan campuran udara atau bahan bakar yang tepat. Proses ini dikenal sebagai “leaning”.

Sejarah Boeing 737-500 (737-1000), Seri 737 Klasik Paling Tidak Laku!

Pesawat Boeing 737-500 PK-CLC Sriwijaya Air dengan nomor penerbangan SJ-182 pada Sabtu siang (9/1) dilaporkan hilang kontak empat menit setelah lepas landas. Pesawat itu dilaporkan hilang pada pukul 14.40 WIB di perairan Kepulauan Seribu di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki.

Baca juga: Berapa Banyak Pesawat Boeing 737 All Series yang Masih Terbang dan dalam Pesanan?

Pesawat itu hilang kontak pada posisi 11 nautical mile di sebelah utara Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, setelah melewati ketinggian 11.000 kaki dan pada saat menambah ketinggian di 13.000 kaki.

Pesawat yang dipiloti Capt. Afwan tersebut semula dijadwalkan take-off atau lepas landas dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta pada 13.25 WIB dan tiba di Bandara Supadio, Pontianak pada 15.00 WIB, sebelum akhirnya delay selama 30 menit sebelum lepas akibat cuaca buruk.

Terlepas dari usia Boeing 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC yang sudah mencapai hampir 27 tahun, pada dasarnya seri ini memang tidak laku di pasaran.

Dilansir dari b737.org.uk, di antara deretan Boeing 737 klasik, Boeing 737-500 menjadi yang terendah dengan mencatat penjualan sebanyak 389 unit. Bandingkan dengan dua seri klasik lainnya, Boeing 737-400 dan Boeing 737-300, dimana masing-masing mencatat penjualan 486 dan 1.113 unit.

Boeing 737-500 terbang perdana pada 30 Juni 1989. Dengan bentang sayap 28,8 meter, panjang 31,06 meter, dan tinggi 11,13 meter, pesawat yang diplot untuk menggantikan peran Boeing 737-200 ini merupakan varian Boeing 737 seri klasik terpendek. Sebab, pengembangan pesawat ini memang didasari pada desain 737-200, dengan beberapa peningkatan.

Setahun setelah terbang perdana, pesawat yang awalnya dikenal sebagai 737 Lite dan 737-1000 ini akhirnya memulai pengalaman baru saat memasuki tahun layanan bersama Southwest Airlines pada 1990.

Awalnya, pesawat ini begitu diminati karena memungkinkan rute yang lebih panjang dengan lebih sedikit penumpang, menjadikannya lebih ekonomis dibandingkan dengan 737-300. Pesawat berkapasitas hingga 140 penumpang yang menggunakan mesin CFM56-3 ini juga diklaim lebih hemat 25 persen bahan bakar dibandingkan dengan mesin P&W Boeing 737-200.

Baca juga: Geser Dominasi 737 Series, Airbus Catatkan Pengiriman Unit ke-1000 Keluarga A320neo

Sayangnya, seri ini hanya unggul dibanding saudara kandungnya, tidak untuk kompetitor lain. Seiring berjalannya waktu, penjualan peswat dengan jangkauan mencapai 4.398 km ini makin menurun dan cenderung tak banyak berkutik melawan kedigdayaan kompetitor dari Eropa, Airbus A320, yang terbang perdana pada 22 Februari 1987 bersama Air France.

Setelah 21 tahun layanan, Boeing pun resmi mempensiunkannya. Saat ini, dari total 389 pesawat yang diproduksi, 199 di antaranya masih aktif beroperasi.

17 Tahun TransJakarta, dari Konsep Bogota Sampai BRT Khas “Jakarte”

Tak terasa, 17 tahun sudah PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) melayani warga ibukota Jakarta dengan sistem Bus Rapid Transit (BRT). BRT yang mulai meluncur di jalanan Jakarta sejak 15 Januari 2004 lalu menjadi yang pertama di Asia Tenggara dan Selatan. Kehadiran sistemnya ini didesain berdasarkan sistem TransMilenio yang sukses di Bogota, Kolombia.

Baca juga: TransMilenio, BRT dari Bogota yang Menjadi Benchmark TransJakarta

Saat ini TransJakarta memiliki 243 halte dan tersebar di 14 koridor. Nah bagaimana dengan sistem BRT yang kini dipimpin oleh Sardjono Johnny Tjitrokusumo tersebut? Pada tahun 2017 lalu, Transjakarta memiliki sistem BRT terpanjang di dunia yakni 240,9 km dengan 13 koridor utama serta sepuluh rute lintas koridor.

Selain itu ada pula 18 rute pengumpan yang terus melewati akhir busway eksklusif ke kota-kota di sekitar Jakarta dan menggunakan bus khusus yang memungkinkan untuk naik dari halte TrasnJakarta. Adapun yang menarik adalah pada 10 November 2014, TransJakarta meluncurkan logo baru berupa lingkaran berwarna biru tua dengan dua garis diagonal berwarna putih.

Selain perubahan warna, huruf J juga memiliki kaki lebih panjang ke bagian bawah kata Trans dengan gradasi warna biru tua ke biru muda. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, armada yang digunakan oleh TransJakarta cukup beragam, seperti Hino, Scania, Foton, Mercedes-Benz, Zhongthong, Volvo dan PT INKA Inobus.

Tak hanya bus dengan lantai tinggi yang mana penumpang harus naik dari halte, ada juga bus dengan lantai rendah dan pertama kali digunakan pada ajang Asian Games 2018 lalu. Selain itu lantai rendah digunakan seiring revitalisasi halte BRT, trotoar dan bus kota Jakarta agar lebih ramah pada penyandang disabilitas.

BRT milik TransJakarta ini biasanya beroperasi pukul 05.00 hingga 22.00 WIB dan ada juga yang beroperasi 24. Seiring berjalannya waktu, TransJakarta kemudian menghadirkan berbagai hal baru untuk layanan bus, halte maupun fasilitas di halte.

Bahkan berbagai tipe layanan pun juga dirambah oleh TransJakarta di mana pada 12 Maret 2018, menghadirkan layanan RoyalTrans. Ini adalah program TeansJabodetabek Premium yang dijalankan oleh Badan Pengelola Transportasi Jakarta (BPTJ).

Bus ini melaju di jalur bus angkutan umum dan berbeda dari bus TransJakarta lainnya yakni bila bus biasa bertarif Rp3500, RoyalTrans cukup mahal yakni Rp20 ribu sekali jalan. Meski begitu, penumpang diberi kenyamanan dengan fasilitas WiFi, pengisi daya USB, televisi, tempat botol minum disetiap kursi, kursi yang bisa diatur sesuai keinginan (reclining seat) dan tidak ada penumpang yang berdiri.

Adapula MetroTrans yang mana penumpang akan naik bukan dari halte BRT melainkan pinggir jalan dengan papan bergambar bus bertuliskan “STOP, bus pengumpan TransJakarta”. Sehingga penumpang hanya akan diizinkan naik dan turun pada titik dengan papan tersebut. Ini pula berlaku untuk MiniTrans yang menggantikan MetroMini dan Kopaja.

Pada 2016 TransJakarta juga meluncurkan bus gratis dengan rute Bundaran Senayan-Harmoni PP untuk warga Jakarta yang terkena imbas pelarangan sepeda motor di Jalan MH Thamrin. Bus tersebut melaju di jalur reguler bukan di jalur BRT.  Kemudian layanan gratis lainnya mulai 22 Desember 2017 yang bernama Tanah Abang Explorer dan hanya mengitari daerah Tanah Abang.

Kemudian 3 April 2017, PT TransJakarta bekerja sama dengan Koperasi Wahana Kalpika (KWK) untuk menyediakan angkutan lingkungan yang terintegrasi dengan halte TransJakarta. Namun layanan tersebut resmi berakhir pada 31 Desember 2017 dan layanan bus kecil terintegrasi dengan OK Otrip.

Namun pada 8 Oktober 2018, OK Otrip berganti nama menjadi JakLingko yang mana angkutan MikroTrans ini juga terintegrasi dengan halte BRT TransJakarta. Pada awal pengoperasiannya, TransJakarta masih menggunakan tiket kertas, namun sejak 2013 lalu, semua pembayaran dilakukan dengan kartu uang elektronik untung menggantikan pembuatan tunai.

Hampir semua kartu uang elektronik dari berbagai Bank bisa digunakan untuk pembayaran tiket TransJakarta. Kemudian TransJakarta pada tahun 2020 memulai pembayaran dengan menggunakan pemindaian QR Code yang bisa didapatkan melalui aplikasi Tijeku.

Baca juga: LinkAja Resmi Jadi Pembayaran Non Tunai Pertama di TransJakarta

Di mana penumpang bisa langsung membeli tiket melalui aplikasi bila tidak membawa kartu uang elektronik. Selain itu, ada juga bus listrik yang mulai beroperasi dan menutup tahun 2020, TransJakarta memberikan fasilitas WiFi tak berbayar yang sudah tersebar di seluruh halte di 13 koridor yang ada. Sehingga, penumpang yang menunggu bus tujuan mereka bisa berselancar di media sosial atau melakukan aktivitas online lainnya.