Singapore Airlines Bakal Jadi Maskapai Pertama yang Seluruh Awaknya Divaksin Covid-19

Singapura yang dikenal sebagai hub transportasi udara terbesar di Asia, antusias dengan program vaksinasi Covid-19. Di mana pemerintah mulai melakukan latihan secara besar-besaran untuk memvaksinasi 37 ribu pekerja garis depan penerbangan dan maritim.

Baca juga: Diskriminasi Kebijakan Antara Pramugari Singapore Airlines dan Maskapai Asing, Menteri Transportasi Singapura ‘Diserang’

Pemerintah Singapura juga berharap semua pekerja dari dua sektor penting ini divaksinasi dalam dua bulan. Ternyata antusias pemerintah disambut baik oleh Singapore Airlines yang ingin menjadi maskapai penerbangan internasional pertama di dunia yang semua awak penerbangan dan pekerja daratnya divaksinasi.

Menteri Transportasi Ong Ye Kung mengatakan, sejauh ini sudah ada 13 ribu pekerja yang telah mendaftar untuk menerima dosis pertama vaksin Covid-19. Dilansir KabarPenumpang.com dari simpleflying.com (18/1/2021), Ong mengatakan bahwa para pekerja penerbangan garis depan divaksinasi adalah langkah signifikan untuk menghidupkan kembali Singapura sebagai hub udara internasional utama setelah kehancuran yang ditimbulkan karena pandemi global.

Dia bahkan menyebutkan bahwa Singapore Airlines bisa menjadi maskapai penerbangan pertama di dunia yang memvaksin semua pekerja.

“Jika sejumlah besar pekerja di dua sektor mendapat vaksinasi, maka siapa pun yang datang akan tahu bahwa semua aman dan orang-orang kami kompak dan bekerja sebagai tim. Ini adalah keuntungan besar dalam hal nama merek kami,” kata Ong.

Ong menambahkan, bahwa pemerintah Singapura telah menyisihkan dosis vaksin yang cukup untuk mengurus kelompok pekerja utama negara itu dan mendesak pekerja garis depan untuk melangkah maju.

“Bila ada pekerja yang enggan untuk divaksin, akan ada beberapa pertimbangan personel. Tetapi dia mengharapkan sebagian besar untuk mendapatkan vaksinasi,” ujarnya.

Ong juga mengatakan, vaksin akan diberikan kepada mereka yang mau terlebih dahulu sebab hingga saat ini kebijakan nasional tetap tidak mewajibkan bahkan pada basis sektoral. Otoritas Sipil Penerbangan Singapura (CAAS) mengeluarkan sebuah pernyataan yakni menunjukkan bahwa pusat tes Terminal 4 saat ini bisa memvaksinasi 2000 orang per hari.

Untuk diketahui, prioritas akan diberikan kepada sekitar 20 ribu pekerja penerbangan garis depan termasuk awak kabin, pemeriksa keamanan, penanganan bagasi dan pembersih serta semua petugas yang melakukan kontak dengan penumpang dari negara berisiko tinggi. Sedangkan untuk pekerja maritim, Raffles City Convention Center memberikan seribu suntikan vaksin per hari.

Baca juga: Pertama Kalinya, Singapore Airlines Buka Fasilitas Pelatihan untuk Umum! Satu Jam Tiket Ludes Terjual

Ong menambahkan rencana pemerintah Singapura adalah setidaknya memiliki delapan pusat vaksinasi yang beroperasi pada akhir Februari. Ini agar semua warga negara dan penduduk tetap divaksinasi pada kuartal ketiga tahun 2021.

Gegara Covid-19, Boeing 707 Jhon Travolta Batal Disumbangkan ke Museum

Covid-19 memang telah membuat industri penerbangan loyo. Selain itu virus yang diduga berasal dari Wuhan, Cina, ini juga telah menggagalkan agenda penting berbagai insan di seluruh dunia, tak terkecuali Jhon Travolta.

Baca juga: Throwback, Boeing 707 Pan Am 812 Jatuh di Bali, Tim SAR Butuh 3 Hari Menjangkau Lokasi

Bintang Hollywood John Travolta yang dikenal berkat kemahiran aktingnya di film Grease dam Pulp Fiction ini dikabarkan batal menyumbangkan pesawat kesayangannya, Boeing 707 bertuliskan ‘Jett Clipper Ella’ ke Museum Australia’s Historical Aircraft Restoration Society (HARS) di Albion Park, New South Wales, Australia.

Bukan karena ia berubah pikiran dan ingin terus bersama pesawat itu, melainkan karena sejumlah kendala, di antaranya akibat pandemi virus Corona yang membuat negara-negara di dunia lockdown. Lantas, bila pesawat belum juga dikirim ke museum, dimana pesawat itu berada saat ini?

Dilansir Simple Flying, sebelum menjawab itu, diketahui John Travolta memiliki empat pesawat untuk mendukung aktivitasnya, mulai dari jet pribadi Gulfstream sampai Boeing 707. Pesawat tua ini (Boeing 707) ia beli pada tahun Mei 1998 dan diregistrasi ulang menjadi N707JT, sebuah registrasi khusus untuk aktor yang juga seorang penyanyi ini.

Pesawat yang pertama kali beroperasi pada tahun 1964 kemudian menjadi teman setia dalam perjalanan karir kebintangannya sebagai penyanyi, penari, sekaligus aktor ternama.

Namun, entah apa yang terjadi, Jhon Travolta mengumumkan pada tahun 2017 lalu bahwa ia akan menyumbangkan pesawat kesayangannya itu ke HARS. Sebagai penerbangan perpisahan, pria yang juga sebagai seorang pilot ini berniat untuk menerbangkan sendiri pesawatnya itu sampai ke museum. Namun, karena alasan lisensi atau sertifikasi, hal itu tak bisa dilakukan. Pengiriman pun tertunda.

Pada 4 November dua tahun lalu, Jhon Travolta pun memutuskan mengunjungi museum pesawat regional di Albion Park, New South Wales tempat dimana ia akan menyumbangkan pesawat Boeing 707 miliknya.

Maksud kedatangannya saat itu yakni untuk memeriksa fasilitas yang akan menampung pesawat miliknya dan menerbangkan salah satu pesawat ikonik yang paling terkenal milik museum itu, Lockheed C-121C Super Constellation, atau ‘Connie’ dari Bandara Shellharbour, New South Wales, Australia.

Di bandara tersebut, Travolta juga menjelaskan alasan mengapa dia bersedia menyumbangkan pesawat Boeing 707 miliknya ke HARS. Menurutnya, museum itu dipercaya mampu merawat pesawat dengan baik dan menjaganya tetap bisa terbang. Jadi, bukan hanya akan menjadi pajangan.

Baca juga: Jejak Boeing 707 di Indonesia: Pernah Dioperasikan 4 Maskapai Hingga Jadi Pesawat Kepresidenan

Setelah mengunjungi HARS, Jhon Travolta berniat untuk mengirimkan pesawat Boeing 707, yang pernah dipakai Braniff dan TAG Aviation itu, pada 2020 kemarin. Namun, siapa nyana, virus Corona mewabah ke hampir seluruh dunia. Pada akhirnya, pengiriman pesawat pun kembali tertunda.

Menurut Planelogger, saat ini pesawat yang juga pernah dioperasikan Qantas selama beberapa tahun tersebut masih terlihat di Bandara Brunswick Golden Isles, Georgia (BQK) pada November lalu. Pesawat diduga tetap berada di sana sampai sekarang, untuk menunggu momen pengiriman yang pas di tahun 2021 ini.

Mobil Masuk Rel Kereta Demi TikTok, Pejabat Kereta: Pelaku Pembuat Video Harus Dibawa ke Pengadilan

Sepertinya TikTok saat ini membuat banyak orang melakukan hal-hal yang tidak masuk akal dan nalar. Bahkan mungkin tindakan ekstrem pun akan dilakukan demi dikenal orang dengan mengunggahnya di akun TikTok pengguna.

Baca juga: Bawa Sepeda Besar, Penumpang MRT Singapura Viral di TikTok

Mungkin bila menyanyi, menari, memberikan edukasi atau hal lainnya melalui TikTok tak masalah. Tapi bagaimana bila video yang dibagikan justru bisa merenggut nyawa dan diikuti oleh banyak orang?

Baru-baru ini video TikTok sebuah mobil yang terparkir di tengah-tengah rel kereta viral. KabarPenumpang.com melansir dari laman news.sky.com (16/1/2021), dalam klip pendek tersebut memperlihatkan sebuah mobil yang melintasi rel kereta di Bolton, Greater Manchester, Inggris.

Judul dari video tersebut di TikTok adalah, “Apakah Anda mau mengambil risiko untuk mendapatkan bidikan yang tidak akan dilakukan orang lain?”. Karena adanya video TikTok mobil yang terparkir di tengah rel, membuat pihak kepolisian menyelidikinya.

Mereka meminta informasi setelah video yang diunggah di TikTok menunjukkan sebuah mobil yang diparkir di seberang rel kereta api untuk pemotretan. Direktur jalur North West Network Rail yang juga mengetahui hal tersebut mengutuk perilaku itu sebagai kebodohan belaka pada tingkat yang mengejutkan.

Inspektur Bekcy Warren mengatakan, tidak ada gambar atau video yang berharga untuk mempertaruhkan nyawa Anda.

“Tidak ada alasan untuk tidak mengikuti prosedur keselamatan di perlintasan sebidang. Perilaku yang ditunjukkan oleh individu dalam video ini sangat berbahaya dan sembrono,” ujar Becky.

Video yang menunjukkan mobil itu melintasi trek di persimpangan jalan The Oaks di Bromley Cross dekat Bolton.

“Bahaya orang ini telah menempatkan diri mereka sendiri dan penumpangnya adalah kebodohan pada tingkat yang mengejutkan,” ujar direktur jalur North West Network Rail Phil James.

Dia menambahkan, masuk tanpa izin di rel kereta api adalah kejahatan karena membahayakan nyawa pengguna kereta api.

“Tidak seorang pun boleh masuk tanpa izin ke rel kereta api apalagi untuk digunakan sebagai latar belakang pemotretan,” jelas James.

Baca juga: Penumpang Masak Steak di Toilet Pesawat dan Unggah Video ke TikTok

“Kehidupan bisa dengan mudah hilang oleh perilaku sembrono ini dan kami akan bekerja sama dengan Polisi Transportasi Inggris untuk memastikan orang yang bertanggung jawab atas video tersebut dibawa ke pengadilan,” tambahnya.

Black Box Pesawat Bisa Hancur! Ini Penyebabnya

Kecelakaan Boeing 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC dengan nomor penerbangan SJ-182 membuktikan bahwa black box atau kotak hitam pesawat bisa hancur, tentu dengan besaran G-Force atau benturan maksimum yang mampu ditahan black box.

Baca juga: Inilah Jawaban Mengapa Black Box Direndam Air Pasca Ditemukan

Usai pesawat Sriwijaya Air SJ-182 pada Sabtu siang (9/1) dilaporkan hilang kontak empat menit setelah lepas landas, tepatnya pada pukul 14.40 WIB di perairan Kepulauan Seribu di antara Pulau Lancang dan Pulau Laki, black box pesawat tersebut akhirnya berhasil ditemukan.

Hanya saja, dari dua komponen black box, yaitu Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR), black box yang ditemukan tim SAR pada tanggal 12 Januari lalu ialah black box FDR. Adapun black box CVR, tepatnya casing CVR sudah ditemukan pada 15 Januari kemarin. Tetapi, black box dalam kondisi hancur sehingga memori CVR-nya terlepas dari casing dan belum ditemukan oleh Basarnas sampai saat ini.

Hancurnya black box Sriwijaya Air PK-CLC tentu memberi gambaran seberapa kuat benturan yang terjadi. Sebab, pada pesawat Boeing 737-800 Ukraine International Airlines (UIA) PS752 yang jatuh ditembak dua rudal Tor M-1 Iran saja black box-nya masih dalam keadaan utuh (sekalipun datanya tak begitu lengkap akibat benturan yang terjadi), lantas bila black box pesawat Sriwijaya Air PK-CLC sampai hancur dan memorinya hilang, tak terbayang bukan seberapa kuatnya benturan?

Yang paling penting dari itu, tentu, insiden hancurnya black box Boeing 737-500 Sriwijaya Air PK-CLC SJ-182 juga membuka mata banyak pihak bahwa black box juga bisa hancur. Pertanyaannya, apa saja penyebab black box bisa hancur saat terjadinya kecelakaan?

Dilansir npr.org, sebelum menjawab pertanyaan itu, perlu diketahui bahwa black box terdiri dari FDR, CVR, Underwater Locator Beacon (ULB). FDR berfungsi merekam data-data teknis pesawat seperti ketinggian, kecepatan, putaran mesin, radar, auto pilot, dan lain-lain selama 25 jam (teknologi terkini bisa sampai 70 jam). Ada 5 sampai 300 parameter data penerbangan yang direkam dalam black box ini.

Sedangkan CVR berfungsi merekam data-data percakapan pilot di dalam kokpit, termasuk percakapan kru pesawat dengan ATC selama 30 menit sampai 2 jam (teknologi baru bisa mencapai 25 jam). Adapun ULB berfungsi sebagai alat pemancar sinyal (ping) di CVR dan FDR selama 90 hari dengan jangkauan sinyal ping mencapai radius 2 kilometer.

Selain ULB, di CVR dan FDR juga memiliki semacam kotak yang menyimpan memori, dimana data-data penerbangan dan percakapan ada di sana. Untuk melindungi memori dari benturan, ia dibungkus lapisan tipis alumunium dan lapisan insulasi, serta dibungkus lapisan baja atau titanium tahan korosi atau karat.

Baca juga: KNKT: Ada 7 Tipe Black Box dengan Parameter Berbeda

Secara umum, black box mampu menahan benturan dengan kecepatan hampir 500 km per jam. Black box menahan panasnya api sampai 1.100 derajat celcius selama 1 jam. Selama 30 hari, black box mampu mengirim sinyal ping yang dapat ditangkap sonar hingga kedalaman 6.000 meter lebih. Itu berarti, di atas batasan-batasan tersebut, black box sangat mungkin hancur atau tidak berfungsi maksimal.

Kendati demikian, dalam berbagai kasus kecelakaan di dunia nyaris belum pernah terjadi dimana black box hancur berkeping hingga tak bisa digunakan satu pun di antara keduanya (FDR dan CVR). Umumnya, jika FDR rusak atau tak ditemukan, CVR tetap bisa ditemukan dan menyediakan data-data yang dibutuhkan. Begitu pun sebaliknya.

India Larang Angkut Kargo dan Penumpang di Kabin Utama, Rugikan Maskapai?

Pandemi virus Corona telah membuat penerbangan ditinggal penumpang. Sebagai gantinya, maskapai di seluruh dunia berharap banyak pada penerbangan kargo. Sebab, pada penerbangan kargo tidak membutuhkan physical distancing yang menyebabkan load factor berkurang, layaknya di kabin penumpang. Karenanya, memaksimalkan penerbangan kargo akan sedikit menahan laju defisit keuangan maskapai.

Baca juga: Tujuh Penerbangan Ini Tak Lazim Akibat Corona, Nomor 6 Paling Aneh!

Ramainya penerbangan kargo, bersamaan dengan sepinya penerbangan penumpang, membuat maskapai di seluruh dunia terdorong untuk memanfaatkan kabin utama agar dimuat kargo sekaligus penumpang. Namun tidak demikian dengan maskapai-maskapai di India.

Belum lama ini, Direktorat Jenderal Perhubungan Udara (DGCA) India mengeluarkan peraturan untuk kelancaran operasi penerbangan. Di antara peraturan tersebut, DGCA mentapkan bahwa penumpang di kabin tidak boleh membaur dengan kargo. Itu berarti, konsep Passenger-to-FlexCombi tidak berlaku di Negeri Bollywood ini.

“Mengangkut penumpang dan kargo di kabin penumpang pada saat yang bersamaa tidak boleh dilakukan. Oleh karenanya, maskapai harus memastikan bahwa kebijakan tersebut tidak mempengaruhi atau mungkin mengganggu jadwal yang telah diatur,” tulis DGCA dalam sebuah edaran, seperti dikutip dari bangaloremirror.indiatimes.com.

Lebih lanjut, dalam edaran tersebut, maskapai-maskapai di India juga dilarang untuk mengangkut barang atau kargo di luar ketetapan pemerintah, seperti muatan di luar APD, perlengkapan dan peralatan medis, atau barang-barang lain yang vital dan bernilai esensial untuk rantai pasokan bahan baku penanganan Covid-19.

Perlu dicatat, sekalipun konsep Passenger-to-FlexCombi, dimana pesawat bisa mengangkut kargo dan penumpang sekaligus di dalam kabin utama, dilarang DGCA, namun, pada penerbangan kabin penumpang dipenuhi kargo tetap diperbolehkan. Hanya saja dengan petunjuk teknis yang berbeda.

Pada penerbangan kabin penumpang penuh kargo, maskapai wajib menonaktifkan aktivasi otomatis sistem oksigen penumpang di pesawat. Begitu juga dengan sistem hiburan di pesawat (IFE), sistem penghasil panas, dan aliran listrik ke soket di kursi, semuanya harus dinonaktifkan.

Selain itu, maskapai yang hendak menajalani penerbangan kabin penumpang penuh kargo juga wajib melapor ke DGCA 10 hari sebelum hari H.

Penerbangan kargo memang digadang menjadi kunci maskapai untuk terus mencetak pundi-pundi uang, sebelum mulai menatap era penerbangan penumpang seperti sediakala.

Baca juga: Boeing 747 Combi, Solusi Maskapai Angkut Penumpang dan Kargo di Era Pandemi Covid-19

Sebelumnya, pada akhir tahun lalu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) merilis statistik lalu lintas udara. Hasilnya, sudah pasti, angkutan kargo jadi primadona sekalipun masih tak lebih besar dibanding bulan yang sama di tahun lalu.

Namun, hal itu masih jauh lebih baik ketimbang statistik penerbangan penumpang. Karenanya, penerbangan kargo dinilai menjadi jembatan penghubung maskapai untuk bisa kembali meraup untung dari penerbangan penumpang pasca pandemi virus Corona berakhir. Selama pandem masih mengintai dan penerbangan penumpang masih anjlok, kargo menjadi satu-satunya andalan untuk bisa terus menyambung asa.

Dubai Mulai Uji Coba “Black Cab” Listrik Khas London di Bandara

Tak hanya terkenal dengan bus double decker berwana merahnya, London juga terkenal dengan  taksi hitam atau Black Cabnya. Meski ternyata tidak semua taksi di London berwarna hitam alias ada pula berwarna biru, hijau dan lainnya.

Baca juga: Gantungkan Raket, Mantan Petenis Profesional Kini di Balik Kemudi Black Cab Modern!

Saking terkenalnya taksi hitam atau Black Cab ini, bagaimana jika ada yang meniru dan bahkan mulai menguji cobanya? Ternyata Dubai mengikuti penggunaan taksi hitam ini dan akan menyusuri jalanan kota itu. Taksi yang menyerupai taksi ikonik London tersebut akan mulai diuji cobakan di Bandara Dubai pada Februari mendatang untuk mengangkut penumpang.

KabarPenumpang.com melansir dari laman arabnews.com (17/1/2021),  Otoritas Jalan dan Transportasi Uni Emirat Arab mengatakan, armada taksi ini memiliki model ramping yang mana bentuknya semi lengkung dan dengan desain hibrida. Taksi hitam tersebut akan beroperasi menggunakan listrik yang menjadi bahan bakarnya.

Taksi hitam di Dubai akan dioperasikan oleh Dubai Taxi Corporation. Untuk diketahui, taksi ini memiliki interior yang lebih luas dan akan ada enam kursi terpisah dari ruang pengemudi.

Tak hanya itu, taksi hitam tersebut dilengkapi dengan sistem navigasi berbasis satelit, perintah suara, sistem peringatan tabrakan depan, pemantauan blind spot dan jaringan WiFi. Selain itu juga dilengkapi dengan perangkat lunak peringatan keberangkatan jalur.

Taksi hitam Dubai memiliki mesin ganda sebagai pengendalian kendaraan yang lebih baik untuk segala macam iklim. Kendaraan ini juga dilengkapi dengan sistem pengereman yang dipercepat.

Baca juga: Berevolusi, Black Cab London Akan Gunakan Semi-Electric Vehicle

Bahkan yang lebih menariknya adalah, di mana untuk pengisian baterai di taksi ini hanya membutuhkan 30 menit untuk pengisian ulang. Di mana untuk pengisian baterainya pun menggunakan fitur pengisian cepat. Selain itu akan memakan waktu tiga jam ketika menggunakan sistem pengisian baterai biasa.

Seberapa Besar Kabut Mengganggu Penerbangan di Bandara? Berikut Ulasannya

Setiap tahun, ada begitu banyak penerbangan tertunda atau bahkan dibatalkan karena kabut tebal yang membuat visibilitas rendah. Sekalipun bisa tertangani dengan prosedur baru di luar normal, namun, tetap saja pilot memilih untuk tidak mengoperasikan pesawat sambil terus berkomunikasi dengan ATC.

Baca juga: Ini Alasan Kenapa Pesawat Dihimbau Tak Mengudara Saat Turun Kabut

Dilansir Simple Flying, dalam kondisi bandara diselimuti kabut tebal, baik itu kabut tebal akibat kebakaran hutan seperti di Indonesia maupun kabut alami hasil kondensasi uap air, dengan visibilitas di bawah 600 meter, operasional bandara akan bergantung pada Low Visibility Procedures (LVP). LVP ini memastikan akan ada lebih banyak ruang dan waktu di bandara untuk operasional yang lebih aman.

Ketika kabut menerjang dan membuat jarak pandang sangat terbatas, bagian tersulit dalam pengoperasian pesawat bukanlah mendarat atau lepas landas, melainkan saat taxiing. Sebab, baik ATC maupun pilot, keduanya hanya bergantung pada peta dan limited visual-led communications, sejenis kelap-kelip lampu yang menjadi bagian dari airport landing system dan airfield landing system.

Begitu pesawat benar-benar taxiing, praktiknya tentu berbeda. Pesawat harus menunggu di holding point yang lebih jauh dari biasanya, baik itu CAT 2 atau 3, untuk memunginkan jarak maksimum lepas landas.

Oleh karenanya, ketimbang tetap melanjutkan taxiing, pilot memilih untuk menghentikannya. Sebab, runway aktif akan sangat membahayakan saat di tengah kabut tebal. Tak terhitung jumlah insiden fatal di bandara seluruh dunia akibat penerbangan di tengah kabut tebal. Salah satunya adalah insiden kecelakaan pesawat terburuk di dunia yang melibatkan dua Queen of the Skies, Boeing 747 Pan Am Flight 1736 vs KLM Flight 4805 di Tenerife, Kepulauan Canaria (Canary Islands), Spanyol.

Andaipun pesawat tetap taxiing dan mendapat clearance untuk lepas landas, tentu itu sudah sesuai prosedur operasional penerbangan saat dalam kondisi kabut tebal. Sudah sama-sama diketahui bahwa bandara dan pesawat mempunyai jarak pandang minimum yang berbeda untuk lepas landas. Bandara Internasional Perth dan Melbourne, misalnya, mampu melayani pesawat mendarat dan lepas landas bahkan ketika visibilitas menurun hingga 75 persen.

Hanya saja, dalam kondisi seperti itu, pesawat lain harus menunggu di holding point lebih jauh dari biasanya dan harus menunggu sampai pesawat benar-benar mengudara. Sedangkan dalam proses lepas landas, pesawat harus patuh pada airfield landing system dan tetap berkomunikasi dengan ATC untuk memastikan clearance sudah paten, menghindari insiden fatal layaknya insiden Tenerife.

Mendarat di bawah LVP pun juga bukan perkara mudah. Menurut Flight Deck Friend, karena jarak pandang minimum yang diperlukan untuk pendaratan manual adalah 550 meter, pilot harus mengandalkan autopilot untuk pendaratan. Selain itu, bandara juga harus dilengkapi dengan Instrument Landing System (ILS) yang terhubung ke pesawat agar memudahkan proses pendaratan, dengan catatan, runway tetap harus sudah clear terlebih dahulu.

Setelah ATC memberikan clearance dan fitur auto landing sudah bekerja, pilot hanya perlu memastikan bahwa sistem berjalan baik dan mengambil kembali kendali pesawat saat touchdown, melakukan reverse thrust serta pengereman.

Layaknya, takeoff, proses landing di kondisi ini harus memastikan pesawat selesai melakukan rangkaian proses pendaratan sampai taxiing ke apron terlebih dahulu, sebelum pesawat lain menggunakan runway yang sama untuk lepas landas ataupun mendarat. Hal ini tentu membuat angka pergerakan pesawat menurun.

Baca juga: Dalam Kondisi Berkabut, Penggunaan ILS Bukan Jaminan Penerbangan Bakal Lebih Efisien

Jadi, di negara manapun kabut menerjang bandara, termasuk di Indonesia, sebetulnya tak akan terlalu berpengaruh bila pesawat dan bandaranya mendukung operasional penerbangan di tengah kabut tebal, entah itu kabut akibat kebakaran hutan maupun proses alamiah.

Dengan begitu, menjawab pertanyaan di awal, bisa dibilang, sekalipun bandara sudah dilengkapi dengan sistem CatIIIB yang memungkinkan pesawat lepas landas dan mendarat dalam jarak pandang berkurang hingga 75 persen, begitupun juga sebaliknya, pesawat dibekali fitur pendaratan di tengah kabut tebal, tetap saja operasional bandara akan tergganggu. Paling tidak, jumlah pergerakan pesawat pasti menurun.

Lebih dari 1.500 Unit Diproduksi, Inilah Seri Boeing 747 yang Terpopuler dan Sebaliknya

Sejak terbang perdana pada 9 Februari 1969, hingga akhir hayatnya sudah lebih dari 1.500 unit Boeing 747 diproduksi dalam berbagai seri. Dari banyaknya seri, termasuk sub-varian 747, tentu tak semuanya moncer di pasar. Ada kalanya “Queen of Skies” ini sepi pesanan lantaran spesifikasinya kurang mendapat respon dari pasar.  Nah dari semua serinya, mana tipe jumbo jet 747 yang paling populer dan sebaliknya, tidak populer?

Baca juga: 9 Februari 1969, Memperingati 50 Tahun Penerbangan Perdana Boeing 747

#1 747-400
Varian jumbo jet satu ini paling banyak diproduksi oleh Boeing. Secara total ada 694 pesawat dan ini mewakili hampir setengah dari keseluruhan kontingen 747. Jumbo jet 747-400 dikirim selama 20 tahun, mulai dari 1989 hingga 2009. Northwest Airlines adalah maskapai yang pertama menggunakan Boeing tipe ini pada Februari 1989.

Jumbo jet 747-400 menghadirkan dek atas yang membentang dan pertama kali menjadi standar pada 747-300. Boeing memiliki varian 400 lainnya seperti yang dioperasikan Qantas ada enam 747-400ER, KLM mengoperasikan 747-400M, ANA 747-400D. Selain untuk angkutan penumpang, Boeing 747-400 juga untuk pesawat kargo. Selain 126 pesawat standar 747-400F, Boeing juga mengirimkan 40 pesawat jarak jauh -400ERF.

#2 747-200
Varian paling populer berikutnya dari Boeing 747 adalah -200, dengan hampir 400 unit yang diproduksi. Pesawat ini menawarkan jangkauan yang lebih baik dibandingkan dengan model -100 yang asli. Ini juga menampilkan mesin yang lebih kuat dan peningkatan berat lepas landas maksimum (MTOW). Deregulasi penerbangan pada akhir 1970-an menandai berakhirnya penggunaan dek atas sebagai ruang tunggu bagi sebagian besar operator.

Dengan demikian, dek atas -200 dilengkapi dengan 10 jendela di setiap sisinya sebagai standar, sedangkan -100 awalnya hanya memiliki tiga. Sebagian besar dari 747-200 adalah model -200B yang dikonfigurasi penumpang. Namun, seperti -400, Boeing menghasilkan varian ‘combi’ yang dikenal sebagai -200M. Sebanyak 73 pesawat 747-200F berkonfigurasi kargo, bersama dengan 13 -200C. Dalam hal ini, C menetapkan bahwa pesawat dapat dikonversi antara konfigurasi kargo dan penumpang sesuai permintaan operator.

Itu dilakukan dengan menampilkan kursi yang dapat dilepas dan pintu kargo hidung, serta pintu kargo samping opsional di dek utama. Empat 747-200 sisanya adalah varian militer. Produksi berakhir pada tahun 1991, meskipun Iran Air tidak menghentikan sisa penumpang terakhirnya, yaitu 36 tahun -200B, hingga Mei 2016. Ini terjadi sekitar 44 tahun setelah pesawat tersebut pertama kali memasuki layanan dengan maskapai penerbangan Jerman Lufthansa pada tahun 1972.

#3 747-100
Ini adalah varian asli jumbo jet Boeing dan Pan Am menggukannya untuk pertama kali tahun 1970. Produksi Boeing 747-100 hanya 205 pesawat dengan tiga sub kelas varian. Boeing mengembangkan pesawat 29-100SR (‘Short Range’) yang dirancang untuk rute domestik Jepang berkapasitas tinggi. Sembilan contoh yang tersisa adalah varian -100B.
Boeing mengembangkan ini menggunakan teknologi dari -100SR, di mana kapasitas bahan bakar yang meningkat memungkinkan jangkauannya mencapai 9.300 km (5.000 NM). Iran Air adalah operator terakhir dari -100 dan -100B. Contoh terakhirnya, EP-IAM, dihentikan pada tahun 2014.

Baca juga: Nostalgia Boeing 747 Lion Air, Andalan Penerbangan Haji-Umroh yang Beralih Fungsi Jadi Restoran

Ternyata dari varian ini juga ada yang tidak populer yakni 747-8 dengan total sebanyak 150 dan digunakan untuk kargo. Kemudian 747-300 yang hanya dikirimkan kepada maskapai sebanyak 81 dan yang terakhir adalah varian 47SP yang dipersingkat (‘Special Performance’), dengan 45 pengiriman. Meskipun kurang sukses secara komersial, quadjet dengan proporsi yang aneh ini tetap populer di kalangan avgeeks di seluruh dunia saat ini.

Maskapai Ini Izinkan Penumpang Tak Kenakan Masker di Pesawat, Tertarik Mencoba?

Lockdown atau penguncian ketat tentu baik untuk memutus mata rantai penyebaran virus Corona. Namun, tetap saja, ada bagian-bagian kecil di masyarakat yang menolak lockdown. Begitu juga dengan kewajiban memakai masker, sekalipun sudah terbukti mampu mengurangi persentase pengguna tertular Covid-19, tetap saja ada orang-orang yang menolak memakai masker, bahkan saat sedang di transportasi umum seperti pesawat.

Baca juga: Mengapa Pilot Tak Pakai Masker Saat di Pesawat? Inilah Enam Alasannya

Terhadap kelompok-kelompok seperti itu, maskapai nasional Rusia, Aeroflot punya pendekatan tersendiri. Maskapai penerbangan terbesar di Rusia itu dikabarkan tak ambil pusing alias bakal mengizinkan penumpang tak mengenakan masker saat dalam penerbangan.

Dilansir Traveller, bagi penumpang yang menolak mengenakan masker karena berbagai alasan, seperti alasan medis dan berbagai alasan lainnya, saat dalam penerbangan, Aeroflot akan memisahkan kursi penumpang tersebut dari penumpang lainnya yang mengenakan masker.

“Kursi khusus diberikan untuk penumpang yang menyatakan penolakan mereka untuk menggunakan masker setelah pintu (pesawat) ditutup,” kata juru bicara Aeroflot Yulia Spivakova.

Pihak maskapai mengatakan penumpang yang menolak memakai masker akan ditempatkan di dua baris kursi paling belakang pesawat yang ada di sisi sebelah kanan.

Sebetulnya, maskapai yang dahulu pernah menyandang status maskapai terbesar di dunia itu secara tegas menolak penumpang yang tak mengenakan masker untuk ikut terbang. Adapun kasus di atas adalah pengecualian dimana pesawat sudah lepas landas dan tengah dalam penerbangan kemudian tiba-tiba penumpang menolak mengenakan masker.

Pihak maskapai berdalih bahwa jika menurunkan penumpang yang tidak memakai masker ke bandara terdekat akan mengganggu jadwal penerbangan dan menyita waktu yang lebih lama.

Meski demikian, Spivakova mengatakan bahwa peraturan mengenakan masker di dalam pesawat adalah hal yang wajib dan aturan lainnya tetap berlaku di dalam pesawat.

“Kebijakan ini tidak mengecualikan penerapan tindakan pertanggungjawaban lain karena pelanggaran aturan penggunaan alat pelindung diri di atas pesawat,” tambah Spivakova.

CNN International melaporkan, memakai masker merupakan aturan wajib di seluruh maskapai penerbangan dunia mana pun. Hanya saja dalam praktiknya masih banyak penumpang yang bandel dan menolak mengenakan masker.

Baca juga: Akibat Anak Tak Gunakan Masker, Satu Keluarga dan Penumpang Disebelah Dipaksa Keluar Pesawat

Rusia bukan satu-satunya negara di mana peraturan masker di pesawat menjadi masalah. Di Amerika Serikat, insiden penumpang yang menolak memakai masker telah terjadi beberapa kali.

Pada Juli 2020, sebuah penerbangan Southwest Airlines kembali ke Bandara Internasional Denver ketika terjadi perkelahian antara penumpang, karena menolak mengenakan masker.

Car-eBike CitiyQ Muat Banyak Barang dan Melindungi Anda dari Cuaca

Sepeda elektronik atau ebike yang ada saat ini membutuhkan sedikit lebih banyak tenaga untuk mengayuh dari pada sepeda biasanya. Tetapi sebagian besar ebike masih menawarkan sedikit kapasitas kargo atau perlindungan cuaca.

Baca juga: Masyarakat Wuhan Pilih Gunakan Sepeda Elektrik untuk Moda Transportasi

Ini kemudian membuat CityQ menghadirkan Car-eBike yang merupakan sepeda listrik dengan fungsi mobil. Di mana kendaraan ini adalah sepeda roda empat yang menyerupai mobil. Sebab sepeda tersebut dilengkapi dengan perlindungan dari elemen dan beberapa ruang di belakang untuk mengangkut satu penumpang atau meletakkan barang bawaan.

KabarPenumpang.com melansir newatlas.com (8/1/2021), terlihat seperti mobile, Car-eBike milik CityQ ini dilengkapi dengan jendela dan tanpa, pintu semi berputar yang dapat tertutup penuh atau setengahnya.

“Bayangkan bersepeda kapan pun Anda mau meskipun cuaca, lalu lintas, atau batasan bagasi. Bayangkan membawa orang-orang tersayang Anda dengan aman, anak-anak Anda, tas Anda dan jangan lupakan anjingnya. Tidak harus menggunakan mobil atau angkutan umum untuk pergi ke toko atau gym, juga bisa ke tempat kerja, keliling kota atau ke pantai. Semua itu tanpa harus khawatir tentang parkir, SIM, atau hari hujan,” kata CityQ.

Untuk menggunakan Car-eBike, Anda harus mengayuhnya agar bergerak yang artinya secara teknis masih sepeda. Tetapi, uniknya Car-eBike tidak memiliki rantai tau roda gigi mekanis seperti mobil listrik. Sebab Car-eBike menggunakan drivetrain yang dikelola perangkat lunak sehingga memungkinkan pemrograman sejumlah mode berkendara dan dilengkapi dengan cruise contor, mundur, kargo berat, persneling otomatis atau meregenerasi rem, tergantung kebutuhan saat ini,

Tidak seperti e-bike lainnya, Car-eBike tidak memiliki mode khusus throttle. Car-eBike didukung oleh motor 250W untuk mematuhi peraturan UE, yang memiliki kecepatan tertinggi 25 km per jam (15,5 mph) dan jangkauan 70 hingga 100 km (43 hingga 62 mil) menggunakan paket baterai ganda.

CityQ mengatakan telah mematuhi peraturan Eropa untuk e-bikes dan e-bikes 3-4 roda, yang berarti Anda dapat mengendarainya di jalur dan jalur khusus sepeda, jika tersedia. Namun, di kota dengan infrastruktur sepeda yang kurang berkembang, itu berarti mengendarainya di jalan, dalam lalu lintas yang teratur.

Car-eBike memiliki berat 70 kg (154 pon) yang hadir dengan konektivitas dan pasangan Bluetooth dengan aplikasi khusus, sehingga Anda dapat melacak dan mengunci atau membuka kuncinya, sehingga Anda dapat meninggalkannya di luar.

“CityQ adalah ebike dengan kenyamanan dan teknologi mobil dan dengan keunggulan sepeda. Anda dapat bersepeda dua anak dan bagasi dari pintu ke pintu tanpa harus khawatir tentang cuaca buruk, lalu lintas mobil atau masalah parkir,” kata pendiri Morten Rynning.

Baca juga: Wujudkan SmartCityBike, Slovakia Hadirkan Sepeda Elektrik di Kereta Bawah Tanah

Untuk saat ini Car-eBike dari CityQ masih dalam pembuatan dan harganya sekitar €7.450 (sekitar US$9.093) di akhir, yang membuatnya sejajar dengan e-bike yang sangat canggi atau mobil sebenarnya berbiaya rendah. Namun, minat terhadapnya cukup tinggi, sebab menurut perusahaan, lebih dari 500 orang telah memesan Car-eBike mereka sendiri dan perusahaan sedang dalam pembicaraan untuk armada transportasi kargo di Skandinavia dan Inggris.