Jepang sebagai salah satu negara dengan aktivitas penduduk yang sibuk dan memiliki kereta sebagai salah satu alat transportasi yang paling banyak digunakan. Untuk memudahkannya, pada tahun 2016 lalu, operator kereta api Jepang yakni East Japan Railways Company atau yang dikenal dengan JR East memperkenalkan sistem penomoran di semua stasiun mereka yang berada di Tokyo.
KabarPenumpang.com melansir dari laman soranews24.com, JR East memperkenalkan sistem penomoran untuk semua stasiunnya di Tokyo mulai bulan Oktober 2016. Penomoran tersebut dalam upaya untuk memfasilitasi navigasi bagi orang asing yang bepergian di dalam ibu kota menjelang Olimpiade dan Paralimpiade yang harusnya dilangsungkan pada tahun 2020 ini.
Untuk memudahkanya, JR East memberikan sistem penomoran dengan menggabungkan kombinasi dari dua huruf alfabet yang menunjukkan jalur kereta api yang mana dan dua digit angka. Ini juga akan memiliki kode nomor stasiun dan diapit kotak warna yang sama dengan yang ada di jalur kereta.
Misalnya Stasiun Shinjuku di Jalur Yamanote akan diberi kode kode JY17. Yang mana huruf J untuk JR dan Y untuk jalur Yamanote dan 17 menjadi nomor uniknya. Ini akan diwarnai dengan hijau muda yang melambangkan warna lingkaran garis.
Tak hanya itu, JR East juga mengatakan bahwa stasiun hub di mana banyak jalur berhenti akan diberi kode dengan tiga huruf alfabet termasuk UEN dan TYO untuk Stasiun Ueno dan Tokyo. Sedangkan untuk Stasiun Akihabara akan diberi kode AKB dan Stasiun Shinjuku dengan SJK.
Untuk memperjelas dan memudahkan pelancong asing, tanda stasiun akan mencantumkan nama stasiun dalam empat bahasa yakni Jepang, Inggris, Cina dan Korea. Sistem penomoran pada stasiun telah diperkenalkan oleh Tokyo Metro yang mengoperasikan sembilan jalur dan kereta bawah tanah Toei serta jalur kereta lainnya di Tokyo.
Untuk diketahui, JR East akan mulai memperkenalkan sistem penomoran mulai 1 Oktober 2016, ke 276 stasiun di wilayah metropolitan Tokyo. Monorel Tokyo yang menghubungkan Bandara Haneda dengan pusat Tokyo berafiliasi dengan JR East, dan akan menerapkan sistem yang sama mulai 1 Oktober.
Gajah menjadi salah satu hewan yang dilindungi di India dan termasuk hewan di dalam Undang-Undang Perlindungan Satwa Liar. Bahkan karena menabrak gajah, sebuah lokomotif bisa disita.
Seperti belum lama ini, sebuah lokomotif kereta api di India disita karena menjadi penyebab tewasnya dua ekor gajah. Dilansir KabarPenumpang.com dari livemint.com (22/10/2020), penyitaan ini dilakukan oleh petugas kehutanan di Assam karena menabrak induk dan anak gajah di dalam kawasan hutan Cagar Lumding.
Lokomotif itu disita dari Lapangan Kereta Api Bamunimaidan berdasarkan Undang-undang Perlindungan Satwa Liar, 1972. Dalam hal ini dikatakan penyitaan tersebut adalah pertama kalinya dilakukan oleh pihak berwenang.
Padahal Zona North-East Frontier Railway (NFR) mengatakan dalam sebuah pernyataan yang menyebutkan insiden tersebut bukan pertama kali terjadi. Menurut seorang pejabat senior kereta api NF, lokomotif disita untuk penyelidikan independen oleh pejabat kehutanan.
Bahkan Perkeretaapian India telah memulai penyelidikan terhadap para mangkir. Menurut rilis resmi, satu mesin kereta api yakni lokomotif 12440 WDG4 telah disita dari kepemilikan DME Senior / Diesel / Guwahati Baru, Chandra Mohan Tiwari di Lapangan Kereta Api Bamunimaidan, gudang lokomotif diesel karena membunuh dua gajah India di Jalur Kereta Api KM pos nomor 180/9 dan 181/9 antara Patharkhula dan Stasiun Kereta Lamsakhang pada 27 September 2020 tengah malam.
Seekor gajah dan anaknya dibunuh oleh mesin kereta barang di daerah Lumding Assam pada 27 September. Sebelumnya dalam hal ini, masinis Lokomotif dan asisten masinis lokomotif telah ditangguhkan oleh Kereta Api dan penyelidikan internal telah dilakukan.
Mesin lokomotif yang disita tersebut kemudian diberikan kembali mengingat kesinambungan pelayanan esensial kepada publik. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Assam, Parimal Suklabaidya mengatakan, pihaknya tidak boleh gagal untuk mengambil sikap tegas terhadap perkeretaapian.
Dia menambahkan bahwa pembunuhan gajah di rel kereta api harus segera dihentikan. Perkeretaapian India telah mengklarifikasi bahwa mereka telah mengambil banyak tindakan untuk mencegah pembunuhan gajah saat melintasi rel kereta api.
Dikatakan bahwa pada 2019 sekitar 268 gajah dan pada tahun ini 61 gajah telah diselamatkan dengan memberlakukan pembatasan kecepatan pada kereta api saat melewati koridor gajah dan juga menerapkan ide-ide inovatif seperti ‘Plan Bee’ dan menyediakan jalur landai di lokasi yang telah diidentifikasi.
Pandemi hingga saat ini belum berakhir, bahkan beberapa negara mulai kembali menerapkan penguncian dan pelancong dari negara lain masih belum diperbolehkan untuk menikmati liburan mereka. Karena hal ini, berbagai negara mulai mengembangkan pengujian cepat untuk mendeteksi Covid-19.
Salah satunya yakni lab pengujian Covid-19 di Bandara Internasional Changi Singapura yang dijadwalkan akan dibuka pada kuartal pertama tahun depan. Mereka akan menggunakan kit pengujian yang dapat mempersingkat waktu yang dibutuhkan untuk hasil dari 2,5 jam menjadi 1,5 jam.
Dilansir KabarPenumpang.com dari laman straitstimes.com (30/10/2020), waktu untuk mendapatkan hasil lebih pendek bagi pelancong dari negara-negara yang dianggap memiliki risiko infeksi Covid-19 yang lebih rendah. Menteri Transportasi Ong Ye Kung mengatakan, ini karena pihak berwenang telah mempelajari kelayakan untuk memperkenalkan tes yang kurang sensitif tetapi lebih cepat.
Ong Ye Kung mengatakan, Bandara Changi saat ini bisa menguji sampel hingga 10 ribu per hari dengan memanfaatkan laboratorium eksternal dan dapat menggandakan kapasitas ini jika diperlukan. Ong menjelaskan mempercepat proses pengujian Covid-19 menjadi pertimbangan utama dalam mendirikan lab baru.
“Anda tidak perlu mengangkut sampel dari Changi ke lab, yang menghemat banyak waktu. Setiap menit penting dalam kaitannya dengan operasi bandara,” katanya.
Ong menyebutkan, fasilitas lab pengujian baru akan menggunakan kit uji Resolute 2.0 polymerase chain reaction (PCR) yang dikembangkan bersama oleh DSO National Laboratories dan Agency for Science, Technology and Research. Alat tes PCR adalah standar emas dalam hal akurasi untuk tes Covid-19, tetapi lebih mahal dan membutuhkan waktu sedikit lebih lama untuk diproses daripada opsi lain seperti tes cepat antigen atau tes breathalyser.
Untuk opsi lain dalam pengujian Ong mengatakan, selama alat tersebut cukup tinggi dalam hal sensitivitas maka akan berhasil. Sebab pada titik tertentu untuk negara-negara yang lebih aman bisa jadi diuji dengan alt pernapasan.
“Sudah sangat tidak mungkin para pelancong (dari negara-negara ini terinfeksi), jadi ini hanya tindakan pencegahan tambahan,” tambahnya.
Tetapi dia juga mengakui bahwa tes breathalyser tidak seakurat tes PCR, misalnya, dan karenanya tidak dapat diterapkan untuk semua pelancong. Ong menjelaskan terkait subsidi biaya pengujian Covid-19 bagi para pelancong untuk membantu menghidupkan kembali lalu lintas penumpang, yang mana penerbangan selalu menjadi operasi komersial bagi seseorang yang memilih untuk bepergian, saya pikir itu adil untuk membayar ujian.
Pesawat komersial buatan Cina, COMAC C919 dilaporkan berhasil unjuk gigi dalam perhelatan Nanchang Flight Convention pada 31 Oktober hingga 1 November 2020 lalu. Ajang tersebut merupakan partisipasi air show pertama pesawat twinjet lorong tunggal ini sejak sukses terbang perdana pada 2017 silam.
Kantor berita Xinhua, sebagaimana dikutip Simple Flying, melaporkan Nanchang Flight Convention atau Konvensi Penerbangan Nanchang 2020 digelar di Bandara Yaohu, Nanchang, Provinsi Jiangxi, Cina. Selain menampilkan aksi akrobatik, acara tersebut juga menggelar pameran produk-produk aviasi terbaru Negeri Panda dan dunia.
Sejauh ini, sekalipun masih di tengah pandemi Corona, berbagai tim aerobatik dunia serta jet-jet menengah, termasuk COMAC C919, dilaporkan ikut meramaikan gelaran tersebut. Di antaranya, Diamond, Piper, dan Leonardo. Hanya saja, tak disebutkan dengan jelas apa saja produk-produk yang ditampilkan dan bagaimana air show tersebut berjalan.
Yang pasti, sejak pertama kali digelar pada tahun lalu, Nanchang Flight Convention memang sudah menarik minat pengunjung, khususnya warga lokal.
Kumpulan foto berikut memperlihatkan serangkaian aksi yang dilakukan oleh tim aerobatik dari Provinsi Guangdong, Tiongkok tenggara, selama Konvensi Penerbangan Nanchang 2020 di Bandara Yaohu, Provinsi Jiangxi, Tiongkok timur, Minggu (31/10) pic.twitter.com/MMYQU1aBY9
Kala itu, di antara berbagai pertunjukan, terdapat sekitar 800 drone yang menampilkan permainan cahaya indah. Selama beberapa menit, drone-drone tersebut terus memanjakan mata dengan berbagai formasi membentuk pesawat berbagai jenis secara 3D, baik dari militer maupun sipil; termasuk pesawat komersial kebanggan Cina, COMAC C919.
China Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC) belakangan memang digadang-gadang bakal menggoyang duopoli Boeing dan Airbus dalam percaturan produsen pesawat komersial global. Hal itu setidaknya bisa tercermin dari adanya pesanan nyaris 1.000 pesawat.
Pada Juni lalu, Reuters melaporkan, COMAC dan China Express Airlines atau biasa juga dikenal sebagai Huaxia Airlines meneken perjanjian pembelian total 100 pesawat penumpang ARJ21 dan C919. Tidak disebutkan dengan jelas berapa pembagiannya.
Bahkan, media propaganda Partai Komunis Cina (PKC), Global Times, menyebut COMAC hingga saat ini telah menerima pesanan 815 pesanan untuk C919 dari 28 maskapai domestik dan asing. Tak disebutkan apakah jumlah tersebut termasuk pesanan 100 pesawat oleh China Express Airlines atau berbeda. Bila berbeda, berarti pesanan COMAC sudah mencapai hampir 1.000 pesawat.
Wu Guanghui, wakil Kongres Rakyat Nasional (NPC) sekaligus kepala desainer pesawat mengungkap, saat ini, total enam pesawat C919 sudah memasuki fase uji terbang dan sertifikasi kelaikan terbang dari otoritas penerbangan sipil Cina sejak tahun lalu. Hasilnya, proses uji coba yang dilakukan di Shanghai, Xi’an, Dongying, dan Nanchang berjalan dengan baik. Bila proses sertifikasi yang sempat tertunda beberapa tahun ini selesai, bukan tak mungkin, jumlah pesanan pesawat akan lebih meningkat dari sekedar 1.000 pesanan.
Menariknya, bukan hanya narrowbody, pangsa pasar widebody juga ingin disusupi COMAC. Wu mengungkapkan bahwa pesawat CR929 sekarang dalam tahap desain awal. Pesawat widebody jarak jauh itu dikembangkan bersama oleh COMAC dan United Aircraft Corporation milik Rusia. Pesawat tersebut diklaim akan memiliki jangkauan terbang sejauh 12.000 kilometer dan 280 kursi dalam tiga kelas.
Pada hari ini, 28 tahun lalu, bertepatan dengan 2 November 1992, Airbus A330 sukses terbang perdana. Pesawat widebody jarak menengah hingga jauh ini menjadi pertanda akan ancaman Airbus terhadap Boeing yang lebih kuat sejak pertama kali berdiri pada 18 Desember 1970. Pesawat twin jet itu diplot untuk meraup pasar widebody, bersaing ketat dengan Boeing 767-300ER ataupun Boeing 777-200 yang sedikit lebih besar.
Dilansir dari Airwaysmag.com, konsep pembuatan Airbus A330 muncul tatkala Airbus mulai berencana untuk meningkatkan pesawat pertamanya, Airbus A300. Peningkatan itu ditujukan agar pabrikan asal Eropa ini bisa bersaing dengan pesawat lainnya, seperti McDonnell Douglas DC-10, Lockheed L-1011 TriStar, dan tentu saja Boeing 767.
Saat itu, program pengembangan atau peningkatan A300 terbagi menjadi dua, A340 dan A330. Tak seperti kompetitornya, kedua pesawat itu mulai disematkan fitur fly-by-wire, sebuah fitur berupa sistem kendali yang menggunakan sinyal elektronik dalam memberikan perintah, tetapi hal ini tidak berarti hanya sebatas mengganti peran manual manusia dalam mengontrol arah dan pergerakkan pesawat.
Fitur canggih pada zamannya yang belakangan sudah usang dan siap digantikan teknologi fiber optic fly by light ini pun jadi senjata ampuh untuk memaksa maskapai dunia melirik dua pesawat tersebut.
Spek A330. Foto: Tangkapan layar
Pada 27 Januari 1986, Airbus pun resmi merilis A330 ke publik. Sejurus kemudian, maskapai Perancis, Air Inter, tercatat jadi maskapai pertama yang memesan pesawat yang pada 2014 lalu sudah diproduksi sebanyak 1.055 unit ini, disusul Northwest Airllines sebagai maskapai kedua atau maskapai pertama Amerika Serikat (AS) yang memesan.
Usai terbang perdana, Airbus A330-300 tercatat menjadi pesawat widebody terbesar di dunia dengan kapasitas 250 hingga 440 penumpang dalam satu kelas, sedikit di atas Boeing 767 yang hanya menampung 181-375 penumpang. Adapun dalam tiga kelas, pesawat dengan panjang 63.66 meter ini mampu mengangkut sekitar 250-290 penumpang sejauh 11,750 km. Namun, gelar pesawat widebody terbesar yang disandang A330 harus sirna usai Boeing meluncurkan triple seven atau B777.
Airbus A330 ditawarkan dalam tiga varian mesin berbeda, yakni General Electric CF6, Pratt & Whitney PW4000, dan Rolls-Royce Trent 700. Dari ketiga itu, mesin Pratt & Whitney PW4000 menjadi varian A330 yang bisa dibilang tak terlalu mulus di awal kemunculan.
Betapa tidak, saat proses sertifikasi oleh Eropa melalui Joint Aviation Authorities (JAA) dan AS melalui Federal Aviation Administration (FAA) pada 21 Oktober 1993, pesawat itu jatuh tak lama setelah lepas landas dari pabrik Airbus di Toulouse. Pesawat dilaporkan jatuh saat menguji fitur autopilot dalam skenario terbang satu mesin (ETOPS). Hasil penyelidikan, pesawat jatuh lantaran human error, bukan masalah pada pesawat itu sendiri.
Meskipun sempat jatuh, A330-300 akhirnya berhasil meraih ETOPS-90 dan secara perlahan meningkat di varian yang lebih canggih hingga mencapai ETOPS-240 dewasa ini.
Setelah sukses dengan A330-300, Airbus kemudian meluncurkan varian yang lebih kecil, yakni A330-200 dan versi kargo A330-200F, pada 1998. A330ceo (current engine option) dan versi pengembangannya hingga yang terakhir A330-900neo (new engine option) pada tahun 2020 ini tercatat sudah ada sekitar 1.818 pesanan, dimana 1.501 di antaranya sudah berhasil dikirim ke pelanggan dan 1.432 unit sudah beroperasi secara reguler di seluruh dunia. Turkish Airlines tercatat menjadi pelanggan A330 terbesar dengan total armada sebanyak 66 unit.
Ketika kendaraan listrik mulai memasuki era saat ini, berbagai teknologi pendukung terus dikembangkan. Salah satunya adalah model baterai baru yang mampu mengisi daya kendaraan lebih cepat hanya dalam waktu hitungan menit.
Dengan hadirnya baterai yang lebih cepat terisi dengan daya yang lebih baik, akan memudahkan dalam pengoperasian serta waktu yang dimiliki dalam pengisian baterai. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman sumber nationalheraldindia.com (26/10/2020), di Korea Selatan, sebuah tim penelitian belum lama ini telah mengembangkan teknologi cara pengisian daya yang lebih cepat.
Selain itu bahan baterai yang digunakan juga lebih tahan lama dan dapat mengisi daya mobil listrik hingga 90 persen hanya dalam waktu enam menit. Pengisian daya ini bahkan lebih cepat jika dibandingkan dengan pengisian daya untuk sebuah smartphone menggunakan fast charging. Tidak seperti mobil konvensional yang menggunakan mesin pembakaran dalam, mobil listrik hanya didukung oleh baterai lithium-ion.
Sehingga performa dari baterai akan menentukan performa mobil secara keseluruhannya. Diawal kehadiran mobil listrik ini, waktu pengisian lambat dan daya yang masih lemah menjadi hambatan yang harus diatasi. Apalagi jika mengurangi ukuran partikel akan memiliki kelemahan yaitu mengurangi kepadatan energi volumetrik dari baterai.
Hal inilah yang kemudian membuat tim penelitian mengkonfirmasi bahwa jika fase perantara dalam tansisi fase terbentuk selama pengisian dan secara efisien. Sehingga daya tinggi dapat dihasilkan tanpa kehilangan kepadatan energi yang tinggi atau mengurangi ukuran partikel melalui pengisian cepat dan elektrik.
Di mana ini memungkinkan pengembangan yang cukup panjang agar baterai Li-ion yang digunakan lebih tahan lama. Salah satunya yakni menggunakan metode sintesis yang dikembangkan oleh tim peneliti.
Yang mana seseorang dapat menginduksi fase perantara yang bertindak sebagai penyangga struktural yang secara dramatis mampu mengurangi perubahan volume antara dua fase dalam sebuah partikel.
Kereta cepat tidak hanya ada di Cina dan Jepang, tetapi berbagai belahan negara dunia juga memiliki kereta cepat ini. Bahkan Indonesia juga akan segera memiliki kereta cepat, karena kini dalam proses pembangunan jalur. Dirangkum dari railway-technology.com oleh KabarPenumpang.com, ada sepuluh kereta cepat di dunia. Penasaran apa saja? Berikut kesepuluh kereta cepat yang mengular di jalur kereta api dunia.
Shanghai Maglev
Kereta cepat yang satu ini berada di puncak daftar karena ketika beroperasi bisa melaju hingga 430 km per jam dan rata-rata kecepatannya 251 km per jam. Mulai beroperasi secara komersial sejak April 2004 dan melintas di jalur Shanghai Maglev sepanjang 30,5 km. Kereta ini melintas di jalur levitasi magnetik berkecepatan tinggi pertama yang melintas dari Stasiun Jalan Longyang Jalur Metro 2 dan berakhir di Bandara Internasional Shanghai Pudong.
Harmoni CRH 380A
Harmony CRH 380A, dengan kecepatan operasional maksimum 380 km per jam, saat ini merupakan kereta yang beroperasi tercepat kedua di dunia. CRH 380A mulai beroperasi pada Oktober 2010 dengan beroperasi dari Beijing ke Shanghai dan menyediakan layanan harian di sepanjang rute Wuhan ke Guangzhou.
AGV Italo
Kereta ini merupakan yang pertama di Seri AGV dan mulai beroperasi pada April 2012. Memiliki kecepatan operasional maksimum 360 km per jam, dilengkapi dengan sistem traksi yang memecahkan rekor kecepatan 574,8 km per jam pada April 2007. Dianggap sebagai kereta paling modern di Eropa, AGV Italo dibangun oleh Alstom. Kereta tersebut saat ini beroperasi di koridor Napoli-Roma-Firenze-Bologna-Milano. Kereta ini mematuhi standar interoperabilitas TSI Eropa, yang mencakup keselamatan, keandalan dan ketersediaan, kesehatan, perlindungan lingkungan, dan kompatibilitas teknis.
Siemens Velaro E / AVS 103
Velaro E, ditetapkan sebagai AVE S 103 di Spanyol, adalah kereta kecepatan tinggi produksi seri tercepat di dunia yang mencapai kecepatan tertinggi sekitar 400 km per jam selama perjalanan uji coba di Spanyol. Kereta tersebut memiliki kecepatan operasional 350 km per jam. Kereta ini dipesan oleh Spanish National Railways Renfe, dan beroperasi di jalur Barcelona-Madrid, dikirim pada Juli 2005 dan mulai beroperasi pada Juni 2007. Rancangan kereta multi-unit didasarkan pada perkembangan terbaru dari rangkaian kereta ICE 3 yang sukses dirancang untuk Deutsche Bahn.
Talgo 350 (T350)
Awal memasuki layanan, kereta ini menggunakan nama RENFE AVE Class 10, mencapai kecepatan maksimum 365 km per jam selama uji coba. Kereta tersebut memiliki kecepatan operasional maksimum 350 km per jam. T350 mumnya dikenal sebagai El Pato (artinya Si Bebek dalam bahasa Spanyol), dan telah beroperasi di bagian Madrid-Zaragoza-Lleida dari jalur Madrid-Barcelona di Spanyol sejak tahun 2005. Saat ini ada lebih dari 46 kereta yang beroperasi dari rangkaian tersebut di negara.
Seri E5 Shinkansen Hayabusa
Kereta Shinkansen Hayabusa Seri E5, yang mulai beroperasi pada Maret 2011, dengan kecepatan maksimum awal 300 km sekarang berjalan di Jalur Tohoku Shinkansen dengan kecepatan operasi maksimum 320 km per jam. Seri E5 kini menjadi yang tercepat di Jepang, karena mencapai kecepatan sekitar 400 km per jam selama uji coba. Kereta ini memiliki sistem suspensi aktif penuh (FSA), yang mengurangi getaran dari bogie yang bergerak, dan hidung sepanjang 15 m yang mengurangi ledakan suara di terowongan.
Alstom Euroduplexr
Euroduplex buatan Alstom adalah generasi ketiga dari TGV Duplex, yang mulai beroperasi pada Desember 2011 dan disebut-sebut sebagai satu-satunya kereta api bertingkat dua yang dapat dioperasikan dengan kecepatan tinggi yang mampu beroperasi di jaringan Eropa dengan kecepatan 320 km per jam. Awalnya diperkenalkan di jalur rel berkecepatan tinggi Rhine-Rhone LGV dan mampu mengangkut 1.020 penumpang, dibandingkan dengan TGV Duplex yang mengangkut sekitar 512 penumpang. Kereta Euroduplex dirancang untuk beroperasi di jaringan rel Prancis, Jerman, Swiss, dan Luksemburg. Mereka dilengkapi dengan sistem traksi yang disesuaikan dengan arus listrik berbeda yang digunakan di seluruh Eropa, sedangkan beberapa kereta dalam rangkaian tersebut juga akan mampu beroperasi di Spanyol.
Dupleks TGV
TGV Duplex diproduksi dari 1996-2004, dioperasikan oleh SNCF dan diproduksi oleh Alstom dan Bombardier. Kereta dapat mencapai kecepatan maksimum 300 km per jam hingga 320 km per jam. TGV Duplex adalah kereta double-decker / duplex generasi ketiga pertama Alstom yang menyediakan tempat duduk untuk 512 penumpang di dek atas dan bawah. Kereta ini terbuat dari aluminium untuk mengurangi bobot dan dalam seri TGV Duplex terutama beroperasi di jalur TGV Méditer ranée antara Paris dan Marseille. Lebih dari 450 kereta seri TGV saat ini melayani 230 tujuan.
Kereta ETR 500 Frecciarossa
Kereta Frecciarossa Elettro Treno Rapido 500 (ETR 500) mulai beroperasi pada tahun 2008. Kereta ini dirancang untuk kecepatan maksimum 360 km per jam dan saat ini beroperasi pada kecepatan 300 km per jam pada jalur berkecepatan tinggi. Kereta yang telah direnovasi beroperasi antara Roma dan Milan. Mobil-mobil tersebut dilengkapi dengan pengatur suhu dan insulasi suara, dan fitur kursi ergonomis untuk memberikan kenyamanan maksimal.
THSR 700T
THSR 700T beroperasi pada jalur berkecepatan tinggi antara Taipei dan Kaohsiung di Taiwan. Kereta mulai beroperasi dengan Taiwan High-Speed Rail pada Januari 2007.
Ini beroperasi pada kecepatan 300 km per jam mengurangi waktu perjalanan antara dua kota dari empat jam menjadi hanya 90 menit. 700T adalah kereta api Taiwan pertama yang mengimpor teknologi kereta kecepatan tinggi Jepang. Total investasi untuk pembuatan 30 kereta awal dalam rangkaian tersebut mencapai sekitar NT$100 miliar ($3,4 miliar).
Seorang paramedis yang berbasis di Tampa, Amerika Serikat bernama Kelli Adrienne Duncan terbang ke Hartford pada awal bulan ini dan merasa terluka. Dia mengggunakan masker bertuliskan “Just Deaf, Not Rude”. Duncan yang tunarungu tersebut menggunakan bahasa isyarat ketika berbicara dengan orang lain dan menggunakan masker dengan tulisan itu untuk memberi tahu orang lain tentang kecacatannya.
KabarPenumpang.com melansir paddleyourownkanoo.com (25/10/2020), Duncan mengatakan setelah dia dan temannya naik ke pesawat serta mencari tahu kursi yang harus diduduki, mereka mendengar salah satu pramugari di belakang berkata dengan keras dan kasar bertanya, “Apakah kamu benar-benar tuli?”.
Duncan mengatakan, saat itu temannya memandang petugas dengan jijik dan meyakinkan mereka bahwa Duncan memang tuli. Temannya yang terlihat kesal menyuruh Duncan untuk terus bergerak dan akhirnya menjelaskan tentang kelakuan pramugari tersebut. Duncan mengaku sangat terluka akan perlakuan pramugari tersebut.
“Saya sangat senang sahabat saya ada di sana karena saya biasanya bepergian sendiri dan sering kesulitan berkomunikasi karena topeng,” kata Duncan.
Tetapi setelah mendengar tentang apa yang terjadi, saudara perempuan Kelli, pembawa acara ESPN Elle Duncan, menulis ke Twitter untuk mencaci Delta tentang cara pramugari memperlakukan penumpang tuli. Insiden itu terjadi pada 10 Oktober dan Delta dengan cepat bereaksi dan memperbaiki keadaan.
“Delta segera menghubunginya dan mengatakan mereka akan menyelidiki insiden itu. Mereka mengatakan kepadanya bahwa mereka akan meminta kru menghadiri pelatihan kepekaan dan akan mencari cara untuk menyediakan masker yang menunjukkan mulut sehingga orang yang tuli dan tuli dapat membaca bibir,” jelas Kelli.
Delta tidak dapat mengonfirmasi secara spesifik insiden tersebut dengan alasan masalah privasi tetapi dalam sebuah pernyataan, juru bicara maskapai mengatakan pihaknya mengharapkan semua “karyawannya untuk memperlakukan semua pelanggan dan satu sama lain dengan hormat, dan kami tidak mendiskriminasi pelanggan dengan alasan apa pun.
“Umpan balik yang kami terima akan dimasukkan dalam pesan kepada karyawan yang meningkatkan komunikasi dan kesadaran pelanggan dalam lingkungan yang unik di mana topeng dapat membatasi kemampuan orang untuk mengekspresikan diri dan dipahami,” pernyataan itu menyimpulkan.
Duncan memuji Delta karena “sangat mendukung” dan berharap pengalamannya akan menjadi momen pengajaran yang akan membantu mencegah ketidaktahuan tentang disabilitas seseorang menjadi masalah di masa depan.
Inovasi di sektor dirgantara tak pernah berhenti. April lalu, entah apa yang merasuki para petinggi Airbus, pabrikan yang berbasis di Toulouse itu mengumumkan akan memproduksi sebuah pesawat baru, yakni Airbus A380 Ultra.
Tentu pengumuman tersebut disambut positif oleh para pecinta aviasi, travelers, dan pebisnis lintas negara untuk menjajal pesawat out of the box tersebut. Betapa tidak, saat maskapai global seragam mengatakan pesawat besar dengan empat mesin tak lagi relevan, Airbus justru malah membuat pesawat yang lebih besar. Bukankah itu out of the box? Atau mungkin lebih tepatnya think without box?
Sesuai namanya, Airbus A380 Ultra nantinya akan semakin mengukuhkan posisi pendahulunya sebagai raksasa atau raja sejati di langit dengan menawarkan triple-deck atau tiga lantai. Luar biasa, bukan? Bila Boeing punya armada 747-400 sebagai Queen of the Skies, mungkin A380 Ultra bisa dikatakan King of the Skies. Ada queen (ratu), tentu tak lengkap jika tidak ada king (raja).
Airbus A380 Ultra diklaim mampu menampung hingga 1.060 penumpang. Kemudian, bila sebelumnya hanya mampu mengangkut maksimal 555 penumpang dalam tiga kelas, maka Airbus A380 Ultra mampu mengangkut 880 dalam sekali angkut.
Desain empat lorong Lockheed yang digadang mampu menampung 900 penumpang. Foto: Lockheed / NASA
Kendatipun memiliki tiga lantai, namun, tetap saja Airbus A380 Ultra hanya memiliki dua lorong. Tentu tak banyak pengalaman baru yang akan diperoleh penumpang. Namun, bisakah pesawat memiliki lebih dari uda lorong, tiga atau lebih? Jawaban dari itu mungkin tak mudah, namun bukan berarti mustahil. Sebab, teknologi terus berkembang dan memungkinkan apa yang sebelumnya mustahil.
Dilansir Simple Flying, Lockheed Martin diketahui telah membuat desain pesawat lebih dari dua lorong. Bukan tiga, produsen pesawat sipil dan militer asal Negeri Paman Sam ini bahkan membuat desain empat lorong. Sedang pesawat tiga lorong saja belum terwujud, Lockheed sudah menembus batas kewajaran dengan pesawat empat lorong.
Desain tersebut memungkinkan penumpang menikmati perjalanan dalam konfigurasi 3-4-3-4-3 atau 17 penumpang dalam satu baris, jauh lebih banyak dari Airbus A380 yang hanya menampung hingga 10 penumpang dengan konfigurasi 3-4-3. Bila desain ini berhasil terwujud, penumpang digadang-gadang bakal lebih nyaman dan proses keluar masuk penumpang, baik sebelum maupun sesudah penerbangan, akan lebih cepat.
Hanya saja, desain empat lorong yang diprediksi mampu mengangkut sekitar 900 penumpang dalam dua dek ini masih jauh dari kenyataan. Sebab, Lockheed masih harus membuktikan kepada FAA bahwa penumpang tetap bisa melarikan diri dengan cepat dalam keadaan darurat.
Sebelum desain empat lorong oleh Lockheed muncul, sebetulnya desain tiga lorong sudah lebih dahulu muncul melalui proyek pimpinan Valentin Klimov, kepala biro desain Tupolev. Proyek bernama Frigate Ecojet Rusia yang sudah dimulai sejak 1991 tersebut pertama kali dimulai lewat desain pesawat twinjet Tu-304. Pesawat itu diproyeksikan mampu mengangkut hingga 500 penumpang.
Bukan Kuala Lumpur-Singapura, gelar rute tersibuk di dunia pada tahun 2019 rupanya jatuh ke tangan Korea Selatan, tepatnya rute Seoul-Jeju yang notabene hanya berjarak satu jam 10 menit. Sepanjang tahun lalu, rute Seoul-Jeju dilalui sekitar 85 ribu penerbangan dari delapan maskapai berbeda.
Menurut analis Official Airline Guide (OAG), penerbangan antara Seoul (GMP) dan Jeju (CJU) melibatkan sekitar 17 juta kursi selama setahun. Lebih rinci lagi, itu berarti sekitar 48.000 kursi per hari dan sekitar 40 persen lebih banyak dari kapasitas rute tersibuk kedua di dunia, Sapporo-Tokyo.
Umumnya, perjalanan penumpang di rute-rute tersebut untuk tujuan wisata, bukan. Setiap tahunnya, ada sekitar 15 juta pengunjung tiba di Pulau Jeju. Seharusnya, bila penumpang tujuan wisata berhasil mendongkrak frekuensi penerbangan, rute-rute tersibuk di dunia justru melibatkan Perancis, Amerika Serikat, dan Spanyol, yang notabene selalu diserbu wisatawan mancanegara setiap tahun.
Dilansir Simple Flying, dalam kondisi normal (di luar pandemi Corona) penerbangan yang hanya berjarak 450 km ini memberangkatkan pesawat sekitar 10 menit sekali ke dan dari Jeju-Seoul. Dengan catatan tersebut, rute ini juga menjadi rute domestik yang paling kompetitif ke-10 dalam hal jumlah maskapai penerbangan yang beroperasi.
Sejauh ini, ada sekitar delapan maskapai penerbangan yang beroperasi di dua destinasi wisata favorit di Korea Selatan itu, seperti T’Way Air, Air Seoul, Jin Air, Jeju Air, Air Busan, dan Eastar Jet. Di luar enam maskapai kecil itu, Korean Air dan Asiana jadi dua maskapai besar yang juga mengambil keuntungan dari daya tarik rute tersebut. Ke delapan maskapai tersebut pada umumnya mengoperasikan beragam pesawat, seperti Airbus A330, Boeing 767, serta Boeing 777-200.
Di tengah pandemi Corona, rute Seoul-Jeju juga masih tergolong dalam kondisi baik. Tentu karena rute itu masuk dalam kategori rute domestik, sehingga memungkinkan orang-orang Korea Selatan menghabiskan waktu di destinasi wisata yang kerap disandingkan dengan Hawaii tersebut. Sejauh ini, masih ada sekitar 850 penerbangan per pekan, tergolong banyak dibanding rute domestik lainnya.
Akan tetapi, seiring membludaknya kunjungan wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, Pulau Jeju mulai menghadapi masalah klasik yang tak terkait dengan penerbangan; sampah. Pengunjung asal Cina, Malaysia, Thailand dan Jepang yang setiap tahun angkanya terus membengkak juga menyebabkan kemacetan lalu lintas dan membuat pantai tercemar.