Taksi Listrik dengan Tenaga Pedal, Bisa Angkut Dua Penumpang

Electric Assisted Vehicle (EAV) dari Inggris memiliki kendaraan quadcycle dengan tenaga listrik yang menarik digunakan di lingkungan perkotaan. Saat ini kendaraan tersebut masih digunakan untuk pengangkutan kargo.

Baca juga: Mulai Beroperasi Mei 2019, Inilah Tarif Taksi Listrik Blue Bird

Namun kini perusahaan tersebut mulai berkembang dan bukan menjadikan kendaraan itu sebagai pengangkut kargo tetapi menjadi taksi yang dibuat untuk mengangkut orang di sekitar kota yang padat. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (29/10/2020), EAV menggunakan platform penggerak listrik dengan bantuan pedal untuk berjalan tanpa emisi.

Sedangkan taksi yang dibuat EAV terbaru juga menggunakan pedal assist yang dibangun di atas sasis yang sama. Tetapi perbedaannya adalah untuk mengangkut penumpang hingga dua orang bukan kargo pada bagian belakangnya.

Taksi tersebut nantinya akan dilengkapi dengan suspensi penuh dan pintu samping. Sedangkan tempat duduk yang dilengkapi dengan busa akan dipasang dibagian dalam bersama dengan tampilan video untuk melacak informasi perjalanan penumpang.

Sedangkan bagasi akan berada di bawah jok dan dapat diakses oleh penumpang dari bagian belakang atau samping. Bagian dalam taksi ini juga dilengkapi pemanas atau pendingin udara untuk menjaga suhu internal ke tingkat yang nyaman.

Taksi EAV memiliki panjang 2,7 meter, tinggi 2 meter dan lebar 1 meter, sedangkan kecepatan yang dibantu pedal atas terdaftar sebagai 25 km per jam (15,5 mph). Ini sebagai kendaraan yang sangat cocok untuk perjalanan singkat di kota-kota seperti London, di mana dikatakan sekitar 200 ribu orang naik taksi individu diambil setiap hari, biasanya menempuh jarak kurang dari lima mil atau sekitar delapan kilometer dan 65 persen di antaranya hanya membawa satu penumpang.

Perusahaan yakin, Taksi EAV tidak hanya dapat mengurangi kemacetan, tetapi juga berdampak besar pada kualitas udara dan penggunaan energi, bahkan jika dibandingkan dengan mobil listrik dan truk yang jauh lebih besar dan lebih berat.

“Kami 90 persen lebih ringan daripada mobil hibrida atau listrik mana pun dan, jika kami mengganti satu Uber hibrida dengan Taksi EAV, kami akan menghemat sekitar 9,2 metrik ton emisi karbon dioksida dalam satu tahun saja. Penggunaan energi kami hanya sebagian kecil dari taksi listrik dan kami tidak memerlukan infrastruktur untuk mengisi daya baterai kami, cukup soket steker biasa,” kata Nigel Gordon-Stewart, Pimpinan Eksekutif di EAV.

Baca juga: Gunakan Taksi Listrik, Langkawi Akan Turunkan Tarif Perjalanan Penumpang, Kok Bisa?

Menurut EAV, prototipe Taksi pertama akan diproduksi pada November 2020, dengan rencana untuk memulai pengiriman pada musim semi (Belahan Bumi Utara) tahun 2021.

Deretan Maskapai Dunia yang Masih Operasikan Fokker 100, Ada Maskapai Papua

Pesawat Fokker-100 sempat mengalami masa kejayaan di era 1980-an. Namun pesawat itu kemudian hilang pamor dan tidak lagi dilirik, hingga akhirnya dihentikan produksinya pada 1990an. Pesawat yang pertama kali diproduksi pada 1986, untuk menggantikan Fokker F28 Fellowship yang ukurannya lebih kecil ini ditenagai oleh dua mesin jet Rolls-Royce RB.183 Tay.

Baca juga: Fokker F-VII – Pesawat Legendaris ‘Pelaku’ Penerbangan Perdana Reguler Amsterdam-Batavia di Tahun 1924

Menurut situs Badan Penerbangan Sipil Finlandia, Finavia, ongkos operasional Fokker-100 sangat rendah sehingga maskapai bisa mendapatkan untung bahkan jika hanya 30 persen kursi yang terisi. Itulah salah satu alasan mengapa pamor pesawat besutan Anthony Fokker ini sempat naik daun pada masanya.

Akan tetapi, sekalipun era Fokker-100 sudah sirna, hal itu tak lantas menjadikan pesawat berkapasitas 122 penumpang dalam satu kelas itu lenyap dari muka bumi. Di tengah hegemoni duopoli Airbus Boeing seperti sekarang ini, masih ada belasan maskapai di dunia yang masih mengoperasikan pesawat yang terakhir kali dilaporkan jatuh di Kazakhstan itu.

Dilansir Simple Flying, Alliance Airlines tercatat menjadi maskapai terbesar yang masih mengoperasikan twin jet dengan jarak tempuh sejauh 2.700 km ini. Maskapai charter yang berbasis di Brisbane, Queensland, Australia ini tercatat memiliki 27 pesawat Fokker 100 dengan rata-rata umur pesawat mencapai 30 tahun.

Terpaut 10 pesawat, QantasLink menjadi maskapai kedua terbesar dengan mengoperasikan sebanyak 17 armada Fokker 100. Maskapai regional Australia yang juga anak perusahaan Qantas ini mengandalkan Fokker 100 untuk menghubungkan kota-kota besar di Australia serta timur dan barat Negeri Kanguru. Maskapai yang berbasis Sydney, Australia itu bersaing ketat dengan Virgin Australia Regional yang juga mengoperasikan sebanyak 14 unit Fokker 100, dengan ceruk pasar yang hampir sama.

Menariknya, diposisi keempat terbanyak, terselip maskapai asal tanah Papua, dalam hal ini Papua Nugini, dengan mengoperasikan sebanyak 7 pesawat. Air Niugini amat mengandalkan pesawat tangguh yang hingga tahun 1990-an silam sudah diproduksi sebanyak 300 unit ini untuk rute-rute ekstrem regional mereka. Sama dengan maskapai nasional Papua Nugini itu, Iran Aseman Airlines juga mengoperasikan tujuh pesawat.

Keduanya masih sedikit lebih banyak dari beberapa maskapai lain di dunia, seperti Karun Airlines dan Qeshm Airlines masing-masing empat unit, Iran Air dan Carpatair (Romania) tiga unit, Air Panama, Avanti Air, Skippers Aviation, dan Kish Airlines dua unit, serta Crossline (Georgia), Montenegro Airlines (Montenegro), Salaam Air Express (Somalia), dan Trade Air (Kroasia) satu unit.

Baca juga: Fokker F-27 Friendship, Pesawat Transisi Garuda Indonesia Menuju Era Jet Domestik

Di Indonesia, bila berbicara soal Fokker 100, mungkin sedikit banyaknya akan teringat ke salah satu maskapai legendaris sekaligus kontroversial, Sempati Air.

Maskapai milik Tommy Soeharto, putra bungsu dari keluarga presiden ke-2 Indonesia Soeharto -yang kali itu tengah berkuasa- ini tercatat pernah mengoperasikan sebanyak tujuh Fokker 100. Sejak medio 80-an, Sempati Air amat menikmati masa-masa kejayaannya bersama pesawat tersebut, sampai krisis moneter datang dan mulai menghancurkan bisnis keluarga Cendana ini.

Mobil Terbang KleinVision dengan Desain Sayap Gawang Sukses Terbang Perdana

September lalu, mobil terbang pertama di Jepang, SkyDrive SD-03 sukses terbang perdana. Hanya saja, mobil terbang itu bisa dibilang lebih mirip drone taksi, bukan mobil sungguhan yang bisa melesat di jalanan dan terbang saat dibutuhkan. Begitu juga dengan mobil terbang besutan pabrikan lainnya. Namun, tidak demikian dengan yang satu ini.

Baca juga: Mobil Terbang SkyDrive SD-03, Uji First Flight dengan Pilot

Dilansir New Atlas, belum lama ini, mobil terbang AirCar besutan KleinVision sukses terbang perdana. Dalam sebuah teaser resmi perusahaan, nampak sebuah mobil bergaya sport berwarna putih dengan desain sayap gawang mirip pesawat Sukhoi Su-80 Multirole meluncur ke sebuah landasan pacu.

Namun, siapa sangka, sesaat setelah AirCar berhenti, mobil mulai berubah layaknya di film-film Hollywood semisal Transformer. Bedanya, jika mobil sport Transformer berubah menjadi robot, AirCar KleinVision berubah menjadi sebuah kendaraan layaknya pesawat perintis atau pesawat komuter.

Selain mendapat tambahan berupa sayap, perubahan mode juga menjadikan mobil terbang lebih panjang dari mode normal. Hal itu tentu saja untuk mendukung aerodinamika mobil terbang saat di udara ataupun saat ingin lepas landas dan mendarat. Proses perubahannya juga tak terlalu lama, sekitar kurang dari 3 menit.

Masih dalam teaser yang sudah ditonton nyaris 2 juta orang sejak diunggah pertama kali pada 27 Oktober 2020 lalu, mobil terbang rancangan Stefan Klein, orang yang juga merancang mobil terbang Aeromobil saat dipamerkan ke gelara Top Marques Monaco pada 2017 lalu itu, kemudian perlahan meluncur dan terbang mulus seiring perputaran baling-baling tunggal yang berada di tengah kendaraan, persis di depan sayap gawang. Layaknya pesawat sungguhan, kemudi mobil terbang AirCar juga menggunakan yoke, hal itu terlihat dari tarikan kemudi oleh pilot sebelum terbang.

Saat di udara, mobil terbang berkapasitas dua orang ini diklaim aman. Sebab, bodi komposit yang membalut mobil terbang dinilai mampu menahan tekanan saat ia melaju dalam kecepatan tinggi, baik di darat maupun udara.

Meskipun AirCar dengan dua seat sudah lebih dari cukup untuk membuat publik menunggu, KleinVision menyebut bahwa pihaknya akan membuat AirCar dalam beberapa versi, seperti twin prop atau dua baling-baling dengan tiga atau empat penumpang, serta versi amfibi layaknya flying boat.

Setelah sukses terbang perdana, mobil terbang AirCar KleinVision nantinya akan mendapat sentuhan akhir untuk penyempurnaan. Setelah itu, AirCar harus melalui proses sertifikasi sebelum bisa digunakan secara luas, baik sebagai kendaraan pribadi maupun taksi terbang.

Baca juga: Inilah “Link and Fly,” Kereta Terbang Besutan Perancis! Penumpang Bakal Dijemput Kabin Berjalan

Pada proses tersebut, AirCar dinilai akan mengalami kesulitan. Bukan karena teknologinya melainkan karena berbagai faktor di luar itu, seperti persoalan meluncur (lepas landas) di tengah kota atau jalan tol, kemungkinan sayap penyok karena berbagai benturan saat parkir, serta berbagai kemungkinan lainnya.

Dengan begitu, keinginan untuk melihat mobil terbang menguasai jalan-jalan kota di seluruh dunia mungkin masih harus menunggu hingga beberapa tahun mendatang.

Gunakan Teknologi 5G, Kereta Otonom di Korea Selatan dalam Fase Uji Coba

Kereta otonom berbasis 5G saat ini tengah uji sistem kontrol di jalur uji komperhensif kereta api Osong. Uji coba ini dilakukan oleh The Korea Railroad Research Institute (KRRI). Pengujian dimulai pada April dan sistem memperpendek jarak aman antara kereta dengan memungkinkan komunikasi langsung antar kendaraan.

Baca juga: DoCoMo dan JR Central Uji Coba Jaringan 5G di Kereta Shinkansen Model N700S

KabarPenumpang.com melansir dari laman railjournal.com (12/10/2020), teknologi ini akan memperhitungkan posisi kereta sebelumnya di jalur dan variabel seperti posisi kereta. Bahkan teknologi baru tersebut juga akan memperhitungkan kecepatan serta jarak pengereman untuk memungkinkan penyesuaian otomatis margin keamanan.

KRRI menggunakan sistem ini karena akan beroperasi sesuai dengan model kontrol terdistribusi yang mana setiap kereta yang melintas akan dikontrol secara otomatis melalui komunikasi langsung antar kereta dan pelaporan posisi. Bila menggunakan sistem kontrol yang ada saat ini, pengambilan keputusan akan dilakukan melalui pusat kendali dan hanya kereta itu saja.

Sedangkan KRRI mengatakan, dengan sistem 5G akan menghasilkan pengurangan yang signifikan dalam jumlah peralatan persinyalan di sisi jalan yang diperlukan dan meningkatkan kapasitas di jalur hingga 30 persen. Selain itu, menurut institut, teknologi itu dapat mengurangi dampak kesalahan manusia, mengurangi investasi fasilitas biaya dan meningkatkan pekerjaan pemeliharaan.

Teknologi 5G yang berpotensi digunakan di masa depan bisa untuk mengontrol sakelar di persimpangan. KRRI mengatakan bahwa penggunaan komunikasi 5G akan mengurangi penundaan transmisi antar kereta, sekaligus meningkatkan kapasitas dan keandalan transmisi data hingga 20 kali lipat dibandingkan dengan GSM-R.

Pengujian dua kendaraan yang dilengkapi sistem tersebut mengikuti selesainya pembangunan jalur uji pada Maret 2019. Proyek tersebut dilakukan melalui perjanjian kemitraan publik-swasta (PPP) dengan SK Telecom, yang ditandatangani pada Januari tahun ini.

“Teknologi ini dapat mengurangi kemacetan selama jam perjalanan dan memungkinkan kereta untuk beroperasi lebih efisien. Di masa depan, kereta api akan dapat memanfaatkan inovasi cerdas untuk transportasi yang nyaman, melalui konvergensi inisiatif hijau dan digital,” kata Na Hee-seung, presiden KRRI.

“Kami akan melakukan pengujian tambahan seperti teknologi pengubahan rute untuk kereta, dan menerapkan teknologi pemisahan dan penggabungan kereta, serta kontrol lanjutan dari jarak kereta dan sistem komunikasi dan kontrol kereta-ke-trek,” kata ketua tim KRRI, Mr Jeong Rak -gyo.

Baca juga: Teknologi 5G, Apakah Aman untuk Perkeretaapian Dunia?

Tes tersebut merupakan bagian dari program pengembangan kereta otonom senilai 22,1 miliar won ($US28,76 juta) yang didukung oleh Dewan Riset Sains dan Teknologi Nasional Korea dari Kementerian Sains & TIK. Proyek ini akan berjalan selama sembilan tahun antara 2016 dan 2024.

Tecnam dan Rolls-Royce Bakal Bikin Pesawat Listrik Komuter

Produsen pesawat asal Italia, Tecnam, mengumumkan bakal menggandeng Rolls-Royce untuk mengembangkan pesawat listrik komuter. Nantinya, pesawat dengan motor ganda serba listrik “P-Volt” karya keduanya itu, akan menjadi pilihan baru penumpang untuk rute-rute komuter jarak pendek dan menengah (termasuk untuk kargo), evakuasi medis, dan berbagai misi khusus.

Baca juga: Prototipe Kedua Pesawat Listrik-Hybrid Terbesar di Dunia Ampaire Electric EEL Sukses Mengudara

“TECNAM dengan bangga mengumumkan desain dan pengembangan P-Volt,” kata CEO Tecnam, Paolo Pascale Langer, seperti dikutip dari avweb.com.

“Kita semua perlu melakukan upaya kita terhadap sistem yang berkontribusi pada dekarbonisasi. Dengan menggabungkan efisiensi dan energi terbarukan ke dalam sistem propulsi futuristik, kami tidak hanya akan mengurangi biaya, tetapi juga memberikan masa depan yang lebih hijau seiring semangat terbang kami,” tambahnya.

Selain menggandeng Rolls-Royce, pengembangan P-Volt juga melibatkan perusahaan dengan reputasi tinggi lainnya di dunia penerbangan. Namun, perusahaan-perusahaan tersebut masih dirahasiakan. Pun demikian target penerbangan perdana pesawat tersebut. Yang jelas, perusahaan itu datang dari Amerika Utara dan Eropa. Lebih spesifik lagi, salah satu perusahaan yang dimaksud adalah maskapai penerbangan.

Tecnam memang sangat bersemangat sekali untuk membuat pesawat listrik. Sebelumnya, masih dalam kemitraan Inggris-Italia bersama Rolls-Royce, Tecnam juga mengembangkan versi hybrid-elektrik dari Tecnam P2010, pesawat mungil berkapasitas empat kursi, dalam balutan projek High Power High Scalability Aircraft Hybrid Powertrain (H3PS).

Dewasa ini perusahaan teknologi dunia memang tengah berlomba-lomba memproduksi pesawat listrik. Bahkan, di beberapa negara inovasi teknologi terkait pengembangan pesawat listrik juga didukung dengan penerapan kebijakan mendorong penggunaan energi hijau (ramah lingkungan) pada pesawat.

Ambil contoh Norwegia. Negara yang terletak di Semenanjung Skandinavia bagian ujung barat yang berbatasan dengan Swedia, Finlandia, dan Rusia tersebut sudah mulai melakukan kajian-kajian untuk mewujudkan pesawat listrik menguasai udara di masa mendatang. Salah satunya melalui Norway Research Association.

Baca juga: Keren, Tesla Akan Buat Pesawat Supersonik Pengganti Concorde Bertenaga Listrik

Norway Research Association ditugaskan oleh pemerintah Norwegia, bekerjasama dengan beberapa negara lain, untuk mempelajari teknologi baterai yang pas dan mencari tahu persepsi publik terkait pesawat listrik, dengan nilai investasi US$1,65 juta atau Rp25,3 miliar (kurs 15,370). Meskipun belum menemukan hasil yang memuaskan, namun pemerintah sudah berikrar akan membuat seluruh penerbangan jarak pendek komuter dalam negeri Norwegia wajib menggunakan pesawat listrik pada 2040.

Sejalan dengan pemerintah, penduduk Norwegia yang berjumlah sekitar 5,4 juta orang juga sudah menyadari betapa pentingnya penggunaan energi terbarukan di dunia penerbangan. Tak hanya itu, mereka juga mulai mengkampanyekan “flight shaming”, guna membuat orang-orang di sekeliling mereka yang masih bepergian menggunakan pesawat agar merasa malu karena telah menyumbang percepatan pemanasan global dan mendorongnya untuk beralih ke moda transportasi lain, terutama kereta.

Gegara Video Ciuman dengan Rekan Kerja Tersebar Luas, Awak Kabin Gay Menggugat China Southern Airlines

Seorang awak kabin gay ditangguhkan tugasnya oleh China Southern Airlines. Ini lantaran rekaman awak kabin tersebut yang berciuman dengan seorang rekan pria bocor di dunia maya. Hal tersebut membuat awak kabin tersebut menggugat maskapai milik Negeri Tirai Bambu itu.

Baca juga: West Coast Avanti, Kereta Spesial di Inggris dengan Awak LGBT

Dilansir KabarPenumpang.com dari dailymail.co.uk (2/11/2020), awak kabin pria bernama Chai tersebut ditangguhkan tugasnya selama enam bulan dan China Souther Airlines memotong gajinya. Pengacara Chai, Zhong Xialu mengatakan, bahwa kliennya digaji hanya sepuluh persen dari total gaji yang biasa di dapatkan selama penangguhan.

Bahkan bukan hanya itu, China Southern Airlines pun menolak untuk memperbarui kontraknya yang merupakan kontrak lima tahun dan yang harusnya diperpanjang pada April kemarin. Chai yang sudah bekerja di maskapai tersebut sejak 2015 mengaku sedih kehilang pekerjaan yang dicintainnya.

“Saya tidak ingin ada orang lain seperti saya yang akan diperlakukan seperti ini. Saya pikir saya benar-benar mewakili pekerja yang sangat, sangat umum, tapi hanya orang yang kebetulan minoritas seksual. Kita tidak boleh didiskriminasi, kita tidak boleh ditindas dan menerima perlakuan tidak adil ini, itulah mengapa saya memprotes,” katanya.

Chai mengaku bahwa dirinya juga mengerti apa artinya melawan perusahaan sebesar itu untuk memperjuangkan haknya. Sebab dirinya pun tidak akan bisa melakukan pekerjaan yang dicintainya tersebut. Diketahui, video tersebut menjadi viral setelah caption yang menyertainya mengklaim bahwa awak kabin itu melecehkan seorang rekan pria yang disebutkan sebai pilot yang tengah di bawah pengaruh alkohol.

Itu dilaporkan diterbitkan ke WeChat, aplikasi perpesanan populer di Cina, oleh kolega tanpa izin Chai. Chai menuduh rekan kerja tersebut menyebabkan kerusakan pada reputasinya dan mengajukan gugatan terhadapnya awal tahun ini. Pengadilan regional memutuskan kasus tersebut pada bulan Juni untuk mendukung Chai.

Pengadilan tersebut memerintahkan terdakwa, yang oleh pengadilan disebut sebagai Yu, untuk berhenti melanggar hak Chai, meminta maaf kepada Chai dan memulihkan reputasi Chai. Individu LGBT di Cina masih menghadapi diskriminasi yang meluas dan banyak yang tidak mengungkapkan orientasi seksual mereka di tempat kerja karena khawatir hal itu dapat memengaruhi karier mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, beberapa individu, dengan bantuan dari para aktivis, telah berhasil melobi kasus mereka di pengadilan. Banyak yang melakukannya melalui kasus-kasus yang dibawa di bawah undang-undang konsumen atau ketenagakerjaan, karena Cina tidak memiliki undang-undang khusus yang melarang diskriminasi berdasarkan pada seseorang. gender atau identitas seksual.

Chai sebelumnya membawa kasus ini ke arbitrase sebagai sengketa perburuhan, tetapi pengadilan arbitrase memenangkan maskapai tersebut pada bulan Agustus. Dia kemudian memutuskan untuk membawa perselisihannya ke pengadilan. Pada hari Senin, dia muncul di pengadilan Shenzhen untuk membantah bahwa perusahaan tersebut telah melanggar undang-undang ketenagakerjaan dengan menangguhkannya tanpa bukti yang masuk akal.

“Perusahaan sebesar ini dan sikap mereka terhadap minoritas seksual benar-benar mewakili seperti apa lingkungan tempat kerja bagi minoritas seksual di China,” kata Zhong.

Ini adalah kasus kedua dalam beberapa tahun terakhir di mana para aktivis melancarkan diskriminasi di tempat kerja bagi individu LGBT di China. Pada September 2018, seorang guru prasekolah di kota pesisir Qingdao menggugat mantan majikannya setelah dia dipaksa meninggalkan pekerjaannya ketika dia tersingkir di media sosial. Dia memenangkan kasus tersebut, tetapi hanya sebagai perselisihan perburuhan.

Baca juga: Komunitas LGBTI: Pelatihan Petugas Bandara Akan Mengembalikan Hak Transgender

“China tidak memiliki undang-undang anti diskriminasi dan tidak memiliki undang-undang anti diskriminasi di tempat kerja. Jadi ketika banyak orang bertemu dengan diskriminasi di di tempat kerja, mereka pada dasarnya tidak memiliki hukum untuk diandalkan,” kata Peng Yanzi, direktur LGBT Rights Advocacy China, sebuah kelompok aktivis.

Anak-anak Ternyata Punya Arti Penting di Film “Train to Busan”

Dalam sekuel pertama yakni Train to Busan dan sekuel keduanya Peninsula, anak-anak justru memiliki arti penting dalam kedua film ini. Mungkin banyak yang bertanya kenapa anak-anak yang selamat dibandingkan orang dewasa dalam film bercerita mengenai zombie di Korea Selatan?

Baca juga: Saat Kereta Ikut Kondang Sebagai Latar Film Box Office

Sebab anak-anak menjadi pelajaran berharga dimana mereka adalah masa depan umat manusia sehingga ini sangat penting. Sutradara Yeon Sang-ho mengubah film zombie modern dengan menghadirkan cerita pertamanya yakni Train to Busan, yang mana dalam suasana sesak kereta komuter dengan penumpang berbagai usia, status dan berbagai latar pekerjaan.

Bahkan mereka juga memiliki latar belakang keluarga yang berbeda, namun dipaksa untuk bersatu setelah wabah virus menyebabkan penumpang terinfeksi masuk ke dalam kereta. Hingga akhirnya hanya ada dua orang yang selamat yakni seorang ibu hamil dan anak perempuan yang akhirnya menemukan kamp tentara.

Sedangkan pada Peninsula menceritakan empat tahun setelah Train to Busan dan tidak ada pemain dari sekuel pertama ini yang berlanjut ke sekuel kedua. Dalam Peninsula lebih menggambarkan akhir yang memberikan harapan di mana lebih banyak yang selamat.

KabarPenumpang.com melansir dari laman screenrant.com (2/11/2020), ada empat orang yang selamat dua anak dan dua orang dewasa yang dijemput oleh helikopter PNN ke lokasi yang tidak dijelaskan dalam film. Dalam film ini cukup menegangkan di mana orang tua lebih mementingkan keselamatan anak dibandingkan dirinya sendiri.

Yang selamat dari Peninsula adalah Jung-seok (Gang Dong-won), Min-jung (Lee) Jung-hyun), Joon-i (Lee Re), dan Yu-jin (Lee Ye-won). Sedangkan ibu dan putrinya mengalami kehilangan yang sangat dalam dari kakek tercinta mereka sebelum mereka berhasil selamat, baik Min-jung maupun Jung-seok membuktikan bahwa mereka akan mengambil risiko apa pun dan membayar harga tertinggi untuk melihat kedua gadis itu meninggalkan pulau dengan selamat. Tidak hanya itu yang diinginkan kakek, dan dengan senang hati mempertaruhkan nyawanya sendiri, tetapi itu mirip dengan bagaimana Seok- woo (Gong Yoo) mempertaruhkan nyawanya untuk putrinya, Su-an, dan bahkan meninggalkannya di tangan orang asing hanya untuk memberinya kesempatan hidup lebih lama.

Hal ini karena anak-anak, yang sering dianggap sakral dalam film horor, menyajikan pandangan di masa depan tanpa mereka, kemungkinan besar tidak ada. Film zombie telah beredar di bioskop selama beberapa waktu, dan telah jauh dari Night of the Living Dead karya George A. Romero dalam hal konten tematik.

Meski begitu, Train to Busan dan Peninsula tahu cara bermain Acara seperti AMC’s The Walking Dead telah membuktikan bahwa ancaman zombie dan pengaturan kehancuran dibuat jauh lebih sukses dengan pengenalan karakter yang benar-benar diperhatikan orang. Dan tentang. Tanpa investasi emosional itu, hanya ada sedikit alasan untuk terus menonton situasi yang sebagian besa fiksi lengkap.

Anak-anak secara inheren dapat memunculkan kerentanan penonton, ada alasan mengapa banyak film horor tidak berani membunuh off anak-anak. Yang seperti penggambaran kematian tragis Gabe di Pet Sematary, langsung ditandai dengan tingkat keparahan ekstra untuk dimasukkannya konten tersebut.

Singkatnya, menempatkan anak-anak dalam bahaya adalah salah satu cara untuk menarik perhatian audiens, seperti halnya taruhan dapat ditingkatkan dengan menempatkan anjing dalam bahaya. Film horor di mana anjing tidak mati sering kali disukai oleh beberapa penonton, tetapi mereka yang mendengarkan cenderung mengharapkan hasil terbaik, dan akan lebih memperhatikan karena investasi emosional itu.

Namun, dengan hadirnya film Train to ke Busan dan {eninsula tidak hanya membahayakan anak-anak, mereka memberi mereka kekuatan dan pahala sendiri. Su-an banyak akal, berani, pintar, dan dapat diandalkan untuk berpikir cepat. Joon-i dan Yu-jin telah mengembangkan sistem dengan mobil yang dikendalikan dari jarak jauh yang mengeluarkan suara keras dan menyalakan lampu terang untuk memikat dan mengendalikan kerumunan zombie.

Baca juga: “Peninsula,” Jadi Sekuel Kedua Train to Busan, Tayang Musim Panas 2020

Joon-i juga telah belajar keterampilan mengemudi defensif dan ofensif yang sangat baik yang menyelamatkan hidup mereka lebih dari satu kesempatan. Kemampuan inilah yang membuat mereka lebih dari sekadar titik lemah bagi pemirsa. Anak-anak mengulangi bagaimana mereka mewakili harapan dan masa depan umat manusia. Sebab tanpa mereka, budaya, warisan, dan seluruh umat manusia tidak akan ada lagi. Pelajaran tentang kemampuan manusia untuk membangun kembali tidak peduli keadaan dunia adalah inti dari penggambaran kiamat zombie modern, dan film Train to Busan dijalankan itu sempurna.

Bukan Zeppelin, Kapal Udara Pertama di Dunia Adalah Star System Airship

Pada hari ini 123 tahun yang lalu, bertepatan dengan Rabu, 3 November 1897, kapal udara Star System berhasil terbang perdana. Kapal udara rancangan insinyur Austro-Hongaria David Schwarz keturunan Yahudi, dibuat oleh Carl Berg, dan diterbangkan oleh Ernst Jägels ini diklaim merupakan kapal udara pertama di dunia. Hal itu tentu bertolak belakang dengan informasi yang sudah masyhur di dunia, dimana kapal udara pertama di dunia adalah Zeppelin besutan Count Ferdinand von Zeppelin.

Baca juga: Hari Ini, 91 Tahun Lalu, Kapal Udara R101 Buatan Inggris Pesaing Zeppelin Terbang Perdana

Dilansir jta.org, fakta Star System Airship adalah kapal udara pertama di dunia bisa dibuktikan dengan penerbangan perdana kapal udara Zeppelin. Britannica menyebut, Zeppelin LZ 1, sebagai kapal udara pertama Zeppelin dari 131 yang diproduksi sepanjang sejarah perusahaan berdiri, pertama kali terbang pada 2 Juli 1900, sekitar 2 tahun setelah Star System Airship karya David Schwarz terbang perdana.

Perdebatan terkait kapal udara pertama di dunia yang berhasil terbang perdana nampaknya memang tak terlalu menyita ketegangan alias perdebatan alot. Sebab, catatan sejarah begitu terang benderang. Namun, lain cerita dengan perdebatan terkait hubungan antara kapal udara Star System dengan kapal udara Zeppelin.

Selama ini, kita tahu bahwa kapal udara Zeppelin dirancang oleh ‘pangeran’ Jerman, Ferdinand Adolf Heinrich August Graf von Zeppelin. Tetapi, disebutkan, “Si Tua dari Bodensee” (der Alte vom Bodensee), sapaan akrab Graf von Zeppelin, membeli paten, termasuk bangkai kapal udara Star System, melalui istri mendiang David Schwarz, Melanie.

Schwarz diketahui meninggal akibat serangan jantung lantaran kaget, senang, bercampur haru bukan kepalang setelah mendengar perkembangan pesat kapal udara rancangannya, bersama kerajaan Prusia (kerjaan terbesar di Jerman). Ia akhirnya harus meregang nyawa di Zagreb, Kroasia, pada 13 Januari 1897 saat menginjak usia 44 tahun, atau sekitar 10 bulan sebelum kapal udara Star System melahap first flight-nya.

Penerbangan perdana kapal udara Star System tak berjalan mulus. Kapal udara itu kehilangan kendali dan jatuh. Foto: Ritstaalman

Namun, Schwarz mungkin tak akan kuat juga jika pun masih hidup dan menyaksikan penerbangan perdana kapal udara rancangannya. Sebab, momen tersebut tak berjalan lancar. Diketahui, penerbangan perdana kapal udara pada tahun 1894 ini bisa dibilang gagal. Usai terbang dan mencapai ketinggian, kapal udara yang kerangkanya dibuat dari alumunium tersebut sulit dikendalikan oleh Ernst Jägels.

Keadaan memburuk ketika angin kencang datang menghantam. Hal itu diperparah dengan minimnya pengetahuan pilot uji terhadap kapal udara. Alih-alih berusaha mengendalikan kapal udara, ia justru membuang terlalu banyak gas sehingga kapal udara jatuh dengan cepat dan menghantam daratan. Meski demikian, kerangka kapal udara Star System tak terlalu hancur dan masih bisa diselamatkan.

Kerangka atau bangkai kapal udara itulah yang kemudian dibeli beserta paten atau rancangannya, dan dibangun ulang oleh Graf von Zeppelin. Dilihat dari desain secara kasat mata, antara David Schwarz Airship dengan Zeppelin LZ-1 memang memiliki kemiripan. Hanya saja, kapal udara David Schwarz lebih gemuk, berisi, dan pendek, sedangkan Zeppelin LZ-1 dibuat lebih ramping namun lebih panjang.

Baca juga: Hari Ini, 89 Tahun Lalu, Kapal Induk Terbang Pertama di Dunia USS Akron ZRS-4 Mulai Beroperasi

Pembelian paten karya David Schwarz yang terdaftar di Austria selama 30 tahun oleh Zeppelin sebetulnya tak lepas dari penolakan pemerintah Jerman. Dalam sebuah dokumen keluaran 1924, disebutkan pemerintah Jerman menolak pengajuan paten atas kapal udara Zeppelin. Tak disebutkan dengan jelas alasan penolakannya. Namun, diduga penolakan itu lantaran kapal udara Zeppelin adalah saduran dari Star System Airship.

Walau bagaimanapun, kapal udara Star System, dengan panjang 47,55 m, diameter 13,49 m, ditenagai mesin Daimler 16 tenaga kuda yang menggerakkan empat baling-baling besar ini tetap dipercaya sebagian kalangan sebagai kapal udara pertama, sekaligus gen dari kapal udara Zeppelin.

Uber Elevate Gandeng GE Aviation Guna Wujudkan Taksi Udara eVTOL Ridesharing 2023

Uber Elevate punya gagasan besar di 2023 dengan memulai layanan ridesharing taksi udara Uber Air electric vertical takeoff and landing (eVTOL) di tiga kota, Los Angeles, Dallas, dan Melbourne. Percaya hal itu takkan mudah, Uber pun menggandeng GE Aviation, perusaahan besar dengan reputasi mentereng di jagat inovasi tekonologi penerbangan, untuk menjamin keamanan program tersebut.

Baca juga: Uber dan Hyundai Siap Luncurkan Layanan Taksi Udara di 2023

Dilansir Simple Flying, di masa mendatang, Uber ingin mengubah cara orang bepergian dari pinggiran atau pusat kota dalam skala besar. Perusahaan yang berdiri pada Maret 2009 ini ingin nantinya semua orang berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya dalam jarak yang tak terlalu jauh melalui udara sehingga membuat lalu lintas padat.

Selama ini, hal itu dimungkinkan dengan helikopter. Namun, Uber Air tak seperti helikopter yang bising, cukup besar, dan menggunakan energi tak ramah lingkunagn. Taksi udara Uber Air nantinya akan ditenagai oleh listrik, sehingga lebih senyap, mulus, hemat energi, lebih berkelanjutan, dan lebih aman. Jadi, bisa dibilang, Uber Air diproyeksikan untuk menggantikan helikopter untuk penerbangan jarak pendek dalam kota dengan segala kecanggihan dan keunggulannya.

Selain itu, kemitraan dengan GE Aviation juga akan fokus dalam memonitoring eVTOL Uber Air di tengah traffic. Caranya, perusahaan akan membuat program Flight Data Monitoring (FDM). Melalui program tersebut, seluruh penerbangan akan terekam secara rutin dan ditampung secara real time di sebuah big data.

Operator, setiap waktu, akan mengidentifikasi dan mencegah terjadinya bahaya. Selama dua dekade, program ini dinilai berhasil diterapkan pada kapal induk dan penerbangan komersial di seluruh dunia.

“Dari CEO kami, Andrew Coleman, hingga manajer produk kami, ilmuwan data kami, teknisi kami, ini adalah sesuatu yang sama sekali baru, dan karenanya menciptakan perasaan baru di internal kami,” kata Bob Whetsell, direktur program keselamatan GE Aviation Digital Solutions.

“Kami seperti anak kecil di toko permen, bermain dengan sesuatu yang baru jika Anda mau dan menjadi yang terdepan dalam mengembangkan teknologi baru dan, yang terpenting, mempromosikan keamanan di pasar ini. Karena ini adalah pasar baru, ini adalah platform baru, publik yang terbang harus diyakinkan bahwa menggunakan dan terbang dengan salah satu kendaraan ini sama amannya dengan di Cessna 172 kakek Anda atau bergeser ke helikopter, mengambil tur jalan-jalan di Las Vegas,” tambahnya.

Baca juga: Terlalu Sesumbar, Peluncuran Taksi Udara eVTOL Skai Bertenaga Hidrogen Akhirnya Molor

Di antara tugas-tugas yang diemban GE Aviation, memonitoring baterai jadi salah satu yang terpenting. Sebab, Uber Elevate nantinya digadang akan sangat sibuk, mengantar satu penumpang ke penumpang lainnya tanpa henti. Dengan begitu, dimungkinkan Uber Air akan kehabisan baterai saat dalam penerbangan. Bila itu terjadi, tentu sangat berbahaya.

Karenanya, GE Aviation diplot untuk membuat perangkat lunak agar sistem mengatur hanya taksi udara dengan baterai yang cukup sajalah yang akan melayani penumpang, di samping tetap memantau kapasitas baterai secara real time melalui bantuan operator.

Bercumbu dengan Reporter Cantik di Kokpit Saat Pesawat Mengudara, Pilot Ini Diskors

Seorang pilot Iraqi Airways diskors oleh otoritas penerbangan sipil Irak (ICAA). Hal itu terjadi lantaran sang pilot mengizinkan seorang wanita cantik yang berprofesi sebagai reporter sebuah media di Irak, Welyan Al-Baiaty. Tak tanggung-tanggung, Al-Baiaty diizinkan masuk dan mewawancarai sang pilot di kokpit saat penerbangan berlangsung, sesuatu yang sangat jelas melanggar peraturan.

Baca juga: Berlisensi Palsu dan Terbangkan Pesawat Berbadan Lebar, Pilot ini Dipidanakan

Dilansir middleeastmonitor.com, dalam rekaman video yang viral di media sosial, captain Rafii tampak menikmati betul momen ia bercumbu dengan Al-Baiaty. Jarak antar keduanya juga cukup dekat sehingga nampak begitu intim.

Dalam wawancara tersebut, Rafii bercerita tentang bagaimana mudahnya menerbangankan pesawat. Potongan video yang diyakini diambil pada September 2020 lalu itu kemudian menunjukkan pesawat mendarat dengan mulus di malam hari, yang mengindikasikan bahwa reporter tersebut tetap bertahan di kokpit bahkan sampai pesawat landing.

Dalam sebuah pernyataan, Otoritas Penerbangan Sipil Irak mengatakan, “Departemen Keamanan Udara di bawah Otoritas Penerbangan Sipil Irak menangguhkan salah satu pilot yang bekerja di salah satu maskapai penerbangan nasional Irak, setelah mengizinkan seorang pekerja media wanita memasuki kokpit saat dalam penerbangan.”

“Itu merupakan pelanggaran undang-undang penerbangan sipil untuk mencegah kasus yang membahayakan nyawa para penumpang,” bunyi pernyataan lain.

Hanya saja, tak dijelaskan dengan detail status dari pilot tersebut. Entah ditangguhkan untuk sementara waktu, lisensinya dicabut namun masih diperbolehkan mengikuti lisensi ulang, atau ditangguhkan seumur hidup alias tak lagi bisa terbang sampai akhir hayat.

Kejadian itu pun menambah daftar catatan kelam pilot-pilot Iraqi Airways. Sebelumnya, pada 2018 lalu, maskapai tersebut sempat dilarang masuk Uni Eropa karena pelanggaran fatal. Kala itu, keamanan penerbangan maskapai dipertanyakan usai pilot dan co-pilot terlibat baku hantam saat tengah dalam penerbangan yang mengangkut 160 penumpang bersama Boeing 737.

Sebagai informasi, saat dalam penerbangan, kokpit wajib dalam keadaan terkunci. Selain itu, siapapun tak diizinkan masuk bahkan pramugari sekalipun, apalagi sipil yang tak ada hubungannya dengan penerbangan. Pramugari baru diizinkan masuk apabila pilot atau co-pilot memintanya untuk standby di kokpit ketika ingin ke toilet.

Setelah itu, pintu kembali dikunci rapat-rapat tanpa ada siapapun yang boleh masuk. Jangankan masuk, antara pilot dan co-pilot juga dilarang berbincang satu sama lain di bawah aturan sterile cockpit rule.

Sterile cockpit rule merupakan aturan yang wajib ditaati pilot –termasuk oleh awak kabin- selama dalam penerbangan, mulai lepas landas sampai mendarat. Di bawah aturan tersebut, pilot memang tak bisa berbuat banyak kecuali fokus pada hal-hal berkenaan dengan operasional penerbangan.

Baca juga: Kenapa Pintu Kokpit Harus dalam Keadaan Terkunci dan Anti Peluru? Berikut Ulasannya

Pilot dan kopilot baru diizinkan melakukan hal-hal di luar operasional penerbangan, seperti menggunakan telepon seluler, memfoto panorama sekitar, main laptop, melihat pemandangan di daratan, ngobrol , dan kegiatan lainnya ketika pesawat berada di atas ketinggian 10 ribu kaki. Di bawah itu, mereka sama sekali tak bisa berbuat banyak.

Namun perlu diingat, sekalipun pesawat sudah berada pada ketinggian di atas 10 ribu kaki, aturan makan dan minum di kokpit pada umumnya tetap tidak diperbolehkan seiring terjadinya masalah. Di akhir tahun lalu dan awal tahun ini, misalnya, insiden tumpahan kopi atau minuman lainnya telah menyebabkan kerusakan panel center pedestal dan pada akhirnya mempengaruhi kinerja pesawat.