Keren, Tesla Akan Buat Pesawat Supersonik Pengganti Concorde Bertenaga Listrik

Tesla dikabarkan bakal segera membuat pesawat supersonik pengganti Concorde. Bukan hanya itu, pesawat supersonik buatan Tesla digadang-gadang bakal ditenagai listrik. Tentu, kabar yang cukup mengejutkan mengingat teknologi baterai untuk mendukung hal itu belum tersedia.

Baca juga: Prototipe Kedua Pesawat Listrik-Hybrid Terbesar di Dunia Ampaire Electric EEL Sukses Mengudara

Dilansir inverse.com, kejelasan Tesla akan membuat pesawat supersonik pengganti Concorde memang bukan datang dari rilis resmi perusahaan, melainkan dari CEO Tesla, Elon Musk, sebagai respon atas cuitan akun Twitter yang mengenang hari-hari terakhir Concorde.

Pada 24 Oktober 2003 silam, pesawat supersonik Concorde resmi pensiun dari jagat penerbangan dunia setelah pertama kali dipamerkan ke publik pada 21 Januari 1976. Memperingati hal itu, akun Twitter World of Engineering pun mengunggah kembali foto Concorde. Namun, siapa sangka, cuitan tersebut ditanggapi positif oleh Elon Musk dengan menyebut, “Harus ada jet supersonik baru (pengganti Concorde), kali ini (bertenaga) listrik).

Dirunut ke belakang, Elon Musk memang sudah sejak lama mengisyaratkan bakal mengembangkan pesawat listrik. Di beberapa momen di tahun 2008 dan 2010, ia kerap melontarkan isyarat tersebut, sekalipun memang belum pernah terus terang.

Setelah menunggu lama, kejelasan dari isyarat Elon Musk baru muncul pada Agustus 2020 lalu. Pada peringatan Tesla’s Battery Day, ia mengatakan bahwa kemungkinan besar baterai untuk pesawat akan hadir tiga atau empat tahun mendatang.

“400 Wh / kg dengan siklus hidup tinggi, volume yang diproduksi (bukan hanya pengujian di lab) tidak jauh. Mungkin 3 sampai 4 tahun,” tulis Elon Musk di Twitter.

Cuitan Elon Musk. Foto: Twitter

Perkataan tersebut tentu bukan angin lalu. Pada 2018 lalu, Elon Musk juga pernah mengungkap bahwa tantangan terbesar untuk mewujudkan pesawat listrik (tak menyebut supersonik) terletak pada baterai. Baterai pesawat listrik harus mempunyai kepadatan energi yang cukup untuk memungkinkan pesawat lepas landas. Bila ia berani mencuitkan hal di atas, itu berarti perlahan tantangan membuat baterai untuk pesawat listrik mulai membuahkan hasil.

Saat ini, Tesla Model 3 diketahui memiliki baterai sekitar 250 watt-jam per kilogram, masih tertinggal jauh di bawah perkiraan Elon Musk yang menyebut butuh sekitar 400 atau 500 watt-jam per kilogram untuk membuat kendaraan terbang lepas landas dan mendarat secara vertikal (eVTOL).

Baca juga: Gantikan Lithium Ion, Baterai Lithium-Sulfur Bikin Era Pesawat Listrik Semakin Dekat

Mengejar ketertinggalan itu, Tesla berencana memproduksi baterai sendiri yang mampu meningkatkan jarak tempuh kendaraan listrik hingga 54 persen dan penurunan harga baterai hingga 56 persen. Bila peningkatan terus terjadi, bukan tak mungkin kapasitas baterai perlahan cukup untuk membuat pesawat listrik komersial, layaknya pesawat jet bertenaga fosil yang bertebaran saat ini.

Pesawat listrik sejak tahun 1970 sebetulnya sudah dikembangkan oleh banyak pabrikan di dunia. Namun demikian, lagi-lagi, ada konsekuensi besar yang harus dibayar. Bila menggunakan pesawat listrik, beban dan durasi penerbangan harus lebih kecil dari pesawat berbahan bakar cair atau fosil. Karenanya, teknologi baterai sebagai ruh kendaraan (pesawat listrik) harus memiliki kapasitas besar untuk bisa membawa pesawat melesat setara dengan pesawat bertenaga fosil atau bahkan melebihinya.

Tertabrak Koper dan Meninggal, Dua Minggu Kemudian Keluarga di Cina Tuntut 620 Ribu Yuan

Sebuah keluarga menuntut seorang berusia 63 tahun karena tidak sengaja menjegal ibu mereka yang sudah tua dengan kopernya dan meninggal dua minggu kemudian. Karena insiden ini keluarga Wang meminta kompensasi dari wanita berusia 63 tahun tersebut.

Baca juga: Demi Ambil Barang Jatuh, Wanita Ini Nekat Turun ke Rel Lewat Celah Antara Kereta dan Peron

Wanita bernama belakang Liu itu dituntut karena membuat nyonya Wang berusia 67 tahun terjatuh di stasiun kereta api barat Beijing pada 8 Maret tahun lalu. Dilansir KabarPenumpang.com dari yahoo.com (14/10/2020), insiden ini berawal ketika nyonya Wang dan putranya yang bukan penumpang hendak bepergian mencoba masuk stasiun dari pintu masuk lantai dua.

Karena tiket tidak valid, putra nyonya Wang diberitahu staf kereta untuk membeli tiket dari loket tiket di luar stasiun agar bisa masuk. Kemudian ibu dan anak berbalik berjalan keluar dan mendapati diri mereka harus berlawanan dengan arah lalu lintas penumpang. Putra nyonya Wang mengatakan pada saat itulah ibunya jatuh tersenggol koper Liu.

Insiden ini tidak menyebabkan nyonya Wang mengalami luka dan dia naik kereta. Tetapi saat di dalam kereta dirinya mengalami sakit kepala parah dan pusing selama perjalanan. Pada saat kereta tiba di Shijiazhuang, Wang tidak sadarkan diri dan dibawa dengan kursi roda.

Keponakannya yang menjemput membawa Wang ke rumah sakit dan dokter menemukan adanya pendarahan otak yang menyebabkannya meninggal dua minggu kemudian. Keluarga Wang membawa kasus mereka terhadap Liu ke Pengadilan Distrik Fengtai Beijing untuk mendorong tuntutan kompensasi mereka sekitar 620 ribu yuan (AU$128 ribu), yakin jatuhnya di stasiun kereta adalah yang menyebabkan pendarahan.

Dalam pembelaan, Liu berpendapat bahwa Wang telah berjalan dengan cepat melawan arus lalu lintas penumpang dalam upaya mengejar putranya. Liu menambahkan bahwa setelah jatuh, putra Wang mengizinkan ibunya untuk naik kereta alih-alih mencari perawatan medis segera.

Dia berpendapat penundaan ini sendiri bisa menyebabkan kematian Wang. Kamera pengintai menunjukkan bahwa Liu mencoba menyimpang dari jalan Wang, namun, Wang tampaknya sama sekali tidak menyadari kopernya. Karena itu, pengadilan membatalkan klaim Wang akhir bulan lalu, mengatakan bahwa baik Wang dan putranya seharusnya lebih berhati-hati karena merekalah yang berjalan berlawanan arah dengan lalu lintas penumpang.

Baca juga: Nekat Naik ke Kereta yang Melintas, Pria Ini ‘Berputar-Putar’ Pasrah di Peron

“Wang seharusnya mengambil tindakan pencegahan dan mengamati sekelilingnya dengan lebih hati-hati. Jika dia melakukannya, tabrakan bisa dihindari,” kata pengadilan.

Pengadilan menambahkan, bahwa bagasi tidak ditinggalkan tanpa pengawasan dan Liu tidak dapat melakukan sesuatu yang berbeda untuk mencegahnya kecelakaan.

Bayi Ditemukan di Toilet, Semua Penumpang Wanita di Bandara Doha Diperiksa

Bayi prematur ditemukan ditingalkan di kamar mandi Bandara Internasional Doha dan semua penumpang perempuan di bandara tersebut diperiksa secara paksa. Bahkan pemeriksaan paksa terhadap para penumpang wanita ini pun tidak dibantah oleh pejabat Bandara Doha.

Baca juga: Bayi Tewas di Bandara Manila dengan Leher Dilingkari Pakaian Dalam

Mereka justru mengatakan penumpang wanita diminta untuk membantu menemukan ibu dari bayi itu yang dikatakan masih hidup. KabarPenumpang.com melansir france24.com (26/10/2020), otoritas Qatar telah mengeluarkan seruan untuk melacak keluarga bayi tersebut.

Mereka menurunkan agen keamanan untuk mengawal sejumlah wanita yang dirahasiakan termasuk 13 warga Australia dari pesawat di landasan Bandara Doha ke ambulans. Penumpang wanita ini akan diperiksa untuk tanda-tanda baru saja melahirkan.

“(Pejabat) memaksa wanita untuk menjalani pemeriksaan tubuh invasif pada dasarnya pap smear paksa,” kata seorang sumber di Doha tentang insiden itu, merujuk pada pemeriksaan internal serviks.

Bandara Internasional Hamad Doha mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa “para profesional medis menyatakan keprihatinannya kepada para pejabat tentang kesehatan dan kesejahteraan seorang ibu yang baru saja melahirkan dan meminta agar dia ditempatkan sebelum berangkat”.

“Orang-orang yang memiliki akses ke area spesifik bandara tempat bayi yang baru lahir ditemukan diminta untuk membantu dalam pertanyaan tersebut,” kata pernyataan itu.

Tidak disebutkan apa yang ditanyakan kepada wanita tersebut atau berapa banyak yang terpengaruh. Ikut sertanya 13 wanita asalAustralia dalam pemeriksaan paksa tersebut membuat mereka menghubungi pemerintah Negeri Kanguru tersebut pada saat kejadian.

Hal ini dibenarkan oleh Menteri Luar Negeri Australia Marise Payne di mana pemerintah Australia telah menangani masalah ini dengan Duta Besar Qatar. Dia mengatakan insiden luar biasa tersebut juga sudah dilaporkan ke Polisi Federal Australia.

“Ini sangat mengganggu, menyinggung, serangkaian peristiwa. Ini bukan sesuatu yang pernah saya dengar terjadi dalam hidup saya, dalam konteks apa pun. Kami telah membuat pandangan kami sangat jelas kepada pihak berwenang Qatar,” kata Payne.

Payne mengatakan, Pemerintah Australia mengharapkan untuk melihat laporan dari otoritas Qatar, yang masih menyelidiki insiden tersebut, pada akhir minggu ini. Dia mengatakan ada kekhawatiran yang signifikan atas persetujuan untuk pemeriksaan medis, menambahkan “ini adalah masalah pribadi dan sangat pribadi”.

Seorang juru bicara pemerintah Australia mengatakan negara itu “sangat prihatin atas perlakuan yang tidak dapat diterima” terhadap penumpang wanita.

“Nasihat yang telah diberikan menunjukkan bahwa perlakuan terhadap wanita yang bersangkutan adalah ofensif, sangat tidak pantas, dan di luar keadaan di mana wanita dapat memberikan persetujuan tanpa paksaan dan informasi,” katanya dalam sebuah pernyataan.

Insiden itu, pertama kali dilaporkan terjadi pada 2 Oktober dan terungkap setelah sejumlah penumpang Australia yang terkena dampak angkat bicara. Salah satu penerbangan yang terlibat, penerbangan 2 Oktober Qatar Airways QR908 ke Sydney, terlambat empat jam meninggalkan Doha sebagai akibatnya.

Wanita dari beberapa negara lain dan penerbangan diketahui telah terpengaruh, tetapi jumlah dan kebangsaan mereka belum diketahui. Bandara Doha meluncurkan seruan pada Minggu malam agar ibu anak itu melapor, menunjukkan bahwa pemeriksaan yang dilakukan pada saat itu tidak meyakinkan.

“Bayi yang baru lahir tetap tidak teridentifikasi, tetapi aman di bawah perawatan profesional pekerja medis dan sosial,” katanya dalam pernyataannya, dan meminta siapa pun yang memiliki informasi untuk melapor.

Menteri luar negeri Qatar diperkirakan akan menulis kepada mitranya dari Australia tentang insiden itu minggu ini. Juru bicara Australia mengatakan, pemerintah telah “secara resmi melaporkan keprihatinan serius terkait insiden tersebut dengan pihak berwenang Qatar”.

Baca juga: Buat Ibu Hamil, Tak Perlu Khawatir Janin Bermasalah Saat Lewati Pemindai Tubuh di Bandara

“Departemen Luar Negeri dan Perdagangan terlibat dalam masalah ini melalui saluran diplomatik,” katanya.

Qatar mempraktikkan bentuk hukum Islam yang ketat, dengan hukuman keras diterapkan kepada wanita yang hamil atau melahirkan anak di luar nikah.

Anak Muda Ini Jadi Orang Indonesia Pertama Gabung di Young Aviation Professional ICAO

Indonesia untuk pertama kalinya berhasil memiliki wakil pada gelaran Young Aviation Professional Program. Kepastian itu didapat setelah Kleopas Danang Bintoroyakti bergabung dan mengikuti prosesnya sejak Oktober 2016, dengan menyingkirkan 550 pelamar global.

Baca juga: Ada Keretakan di Boeing 737 NG, Kembali Ingatkan “Teori Habibie”

“Saya salah satu yang terpilih dari 3 tahun dan orang Indonesia pertama yang terpilih untuk program ini dari 550 pelamar global,” ungkap Danang, dikutip dari Antara.

Selain menjadi orang pertama di gelaran tersebut, anak muda dari pasangan pilot Garuda Indonesia, Petrus Tutuk Sri Sumasto dan Stella Maria Mimara Dita ini, juga berkesempatan tampil di podium Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) International Civil Aviation Organization (ICAO) Next Generation Aviation Professional (NGAP) Global Summit yang diadakan di Montreal, Kanada, pada 2017 lalu.

Dalam kesempatan itu, ia memaparkan tentang pentingnya komunikasi dan perubahan budaya guna menarik minat dan mempertahankan profesional muda industri aviasi. Selama 15 menit, forum yang dihadiri sekitar 500 peserta dari Direktur Biro Navigasi Udara (Air Navigation Bureau), perwakilan delegasi seluruh dunia, asosiasi profesi aviasi, serta profesional muda aviasi seluruh dunia sampai mahasiswa ini mendengarkan paparan dari Danang hasil penelitiannya sejak beberapa tahun silam.

Dalam penelitiannya tersebut, Indonesia tercatat memiliki sekitar 65 ribu pekerja di sektor penerbangan dalam berbagai posisi, baik teknikan maupun majaerial, serta memiliki sekitar 10 ribu pilot. Dari jumlah tersebut, hampir seluruhnya disebut ingin mengabdi di ICAO.

Selain itu, Danang juga membagikan pandangan serta proyeksinya tentang industri penerbangan internasional, khususnya dalam hal manfaat dan tantangan yang akan dihadapi seperti minimnya tenaga ahli penerbangan hingga 10 tahun mendatang.

“Industri ini membutuhkan lebih dari 255.000 pilot dan 180.000 kapten sampai tahun 2027,” lanjutnya.

ICAO Young Aviation Professional sendiri adalah program pembentukan pemimpin industri aviasi masa depan (leadership program) berdurasi 12 bulan yang dibentuk Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam hal ini Airport Council International (ACI) dan International Air Transport Association (IATA).

Program tersebut dicanangkan pada tahun 2013 lalu dan hanya mencari tiga kandidat setiap tahunnya untuk bekerja dengan ketentuan mampu menyajikan subjek pembicaraan kelas ahli bagi ICAO dalam menangani faktor keamanan, lingkungan hidup, dan pengembangan ekonomi. Itulah mengapa gelaran ini disebut spesial dan menariknya anak muda Indonesia berhasil menembus itu untuk pertama kalinya, sebuah capaian yang tentu saja sangat menginspirasi kaum muda di momen Hari Sumpah Pemuda.

Baca juga: Dari Bandung ke Paris, N250 Jadi Pesawat Buatan Asia Pertama yang Lakoni Ferry Flight Lintas Benua

Danang menjelaskan ICAO sebagai Agency United Nations yang berperan sebagai regulator industri penerbangan dunia. Hal ini berarti, seluruh peraturan di dunia penerbangan internasional dipegang oleh ICAO. Sementara itu, ACI adalah Trade Organization yang membawahi semua bandara yang ada di seluruh dunia, termasuk bandara-bandara di Indonesia yang dikelola Angkasa Pura 1 dan Angkasa Pura 2. Sedangkan IATA adalah Trade Organization yang membawahi semua maskapai penerbangan di seluruh dunia.

Sebelum mengikuti program ini, Danang sudah berpengalaman selama 7 tahun menjadi staf Hubungan Masyarakat (Humas) di salah satu maskapai penerbangan Indonesia. Karena kini menjadi salah satu tim analis kebijakan ekonomi penerbangan di seluruh dunia, karirnya sebagai staf Humas pun dilepasnya.

Boeing 747 British Airways Disulap Jadi Museum dan Bioskop

Sebuah pesawat Boeing 747 British Airways (BA) dikabarkan bakal segera disulap jadi bioskop. Tak hanya itu, pesawat dengan nomor registrasi G-CIVB tersebut nantinya juga bakal dijadikan berbagai fungsi, mulai dari tempat meeting, konferensi, agenda pribadi bersama keluarga, hingga museum, sebagai wadah pembelajaran atau pengenalan ke anak-anak tentang pesawat (edu wisata).

Baca juga: Keren, British Airways Manjakan Penumpang dengan Kursi Roda Otonom Keliling Bandara hingga Boarding

Dilansir aerotime.aero, untuk menandakan pesawat yang diputuskan pensiun gegara penerbangan sepi akibat pandemi Covid-19 ini, livery negus legendaris yang pernah digunakan pesawat supersonik Concorde mau tak mau akan ditanggalkan, diganti dengan corak lain yang lebih relevan dengan fungsi baru pesawat.

Boeing 747 G-CIVB BA merupakan satu dari empat pesawat yang dicat livery negus. Selain itu, G-CIVB British Airways juga menjadi salah satu dari dua Boeing 747 yang melakukan penerbangan terakhir secara simbolis di Bandara Heathrow (LHR) pada 8 Oktober 2020 lalu, sekalipun pada akhirnya perayaan prestisius menandakan 50 tahun Boeing 747 bersama BA harus berantakan akibat hujan deras disertai angin kencang.

Boeing 747 G-CIVB British Airways nantinya akan ditempatkan secara permanen di Bandara Cotswold (GBA) di Gloucestershire, sebelah Barat London, Inggris. Pesawat tersebut untuk sementara waktu berada di bawah pengawasan pihak bandara, sambil disulap oleh pihak ketiga, bekerjasama dengan pihak bandara.

Setelah interior selesai disulap, pesawat akan dijadikan museum sebagai wadah wisata edukasi untuk anak-anak. Tak hanya itu, Boeing 747 BA juga akan dijadikan sebagai ruang konferensi, meeting, bioskop, dan private room.

Menariknya, sebagian besar uang masuk dari hasil bisnis di atas akan disumbangkan untuk kesuksesan airport‘s aviation-related scholarship program for students, program khusus untuk mengenalkan anak-anak dengan dunia penerbangan. Tujuannya, tentu saja agar dunia penerbangan terus diminati di masa mendatang dan terus berlangsung untuk mendukung kelangsungan hidup banyak orang.

Baca juga: Usai Keliling Dunia, Bagaimanakah Nasib Ed Force One Boeing 747 Iron Maiden?

“Ini adalah berita bagus bagi penduduk lokal dan pengunjung yang akan dapat melihat dan merasakan salah satu pesawat penumpang paling ikonik pada masanya,” kata Suzannah Harvey, CEO Bandara Cotswold.

Meskipun belum ada kepastian tanggal kapan museum pesawat Boeing 747 British Airways di Inggris bakal dibuka, pihak bandara memperkirakan hal itu akan dimulai pada musim semi 2021 mendatang, atau sekitar akhir Maret – Juni.

Turkish Airlines Punya 171 Pesawat Airbus dari Total 315 Armada, Yakin Erdogan Mau Boikot Perancis?

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memerintahkan seluruh penduduknya untuk tidak lagi membeli barang-barang berlabel Perancis. Pernyatannya ini menanggapi sikap Presiden Perancis Emmanuel Macron yang telah membela penerbitan kartun Nabi Muhammad SAW dan mendorong munculnya Islamofobia.

Baca juga: Erdogan dan Negara Islam Mau Boikot Perancis, Bagaimana dengan Pesawat Airbus?

Akan tetapi, bagaimana dengan produk Perancis berupa pesawat komersial Airbus? Selain tak banyak produsen pesawat komersial berkualitas di dunia, lagi pula saat ini maskapai nasional mereka, Turkish Airlines, bisa dibilang masih berpangku tangan dengan Perancis (Airbus).

Dari data planespotters.net, maskapai yang pertama kali berdiri pada tahun 1933 ini tercatat memiliki 171 pesawat Airbus berbagai jenis, seperti A319, A320, A321, A330, dan A350 XWB pertama yang notabene baru saja bergabung dalam barisan armada Turkish Airlines, tak lama setelah Erdogan menyerukan boikot produk Perancis.

Populasi pesawat Airbus di tubuh maskapai yang digadang-gadang sebagai maskapai dengan destinasi penerbangan paling banyak di dunia ini mencapai sekitar 60 persen lebih dari total pesawat sebesar 315 unit. Sisanya, Turkish Airlines mengandalkan Boeing 737, B777, dan Boeing 787 Dreamliner.

Di tengah pandemi Corona seperti sekarang ini, jumlah pesawat aktif Airbus juga cukup banyak, mencapai 91 unit, tak lebih banyak memang dibanding Boeing dengan 105 pesawat. Namun, dengan total 971 rute di 103 kota di luar negeri dan 30 di Turki, melayani total 136 bandara, di Eropa, Asia, Afrika dan Amerika Serikat, tentu populasi 91 pesawat aktif dan total 171 kepemilikan pesawat, Turkish Airlines bisa dibilang tak bisa lepas dari Airbus dalam waktu dekat.

Selain harus melalui proses pengadaan, pembiayaan, atur ulang strategi atau rute dengan menyesuaikan pesawat, memilih pesawat pengganti, promosi ulang, Turkish Airlines juga harus menunggu proses produksi oleh pabrikan serta penyesuaian dengan armada baru (bila pesawat Airbus sungguh mau diboikot). Hal itu tentu tak bisa terjadi dalam waktu sekejap. Butuh proses bertahun-tahun.

Baca juga: Bermula Dari DC-9, Inilah Rentetan Fakta Unik Seputar Turkish Airlines

Lagi pula, bilapun langkah tersebut akan diambil, taruhannya adalah reputasi. Muara dari itu, tentu maskapai yang pernah menampilkan Lionel Messi dan Kobe Bryant di salah satu iklannya ini bisa ditinggal pelanggannya yang bukan tak mungkin berasal dari kalangan Airbus lovers.

Lebih dari pada itu, pabrikan pesawat pengganti yang ditunjuk Turkish Airlines, katakanlah Boeing, harus menyediakan jalur produksi atau suplai chain lebih besar dari sebelum-sebelumnya. Proses tersebut tak bisa terjadi dalam waktu singkat, terlebih rantai pasokan bahan baku dunia masih belum benar-benar stabil akibat wabah virus Corona. Jika sudah begini, akankah Erdogan memboikot Airbus? Atau sebaliknya, Airbus memboikot Turki? Menarik ditunggu.

Austrian Airlines dan Bandara Wina Uji Coba Tes Antigen Covid-19

Tes antigen Covid-19 uji cobanya sudah dimulai oleh Austrian Airlines yang bekerja sama dengan Bandara Wina. Pada tahap awal, seluruh penumpang OS 229 dengan tujuan ke Berlin, Jerman akan mendapat kesempatan mengikuti rapid test sebelum keberangkatan pada periode 23 Oktober – 8 November 2020.

Baca juga: Alat Tes Corona Supercepat Buatan Israel Jadi Senjata Baru Bandara Eropa Cegah Covid-19

Tes ini dilakukan secara gratis dan sukarela di mana Bandara Wina sudah mendirikan pusat pengujian di area check in Terminal 3. Nantinya setelah mengikuti tes, hasil nya akan didapat oleh penumpang dalam waktu 10-15 menit, baik melalui SMS atau, atas permintaan, setelah pertanyaan pribadi.

Kemudian, boarding pass akan bisa aktif digunakan jika hasil tes negatif dan membuat para penumpang untuk masuk ke keamanan area dan gerbang. Tetapi bila sebaliknya yakni hasil positif, penumpang akan dirawat oleh layanan medis bandara untuk mengklarifikasi kondisi medis sepenuhnya.

Karena itu, langkah selanjutnya ditentukan oleh otoritas kesehatan yang bertanggung jawab. Di mana penumpang dapat memesan kembali atau membatalakan penerbangan mereka dengan Austria Airlines secara gratis.

“Pesawat sudah menjadi alat transportasi teraman di sektor transportasi umum. Namun, kami ingin melangkah lebih jauh, dan membuat perjalanan melalui udara lebih aman,” kata COO Austrian Airlines Jens Ritter yang dikutip KabarPenumpang.com dari aviation24.be (24/10/2020).

Banyaknya pembatasan perjalanan telah menyulitkan bandara dan maskapai penerbangan untuk memastikan operasi penerbangan yang stabil dalam beberapa bulan terakhir. Untuk alasan ini, dalam kerjasama dengan Bandara Wina, Austrian Airlines telah menetapkan tujuan untuk menunjukkan bagaimana seseorang dapat mengintegrasikan pengujian cepat ke dalam rantai perjalanan penumpang.

Grup Lufthansa bekerja dengan mitra dalam proses yang memungkinkan mobilitas antarbenua dan kebebasan untuk bepergian, juga selama pandemi virus korona, sambil menjaga perlindungan kesehatan. Temuan yang diperoleh dari uji operasi di Wina akan diintegrasikan ke dalam keseluruhan proyek yang dilaksanakan oleh Grup Lufthansa.

“Kami harus membongkar penghalang yang diciptakan oleh virus korona selama beberapa bulan terakhir. Untuk masa depan, tujuan kami adalah untuk mencapai pelonggaran yang sesuai dari pembatasan perjalanan. Namun, pertama-tama kami bertujuan untuk menunjukkan bagaimana program pengujian yang ditargetkan bisa bekerja”, jelas Ritter.

Julian Jäger, Anggota Dewan Manajemen dari perusahaan pengelola bandara Flughafen Wien AG, menambahkan, seluruh industri pariwisata dan perjalanan sangat membutuhkan solusi yang tahan terhadap masa depan. Jika uji coba berjalan dengan baik, pengujian dapat ditawarkan dalam skala yang lebih besar.

Sehingga penggunaan nasional di bandara dan oleh maskapai penerbangan dalam kerangka rezim pengujian seragam di seluruh Eropa dapat memungkinkan kebebasan untuk keluar dari krisis. Tes antigen cepat memberikan hasil yang cepat dan dapat diintegrasikan dengan baik ke dalam proses operasional perjalanan udara bagi penumpang, yang penting bagi ekonomi dan pariwisata.

“Proyek percontohan memungkinkan kami untuk melihat ke masa depan dalam waktu dekat dan, di atas segalanya, untuk menunjukkan kelayakan dari proses yang diperlukan. Ini akan memungkinkan tes antigen untuk digunakan secepat mungkin , asalkan mereka memiliki kualitas yang dibutuhkan dalam hal kepekaan dan spesifisitas. Dengan cara ini, kita mengambil langkah menuju ‘normalitas baru’ untuk memberikan kehidupan sosial dan ekonomi kita dorongan yang sesuai,“ ujar Sekretaris Negara Penerbangan Magnus Brunner.

Untuk diketahui, program pengujian ini, enumpang akan diberi tahu tentang kemungkinan pengujian sebelum keberangkatan melalui email pra-penerbangan dan undangan check in. Saat ini, tes antigen Covid-19 cepat tidak menggantikan tes PCR yang diamanatkan oleh otoritas kesehatan.

Baca juga: Gelar Rapid Test, Bandara Vancouver dan WestJet Airlines Jadi Contoh Penanganan Covid-19 di Kanada

Artinya, semua penumpang harus terus mematuhi peraturan masuk lokal. Kewajiban untuk mengenakan masker di dalam penerbangan Austrian Airlines serta di bandara tetap berlaku, kecuali anak-anak di bawah usia enam tahun dan penumpang yang dapat menunjukkan pernyataan medis yang sesuai serta tes PCR negatif (dengan hasil tidak lebih dari 48 jam).

Beruang Serang Pekerja Konstruksi Kereta Peluru Shinkansen Gegara Kehabisan Biji Pohon Ek

Terjadi serangan oleh beruang di lokasi pembangunan jalur kereta peluru Shinkansen. Salah satu pekerja konstruksi berusia 49 tahun di Prefektur Fukui, Jepang harus menderita patah kaki dan luka serius di bagian tubuh lainnya.

Baca juga: ‘Serangan’ Beruang Bikin Penerbangan di Rusia Terhenti Puluhan Menit!

Serangan beruang ini terjadi pada Jumat (23/10/2020) kemarin dan ternyata dalam serentetan serangan tersebut setidaknya tujuh orang terluka dalam kurun sepuluh hari terakhir. KabarPenumpang.com melansir dari laman globalconstructionreview.com (26/10/2020), ahli konservasi mengatakan, bahwa serangan terjadi karena beruang kekurangan biji pohon ek.

Di mana biji pohon ek merupakan makanan beruang hitam Asia yang sebagaian besar herbivora. Karena kekurangan makanan, maka beruang keluar dari habitat hutan mereka dan berkonflik dengan manusia yang dianggap mengganggu tempat tinggalnya.

Sebelum insiden ini terjadi masyarakat peduli beruang dan hutan Jepang telah meminta pemerintah nasional serta lokal untuk menjaga habitat beruang. Di mana masyarakat bisa mengambil biji pohon ek ke dalam hutan dan menanam pohon penghasil kacang.

Populasi beruang hitam Jepang diperkirakan berjumlah antara 15 ribu hingga 20 ribu ekor. Untuk diketahui, sepuluh menit sebelum menyerang pekerja konstruksi di jalur Hokuriku Shinkansen, beruang itu menyerang seorang karyawan pria berusia 56 tahun di West Japan Railway Co. yang sedang melakukan peregangan sekitar pukul 08.30 pagi sebelum giliran kerjanya di halaman rel.

Dia menderita goresan yang tidak mengancam jiwa di leher dan bahu. Sekitar pukul 11.00 pagi, beruang itu, yang digambarkan sebagai jantan dewasa sepanjang satu meter, ditembak dan dibunuh oleh tim pemburu setempat. Di tempat terpisah, pada hari Jumat, beruang lain menyerang seorang wanita berusia 70-an di kota prefektur Ono sekitar pukul 13.00 siang saat dia masuk ke mobilnya.

Beruang menggigit bagian belakang kepala dan lengan kirinya sebelum meninggalkan tempat kejadian. Luka-lukanya tidak mengancam nyawa.
Sekitar seminggu sebelumnya, seekor beruang menyerang empat orang berusia antara 50-an hingga 90-an di Hakusan, Prefektur Ishikawa, dan merusak sebuah mobil polisi, sebelum ditembak mati.

Baca juga: Lockdown di Turki, Bikin Beruang Cokelat Cari Makan di Stasiun

Serangan tersebut menyebabkan seorang pria berusia 95 tahun dan seorang wanita berusia 63 tahun terluka parah. Dua pemburu jantan, berusia 57 dan 72 tahun, menderita luka ringan setelah bertemu dengan hewan tersebut. Selama melakukan aksinya, beruang itu menyerang sebuah mobil polisi, menusuk salah satu bannya.

Rayakan Hari Jadi Ke-35, Super Mario Menghiasi Stasiun Shinjuku dan Tokyo

Stasiun kereta api maupun kereta cepat di Jepang hampir selalu menghadirkan berbagai macam karakter kartun. Biasanya kehadiran tokoh kartun ini untuk memperingati hari jadi atau hal lainnya. Belum lama ini untuk menandai hari jadinya yang ke-35, Super Mario hadir di Stasiun JR Shinjuku dan Tokyo.

Baca juga: Doraemon Ulang Tahun Ke-50, Seibu Railway Hadirkan Kereta Bertema Robot Kucing Ikon Budaya Jepang

Tukang ledeng Italia tersebut, merupakan karakter kartun yang dimulai kehadirannya dari game Super Mario Bros asli. Di mana dalam permainan tersebut, ada kotak tanda tanya bonked, bertarung melawan Bowser dan menyelamatkan Princess Peach dalam beberapa kesempatan.

Dilansir dari soranews24.com (30/9/2020) oleh KabarPenumpang.com, Mario juga beralih ke dunia game modern dengan AR Mario Kart baru untuk Nitendo Switch. Untuk merayakannya, dua stasiun tersebut menghadirkan Mario dan teman-temannya dalam acara perayaan khusus yang disebut ‘Super Mario Play! Tokyo!’.

Di mana pintu keluar selatan Stasiun JR Shinjuku mencatat sejarah Mario dari awal NES hingga era digital yang modern melalui seni kotak video game. Di sini, Anda akan mengenali favorit lama seperti Super Mario 64 dan Suoer Mario Land untuk Game Boy.

Kemudian akan ada di lantai dua Granroof di sisi Yaesu Stasiun Tokyo, terdapat lukisan dinding dengan ilustasi dan seni dalam game dari Mario, Boo, Princess Peach, Koopa Troopas dan anggota Kerajaan Jamur lainnya dalam urutan kronologis. Selain itu, 35 stasiun lain milik JR mengadakan “reli perangko”, sebuah promosi di mana pengendara dapat memenangkan hadiah dengan mengunjungi stasiun yang berpartisipasi.

Biasanya, ini dilakukan dengan menginjak selembar kertas secara fisik, tetapi untuk Super Mario Play! Tokyo! Prosesnya akan digital, dengan setiap stasiun diwakili oleh sampul game Super Mario. Di dalam setiap stasiun ada papan yang cocok dengan kode QR yang dapat Anda gunakan untuk mendaftarkan “cap” melalui ponsel cerdas Anda.

Mengunjungi lima stasiun dan menggunakan total 500 yen atau lebih dengan kartu JR prabayar Suica memberi Anda satu set stiker, dan mengunjungi 15 stasiun akan memberi Anda tempat kartu atau rail pass (selama persediaan masih ada). Penggemar yang menyelesaikan sirkuit dari 35 stasiun juga dapat mengikuti pengundian untuk mendapatkan kesempatan memenangkan jam siluet Mario bergaya piksel atau voucher JR senilai 10 ribu yen (US$94).

Baca juga: Pixar’s Toy Story Akan Hiasi Kereta Peluru Jepang yang Melintasi Pulau Kyushu

Super Mario Play! Tokyo! Dimulai 8 Oktober. Reli perangko digital dan pajangan Stasiun JR Shinjuku selesai pada 17 Desember, tetapi perlu diingat bahwa karya seni Stasiun Tokyo selesai lebih awal, pada 23 November.

Erdogan dan Negara Islam Mau Boikot Perancis, Bagaimana dengan Pesawat Airbus?

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan memerintahkan seluruh penduduknya untuk tidak lagi membeli barang-barang berlabel Perancis. Pernyatannya ini menanggapi sikap Presiden Perancis Emmanuel Macron yang telah membela penerbitan kartun Nabi Muhammad SAW dan mendorong munculnya Islamofobia.

Baca juga: Terlepas Soal Boikot, Qatar Masih Rajai Penerbangan Langsung Jarak Jauh di Dunia

Dilansir alkhaleejtoday.co, selain Erdogan, seruan boikot Perancis juga datang dari beberapa negara Islam lainnya, seperti Kuwait, Qatar, Yordania, dan Iran.

Di negara-negara tersebut, seruan boikot produk-produk Perancis sudah nyata terjadi. Restoran, pusat perbelanjaan, swalayan, dan berbagai tempat lainnya sudah tak lagi menjual produk Perancis. Sebagai gantinya, bahkan, beberapa negara Islam saling mempromosikan produk mereka. Seperti di Qatar, mereka mempromosikan produk-produk Turki untuk memenuhi kebutuhan masyarakat atas produk-produk Perancis yang sudah diboikot.

Akan tetapi, seruan memboikot produk-produk Perancis mungkin tak akan berjalan secara kaffah atau menyeluruh di beberapa negara Islam. Setidaknya, itulah pandangan dari wartawan asal Belgia, Sam Morgan, sebagaimana laporan al-monitor.com. Dari banyaknya produk Perancis, satu yang menarik adalah pesawat komersial Airbus, dimana hampir seluruh negara-negara Islam di atas memiliki pesawat tersebut yang dioperasikan oleh maskapai nasional mereka.

Qatar Airways, maskapai nasional Qatar, sejauh ini tercatat memiliki sekitar 106 pesawat Airbus, mulai dari Airbus A319-100LR, A320-200, A321neo, A330-200, A350-900, A350-1000, dan A380-800. Royal Jordanian Airlines, maskapai nasional Yordania, sejauh ini, menurut airfleets.net, tercatat memiliki sekitar 66 pesawat, mulai dari Airbus A300, A310, A320, A321, A330, dan A340.

Kuwait Airways, maskapai nasional Kuwait, dari data planespotters.net, memiliki sekitar 59 pesawat Airbus, seperti A300, A310, A320, A330, dan A340. Iran Air, maskapai nasional Iran pun demikian, memiliki 41 pesawat Airbus dengan berbagai jenis.

Turkish Airlines juga tak ketinggalan. Bahkan, maskapai nasional Turki, negara tempat Erdogan memimpin, tercatat memiliki pesawat Airbus terbanyak maskapai-maskapai di atas, mencapai 270 armada. Menariknya lagi, seruan Erdogan memboikot produk-produk Perancis nyaris bersamaan dengan pengiriman Airbus A350 perdana Turkish Airlines. Lantas, akan dikemanakan pesawat tersebut?

Baca juga: Ingatkan untuk Perbaiki Hijab Penumpang, Aplikasi Ride-Hailing Iran Malah Diboikot!

Sejauh ini, pemberitaan di dunia tak banyak yang menyinggung tentang keberadaan pesawat Airbus yang notabene berbasis di Toulouse, Perancis. Tentu saja perusahaan tersebut membayar pajak ke pemerintah Perancis. Di samping itu, Airbus juga menyerap ratusan ribu tenaga kerja. Itu artinya, perusahaan itu menjadi salah satu yang menghidupi Perancis dan sudah sepatutnya Airbus juga wajib diboikot dengan posisinya tersebut.

Namun, beberapa agen travel di negara-negara Islam dilaporkan sudah tidak menjual tiket ke Perancis. Qatar, misalnya, ada sekitar 450 agen travel yang menghentikan penjualan tiket tujuan ke Perancis. Tetapi, sekali lagi, belum ada laporan spesifik terkait keberadaan pesawat Airbus. Bahkan, dari data penerbangan pesawat, berbagai maskapai di atas juga masih menerbangkan pesawat Airbus. Menarik ditunggu, akankah kebijakan boikot produk Perancis akan menyasar pesawat-pesawat Airbus?