Kasihan, Sukhoi Superjet 100 Tak Terima Satupun Pesanan Tahun Ini

Nasib Sukhoi Superjet 100 tengah terkatung-katung. Pesawat komersial penumpang pertama yang dibuat di Rusia setelah Uni Soviet tumbang ini dikabarkan tak memiliki satupun pesanan. Kabar tersebut tentu beririsan dengan prediksi awal saat pesawat tersebut beroperasi pertama kali pada 2011 lalu, dimana pesawat digadang-gadang bakal jadi pesaing utama Airbus, Boeing, dan Embraer.

Baca juga: Otoritas Rusia Rilis Video Kecelakaan Sukhoi SSJ100 yang Tewaskan 41 Penumpang

Reuters melaporkan, sebetulnya, Sukhoi Superjet 100 memiliki pesanan jangka panjang dari maskapai penerbangan nasional dan terbesar di Rusia, Aeroflot. Maskapai itu diketahui telah menandatangani kontrak kerjasama pada tahun 2018 lalu untuk menyewa sekitar 100 Sukhoi Superjet 100 antara tahun 2019-2026.

Selain itu, maskapai yang didirikan pada tanggal 9 Februari 1923 atau sejak era Uni Soviet, itu seharusnya akan mendapat tambahan 17 pesawat Sukhoi Superjet 100 tahun ini, melengkapi barisan armada Sukhoi Superjet 100 yang sudah terlebih dahulu bergabung sebanyak 54 pesawat.

Akan tetapi, entah apa yang terjadi, dua sumber Reuters menyebut Sukhoi Superjet 100 tak memiliki satupun pesanan pesawat selama 2020. Mirisnya, maskapai penerbangan swasta terbesar di Rusia, S7, Utair, dan Ural Airlines mengaku juga tak berminat membeli pesawat buatan Sukhoi. Rumitnya perawatan serta keterlambatan pengadaan suku cadang jadi beberapa penyebab sepinya peminat.

Tak berhenti sampai di situ, pesawat buatan Sukhoi Civil Aircraft, anak perusahaan dari Presiden Rusia Vladimir Putin, Rostec, juga banyak dikeluhkan oleh klien mereka di seluruh penjuru dunia.

Maskapai penerbangan Irlandia, CityJet menghentikan operasional tujuh Sukhoi Superjet 100 tahun lalu. Demikian juga dengan Interjet Meksiko yang berencana menjual 22 Superjet-nya.

Maskapai dalam negeri Rusia, IrAero, tak ingin ketinggalan. Maskapai yang berbasis di Timur Jauh Rusia bukan hanya mengeluh soal buruknya kinerja teknis Sukhoi Superjet 100, melainkan juga menuntut kompensasi dari Sukhoi selaku produsen.

Buruknya kinerja teknis yang dikeluhkan mungkin bukan sekedar isapan jempol. Beberapa kali, Sukhoi Superjet100 kerap terlibat kecelakaan yang menimbulkan ratusan korban jiwa. Meskipun umumnya otoritas Rusia menyebut kecelakaan itu akibat human error, namun, pengamat menduga bahwa hal itu sengaja dilakukan untuk membuktikan ketangguhan pesawat di samping meyakinkan pelanggan.

Baca juga: Lindungi Industri Dirgantara, Rusia Sebut Human Error Jadi Penyebab Tragedi Sukhoi SJ100

Itu baru dari segi kinerja teknis, dari segi kemampuan produksi Sukhoi juga seringkali lambat dan meleset dari target awal. Terbang perdana pada 19 Mei 2008 hingga 2012 atau setahun pasca memasuki tahun layanan pertama pada 2011, Sukhoi diketahui baru sanggup mengirim satu pesawat dari 200 pesanan.

Kejadian serupa kembali terulang pada 2019 lalu. Semula, Sukhoi berencana mengirim 16 pesawat Superjet 100 atau biasa juga disebut SJ100 ke beberapa pelanggan. Namun, rencana itu meleset menjadi hanya delapan pesawat, lima di antaranya disewakan ke Aeroflot. Hingga Mei 2019 lalu, tercatat sudah 162 unit Sukhoi SJ100 yang telah diproduksi untuk empat maskapai.

“MRTJ Accel,” Kolaborasi MRT Jakarta dan Startup untuk Jalankan Bisnis Anti-mainstream

Program MRTJ Accel resmi diluncurkan pada 7 Agustus 2020 oleh Direktur Utama PT MRT Jakarta William Sabandar melalui virtual. William mengatakan dirinya banyak mendapat pertanyaan kenapa MRT Jakarta malahan bekerja sama dengan startup padahal bisnisnya adalah transportasi.

Baca juga: Daerah Cagar Budaya di Sepanjang Jalur Fase 2, Jadi Tantangan Tersendiri Bagi MRT Jakarta

Dia menjelaskan bahwa MRT Jakarta bukanlah bisnis transportasi biasa, dimana pihaknya akan mengembangkan dengan formula bisnis tiga plus tiga dengan lifestyle, inovasi dan kolaborasi sebagai yang pertama. Sebab sejak MRT Jakarta beroperasi di tahun lalu, banyak perubahan budaya naik transportasi seperti mengantri, ontime, rapi, disiplin dan lebih menghargai orang lain.

“Salah satunya adalah pengalaman orang yang instrumennya adalah MRT. Ketika berbicara soal lifestyle, semua orang kalau datang ke Jakarta ingin merasakan naik MRT. Kalau lifestyle kita tidak bisa sendiri, harus kolaborasi membawa experince itu adalah inovasi,” ujar William dalam peluncuran MRTJ Accel secara virtual, Jumat (7/8/2020).

William mengatakan, karena bukan bisnis transportasi biasa, pihaknya kemudian melakukan kolaborasi antara MRT Jakarta dengan perusahaan startup teknologi untuk memberdayakan ekonomi digital dengan membuat bisnis serta jasa komersil yang akan berdampak sosial lewat platform MRT. Di mana kerjasama dengan startup menjadi inovasi untuk memaksimalkan fungsi yang telah dijalankan MRT Jakarta.

Tiga formula lainnya adalah MRT Jakarta memperkenalkan business beyond normal sebagai yang pertama dan kemudian beyond ridership. Dimana ada GoJek, sayurbox, startup lainnya dan penumpang sehingga memaksimalkan benefit.

“Ini pengalaman, semua orang akan menceritakan pengalaman naik MRT, maka mereka akan melihat bahwa ada banyak sekali instrumen ekonomi lain yang bisa dilakukan, yang bisa dimaksimalkan dengan MRT. Terlalu sayang kalau MRT hanya sekadar bertransportasi atau mengangkut orang,” ujar William.

Fomula kedua selanjutnya adalah beyond physical mobility. Hal tersebut dapat diperoleh dari kontribusi perusahaan stratup dengan inovasi untuk memperkaya sistem MRT Jakarta.

Baca juga: Bangun Fase 2, MRT Jakarta Buat Rekayasa Lalu Lintas dari Thamrin sampai Monas

William menyebutkan, komponen ketiga adalah beyond transport network yang mana MRT Jakarta saat ini tengah mengembangkan 13 transit oriented development (TOD). Yang mana MRT Jakarta meniru berbagai konsep pengembangan kota-kota besar yang tadinya menggunakan jalan raya menjadi metro system dengan aktivitas bawah tanah tinggi.

Dalam program MRTJ Accel diketahui ada sepuluh startup yang bergabung yakni Pasar Polis, Jakarta Bike Hub, Bobobox, Mapid, Pintaria, Maingame, Jejak.id, Sonicboom, Nodeflux dan Rekosistem.

MC-21-300 Berhasil Lewati Uji Kemampuan di “Kolam” Air

Pesawat narrow body penantang Boeing 737 MAX dan Airbus A320neo buatan Irkut Corporation, MC-21-300 dikabarkan berhasil melewati water operation tests atau uji ketahanan air di landasan. Hal itu merupakan bagian dari program sertifikasi pesawat sebelum benar-benar mulai beroperasi secara komersial mengangkut penumpang dan kargo.

Baca juga: Boeing 737 MAX ‘Tumbang’, Rusia Tantang Airbus A320neo Lewat MC-21

Uji ketahanan air MC-21-300 dilakukan di Bandara Ulyanovsk Baratayevka (ULV) sejak 16 hingga 22 Juli 2020. Selama periode tersebut, pesawat yang desain awalnya mulai pertama kali diluncurkan pada tahun 2006 lalu itu melakukan 32 kali uji coba di atas “kolam” atau landasan yang dipenuhi air berukuran panjang lebih dari 70 m dan lebar 20 m lebih, sesuai aturan dari penerbangan di Rusia maupun dunia.

MC-21-300 melaju dengan kecepatan rata-rata 18 hingga 277 kilometer per jam serta berbagai mode, seperti mechanization and power plant modes hingga penggunaan thrust reveser.

Pengujian ini direkam menggunakan peralatan di pesawat dengan kamera pengamatan di landasan dan di pesawat. Pengujian dimonitor langsung oleh para perwakilan dari pusat sertifikasi, para spesialis, dan dari Irkut Corporation yang merupakan anak perusahaan UAC (bagian dari Rostec State Corporation).

Hasil dari proses pengujian itu menemukan bahwa air tidak mengganggu kerja mesin, elemen rangka, sistem, serta pergerakan dan peralatan pesawat. Singkatnya, MC-21-300 berhasil mempertahankan kecepatan di atas landasan yang tertutup air, demikian dikabarkan aerotime.aero.

Keberhasilan Irkut MC-21-300 melewati uji ketahanan air di landasan pacu ini menunjukkan pesawat layak diposisikan sebagai penantang serius Airbus A320neo serta Boeing 737 MAX, sekalipun dari segi spesifikasi masih sedikit tertinggal.

Irkut MC-21 merupakan pesawat komersial lorong tunggal rancangan Biro Desain Yakovlev yang diproduksi oleh Irkut Corporation. Varian MC-21-300 diluncurkan pada 8 Juni 2016 dan mengudara perdana pada 28 Mei 2017.

Sayap dari pesawat ini menggunakan bahan serat karbon yang diperkuat polimer dan dilengkapi dengan pilihan mesin Turbo Pratt & Whitney PW1000G atau Aviadvigatel PD-14. MC-21 sendiri memiliki dua varian, yaitu MC-21-200 dan MC-21-300.

Varian MC-21-200, pesawat ini mampu menampung penumpang dengan kapasitas 132 penumpang dengan konfigurasi dua kelas, dan 165 penumpang dengan konfigurasi satu kelas. Sementara untuk jarak tempuh maksimum, pesawat jenis ini mampu menembus jarak 3.500 nautical miles, setara 6.400 km.

Adapun varian MC-21-300, pesawat ini memiliki daya tampung maksimum sebanyak 211 penumpang dengan konfigurasi satu kelas, dan 163 penumpang untuk konfigurasi dua kelas – hal ini dilandaskan oleh panjang pesawat yang memiliki selisih 5,4 meter. Kendati hampir mengungguli MC-21-200, namun jarak tempuh maksimal dari MC-21-300 ini ternyata lebih pendek – hanya 6.000 km, sedikit di bawah Airbus A320neo sejauh 6.300 km dan Boeing 737 MAX-8 sejauh 6.570 km.

Baca juga: Irkut MC-21 300, Burung Besi Asli Rusia yang Siap Goyang Pasar Narrow Body Airbus dan Boeing

Saat ini, setidaknya ada enam maskapai penerbangan dalam dan luar negeri yang telah memesan sebanyak 95 unit MC-21. Namun pesanan itu tidak disebutkan dengan rinci, entah MC-21-300 atau MC-21-200.

Enam maskapai tersebut mulai dari flag carrier Rusia, Aeroflot yang memesan 50 unit, Azerbaijan Airlines, Cairo Aviation, Peruvian Airline, dan maskapai penerbangan Indonesia, Merpati Nusantara Airlines masing-masing memesan 10 unit, serta maskapai asal Kazakhtan, Bek Air dengan pesanan sebanyak lima unit.

Kebakaran Melanda Stasiun Kereta Cepat Haramain Express Arab Saudi

Belum usai insiden kebakaran disusul dua ledakan besar di Beirut, Lebanon, Timur Tengah kembali diterjang masalah. Kali ini menimpa Arab Saudi. Belum lama ini, kebakaran dilaporkan melanda area dekat stasiun kereta cepat Haramain Express, di al-Sulaymaniyah Jeddah.

Baca juga: Mengular 25 September 2018, Inilah Rincian Tarif Kereta Cepat Haramain Express!

Juru bicara otoritas terkait Arab Saudi menyebut, api bersumber dari dari salah satu kantor semi permanen (kabin portabel) seluas 1.200 meter persegi. Belum diketahui penyebab terjadinya kebakaran. Namun, hampir dipastikan bahwa insiden tersebut bukan merupakan serangan teroris, mengingat Arab Saudi belakangan tengah bersitegang dengan sayap organisasi militan Iran.

Disebutkan, api dapat dikendalikan oleh petugas tak lama setelah kejadian. Karena kondisi kabin portabel sedang dalam posisi kosong, insiden itu tak sampai menimbulkan korban jiwa, demikian laporan Al Arabiya.

Insiden kebakaran bukanlah yang pertama kalinya. Pada Oktober 2019 lalu, kebakaran juga pernah terjadi di stasiun kereta cepat (high-speed rail) Haramain di Jeddah, Arab Saudi. Kepulan asap hitam terlihat di atas atap stasiun setelah api berkobar di lokasi tersebut pada pukul 12.35 siang waktu setempat.Menurut pihak berwenang, api berhasil dipadamkan sekitar 12 jam kemudian.

Seperti yang dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Kereta Cepat Haramain Express menghubungkan Kota Suci umat Islam Madinah dan Makkah melalui Kota Ekonomi Raja Abdullah (KAEC), Rabigh, Jeddah dan Bandar Udara Internasional King Abdul Aziz Jeddah. Jalur kereta ini direncanakan sebagai sarana transportasi kereta listrik yang aman dan nyaman, dengan kecepatan maksimum mencapai 320 km per jam.

Waktu perjalanan langsung antara Mekah dan Madinah akan memakan waktu dua jam, dan perjalanan antara Mekah dan Madinah berhenti di Jeddah dan KAEC akan memakan waktu tambahan 20 menit.

Tahap pertama konstruksi dari proyek yang diresmikan langsung oleh Raja Salman bin Abdulaziz pada 2018 lalu itu dimulai sejak bulan Maret 2009. Menurut Arab News, Kereta Cepat Haramain adalah bagian megaproyek dengan nilai SR 60 miliar (Rp 227 triliun), yang menjadikannya proyek kereta terbesar di Timur Tengah. Ditaksir kereta akan mengangkut 60 juta penumpang setiap tahun.

Proyek Kereta Cepat Haramain sejalan dengan tujuan Visi 2030, karena akan membantu meningkatkan jumlah pengunjung ke tempat-tempat suci Kerajaan Saudi.

Baca juga: Kereta Cepat Haramain Siap Layani Tamu Allah Akhir Tahun Ini

Guna melancarkan proyek kereta cepat tersebut, otoritas setempat membangun 138 jembatan layang yang difungsikan sebagai jalur kereta, hingga 12 perlintasan mandiri untuk lalu lintas unta di berbagai kawasan gurun. Kereta ini juga menjadi andalan pemerintah untuk melayani para jamaah umroh dan haji.

Stasiun utama yang melayani jamaah umroh dan haji ini rencananya memiliki lounge terpisah untuk kedatangan dan keberangkatan. Juga terdapat beberapa fasilitas penunjang lainnya, seperti masjid yang mampu menampung 600 orang sekaligus, sebuah helipad, 10 peron lajur untuk kereta, ruang untuk penumpang VIP, parkiran yang mampu menampung 500 mobil.

Penerbangan di Era New Normal, ICAO: Akses Penumpang ke Toilet Dibatasi

Sejak kembali dibukanya penerbangan untuk mengangkut penumpang, banyak aturan baru di masa pandemi Covid-19. Salah satunya adalah panduan baru yang dikeluarkan oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) dan menunjukkan bahwa penumpang memiliki akses terbatas ke toilet di dalam pesawat.

Baca juga: Intip Prosedur Cabin Cleaning Pesawat Ala GMF Cegah Covid-19 di Pesawat

Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyarankan bahwa satu toilet harus disediakan untuk awak dan penumpang yang ditentukan berdasarkan nomor kursi mereka. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman bbc.com (1/6/2020), bahkan salah satu maksapai berbiaya murah, yakni Ryanair menyebut akan melarang antrian ke toilet.

Tak hanya itu, penumpang Ryanair juga harus meminta izin kepada awak kabin untuk menggunakan toilet. Tak hanya akses ke toilet, layanan makanan dan minuman di penerbangan jarak pendek juga harus dibatasi atau malah ditangguhkan.

Kalaupun awak kabin ingin menjual makanan, maka ICAO mengatakan harus dijual dalam kemasan yang sudah disegel sebelumnya. Bahkan penjualan bebas bea juga harus dibatasi sementara sebagai bagian dari rekomendasi keamanan Covid-19 yang meluas.

Meski begitu, ICAO tidak memaksakan adanya jarak sosial di pesawat, tetapi penumpang harus duduk secara terpisah jika hunian memungkinkan. Selain itu setiap penumpang diharapkan untuk membatasi barang bawaan ke dalam kabin di mana baiknya disarankan membawa tas tangan kecil agar bisa disimpan di bawah kursi mereka.

Koran dan majalah pun harus dihapuskan untuk sementara waktu. Badan PBB juga mengatakan bahwa secara umum, masker wajah harus dikenakan sesuai dengan pedoman kesehatan masyarakat dan jarak sosial harus dilakukan jika memungkinkan.

Di masa pandemi Covid-19, seluruh area di dalam kabin harus secara rutin dibersihkan dan penumpang harus diperiksa kesehatannya seperti pengecekan suhu hingga metode pelacakan kontak juga harus dieksplorasi. Di bandara, staf harus memiliki alat pelindung diri yang memadai, yang dapat mencakup sarung tangan, masker medis, kacamata atau pelindung wajah, dan gaun atau celemek.

Baca juga: Indigo Hadirkan ‘Double Seat’ untuk Penumpang di Masa Pandemi Covid-19

Bahkan penumpang diharapkan check in melalui online sebelum tiba di bandara dengan menggunakan mobile boarding pass. Bandara juga harus menggunakan teknologi nirkontak termasuk pemindain wajah dan iris mata.

Snap Uji Coba Bus Wisata Double Decker Tak Beratap untuk Transportasi Pekerja London

Di London, Inggris, banyak orang masih mencurigai transportasi umum sebagai tempat penyebaran virus corona baru atau Covid-19. Karena hal ini, kemudian sebuah perusahaan bus pariwisata berencana menggunakan armada tamasya mereka untuk membantu para pekerja mencapai kantor.

Baca juga: Odong-Odong Keren (Oren), Double Decker Khas Depok

Perusahaan ini akan menggunakan bus tingkat mereka dengan atap terbuka untuk mengatasi beberapa kekhawatiran tentang risiko infeksi Covid-19 di angkutan umum. KabarPenumpang.com melansir dari laman bloomberg.com (24/7/2020), perusahaan yang berbasis di London ini bernama Snap dan sekarang tengah menguji penawaran mereka yang akan mengantarkan warga London ke dan dari tempat bekerja.

Uji coba ini menggunakan 233 bus tamasya tanpa atap alias dek atas terbuka yang biasanya digunakan di kota-kota dunia untuk mengangkut pelancong. Penggunaan bus dari Snap ini selain bus banyak terparkir karena tidak ada pengunjung, juga agar masyarakat pengguna transportasi seperti bus lebih aman sebab atap yang terbuka.

Meski layanan ini dalam pengembangan, Snap yang tengah melalui proses crowdsourcing mengambil rincian orang yang tertarik pada layanan untuk menghitung rute mana yang mungkin memiliki permintaan tertinggi. Perjalanan dengan bus double decker atap terbuka ini mulai uji coba dengan rute Victoria Line London Underground yang membentang di pusat kota London dari timur laut ke barat daya.

Tarifnya diperkirakan akan sama dengan perjalanan kereta api rata-rata £3,30 atau Rp57 ribu dengan beberapa titik penjemputan dan pengantaran penumpang. Namun pemberhentiannya akan lebih sedikit dibandingkan rute bus biasanya. Snap memperkirakan bahwa dapat menjalankan layanan dengan layak dan ongkos seperti ini penumpang mengisi hanya seperempat dari kapasitas biasanya.

Selain tetap memberikan jarak, Snap juga melakukan pembersihan setiap perjalanan untuk mengurangi risiko penyebaran virus lebih lanjut. Bisa dikatakan kehadiran ide dari Snap ini mungkin membantu London dengan masalah saat ini. Beberapa orang yang bekerja dari rumah bisa memikirkan untuk kembali ke tempat kerja mereka.

Baca juga: Routemaster, Si Double Decker Merah Ikon Kota London

“Kereta di London saat ini mencapai 30 persen dari penggunaannya sebelum pandemi, sementara penggunaan mobil sekitar 80 persen dari yang sebelumnya menjadi pandemi. Kami benar-benar tidak ingin pemulihan berbasis mobil untuk krisis ini, jadi kami perlu menemukan solusi yang membuat orang nyaman dan Anda tidak bisa mendapatkan alat transportasi yang lebih aman daripada kendaraan yang beratap terbuka,” kata CEO Snap, Thomas Ableman.

Dijual Restoran Terbesar Bekas Airbus A340 di Turki Seharga Rp20 Miliar, Berminat?

Seni mengubah pesawat bekas banyak ragamnya, dikonversi jadi souvenir, gantungan kunci berbahan dasar bodi pesawat, rumah, hotel, hingga restoran. Bicara soal restoran yang dibangun dari bekas pesawat, Turki mungkin salah satu yang menarik. Negeri Seribu Masjid itu bukan sekedar punya restoran dari pesawat melainkan restoran terbesar dari jenis itu.

Baca juga: Lufthansa Mutilasi Airbus A340-600 Menjadi Souvenir Unik nan Artistik

Sayangnya, restoran terbesar bekas pesawat Airbus A340 di negara itu dikabarkan tengah dilego seharga $1,4 juta atau sekitar Rp20 miliar lebih (kurs 14.550). Laporan CGTN, sang pemilik dikabarkan terpaksa menjual restoran dari pesawat itu akibat masalah kesehatan.

Simple Flying menyebut, pesawat bekas pakai maskapai Turkish Airlines empat tahun lalu itu memiliki kapasitas sebanyak 280 kursi, terpaut agak jauh dari kapasitas pesawat yang mencapai 350an orang. Pesawat restoran bernama Burhaniye Uçak Restorant (Restoran Pesawat Burhaniye) tersebut ditaksir bukanlah pesawat restoran biasa, melainkan sebagai salah satu landmark Kota Balıkesir, tepatnya di Distrik Burhaniye.

Bagian dalam restoran pesawat Airbus A340 di Turki. Foto: Twitter @indianeagle

Sebagai salah satu landmark kota tersebut, pesawat restoran Airbus Turki ini kerap dijadakan pilihan utama berbagai penyelenggaraan prestisius, seperti pernikahan, pesta, hingga makan malam khusus di momen-momen tertentu.

Namun, Turki bukan satu-satunya yang punya restoran dari bangkai pesawat. Di Bengaluru, India, restoran dari bekas pesawat Airbus juga tersedia. Hanya saja, restoran berkapasitas 65 kursi itu dibangun dari Airbus A320, tak jauh lebih besar dan tentu saja mewah dari restoran Airbus A340 di Turki.

Bergeser ke negera tetangga, Pakistan juga punya restoran dari pensiunan pesawat. Sebagaimana dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Airport Security Force (ASF) mengubah salah satu pesawat Boeing 747 milik Pakistan International Airlines (PIA) yang sudah tidak terpakai menjadi sebuah restoran kelas atas.

Salah satu venue di bagian belakang Burhaniye Uçak Restorant (Restoran Pesawat Burhaniye). Foto: Twitter @indianeagle

Negeri Paman Sam Amerika Serikat (AS) juga punya restoran atau lebih tepatnya cocktail bar bekas pesawat. Bedanya, bila tiga restoran di atas dibangun dari bekas pesawat Airbus dan Boeing, cocktail bar di AS disulap dari hasil perombakan interior besar-besaran pesawat Lockheed Constellation milik maskapai TWA.

Baca juga: Lockheed Constellation Milik TWA Kini Jadi Cocktail Bar Bernuansa Retro

Di dalam cocktail bar ini, Anda semua akan melihat berbagai barang berbau jadul yang akan menggairahkan nostalgia Anda, seperti pedang cocktail hingga board game legendaris, dan tidak lupa, karpet merah ikonik dari TWA.

Desain interior dari TWA cocktail bar ini sendiri dipimpin oleh Sara Duffy (Interior Designer) dan Stonehill Taylor (Architects), dimana keduanya dengan apik menggabungkan nilai vintage dengan berbagai kelengkapan perabotan modern.

Keras! Syarat Rapid Test-Swab Test Penumpang Pesawat Dihapus, Pengamat: Pemerintah Merestui Herd Immunity

Pengamat Kebijakan Publik, Agus Pambagio, mengkritisi upaya Kementerian Perhubungan (Kemenhub) meniadakan syarat rapid test bagi penumpang pesawat. Diketahui, hal ini sudah dibahas pada rapat terbatas tentang Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional yang digelar kemarin di Istana Kepresidenan.

Baca juga: Rapid Test Murah Lion Air Group Diisukan Pakai Cara ‘Nakal’, Sebetulnya Berapa Harga Alat Rapid Test?

Menurut Agus, langkah tersebut sama saja dengan merestui herd immunity. Dengan begitu, segala risiko yang timbul mau tak mau harus ditanggung masing-masing penumpang.

“Pemerintah (Kemenhub) secara tidak langsung sudah merestui herd immunity. Kita bertahan sendiri (dengan kondisi yang ada),” jelasnya saat dihubungi KabarPenumpang.com, Kamis (6/8).

Bila rencana dihapuskannya syarat rapid test benar-benar dilakukan, pengamat yang juga mantan wakil ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) itu menilai tidak ada lagi yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran Covid-19 di pesawat.

Dalam berbagai pengalamannya terbang selama di masa New Normal, ia kerap menemukan sejumlah pelanggaran, mulai dari terbang melebihi ambang batas alias kapasitas 100 persen, lemahnya pengawasan seperti misalnya pengecekan syarat rapid test bagi penumpang, hingga temuan praktek-praktek kecurangan lainnya semisal jual beli surat keterangan rapid test tanpa dicek. Hal itu bisa terjadi karena aturan pemerintah tak jelas di samping juga tidak tegas.

Oleh karenanya, ia pun mengaku belakangan ini tak lagi berani menumpangi pesawat. Sebab, dalam pengamatannya, dengan dihapuskannya syarat rapid test-swab PCR test bagi penumpang pesawat, klaster baru virus Corona akan muncul bersamaan dengan itu. Bila pun tidak dihapus, lemahnya pengawasan dan sanksi membuat maskapai kerap membandel dan sering kali terbang dengan kondisi penuh.

Untuk itu, sementara waktu ia lebih memilih menggunakan mobil ketimbang pesawat. Lagi pula, untuk tataran Pulau Jawa, semisal Jakarta-Surabaya, saat ini total waktu yang dihabiskan sudah tak begitu jauh, nyaris sama-sama tujuh jam. Sebab, sejak era New Normal, dengan adanya syarat rapid test dan lainnya, membuat penumpang diharuskan hadir empat jam sebelum penerbangan dimulai.

Berbeda dengan Agus Pambagio, Pengamat Transportasi Djoko Setijowarno beranggapan bisa saja Kemenhub menghapus syarat rapid test bagi penumpang pesawat. Syaratnya, harus disiplin dengan protokol kesehatan dan sifatnya wajib, bukan sekedar himbauan.

“Kursi tengah harus kosong kemudian tambah ketentuan pakai lengan panjang, masker, face shield, bila perlu antar kursi itu dikasih pembatas (partisi) dan wajib,” ujarnya kepada KabarPenumpang.com.

Baca juga: Asyik, Naik Garuda Indonesia Dapat ‘Cashback’ Biaya Rapid Test Ratusan Ribu! Begini Caranya

Hanya saja, ia menggarisbawahi, bila Kemenhub tengah mengejar break-even load factor pesawat, tentu hal itu berseberangan dengan data penumpang pesawat tahun lalu. Dalam catatannya, secara umum 44 persen penumpang pesawat tahun lalu merupakan perjalanan dinas, 12 persen bisnis, dan wisata hanya 10 persen.

Sebagaimana umum diketahui, pemerintah telah mengalihkan anggaran dinas untuk penanganan pandemi Covid-19. Jumlahnya juga tidak sedikit dan bakal terus dipotong hingga tahun 2021.

Cina Bakal Punya Terowongan Kereta Cepat Pertama di Bawah Laut

Memiliki kereta api berkecepatan tinggi, membuat Cina akhirnya tengah mempersiapkan membangun terowongan di bawah laut sepanjang 16,2 km di wilayah perairan timur. Terowongan kereta cepat ini akan menghubungkan kota Ningbo dan Kepulauan Zhoushan.

Baca juga: Serba-Serbi Channel Tunnel, Terowongan Rel Terpanjang Kedua di Dunia

Terowongan kereta berkecepatan tinggi ini akan menjadi terowongan bawah laut pertama dan terpanjang di Cina. Pembangunannya bisa dilangsungkan setelah persiapan dilakukan selama dua tahun di mana proposal teknis pembangunan terowongan kereta bawah laut itu lulus penilaian dewan pakar yang dipimpin Qian Qihu dari Chinese Academy Engineering.

Selain kereta api, proyek ini juga akan memungkinkan perjalanan kendaraan bermotor di bawah laut melalui terowongan terpisah. Terowongan ini akan berbeda dari terowongan tabung tenggelam di salah satu ruas jembatan Hong Kong – Zhuhai – Makau.

Terowongan bawah laut kereta api berkecepatan tinggi yang menghubungkan Ningbo dan Zhoushan akan dibangun dengan menggunakan perisai yang dibenamkan lebih dalam sehingga akan menimbulkan pekerjaan proyek yang rumit. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, perisai terowongan ini beridameter 14 meter dan membentang sepanjang 10,78 km di bawah laut dengan kedalaman maksimal 78 meter.

Tang Xiongjun dari China Railway Siyuan dan Design Group yang bertanggung jawab pada proyek ini mengatakan dalam sebuah pernyataan, terowongan bawah laut ini akan mencetak rekor baru di dunia. Nantinya jika pembangunannya sudah selesai, dari Ningbo ke Zhoushan hanya dapat ditempuh dalam waktu 30 menit dengan laju kereta rata-rata 250 km per jam.

Selama ini, perjalanan di jalur tersebut dengan menggunakan mobil yang melewati beberapa jembatan memakan waktu sekitar 1,5 jam. Sementara itu, kalau dari Hangzhou, Ibu Kota Provinsi Zhejiang, menuju Kepulauan Zhoushan di wilayah perairan timur daratan China itu, hanya membutuhkan waktu satu jam 20 menit.

Pemerintah China menyatakan bahwa pembangunan konstruksi akan dimulai pada tahun ini dan memakan waktu enam hingga tujuh tahun. Sebelumnya, di Ningbo juga terdapat jembatan di atas laut sepanjang 35,7 kilometer untuk mempersingkat jalur dari Shanghai karena Ningbo merupakan kota pelabuhan di pesisir timur Cina.

Baca juga: Seikan, Terowongan Kereta Terpanjang dan Terdalam di Dunia

Untuk diketahui, jalur transportasi Kepulauan Zhoushan, Provinsi Zhejiang, dengan wilayah daratan China akan dihubungkan dengan kereta api cepat dari Ningbo sejauh 77 kilometer melalui terowongan dan beberapa jembatan via Pulau Jintang. namun bila dibandingkan dengan terowongan Seikan dan Channel,terowongan kereta api berkecepatan tinggi di Cina ini tidak ada apa-apanya. Sebab Seikan memiliki panjang 53,85 km dan Channel sepanjang 39 km.

Impian Negeri Bollywood Punya Jalur Kereta Api Berkecepatan Tinggi Segera Terwujud

Jalur kereta api berkecepatan tinggi (kereta peluru) akan segera menjadi kenyataan di India, sebab salah satu dari tujuh rute sudah selesai baru baru ini. Jalur kereta berkecepatan tinggi ini antara Mysuru – Bengaluru – Chennai dengan panjang 435 km.

Baca juga: Pertama Kalinya dalam Sejarah, Layanan Kereta di India Mampu ‘On Time’ 100 Persen

Dilansir KabarPenumpang.com dari metrorailnews.in (2/8/2020), nantinya jalur ini mampu dilintasi oleh kereta peluru dengan kecepatan maksimum 320 km per jam. Saat ini pihak Indian Railways dan Otoritas Jalan Raya Nasional India (NHAI) akan mulai proses untuk mendapatkan lahan tambahan segera.

NHAI juga akan segera mendapatkan tanah untuk meletakkan kereta api berkecepatan tinggi di sepanjang jalan bebas hambatan Greenfield agar pengembangan terintegrasi dari jaringan transportasi kereta api di India. Selama pertemuan Kelompok Sektor Infra yang diadakan baru-baru ini, diputuskan bahwa NHAI akan mengambil alih pembebasan lahan dan sebuah komite beranggotakan empat orang dibentuk untuk menyelidiki masalah ini.

Komite akan bekerja pada modalitas untuk memperoleh tanah dan estimasi biayanya. Indian Railways berencana untuk menjalankan kereta peluru di tujuh rute baru penting di negara itu. Tujuh koridor rel berkecepatan tinggi adalah Delhi ke Varanasi via Noida, Agra dan Lucknow; Varanasi ke Howrah melalui Patna; Delhi ke Ahmedabad melalui Jaipur dan Udaipur; Delhi ke Amritsar melalui Chandigarh, Ludhiana dan Jalandhar; Mumbai ke Nagpur melalui Nasik; Mumbai ke Hyderabad melalui Pune dan Chennai ke Mysore melalui Bengaluru.

Dewan Kereta Api baru-baru ini menulis surat kepada NHAI dan memberikan rincian tujuh koridor rel berkecepatan tinggi untuk menjalankan kereta peluru di mana laporan proyek terperinci sedang dipersiapkan. NHAI juga telah diminta untuk mewakili petugas nodal untuk tujuan ini untuk integrasi yang lebih baik dari latihan perencanaan mammoth.

Baca juga: Jepang Rencanakan Bangun Proyek Kereta Cepat di 5 Kota India

Kereta peluru akan berjalan pada kecepatan maksimum 320 kilometer per jam dan jarak sebenarnya dari Mysuru ke Chennai adalah lebih dari 485 kilometer sementara koridor kereta peluru akan 435 kilometer. Dengan kecepatan kereta, dapat menempuh jarak 145 km dari Mysuru ke Bengaluru hanya dalam 45 menit.