KA Prameks (Prambanan Ekspres) Berhenti Operasi, Ini Dia Sejarahnya

Berhenti beroperasi selamanya membuat para pengguna kereta Prambanan Ekspres atau sering disebut Prameks cukup kehilangan dan sedih. Namun meski begitu kereta Prameks sudah digantikan oleh kereta rel listrik atau KRL yang kini melintas di Yogyakarta menuju ke Solo sehingga mengobati kesedihan pengguna Prameks. Baca juga: KA Kuda Putih, Menapaki Jejak Kereta Rel Diesel Pertama di Indonesia KabarPenumpang.com merangklum berbagai laman sumber, kereta Prameks sendiri pertama kali beroperasi pada 27 tahun lalu atau tepatnya tahun 1994. Kereta ini menempuh jarak sekitar 64 kilometer dan beroperasi menggunakan kereta rel diesel atau KRD. Kereta ini melayani relasi Yogyakarta menuju ke Kutoarjo. Sejarah hingga adanya kereta Prameks adalah layanan kereta api komuter lintas Yogyakarta menuju Surakarta sudah ada sejak 1963 dengan nama Kuda Putih. Ini adalah KRD pertama di Indonesia dan pengoperasiannya dihentikan tahun 1980 karena kurangnya suku cadang. Kemudian lahirlah Prameks yang menggunakan rangkaian kereta yang ditarik lokomotif (1994–1998). Tepatnya pada 20 Mei 1994 Prameks lintas Surakarta–Yogyakarta pertama kali beroperasi dengan menggunakan empat kereta bisnis. Di mana saat itu menggunakan rangkaian kereta Senja Utama Solo yang beroperasi pada malam hari dan ditarik lokomotif diesel dengan tarif Rp2000. Bahkan Prameks yang ditarik lokomotif ini pernah ditambah satu rangkaian kelas eksekutif dengan tarif perjalanan Rp5000. Penggunaan lokomotif pada Prameks hingga tahun 1998 dan saat itu juga diganti menggunakan KRD karena permintaan pelanggan sehingga PT KAI menambah jumlah perjalanan Prameks menjadi lima kali pergi dan pulang dalam sehari. Adanya penggantian rangkaian menjadi KRD dengan seri MCW 302 setelah dilakukan peningkatan daya mesin dari PT INKA. Sayangnya KRD tersebut dianggap uzur karena buatan tahun 1980-an dan Prameks sering mengalami kerusakan sehingga mengakibatkan keterlambatan dalam perjalanannya. Karena hal itu, PT KAI menambah satu rangkaian Kereta Rel Diesel Elektrik (KRDE) prototipe pertama dari PT INKA pada 1 Maret 2006 yang merupakan hasil perbaikan dari KRL BN-Holec (La Brugeoise et Nivelles (BN), Holland Electric Ridderkerk, dan PT INKA) dengan mengganti mesin listrik menjadi mesin diesel. Tahun 2007 rute perjalanan beberapa Prameks diperpanjang hingga Kutoarjo seiring pengoperasian jalur ganda lintas Yogyakarta–Kutoarjo pada 29 September 2007. Dengan bertambahnya lima rangkaian KRDE yang diluncurkan pada 16 Februari 2008, jumlah perjalanan kereta api Prambanan Ekspres lintas Surakarta–Yogyakarta ditingkatkan menjadi sepuluh kali perjalanan pulang-pergi, sedangkan untuk lintas Surakarta–Kutoarjo ditingkatkan menjadi empat kali perjalanan pulang-pergi. Sebelum berhenti beroperasi, Prameks pada Oktober 2020 pengoperasiannya yang sebelumnya dikelola PT KAI beralih ke PT KCI setelah mendapat surat izin pengoperasian dari Kementerian Perhubungan pada 3 Juni 2020. Saat itu pun, penumpang Prameks mulai dikenalkan dengan pembayaran tapping kartu uang elektronik dari bank maupun kartu multi trip milik PT KCI. Baca juga: Prambanan Ekspres, KRD Pertama yang Gunakan Aplikasi KAI Access untuk Pembelian Tiket Hingga akhirnya per 10 Februari 2021, setelah dilakukan elektrifikasi di jalur kereta api lintas Surakarta–Yogyakarta, pengoperasian kereta api Prambanan Ekspres digantikan dengan KRL.

Boeing 777 KLM “Orange Pride” Mangkrak di Beijing Sejak Awal Tahun Baru

0
Sebuah pesawat Boeing 777-300ER milik maskapai KLM dengan livery ‘Orange Pride’ diwartakan mengkrak lumayan lama di Bandara Beijing. Tepatnya sejak awal tahun, pesawat dengan cat oranye dan biru dengan nomer registrasi PH-BVA itu sudah tidak terbang dan seolah ‘terdampar’ nun jauh dari negara asalnya. Baca juga: Robot Katering Mudahakan Pelayanan Udara KLM Tentu yang menjadi fokus perhatian, mengapa pesawat itu belum juga mendapat perbaikan untuk segera diterbangkan ke Belanda? Mengutip dari simpleflying.com, disebutkan bahwa kerusakan mesin yang menjadikan pesawat twin jet ini mendapatkan masalah hingga belum bisa diterbangkan. Dikisahkan pada malam pergantian tahun baru (31/12/2020), pesawat dengan muatan kargo penuh ini sedang dalam penerbangan rutin Shanghai – Amsterdam. Namun, saat pesawat sedang berada di wilayah tenggara Rusia, pesawat mengalami kerusakan mesin sebelah kiri. Walaupun kerusakan mesin bukan perkara ringan, Boeing 777 yang mengudara dengan satu mesin itu lebih memilih untuk terbang kembali Cina, yaitu dengan mendarat di Beijing, ketimbang meminta pendaratan darurat di Rusia. Alhasil dengan satu mesin, pesawat akhirnya bisa mencapai Beijing dengan waktu tiga setengah jam setelah proses divert. Pada saat dilakukan pemeriksaan di darat, bagian pemeliharaan menemukan serpihan logam di detektor chip magnet mesin. Itu jelas menunjukkan masalah yang signifikan, yang membutuhkan mesin pengganti untuk dipasang. Umumnya, penggantian mesin dapat dikirim dalam hitungan hari saja. Menurut pelaporan di Aviation Herald, mesin pengganti Boeing telah diterbangkan ke Beijing pada 11 Januari. Sumber lain dari Luchvaart Nieuws menyebut, karena tidak ada mesin pengganti yang tersedia di Beijing, penggantian tersebut dipindahkan sebagian dengan pesawat kargo. Blog Virgin Atlantic menyatakan bahwa, dari proses awal hingga akhir, proses penggantian mesin jet dapat memakan waktu hingga 24 jam. Bahkan jika itu dibagi hanya pada siang hari saja, maka maksimal tiga hari yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan penggantian mesin. Namun, ada banyak faktor yang rupanya menghambat upaya perbaikan pesawat ini, jawabannya tentu terkait pandemi. Karena pembatasan masuk yang ketat di Cina, aka teknisi KLM tidak dapat bepergian bersama dengan mesin pengganti agar sesuai dengan pesawat. Jika mereka melakukannya, para teknisi akan diminta untuk menghabiskan 10 hari di karantina sebelum dapat mulai bekerja. Baca juga: ETOPS – Sertifikasi Darurat Pesawat Twin Engine Agar Layak Mengudara dengan Satu Mesin Karena alasan di atas, KLM terpaksa mengontrak pekerjaan tersebut ke penyedia jasa lokal. Diputuskan untuk menandatangani kontrak dengan penyedia resmi setempat. Ini adalah perusahaan bersertifikat (dengan hanggar) yang didukung oleh staf teknis KLM E&M lokal dan juga menerima dukungan dari pakar KLM E&M Schiphol. Saat ini, tidak diketahui kapan perbaikan akan selesai atau kapan Orange Pride akan kembali ke Belanda.

Revolve Air, Kursi Roda Lipat yang Bisa Masuk ke dalam Bagasi Kabin

Belum lama ini Andrea Mocellin, seorang desainer senior, menemukan hal baru yakni kursi roda Revolve Air. Kursi roda ini memadukan dua roda 24 inci yang digabungkan berdampingan di sepanjang poros yang sama. Baca juga: Skuter Listrik Tiup Poimo Kini Hadir dalam Versi Custom-Fit, Skuter Bisa Menyesuaikan Badan Komponen kursi roda ini seperti kapsul yang mampu menampung kedua roda saat dilipat. Saat kursi roda akan digunakan, maka kapsul dilepas dan roda dibuka, kemudian kapsul kembali dipasang pada porosnya yang berfungsi sebagai tempat duduk. Dilansir KabarPenumpang.com dari newatlas.com (9/2/2021), bingkai teleskopik dengan satu set kecil roda depan di ujungnya kemudian dilipat ke bawah dari bagian bawah jok atau kapsul. Menurut Mocellin, Revolve Air dapat dilipat dan dibuka dalam waktu yang kurang lebih sama dengan waktu yang diperlukan untuk kursi roda lipat tradisional. Namun, tidak seperti kursi roda lain, ukurannya berkurang 60 persen saat dilipat. Artinya, tas ini dapat dengan mudah dibawa ke pesawat dan disimpan sebagai bagasi kabin di atas kepala. Itu juga bisa dibawa naik kereta api dan bus, atau dilemparkan ke belakang mobil kompak atau taksi. “Kami sedang  mencari mitra bisnis untuk memproduksi rangkaian terbatas kursi roda ini. Seluruh proyek telah dikembangkan dan dibuat prototipe-nya sendiri dengan biaya produksi yang rendah. Pengembangan lebih lanjut dengan mitra potensial akan difokuskan pada pembuatan kerangka yang ringan dan mempertahankan harga yang demokratis agar terjangkau oleh pengguna potensial,” kata Mocellin. Dia menambahkan bahwa prototipe pertama akan disertifikasi pada tahun 2022. Nantinya kursi roda lipat ini akan dihargai sekitar €2 ribu masing-masing (US$2.422), meskipun angka itu masih merupakan perkiraan. Pengguna juga dapat menyewa kursi sesuai kebutuhan, dari kios di lokasi seperti bandara. Sebelum kehadiran Revolve Air model terbaru saat ini, Mocellin pada tahun 2018 telah menghadirkan kursi roda lipat penuh dengan nama Revolve. Pada saat itu, dia telah memasukkan teknologi tersebut ke dalam kursi roda yang dapat dilipat agar muat di dalam area bagasi atas pesawat. Roda itu sendiri memiliki hub pusat, enam struktur aluminium lipat yang menggantikan jari-jari tradisional, dan pelek aluminium yang dibagi menjadi enam bagian yang saling terkait dan masing-masing bagian tersebut dibalut ban panjang berisi busa. Mekanisme penguncian di hub menjaga semuanya tetap aman dalam bentuk roda konvensional, saat sedang digunakan. Baca juga: Kursi Roda Otomatis di Bandara Haneda Bantu Terapkan Jarak Sosial Namun, setelah waktunya untuk menyimpan roda, pelepasan mekanisme tersebut memungkinkan kedua sisi hub menyebar satu sama lain, sehingga “jari-jari” dan bagian pelek dapat dilipat dan disimpan di antara keduanya semacam tulang rusuk payung. Paket yang dihasilkan, yang jelas lebih kompak daripada roda biasa, paling tepat digambarkan sebagai silinder yang menonjol keluar di tengah.

Hari Ini, Jacqueline Auriol ‘Sang Wanita Tercepat’ Pemegang 5 Rekor Dunia Wafat

Hari ini, 21 tahun lalu, bertepatan dengan 11 Februari 2000, Jacqueline Auriol, pemilik lima rekor kecepatan dunia wafat. Selain itu, Jacqueline juga dianugerahi sederet penghargaan, termasuk gelar sebagai wanita tercepat di dunia. Baca juga: Amelia Earhart, Pilot Wanita Pertama di Dunia yang Hilang Misterius! Berhasil Ditemukan Setelah 80 Tahun Dikutip dari encyclopedia.com, wanita yang terlahir dengan nama Jacqueline Douet ini, mulai mencicipi sensasi menerbangkan pesawat pada tahun 1946. Saat itu, ia sudah menjadi keluarga besar presiden, dimana, ayah mertuanya, Vincent Auriol, menjadi orang nomor satu Perancis tak lama setelah ia menikah pada tahun 1938. Sekalipun sudah menjadi kaum borjuis, ia tetap dekat dengan masyarakat dan tentu saja tetap menyalurkan hobinya untuk terbang. Ia bahkan sempat menderita luka parah akibat kecelakaan pesawat SCAN-30 pada tahun 1949 atau setahun setelah mendapat lisensi pilot. Namun, kecelakaan tersebut rupanya menjadi berkah buatnya. Adanya kecelakaan itu, ia jadi lebih bebas untuk mempelajari aljabar, trigonometri, aerodinamika, dan mata pelajaran lain yang diperlukan untuk memperoleh sertifikasi pilot tingkat lanjut. Terbukti, ia pun berhasil mendapatkan lisensi militer dan memenuhi syarat sebagai salah satu pilot uji wanita pertama pada tahun 1950. Dari sinilah lima rekor kecepatan dunia ia gapai. Pada 12 Mei 1951, Auriol melesat dengan kecepatan rata-rata 818 km per jam menggunakan pesawat de Havilland Vampire, dari Istres ke Avignon, Perancis. Ia pun berhasil mencatat rekor wanita tercepat di dunia, menggusur pemegang sebelumnya, Jacqueline Cochran dari Amerika Serikat. Di tahun-tahun berikutnya, ia terus berkarya dan memecahkan rekor wanita tercepat di dunia atas namanya sendiri dan kompetitor. Pada tanggal 21 Desember 1951, ia berhasil mencapai kecepatan 855 km per jam saat menerbangkan Sud-Est Mistral, pesawat pengembangan dari de Havilland Vampire buatan Perancis dengan mesin Hispano-Suiza Nene. Tiga tahun berselang, atau tepatnya pada tanggal 31 Mei 1955, Auriol memecahkan rekor bersama pesawat Dassault Mystère IVN dengan kecepatan rata-rata 1.151 km per jam. Berbeda dengan dua rekor sebelumnya (trek sirkuit), rekor kali ini digapai pada kategori trek lurus sejauh 15-25 km, yang sebelumnya dipegang oleh Jacqueline Cochrane. Pada 22 Jun 1962, ia berhasil menerbangkan Dassault Mirage IIIC di kecepatan rata-rata 1.850 km per jam di sirkuit tertutup 100 km, merebut kembali rekor wanita tercepat di dunia dari tangan Jacqueline Cochran. Deretan rekornya pun ditutup pada tanggal 14 Jun 1963. Saat itu, ia menerbangkan Dassault Mirage IIIR dan berhasil mencapai 2.038 km per jam, merebut kembali rekor wanita tercepat di dunia pada kategori sirkuit tertutup 100 km dari tangan Jacqueline Cochran, yang notabene berhasil melampaui capaian Auriol sebelumnya, pada Mei 1963, meskipun berhasil direbut kembali Auriol sebulan setelahnya. Sayangnya, saat Auriol berhenti terbang dan memecahkan rekor wanita tercepat di dunia, Jacqueline Cochran masih terus terbang dan berhasil sedikit melampaui Auriol di kecepatan 2.097 km per jam pada 1 Juni 1964, di kategori sirkuit tertutup 100 km menggunakan Lockheed F- 104G Starfighter. Baca juga: Deborah Lawrie, 67 Tahun, Pilot Wanita Tertua yang Masih Aktif di Maskapai Komersial Sampai sebelum ajal menjeput, Auriol setidaknya sudah mendapat sederet penghargaan, seperti penghargaan Piala Harmon, pada tahun 1951, 1952, 1953, dan 1956, diangkat menjadi perwira tinggi oleh Légion d’honneur, diangkat menjadi grand-croix oleh Ordre national du Mérite pada tahun 1997, serta penghargaan sebagai Elang pada tahun 1992 sebagai wujud wanita tercepat di dunia. Usai wafat, ia kembali menerima penghargaan terakhir dari Perancis, dimana pemerintah mengeluarkan perangko €4,00 bergambar dirinya sebagai suatu kehormatan tertinggi negara kepadanya.

Pelayanan Rumah Makan Minang dan Karakter Penumpang, Jadi Sebab Bus AKAP Lintas Sumatera Tak Sediakan Makan

Pernah naik bus antar kota antar provinsi (AKAP)? Apa yang Anda dapatkan selain kenyamanan di dalam bus selama perjalanan? Salah satunya bila menggunakan bus AKAP sering ada bar kecil, di mana penumpang bisa membuat kopi atau mengisi tempat minum mereka. Baca juga: Pemberian Kupon Makan oleh PO Bus, Bagaimana di Bulan Ramadhan? Selain itu ada lagi yakni servis atau pelayanan makan ketika bus beristirahat di restoran yang sudah ditentukan. Hal ini karena perusahaan otobus atau PO bekerja sama dengan restoran tersebut. Sehingga penumpang tidak kelaparan ketika akan melanjutkan perjalanan.
Bus AKAP MPM sempat sediakan makan penumpang selama Februati tahun lalu
Bahkan para pengusaha PO berlomba-lomba menyediakan fasilitas makan gratis dengan tarif harga yang bersaing. Nah biasanya pelayanan makan ini sudah termasuk dalam harga tiket bus. Namun tahukah Anda bahwa pelayanan makan ini hanya ada di bus AKAP di Pulau Jawa saja? Penasaran mengapa? KabarPenumpang.com mengutip dari kompas.com bahwa bus AKAP yang mengangkut penumpang Lintas Sumatera tidak mendapatkan pelayanan makan karena berbeda dibandingakn Pulau Jawa. Di mana para penumpang harus membayar makanan mereka sendiri ketika bus berhenti untuk isitrahat di rumah makan. Direktur Utama PO SAN Kurnia Lesani Adnan mengatakan, bahwa pelayanan rumah makannya adalah rumah makan minang sehingga akan sulit bila dilakukan pola prasmanan. Bahkan bukan hanya itu, ini karena karakter dari penumpang bus AKAP Lintas Sumatera berbeda dibandingkan di Pulau Jawa. “Kalau di Jawa kan servisnya dijatah. Sedangkan di Sumatera, biasanya penumpang suka milih lauknya,” ucap Asrul Arifin Siregar Anggota Forum Bismania Indonesia. Selain itu, perlu diperhatikan kalau harga makanan di restoran saat di Sumatera agak lebih mahal. Jika ingin berhemat, bisa mencari alternatif lain seperti warung-warung di sekitar rumah makan saat bus beristirahat. Namun ternyata salah satu PO yakni PO Mutia Putri Mulia (MPM) yang berkantor cabang di Padang, Sumatera Barat sempat memberikan promo tambahan pada tahun 2020 lalu yakni memfasilitasi makan gratis selamam bulan Februari tahun lalu. Saat itu seluruh penumpang bus MPM yang berangkat dari Lubuk Basung-Sungai Limau-Pariaman-Pauh Kamba-Padang-Solok, kemudian Payakumbuh-Bukittinggi-Padang Panjang-Batusangkar-Solok akan mendapat nasi bungkus gratis saat tiba di Terminal Bareh Solok. Baca juga: Inilah Rumah Makan Favorit Khas Bus AKAP di Sepanjang Pantura Selain itu, untuk rute sebaliknya, pemberangkatan dari Bandung-Sadang-Klari-Bekasi-Jati Asih-Pulo Gebang, kemudian Bogor-Depok-Kp Rambutan-Lebak Bulus-Kalideres-Poris, saat tiba di Merak, seluruh penumpang akan mendapat Makan Prasmanan gratis di Rumah Makan Darma Raya.

10 Maskapai dan Rute Narrowbody Jarak Jauh Terbesar di Dunia, Ada Maskapai Indonesia?

Virus Corona memang betul-betul mengubah industri penerbangan global. Bulan April lalu, Bandara Internasional Ted Stevens Anchorage (ANC), yang lokasinya terpencil di Negara Bagian Alaska, Amerika Serikat (AS), justru dinobatkan sebagai bandara tersibuk di dunia. Baca juga: Sambut Perayaan Satu Abad, Qantas Layak Bangga Jadi Maskapai Teraman di Dunia Sekalipun mayoritas didominasi penerbangan kargo, tetap saja, gelar bandara tersibuk di dunia yang dinobatkan kepadanya terasa aneh dan sudah pasti ini terjadi karena pengaruh perubahan penerbangan global akibat Covid-19. Tak cukup sampai di situ, keanehan lain juga terungkap baru-baru ini. Dari data anna.aero, diketahui rute pesawat narrowbody jarak jauh terpopuler di dunia tahun 2021, dengan jarak di atas 4.500 km, justru didominasi oleh Amerika Latin. Dari 10 daftar rute pesawat narrowbody jarak jauh, enam di antaranya ada di Amerika Latin, mulai dari Panama City-Sao Paulo, Panama City-Santiago, Bogota-Rio de Janeiro, Montevideo-Panama City, Panama City-Rio de Janeiro, dan Buenos Aries-Panama City. Menariknya, kecuali Buenos Aries-Panama City yang menempati posisi ke-10, rute-rute tersebut berturut-turut menempati posisi teratas. Padahal, dalam kondisi normal di tahun-tahun sebelumnya, rute-rute Amerika Utara cukup mendominasi. Namun di tahun 2020 lalu, rute Amerika Utara yang masuk dalam daftar tersebut dan bertengger di urutan keenam adalah Chicago – Anchorage yang dioperasikan oleh United Airlines, Alaska Airlines (menggunakan Boieng 737), dan American Airlines (menggunakan A321neo), Los Angeles-Panama City di urutan kedelapan, serta Keflavik-Seattle di urutan ke-sembilan yang dioperasikan oleh Icelandair. Bila dilihat dari salah satu kota tujuan, itu berarti sembilan dari 10 daftar rute pesawat narrowbody jarak jauh, sembilan di antaranya melibatkan Benua Amerika. Satu-satunya rute non-Amerika adalah Mumbai-Nairobi yang menempati posisi ketujuh dengan jumlah kursi yang terjual sebanyak 100 ribu lebih, jauh tertinggal dari posisi teratas yang mencapai nyaris 500 ribu. Untuk daftar 10 maskapai narrowbody jarak jauh terbesar di dunia di tahun berjalan 2021 ini diraih oleh Copa Airlines. Maskapai LCC asal Brazil itu sudah menerbangkan sekitar 2 juta penumpang (28 persen dari total kursi yang terjual), menggunakan armada all-Boeing (termasuk 737 MAX 9) di rute-rute, seperti Panama City (PTY) ke Montevideo (MVD), Buenos Aries, dan Rio de Janeiro. Rute PTY-MVD bahkan berjarak 5.447 km atau hampir menyentuh maksimum range Boeing 737-800 yang digunakan maskapai, yaitu sejauh 5.765 km. Disebutkan, Copa Airlines mengungguli United Airlines, Turkish Airlines, Icelandair, Avianca, Alaska Airlines, dan Delta Airlines di posisi kedua sampai ketujuh. Sedangkan untuk posisi kedelapan sampai ke-10, berturut-turut diisi oleh Kenya Airways, GOL Linhas Aéreas Inteligentes, dan TUI. Baca juga: Terbang Lintas Benua! Inilah 10 Rute Terpanjang Penerbangan Non Stop Komersial Maskapai yang menempati posisi pertama sampai keempat, serta posisi ketujuh mungkin tidaklah asing. Sebab, di tahun-tahun sebelumnya maskapai tersebut selalu masuk dalam 10 besar. Namun, sisanya adalah nama-nama baru, menggeser nama-nama lama, yang salah satunya datang dari Indonesia. Di tahun 2018, maskapai asal Indonesia, Citilink, sempat masuk ke dalam daftar 10 maskapai yang menerbangkan pesawat narrowbody jarak jauh terbesar di dunia. Maskapai LCC anak perusahaan dari Garuda Indonesia ini, saat itu berhasil menempati di posisi kedelapan. Capaian itu diraih Citilink berkat rute gemuk mereka, Denpasar-Sydney sejauh 4.744 km.

Kabar Baik, Rolls-Royce Mulai Uji Mesin 100 Persen Ramah Lingkungan!

Sebagai bagian dari target menggunakan 100 persen bahan bakar ramah lingkungan pada 2050 mendatang atau wujud dari dukungan Kesepatan Hijau Eropa (European Green Deal), Rolls-Royce dikabarkan telah memulai uji kelayakan mesin jet bisnis Pearl 700 baru berbahan bakar ramah lingkungan (SAF). Baca juga: Rugi Rp104 Triliun, Rolls Royce PHK 9 Ribu Karyawan dan Jual Enam Pabrik Uji kelayakan tersebut dilakukan di Dahlewitz, Jerman, tempat dimana keluarga mesin turbofan Rolls-Royce BR700 diproduksi, menjadi uji kelayakan kedua setelah sebelumnya dilakukan dengan mesin Trent 1000 yang lebih besar di Derby, Inggris. Dilansir New Atlas, saat ini, perjalanan udara disinyalir menyumbang antara 2-3 persen dari emisi karbon dunia per tahun, tetapi persentase untuk itu setara dengan 4,5 miliar perjalanan penumpang, pergerakan 64 juta metrik ton kargo dan sepertiga dari perdagangan global dunia. Di samping itu, penerbangan juga menopang 65 juta pekerjaan. Sebetulnya, di Bandara Zurich, Swiss, sudah menyediakan bahan bakar berkelanjutan atau ramah lingkungan yang dapat menyuplai pesawat. Namun, kendala logistik, harganya yang mencapai 3-4 kali lipat dari bahan bakar konvensional, serta ekosistem bisnis pendukungnya yang belum tersedia, membuat maskapai belum bisa beralih sepenuhnya dari bahan bakar konvensional. Menyikapi hal itu, bahan bakar berkelanjutan atau bahan bakar ramah lingkungan yang digunakan dalam uji kelayakan mesin Rolls-Royce berasal dari berbagai sumber, seperti limbah padat perkotaan, limbah selulosa dari industri kehutanan, minyak goreng bekas, tanaman energi yang mencakup commelina, jatropha atau jarak pagar, halofit, dan alga, serta bahan bakar non-biologis seperti gas limbah dari pabrik baja. Teknisnya, bahan bakar ramah lingkungan di atas hanya perlu ditambahkan -dengan takaran tertentu- ke dalam bahan bakar fosil atau konvensional. Dengan begitu, tidak dibutuhkan perubahan infrastruktur besar-besaran yang selama ini dikeluhkan pelaku bisnis. Uji kelayakan Rolls-Royce kemarin menggunakan SAF yang diproduksi oleh World Energy di Paramount, California, untuk Shell Aviation. Menurut Rolls-Royce, bahan bakar baru ini berpotensi mengurangi emisi karbon dioksida hingga lebih dari 75 persen, dan bahkan bisa mencapai 100 persen saat disempurnakan nanti. Meski bahan bakarnya sudah bisa mengurangi lebih dari 50 persen karbon dioksida, tetap saja, penggunaannya tidak bisa maksimal. Sebab, regulator penerbangan sipil di dunia rata-rata hanya mengizinkan campuran SAF atau bahan bakar berkelanjutan ke dalam bahan bakar fosil sebesar 50 persen. Baca juga: Lima Alternatif Pengganti Bahan Bakar Fosil Pesawat di Masa Depan, Nomor Dua Aneh! Nantinya, saat pengujian menunjukkan hasil maksimal dan aman untuk penerbangan -bukan hanya untuk lingkungan- SAF akan diizinkan untuk 100 persen digunakan sebagai campuran bahan bakar fosil di setiap pesawat. “Bahan bakar penerbangan yang berkelanjutan memiliki potensi untuk secara signifikan mengurangi emisi karbon mesin kami dan menggabungkan potensi ini dengan kinerja luar biasa dari rangkaian mesin Pearl kami membawa kami selangkah lebih dekat untuk memungkinkan pelanggan kami mencapai emisi karbon nol (zero carbon emission),” kata Joerg Au, Chief Engineer Business Aviation and Engineering Director Rolls-Royce Deutschland.

Terimbas Pandemi, Mantan Pramugari Air New Zealand dalam Setahun 4 Kali Pindah Kerja

Sepuluh bulan sejak Selandia Baru menerapkan lockdown, imbas virus Corona masih sangat terasa. Seperti yang dirasakan oleh seorang pramugari yang sudah hampir setahun tak lagi terbang dengan maskapai. Pramugari tersebut bernama Sarah Jones yang telah berpindah kerja empat kali dalam setahun ini. Baca juga: Brigita Jagelaviciute, Mantan Pramugari Emirates yang Mengaku Jenuh Pada Rutinitas Sejak dirinya tak lagi berstatus sebagai seorang pramugari, dirinya pernah bekerja menumpuk rak di supermarket dan kini berpindah ke dunia real estate. Dia bekerja sebagai administrator manajer properti untuk Barfoot dan Thompson mungkin tampak jutaan mil dari kabin Air New Zealand, tetapi peran tersebut membutuhkan keterampilan yang berfokus pada pelanggan, kata Aucklander yang berusia 26 tahun. “Di Air New Zealand Anda sangat terlatih, setiap enam bulan Anda dilatih dan ada pengarahan harian dengan semua kru,” ujar Sarah. Sarah mengatakan, pekerjaan kantoran merupakan kejutan budaya tersendiri. Selain tugas singkatnya di Countdown, lima tahun bersama Air New Zealand cukup banyak yang diketahui Jones tentang dunia kerja. “Anda berusia 26 tahun, orang menganggap Anda tahu cara melakukan sesuatu – tetapi saya bahkan tidak tahu cara menggunakan printer,” kata Sarah yang dikutip KabarPenumpang.com dari stuff.co.nz (8/2/2021). Air New Zealand mulai mempekerjakan kembali awak kabin pada Januari lalu karena bersiap untuk perjalanan bebas karantina dan persyaratan perbatasan yang lebih ketat. Tapi hingga saat ini Sarah tidak berpikir dia akan kembali ke ‘langit’ dalam waktu dekat. Baca juga: Mantan Pramugari ‘Buka Kartu’, Ternyata Maskapai Atur Penggunaan Pakaian Dalam Sebagai permulaan, maskapai ini mempekerjakan kembali dalam urutan senioritas, jadi dia tidak akan menjadi yang pertama dari peringkat dan karena dia mengambil redundansi sukarela, dia tidak ada dalam daftar untuk dipanggil kembali. “Jika saya akan kembali, saya harus melamar kembali seperti orang normal,” jelasnya.    

JR East Hadirkan Kompartemen ‘Kantor’ pada Kereta Cepat Shinkansen Tohoku

Ketika perusahaan mengurangi pekerja yang masuk ke kantor, maka bekerja di mana saja sepertinya menjadi hal baru pada masa pandemi saat ini. Bahkan ada tempat wisata, hotel maupun villa yang diubah menjadi workcation demi memenuhi kebutuhan para pekerja yang mengerjakan pekerjaan mereka di luar kantor. Baca juga: “Workcation,” Pilihan Para Pekerja di Jepang Selama Pandemi Baru-baru ini bahkan East Japan Railway Company (JR East) ikut andil membuat ruang kantor untuk penumpang mereka. JR East memulai uji coba pada kereta peluru shinkansen tertentu yang diubah menjadi ruang kantor penumpang karena minat dalam pekerjaan jarak jauh tumbuh di Jepang pada Senin (1/2/2021). Dengan kehadiran ruang kantor ini, penumpang dapat pindah ke gerbong yang sudah ditentukan dan tanpa dikenai biaya tambahan di beberapa kereta shinkansen Tohoku antara Tokyo dan kota-kota utara. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman japantimes.co.jp (1/2/2021), JR East mengatakan, penumpang akan diizinkan untuk berbicara melalui telepon mereka yang tidak dianjurkan di sepanjang perjalanan kereta dan mengadakan rapat secara online. “Saya pikir ini adalah inisiatif yang baik karena saya berhati-hati agar tidak membuat suara saat menekan keyboard di gerbong biasa,” kata Shinya Ogata, seorang eksekutif perusahaan berusia 43 tahun yang melakukan perjalanan ke Prefektur Iwate, di dalam mobil khusus tersebut. JR East berencana untuk mempelajari permintaan dan peralatan apa yang diperlukan selama uji coba, mengamati lingkungan komunikasi yang sebanding dengan di tempat kerja. JR East menambahkan, rangkaian kereta itu memiliki sistem penyamaran suara untuk memastikan privasi, dan peralatan telekomunikasi seperti router jarak jauh akan tersedia. Untuk mencegah penyebaran virus corona baru, diperlukan pemakaian masker dan akan menyediakan tisu beralkohol. Baca juga: Flying Cloud 30FB Gantikan Trailer Jadi Tempat Kerja Baru Selama Pandemi Di kereta peluru yang berangkat dari Stasiun Tokyo pada Senin pagi, sebuah pengumuman menyerukan partisipasi dalam uji coba dan beberapa penumpang pindah ke gerbong yang ditunjuk dengan membawa laptop mereka dan mulai bekerja.

Mengapa Maskapai Gunakan Livery Khusus? Inilah Jawabannya

Industri penerbangan bisa dibilang ialah bisnis mahal yang hari demi hari selalu dihiasi dengan berbagai pemberitaan, baik teknologi, regulasi, inovasi, layanan, dan sebagainya. Menariknya, semua rantai binsis industri penerbangan seolah mengerucut di sebuah pesawat. Baca juga: Tandai 2 Tahun Menuju Piala Dunia 2022, Pesawat Qatar Airways Gunakan Livery Spesial
Wizz Air menggandeng selebriti asal Inggris, Gemma Collins, untuk dongkrak kembali penerbangan pasca Covid-19. Foto: Wizz Air via Simple Flying
Penumpang pesawat pada umumnya tidak begitu memperhatikan pesawat memakai mesin apa, flight control dari perusahaan mana, landing gear, kursi, dan lain sebagainya. Tetapi, mereka peduli soal pesawat apa yang mereka gunakan. Singkatnya, pesawat menjadi ujung tombak rantai bisnis industri penerbangan yang sebetulnya sangat luas. Karenanya, jangan heran bila sebuah pesawat sampai harus dicat khusus atau menggunakan livery spesial karena posisi gentingnya. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) pada tahun 2018, pernah memprediksi bahwa jumlah penumpang yang bepergian melalui udara akan mencapai 8,2 miliar pada tahun 2037. Meski sempat turun akibat diterjang wabah virus Corona menjadi hanya sekitar 1,8 miliar sepanjang 2020 lalu, jumlah penumpang diperkirakan akan kembali tumbuh menjadi 2,8 miliar pada 2021, jauh dari angka sebelum pandemi Covid-19 yang mencapai 4,5 miliar penumpang.
Livery Piala Dunia 2022 Qatar Airways. Foto: Qatar Airways
Diperkirakan, paling cepat, jumlah penumpang akan kembali ke titik itu pada 2024 mendatang, dimana penerbangan domestik akan lebih dahulu kembali normal dibanding penerbangan internasional. Meski industri penerbangan sedang tidak sehat akibat pandemi virus Corona, namun, dengan miliaran penumpang per tahun tetap saja pesawat jadi menarik bukan hanya untuk mengangkut penumpang, melainkan jadi wadah maskapai meluncurkan livery spesial. Dilansir Simple Flying, begitu banyak contoh maskapai yang menggunakan livery khusus pada pesawat-pesawat mereka. United Airlines, misalnya, pada tahun 2019 memakaikan livery Star Wars di salah satu Boeing 737-nya untuk membantu promosi film terlaris sepanjang masa di Amerika Serikat dan Kanada itu.
Livery spesial Emirates bertema Real Madrid. Sumber: youtube
Selain United Airlines, livery khusus juga pernah diluncurkan South African Airways bertema tim olimpiade 2012 Afrika Selatan, Aer Lingus bertema tim rugby nasional Irlandia, Eurowings bertema Europa-Park (taman bermain terbesar di Jerman), Hi Fly bertema Save The Coral Reefs, Emirates bertema klub sepak bola terkaya di dunia Real Madrid, Delta Airlines bertema Sky Team, American Airlines bertema One World, Garuda Indonesia bertema kampanye pakai masker, serta banyak lagi. Terlepas dari perbedaan livery spesial masing-masing maskapai, sebetulnya apa alasan dibalik semua itu? Di antara berbagai alasan, seperti memperindah pesawat dan mendapat perhatian publik, faktor bisnis tentu menjadi yang terbesar. Livery spesial pada pesawat tentu mengutungkan kedua belah pihak. Maskapai mendapat sejumlah uang dari pihak kedua dan pihak kedua mendapat jaminan bahwa upaya promosinya berjalan lancar dengan jangkauan luas. Di masa lalu, tepatnya pada tahun 1996, sebagai upaya untuk rebranding strategi bisnis perusahaan, Pepsi sampai rela menggelontorkan uang hampir US$500 juta atau setara Rp 7 triliun (kurs 14.140) untuk melihat pesawat supersonik fenomenal Concorde menggunakan livery spesial perusahaan.
Pesawat Airbus A330-900 Neo dengan spesial livery bermasker. Foto: Istimewa
Baca juga: Intip Livery Pepsi di Pesawat Concorde Seharga Rp 7 Trliun Lebih Bila jumlah tersebut saja, di masa kini, masih tergolong besar apalagi di tahun dimana kesepakatan tersebut terjadi. Tak ayal, media-media di dunia menyorot tajam kesepakatan kontrak tersebut dan beberapa di antaranya melabeli Pepsi sebagai perusahaan yang cukup berani sekaligus putus asa hanya untuk sebuah rebranding. Pepsi memang kehilangan uang sebesar itu, namun, popularitas tinggi Concorde tentu memudahkan upaya promosi Pepsi. Terbukti, sejak saat itu, didukung stategi promosi lainnya, Pepsi sukses melakukan rebranding dan terus dikenal sampai saat ini, dengan brand berwarna biru kombinasi putih dan merah.