Penumpang pesawat di seluruh dunia disebut menginginkan adanya sekat partisi di kabin. Sekalipun pesawat modern sudah dilengkapi dengan filter udara HEPA, namun, penumpang membutuhkan aksi nyata dari maskapai sebagai bentuk kepedulian mereka terhadap keamanan dan keselamatan di dalam kabin.
Baca juga: (1) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 8 Paling Canggih
Lagi pula, tak semua penumpang percaya teknologi canggih semacam HEPA dan lebih mengkhawatirkan Covid-19 itu sendiri. Setidaknya, begitulah pandangan dari para petinggi maskapai penerbangan di dunia.
Dilansir Traveller, dalam konferensi MRO Asia-Pacific yang dihelat secara daring belum lama ini, pandemi virus Corona memang membuat maskapai udara disusupi kenormalan baru.
Selain membuat barrier atau sekat partisi di kabin, pandemi juga mendorong beberapa perubahan seperti adanya lebih banyak kursi kelas bisnis sekalipun di pesawat narrowbody, menambahkan fitur toilet tanpa sentuhan, serta konversi kabin/pesawat penumpang menjadi kargo.
Kebutuhan sekat partisi atau perisai di pesawat saat ini sedang menjadi salah satu fokus utama produsen pesawat global. Embraer, misalnya, dikabarkan sedang sibuk menyelesaikan studi tentang penggunaan sekat plastik reusable dan sekali pakai untuk seluruh jet regionalnya.
Menurut Lais Port Antunes, manager pengembangan bisnis Asia-Pasifik Embraer, tantangan untuk itu ialah bagaimana membuat sekat plastik itu ringan, tidak mudah terbakar, tidak menyulitkan proses pembersihan, dan evakuasi saat terjadi keadaan darurat.
Senada dengan Antunes, Tan Hean Seng, salah satu petinggi Singapore Technologies Engineering, menyebut, “Dengan adanya pelindung di antara kursi, penumpang dapat merasa lebih aman, terutama pada waktu makan saat penumpang melepas masker dan ada potensi kontaminasi.”
Selain produsen pesawat, perusahaan interior pesawat sebetulnya sudah sejak lama coba menawarkan solusi sekat partisi dengan beragam bahan, model, dan bentuk. Namun, tujuannya tetap sama, membatasi droplet langsung antar penumpang.
Aviointeriors, misalnya, meluncurkan desain sebuah kursi penumpang ‘anti’ corona sejak April lalu. Perusahaan yang fokus memproduksi produk-produk interior pesawat dan kursi penumpang ini menawarkan solusi aman dari corona saat di kabin dengan menambahkan semacam akrilik ke setiap kursi yang mengapit penumpang.
Desain yang disebut Glassafe tersebut diklaim mampu membatasi kontak langsung dengan penumpang yang disebelahnya (kiri dan kanan untuk kursi di bagian tengah). Bila diperhatikan lebih detail, sebetulnya konsep seperti itu sudah mulai diberlakukan di banyak sektor, mulai dari perbankan, percetakan, dan beberapa sektor lainnya yang memungkinkan adanya kontak langsung antara klien dan petugas dalam jarak kurang dari satu atau satu setengah meter.
Baca juga: (2) 15 Inovasi Interior Cegah Penyebaran Covid-19 di Pesawat, Nomor 12 Dinilai Paling Aman
Serupa tapi tak sama, cocoon concept juga menawarkan keamanan lebih saat di kabin. Konsep desain interior yang juga disebut Priva buatan Golnoosh Torkashvand, mahasiswi Florida Institute of Technology, AS, ini dinilai mampu membatasi transmisi penyebaran virus corona agar tak meluas antar penumpang yang duduk berdampingan. Bentuknya nyaris menyerupai tabung yang menutupi sebagian tubuh bagian atas penumpang.
Menariknya, bukan hanya melindungi penumpang, sekat partisi Priva juga dapat bernilai artistik dengan perubahan warna pada sekat sesuai permintaan. Begitupun juga dengan tingkat pencahayaannya. Tak lupa, inovator juga menyisipkan fitur yang dapat membuat sistem messenger antara pengguna di setiap kursi dengan pramugari.
India mulai mengambangkan taksi air dan Departemen Transportasi Air Negara Bagian (SWTD) dari Alappuzha di Kerala, India meluncurkannya pada 15 Oktober 2020. Menteri Utama Pinarayi Vijayan meresmikannya pukul 11.30 waktu setempat melalui konferensi video.
Baca juga: Taksi Air Thunder, Gaya Baru Menyusuri Kanal di VenesiaKabarPenumpang.com melansir timesofindia.indiatimes.com (14/10/2020), Direktur SWTD Shaji V Nair mengatakan, ini adalah layanan taksi air pertama di India dan akan dioperasikan dari Dermaga perahu Alappuzha. Orang bisa menyewa taksi dari mana saja di distrik Alappuzha tersebut.
Tarif taksi ini per jamnya cukup mahal yakni Rs1500 atau sekitar Rp301 ribu. Rute taksi air dapat mencapai Kottayam dari Alappuzha dalam waktu satu jam. Nair mengatakan, saat ini orang dapat menyewa taksi di jalan raya jika mereka tidak punya waktu untuk bepergian dengan bus atau kereta api.
Tetapi mereka tidak memiliki opsi taksi seperti itu di perairan dan operator kapal swasta mengenakan tarif yang tinggi. Sehingga taksi air ini akan menjadi anugerah bagi masyarakat untuk mencapai tujuan mereka melalui jalur air.
“ Taksi air dapat dengan mudah mencapai tujuannya karena tidak akan ada halangan lalu lintas di jalur air. Jika seseorang ingin mencapai sebuah rumah di Kuttanad saat ini, mereka harus melakukan perjalanan dengan perahu SWTD yang berhenti di hampir semua dermaga perahu dan mereka juga perlu berjalan jauh dari dermaga perahu ke rumah mereka. Tapi taksi air akan menurunkan penumpang kami di depan pintu rumah-rumah di Kuttanad tanpa berhenti di mana pun. Layanan taksi air juga akan memberikan pengalaman berbeda bagi para wisatawan,” kata Nair.
Dia menjelaskan, bagi masyarakat yang akan menggunakan layanan taksi air, mereka bisa menghubungi 9400050325,9400050322. Nair menambahkan, sebuah kapal katamaran yang digunakan untuk taksi air bertenaga diesel dengan kapasitas tempat duduk untuk sepuluh penumpang.
Kapal bermesin diesel tempel berkekuatan 250 kuda yang didatangkan dari Swedia ini dapat melaju dengan kecepatan maksimum 19 knot (35 km per jam). Ini memiliki power steering listrik. Kapal juga memiliki panel surya di atasnya untuk memenuhi semua kebutuhan daya termasuk lampu, kipas angin, dan sistem kontrol.
Baca juga: Urai Konsentrasi Kepadatan Lalu Lintas Darat, Phnom Penh Hadirkan Layanan Taksi Air Perdananya!
Selain itu, taksi air di Alappuzha, tiga taksi air lagi akan segera diluncurkan. Di mana layanan taksi air kedua diharapkan akan diluncurkan di Ernakulum pada November mendatang.
Bandara Lyon – Saint Exupéry, yang dikelola oleh Bandara Vinci menggunakan sistem baru untuk pengenalan wajah. Di mana sistem bernama Mona ini memungkinkan penumpang melewati pos pemeriksaan bandara yang berbeda yakni tanpa kontak fisik.
Baca juga: Menjadi yang Pertama di Australia, Bandara Melbourne Hadirkan eGate dan Smart SecurityKabarPenumpang.com melansir schengenvisainfo.com (14/10/2020), sistem baru pengenalan wajah tersebut diresmikan oleh Ketua dan CEO Vinci Xavier Huillard dan CEO Konsesi Vinci dan Presiden Bandara Vinci, Nicolas Notebaert, di Pusat Keunggulan Inovasi Bandara Vinci yang berbasis di bandara Lyon-Saint Exupéry, Perancis.
“Dengan Mona, Bandara Vinci meluncurkan bandara pertama di dunia yang menambahkan dimensi baru pada pengalaman bandara. Di saat teknologi nirkontak terbukti semakin penting, dan personalisasi menjadi norma, jaringan kami sekali lagi membuktikan bahwa ia dapat terus mengubah dirinya,” kata Notebaert.
Kehadiran Mona tersebut, menjadikan Bandara Vinci sebagai operator bandara pertama di seluruh dunia yang menguji perjalanan biometrik dari rumah ke pesawat. Tak hanya itu, sistem Mona membuat penumpang berhak membuat akun pelanggan, hanya dengan mengunduh aplikasi di ponsel cerdas mereka, yang akan membantu mereka mendapatkan semua manfaat sistem, tanpa biaya.
Penggunaan teknologi pengenalan wajah memungkinkan pengguna Mona melewati berbagai pos pemeriksaan di bandara, hanya dengan menunjukkan wajah mereka. Selain itu, Mona menawarkan kepada pelanggannya kemungkinan untuk memberikan informasi tentang penerbangan dan masalah serupa secara real-time.
Ini juga memungkinkan penggunanya untuk menikmati sejumlah pengalaman dan layanan yang dipersonalisasi.
“Mona dibangun di sekitar sistem yang menggunakan data biometrik dan pemasaran relasional. Tunduk pada persetujuan dari badan perlindungan data Perancis, CNIL, layanan baru ini menerapkan rekomendasi terbaru yang dibuat oleh badan tersebut untuk menawarkan kepada penumpang jaminan sekuat mungkin bahwa hak dan privasi mereka akan dilindungi,” ujar pernyataan dari Bandara Vinci.
Untuk saat ini, sistem baru menawarkan layanannya untuk penumpang yang bepergian melalui bandara Lyon ‑ Saint Exupéry menggunakan Transavia dan TAP Air Portugal, dan diluncurkan untuk masa percobaan satu tahun. Ini bukan niat pertama untuk menciptakan sesuatu yang akan memfasilitasi pekerjaan orang, melalui program kecerdasan buatan di bandara Uni Eropa.
Baca juga: Vision-Box Hadirkan Teknologi Identitas Digital dengan Biometrik Canggih di Bandara
Sebelumnya pada 2018, diumumkan bahwa program kecerdasan buatan baru, dengan wajah avatar, sedang dibuat untuk membantu menjaga perbatasan Eropa. Program iBorderCtrl Uni Eropa rencananya akan digunakan untuk mendeteksi jika seseorang berbohong tentang siapa mereka, tujuan masuknya serta tujuan mereka. Selain itu, European Border and Coast Guard Agency (Frontex), pada 2018 telah menguji teknologi pemeriksaan perbatasan baru yang disebut “Biometrics on the Move” yang ditetapkan di Lisbon Airport Authority (ANA), bersama dengan Border Service Portugal (SEF ). Teknologi “Biometrics on the Move” dianggap sebagai masa depan kontrol perbatasan Uni Eropa.
Meski tengah mendapat tekanan berat akibat merosotnya pendapatan akibat pandemi Covid-19, rupanya Otoritas Pengelola Bandara Changi tak lantas jadi kendor untuk memajukan pelayanan di bandara tersibuk di Asia tersebut. Belum lama ini Bandara Changi menghadirkan sesuatu hal yang berbeda yakni adanya replika dinosaurus di sepanjang jalur sepeda. Jalur ini baru dibuka dan akan menghubungkan Bandara Changi dengan East Coast Park, sehingga memungkinkan pengunjung yang bersepeda atau berjongging ke bandara untuk pertama kalinya.
Baca juga: Pandemi Tak Kunjung Berakhir, Bandara Changi Mulai Hadapi Masa SulitKabarPenumpang.com mengutip dari straitstimes.com (11/10/2020), replika dinosaurus tersebut berada di rute dengan panjang 3,5 km. Ada sekitar 20-an replika dinosaurus dari Tyrannosaurus Rex atau disebut T-Rex dengan tinggi menjulang hingga trio velociraptors.
trio velociraptors di jalur sepeda Bandara Changi (straitstimes.com)
Dikatakan oleh Changii Airport Group atau CAG, jalur baru ini akan menawarkan rute alternatif menuju ke bandara. Selain itu, jalur tersebut menjadi pilihan rekreasi baru bagi warga Singapura. CAG menambahkan, dibukanya Changi Airport Connector mebuat bandara kini terhubung dengan Park Connector Network yang lebih besar di timur seperti Changi Beach Park dan Bedok Rservoir.
Sebelumnya, jalur pejalan kaki ke bandara yang paralel dengan jalan Airport Boulevard tidak tersedia. Proyek ini memakan waktu sekitar tiga tahun dari konseptualisasi hingga penyelesaian, dan dilakukan dengan dukungan dari National Parks Board dan Singapore Tourism Board. Menteri Transportasi Ong Ye Kung meresmikan pembukaan konektor pada hari Minggu di awal Changi Jurassic Mile, setelah dia bersepeda dari East Coast Park. Untuk diketahui, sejauh satu kilometer, akan ada pameran replika dinosaurus dan jalur ini gratis dilintasi.
Namun pada hari Jumat hingga Minggu, pengunjung harus melakukan pemesanan sebelum diizinkan masuk dari jam 09.00 pagi hingga tengah malam. Hal ini karena persyaratan jaga jarak yang aman. Untuk memudahkan pendaftaran, pengunjung bisa melakukan pemesanan Changi Jurassic Mile di website mulai Minggu.
Bila pengunjung tidak membawa sepeda, bisa menyewangan dengan harga $8 per jam untuk sepeda dewasa di halte dekat Terminal 2. Ini dapat dikembalikan ke outlet GoCycling lainnya seperti yang ada di East Coast Park, Changi Beach Park, dan Punggol Park. Selain itu juga ada kafe baru, bernama Hub & Spoke, menawarkan makanan lokal dan barat, dengan pilihan tempat makan di luar ruangan. Buka dari jam 07.30 pagi sampai 9.30 malam setiap hari waktu setempat.
Jayson Goh, direktur pelaksana CAG untuk manajemen operasi bandara mengatakan niatnya adalah untuk menghubungkan Bandara Changi dengan East Coast Park dan Jaringan Penghubung Taman Singapura lainnya untuk kepentingan komunitas bandara dan penduduk setempat.
“Unsur-unsur pengalaman baru yang disuntikkan di sepanjang Changi Jurassic Mile akan menawarkan rasa petualangan dan kejutan kepada semua orang yang berkunjung. Dengan Konektor Bandara Changi, kami berharap dapat memberi pengunjung pengalaman bandara yang berbeda,” katanya.
Jaryl Sim, pemilik kafe Hub & Spoke, mengatakan awalnya dia tidak tertarik ke lokasi tersebut tahun lalu, tetapi dibujuk setelah mengetahui rencana untuk mengembangkan daerah tersebut. Dia mengatakan, saat ini, sekitar setengah dari pelanggan kafe yang dibuka pada 12 Agustus adalah staf bandara.
“Dengan dibukanya penghubung dan semakin banyaknya operasi bandara yang dilanjutkan, kami berharap akan ada peningkatan pelanggan di masa depan, termasuk wisatawan,” kata Sim.
Baca juga: Bantu Petugas dan Penumpang, Bandara Changi Operasikan 47 Unit Robot
Konsultan manajemen acara Chan Kok Meng, 43, berada di Jurassic Mile bersama keluarganya yang terdiri dari empat orang, termasuk dua anak laki-laki, tujuh dan lima.
“Kami tidak punya pilihan – anak kami ingin kami membawanya ke sini lagi karena dia ingin membuat sketsa dinosaurus,” kata Chan.
Program layanan kesehatan masyarakat atau National Health Service (NHS) dikabarkan telah merekrut eks pilot jet tempur untuk operasikan drone medis. Drone medis tersebut nantinya akan mendukung pengiriman sampel Covid-19, test kit, dan alat pelindung diri (APD) antar rumah sakit di Inggris.
Baca juga: Tak Seperti Garuda Indonesia, Japan Airlines Mulai Realisasikan Drone Kargo di Perkotaan
Guna mendukung rencana tersebut, beberapa orang dari berbagai latar belakang pun mendirikan Apian, sebuah perusahaan yang fokus untuk membangun jaringan koridor udara yang aman bagi drone listrik untuk dinavigasi melalui GPS yang didukung satelit, sebagai bagian dari NHS Clinical Entrepreneur Programme.
Tujuan dari pengoperasian drone medis di Inggris ini di antaranya untuk menghindari waiting list kurir ekspedisi, mengurangi beban kerja staf NHS, serta mengurangi kontak fisik antar orang per orang sebagai upaya meminimalisir risiko penularan virus Corona.
Saat ini, drone tersebut sedang diujicoba oleh eks pilot pesawat tempur RAF dan Royal Navy yang baru bergabung dalam proyek ini melalui perusahaan pelatihan pesawat tak berawak yang berbasis di York, Flyby Technology.
Uji coba drone medis NHS tersebut akan dipusatkan di Broomfield Hospital, Chelmsford, sebuah rumah sakit yang didirikan di atas sebuah lapangan terbang Royal Flying Corps bekas Perang Dunia I. Rumah sakit yang juga merupakan bagian dari Mid and South Essex NHS Foundation Trust akan didukung penuh oleh Anglia Ruskin University sebagai mitra akademis.
Christopher Law, dari Apian, mengatakan, “Covid-19 telah menghasilkan tantangan dalam logistik rantai pasokan NHS. Tidak pernah ada waktu yang lebih baik untuk menciptakan metode pengiriman persediaan medis yang lebih cepat, lebih dapat diandalkan, dan ramah lingkungan (kecuali menggunakan drone medis).”
“Kami yakin bahwa dengan menyiapkan layanan pengiriman drone medis, kami akan dapat menerbangkan sampel ke laboratorium secara lebih teratur, andal, dan cepat, untuk meningkatkan hasil kesehatan pasien,” tambahnya, seperti dikutip dari expressandstar.com.
Setelah uji coba drone berhasil, Apian akan lanjut melangkah ke fase berikutnya untuk membuat NHS Air Grid (NAG) Inggris, jaringan koridor udara aman yang dirancang untuk memungkinkan pengiriman drone dengan aman, cepat, dan efektif di seluruh NHS; bekerjasama dengan Otoritas Penerbangan Sipil (CAA), Badan Antariksa Inggris, dan layanan darurat khusus untuk mendukung koridor ini.
Drone medis NHS digadang bisa mengangkut maksimum 2kg kargo dan terbang sejauh 100km pada ketinggian 90m. Mengingat peran vitalnya sebagai bagian dari upaya melawan pandemi virus Corona dengan meningkatkan layanan medis, drone medis NHS dirancang untuk bisa dioperasikan dalam kondisi cuaca buruk.
Baca juga: Karyawan Airbus Banting Setir Jadi Relawan Medis Selama Pandemi Corona
Desainnya yang berupa drone hybrid, memiliki lima rotor dan sayap layaknya pesawat, membuat drone medis NHS juga lebih stabil untuk penerbangan jarak jauh.
Sejauh ini, dalam fase uji coba, drone medis NHS cukup bisa diandalkan. Drone medis dari proyek bernilai £1,3 juta atau sekitar Rp24 miliar (kurs 19.000) ini dilaporkan berhasil menempuh jarak 22km dalam waktu kurang dari 17 menit dan 11,5km dalam waktu sekitar sembilan menit.
Meski tengah digoncang aksi demonstrasi besar-besaran terkait reformasi sistem monarki dan pemerintahan, rupanya Thailand tetap ajeg melakoni pengembangan teknologi transportasinya. Seperti belum lama ini, Thailand telah menerima armada ferry penumpang dengan tenaga listrik dan itu menjadi yang pertama.
Baca juga: E-Ferry Ellen Gunakan Sepenuhnya Tenaga Listrik dan Lebih Irit Ketimbang Ferry Diesel
Kapal ferry tersebut dikirim oleh Danfoss Editron yang merupakan perusahaan penyedia Energy Absolute dengan sistem drivetrain listrik yang akan memberi daya pada armada 27 katamaran. Dimana armada ferry penumpang tenaga listrik tersebut akan beroperasi di Sungai Chao Phraya yang membelah Kota Bangkok.
KabarPenumpang.com melansir seanews.co.uk (5/10/2020), kehadiran kapal ferry tenaga listrik di Thailand tepatnya Bangkok karena kota ini menjadi salah satu yang paling banyak dikunjungi pelancong dunia yakni hampir 23 juta orang dari berbagai negara. Karena hal ini, kualitas kota Bangkok secara teratur tercatat pada tingkat yang tidak sehat karena kombinasi berbagai faktor termasuk lalu lintas, konstruksi, emisi pabrik dan pembakaran limbah serta sisa tanaman.
Bahkan Januari tahun ini polusi udara di Bangkok tercatat tidak sehat selama tujuh hari. Kemudian adanya ini membuat Pemerintah Thailand melakukan berbagai upaya membersihakan udara termasuk promosi moda transportasi energi alternatif. Hingga kehadiran Enery Absolute yang memimpin pada upaya energi alternatif, di mana armada katamaran listrik penuh merupakan bagian dari cetak biru ambisius yang mencakup pabrik baterai senilai US$3 miliar dan berbagai mobil listrik.
Setiap katamaran sepanjang 24 meter akan mampu membawa 200 penumpang dan akan dilengkapi dengan dua motor EM-PMI375-T800 yang diproduksi oleh Danfoss Editron. Motor menyediakan output daya berkelanjutan antara 174-192 kW, tergantung pada suhu tempat mereka beroperasi dan didasarkan pada teknologi magnet permanen yang dibantu keengganan sinkron.
Mereka juga berpendingin cairan, dirancang untuk bekerja di lingkungan operasi yang keras dan menawarkan dimensi yang lebih kecil, bobot yang lebih ringan dan efisiensi yang lebih tinggi daripada motor diesel saat ini. Energy Absolute menginvestasikan US$33 juta dalam proyek tersebut, termasuk memasang stasiun pengisian cepat di sisi dermaga yang akan mampu mengisi daya ferry dalam waktu sekitar 15 menit.
Kapal ferry tersebut akan dapat beroperasi antara dua hingga empat jam sekali pengisian daya, dengan jarak tempuh 80-100 km. Saat ini ada dua kapal ferry yang tengah dalam pengujian dan nantinya setelah selesai uji coba maka armada akan siap diluncurkan ke operator selama setahun. Selain para operator, ternyata hotel dan pengembang real estat juga menunjukkan ketertarikan mereka pada armada katamaran listrik penuh karena kehidupan mewah di tepi sungai Bangkok semakin populer.
“Perairan Bangkok selalu memainkan peran penting dalam mengangkut orang dan logistik. Proyek ini dapat membuka jalan untuk menghidupkan kembali mereka secara berkelanjutan dengan menghubungkan jaringan transportasi utama dan menyediakan perjalanan yang mulus dan nyaman bagi para komuter. Ini juga akan membantu untuk mengekang kebutuhan akan terowongan dan jalan lebih lanjut, dengan saluran air menjadi moda transportasi yang lebih populer sekali lagi. Lebih banyak dari proyek-proyek ini yang membuahkan hasil akan membantu kota menjadi kurang tercemar dan macet. Diperkirakan bahwa memperkenalkan armada katamaran yang sepenuhnya bertenaga listrik ini akan menghilangkan sekitar 9500 ton emisi CO2 dari atmosfer setiap tahun,” ujar Manajer Pengembangan Bisnis Danfoss Editron untuk Asia-Pasifik David Hunter.
Baca juga: Gunakan Mesin Wartsila 31, Kapal Ferry di Jepang Sangat Efisien dan Ramah Lingkungan
“Energy Absolute adalah perusahaan papan atas yang banyak berinvestasi dalam infrastruktur dan transportasi yang berkelanjutan. Kami sangat senang dengan potensi kerja sama lebih lanjut dan sudah aktif melihat proyek lain yang dapat kami kerjakan di Thailand, seperti bus listrik dan pengangkutan truk listrik, ”tambah David.
Gegara pandemi Covid-19 membuat pengerjaan MRT Jakarta fase 2 yang terbagi atas dua segmen terancam mengalami penundaan karena adanya berbagai kendala yang terjadi dalam proses tender. Lebih spesifik, hal ini terjadi karena sulitnya mencari kontraktor yang berminat mengerjakan.
Baca juga: Genjot Pendapatan di Masa Pandemi, MRT Jakarta Ingin Bangun Coworking Space dan Perbanyak Ruang Iklan
Di segmen kedua, yakni dari Harmoni menuju ke Kota pada CP202, dikatakan Direktur PT MRT Jakarta William Sabandar bahwa mereka mengadakan dua kali tender dan keduanya gagal. William menyebut tender pertama pada 6 Agusutus sampai 4 November 2019 gagal karena keterbatasan sumber daya, jadwal tender yang bersamaan dengan CP201 serta jadwal konstruksi yang ketat.
Sedangkan tender kedua yang mulai 7 Februari sampai 6 Juli 2020 juga gagal karena hal yang sama dan yang membedakan karena kondisi pandemi Covid-19.
“Karena dua kali tender dengan mekanisme international bidding gagal, kita bersurat ke JICA (Japan International Cooperation Agency), kita minta arahan. Dari JICA diarahkan tiga mekanisme, pertama limited competitive bidding, jadi dibatasi pesertanya. Kedua, international shopping, dan ketiga direct contracting,” kata William pada forum jurnalis virtual, Senin (19/10/2020).
Dia menyebutkan, pihak MRT Jakarta melakukan tender dengan mekanisme direct contracting atau penunjukan langsung yang targetnya selesai pada 26 Oktober 2020. Dengan ini William mengatakan, berharap dapat memperoleh kontraktor untuk CP202.
Selain CP202 ada juga kendala pada CP205 terkait sistem perkeretaapian dan rel. Di mana MRT Jakarta melakukan proses tender dari Februari hingga Juni 2020. Dalam masa tender ini William menyebutkan ada enam yang sudah berpartisipasi dan karena di masa Covid-19, MRT Jakarta melakukan perpanjangan tender dari Juni Hingga Oktober 2020.
“Kontraktor meminta untuk memperpanjang masa tender. Jadi panitia sudah melakukan empat kali perpanjangan. Jadi seharusnya bidding masuk 16 juni 2020. Tapi karena Covid-19, dilakukan dua kali perpanjangan, pertama sampai 16 Juli 2020, kedua sampai 31 Agustus 2020. Kemudian kontraktor meminta perpanjangan ketiga sampai 17 September 2020, dan meminta lagi perpanjangan keempat sampai 26 Oktober 2020,” jelasnya.
Kendala terakhir adalah pada CP206 yang mana market merespon ketidaktertarikan terhadap pengadaan enam trainset pada market sounding pertama di 26 Februari kemarin. William menjelaskan kemudian pada market sounding kedua yang berlangsung dari Juli hingga 13 Agustus MRT Jakarta akhirnya mengusulkan 14 trainset yang merupakan jumlah gabungan fase 2A dan 2B.
Baca juga: Jumlah Penumpang Turun, MRT Jakarta Lakukan Stategi Kontinuitas Bisnis
Direktur konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim mengatakan, terkait dengan rolling stock, banyak yang tidak merespon karena mengerjakan pesanan dari beberapa negara lainnya seperti Filipina dan negara lainnya. Karena hal ini maka segmen satu dari Bundaran HI ke Harmoni direncanakan selesai pada Maret 2025. Sedangkan segmen dua dari Harmoni ke Kota akan bergeser ke tahun 2027 atau lebih.
Air Asia X memutuskan untuk angkat kaki dari Indonesia (melikuidasi unit bisnis). Hal itu dilakukan dalam rangka efisiensi untuk menyelamatkan bisnis perusahaan yang lebih luas. Saat ini, diperkirakan maskapai penerbangan jarak jauh berbiaya rendah ini membutuhkan US$100 juta atau sekitar Rp1,4 triliun (kurs Rp 14.700) untuk menghindari kebangkrutan.
Baca juga: Hampir Bangkrut, AirAsia X Umumkan Empat Rencana Restrukturisasi! PHK Mengintai
“Kami kehabisan uang,” kata wakil ketua AirAsia X Lim Kian Onn kepada media lokal akhir pekan lalu, sebagaimana dikutip dari Simple Flying.
“Jelas, bank tidak akan membiayai perusahaan tanpa pemegang saham, baik lama maupun baru, memasukkan ekuitas baru. Jadi, prasyaratnya adalah ekuitas baru,” lanjutnya.
Menurut Lim, pihak kreditur telah meminta persyaratan yang menguntungkan mereka tanpa memikirkan maskapai, termasuk ekuitas baru untuk utang yang dihapuskan. “Sesuatu yang tidak mungkin dipenuhi oleh maskapai penerbangan,” tambahnya. Lim menyebut, semua pihak menginginkan kesepakatan yang terbaik melalui jalan tengah.
Dalam proses likuidasi perusahaan di Indonesia, AirAsia X membutuhkan dana untuk melunasi utang sebesar US$15,3 juta atau sekitar Rp 225,8 miliar (kurs Rp 14.700). Proposal pengajuan dana ini membutuhkan persetujuan investor dan kreditur.
Meski begitu, Lim mengatakan semua pihak ingin tetap mempertahankan dan memajukan maskapai. “Tidak ada yang bisa mendapatkan keuntungan dari kematian kami,” katanya. AirAsia berencana untuk melanjutkan penerbangan pada kuartal pertama, meskipun bisa berubah sewaktu-waktu.
“Jika rencana penyelamatan mendapat persetujuan, perusahaan harus menegosiasikan kembali setiap kontrak dan akan melakukan yang terbaik untuk menjaga kepentingan semua pemangku kepentingan,” jelas diakatanya.
AirAsia X diketahui beroperasi di Indonesia sejak 2006 lalu. Karena hukum di Indonesia tidak memperbolehkan perusahaan asing mempunyai saham mayoritas di sini, AirAsia X Bhd (Berhad) hanya memiliki saham sebesar 49 persen di Indonesia Air Asia X. Sisanya dimiliki oleh perusahaan dalam negeri, Fersindo Nusaperkasa. Maskapai ini melayani penerbangan jarak jauh bagi Indonesia AirAsia yang berbasis di Bandara Internasional Ngurah Rai, Bali.
Baca juga: Rilis Logo Baru, AirAsia Resmi Jadi Super App dan Tawarkan Diskon Tiket 50 Persen
Selain stop operasi di Indonesia, AirAsia Group Bhd diketahui juga telah menghapusbukukan 49 persen sahamnya di Thai AirAsia X. Tak hanya itu, Air Asia Berhad juga stop operasi di Jepang dengan memutus hubungan bersama maskapai afiliasinya.
Secara makro, Air Asia Group sebetulnya dalam kondisi sangat mengkhawatirkan. Saat ini, perusahaan pimpinan Tony Fernandes dan Kamarudin Meranun selaku CEO itu dihadapkan dengan hutang jangka pendek senilai US$500 juta. Di dekade mendatang lebih mengerikan lagi, mereka mempunyai sekitar US$14 miliar atau sekitar Rp206 triliun (kurs Rp 14.700) hutang jatuh tempo.
Tiket pesawat antara Singapura dan Hong Kong melonjak cukup siginifikan mulai Jumat, 16 Oktober lalu atau sehari setelah rencana travel bubble antara kedua negara tersebut ramai diperbincangkan. Sebelum travel bubble diumumkan, harga tiket pesawat kelas ekonomi PP berkisar $400.
Baca juga: Dear Traveller, Singapore Airlines Geluti Tiga Bisnis Baru Loh! Ada Makan Siang Mewah di Pesawat A380
Usai rencana travel bubble diumumkan, tiket penerbangan hingga akhir Desember naik menjadi sekitar $558. Harga tersebut bukan tak mungkin akan terus-menerus naik sampai travel bubble benar-benar berlaku dan mendorong orang-orang secara massif untuk bepergian.
Dengan diterapkannya travel bubble ini, nantinya wisatawan antar kedua negara itu tak perlu lagi karantina mandiri selama 14 hari selama tes Covid-19 mereka negatif.
Oleh karenanya, butuh kerjasama apik antar otoritas kedua negara mengingat sedikit saja kesalahan bisa berakibat pada meningkatnya angka kasus positif virus Corona di kedua negara. Saat ini wacana travel bubble Singapura-Hong Kong masih dalam pembahasan dan belum diungkap dengan jelas apa dan bagaimana travel bubble antar kedua negara itu.
“Ini benar-benar pertanda baik. Tetapi kami membutuhkan lebih banyak kejelasan tentang bagaimana (perjalanan) akan dilakukan dengan cara yang aman sebelum kami dapat memahami potensi dampak bisnis pada agen perjalanan,” kata Presiden National Association of Travel Agents Singapore ( Natas), Steven Ler.
“Jadi kami harus menunggu dan melihat. Banyak orang yang terburu-buru untuk mengambil slot penerbangan terlebih dahulu tapi kami juga melihat banyak yang bertanya kepada kami (agen perjalanan) tentang bagaimana mengatur perjalanan mereka,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari The Straits Times.
Ms Alicia Seah, direktur humas Dynasty Travel, mencatat bahwa kolaborasi dengan maskapai penerbangan, kementerian pariwisata, dan ekosistem pendukung seperti tempat-tempat hiburan juga berperan sangat penting ketika wisatawan diizinkan bepergian kembali.
“Kami masih menunggu kejelasan tanggal launchingnya, (tetapi) kami sekarang sedang mengerjakan (paket) kompetitif tiket pesawat, akomodasi, dan berbagai tema-tema hiburan,” jelasnya.
Sementara itu, Menteri Transportasi Singapura, Ong Ye Kung mengatakan pada Kamis lalu bahwa travel bubble kemungkinan bakal mulai dihelat pada pekan depan. Hanya saja, saat itu, ia masih mengisyaratkan bahwa wisawatan masih harus melakukan karantina mandiri selama 14 hari.
Sejak pandemi corona membatasi setiap perjalanan, termasuk menutup perbatasan antar negara, banyak orang kesulitan untuk menemui orang terkasih; tak terkecuali Anderson Neo. Ia yang tinggal di Singapura, sudah sejak Januari silam tak bertemu secara langsung dengan sang kekasih yang berada di Hong Kong. Hanya saja, bila travel bubble resmi kick off, guru berusia 27 tahun ini tetap akan melilhat tingkat keamananya mengingat travel bubble pasti bakal mengundang banyak orang bepergian.
“Ini cukup sulit sejak kami baru saja jumpa tahun lalu, dan ini adalah waktu terpanjang kami berpisah. Jadi melegakan (mendengar tentang travel bubble) karena kami tidak yakin apakah kami dapat bertemu satu sama lain secara langsung sebelum 2021,” ujarnya.
Baca juga: Tak Punya Penerbangan Domestik, Cathay Pacific dan Singapore Airlines Ditaksir Bakal Lebih Lama Pulih
“Namun terlepas dari harganya, saya pikir kekhawatiran utama adalah jika travel bubble resmi dimulai. Melihat serbuan orang saat ini memesan tiket, kami sedikit skeptis jika travel bubble tersebut dapat tetap bebas Covid-19, terutama jika ada orang dengan penyakit ringan yang memaksa bepergian dan memesan tiker penerbangan agar bisa bepergian,” tambahnya.
Sebagai informasi, travel bubble adalah pembukaan zona batas lintas negara yang memungkinkan warganya bepergian asal tidak melampaui area, kota, atau destinasi yang sudah ditetapkan. Indonesia awalnya juga sempat ingin menerapkan travel bubble. Namun, hingga kini masih belum terealisasi karena satu dan lain hal.
Air Canada terus berbenah guna mempersiapkan kembalinya penumpang. Setelah menghadirkan lagi layanan inflight meals on board akhir Juli 2020 lalu, terbaru, maskapai penerbangan nasional Kanada ini meluncurkan inovasi baru pada inflight entertainment (IFE).
Baca juga: Air Canada Sebut Proses Recovery Akibat Corona Butuh Tiga Tahun
Maskapai yang pernah merengkuh gelar Eco-Airline of the Year tahun 2018 ini bukan hanya menawarkan pratinjau (preview) film, acara TV, audio, konten anak-anak, dan games kepada penumpang, melainkan juga memungkinkan penumpang berbagi film seru dan mrekomendasikannya di media sosial, berkat dukungan dari agensi IFE, Spafax’s Profile.
“Saat pelanggan kembali bersemangat memulai perjalanan, kami bangga menawarkan cara baru dan menarik untuk merencanakan perjalanan mereka. Dengan IFE baru kami yang didukung oleh Spafax, penumpang kami juga dapat merencanakan apa yang akan ditonton di dalam pesawat dan kami dapat menciptakan kebahagiaan dengan pelanggan kami,” kata Hali Hamilton, Manajer, Hiburan & Kemitraan, Air Canada, seperti dikutip dari futuretravelexperience.com.
Selain itu, Air Canada juga mengintegrasikan platform IFE dengan smartpfone masing-masing penumpang. Dengan begitu, sentuhan di IFE dapat diminimalis. Tak hanya memudahkan penumpang dalam menikmati layanan IFE, langkah tersebut juga mampu mencegah penularan virus Corona di pesawat lewat sentuhan. Langkah ini pertama kali dijajaki oleh Singapore Airlines melalui Companion App Pertama di Dunia.
“Meskipun strategi produk dalam penerbangan kami telah berubah sejak awal pandemi Covid-19, kami tetap berkomitmen untuk memberikan pengalaman penumpang terkini kepada pelanggan kami. Peluncuran IFE baru kami, yang didukung oleh Spafax Profile merupakan bukti komitmen tersebut dan juga menunjukkan stabilitas Spafax sebagai mitra dan penyedia layanan konten kami,” kata pejabat Air Canada lainnya, Norman Haughton, Director, IFEC Product and Analytics.
Senada dengan Haughton, Chief Executive Officer Spafax Niall McBain juga mengungkapkan, “Meskipun sektor transportasi udara tidak pernah mengalami krisis seperti yang kami alami akibat Covid-19, kami bertekad untuk membantu klien kami kembali ke pasar dengan lebih kuat dengan fokus pada inovasi.”
“Air Canada telah memimpin sebagai maskapai penerbangan pertama yang menyediakan hiburan untuk streaming di rumah dan kami sangat senang untuk menambah layanan seputar penawaran IFE hasil kolaborasi dengan Spafax Profile,” tambahnya.
Baca juga: Ada Batu di Dalam Salad Dibilang ‘Kacang Kering,’ Air Canada Kena Semprot Penumpang!
Sejak Mei lalu, Air Canada memang sudah mengungkapkan akan fokus pada traveller untuk penerbangan penumpang. Kala itu, CEO maskapai, Calin Rovinescu, mengaku lebih berharap banyak pada perjalanan liburan dari para pelancong dunia, bukan mengandalkan pada perjalanan bisnis.
Ia berpendapat, bahwa ke depan mungkin perjalanan bisnis akan tak begitu bergairah mengingat pelaku bisnis saat ini hingga beberapa waktu ke depan lebih nyaman dengan the new era atau the new normal, meeting melalui Zoom, Skype for Business (Microsoft), atau platform meeting online lainnya.