Melihat Perubahan di Langit Gegara Covid-19 Lewat FlightRadar24

Industri penerbangan berubah drastis sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan wabah Covid-19 sebagai pandemi global. Namun, di antara banyak cara untuk melihat perubahan tersebut, FlightRadar24 menjadi salah satu yang favorit. Baca juga: Miris, Inilah Tampilan Ruang Udara Cina Sebelum dan Sesudah Wabah Virus Corona, Sepi! Perubahan di industri penerbangan akibat Covid-19 memang bisa terlihat jelas di situs yang dikunjungi oleh 2 juta user per hari itu. Dilansir skiesmag.com, pada bulan 29 Maret lalu, misalnya, FlightRadar24 mencatat ada sekitar 64.522 total penerbangan dalam sehari. Angka yang bahkan tak sampai setengahnya bila dibanding dengan periode yang sama tahun lalu sekitar total 175.350 penerbangan. Beranjak ke bulan April, industri penerbangan justru makin terpuruk. Situs yang menjadi travel app nomor satu di AppStore di lebih dari 150 negara ini mencatat, 12 April lalu menjadi rekor penerbangan terburuk sepanjang masa, dengan mencatat total penerbangan terendah dalam sehari sejumlah 46.294 flight. Bulan Mei, wabah Covid-19 di dunia memang masih mengganas, khususnya di negara-negara yang telat dihampiri virus yang pertama kali diduga berasal dari Wuhan, Cina itu, seperti negara-negara Amerika Selatan dan Rusia. Namun, di berbagai negara lainnya yang di bulan sebelumnya menjadi hotspot penyebaran virus corona, kondisinya sudah membaik.
Pantauan FlightRadar24 saat jumlah penerbangan harian mulai menggeliat di akhir Juli. Foto: FlightRadar24
Tak ayal bila di bulan ini, industri penerbangan sudah mulai menggeliat. FlightrRadar24 mencatat ada sekitar 110.361 penerbangan di tanggal 20 Mei. Capaian tersebut merupakan pertama kalinya sejak 22 Maret lalu dimana penerbangan per hari mencapai lebih dari 100 ribu flight. Meski demikian, tetap saja, persentasenya masih 48 persen di bawah persentase penerbangan di tanggal yang sama tahun lalu. “Lalu lintas komersial mulai kembali perlahan. Kita berbicara tentang beberapa poin persentase di sana-sini. Tapi pertumbuhan sebenarnya adalah lalu lintas non-komersial di mana orang mengambil keuntungan dari kesempatan untuk kembali bepergian. Tapi mereka tidak bisa pergi kemana-mana,” kata Ian Petchenik, Direktur Komunikasi FlightRadar24.com. Di bulan Juni, penerbangan komersial kondisinya relatif tak jauh berbeda. Namun, untuk penerbangan non-komersial, seperti penerbangan glider, jumlahnya mengalami peningkatan luar biasa. Baca juga: Citra Satelit NASA Temukan Polusi di Cina Berkurang Drastis, Akibat Sepinya Penerbangan? Di Eropa, misalnya, pilot-pilot glider mengaku baru kali ini mendapat kesempatan terbang dengan sangat bebas. Pada hari-hari awal di Bulan Juni tahun lalu, Flightradar24 mencatat hanya ada beberapa lusin penerbangan glider di Eropa. Namun, Pada 1 Juni 2020, glider yang meluncur bebas di udara jumlahnya mencapai 1.200. Di akhir bulan Juli ini, penyedia jasa informasi penerbangan real time yang sudah diunduh lebih dari 40 juta lebih itu mencatat, industri penerbangan jauh lebih menggeliat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Namun, tetap saja, jumlahnya masih tak melebihi total penerbangan di periode yang sama tahun lalu. Tanggal 30 Juli tahun lalu, ada sekitar 18,269 pesawat yang beredar di udara. Masih 33 persen di atas jumlah peredaran pesawat tahun ini, yang hanya mencapai 12,086 pergerakan di tanggal 28 Juli lalu.

Tiada Lagi Menu Prasmanan, Inilah Empat Perubahan di Lounge Bandara Gegara Covid-19

Pandemi Covid-19 memang mengubah banyak hal di industri penerbangan, tak terkecuali lounge. Di antara berbagai layanan lebih yang ditawarkan bandara atau maskapai, lounge adalah salah satunya. Lounge bisa dibilang menjadi satu kesatuan utuh -tentu saja dengan didukung berbagai layanan on board- dalam upaya menarik pelanggan agar tetap setia dengan satu maskapai. Baca juga: Lounge Kembali Buka, Qantas Hilangkan Prasmanan, Pemanggang Roti dan Pembuat Pancake Dengan dasar itu, tak jarang, maskapai rela melakukan investasi besar-besaran di lounge yang menjadi hub mereka, baik internasional maupun nasional. Singapore Airlines, misalnya, pada tahun lalu, sampai rela merogoh kocek hampir setengah triliun rupiah hanya untuk merombak total Lounge SilverKris dan KrisFlyer Gold yang terletak di Terminal 3 Bandara Internasional Changi. Maskapai lain tentu tak ingin ketinggalan. Tahun lalu, Qantas juga mulai menghadirkan lounge first class khusus dengan menawarkan desain dengan kualitas udara dan cahaya yang brilian serta terhubung langsung ke alam. Di tahun yang sama, Cathay Pacific juga berinovasi dengan menghadirkan fasilitas yoga dan meditasi di lounge Bandara Hong Kong. Selain dihadirkan khusus oleh maskapai, pengelola bandara juga tentu berinovasi untuk menghadirkan lounge mewah nan memanjakan penumpang. Republik Dominika, misalnya, punya lounge mewah di Bandara Punta Cana dengan fasilitas tambahan berupa kolam renang yang langsung menghadap ke apron. Bandara internasional Dubai (DBX) di Uni Emirat Arab juga menawarkan inovasi lebih lewat konsep The Sleep ‘n Fly Lounge. Lounge tersebut menawarkan 27 kabin private untuk para traveler yang ingin tidur sejenak. Selain menawarkan berbagai view serta fasilitas ciamik, makanan dan minuman tentu juga tak luput dari perhatian pengelola bandara dan maskapai. Sayangnya, pandemi Covid-19 yang masih menghantui penumpang memaksa terjadinya kurang lebih empat perubahan di lounge, dimana dua di antaranya menyangkut makanan. Dilansir Simple Flying, empat perubahan tersebut meliputi physical distancing, tak ada layanan prasmanan, makanan dan minuman yang disajikan oleh staf, hingga disinfeksi secara berkala. Baca juga: Dongkrak Pengalaman Penumpang, Singapore Airlines Siap “Rombak” Lounge di Changi Physical distancing yang diterapkan tentu akan berdampak pada berkurangnya daya tampung lounge sehingga mengurangi pelayanan. Begitu juga dengan hilangnya layanan prasmanan. Dengan memilih langsung makanan dan minuman yang diinginkan, penumpang tentu akan merasa lebih nyaman ketika menyantap. Lain halnya ketika penumpang sudah dibagikan makanan di dalam sebuah box tanpa bisa memilih sajian kesukaan mereka. Bila pun ada prasmanan, penumpang juga tak akan bisa memilih hidangan dengan bebas. Sebab, sajian tetap akan dilayani oleh staf lounge untuk meminimalisir sentuhan berbagai partisi di lounge, sekalipun lounge sudah didisinfeksi secara berkala oleh petugas. Jika sudah begini, masihkan Anda ingin berlama-lama menikmati suasana lounge?

Masker LED Desain Chelsea Klukas Jadi Gaya di Masa Pandemi

Masker wajah menjadi salah satu hal terpenting di masa pandemi Covid-19 saat ini baik ketika di luar rumah maupun ketika menggunakan moda transportasi. Bahkan beberapa masker memiliki model dan corak yang beragam agar lebih gaya bila dibandingkan dengan masker wajah untuk medis. Hal ini kemudian membuat para desainer maupun mengusaha mode yang tadinya membuat pakaian beralih mendesain dan membuat masker wajah. Baca juga: Berciuman Memakai Masker, Kelakuan Penumpang Pesawat di Masa Pandemi Semakin Aneh Dilansir KabarPenumpang.com dari laman theverge.com (26/7/2020), perancang busana Chelsea Klukas dari Lumen Counture awalnya membuat masker wajah dari kain standar untuk teman-temannya saat Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit merekomendasikan untuk membuat sendiri demi mencegah penyebaran virus. Lumen Counture memiliki seluruh lini mode yang didukung teknologi yang tadinya membuat gaun, hoodies dan kostum menjadi beralih ke masker saat penjualan lainnya merosot. Klukas memutuskan untuk menambahkan teknologi untuk membuat masker wajah sedikit lebih menyenangkan. Dia mengatakan memiliki komponen-komponen di sekitarnya dan menyusun tutorial YouTube DIY cepat untuk cara membuatnya. “Itu benar-benar meledak, ke titik di mana orang-orang meminta saya untuk masker siap pakai,” kata Klukas. Dia menambahkan bahwa tidak ingin terlihat mengambil untung dari pandemi, sehingga Lumen Couture menyumbangkan hasil dari penjualan masker sampai Juni sekitar $5 ribu untuk dikirimkan kepada dana bantuan Organisasi Kesehatan Dunia Covid-19. Pelanggan yang membeli masker buatannya lebih banyak laki-laki daripada yang diharapkan serta kebanyakan dari mereka tidak menggambarkan sebagai seorang fashionista. Klukas menambahkan, dirinya berpikir memiliki masker yang bisa dipakai siapa saja dan membantunya menjadi bagian koleksi pakaian. “Saya pikir kita melihat pengenalan masker sebagai bentuk ekspresi baru. Perancang busana lain juga memahami hal ini, saya pikir kita akan mulai melihat seperti masker versi Rolex,” ujar Klukas. Masker Tampilan LED memiliki layar matriks LED yang tipis, dan pemakai dapat mengontrol apa yang ditampilkannya seperti gambar, teks khusus, dan bahkan input suara melalui aplikasi. Kain dapat bernapas di atas dan di bawah layar, dan komponen teknologi dapat dilepas sehingga masker dapat dicuci, atau dipakai sebagai masker biasa. Aplikasi ini menawarkan input mikrofon, dan beberapa pemakai menggunakannya untuk menampilkan pesan jarak sosial seperti “mundur” atau “6 kaki” yang mungkin sulit untuk didengar seseorang berkata dengan mulut tertutup. Bagian tersulit dalam mendesain pakaian dengan komponen lampu LED adalah di mana dan bagaimana menyembunyikan baterai, kata Klukas. “Ada beberapa trik di mana Anda bisa bersembunyi di gaun dengan rok berbulu, misalnya. Tetapi jika Anda ingin melakukan sesuatu yang ramping dan cepat, itu lebih merupakan tantangan,” tambahnya. Baca juga: Pengamat Penerbangan: Kalau Sudah Pakai Masker Semua, Kenapa Harus Jaga Jarak? Masker telah menjadi barang terlarisnya sejauh ini, tetapi Klukas mengatakan dia tidak sabar untuk kembali ke pertunjukan langsung, di mana orang dapat menyentuh dan merasakan pakaian yang disempurnakan dengan LED secara langsung. Terutama dengan beberapa bagian yang lebih berani, orang akan datang dekat untuk melihat keajaiban, dan sulit untuk menunjukkannya melalui videoa. “Orang yang mengenakan mode adalah bagian dari cerita, dan itu tidak menyampaikan cerita juga di layar datar,” kata dia.

Teknologi Baru CVR dan FDR Sukses Disertifikasi! Kini “Kotak Hitam” Bisa Rekam Hingga 70 Jam

Belum lama ini, teknologi baru Cockpit Voice Recorder (CVR) dan Flight Data Recorder (FDR) dikabarkan lolos uji sertifikasi Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) dan Badan Keselamatan Penerbangan Eropa (EASA). Selain itu, teknologi CVR dan FDR baru atau seri SRVIVR25 buatan L3 Harris ini, juga mendapat sertifikasi dari regulator penerbangan sipil lainnya yang terafiliasi dengan FAA. Baca juga: Apa Itu Kotak Hitam Atau Black Box? “Recorder seri SRVIVR25 ini dapat meningkatkan operasional dan efisiensi dengan menyediakan data terbesar yang pernah ada bagi maskapai penerbangan untuk menganalisis dan bereaksi atas data yang disajikan,” kata Terry Flaishans, Presiden Avionics L3 Harris. “Operator dapat dengan cepat mengunduh data kinerja kokpit, datalink, dan penerbangan yang memberi mereka kemampuan untuk meneliti dan memahami skenario standar, serta kejadian penerbangan yang merugikan,” tambahnya, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari laman resmi perusahaan. Seri recorder SRVIVR25 CVDR ini terbukti dapat merekam suara di kokpit (CVR) selama 25 jam melalui empat saluran audio dan lebih dari 25 jam datalink recording. Tak hanya itu, teknologi ini juga memungkinkan FDR merekam data penerbangan selama 70 jam, sebagaimana mandat terbaru dari EASA -dalam menyambut era layanan baru- yang akan mulai berlaku pada Januari 2021 mendatang. Padahal, seperti dikutip dari howstuffworks.com, baik CVR maupun FDR, yang notabene menggunakan sistem loop, sebelumnya memiliki kemampuan sangat terbatas. FDR saat ini hanya bisa merekam 25 jam data penerbangan dan CVR bisa merekam dua jam percakapan di kokpit, meningkat sedikit dari 30 menit. Seluruh seri, model, dan varian dari CVR, cockpit voice and data recorders (CVDR), dan FDR dari L3 Harris ini diklaim sudah sesuai dengan standar ARINC 747, ARINC 757, dan OEM yang menjadi acuan standar komunikasi udara global. Selain mampu menghadirkan basis data yang jauh lebih besar dibanding teknologi sebelumnya, seri SRVIVR25 ini juga diklaim mampu mendukung kelancaran industri penerbangan di masa depan dengan menyajikan data sesuai Global Aeronautical Distress and Safety System serta pencatatan data penerbangan yang akurat. Baca juga: Mengenal ELT, Komponen Penting Pesawat yang Selalu Dicari Saat Kecelakaan Meskipun L3 Harris adalah perusahaan teknologi Amerika Serikat, nyatanya, dalam waktu dekat hanya pesawat-pesawat Airbus, kompetitor utama produsen pesawat asal Negeri Paman Sam, Boeing, yang direncanakan segera mengadaptasi teknologi tersebut. A320, A320, A330, dan A350 keluaran terbaru disebut akan dilengkapi teknologi ini. Begitu juga dengan A220. Pesawat lama A330 dan A350 juga bisa diretrofit untuk kemudian dilengkapi dengan teknologi ini.

Qantas Kirim A380 Ke ‘Kuburan’ Pesawat di Gurun Amerika Serikat

Qantas dilaporkan sukses mengirim Airbus A380 ke Bandara Internasional Los Angeles (LAX). Pesawat dengan nomor registrasi VH-OQC dilaporkan mendarat dengan mulus pada 27 Juli lalu, pagi waktu setempat. Baca juga: Virus Corona Bikin Qantas ‘Pensiunkan Dini’ Pesawat Terbesar di Dunia Airbus A380 Pesawat tersebut adalah pesawat ke-10 yang tiba di LAX sebelum akhirnya dikirim ke fasilitas penyimpanan jangka panjang di Boneyard, Gurun Mojave, Southern California, Amerika Serikat (AS). Dari jumlah tersebut, satu per satu pesawat sudah mulai dikirim ke Gurun Mojave sejak awal bulan ini. Dari data Flightradar24, pesawat tersebut cenderung jarang terbang. Pesawat berusia 11 tahun itu terakhir kali terbang pada April lalu. Itupun rute sangat pendek, yakni Melbourne-Sydney. Sebelumnya lagi, A380 itu terbang pada 21 Maret lalu dengan melahap rute Melbourne-Singapura PP. Padahal, A380 Qantas jadi andalan maskapai bersaing di rute-rute gemuk, seperti rute London, Singapura, Hong Kong, Los Angeles, dan Dallas ke Sydney serta beberapa kondisi juga terbang ke Melbourne. Simple Flying melaporkan, dengan dikirimnya Airbus A380 ke-10, praktis, Qantas hanya menyisakan dua pesawat superjumbo lainnya. Namun, bukan berarti pesawat dipersiapkan untuk melayani penerbangan premium jarak jauh ataupun jarak dekat, melainkan pesawat tengah melakukan beberapa perbaikan interior atau retrofit di Dresden, Jerman. Bila pada bulan Maret lalu, maskapai yang memiliki nama panjang Queensland and Northern Territory Aerial Services (Qantas) tersebut berencana menggrounded hingga enam bulan mendatang atau September 2020, kali ini, Qantas berpikir untuk menggrounded A380 selama tiga tahun ke depan, atau bahkan lebih lama dari itu. Keputusan Qantas mengirim pesawat ke kuburan pesawat di Amerika Serikat tentu agak aneh, mengingat, Australia sebetulnya juga mempunyai salah satu ‘kuburan’ pesawat ternama di dunia, Bandara Alice Springs (ASP). Alice Springs terletak persis di tengah benua Australia atau beberapa ratus kilometer jauhnya dari ibu Kota Sydney atau wilayah terkenal lainnya di Australia, seperti Melbourne, Adelaide, Brisbane, atau bahkan Perth. Wilayah Alice Springs dikelilingi oleh pedalaman gurun yang luas. Praktis wilayah ini selalu kering dan sedikit hujan, tidak ada badai, angin Timur dengan kecepatan 13 km per jam, tingkat kelembaban relatif rendah, sekitar 25 persen. Kelembaban udara dinilai menjadi poin krusial mengapa ASP menjadi tempat ideal untuk menggrounded pesawat dibanding wilayah lainnya mengingat pesawat bisa saja menjadi korosi atau berkarat dibuatnya. Baca juga: Ada Gambar Logo Kanguru Qantas di Langit dalam Penerbangan Boeing 747-400 Terakhir Hanya saja, ASP saat ini dinilai tak cukup besar untuk menampung pesawat superjumbo A380. Sebab, saat ini, gurun yang memiliki suhu cenderung stabil di angka 30 °C itu telah dipenuhi oleh pesawat-pesawat dari maskapai lain semisal Singapore Airilines Group (SIA). Salah satu maskapai terbaik di dunia itu saat ini total telah mengirim 11 pesawat. Dengan digroundednya semua pesawat A380, Qantas akan beralih ke A350 dan Boeing 787 Dreamliner dalam rute-rute jarak jauh. Lagi pula, dalam beberapa waktu ini, Qantas mungkin tak akan bisa memaksimalkan jaringan internasional mereka, mengingat Australia masih menutup diri dari dunia internasional akibat pandemi Covid-19 yang masih mengganas di Negeri Kanguru itu.

“Ferizy,” Mudahkan Penumpang Beli Tiket Kapal Ferry Merak-Bakauheni dan Ketapang-Gilimanuk

Tak hanya kereta api dan pesawat terbang saja yang membeli tiketnya melalui pemesanan online, tetapi moda laut seperti kapal ferry juga ikut ambil bagian. Di mana PT ASDP Indonesia Ferry menghadirkan aplikasi Ferizy untuk memudahkan layanan penyeberangan seperti pembelian tiket perjalanan dari pelabuhan keberangkatan hingga tiba di tujuan. Baca juga: Update PSBB, ASDP Layani 688.836 Unit Truk Logistik di 7 Cabang Utama Apalagi di masa pandemi Covid-19, pembelian tiket melalui online bisa membantu mengurangi tatap muka antar penumpang dan petugas yang berjaga di loket pembelian. Direktur utama PT ASDP Indonesia Ferry Ira Puspadewi mengatakan pihaknya terus mengimbau kepada masyarakat agar mempersiapkan perjalanan ferry dengan lebih baik dengan melakukan reservasi dan membeli tiket secara online melalui www.ferizy.com atau aplikasi Ferizy.
cara pembatalan tiket kapal ferry secara online melalui aplikasi Ferizy (PT ASDP Indonesia Ferry)
Untuk melakukan pembelian tiket online ini, Ira mengatakan baru bisa dipesan oleh penumpang yang akan melintas dari Merak menuju Bakauheni atau sebaliknya dan Ketapang menuju Gilimanuk atau sebaliknya. Tiket yang dibeli melalui aplikasi H-60 hingga maksimal tiga jam sebelum keberangkatan. Pembelian tiket online secara mandiri melalui website maupun aplikasi sangat mudah, dan pencatatan manifest terkait data asuransi yang menjadi hak pengguna jasa juga semakin akurat. Dengan pembelian melalui aplikasi, penumpang tidak perlu mengantri di pelabuhan karena hanya perlu menscan dengan barcode yang didapat ketika pembelian online. Kemudian setelah itu, penumpang akan mendapat boarding pass untuk naik kapal. Bisa dikatakan, aplikasi Ferizy sendiri memiliki keunggulan yang sama karena yang sebelumnya hanya website. Pelanggan pun bisa mengunduh aplikasi Ferizy di ponsel Android di Play Store. Sedangkan untuk pengguna iOS saat ini masih dalam proses dan dalam waktu dekat diperkirakan sudah ada. Aplikasi Ferizy sendiri merupakan besutan Telkom dan tren pembelian tiket secara online saat ini terus meningkat seiring gaya hidup masyarakat yang cenderung bertransaksi elektronik dalam kegiatan konsumsi. Kehadiran penjualan tiket online ini, membuat tidak adanya penjualan secara Go Show atau langsung beli di loket seperti dahulu. Namun saat ini pihak ASDP masih memiliki penjualan tiket Go Show untuk sementara waktu sembari terus mengedukasi penumpang dengan pembelian tiket online melalui aplikasi Ferizy atau websitenya. Selain melalui website dan aplikasi, pengguna jasa kini dapat membeli tiket ferry di seluruh gerai Alfamart sebagai mitra resmi penjualan tiket ASDP dengan biaya admin mulai dari Rp1000 sampai dengan Rp5 ribu disesuaikan dengan jumlah nominal per transaksi. Baca juga: Hentikan Sementara Penjualan Tiket Penumpang, ASDP Hanya Layani Logistik Untuk diketahui, ketika penumpang yang memiliki tiket dan akan melakukan pembatalan bisa langsung melalui aplikasi ataupun website. Penumpang tinggal mengklik riwayat pemesanan dan ada menu refund. Uang pengembalian tiketnya akan ditransfer ke pelanggan rata-rata maksimal 30 hari setelah pembatalan.

Gegara Covid-19, Korean Air Hapus Layanan First Class (Lagi) Hingga 2021

Sepinya minat penumpang bepergian menggunakan pesawat telah memaksa maskapai nasional Korea Selatan, Korean Air, menghapus layanan first class hingga 2021. Sebelumnya, pada pertengahan tahun lalu, maskapai yang berbasis di Seoul itu juga pernah menghilangkan layanan first class di 76 rute internasional dan menyisakan 27 rute saja (yang masih menjual tiket first class). Baca juga: Ulang Tahun Ke-50, Korean Air Hadirkan Seragam Vintage Awak Kabin dari Masa ke Masa Dilansir MSN, adanya keputusan tersebut, praktis, maskapai hanya menyisakan layanan first class di dua rute besar saja, yakni Seoul (ICN) – Los Angeles (LAX) dan Seoul (ICN) – New York (JFK). Kedua rute unggulan tersebut sejauh ini masih ditawarkan maskapai secara, terbang dengan Airbus A380 atau Boeing 747-8, bergantung pada jumlah penumpang. Adapun layanan first class yang dihapus Korean Air, di antaranya rute-rute ke Beijing, Osaka, Hong Kong, Taipei, Bangkok, Singapura, Manila, Hanoi, dan Jakarta. Meskipun pihak perusahaan belum menjelaskan lebih lanjut, diduga kuat, keputusan Korean Air menghilangkan layanan first class hingga 2021 diakibatkan sepinya penerbangan penumpang belakangan ini. Penyebabnya, apalagi kalau bukan pandemi Covid-19. Pasalnya, jika di tahun lalu saja, saat pandemi corona belum merebak di dunia, Korean Air telah menghilangkan layanan first class di 76 rute internasional karena kekurangan peminat, bagaimana dengan sekarang? Tentu kondisinya jauh lebih buruk. Sebagai gantinya, maskapai akan memaksimalkan kursi bisnis yang masih tersedia untuk mengakomodir penumpang premium yang ingin mendapat layanan lebih. Lagi pula, selama ini, layanan first class yang diberikan Korean Air tidak memiliki perbedaan yang terlalu signifikan jika dibandingkan dengan kelas bisnis mereka. Sebab, kelas bisnis dan first class menggunakan bangku dan teknologi yang sama. Di armada Boeing 787-9, misalnya, Korean Air menggunakan Apex Suite di kedua kelas tertinggi itu. Apex suite memiliki monitor televisi berukuran 23 inch dan kursi dengan lebar 21 inch. Begitu pula dengan armada Airbus A330 yang mereka gunakan, kualitas dan jenis bangku serta monitor pada kelas bisnis dan first class-nya juga sama. Baca juga: Pertama Kalinya, Korean Air Minta Pramugari Cuti Tanpa Dibayar Hingga Setahun Mendatang Perbedaannya adalah penumpang first class mendapatkan amenities DAVI, layanan makanan, check in, dan KAL Premium Care Service. Sedangkan untuk lounge dan akses naik pesawat, kedua kelas ini mendapatkan prioritas dibandingkan dengan ekonomi. Dengan perbedaan layanan antara first class dan kelas bisnis yang tak begitu mencolok, tak heran bila banyak penumpang lebih memilih untuk memesan tiket kelas bisnis ketimbang first class. Selain itu, belakangan, kelas bisnis Korean Air juga cenderung mendekati first class, dengan menawarkan kursi private dan layanan lebih.

Stasiun Ngrombo, Sederhana dengan Dua Bangunan dan Dekat Stasiun Gambringan

Berada di daerah Grobogan, Jawa tengah, Stasiun Ngrombo terletak pada ketinggian +38 meter di atas permukaan laut. Stasiun ini masuk dalam Daerah Operasional (Daop) 4 Semarang dan merupakan stasiun kereta api kelas II. Nama stasiun ini sendiri diambil dari dusun tempatnya berada dan merupakan stasiun aktif terbesar dan teramai di Kabupaten Grobogan. Baca juga: Stasiun Walikunkun – Punya Pemanis Mitos dari Daerah Setempat Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, jarak Stasiun Ngrombo hanya 1,7 km di sebelah barat Stasiun Gambringan. Dulunya stasiun ini memiliki perpotongan ke Purwodadi dan Gundih yang mana percabangannya ada di sebelah timur Stasiun Ngrombo. Meski tak lagi menjadi stasiun percabangan, warga Purwodadi yang hendak naik kereta api lebih memilih stasiun ini karena lebih dekat dengan jalan raya yang menguhubungkan Purwodadi dengan Solo bila dibandingkan dengan Stasiun Gambringan.
Wajah baru Staisun Ngrombo (Wikipedia)
Stasiun Ngrombo memiliki dua bangunan di kawasannya yang mana sisi timur adalah bangunan yang dulunya dibuat oleh Belanda dan salah satunya di bagian barat yang selesai dibangun pada 2013 bersamaan ketika stasiun ini juga selesai menjalani perbaikan dan penataan. Perbaikan yang dilakukan adalah pembangunan kanopi, peninggian peron, pelebaran lahan parkir serta pembangunan mushola dan toilet baru di sisi barat stasiun. Bisa dikatakan, perbaikan dan penataan yang dilakukan pada Stasiun Ngrombo menjadi yang paling besar dan terlihat jelas dibanding dengan stasiun lain di lintas Jakarta – Surabaya. Sehingga saat ini wujudnya sudah jauh berbeda dari bentuk asal dan fasilitas yang tersedia lebih baik dari sebelumnya. Stasiun Ngrombo sendiri memiliki tiga jalur dengan jalur 2 sebagai sepur lurus. Kemudian setelah jalur ganda mulai dibangun stasiun ini hingga Stasiun Gubug resmi beroperasi di akhir November 2013, membuat jalur Stasiun Ngrombo bertambah menjadi empat dengan jalur 2 tetap sebagai sepur lurus namun untuk arah Semarang saja dan jalur 3 sebagai sepur lurus khusus untuk arah Surabaya. Sedangkan jalur 4 ditambahkan di sisi selatan stasiun sebagai jalur belok baru. Kemudian peron stasiun ditinggikan serta diberi kanopi atau overcapping. Overcapping ini dibangun oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan. Dulunya stasiun ini menggunakan sistem persinyalan mekanik dengan sedikit modifikasi berupa perangkat sinyal muka yang berjenis elektrik. Namun saat ini semuanya sudah diganti dengan sistem persinyalan elektrik. Baca juga: Jangan Lupa Makan Pecel Kalau Mampir di Stasiun-Stasiun Ini Di stasiun ini beberapa kereta api seperti KA Harina dari Bandung menuju ke Surabaya Pasar Turi, KA Maharani dari Surabaya Pasar Turi menuju ke Semarang Poncol dan KA Blora Jaya dari Semarang Poncol ke Cepu berhenti di Stasiun ini. Kemudian 2014 lalu, KA Gumarang dari Surabaya Pasar Turi menuju Pasar Senen juga berhenti di Stasiun Ngrombo setelah PT KAI menyetujui usulan Bupati Grobogan waktu itu. Pada awal tahun 2020, peron stasiun ini pun diperpanjang sekaligus ditambah kanopi untuk mendukung pelayanan kereta api penumpang rangkaian panjang.

Elena Chukhnyuk, Eksis di Perang Dunia II, Inilah Masinis Wanita di Lokomotif Uap

Rusia salah satu negara yang memiliki jaringan kereta api terpanjang di dunia, ternyata mempekerjakan banyak wanita di jaringannya. Bahkan banyak di antara wanita ini bekerja sebagai masinis kereta listrik maupun uap dan sukses. Terkhusus menjadi masinis di lokomotif kereta uap terbilang berat dan sebenarnya tidak cocok untuk wanita. Baca juga: Vanithashree, Kisah Masinis Wanita Sukses dari Mangaluru Bahkan bukan hanya bagi wanita, ternyata bagi pria pun, bekerja di kereta api bisa menyebabkan masalah kesehatan. Selain tidak ada toilet di lokomotif kereta uap, mengangkat batu bara dan menghirup uapnya cukup untuk mengganggu kesehatan masinis. Namun nyatanya para wanita tangguh di Rusia mampu menaklukan pekerjaan sebagai masinis.
Elena Chukhnyuk (id.rbth.com)
Dulunya di Uni Soviet ada daftar pekerjaan yang tidak boleh dilakukan oleh wanita dan biasanya ini cukup berisiko, salah satunya adalah masinis. Namun ternyata pada 1938 silam, masinis dihapus dari daftar tersebut dan Uni Soviet akhirnya memiliki masinis wanita pertama. Dikutip KabarPenumpang.com dari id.rbth.com, Elena Chukhnyuk di tahun itu menjadi masinis yang mengoperasikan lokomotif berat. Bahkan tiga tahun setelah dia bekerja, yakni pada 1941, Elena dianugerahi gelar Pekerja Kehormatan Kereta Api pada dirinya berumur 26 tahun. Bahkan selama Perang Dunia II, Elena mengoperasikan lokomotif dan menarik kereta yang membawa amunisi, peralatan militer dan batu bara ke garis depan dekat Stalingrad dan Kursk. Kemudian di tahun 1939, Basharat Mirbabayeva menjadi masinis yang mengoperasikan lokomotif diesel pertama di Uzbekistan Soviet. Tak berhenti di situ, seorang masinis wanita lainnya bekerja di Metro Moskow selama Perang Patriotik Raya. Karena pada masa itu banyak pria yang pergi ke medan perang. Bahkan saat itu, mengoperasikan kereta metro dianggap tidak lebih mudah dari lokomotif karena seluruh jam kerja mereka di bawah tanah. Pada 1955, Metro Leningrad (sekarang Metro Sankt Peterburg) membentuk satu-satunya tim yang terdiri dari empat masinis wanita. Salah satu dari mereka, pembalap kelas 1 Natalya Donskaya, bekerja di metro selama 32 tahun dan pensiun pada 1987. Di masa itu, jadwal kereta sangat ketat dan ada banyak situasi yang menegangkan, bahkan masinis dituntut untuk sehat, bugar, bereaksi cepat, kuat secara emosional dan mental. Sebab selama bekerja para masinis tidak bisa beristirahat untuk menikmati teh, kopi ataupun mengobrol dengan orang lain. Karena masalah kesehatan dan menuntut banyak hal, tahun 1980-an, negara ini kembali melarang wanita bekerja sebagai masinis. Namun manajemen Metro Moskow memutuskan untuk tidak memecat wanita dengan pengalaman kerja yang panjang dan terus bekerja bahkan setelah Uni Soviet runtuh. Wanita terakhir yang mengoperasikan kereta di Metro Moskow adalah Natalya Korneyenko. Dia pernah mengatakan ada lebih banyak bahaya dan stres di jalan dibandingkan di bawah tanah. Natalya bekerja selama lebih dari 30 tahun dan mengemudikan kereta di jalur Sokolniki serta mengundurkan diri 2014 lalu. Baca juga: 29 Siswa Wanita Berlatih Jadi Masinis Kereta Peluru di Cina Hingga saat ini, wanita Rusia tak dilarang untuk mengikuti pelatihan masinis kereta api, Meski begitu banyak dari mereka hampir tidak mendapat pekerjaan itu dan satu-satunya wanita yang masih bekerja adalah Yulia Yurova seorang asisten masinis kereta bandara Aeroexpress.

2021 eSkootr Championship Dimulai!

Salah satu hal yang membuat balap motor jauh lebih menjadi pilihan untuk ditonton daripada balap mobil, karena penonton bisa melihat bahasa tubuh pengendara selama lomba berlangsung. Hal ini kemudian akan diterapkan teori yang sama pada kendaraan yang lebih kecil yang akan menunjukkan kemarahan, ketakutan, frustasi dan lainnya akan muncul pada layar ketika eSkootr Championship (eSC) dimulai. Baca juga: Pakai GrabWheels Jangan Lupa Scan Kode QR Setelah Selesai Kalau Tak Mau Didenda Rp300 Ribu Namun bagaimana bila seri balapan eSkoort Championship dengan kecepatan 100 km per jam atau 62 mph benar-benar terjadi? Bagaimana juga band weeny 15 inci akan berdecit di lintasan ketika bendera dinaikkan dan skuter listrik melaju di jalur lurus, melambat dan berbelok di tikungan? Ini akan menjadi gila. Tim eSC mengatakan, ini semua tentang balap yang dapa diakses dan bagi mereka ini adil. Sebab para pembalap akan menggunakan satu set jaket kulit, helm, skuter balap dan ini jauh lebih murah daripada motor balap atau mobil. Hal tersebut karena skuter listrik lebih mudah diangkut dibandingkan mobil atau motor yang harus dilepas dan dipasang. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (9/7/2020), penyedia teknologi tinggi yang diakui ini telah mendaftar untuk mengeluarkan dan membangun skuter balap pertama dengan prototipe yang akan diungkap akhir tahun ini. Salah satu kandidatnya adalah Rion yang merupakan skuter Rion2 RE90 Racing Edition dan sudah dilengkapi dengan motor ganda, bodi sepenuhnya karbon, tiang dan stang. Rion sendiri digadang-gadang mampu mencapai kecepatan 160 km per jam atau 100 mph dan terbatas hingga 130 km per jam atau 80 mph. Harga dari Rion ini sendiri sekitar US$6800. Selain Rion ada beberapa perusahaan lain yang cukup serius menjalankan bisnis eSC dengan pembalap Formula 1 Alex Wurz, pembalap Formula E Lucas Di Grassi dan pembalap A1GP Khalil Beschir dan pengusaha Hrag Sarkissian yang bertindak sebagai CEO. “Racer dapat berasal dari semua tempat termasuk pembalap mobil dan motor, pengendara sepeda, skater, snowboarder dan e-pembalap. Ini akan menjadi olahrga yang sangat fisik, karena kita membayangkan posisi tubuh pembalap memainkan peran yang lebih besar dalam waktu putaran dibandingkan pembalap motor,” kata tim eSC. Orang dapat membayangkan beberapa teknik menikung yang cukup ekstrim keluar dari ini. Tim eSkootr juga percaya bahwa seperti seri balapan yang bagus, sebagiannya tentang pengembangan teknologi. Pikiran Anda sulit untuk melihat di mana skuter tendangan bebas-kecepatan akan menemukan relevansi dalam campuran mikromobilitas. Baca juga: Uber Hancurkan Ribuan Sepeda Listrik Jump dan Skuter “Balapan akan dimulai pada tahun 2021, dan kami ingin melihat seperti apa tampilannya. Jika berjuang untuk menarik penonton, perubahan aturan sederhana yang memungkinkan pukulan kontak penuh, tendangan dan biaya bahu bisa menjadi tiket. Lihat video rendahan keju di bawah ini, untuk pergi dengan foto-foto rendahan keju ini,” kata tim eSC.