Gegara AS, Iran Air Batal Datangkan Airbus A380
Januari 2016 lalu mungkin jadi salah satu momen yang paling membahagiakan untuk industri penerbangan di Iran. Sebab, di waktu itulah pemerintah Amerika Serikat (AS) resmi menghentikan embargo (sanksi ekonomi) berkepanjangan terhadap Iran yang putus-nyambung sejak November 1979.
Baca juga: Penerbangan Bersejarah di Iran, Seluruh Kru Kokpit Perempuan
Bak burung lepas dari sangkarnya, industri penerbangan di Negeri Syiah itu langsung tancap gas memanfaatkan kondisi tersebut untuk memperkuat pasokan bahan atau elemen pendukung bisnis mereka, khawatir sewaktu-waktu eskalasi politik antar kedua negara tersebut kembali meningkat. Tak terkecuali Iran Air.
Kala itu, tak lama setelah embargo dihentikan, maskapai nasional Iran itu memesan cukup banyak pesawat, mulai dari 12 unit Airbus A380, 46 unit A320, 38 unit A330 long range, dan 16 unit A350, dengan merogoh kocek sebesar $25 miliar.
Tak hanya itu, maskapai yang berbasis di Bandara Internasional Imam Khomeini dan Bandara Internasional Mehrabad ini juga memesan beberapa jenis pesawat Boeing, seperti 50 pesawat 737 MAX, 30 unit 777, 15 unit 777-300ER, dan 15 unit 777-9X dengan total belanja sebesar $17 miliar.
Dilihat dari berbagai pesawat yang dipesan Iran Air, cukup jelas bahwa maskapai yang berdiri pada 24 Februari 1962 itu ingin melakukan ekspansi besar-besaran, baik di tingkat regional atau kawasan (Timur Tengah), Eropa, Asia, hingga Amerika Utara. Berlandaskan hal itu, tentu, keputusan maskapai membeli pesawat-pesawat tersebut sangat tepat.
Airbus A380, misalnya, kuat diduga akan dimaksimalkan Iran Air untuk masuk di pangsa pasar penerbangan penumpang premium jarak jauh, sebagaimana tetangga mereka, Emirates, Etihad, dan Qatar Airways. Selain itu, dengan jumlah pesanan sebanyak 12 unit, Iran Air bukan hanya akan melawan The Three Mega Carrier Timur Tengah, melainkan juga akan melawan Qantas, yang setiap tahunnya (sebelum Covid-19) selalu menikmati pundi-pundi uang dari penerbangan premium A380 ke Eropa dan AS.
Akan tetapi, posisi Iran di industri penerbangan internasional pastinya tidak bisa disandingkan dengan Australia, Dubai, dan Qatar. Oleh karenanya, seperti dilansir Simple Flying, pembelian Airbus A380 Iran Air tentu sangat tidak tepat.
Selain itu, untuk pesawat yang direncanakan baru tiba pada 2019-2020 (seandainya kontrak tetap dilanjutkan), A380 tentu cukup usang dibanding pesawat-pesawat terbaru Airbus dan Boeing, seperti A350 dan 787 Dreamliner yang bisa terbang sama jauh namun konsumsi bahan bakar lebih efisien.
Baca juga: Mengharukan, Warga Iringi ‘Kepergian’ Airbus A380 Terakhir Saat Lewati Pedesaan Perancis
Lagi pula, Iran Air walau bagaimanapun tetap akan selalu berada dalam bayang-bayang sanksi ekonomi AS. Andai kata Iran Air tetap membeli A380 dan AS menerapkan kembali sanksi ekonomi, tentu pergerakan A380 dalam penerbangan jarak jauh akan terbatas.
Sudah begitu, pasokan suku cadang juga akan menipis. Sekalipun ada, besar kemungkinan rantai pasokan suku cadang A380 akan dikuasai oleh Emirates Airline yang diprediksi tak akan mau berbagi suku cadang dengan Iran. Jika sudah begini, tak ada alasan logis untuk dijadikan dasar Iran Air melanjutkan proses pemesanan A380. Pada akhirnya, ambisi udara Iran melalui perpanjangan tangan Iran Air akan sulit dicapai.
Australia Punya Jalur Lurus Kereta Api Terpanjang di Dunia
Seluruhnya negara bisa dibilang memiliki jaringan kereta api sebagai salah satu moda transportasi. Beberapa diantaranya bahkan menjadi jaringan kereta api terbesar di dunia karena memiliki bentang rel terpanjang. Namun tidak semuanya memiliki jalur lurus terpanjang di dunia, sebab biasanya panjang jalur ini dihitung dari keseluruhan rel yang terpasang di jaringan negara tersebut.
Baca juga: India Resmikan Terowongan Kereta Listrik Tepanjang, 6.700 Meter!
KabarPenumpang.com melansir dari laman kiwi.com (13/7/2020), ternyata dari sepuluh negara yang memiliki jaringan terpanjang di dunia, Australia punya bentang jalur lurus terpanjang di dunia. Negeri Kanguru ini memiliki jalur lurus terpanjang yang melintasi Dataran Nullarbor sejauh 478 km atau 297 mil.
Jalur ini sama sekali tidak ada yang menyimpang alias benar-benar tarikan garis lurus. Ketika dilihat dari luar angkasa, menurut mantan astronot, Andy Thomas, ini adalah garis yang sangat halus seperti seseorang telah menggambar garis pensil yang sangat halus melintasi padang pasir.
Pembangunan jalur lurus ini awalnya sebagai bagian dari program insentif untuk mendorong warga Perth yang jauh agar bergabung dengan pesemakmuran Australia yang baru terbentuk. Trans-Australia Railway adalah bagian dari jalur India-Pasifik sebuah layanan yang membentang antara Sydney dan Perth.
Untuk perjalanan satu arahnya sendiri memakan waktu antara 65 hingga 70 jam perjalanan. Waktu tempuh tergantung pada penjadwalan dan ini diterima secara luas sebagai salah satu perjalanan kereta api terbesar dunia. Meski begitu, pelancong yang menaiki kereta ini tidak akan kelaparan atau kehilangan momen indah perjalanan.
Sebab, selain mendapat pemandangan, perjalanan ini juga paketnya dilengkapi dengan semua makanan termasuk wine dan koktail berkualitas. Kamar tidur mewah dan berhenti di titik-titik strategis untuk melihat pemandangan paling menakjubkan di Australia. Untuk menikmati perjalanan panjang ini para pelancong harus mengocek kantong sedalam AUS$2599 atau Rp26,8 juta.
Meski memiliki pemandangan indah, di sepanjang rute ini tidak melewati jalur air tawar permanen melainkan lubang bor dan waduk yang ditetapkan pada interval waktu tertentu. Bahkan airnya sering payau dan tidak cocok untuk penggunaan lokomotif uap apalagi konsumsi manusia sehingga pesediaan air harus dibawa di kereta dari awal keberangkatan.
Baca juga: Beijing-Guangzhou High-Speed Line, Jaringan Kereta Cepat yang Dioperasikan Dua Operator
Bahkan pada masa lokomotif uap, sekitar setengah dari total muatan adalah air untuk mesin. Pada tahun-tahun berikutnya, pabrik kondensor dibangun di beberapa stasiun utama. Untuk diketahui, agar mencerminkan kepemilikan garis oleh Pemerintah Persemakmuran, delapan daerah diberi nama (atau diganti namanya) dengan nama-nama orang terkemuka lainnya juga dialokasikan, seperti yang ditunjukkan pada peta yang berdekatan.
Keren, Teknologi di Bandara Qatar Mungkinkan Penumpang Lewati X-Ray Tanpa Keluarkan Barang Elektronik
Bandara Internasional Hamad (HIA) belum lama ini dikabarkan telah menginstal teknologi pemeriksaan keamanan terbaru. Teknologi tersebut diklaim melibatkan algoritma canggih yang memungkinkan petugas untuk dengan mudah mendeteksi bahan peledak yang disembunyikan di koper atau benda apapun; bahkan dengan struktur yang sulit ditembus (dideteksi) sekalipun.
Baca juga: Sambut Piala Dunia 2022, Qatar Perluas Kapasitas Bandara Internasional Hamad
Tak hanya itu, dengan adanya teknologi ini, penumpang juga menjadi lebih dimudahkan. Sebab, mereka tak perlu mengeluarkan seluruh perlengkapan elektronik, seperti laptop, tablet, kamera digital, smartphone saat melewati pos pemeriksaan (mesin X-ray).
Tentu saja hal itu juga membuat penumpang lebih aman. Sebab, tak jarang, dalam proses tersebut, ketidakhati-hatian penumpang justru memberikan oknum tak bertanggungjawab mengambil kesempatan mencuri untuk barang-barang tersebut.
Teknologi C2, yang merupakan standar deteksi Konferensi Penerbangan Sipil Eropa (ECAC) ini, awalnya akan dipasang di semua pos pemeriksaan penumpang, khususnya penumpang transit, pasca kembali hidupnya industri penerbangan Qatar.
Di samping meningkatkan keamanan, teknologi itu juga mampu mempercepat proses pemeriksaan agar tak terjadi penumpukan. Tak hanya itu, penerapan teknologi tersebut juga mengukuhkan bandara HIA sebagai salah satu bandara yang mulai menerapkan standar sistem deteksi bahan peledak yang diakui secara internasional.
Berkenaan dengan wabah Covid-19, Standar Deteksi ECAC C2 ini juga merupakan alat yang brilian untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kontak antar penumpang saat proses pemeriksaan. Dengan begitu, selain cepat, teknologi ini juga menjadikan bandara lebih membuat penumpang aman dari paparan virus Cina.
“Proses keamanan di HIA terus meningkat melalui pengimplementasian teknologi terkini. Tujuan kami adalah membuat seluruh perjalanan lebih aman, mengingat pandemi Covid-19 saat ini. Selama masa-masa yang penuh tantangan ini, prioritas kami tetap untuk melindungi penumpang sambil menjaga keamanan,” kata Saeed Yousef Al-Sulaiti, VP Keamanan Bandara Internasional Hamad (HIA), seperti dilansir menafn.com.
“Melalui penerapan teknologi C2, kita dapat mencapai protokol yang lebih efisien yang mengatasi semua masalah penumpang. Ini akan memudahkan penumpang dan kami melanjutkan investasi kami ke arah itu sambil mengembangkan solusi yang sesuai dengan keinginan pelanggan,” tambahnya.
Bandara HIA memang sejak beberapa tahun lalu bertransformasi menjadi bandara kelas internasional yang patut diperhitungkan. Bandara terbaik ketiga di dunia ini, pada tahun 2019 lalu berhasil mencapai efisiensi yang luar biasa saat proses pengecekan. Dengan dukungan ruang besar yang mampu menampung sekitar 6 ribu penumpang per jam, proses pengecekan di Bandara HIA 95 persen di antaranya berhasil dilakukan di bawah lima menit.
Prestasi itu berhasil dicapai, salah satunya, berkat penggunaan teknologi biometrik yang juga sudah marak digunakan di bandara-bandara internasional terkemuka di dunia, seperti Bandara Heathrow, London, Bandara Canberra, dan bandara lainnya.
Teknologi ini memungkinkan penumpang untuk menggabungkan segala informasi penerbangan, paspor, dan biometrik wajah dalam ‘single travel token’ saat proses self check-in.
Baca juga: Vision-Box Hadirkan Teknologi Identitas Digital dengan Biometrik Canggih di Bandara
Dengan begitu, penumpang dapat melewati titik-titik pemeriksaan di bandara, seperti self-service bag-drop, pre-immigration, e-Gate, dan self-boarding gate, tanpa memakan waktu lama. Sebab, seluruh catatan identitas penumpang telah dikantongi petugas dan dicocokan secara real time dengan bantuan kamera yang tersebar di seluruh sudut bandara.
Selain itu, bandara ini juga berinvestasi banyak dalam teknologi robotika dan helm thermal screening dalam upaya mencegah penularan wabah corona di bandara. Robot yang dimaksud adalah robot otomatis yang memancarkan sinar UV-C untuk membunuh mikroorganisme sekaligus membunuh patogen berbahaya, Selain itu, ada juga terowongan desinfeksi ultraviolet untuk mendisinfeksi semua bagasi penumpang yang check-in (berangkat, tiba, dan transit).
Pertama di Dunia, Pramugari Wizz Air Bisa Gantikan Pilot Kemudikan Pesawat
Maskapai penerbangan asal Hungaria, Wizz Air belum lama ini dikabarkan telah meluncurkan program Cabin Crew to Captain. Program tersebut bertujuan untuk memungkinkan para awak kabin atau pramugari mewujudkan impian mereka menjadi pilot lewat program itu.
Baca juga: Maskapai Penerbangan Andalkan Erdorse Selebriti untuk Dongkrak Popularitas, Efektifkah?
Dilansir ukaviation.news, program ini merupakan yang pertama untuk industri penerbangan global. Nantinya, para pramugari yang berminat dan potensial terlebih dahulu dibekali pelatihan terbang secara intensif (selama 22 bulan berupa kursus darat ab-initio) disusul pelatihan terbang di Trener Flight School, di Nyíregyháza, Hungaria, selama 18 bulan.
Tak hanya itu, para taruna nantinya juga akan dibekali dengan bantuan sejenis insentif, uang transport dan akomodasi, serta menawarkan jadwal kerja lebih fleksibel, mengikuti jadwal pelatihan.
Jika kandidat berhasil lolos tes program Cabin Crew to Captain atau program peningkatan pramugari menjadi pilot, di samping memenuhi persyaratan umum maskapai, otomatis para taruna akan menjadi pilot trainee Wizz Air dan didaftarkan dalam pelatihan lebih lanjut perusahaan. Dari Pilot trainee kemudian akan menjadi First Officers setelah berhasil melewati uji penerbangan terakhir.
Head Of Flight Operations sekaligus Chief Pilot Wizz Air, Kapten Darwin Triggs, menyebut program tersebut didedikasikan oleh perusahaan untuk para pramugari yang memiliki minat tinggi menjadi pilot. Hal ini juga sekaligus sebagai salah satu langkah strategis maskapai dalam mempersiapkan diri memperluas ekspansi pasar.
Selain itu, program tersebut, lanjutnya, juga menunjukkan bentuk dukungan perusahaan terkait isu kesetaraan gender dalam penerbangan dan perkembangannya dalam industri ini di masa depan.
“Kami sangat senang meluncurkan program Cabin Crew to Captain yang terkemuka di industri penerbangan dan didedikasikan untuk pramugari Wizz, yang bercita-cita menjadi pilot,” jelasnya.
“Ini adalah peluang besar bagi mereka untuk mengembangkan karir dan terus berproses di perusahaan ini, seiring ekspansi maskapai dalam memperluas jaringan armada dan rute. Kami percaya bahwa program ini juga akan mendukung kesetaraan gender dalam penerbangan dan pertumbuhannya yang berkelanjutan,” tambahnya.
Baca juga: Ellen Church, Pramugari Pertama di Dunia yang Juga Punya Lisensi Pilot
Menariknya, selain program ini tidak terbatas untuk pramugari Wizz Air saja, melainkan juga terbuka untuk seluruh pramugari dari seluruh maskapai. Tentu, bila lolos ujian sampai tahap terakhir, mereka akan bergabung dengan Wizz Air, bukan kembali ke maskapai semula dan memulai karir baru sebagai pilot di sana.
Di industri penerbangan dunia, pramugari yang juga memiliki lisensi pilot bukanlah barang baru. Bahkan, pramugari pertama di dunia pada tahun 1930 silam, Ellen Church, tercatat juga sebagai pramugari pertama yang mempunyai lisensi pilot. Pramugari kelahiran 22 September 1904 itu awalnya memang bercita-cita menjadi pilot. Impian tersebut akhirnya harus kandas karena posisinya sebagai wanita dan kemudian banting setir menjadi pramugari pertama di dunia bersama Boeing Air Transport.
Sistem Input Prediktif Digunakan Tanpa Sentuhan Langsung pada Layar
Sebelum pandemi Covid-19, orang-orang cukup senang berbagai keypad dan menggunakan layar sentuh bersamaan. Namun setelah pandemi Covid-19, ketakutan menularkan virus dan bakteri melalui permukaan membuat orang menyentuh hal-hal yang telah disentuh orang lain sebelumnya.
Baca juga: OSG ScreeneX Hadirkan ‘Informasi’ pada Kaca Moda Transportasi Umum
Hal ini kemudian menghadirkan berbagai macam teknologi canggih saat ini dikembangkan untuk memudahkan banyak orang agar tidak saling bersentuhan atau menggunakan sesuatu yang digunakan bersamaan. Seperti Jaguar Land Rover dan Universitas of Cambridge yang sedang mengembangkan layar sentuh tanpa sentuhan untuk sistem hiburan di mobil.
Sistem ini memiliki keunikan dengan sentuhan prediktif yang mana menggunakan kecerdasan buatan dan sensor cangggih yang memungkinkan pengemudi untuk membuat pilihan tanpa benar-benar menyentuh layar tersebut. KabarPenumpang.com melansir dari laman newatlas.com (26/7/2020), dibuatnya sistem sentuhan prediktif tersebut karena saat ini semakin banyak orang sadar akan kuman dan banyak induatri menemukan cara untuk beradaptasi.
Ini termasuk menemukan cara bagi staf dan pelanggan untuk beroperasi tanpa sentuhan. Sistem sentuh prediktif Jaguar Land Rover dirancang untuk mencari tahu tindakan apa yang akan diambil oleh pengguna di awal tugas penunjukan. Untuk itu, sistem dilengkapi dengan kamera, sensor frekuensi radio dan pelacakan mata untuk memberikan data ke sistem kecerdasan buatan yang dikombinasikan dengan profil pengguna serta kondisi lingkungan untuk membuat prediksi sebelum jari pengguna mencapai layar.
Menurut Jaguar Land Rover, teknologi ini tidak hanya membantu mengurangi penyakit, akan tetapi membuat pengemudi lebih aman serta mengurangi gangguan. Saat ini sistem tersebut di uji laboratorium dan jalanan untuk menunjukkan teknologi prediksi yang dapat mengurangi waktu interaksi hingga 50 persen. Bahkan, teknologi ini dapat memiliki aplikasi yang lebih luas di luar kabin mobil untuk mengurangi penyebaran kuman.
“Ketika negara-negara di seluruh dunia keluar dari penguncian, kami melihat berapa banyak transaksi konsumen sehari-hari dilakukan dengan menggunakan layar sentuh seperti membeli tiket kereta api atau bioskop, ATM, check in bandara dan check out swalayan, serta banyak aplikasi industri dan manufaktur,” kata Lee Skrypchuk, Spesialis Antarmuka Mesin Manusia di Jaguar Land Rover.
Baca juga: Pengamat Penerbangan: Kalau Sudah Pakai Masker Semua, Kenapa Harus Jaga Jarak?
Lee mengatakan, bahwa teknologi sentuh prediktif menghilangkan kebutuhan untuk menyentuh layar interaktif dan karenanya dapat mengurangi risiko penyebaran bakteri atau virus pada permukaan. Selain itu, teknologi ini juga menawarkan kesempatan pengguna untuk membuat kendaraan lebih aman dengan mengurangi beban kognitif pada pengemudi dan meningkatkan jumlah waktu yang dapat mereka habiskan ketika fokus pada jalan di depan.
Usai Raih 63.900 Jam, Airbus A330-300 Pertama di Dunia Pensiun
Airbus A330 pertama yang memasuki layanan secara komersial akhirnya resmi pensiun. Pesawat yang dioperasikan oleh Cathay Dragon (dahulu Dragonair) ini tercatat telah melahap total 63.900 jam dan 26.983 siklus layanan (rute) selama 24 tahun menemani anak perusahaan Cathay Pacific itu.
Baca juga: Kendala Teknis, Airbus A330-300 MAS ‘Ngerem’ Mendadak Dua Kali Ketika Hendak Take Off
Dilansir airwaysmag.com, jenis pesawat pertama yang dimaksud adalah Airbus A330-300. Pesawat tersebut diketahui selesai diproduksi pada Januari 1994 dan mulai bergabung dalam barisan armada Cathay Pacific dua tahun kemudian. Dalam prosesnya, maskapai asal Hong Kong itu kemudian menghibahkan pesawat tersebut ke anak perusahaannya pada Maret 2013 lalu.
Penerbangan komersial terakhir pesawat Airbus A330-300 ialah penerbangan kurang dari tiga jam, dari Shanghai ke Hong Kong, pada 6 Juli lalu. Pesawat kemudian dikandangkan untuk beberapa waktu sebelum akhirnya diputuskan pensiun dari layanan pada 17 Juli.
Selama masa baktinya kepada maskapai, Airbus A330-300 umumnya mengisi rute-rute jarak pendek dan menengah di kawasan Asia. Menariknya, walaupun bukan maskapai Eropa yang sudah seperti menjadi sebuah keharusan untuk mengoperasikan all-Airbus, Cathay Dragon tercatat sebagai salah satu maskapai di Asia (selain AirAsia) yang juga mengoperasikan all-Airbus, yakni keluarga Airbus A320 dan A330.
Airbus A330 sendiri sebetulnya cukup sanggup untuk menempuh rute-rute jauh. Namun, karena rute-rute jauh sudah diisi oleh pesawat lain yang lebih efisien, maskapai akhirnya membatasi pesawat hanya pada rute-rute regional saja.
Secara historis, pesawat ini dibuat pada waktu yang sama dengan Airbus A340, yang notabene dibekali dengan empat mesin atau quad jet. Setelah Airbus mengembangkan A350, beberapa pengamat mengungkap bahwa hal itu bertujuan untuk menggantikan posisi A330 yang sudah usang (kala itu, meskipun akhirnya Airbus juga mengembangkan A330neo dan lain-lain).
A330-300 secara umum mampu mengangkut sebanyak 295 penumpang dalam konfigurasi kabin tiga-kelas (335 dalam 2 kelas dan 440 dalam kelas tunggal) dengan jarak 10,500 km. Pesawat ini memiliki kapasitas kargo besar dan dapat disandingkan dengan Boeing 747 pertama. Beberapa maskapai melakukan penerbangan kargo tengah malam setelah penerbangan penumpang pada siang hari.
Baca juga: Mayday! Mayday! Airbus A330-300 Air China Terbakar di Beijing International Airport!
Selain bisa disandingkan dengan Boeing 747 versi awal, A330-300 juga dapat disamakan dengan Boeing 777-200 dan McDonnell Douglas MD-11 yang kini sudah tidak diproduksi lagi.
Pesawat ini menggunakan dua mesin General Electric CF6-80E, Pratt & Whitney PW4000 atau Rolls-Royce Trent 700. Kesemuanya diberi nilai ETOPS-180. US Airways, salah satu maskapai terbesar di Amerika Serikat (kini dimilliki oleh American Airlines Group) merupakan salah satu maskapai terbanyak di Amerika Serikat yang mengoperasikan jenis pesawat ini dengan total semibilan armada.
Apakah Aerosol Bisa Sebabkan Infeksi? Lalu Apakah Buka Jendela Ruangan Bisa Hindari Virus?
Beberapa waktu lalu ada bukti yang berkembang bahwa partikel-partikel udara yang lebih kecil dan disebut aerosol juga dapat membawa dan menyebarkan virus. Di mana pada awal masa pandemi virus corona baru atau Covid-19 tetesan pernapasan yang lebih besar seperti ludah dan lendir menyebarkan virus ini.
Baca juga: Ilmuwan: Bukti Penularan Covid-19 di Udara Semakin Banyak
Karena partikel virus ini bisa menemukan jalan ke hidung, mulut atau mata yang menyebabkan infeksi karena memiliki ukuran lima sampai sepuluh mikron. Namun meski begitu, tetesan ini akan cepat jatuh ke tanah atau permukaan yang ada di dekatnya seperti ketika dua orang tengah berbicara.
Tetapi ketika seseorang tertawa, bernyanyi bahkan bernapas pun ternyata menghasilkan tetesan yang lebih kecil dan lebih ringan atau kurang dari lima mikron serta akan menguap sebelum jatuh ke tempat terdekat.
Maka pada awal pandemi partikel udara yang lebih kecil dan disebut aerosol ini para ahli tak yakin dapat mengandung cukup virus untuk menginfeksi siapa pun. Seseorang tidak akan terinfeksi dengan menghirup satu atau dua tetesan kecil, mereka harus terpapar pada konsentrasi tertentu sebelum menyentuh permukaan.
“Ini semacam proses eliminasi. Anda sampai pada titik di mana Anda berkata. Ini seperti transmisi aerosol,” “kata Lisa M. Brosseau, seorang konsultan penelitian di Pusat Penelitian dan Kebijakan Penyakit Menular Universitas Minnesota yang dikutip KabarPenumpang.com dari fivethirtyeight.com (20/7/2020).
Dia mengatakan, di tengah pandemi, itulah yang Anda miliki. Di mana Anda mengambil bukti apa yang dimiliki, amati, dan kemudian menarik kesimpulan dari itu. Ketika orang-orang berada di luar, transmisi aerosol kur .
Brosseau mengatakan, ini seperti menjatuhkan pewarna makanan ke sungai, tapi di dalam ruangan, terutama jika ventilasi buruk, aerosol lebih mudah menumpuk dan lebih seperti menjatuhkan pewarna makanan ke dalam birdbath. Namun, kadang-kadang, Anda tidak bisa menghindari berenang di air keruh itu.
“Berita baiknya adalah, ada cara untuk mencairkan dan membersihkan aerosol dari ruang dalam ruangan. Tetapi itu membutuhkan lebih banyak usaha,” tambah Brosseau.
Membuka jendela bisa membantu karena itu memaksa udara segar masuk, dan sebagian udara yang terkontaminasi akan keluar.
“Tidak ada keraguan bahwa, seiring waktu, rata-rata, konsentrasi aerosol akan turun jika Anda membuka jendela,” kata Rajat Mittal, seorang profesor teknik mesin yang mempelajari aerodinamika di Universitas Johns Hopkins.
“Anda dapat mencapai perubahan udara melalui salah satu dari dua cara,” kata David Krause, ahli kesehatan industri bersertifikat dan pemilik HealthCare Consulting and Contracting.
Baca juga: Pastikan Keamanan, Boeing dan Airbus Pelajari Risiko Sebaran Virus Corona di Pesawat
Dia menambahkan, yang pertama adalah melalui pergantian udara kotor, membawa udara luar dan udara mengeluarkan udara dari dalam ruangan, dan yang kedua Anda dapat mencapainya dengan menggunakan filter efisiensi tinggi yang secara efektif menghilangkan partikel yang mengandung virus dari udara.
Nah jadi di dalam pesawat atau kendaraan umum lainnya aman tidak ya? Karena aerosol pasti ada meskipun perputaran udara tetap berlangsung.
Amerika Serikat Telat, Baru Akan Mulai Rapid Test Covid-19
Semenjak pandemi Covid-19, untuk bepergian baik di dalam negeri sendiri maupun negara luar, setiap penumpang diwajibkan memiliki hasil tes negatif Covid-19. Hal ini untuk mencegah penyebar luasan virus tersebut ke daerah atau negara yang akan dikunjungi pelancong. Biasanya maskapai penerbangan akan meminta hasil dengan cara tes cepat atau rapid tes.
Baca juga: Enak Banget, Penumpang Etihad Bisa Rapid Test dan PCR Test Covid-19 di Rumah! Begini Teknisnya
Namun, ternyata Amerika Serikat mengalami keterlambatan besar dalam melakukan uji Covid-19 dengan cepat karena para dokter dan ilmuwan mengatakan jenis tes diagnostik lainnya dapat mengurangi tekanan pada laboratorium. Bahkan bisa dikatakan, tes cepat ini memberikan hasil dalam waktu beberapa menit, sedangkan alat berbasis laboratorium akan memakan waktu berhari-hari.
“Setiap hari mereka menunggu adalah hari lain mereka perlu karantina, atau jika tidak, itu hari lain mereka bisa menulari orang lain,” kata Dr. Keith Jerome dari Universitas Washington yang dikutip KabarPenumpang.com dari nbcnews.com (23/7/2020).
Dia mengatakan, jika hasil tes didapat dalam waktu 20 menit, Anda akan dapat mengambil tindakan segera. Pada Rabu (22/7/2020) kemarin, National Institutes of Health mengumumkan apa yang disebut upaya yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk meningkatkan teknologi pengujian. Upaya ini didanai US$1,5 miliar sebagai stimulus federal, dan program ini akan fokus pada pembuatan tes cepat dan mendistribusikannya secara lebih luas.
Presiden Donald Trump juga menjanjikan pengujian yang lebih cepat selama pengarahannya. Dr Breet Giroir yang mengawasi pengujian Covid-19 nasional mengatakan, bahwa dirinya mengarapkan lima juta tes tambahan dengan sasaran 20 juta atau lebih di September mendatang.
Tes ini akan memberikan hasil cepat karena sample tidak dikirim ke laboratorium dan dimasukkan langsung ke mesin yang bertempat di ruang dokter atau rumah sakit. Nantinya mesin melakukan analisis, yang awalnya butuh berjam-jam kini hanya beberapa menit untuk mendapatkan hasil seperti pengecekan flu atau tes strep yang digunakan sebagian besar dokter.
Enam tes perawatan diotorisasi oleh Food and Drug Administration, termasuk dua tes antigen, yang mencari protein tertentu dalam virus daripada bahan genetik. Meskipun tes cepat tampaknya menjanjikan, masalah yang signifikan mencegah lebih banyak dokter untuk menggunakannya.
Sebab sebagian besar tidak seakurat tes berbasis laboratorium dan dalam beberapa kasus, mereka dapat memiliki tingkat negatif palsu yang sangat tinggi. Joseph Petrosino, direktur virologi molekuler dan mikrobiologi di Baylor College of Medicine bahkan membandingkannya dengan makan di restoran cepat saji.
“Jika Anda pergi ke restoran gourment, Anda tidak mengharapkan makanan Anda siap dalam lima menit. Tapi jika Anda sedang bepergian dan membutuhkan makanan cepat saji, kualitas makanan biasanya merupakan pengorbanan, dibandingkan dengan restoran gourmet. Itu hal yang sama di dunia pengujian,” kata dia.
Salah satu tes cepat yang lebih populer, tes point-of-care ID Abbott Labs, yang menjanjikan hasil hanya dalam lima menit dan pernah digembar-gemborkan oleh Gedung Putih, mendapat kecaman dalam beberapa pekan terakhir setelah sebuah penelitian kecil menemukan bahwa itu mengembalikan negatif palsu untuk hampir 50 persen sampel tertentu dibandingkan dengan tes saingan. Sementara penelitian lain menemukan hasil yang lebih akurat, itu sudah cukup bagi FDA untuk mengeluarkan peringatan pada bulan Mei, ini karena badan tersebut telah menerima 147 laporan kejadian buruk tentang tes tersebut.
Baca juga: Meski Beda Prosedur, Lufthansa dan Lion Air Hadirkan Layanan Rapid Test Covid-19
“Kenyataannya adalah mencoba melakukan ini dengan sangat cepat, kombinasi yang cepat dan sensitif ternyata benar-benar sebuah tantangan,” kata Dr. Christopher Polage, direktur laboratorium mikrobiologi klinis di Duke University Health System.
Polage mengatakan pengujian Covid-19 adalah proses yang panjang. Di laboratorium, para ilmuwan menggunakan reagen khusus yang memperkuat atau menyalin bahan genetik sampel untuk menguji virus.
McDonnell Douglas Dakota DC-3 – Si Tua-Tua Keladi Setelah 81 Mengudara
Seiring berjalannya waktu, umumnya, pesawat mau tak mau akan tergerus oleh zaman dan digantikan dengan pesawat lain yang lebih tangguh dan canggih, baik dari segi teknologi, kapasitas, maupun komponen pesawat.
Baca juga: Perang Dunia I Dorong Ilmuan Inggris Kembangkan Telepon Nirkabel di Kokpit
Namun, hal itu rasanya tak berlaku untuk McDonnell Douglas DC-3. Sejak pertama kali terbang pada 17 Desember 1935 dan diproduksi massal tak lama setelahnya, tercatat, sudah ada lebih dari 10 ribu pesawat DC-3 yang ‘dilahirkan’, baik dalam versi militer maupun sipil. Bahkan, sampai tahun 2017 lalu, masih ada sekitar 2.000an pesawat yang aktif melayani penerbangan komersial di seluruh dunia.
Padahal, produksi pesawat yang mempunyai sekitar 20 julukan tersebut -di antaranya Gooney Bird, The Flying Elephants, The Beast, Biscuit Bomber, Old Methuselah, dan banyak lagi- sudah dihentikan sejak tahun 1950an. Artinya, ribuan pesawat yang masih aktif melayani penerbangan komersial penumpang itu sudah melewati jam terbang atau tenggat operasional maksimum pesawat. Tentu mengacu pada standar umum umur pesawat.
Di Indonesia, misalnya, melalui Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 7 Tahun 2016, operasional pesawat penumpang maksimum mencapai 30 tahun. Sedangkan untuk pesawat kargo, operasional pesawat maksimum mencapai 40 tahun.
Dilansir disciplesofflight.com, pesawat penumpang dengan panjang 19.7 meter dan tinggi 5.16 meter itu mampu mengangkut sekitar 14 penumpang dalam konfigurasi kelas bisnis (memungkin penumpang untuk tidur) atau 28-32 orang (atau setara 4.000 pon barang) dalam konfigurasi kelas ekonomi untuk penerbangan jarak pendek.
Douglas DC-3 pada awalnya ditenagai oleh dua mesin besar 1.200 tenaga kuda Wright Cyclone R-1820 dan didukung oleh tiga baling-baling steel Hamilton Standard. Model selanjutnya, termasuk versi militer, menggunakan mesin Twin Wasp Pratt & Whitney R-1830 (yang juga memiliki berat 1.250 pound, sama dengan versi sebelumnya).
Douglas DC-3 memiliki banyak keunggulan. Dari segi komponen, sebetulnya, pabrikan tak pernah membuat pesawat berbahan dasar logam dan DC-3 menjadi yang pertama. Tak heran, jika pesawat itu disebut sangat tangguh berkat bahan dasar logam itu. Bahkan, saking tangguhnya, proses perancangan pesawat disebut berlebihan, sebagai majas hiperbola, wujud dari apresiasi masyarakat terhadap kehebatan pesawat.
Bukti ketangguhan pesawat pengembangan dari DC-2 ini bukanlah kaleng-kaleng. DC-3 tercatat menjadi pesawat terbang pertama yang mampu mendarat di Kutub Selatan pada tahun 1956. Selain itu, DC-3 versi militer (C-47) pernah mengangkut jauh melebihi kapasitas, mulai dari 75 orang saat serangan bom di Tokyo di musim Perang Dunia II dan 93 orang (tiga kali kapasitas normal) saat banjir besar di Brasil.
Masih kurang? DC-3 versi militer juga pernah tercatat dalam pendaratan aneh. Disebut aneh, sebab, satu waktu, pesawat sudah kehabisan bahan bakar, kemudian seluruh penumpang terjun. Alih-alih jatuh sembarang, pesawat malah disaksikan oleh tim mendarat sempurna dengan mulus di padang rumput, beberapa mil dari posisi tim berada.
Dari segi efiseinsi, DC-3 memang tak lebih irit dibanding Boeing model 247. Namun hal itu wajar, mengingat berat pesawat Boeing masih setengah dari berat total DC-3. Sudah begitu, dari segi daya jangkau, Boeing hanya mampu menjangkau 745 mil dan mengangkut 273 galon kapasitas bahan bakar.
Sedangkan, DC-3 mampu terbang sejauh 1.500 mil dengan kapasitas bahan bakar maksimum mencapai 804 galon. Meski demikian, para ahli menyebut, tingkat efisiensi yang dicapai DC-3 sudah tergolong sangat baik di zamannya.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, tak heran bila hanya dalam tempo tiga tahun pasca kemunculan, DC-3 didaulat sukses mengangkut 90 persen lebih penumpang dari seluruh maskapai di Amerika Serikat (AS), mulai dari American Airlines hingga United Airlines.
Baca juga: Ternyata, Jakarta Merupakan Destinasi Penerbangan Antar Benua Perdana KLM!
Di Indonesia sendiri, DC-3 tercatat sebagai pesawat pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagai Dakota DC-3 RI-001 Seulawah; ditenagai oleh dua mesin Pratt & Whitney berbobot 8.030 kilogram dengan kecepatan maksimum mencapai 346 km per jam. Pesawat ini juga menjadi cikal bakal berdirinya flag carrier nasional, Garuda Indonesia.
Tak lupa, DC-3 atau Dakota VT-CLA juga merupakan pesawat nahas Indonesia yang jatuh ditembak P-40 Kittyhawk Belanda saat agresi militer sekutu, pasca kemerdekaan Indonesia. Di antara orang Indonesia yang tewas, ada Komodor Udara Adisucipto, Komodor Udara Prof. Dr. Abdulrahman Saleh, dan operator radio Adisumarmo Wiryokusumo, dimana saat ini nama ketiganya diabadikan menjadi bandara.
Elon Musk: Normal Baru, Kendaraan Listrik Mampu Menempuh Jarak Sejauh 500 Km
Di era normal baru, kendaraan listrik akan memiliki ekspektasi standar jaraknya sekitar 300 mil atau 500 km. Hal ini disebutkan pendiri dan CEO Tesla, Elon Musk saat mengumumkan hasil Q2 2020 terkait perusahaan. Ia mengatakan, perusahaan terus bekerja dengan para mitra mereka untuk membuat perbaikan pada sel baterai dan paketnya untuk menurunkan biaya serta meningkatkan jangkauan perjalanan kendaraan listrik yang berkembang.
Baca juga: Layani Kendaraan Listrik, Momentum Dynamics Rilis Halte Berdaya 200 Kilowatt Nirkabel
“Berkenaan dengan kendaraan penumpang, saya pikir normal baru untuk jangkauan akan menjadi sekitar 300 mil. Jadi saya pikir orang akan benar-benar datang untuk mengarapkannya seperti biasa,” ujar Musk yang dikutip KabarPenumpang.com dari thedriven.io (23/7/2020).
Dia menyebutkan ini merupakan harapan standar karena perlu memperhitungkan apakah di luar sangat panas atau dingin. Kemudian apakah pengguna akan menaiki gunung yang tinggi setelah muatan penuh. Musk mengatakan, orang tidak ingin sampai ketujuan mereka dengan jarak 10 mil atau 16 km.
Sehingga mereka ingin margin yang masuk akal dan berpikir mendekati 300 mil akan menjadi normal baru. Musk menjelaskan bahwa EV model 3 yang dibuat di Cina gigafactory Shanghai akan mencapai kisaran hampir 300 mil dengan paket baterai fosfat yang mempertimbangkan sejumlah besar powertrain dan efisiensi kendaraan lainnya.
“Apa yang kami lihat dengan kendaraan penumpang kami adalah efisiensi power train dan efisiensi ban, koefisien drag. Pada dasarnya efisiensi total kendaraan kami sudah cukup baik, dengan Model 3 misalnya, bahwa kami benar-benar merasa nyaman memiliki paket baterai besi fosfat di Model 3 di Cina yang akan menjadi produksi volume akhir tahun ini” kata dia.
Mereka kemudian berpikir bahwa mendapatkan jangkauan yang hampir 300 mil dengan paket fosfat. Di mana Tesla mempertimbangkan sejumlah tenaga listrik serta efiseinsi kendaraan lainnya. Ini kemudian membebaskan banyak kapasitas untuk hal-hal seperti Tesla Semi dan produk lainnya yang membutuhkan kepadatan jangkauan tinggi.
“Jadi kami berpikir bahwa mendapatkan jangkauan yang… hampir 300 mil dengan paket fosfat, dengan mempertimbangkan sejumlah tenaga listrik dan efisiensi kendaraan lainnya. Dan itu membebaskan banyak kapasitas untuk hal-hal seperti Tesla Semi dan produk lain yang membutuhkan kepadatan jangkauan tinggi,” ujar Musk.
Memproduksi sel baterai dengan fokus pada litium-besi fosfat atau teknologi berbasis nikel dan harga yang terjangkau ditunjukkan oleh Musk sebagai “batasan nyata” pada pertumbuhan berkelanjutan perusahaan, baik untuk divisi energinya dan untuk EV.
“Kami akan berbicara lebih banyak tentang hal ini pada Battery Day karena ada beberapa kendala penskalaan mendasar. Setiap bagian dari rantai pasokan itu, pada tingkat sel, akan menjadi faktor pembatas. Dari penambangan hingga pemurnian, pembentukan katoda dan anoda, pembentukan sel. Apa pun titik tersedaknya, itu akan menghambat laju pertumbuhan. Dan jadi kami berharap untuk memperluas bisnis kami dengan Panasonic, dengan CATL, dengan LG, mungkin dengan orang lain, dan Anda tahu ada banyak lagi yang bisa dikatakan pada hari baterai,” jelasnya.
Baca juga: Blue Bird Gunakan Mobil Listrik Tesla untuk Armada Taksi Terbaru
Dalam hal mencapai kisaran yang lebih tinggi dari kemasan baterai EV, Musk menyarankan bahwa masa depan terletak pada teknologi berbasis nikel dengan kepadatan lebih tinggi. Selain itu Musk bahkan membuat pitch untuk perusahaan sumber daya untuk datang ke pesta.
“Tolong tambang lebih banyak nikel. Tesla akan memberi Anda kontrak raksasa untuk jangka waktu yang lama jika Anda menambang nikel secara efisien dan dengan cara yang peka terhadap lingkungan,” tuturnya.
