Pemotongan Gaji Bikin Staf Maskapai Terkena Dampak Psikologis

Ketika pemotongan gaji secara besar-besaran dan cuti wajib tanpa upah atau leave without pay (LWP) ternyata memiliki dampak psikologis yang berpotensi bencana pada beberapa staf maskapai penerbangan. Hal ini dikatakan oleh pilot paling senior dari Air India. Baca juga: 200 Awak Kabin Air India Kena PHK dan 50 Pilot Ditolak Pengunduran Dirinya “Kami ngeri memikirkan jenis tindakan putus asa dan ekstrem yang dapat dipicu karena situasi yang ada seperti yang telah berulang kali terbukti berkali-kali di masa lalu. (Pergerakan) menimbulkan ancaman yang sangat serius terhadap penerbangan dan keselamatan publik,” kata Asosiasi Eksekutif Pilot (EPA) AI yang menulis surat kepada menteri penerbangan H S Puri. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman timesofindia.indiatimes.com (23/7/2020), maskapai asal Negeri Bollywood ini telah mengeluarkan kebijakan untuk menirim staf nya di LWP hingga lima tahun. Pada Rabu (22/7/2020), AI telah memotong gaji pilot dan awak kabinnya dengan efek retrospektif mulai 1 April 2020. Sedangkan manajemen maskapai menempatkan pengurangan sebesar 40 persen dan pilot mengatakan tunjangan terbang mereka yang merupakan mayoritas dari total pembayaran telah dipotong hampir 85 persen. Seorang pilot yang sudah sepuluh tahun menerbangkan pesawat berbadan lebar biasanya akan membawa pulang RS5,5 lakh tapi saat ini hanya R2,1 lakh. “Seorang kopilot sekarang akan membawa pulang Rs30 ribu bukan Rs 1,4 lakh sebelumnya,” kata seorang pilot. Dalam serangkaian tweet, Air India mengatakan, “… tidak seperti maskapai lain yang telah mem-PHK sejumlah besar karyawan mereka, tidak ada karyawan AI yang akan di-PHK. Tidak ada pengurangan gaji pokok, DA dan HRA untuk kategori karyawan apa pun. Rasionalisasi tunjangan harus dilaksanakan karena kondisi keuangan maskapai yang sulit yang diperburuk oleh Covid-19.” “Awak terbang akan dibayar sesuai dengan jumlah jam aktual yang diterbangkan. Ketika operasi domestik dan internasional berkembang untuk mencapai tingkat pra-Covid dan posisi keuangan Air India meningkat, rasionalisasi tunjangan akan ditinjau,” tambahnya. EPA telah menunjukkan bahwa lebih dari 60 pilot AI telah diuji positif Covid-19 ketika mendaftar untuk mengoperasikan penerbangan Misi Vande Bharat. “… tidak seperti perang lainnya, musuh (virus corona) telah menemani para prajurit (anggota kru) pulang untuk mempengaruhi anggota keluarga mereka dengan efek yang menghancurkan. Setidaknya satu pilot kehilangan satu anggota keluarga karena Covid-19 dan yang lainnya terinfeksi,” kata surat itu. Baca juga: Air India Hadirkan Makanan Khusus Rendah Lemak Bagi Pilot dan Pramugari Pilot eksekutif, yang merupakan pilot paling senior, telah meminta agar risiko besar diambil oleh pilot AI dan keluarga mereka untuk menjaga agar maskapai ini bertahan diakui dan tindakan keputusasaan, penglihatan pendek dan diskriminatif seperti yang dilakukan, untuk melihat solusi jangka pendek untuk mengatasi situasi fiskal genting segera dibatalkan.

Efek Bird Strike: Pesawat Setara Tabrak Objek Seberat 32 Ton! Kok Bisa?

Burung besi (pesawat terbang) meskipun berukuran jauh lebih besar dan jauh lebih berat, kurang lebih berbobot 40.000 kg, kerap dibuat repot dengan kawanan burung berbobot hanya 2 kg. Salah satu pelopor penerbangan, Cal Rodgers, adalah orang pertama yang mati karena bird strike. Baca juga: Lima Kecelakaan Penerbangan Akibat ‘Bird Strike’ Terburuk di Dunia Pada tahun 1912, pesawatnya bertabrakan dengan burung camar di Long Beach, California yang menyebabkan masalah besar pada pesawatnya. Pesawat Rodgers jatuh dan ia pun tenggelam. Dalam catatan International Bird Strike Committee, sekitar $1,2 miliar setiap tahun digelontorkan maskapai untuk memperbaiki pesawat akibat bird strike. Tabrakan dengan kawanan burung atau bird strike pada umumnya memang kerap terjadi tak lama setelah pesawat lepas landas. Begitu juga menjelang landing. Hal itu dimungkinkan karena ketinggian pesawat masih dalam jangkauan terbang burung yang pada umumnya maksimal bisa mencapai ketinggian 4.800-an meter. Di Amerika, data dari Federal Aviation Administration (FAA) menunjukkan, sekitar 90 persen dari insiden bird strike terjadi di sekitar bandara. Selain itu, Administrasi Penerbangan Federal AS atau FAA juga memperkirakan bahwa penerbangan di AS mengalami kerusakan sekitar $400 juta atau Rp5,4 triliun setiap tahun akibat serangan burung dan lebih dari 200 korban tewas sejak 1988. Meskipun kuantitas tabrakan burung dengan pesawat masih sangat debatable (ada yang mengkategorikan masih tergolong tak terlalu sering terjadi dan sebaliknya), namun faktanya, antara 1990 hingga 2015 ada 160.894 insiden tabrakan dengan burung di AS. Dari jumlah tersebut, hanya sekitar 0,25 persen yang mengakibatkan kecelakaan. Dalam upaya menemukan formula yang tepat agar mesin tetap dalam keadaan prima saat terjadi bird strike, rangkaian tes ekstrem untuk memastikan pesawat aman pun dilakukan. Tak terhitung berapa banyak burung mati yang dilemparkan ke dalam mesin. Tak hanya itu, simulasi serangan bird strike dari arah depan juga dilakukan. Hal itu guna mengurangi potensi bahaya dengan kerusakan pada jendela pesawat akibat bird strike. Dilansir skybrary.aero, di antara masalah yang dihasilkan saat terjadinya bird strike adalah speed of impact atau tingginya kecepatan sebelum terjadi benturan. Secara ilmiah, hal itu bisa digambarkan sebagai massa=kecepatan. Jadi, tingkat kerusakan bird strike sangat sebanding dengan kecepatan yang sedang ditempuh pesawat. Berangkat dari asumsi tersebut, ilmuan pun berlomba untuk mendesain pesawat serta mesin agar lebih kokoh dalam mengantisipasi terjadinya bird strike. Selain itu, ilmuan juga menyematkan asumsi tambahan, yakni massa=berat. Dalam kegunaan sehari-hari biasanya disinonimkan dengan berat. Namun menurut pemahaman ilmiah modern, berat suatu objek diakibatkan oleh interaksi massa dengan medan gravitasi. Asumsi tersebut sangat diperlukan mengingat kerusakan struktural yang diakibatkan bird strike juga sebanding dengan efek tabrakan (berat) yang dihasilkan. Dengan menggabungkan asumsi massa=kecepatan dan massa=berat, maka, ilmuan dapat mengasumsikan, bila sebuah angsa seberat 6,8 kg yang ditabrak pesawat dengan kecepatan 518 km per jam, maka sama saja pesawat menabrak FOD (Foreign Object Damage) seberat 32 ton. Baca juga: Kecelakaan Pesawat Terburuk Sepanjang Masa Lahirkan Warisan Penting di Dunia Penerbangan Fakta tersebut tentu sangat mengerikan, mengingat tempat paling sering terjadinya bird strike adalah bandara, yakni saat pesawat turun maupun lepas landas. Sebab, di kedua momen itu, pesawat biasanya mengeluarkan tenaga maksimum untuk memuluskan proses landing dan take off. Tergantung jenis pesawat, saat di kedua momen itu, khususnya saat lepas landas, pesawat bisa mencapai kecepatan hingga 950 km per jam. Jadi, kemungkinan pesawat menabrak beban seberat 32 ton bukan asumsi di angan-angan, melainkan ancaman nyata yang bisa menerjang sewaktu-waktu.

Berciuman Memakai Masker, Kelakuan Penumpang Pesawat di Masa Pandemi Semakin Aneh

Kelakuan aneh penumpang pesawat sepertinya tak habis-habisnya, bahkan di masa pandemi Covid-19 pun masih saja ada. Padahal penumpang yang menggunakan pesawat masih dibatasi jumlahnya. Seperti sepasang kekasih yang menunjukkan kasih sayang mereka di dalam pesawat dan tertangkap kamera penumpang lain tengah berciuman meski masih menggunakan masker sebagai protokol kesehatan. Baca juga: Pakai StadiumPod di Kabin Pesawat, Pebisnis Ini Coba Cegah Tertular Virus Corona Bila dari foto yang tersebar di Instagram Passenger Shamming sang pria menggunakan masker namun sang wanita tidak jelas menggunakan atau tidak. Gambar perilaku aneh penumpang ini diposting dalam feed Instagram dengan tagar #maskmakeout dan caption, “Saya bersiap-siap untuk akhir pekan bersama pria saya seperti …” . Kemudian warganet yang melihatnya langsung mengomentari foto tersebut. “Cara paling aman untuk keluar,” ujar seorang warganet. “Tolong katakan padaku, mereka hanya berpose untuk foto dan ini tidak nyata,” ujar warganet lainnya. Dilansir KabarPenumpang.com dari nzherald.co.nz (23/7/2020), seorang penumpang wanita menggunakan pod ketika duduk di dalam pesawat dan tetap menggunakan masker. Foto yang di unggah di Instagram Passenger Shamming ini diberi caption, “Ya Tuhan, aku mencintainya! Suasana perjalanan yang menyenangkan. Tetap aman di sana, kawan!” Dalam foto tersebut, wanita gemuk berkulit hitam itu memberikan pose seperti memberikan sebuah improvisasi tersendiri. Salah seorang warganet bahkan mengatakan, “Berimprovisasi. Menyesuaikan. Mengatasi.” Selain itu ada lagi yang cukup terlihat aneh di mana seorang wanita menggunakan masker untuk menutupi wajahnya bukan dengan masker biasa melainkan menggunakan sebuah celana dalam. Wanita itu dalam penerbangan dengan Southwest Airlines. Tak hanya itu, sebuah foto baru-baru ini menjadi viral menggambarkan seorang lelaki, tertidur lelap dalam topi MAGA yang menggunakan topeng bedah sebagai penutup mata. Ketika pertama kali muncul di akun @lvnitup22, gambar tersebut menemukan ketenaran viral sebagai sindiran politik yang tidak disengaja. Namun, situs web Penumpang yang mempermalukan dengan cepat menunjukkan bahwa jabatan itu tidak termotivasi secara politis dengan mengatakan bahwa, “ini hanya tentang seorang lelaki yang mengenakan topeng seperti badut.” Baca juga: Khawatir Covid-19, Pria Ini dengan ‘PD-nya’ Gunakan Kostum Dinosaurus di Bandara Miami Bulan lalu seorang pria di-boot dari pesawat American Airlines (dua kali) setelah menolak untuk memakai topengnya dengan benar, dengan alasan politik.

Emirates Jadi Maskapai Pertama Tawarkan Asuransi Covid-19 Gratis ke Penumpang! Simak Syaratnya

Emirates menjadi maskapai penerbangan pertama yang menawarkan penumpang asuransi Covid-19 gratis senilai hingga $174,000. Asuransi kesehatan Covid-19 gratis Emirates itu menjamin kesehatan penumpang bila mana mereka positif terpapar virus yang diduga bersumber dari Wuhan, Cina, itu setelah menyelesaikan perjalanan bersama maskapai asal Dubai, Uni Emirat Arab tersebut. Baca juga: Emirates Jadi Maskapai Pertama Lakukan Rapid Test Corona ke Seluruh Penumpang Selain itu, seluruh beban biaya yang ditimbulkan akibat penumpang positif terpapar corona setelah menikmati penerbangan Emirates juga akan ditanggung maskapai. Seperti wajib karantina, biaya perawatan, dan PCR test senilai $115 per hari selama 14 hari. Pendiri merangkap CEO Emirates, Sheikh Ahmed bin Saeed Al Maktoum, menjelaskan, kebijakan tersebut bukan inisiatif perusahaan yang dipimpinnya, melainkan datang langsung dari Perdana Menteri, Wakil Presiden Uni Emirat Arab, sekaligus Emir dari Monarki Absolut atau Kerajaan Dubai, Sheikh Mohammed bin Rashid Al Maktoum. “Langkah ini akan membantu meningkatkan kepercayaan penumpang di setiap perjalanan dan sekali lagi menempatkan Emirates dan Dubai sebagai pemimpin industri penerbangan,” jelas CEO yang juga presiden Otoritas Penerbangan Sipil Dubai, seperti dikutip dari paddleyourownkanoo.com. Menariknya, jaminan asuransi Covid-19 gratis Emirates ini berlaku selama 31 hari setelah trip pertama mereka bersama salah satu maskapai terbesar di dunia ini. Bahkan, asuransi tersebut tetap berlaku sekalipun penumpang Emirates sudah wara-wiri ke seluruh penjuru dunia. Apabila penumpang tersebut divonis positif corona, sekalipun patut diduga mereka tertular di tempat lain dan bukan saat atau beberapa hari pasca terbang bersama Emirates, selama masih di bawah 31 hari, biaya pengobatan dan perawatan penumpang positif Covid-19 akan tetap ditanggung maskapai. Luar biasa, bukan? Layanan asuransi gratis Covid-19 Emirates ini berlaku untuk semua pemesanan tiket hingga Oktober 2020 mendatang. Tak peduli apapun kelas penerbangannya, baik ekonomi, bisnis, maupun first class, tetap akan mendapatkan nilai coverage dengan besaran yang sama. Meski demikian, layanan tersebut harus disertai dengan bukti konkret berupa hasil tes negatif Covid-19 selama kurang lebih empat hari sebelum perjalanan, sebagaimana kebijakan yang telah dikeluarkan Otoritas Manajemen Krisis dan Darurat Nasional (NCEMA). Selain mengeluarkan aturan di atas, NCEMA juga mewajibkan penumpang dari 12 negara ‘berisiko tinggi’ untuk melengkapi perjalanan mereka dengan hasil tes negatif Covid-19. Baca juga: Enak Banget, Penumpang Etihad Bisa Rapid Test dan PCR Test Covid-19 di Rumah! Begini Teknisnya Tak hanya itu, seluruh wisatawan yang hendak masuk ke Dubai juga diwajibkan memiliki sertifikat negatif Covid-19, baik membawanya dari negara asal maupun tes yang dilakukan di bandara Dubai; termasuk juga penumpang transit, tak peduli asal negara mereka, mulai 1 Agustus mendatang. Namun, peraturan tersebut dikecualikan untuk penumpang dengan kategori anak-anak di bawah usia 12 tahun dan penumpang penyandang disabilitas. Langkah Emirates tentu membuat kebijakan rapid dan PCR test Covid-19 oleh kompetitor senegara mereka, Etihad Airways, menjadi terlihat usang. Namun, di sisi lain, dari kacamata persaingan usaha, layanan asuransi Covid-19 gratis ini tentu akan semakin mengobarkan persaingan seru maskapai satu negara antara Emirates vs Etihad.

Panas, Qatar Airways Tuntut Kompensasi US$5 Miliar ke Empat Negara Gegara Blokade!

Qatar Airways dilaporkan telah menuntut empat negara Teluk akibat aksi blokade. Empat negara itu, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Mesir akan dituntut Qatar Airways lewat arbitrase internasional sebanyak US$5 miliar sebagai kompensasi atas kekacauan investasi dan operasional maskapai, baik di kawasan maupun global. Tak hanya itu, Qatar Airways juga menuntut mereka agar diadili. Baca juga: Qatar di Blokade Negara-Negara Teluk, Bagaimana Nasib Qatar Airways? Blokade yang sudah berlangsung sejak dua tahun lalu itu dinilai telah mengakibatkan maskapai menenggak kerugian langsung sebanyak ratusan juta dolar. Selain itu, embargo dari keempat negara itu juga telah memaksa perusahaan mengeluarkan dana berlebih untuk mengamankan operasional mereka di negara-negara sekitar. “Keputusan keempat negara tersebut memblokade (mengembargo) Qatar Airways untuk beroperasi di negara dan terbang di atas wilayah udara mereka adalah pelanggaran yang sangat jelas terhadap konvensi penerbangan sipil (Chicago Convention on International Civil Aviation) dan beberapa perjanjian yang mengikat yang juga ditandatangani oleh mereka,” ungkap CEO Qatar Airways, Akbar Al Baker, sebagaimana dikutip KabarPenumpang.com dari Simple Flying. Embargo keempat negara tersebut terhadap Qatar (termasuk Qatar Airways) memang sangat merugikan. Sebab, blokade atau embargo yang dijalankan empat negara teluk itu bukan saja terhadap seluruh maskapai Qatar, termasuk Qatar Airways, melainkan juga terhadap seluruh penerbangan internasional dari dan ke Qatar. Mereka (penerbangan internasional dari dan ke Qatar) diharuskan meminta izin masuk terlebih dahulu dan hal itu tentu saja akan mematikan industri penerbangan Qatar. Terlebih, jika dilihat dari letak geografis, posisi Qatar diapit oleh Bahrain di sebelah Barat Laut, Barat dan Selatan oleh Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab di sebelah Timur. Belum cukup sampai di situ, dari segi ruang udara, Qatar juga tertutup oleh ketiga ruang udara ketiga negara tersebut dan hanya menyisakan ruang udara kecil di sebelah Utara dan Timur Laut Qatar untuk maskapai yang ingin berhubungan dengan mereka tanpa melewati ruang udara ketiga negara. Baca juga: Krisis Besar, Qatar Airways Tolak Pesawat Airbus dan Boeing Hingga 2022 Sampai saat ini, arbitrase internasional sendiri belum memberikan keputusan apapun terkait tuntutan Qatar Airways. Namun, belum lama ini, Pengadilan Internasional PBB yang berpusat di Den Haag terlihat seperti memihak ke Qatar, dengan meminta keempat negara teluk itu membuka blokade penerbangan sebagaimana yang telah diatur oleh Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). Krisis diplomatik Qatar bermula pada 5 Juni 2017 ketika beberapa negara secara tiba-tiba memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar. Negara-negara tersebut adalah Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Bahrain, Mesir, dan Maladewa. Pemutusan hubungan tersebut termasuk penarikan duta besar, memberlakukan larangan perdagangan dan perjalanan. Mereka menuding Qatar telah mendukung tindak terorisme dengan mendanai aksi terorisme di kawasan, khususnya Yaman.

Setelah SIKM, Kini Hadir Corona Likelihood Metric (CLM)

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kini sudah meniadakan Surat Izin Keluar Masuk (SIKM) bagi masyarakat yang ingin melakukan perjalanan masuk atau keluar Jakarta. Meski begitu, ada syarat baru yang harus dipenuhi oleh masyarakat yakni dengan mengisi formulir Corona Likelihood Metric atau CLM yang tersedia di aplikasi JAKI atau melalui https://jaki.jakarta.go.id/ atau situs https://rapidtest-corona.jakarta.go.id/. Baca juga: PT KAI Minta Gubernur DKI Jakarta Hapus SIKM untuk KA Relasi dari Bandung Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, SIKM sendiri tujuannya untuk membatasi aktivitas masyarakat yang hendak keluar masuk Jakarta selama Pembatasan Sosial berskala Besar (PSBB). Sedangkan CLM dibuat untuk mengendalikan aktivitas masyarakat. Bisa dikatakan, CLM seperti self-assessment di mana ketika pengisian formulirnya ada penilaian pribadi terkait kondisi yang terjadi saat itu. Sehingga saat mengisi formulir CLM tersebut, warga diharapkan jujur karena hasil isian akan dinilai oleh sistem dan kemudian diberi skor. Indikasi tersebut berdasarkan nilai yang ditetapkan dan jika tidak sesuai maka Anda tidak akan diizinkan untuk melakukan perjalanan keluar rumah. Kemudian, hasil CLM akan menyarankan pengguna untuk melakukan tes pemeriksaan. Jika terbukti positif maka akan ada treatment tertentu seperti karantina mandiri atau sesuai rekomendasi dokter saat dilakukan tes. Hasil self-assessment tersebut berlaku selama tujuh hari atau satu pekan. Di mana nantinya pengguna diwajibkan untuk memperbarui dengan melakukan pengisian ulang. Sedangkan SIKM, warga harus menyertakan sembilan berkas yang harus diisi terlebih dahulu sebelum diunggah pemohon dalam format JPG, JPEG, PNG atau PDF dalam web corona.jakarta.go.id. Sembilan berkas tersebut adalah scan KTP, foto berwarna, surat keterangan asal/domisili diketahui RT, surat pernyataan bersedia di karantina bermaterai Rp6 ribu (jika masuk DKI Jakarta). Kemudian ada surat pernyataan sehat dari yang bersangkutan bermaterai Rp6 ribu, surat tugas/undangan dari instansi/perusahaan, scan asli surat keterangan untuk warga yang berdomisili di luar Jabodetabek, scan asli surat keterangan untuk warga yang berdomisili di DKI Jakarta, terakhir surat pernyataan penjamin bermaterai Rp6 ribu. Baca juga: Kata “Check Point” Kondang Setelah PSBB, Ternyata Sebelumnya Justru Terkenal di Jerman Nantinya pemohon akan menunggu SIKM karena DPMPTSP akan terlebih dahulu meminta persetujuan dan validasi dari penanggung jawab yang telah diisi pemohon, untuk memverifikasi tujuan keluar-masuk Jakarta.

Asyik, Naik Garuda Indonesia Dapat ‘Cashback’ Biaya Rapid Test Ratusan Ribu! Begini Caranya

Maskapai Garuda Indonesia belum lama ini meluncurkan promo cashback biaya rapid test sebesar Rp150 ribu. Penawaran spesial ini berlaku untuk pembelian tiket melalui website dan mobile application Garuda Indonesia pada 23 – 31 Juli 2020. Adapun periode perjalanan yang diatur mulai dari 23 Juli – 31 Agustus 2020. Baca juga: Enak Banget, Penumpang Etihad Bisa Rapid Test dan PCR Test Covid-19 di Rumah! Begini Teknisnya Dari situs resmi dan rilis yang diterima KabarPenumpang.com, tawaran cashback biaya rapid test sejumlah itu terjadi berkat kerjasama Garuda Indonesia dengan Himpunan Bank Milik Negara atau HIMBARA (BNI, BRI, BTN, serta Bank Mandiri). Selain periode promo yang terbatas, jumlah calon penumpang yang berhak mendapatkan cashback biaya rapid test juga terbatas. Bila tak ada penambahan ataupun pengurangan, cashback ini bisa didapat oleh 800 calon penumpang. “Garuda Indonesia beserta bank-bank HIMBARA bekerja sama untuk memberikan layanan lebih kepada 800 penumpang terpilih yaitu pengembalian biaya rapid test sebesar Rp150.000 per penumpang (sesuai dengan SE Menkes Nomor HK.02.02/I/2875/2020),” bunyi ketarangan di situs resmi Garuda Indonesia. Lebih lanjut, dalam situs resmi perusahaan juga tertuang, bahwa penawaran tersebut hanya berlaku untuk minimum pembelian tiket sebesar Rp1 juta, baik untuk tiket dalam sekali jalan maupun perjalanan pulang-pergi (PP) domestik. Bagi calon penumpang yang beruntung, Garuda Indonesia akan mengirimkan email konfirmasi kepada pelanggan hingga H+1 setelah transaksi. Pengembalian biaya rapid test senilai Rp150 ribu ini akan diproses setelah penumpang melakukan penerbangan (full trip) melalui kartu debit atau artu kredit bank HIMBARA yang digunakan pada pembelian tiket. Proses pengembalian dilakukan maksimal kurang lebih 14 hari kerja sejak periode perjalanan program ini berakhir (mulai 1 September 2020). Perlu dicatat, tak semua jenis kartu bank partner yang bisa menikmati layanan cashback rapid test Garuda Indonesia. Untuk BNI, seluruh kartu kredit, kecuali kartu kredit Corporate dan Hasanah Card, serta kartu debit berlogo Mastercard, kecuali kartu debit syariah, bisa ikut layanan ini. Bank BRI juga demikian, seluruh pengguna kartu debit, e-Pay, an kartu kredit, kecuali Kartu Korporasi BRI, bisa ikut promo tersebut. Bank BTN lebih luas lagi. Pengguna kartu debit berlogo Visa (BTN Reguler, Prioritas Gold, Prioritas Platinum, dan Syariah) bisa ikut layanan ini. Bank Mandiri baik debit maupun kredit, kecuali Mandiri Corporate Card bisa ikut layanan ini. Garuda Indonesia sendiri, dalam kondisi normal, menyediakan layanan rapid test di klinik maupun rumah sakit yang ditunjuk, dengan harga di atas Surat Edaran yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan, mulai dari Rp300 – Rp700 ribu per penumpang. Harga tersebut sebetulnya masih sangat relevan dengan kondisi yang ada, sekalipun masih tergolong lebih mahal dibanding layanan rapid test Lion Group yang hanya sebesar Rp95 ribu. Menurut sumber KabarPenumpang.com, alat rapid test Covid-19 yang kebanyakan beredar di Indonesia berasal dari Cina. Lain dari itu, alat rapid test Covid-19 juga berasal dari banyak negara, mulai dari Eropa, Korea, hingga Amerika Serikat (AS). Meskipun berbeda-beda, namun, harganya berkisar Rp150 – 200 ribu. Di sejumlah marketplace, bahkan harganya jauh di atas itu. Harga tersebut pun baru harga asli alat rapid test Covid-19nya saja, belum termasuk harga layanan, mengingat, petugas yang terlibat dalam layanan tersebut harus dibekali dengan Alat Pelindung Diri (APD), berupa hazmat, hand sanitizer, masker, face shield, dan sepatu boots. Baca juga: Meski Beda Prosedur, Lufthansa dan Lion Air Hadirkan Layanan Rapid Test Covid-19 Face shield dan sepatu boots mungkin bisa saja dipakai berulang-ulang, namun tidak demikian dengan hazmat dan masker yang hanya bisa sekali pakai. Tentu, bila itu dimasukan ke dalam paket layanan, seharusnya harga layanan rapid test Covid-19 yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun swasta tarifnya bisa lebih di atas harga alat rapid test itu sendiri.  

Mengenang DC-10: Pelopor Penerbangan Jarak Jauh Modern Sekaligus Berlabel Jebakan Maut

“Miris” mungkin itulah kata yang tepat untuk menggambarkan sepak terjang salah satu pesawat legendaris dari McDonnell Douglas, DC-10, di jagat penerbangan dunia. Betapa tidak, pesawat yang mengakhiri karirnya pada 2014 lalu itu dilabeli oleh pecinta penerbangan di dunia dengan dua hal yang sangat berlawanan, “pekerja keras” yang bernada positif dan “jebakan maut” yang bernada negatif. Baca juga: DC-10 30, Kenangan Pesawat Trijet Jarak Jauh di Era Keemasan Garuda Indonesia Uniknya, label tersebut (jebakan maut) seolah terkenang abadi setelah grup musik rock asal Inggris, The Clash, membuat lagu berjudul Spanish Bombs yang bercerita tentang sederet kecelakaan DC-10. Dua label yang disematkan pesawat berkapasitas 250 hingga 380 penumpang itu memang sangat berdasar dan bukan semata karena kebencian pencinta Airbus maupun Boeing lovers. Sejak pertama kali beroperasi pada 1971, riwayat pesawat trijet buatan Amerika Serikat (AS) ini bisa dibilang cukup mengerikan. Setidaknya, ada total 53 kecelakaan, dengan beberapa di antaranya tergolong fatal; memakan total korban jiwa hingga 841 jiwa. Insiden terbesar pertama yang melibatkan DC-10 terjadi pada 1974. Kala itu, DC-10 Turkish Airlines jatuh akibat pintu kargo di bagian belakang pesawat meledak dan lepas hingga menyebabkan pesawat kehilangan kendali atau mengalami dekompresi eksplosif. Pesawat akhirnya jatuh, sekitar 10 menit setelah lepas landas. Insiden tersebut pun menewaskan 346 orang atau seluru penumpang dan awak pesawat. Atas insiden tersebut, Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA), mewajibkan seluruh pintu kargo DC-10 dimodifikasi ulang. Insiden berlanjut pada 25 Mei 1979, dimana 271 orang tewas saat DC-10 American Airlines jatuh tepat setelah tinggal landas di Chicago. Prosedur perawatan kilat yang merusak sistem hidrolik diidentifikasi sebagai penyebab utamanya. FAA kembali bereaksi. Enam hari kemudian, seluruh pesawat DC-10 digrounded. Pabrikan, McDonnell Douglas, merespon dengan mengubah desain pesawat, tak disebutkan berapa persen perubahan yang dilakukan. Yang jelas, tak lama setelah mereka mengubah desain, DC-10 kembali diizinkan terbang. Namun, DC-10 kembali terlibat kecelakaan. Pada tahun 1994, seorang karyawan FedEx berusaha membajak pesawat tersebut. Kemudian di tahun 1989, pesawat diledakkan oleh teroris di Gurun Sahara dan menewaskan 170 orang. Meski demikian, beberapa pecinta penerbangan menyebut, sekalipun DC-10 terlibat banyak kecelakaan, hal itu tak serta merta membuat ia pantas dilabeli dengan kalimat bernada negatif. Gordon Stretch, pecinta penerbangan asal Solihull, Inggris, bahkan sampai membandingkan dengan pesawat supersonik Concorde untuk menunjukkan bahwa DC-10 tak seburuk yang dipikirkan. Sejak awal terbang sampai pensiun, ditandai dengan penerbangan terakhir Biman Bangladesh Airlines pada 21 Februari 2014 lalu, pesawat berhasil diproduksi sebanyak 446 unit dan terlibat kecelakaan fatal sebanyak tiga kali. Sedangkan Concorde, dari 20 unit yang diproduksi, satu pesawat di antaranya terlibat kecelakaan. Dari secara rasio, DC-10 jauh lebih aman dibanding Concorde. “Mereka hanya membangun 20 Concorde dan salah satunya jatuh. Saya tidak akan mengatakan DC-10 adalah pesawat yang tidak aman, ada masalah khusus dan prosedur perawatan pada saat itu tidak sesuai dengan kecepatan,” jelasnya, seperti dikutip KabarPenumpang.com dari BBC International. Baca juga: Di Ghana, DC-10 Eks Ghana Airways Beralih Fungsi Menjadi Restoran Bintang Lima Dengan melihat sepak terjang DC-10 secara keseluruhan dan momentum kemunculannya saat itu, Gordon pun berharap DC-10 dapat dikenang sebagai pembuka jalan untuk penerbangan jarak jauh modern. “Ini sebuah pesawat terbang pelopor perjalanan jarak jauh,” ujarnya. “Itu (DC-10) adalah salah satu jet besar yang pada dasarnya membuka pasar jangka panjang bagi masyarakat. Tanpa mereka, kurasa kita akan jauh lebih tertinggal dari yang ada sekarang,” tambahnya.

Tahan Gempa, Ini Kereta Berkecepatan Tinggi yang Baru di Jepang

Olimpiade Jepang 2020 harus tertunda karena pandemi Covid-19, meski begitu, Negeri Sakura ini tetap memperkenalkan kereta berkecepatan tinggi baru yang tadinya akan diluncurkan untuk pertandingan di Tokyo tersebut. Kereta terbaru ini bisa mencapai kecepatan 224 mil per jam atau 360 km per jam dan nantinya pada saat beroperasi hanya 177 mil per jam atau 284 km per jam. Baca juga: Shinkansen N700S Mulai Melayani Penumpang dengan Fitur Terbaru KabarPenumpang.com melansir laman popularmechanics.com (22/7/2020), pembuat kereta ini mengatakan, selain bisa melaju dikecepatan yang tinggi, kereta tersebut tahan gempa karena sumber daya dan modenya berbeda untuk menangani lintasan berbahaya. Kereta berkecepatan tinggi baru ini dilengkapi dengan rem yang lebih baik dan kontrol yang berjalan sehingga dapat melambat dan berhenti lebih cepat ketika dalam keadaan darurat. Kereta seri N700S (Supreme) ini akan dioperasikan oleh Central Japan Railways yang akan melaju dengan panjang jalur 250 mil atau 402 km antara Tokyo dan Osaka. Meski kecepatan dan keamanannya menjadi hal yang besar, N700S ini dilengkapi dengan pembaruan untuk kenyamanan penumpangnya, kapasitas penyimpanan dan suspensi baru. Ini yang kemudian membuat kereta lebih hemat bahan bakar dan lebih mudah berhenti dengan jumlah penumpang sama seperti di dalam pesawat. Pembuat kereta mengaku senang dengan sistem propulsi otonom pada kereta ini. “Ini juga dilengkapi dengan sistem propulsi mandiri baterai lithium-ion yang pertama dari jenisnya di dunia. Sistem ini memungkinkan kereta berjalan dengan jarak pendek sendiri selama pemadaman listrik dan akan memungkinkannya untuk pindah ke lokasi yang lebih aman dengan kecepatan rendah jika terdampar di daerah berisiko tinggi di jembatan atau di terowongan , misalnya saat gempa bumi,” kata mereka. Dalam kendaraan seperti ini, membuat sistem daya cadangan baterai adalah kombinasi elegan dari teknologi pembakaran tradisional, di mana alternator mengisi ulang baterai selama operasi dan jenis penyimpanan energi yang didorong di seluruh dunia oleh Elon Musk serta raksasa energi lainnya. Sistem propulsi ini juga digunakan karena kereta listrik rentan terhadap gempa bumi karena pembangkit listrik atau apa pun di sepanjang saluran transmisi akan rusak. Jepang mengatakan, saat ini belum ada cedera penumpang pada sistem rel berkecepatan tinggi dalam sejak operasi setengah abad. Saat ini bahkan kereta yang sebelumnya dihentikan karena pemadaman listrik dapat terus bergerak keluar dari jalan yang berbahaya. Baca juga: “Pokemon with You Train,” Kereta Tematik Pelipur Duka Anak-Anak Korban Gempa Jepang Untuk diketahui, aktivitas seismik tingkat tinggi Jepang telah menyebabkan minat dalam penelitian gempa bumi yang dimulai sejak abad kesembilan. Para peneliti mengatakan, sepuluh persen dari gempa bumi dunia terjadi di Jepang. Ini karena posisi dan asal cerita rantai pulau yang membentuk Jepang dan merupakan bagian dari Cincin Api yang memiliki aktivitas vulkanik dan seismik intensif di sekitar Samudra Pasifik.

Boeing Akan Lengkapi Pesawat 777X dengan Airbag, Mirip Airbag di Mobil?

Boeing dilaporkan tengah menunggu tanggapan Regulator Penerbangan Sipil Amerika Serikat (FAA) atas rancangan desain baru 777X-9. Desain baru tersebut berkenaan dengan perubahan letak airbags yang sebelumnya berada di seatbelt dipindah ke struktur kabin pesawat. Baca juga: Boeing 777X Didapuk Terbang Tahun Depan, Delapan Maskapai Dunia Sudah Tak Sabar Situs paxex.aero melaporkan, airbags yang dipasang distruktur pesawat sebetulnya bisa dibilang mirip dengan inflatable lap belt atau sabuk pengaman dengan gelembung udara mirip airbag dalam melindungi kepala, yang juga dirancang untuk menahan seseorang ke arah depan dan terbentur saat terjadi pendaratan darurat. Tetapi, tentu efektivitas airbags dalam melindungi penumpang dari cedera tak bisa disandingkan dengan sabuk pengaman (seatbelt) atau inflatable lap belt sekalipun. Airbags yang tengah didesan Boeing pada 777X-9 diklaim dapat menghindari penumpang dari cedera ringan dan serius, termasuk cedera di bagian kepala. Berbeda dengan desain sebelumnya yang berada di seatbelt, airbags Boeing 777X-9 terletak di seatback masing-masing pesawat atau di depan setiap penumpang, layaknya airbags pada mobil.
Cara kerjanya pun juga memiliki kesamaan, dimana airbags akan mengembang saat sensor mendeteksi terjadinya benturan dan dalam hitungan sepersekian detik bagian kepada dan separuh tubuh penumpang akan mendarat di airbags. Selain itu, untuk meningkatkan efektivitas agar tubuh bagian atas dan kepala penumpang mendarat di airbags, Boeing juga menyesuaikan posisi dan reaksi airbags terhadap lengkungan struktur kabin atau kursi di zona head-strike. Seiring perkembangan industri penerbangan yang akan melibatkan 8,2 miliar penumpang di 2037, sebagaimana prediksi IATA, airbag tentu sangat diperlukan untuk membantu memastikan keselamatan penumpang saat terjadi kecelakaan. Secara khusus, pesawat umumnya dirancang sedemikian rupa sehingga kepala penumpang membentur kursi di depannya dengan cukup cepat untuk mengurangi efek whiplash (otot-otot di leher tegang) ketika kecelakaan terjadi. Tentu, menghindari efek whiplash namun mengorbankan kepala untuk berbenturan dengan kursi yang berada di depan penumpang bukanlah sebuah pilihan. Baca juga: 30 Tahun Airbag Hadir Untuk Keselamatan Dunia Otomotif Oleh karenanya, airbags (yang terletak di struktur kabin atau di depan penumpang) akan melengkapi hal itu agar efek whiplash dan cedera akibat benturan dapat terelakkan. Selan itu, posisi airbag di depan penumpang (bukan di seatbelt) juga membuat penumpang lebih nyaman tanpa ada ganjalan apapun di kursi. Di samping Boeing 777X, pesawat Boeing lainnya yang juga dilengkapi fitur serupa ialah kursi Super-Diamond di 787-9. Kursi rancangan B / E Aerospace (sekarang bagian dari Collins Aerospace) disebut cukup membuat penumpang aman dan pada akhirnya berbagai dorongan dari beberapa pihak pun menggerakkan Boeing untuk menyematkan kursi serupa (yang dilengkapi dengan airbag) ke 777X.