Boeing 727 bukan hanya masyhur dikenal dengan mesinnya yang berjumlah ganjil (trijet atau pesawat yang memiliki tiga mesin) melainkan juga dikenal karena memiliki airstairs. Fitur pengganti stair car atau mobil tangga itu nyatanya memang tak banyak disematkan pesawat-pesawat lainnya di dunia, wajar bila pesawat yang dilengkapi airstairs menjadi mudah dicirikan.
Baca juga: Minta Tebusan Rp20Juta dan Parasut, Inilah Kronologi Pembajakan Pesawat Pertama di Indonesia
Di zamannya (sejak sekitar tahun 1963), fitur airstairs Boeing 727 memang dinilai sangat memudahkan penumpang, juga maskapai dan operator bandara, ketika pesawat diharuskan mendarat di bandara yang tak memiliki skybridge (garbarata) ataupun mobil tangga.
Akan tetapi, polemik muncul saat memasuki tahun ke delapan fitur airstairs di Boeing 727. Kala itu, D. B. Cooper, seorang warga yang identitasnya masih misterius, dilaporkan berhasil membajak pesawat Boeing 727 saat dalam penerbangan Northwest Orient Airlines rute Portland, Oregon menuju Seattle, Washington, Amerika Serikat (AS) pada tanggal 24 November 1971.
Pembajak pesawat tersebut kemudian mendesak pilot untuk didaratkan guna mengambil imbalan uang sebesar US$200.000 (setara US$1,26 juta hari ini) beserta empat parasut. Setelah mendapatkan semua itu, ia memerintahkan pilot untuk membawa pesawat terbang ke Mexico City via Reno, Nevada, AS untuk mengisi bahan bakar.
Dalam perjalanan itulah pilot menyadari bahwa pintu belakang (rear door) pesawat terbuka dan pembajak diketahui melompat dari sana. Hingga kini, uang dan pembajak tersebut tak diketahui keberadaannya, hilang tanpa jejak bak hantu. Diperkirakan, ia tewas saat dalam proses penerjunan.
Simple Flying menyebut, pasca kejadian pembajakan oleh D. B. Cooper, Amerika Utara mendapat teror pembajakan pesawat sebanyak 31 kasus, dengan sembilan di antaranya menggunakan metode yang sama persis; membajak, meminta sejumlah uang dan parasut, serta melarikan diri di tengah perjalanan melalui pintu belakang Boeing 727 yang berada tepat di bawah ekor pesawat.
Boeing 727 Northwest Orient Airlines. Foto: Jon Proctor via Wikimedia
Di situlah letak kontroversi keberadaan pintu belakang. Bila sebelumnya pintu belakang di bawah ekor pesawat itu diklaim cukup membantu saat berfungsi sebagai airstairs, namun, setelah kejadian itu rear door justru malah membantu pembajak pesawat memuluskan aksinya.
Perlu diketahui, selain dibantu dengan keberadaan pintu belakang itu, pembajak juga bisa sukses melakukan aksinya karena belum adanya aturan mengunci pintu kokpit ataupun cara kerja pintu kokpit dalam menahan serangan belum se-sempurna teknologi pintu kokpit pesawat saat ini.
Lagi pula, bila pun pintu kokpit bisa dibuka paksa, skema pembajakan pesawat model seperti di atas, yang notabene berusaha melarikan diri dengan membuka pintu pesawat saat di udara, mustahil dilakukan. Sebab, tekanan kuat dari luar menjadikannya mustahil dibuka saat di udara.
Kembali ke masalah pintu belakang Boeing 727, setahun pasca D. B. Cooper sukses membajak pesawat dan menghilang tanpa jejak, Regulator Penerbangan Sipil AS (FAA), sadar akan adanya sesuatu yang harus diubah. Mereka pun akhirnya memperkenalkan Cooper Vane, sebuah komponen mekanik baru di pintu kokpit agar tak bisa ditembus oleh pembajak saat dalam penerbangan.
Cara kerjanya, vane (baling-baling) cuaca kecil ditempel di spring-loaded paddle. Saat pesawat tak bergerak atau tengah berada di darat, airstairs atau pintu belakang pesawat bisa dibuka sebagaimana mestinya.
Baca juga: Pernah Gagalkan Pembajakan Singapore Airlines, Mantan Anggota Pasukan Khusus Kini Menjadi Biksu
Namun, ketika pesawat tinggal landas atau tengah berada di udara, paddle akan terdorong kembali oleh angin dan menutupi tangga. Otomatis, tangga tak bisa dibuka. Walupun cukup jadul, namun, cara tersebut cukup ampuh sekalipun teknologi tersebut kini sudah digantikan dengan yang lebih canggih.
Tak mau ketinggalan Boeing, kompetitor satu negara, McDonnell Douglas, akhirnya juga menyematkan alat serupa (Cooper Vane) di pesawat DC-9 yang notabene juga memiliki pintu belakang layaknya Boeing 727.
Seorang penumpang dilaporkan ‘mengamuk’ di media sosial terkait pengalaman terbangnya bersama maskapai berbiaya murah (LCC) asal Irlandia, Ryanair, belum lama ini. Ia mencak-mencak di media sosial lantaran pesawat yang ditumpanginya kotor.
Baca juga: Jijik! Ini Alasan Mengapa Penumpang Pesawat Harus Mengindari Makanan Langsung Di Atas Baki
Dari foto yang dibagikan, pesawat memang dipenuhi dengan kotoran berwarna kuning. Tapi tenang, kotoran berwarna kuning tesebut bukanlah kotoran manusia, melainkan remahan keripik yang juga berwarna kuning. Tak hanya di lantai pesawat, remahan kripik juga terdapat di kursi.
Dalam penerbangan dari Ibiza, Spanyol ke Manchester, Inggris, beberapa waktu lalu itu, tentu saja, beberapa penumpang menolak untuk duduk di kursi atau sekitar kursi tersebut. Alhasil, penerbangan sempat tertunda beberapa saat untuk menata ulang seat map penumpang.
“Orang-orang menolak untuk duduk di sana, rasanya seperti ini (kotoran berwarna kuning) di seluruh pesawat,” jelasnya, seperti dikutip dari Mirror.
“Itu kotor dan najis. Dapat dimengerti itu tidak akan menjadi yang paling bersih, namun Anda dapat mengatakan bahwa mereka belum berusaha membersihkannya sama sekali,” tambahnya.
Selain itu, penumpang yang tak diungkap identitasnya itu juga menyebut, terdapat ‘dosa’ lain yang dilakukan maskapai Ryanair. Disebutkan, staf maskapai yang berbasis di Bandara Dublin dan Bandara London Stansted itu juga gagal melakukan pengecekan sertifikat kesehatan Covid-19 secara menyeluruh. Tak hanya itu, staf juga dinilai gagal memastikan seluruh penumpang menerapkan kebijakan physical distancing dengan baik.
Melihat postingan tentang Ryanair, netizen lain pun turut membagikan kisah pahitnya bersama maskapai yang didirikan pada tahun 1984 itu. Pengguna media sosial anonim itu menyebut bahwa pesawat Ryanair dipenuhi dengan debu.
“Baru saja turun dari penerbangan Liverpool – Malta. Membuka meja nampan (meja lipat di pesawat) untuk menaruh beberapa makanan ringan. Itu (meja nampan) dipenuhi dengan debu. Tidak mungkin (meja nampan) dibersihkan,” jelasnya.
Kejadian ini tentu aneh. Sebab, sebelum dan sesudah terbang, pesawat dicek, dibersihkan, dan di tengah wabah Covid-19 seperti sekarang ini, pesawat didisinfeksi dengan menggunakan cairan khusus di seluruh sudut kabin. Otomatis, ketika hal itu dilakukan, kemungkinan petugas menemukan kotoran kuning dari sisa remahan keripik itu cukup besar.
Meski demikian, juru bicara Ryanair mengaku mereka telah menjalankan seluruh prosedur kebersihan, terlebih menyangkut protokol kesehatan untuk mencegah paparan Covid-19. Selain itu, mereka juga mengklaim konsisten untuk terus menjalankan protokol kesehatan.
“Ryanair memiliki serangkaian tindakan kesehatan baru untuk mencegah penyebaran Covid-19. Kami secara teratur menilai efektivitas langkah-langkah ini dan kami terus bekerja dengan orang-orang kami untuk memastikan pedoman kami dipatuhi,” katanya.
Baca juga: (Video) Kursi Pesawat Dekat Jendela Paling Kotor Diantara yang Lainnya
“Sejalan dengan standar industri, awak kabin kami melakukan pemeriksaan kabin dan toilet pada akhir setiap penerbangan, dan akhir di setiap hari terhadap semua pesawat Ryanair dibersihkan secara menyeluruh dengan disinfektan berstandar rumah sakit, yang efektif selama lebih dari 24 jam,” tambahnya.
“Sepanjang kru kabin penerbangan kami membuat sejumlah pengingat melalui the public address system untuk memastikan seluruh penumpang mematuhi kebijakan mengenakan masker. Ini sesuai dengan prosedur baru kami. Kami menindaklanjuti dengan kru kami sehubungan dengan penerbangan ini,” tutupnya.
Setelah 50 tahun mengudara, Boeing 747-400 akhirnya resmi pensiun setelah diterbangkan Qantas dari Bandara Sydney ke kuburan pesawat di Boneyard, Gurun Mojave, Southern California, Amerika Serikat (AS), Rabu siang lalu, waktu setempat.
Baca juga: Dear Boeing Lovers, Qantas Lakukan Penerbangan Penumpang Terakhir Boeing 747-400 Sebelum Pensiun! Catat Tanggalnya
Uniknya, sebelum benar-benar berpisah, pilot pesawat menyempatkan diri mengajak jet jumbo ikonik Boeing itu keluar dari jalur (tentu dengan dipandu ATC) untuk membentuk gambar di langit (jika dilihat dari radar) berbentuk kanguru yang notabene merupakan logo Qantas.
“Pesawat ini jauh berada lebih unggul di zamannya dan sangat mampu. Para insinyur dan awak kabin senang bekerja dengan mereka (Boeing 747) dan pilot suka menerbangkannya. Begitu juga para penumpang. Mereka telah mengukir tempat yang sangat istimewa dalam sejarah penerbangan dan saya tahu mereka akan sangat dirindukan oleh banyak orang, termasuk saya,” kata CEO Qantas Group, Alan Joyce dalam sebuah pernyataan.
“(Boeing) 747 menempatkan perjalanan internasional dalam jangkauan rata-rata orang Australia dan orang-orang bisa bepergian dengan bebas pada kesempatan itu,” tambah Joyce, seperti dikutip dari CNN International.
Sebelum momen spesial dengan nomor penerbangan QF7474 dilangsungkan, orang-orang sudah banyak berkumpul di bandara tersebut untuk memberikan penghormatan terakhir ke pesawat. Dalam momen bersejarah itu, Qantas juga melengkapinya dengan mendelegasikan Kapten Sharelle Quinn, kapten pilot wanita pertama maskapai, sebagai penerbang Boeing 747-400 terakhir.
“Saya telah menerbangkan pesawat ini selama 36 tahun dan itu merupakan hak istimewa mutlak,” jelasnya.
“Itu (Boeing 747) telah menjadi bagian yang luar biasa dari sejarah kami, pesawat yang benar-benar luar biasa dan sementara kami sedih melihat pesawat terakhir kami pergi, sekarang saatnya untuk menyerahkan kepada generasi pesawat berikutnya yang jauh lebih efisien,” tambahnya.
Selain diterbangkan oleh kapten pilot pertama Qantas dan membentuk gambar kanguru (di langit) yang merupakan logo Qantas, sekaligus ikon utama Negeri Kanguru Australia sebagai negara asal maskapai, pesawat Boeing 747-400 Qantas itu juga dilaporkan mampir ke Sydney Harbour dan museum HARS Aviation untuk bersua (tos antar sayap masing-masing) dengan Boeing 747-400 pertama Qantas yang diabadaikan di sana.
Sebelum benar-benar melakukan penerbangan terakhir, fans fanatik Boeing, khususnya Boeing 747, sudah lebih dahulu terpuaskan dengan adanya farewell flight di tanggal, 13, 15, dan terakhir 17 Juli lalu.
Tiket penerbangan perpisahan Boeing 747-400 Qantas, untuk kelas bisnis, dijual dengan harga $747 atau sekitar Rp10,8 juta (kurs 14.720). Adapun kelas ekonomi dijual $400 atau Rp5,8 juta (kurs 14.720). Dengan begitu, menyerupai jenis dan seri pesawat, 747-400. Unik, bukan? Bukan hanya itu, tiket juga dijual terbatas sehingga penumpang dapat menikmati lebih banyak ruang di pesawat.
Baca juga: Sejarah Panjang, 50 Tahun Boeing 747 Bersama Qantas
Keuntungan dari tiga penerbangan perpisahan itu bukan untuk membiaya operasional Qantas -mengingat perusahaan tengah dalam kesulitan akibat wabah corona- melainkan akan disumbangkan ke museum HARS Aviation dekat Wollongong, New South Wales, dan Qantas Founders Museum di Longreach, Queensland, yang keduanya menyimpan pesawat berjuluk Queen of the Skies tersebut.
Pasca pensiun, tugas-tugas Boeing 747-400 Qantas selanjutnya akan digantikan dengan pesawat-pesawat kekinian lainnya, seperti Boeing 787 Dreamliner ataupun pesawat canggih Airbus A350 yang keduanya sama-sama menjanjikan efisiensi lebih dibanding jet jumbo ikonik Boeing 747.
Di jalur pembangunan fase 2 Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta dari Thamrin menuju ke Ancol Barat banyak lokasi yang ditetapkan sebagai cagar budaya. Hal ini membuat PT MRT Jakarta akan melakukan arkeologi pit tes untuk pengujian kandungan dan nilai tinggalan purbakala serta upaya penyelamatannya.
Baca juga: Bangun Fase 2, MRT Jakarta Buat Rekayasa Lalu Lintas dari Thamrin sampai Monas
Direktur utama PT MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, area cagar budaya ini menjadi satu kompleksitas tersendiri dalam pembangunan fase 2 tersebut. Dia menyebutkan saat ini tengah serius tangani cagar budaya di Monas.
“Kami akan tes pit materi cagar budaya. Pekerjaan ini akan dilakukan oleh ahli-ahli arkeologi, arsitektur, dokumentasi, penggambaran, pemetaan, analisis temuan, pemugaran dan konservasi yang kompeten di bidangnya,” jelas William dalam forum jurnalis, Rabu (22/7/2020).
Dia menyebutkan, di Monas dulunya ada bekas lapangan Koningsplien yang gunakan tahun 1930 di depan Museum Nasional atau yang biasa disebut Museum Gajah. Di sebelah kiri depan bekas bangunan Kantor Besar Polisi yang dibongkar tahun 1950-an.
“Lapangan ini tahun 1930-1932 sudah digunakan sebagai lokasi Pasar Malam Gambir,” jelas William.
Direktur konstruksi PT MRT Jakarta Silvia Halim menambahkan, untuk di jalan Thamrin, ada Tugu Jam Thamrin yang dibangun sejak 1969. Dia menyebutkan ini adalah menara jam pertama yang dibangun oleh pemerintah DKI Jakarta.
“Kami akan merelokasi Tugu Jam Thamrin yang menjadi bangunan cagar budaya selama pembangunan MRT Jakarta fase 2 ini. Saat ini kami tengah lakukan scanning dan mengecek kondisi struktur,” ujar Silvia.
Dia menjelaskan Oktober akan mulai dipindahkan dan saat ini masih dalam pembahasan akan dipindah kemana. Silvia menyebutkan, ada kemungkinan Tugu Jam Thamrin akan dipindah ke Lapangan Banteng dan akan di pasang instalasinya atau di pindahkan ke museum yang nantinya akan dikembalikan setelah pembangunan fase 2 selesai.
Baca juga: Thermal Scanner di Stasiun MRT Jakarta, Selain Deteksi Suhu Tubuh Juga Bisa Kenali Rentang Usia Calon Penumpang
“Berdasarkan hasil pengamatan visual, struktur Tugu Jam Thamrin saat ini dalam kondisi kurang baik. Maka kita akan relokasi ke Lapangan Banteng atau Museum,” jelasnya.
Boeing 747 biasanya identik dengan perjalanan jauh berkisar belasan jam. Sebab, pesawat berjuluk “Queen Of The Skies” tersebut memang didesain untuk penerbangan lintas benua sejak pertama kali diluncurkan pada awal tahun 1969. Namun, di balik itu, mungkin sedikit yang menyadari bahwa pesawat komersial jumbo ikonik Boeing itu juga tersedia dalam versi SR atau Short Range, sekalipun dalam jumlah terbatas.
Baca juga: Tak Satupun Terbang, Airbus A380 Keok dari “Queen Of The Skies” Boeing 747
Menurut analisa Universitas McGill, Montreal, Kanada, Boeing 747SR memang memiliki kapasitas bahan bakar yang lebih kecil dibanding rekan sejawatnya (747 jenis lain). Namun, ia memiliki kemampuan mengangkut penumpang lebih banyak dibanding jenis lain.
Di versi awal, Boeing 747SR mampu mengangkut hingga 498 penumpang, yang kemudian meningkat jadi 550 penumpang. Bahkan, di situs boeing-747.com, 747SR disebut mampu mengangkut hingga 600 penumpang di rute Okinawa – Tokyo, Jepang.
Selain itu, struktur pesawat juga dimodifikasi untuk menyesuaikan penggunaan. Oleh karenanya, tak heran bila pesawat itu mampu mengangkut lebih banyak penumpang dan menahan beban ekstra saat lepas landas dan pendaratan; mengingat pesawat digunakan untuk jarak pendek.
Karena diproduksi terbatas, maskapai yang mengoperasikannya pun juga tak banyak. Salah satu yang terbesar adalah maskapai nasional Jepang, Japan Airlines (JAL). Simple Flying menyebut, varian pertama yang bergabung dengan maskapai ini adalah 747-100SR. Sejak kedatangan pertama pada September 1973, JAL terus menambah armada 747SR-nya hingga berjumlah tujuh unit pada April 1975.
Belum puas, JAL menambah lagi dua unit 747-100B pada tahun 1986. Berbeda dengan versi sebelumnya, versi tersebut memiliki dek atas (double decker) untuk mengokomodir maskapai mengangkut lebih banyak penumpang.
Menariknya, salah satu pesawat jenis itu, dengan nomor registrasi N911NA, kemudian bergabung dengan NASA sebagai Pesawat Pengangkut Antar Jemput. Pesawat itu mulai dioperasikan Badan Penerbangan dan Antariksa Amerika Serikat (AS) pada tahun 1991.
Melihat prospek bagus bersama Boeing 747SR, JAL pun tertarik mengoperasikan versi terbarunya, yakni 747-300 SSR. Tercatat, hanya dalam kurun waktu tiga bulan (Desember 1987 dan Februari 1988), empat pesawat tersebut diterbangkan dari markas Boeing di Everett ke basis JAL di Osaka International Airport.
JAL kemudian mengoperasikan pesawat tersebut bukan hanya untuk tataran regional, sebagaimana 747SR sebelumnya, melainkan sudah menjangkau negara-negara tetangga di Asia. Penerbangan dan pesawat tersebut kemudian dilanjutkan oleh anak perusahaan mereka, JALways.
Setelah belasan tahun beroperasi, tahun 2007 silam, pesawat pertama JAL Boeing 747-300 SSR, dengan nomor registrasi nomor registrasi JA8179, akhirnya harus lepas ke pangkuan WFBN Wells Fargo Northwest Bank. Hanya bertahan sekitar lima tahun, Transaero Airlines kemudian mengambil alih pesawat pada Februari 2012. Selang beberapa waktu, pesawat akhirnya harus menemui ajal saat diparkir selama-lamanya di fasilitas penyimpanan pesawat.
Selain JAL, maskapai lainnya yang mengoperasikan Boeing 747-100BSR (versi SR yang ditingkatkan, khususnya kemampuan berat lepas landas maksimum) pada penerbangan jarak pendek adalah maskapai Jepang lainnya, All Nippon Airways (ANA). ANA tecatat mengoperasikan pesawat tersebut mulai Desember 1978 sampai November 1982.
Baca juga: Ledakkan Boeing 747 Asli untuk Film Tenet, Sutradara Christopher Nolan: Lebih Efisien
Berbeda dengan JAL yang bisa mengangkut hingga 600 penumpang, umumnya ANA hanya mengangkut sebanyak 455 penumpang di rute-rute domestik. Kondisi tersebut terus berjalan sebelum akhirnya terhenti karena pensiun pada Mei 2006.
Akan tetapi, baik JAL, JALways, maupun ANA, kehadiran pesawat Boeing lain, 777-300, pada akhirnya harus membuat mereka mau tak mau beralih ke pesawat yang dinilai lebih ekonomis dari 747SR itu untuk operasional jarak pendek.
Fase 2 pembangunan Moda Raya Terpadu (MRT) Jakarta sudah mulai bergerak sejak 15 Juni 2020. Ini terlihat dari sudah adanya pagar-pagar yang buat untuk lokasi konstruksi di sekitaran CP201 dari Bundaran HI menuju ke Monas.
Baca juga: Di 2030, MRT Singapura Perpanjang Jaringan Hingga 360 Km, Bagaimana dengan MRT Jakarta?
Dikatakan direktur utama PT MRT Jakarta William Sabandar, bahwa dalam beberapa hari kedepan pihaknya akan lakukan satu kegiatan fisik. Dia menyebutkan kegiatan itu adalah rekayasa lalu lintas di sepanjang jalan Thamrin.
Dia mengatakan dalam pembangunan fase 2 ini banyak yang akan dilakukan pihaknya salah satunya adalah menyembunyikan ventilasi tower tidak seperti yang terlihat di fase 1 sebelumnya.
“Kalau ventilasi tower di fase sebelumnya terlihat di dekat entrance. Tapi d fase 2 ini akan kita tata lebih rapi dan letaknya tidak akan terlihat seperti fase 1 karena kita sekaligus jalankan TOD,” ujar William dalam forum jurnalis, Rabu (22/7/2020).
Selain itu dalam pengerjaan fase 2 disebutkan William, MRT Jakarta akan membangun tunnel dari Bundaran HI sampai ke Harmoni dengan panjang 1942 meter. Dalam pengerjaan ini akan ada dua stasiun yakni Thamrin dan Monas.
“Di mana Stasiun Thamrin kedepannya akan menjadi integrasi jalur timur-barat. Selain itu kami juga perhitungkan jumlah traffic pengguna stasiun ini,” tambahnya.
William menjelaskan, dalam pembangunan fase 2 lebih sulit dibandingkan fase 1 sebelumnya. Hal tersebut karena melintasi daerah cagar budaya dan komplikasi tanah lunak serta penurunan yang akan terjadi.
“Kami benar- benar memikirkan dan menangani stasiun dengan baik karena ingin memiliki masa bertahan sangat panjang sehingga ada inves serius di tanah-tanah lunak. Tanah di Thamrin ada yang cepat sekali turun dan stabil bahkan ada yang komplikasi, bisa dikatakan kesulitannya luar biasa,” kata William.
Selain itu direktur konstruksi MRT Jakarta Silvia Halim menambahkan, dalam pengerjaan fase 2 ini pihaknya membuat diaphragm wall lebih dalam sekitar 30 meter dibandingkan dengan tunnel yang hanya 17 meter. Dia menjelaskan dalam pengerjaan CP201 ini MRT Jakarta akan melakukan tiga tahap rekayasa lalu lintas.
“Tahap 1 kita mulai akhir Juli 2020 sampai Maret 2023 itu kita geser traffic ke kanan dan kiri karena area tengah kita gunakan untuk bekerja. Tahap 2 April 2023 sampai Desember 2023 area kerja bergeser ke kiri dan traffic bergeser ke area sisi barat. Sedangkan tahap 3 Januari 2024 sampai Maret 2025 area kerja pindah ke kanan dan traffic di kiri,” jelasnya.
Selain itu MRT Jakarta juga akan memindahkan halte TransJakarta yang ada di Bank Indonesia dengan halte sementara atau eksisting. Silvia menjelaskan, mdfek akan membangun satu di depan BI dan satu lagi di depan Bank Mandiri.
Baca juga: Thermal Scanner di Stasiun MRT Jakarta, Selain Deteksi Suhu Tubuh Juga Bisa Kenali Rentang Usia Calon Penumpang
“JPO akan kami mulai bongkar di Agustus 2020 tapi sebelum jadi halte sementaranya, penumpang masih bisa menggunakan zebra cross ke halte lama. Setelah halte sementara yang kita buat jadi, baru semuanya pindah ke halte itu, ini akan berlangsung selama pengerjaan fase 2,” kata Silvia.
Siapa sih yang tak kenal dengan makanan yang berbahan dasar sayuran dan bumbu kacang tapi bukan Gado-Gado atau Karedok ya. Penasaran apa? Ya makanan ini adalah pecel. Sebagian besar dari Anda pastinya pernah makan makanan khas ini.
Baca juga: Cari Pecel Pincuk? Yuk Ke Stasiun Garahan!
Selain harganya murah, pecel bisa ditemukan diberbagai daerah. Bahkan ketika melancong dengan menggunakan kereta api beberapa stasiun di Pulau Jawa banyak terdapat penjual pecel di luar stasiunnya.
Penasaran ada pecel apa saja dan apakah ada perbedaan pecel yang satu dengan lainnya? Yuk simak pembahasan dari KabarPenumpang.com. Ternyata setelah dirangkum dan dicari dari berbagai sumber, berikut ini stasiun-stasiun yang memiliki penjual pecel di sekitarannya.
1. Pecel Pincuk
Makanan asal Madiun, Jawa Timur ini disajikan dengan daun pisang yang dibuat pincuk. Isinya ada daun pepaya, sayuran rebus, serundeng kelapa dan kacang goreng. Pecel pincuk dilengkapi dengan lauk pauk seperti tempe goreng, telur asin dan lainnya. Pecel pincuk ini bisa ditemukan di Stasiun Garahan yang dijual sekitar Rp5 ribu hingga Rp10 ribu.
2. Pecel gambrengan
Nasi pecel yang satu ini bisa ditemukan di Semarang dan sekitarnya atau tepanya di Stasiun Alas Tua, Bangetayu, Semarang, Jawa Tengah. Memiliki rasa pecel yang khas, pecel gambrengan sendiri dilengkapi dengan sayuran langka seperti bunga turi dan campuran daun pepaya serta tauge. Untuk tambahannya ada peyek iwak teri dan sayuran lainnya.
3. Nasi Pecel ala Stasiun Babat
Panganan yang satu ini, disajikan dengan nasi, campuran lontong-lontong kecil dan diberi sayuran seperti kecambah, kol, kangkung serta bayam. Untuk menambah kenikmatan, nasi akan disiram dengan bumbu kacang kental dan rempeyek sebagai pengganti kerupuk. Harganya pun relatif murah Rp6 ribu sampai Rp7 ribu dan bisa dinikmati pelancong kapan pun karena warungnya buka 24 jam.
4. Pecel Gambringan
Ini hampir sama dengan nasi pecel pada umumnya, berbahan dasar sayuran namun ditemani peyek kacang ukuran besar. Dulunya cara menjualnya hampir mirip dengan pecel pincuk yang di dalam stasiun. Namun kini hanya dijual di luar Stasiun Gambringan.
Baca juga: “Nopia.. Nopia..,” Oleh-oleh Khas Tak Terlupakan dari Stasiun Purwokerto5. Pecel Combrang
Di Stasiun Kroya ada pecel yang dijual seharga Rp3 ribu sampai Rp5 ribu. Pecel ini menggunakan lontong, medoan dan bakwan untuk tambahannya. Selain sayuran, pecel ini ditambahkan dengan kembang turi dan bunga combrang atau kecombrang. Tak hanya di Kroya, di Stasiun Purwokerto juga ada pecel kecombrang ini.
Nah, jadi kalau mampir di stasiun-stasiun ini, Anda bisa langsung mencoba sendiri pecel sayuran dengan berbagai macam tambahan di masing-masing daerah ya.
Banyak cara untuk meminimalisir penyebaran virus corona dalam sebuah penerbangan selain memberi jarak pada kursi penumpang yang satu dengan lainnya. Kemudian maskapai juga menghilangkan majalah dan kartu menu fisik di dalam penerbangan serta penggunaan masker dan pelindung wajah.
Baca juga: Bandara Pudong Gunakan Glide Blanket untuk Loading Barang ke Kabin Pesawat Penumpang
Selain itu juga mengurangi interaksi awak kabin dengan penumpang yang melibatkan troli yang bergerak di lorong. Untuk hal ini, Bluebox penyedia perangkat keras hiburan dalam penerbangan nirkabel, bekerja sama dengan spesialis ritel onboar Retail inMontion (RIM) untuk menghilangkan titik kontak yang sangat literal dari pembelian onboard melalui pembayaran tanpa bersentuhan.
Dilansir KabarPenumpang.com dari runwaygirlnetwork.com (22/6/2020), keduanya bekerja sama agar penumpang melakukan pemesanan dan pembayaran melalui perangkat mereka dari aplikasi RiM yang diinstal pada kotak IFE (In-Flight Entertainment) nirkabel Bluebox Wow. Kemudian awak kabin yang tengah di dapur akan diberitahu untuk dropoff pesanan. Hadirnya cara ini memungkinkan jangkauan manfaat yang jauh lebih besar khususnya di sekitaran pengirmanan makanan terbatas di kabin.
“Ini adalah sesuatu yang baru-baru ini kami terima. Maskapai, sebagai bagian dari program pemulihan, menyadari ada masalah untuk keselamatan awak kabin dalam hal mencoba meminimalkan kontak antara penumpang dan awak kabin. Cukup jelas bahwa titik kontak utama adalah cara tradisional saat ini untuk membawa troli ke lorong, bertanya kepada orang-orang apakah mereka ingin membeli makanan atau minuman, terutama untuk angkutan murah. Ini merupakan penghasil pendapatan penting bagi mereka,” kata direktur pengembangan bisnis David Brown.
Khususnya, sistem baru ini juga sepenuhnya offline, di mana Wow adalah sistem offline, dan itu salah satu bagian yang sulit yakni memiliki kepatuhan PCI dalam mode offline.
“Kami sudah mencapainya dengan kotak Wow kami. Seluruh modul RiM dan perangkat lunaknya juga sesuai dengan PCI, sehingga arsitektur produk kedua perusahaan sangat cocok,” kata Brown.
Secara fungsional, Brown menjelaskan bahwa kotak nirkabel IFE Wow bersifat modular, menggunakan sistem wadah Docker yang ia simpulkan sebagai cara teknis terbaru dari berbagai elemen perangkat lunak yang dapat berkomunikasi dengan mudah satu sama lain. Dia mengatakan, mereka bekerja dengan standar yang sama, dan kotaknya menerima aplikasi pihak ketiga yang telah dilakukan dengan standar buruh pelabuhan, dan RiM telah melakukan perangkat lunak mereka dengan cara yang sesuai dengan standar arsitektur semacam itu. Agnostisitas perangkat lunak-perangkat keras ini, menurut Brown, adalah bagian dari saus khusus Bluebox.
“Kami selalu melihat Wow sebagai platform dengan perangkat lunak basis kami. Kami telah menyediakan kerangka kerja untuk, biasanya, sistem IFE. Ini lebih seperti ‘beli versus bangunan’. Kami sebagai perusahaan perangkat lunak tidak perlu melihat kebutuhan untuk membangun semuanya sendiri, dan cara kami mendesain perangkat lunak Wow secara khusus untuk dapat mengambil aplikasi pihak ketiga seperti game, misalnya,” tambah Brown.
Langkah ini didorong oleh dua pelanggan maskapai utama, pengumuman yang telah ditunda oleh krisis Covid-19 dan nama-nama yang Brown tidak dapat bagikan secara publik.
“Keduanya datang kepada kami dengan masalah yang sama, berkeliling pada waktu yang sama. Ini dikonfirmasi oleh maskapai penerbangan murah lainnya juga bahwa itu adalah sesuatu yang mereka semua lihat ketika mereka datang kembali ke layanan. Jelas sesuatu yang dinaikkan ketika melihat proses dan membuatnya aman Covid,” kata dia.
Maskapai penerbangan, tampaknya, mempercepat rencana mereka untuk menawarkan pembayaran tanpa sentuhan sebelum krisis Covid-19, Brown menyatakan bahwa perspektifnya adalah bahwa itu adalah “hal yang baik untuk dimiliki” atau pengembangan fase 2.
Baca juga: Jangan Lupa Cuci Tangan Selesai Bersihkan Ruang Pribadi di Kabin Pesawat
Kemitraan antara Bluebox dan RiM adalah non-eksklusif dan independen dari pengaturan lain dengan menggunakan perangkat keras dan perangkat lunak berlabel berarti secara relatif mudah bagi pihak ketiga mana pun untuk menulis aplikasi untuk berinteraksi dengan sistem Bluebox memang, itu adalah sesuatu yang didorong oleh Bluebox sendiri.
Menikmati perjalanan dengan kondisi sakit memanglah tak disarankan saat pandemi virus corona atau Covid-19. Meskipun hanya ruam-ruam di tubuh atau pun di mulut karena akan mengganggu perjalanan dan bisa menjadi salah satu tanda adanya virus dalam tubuh.
Baca juga: Ruam Pada Jari Kaki Bisa Jadi Gejala Covid-19, Tapi Jangan Langsung Panik
Sebab sebuah penelitian baru-baru ini menunjukkan bahwa ruam, kulit yang tidak terdaftar dalam Centers for Disease Control and Prevention (CDC) juga merupakan tanda virus yang mematikan. Dilansir KabarPenumpang.com dari foxnews.com (21/7/2020), penelitian yang dipublikasikan dalam JAMA Dermatology mencatat bahwa enanthem atau luka mirip ruam kulit dalam mulut seseorang diamati pada beberapa pasien dengan Covid-19. Para pasien ini dari 21 orang yang berusia 40 hingga 69 tahun, enam diantaranya pasien Covid-19 dan empat diantaranya adalah perempuan.
“Pekerjaan ini menggambarkan pengamatan awal dan dibatasi oleh sejumlah kecil kasus dan tidak adanya kelompok kontrol. Terlepas dari meningkatnya laporan ruam kulit pada pasien dengan Covid-19, menegakkan diagnosis etiologis merupakan tantangan. Namun, kehadiran enanthem adalah petunjuk kuat yang menyarankan etiologi virus daripada reaksi obat, terutama ketika pola petekie diamati,” tulis peneliti dari Rumah Sakit Universitas Ramon y Cajal di Madrid.
Mereka menambahkan, banyak pasien yang diduga atau dikonfirmasi Covid-19 tidak diperiksa rongga mulutnya karena masalah keamanan. Apalagi fakta bahwa pasien menggunakan masker dan mungkin gejala ini ada pada mereka.
Untuk diketahui, ruam dibagi menjadi empat kategori berbeda dan para peneliti menyebutkannya yakni petechial, macular, macular dengan petechiae, atau erythematovesicular. Para peneliti menjelaskan bahwa enanthems sebelumnya diidentifikasi pada beberapa pasien Covid-19 di Italia.
Pada bulan Juni, CDC menambahkan hidung tersumbat atau pilek, mual, dan diare ke daftar gejala Covid-19 yang sedang berlangsung. Pada bulan April, sekelompok ilmuwan terpisah di Spanyol menemukan lesi pada kaki yang mereka katakan mungkin terkait dengan virus corona.
Baca juga: Lewat Mata, ‘Pintu’ Masuk Penyebaran Covid-19 Lebih Cepat
Seorang juru bicara CDC menunjuk ke daftar gejala yang terkait dengan Covid-19 dan tidak mengomentari penelitian ini. Hingga Senin pagi, lebih dari 14,5 juta kasus virus korona telah didiagnosis di seluruh dunia, lebih dari 3,7 juta di antaranya berada di AS, negara yang paling terkena dampak di planet ini.
Seattle-Tacoma International Airport (SEA), belum lama ini dikabarkan telah memperkenalkan alat baru dalam memerangi pandemi Covid-19 di Amerika Serikat (AS). Pasalnya, pandemi dari virus yang diduga pertama kali ditemukan di Wuhan, Cina, itu masih terus menghantui masyarakat AS. Hingga kini, sudah hampir menyentuh angka 4 juta kasus positif Covid-19, dengan 144 ribu di antaranya tewas.
Baca juga: Bersiap dari Awal Pandemi, Hong Kong Kembangkan Teknologi Buatan Sendiri untuk Hadapi Covid-19Kiro7.com menulis, alat yang diproduksi oleh perusahaan teknologi asal New York, AS, PathSpot Technologies, itu merupakan alat scan khusus Covid-19. Sebagaimana namanya, alat mirip hand dryer yang banyak ditemukan di restoran itu, diklaim mampu mendeteksi ada tidaknya Covid-19 yang bersarang di tangan hanya dalam tempo beberapa detik saja.
Saat ini, Bandara Internasional Seattle-Tacoma dilaporkan tengah menguji efektivitas alat scan Covid-19 dari AS itu di beberapa restoran di bandara. Layaknya hand dryer, alat scan Covid-19 itu diletakkan tak jauh dari wastafel.
Mekanismenya, sebelum dan sesudah menyantap makanan atau setelah tiba dan sebelum meninggalkan restoran, seluruh pengunjung diarahkan untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Lepas itu, mereka menscan bagian tangan ke alat scan Covid-19.
Dengan mengeluarkan sinar berwarna kebiru-biruan, alat tersebut akan membuat pengunjung menunggu beberapa detik sebelum akhirnya tangan mereka divonis terdeteksi membawa bakteri atau virus (termasuk Covid-19) atau tidak.
Bila tidak, layar kecil yang ada di bagian atas alat itu akan menunjukkan centang hijau, pertanda mereka aman. Sebaliknya, bila terdeteksi adanya virus atau bakteri, maka hasil scan menunjukkan centang merah dan mereka diharuskan kembali mencuci tangan dengan baik dan benar.
“Perangkat ini bekerja lewat gelombang cahaya tertentu untuk mencari kontaminasi mikroskopis di tangan Anda. Se-kecil apapun kontaminasi itu bersembunyi di bawah kuku jarimu, di antara perhiasanmu, di sela-sela jari tangan,” kata Christine Schindler, CEO PathSpot.
“Ini memberikan respon yang sangat nyata. Jadi, hei, 98 persen saat seseorang gagal melakukan pemindaian tangan di lokasi restoran Anda, jari (yang mengandung bakteri) itu berada di jari kelingking kanan Anda, atau saat terburu-buru makan siang,” lanjut Schindler.
Baca juga: Khawatir Covid-19, Pria Ini dengan ‘PD-nya’ Gunakan Kostum Dinosaurus di Bandara Miami
Juru bicara Bandara Internasional Seattle-Tacoma, Perry Cooper, menyebut saat ini pihaknya tengah mempertimbangkan penggunaan alat scan Covid-19 itu di seluruh area bandara. Tentu, bahan pertimbangannya adalah hasil tes alat tersebut yang saat ini masih berlangsung di 11 restoran di bandara tersebut. Tidak diungkap dengan detail kapan pengujian tersebut akan berakhir.
“Ini adalah program percontohan. saat ini kami sedang mempertimbangkan apakah akan menggunakannya di seluruh terminal juga atau tidak. Pada titik ini, (proses pengujian) berjalan sangat baik, kami sangat senang dengan itu,” jelasnya.