Garuda Indonesia Sewakan Simulator Pesawat dengan Tarif Mulai Rp1,6 Jutaan, Ikuti Thai Airways?

Garuda Indonesia akhirnya mulai menjajaki bisnis sewa simulator pesawat. Sebelumnya, bisnis penyewaan simulator pesawat oleh maskapai sudah lebih dahulu dilakukan Thai Airways sejak September lalu. Tak lama setelahnya, beberapa kalangan pun mendorong Garuda Indonesia untuk turut melakukan hal itu sebagai pundi-pundi uang tambahan, mengingat penerbangan penumpang masih lesu.

Baca juga: Dear Pilot, Usai Bangkrut Thai Airways Jajaki Bisnis Flight Simulator! Segini Harganya

Melalui brosur resmi yang dikirim Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiawan, disebutkan maskapai pelat merah itu hanya menyewakan flight simulator Bombardier CRJ1000. Adapun untuk simulator pesawat lain yang dimiliki Garuda, seperti Boeing 777, Boeing 737, A330, dan ATR 72, belum mulai disewakan.

Kendati demikian, flight simulator CRJ1000 yang disewakan Garuda Indonesia sudah dilengkapi dengan simulasi kondisi cuaca dan efek gerak yang mendekati kondisi sesungguhnya. Jadi, masyarakat umum atau pilot wannabe yang bermimpi menjadi pilot, tidak ada salahnya menjajal keseruan menerbangkan pesawat tersebut di sini. Apalagi program ini hanya dibuka sampai 31 Desember 2021.

Tarifnya sendiri bisa dibilang terjangkau. Disebutkan, flight simulator CRJ1000 disewakan seharga Rp1,6 juta untuk 30 menit, Rp2 juta untuk 60 menit, Rp3 juta untuk 90 menit, dan Rp3,7 juta untuk 120 menit. Sepanjang waktu-waktu tersebut, para pengunjung didampingi oleh Senior & Certified Garuda Indonesia Pilot, sehingga memaksimalkan pengalaman menjajal simulator.

Selain mendapatkan keseruan seakan-akan menerbangkan pesawat CRJ1000 asli, para peserta program ini juga mendapatkan benefit lainnya, seperti digital completion award, digital photo souvenirs, snack box, dan virtual briefing.

Bagi para pemburu diskon, Anda bisa mengajak dua teman untuk turut mengikuti program penyewaan simulator ini dengan hanya menambahkan biaya sebesar Rp1 juta. Peserta program juga bisa mendapat potongan harga mencapai Rp200 ribu dengan menukarkan GarudaMiles.

Simulator CRJ1000 tentu bukan salah satu yang terfavorit untuk dijajal taruna pilot atau pilot wannabe. Namun, Irfan tidak menutup kemungkinan simulator pesawat lain yang dimiliki Garuda Indonesia juga akan menyusul disewakan untuk umum di kemudian hari.

“Satu-satu. Kita basisnya availability,” jelasnya kepada KabarPenumpang.com, menjawab pertanyaan kenapa hanya simulator pesawat CRJ1000 saja yang disewakan.

Baca juga: Tak Hanya Diserbu Pilot, Microsoft Flight Simulator 2020 Juga Diserbu Traveller yang Kangen Liburan

Sayangnya, Irfan tidak menanggapi pertanyaan lain terkait penyewaan simulator pesawat Bombardier CRJ-1000 dengan pengembalian 12 pesawat tersebut ke lessor Nordic Aviation Capital atau NAC.

Kembali ke soal bisnis penyewaan simulator Garuda Indonesia, Irfan mengingatkan, reservasi dilakukan maksimal 48 jam sebelum jadwal yang diinginkan. Untuk informasi lebih lanjut terkait program ini, Anda dapat mengakses laman https://www.garuda-indonesia.com/GASimulator.

Antonov, Warisan Uni Soviet Milik Ukraina, Bukan Rusia!

Pesawat-pesawat jet di era millenium memang lebih senyap, efisien, dan ramah lingkungan. Namun, soal keunikan desain, bobot, dan tingkat kebisingan tinggi, rasanya, tak ada yang bisa menyaingi pesawat-pesawat legendaris buatan Uni Soviet.

Baca juga: Antonov An-24, Jawara Pesawat Penumpang Propeller Soviet yang ‘Dijiplak’ Menjadi Xian MA60

Terkait suara bising yang dihasilkan pesawat warisan Uni Soviet, warga Pantura Jawa, mulai dari Cirebon, Pekalongan, Semarang sampai ke Blora, merasakan betul akan hal ini. Pada Desember 2018 lalu, warga pernah dihebohkan dengan suara misterius yang memekakkan telinga.

Ketika itu, ada yang menyebut suara yang terdengar di waktu bersamaan, pada Jumat (14/12), pukul 01:00 WIB dini hari itu seperti “klakson kereta api tapi jauh”, “suara terompet” hingga “suara-pesawat terbang rendah”, meskipun tidak ada pesawat yang terlihat.

Akan tetapi, data penerbangan pesawat Antonov An-12BP dengan nomor registrasi UR-CGW termuat di situs Flight Radar 24. Pada 14 Desember 2018 pukul 05.40 UTC atau 00.40 WIB, pesawat Antonov An-12BP diketahui melintas di langit Purwakarta, Jawa Barat, pada ketinggian 15.350 kaki.

Pesawat terdeteksi hingga sekitar langit Subang pada empat menit kemudian. Hanya saja, suara misterius yang diduga berasal dari Antonov itu masih menjadi perdebatan.

Berdirinya Antonov tentu tak terlepas dari jasa besar Oleg Konstantinovich Antonov. Sejak 31 Mei 1946, Antonov diangkat menjadi kepala fasilitas di Biro Penelitian dan Desain Antonov, di Kiev, Ukraina. Di waktu yang hampir bersamaan, Antonov juga diangkat menjadi Siberian R&D Institute for Aeronautics.

Dari situlah perjalanan perusahaan Antonov dimulai. Di bawah badan hukum Biro Desain Antonov, pengembangan demi pengembangan terus dilakukan olehnya, hingga yang paling fenomenal adalah Antonov An-225 yang masuk ke Guinness Book of Records untuk catatan 240 rekornya.

Perlu dicatat, sebelum Antonov berkantor pusat di Kiev, Ukraina, perusahaan sempat berkantor di Novosibirsk, Rusia. Sebelum Uni Soviet runtuh, keduanya masih menjadi masuk dalam teritori negara. Namun, ketika Soviet runtuh, ini menjadi silamakama.

Sebab, selama ini, berbicara Uni Soviet, asosiasinya pasti terhubung langsung ke Rusia. Hal itu memang tak berlebihan mengingat negara tersebut mayoritas mewarisi wilayah Negeri Komunis yang sangat luas. Tetapi, berbicara soal Antonov sebagai warisan industri penerbangan Uni Soviet, ini bukan jatuh ke tangan Rusia, melainkan Ukraina.

Dilansir flightradar24.com, hingga saat ini, Antonov, yang kini mengusung nama Antonov State Enterprise di bawah Ukroboronprom, bukan lagi Biro Desain Antonov peninggalan Soviet, disebut telah memproduksi sekitar 22.000 pesawat.

Pesawat-pesawat tersebut memang sudah banyak yang tak lagi terbang. Umumnya, pesawat buatan Antonov lebih sering terlihat di Ukraina, melalui salah satu maskapai terbesarnya, Motor Sich Airlines. Maskapai tersebut diketahui mengoperasikan banyak pesawat Antonov untuk penerbangan kargo dan penumpang berjadwal serta charter, seperti Antonov An-24 dan An-140.

Sayangnya, di tangan Ukraina, bisnis Antonov seperti tak bergairah. Kalaulah bukan karena nama besar, sudah pasti Antonov bangkrut.

Baca juga: Antonov An-124 Terasa ‘Istimewa’ di Yogyakarta, Tapi Sudah ‘Biasa’ di Makassar

Selama enam tahun terakhir, Antonov diketahui tidak memproduksi satupun pesawat. Tetapi, masa depan memang masih menanti seiring banyaknya charteran pesawat, seperti pesawat terbesar di dunia An-225 dan An-124, serta datangnya beberapa pesanan pesawat.

Disebutkan, Kepolisian Nasional Peru dipastikan telah memesan pesawat Antonov An-178. Tak diketahui secara persis berapa jumlahnya. Yang jelas, badan pesawat tersebut sudah dibuat dan terus menunjukkan progres. Tetapi, ke depan, tak ada kepastian bakal seberapa aktif Antonov untuk terus mengembangkan bisnisnya, tak seperti perusahaan dirgantara warisan Soviet lainnya, seperti Tupolev dan Ilyushin yang berada di tangan Rusia.

Bandara Minneapolis Hadirkan “Gita,” Robot Pengantar Makanan ke Pelancong

Teknologi di masa kini tak bisa lepas dari kehidupan manusia, pasalnya hal ini membantu dalam berbagai macam pekerjaan. Salah satunya teknologi robot yang membantu dalam berbagai hal yakni digunakan di banyak bandara dunia.

Baca juga: Bandara Seattle-Tacoma Kerahkan Robot Pembersih Lantai dan Teknologi Canggih Lawan Corona

Seperti di Bandara Internasional Minneapolis-Saint Paul yang meluncurkan robot baru. Di mana robot tersebut akan mengirimkan makanan kepada para pelancong di Terminal 1 sebagai bagian dari program percontohan yang bertujuan untuk mendorong pemesanan tanpa kontak selama pandemi Covid-19.

Dilansir KabarPenumpang.com dari passengerterminaltoday.com (12/4/2021), robot ini kehadirannya atas kerja sama dengan platform makanan bandara AtYourGate dan Grab. Nyatanya, robot diluncurkan di Bandara MSP pada tahun 2019, portal pengiriman makanan bandara MSP ASAP sekarang menawarkan pengiriman makanan tanpa kontak melalui rolling droid, bernama Gita (diucapkan jee-tah).

“Ada kenyamanan dan keamanan bagi pelanggan untuk dapat memesan makanan dari ponsel atau laptop mereka, dan dalam waktu 15 hingga 30 menit, Gita menggulung dan membuka pintu kargonya agar pelanggan dapat mengambil pesanan mereka. Memang menyenangkan dan aneh, tetapi ada juga tujuan di balik teknologi ini agar pelanggan merasa lebih percaya diri dalam menghindari antrean antrean dan pesanan mereka terkirim,” kata Eric Johnson, direktur manajemen komersial dan urusan penerbangan untuk Metropolitan Airports Commission, yang mengoperasikan Bandara MSP.

Menggunakan teknologi penginderaan visual, Gita mengikuti anggota staf pengiriman AtYourGate untuk menjangkau pelanggan. Droid dapat membawa pesanan hingga 18 kg, memungkinkan pengiriman ke lebih dari satu pelanggan pada satu waktu. Permintaan pesanan dan faktor lokasi menjadi kapan dan di mana Gita dikirim. Saat ini menawarkan pengiriman dari 17 restoran dan penjual makanan.

Baca juga: Cara Jitu Cegah Bird Strike di Sekitar Bandara, Kerahkan Robot Pemotong Rumput 

“Kami melihat Gita sebagai langkah pertama untuk memperkenalkan robotika sebagai pilihan baru yang inovatif dan aman bagi penumpang yang berbelanja dan makan saat berada di MSP. Selain itu, momen kejutan dan kegembiraan yang tercipta saat para tamu bertemu Gita untuk pertama kalinya memberikan kesempatan luar biasa bagi tim AtYourGate untuk mempromosikan pengalaman MSP ASAP,” kata salah satu pendiri AtYourGate, Chris Hartman.

Masih Punya Tabungan, Boeing Yakin Maskapai dan Lessor Segera Beli Pesawat Baru

Kendati industri penerbangan masih belum sepenuhnya pulih dan maskapai banyak yang sudah berdarah-darah, Boeing percaya bahwa mereka masih punya cukup uang. Itu nantinya mendorong maskapai untuk membeli pesawat baru pada kuartal berikutnya.

Baca juga: Maskapai Butuh 32 Ribu Unit Pesawat Baru di 2040, Airbus Tingkatkan Kapasitas Produksi A320

Selain maskapai, pemodal besar dan kecil di industri penerbangan juga dipercaya masih punya cukup uang untuk membeli pesawat baru. Terlebih, upaya melawan Covid-19 terus dilakukan dengan massifnya vaksinasi di berbagai belahan dunia.

“Pemodal dan investor memahami ketahanan industri dan fundamental jangka panjang yang menjadikan pesawat terbang sebagai kelas aset yang berharga. Terlepas dari dampak Covid-19 yang belum pernah terjadi sebelumnya pada industri kedirgantaraan global, secara umum likuiditas terus berlanjut di pasar bagi pelanggan kami, dan kami berharap itu akan meningkat lebih lanjut karena perjalanan mulai pulih,” ujar Tim Myers, presiden Boeing Capital Corporation.

“Dasar-dasar industri terus menunjukkan berbagai tingkat kekuatan di pasar yang berbeda tergantung pada tren regional pandemi global. Kami berharap modal akan terus dialihkan ke sektor ini oleh pemain mapan dan sebagai pendatang baru mencari peluang selama pemulihan industri,” lanjutnya, seperti dikutip dari Simple Flying.

Keyakinan tersebut tentu bukan tanpa dasar. Boeing mengacu pada angka-angka dari laporan Current Aircraft Finance Market Outlook (CAMFO) 2021. Secara keseluruhan, angka-angka tersebut menunjukkan bahwa sektor pembiayaan pesawat tahun lalu berakhir dengan likuiditas yang cukup untuk mendanai pengiriman pesawat.

Disebutkan, Bank masih memainkan peranan penting bagi maskapai penerbangan untuk mengamankan pendanaan tahun lalu. Namun, hutang bank jangka panjang menjadi salah satu bentuk pendanaan yang jarang digunakan. Sementara itu, investor dan kreditur membantu secara signifikan karena beberapa pemodal menghentikan bantuan dan margin kredit jadi meluas.

Boeing menyimpulkan bahwa sumber pembiayaan yang paling umum untuk pengiriman pesawat adalah uang tunai, hutang bank, dan pasar modal. Penting untuk diperhatikan bahwa semua pengiriman pesawat untuk maskapai dan lessor dibiayai oleh pihak ketiga.

Secara keseluruhan, pasar modal untuk volume penerbangan 70 persen lebih besar daripada tingkat sebelum pandemi. Angka ini menyoroti jumlah dukungan finansial yang telah diterima sektor tersebut.

Meski demikian, masih ada kekhawatiran yang cukup besar karena banyak maskapai yang masih terseok-seok dan membutuhkan stimulus lebih dari pemerintah, terutama dari pemerintah yang masih memutuskan lockdown atau pembatasan perjalanan.

Baca juga: Terganjal Sanksi Nuklir, Korea Utara Kesulitan Membeli Pesawat Baru untuk Air Koryo

Sejak Oktober tahun lalu, Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) sudah menyerukan ke pemerintah di seluruh dunia agar memberikan paket stimulus lanjutan ke maskapai penerbangan. Ketika itu, IATA menyebut, maskapai membutuhkan sekitar US$77 miliar atau sekitar Rp1.133 triliun (kurs 14.700) uang tunai untuk membiayai operasional.

Selain itu, IATA juga menyerukan agar pemerintah negara-negara di dunia tidak menerapkan kebijakan karantina ke wisatawan yang datang. Sebab, sebelum naik pesawat, mereka telah melewati serangkaian proses panjang untuk memastikan hanya penumpang sehat yang diizinkan bepergian dengan pesawat.

Dibayangi Wajib Bayar Royalti Musik dan Lagu, Begini Respon KAI dan Garuda Indonesia

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, memilih tak ambil pusing dengan adanya Peraturan Pemerintah Republik Indonesia (PP) yang mewajibkan pihaknya membayar royalti dari pemutaran musik dan lagu di pesawat.

Baca juga: Ternyata, Mendengarkan Musik Memiliki Banyak Manfaat Selama Perjalanan

Senada dengan Irfan, VP Public Relations PT Kereta Api Indonesia (KAI) Joni Martinus juga mengaku demikian.

Kewajiban membayar royalti memang sempat menjadi buah bibir di masyarakat. Diketahui, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani PP Nomor 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik pada tanggal 30 Maret 2021.

Peraturan tersebut guna memberikan pelindungan dan kepastian hukum terhadap pencipta, pemegang hak cipta, dan pemilik hak terkait terhadap hak ekonomi atas lagu dan/atau musik serta setiap orang yang melakukan penggunaan secara komersial lagu dan/atau musik.

Dalam Pasal 3 ayat 2 PP Nomor 56 Tahun 2021, diatur 14 tempat dan jenis kegiatan yang akan dikenai royalti terhadap sebuah karya cipta. Salah satunya sektor transportasi seperti pesawat udara, bus, kereta api, dan kapal laut.

Pantauan KabarPenumpang.com, pada KRL relasi Bogor-Jakarta dan Jakarta-Bogor, memang sejak PP tersebut ditandatangani sampai hari ini, sudah tidak ada lagi lagu-lagu atau musik dari musisi Indonesia yang diputar. Sepanjang perjalanan, penumpang hanya ditemani dengan lagu-lagu atau musik karya luar negeri saja.

Meski KAI Commuter belum memberikan tanggapan resmi terkait hal ini, namun, hal itu bisa tercermin dari tanggapan induk perusahaannya, PT KAI.

Kepada wartawan, VP Public Relations, Joni Martinus menjelaskan pihaknya akan mematuhi seluruh aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah. “Kami juga akan pelajari lebih lanjut terkait penerapannya di kereta api dan stasiun,” katanya kepada Kontan.co.id, beberapa waktu lalu.

Sementara itu, Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra, juga nyaris memberikan tanggapan yang sama terkait pemberlakuan royalti dari pemutaran musik dan lagu di pesawat.

Baca juga: JOOX dan AirAsia Rilis “Fly Away,” Musik Tanpa Internet di Pesawat

Irfan Setiaputra menyetujui aturan Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan/atau Musik tersebut. “Ya harus diikuti aturan tersebut, karena kan aturan dari pemerintah,” ujar dia kepada MNC Portal Indonesia.

Tarif yang harus dibayar atas royalti pada pesawat udara, bus, kereta api, dan kapal laut yaitu jumlah penumpang dikalikan 0,25 persen dari harga tiket terendah dikalikan durasi musik dikalikan prosentase tingkat penggunaan musik. Kemudian pemutaran musik di bioskop sebesar Rp 3,6 juta per layar per tahun.

Setelah Dua Tahun Keok, Boeing Akhirnya Kalahkan Pesanan Pesawat Airbus

Boeing akhirnya berhasil kembali merengkuh status sebagai produsen pesawat terbesar di dunia dalam urusan pesanan pesawat. Itu terjadi setelah dua tahun berturut-turut selalu berada di bawah bayang-bayang kompetitor Eropa-nya, Airbus.

Baca juga: 4 Poin Head to Head Boeing vs Airbus, Mana Lebih Unggul?

Sejak Boeing 737 MAX di-grounded pada Maret 2019, praktis pesanan pesawat Airbus terus melejit lewat armada narrowbody mereka, khususnya keluarga A320, yang menjadi pesaing terberat 737 MAX. Airbus terus berada di atas Boeing dalam urusan pesanan pesawat sampai 2020 lalu.

Terbukti, ketika 737 MAX kembali mengudara dan mulai kembali mendapat tempat di hati maskapai dan penumpang, per 31 Maret 2021, pesanan pesawat Boeing kembali mengungguli Airbus. Boeing tercatat mendapat 282 pesanan pesawat dengan 76 pembatalan. Sedangkan Airbus jauh berada di bawah Boeing, dengan mencatat 39 pesanan dan 100 pembatalan.

Kendati demikian, Boeing masih mempunyai sejumlah pekerjaan besar. Produsen pesawat asal Amerika Serikat itu diketahui masih belum bisa mengungguli Airbus dalam urusan pengiriman pesawat di kuartal I 2021 ini.

Laporan CNN International, Airbus berhasil membukukan pengiriman 125 pesawat, berbanding jauh dengan Boeing yang hanya mengirim 77 pesawat. Padahal, Airbus sebelumnya selalu kesulitan untuk memenuhi pengiriman pesawat sesuai jadwal lantaran kapasitas produksinya masih jauh di bawah Boeing. Sudah begitu, supplai chain Airbus juga belum seluas Boeing. Hal itupun diakui oleh CEO Airbus, Guillaume Faury.

Menurutnya, ekosistem bisnis menjadi krusial dalam kaitannya dengan kapasitas produksi. Singkatnya, mulai dari hulu hingga hilir; yang notabene banyak melibatkan pihak lain, seperti penyediaan bahan baku, kapasitas produksi, pengiriman bahan baku, mulai dari bahan mentah, setengah jadi, hingga barang jadi ke mitra kerja Airbus, baik internal maupun eksternal, yang tersebar di 11 negara, seperti Wales, Spanyol, Perancis, Jerman, hingga Cina.

“Ini mungkin terlihat seperti sebuah paradoks, tetapi dalam jangka pendek, kami tidak mendapatkan manfaat dari situasi dengan pesaing kami,” kata Faury, di sebuah konferensi pers terkait laporan keuangan perusahaan pada 2019 lalu, di Toulouse, Perancis.

Baca juga: Meski Boeing Keok, Airbus Belum Bisa Salip Boeing dalam Urusan Produksi Pesawat

Dalam kesempatan tersebut, dirinya juga mengungkapkan bahwa tantangan terbesar Airbus adalah mengirim pesanan pesawat ke pelanggan, yang sangat terpengaruh dengan kemampuan perusahaan dalam memproduksi pesawat secepat mungkin.

Dengan keberhasilan Airbus meningkatkan kapasitas produksi dan mengejar pengiriman pesawat, di saat yang bersamaan, Boeing juga mampu menyalip Airbus dalam urusan pesanan pesawat, persaingan antar keduanya akan semakin menarik ditunggu. Terlebih, tahun 2021 masih cukup panjang dan segalanya masih mungkin serta menentukan siapa yang akan menjadi yang terbesar dalam urusan pesanan dan produksi pesawat.

Pernah Delapan Tahun Kerja di Grab, Tony Fernandes Siap Bawa AirAsia ke Pasar Ride Hailing

Pandemi Covid-19 telah berdampak buruk pada usaha penerbangan, seperti salah satunya dirasakan oleh AirAsia. Pada periode Oktober hingga Desember 2020, AirAsia Grup melaporkan kerugiannya telah mencapai Rp8,5 triliun. Guna meredam kerugian yang bakal terus berlanjut, CEO AirAsia Tony Fernandes berusaha keras melakukan inovasi yang terbilang out of the box.

Baca juga: AirAsia Food Siap Bersaing di Segmen Layanan Antar Makanan Online

Setelah meluncurkan layanan antar makanan online, AirAsia Food, dilansir KabarPenumpang.com dari laman dealstreetasia.com (30/3/2021),  Tony Fernandes mengatakan dirinya pernah di Grab delapan tahun dan belajar banyak. Tony menyebutkan, bahwa dirinya tidak perlu membuang uang untuk masalah aplikasi layanan penumpang jika akan membuatnya.

“Dengan eksperimen, membangun teknologi, melatih pengemudi dan memperkenalkan  pasar, maka tidak perlu mengeluarkan uang banyak untuk hal ini, karena saya pernah belajar dari delapan tahun di Grab. Model ride-hailing telah dibangun, semua orang di Malaysia tahu bagaimana cara menggunakannya,” kata Tony.

Langkah ini merupakan bagian dari rencana AirAsia yang lebih besar untuk menjadi super app. Di mana belum lama ini, AirAsia meluncurkan layanan pengirimanan makanan di Malaysia dan Singapura serta melakukan uji coba untuk layanan pengiriman drone di Negeri Jiran tersebut.

Tak hanya itu, AirAsia juga berencana untuk mendaftarkan armada logistiknya, yakni Teleport untuk memperluas bisnis non penerbangannya. Untuk peluncuran aplikasi ride-hailing, juru bicara AirAsia mengatakan setiap pengumuman tentang layanan baru akan dibuat pada waktunya.

Bahkan menurut Tony, kehadiran aplikasi ride-hailing ini bisa memberikan keuntungan karena bila digabungkan dengan penumpang pesawat yang tiba di bandara, maka bisa memesan taksi untuk pergi ke tujuan mereka.

“Bagaimana Anda akan bersaing dengan Grab? Setiap penumpang yang tiba di Bandara Internasional Kuala Lumpur atau KLIA melihat saya terlebih dahulu sebelum orang lain. Sehingga ketika memesan penerbangan, Anda juga bisa memesan taksi,” ujarnya.

Dia mengatakan, maskapai ingin membuka apliasi setiap hari dengan menggabungkan semua bisnisnya. Tony menambahkan, daya dorong utama transformasi digital ini adalah logistik dan inilah yang dicari.

Baca juga: Rilis Logo Baru, AirAsia Resmi Jadi Super App dan Tawarkan Diskon Tiket 50 Persen

Tidak ada aplikasi super yang dapat melakukan apa yang mereka buat, karena saat ini AirAsia memiliki 245 pesawat. AirAsia juga tengah mengintegrasikan dompet elektronik BigPay ke dalam aplikasi AirAsia.

Stasiun Padalarang Baru Menjadi Hub Kereta Cepat Jakarta-Bandung Dibangun Dua Tahap

Stasiun Padalarang Baru digadang akan menjadi hub penghubung antar moda untuk kereta cepat Jakarta-Bandung. Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Dwiyana Slamet Riyadi mengatakan hub ini letaknya akan dekat dengan Stasiun Padalarang. Tepatnya di bagian barat dan sejajar dengan stasiun itu di Bandung Barat.

Baca juga: Depo EMU Kereta Cepat Jakarta-Bandung Tegal Luar Selesai Dibangun

Nantinya akan ada tiga bagunan utama di hub tersebut yakni bangunan pertama adalah hub yang akan dihubungkan dengan eskalator ke arah Sky Hall. Yang mana Sky Hall brada di atas jalur esksisting dan ini untuk kereta api feeder yang melayani konektivitas kerta cepat dengan Stasiun Bandung.

Sedangkan rel eksisting yang melintas Stasiun Padalarang adalah rel kereta nomor 4 dengan lokasi paling pinggir dekat dengan lokasi rel kereta cepat. Rel itu akan dipergunakan oleh kereta feeder untuk mengantarkan penumpang kereta cepat yang berhenti di Stasiun Padalarang. Dari sana, penumpang kereta cepat akan berganti moda dengan kereta feeder menuju Stasiun Bandung.

Untuk jalur 2 akan digunakan untuk penumpang kereta feeder ke kereta api cepat karena jalur emplacementnya paling seamless. Nantinya pembangunan Stasiun Padalarang Baru ini akan dilakukan dalam dua tahap. Yang mana tahap pertama harus sesuai dengan kapasitas penumpang sesuai proyeksi yang dilayani di stasiun tersebut.

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Didiek Hartantyo mengatakan, integrasi antara stasiun kereta cepat dan kereta api ini sesuai dengan keputusan Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi pada 26 November yang mengatakan bahwa diputuskan konektivitas kereta api cepat Jakarta-Bandung dengan kereta api ini di Stasiun Padalarang.

Salah satu pertimbangannya adalah waktu tempuh. Di mana jarak tempuh dari Bandung ke Padalarang ini hanya 18 menit, sementara dari Tegal Luar itu 30 menit dan kereta cepat ini mengejar waktu tempuh. Untuk diketahui jarak Halim-Padalarang akan ditempuh dalam 38 menit. Penumpang tinggal melanjutkan perjalanan menuju Bandung dengan kereta feeder menempuh jarak 15 km. Didiek menjelaskan, potensi penumpang juga lebih baik Padalarang dibandingkan Tegalluar.

“Potensi demand penumpang juga sudah terbentuk di Padalarang. Sehingga walaupun di Padalarang, Tegalluar tetap diselesaikan. Jadi nanti depo dan stasiunnya tetap akan dibangun sesuai dengan kebutuhan nanti,” ujarnya yang dikutip KabarPenumpang.com dari tempo.co.

Saat ini lahan Stasiun Padalarang sebagian menggunakan lahan KAI di sana dan sebagian lagi lahan milik warga. Adapun sosialisasi pembebasan lahan sudah dilakukan dan ia yakin selepas Hari Raya Lebaran mendatang, pembebasan lahan bisa dimulai.

Baca juga: Didukung Cina, Indonesia Perpanjang Jalur Kereta Cepat Jakarta-Bandung Hingga ke Surabaya

“Lalu lintas di sini kami akan rapihkan, sehingga penertiban area d sini tanah di tanah kami akan kami lakukan. Sehingga betul-betul kawasannya akan menjadi kawasan integrasi antara kereta cepat dengan kereta api di Padalarang,” tuturnya.

Intip Kemewahan Konsep Pesawat Boeing 787 Nike Khusus Atlet

Nike tak pernah bosan melakukan berbagai inovasi untuk mengoptimalkan kinerja dan kesehatan atlet di seluruh dunia. Belum lama ini, salah satu perlengkapan dan peralatan olahraga terbesar di dunia itu dikabarkan merilis konsep pesawat Boeing 787 Dreamliner yang dirancang khusus untuk para atlet.

Baca juga: “Double Bubble,” Konsep Pesawat Unik Berbahan Bakar Ramah Lingkungan

Dilansir onemileatatime.com, konsep pesawat yang dikembangkan bersama dengan konsultan desain global asal Amerika Serikat (AS), Teague, ini merupakan jawaban atas berbagai keluhan atlet, staf, pelatih, dan tim dokter saat mengarungi jadwal padat kompetisi. Selama ini, mereka mengungkap bahwa perjalanan panjang atau singkat sekalipun yang tak didukung sarana prasarana memadai -dalam kaitannya dengan atlet- acap kali membuat performa tim menjadi kurang maksimal.

Setelah menjaring keluhan dan masukan dari mereka, Nike dan Teague akhirnya berhasil berinovasi dengan konsep pesawat tersebut. Setidaknya, ada empat hal yang difokuskan di pesawat Boeing 787 Dreamliner khusus untuk para atlet atau tim olahraga ini, mulai dari pemulihan, sirkulasi, istirahat, dan berpikir.

Workout Room. Foto: Nike Teague

Pemulihan di sini maksudnya ialah meminimalisir efek negatif penerbangan pada pikiran dan tubuh; termasuk seolah memindahkan pusat pelatihan ke dalam pesawat melalui in-flight biometrics dan berbagai analisa untuk mempercepat diagnosis dan cedera.

Sirkulasi di sini lebih ke arah bagaimana menjaga stamina dan kebugaran para atlet selama di perjalanan, termasuk di dalamnya mendukung proses penyembuhan para atlet melalui berbagai sarana prasarana berteknologi canggih ataupun konvensional layaknya pusat kebugaran di darat.

Sedangkan istirahat ialah konsep untuk membantu seluruh atlet dan tim mendapatkan posisi atau strategi tidur yang ideal. Tujuannya, ketika bangun dan balik ke darat, seluruhnya bisa mendapatkan kembali kebugaran fisik seperti sediakala, untuk melanjutkan kompetisi.

Sleep Pod. Foto: Nike Teague

Adapun berpikir, maksudnya ialah menciptakan ruang untuk pengelolaan mental dengan melihat kembali video pertandingan diselingi dengan analisis dari tim maupun pelatih, baik sebelum maupun sesudah pertandingan. Tujuannya, tentu agar tak mengulangi kesalahan yang sama dan membuat tim menelan kekalahan.

Saat ini, pesawat Boeing 787 Dreamliner khusus atlet besutan Nike dan Teague masih sebatas prototipe dan tengah menunggu pesanan dari tim olahraga di dunia. Namum demikian, tim-tim olahraga di dunia dikabarkan antusias untuk bisa memiliki pesawat tersebut demi kesuksesan tim.

Diketahui, tim-tim olahraga di dunia umumnya lebih suka men-charter pesawat mengingat kebutuhan perjalanan udara mereka cukup rendah. Namun, tak sedikit tim-tim olahraga yang menganggarkan hingga jutaan dolar untuk mencharter pesawat; salah satunya tim football asal AS, New England Patriots, yang menganggarkan hingga US$4 juta per musim. Karenanya, mereka pun memutuskan untuk membeli pesawat Boeing 767 bekas pada 2017 lalu.

Therapy Room. Foto: Nike Teague

Nike dan Teague sendiri sebetulnya belum merilis harga resmi konsep pesawat Boeing 787 dreamliner khusus atlet. Namun, diperkirakan pesawat tersebut bakal dibanderol hingga US$200 juta lebih. Tentu angka yang cukup besar bila persentase penggunaannya rendah. Tetapi, kedua perusahaan pelopor konsep pesawat tersebut percaya, di masa mendatang, tim-tim olahraga tak akan sungkan untuk berinvestasi lebih demi kesuksesan mereka.

Baca juga: Intip Paten Airbus untuk Konsep Donat Terbang, Pesawat Andalan di Masa Depan?

“Setiap tim profesional fokus untuk menarik pemain terbaik dan mendapatkan performa terbaik dari para pemain itu. Pusat kebugaran modern, permukaan bermain yang lebih baik, dan ruang rehabilitasi mutakhir semuanya berkontribusi pada hal ini. Tetapi sesuatu yang jelas hilang: investasi dalam cara perjalanan tim olahraga profesional,” jelasnya.

“Jadi kami berkolaborasi dengan para peneliti, ahli strategi, dan desainer di Nike untuk mengembangkan interior Boeing 787 Dreamliner yang sangat disesuaikan, dibuat untuk melayani atlet profesional selama mereka di jalan,” pungkasnya.

Swedia dan Finlandia Putuskan Bangun Jalur Kereta Api

Selama hampir 30 tahun, perjalanan kereta api antar dua negara di Skandinavia ini tidak berfungsi. Karena hal ini, Swedia dan Finlandia kemudian memutuskan untuk membangun koneksi kereta api untuk penumpang.

Baca juga: Swedia Bebaskan Rakyatnya Pilih Nama Sebuah Kereta

Pihak berwenang menginformasi bahwa stasiun perbatasan Swedia di Haparanda dibuka kembali untuk penumpang yang ingin melakukan perjalanan dengan kereta api pada 1 April. KabarPenumpang.com dilansir schengenvisainfo.com (8/4/2021), ternyata selama hampir tiga dekade, Swedia dan Finlandia belum memiliki koneksi kereta penumpang meski keduanya bertetangga.

Namun, popularitas perjalanan kereta api telah tumbuh secara signifikan karena masalah lingkungan, yang mendorong pihak berwenang untuk mempertimbangkan kembali menggunakan bentuk perjalanan ini. Akibatnya, kedua negara memutuskan untuk mengambil langkah penting dalam membangun koneksi lintas batas melalui kereta penumpang setelah mempertimbangkan situasi saat ini.

Selain itu, pihak berwenang Finlandia telah memutuskan untuk melistriki jalur bentangan 20 km antara Laurila, sebuah desa yang berbatasan di barat laut Finlandia, dan perbatasan Swedia. Skema elektrifikasi trek ini didanai oleh Uni Eropa pada Juli 2020, dengan Finlandia menerima total bantuan €1,6 juta.

Selain itu, pihak berwenang juga berencana memperbarui dan melistriki jembatan kereta api yang melintasi Sungai Tornio. Namun keputusan tentang pendirian dan pembiayaannya belum disetujui.

“Sejauh ini, mereka kebanyakan datang dengan pesawat, tetapi sekarang ini memberikan peluang bahwa di masa depan, karena perjalanan kereta api menjadi semakin populer, Anda bahkan dapat bepergian dengan kereta api dari Eropa Tengah sampai ke Lapland, keduanya ke pihak Swedia dan pihak Finlandia juga,” kata Manajer Eksekutif Badan Pariwisata Lapland Finlandia Nina Forsell, mengomentari pembangunan koneksi kereta api.

Forsell lebih lanjut menjelaskan bahwa sebagian besar wisatawan yang mengunjungi Lapland lebih cenderung menikmati alam melalui perjalanan kereta api yang lambat dan indah selama penerbangan. Lapland siap untuk merevitalisasi koneksi kereta penumpang karena melihat peluang baru terkait sektor perjalanan dan pariwisata serta ekonomi Finlandia akan berkembang.

Sebelumnya pada bulan Maret, Swedia menduduki peringkat teratas dalam Indeks Perjalanan Berkelanjutan Euromonitor International di antara 99 negara di seluruh dunia untuk keterlibatan keberlanjutan lingkungan dan sosial secara keseluruhan serta untuk mendukung kebangkitan sektor perjalanan dan pariwisata yang ramah lingkungan. Selain Swedia, Finlandia menempati peringkat kedua.

Baca juga: Tak Ada Lockdown di Swedia, Warga Stockholm Justru Terlihat Santuy

Karena pembatasan perjalanan antara Swedia dan Finlandia, belum diumumkan kapan koneksi kereta penumpang akan berfungsi penuh antara kedua negara. Sebelumnya, Swedia telah memperpanjang pembatasan perjalanan yang tidak penting ke negara-negara yang bukan bagian dari Uni Eropa, Wilayah Ekonomi Eropa dan Inggris hingga setidaknya 31 Mei 2021, karena situasi Covid-19 saat ini.