Ledakan besar setara gempa magnitudo 3,6 SR dilaporkan terasa sampai Siprus yang berada tepat di seberang pusat ledakan di kawasan pelabuhan kota Beirut. Padahal, jarak pusat ledakan ke Siprus berkisar lebih dari 230 km. Bila jarak sejauh itu saja masih terasa, bagaimana dengan objek-objek yang berada tak jauh pelabuhan, semisal Bandara Internasional Rafic Hariri (BEY)?
Baca juga: Sebelum Diterpa Ledakan Besar, Lebanon Tahun 60-an Pernah Jadi Destinasi Favorit Pramugari dan Pilot
Dilihat KabarPenumpang.com dari FlightRadar24, sejak ledakan pertama dan kedua hingga awan berwarna putih di sekitaran pelabuhan Beirut berubah dan dipenuhi dengan awan berwarna merah, seluruh aktivitas penerbangan di BEY sama sekali tak dihentikan.
Padahal, awan tersebut cukup besar dan terus bertengger di langit hingga berpotensi mengganggu penerbangan; sekalipun posisinya tak terlalu tinggi.
Melihat hal itu, pengamat penerbangan, Capt. Shadrach M Nababan ikut buka suara. Menurutnya, ledakan tersebut bisa dibilang sama sekali tak berpengaruh terhadap industri penerbangan negara itu maupun negara di sekitarnya.
“Saya melihat (akibat dari ledakan ini) tidak terlalu signifikan pengaruhnya terhadap airlines,” ujarnya saat dihubungi KabarPenumpang.com, Rabu (5/8).
Menurutnya, hal itu setidaknya didukung oleh dua hal. Pertama Air Traffic Controller (ATC) dan yang kedua adalah radar cuaca. Ketika terjadi insiden seperti halnya ledakan besar di salah satu pusat perekonomian kota Beirut itu biasanya berbagai instansi terkait menyarankan untuk dikeluarkannya Notice To Airmen atau NOTAM oleh Kementerian Perhubungan Lebanon.
Instansi yang dimaksud tentu harus kredibel, seperti Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) berkenaan dengan objek benda asing atau Foreign Object Damage (FOD) di langit -misalnya abu vulkanik akibat gunung meletus- serta ATC selaku unit pengawas lalu lintas udara, baik atas informasi sendiri maupun dari pihak terkait semisal adanya latihan perang atau lainnya.
Dalam insiden ledakan di Lebanon, Kementerian Perhubungan sejauh ini dilaporkan tak sampai mengeluarkan NOTAM. Kondisi tersebut, menurut Capt. Nababan, mungkin disebabkan tidak adanya ancaman yang berarti, baik getaran yang ditimbulkan maupun awan berwarna merah yang muncul di langit Beirut.
Terkait getaran yang ditimbulkan sebagai dari efek ledakan, sebagaimana laporan The National, Bandara Internasional Rafic Hariri (BEY) mengalami kerusakan berat. Kaca-kaca di bandara tampak pecah dan berbagai furniture lainnya rusak dan jatuh berserakan di lantai. Hal itu tentu maklum mengingat jarak bandara hanya berkisar 12 km lebih. Namun demikian, nampaknya, kerusakan hanya terjadi di ring luar area bandara saja.
Adapun area sekitara apron tempat pesawat berada, tidak mengalami kerusakan berarti, mengingat pesawat masih terus beroperasi dan tak satupun mengalami pembatalan atau keterlambatan lepas landas maupun turun landas. FlightRadar24 mencatat, ada sekitar dua pesawat mendarat dan beberapa lainnya berangkat pasca insiden ledakan.
Sedangkan untuk awan berwarna merah yang muncul, dampak terhadap penerbangan tak terlalu berarti. Sebab, ATC BEY pasti akan melaporkan kondisi di sekitaran langit tempat pusat ledakan. Dengan begitu, pilot dapat mencari rute lain -tentu dengan dibimbing ATC- agar tetap bisa selamat.
Baca juga: Tujuh Alasan Lebanon Wajib Dikunjungi, Nomor 4 Bikin Anda Tak Mau Pulang
Lagi pula, masih menurut Capt. Nababan, radar cuaca secara umum mampu mendeteksi awan di jalur pesawat berada; meskipun tak mendeteksi secara detail apakah awan tersebut merupakan awan pada umumnya atau awan lain sebagaimana awan bekas ledakan. Bila pun terpaksa melewati awan tersebut, Capt. Nababan masih memperkirakan pesawat akan baik-baik saja. Tentu dengan melihat besaran partikel debu yang dihasilkan.
Bila partikel terlampau besar, tentu akan merusak mesin. Sebaliknya, jika partikel masih tergolong kecil, maka mesin pesawat bukan malah rusak, melainkan akan nampak kinclong dibuatnya, sebagaimana pengalamannya dahulu saat masih menerbangkan pesawat.
Cathay Pacific meluncurkan Cathay Care dengan memperkenalkan langkah pencegahan yang disempurnakan pada tahapan perjalanan mulai dari check in hingga kabin dan membuat penumpang dapat terbang dengan tenang.
Baca juga: Awal Juli 2020, Cathay Pacific Buka Kembali Penerbangan Ke Lima Tujuan Utama
“Di Cathay Pacific, kami berkomitmen untuk selalu memprioritaskan kesehatan dan keselamatan seluruh penumpang, awak kabin, dan staf kami. Kami mengerti kekhawatiran akan keselamatan dan kami telah memperkenalkan beberapa langkah pencegahan yang disempurnakan pada setiap tahapan perjalanan mulai dari check in hingga dalam kabin sehingga mereka dapat terbang dengan tenang,” ucap Chris Bowden, Cathay Pacific Country Manager Indonesia yang diutip dari siaran pers yang diterima KabarPenumpang.com.
Dengan Cathay Care, penumpang dan petugas tak akan banyak melakukan kontak fisik. Sebab maskapai yang berbasis di Hong Kong tersebut memiliki fasilitas check in online dan layanan mandiri. Sedangkan bagi penumpang yang harus berkontak dengan petugas, konter check in dilapisi dengan lapisan anti kuman dan di Bandara Internasional Hong Kong tengah dalam percobaan.
Penumpang kemudian memberikan pernyataan kesehatan ketika check in. Selain itu, ada gerbang biometrik otomatis saat masuk ke pesawat. Ketika menunggu keberangkatan, penumpang sebelum bersantai di ruang tunggu akan di cek suhu tubuhnya. Penumpang maupun semua kru Cathay Pacific darat diminta untuk memakai masker atau pelindung wajah (face shield).
Selain itu juga, layanan makanan bahkan disesuaikan untuk mengurangi kontak. Cathay Pacific mengatakan, mereka melakukan sanitasi menyeluruh di semua permukaan dari layar di dalam pesawat hingga pengendalian pendingin udara di setiap penerbangan. Udara dalam kabin disaring dengan HEPA yang menjamin kualitas udara tertinggi yang bisa dicapai.
Di mana dengan HEPA, bisa menghilangkan 99,999 persen kontaminasi udara. Selain itu menawarkan hasil yang mirip dengan kualitas udara bersih yang di gunakan di kamar operasi rumah sakit dan ruang bersih di kawasan industri. Awak kabin Cathay Pacific juga mengikuti prosedur keselamatan untuk melindungi kenyamanan semua penumpang pesawat.
Baca juga: Cathay Pacific Tawarkan Perubahan Jadwal Penerbangan Tanpa Batas dan Biaya Tambahan
Mereka menggunakan masker, sarung tangan dan kacamata pelindung dan juga ada aturan menginap yang ketat. Ini membuat awak kabin tidak ada kontak dengan komunitas lokal dan pengawasan kesehatan yang ketat.
Lebanon hari ini tengah berkabung. Ratusan nyawa melayang dan ribuan lainnya luka-luka akibat ledakan besar yang terjadi di kota Beirut, tepatnya di kawasan pelabuhan. Dalam sekejap, Beirut Lebanon pun luluh lantak.
Baca juga: Tujuh Alasan Lebanon Wajib Dikunjungi, Nomor 4 Bikin Anda Tak Mau Pulang
Padahal, tepat di tempat terjadinya ledakan besar, Beirut pernah jadi playground atau taman bermain paling favorit di dunia. Setidaknya ada lima lokasi yang menjadi satu kesatuan utuh dalam memanjakan pengalaman wisatawan di negara berjuluk Paris of the Middle East itu. Dilansir CNN International, berikut lima destinasi favorit di Lebanon tahun 50-60an.
1. Saint George Yacht Club & MarinaSaint George Yacht Club & Marina. Foto: CNN
Saint George merupakan club pertama yang dibuka di pantai Beirut pada tahun 1930. Club tersebut juga terhubung langsung dengan hotel kenamaan di Beirut.
Beberapa nama besar di dunia kala itu pun tak sungkan untuk menghabiskan waktu di sini, seperti Brigitte Bardot, Peter O’Toole, hingga Raja Farouk dari Mesir. Tak lupa, Saint George Yacht Club & Marina juga jadi sarang agen mata-mata dunia. Yang ternama, Kim Philby, perwira MI6 Inggris diketahui pernah memata-matai Soviet selama 30 tahun lebih.
Sayangnya, tempat tersebut hancur akibat perang saudara pada 1975-1990. Meskipun saat ini sudah kembali dipercantik, namun, rendahnya upaya menjaga nilai-nilai sejarah tempat itu oleh sang pemilik membuatnya kini sedikit terpinggirkan dibanding destinasi sejenis lainnya di dunia.
2. Spaghetteria ItalianaSpaghetteria Italiana. Foto: CNN
Terletak di jalan Ain el Mreisse, atau lokasi paling modis di Beirut, Lebanon, restoran ini menjadi salah satu lokasi favorit wisatawan, baik untuk mengisi perut maupun sekedar menikmati suasana kota.
Disebut lokasi paling modis, sebab, restoran itu dikelilingi oleh hotel-hotel mewah dan deretan apartemen dengan furniture berkelas, eks kedutaan besar Perancis dan Amerika, Bar, Lounge, Pub, Diskotek, dan Club di Rue de Phenicie, serta meja-meja restoran Italia klasik yang dipenuhi oleh para model, politisi, jurnalis, dan turis sepanjang malam.
Selain itu, jalan Ain el Mreisse juga merupakan lokasi favorit para wisatawan dan penduduk kota untuk menghabiskan kopi sambil menghisap cerutu, mengingat Lebanon merupakan negara dengan konsumen rokok terbesar ke-3 di dunia setelah Belarus dan Montenegro.
3. The Sporting ClubThe Sporting Club. Foto: CNN
The Sporting Club di Beirut merupakan saduran dari jenis serupa di Monte Carlo, Monako. Tempat ini didirkan pada 1952 dan langsung mencuri perhatian wisawatan dunia karena view mewahnya langsung menghadap ke Laut Mediterania. Untuk ukuran kala itu, keberadaan club tersebut tentu sangat nyentrik di Timur Tengah, mengingat negara lain di sekitarnya masih belum banyak berkembang.
4. The Duke of Wellington PubThe Duke of Wellington pub. Foto: CNN
Pub yang berada di Mayflower Hotel ini menandakan gelombang Anglofilia (orang yang mencintai kebudayaan Inggris) di Beirut pada tahun 50-60-an. Pada masa kejayaannya dahulu, pub itu merupakan lokasi favorit turis, jurnalis, pramugari, hingga pilot untuk menikmati suasana kota sambil berbincang dengan komunitas.
Baca juga: Asaad Namroud, Saksi Sejarah Bahwa Jaringan Kereta di Lebanon Pernah Besar dan Eksis5. Pepe Abed Byblos Fishing ClubPepe Abed Byblos Fishing Club. Foto: CNN
Club tersebut terinsipirasi dari sebuah gubuk tua di situs bersejarah pelabuhan Fenisia kuno Byblo. Di masa kejayaannya, sejak pertama kali berdiri pada tahun 1960-an, pengunjung bakal dimanjakan dengan sajian ikan segar, mezze (hidangan khas negara-negara Balkan), wine Lebanon yang terkenal seantero dunia, sambil menikmati iklim Mediterania yang bersahabat serta pemandangan laut biru nan indah.
Hanya saja, kini, club tersebut sudah kehilangan daya magisnya dan ditinggal pengunjung untuk beralih ke club lain yang lebih bernilai.
Beirut di Lebanon hari ini menjadi trending topic Twitter di dunia. Negara yang terletak di Timur Tengah serta berbatasan dengan Israel itu menjadi sorotan akibat ledakan besar yang diduga diakibatkan oleh sekitar 2.750 ton amonium nitrat. Sejauh, dua ledakan besar di Lebanon telah menewaskan sekitar 70 orang dan membuat ribuan lainnya luka-luka.
Baca juga: Benarkah Swiss Adalah Negara Terindah di Dunia?
Namun, di balik kabar Lebanon terkini, rupanya, negara yang beribukota Beirut itu memiliki sejumlah daya tarik bagi wisawatan. Bahkan, saking indahnya, negara di pesisir Laut Tengah atau akrab juga disapa Laut Mediterania itu sampai dijuluki Paris of the East. Penasaran? Dikutip KabarPenumpang dari the961.com, berikut daftar tujuh alasan wisawatan wajib berkunjung ke Lebanon.
1. PantaiLebanon juga punya salah satu wilayah yang mirip dengan Santorini, Yunani. Foto: The Arab Weekly
Negara terkecil ke-2 di Timur Tengah setelah Bahrain itu memiliki pantai Mediterania yang luar biasa indah. Selain itu, iklim Mediterania yang bersahabat di musim panas, matahari yang menghangatkan di pagi, siang, dan sore hari, serta cuaca yang tak terlalu membeku di malam hari juga membuat Lebanon menjadi destinasi yang tepat untuk melakukan pesta sepanjang hari di pinggir pantai. Hal itu pun juga didukung dengan banyaknya resort mewah.
2. MakananIlustrasi makanan enak di Lebanon. Foto: Pinterest
Salah satu negara pembuat wine terbaik di dunia itu juga memiliki keenakaragaman kuliner yang menakjubkan. Tak heran, negara dengan konsumen rokok terbesar ke-3 di dunia setelah Belarus dan Montenegro itu sampai digelari pusat kuliner internasional.
Majalah Travel & Leisure pun tak sungkan memberikan gelar “Kota Internasional Terbaik untuk Makanan” pada tahun 2016 lalu. Salah satu wujud dari pusat kuliner internasional di Lebanon adalah Souk El Akel, sebuah festival makanan yang diselenggarakan setiap pekan.
3. PartyMuda-mudi tampak sedang party di pinggir pantai di Lebanon. Foto: Lonely Planet
Lebanon bisa dibilang jadi salah satu surga kehidupan malam. Bar dengan beragam gaya ada di sini, mulai dari bohemian-styled hingga desain lainnya yang dijamin bakal sesuai dengan keinginan wisawatan.
4. Beirut: Paris of the Middle EastSalah satu view di Lebanon yang disebut mirip Paris, Perancis. Foto: TravelBlog.org
Ibu kota Lebanon, Beirut, seperti memiliki dua dimensi, satu di mata wisawatan dan lainnya di mata penduduk kota. Untuk wisawatan, Beirut mungkin merupakan surga dunia untuk mengisi waktu liburan. Namun di mata warga, Beirut merupakan pusaka penting yang dipadukan dengan baik bersama modernisasi.
Jangan lupa, negara berjuluk Paris of the East itu juga terkenal memiliki kaum hawa dengan kecantikan nan sempurna. Hasil perpaduan darah Eropa dan Arab berwujud wanita banyak dijumpai di sini, mirip dengan Aljazair yang juga kental dengan nuansa Eropa-Timur Tengah.
5. Situs-situs BersejarahSitus-situs bersejarah di Lebanon. Foto: The961.com
Situs-situs bersejarah banyak terdapat di wilayah Sidon, Baalbek, Arwad, dan Byblos peninggalan Romawi. Selain itu, Tyre yang terletak sejauh 50 mil dari Beirut dan berada di wilayah selatan Lebanon juga memiliki pelabuhan cantik yang juga telah masuk dalam daftar situs warisan dunia UNESCO sejak tahun 1979. Meskipun berada di wilayah selatan, namun Tyra berada di zona aman untuk wisatawan yang berkunjung.
Baca juga: Berdasarkan Indeks Keamanan, Inilah 10 Negara Teraman Untuk Dikunjungi6. Olahraga EkstremIlustrasi olahraga ekstrem di Lebanon. Foto: The Daily Star
Wisawatan yang menganut #YOLO atau You Only Live Once (Anda hanya hidup sekali) sangat cocok berkunjung ke Lebanon. Sebab, di sini, banyak dijumpai olahraga ekstrem yang tak bisa dilewati begitu saja sebelum seseorang menjumpai ajalnya.
7. Bahasa
Di negara lain, mungkin wisawatan akan terkendala bahasa ketika berkunjung. Namun, Lebanon tidak. Negara dengan jumlah hari libur nasional yang cukup banyak di dunia (sekitar 16 hari) itu hampir seluruh penduduknya akrab dengan tiga bahasa, Inggris, Arab, dan Perancis. Cukup mudah, bukan?
Kuncian dan pembatasan yang dilakukan oleh negara-negara di seluruh dunia mulai di cabut dan dilepaskan. Bahkan beberapa negara dunia sudah mulai memberikan akses untuk pelancong yang akan berkunjung. Salah satunya adalah Singapura yang sudah kembali membuka akses wisata mereka pada pelancong dari seluruh dunia.
Baca juga: Global Locator, Alat Pelacak Posisi Bagasi Dalam Penerbangan
Meski begitu, Singapura memberikan aturan yang ketat bagi para pelancong yang mana mereka harus menggunakan perangkat pemantauan atau pelacak elektronik. Ini untuk memastikan para pelancong mematuhi karantina virus corona wajib di Singapura. Dilansir KabarPenumpang.com dari straitstimes.com (3/8/2020), rencananya mulai 11 Agustus 2020 perangkat akan diberikan kepada pelancong yang datang termasuk warga negara dan penduduk dari kelompok tertentu yang akan diizinkan untuk mengisolasi diri di rumah daripada di fasilitas yang ditunjuk negara.
Para pelancong akan mendapatkan perangkat ini ketika mereka telah menyelesaikan imigrasi dan melintas di pos pemeriksaan. Mereka harus mengaktifkan begitu tiba di tempat tinggal dan jika tidak diaktifkan, maka pihak berwenang akan menindaklanjuti serta menentukan lokasi mereka dan membantu dengan kesulitan teknis atau mengambil tindakan penegakan hukum sesuai kebutuhan.
Sinyal GPS dan 4G atau Bluetooth digunakan untuk menentukan apakah seseorang berada dalam jangkauan tempat tinggalnya. Otoritas Imigrasi dan Pos Pemeriksaan (ICA) serta kementerian Tenaga Kerja dan Pendidikan (MOM) melalui sebuah pernyataan mengatakan, mereka yang menggunakan perangkat dapat menerima pemberitahuan darinya selama periode tinggal di rumah dan harus mengakui hal ini tepat waktu.
“Setiap upaya untuk meninggalkan tempat tinggal atau merusak perangkat elektronik akan memicu peringatan kepada pihak berwenang,” ujar pernyataan tersebut.
Pihak berwenang kemudian akan menyelidiki kecuali orang tersebut meninggalkan tempat tinggal mereka untuk tes Covid-19, dengan janji temu. Namun sayangnya Singapura belum memberikan rincian seperti apa bentuk alat pelacak tersebut. Pihak berwenang mengatakan, alat pelacak ini sendiri tidak akan menyimpan data pribadi apapun dan tidak memiliki fungsi perekaman suara atau video.
Perangkat ini sendiri tidak akan diberikan kepada anak-anak berusia dibawah 12 tahun. Nantinya jika stay-home notice (SHN) terlayani sepenuhnya, maka alat tersebut harus dinonaktifkan dan dibuang atau dikembalikan sesuai dengan instruksi. Untuk diketahui, bagi yang mengutak-atik atau melepas perangkat selama periode SHN dapat didenda hingga S$10 ribu (Rp106 juta) atau dipenjara hingga enam bulan, atau menghadapi kedua hukuman.
Untuk orang asing, ICA dan MOM juga dapat mencabut atau mempersingkat validitas izin dan izin kerja. Data yang dikirimkan ke pihak berwenang juga dilindungi oleh enkripsi berbasis sertifikat ujung ke ujung, tambah mereka.
“Pihak berwenang akan mematuhi dengan ketat oleh peraturan perlindungan data sektor publik dalam mengelola dan melindungi data pribadi yang dikumpulkan oleh perangkat ini. Hanya pejabat pemerintah yang diotorisasi oleh otoritas terkait yang akan memiliki akses ke data untuk keperluan pemantauan dan penyelidikan,” kata pihak berwenang.
Baca juga: Tak 100 Persen Aman, Aplikasi Pelacakan Bagasi Dipertanyakan Keakuratannya!
Singapura telah melaporkan 52.825 infeksi coronavirus, sebagian besar disebabkan oleh wabah massal di asrama pekerja migran yang sempit, tetapi kasus impor meningkat dalam beberapa hari terakhir. Sebelum Singapura, langkah-langkah serupa menggunakan gelang elektronik untuk melacak pergerakan orang selama karantina telah digunakan di Hong Kong dan Korea Selatan.
Bahkan Hong Kong pada bulan Maret memperkenalkan skema bagi wisatawan yang datang untuk menggunakan gelang elektronik tipis, mirip dengan label yang dikenakan oleh pasien rumah sakit, untuk menegakkan karantina bagi penumpang yang tiba. Korea Selatan juga telah menggunakan gelang tersebut yang terhubung ke aplikasi ponsel pintar bagi mereka yang melanggar karantina.
Berbagai opsi untuk penumpang yang akan bepergian naik pesawat di tengah pandemi Covid-19 seperti mengosongkan kursi tengah, menghilangkan majalah dan pemesanan makanan melalui online sebelum keberangkatan sudah di lakukan berbagai maskapai. Ternyata Indigo, maskapai penerbangan berbiaya rendah asal India ini telah meluncurkan skema terbaru mereka untuk para penumpangnya.
Baca juga: Gegara Covid-19, Korean Air Hapus Layanan First Class (Lagi) Hingga 2021
Maskapai terbesar India ini mengatakan, akan memungkinkan penumpang memesan dua kursi untuk keselamatan tambahan. Skema ini disebut dengan “Layanan Kursi Ganda 6E” di mana akan memberikan pengalaman terbang bebas stres.
“Kami telah menerima permintaan semacam itu dan dengan senang hati memperkenalkan opsi memesan dua kursi untuk satu penumpang untuk memastikan keamanan tambahan,” kata kepala strategi maskapai dan petugas pendapatan Sanjay Kumar yang dikutip KabarPenumpang.com dari deccanherald.com (17/7/2020).
Dalam sebuah pernyataan, maskapai Indigo ini mencantumkan beberapa ketentuan untuk skema ini yakni, kursi yang berdekatan dapat dibeli oleh penumpang di mana detailnya terisi pada saat pemesanan dan hanya diizinkan untuk bepergian. Double seat dapat dipesan hanya melalui situs web Indigo, bahkan pelanggan dapat memanfaatkan sebanyak-banyaknya double seat yang dibutuhkan.
Setiap penumpang hanya bisa memesan satu double seat dan pemesanan ini tergantung pada ketersediaan dan jika double seat tersedia, penumpang bisa memilih tanggal yang mereka inginkan atau penerbangan tujuan yang berbeda. Double seat ini bisa dipesan hingga 24 jam sebelum keberangkatan penerbangan dan berlaku untuk perjalanan satu arah, pergi pulang dan multi kota.
Tidak ada perubahan yang dapat dilakukan untuk pemesanan double seat dan jika ada modifikasi yang harus dilakukan maka pelanggan telah membatalkan dan memesan kembali. Dalam hal pembatalan, biaya akan berlaku untuk kedua kursi. Selain itu pemesanan double seat sendiri tidak dapat di transfer ke penumpang lainnya.
Memilih double seat pun, penumpang tidak perlu membayar ekstra untuk layanan tambahan. Pemilihan kursi adalah proses wajib ketika double seat dibeli dan penumpang hanya dapat memilih kursi yang berdekatan. Biaya Kenyamanan dan GST berlaku untuk setiap Kursi Ganda yang dibeli.
Baca juga: Maskapai Dunia Hilangkan Makanan Ringan dan Majalah dalam Penerbangan
Penumpang yang memesan double seat tidak memerlukan check in terpisah karena boarding pass akan menjelaskan dia seorang penumpang dengan dua kursi dan EXST sebagai pengidendentifikasian SSR. Double seat juga dapat dipesan untuk membawa barang-barang mahal atau rapuh seperti barang antik, artefak, pusaka atau alat musik non-besar, dikenakan izin keamanan.
Virgin Galactic dikabarkan bakal memproduksi pesawat supersonic. Perusahaan milik Sir Richard Branson, konglomerat asal Inggris yang juga pemililk maskapai Virgin Atlantic dan Virgin Australia itu, telah mendapat dukungan teknologi dari Rolls Royce (berkenaan dengan mesin) dan NASA (berkaitan dengan desain pesawat supersonic).
Baca juga: Begini Detik-detik Pengambilan ‘Satu-satunya’ Foto Concorde Saat Melesat Mach 2
Dukungan tersebut cukup penting mengingat kedua pabrikan sudah cukup berpengalaman. Pabrikan asal Inggris itu (Rolls Royce) sudah berpengalaman dalam membuat mesin pesawat supersonic pada pesawat legendaris Concorde. Begitu juga dengan NASA yang sudah sangat teruji berkenaan dengan aerodinamika pesawat dari pengalaman penelitian umum luar angkasa jangka panjang.
Meski masih bekerjasama dengan pabrikan mesin pesawat Concorde, pesawat supersonic Virgin Galactic disebut bakal melebihi kemampuan Concorde, yang notabene hanya mampu melesat maksimum Mach 2.04 (2.180 kilometer per jam), yakni mencapai Mach 3 (3.704 kilometer per jam) atau sama dengan tiga kali kecepatan suara dengan dilengkapi desain sayap delta (delta wing aircraft).
Dengan kecepatan tersebut, Virgin Galactic disebut akan terbang di ketinggian 60 ribu kaki atau lebih dari 18 kiometer dengan mengangkut penumpang sebanyak sembilan hingga 19 penumpang. Pesawat ini nantinya akan fokus pada perjalanan bisnis saja, tidak untuk penerbangan wisata ataupun penerbangan komersial lainnya.
Mengingat pesawat ini terbang dengan kecepatan supersonic, beberapa pengamat menilai, tak akan banyak layanan selama dalam penerbangan sebagaimana penerbangan komersial di masa lalu.
Sampai berita ini ditulis, belum ada ketarangan lanjutan rute manakah yang akan dijajaki pesawat tersebut, entah mengikuti rute Concorde, melayani penumpang secara reguler dari Bandara Heathrow London dan Bandara Charles de Gaulle Paris ke Bandara John F Kennedy New York, Bandara Internasional Washington Dulles, dan Bandara Internasional Grantley Adams di Barbados, atau rute lain yang lebih favorit.
Demikian juga dengan harga tiket serta konfigurasi kelas di setiap penerbangan, apakah akan dijual seluruhnya dalam kelas bisnis, konfigurasi dua, atau bahkan tiga kelas?
Simple Flying mengabarkan, saat ini, proposal pesawat supersonic Virgin Galactic sudah masuk ke meja Administrasi Penerbangan Federal (FAA) Amerika Serikat untuk menjadwalkan uji sertifikasi pesawat sesegera mungkin.
Kerinduan masyarakat dunia akan pesawat supersonic rasanya masih cukup besar. Hal itu setidaknya dapat dilihat dari saham Virgin Galactic yang tercatat naik empat persen lebih di bursa saham Amerika Serikat dari sebelumnya hanya berada di angka $22.45 per saham.
Baca juga: Suksesor Concorde ini Tetap Dihantui Bayangan Kelam Pendahulunya
Sejalan dengan fakta tersebut, salah seorang analis Wall Street menyebut pesawat supersonic dapat merusak pasar pesawat komersial. Namun, untuk membuktikan hal itu, tentu harus bersabar. Sebab, pada akhirnya, harga dan rute-lah yang akan menetukan dampak signifikan atas kehadiran pesawat supersonic Virgin Galactic.
Bila harganya tak semahal Concorde kala itu berkisar (Rp23 juta atau setara Rp140 juta lebih saat ini), pesawat mungkin bisa saja dipenuhi penumpang di setiap penerbangan. Demikian pula sebaliknya.
Bayar ongkos angkutan umum dengan koin? Ini bisa saja terjadi ketika naik bus yang masih menggunakan kondektur seperti di Indonesia. Namun bagaimana jika ini terjadi pada seorang pengemudi taksi dan menerima empat paket koin setelah mengantar penumpang dari Orchard menuju ke Bukit Batok?.
Baca juga: Parkir Lima Menit di Bandara Bristol, Wanita Ini Harus Bayar Rp2,9 Juta dengan Koin!
Kejadian unik ini terjadi pada 30 Juli 2020 kemarin, di mana seorang pengemudi taksi bermarga Zaffre menjemput seorang penumpang muda dari Orchard dengan tujuan ke Bukit Batok. Dalam perjalanan tersebut, tidak terlihat tanda-tanda gadis ini akan membayar secara tunai atau kartu.
(mothership.s)KabarPenumpang.com melansir dari laman mothership.sg (3/8/2020), ternyata ketika tiba di tujuan, gadis tersebut membayar dengan uang tunai sebebesar S$17,20 atau sekitar Rp180 ribu. Namun bukan uang lembaran yang diterima Zaffre melainkan empat bungkusan kertas yang di staples.
Awalnya gadis tersebut memberikan satu koin 20 sen kemudian diikuti empat paket kertas berisi koin yang di depannya di tulis jumlah nominal. Zaffre kemudian bertanya kepada gadis tersebut kenapa membayar ongkos dengan seperti ini. Kemudian gadis itu hanya mengatakan hanya itu yang dia miliki.
Karena berupa uang koin, Zaffre awalnya jengkel dan enggan untuk menerima uang tersebut selain itu juga tak bisa langsung menghitungnya saat itu. Meski begitu, gadis tersebut memintanya untuk percaya bahwa dalam empat paket tersebut jumlahnya tepat.
Hingga akhirnya Zaffre mengambilnya dan berpikir bahwa gadis tersebut telah mengambil uang dari celengan serta memutuskan untuk digunakan membayar taksi tanpa ragu. Ketika tiba di rumah, pengemudi taksi tersebut berhasil menghitung koin yang tak sempat saat usai mengantar.
Dia membutuhkan waktu sekitar sepuluh menit untuk menghitung koin-koin dalam empat paket bersama putri dan menantunya. Untungnya koin dalam empat paket tersebut jumlahnya pas seperti yang diyakini sang gadis meski dua dari lima sen koinnya adalah mata uang Cina dan Hong Kong.
Baca juga: [Video] Lagi dan Lagi, Aksi Lempar Koin di Pesawat Bikin Penerbangan Delay
Insiden unik ini kemudian di unggah oleh Liyanah, putri dari Zaffre ke akun Facebooknya dengan mengatakan, ada banyak koin lima dan sepuluh sen di dalam paket. Liyanah menambahkan, meskipun ayahnya kesal, dia memuji gadis itu karena jujur dan menambahkan humor dalam kehidupan mereka.
Bicara soal dunia penerbangan Perancis pasti mau tak mau akan melibatkan Airbus. Padahal, jauh sebelum Airbus berdiri, pabrikan pesawat lainnya asal Perancis, Dassault Aviation, sudah lebih dahulu ada dan menjadi salah satu wakil Eropa untuk menjegal produsen pesawat asal Negeri Paman Sam Amerika Serikat, seperti Boeing dan McDonnell Douglas.
Baca juga: Intip Prosedur Cabin Cleaning Pesawat Ala GMF Cegah Covid-19 di Pesawat
Didirikan pada tahun 1929, pabrikan pesawat yang berbasis di Paris ini fokus memproduksi pesawat di berbagai kategori, mulai dari militer, jet regional, jet bisnis, hingga pesawat jet. Khusus pesawat sipil, di samping Dassault Falcon 20, Dassault Aviation juga punya pesawat andalan lainnya yang dinilai bakal laris di pasaran. Pesawat itu adalah Dassault Mercure.
Dihimpun KabarPenumpang.com dari berbagai sumber, Dassault Mercure merupakan pesawat jet sayap rendah (low wing) bermesin kembar. Meskipun baru diproduksi massal pada tahun 1973, namun, usulan untuk membuat pesawat seperti itu sudah dimulai pada tahun 1967. Kala itu, pendiri Dassault Aviation, Marcel Dassault, dan Direktorat Jenderal Penerbangan Sipil Prancis (DGAC) melihat belum ada pesawat yang khusus melayani penerbangan regional point-to-point atau low distance.
Setelah dilakukan kajian serta dengan dukungan dari banyak pihak, Dassault Mercure akhirnya mulai mengudara untuk pertama kalinya pada 28 May 1971. Melihat perkembangan Dassault Mercure, pabrikan pun sesumbar bahwa pesawat andalannya itu akan menjadi pengganti McDonnell Douglas DC-9.
Selain itu, pabrikan juga mengklaim Dassault Mercure akan menjadi kompetitor sepadan Boeing 737 versi awal yang saat itu sedang menikmati masa kejayaannya karena minim pesaing, mengingat Airbus, lewat narrowbody andalannya, A320, baru lahir pada 1988.
Selang beberapa waktu setelah penerbangan perdana, Dassault Aviation mengaku banyak dapat pesan positif dari maskapai. Namun, pada akhirnya, hanya satu maskapai -itupun maskapai dalam negeri- Air Inter yang memesan Dassault Mercure. Air Inter pada akhirnya juga menjadi satu-satunya maskapai yang mengoperasikan pesawat.
Krisis minyak tahun 1970-an serta devaluasi dolar disebut sebagai biang keladi sepinya peminat yang pada akhirnya menyeret Dassault Mercure sebagai salah satu pesawat komersial dengan penjualan terburuk di dunia, yakni hanya sebanyak 12 unit selama kurang lebih 24 tahun. Tak ayal, dengan kondisi tersebut, pabrikan pun menyetop produksi Dassault Mercure pada 1975 hingga akhirnya resmi pensiun pada 29 April 1995.
Sebelum menyetop produksi, pada tahun 1973, Marcel Dassault, terlebih dahulu meminta timnya untuk membuat versi baru Dassault Mercure, Mercure 200C, dengan menggandeng sejumlah pihak, dalam dan luar negeri. Hal itu dimaksudkan untuk membalas kekecewaan atas kegagalan Dassault Mercure 100.
Baca juga: Masih Bingung Bedakan Boeing 737 dan Airbus A320? Simak Ini
Dilihat dari kemampuan, sebetulnya pesawat gagal Dassault Mercure cukup mentereng. Dibekali mesin Pratt & Whitney JT8D-15 turbofans, pesawat dengan panjang 34,84 meter, tinggi 11,35 meter, serta bentang sayap 30,55 meter ini mampu mengangkut sebanyak 150 penumpang, dengan tiga kru; pilot, co-pilot, dan flight engineer. Maklum, waktu itu, regulator penerbangan dunia rata-rata belum menerapkan aturan Two-Men Cockpit yang dicanangkang Direktur Utama Garuda Indonesia Wiweko Soepono.
Selain itu, kecepatan maksimum pesawat juga tergolong tinggi, mencapai 925 km per jam. Hanya saja, dari segi daya jelajah yang hanya mencapai 1.756 km serta ketinggian maksimum di ketinggian 12.000 meter, Dassault Mercure masih berada di bawah level Boeing 737 apalagi Airbus A320.
Mulai tahun depan, maskapai terbaik dunia tahun lalu versi SkyTrax, Singapore Airlines (SIA), dikabarkan mulai menggarap rute-rute Silk Air, yang notabene adalah anak perusahaan Singapore Airlines. Hal itu merupakan bagian dari skema merger Silk Air dengan SIA dalam waktu dekat.
Baca juga: Virus Corona Bikin Singapore Airlines Turun Kelas Jadi Maskapai LCC?
Menurut CEO Singapore Airlines, Goh Choon Phong, strategi ini berdampak sangat signifikan bagi konsumen. Mereka bisa merasakan produk dan layanan yang selaras, baik di penerbangan jarak pendek, medium, atau jarak jauh.
Hal itu dikarenakan SIA telah berinvestasi lebih dari 100 juta dollar AS untuk program penyesuaian produk dan layanan, seperti kursi rebah (flatbed) yang baru di kelas bisnis, pemasangan sistem in-flight entertainment (IFE) di semua kursi, serta meningkatkan penggunaan pengalaman penumpang dengan kursi Vantage Thompson Aero dari semula kursi conventional recliners (traditional recliners) atau akrab juga disebut kursi malas.
Dengan begitu, penumpang dapat tetap merasakan kualitas premium khas Singapore Airlines sekalipun dalam rute-rute pendek (regional) menggunakan Boeing 737-NG. Selama ini, SIA memang dikenal fokus pada penerbangan menengah dan jarak jauh dengan pesawat-pesawat widebody andalan, seperti Airbus A380, Airbus A350, Boeing 777, Boeing 787-10 Dreamliner.
Hanya saja, untuk fasilitas flatbed dan IFE, penumpang masih harus bersabar karena harus mengikuti perkembangan industri penerbangan ke depan, mengingat saat ini, kursi kelas bisnis belum banyak diminati karena berbagai faktor, mulai dari perekonomian dunia yang tengah loyo, rendahnya perjalanan bisnis akibat tren baru meeting via daring, hingga kekhawatiran masyarakat terhadap pandemi Covid-19 yang masih terus menghantui.
Di samping itu, pasokan logistik yang masih tersendat akibat perlambatan ekonomi global juga turut andil.
Dari segi iklim bisnis perusahaan, dengan adanya merger ini, SIA akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan pandemi Covid-19 untuk tetap terus bertahan di industri penerbangan global.
Selain itu, juru bicara maskapai mengatakan penggabungan atau integrasi SilkAir-SIA dapat “memberikan skala ekonomi yang lebih besar untuk SIA Group, dan memungkinkannya untuk mengoperasikan pesawat yang tepat untuk memenuhi permintaan perjalanan udara saat waktunya tiba,” jelasnya, sebagaimana dikutip dari executivetraveller.com.
Baca juga: Tak Puas dengan Layanan Singapore Airlines, Desain Interior Pesawat Bebas Covid-19 Ini Pun Lahir
Penguatan keuangan perusahaan memang penting dilakukan anak (Silk Air) dan induk perusahaan (SIA) mengingat keduanya sama-sama mencetak hasil minus di kuartal II 2020. Dalam sebuah pernyataan, Singapore Airlines mengaku rugi sebesar $1 miliar, cukup besar dibanding Silk Air yang hanya terkoreksi 0,2 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.
Saat ini, Silk Air mengoperasikan 11 pesawat Airbus A320, 22 Boeing 737-800 dan 737 MAX 8. Saat ini Silk Air juga sedang dalam masa transisi, menjadi seluruhnya pesawat tipe 737. Silk Air diketahui memiliki 49 destinasi penerbangan di 16 negara.