Jangan Salah Naik! VW T2 Camper Van Ini Karya Desainer Lego dengan Perbandingan 1:1

Salah satu kendaraan yang paling ikonik di dunia dan dicintai oleh golongan tertentu, Volkswagen (VW) baru-baru ini menjadi sorotan publik. Alih-alih merilis model retro baru, VW berjenis T2 Camper Van ini dibuat dari sekiranya 400.000 keping Lego berukuran kecil! Sudah jelas, model yang dibuat dengan perbandingan 1:1 (ukuran realistis) ini bukan untuk dikendarai melainkan hanya dipajang saja – dan memiliki atap pop-up.

Baca Juga: Panasonic SPACe_C, Konsep Moda Otonom dengan Struktur Bertingkat

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman newatlas.com (19/2/2019), VW T2 Camper Van versi Lego ini memiliki berat sekitar 700kg, dengan panjang yang hampir mencapai 5m. Hal lain yang lebih mmembanggakannya lagi adalah, ini merupakan sebuah mahakarya terbesar yang terbuat dari kepingan Lego hingga saat ini, mengalahkan trailer teardrop Lego yang dibuat pada tahun 2015 silam.

Interior VW T2 Camper Van versi Lego. Sumber: newatlas.com

VW T2 Camper Van versi Lego ini diletakkan bersebelahan dengan yang versi aslinya, dan detail yang ada pada versi Lego ini sangatlah mirip dengan yang ada di versi aslinya – baik eksterior maupun interior. Adalah Rene Hoffmeister dan rekannya, Pascal Lenhard yang berada di balik proyek pembuatan VW T2 Camper Van versi Lego ini. Rene sendiri merupakan satu dari 12 pembangun model Lego resmi yang ada di seluruh dunia.

Setelah menggunakan gambar 3D untuk membuat rencana pembangunan, Rene dan Pascal langsung menghitung perkiraan keping Lego yang akan digunakan dan mereka mulai membangun VW T2 Camper Van ini. Dibutuhkan waktu sekira enam minggu untuk menghidupkan kembali VW jenis ini, hanya saja menggunakan material Lego. Tidak perduli weekdays atau weekend, Rene dan Pascal terus membangun model VW versi Lego ini tanpa lelah.

Baca Juga: Volkswagen SEDRIC School Bus, Kendaraan Otonom dengan Balutan “Bus Sekolah”

“Pada dasarnya, kami membutuhkan sembilan hari dalam seminggu,” ujar Rene.

“Namun karena mereka itu tidak ada, terpaksa kami mengambil shift malam,” tandasnya sembari mengenang.

Kreasi Lego yang luar biasa ini F.R.E.E Fair yang dimulai pada hari Rabu besok. Di sana, pengunjung dapat melihat langsung kreasi dari Rene dan Pascal ini dari jarak dekat. Mereka juga bisa mengabadikan foto dari VW T2 Camper Van karya Rene dan Pascal ini.

Stasiun Raffles Place Jadi ‘Saksi’ Cinta Dua Petugas MRT Singapura

Jatuh cinta berjuta rasanya, ya apalagi cinta pada pandangan pertama, tetapi sepertinya hanya sedikit yang bisa lanjut ke jenjang pernikahan. Bahkan cinta pada pandangan pertama tak selalu berjalan mulus atau hanya sekedar cinta monyet belaka.

Baca juga: Kenakan Busana Super Minim, Model Asal Filipina Bikin Geger Stasiun MRT Singapura

Namun ada sepasang petugas MRT Singapura yang merasakan cinta pada pandangan pertama tersebut. Kedua petugas ini bertemu pertama kali di stasiun MRT Raffles Place tahun 2003 lalu ketika mereka ditugaskan di stasiun yang sama.

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman mothership.sg (15/2/2019), Baharudin bin Johan seorang manager stasiun SMRT bertemu dengan sang asisten manajer senior Zulaila binti Dollah. Saat itu Baharudin ditempatkan di stasiun Raffles Place dan mengatakan Zulaila sebagai gadis paling lucu yang pernah dilihatnya.

Sedangkan Zulaila yang memperhatikan Baharudin dari dalam pusat layanan penumpang sempat bertanya kepada rekannya siapa lelaki kurus tersebut. Keduanya akhirnya mejalin kasih dan ketika berpacaran sepertinya setiap istirahat makan siang mereka tak pernah terpisah.

“Kami makan bersama dan selama makan kami berbicara dan saling tertarik,” ujar Baharudin.

Hingga akhirnya kedua petugas SMRT tersebut menikah, tetapi sayangnya mereka tak di satukan lagi dalam stasiun yang sama seperti saat pacaran dulu. Kini Baharudin dipindahkan tugas ke stasiun MRT Boon Lay dan Zulaila tetap di stasiun Raffles Place. Tetapi meski begitu Zulaila masih menyimpan sebagian kenangan masa-masa mereka pacaran dahulu yakni sebuah cangkir minuman.

“Kami belum pernah bekerja di stasiun yang sama sejak kami menikah. Tetapi saya masih menyimpan cangkirnya di sini sehingga saya akan selalu ingat ketika dia bekerja di sisiku,” kata Zulaila.

Baca juga: Fase Uji Coba, Komuter SMRT Akan Lewati Skrining Keamanan di Beberapa Stasiun

Saat sebelum menikah keduanya juga sering kali pulang bersama dan Baharudin mengantar kekasihnya hingga dirumah. Namun, kini setelah keduanya menikah untuk pulang bersama hanya bertemu di tengah jalan yakni stasiun MRT Jurong Timur hingga tiba bersama di rumah.

“Setelah kami menikah, Baha akan datang dari barat, dan kami akan bertemu di tengah di stasiun MRT Jurong Timur sehingga kami bisa pulang bersama,” ujar Zulaila.

Kereta “Semi High Speed” Vande Bharat Express Resmi Meluncur

Setelah resmi menggunakan nama Vande Bharat Express yang disahkan oleh Perdana Menteri India Narendra Modi, Train 18 ini akan mengular perdana. Kereta yang mampu melaju dengan kecepatan 160 km per jam atau disebut semi high speed train ini akan beroperasi di rute New Delhi-Kanpur-Allahabad-Varanasi.

Baca juga: Train 18 Resmi Punya Nama ‘Vande Bharat Express’

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman railway-technology.com (18/2/2019), kereta yang akan mulai mengular tersebut melaju dari New Delhi menuju ke Varanasi dengan waktu tempuh delapan jam. Nantinya kereta Vande Bharat Express akan menghubungkan kedua kota ini selama lima hari dalam seminggu.

Memiliki 16 gerbong kereta ber-AC, Vande Bharat Express mampu mengangkut hingga 1128 penumpang. Semua gerbong dilengkapi kursi yang nyaman, pintu otomatis, sistem informasi penumpang baik audio maupun visual berbasis GPS, pencahayaan mode ganda dan layanan WiFi on board.

Kereta sebanyak 16 gerbong ini, dua diantaranya untuk kursi eksekutif dan 14 gerbong kursi non-eksekutif. Selain itu, kereta semi berkecepatan tinggi ini juga dilengkapi dengan satu gerbong yang digunakan untuk dapur atau restorasi.

Tak hanya itu, gerbong dilengkapi dengan toilet vakum yang ramah pada penyandang disabilitas, serta tak ketinggalan ada ruang untuk kursi roda. Kereta ini memiliki sistem pengereman regeneratif yang bisa menghemat 30 persen energi listrik dan perlindungan isolasi untuk mengurangi tingkat panas dan kebisingan. Kehadirannya ini sendiri bisa membuat penumpang lebih nyaman.

“Saya berterima kasih kepada para perancang dan insinyur di belakang Vande Bharat Express, yang akan melakukan perjalanan pertamanya dari Delhi ke Varanasi hari ini. Dengan ketulusan dan kerja keras kami dalam empat setengah tahun terakhir, kami telah berusaha meningkatkan kereta api,” ujar Narendra.

Baca juga: India Uji Coba Train 18, Kereta Cepat Tanpa Masinis Produksi Dalam Negeri

Vande Bharat Express sendiri dikembangkan oleh Integral Coach Factory (ICF), sebuah unit produksi kereta api di Chennai. Kereta ini sendiri dibuat dalam waktu 18 bulan dan akan menggantikan Shatabdi Express. Tarif tiket kereta ini sendiri juga kemungkinan lebih tinggi dari Shatabdi Express karena mencakup tambahan layanan makanan.

Drone Muncul (Lagi) di Bandara Dubai, Operasional Penerbangan Dihentikan 30 Menit

Sebuah drone mencurigakan kembali membuat aktivitas bandara internasional berhenti dan menunda pengoperasian seluruh pesawatnya. Kali ini drone tersebut ditemukan di Bandara Internasional Dubai, Uni Emirat Arab (UEA). Drone yang dicurigai tersebut terlihat pada 15 Februari 2019 setelah dilihat terbang di dekat area bandara.

Baca juga: Bandara Gatwick dan Heathrow Hadirkan Teknologi Anti Drone

KabarPenumpang.com melansir dari laman airport-technology.com (18/2/2019), dalam sebuah pernyataan pihak bandara mengatakan bahwa penerbangan sempat terhenti dari pukul 10.13 hingga 10.45 waktu setempat. Penghentian sementara ini dilakukan untuk pencegahan dan melindungi keselamatan para penumpang pesawat yang akan terbang dari Bandara Dubai.

“Bandara Dubai telah bekerja sama dengan pihak berwenang yang tepat untuk memastikan bahwa keselamatan operasi bandara dipertahankan setiap saat,” ujar juru bicara Bandara Dubai.

Bandara ini juga pernah menghentikan sementara pengoperasiannya pada 2015 lalu karena masalah drone. Penghentian tersebut selama 55 menit setelah ada drone ilegal yang terbang di dekat bandara dan tahun 2016 lalu ada tiga drone yang mendekati bandara.

Kejadian ini mengingatkan pada dua drone yang ditemukan dekat Bandara Gatwick London pada Rabu (19/12/2018) kemarin. Kehadiran dua drone misterius itu membuat bandara di London harus menunda keberangkatan mereka hingga hampir 24 jam dan 657 penerbangan dibatalkan serta puluhan ribu penumpang terdampar.

Sempat buka pukul 03.00 pagi waktu setempat, Bandara Gatwick mau tak mau tutup kembali selama 45 setelah drone mendekati bandara. Untuk menangani drone misterius tersebut, pihak militer Inggris dipanggil untuk membatu dan mengerahkan peralatan khusus untuk menangani situasi tersebut.

Baca juga: Bandara Gatwick dan Heathrow Hadirkan Teknologi Anti Drone

Akibat insiden drone misterius, Bandara Gatwick dan Heathrow akan menerapkan peralatan anti drone dengan standar militer. Kehadiran teknologi ini untuk menangani munculnya drone ilegal di dekat lapangan udara yang bisa mengganggu lalu lintas penerbangan.

 

Pengendara Moped Kabur dari Polisi, Ternyata Pakai Kokain dan Mabuk

Polisi lakukan pengejaran terhadap seorang pengendara moped yang melebihi batas kecepatan adalah hal yang biasa. Apalagi pengendara terlihat mabuk dan membonceng seorang penumpang di jalan sepi saat tengah malam.

Baca juga: Sering Ngantuk Padahal Cukup Tidur, Mungkin Inilah Sebabnya!

Kantor Sheriff Berkeley County mengatakan, mereka melakukan pengejaran dan merekam aksi pengendara moped tersebut. Saat itu si pengendara meninggalkan penumpangnya ketika mencoba kabur dan melarikan diri dari kejaran pihak kepolisian.

KabarPenumpang.com melansir dari laman live5news.com (11/2/2019), kejadian ini terjadi sekitar satu bulan lalu dimana para penyelidik mengatakan seorang bernama Leander Bland Holems berusaha melarikan diri dari para petugas di Gose Creek. Hingga ada laporan menyatakan Holmes tengah berada di Red Bank Road saat penumpang mopednya berjuang untuk membuat Holmes berhenti dan menepo.

Dalam pengejaran tersebut, pengendara mopel itu terlihat menyerang salah satu bagian mobil petugas patroli yang akan menangkapnya.

“Begitu Holmes meninggalkan penumpangnya, dia terus berkendara menyusuri Garwood Road menuju Sedgefield Intermediate School,” kata pejabat BCSO.

Pihak berwenang mengatakan pengejaran itu berakhir setelah Holmes berusaha untuk berkendara di jalan masuk dan sampai ke daerah berhutan di mana ia jatuh dan lari dari para petugas.

“Para petugas K-9 mulai mengejar Holmes melalui hutan dan setelah pengejaran singkat, dia ditahan,” kata pejabat BCSO.

Sebuah laporan menyatakan Holmes mengatakan kepada para deputi bahwa dia menelan kokain dalam jumlah yang tidak diketahui.

“EMS dipanggil ke tempat kejadian dan Holmes diangkut ke rumah sakit daerah. Di rumah sakit, Holmes secara medis dibersihkan dan akhirnya dipindahkan ke Pusat Penahanan Hill-Finklea,” ujar pejabat tersebut.

Baca juga: Bukan Paus Pembunuh, Orca Mark adalah Skuter Listrik Canggih Rilisan Voro Motors

Holmes dikeluarkan tiga kartu lalu lintas dimana SIM tidak memiliki kepemilikan moped pelanggaran pertama, kegagalan untuk berhenti untuk lampu biru, dan tidak ada rompi moped reflektif. Holmes juga menghadapi dakwaan dari Departemen Keamanan Publik Carolina Selatan karena mengemudi di bawah pengaruh.

“Jika Anda bertanya-tanya tentang penumpang, kami tidak berpikir dia sedang berbicara dengan Holmes saat ini,” kata pejabat BCSO.

Tak Mau Duduk Disebelah Bocah 3 Tahun, Wanita di Kabin Pesawat Ternyata Mabuk

Penumpang mabuk kerap kali menjadi masalah bukan hanya bagi awak kabin yang bertugas tetapi penumpang yang ada di sekitarnya. Bahkan terkadang, penumpang mabuk itu melakukan hal yang tidak baik hingga mengeluarkan kata-kata kasar meskipun ada anak kecil yang duduk disebelahnya.

Baca juga: Gara-Gara Penumpang Mabuk, Pesawat Scoot TR7 Mendarat Darurat di Sydney

Seorang penumpang mabuk di dalam penerbangan JetBlue dari Fort Lauderdale Florida menuju ke Las Vegas. Valerie Gonzalez, yang tengah mabuk sadar ketika dia duduk disebelah seorang anak dan tiba-tiba marah tanpa sebab. Dilansir KabarPenumpang.com dari laman news.com.au (18/2/2019), tak hanya itu wanita 32 tahun tersebut juga meludahi penumpang lainnya.

“Aku tidak mau duduk disebelah bocah tiga tahun karena aku sudah minum sepanjang hari,” ujar Valerie.

Dia kemudian beranjak dari kursinya dan pindah ke kursi lain yang bukan miliknya. Bahkan dirinya pindah tanpa memberitahukan pada awak kabin yang bertugas dalam penerbangan tersebut.

Dirinya pindah karena tidak senang duduk dekat penumpang didepannya dan terus mengucapkan kata-kata kasar. Beberapa saat kemudian, amarah Valeri memuncak dan saat melihat seorang penumpang lain tengah merekamnya dia marah.

“Oh, kamu merekaam saya? Jadikan ini viral!” ujarnya.

Valerie pun ternyata tidak segan meludahi penumpang didepannya dan berteriak agar perlakuannya yang terekam menjadi viral.

“Baiklah aku akan mengambil tasku dan memindahkan diriku!”

Awak kabin yang diberitahu tentang kelakuan Valeri memintanya untuk turun dengan baik-baik sebelum memanggil petugas keamanan untuk mengawalnya. Akhirnya dia ditempatkan di kursi roda dan keluar dari terminal.

Saat dirinya diamankan, Valeri sempat mencoba kembali ke pesawat dan petugas bandara menolaknya untuk masuk. Seorang penumpang yang duduk sebaris dengannya mengaku ke awak kabin lengannya dipukul ketika diminta bertukar tempat duduk.

Baca juga: Pipis Dilorong Kabin, Pria Mabuk Ini Viral di Media

Pada Januari 2019 kemarin, seorang penumpang mabuk membuat takut awak kabin EasyJet dalam penerbangan ke Islandia. Hal tersebut membuat pesawat itu mendarat darurat di Bandara Edinburgh. Penumpang itu mematahkan iPhonenya dan menghisap eletronik cerutu dan melecehkan penumpang dibagian depan pesawat.

Mau Naik Bus Tingkat AKAP? Inilah Posisi Tempat Duduk yang Nyaman

Bus antar kota antar provinsi (AKAP) menjadi salah satu transportasi yang kini kembali naik daun setelah naiknya tarif tiket pesawat. Ini menjadikannya sejajar dengan kereta api sebagai primadona bagi kalangan masyarakat ekonomi menengah karena memiliki tarif yang cukup terjangkau.

Baca juga: Sering Naik Kereta Api? Ini Dia Posisi yang Paling Aman Bagi Penumpang

Baru-baru ini, setelah tol Trans Jawa diresmikan Presiden Indonesia Joko Widodo Desember 2018 kemarin, bus AKAP juga berlomba untuk memberikan layanan terbaik mereka. Kehadiran tol Trans Jawa sendiri mampu menaikkan pamor bus AKAP tersebut.

Bahkan beberapa perusahaan otobus (PO) menghadirkan double decker atau bus tingkat. Meski masih belum banyak, tetapi kehadiran bus double decker sendiri menarik minat penumpang untuk menjajalnya menuju berbagai kota di Pulau Jawa.

Bagi pengguna bus tingkat ada beberapa hal yang mesti diketahui, biasanya bus bagian atas merupakan kelas AC eksekutif biasa dan bagian bawah merupakan kelas super eksekutif atau VVIP serta tarifnya lebih mahal. Namun, bagi Anda yang ingin mencoba sensasi bagian atas, KabarPenumpang.com sudah merangkum beberapa spot atau kursi yang nyaman sesuai keinginan penumpang.

1. Kursi depan
Ini pilihan yang cocok bagi penumpang yang menyukai pemandangan sepanjang perjalanan. Apalagi berada di atas sepertinya semua sudut jalanan bisa terlihat dari kursi bagian depan ini.

2. Kursi lorong
Menikmati perjalanan dan duduk di dekat lorong salah satu pilihan yang cocok bagi penumpang yang sering mondar-mandir seperti ke toilet. Sebab, selain memudahkan juga tidak mengganggu penumpang lainnya yang berada dekat lorong.

Bagian kabin bus double decker Agra Mas kelas Super Eksekutif (Kompas)

3. Kursi belakang
Bila kenyamanan dan istirahat tanpa gangguan adalah pilihan Anda, maka kursi bagian belakang ini sangat cocok. Meski sedikit berisik karena tak jauh dari mesin, tetapi untuk perjalanan jauh posisi kursi ini lebih dari kata nyaman.

4. Sejajar layar televisi
Biasanya bus AKAP hampir sama dengan bus pariwisata yang memberikan fasilitas hiburan televisi. Kursi di antara lorong biasanya di barisan 5-6 cocok untuk menjadi pilihan penumpang yang senang menonton hiburan dari fasilitas yang disediakan.

Baca juga: Duduk di Kursi Belakang Bus Lebih Cepat Mabuk, Ini Dia Penyebabnya!

5. Kursi bawah
Meski tarifnya berbeda dari kursi di atas, kursi di bagian bawah juga tak kalah menarik untuk dinikmati dalam perjalanan tersebut. fasilitas premium biasanya disediakan bagi Anda yang duduk di kursi bawah. Pilihannya bila duduk di kursi bawah dan sering mabuk perjalanan pilih yang jauh dari roda karena untuk mengurangi guncangan.

Sensor Pintu Kargo Bermasalah, Thai Airways TG917 Terpaksa Return to Base ke Heathrow

Sebuah pesawat Boeing 777-300ER dari maskapai Thai Airways terpaksa membuang ribuan galon bahan bakar di Selat Inggris sebelum melakukan pendaratan darurat di London Heathrow, sesaat setelah pilot mengumumkan bahwa salah satu pintu pesawat belum tertutup secara sempurna. Thai Airways dengan nomor penerbangan TG917 ini dikabarkan meninggalkan London pada Rabu (13/2/2019) sekira pukul 21.35 waktu setempat dalam penerbangannya menuju Bangkok. Namun tak lama pesawat mengudara, pilot akhirnya memutuskan untuk melakukan Return to Base (RTB).

Baca Juga: Terkendala Masalah AC, Armada Garuda Indonesia Rute Jakarta – Bangkok Return to Base

Sebagaimana yang diwartakan KabarPenumpang.com dari laman zimeye.net (17/2/2019), tidak lama setelah pesawat ini meninggalkan Bandara Heathrow, lampu peringatan menyala dimana hal tersebut memperingatkan pilot bahwa pintu kargo tidaklah tertutup dengan sempurna. Radar di menara pengawas (ATC) menunjukkan bahwa pesawat berputar sebanyak beberapa kali di atas Selat Inggris guna mengosongkan tangki bahan bakar yang sebelumnya sudah diisi.

Setelah sekian ‘lap’ berputar untuk mengosongkan tangki bahan bakar, pesawat itu akhirnya bisa kembali mengudara menuju Bandara Heathrow dan melakukan pendaratan darurat. Menurut situs web Boeing, pesawat jenis 777 dapat menampung hingga 47.890 galon di tangki bahan bakarnya, yang dapat menelan biaya hingga £60.000 atau yang setara dengan Rp1,1 miliar untuk mengisi bahan bakar berdasarkan harga bahan bakar saat ini.

Penerbangan yang tengah mengangkut 344 penumpang dan 20 kru di dalam pesawat ini berhasil mendarat dengan selamat dan mereka semua langsung dievakuasi menuju gedung terminal – sementara para petugas ahli langsung mengidentifikasi masalah yang melanda penerbangan tersebut.

“Tidak dapat dipercaya, bahwa apa yang harus saya tumpangi adalah pesawat yang akan mengirim saya kembali ke Heathrow,” cuit salah satu penumpang Thai Airways TG917 di sosial media Twitter.

Setelah dilakukan pengecekkan secara menyeluruh, ternyata teknisi tidak menemukan masalah pada pintu tersebut, melainkan pada sistem lampu peringatannya.

“Sensor untuk sistem tampilan pintu kargo menunjukkan ketidaksesuaian,” ujar Wakil Presiden Departemen Keselamatan, Keamanan dan Standar Penerbangan, Letnan Penerbangan Pratana Patanasiri.

Baca Juga: Bikin Ulah Pasca Keluar Toilet, Penumpang ini Paksa The Flying Kangaroo Return to Base

“Insinyur penerbangan membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk memeriksa seluruh pesawat. Mereka menemukan masalah pada lampu notifikasi, dan tidak ada penyimpangan lain yang berbahaya,” tandasnya.

Setelah menyelesaikan masalah yang ada di pesawat, penerbangan tersebut baru bisa diberangkatkan kembali menuju Bangkok pada pukul 00.32 waktu setempat (14/2/2019), dan mendarat dengan selamat pada pukul 18.14 waktu setempat.

 

A380 ‘Terancam Punah,’ Benarkah Airbus Salah Langkah Hadapi Kedigdayaan Boeing?

Tidak ada yang bisa memungkiri peran pesawat super-jumbo jet milik perusahaan Eropa, Airbus di sektor aviasi global. Pertama kali diperkenalkan pada 25 Oktober 2007 dengan menggunakan livery Singapore Airlines, pesawart yang bisa menampung hingga 800 penumpang ini terus mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan dari segi kuantitas di hampir seluruh penjuru dunia.

Namun seiring berkembangnya jaman, lambat laun pamor dari pesawat dua dek ini mulai mengalami penurunan – terlebih saat teknologi pesawat narrow body bisa melakoni tugas yang hampir sama atau bahkan menyaingi jet penumpang komersial terbesar yang pernah dibuat ini.

Baca Juga: Setelah Qantas, Emirates Berpotensi Batalkan Pesanan Airbus A380

Ya, dalam beberapa waktu ke belakang, Qantas Airways memutuskan untuk membatalkan pemesanan delapan armada A380, yang disusul oleh potensi pembatalan armada serupa dari pengguna terbesarnya, Emirates. Tentu saja, dengan pembatalan dan wacana pembatalan yang dilayangkan oleh dua maskapai tersebut, maka ini semakin memukul telak pihak Airbus untuk menghentikan produksi dari armada yang pertama kali mengudara pada 27 April 2005 ini.

“Benda-benda ini dilahirkan untuk mati,” ujar Richard Aboulafia, analis kedirgantaraan dari perusahaan riset pasar, Teal Group, dikutip KabarPenumpang.com dari laman providencejournal.com.

“Pada saat hal ini (kebangkitan era pesawat narrow body) terjadi, era kejayaan pesawat berbadan besar jelaslah hanya akan menjadi bagian dari sejarah,” tandasnya.

Pada saat awal peluncurannya, Airbus dengan A380-nya jelas hadir untuk menggeser dominasi Boeing di sektor pesawat berbadan besar selama puluhan tahun. Tapi jalan dan visi misi yang dijalankan oleh Airbus tidaklah melulu sejalan dengan Boeing dan faktor-faktor lain yang mempengaruhi produksi dari A380.

Jika Airbus dengan A380-nya sudah jelas mengincar kapasitas penumpang dengan jumlah besar dan menghubungkan penerbangan melalui hub yang kaya akan koneksi. Namun visi tersebut berbanding terbalik dengan apa yang dilihat oleh Boeing, dimana mereka lebih memilih untuk menyediakan pesawat berbadan kecil (narrow body), menerbangkan penumpang point-to-point, dan menggunakan bandara kecil. Dan terbukti, Boeing lebih jeli dalam melihat problematika di sektor aviasi global.

Baca Juga: Kendati Produksi Dihentikan, Airbus A380 Tetaplah Fenomenal

Sebagaimana yang sudah pernah disinggung pada artikel sebelumnya, kendati ‘punah’ sekalipun namun nama Airbus A380 tetaplah fenomenal dan akan selalu dikenang oleh para pelaku usaha kedirgantaraan dan para pengamat serta para pecinta sektor aviasi global.

Antara Wanita ‘Baik’ dan Budaya Seksis Oknum Pengemudi Uber

Siapa di antara Anda yang sering menggunakan jasa ride-hailing seperti GoJek atau Grab? Bagi Anda yang kebetulan berjenis kelamin wanita dan sering menggunakan jasa Go-Car atau Grab Car, nampaknya Anda harus lebih memperhatikan sikap yang Anda lakukan terhadap pengemudi layanan tersebut, jangan sampai nasib Anda berakhir seperti seorang pengguna setia layanan ride-hailing asal San Francisco, Uber, dimana ia mendapatkan rating yang jelek sebagai penumpang hanya karena sikapnya saja.

Baca Juga: Ride-Sharing, Upaya Uber Untuk Lebih Mengerti “Perasaan” Pengguna

Dilansir KabarPenumpang.com dari laman smh.com.au, wanita yang identitasnya enggan dibongkar ini bercerita bahwa dirinya mendapatkan rating buruk hanya karena dirinya mengakhiri pembicaraan dengan si pengemudi.

Kejadian ini berawal ketika si penumpang wanita menggunakan jasa Uber untuk pergi ke suatu tempat. Ketika dirinya masuk ke dalam mobil, si pengemudi dengan ramah menyapa dan menyelipkan pernyataan yang sedikit ambigu.

“Saya suka dengan parfum Anda,” ujar si pengemudi.

Padahal, kala itu si penumpang wanita ini tidak menggunakan parfum apapun. Menanggapi pernyataan si pengemudi, penumpang ini hanya melontarkan senyum dan berterima kasih atas pernyataan ambigu tersebut sebelum akhirnya ia mengeluarkan ponsel dan mengecek email yang masuk.

Kepada media, penumpang ini mengatakan bahwa dirinya bukanlah tipe orang yang tidak terlalu senang jika dipuji, dan, “itu (pernyataan si pengemudi) bukanlah komentar yang berbahaya atau buruk, namun itu membuat saya merasa tidak terlalu nyaman dan sejak saat itu, saya lebih memilih untuk mengakhiri pembicaraan dengan si pengemudi,”

Namun seketika ia memilih untuk mengakhiri pembicaraan dengan si pengemudi, pikiran bahwa dirinya akan mendapatkan rating rendah dari pengemudi begitu saja melintas.

Setelah membagikan keluh kesahnya yang ia alami di media sosial, ternyata ada banyak penumpang wanita lain yang pernah mengalami hal yang sama – kendati tidak sama persis. Hingga pada akhirnya mereka berkesimpulan bahwa rating mereka sebagai penumpang itu dipengaruhi oleh jenis kelamin mereka.

Para penumpang wanita yang mendeklamirkan diri mereka sebagai wanita baik ini merasa apa yang mereka lakukan ini sangat mempengaruhi rating mereka – terlebih kondisi ini didukung oleh mayoritas pengemudi Uber itu berjenis kelamin pria.

Bahkan, seorang direktur kreatif dalam periklanan dan panelis reguler di Gruen Transfer yang bernama Dee Madigan pernah mengalami hal serupa, dimana ia berusaha untuk bersikap defensif ketika pengemudi Uber yang kala itu ia tumpangi melontarkan gombalan-gombalan yang membuatnya tidak nyaman.

Baca Juga: Uber Berlakukan Sistem Denda Bagi Penumpang yang Terlambat

“Saya pernah mengalami saat-saat dimana diantar oleh pengemudi genit, dan itu membuat saya tidak nyaman. Anda tidak hanya berada di mobil bersama dia (pengemudi), tapi tidak sedikit dari mereka yang tahu di mana Anda tinggal. Jika saya merasa tidak nyaman saya akan menutup pembicaraan dan kemudian saya ‘ditandai’,” ujar Dee.

Tindakan seksis yang kerap dilakukan oleh pengemudi Uber ini sontak mendapat kecaman dari berbagai pihak dan bukan tidak mungkin jika hal semacam ini akan merugikan perusahaan.