Melintasi Batam Tanpa Izin, Ini Dia Serba-Serbi dari Ethiopian Airlines!

Senin (14/1/2019) kemarin, sektor aviasi Indonesia dibuat gempar dengan beredarnya berita tentang force down (pemaksaan) yang dilakuan oleh jet tempur F-16 TNI AU. Alih-alih tanpa alasan, adapun hal yang mendasari force down ini adalah karena pesawat kargo milik maskapai Ethiopian Airlines ini tidak bisa menyebutkan izin atau Flight Clearance (FC) ketika ditanya oleh otoritas navigasi udara Indonesia, AirNav melalui komunikasi radio.

Baca Juga: Ethiopian Airlines, Maskapai Afrika Pertama Yang Daratkan Pesawatnya di Indonesia

Nah, mungkin di sini Anda jadi pensaran dengan maskapai Ethiopian Airlines yang diketahui tengah dalam penerbangan dari Addis Ababa menuju Hong Kong ini, bukan? Nah, seperti yang dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, Ethiopian Airlines ini merupakan maskapi milik pemerintah yang juga merangkap peran sebagai flag carrier dari negara Ethiopia. Sebelumnya, maskapai dengan kode penerbangan EAL ini menggunakan nama Ethiopian Air Lines dan mulai melakukan first maiden pada 8 April 1946.

Ethiopian Airlines sendiri didirikan pada 21 Desember 1945 dan mulai melakukan ekspansi pasar penerbangan internasional enam tahun berselang. Berawal dari sebuah firma, akhirnya pada tahun 1965, bentuk perusahaan ini berubah menjadi share company dan pada momen itu juga, maskapai ini resmi berganti nama dari Ethiopian Air Lines menjadi Ethiopian Airlines.

Sumber: istimewa

Di awal pengoperasiannya, Ethiopian Airlines hanya menggunakan enam armada Douglas DC-3 saja, dengan rute penerbangan internasional dari Addis Ababa – markas dari Ethiopian Airlines menuju Aden, Asmara, Djibouti, Kairo, dan Khartoum.

Lalu pada tahun 1959, maskapai ini terdaftar secara resmi sebagai anggota dari International Air Transport Association (IATA), dan anggota dari African Airlines Association (AFRAA) pada tahun 1968. Menilik visi perusahaan yang berusaha untuk terus melebarkan sayap bisnisnya, akhirnya Ethiopian Airlines memilih untuk bergabung bersama aliansii penerbangan Star Alliance pada tahun 2011.

Sumber: istimewa

Kini, Ethiopian Airlines diketahui sebagai maskapai asal Benua Hitam terbesar dari segi pengangkutan penumpang, destinasi yang dilayani, jumlah armada, dan pendapatan.

Baca Juga: Ethiopian Airlines Sabet Gelar Katering Terbaik di Afrika Versi PAX International

Jika dilihat dari segi armada yang tersedia untuk pengoperasian sehari-harinya, Ethiopian Airlines bisa dibilang sebagai pelanggan setia dari produk Boeing, lho!

Ini tampak dari jajaran armadanya yang berisikan mulai dari Boeing 737-700, Boeing 737-800, Boeing 737 MAX 8, Boeing 767-300ER, Boeing 777-200LR, Boeing 777-300ER, Boeing 787-8, hingga Boeing 787-9 Dreamliner. Total dari pesawat penumpang bermerek Boeing yang digunakan oleh Ethiopian Airlines mencapai 68 pesawat, belum dari pesawat kargo yang juga menggunakan produk dari Boeing – delapan armada.

Ethiopian Airlines juga menggunakan armada Airbus A350-900 sebanyak sembilan armada dan dan Bombardier Dash 8 Q400 sebanyak 23 armada.

Menhub Gulirkan Rencana Bus “Trans Java,” Pengusaha Bus AKAP Utarakan Kekecewaan

Jalur tol Trans Jawa yang kini sudah bisa digunakan akan membantu mempercepat perjalanan baik pengguna kendaraan pribadi maupun angkutan seperti bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP). Namun, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi justru memiliki ide untuk membuat moda transportasi umum selain bus AKAP yakni Trans Java.

Baca juga: Siap Kembalikan Mas Jaya Bus AKAP, Inilah Serba-Serbi Terkait Tol Trans Jawa

Dalam rencananya tersebut, bus akan menggandeng Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni Jasa Marga dan Perum Damri. Sayangnya ide Menhub ini membuat para pengusaha bus AKAP kecewa. Sebab bila terealisasi maka akan mempengaruhi bisnis serta usaha yang dirintis oleh pengusaha bus AKAP.

Dirangkum KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, meski ide yang tercetus dari Budi Karya tersebut membuat para pengusaha bus AKAP meradang, tetapi hal tersebut belum teralisasikan dan masih didiskusikan kepada semua pihak termasuk Organisasi Angkutan Darat (Organda). Pengurus Pusat Ikatan Pengusaha Otobus Muda Indonesia (IPOMI) Anthony Steven Hambali mengatakan, wacana tersebut membuat kecewa para pengusaha bus. Apalagi para pengusaha bus selama ini berusaha untuk mengikuti segala macam regulasi yang dikeluarkan oleh pihak Kemenhub.

“Sebenarnya ini baru gagasan, tapi sudah sangat berdampak apalagi nanti bila hal tersebut dilakukan. Harusnya kementerian lebih memperhatikan kami, selama ini kami sudah mati-matian mengikuti regulasi, tiba-tiba tol ini jadi (Trans Jawa) langsung mereka berencana membuat transportasi sendiri, lantas bagaimana dengan kami,” kata Anthony.

Dia mengaku keberadaan tol Trans Jawa saat ini sebenarnya menjadi sebuah titik cerah para pengusaha bus. Apalagi tol yang menyambung dari Merak hingga Pasuruan tersebut membuat para pengusaha bus lebih semangat untuk melangkahkan bisnis mereka ke depannya.

Direktur Angkutan Multimoda Kemenhub Ahmad Yani mengatakan, saat ini beberapa bus AKAP yang mengarah ke Jawa Tengah maupun Jawa Timur hingga Madura, trayeknya sudah menggunakan tol Trans Jawa. Sehingga bisa dikatakan, secara tidak langsung angkuktan Trans Java sendiri sudah berjalan. Sedangkan bus Trans Java versi Kemenhub rencananya akan menggunakan bus eksekutif atau premium, tetapi Yani belum menjelaskan lebih detail akan menggunakan armada apa.

Sebelumnya Kemenhub mengatakan selain dengan BUMN juga akan melibatkan pengusaha bus swasta. Hal tersebut dikatakan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Budi Setiyadi bahwa pihak swasta akan dilibatkan termasuk untuk masalah operator.

Budi Setiyadi menjelaskan, kebijakannya tengah mendorong untuk merealisasikan bus Trans Java yang juga meluruskan dimana Kemenhub jugapasti menggandeng pihak swasta yakni para pengusaha bus yang memang mengoperasikan armadanya di trayek tersebut.

Baca juga: Bukan Nama Wanita, Rosalia Indah Kondang Sebagai Perusahaan Otobus

“Kami masih mengolah tahapannya untuk mencari formulasinya. Karena dengan keberadaan bus Trans Java akan sedikit mengubah regulasi yang sudah ada. Tak hanya itu masalah infrastruktur juga menjadi sorotan utama kami,” ujarnya.

Budi Setiyadi menambahkan, nantinya jika jadi dioperasikan, bus tersebut hanya akan beroperasi sesuai namanya yakni Trans Jawa saja.

Tidak Ada ‘Belatung’ di Stasiun Randublatung

Nama stasiun ini terdengar unik, tapi jangan salah menfasirkannya antara belatung dan blatung. Yang dimaksud disini adalah satu stasiun yang berada di Daerah Operasional IV Semarang. Stasiun ini terletak di Desa Wulung Kecamatan Randublatung, Kabupaten Blora, Jawa Tengah. Berada diketinggian +52 meter diatas permukaan laut, Randublatung merupakan stasiun kereta api kelas III atau kecil.

Baca juga: Stasiun Tulungagung, Dahulu Pernah Dilengkapi Turn Table Lokomotif

KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, bahwa stasiun ini dulunya memiliki lima jalur kereta api dengan jalur 4 sebagai sepur lurus. Tetapi setelah jalur ganda beroperasi, jalur 3 juga ikut dijadikan sebagai sepur lurus dan persinyalannya diganti dengan sinyal elektrik.

Meski termasuk stasiun kecil Stasiun Randublatung melayani naik turunnya penumpang. Kereta yang berhenti di stasiun ini ada yang kelas campuran bisnis dan ekonomi AC seperti Kertajaya Tambahan yang menuju ke Jakarta melalui Semarang dan tujuan Surabaya melalui Cepu-Bojonegoro-Lamongan.

Kereta kelas ekonomi premium Jayabaya, tujuan Jakarta via Semarang dan tujuan Malang via Cepu-Bojonegoro-Lamongan-Surabaya dan Ambarawa Ekspres, tujuan Semarang dan Surabaya via Cepu-Bojonegoro-Lamongan. Sedangkan kereta ekonomi AC biasa juga melalui stasiun ini yakni Kertajaya, tujuan Jakarta via Semarang dan tujuan Surabaya via Cepu-Bojonegoro-Lamongan serta Maharani, tujuan Semarang dan tujuan Surabaya via Cepu-Bojonegoro-Lamongan.

Selain tempat perhentian kereta jarak jauh, Stasiun Randublatung juga melayanai kereta lokal atau komuter untuk masyarakat sekitar. Ciri khas yang ada di stasiun ini adalah ketika kereta dari Semarang akan melalui sebuah jembatan dan bila didengar secara baik-baik maka akan terdengar bunyi kretek-kretek.

Sedangkan untuk penumpang turun waktu yang dipunya hanya tiga menit, jadi bila ingin turun di stasiun ini bersiap dari Stasiun Ngrombo di Grobogan bila dari arah Semarang dan bersiap dari Stasiun Cepu bila penumpang dari arah Surabaya. Stasiun Randublatung berada diantara dua stasiun kecil yakni Stasiun Domplang dan Wadu. Stasiun ini masih memiliki bentuk seperti model lama dan belum direnovasi.

Baca juga: Kereta Lokal Daerah Seperti Tak Terurus, Bahkan Terkesan Diabaikan PT KAI

Randublatung sendiri merupakan salah satu daerah titik penghasil minyak. Tak ayal, daerah ini memiliki beberapa situs kuno yang bisa dijelajahi jika ingin bertapa atau semedi. Selain situs kuno, Randublatung juga memiliki beberapa tempat wisata yakni Taman Hutan Kota, Pasar Tradisional Paingan dan Embung Keruk.

Mengenai asal nama Randublatung, tidak ada informasi pasti asal penamannya, namun ada yang menyebut dahulu ada pohon Kapuk Randu yang sangat besar dan banyak belatungnya, tentu saja cerita tersebut belum bisa diuji kebenarannya.

Terdampak Bird Strike, Cathay Pacific Terpaksa Return to Base

Flag Carrier Hong Kong, Cathay Pacific terpaksa mengambil inisiasi untuk Return to Base setelah salah satu armada Boeing 777-300nya mengalami kendala saat tengah mengudara. Armada dengan nomor penerbangan CX198 ini dikabarkan mengalami bird strike ketika tengah melakoni penerbangan berjadwal dari Auckland menuju Hong Kong. Beruntung, tidak ada korban luka maupun jiwa dalam insiden yang cukup membuat jantung penumpang berdegup kencang ini.

Baca Juga: Bird Strike Paksa AirAsia QZ104 ‘Return to Base’ di Bandara Kualanamu

Sebagaimana yang disarikan KabarPenumpang.com dari berbagai laman sumber, seorang juru bicara dari Airways NZ, Emma Lee mengatakan bahwa Cathay Pacific CX198 ini bertolak dari Bandara Internasional Auckland pada Kamis (10/1/2019) sekira pukul 15.51 waktu setempat. Pada awalnya, penerbangan berjalan normal dan pesawat dinyatakan dapat melakukan take-off dari runway 23L.

Tak lama setelah mengudara, pesawat lalu menghantam segerombolan burung – yang berdampak pada kerusakan pada bagian mesin. Awalnya, sang pilot masih berusaha untuk menaikkan ketinggian pesawat, namun sayang, si burung besi ini malah stuck di FL250 (Flight Level 250 atau yang setara dengan ketinggan 7.620 meter). Melihat kondisi seperti ini tidak memungkinkan bagi pesawat untuk melanjutkan perjalanan menuju Hong Kong, sang pilot akhirnya mengambil keputusan untuk membuang sebagian bahan bakar dan melakukan Return to Base.

Selama menunggu proses verivikasi dari pihak Air Traffic Control (ATC), pesawat ini berputar mengelilingi North Island – terlacak oleh aplikasi flight tracking. Lalu pada pukul 16.30 waktu setempat, atau berselang 90 menit setelah take-off, akhirnya pesawat ini diijinkan untuk mendarat kembali di Bandara Internasional Auckland.

Lebih lanjut, Emma Lee mengatakan bahwa tidak ada yang mengindikasikan insiden ini sebagai situasi darurat, mengingat sang pilot tidak meminta arahan untuk melakukan pendaratan darurat atau pendaratan prioritas (priority landing).

Baca Juga: Bird Strike! Masih Jadi Momok Menakutkan dalam Dunia Penerbangan

Patut diketahui, sebelum melakukan pendaratan darurat atau pendaratan lebih awal dari jadwal yang telah ditentukan sebelumnya, pesawat harus terlebih dahulu membuang muatan bahan bakar mereka, dengan alasan tidak bisa membawa muatan bahan bakar terlalu berat saat mendarat.

Pasca kejadian, pihak Cathay Pacific yang langsung meninjau ke lokasi kejadian enggan berkomentar lebih jauh karena mereka belum mengetahui sejauh mana kerusakan yang dialami oleh armada Boeing 777-300 tersebut.

“Kami akan mendatangkan tim khusus untuk meninjau kerusakannya,” tutur pihak Cathay Pacific.

 

Stasiun Keramasan, Stasiun Baru di Divre III Palembang

Berdiri karena berawal dari masterplan industri yang dibuat oleh Pemerintah Kota Palembang, inilah asal usul adanya Stasiun Keramasan. Sebab masterplan industri tersebut mencakup pembangunan kawasan industri di Keramasan dan stockpile batu bara. Apalagi lokasi Keramasan sangat strategis dimana dekat pintu masuk Palembang.

Baca juga: Motor Bebek Berubah Jadi Lori di Stasiun Banjar

Sehingga hal tersebut membuat jarak tempuh yang biasa melalui sungai dapat dipangkas dan dalam rencana jangka panjang pendapatan daerah bisa bertambah dengan kehadiran stasiun tersebut. KabarPenumpang.com merangkum dari berbagai laman sumber, menjadi stasiun kelas I, Stasiun Keramasan berada di Kermasan, Kertapati, Palembang.

Masuk dalam Divisi Regional (Divre) III Palembang, stasiun ini tidak melayani penumpang dan rencannya hanya melayani bongkar muat. Pada tahun 2015, PT Kereta Api Logistik (Kalog) akhirnya memutuskan membuka gudang baru di Keramasan sebagai lanjutan dari masterplan.

Pembangunan gudang itu sendiri untuk meningkatkan pengangkutan sebesar dua hingga lima juta ton batu bara dan gudang yang berdiri diatas lahan seluas enam hektare tersebut akan terintegrasi dengan moda laut yakni kapal tongkang.

Stasiun Keramasan sendiri merupakan stasiun baru yang selesai dibangun pertengahan tahun 2017 kemarin. Meski menjadi stasiun barang, layanan pertama stasiun ini adalah RailClinic, yakni kereta klinik milik PT KAI yang sering melakukan bakti sosial di stasiun-stasiun kecil.

Untuk diketahui, pertengah tahun 2018 lalu, Divre III Palembang menggelar bakti sosial dengan pemeriksaan kesehatan gratis di RailClinic yang hadir di Stasiun Keramasan. Kehadiran RailClinic tersebut untuk membantu masyarakat yang tinggal di sepanjang lintasan kereta api.

Kepala Divre III Palembang, Hendy Helmy mengatakan, operasional RailClinic akan mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. Pelayanan RailClinic sendiri akan hadir di Stasiun Keramasan satu kali dalam tiga bulan.

“Paling cepat kita operasional kereta ini kembali paling cepat 2 bulan satu kali dan paling lama tiga bulan satu kali, Rail Clinic ini akan beroperasi bukan hanya di Keramasan saja, akan tetapi di pemukiman masyarakat yang dekat di sepanjang rel,” kata Hendy.

Baca juga: Jalur Kereta Lampung-Palembang, Sinergikan Lintasan Penumpang dan Batubara

Kehadiran Stasiun Keramasan juga untuk menggantikan kereta batu bara yang berhenti di Stasiun Kertapati. Hal tersebut dikarenakan Stasiun Kertapati akan dijadikan terminus untuk semua kereta api penumpang dan kereta batu bara harus diberhentikan di stasiun khusus untuk barang.

Berkiblat ke Eropa dan Jepang, Ridwan Kamil Usulkan Pembuatan Gerbong Khusus Sepeda

Selain mengaktifkan empat jalur kereta mati di Jawa Barat dan membuatnya seperti di Eropa, Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil juga berencana membuat gerbong khusus sepeda. Hal ini pun ternyata ingin dilakukan PT kereta Api Indonesia (KAI), agar penumpang bisa berwisata menggunakan kereta. Namun usulan Kang Emil panggilan akrab mantan Wali Kota Bandung tersebut dan rencana PT KAI masih dipertimbangkan.

Baca juga: Sepeda Kini Tanpa Dilipat Bisa Masuk Ke Gerbong Kereta

Direktur Utama PT KAI Edi Sukmoro mengatakan, rencana dan usulan Ridwan Kamil tersebut tengah dikaji pihaknya. Ia mengungkapkan bila ini jadi, maka akan ada satu gerbong khusus untuk sepeda. Sehingga penumpang yang membawa sepeda bisa menikmati pemandangan alam.

Sebab selama ini, sepeda yang bisa masuk dalam gerbong kereta jarak jauh maupun KRL adalah sepeda lipat. Sehingga sepede besar seperti sepeda gunung harus dikirimkan melalui Kalog atau pengiriman ekspedisi lain.

“Mungkin satu kereta atau gerbong beri sepeda untuk memudahkan saat dia sudah tiba di destinasi. Dia sampai di Bandung tinggal turunkan sepeda,” kata Edi yang dikutip KabarPenumpang.com dari detik.com.

Karena Kang Emil mengatakan akan membuat Jabar sperti Eropa, sebenarnya sebelum usulannya terkait sepeda dalam gerbong kereta api, layanan kereta Eropa seperti di Inggris sudah menyediakan gerbong khusus membawa sepeda yang notabene sepeda besar alias bukan sepeda lipat seperti yang biasanya. Namun sepeda ukuran besar ini bisa masuk ke gerbong kereta ketika bukan jam sibuk dan akhir pekan.

Tetapi pengguna kereta yang membawa sepeda di Eropa juga mau tak mau harus mengalah dengan yang lain, bahkan menari-cari gerbong kosong khusus sepeda. Hal ini dikarenakan gerbong tersebut terkadang sudah diisi dengan berbagai barang penumpang lain seperti kursi roda dan tas.

Ternyata tak hanya Eropa, Jepang pada Desember 2017 lalu juga meluncurkan gerbong kereta yang dikhususkan untuk pengguna sepeda. Kehadirannya ini hanya ada di setiap akhir pekan yag menghubungkan Ryogoku di Tokyo ke berbagai kota pesisi di Semenanjung Boso.

Baca juga: Semakin Sulit Bawa Sepeda di Kereta, Inilah Curhat Pesepeda di London

Nantinya jika gerbong kereta khusus sepeda tersebut bisa terealisasikan, pengguna kereta api yang juga pengguna sepeda baik itu perorangan maupun komunitas bisa menikmati kemudahan ini tanpa harus terbebani meninggalkan sepeda mereka di rumah atau mengirimkannya melalui ekspedisi.

Per 7 Januari, Emirates Resmi Pindah Pelayanan ke Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta

Raksasa aviasi asal Timur Tengah, Emirates baru saja memindahkan operasinya dari Teminal 2 ke Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Langkah ini secara resmi ditandai dengan kedatangan penerbangan Emirates dengan nomor penerbangan EK356 di Gate 9 pada 7 Januari 2019 sekira pukul 15.45 WIB. Pada penerbangan ‘perdananya’ ke Terminal 3, Emirates mendapatkan sambutan dari sejumlah elit.

Baca Juga: Ternyata, Emirates Hanya Menggunakan Dua Jenis Pesawat!

Adapun kedatangan penerbangan Emirates tersebut ke Terminal 3 disambut langsung oleh CEO PT Jasa Angkasa Semesta (PT JAS) Adji Gunawan; General Manager PT JAS Abdi Lukman; Country Manager Emirates Indonesia Rashid Al Ardha; Airport Service Manager Emirates Ferdinand Sitepu; dan Commercial Support Manager Emirates Indonesia Saeed Mubarak.

“Sebagai maskapai global, kami selalu mencari cara untuk secara konsisten meningkatkan standar dalam hal pengalaman pelanggan, baik di dalam pesawat, di darat, dan sebelum, selama, dan setelah penerbangan bersama kami,” ujar Rashid Al Arhda, seperti yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman TribunNews.com (11/1/2019).

“Kami ingin mengucapkan terima kasih kepada PT Angkasa Pura II atas dukungan yang diberikan dalam memungkinkan hal ini. Ini adalah tonggak penting bagi operasi Emirates di Jakarta dan perpindahan ini akan membantu kami mencapai kesuksesan yang lebih besar di Indonesia,” tandasnya.

Penumpang yang akan check-in akan diarahkan untuk mengunjungi konter Emirates di baris B 07—20. Setelah menyerahkan bagasi, penumpang kelas premium dipersilakan untuk mengunjungi lounge di depan Gate 9/10 sebelum boarding. Dalam kondisi tertentu yang mengharuskan penumpang untuk mengubah rincian penerbangannya, mereka dapat mengunjungi kantor Emirates di Airline Management Building no. 6, yang terletak di gedung parkir di lantai 4.

Baca Juga: Layanan First Class Emirates Undang Decak Kagum Youtuber!

Sementara itu, Executive General Manager Bandara Internasional Soekarno-Hatta, M Suriawan Wakan, mengingatkan agar setiap penumpang yang hendak pergi dengan menggunakan maskapai Emirates dari atau menuju Jakarta untuk lebih memperhatikan kembali tiket mereka.

“Kami berharap pelanggan maskapai Emirates untuk mengetahui perkembangan yang disampaikan secara resmi oleh Emirates dan memperhatikan tiket, sehingga tidak salah terminal. Sebab, sejak tanggal 7 Januari 2019, operasional Emirates pindah dari Terminal 2 ke Terminal 3,” ujar M Suriawan, dikutip dari laman sumber terpisah.

Budi Karya: Bulan Depan Ojol dan Opang Resmi Jadi Angkutan Umum

Setelah sekian lama diperdebatkan lantaran statusnya yang belum terdaftar sebagai angkutan umum, kini para pengemudi ojek online (ojol) dan para perusahaan yang menaunginya sudah bisa bernafas lega. Pasalnya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menargetkan penerbitan dasar hukum untuk moda transportasi roda dua akan rampung bulan Februari mendatang. Dengan begitu, Pemerintah akan secara resmi mengakui ojol sebagai angkutan umum.

Baca Juga: Populasi Ojek Online Meroket, Apakah ini Pertanda Bagus Untuk Ibu Kota?

Dengan adanya payung hukum ini, maka eksistensi dari ojek konvensional atau yang sering disebut ojeg pangkalan (opang) juga akan diakui keberadaannya oleh Pemerintah. Selama ini, motor bukanlah menjadi bagian dari angkutan umum sebab tidak termasuk dalam penjelasan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Sebagaimana yang dikutip KabarPenumpang.com dari laman cnnindonesia.com (11/1/2019), Kementerian Perhubungan (Kemenhub) akan menjadikan motor resmi sebagai angkutan umum menggunakan kewenangan diskresi yang diatur pada Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2014 tentang Administrasi Pemerintah.

“Insya Allah awal bulan depan aturan itu selesai,” tutur Menteri Budi.

Dijelaskan, regulasi ini akan mendasari ojol untuk setidaknya fokus pada tarif, keselamatan, pembekuan, hingga kemitraan. Menteri Budi juga menekankan banyak juga aspek keselamatan dalam peraturan yang akan diberlakukan kepada mereka.

Khusus pada sepeda motor, Menteri Budi mengatakan bahwa moda ini merupakan yang paling sering mengalami kecelakaan di jalanan. Terlebih dengan fakta yang tersaji di lapangan, dimana masih banyak sekali oknum pengemudi nakal yang masih saja mengoperasikan ponsel mereka ketika tengah berkendara. Wajar saja jika Menteri Budi terus menekankan agar para pengemudi ojol ini lebih memperhatikan keselamatan dirinya dan penumpang.

Tidak bisa dipungkiri, ojol merupakan moda yang paling laris digunakan, baik di kota-kota besar maupun kecil sekalipun. Terlebih jika dilihat dari fleksibilitasnya, maka tidak heran jika banyak orang diluar sana yang mengandalkannya sebagai moda first dan last mile.

Baca Juga: Ini Dia Alasan Ojek Online Belum “Naik Kelas”

Senada dengan Menteri Budi, Pengamat Keselamatan dari Pendiri dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Palubuhu menegaskan tentang pentingnya aspek keselamatan selama berkendara, terutama ketika menggunakan sepeda motor.

“Harus bijak dalam menyikapi ini. Mau tidak mau unsur safety harus dipertimbangkan. Saya yakin (peraturan) pasti dilegalisir, tapi bukan berarti bebas,” ujar Jusri, dikutip dari laman sumber yang sama.

“Misalnya penggunaan helm, ini tidak boleh yang penting pakai helm. Tapi juga harus klik,” tandasnya sembari mejelaskan contoh sederhana untuk meningkatkan keselamatan dalam menggunakan sepeda motor.

Jusri juga tidak heran jika keberadaan ojol dewasa ini yang kian menjamur akhirnya disetujui oleh Pemerintah sebagai angkutan umum. “Toh selama ini ojol jadi moda transportasi terlaris, terutama di kota-kota besar,” ujarnya singkat.

 

Marak Penipuan ‘Bagi-Bagi’ Tiket Gratis, Singapore Airlines Himbau Pelanggan Lebih Waspada

Siapa bilang penipuan yang membawa-bawa perusahaan besar hanya ada di Indonesia saja? Ternyata negara tetangga juga pernah mengalami hal yang hampir serupa. Ya, diberitakan bahwa ada penipuan yang mengatasnamakan flag carrier Singapore Airlines beberapa waktu yang lalu. Menanggapi hal ini, pihak maskapai memperingatkan para pelanggan agar lebih berhati-hati dan tidak menjadi korban penipuan yang mengiming-imingi tiket pesawat gratis ini.

Baca Juga: Jaga Kesehatan Penumpang di Penerbangan Jarak Jauh, Singapore Airlines Gandeng Canyon Ranch

Sebagaimana yang dilansir KabarPenumpang.com dari laman channelnewsasia.com (13/1/2019), pihak maskapai berkode SIA ini mengumumkan dalam laman media sosial Facebook resminya bahwa mereka telah menindaklanjuti aksi penipuan yang mengatasnamakan perusahaan ini.

“Kami telah melaporkan situs tersebut dan memintanya untuk dihapus. Kami juga menyarankan kepada setiap pelanggan Singapore Airlines untuk lebih berhati-hati ketika memberikan identitas pribadi kepada sumber yang tidak terverivikasi,” tulisnya.

Untuk diketahui, penipuan berkedok pembagian tiket gratis via situs web ini meminta para pesertanya untuk melampirkan data pribadi mereka sebagai syarat.

“Setiap situs web, email, atau panggilan yang masuk ke nomor anda harus diverivikasi terlebih dahulu jika Anda ragu. Silakan laporkan detail tindak penipuan yang mengatasnamakan Singapore Airlines di platform media sosial kami atau melalui tautan ini http://singaporeair.com/en_UK/feedback-enquiry/,” imbuh perusahaan.

Selain itu, maskapai yang merupakan anggota dari aliansi penerbangan Star Alliance ini juga mengingatkan kepada seluruh pengguna media sosial dan situs web phishing (aktivitas menipu pemegang akun online dari informasi keuangan dengan menyamar sebagai perusahaan yang sah) yang memiliki kesamaan dengan laman resmi dari Singapore Airlines.

Baca Juga: Tambah Rute Penerbangan Berjadwal, Singapore Airlines Resmi Terbangkan A350-900 Ke Jakarta

Jika dirunut ke belakang, penipuan yang mengatasnamakan Singapore Airlines dan sama-sama meminta data pribadi pelanggan bukanlah kali pertama yang terjadi. Pada tahun 2017 silam, penipuan hampir serupa juga pernah menimpa maskapai yang merupakan anak perusahaan dari Tamasek Holdings ini – meskipun medianya berbeda.

Penipuan via Whatsapp yang mengatasnamakan Singapore Airlines. Sumber: channelneasia.com

Kala itu, beredar pesan berantai di WhatsApp yang mengatakan bahwa Singapore Airlines membagikan sejumlah tiket First Class secara cuma-cuma. Menurut sang penipu, pembagian tiket gratis ini dilatarbelakangi oleh perusahaan yang baru saja berulang tahun yang ke-70. Adapun modus yang digunakan oleh penipu ini adalah mereka berpura-pura menjadi karyawan Singapore Airlines dan menelepon hingga mengirim email kepada para korban agar mereka informasi pribadinya.

 

 

Setelah MPV Everest Gagal, Justru KRI Spica 934 Berhasil Temukan CVR Lion Air JT-610

Setelah menanti hampir 2,5 bulan sejak jatuhnya pesawat Boeing 737 Max 8 Lion Air JT-610 PK-LQP di Perairan Karawang pada 29 Oktober 2018, maka berbagai upaya keras dilakukan guna menemukan salah satu bagian black box – CVR (Cockpit Voice Recorder), dan akhirnya pada pagi hari ini (14/1), perangkat elektronik yang paling dicari ini berhasil ditemukan dan telah diangkat ke permukaan oleh Komando Pasukan Katak (Kopaska) dan Dinas Penyelam Bawah Air (Dislambair) I pada pukul 09.10 WIB.

Baca juga: Sedih! Pencarian CVR Lion Air JT-610 oleh MPV Everest Tak Membuahkan Hasil

Serangkaian upaya sistematis di lapangan telah diupayakan oleh berbagai pihak untuk menemukan CVR, seperti pihak Lion Air yang telah menggelontorkan dana Rp38 miliar untuk menyewa kapal riset dan evakuasi bawah laut, MPV Everest. Selama 10 hari berturut-turut, kapal berbendera Belanda tersebut melakukan pencairan dengan peralatan canggih, namun pada 29 Desember 2018, pencarian berbiaya tinggi tersebut dihentikan, dan tidak ada hasil yang diperoleh.

Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sebagai lembaga yang diberi kewengan untuk melakukan investigasi kecelakaan JT-610 nyatanya tak menyerah atas hasil nihil MPV Everest. Dengan deadline 29 Januari 2019, dimana merupakan tanggal terakhir beam CVR akan memancar, lantas diupayakan untuk meminta bantuan dari pihak Dinas Hidro Oseanografi (Disihidros) TNI AL, dengan mengerahkan kapal riset bawah air yang tergolong canggih, KRI Spica 934.

Dikutip dari tribunnews.com (14/1), Kepala Dinas Penerangan Komando Armada (Koarmada) I Letkol Laut (P) Agung Nugroho membenarkan adanya penemuan CVR tersebut. Penemuan CVR selama ini mengalami kesulitan, lantaran CVR yang ditemukan ternyata terbenam 8 meter di bawah dasar laut. “Jadi 8 meter di dalam lumpur. Kedalaman laut itu 30 meter ditambah lumpur 8 meter, jadi 38 meter,” jelas Agung.

Dilansir dari Indomiliter.com, KRI Spica 934 merupakan kapal survei dan pemetaan yang canggih karena dilengkapi dengan peralatan survei hidro-oseanografi terbaru, yang dapat digunakan untuk pengumpulan data sampai dengan laut dalam (deep water). Kapal ini dibangun oleh galangan OCEA di Perancis. Resminya golongan kapal dengan kemampuan seperti ini disebut OSV (Oceanographic Offshore Support Vessel).

Kapal dengan awak 40 personel ini dilengkapi dengan ROV (Remotely Operated Vehicle), yaitu robot bawah air yang dilengkapi kamera bawah air, sehingga dapat memberikan informasi visual kondisi di dalam laut, serta mampu mengambil contoh material dasar laut sebagai bahan penelitian, dengan kemampuan sampai dengan kedalaman 1000 meter.

Baca juga: Lanjutkan Pencarian Korban dan CVR JT-610, Lion Air Kucurkan Rp38 Miliar untuk Sewa MPV Everest

Dalam melaksanakan manuver kapal ini dilengkapi dengan Dynamic Position, Auto Pilot 70 dan stabilitas kapal menggunakan Anti Rolling Tank. Selain KRI Spica 934, TNI AL juga memiliki kapal sejenis dengan nama KRI Rigel 933. Kapal dengan panjang 60 meter dan bobot 515 ton ini dapat berlayar terus-menerus selama 20 hari.